Jumat, 13 Januari 2017

Tentang Kalinda'da' (Bagian 3)



1.    Bentuk-Bentuk Kalinda’da’   

Kalinda’da yang beredar di masyarakat mempunyai bentuk yang sekaligus menjadi tema tersendiri bagi kalinda’da. Masyarakat Mandar juga sudah sangat faham kapan Kalinda’da’ tema tersebut diungkapkan. Berikut adalah beberapa bentuk atau tema Kalinda’da’ sebagaimana yang ditulis oleh Drs. Darmansyah dalam buku Sastra Mandar (2015) :

-       Kalinda’da’ Pusaka

Kalinda’da’ Pusaka adalah bentuk kalinda’da’  yang ditemukan lestari pengungkapannya ditengah-tengah masyarakat tanpa diketahui siapa yang mencipta dan pertama kali menggunakan. Kalinda’da’ tersebut sering disampaikan dan diulang-ulang dari masa-kemasa, dari generasi-kegenerasi. Kalinda’da’ pusaka memiliki sturuktur yang tegas, jelas, maknanya cukup luas dan dalam, mengandung seribu satu macam interepretasi. Kalinda’da’ pusaka dus-nya indah bila diucapkan karena memiliki pilihan kata (diksi) yang baik dan tepat.
Kalinda’da’ pusaka tergolong ulet, dapat bertahan lama  ia telah teruji dalam rentang masa yang panjang, sehingga nafasnya pun menjadi panjang juga. Ada juga kalinda’da’ yang kalah diuji oleh ruang dan waktu, dengan sendirinya hilang dari peredaran, tersingkir sehingga tidak layak dijadikan khasanah kalinda’da’ pusaka.
Beberapa bait kalinda’da’ pusaka yang masih lestari dan diungkapkan dari generasi ke generasi. Kalinda’da’ pusaka ini dianggap lestari karena memang cukup berisi – kaya akan makna, mengandung nilai-nilai ketuhanan, hubungan antara hamba dengan sang Khaliq. Kalinda’da’ pusaka itu adalah sebagai berikut :
Bismilla akke’ lette’ta’                     
Alepu pelli’ata’                                            
Turang loata’                                               
Lailaha illallah.        
            Dengan Bismillah kaki di angkat
Dengan Alif kaki melangkah
Tutur katamu
Zikir kepada Allah.

Kalinda’da’ ini mengandung makna bahwa dalam memulai suatu pekerjaan atau apa saja hendaknya diawali dengan nama Allah Swt. Karena segala sesuatu yang di kerjakan atas dasar karena Allah, maka usaha itu pasti berhasil. Alepu pelli’ata maknanya adalah jika sedang dalam beraktifitas jangan pernah menyerah atau putus asah. Bait kedua kalinda’da’ ini memberi pesan bahwa jangan berhenti sebelum berhasil. Ada keyakinan dimasyarakat Mandar bahwa dari 29 (dua puluh sembilan) huruf dalam Al-Qur’an, hanya Alif yang tidak pernah terbunuh, dan itulah yang dijadikan prinsip orang-orang Mandar dalam mengarungi kehidupannya.
Begitu juga baris kedua dan ketiga memberikan pesan bahwa tutur sapa harus lemah lembut, penuh kebijaksanaan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Ada pepatah yang menyebutkan : Tania sangga ulu dipesokko’i, Tania sangga alawe nipelipa’i, mo pau-pau dipewanyui toi (bukan hanya kepala yang dihiasi dengan kopiah bukan cuma badan ditutupi dengan sarung dan baju. Tapi ucapanpun harus berpoles dengan baik).  Bibir dihiasi dengan zikir kepada Allah (jangan mau berpisah dengan Allah Swt.).

Sayyang borra’di tutia                     
Sayyanna nabitta                             
Naola dai                                         
Di langi’ pitussusun. 
Kendaraan secepat kilat
Adalah kendaraan Rasulullah
Untuk digunakan
Ke langit tuju susun.

Apa dzai’ nalambai                          
Dilangi’ pitu(s) susun                                   
Dai’ ma’ala                                      
Sambayang lima wattu.       
            Apa gerangan ia pergi
Ke langit tuju susun
Untuk menjemput
Shalat yang lima waktu.

Kalinda’da’ pusaka kedua dan ketiga ini menerangkan perjalanan isra’ dan mi’raj Rasulullah Muhammad Saw. Beliau dalam perjalanan mengendarai buraq (borra’), sebuah kendaraan yang secepat kilat, bahkan lebih cepat dari itu.
Dalam perjalanan mi’raj Rasulullah yang digambarkan dalam Kalinda’da’ ke-2 bait ke empat, beliau sampai menembus lapisan langit yang ketujuh. Dan pada kalinda’da’ ke-3 menerangkan bahwa tujuan Rasulullah dalam perjalanan Mi’raj adalah untuk menjemput shalat lima waktu.
Passambayammo’o dai                   
Pallima wattu mo’o                         
Iyadzitia                                           
Pewongang di ahera’.                                  
Segeralah mendirikan shalat
Khususnya shalat lima waktu
Karena shalatlah
Bekal untuk akhirat.

Kalinda’da’ pusaka ini mengingatkan agar melaksanakan ibadah shalat utamanya shalat pardhu, lima waktu sebagai rukun islam yang kedua. Bait ke-4 kalinda’da’ diatas memberi pesan bahwa ibadah shalat merupakan bekal untuk kehidupan akhirat.
Ahera’ oroang tongang                   
Lino nindang ditia                            
Borongi ayu                                     
Leppeng nipettullungngi                  
Akhirat tempat sesungguhnya
Dunia ini hanya sementara
Ibarat pohon kayu (rindang)
Tempat persinggaang untuk bernaung.

Akhirat itu adalah tempat yang sesungguhnya, untuk mendapatkan imbalan dari amalan disaat berada di atas dunia. Karena sesunggguhnya di dunia  adalah tempat untuk mengabdi, berkarya, dan berperestasi dan sifatnya sementara, dunia ibarat pohon tempat persinggaan untuk bernaung. Itulah makna kalinda’da’ pusaka bagian ke (5) diatas.
Inna sambayang-sambayang           
Sambayang tonga’-tongang            
Melo’ uissang                                  
Melo’ uayappui         .                                  
Mana shalat yang sesungguhnya
Shalat yang sebenar-benarnya shalat
Akan ku-ketahui
Dan saya mau pahami.

Karena shalat merupakan bekal yang takkan basih menghadap kehidupan akhirat, maka kalinda’da’ pusaka ini  memberikan pesan untuk ingin mengetahui shalat yang benar – tentu berdasarkan syariat islam seperti shalat yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah Saw.
Indi sambayang-sambayang
Sambayang tonga’-tongang            
Tandi kedzoang                                
Nakedzoang alena.                          
Inilah shalat yang sesungguhnya
Shalat yang sebenar-benarnya shalat
Tidak diperagakan
Tapi diperagakan dirinya sendiri.

Kalinda’da’ ke (7) diatas menerangkan bahwa shalat yang sesungguhnya itu adalah shalat yang tak ada putusnya, ini lebih bermakna pada pengertian sufi/tarekat - tidak hanya pada gerakkan tubuh. Mereka menganggap shalat bukan hanya kewajiban, tapi merupakan kebutuhan, maka yang bersangkutan dalam kondisi apapun, disaat sakit, ia tetap menegakkan shalat kendatipun dilaksanakan dengan cara duduk, berbaring bahkan dengan gerakan nafas sekalipun. Kalinda’da’ pusaka ini, khususnya pada bait ke (3) dan bait ke (4) memberi maksud bahwa zikir kepada Allah SWT. yang tak ada putusnya.
Pammesai Sahadamu                      
Mesa Alla Ta’ala                              
Nabi Muhammad                            
Suro niatappa’i.                               
Satukan kesaksianmu
Hanya Allah yang tunggal
Nabi Muhammad
Utusan yang di-imani.

Pada kalinda’da’ ke (8) menegaskan bahwa satukan kesaksianmu bahwa sesungguhnya Allah itu Esa, tidak ada duanya, tunggal, tidak lebih dari itu. Dan Muhammad adalah utusannya. Kalinda’da’ ini tidak lebih pada rukun islam yang pertama : Asyhaduallailaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah. Bisa juga Kalinda’da’ pusaka diatas terinspirasi dari QS : Al-Ikhlas : Qul huwallahu ahad. Allahush shamad. Lam yalid wa lam yulad. Wa lam yakul lahu kufuwan ahad : Katakanlah, Dialah Allah yang maha esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak pula diperanakan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.
Dilalang dua’ di kaca                       
Membolong di Alepu’                                  
Siannassai                                        
Puang Allah Ta’alah.
Ketika aku masih dalam rahim
Dalam genggaman kekuasaan Allah
Memberikan pengakuan
Pada keesaan Allah.

Dilalang dua’ di kaca, maksudnya adalah ketika manusia berada di alam rahim seorang ibu - benam pada kekuasaan Allah yang tidak pernah tidur/mati (alif). Manusia pada saat itu sudah sempurna kejadiannya, bahkan Ruh dari Allah pun sudah berada dalam tubuh manusia. Disanalah manusia memberikan pengakuan bahwa Engkaulah Tuhanku “Allastu birabbikum lalu roh menjawab qalu bala sahidna”.
Banyak pula Kalinda’da’ pusaka dijadikan oleh pencipta lagu daerah Mandar sebagai lirik lagu, atau disampaikan dengan cara disyairkan melalui puisi Mandar.

-       Kalinda’da’ Kontemporer

Kalinda’da’ kontemporer adalah kalinda’da’ yang berkembang dalam masyarakat dari masa ke masa, menyesuaikan dengan kondisi dan situasi serta budaya dalam masyarakat. Kalinda’da’ kontemporer relatif tidak memiliki sturuktur yang tegas dan jelas dan maknanya kurang mendalam. Diksinya juga relatif tidak kuat. Namun demikian tidak sedikit juga kalinda’da’ kontemporer memiliki sturuktur yang tegas, maknanya jelas  serta baik dan tepat diksinya.
Beberapa kalinda’da’ kontemporer dikenal siapa pencita dan/atau pengubahnya. Namun ada juga kalinda’da’ kontemporer tidak diketahui pencipta dan/atau pengubahnya. Tidak mustahil, Kalinda’da’kalinda’da’ kontemporer yang baik kelak akan menjadi kalinda’da’ pusaka setelah diuji oleh ruang dan waktu. Sedangkan kalinda’da’ – kalinda’da’ kontemporer yang kurang baik dengan sendirinya akan terjungkil dan kalah oleh terpaan masa. Pencipta dan/atau pengubah kalinda’da’ kontemporer yang penulis kenal adalah Drs. Abdul Muis Mandra, Suradi Yasil dengan kalinda’da’ yang bernafaskan nilai-nilai Pancasila.

Pada umumnya kalinda’da’ kontemporer yang ada memenuhi suku kata rumus kalinda’da’ = 8–7–5–7. Serta pencipta dan/atau pengubah kalinda’da’ kontemporer adalah Halija bersama Syaripuddin (Sari). Sangat disaayangkan, karena kalinda’da’ yang dicipta oleh Halija bersama Syaripuddin tidak pernah dituliskan, tapi sering kali disampaikan lewat syair lagu sayang-sayang.

Berikut kami tuliskan beberapa bait kalinda’da’ kontemporer yang dicipta dan/atau diubah oleh Andi Saiful Sinrang dan Halija bersama Syaripuddin (Sari) sering dilantunkan lewat lagu sayang – sayang sebagai berikut :
(1)      Bismillah turanna elong                  
Bungasna elong Mandar                 
Salama’ nasang                   
Ingganna ma’irrangngi.                   
Dengan Bismillah lagu dimulai
Sebagai awal lagu Mandar
Semoga dengan selamat
Semua orang yang mendengarkannya.

(2)      Moa’ nasalama’ bandi                     
Ingganna mairrangngi                     
Nanidzannanggi                   
Penda’dua-pettallung           .                      
Kalau nanti akan selamat
Segenap yang mendengarkan
Akan kita cukupkan
Dua atau tiga bait.

(3)      Elo-elong panginoang                      
Andiang battuanna                          
Ita’ madzosa                                    
Moa’ diwattuanni.                           
Lagu dan permainan
Tidak perlu ditanggapi
Kita yang berdosa
Jika ditanggapi.

(4)      Namadzosa namangapa                  
Apa’ uwattuanni                  
Andiang elong                                  
Andiang battuanna. 
            Sekiranya akan berdosa
Karena tetap kutanggapi
Tidak ada lagu
Yang tidak punya arti.

(5)      Urang patamba’o mai                                 
Dao tappa di lita’                             
Tappao naung                                              
Dilisu simbolonna.                           
Hujanlah dengan lebat
Jangan tiba pada tanah
Tapi tibalah
Pada ikatan rambutnya.

(6)      Tenna’ andiandi rinding                  
Arriang mallindui                            
Uita toi                                                         
Matttokko simbolonna.                   
Seandainya tidak ada dinding
Maka tiang yang akan melindungi
Akan kulihat juga
Menghias rambutnya.

(7)      Napadzi tia ikandi’                           
Mattokko simbolonna                                  
Menang nitangngar                         
Menang memonge-monge’.                       
Apa yang adinda lakukan
Dalam menghias rambutnya
Semakin dipandang
Semakin mempesona.

(8)      Mongea’ mumonge-monge’                       
Namonge’ to’o i’o                            
Moka’ iau                                                     
Namonge’ asisa’u.                           
Aku terluka karena dikau
Kaupun akan terluka
Aku tak mau
Menanggung kepedihan sendiri.

(9)      Tenna’ uli’u dzi monge’       
Naupandottorammi                         
Apa’ ateu                                                     
Nauapami tama.                              
Sekiranya kulitku yang sakit
Akan kuadukan ke dokter
Karena hati dan perasaanku
Akan diobati bagaimana.

Kalinda’da’ pusaka dan kalinda’da’ kontemporer sama-sama dibutuhkan dan diharapkan saling mengisi dalam upaya pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya Mandar. Khasanah kebudayaan Mandar berupa kalinda’da’ diharapkan memiliki isi dan berisi, pelaku dan pemakai kalinda’da’ hendaknya mengacu pada kalinda’da’ pusaka dalam mencipta atau mengubah kalinda’da’ – kalinda’da’ kontemporer.
(Bersambung)

Tentang Kalinda'da' (Bagian 1)




1.    Pengertian Kalinda’da’

Mandar adalah salah satu suku yang mayoritas mendiami wilayah Provinsi Sulawesi Barat. Dalam catatan sejarah, manusia Mandar dikenal memiliki kemampuan merangkai kata dan menghasilkan karya sastra yang membumi dan terus dilestarikan hingga saat ini. Salah satu karya sastra yang cukup dikenal adalah Kalinda’da’.
Kalindada merupakan jenis sastra Mandar yang fungsi dan jangkauannya sangat luas, mampu memotivasi berbagai aspek kehidupan masyarakat sejak dulu hingga kini. Hal tersebut terlihat dari berbagai macam naskah lontar yang merekam keberadaan kalinda’da’ dalam rentang waktu yang begitu panjang.
Seacar bahasa Kalinda’da’ banyak diinterpretasi secara berbeda, namun yang paling populer menurut Idham Khalid Body[1]adalah ‘kali’ atau ‘gali’ dan da’da’ atau ‘dada’. Darmansyah juga mengurai Kalindada terdiri dari dua kata, yakni K(g)ali “gali” sama dengan bahasa Madagaskar kali dan ‘Dada’ yang berarti “dada” (bahasa Indonesia). N yang terdapat di tengah antara kali dan dada adalah fonim labio dental, fungsi fonim n disini ialah menghaluskan/memperlancar ucapan, sebab fonem ‘n’ dan ‘d’ adalah sama daerah artikulasinya[2].
Jadi kalindada terjemahan denotasinya adalah “gali dada” yang maksudnya ialah hasil menggali dada berupa untaian perasaan dan pikiran dari isi dada yang di dalamnya ada hati, jadi perasaan (dan pikiran) dari isi dada/hati. Kalindada berasal dari ungkapan “kalimat indah-indah yang keluar dari lubuk hati (sanubari) yang paling dalam” dengan kata lain kalinda’da  adalah cetusan perasaan dan pikiran yang diungkapkan melalui kalimat-kalimat yang indah.
Kalindada termasuk dalam kategorisasi puisi lama. Berbeda halnya dengan puisi baru, menurut Sutan Takdir Alisyahbana bahwa perbedaan diantara keduanya sangatlah besar jika dikaitkan dengan kebudayaan yang melatarbelakanginya. Menurut Nyoman (2011:107) ciri khas kelisanan adalah penyebarannya yang dilakukan dari mulut ke mulut. Oleh karna itu dapat dipastikan bahwa sastra lisan tumbuh subur di wilayah-wilayah yang tradisinya tulisnya belum maju. Penyebarannya itu dilakukan pada kegiatan-kegiatan kebudayaan, maupun dalam lingkup keluarga.[3]
Mengenai sastra lisan, oleh Hutomo (1991;3-4) diungkapkan ciri-ciri sebagai berikut:
a)   Sastra lisan hidup dalam masyarakat tradisional,
b)   Dianggap sebagai milik bersama,
c)    Seolah-olah tidak ada pengarangnya, sehingga setiap orang bebas menyalin dan meresepsinya,
d)   Pada umumnya terdiri dari beberapa versi,
e)   Tidak ada batasan antara fakta dan fiksi,
f)     Estestis, dan diucapkan berulang-ulang.
Sampai hari ini Kalindada berkembang di masyarakat Mandar tanpa ada yang mengklaim bahwa dialah yang menggunakan pertama kali. Kalindada ini pada umumnya disampaikan pada kegiatan Mappatamma (khatam Al-Quran) dimana yang khatam Qur’an diarak keliling kampung dengan menggunakan kuda atau sayyang pattu’du’. Kalinda’da juga kerap digunakan saat acara Pettumaeang (melamar), serta kegiatan-kegiatan upacara kebudayaan lainnya.
Kalindaqdaq memilki kedudukan penting dalam kebudayaan dan proses interaksi sosial masyarakat Mandar. Kalindada  digunakan sebagai media untuk menyampaikan isi hati dan pikiran, kalindada juga memiliki fungsi edukatif dan rekreatif serta membentuk kepribadian.
Menurut Sarbin Syam (1997 : 58) Kalindaqdaq dikategorikan dalam beberapa tema diantaranya yaitu,
-       Humor (KalindadaPangino).
-       Satire (KalindadaMattedze)
-       Kritik sosial (KalindaqdaPappakainga).
-       Pendidikan/nasihat (kalindaqdaPipatudzu).
-       Keagamaan (kalindadaMasaalah).
-       Kejantanan/Patriotisme (Kalindaqdaq Pettummoaneang).
-       Percintaan/romantik (kalindadaTosipomonge).[4]
Sebagai salah satu warisan kebudayaan yang ada di Mandar, kalinda’da’ tentu memiliki fungsi dan peranan penting dalam struktur sosialnya. Sehingga beberapa ahli merumuskan beberapa fungsi Kalindada dalam kehidupan masyarakat Mandar sejak dahulu kala hingga saat ini berfungsi sebagai: (1) Sarana pendidikan akhlak, agama, dan budi pekerti. (2) Wahana penyebar luasan informasi adat-istiadat. (3) Pelengkap upacara tradisional. (4) Alat penuturan dalam pelamaran. (5) sebagai hiburan dalam masyarakat.
Jika diamati dari kelima fungsi kalindada tersebut segi pemanfaatan kelihatannya hampir punah, jarang dijumpai ditengah-tengah lapisan masyarakat Mandar, yang tersisa adalah sebagai sarana hiburan yang dikenal dengan Passayang-sayang, pakkacaping, parrawana towaine, itupun penggemarnya sebagian besar dari kalangan orang-orang tua.
Kalindaqdaq yang menyangkut pendidikan akhlak, budi pekerti, dan agama islam, yang lazim dikenal dengan Elonna I Paragai, I Yamu, I Hamil, I Kai dapat dikatakan hampir punah. Padahal menurut penuturan orang tua dalam kampung, konon dahulu kala selalu diadakan upacara yang dihadiri oleh seluruh anggota masyarakat tua-muda dan anak-anak untuk mendengar Elonna I Paragai, termasuk saya sering mendengar elonna I Yamu, I Hamil, I Kaidalam iringan kecapi atau banyak juga disampaikan lewat rebana (parrabana tobaine) yang syair-syairnya bermakna luas-dalam.[5]
(Bersambung)


[1] Idham Khalid Bodi, 2008
[2] Drs. Darmansyah, 2015
[3] Makalah Sri Musdikawati
[4] Makalah Suradi Yasil, 2015
[5]Makalah Suradi Yasil 2015