Rabu, 26 November 2025

ABD. RAHMAN HAMID || Dosen UIN RIL Narasumber FGD BRIN

Jakarta, 26 November 2025, Dosen UIN Raden Intan Lampung, Dr. Abd Rahman Hamid kembali menjadi Narasumber kegiatan yang dihelat oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), setelah sebelumnya mengisi acara AB Lapian Memorial Lecture (23 September 2025), dengan tema utama “Cerita dalam Hidangan: Tradisi Lisan Kuliner sebagai Potensi Wisata Gastronomi Berkelanjutan”.  

Focus Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan selama tiga hari (24-26 November) dengan menghadirkan enam narasumber utama yaitu: KH Ahmad Baso, Dr. Anhar Gonggong, Dr. Suriadi Mappangara, Prof. Dr. Muhlis Hadrawi, Dr. Abd Rahman Hamid, dan Dr. Mukhlis PaEni. 

Abd Rahman Hamid mengisi acara pada hari ketiga dengan topik “Gastronomi dan Jalur Rempah: Peran Perempuan dalam Merawat Tradisi Maritim Buton dan Mandar”, dengan moderator Risma Widiawati, M.Si. 

“Tradisi kemaritiman sering kali dianggap milik laki-laki saja. Namun, apakah tradisi itu bisa bertahan tanpa kehadiran perempuan?”, jelas Ketua Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN RIL saat mengawali presentasinya, yang dihadiri 30 peneliti Pusat Riset Khasanah Keagamaan dan Peradaban secara luring dan 45 peserta secara daring.  

Berangkat dari isu tersebut, Hamid menjelaskan mengenau peranan perempuan dalam  merawat kelangsungan tradisi maritim serta transformasi gastronomi pelaut menjadi identitas orang Buton dan Mandar.  

Menurut Hamid, perempuan Buton dan Mandar memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan aktivitas pelayaran pelaut, mulai dari menyediakan bekal untuk suaminya hingga memproduksi beragam komoditas niaga seperti kain tenun, parang dan pesau besi, menyikap goreng dari kelapa, dan menenun kain layar perahu.
 
Yang menarik adalah bahwa kedua suku bangsa bahari Indonesia ini memiliki jenis kuliner yang sama yang terbuat dari singkong, yakni soami/kasoami/sangkola (Buton) dan jepa (Mandar). 

Menurutnya, kesamaan itu disebabkan oleh dua faktor: pertama, kondisi kehidupan di laut atau atas perahu sama yang dipengaruhi oleh faktor gelombang, arus laut, dan angin. Kedua, para pelaut memerlukan kuliner yang mudah dikonsumsi dan adaptif terhadap kondisi kehidupan di atas perahu, baik saat angin kencang maupun angin tenang. Inilah kecemerlangan perempuan dalam memastikan keselamatan suami mereka dan sekaligus merawat tradisi maritim. 


Awalnya merupakan kuliner pelaut, lalu dikonsumsi semua kalangan, dan sekarang menjadi simbol identitas orang Buton dan Mandar. Gastromi itu juga menjadi petunjuk mengenai persebaran (diaspora) Buton dan Mandar di Indonesia. Bahkan, ia disebut soft diplomacy lintas budaya di Tanah Air, terang Hamid. 

Elaborasi ini menjadi sumber inspirasi untuk studi lanjut mengenai kehidupan para pelaut lainnya di Indonesia. “Tanpa kehadiran perempuan, tidak mungkin tradisi maritim bisa bertahan berabad lamanya”, kata Hamid menutup presentasinya.

Peserta diskusi begitu antusias mengikuti acara yang ditandai respons dari delapan peserta yaitu Kang Dede, Prof. Dr. Saleh, Andi Baso, Lamansi, Dudung Yuwono, Wardiah Hamid, Prof. Dr. Idham Kholid Bodi, dan Syamsu Rijal. 

Diskusi ini ditutup oleh Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban, Wuri Handoko, yang juga kandidat Doktor Arkeologi Universitas Indonesia. Beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh narasumber yang telah berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para peneliti, serta berharap bahwa kelak dibentuk satu pusat kajian Gastronomi Nusantara di lingkungan BRIN.

Selasa, 25 November 2025

GURU ANA PUAJI JIARA

Cerpen oleh Ule-Ule Tarreang (Safardi Bora)

Di sebuah kampung kecil yang selalu beraroma tanah basah selepas hujan, di timur jauh yang sepi seperti halaman kitab tua, hiduplah seorang perempuan bernama Ana Paji Jiara. Setiap pagi ia berangkat sebelum umur matahari genap sehari, melintasi jalan tanah yang retak-retak, semak yang berduri, dan udara yang menggigil di sela bukit Wunga. Tiga kilometer perjalanan itu bukan sekadar jarak, melainkan ziarah kecil menuju masa depan anak-anak.

Ana membawa tas kain yang warnanya sudah pudar, tapi langkahnya selalu bening—seperti doa yang tidak pernah selesai dibacakan. Di setiap tikungan, ia sudah hafal suara angin, suara kambing milik tetangga yang sering melenguh di pinggir jalan, juga suara sunyi yang memanjang seperti lorong waktu. Kadang ia harus menahan napas ketika hujan turun tanpa aba-aba, membuat tanah berubah licin seperti ingatan yang hendak melarikan diri.

Namun Ana tetap berjalan. Sebab di ujung perjalanan itu, ada kelas kecil yang dindingnya penuh lubang—jejas waktu—dan anak-anak yang menunggu dengan mata yang selalu tampak lebih besar daripada tubuh mereka.

Di ruang kelas itu, Ana pernah menghadapi seorang anak lelaki bernama Abak. Ia keras kepala seperti kuda Sumba yang baru belajar dikekang. Abak duduk di bangku paling belakang, sering mengetuk meja dengan batu kecil yang ia bawa entah dari mana, dan menatap papan tulis seperti benda asing yang datang dari langit.

"Abak, coba baca ini," kata Ana suatu pagi, menunjuk huruf ha yang ia tulis dengan kapur yang tinggal setengah.

Abak mengerutkan dahi. “Beta tidak bisa, Ibu.”

“Coba saja. Pelan-pelan. Pakai bahasa Kambera dulu.”

Ketika Ana menyebut “ha-mai,” mata Abak bergerak sedikit. Bahasa ibu—bahasa yang tumbuh bersama hujan, pepohonan, dan dapur kayu—membuat huruf itu terasa seperti saudara jauh yang tiba-tiba pulang. Perlahan Abak membuka mulutnya, mengeja dengan suara yang masih goyah, seperti nada pertama dari alat musik yang belum pernah disentuh.

Hari itu, untuk pertama kalinya Abak membaca satu suku kata. Ana tidak bersorak. Ia hanya menepuk pundak anak itu pelan, seolah takut kebahagiaannya bisa memecahkan sesuatu yang rapuh.

Kadang Abak datang tanpa membawa buku; kadang ia datang tanpa mandi; kadang ia datang dengan cerita bahwa ia harus membantu ayahnya memikul kayu atau mengejar kambing yang hilang. Namun Ana tidak pernah marah. Ia tahu, anak-anak kampung hidup di garis yang tipis antara belajar dan bertahan hidup.

“Abak datang saja sudah bagus,” gumam Ana suatu sore, sambil merapikan kertas-kertas di meja guru yang sompal di sudutnya.

Ketika kelas mulai sepi, Ana sering duduk sendiri di bangku kayu, memandang dinding-dinding yang ia tempeli abjad dan gambar seadanya. Warna kertas itu sudah kusam, tapi mata anak-anak tetap menyala setiap kali melihatnya. Ia ingin membuat kelas itu menjadi taman kecil, tempat huruf-huruf tumbuh seperti bunga liar.

Malam hari, ia belajar sendirian di rumah, menamatkan kuliah jarak jauh dari Universitas Terbuka. Lampu minyak kecil di ruangan itu berkerlip seperti bintang yang kelelahan. Namun Ana tidak menyerah. Ia membaca sampai angin malam mengantarkan rasa kantuk, atau sampai ayam kampung berkokok tanda subuh mendekat.

Kadang ia merasa tubuhnya terlalu letih untuk melanjutkan semuanya. Tapi setiap kali ingatan tentang Abak muncul—tentang suku kata pertamanya, tentang senyum kecil yang muncul tanpa ia sadari—Ana kembali bangkit.

Suatu pagi, ketika kelas hampir berakhir, Abak mendekat dengan langkah ragu.

“Ibu Ana… Beta sudah bisa baca nama beta sendiri,” katanya sambil menunjukkan secarik kertas yang kusut.

Ana melihat tulisan itu—masih goyah, hurufnya tidak sejajar, tapi itu adalah keajaiban kecil yang lahir dari perjalanan panjang.

Ia tersenyum. Senyum yang tidak pernah ia berikan kepada dunia untuk hal-hal remeh. Senyum yang hanya muncul ketika ia menyaksikan anak-anak menjemput masa depan mereka sendiri.

"Wena, Abak…" bisiknya. "Kau sudah buka pintu pertama."

Di luar, angin timur bertiup perlahan. Tanah basah mengirimkan bau yang akrab, dan suara jauh dari kampung terdengar seperti lagu lama yang kembali dinyanyikan.

Ana berjalan pulang, melewati jalur yang sama—semak, batu, dan sunyi. Namun kali ini langkahnya terasa lebih ringan. Sebab ia tahu, di kelas kecil itu ada seorang anak yang baru saja menemukan dunia baru, dan mungkin dunia itu akan menuntunnya jauh melewati batas kampungnya sendiri.

Di timur yang jauh, di tanah yang kerap terlupakan, Ana Paji Jiara menjaga cahaya itu tetap hidup.
Cahaya kecil, tapi setia.
Cahaya yang membuat ingatan orang-orang kampung menyebutnya: **

Samarinda, 25 November 2025

Rabu, 19 November 2025

TITIK TERANG || Penari di Atas Kuburan

Oleh: Hamzah Ismail

Heboh penari di atas kuburan dua tiga hari terakhir, mulai menemui titik terang. Menurut info A1 dari sumber yang layak dipercaya, aksi ini bagian dari tugas pengembangan tari Pattuqduq oleh seorang mahasiswa. Mereka menari di atas kuburan itu, ternyata menjadi bagian dari riset mereka. 

Menjadi miris, sebab selain mendapat kecaman keras di medsos, ternyata mahasiswa tersebut juga mendapat teguran dari kampusnya, bahkan diancam tidak diikutkan ujian jika tidak segera datang ke Mandar meminta maaf.

Dalam hubungan itu, menyikapi kejadian tersebut kita mesti lebih mengedepankan kejernihan pikiran. Peristiwa ini tidak lagi dijadikan ajang memojokkan atau menghakimi. Kepada mahasiswa itu tetap perlu diberi ruang untuk belajar sambil mendudukan halnya secara proporsional, dengan penuh pengertian dan empati bahwa ia sedang berada dalam tahap pembelajaran, dan kesalahan dalam eksperimen seninya adalah bagian wajar dari proses itu. Olehnya, meski ia tak segera datang menghadap minta maaf, kita mestinya lebih awal mengulurkan tangan memberi maaf.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa dalam proses pengembangan seni, budaya, dan pendidikan, ruang belajar, kesadaran, pengertian, dan komunikasi harus berjalan beriringan, agar ekspresi kreatif tetap menghormati warisan budaya tanpa menghilangkan kesempatan belajar.
 
Dalam pandangan kami, masalah ini menjadi begitu heboh hanya karena terlewatinya sebuah proses sederhana: bicara-bicara (komunikasi). Bukankah, apa pun masalahnya, banyak hal bisa berjalan dan terselesaikan hanya dengan dialog yang terbuka – bicara-bicara?

Klir dan selesai, menurut saya.

Tabeqqq
Tinambung, 19/11/2025
@sorotan

Selasa, 18 November 2025

Penari Menari diatas Makam Rajanya

Catatan Rahmat Polanagau 

1-2 hari ini berita Penari di makam sakral lagi viral dan saya kira itu tidak mengherankan. Ragam paradoks didalamnya mendorong letupan itu.
Pada postingan ini saya sertakan dua gambar, satu adalah video viral yang saya svreenshoot dan satunya lagi lukisan saya di tahun 2008, saya berpikir belajar /study sendiri untuk karya naturalis. (Referensinya adalah karya salah satu maestro lukis nasional) saya merubah sesuatu didalamnya agar karya ini tak dikejar sebagai plagiat (ini adalah study dan itu lumrah saja). Saya tidak akan membicarakan itu hanya sebagai ilustrasi saja.

Jadi begini, hehehh 
Mensoalkan Penari di makam sakral itu, untuk semua yang kebetulan membaca.

Apakah dimungkinkan dalam moment tertentu pada pikiran kita memahami bahwa tari adalah laku ritual, simbolisasi kesadaran yang estetis, yang mendorong sinkronitas wujud dan rasa pada kesakralan sesuatu. lalu berharap bahwa para penari itu telah merepresentasikan penghormatan diri pada kemuliaan raja, budaya dan sejarah. Andai seperti itu bukankah notabene itu adalah hasrat mayoritas Orang Mandar yang menghargai sejarah dan eksintensinya.
Para pengamat dan penggiat seni serta kritikus seni pertunjukan harus mengambil ruang untuk memposisikan ini dengan teori teori pendekatan kritik dalam seni pertunjukan.

Pada sisi lain jika para penari yang dikemudikan koreografernya itu mengaktualisasi karya itu sebagai karya yang bersifat artifisial (murni ekspresi simbolik dan estetis,.dalam artian bukan sebagai ritual kepercayaan maka niscaya akan menjadi sesuatu yang kontradiktif ketika Ia mengambil alih ruang sejarah budaya dan spiritual yang Sakral dan disakralkan serta terframe sebagai bagian identitas masyarakatnya.. Perbedaan yang bergesekan adalah sebuah keniscayaan.

Titik temu penerimaan atau persepakatan mungkin bisa hanya jika para pelaku tari itu menyadari kebebasan sebagai ketidak bebasan dalam keliaran baik sebelum dan sesudah karya itu meng-ada. Kejadian ini sudah tidak bisa di rewind lagi, Ia hanya bisa direposisi dalam persepsi dan perspektif setelah dilakukan kajian mendalam yang tentu dari beberapa elemen yang dimungkinkan peduli dan terlibat.

Sebagai individu dalam dunia seni (seni rupa) sangat menyayangkan kejadian ini. Dengan stimulan yang kuat (media cepat dan tanpa limit) mayoritas masyarakat tentu akan lebih condong berasumsi bahwa kehadiran dari karya yang di tempatkan di situs sakral itu adalah realitas dari isi pikiran yang banal, yang birahi pada popularitas dengan pilihan sensasional dan sangat kontroversial.

Kreatifitas tak terbatas dan dunia memungkinkan eksplorasi yang bebas diruang kejujuran dan kebebasan dalam konteks Seni,  tapi laku hidup sebisanya harus tetap berpihak pada sikap Sadar Ruang. Kebebasan manusia adalah kebebasan yang dibatasi manusia lainnya. Batas batas sikap adalah kunci balance dan harmoni dalam tatanan yang telah diidealkan pada masyarakat tertentu.

Ini semacam kecelakaan ekspresi, seperti aktifitas grafitti "orang orang baru" pada dinding sakral abadi dihadapan para khalayak pemiliknya 🙂. Tapi apapun problemnya jika nilai luhur budaya diimplementasikan maka kebijaksanaan adalah jawabannya. Meski demikian jika dimungkinkan buatkanlah aturan khusus aktifitas yang dibolehkan di situs itu sebagai acuan sekaligus dengan sanksi bagi pelanggarnya.

Tak semua harus berubah dan diubah ada hal hal yang sudah cukup dalam ruang identitas makro.

Buat mereka penari dan koreografernya, Selamat berkarya, pilih jalan yang pintar dan baik selagi masih berkutat dalam seni yang Gandrung  keartistikan. 

#videoviral
#penaridiatasmakam
#artscultureproblematic
#smallrespons
#RSVAletters

Kepada: Para Penari di Atas Kuburan

Oleh: Hamzah Ismail

Belakangan ini media sosial dihebohkan oleh ulah sekelompok remaja perempuan yang menari tepat di atas sebuah makam. Bukan makam sembarangan, itu adalah pusara I Manyambungi, atau yang lebih dikenal dengan Todilaling, raja pertama Kerajaan Balanipa.

Peristiwa tersebut segera memantik kegaduhan di jagad maya. Banyak warga Mandar marah, tersinggung, bahkan menganggap perbuatan itu sebagai bentuk penghinaan terhadap sejarah dan leluhur. Sepanjang ingatan kolektif masyarakat Mandar selama berabad-abad, kejadian seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Barangkali para remaja putri itu terinspirasi oleh narasi-narasi yang berkembang tentang wafatnya I Manyambungi. Dimana saat jenazah Todilaling hendak dimasukkan ke dalam liang lahat, sekelompok penari mengikuti iringan pemakamannya. Mereka menari bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai ritual pengabdian terakhir. Diceritakan bahwa para penari itu rela mati dan ikut terkubur bersama I Manyambungi, sebagai simbol kesetiaan yang tidak putus oleh kematian. 

Namun, apa yang dahulu terbingkai dalam makna ritual, kesakralan, dan ketundukan pada nilai adat, kini bergeser menjadi tontonan dalam format hiburan digital. Waktu memang terus maju, tetapi tidak semua nilai ikut bergerak seiring zaman. Ada batas-batas yang tak boleh diloncati: batas antara hormat dan abai, antara tradisi dan sensasi --viralisme.

Kadang ‘viralisme’ hadir tanpa kemampuan membedakan mana yang pantas dikonsumsi publik dan mana yang harus dijaga kesuciannya. Maka benturan antara tradisi dan sensasi sering berujung pada kegaduhan, bukan pemahaman.

Di hadapan makam seorang raja, pendiri Kerajaan Balanipa, setiap langkah seharusnya mengandung doa; setiap gerak tubuh seharusnya mengingatkan pada jasa dan keberaniannya. Sebab di sana ada lipatan sejarah, mengandung dalam rahimnya berlaksa-laksa pengetahuan dan khazanah kearifan lokal. Menghormatinya adalah jalan paling bijak. 

Kepada kelompok remaja perempuan yang terlanjur menari-nari di atasnya, kalian yang belum paham betul batas antara yang mana bisa dan yang mana tidak bisa, datanglah kembali ke puncak Napo sana. Bersimpuhlah di pusaranya. Tak perlu sibuk meminta maaf kepada mereka yang hidup. 

Datanglah lagi ke sana: Hadirkan hatimu, luruskan niatmu. Tak usah risau. Kalian tak bakal terkutuk. Sebab, dibalik pusara itu, La Puang, manusia bijak itu, dari balik pusaranya pasti Ia sungguh paham bahwa dunianya dengan duniamu kini sungguh jauh berbeda. 

Tapi setelah, itu kalian belajarlah lebih dalam lagi. Bahwa Mandar, adalah ‘lahan’ pengabdian yang tak akan pernah habis digali dan diselami. Mandar, adalah sumber inspirasi. Berkaryalah. Ambillah banyak-banyak nilai dari puncak Napo sana, internalisasikan nilai-nilai itu ke dalam setiap diri kalian. 

Menarilah terus, tapi saya ingatkan: 
Jangan lagi menari di pusara La Puang, I Manyambungi, Todilaling. Berilah rasa hormat penuh dan total kepadanya.

Karena, kalian terlanjur pernah menari-nari di puncak bukit itu, maka di kesempatan pertama, kupinta: datanglah kembali –segera- ke pusara agung itu: Minta maaflah.

Tinambung, 18/11/2025

Minggu, 16 November 2025

TODILALING || Sang Raja yang Tidurnya Dijaga Empat Banua




Penulis: Safardy Bora

Ada nama yang bila diucapkan, udara seolah menahan napasnya sebentar: Todilaling.
Di Balanipa, terutama di kampung-kampung yang masih setia pada jejak leluhur, nama itu bukan sekadar sebutan seorang raja—ia adalah gema masa lampau yang tetap memantulkan cahaya hingga sekarang.

Di masa ketika kabut turun lebih cepat daripada ayam jantan, dan punggung gunung berdiri sebagai dinding sunyi tempat para leluhur menitipkan pesan, hiduplah seorang pemimpin yang kelak menyatukan empat banua dalam satu garis takdir: I Manyambungi—Todilaling, raja pertama Balanipa.

Kisah tentang dirinya tidak hanya hidup dalam lontara. Ia berjalan dari bibir ke telinga, dari ritual ke malam-malam cerita, dari denting gendang ke detak batin yang mencari asal-usulnya. Setiap kali namanya disebut, ada sesuatu yang membuat orang menunduk—seperti ada angin yang datang membawa pesan dari abad-abad yang hilang.
---
I. Jejak Lama yang Tak Pernah Redup

1. Pemakaman yang Menahan Waktu

Orang tua Mandar menyimpan kisah tentang peristiwa paling sunyi dalam hidup Todilaling: saat ia kembali ke tanah.
Tetapi ia tidak ditinggalkan sendirian.

Empat belas sosok—dalam banyak cerita: tujuh lelaki dan tujuh perempuan—ikut “turun” bersamanya.
Tidak sebagai korban, melainkan sebagai tanda bakti;
sebagai bayangan yang menjaga tidurnya, sebagai perisai terakhir dalam perjalanan menuju alam tak bernama.

Maka, lahirlah sakralitas itu.
Todilaling tak lagi hanya raja; ia menjadi pusat kosmos kecil yang memantulkan wibawa dan misteri.

2. Gendang Yang Berjalan di Udara

Ada cerita yang tidak dicatat oleh akademisi, tetapi disimpan oleh mereka yang hatinya masih pekat oleh masa lampau.

Beberapa malam setelah penguburannya, dari arah puncak gunung terdengar bunyi lirih—mirip gendang kecil yang dipukul pelan, atau nyanyian yang tidak selesai.
Tidak jelas dari mana datangnya, tetapi cukup untuk membuat orang merapatkan sarung dan menatap gelap.

Dari sanalah keyakinan muncul: bahwa Todilaling dijaga tidak hanya oleh manusia. Ada yang lebih tinggi, lebih sunyi, lebih sulit dijelaskan—yang menutup seluruh perjalanan hidupnya dengan kesyahduan.

3. Ketika Persatuan Dirawat di Bawah Satu Nama

Todilaling adalah sosok yang membuat Appe Banua Kaiyyang bersumpah untuk hidup dalam satu payung persatuan.
Pada masa ketika persekutuan lebih rapuh daripada seutas tali nipah, kesanggupan untuk menyatukan empat banua bukan hanya kecakapan politik—melainkan semacam berkah.

Maka wajar bila masyarakat melihatnya sebagai pemimpin yang bertuah;
bukan sekadar pemegang kekuasaan, tetapi penata harmoni antara manusia dan semesta.
---
II. Gunung Lapuang  Napo: Tempat Di Mana Waktu Tidak Terlalu Cepat

Gunung Lapuang Napo masih berdiri seperti dulu—memayungi makam tua Todilaling di puncaknya. Dari sana, langit tampak lebih dekat dan udara membawa aroma tanah yang mengingat musim-musim lama.

Kini, makam itu menjadi ruang belajar, ruang hening, ruang mengenang.
Pelajar datang dengan buku catatan.
Peziarah datang dengan doa.
Pejabat datang membawa kamera dan hormat.
Komunitas budaya datang menjaga apa yang tersisa.

Tetapi gunung itu juga menyimpan cerita yang pelan-pelan mulai dilewati waktu:

Jalur Lama Para Peziarah

Dahulu, sebelum ada jalan yang layak, para peziarah berjalan dari Lamasariang → Oting - Pandebulawang →  Lapuang.

Kendaraan hanya bisa berhenti sampai Oting.
Setelah itu, jalan berubah menjadi deretan batu cadas besar yang tidak bisa dilewati roda empat.
Orang berjalan kaki, menembus tanah liat berkapur yang licin bila hujan, keras bila kemarau.

Ke makam Todilaling, orang tidak hanya datang—
mereka menempuhnya.
Dan karena ditempuh dengan susah payah, setiap langkah berubah menjadi doa.
---
III. Todilaling dalam Zaman Baru

Kini, kisah Todilaling tidak lagi hanya tinggal di gunung.
Ia turun ke panggung seni:
ditarikan, diperankan, dipentaskan—sebagai upaya generasi muda untuk menjaga agar cerita leluhur tidak hilang ditelan cahaya lampu kota.

Penelitian pun hadir, menggambarkan bagaimana masyarakat memaknai makam itu: sebagai ruang budaya, ruang religius, ruang sejarah, atau ketiganya sekaligus.
Hasilnya satu: memori kolektif tentang Todilaling hidup—meski bentuknya berubah.

Tetapi ada tantangan baru:
ketika makam menjadi bagian dari wisata, bagaimana menjaga kesakralan agar tidak larut oleh lalu-lalang manusia?

Komunitas lokal harus mampu menjawabnya dengan tenang:
merawat, bukan menjual;
membuka akses, tetapi menjaga makna.
---

IV. Makna Todilaling Hari Ini

Kesakralan Todilaling tidak lagi bergantung pada mistik.
Ia hidup dalam tiga ruang yang tetap berdenyut:

• Ruang memori
Menjadi benang merah identitas Mandar.

• Ruang ritual
Ziarah, hening, doa.

• Ruang pendidikan
Menjadi teks, penelitian, pembelajaran bagi generasi baru yang mungkin tidak lagi hafal nama gunung, tetapi tetap ingin mengenal leluhurnya.
---

Penutup

Ketika kita menyebut nama Todilaling hari ini, yang kita panggil bukan hanya seorang raja dari masa lampau.
Kita sedang memanggil sejarah yang menjaga dirinya sendiri; legenda yang tetap hidup karena diceritakan; dan identitas yang membentang dari puncak gunung di Napo hingga hati orang-orang Mandar yang terus mencari jejak asalnya.

Di sanalah sakralitas itu tinggal—
di antara batu cadas yang pernah diinjak para peziarah,
di antara kabut yang turun dari puncak,
dan di antara bisik-bisik yang menolak padam.
---


Samarinda, 17 November 2025

Sabtu, 15 November 2025

MAJENE || MENGGORES BUDAYA DI LEMBARAN KREATIFITAS

Oleh : Muh. Arsalin Aras

Majene bukan sekadar titik di peta, Majene adalah tungku tempat api tradisi ditempa menjadi cahaya inovasi. Dalam setiap anyaman bambu, dalam dentingan gendang dan dalam setiap petikan Kecapi Mandar, tersimpan “panas” yang menunggu dibentuk menjadi karya yang menghangatkan seluruh negeri.

Majene bukan sekedar ejaan dalam lafadz, Majene adalah kanvas hidup dimana setiap goresan budaya menjadi jejak yang menandai perjalanan waktu. Seperti pena yang menorehkan tinta pada lembaran kosong, Majene kuasa menggoreskan tradisi, cerita dan harapan menjadi karya yang tak lekang oleh angin perubahan.

Majene, tanah yang mengalir antara sungai Mahakam dan Samudra Hindia, bukan sekadar titik geografis. Majene adalah lembaran kosong yang menunggu goresan budaya yang menorehkan identitas, harapan dan impian. Ketika kreativitas menjadi pena, budaya menjadi spirit bersama, Majene menuliskan babak baru dalam peta ekonomi kreatif.

Lembaran Kreatif sebagai ruang Kolaborasi

“ Budaya adalah lembaran, kreativitas adalah pena, ketika keduanya bersatu, yang tercipta bukan sekadar gambar, melainkan nyanyian jiwa sebuah kampung.”

Dalam kerangka itu, setiap anyaman bambu, setiap dentingan petikan kecapi adalah goresan yang menegaskan identitas. Menjadikan Majene sebuah “ lembaran kreatif ” memberi ruang bagi api tradisi untuk tetap menyala, sekaligus memberi kebebasan bagi generasi muda menulis bab baru dengan warna‑warna inovasi.
Majene adalah ruang goresan budaya jejak leluhur yang tak terhapus sekaligus sebagai lembaran kreatif dan ruang terbuka bagi ide‑ide baru.

"Sebuah goresan tidak menghapus lembaran, ia menambah cerita pada tiap serat.”
Dalam konteks Majene, setiap inovasi tidak menghilangkan warisan, melainkan menambah lapisan makna pada budaya yang sudah ada.

Majene hari ini sedang menuliskan dirinya di lembaran kreatif dengan goresan budaya yang tak lekang oleh waktu. Jika Kita terus memberi ruang bagi pena‑pena muda, lembaran itu akan menjadi karya agung yang menginspirasi bukan hanya Sulawesi Barat, tetapi seluruh nusantara. Mari Kita gores bersama, supaya setiap helaan napas budaya Majene menjadi tinta yang mengalir ke seluruh dunia.

Budaya sebagai Bahan Baku, Kreatifitas Sebagai Pena

Budaya adalah cerminan jati diri sebuah bangsa, sebuah mozaik yang terdiri dari beragam warna dan motif yang membentuk identitas unik setiap komunitas. Namun, budaya bukan hanya warisan statis yang dibiarkan teronggok di museum sejarah. Ia adalah bahan baku dinamis yang terus-menerus diolah, dihidupkan, dan diinterpretasikan ulang melalui kreativitas.

Di era global ini, kreativitas menjadi sarana penting untuk mengekspresikan kembali nilai-nilai budaya, mengemasnya dalam bentuk mozaik indah yang relevan dengan zaman dan membagikannya kepada dunia. Kreativitas adalah pena yang mampu menerjemahkan esensi budaya ke dalam berbagai bentuk ekspresi—seni, musik, film, fashion, bahkan teknologi.

Melalui kreativitas, budaya tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dikembangkan menjadi sesuatu yang baru dan menarik. Misalnya, batik yang dulu hanya dikenakan dalam acara-acara formal, kini menjelma menjadi motif fashion modern yang dipakai di berbagai kesempatan. 

Kreativitas dalam mengolah budaya juga harus diimbangi dengan pemahaman mendalam tentang akar budayanya sendiri. Tanpa ini, kreativitas bisa menjadi sekadar imitasi tanpa makna, atau bahkan mengaburkan esensi budaya yang ingin dilestarikan. Oleh karena itu, penting untuk selalu menempatkan budaya sebagai fondasi utama dalam setiap karya kreatif.

Dengan memandang budaya sebagai bahan baku dan kreativitas sebagai pena, Kita tidak hanya melestarikan warisan leluhur di Majene, tetapi juga menciptakan sesuatu yang baru dan inspiratif untuk masa depan.

Kampung Krearif Tempa Budaya

Kampung kreatif bukan sekadar istilah yang muncul di media sosial. Ia adalah konsep pemberdayaan yang menempatkan budaya, seni dan inovasi sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi di tingkat paling bawah. Di era digital dan persaingan global, kampung kreatif menawarkan alternatif berkelanjutan bagi desa‑desa di Majene yang masih bergantung pada sektor agraris tradisional. Dengan mengoptimalkan potensi lokal, kampung kreatif dapat menjadi katalis pertumbuhan yang inklusif dan berdaya saing.

Setiap kampung memiliki warisan budaya—kerajinan tangan, musik tradisional, kuliner khas atau cerita rakyat yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Melalui pelatihan vokasi, perajin lokal dapat meningkatkan kualitas produk, menambahkan nilai estetika, dan mengakses pasar daring.

Keberhasilan kampung kreatif di Majene, bergantung pada jaringan antara pelaku seni, UMKM, pemerintah, dan akademisi. Kafe tematik, coworking space, dan galeri pop‑up menjadi ruang pertemuan informal di mana ide‑ide dapat dipertukarkan. Pemerintah daerah Majene dapat memfasilitasi inkubator budaya dengan menyediakan ruang kerja, peralatan, dan mentor dari kalangan profesional.

Kampung kreatif adalah jawaban konkret atas tantangan urbanisasi, pengangguran, dan hilangnya identitas budaya. Dengan mengintegrasikan seni, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor, wilayah Majene dapat bertransformasi menjadi pusat inovasi yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan warga, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Majene kepada dunia.

Dengan “menempa” budaya, Kita tidak hanya melestarikan, tetapi juga mengembangkannya menjadi sesuatu yang dinamis dan adaptif. Budaya bukan sekadar benda mati di museum, melainkan bahan baku yang bisa diolah menjadi karya-karya baru anak muda Majene yang relevan dengan zaman.

Melalui tempa budaya, warga Majene bisa menciptakan perpaduan menarik antara tradisi dan modernitas. Misalnya, musik tradisional yang dipadukan dengan teknologi digital, atau tarian klasik yang dikemas dalam bentuk pertunjukan kontemporer. Dengan cara ini, budaya Majene tidak hanya dipertahankan, tetapi juga menjadi lebih menarik bagi generasi muda.

Namun, tempa budaya juga memerlukan pemahaman mendalam tentang esensi budaya itu sendiri. Kita harus tahu mana yang bisa diubah dan mana yang harus dipertahankan. Jika tidak, akan berisiko kehilangan makna sebenarnya dari budaya tersebut.

Majene memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, setiap wilayahnya memiliki cerita, tradisi dan keunikan tersendiri. Dengan tempa budaya,  Majene bisa mengubah kekayaan ini menjadi aset yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga menguntungkan secara ekonomi dan sosial.

Penutup

Membangun kampung kreatif di Majene berarti mengubah warisan budaya menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dengan strategi yang terarah dan kolaborasi yang kuat, Majene tidak hanya menjadi tempat tinggal, melainkan “tempat budaya” yang menginspirasi, mempekerjakan dan menarik minat dunia.

Majene adalah tungku peradaban, tempat api tradisi ditempa menjadi cahaya inovasi. Dalam setiap anyaman bambu, dalam setiap denting kecapinya tersimpan “panas” yang menunggu dibentuk menjadi karya yang menghangatkan seluruh negeri.

" Sebuah kampung yang kreatif adalah palu, budaya adalah besi, dan warganya adalah pandi yang menaklukkan masa depan. "

Membangun kampung kreatif di Majene berarti memberi ruang pada api itu untuk terus menyala, bukan hanya melompat ke dalam kilauan modernitas. Setiap lokakarya, setiap pameran kecil, setiap postingan di media sosial adalah pukulan palu yang membentuk identitas baru—identitas yang tetap berakar pada tanah, sungai, dan cerita leluhur.

Akhirnya, mari kita lihat Majene sebagai " tempat di mana budaya dijadikan besi, kreativitas dijadikan palu, dan masyarakat menjadi pandai besi masa depan.” Dengan falsafah ini, Majene tidak hanya menggambarkan pembangunan, melainkan mengundang warga luar Majene merasakan denyut jantung sebuah tempa yang tak pernah berhenti di Majene.

Jumat, 14 November 2025

JEPA || SIMBOL KEBERSAMAAN DAN IDENTITAS BUDAYA MANDAR

Oleh : Muh. Arsalin Aras.

Seperti yang dikatakan oleh Claude Levi-Strauss, bahwa " makanan adalah bahasa yang tidak berbohong ", adalah bermakna bahwa bagaimana makanan dapat menjadi bahasa yang mengungkapkan identitas budaya dan kebersamaan.

Jean-Paul Sartre, menyebutkan bahwa  " manusia adalah kebebasan ", merupakan contoh bagaimana kebebasan manusia dapat diekspresikan melalui pilihan makanan dan cara makan, yang pada gilirannya membentuk identitas budaya dan kebersamaan dalam masyarakat.

Ungkapan Roland Barthes, bahwa " makanan adalah sistem semiotik ", bermakna bagaimana makanan dapat menjadi sistem semiotik yang mengungkapkan makna dan nilai-nilai budaya, serta membentuk identitas dan kebersamaan masyarakat.

Warisan dan Identitas Budaya

Jepa, kuliner khas Mandar, bukan hanya sekedar hidangan tradisional, tetapi juga merupakan simbol kebersamaan, kekuatan, dan ketahanan masyarakat Mandar.

Jepa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mandar selama berabad-abad, dan telah diwariskan kepada generasi Mandar hari ini. Jepa merupakan makanan yang dibuat secara bersama-sama, sehingga menciptakan rasa kebersamaan dan gotong royong sebagai perekat masyarakat Mandar dimanapun berada.

Jepa juga merupakan simbol identitas budaya Mandar yang kuat dan membedakan masyarakat Mandar dengan masyarakat lainnya di Nusantara. Jepa merupakan bagian dari tradisi dan budaya Mandar yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, karenanya, kuliner Jepa harus terus dilestarikan dan dikembangkan keberadaannya sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Jepa, kuliner khas Mandar, bukan semata warisan kekayaan budaya, bukan hanya sebatas hidangan tradisional, tetapi sebagai simbol dan ekspresi kebersamaan dan kekeluargaan masyarakat Mandar dimanapun berada kini.

Jepa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mandar dengan aroma dan kekhasannya yang menggugah selera penikmatnya. Jepa merupakan kuliner yang dibuat dan diolah dalam kebersamaan sehingga menciptakan sikap gotong royong sebagai bagian tradisi dan kekayaan budaya Indonesia.

Jepa harus terus dilestarikan dan mengembangkannya sebagai kekayaan budaya, agar generasi mendatang dapat menikmati dan menghargai kelezatan dan keunikan Jepa.

Ekspresi Kultural Mandar

Terbuat dari parutan Ubi kayu yang telah dikupas kulitnya dan dicuci bersih, kemudian hasil parutannya dibungkus dengan kain bersih kemudian diperas menggunakan Pangepeq, alat peras tradisional Mandar yang terbuat dari kayu, proses pemerasan ini dimaksudkan untuk menghilangkan kandungan racun pada ubi kayu, setelah dipisahkan air perasannya, ubi kayu tersebut diurai merata dengan campuran parutan kelapa untuk memberi rasa gurih dan aroma khas menjadi sebuah adonan, kemudian dipanggang diatas Panjepangang dengan tungku dari tanah liat yang menggunakan kayu bakar sebagai pemanasnya.

Jepa seringkali dikonsumsi dengan Bau Peapi, namun ada pula yang menghidangkan dengan gula merah sebagai sarapan di pagi hari dengan secangkir kopi hangat.
Kuliner khas Mandar ini mudah didapatkan di pasar-pasar tradisional maupun pusat-pusat kuliner di Kabupaten Majene dan Polewali Mandar.

Jepa, sebagai warisan Budaya Tak Benda, kini menjadi iconik Makanan Khas Mandar di United Nation, Educational, Scientific and Cultural Organization ( UNESCO ) oleh Pemerintah Propinsi Sulawesi Barat melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII.

Jepa, kuliner khas Mandar, bukan hanya sekedar hidangan tradisional, tetapi juga wujud ekspresi kultural yang mendalam dari masyarakat Mandar. Jepa merupakan simbol kebersamaan, identitas budaya, dan kekuatan masyarakat Mandar dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.

Dalam konteks kultural, Jepa merupakan ekspresi kultural yang menunjukkan kemampuan masyarakat Mandar dalam mengolah bahan-bahan alami menjadi makanan yang lezat menggugah selera.

Nilai Ontologis, Kesejarahan dan Budaya

Jepa, kuliner khas Mandar, bukan hanya sekedar hidangan khas tradisional, tetapi juga merupakan simbol ontologis, kesejarahan, dan budaya yang mendalam dari masyarakat Mandar. Jepa merupakan ekspresi kultural yang menunjukkan kemampuan masyarakat Mandar dalam mengolah bahan-bahan alami menjadi makanan yang lezat dan bergizi.

Jepa merupakan simbol yang menunjukkan hubungan antara manusia dan alam. Jepa terbuat dari bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar Kita, sehingga menunjukkan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari alam. Jepa juga merupakan simbol kebersamaan dan gotong royong masyarakat Mandar dalam proses pembuatan dan penyajiannya.

Jepa merupakan identitas yang menunjukkan sejarah dan tradisi masyarakat Mandar. Jepa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mandar selama berabad-abad, dan telah diwariskan dari generasi ke generasi sebagai simbol kekuatan dan ketahanan masyarakat Mandar dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.

Dalam konteks budaya, Jepa merupakan penanda yang menunjukkan identitas budaya Mandar yang kuat dan membedakan masyarakat Mandar dengan masyarakat lainnya. Jepa merupakan bagian dari tradisi dan budaya Mandar yang telah diwariskan dari Nenek Moyang Orang Mandar terdahulu.

Warisan Budaya Yang Patut Dilestarikan

Makanan tradisional merupakan salah satu aspek penting dalam kebudayaan suatu masyarakat. Makanan tidak hanya sekedar sebagai kebutuhan pokok, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan, identitas budaya, dan ekspresi kultural. Salah satu contoh kuliner tradisional yang memiliki makna mendalam adalah Jepa, kuliner khas Mandar yang terbuat dari ubi kayu ( singkong ) dan parutan kelapa. Jepa bukan hanya sekedar hidangan tradisional, tetapi juga bermakna ontologis, ekspresi kultural, dan identitas budaya Mandar yang patut dilestarikan.

Jepa merupakan kuliner khas Mandar yang dibuat secara bersama-sama, melibatkan keluarga dan tetangga, sehingga menciptakan rasa kebersamaan dan gotong royong. Proses pembuatannya yang unik dan rasa yang khas membuat Jepa menjadi salah satu makanan tradisional yang sangat dinantikan di Mandar. Jepa juga merupakan identitas budaya Mandar, yang menunjukkan kekayaan dan keanekaragaman budaya masyarakat Mandar.

Dalam perspektif ontologis, Jepa menunjukkan hubungan antara manusia dan alam. Jepa terbuat dari bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar, sehingga menunjukkan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari alam. Jepa juga bermakna kebersamaan dan gotong royong, yang menunjukkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendirian dan memerlukan bantuan orang lain.

Makanan khas Jepa menunjukkan kemampuan ekspresi kultural masyarakat Mandar dalam mengolah bahan-bahan alami menjadi makanan yang lezat, juga merupakan salah satu contoh bagaimana budaya dan tradisi lokal dapat dipertahankan dan diangkat sebagai identitas bangsa.
Dalam konteks identitas budaya, Jepa adalah identitas budaya Mandar yang menunjukkan kekayaan dan keanekaragaman budaya masyarakat Mandar di Nusantara.

Penutup

Kuliner tradisional merupakan salah satu aspek penting dalam kebudayaan suatu masyarakat, tidak hanya sekedar sebagai kebutuhan pokok, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan, identitas budaya, dan ekspresi kultural. Salah satu contoh kuliner tradisional yang memiliki makna mendalam adalah Jepa.

Jepa merupakan simbol identitas budaya Mandar, Jepa adalah simbol kebersamaan, bukan hanya sebagai kuliner, tetapi juga merupakan simbol ontologis kebudayaan Mandar yang patut dilestarikan dan dijaga. Kita harus terus melestarikan dan mengembangkan tradisi dan budaya lokal seperti Jepa, sehingga Kita dapat mempertahankan identitas budaya sendiri dan mewariskannya kepada generasi mendatang.

Jepa, kuliner tradisional Mandar, adalah " rumah yang tidak hanya terbuat dari batu dan kayu, tetapi juga dari cinta dan kebersamaan " ungkap Kahlil Gibran.

Seperti kata Jalaluddin Rumi, " Kita tidak lahir sendirian, Kita hidup bersama, dan Kita mati bersama ", maka Jepa menjadi simbol kebersamaan dan kekuatan masyarakat Mandar. 

Dan sebagaimana ungkapan Tere Liye, " Kita harus menjaga warisan budaya Kita, karena itu adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan ", maka mari Kita lestarikan dan kembangkan warisan budaya Mandar, agar generasi mendatang dapat menikmati dan menghargai kelezatan dan keunikan Jepa, serta memahami makna dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya."

#panganlokal
#jepawarisandunia
#jeparoadtoUNESCO
#jepacasavabread
#dukungjepajadiich

Sabtu, 08 November 2025

Pendidikan dan Industri Pencipta Masyarakat Berpengetahuan.

Catatan Hajrul Malik

Akhir pekan ini bersama wamenlu HM. Anis Matta ditengah aktivis pendidikan yang berkumpul dalam  wadah Share Edu Indonesia di Mercure Ancol, beliau memberikan beberapa arahan pada kami yang terus berikhtiar menciptakan spektrum baru pendidikan nasional dengan tema "transformasi pendidikan nasional menuju Indonesia Global. 

Inti dari pekerjaan kita bukan pada sekolah.
Sekolah hanyalah instrumen.
Yang menjadi inti adalah industri yang menciptakan masyarakat.

Sama halnya dengan politik — pekerjaan kita di sana bukan sekadar berpartai, tetapi membangun industri pemikiran, yang akan menjadi fondasi dalam mengelola negara.

Karena itu, antara dunia pendidikan dan dunia politik seharusnya bekerja bersama dalam satu ekosistem peradaban.
Sekolah mencetak manusia.
Partai mengarahkan arah gerak masyarakat.
Keduanya bertemu dalam satu tujuan: membangun masa depan bangsa.

Namun saya khawatir, jika cara berpikir yang tumbuh di sekolah masih berhenti pada transfer pengetahuan.
Karena pekerjaan itu sekarang sedang digantikan oleh mesin.

AI telah mengoleksi seluruh produk pengetahuan manusia.
Ia tidak tidur, tidak lelah, dan tidak lupa.
Jika mengajar hanya berarti mentransfer pengetahuan, maka guru pelan-pelan akan kehilangan maknanya.

Di sinilah tantangan besar pendidikan masa depan:
apa arti mengajar di tengah dunia yang seluruh sumber pengetahuannya sudah dikuasai mesin?

Maka pendidikan tidak bisa lagi berhenti pada pengetahuan.
Ia harus naik derajat — menjadi industri pembentukan manusia.
Yang kita hasilkan bukan sekadar orang tahu, tapi orang paham siapa dirinya, ke mana dia menuju, dan bagaimana dia berkontribusi bagi dunia.

Saya ingin mengingatkan, bahwa dalam sejarah kita dulu, dunia pendidikan dan dunia sosial pernah terbelah.
Ada masa ketika seorang muslim yang saleh dianggap terbelakang, dan yang maju dianggap tidak saleh.
Seolah-olah kesalehan dan kemajuan tidak bisa bersatu.

Tapi alhamdulillah, era itu sudah lewat.
Kita sekarang bisa menjadi pribadi yang saleh tanpa inferioritas.
Kita berdiri tegak di dunia modern tanpa kehilangan arah spiritual kita.

Hanya saja, kita masih berhadapan dengan kenyataan pahit:
meskipun kita memiliki prinsip “Al-Islamu ya‘lu wa la yu‘la ‘alaihi” — Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya — namun dalam kenyataan, kita masih kalah dalam teknologi, pengetahuan, bahkan militer.

Kita punya prinsip yang tinggi, tapi belum punya kekuatan yang setara.

Lalu apa sumbangan kita melalui Share Edu?

Salah satu prinsip besar dalam pendidikan Qurani adalah at-tarbiyah bil-ahdāṡ — pendidikan melalui peristiwa.
Al-Qur’an turun tidak sekaligus, tapi berangsur, menjawab tantangan demi tantangan berdasarkan konteks peristiwa.
Itulah sebabnya Al-Qur’an tidak pernah kehilangan relevansinya.

Setiap zaman bisa menemukan dirinya di dalam Al-Qur’an,
asalkan kita mau membacanya dengan kesadaran peristiwa —
membaca realitas dan ayat secara bersamaan.

Karena itu, tugas kita hari ini adalah menemukan kembali ilham baru dari Al-Qur’an, lalu menanamkannya ke dalam sistem pendidikan dan industri pengetahuan kita.

Kita akan terus menghadapi masalah yang relatif sama di seluruh dunia — kemiskinan, ketimpangan, perubahan teknologi, krisis lingkungan — tetapi yang akan membedakan kita hanyalah cara meresponsnya.

Kalau pendidikan kita tidak relevan dengan isu-isu global itu,
anak-anak kita akan tumbuh dalam isolasi intelektual.
Mereka hidup di zaman global, tapi berpikir dalam ruang sempit lokal.

Maka kita harus membangun learning society — masyarakat yang terus belajar, beradaptasi, dan tumbuh bersama perubahan dunia.

Jika semua ini kita padukan,
maka akan kita lihat bahwa revolusi besar masa depan akan ditentukan oleh perubahan dalam dunia pendidikan.

Pendidikan bukan lagi sekadar ruang belajar,
tetapi akan menjadi industri terbesar masa depan,
industri yang melahirkan peradaban baru.

Karena pada akhirnya,
perubahan dunia bukan ditentukan oleh mesin, tetapi oleh manusia yang berpikir.