Kamis, 30 Januari 2025

KARYA MONUMENTAL TENTANG ZAKAT DAN SISTEM SOSIAL KONTEMPORER OLEH SEORANG ULAMA INTELEKTUAL DARI MANDAR



Oleh: Wajidi Sayadi

Pada tanggal 5 Desember 2018 yang lalu telah didiskusikan dan dipresentasikan Kitab الزكاة والنظم الإجتماعية المعاصرة  di Jakarta yang diselenggarakan oleh Pusat Lektur Khazanah Keagamaan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Alhamdulillah, hari ini dapat kabar melalui WA gambar kitab tersebut sudah diterbitkan dalam edisi aslinya berbahasa Arab terdiri atas 6 jilid. 
Satu karya monumental yang ditulis secara serius selama bertahun-tahun oleh seorang Ulama intelektual dari Mandar Sulawesi Barat ini dapat diselamatkan naskahnya dan bisa dibaca oleh banyak kalangan. Semuanya ini atas inisiatif dan kerja keras Dr. Muhammad Zain Kepala Pusat Lektur Khazanah Keagamaan beserta jajarannya yang sangat agresif cinta pada ilmu dan hormat pada para ulama. 

DR. Muhammad Nawawi Yahya Abd Razak berasal dari Mandar Sulawesi Barat. Oleh karena itu, beliau disebut Muhammad Nawawi al-Mandari. Beliau lahir tahun 1929 di Dusun Mojopahit (Manjopahit) Desa Karama Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar. 
Muhammad Nawawi dibesarkan dan dididik dalam lingkungan keluarga yang kental dengan tradisi agama Islam. Ayahnya adalah KH. Yahya Abdurrazak seorang imam masjid di Mojopahit (masyarakat menyebutnya sebagai qadhi Mojopahit). Masa kecil dan remajanya dihabiskan di kampung halaman di Mandar. Muhammad Nawawi al-Mandari meninggalkan kampung halaman sesaat setelah peristiwa pembantaian Westerling di Mandar. Peristiwa tersebut lebih populer dengan sebutan tragedi korban 40.000 jiwa di Sulawesi Selatan khususnya di Galung Lombok Mandar. Peristiwa maut Galung Lombok terjadi pada tanggal 2 Februari 1947. Dalam peristiwa di Galung Lombok ini, selain korban tewas juga beberapa tokoh dan pemuda ditangkap di antaranya saudara kandung Muhammad Nawawi sendiri ikut tertangkap namanya Zawawi Yahya. 

Sehari setelah peristiwa Westerling di Galung Lombok, Muhammad Nawawi yang pada waktu itu baru berumur 18 tahun tinggalkan Mandar menuju Sawitto Pinrang. Selanjutnya, ia menuju Makassar. Pada tahun itu juga ia berhasil berangkat ke Mekah dan Madinah. Beberapa tahun setelah menyelesaikan studinya di Madrasah tingkat Aliyah di Mekah, lalu selanjutnya ke Kairo Mesir hingga menetap dan menghabiskan usianya belajar dan mengajar di sana. 

Sejak usia yang masih muda itulah Muhammad Nawawi al-Mandari berangkat ke Saudi Arabia selanjutnya ke Kairo belajar hingga umurnya lebih banyak digunakan di luar negeri termasuk di Eropa seperti di Belanda. Hidup beliau lebih lama di Kairo dibandingkan di negeri sendiri, Indonesia. 

Tidak lama setelah menyelesaikan Program Doktornya di Universitas Al-Azhar Kairo, ia pulang ke kampung kelahirannya di Dusun Mojopahit Polewali Mandar. Sekitar satu bulan di kampung halamannya, ia wafat dalam keadaan mendadak pada hari Kamis 9 Februari 1984 dalam usia 53 tahun. Padahal, hari Jumat sebelumnya, penulis sempat sama-sama shalat jumat di Masjid Nurul Yaqin Campalagian lalu sama-sama berangkat ke rumahnya di Mojopahit dan lama Beliau cerita dan memberi banyak nasehat. Jenazahnya dimakamkan di  samping makam ayah dan ibunya di halaman Masjid Dusun Mojopahit Polewali Mandar. 

Riwayat pendidikannya tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah menengah diselesaikan di Mandar. Pendidikan selanjutnya di Madrasah tingkat Aliyah di Makkah al-Mukarramah Saudi Arabia. Setelah itu, Beliau ke Kairo Mesir masuk Program S1, S2, hingga S3 diselesaikan di Unuiversitas Al-Azhar Fakultas Syariah wa al-Qanun, Jurusan Fiqh al-Muqaran (Perbandingan Hukum dan Madzhab). Disertasinya diselesaikan pada tahun 1980.
Muhammad Nawawi al-Mandari tercatat sebagai Doktor pertama bidang syariah khususnya zakat dalam perbandingan madzhab dari Asia Tenggara. Karya monumentalnya berupa disertasi terdiri atas 6 jilid dengan jumlah 3. 246 halaman. 

Disertasinya berjudul الزكاة والنظم الإجتماعية المعاصرة az-Zakâh wa an-Nuzhum al-Ijtimâ’iyyah al-Mu’âshirah (Zakat dan Sistem Sosial Kontemporer). Disertasi ini ditulis di atas kertas HVS berukuran 30 X 21 cm 3.246 halaman. Disertasi ini masih asli diketik dengan mesin tik lama tersimpan di Wisma Indonesia di Kairo. Atas jasa adik sepupu Dr. Abdillah Mandar yang kebetulan masih studi di Al-Azhar, Disertasi ini, penulis foto cofy dan dibawa pulang ke Indonesia. Hari ini sudah dicetak dan diterbitkan secara resmi oleh Kementerian Agama RI melalui Pusat Lektur Khazanah Keagamaan. 

Sebagai pengenalan singkat tentang sistematika pembahasannya terdiri atas: 

Muqaddimah terdiri atas 16 halaman:
Membahas mengenai terminologi zakat dan sedekah dan landasan normatif dari al-Qur’an dan hadis mengenai ketetapan kewajiban zakat dalam Islam. Awal mula penetapan kewajiban zakat serta periodisasinya. Kebijakan Abu Bakar ash-Shiddiq mengenai zakat dan pengaruhnya dalam tatanan sosial dan negara serta pengembangan dakwah Islam. 

Jilid I terdiri atas 1- 626 halaman:
Membahas mengenai zakat sebagai ibadah dan kewajiban sosial sebagai modal dasar dalam pembentukan sebuah tatanan sosial dan negara. Kedudukan zakat dalam pembinaan sosial dalam Islam, sebagai kekuatan material dan spiritual. Harta dan sistem kepemilikan dalam perspektif kerangka hukum Islam dan hukum positif yang mengandung kebaikan universal melalui sistem zakat. Sistem sosial dan kekayaan material di era kontemporer dan perbandingannya dengan sistem zakat. 

Jilid II terdiri atas 627 – 1045 halaman:
Membahas mengenai kriteria zakat meliputi syarat-syarat global diwajibkannya zakat seperti muslim, mukallaf, memiliki secara sempurna, bebas dari hutang, nisab dan haul. Kedudukan niat dalam transaksi dan distribusinya. Apakah zakat wajib disegerakan atau boleh ditangguhkan penyerahannya? Ta’jil zakat dan klasifikasinya. Apakah kewajiban zakat gugur karena kematian pemiliknya? 

Jilid III terdiri atas 1046 - 1667 halaman: 
Membahas mengenai terminologi harta dan batasannya yang wajib dizakati beserta kadar pendistribusiannya disertai dalil masing-masing. Masalah emas dan perak, hasil pertanian dan buah-buahan, hewan, harta perdagangan, dan lain-lainnya. 

Jilid IV terdiri atas 1668 – 2109 halaman: 
Membahas secara rinci mengenai delapan kelompok yang berhak menerima pendistribusian zakat. Apakah delapan kelompok akan diberikan dalam jumlah yang sama atau diberikan atas dasar pertimbangan skala prioritas? 

Jilid V terdiri atas 2110 – 2779 halaman: 
Membahas secara rinci mengenai perbandingan pendapat dari kalangan sahabat dan tabiin, ahli hukum Islam, serta empat imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, dan Ahmad bin Hambal), dan dari kalangan imam madzhab Daud Zhahiriyah, Syi’ah dan Zaidiyah. 

Jilid VI terdiri atas 2780 – 3246 halaman: 
Membahas mengenai tarjih. Mendialogkan atau mendiskusikan beberapa pendapat dari beberapa argumentasi yang dikemukakan, lalu memilah dan memilih pendapat yang dianggap lebih unggul dan tepat.  
Disertasi DR. Muhammad Nawawi al-Mandary tersebut merupakan karya monumental ulama dan intelektual muslim Indonesia sangat penting dan dipandang perlu untuk dijadikan referensi dalam studi hukum Islam khususnya kajian tentang zakat dalam perbandingan madzhab dan hukum, serta kaitannya dengan system sosial dan pemberdayaan masyarakat masa depan serta kebijakan politik pemerintah. 

Pontianak, 31 Januari 2019.

Rabu, 29 Januari 2025

MAHRUS ANDIS || MISTERI PUISINYA MENANGKAP SUKMA IBU

Suparman Sopu, Penyair dari Sulbar *):

MISTERI PUISINYA MENANGKAP SUKMA IBU

Oleh Mahrus Andis

Menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya, bukanlah sikap kultural yang harus diciptakan. Esensialitas ibu adalah kodrat yang tumbuh pada diri seorang perempuan, melekat sebagai perilaku yang menampung rahmat dan kasih sayang Tuhan. Karena itu, berbahagialah seorang manusia (baik laki-laki maupun perempuan) apabila ia berhasil menangkap sukma ibu dan melahirkan peran ke-ibu-an dalam sikap perilakunya.

Narasi di atas adalah sedimen pemahaman saya setelah membaca puisi Suparman Sopu, berjudul "Ibu, Aku Jadi Ibu". Puisi ini dimuat dalam buku Antologi Bersama "Ibu, Aku Anakmu", halaman 182, produksi Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) Jakarta, 2024.

Sebelum lanjut, kita nikmati dahulu puisi Suparman Sopu dimaksud.

IBU, AKU JADI IBU

Kini aku juga sudah jadi ibu, Ibu !
Kulalui rasa yang engkau rasakan 
Membawa janin dalam rahim sembilan bulan
Malam dalam ngantuk harus bangun oleh tangis bayiku
Tidak dalam hitungan jam 
Kutimang resah tangis bayi yang panjang 
Kupeluk dalam selimut kasihku yang tulus
Ibu ! Aku yakin engkau lebih dari aku, Ibu !

Pada masa kanak-kanak anakku  
Kulihat masa kanak-kanakku 
Zaman membedakan kerangka hidup 
Aku adalah anak pasir yang riang dalam hujan di alam bebas
Anakku bercengkrama dengan plastik dan berada di ruang-ruang permainan tertutup 
Aku engkau panggil dengan sepotong kayu di tanganmu kala aku melebihi batas
Sedang tanganku kaku oleh aturan-aturan tentang kekerasan pada anak

Ibu, kini aku jadi ibu, Ibu
Aku kuat karena ketegasanmu 
Aku disiplin karena kedisiplinanmu dan lingkunganku
Ibu !
Aku khawatir pada anakku
Kala dia dewasa dan jadi ibu
Tidak seperti aku 
Karena alamku dan alam anakku
Sungguh jauh berbeda.

Mamuju, 20 November 2024

Satu hal yang wajib ada dalam sebuah puisi ialah misteriusitas. Sesuatu yang misterius, setidaknya, bertujuan mencubit kesadaran puitik pembaca untuk merenungkan moral di balik pesan penyair. Puisi tanpa misteri hanya onggokan kata-kata yang tidak menarik untuk dinikmati.

Misteri utama puisi Suparman Sopu terletak pada judulnya: Ibu, Aku Jadi Ibu. Di tataran ini konsep memahami semiotika eksistensi seorang ibu sudah terbaca. Lebih jelas lagi sebab Suparman Sopu adalah sosok seorang suami dan ayah dari anak-anaknya. Hikmah kasih sayang dalam diri penyair membuatnya terdorong menangkap sukma ibu, meletakkan selaras, bahkan melebihi perannya sebagai seorang ayah. Di bait pertama puisinya, ia menulis:

"Kini aku juga sudah jadi ibu, Ibu !/
Kulalui rasa yang engkau rasakan/
Membawa janin dalam rahim sembilan bulan/
Malam dalam ngantuk harus bangun oleh tangis bayiku/
Tidak dalam hitungan jam/
Kutimang resah tangis bayi yang panjang/
Kupeluk dalam selimut kasihku yang tulus/
Ibu ! Aku yakin engkau lebih dari aku, Ibu ! 
..." 
Bagi penyair, peng-agung-an terhadap kemuliaan dan ketulusan cinta seorang ibu itu mutlak. Saking mutlaknya, ia merasakan hadirnya keraguan terhadap kesanggupan anak-anaknya kelak mengemban sifat kodrati peran seorang ibu. Perbedaan zaman, di mana ayah dan anak merentang jarak masa kecil di antara hamparan "pasir" dan ruang "plastik"; menjadi pertanyaan besar di hati penyair. "Mungkinkah kodrat ayah sebagai ibu menetes pula ke anak-anaknya kelak ?". Di sinilah dimensi perenungan itu. Rasa khawatir terhadap kodrat ke-ibu-an tampak jelas diungkapkan penyair melalui bait terakhir puisinya:
"...
Ibu, kini aku jadi ibu, Ibu/
Aku kuat karena ketegasanmu/
Aku disiplin karena kedisiplinanmu dan lingkunganku/
Ibu !/
Aku khawatir pada anakku/
Kala dia dewasa dan jadi ibu tidak seperti aku/
Karena alamku dan alam anakku sungguh jauh berbeda."

Misteriusitas puisi ini mengajak pembaca mengepakkan sayap imajinasi jauh ke ceruk-ceruk masa. Penyair seakan menggiring kita menggeledah diri dan kesadaran anak-anak yang pernah lahir dari rahim seorang ibu. Sebuah tawaran menyeruduk batin, sanggupkah kita mengemban kodrat menjadi seorang ibu, sekaligus melahirkan peran ke-ibu-an bagi anak-anak di tengah perbedaan zaman ? Setidaknya, tawaran ini menjadi misterius ketika ia muncul dari realitas artistik seorang penyair yang berstatus sebagai ayah.

Secara fisik dan semiotik, puisi yang dibahas ini memang belum sepenuhnya utuh. Struktur bait dan metafora terkesan verbal, longgar dan masih perlu intensitas pemadatan linguistik. Proses kondensasi kata menjadi diksi, setapak lagi mencapai gairah puitika yang sempurna.

Atau dengan kata lain, apabila penyair bisa lebih total dalam kontemplasi semiotik maka puisi ini akan menjadi utuh secara bentuk dan isi. Ia akan tampil sebagai puisi yang "memuisi" (pinjam istilah Sapardi Djoko Damono,1980-an). Selamat dan kreatif selalu.

Mks, 29 Januari 2025
__________
*) Dr. Suparman Sopu lahir 1 Februari 1965 di Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Selain menulis puisi, ia pun mengarang cerita prosa, mencipta lagu-lagu daerah dan menyanyikannya sendiri. Beberapa karyanya sudah terbit jadi buku.

Sabtu, 25 Januari 2025

Mengenal Sosok Drs. Saharuddin


H. SAHARUDDIN mungkin tak setenar beberapa penulis lain dari Mandar seperti Andi Syaiful Sinrang, MT. Azis Syah, Abdul Muis Mandra, AM. Sarbin Sjam, Abdul Halim AE dan lainnya. Tapi sosok yang lahir di Limboro pada 1O Februari 1920 ini tak bisa diabaikan perannya dalam mendokumentasi dan menulis jejak penting perjalanan sejarah peradaban Mandar dari zaman pemerintahan tradisional sampai pemerintahan Hindia Belanda. 

Salah satu warisan berharga yang ditinggalkannya untuk Mandar adalah buku yang ia tulis dan terbit pada tahun 1984 dan 1985. Buku tersebut berjudul "Mengenal Pitu Ba'bana Binanga (Mandar) Dalam Lintasan Sejarah Pemerintahan Daerah di Sulawesi Selatan" yang diterbitkan oleh CV. Mallomo Karya Ujung Pandang. Buku ini mengulas tentang periodesasi sejarah pemerintahan di Sulawesi Selatan khususnya Mandar. Hal penting dan menarik dicermati dalam buku H. Saharuddin ini adalah penandatanganan kontrak antara pihak Pemerintah Hindia Belanda dengan semua raja yang ada di Pitu Ba'bana Binanga. 

Kendati buku yang beliau tulis belum memenuhi syarat sebagai buku, tapi apa yang dituliskannya justru menjadi referensi utama dan penting dalam sejumlah riset terkait sejarah dan kebudayaan Mandar. Saya tak bisa membayangkan andai H. Saharuddin dan lainnya tak ulet menyelesaikan narasi bukunya, akan seperti apa dunia literasi kita di Mandar saat ini?. Dan yang luar biasa dari jejak beliau adalah kemampuannya menaklukkan situasi dan kondisi yang melingkupinya, hingga keluar sebagai sosok pemenang dan mampu bekerja untuk menata masa depan diri dan keluarganya. 

H. Saharuddin hidup disaat negara belum kondusif. Ia sadar bahwa hidup harus terus berjalan. Kesadaran itulah sehingga ia berusaha mengejar mimpinya dimulai dari bangku sekolah. HIS di Majene adalah sekolah Belanda yang menjadi pilihan satu satunya untuk bisa belajar hingga tamat pada tahun 1937. Ijazah itu kemudian mengantarnya menjadi pegawai negeri pada tahun 1938. Tak berhenti sampai disitu, ia bahkan rela meninggalkan kampung halamannya untuk bisa mendapatkan ijazah SMP dan SMA . Negeri di Pare-Pare yang diperolehnya masing-masing tahun 1959 dan I961.

Selain sekolah formal, ia juga banyak mengikuti berbagai kursus kedinasan dalam lingkungan Departemen Dalam Negeri a.l. Kursus Keuangan Daerah (1950), Kursus Dises Pemerintahan Bagian B (1953/1954), Kursus Perpajakan (I967) dan Kursus Pererncanaan Pembangunan (I968).

1 Januari 1938 ia tercatat sebagai PNS di lingkup Departemen Dalam Negeri dan pensiun pada I Marat 1976, dengan pangkat permulaan Bestuursschrijver (juru tulis Pemerintahan) sampéi térakhir Penata Tata Praja Tingkat I. Karirnya selama menjadi abdi negara tercatat pernah bertugas di Kantor Kepala Onderafdeling Polewali 1938-1941; Di Kantor Kepala Distrik Limboro Swapraja Balanipa 1941 1950; Di kantor Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan 1950-1953; Di kantor Kepala Derah (bekas Afdeling) Pare-Pare 1953 1960 dan di Kantor Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sidenreng Rappang dengan jabatan terakhir Bupati Muda 1960-1976. 

Hal lain yang perlu dicatat,  
dalam tahun 1948 Pd. Pepuangan Limboro (Anggota Hadat Swapraja Balanipa), dan dalam tahun 1950 didetasir di Mamuju sebagai Pd. Sekretaris Pemerintah Darurat Wilayah Mamuju selama 14 bulan (peralihan dari NIT/RIS ke RI). Dan terakhir 1976-1978, ia menjadi Kepala Bagian Pengawasan Keuangan di Kantor PPD Tk. I (PEMILU) Sulawesi Selatan di Ujung Pandang.

Jumat, 24 Januari 2025

SAMBUTAN || Dr. SUHARDI DUKA, MM. (Gubernur Terpilih Sulawesi Barat)







Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

SULAWESI BARAT adalah sebuah propinsi yang lahir dari sebuah proses panjang dan berliku. Di usianya yang kini menjelang 21 Tahun tentu harus menjadi renungan bersama, bahwa tak layak lagi Sulawesi Barat ini disebut sebagai propinsi baru, melainkan sebuah propinsi yang layak (wajib) melakukan lompatan-lompatan yang lebih jauh, jelas dan terukur. 
Sulbar tak boleh lagi ditulis pada halaman TERBELAKANG, tapi harus tercatat pada halaman TERDEPAN, artinya bahwa persoalan-persoalan Sulbar yang selama ini menjadikannya terbelakang atau mungkin terjauh dari spasi bangsa besar ini harus diretas. Sulbar memiliki potensi yang mesti kita optimalkan SDA-nya dengan mengaktif profesionalkan SDM yang ada. Ini mutlak dilakukan. 
Salah satu yang juga menjadi keresahan bersama adalah minat baca (Literasi) yang tentu erat kaitannya dengan pendidikan. Sekarang ini, minat baca masyarakat kita dibawah rata-rata. Kondisi ini diperparah dengan lingkungan yang belum mendukung secara penuh dalam peningkatan budaya baca. Artinya bahwa kita masih harus berada pada kurun 0,001 persen sebagaimana Unesco yang sampai saat ini belum ditemukan revisi dari rilisnya terkait peringkat Indonesia yang berada pada urutan ke-69 dari 127 negara. 
Artinya bahwa dari 1000 penduduk Indonesia, hanya 1 orang yang membaca buku. Untuk Indonesia, minat baca paling tinggi adalah DIY yang indeks bacanya 0,49. Ini bahkan lebih tinggi dari indeks yang dicapai oleh Singapura yang hanya 0,45. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian kita semua, baik sebagai pemerintah, masyarakat maupun unsur swasta. 
Terlebih saat ini, perubahan dunia yang disebut Artificial Intelegensia (AI) - Kecerdasan Buatan yang menuntut kita (dan para ASN) melakukan pengembangan terhadap Sumber Daya Manusia (SDM). Peningkatan kualitas SDM yang mewakili perubahan tidak boleh stagnan, harus setara dengan perubahan zaman, atau bahkan berkembang melampaui skill dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjalankan pemerintahan modern hari ini, esok dan selamanya. 
Budaya membaca dan menulis adalah kunci untuk membuat perubahan-perubahan mendasar di Sulawesi Barat. Pengembangan Literasi haru menjadi prioritas sebab jika ini tidak bisa diwujudkan, Sulbar dan generasinya akan tergilas zaman. Kita harus mampu membuktikan pada Unesco bahwa apa yang dirilis itu tidak terjadi di Sulawesi Barat. 
Salah satu pemantiknya adalah upaya yang dilakukan oleh Saudara Muhammad Munir ini. Literasi harus menjadi landasan kita dalam melahirkan kebijakan-kebijakan pada rakyat. Sebagai penggiat literasi ia telah banyak melahirkan berbagai buku bacaan di Sulbar yang ia tulis dan produksi sendiri. Kita memang butuh pasokan buku-buku umum dari luar, tapi tentu tak harus melupakan bahwa kita punya budaya, kita punya sejarah dan kearifan lokal yang mesti dilestarikan. Salah satu cara melestarikannya tentu dengan melisankan dan menuliskannya melalui buku. 
Buku “Perjalanan Panjang SDK-JSM Memenangkan Pilkada Sulbar” ini sangat saya apresiasi, bahwa satu dari sekian ratus bahkan ribuan tim yang ada, Muhammad Munir berhasil meliterasikan perjalanan panjang itu hingga berada pada titik: Gubernur Terpilih Sulawesi Barat. Tak hanya itu, ia bahkan berhasil merekam semua peristiwa penting, partai pengusung dan tokoh-tokoh penting yang telah berkonstribusi dalam perjuangan ini. Sejak awal bergabungnya di Garda Perjuangan SDK-JSM, Seorang Munir, telah menunjukkan keberpihakannya secara utuh dengan seringnya ia menulis di berbagai media dan sosial (termasuk WAGs) dan akun soaial media miliknya 
Sulbar Maju mesti kita kawal bersama, Sulbar Malaqbiq harus kita rawat secara kolektif. Salah satu cara menjaga dan merawatnya adalah dengan terus melisan tuliskan semua dinamikanya. Tak hanya itu, kita semua harus lebur dalam dialektika yang melingkupinya. Pada akhirnya, kepada kitalah semua bermuara, Sulbar Maju tentu tak akan bisa diwujudkan jika masyarakatnya juga tak punya minat untuk maju. 
Kepada Saudara (Adinda atau Ananda) Muhammad Munir, saya secara pribadi mengucapkan terima kasih atas upaya yang telah dilakukan ini. Semoga menjadi berkah, menjadi doa dan bernilai ibadah disisi Allah SWT. Amin.
Teruslah Berkarya !  

Mamuju, 18 Januari 2014



Dr. SUHARDI DUKA, M

Sabtu, 18 Januari 2025

PENGANTAR PENULIS ||MELISAN TULISKAN KEMENANGAN



Dokumentasi 2017

Bismillahirrahmanirrahim, Kalimat indah itu saya jadikan pembuka sebagaimana status ayat itu menjadi pembuka dalam QS. Al-Fatihah. Suratul Fatihah adalah pembuka atau kunci dalam segala urusan dengan Tuhan, manusia dan alam. Maka kepada-Nya jua semua kuserahkan, akan seperti apa coretan ini bermanfaat bagi siapa saja. Termasuk ketika saya mengambil keputusan bergabung dalam barisan SDK-JSM.   
     
Buku “Jejak Kemenangan” ini telah saya rancang sejak memutuskan bergabung dalam Garda Perjuangan SDK-JSM pada Pilkada kali ini. Sosok Salim S. Mengga bagi saya adalah panutan yang patut untuk dipatuhi. Maka ketika dua suhu ini bergabung satu kubu, saya sudah yakin akan menang. Sejak itu saya niatkan menyusun buku ini sebagai upaya melisan tuliskan kemenangan. Ternyata, kemenangan itu berpihak ke SDK-JSM. Maka jadilah buku ini sebagai bentuk apresiasi saya kepada kedua sosok ‘Malaqbiq’ ini. 

Lembaran-lembaran tulisan yang berserakan sejak awal menemukan takdirnya sebagai buku berkat dukungan dan bantuan dari Dr. Sitti Suraidah Suhardi, H. Syamsul Samad, Sukri Umar, Ary Iftikhar Shihab (Koje) dan Dirga Adhi Putra Singkarru. Semangat merampungkannya semakin menggebu ketika gagasan ini saya sampaikan ke Bapak Suhardi Duka. Beliau sangat mengapresiasi dan mengetik kata: Menarik, lanjutkan !. Kepada Pak Jendral Salim S. Mengga juga saya sampaikan. Belau mengatkan, Saya akan terus mendukung upaya Ananda Munir dalam melakukan ini”.    

***

Sejak Pilgub 2006, JSM adalah sosok yang kerap saya dukung dalam berbagai momentum pemilihan, baik itu di Pilkada maupun di Pemilu. Pada Pilgub 2017 terkesan saya menjadi pendukung ABM-Enny. Itu karena saat itu saya masih berstatus sebagai kader Partai Amanat Nasional (PAN). Secara, saya bergabung di PAN sejak tahun 2006-2018. Tapi hati nurani, tetap menjadi milik Sang Jendral Salim S. Mengga.  

Alasan lain saya bergabung sebagai pendukung pasangan SDK-JSM karena pertimbangan momentum. Sejak Sulbar terbentuk, Klan Mengga, Masdar dan Manggabarani kerap menjadi satu-satunya yang selalu berkontestasi dalam setiap pemilihan, baik itu Bupati maupun Gubernur. Diantaranya itu muncul Anwar Adnan Saleh meruntuhkan hegemoni 3 M itu. Seiring perjalanan waktu, SDK dan Hendra S. Singkarru menjadi sosok penyeimbang diantara deretan tokoh itu. Belum lagi Aras Tammauni dan Agus Ambo Djiwa yang juga menjadi sosok yang diperhitungkan dalam berbagai momentum pemilihan kedepan. Pilkada Sulbar 2024, SDK, JSM dan Singkarru bergabung. Tentu ini merupakan kekuatan besar yang hampir bisa dipastikan jadi pemenang. 
Pilkada Sulbar 2024 yang baru saja lewat (27 November 2024) lalu menjadi puncak rangkaian perjalanan panjang bagi Suhardi Duka dan Salim S. Mengga memenangkan pertarungan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2025-2030.

Pasangan dengan tagline SDK-JSM ini keluar sebagai pememang mengalahkan Andi Ibrahim Masdar (AIM)-Asnuddin Sokong, Andi Ali Baal Masdar (ABM)-Arwan dan Prof. Husain Syam (PHS)-Enny Angraeni Anwar. Ali Baal Masdar adalah Gubernur Sulawesi Barat periode 2017-2022) dan Enny Angraeni Anwar adalah Wakil Gubernur Sulawesi Barat yang mendampingi ABM. 

Strategi memasangkan antara SDK dan JSM adalah kunci kemenangan itu. JSM adalah sosok yang dikenal sebagai tokoh karismatik, mantan jendral. Bisa disebut politisi dan ulama. Berpadunya kekuatan SDK dan JSM menjadi sebuah strategi yang menurut para pengamat adalah pasangan tak terkalahkan. Terlebih dibelakang terdapat barisan partai pengusung, singkarru family, dari unsur eksekutif dan legislatif serta politisi dan tokoh agama, adat serta pemuda yang bersinergi membangun kekuatan untuk SDK-JSM. 

SDK-JSM diusung oleh koalisi besar yakni Partai Demokrat, Partai Nasional Demokrat (NasDem), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Gelora, Partai Ummat dan Partai Buruh. Selain Tim Koalisi Partai itu, SDK juga didukung oleh Tim Relawan dan sejumlah komunitas pendukung yang bekerja solid di lapangan. Tim pemenangan yang terus menjaring berbagai kekuatan akar rumput untuk target menjadikan SDK-JSM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat.

Dengan semua itu, perjalanan panjang SDK semakin meyakinkan sampai ke finis, karena hal yang klasik dalam sebuah perjuangan adalah finansial (logistik). SDK menjadi sosok yang bertanggung jawab untuk kebutuhan finasial, sementara JSM dan simpatisannya menjadi tonggak pemenangan di lapangan dan bekerja tanpa pamrih. Hal tersebut memang telah dilakukan sejak Pilkda Gubernur 2006, 2011, 2017 sampai 2024 ini.  

Demikianlah yang terjadi dalam proses Pilkada Sulbar. SDK-JSM memiliki dua pilar pemenangan utama. Pertama adalah partai politik pengusung SDK-JSM. Di barisan partai politik ini ada 7 partai politik (tiga pemilik kursi dan empat partai non kursi). Partai NasDem memiliki 5 kursi dan 1 kursi dari PKS. Sementara dari partai non parlemen adalah PSI (Partai Solidaritas Indonesia), Partai Gelora, Partai Ummat dan Partai Buruh. 

Pilar Kedua banyaknya tokoh Sulbar dan komunitas masyarakat yang terdiri dari pemuda, petani, nelayan, petrnak, pelajar, mahasiswa, penggiat literasi dan sejumlah organisasi pemuda antara lain SDK Community, Koje Community Sama Rata, Barisan Anak Jenderal, Sayap Muda JSM, Garda Bersatu 80SS, dan lainnya yang tergabung sebagai relawan. Para tokoh sekelas H. Hendra S. Singkarru, Hajrul Malik, Abd. Jawas Gani, Pendeta Abraham, Muhammad Ilyas Yacub, Muhammad Asri Abdullah, Abdul Rahman Tona, H. Ramli, H. Sabaruddin, S. Taswin Al-Attas, Abd. Rahman Karim, Andi Morgan, Hamka, Syarifah Nur Abbas, dan ratusan tokoh yang siap memenangkan SDK-JSM.    

Interaksi dengan Suhardi Duka

Mengenal nama SDK sesungguhnya sudah lama, sejak ia menjabat sebagai Ketua DPRD Mamuju ketika awal-awal perjuangan pembentukan Propinsi Sulawesi Barat (2001). Ketika itu, terjadi sebuah persoalan terkait rekomendasi DPRD Mamuju yang dinilai Pemprop Sulsel kurang tegas, apakah akan mendahulukan pemekaran Mamuju atau dukungan terhadap perjuangan Pembentukan Propinsi Sulawesi Barat. Pihak KAPP Sulbar meminta agar mengubah surat rekomendasi yang pernah dikeluarkan oleh DPRD Mamuju. 

Tindakan SDK saat itu adalah menjawab surat dari Pemprop Sulsel (gubernur) untuk menegaskan bahwa pihaknya menyetujui perjuangan pembentukan Propinsi Sulawesi Barat. Hal ini dilakukan agar semua bisa berjalan lancar tanpa harus melalui paripurna yang tentu memakan banyak waktu sebab harus rapat untuk dengar tangapan fraksi-fraksi di DPRD Mamuju. Inisiatif SDK ini rupanya bisa menyelamatkan proses perjuangan Sulbar (Adi Arwan Alimin, 2016). Andai hari itu, SDK tak mengambil tindakan, sangat mungkin Sulbar tak akan pernah lahir. Ini menjadi berita gembira bagi pejuang Sulbar dan dari sanalah nama SDK mulai saya dengar.  

Pertengahan tahun 2015, barulah saya bisa bertemu langsung dengan Suhardi Duka yang ketika itu masih menjabat sebagai Bupati Mamuju. Saat itu saya membersamai Andi Morgan, Hamka, Heri Dahnur Syam, dan lainnya menghadap langsung ke SDK untuk dukungannya terhadap perjuangan Pembentukan Kabupaten Balanipa. SDK sangat merespon adanya upaya pemekaran yang diperjuangkan oleh masyarakat yang ada di Polman. Ia menyambut kami dengan penyambutan yang sangat familiar.

Penulis bersama teman-teman Barisan Pemuda Balanipa bersama SDK (Bupati Mamuju) saat bersilaturrahmi dengan SDK di Kantornya (2015)

Pada tahun yang sama, komunitas literasi yang saya bentuk mendapat undangan dari Yayasan Karampuang di d’Maleo Hotel Mamuju dan mendapat kehormatan bertemu kembali bersama kawan-kawan penggiat dari Tinambung. Kesempatan ini menjadi gerbang awal bagi saya berinteraksi dengan tokoh-tokoh Mamuju dan beberapa komunitas literasi terlahirkan. Adalah Nehru Sagena, Suparman Sopu, Hajrul Malik, Abd. Jawas Gani, Adi Arwan Alimin dan lainnya menjadi pemantik.      
  Penulis bersama SDK dalam sebuah acara yang digelar oleh Yayasan Karampuang di d’Maleo Hotel Mamuju, 2015

Ketika Konferensi Rumah Jonga (Senin 5 Agustus 2024) benar-benar terjadi dan memastikan SDK berpasangan dengan Salim S. Mengga, saya kemudian menyatakan diri bergabung secara penuh. Melalui Ketua Kolaisi Partai Sulbar, Sukri Umar, saya hadir bersama Andi Morgan, dan kawan-kawan dari Polman untuk hadir dalam Pembekalan Tim Pemenangan SDK-JSM di Maleo Hotel. Setelah acara, Syamsul Samad memberi saya kesempatan bertemu dengan SDK secara langsung di Hotel Maleo setelah agenda pembekalan.
Pertemuan ini memberi kesan bahwa SDK adalah sosok politisi literat, sebab pada acara pembekalan tim itu sekaligus menjadi ajang peluncuran bukunya yang berjudul “SDK Mendayung Dari Hulu, Maestro Politik Bertangan Dingin Dari Sulawesi Barat” Buku ini merupakan buku autobiografi-nya yang digarap oleh Sofa Nurdianti, seorang penulis nasional yang cukup bisa diandalkan dalam hal tulis menulis. Terlebih, saat bertemu, ia memberi apresiasi terhadap beberapa tulisan yang saya publish di media online dan jejaring medsos lainnya.
    
Pada Minggu 1 September 2024, kembali bertemu di Rumah Putih Palippis (rumah Syamsul Samad). Hadir dalam acara yang dipandu oleh Syamsul Samad tersebut Salim S. Mengga, Ary Iftikhar Shihab, Jalaluddin, Gazali Baharuddin Lopa, Imam Efendi S. Singkarru, Abdul Muin dan sejumlah kader partai pengusung dan relawan. Pada kesempatan tersebut SDK menghadiahkan langsung bukunya kepada saya dihadapan ratusan orang tim dan simpatisannya. 
Maka jadilah malam itu sebagai ajang tukar buku dengan SDK sebab saya juga menyerahkan dua judul buku yang saya tulis, yakni Ibu Agung Andi Depu dan Hj. Maemunah Djud Pantje. 

Saat diberi kesempatan berbicara, saya memang lebih menekankan agar kelak jika jadi Gubernur Sulbar, Pemajuan Kebudayaan dan Pengembangan Literasi menjadi hal inti yang saya sampaikan. Baik SDK maupun JSM, semua merespon baik aspirasi tersebut. 

Bahwa kemudian setelah pencoblosan hasil Quik Count SDK-JSM memimpin perolehan suara terbanyak, itu sudah saya duga bahwa bergabungnya dua suhu dalam satu kubu ini adalah tanda kemenangan. Itulah makanya dalam interaksi saya dengan SDK di WA Grup, saya selalu menyapanya dengan panggilan Pak Gub. Ini pula yang selalu saya batinkan agar SDK-JSM diberikan jalan untuk jadi pemimpin di propinsi yang berjargon Malaqbiq ini.  

Interaksi dengan Jenderal Salim S. Mengga

Foto 2019 saat Salim S. Mengga dan Ardi Amanah bertandan ke Rumah Penulis 

Tahun 2006 menjadi awal bagi saya mengenali sosok Jendral Salim Mengga dan kerap berkunjung ke Rumah Jonga Polewali bersama teman-taman saat beliau ada waktunya. Maka Pilkada tahun 2006 itu juga saya bergabung sebagai salah satu tim pendukung. Termasuk ketika terjadi aksi-aksi warga yang memadati Kota Mamuju kala itu juga saya harus berada di Mamuju bersama massa pendukung JSM di Mamuju. Kontestasi Pilkada memang selalu memberi ruang kecurangan bagi penyelenggara yang tak punya nurani. Itulah yang terjadi dan menimpa sosok JSM. 

Pada Pilkada 2011 juga demikian. Saya menyatakan bergabung secara penuh dengan pertimbangan yang sangat matang mengingat PAN menjadi salah satu pengusung utama sebab JSM menggandeng Abd. Jawas Gani yang tak lain adalah Ketua DPW PAN Sulbar. Semua titik kampanye pasangan JSM-JAWAS atau Salim Saja saya ikuti di 5 Kabupaten (Mamuju Tengah saat itu belum terbentuk). Kendati hasil Pilgub harus menerima kenyataan sebagai pihak yang kalah, tapi lagi-lagi kami harus legowo dan sabar. 

Sebuah pengalaman lucu yang sampai saat ini saya ingat terkait Pilgub 2011. Saat itu saya masih jadi Imam Masjid Nuruttaubah Baru’dua Desa Botto. Kepala Dusun saat itu mendukung ABM, sementara saya mendukung JSM. Entah kami terlalu serius atau sebuah kobodohan yang belum difahami, saya dengan Pak Dusun bertaruh jika ABM menang di TPS Baru’ Dua maka saya mundur jadi Imam Masjid. Begitupun jika JSM menang, maka Pak Dusun harus rela mundur dari jabatannya. Hasilnya kemudian, JSM kalah 7 suara di TPS kami. Praktis saya mengundurkan diri dari jabatan Imam Masjid sehingga warga harus mendatangkan Imam dari luar dengan konsekwensi harus ada intentif bulanan baginya. 
Sepanjang tahun itu komunikasi saya dengan JSM selalu terpelihara baik lewat medsos maupun interaksi langsung. Sampai pada Pilgub 2017, JSM kembali maju bersama Hasanuddin Mas’ud. Secara nurani saya pribadi mendukung JSM, tapi karena saat itu saya masih terikat dengan status sebagai kader PAN maka otomatis saya berada di kubu ABM, meski orang-orang di sekitar Matakali juga tidak menghitung saya sebagai pendukung ABM sebab saya selalu menjadi orang JSM dalam setiap kontestasi politiknya. 

Ketika saya ke Belitung, saya tak memberi tahukan ke JSM tentang agenda saya melacak jejak I Calo Ammana Wewang di Belitung. Setelah mendapati postingan saya di facebook, beliau menyuruh Ardhy (Sumarding) menelpon dan langsung minta nomor rekening saya setelah kuberi tahu maksud dan tujuan saya ke Belitung. JSM memang selalu tampil sebagai sosok pengayom di setiap aktifitas literasi kerap saya suarakan dalam berbagai ruang dan waktu. Bahkan tak jarang, beliau berkunjung ke rumah saya atau memanggil saya bertemu jika beliau punya kesempatan. 

***

Bergabung sebagai tim kali ini, saya begitu yakin bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode mendatang pemenangnya adalah SDK-JSM. Ekspektasi yang saya bangun itu rupanya berkelindan dengan kenyataan, sebab setelah hari pencoblosan 27 November 2024, pasangan ini berhasil mendulang suara berdasarkan hitungan sementara (Quick Count).

Terlebih pada 7  Desember 2024, hasil rekapitulasi perhitungan langsung (Real Count) KPU menetapkan SDK-JSM sebagai pemenang berdasarkan Real Count. 
KPU kemudian menetapkan Pasangan Calon Terpilih Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi Sulawesi Barat Pemilihan Tahun 2024 di Grand Maleo Hotel Mamuju, 9 Januari 2025.  Rapat Pleno KPU menetapkan Suhardi Duka – Salim S. Mengga berhasil memperoleh dukungan dari masyarakat Sulbar yang signifikan yakni 337.512 (46%) suara. Sementara pasangan Andi Ibrahim Masdar – Asnuddin Sokong memperoleh 144. 154 (19,72%)sura. Adapun pasangan Ali Baal Masdar – Arwan Aras mendapatkan 137.181 (18,77%) suara. Perolehan suara paling rendah adalah pasangan Husain Syam – Enny Angraeni sejumlah 111.980 (15,32%).  

SDK sebagai Pemenang Pilgub 2014 melalui Rapat Pleno Penetapan menjadi pemenang di Pilgub 2024.  
Saya tentu bersyukur atas capaian ini. Sebab sosok yang saya jadikan panutan berhasil menjadi pemenang meski sebagai Wakil Gubernur. Rasa syukur dan kebahagian melingkupi mengingat SDK sebagai Gubernur adalah politisi yang menjadikan komitmen sebagai bagian dari iman, maka nikmat mana lagi yang kita dustakan?. “Allahu Akbar, Menang, Menang, Menang”. Demikianlah pekikan yang menggema ke udara saat iring-iringan kendaraan yang melakukan konvoi kemenangan SDK-JSM pada suatu sore di hari setelah pencoblosan.   

***

BUKU ini adalah rekaman perjalanan untuk sampai kepada kemenangan puncak di Pilkada Sulbar 2024. Terpilihnya SDK-JSM tidak serta merta harus kita lupakan. Ada luapan rasa yang tak boleh diabaikan. SDK pernah kalah di Pilgub 2017, JSM bahkan selalu kalah dalam setiap kontestasi Pilkada. Tapi jalan panjang kemenangan itu menjadi penting sehingga narasi dalam buku ini bisa mengingatkan kita semua, bahwa untuk menang itu tidak mudah. Ada proses yang mesti kita jalani. Rasa sakit, kecewa, lelah, bahkan letih mungkin menemani. Terlepas menyakitkan ataupun menyenangkan, semua harus dilakoni dan nikmati hingga sampai pada hasil akhir.

Dari segala rasa itulah, keduanya memupuk asa untuk mampu bertahan, berjalan, berlari hingga sampai ke puncak yang ingin dituju. Keduanya adalah sosok yang tak bisa membedakan antara menyenangkan dan menyakitkan ketika itu berhubungan dengan kepentingan rakyat. 

Narasi ini tercipta dari serangkaian perjalanan panjang SDK-JSM. Tak hanya itu, sebuah kemenangan besar pasti melibatkan banyak orang yang berjuang sesuai kemampuannya. Waktu, tenaga, uang dan fikiran pasti ada yang mereka gunakan untuk berjuang. Bahkan pada tingkatan doa saja, harus diapresiasi sebagai bentuk keberpihakan. Ketika Ibrahim as dibakar oleh Raja Namrud, serombongan semut membawa air dengan maksud memadamkan api. 
Kelakuan semut ini menjadi bahan tertawaan sebab posturnya yang kecil tentu tak akan mampu membuat api Namrud padam olehnya. Tapi semut dengan lantang mengatakan, “Kami tau, upaya ini tak mungkin bisa berhasil. Tapi setidaknya kami telah menunjukkan keberpihakan kami terhadap Ibrahim”. 

Ketika narasi ini mewujud sebagai buku, maka ia menjadi wadah bercerita tentang banyak hal. Dinamika perjuangan dan proses dialektika yang melingkupinya harus terasa. Dan buku ini mencoba merekam itu meski tidak mungkin utuh. Keterbatasan waktu dan ruang, (mungkin juga uang) yang menjadi penyebab klasik. Selain itu, keterbatasan halaman buku ini juga harus dipertimbangkan. 

Kondisi inilah yang melatari sehingga ada proses yang mungkin tak terekam, ada banyak kejadian yang tak terceritakan, bahkan ada banyak tokoh yang tak bisa kami apresiasi di buku ini. Tak hanya itu, fokus penulisan buku ini tidak secara umum merekam proses di semua wilayah kabupaten di Sulawesi Barat. Terasa sekali Polewali Mandar dan Mamuju menjadi inti, selebihnya Majene. Saya memang sempat mengunjungi Mamasa, Mamuju Tengah (mines Pasangkayu). 
Tapi lagi-lagi harus di fahami bahwa ini bukan sesuatu yang direncanakan atau disengaja. Ini murni kekurangan dari penulis. Jangan sampai ada yang berfikir sebagai bentuk pengabaian terhadap daerah lain. Sungguh, secara nurani saya tak mungkin melakukan itu, terlebih ketika mentadabburinya lewat pappasang kanne-kanne’ta, sisara’pai mata malotong anna sisara’ PItu Ulunna Salu, Pitu Ba’banan Binanga.

Olehnya itu, kepada tim yang tak sempat saya lisan tuliskan di buku ini, saya mohon maaf. Semoga ini bisa ditindak lanjuti kedepan, agar perjuangan dan kinerja kawan-kawan di lapangan semua terukur dan jelas serta bisa diabadikan.

***
Saya sengaja menyusun buku ini dengan beberapa bagian. Diawali dengan Sinopsis yang menyuguhkan sejumlah peristiwa yang melatari dan mejadi alasan SDK-JSM terus melakukan pola pergerakan untuk bisa menjadi pemimpin di Sulawesi Barat. BAB pertama saya menaikkan profil kedua sosok yang akan mengawal pemerintahan Sulbar 5 tahun kedepan. Semua harus tahu proses perjalanan kedua tokoh Sulbar itu sampai pada titik ini. Jalan panjang yang dilaluinya itu tak mudah, bahkan berliku, kadang juga menyakitkan, melelahkan. Tapi demi Sulbar, keduanya mampu menjadikan kelelahan itu letih menyertainya. 

Pada bagian selajutnya buku ini memberikan gambaran soliditas tim yang tergabung dalam Tim Koalisi Partai, Tim Relawan dan Tim Keluarga. Termasuk para tokoh politisi, tokoh agama, pemuda, dan masyarakat yang ikut menjadi bagian dari proses kemenangan ini. Adapun bagian terakhir dari 6 BAB buku ini adalah pernak-pernik yang berisi tulisan apresiasi yang tak hanya memuji tapi sekaligus menguji keberadaan SDJK-JSM sebagai pemimpin daerah bernama: SULAWESI BARAT ini. 

Pada akhirnya saya mengucapkan Selamat dan Sukses kepada SDK dan JSM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat 2025-2030. Kepada Ibu Suraidah Suhardi, Syamsul Samad, Ary Iftikhar Shihab (Koje’), Sukri Umar, SP yang saya anggap sebagai pemantik lahirnya buku ini. Terima Kasih kepada H. Hendra S. Singkarru, Abdul Jawas Gani, Muhammad Ilyas Yacub, Tammalele, Subriadi Bakri, Muhammad Aliwardi Sail, Dirga Adhi Putra Singkarru, Ratih Megasari Singkarru, Iskandar Muda Baharuddin Lopa, Abdul Rahim, Suparman Sopu, Hajrul Malik, S. Syarifah Nur Abbas As-Siraj, Abdul Rahman Tona, Abdul Rahman Karim dan semua yang tak bisa saya sebut satu-satu. 

Wabilkhusus Andi Morgan, Muhammad Aslam, Andri Prayoga Singkarru, Imam Efendi S. Singkarru, Ardhy Amanah, S. Wildan S. Baso, S. Fauzi, Andi Qadir Sangalipu, Jalal, Musjad, Tahiruddin, Burhan, dan semua yang tak bisa saya sebutkan satu-satu. tetap semanagat. Kemenangan ini bukan akhir tapi awal untuk memulai apa yang kita cita-citakan bersama. 

Campalagian – Polman 
27 November – 9 Januari 2024   



MUHAMMAD MUNIR