Sabtu, 24 Mei 2014

Tentang Muhammad Munir



                              ASA

Luka perih,air mata dan mungkin juga darah
Memar memerah di sepanjang-panjang jalanku
Berbagai rahasia,makna dan hikmah kutemui disetiap unjug jalan
Keselami,kurangkul dan kurayapi
Kusimpan dalam kantong kepalaku
dan kubenamkan dalam ringkih hati dan ruang jiwaku

Panjang kutulis berita
Pada Tuhanku nun jauh disana
Agar hari ini,esok dan nanti
Kusemai bahagia
Menikmati wajah Tuhan
dalam diriku
Selamanya !

            Dari sebuah ruang yang pengap dan sempit,ketika malam makin jauh,seperti larinya kuda jantan di malam hari,terlukis kecemasan,ketakutan dan kebahagiaan yang menyatu dalam diri seorang ibu yang sedang berjuang meregang nyawa,menikmati rasa sakitnya dalam dekapan seorang lelaki yang masih tampak gagah dari garis-garis wajahnya.Dengan sisa-sisa tenaga seorang ibu yang berhasil memennangkan pertarungan itulah yang  mengantarku merasakan udara dingin dirembang malam yang merupakan detik,menit dan hari pertama dunia mengenalku dan menyematkan identitas padaku sebagai penduduk bumi.
            Alam sepi dan sunyi seketika rancu oleh suara tangis bayi yang sedang dalam penanganan seorang wanita tua yang akrab di panggil “ Kanne Sando” alias  “dukung beranak” yang dengan cekatan “ Marrattas belarang”(memotong tali pusar) lalu kemudian mempersilahkan seorang lelaki muda dan gagah itu membisikkan bait-bait kalimat sakral (Adzan ditelinga kanan dan iqamat ditelinga kiri) yang ternyata kalimat itulah yang menjadikanku sebagai seorang hamba Allah yang hidup dalam naungan panji-panji keislaman.
            Wanita yang sukses dalam pertarungannya itu adalah ibu (Amma’) nya  yang bernama HARMI anak seorang kepala kampung yang bernama HASAN atau Ka’Pinda.Dan lelaki yang mengumandangkan kalimat suci itu adalah bapak (Pua’) nya yang bernama NURDIN atau ALIMUDDIN yang bapaknya bernama Razak.Mereka memberi pada putra keduanya dengan nama asli  ”MUHAMMAD” yang kemudian pada saat aku megenal tulisan dia memperkenalkan nama pena “MUNIR” akronim dari MUHAMMAD BIN NURDIN IBNU RAZAK.
            Seiring berjalannya waktu ia bertumbuh dan mengenali  lingkungannya yang kumuh, kuno dan hanya bisa menikmati kasih sayang dari pasangan suami istri yang miskin (harta,ilmu dan pengalaman).Dengan kaki telanjang ia lalui hari-harinya dengan menggembala sapi (Ma’ambi saping) sambil bersekolah.Masa kecil yang sulit ia nikmati dengan sebuah harapan yang penting bisa makan saja.Paceklik dan kemarau panjang dari tahun 1985 sampai 1987 yang cukup menyiksa sangat lengket dalam memori  fikirannya betapa untuk makan dari beras sangat sulit,dan harus rela mengganti makanan pokok itu dengan pisang,sagu dan jagung.Akhir tahun 1987 musim berganti,dari kemarau panjang ke musim hujan.Curah hujan diatas normal menjadikan air sungai meluap hingga akhirnya banjir besar melanda.Semua menjadi korban,mulai sapi,tanaman,sampai rumah dan perkampungan di dusun kelahirannya  separuhnya terseret arus.Kesulitan makin meradang, kemiskinan semakin menyiksa.Hanya keajaiban dan pertolongan Tuhan jualah yang membuat masyarakat dan ia mampu bertahan hidup dan mempunyai peluang untuk menyelesaikan pendidikannya.Meski untuk itu,ia harus mengorbankan kenikmatannya dan berharap menikmati pengorbannya itu esok dan nanti.
CURRICULUM VITAE :
MUNIR ( Muhammad Bin Nurdin Ibnu Razak )

Nama Lengkap                   : MUHAMMAD
Nama Panggilan                                : MUNIR
Tempat/Tgl Lahir             : Kontar, 15 Februari 1979
Agama                                  : Islam
Suku                                       : Mandar
Alamat Rumah                   : Jln. Poros Botto-Katumbangan Dusun Kontar Desa Botto
  Kec.Campalagian Kab.Polewali Mandar 91353 SULBAR
Telp,                                      : HP.0821 1300 8787
E-mail                                   :
galerikopicoqboq@gmail.com
Fecebook                              : Muhammad Munir Mitracemerlang
Hobi                                       : Membaca, Menulis,dan Organisasi.
Keluarga                              : Ibu    : Harmi Hasan
 :Ayah : Nurdin/Alimuddin
Nama                                 :Hernawati Usman
RIWAYAT  PENDIDIKAN

1. SD                                      : MI DDI BOTTO
2. SMP                                   : MTs.DDI BARU’
3. SMA                                 : MAN POLMAS
4. Perguruan Tinggi          : STAI DDI POLMAS

Pengalaman Organisasi,Profesi,Partai Politik,Pelatihan dan Jasa

1. Tahun 1995 - 1996                        : Ketua I OSIS MAN POLMAS
2. Tahun 1995 - 1997                        : Ketua Umum Reconsfila Club
3. Tahun 1995 - 1998                        : Ketua Persatuan Sahabat Pena Indonesia Polmas
4. Tahun 1995 - 1998                        : Ketua Perkumpulan Filatelis Indonesia Campalagian
5. Tahun 1995 - 1997                        : Ketua Sawerigading Fans Club
6. Tahun 1995 - 1997                        : Penegak Bantara SAKA BHAYANGKARA(Pramuka)
7. Tahun 1995 - 1997                        : Pelatih dan Pembina Pramuka Penggalang dan Penegak
8. Tahun 1995 - 1997                        : Pengurus BKPMI (Sekarang BKPRMI) Kec.Campalgian
9. Tahun 1997                                     : Pelatihan Jurnalistik,Forun Remaja 21 Bandung,Jawa Barat
10.Tahun 1998 - Sekarang              : Aktif Membina Pengajian dan Remaja Masjid
11.Tahun 2001                                    : Studi Banding (Sawit) Borneo Samudara Kunak Malaysia
: Studi Banding (Cenkeh) di Kab.Buol-Toli-Toli
12.Tahun 2001 - 2003                       : Petani Pemandu Project ACDI-VOCA
13.Tahun 2002 - 2003                       : Motivator Gold Agency Manager CNI
14.Tahun 2003 - Sekarang              : Direktur LPK MITRA CEMERLANG
15.Tahun 2003 - 2006                       : Pengurus DPK Partai PDK Campalagian
16.Tahun 2003 - 2008                       : Staf Ka.KP PT.Pos Indonesia KP IX Campalagian 91353
17.Tahun 2004 - 2005                       : Presenter Lokal K-Link Indonesia
18.Tahun 2004 - 2011                       : Pendiri dan Imam Masjid Nuruttaubah Desa Botto
19.Tahun 2004 - Sekarang              : Ketua Ikatan Alumni MTs.DDI Baru’
20.Tahun 2005 - 2008                       : Producer dan Insiator Festival dan Audisi Bintang Cemerlang
                  Lagu Daerah Mandar
21.Tahun 2006 - Sekarang              : Pendiri LP2-MD Al-Irsyad Intelectual Forum Polewali Mandar
22.Tahun 2006                                    : Quick Coun LSI PILGUB SULBAR 2006 di Mamuju Utara
23.Tahun 2006 - 2010                       : Pengurus DPD PAN Polewali Mandar (Hasil Musda PAN Ke-2)
24.Tahun 2008 - Sekarang              : Dewan Pendiri Celebes Survey Indonesia (CSI)
25.Tahun 2008 - Sekarang              : Dewan Pembina Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Untuk
   Rakyat
26.Tahun 2008                                    : Peserta Rakernas PAN Ke-3 di Surabaya Jawa Timur
27.Tahun 2009                                    : Calon Legislatif DPRD dari PAN Dapil 3 Polman
28.Tahun 2010                                    : Ketua DPC PAN Campalagian
29.Tahun 2011                                    : Steering Committee MUSDA PAN Ke-3 DPD PAN Polman
30.Tahun 2011-Sekarang                : Wakil Sekretaris DPD PAN Polewali Mandar
31.Tahun 2011                                    : Kelompok Tani Penerima Bantuan Mesin Penanam Padi
                                  (Rice Transplanter) APBN 2011
32.Tahun 2011                                    : Peserta Rakernas PAN ke-4 di Jakarta (PAN-PBR)
33.Tahun 2011 – Sekarang             : Dewan Pendiri Kerukunan Keluarga Polewali Mandar –
Mamuju
34.Tahun 2011 – Sekarang             : Direktur Eksekutif YPPEM Polewali Mandar
Aktivitas Tahun 2012                       : Dewan Pembina Gerakan Pemuda Peduli Polman
: Fasilitator Pusat Pelatihan Optimalisasi Fungsi Otak Kanan
: Dewan Presidium DP3-Kabupaten Balanipa
: Spotcheker Hatta Rajasa For Indonesia Mamuju,Matra dan                                                                Mamasa
Aktifitas Tahun 2013-2014             : Kepala Biro Tabloid Plat Merah Sulawesi Tengah
                                                                : Ketua KUBE MITRA CEMERLANG Kel.Baru Kec.Baolan
                                                                  Kab.Tolitoli Sulawesi Tengah Binaan Kementrian Koperasi.
                                                                : Membina Kelompok Tani Penerima Bantuan APBN 2011-2012
                                                                : Pimpinan Bengkel Maju Bersama Binaan Departemen Sosial
                                                                : Pendiri dan Komandan Barisan Muda Pemerhati dan Pembela
  Balanipa (BMP2BALANIPA) MANDAR SULAWESI BARAT
: Menulis Buku :
  1. Srigala Bertopeng Nabi (Kumpulan Puisi)
  2. Bamba Sangi Anna Cawa (Seri Novel Budaya Mandar)
  3. Mengeja Mandar Lewat Balanipa
: Produksi Album Mandar Cemerlang:
   - Sampul Album Anak Mandar/Undu di Tangnga Bongi
   - Sampul Album Sarombong Undung/Pammesami Cinnata
: Membangun :
- PESANTREN Wirausaha di Kontar-Desa Botto
  dan Rumah BUKU (Sudah ada lahan)
- Wisata Kuliner KOPI COQBOQ BALANIPA dan
  Sajian  Makanan :
  Tradisional Lameaju To’ja,Jepa Gollai,
  Loka Sattai,Kale’de’,Putu Manyang,dll.,
  di Jl.Trans Sulawesi KM 27 Jappe Desa Botto
  Kecamatan Campalagian Kab.Polewali Mandar
  (Sementara dalam Proses)
- KALLOAYA Resto and Café (Lokasi sudah ada)
AGENDA TAHUN 2014

SOLUSI KREATIF UNTUK 12,23% RAKYAT MISKIN DI SULAWESI BARAT



SOLUSI KREATIF UNTUK 12,23% RAKYAT MISKIN DI SULAWESI BARAT.
Oleh:  Muhammad Munir

Perjalanan panjang dan melelahkan dari sebuah proses awal perjuangan yang dipersepsikan “golla tanjari”  mencapai titik klimaksnya ketika Presiden Megawati Soekarno Putri menginjakkan kakinya  di bumi tipalayo dalam rangka kunjungan kerja Presiden ke Kabupaten Polewali Mandar,22 Juni 2004. Kunjungan Presiden ini sontak mendapat sambutan meriah dan melahirkan sebentuk apresiasi dalam sebuah keputusan bersama pemerintah dan tokoh-tokoh Mandar menganugerahkan gelar kehormatan kepada Megawati sebagai “Puang Megawati Indo Banua”. Dalam kunjungan kenegaraan ini Megawati berjanji akan mengeluarkan ampres (Amanat Presiden)  sebagai prasyarat pembahasan RUU bersama dengan DPR-RI. Dan benar saja, janji politik itu terbayar pada tanggal 22 September 2004 ditandai dengan pengetukan palu di ruang paripurna DPR-RI Senayan, sebagai  pertanda disahkannya UU Nomor 26 Tahun 2004 yang ditandatangani oleh Presiden Megawati pada tanggal 5 Oktober 2004 sekaligus menjadi moment sejarah dimana bekas  wilayah konfederasi Pitu Ulunna Salu Pitu Ba’bana Binanga ini menemukan takdirnya sebagai provinsi.

Inilah babak baru yang menjadi peristiwa paling bersejarah dalam perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat yang sekaligus tanggal 22 September 2004 itu dijadikan sebagai hari lahirnya Provinsi Sulawesi Barat, provinsi ke-33 dinegara kesatuan Republik Indonesia. Mulai saat itu Sulawesi Barat menata diri dengan bekal pemberian bantuan dana sebesar Rp. 8.000.000.000,- (delapan milyar) pertahun dalam kurung waktu 2 tahun. Modal itulah yang dipergunakan oleh penjabat pemerintah dalam menata pembangunan di Sulawesi Barat.

Seiring berjalannya waktu, Sulbar terus berbenah dengan  mengusung visi “Terwujudnya Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Barat menjadi provinsi yang malaqbiq”. Hasilnya adalah angka kemiskinan mulai menurun hingga 13.58% pada tahun 2010 yang terus mengalami penurunan sampai pada titik angka 12,23% pada tahun 2013. Pemerintah Sulawesi Barat memang telah berhasi menekan angka dan menurunkan jumlah penduduk miskin sampai 12,23% meski masih berada diatas angka rata-rata nasional sebesar 11,47%. Tapi kita tidak akan (sedang) membincang soal sukses tidaknya menurunkan angka-angka itu, tapi yang akan kita perbincangkan adalah langkah strategis apa yang harus dilakukan (termasuk pemerintah) dalam penanggulangan kemiskinan yang 12.23% itu? 

Untuk masuk dalam prose itu, sejenak kita telaah dulu pointer-pointer langkah yang dirumuskan dalam misi Sulawesi Barat yang dikawal oleh pemerintah, yaitu: (1) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berbasis potensi daerah. (2) Mewujudkan pemerataan, keseimbangan dan keserasian laju pembangunan antar daerah kabupaten serta meningkatkan kerja sama antar daerah, pemberdayaan, prakarsa dan peran serta masyarakat dalam pembangunan. (3) Menciptakan stabilitas daerah dan meningkatkan ketentraman, ketertiban, persatuan dan kesatuan serta kerukunan masyarakat. (4) Mengusahakan kesempatan berusaha dan menciptakan peluang lapangan kerja. (5) Mengembangkan kapasitas daerah dan perekonomian daerah serta kemampuan/kualitas SDM dan mengusahakan peningkatan kualitas lingkungan hidup. (6) Mengembangkan olahraga, seni budaya, dan meningkatkan kehidupan beragama dan kerukunan antar umat beragama.

Dari 6 point misi tersebut jika kita kaji secara mendalam maka akan kita temukan satu kalimat yang sekaligus dapat membantu Pemerintah Sulbar dalam menangani persoalan 12,23% rakyat miskin. Kata atau kalimat itu adalah Wirausaha  atau Entrepreneurship.

Wirausaha berasal dari kata “Wira” dan “Usaha”. Wira berarti mulia,luhur atau unggul, hal ini bisa dipadankan dengan Malaqbiq atau bisa juga diartikan sebagai gagah berani, utama, teladan, atau pemuka. Sedangkan usaha, diartikan sebagai kegiatan dengan mengerahkan tenaga, fikiran atau badan untuk mencapai sesuatu maksud; pekerjaan (perbuatan, daya, upaya, ikhtiar) untuk mencapai sesuatu maksud; kerajinan bekerja  (untuk menghasilkan sesuatu). 

Wirausaha juga dalam bahasa lebih keren disebut Entrepreneurship adalah istilah yang bersal dari bahasa Prancis, “entrepreneuriat” yang diterjemahkan dalam bahasa inggris menjadi “Ondertake” dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “Kewirausahaan”.

Jadi Wirausaha adalah suatu kegiatan manusia dengan mengerahkan tenaga, fikiran, atau badan untuk mencapai/menciptakan suatu pekerjaan yang dapat mewujudkan insane mulia. Dengan kata lain, Wirausaha berarti manusia utama (unggul) dalam menghasilkan suatu pekerjaan bagi dirinya sendiri atau orang lain. Orang yang melakukan Wirausaha dinamakan Wirausahawan yang bergerak disektor rill meliputi semua kegiatan produksi yang menghasilkan barang dan jasa, yang diperoleh dari proses memadukan keseluruhan factor produksi. Mereka yang bias disebut Wirausahawan adalah pedagang, saudagar, pengusaha, konsultan, businessman, industrialis, kontraktor, waralaba, investor dan lain-lain.

Dalam kaitannya dengan pengertian wirausahaini, Rhenal Kasali mengartikannya sebagai orang yang menyukai perubahan, melakukan nilai tambah, memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain,. Karyawannya dibangun  dan dilembagakan agar kelak dapat bekerja dengan efektif di tangan orang lain. Sementara menurut SK Mentri Koperasi dan PPK No.961/Kep/M/XI/1995  mengartikannya sebagai orang yang mempunyai semangat, sikap dan perilaku dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan,mengharapkan cara kerja,  teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang besar.

Melihat arti penting dari konsep wirausaha ini, maka dalam kongres World Association for small and medium entreprise di Turki menetapkan bahwa kewirausahaan adalah sebuah pendekatan baru dalam pembaruan ekonomi. Hal ini harus kita respon secara positif dan mulai mencoba bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat krisis berkepanjangan di Negara yang (katanya) kaya akan sumber daya alam ini. Kendatipun kita telah kalah start  tapi untuk sebuah proses menuju perubahan tidak ada kata terlambat. Negara Negara lain memang telah lama bertumbuh dan menjadikan wirausaha sebagai pendekatan dan spearhead (pelopor) untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan berdaya saing tinggi. Dan ternyata konsep ini terbukti menjadi satu dari empat pilar lapangan pekerjaan dan mengeluarkan masyrakatnya dari lingkaran setan kemiskinan.

Dalam konteks kekinian, kewirausaan ini mesti didorong dan didukung penuh oleh pemerintah dan mulai dikembangkan seluas-luasnya dan sebenar-benarnya sebagai jawaban atau solusi dari penanggulangan kemiskinan. Secara nasional Indonesia yang mempunyai penduduk sekitar 238 juta ini baru memiliki 564.240 orang atau setara dengan 0.24% dari jumlah penduduk. Padahal idealnya Indonesia membutuhkan 4,07 juta wirausaha atau 2% dari total jumlah pendudk untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang mencapai 11,5-12% dari jumlah penduduknya. Jumlah wirausahawan di negara tetangga, Singapura mencapai 7% sementara China dan Korea jumlahnya mencapai 10% dari jumlah penduduknya.

Nah,sekarang ini pemerintah Sulawesi Barat sudah harus berusaha merumuskan angka-angka, berapa banyak jumlah wirausahawan baru yang harus dicetak untuk mengeluarkan masyarakat miskinnya dari lingkaran kemiskinan ?. Berapa nominal anggaran yang harus digelontorkan kepada masyarakat?.

Jika pemerintah serius,mencetak 50.000 wirausahawan dalam 5 tahun itu bukan hal yang sulit, mengingat sumber permodalan yang tersedia cukup banyak, misalnya melalui kredit usaha rakyat (KUR), lembaga pengelola dana bergulir (LPDB) melalui jaminan koperasi, kredit konvensional yang pakai agunan (hipotik) atau bisa juga melalui bansos pemerintah kabupaten atau provinsi. Begitupun dengan daya dukung lapangan (potensi dan lahan) juga sangat memadai untuk membuat ruang-ruang itu melalui usaha agraris (pertanian,perkebunan dll),usaha perdagangan (pertokoan,kaki lima,ekspor impor, dll), usaha industry (perhotelan,makanan,perbengkelan dll.), Usaha ekstraktif (pertambangan, hasil hutan,laut dll.), usaha jasa (simpan pinjam,dokter,internet,dll.).
Persoalannya adalah siap tidak (masyarakat dan pemerintah) untuk melakukan itu ? Sebagai masyarakat harus punya nawaitu yang mantap untuk maju demi sebuah perubahan. Karna sangat sulit juga membantu  masyarakat  untuk maju jika masyarakatnya tidak mau maju, sama saja mengajari babi bernyanyi. Ciri masyarakat yang mau maju jika diberikan bantuan sapi atau kambing, bisa jadi sebelum sapi atau kambing itu dia terima mereka sudah menjualnya kepada pedagang. Pun pemerintah juga dalam membuat dan merealisasikan programnya tidak seksedar terpaut pada proses prosedur adminstrasi, melainkan harus ada upaya rill dan memastikan bahwa program itu telah berjalan secara maksimal, tepat sasaran dan punya progres untuk mengubah nasib penerima program.
Terakhir, pemerintah juga juga harus siap menjadi personal guarantie bagi wirausahawan yang mempunyai prospek tapi tak punya agunan untuk jaminan pinjaman modal,serta terus menggalakkan pendidikan dan pelatihan, bimbangan teknik, workshop, studi banding, magang, utusan belajar bagi usahawan. Jika ini bisa dilakukan, yakin dan percaya angka kemiskinan itu tak akan menjadi beban lagi buat rakyat dan pemerintah.     
(Penulis adalah Pendiri Lembaga Pemberdayaan dan Kewirausahaan LPK-MITRA CEMERLANG dan Inisiator Komunitas Rumah Buku Sulawesi Barat)

PROYEK PERKEBUNAN SAWIT,BENCANA DALAM RENCANA



PROYEK PERKEBUNAN SAWIT,BENCANA DALAM RENCANA 

Oleh :Muhammad Munir
Primadona Kelapa sawit menjadi salah satu lambang kemajuan, khususnya di bidang perkebunan. Nama kelapasawitpun kerap dan sangat populer seiring dengan trend pengadaan perkebunan sawit berskala besar di daerah yang berpotensi objek lahan. Kelapasawit yang bertumbuh sangat pesat pda periode 1980 – 2000 dengan posisi awal pada tahun 1970 hanya sekitar 200 ribu hektare dan sekarang tembus mencapai angka sekitar 8 juta hektare. Nilai eksport minyak sawit pada medio 2010sekitar 17 miliar dolar AS atau sekitar 170 dolar perhektare perbulannya.
Pertumbuhan sub sektor kelapa sawit inipun banyak menghasilkan angka-angka pertumbuhan ekonomi yang sering digunakan pemerintah bagi kepentingannya. Dan ini terbukti pada Desember 2011, majalah Forbes merilis 40 orang terkaya di Indonesia, 10orang diantaranya adalah pengusaha kelapa sawit. Kondisi ini tak ayal membuat nafsu pemerintah ( baca: pusat dan daerah ) yang ingin menjadikan Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di Asia. Dan para investor melihat ladang empuk untuk dibalik nafsu pemerintah yang seakan memaksakan program perkebunan kelapa sawit itu.Pemerintah bahkan menggalakkan ekspansi besar-besaran ke wilayah kebun meski kemudian harus mengkonversi hutan.Bukan hanya itu, para investor juga dengan mudah menyisir semua wilayah dan mencari pemegang kebijakan (baca: Bupati/Gubernur dan Ketua DPRD) untuk menjadi sasaran tembak untuk memuluskan program sawit di daerah.Tak jarang para investor ini menyuap para kepala Daerah dan atau ketua DPRD yang serakah.

Dalam perjalanan pulang dari Gorontalo ke Tolitoli, saat penulis istirahat di sebuah rumah makan di Kota Raya. Tanpa sengaja melihat lembaran koran yang bekas pembungkus.Koran Mal edisi 20 April 2012 yang menurunkan berita berjudul : ”Ketua DPRD buka amplop suap investor sawit “. Dalam berita itu dijelaskan,seorang ketua DPRD Kabupaten Gorontalo Thomas Mopili membuka langsung amplop suap dari investor sawit di hadapan masyarakat umum. Bupati juga menjelaskan dalam berita itu, ada dua amplop yang diterima dari orang yang tidak dia kenal masing-masing berisi 500 dolar AS. Dikatakannya, amplop suapan itu adalah upaya penyuapan yang mengindikasikan ada hal- hal yang patut di duga meminta kemudahan dalam perizinan investasi di pemerintah daerah.
Lanjut Bupati,amplop itu sengaja dia ambil agar menjadi bukti bahwa ada upaya upaya yang dilakukan dalam memuluskan usahanya tanpa memperhatikan kaidah hukum yang harus dipatuhi. Pertanyaannya, bagaimana dengan daerah-daerah yang ketua DPRD dan Bupatinya diam-diam menerima amplop suap dari investor? lalu uang suap itu diakantongi dan dibuka sendiri dan berucap mesra kepada investor “ Selamat dating di daerah kami ! “.

Penulismenaruh kecurigaan hal itu terjadi di Kabupaten Polewali Mandar, ProvinsiSulawesi Barat, karena program pembangunan perkebunan kelapa sawit tiba-tiba mempunyai izin prinsip dengan peruntukan lahan 18.000 hektare dan terkesan memaksakan program itu masuk di wilayah kecamatan Campalagian, Luyo, Tubbi Taramanu, dan Alu.
Kekhawatiran itu didasarkan pada kenyataan bahwa pihak perusahaan pengembang sawit itu kemudian dengan seta merta melakukan pembibitan di wilayah kecamatan Mapilli dan bersosialisasi dengan propaganda dan janji-janji demi kesejahteraan rakyat.Tidak hanya itu, pihak awak perusahaan langsung mematok lahan kebun warga tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dan lucunya, perushaan pengelola perkebunan sawit itu adalah milik salah satu keluarga penguasa di daerah ini, yaitu PT. Mandar SuburSejahtera.

Pemerintah,awak perusahaan dan kaum-kaum yang berkepentingan menggiring masyarakat padaposisi yang membuat mereka terbuai, terlena, terpana dengan segudang iming-iming dari kaum yang berkepentingan ini. Mereka semaikin agresif dan proaktif dan berani manjejakan kaki untuk mendekati masyarakat dengan menjanjikan: “ Jika mengizinkan adanya perkebunan kelapa sawit ini maka, selayaknyalah masyarakat akan memperoleh keuntungan untuk dapat mensejahterakan hidupnya kelak, seperti yang dialami oleh masyarakat Mamuju dan Mamuju Utara “.Begitulah kira-kira yang dijanjikan kepada masyarakat.

Disisi lain,masyarakat pemilik lahan terjadi pro dan kontra. Sebagian besar warga masyarakat mulai bersuara lantang dan melawan, setelah tahu bahwa dampak atau imbas dari perkebunan kelapa sawit begitu dahsyat bagi keberlangsungan hidup generasi selanjutnya. Belum lagi program ini terkesan menjadi mesin ATM buat para kaum yang berkuasa ditambah lagi tidak melalui mekanisme dan prosedur pembangunan perkebunan kelapa sawit, terutama belum adanya kajian ilmiah dan amdal dari program pohon berbuah dolar ini.

Sebagai penulis yang juga putra daerah Polewali Mandar, menyadari betul bahwa kenyataan ini begitu menyedihkan ketika sebagian masyarakat sempat tersugesti mengiyakan perkebunan sawit itu, padahal jelas-jelas hal ini merupakan proses dan bentuk pembodohan dan pemiskinan sekaligus penindasan yang luar biasa terhadap kehidupan sumber daya alam dan kehidupan generasi selanjutnya. Bentuk pembodohan dan penindasan itu antara lain :
1. Lahan peruntukan yang ditunjuk oleh pemerintah adalah wilayah kebun rakyat dan hutan produksi yang sebelum mereka berinvestasi,para investor ( Perusahaan) sudah dapat menikmati dan mendapatkan keuntungan besar berupa kayu dari hutan dengan hanya mengurus Surat IJIN PEMANFAATAN KAYU (IPK) kepada pihak pemerintah,dalam hal ini Kementrian Kehutanan.
2.Penghancuran ekosistem dan musnahnya kearifan lokal dan pengetahuan local hutan, lahan, tanah yang tak dapat berfungi penuh. Hal ini terjadi karena pembukaan lahan sering kali dilakukan dengan cara tebang habis dan land clearing dengan cara pembakaran demi efisiensi biaya dan waktu.Perkebunan kelapa sawit ini juga akan menimbulkan eksploitasi kerusakan kawasan hutan yang biasanya digunakan untuk berkebun, berladang, mencari sayur dan buah-buahan, setelah sawit ini tumbuh dan berkembang semua itu akan menjadi kenangan masa lalu. Padahal kita tahu bahwa masyarakat di daerah ini menggantungkan hidupnya terhadap hutandan isinya.
3. Munculnyapersoalan tata ruang dimana monokultur,homogenitas dan overloads konversi hutanyang berimbas pada hilangnya keaneka ragaman hayati.Hal ini memicu kerentanankondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai erosi,hama migran baruyang sangat ganas karena hama ini mencari habitat baru akibat kompetisi yangkeras dengan fauna lainnya.Dan pastinya ini akan menjadi sumber penyakit yangkapan saja mengintai dan melanda masyarakat setempat.
4. Kerakusan Unsur hara dan air bagi tanaman monokultur sejenis sawit ini dalam sehari menyerap 12-25 liter air perhari perpohon.Kondisi ini akan berimabas pada kurangnya debit air diwilayah gunung (hulu) yang tentunya mengurangi pasokan air untuk bendungan Sekka-Sekka (Maloso Kiri dan Kanan) yang merupakan satu-satunya bendungan yang mengairi ribuan hektare lahan sawah.

Berdasarkan deforetasi tersebut, penulis ingin mengajak segenap pemerhati masyarakat,penyelamat lingkungan untuk member warning bahwa program Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Polewali Mandar ini,adalah sebuah program BENCANA DAN PETAKA BUAT GENERASI SELANJUTNYA. Jika ini terus di biarkan,maka besar kemungkinan akan memicu konflik horizontal dikalangan masyarakat. Naudzubillahi min dzalik.

Hemat Penulis, Polewali Mandar dalam kajian apapun pasti tidak akan cocok dengan Kelapa sawit,karna Polewali Mandar adalah daerah yang mempunyai curah hujanyang rendah dengan bulan basah hanya 4-5 bulan pertahun,sementara Kelapa sawit hanya cocok dengan daerah yang curah hujannya tinggi dengan bulan basah 6-8bulan pertahun.Sawit juga membutuhkan kemiringan tanah 30-40 derajat,sementara objek lahan yang dipruntukan pemerintah kemiringan tanahnya hanya 30 derajat kebawah. Kalaupun ada yang mencapai kemiringan 30-40 derajat, maka kawasan itu pasti kawasan hutan lindung.

PesanPenulis, bahwa Polewali Mandar cukuplah dijadikan sentra industri dan mengembangkan potensi lahan sawah dan kebun kakao yang selama ini selalu di jadikan objek program peningkatan mutu intensifikasi pertanian dan gerakan nasional pro kakao yang kesemuanya itu telah menghabiskan anggaran yang tidak sedikit dan semua itu akan duberangus oleh kehadiran sebuah PERJUDIAN di Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit. Memang tidak mudah membalik sejarah,tetapi membiarkan masa depan yang tidak jelas atau tidak pasti dalam bidang pangan (baca:beras) atau dibidang perkebunan (baca: Kakao) dan mengharapkan yang juga tidak pasti memberikan harapan besar (baca:sawit) merupakan model kebijakan dan perjudian yang harus difikirkan dan dikaji secara kolektif dan dilawan sebagai musuh bersama !.