Sabtu, 14 Januari 2017

ANDI KUBE DAUDA : Pencetus Slogan Tarrare di Allo Tammatindo di Bongi


            Andi Kube Dauda[1] lahir di Sengkang, Wajo. Ia masuk sekolah dasar di kampung kelahirannya sampai menjelang naik ke kelas 6. Ia pindah ke Makassar dan tinggal dirumah pamannya. Setamat SD ia melanjutkan sekolahnya di SMP Nasional Makassar, dilanjutkan ke SMA katolik di Surabaya, Jawa Timur.
           
Selesai SMA ia melanjutkan pendidikannya ke Universitas Airlangga, Surabaya, tapi tak sampai satu tahun sebab kesulitan biaya kuliah. Kiriman dari orang tuanya di kampong tak lagi bisa ia harapkan sebab di Sulawesi Selatan saat itu sedang terjadi pergolakan besar yang digerakkan oleh Kahar Muzakkar. Jangankan biaya kuliah, untuk biaya hidup di Surabaya saja sudah sangat silit.

            Untuk menyiasati kesulitan biaya hidup, ia akhirnya memilih bekerja di sebuah perusahaan Watras-Wajo Trading System Compeny milik orang Wajo di Surabaya. Ia bekerja selama empat tahun dan setelah merasa kondisi keuangannya mulai membaik, ia kemudian melanjutkan kuliahnya, namun lagi-lagi tak sampai selesai.

            Pada tahun 1958 orang tuanya di Sengkang memanggilnya untuk pulang kampung. Di Wajo ia diangkat jadi pegawai negeri sipil. Menjadi PNS membuatnya selalu berfikir untuk bisa melanjutkan kuliahnya. Dan kesempatan itu datang setelah bekerja di Pemda Wajo. Ia mendapatkan tawaran beasiswa untuk jurusan Sospol. Kendati sebenarnya ia menginginkan untuk bisa kuliah mengambil jurusan kedokteran atau teknik. Hanya satu pilihan, menerima beasiswa berarti harus mengambil jurusan Sospol.

Begitulah ketentuan dari peluang beasiswa tersebut, sehinga ia harus rela memilih kuliah di Fakultas Sospol UNHAS Makassar pada tahun 1963. Selama di kampus,  ia sempat menjadi Ketua Senat Fakultas Sospol UNHAS dan menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) komisariat Sospol. Ia selesaikan dulu diploma tiga di Sospol. Usai sarjana muda, ia tak langsung pulang ke Wajo sebab di kampus ia dipercaya menjadi asisten dosen sekaligus lanjut kuliah hingga sarjana lengkap. Selesai sarjana lengkapnya, pihak kampus menawarkan bea siswa S2 ke Amerika Serikat, namun ia tolak karena statusnya sekolah adalah tugas belajar dari Pemkab Wajo. Ia kembali ke Sengkang dan langsung menduduki jabatan Kepala Bagian Hukum Pemkab Wajo (1971).

Menjadi Kepala Bagian hanya satu setengah tahun dan dipindahkan menjabat Kepala Bagian Umum. Saat Pemilu pertama Orde Baru sudah mulai mendekat, ia kemudian dipercaya sebagai Sekretaris PEMILU 1971. Dengan berbagai pengalaman dibeberapa tempat itulah sehingga ia dipercaya untuk menjabat sebagai Sekda Kabupaten Barru pada tahun 1974-1979.

Dari Barru ia ditarik ke kantor Gubernur Sulsel sebagai Kepala Biro Pemerintahan Umum Pemprov. Sulawesi Selatan. Disana ia hanya bekerja 8 bulansebab pada tahun 1985, DPRD Kab. Bulukumba memilihnya sebagai Buapti Bulukumba untuk periode 1985-1990. Selesai di Bulukumba ia langsung menjabat sebagai Buapti Polmas setelah HS. Mengga memerintah selama 10 tahun (1980-1990).

Ia datang ke Polmas betul-betul menjadikannya sebagai orang asing. Betapa tidak, selain ia harus bekerja dilingkungan orang-orang yang tak mengenalnya, sehingga kondisi ini membuatnya harus bekerja keras untuk memperkenalkan dirinya dimana-mana tak terkecuali masyarakat di pantai dan pegunungan. Dan dalam setiap kesempatan ia selalu menyampaikan bahwa kedatangannya ke Polmas hanya semata-mata mengemban tugas pelaksanaan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat.

Kinerja 6 bulan di tahun pertama Andi Kube di Polman adalah membenahi birokrasi. Ia memperkenalkan paradigm baru hakekat birokrasi sebagai pelayan masyarakat banyak. Tahun kedua mulailah ia menyentuh program-program pembangunan yang lebih berwawasan kepentingan public langsung. Termasuk pengembangan pendidikan  dengan cara banyak mengunjungi sekolah-sekolah untuk menyampaikan ide-ide pengembangan SDM.

Cetusannya yang paling terkenal di periodenya adalah “ Tarrare diallo tammatindo dibongi mappikkirri atuwoanna pa’banua”. Inilah yang kerapia sampaikan ketika memimpin apel pagi di kantor daerah Polewali Mamasa, termasuk juga ketika berada di masyarakat yang ia kunjungi.

Dalam lingkungan birokrasinya, ada empat doktrin yang ia sangat tekankan, Pertama, haruspercaya pada diri sendiri. Kedua, harus punya keberanian. Ketiga, harus menguasai bidangnya dan mengembangkan apa yang menjadi tugasnya. Keempat, kreatif dan tidak hanya menunggu perintah atasan. Inti dari keempat doktrin tersebut adalah kemandirian, kreativitas, keberanian dan professional.

“Lakukan saja, kalau ada yang salah nanti saya yang bertanggung jawab. Yang penting dalam melaksanakan tugas punya itikad baik”. Demikian ia menekankan pada pegawainya. Sebab yang terpenting baginya adalah bagaimana masyarakat bisa sejahtera dan mandiri.

Selama menjadi Bupati di Polmas, ia sadar betul bahwa orang Mandar jika mau berhsil memimpinnya bukan dengan kekerasan. Sebab jika yang digunakan adalah kekerasan maka orang Mandar bisa lebih keras lagi responnya terhadap sikap keras yang kita nampakkan padanya.

Kesadaran itulah yang mendorongnya untuk memenage birokrasinya, sehingga yang diutamakan adalah sikap kekeluargaan. Sikap kekeluargaan itu ia tampakkan dengan panggilan “Andik”[2] dan jika ada masyarakat yang mau menghadap ke rumah jabatan, maka ia akan lebih dahulu keluar untuk menjemput para tamunya.

Demikianlah Andi Kube Dauda menjalani hari-harinya sebagai Bupati di Polmas. Bagai pedati yang terus berputar. Hingga mendekati akhir masa jabatannya. Namun sebuah keberuntungan dalam menjalankan tugasnya, sebab jabatan sebagai bupati berakhir Maret 1995, namun jabatan itu baru diserahterimakan pada bulan Agustus. Jadi ia menjalani tugas sebagai Bupati lebih dari 5 tahun.

Selepas menjadi Bupati Polmas, ia pensiun betul di rumahnya Jl. Bau Mangga 13 Makassar. Namun yang mengusiknya adalah dorongan untuk terus belajar dan menambah ilmu pengetahuannya. Hal ini yang membuatnya memilih melanjutkan pendidikan S2-nya dan setelah selesai ia  dipercaya menjadi dosen di STIA-LAN kerjasama UNHAS, Makassar. Di lingkungan kampus kembali ia menemukan kebahagiaan sebab bisa bertemu dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang dan jenjang pendidikan.

Kebahagiaan lain yang juga sangat ia syukuri adalah karena delapan orang buah cintanya dengan Hj. Faridah (istrinya yang telah mendahuluinya menghadap sang khalik pada 1994) kini sudah sibuk dengan dunianya masing-masing, ada yang jadi birokrat, ada militer, dan ada yang masih kuliah tingkat doctoral.

Sepeninggal istrinya Hj. Faridah, ia memilih melabuhkan hati dan berkeluh kesah kepada seorang perempuan karir, Hj. Andi Syamsiah yang bekerja sebagai Hakim di Pengadilan Agama Kota Makassar. Wanita inilah yang menjadi pendamping hidupnya sejak 1994.[3]




[1] Bupati Polewali Mandar ke-4 periode 1990-1995
[2] Sapaan akrab yang sepada dengan kata dinda atau adik.
[3] Sarman Sahuding, 2006

MENGENAL LETKOL H. ABDULLAH MADJID (1966-1979),

Abdullah Madjid lahir di Karama Tinambung pada tahun 1927. Terlahir dari rahim seorang ibu yang dipersunting oleh H. Yahyaddin. Abdullah Madjid terlahir ketika seluruh kawasan Mandar berada dalam kekuasaan penjajah Belanda. Abdullah kecil tumbuh dan berkembang sebagai seorang anak yatim sebab tak lama setelah ia lahir, ibu tercintanya dipanggil oleh yang maha kuasa. Kondisi keamanan yang tak kondusif saat itu lagi-lagi menjadi bagian dari takdir seorang Abdullah untuk ikut dalam asuhan pamannya, H. Abdul Rasyak, seorang pejuang yang juga Kadhi Balanipa yang kerap ditangkap oleh Belanda.

Baik H. Yahyaddin maupun H. Abdul Rasyak adalah anggota pasukan Kris Muda Mandar  dibawah pimpinan Hj. Andi Depu. Hj. Andi Depu adalah tokoh pejuang kesohor yang berhasil menitipkan embrio perjuangan dalam diri Abdullah Madjid. Abdullah Madjid ketika umur belasan tahun sudah terbiasa ikut dalam medan perang melawan Belanda. Baik Abdullah, maupun pihak pejuang termasuk diuntungkan dengan postur Abdullah yang kecil sehingga memudahkannya untuk ikut dari tempat ke tempat lain mengikuti pejuang senior. Abdullah dipercayakan untuk membawa semua dokumen-dokumen rahasia.

Membawa dokumen rahasia sesungguhnya merupakan strategi yang cerdas dari para pejuang, sebab Abdullah Madjid ketika Belanda menangkap atau menggeledah, tidak mungkin anak sekecil Abdullah akan ikut digeledah sebab Belanda menganggap Abdullah hanya seorang anak kecil yang tak tahu menahu soal dokumen penting. Ternyata taktik ini berhasil mengelabui para penjajah itu.

Abdullah Madjid termasuk sosok yang luar biasa, sebab diantara deru mesiu perang di Mandar, justeru bisa menamatkan pendidikannya di SR (Sekolah Rakyat). Dan ketika pamannya H. Abdul Rasyak pindah ke Sidrap, Abdullah pun ikut serta. Tak lama di Sidrap, pamannya pindah ke Makassar dan mendaftarkan Abdullah di sekolah MULO (setingkat SMP). Sekolah ini sebenarnya khusus untuk anak bangsawan dan para bule. Abdullah bisa diterima belajar di sekolah Belanda, sebab Abdullah Madjid juga seorang bangsawan. Itu juga yang memberinya peluang bisa lanjut kdi AMS (sekolah Belanda setingkat SLTA).
******
Tahun 1950-an Abdullah Madjid masuk tentara. Ia berpindah-pindah tugas dari satu daerah ke daerah yang lain. Dari Makassar pindah ke Bone, pernah juga tugas di Palopo. Abdullah tugas di Palopo bersamaan Kahar Muzakkar tengah gencar-gencarnya menyusun kekuatan pemberontakan bersenjata terhadap republik. Kahar Muzakkar bahkan sudah menguasai beberapa daerah yang membuat Kepala Militer di Sulawesi mulai gusar dengan pengerahan kekuatan pemberontak republik tersebut.

Abdullah Madjid diutus ke Palopo, terutama di Masamba dengan pertimbangan bahwa di Masamba banyak orang Mandar bermukim sejak lama. Abdullah menerima tugas itu dan merumuskan strategi gerakan dengan cara memperkecil ruang gerak Kahar Muzakkar. Daerah-daerah yang dikuasai Kahar Muzakkar pelan-pelan diambil alih penguasaan oleh Abdullah Madjid sebagai Komandan di Kompi Masamba. Untuk menumpas gerakan Kahar Muzakkar ini, ada tiga Kompi yang diturunkan, yaitu Kompi Masamba dipimpin oleh Abdullah Madjid dan Kompi lainnya ada di Bone-Bone dan Malili.

Abdullah Madjid menjalankan tugas dan tanggung jawabnya menghadapi pemberontakan Kahar Muzakkar. Bahkan sampai kedatangan pasukan Siliwangi pun, Abdullah Madjid masih tetap berada di front terdepan. Sampai pada suatu ketika, Kahar Muzakkar ditempat yang terjal, Kahar Muzakkar terjebak yang membuatnya harus menyerah dengan pasukannya. Tahun 1963, Abdullah Madjid ditarik dari Palopo untuk kembali ke Makassar.

Di Makassar, Abdullah memutuskan untuk ikut pendidikan formal kemiliteran di Pakkatto. Ini membuat Abdullah bisa langsung ditempatkan di kesatuan territorial Sulawesi setelah menempuh pendidikan formal militer. Pada saat itu, bertepatan hampir semua  daerah kabupaten di Sulawesi Selatan mempunyai kesatuan militer (setingkat Kodim), namanya Koordinator Teritorial. Abdullah Madjid dipindah tugaskan lalu diangkat sebagai perwira Koordinator Teritorial (Pa’koster) Polewali, menggantikan pejabat lama, Daeng Patompo yang kebetulan saat itu Bupati Polmas dijabat oleh Andi Hasan Manggabarani.

Tak lama di Polewali, ia dipindahkan ke Parepare dengan jabatan Komandan Sektor Kota (Setingkat dibawah Korem). Abdullah saat itu sudah berpangkat Letnan. Dari Parepare ia dipindahkan lagi ke Pinrang dengan jabatan Kepala Staf (setingkat Kasdim) dan sudah menjadi Kapten (1964-1965). Pada tahun 1965, Polmas masih dalam suasana berkabut.  Pergolakan baru saja usai dan belum bisa pulih benar di perparah lagi adanya transisi pemerintahan yang tentunya peralihan kekuasan dari Orde Lama ke Orde Baru yang berdampak pada carut marutnya situasi dalam negeri. Peralihan kekuasaan di tingkat nasional ternyata juga berimbas ke daerah, termasuk Polmas.

Andi Hasan Manggabarani yang menjabat sebagai Bupati Polmas saat itu harus menerima kenyataan. Bahkan Andi Hasan dimasa-masa terakhir kekuasaanya diperhadapkan dengan aksi demonstrasi mahasiswa yang menuntut perubahan kepemimpinan. Tuntutan Mahasiswa tersebut ternyata mempertemukan takdir Abdullah Madjid sebagai Bapati Polmas kedua untuk periode 1966-1971. Bisa dibayangkan, menjadi Bupati dalam kondisi daerah yang dipimpinnya terpuruk. Mulai dari sektor ekonomi yang morat marit, keamanan yang belum terkendali sehingga sebagai Bupati harus berfikir ekstra untuk meletakkan dasar-dasar pembangunan.

Abdullah Madjid mulai berbenah. Dimulai pada sektor pertanian karena Polmas memang mempunyai potensi pertanian. Setelah pertanian, ia menyentuh wilayah pendidikan. Satu persatu dibangun sekolah. SMA Negeri 1 Polewali mulai di bangun, bendungan air di Lakkese dan di Kunyi juga dibangun dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat yang dipimpinnya. Untuk mendukung sektor pertanian, Inmas dan Bimas digerakkan. Pengembangan perekonomian daerah tak luput dari perhatiannya, pasar Tinambung, Polewali, Wonomulyo (pasar pertama) mulai dibangun sebagai pusat transaksi antar komunitas ramai di beberapa titik. Bahkan, perumahan pegawai di sepanjang Lantora pun ia garap. Perumahan ini disamping sebagai tuntutan untuk tempat tinggal yang layak bagi pegawai kelas atas, juga untuk memperkenalkan penataan kota Polewali sebagai ibukota kabupaten. Dan pada periodenya memang ada semacam keputusan tak tertulis bahwa, sepanjang jalur kanan dari Pekkabata-Polewali akan dijadikan jalur hijau, dan tak diperuntukkan untuk  bangunan apapun.

Tak berhenti sampai disitu, penataan kota Polewali terus digenjot. Konsep pembangunan tanggul sepanjang pantai bahari Polewali ia lahirkan agar kelak Polewali tak tercemari kotoran dari laut. Sejalan dengan itu, pembenahan pendidikan mulai dinampakkan. Peningkatan SDM anak-anak daerah tak cukup hanya membangun sekolah. Bagi mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di Makassar, masing-masing kecamatan dibangunkan asrama mahasiswa.

Bupati Abdullah Madjid juga tidak menyepelekan kondisi sumber daya aparatnya sendiri. Sebab pada tahun 1970-an, hampir bisa dikatakan aparatur belum professional. Mulailah ia membenahi administrasi sebagai implementasi dari pengalamannya selama di militer. Dalam pandangannya, seluk beluk administrasi pemerintahan butuh kesungguhan dan persoalan administrasi ini bukan hal sulit buatnya, sebab ia unggul dibidang ini.

Berdasarkan kondisi itu, ia melakukan terobosan-terobosan baru, untik mendukung kegiatan aparatnya (meski saat itu belum ada inpres), Bupati melengkapi aparatnya dengan fasilitas sepeda untuk setiap aparat, terutama bagi mereka yang tugas di lapangan dan tempat tinggalnya jauh dari kantor pemerintah daerah. Hal ini juga menjadi motivasi besar bagi aparatnya, sebab mobil truk yang diperuntukkan untuk mengantar-jemput pegawai dari Polewali ke Pekkabata, tempat kantor daerah lama kelamaan tak maksimal lagi fungsinya dan tak bisa lagi dipertahankan, sehingga sepedalah yang menjadi penggantinya. Tak hanya sepeda, kendaraan roda dua bermesin (motor)pun disiapkan bagi aparat yang memang teramat berat tugasnya di lapangan. 

Pada saat itu, jika dikalkulasi pendapatan daerah untuk gaji pegawai saja, bupati masih pusing tujuh keliling, apalagi harus menambah fasilitas sepeda dengan motor bagi aparatnya. Tapi toh kenyataannya, itu bisa terwujud dalam pemerintahannya. Beruntung saat itu ketika program efektifitas mau dilaksanakan, jauh-jauh hari bupati sudah punya sedikit persiapan dana yang bersumber dari usaha-usaha pemerintah dengan adanya upaya-upaya pencarian dana pihak ketiga. Mungkin upaya itu bisa dipadankan dengan Perusahaan Daerah (PERUSDA). Rupanya pula, ini menjadi alternative ketika pemerintah kewalahan membayar gaji pegawai. Jadi usaha-usaha daerah saat itu benar-benar efektif.

Bupati Abdullah Madjid memang jeli merangkul masyarakatnya. Daerah yang terdiri dari sub-sub etnik dengan medannya yang terdiri dari pantai dan gunung mampu ia kunjungi dan konsisten ingin lebih dekat dengan rakyatnya. Tak peduli harus mendaki gunung, jika tak mampu ia jangkau dengan kendaraan, maka menunggang kudapun ia lakukan asalkan bisa bertemu dengan warga masyarakat yang dipimpinnya. Kebetulan juga, Abdullah keci adalah seorang penunggang kuda yang hebat dan lincah. Bahkan tak jarangm ia harus melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Ini adalah konsep pembinaan territorial kawasan.

Abdullah Madjid benar-benar total meletakkan dasar-dasar penataan pembangunan. Terlebih pada level diatasnya bertepatan Dr. Ahmad Amiruddin menggantikan Ahmad Lamosebagai Gubernur Sulawesi Selatan ternyata juga dikenal “gila” ide. Salah satu konsep pembangunan yang popular ia terapkan adalah Konsep Trikonsepsi Pembangunan: Perubahan pola pikir, pengwilayahan komoditas dan petik olah jual.

Ternyata, jauh hari sebelum konsep itu membumi di tingkat provinsi, Abdullah Madjid sudah lebih awal menerapkannya, meski tidak secara langsung terkonsep dengan anama Tri konsepsi. Sebab berdasar dari dimensi kewilayahan di Polmas,di wilayah pegunungan jutru sudah ia perkenalkan penanaman kopi dan kakao, sebab memang peluang untuk komoditas ini juga sangat cocok di wilayah gunung. Bahkan ketika itu Kopi Jember sudah dikenal. Terkait kopi Jember ini, pernah suatu ketika Bupati dan rombongan berkunjung ke Jember, saat itulah ia membawa bibit kopi untuk ditanam di Mandar. Dan hasil dari kopi pegunungan ini telah membuat ratusan bahkan ribuan rakyat Polmas menjadi seorang haji berkat kopi Jember.

Di wilayah pantai, komoditas kelapa dalam masih tetap ia pertahankan sebagai salah satu primadona penghasilan petani. Khusus di Wonomulyo, kawasan kolonis Jawa yang datang pada sekitar tahun 1930-an dan awal tahun 1940-an dikembangkan padi dan palawija. Inilah pendekatan keunggulan kewilayahan yang diterapkan oleh Abdullah Madjid.

Abdullah Madjid sikapnya jelas, kukuh dan punya dedikasi yang tinggi, tak neko-neko, sederhana, pekerja, kosisten, jujur dan berwibawa. Potensi dalam Abdullah Madjid itulah yang menjadi alat yang ampuh meredam dinamika panas politik yang ada di Polmas. Mungkin semua itu yang mebuat Abdullah Madjid lebih lama menjadi Bupati. Selam 13 tahun ia menjadi Bupati di Polmas tentu sangat banyak menyimpan banyak kesan.

Masyarakat mencintainya sebab ia juga sangat menyayangi rakyatnya. Abdullah Madjid adalah sosok yang tak serakah pada jabatan. Masyarakat meminta untuk tetap menjadi Bupati di Polmas, tapi ia menolak, termasuk ditawari menjadi Bupati Mamuju, lagi-lagi ia tolak dan lebih memilih pensiun total. Menjadi masyarakat biasa dan toatal mengabdi kepada khaliq-Nya. Ia banyak berguru agama pada kedua tokoh besar di Mandar, Annangguru Saleh dan KH. Dr. Sahabuddin. Rupanya pemahaman agamanya yang membuat Ia lebih damai menhadap Tuhan-Nya pada tahun 1999.[1]



[1] Sarman Sahuding, 2006

Jumat, 13 Januari 2017

MENYEPUH MIMPI

Menyepuh Mimpi

Kita tak akan pernah bisa menyepuh ulang segala impian
dan kenangan yang meranggas perlahan di ringkih hati
lalu menyemai harap, segalanya akan kembali seperti semula
“Karena apa yang tertinggal,” katamu,”seperti sisa jejak kaki
di bibir pantai yang lenyap terhapus hempasan ombak”
Kita hanya akan bisa bersenandung merepih pilu
Dan membuat segenap angan terbang liar mencabik cakrawala
seraya menyimpan segala asa dan rindu pada diam,
pada keheningan
pada lagu lama yang kita lantunkan
dan bergema lirih hingga ke sudut sepi sanubari
“Karena apa yang kini ada”, ucapmu lagi,

”Adalah tempat dimana angin segala musim bertiup 
dan arus semua sungai 
bermuara yang kerap membuat kita gamang pada pilihan : 
meniti samar masa depan ataukah menggenggam nostalgia 
dan ikut karam bersamanya”

KOTA CENGKEH, MARET 2013


INGIN MEMBUNUH TUHAN


Tuhan
Aku kini semakin jauh
Tersesat di belantara kota
Aku kini ditelan zaman
Keramaian dan fatamorgana
Menjeratku dan tak dapat lagi kembali

Kenikmatan semu dan godaan
Menyeretku pada keindahan yang membunuh
Harta
Tahta
Wanita
Nama besar dan keabadian
Telah mengubah arah dan kiblatku; Selangkangan !

Bahkan,
Aku seakan berencana membunuh-Mu
Untuk merampas segala yang Kau miliki

Muhammad Munir
Makassar, 1 Muharram 1435 H.  


MENGELABORASI MAKNA KATA KADER


                                                         
 Oleh: Muhammad Munir

Sebuah percikan sejarah ketika bom atom mengguncang Hiroshima dan Nagasaki. Tak terhitung berapa jiwa manusia yang hilang melayang pada kejadian itu. Disaat yang sama sang kaisar datang memantau kejadian itu. Dari bibir Sang Kaisar itu kalimat pertama yang terucap adalah sebuah pertanyaan; ”Masih adakah guru yang hidup?’. Kenapa harus guru? Karena gurulah yang sangat berpeluang untuk membangun masa depan sebuah negara.

Ketika semua tokoh politik didaerah ini kehilangan jati diri, maka yang harus kita pertanyakan adalah masih adakah kader partai...? Kenapa kader? Karena kaderlah yang paling berpeluang untuk membangun masa depan partai. Kader adalah penentu kalah menang suatu partai dalam setiap kontestasi, baik itu pemilu, pilpres maupun pilkada. Kader adalah makhluk yang akan selalu ada dalam lingkup sebuah partai. Pimpinan boleh berganti, tapi kader tetaplah kader.

Istilah ‘kader’ adalah kosa kata yang sering kita sebut dan tidak terlalu banyak yang mencoba mengelaborasi makna kedalamannya. Dalam sebuah organisasi partai, kader dibedakan dalam dua kategori, yaitu “Kader Formalitas” dan “Kader Esensial”. Kader Formalitas adalah sebutan bagi siapapun pengurus struktural partai dan pernah mengikuti pelatihan kader. Sementara Kader Esensial adalah penjumlahan kualitas yang terdapat dalam diri seseorang tanpa melihat apakah orang itu berada dalam struktur partai atau tidak.

Kualitas yang dimaksud meliputi bentuk immaterial seperti cita-cita, angan-angan, niat baik, sifat ikhlash, tulus dll, hingga bentuk material yang dapat dilihat dalam konstribusi pemikiran, tenaga, dana dll. Pada pengertian Kader Formalitas yang tidak memiliki kualitas Kader Esensial cenderung akan menjadi beban dan penghalang untuk menang, bahkan mungkin tepat disebut “benalu partai”.
Mengelaborasi kata kader sesungguhnya merupakan upaya sebuah lembaga politik untuk membangun ruang akademis dan hati nurani.  Sebuah keniscayaan untuk menjadikan politik sebagai lapangan kompetisi sekaligus sportifitas. Kader bukanlah karyawan, bukan pula staf yang setiap saat harus menjadi pihak yang dituntut bertanggung jawab dalam setiap proses yang menjadi tugas dan tanggung jawab partai. Kader tak harus menjadi korban adanya penyelewengan, pembiaran dan apapun bentuknya, lalu dijadikan kekuatan untuk menjadikan kader sebagai pembela.

Adalah sebuah kesalahan fatal yang yang tidak bisa di tolerir, ketika dandanan-dandanan politik yang sifatnya menina bobokan kader. Pun partai tak harus menjadi muara dari seluruh kepentingan politik, sebab jika ingin besar, partai harus dijadikan seragam kolektif untuk mengakomodasi keinginan masyarakat lebih dahulu ketimbang kader. Karena atas nama demokrasilah partai politik menemui takdirnya untuk dilahirkan dengan fungsi utama sebagai rumah aspirasi rakyat.Jangan lagi mengeja konsep politik Belanda yang ketika ada segolongan yang tidak pro atau menentang maka jalan satu-satunya adalah disingkirkan.

Lembaga partai politik yang didalamnya ada banyak kader yang menjadi wakil rakyat. Sejatinya Partai dan lembaga DPR menjadi wadah aspirasi dan aksentasi konstituen dengan masyarakat secara umum. Pengurus partai dan anggota dewan seharusnya memposisikan diri sebagai aspirator, inisiator dan mediator bagi kebutuhan masyarakat secara umum dan konstituen secara khusus. Apabila aspirasi tidak mampu diakomodir secara baik dan benar, maka jangan heran jika kemudian kritik, opini, bahkan mosi tidak percaya sebab jika rakyat lelah maka makian dan sumpah serapah adalah halal baginya.

Sampai hari ini, sejak 2006, penulis masih menemukan adanya kader partai yang belum menemukan jati dirinya. Tak jarang kader tersebut menjadi kayu bakar dalam setiap pemilihan. Belum juga lahir wakil rakyat yang betul-betul bisa menjadi bagian dari solusi, yang ada malah menjadi bagian dari masalah. Pun belum kutemukan pimpinan partai yang betul-betul bisa menjadi corong kepentingan kader dan masyarakat konstituen, yang ada malah menjadikan jabatan sebagai pimpinan partai sebagai ajang gagah-gagahan. Baik Wakil Rakyat maupun Pimpinan Partai masih butuh proses untuk bisa connect dan menemukan frekwensi untuk bisa berkomunikasi dengan rakyat pada gelombang yang sama.

Lalu apakah kondisi seperti ini akan terus dipertahankan dan tak ada upaya-upaya yang bisa membuat kader lebih berdaya dan mandiri dalam kehidupan bermasyarakat ? Tulisan ini tidak untuk membangun ruang diskusi lebih banyak, tapi diharapkan menjadi katalisator tersampaikannya harapan untuk membuat para pemimpin partai dan wakil rakyat lebih banyak berintrasfeksi diri, lebih sering mengeja jiwanya untuk merasakan pedih perih menjadi rakyat yang asing dan terlantar dalam sistem didaerahnya. Tak ada makan siang gratis...itu pasti. Tapi rakyat ini tak butuh makan gratis, tak ingin makan enak melulu. Yang mereka butuhkan adalah enak makan.


Maka siapapun, hari ini mari merubah pola berpolitik kita. Jangan lagi kita sibuk berfikir untuk bisa beli ikan buat rakyat, tapi berilah mereka kail agar mereka bisa memancing ikan. Janganlagi kita sibuk mengumpul pundi-pundi untuk membagi puing-puing ke rakyat. Mulailah kita berfikir masa depan, jangan menjadikan rakyat sebagai bagian dari masa lalu kita. Berani Berubah !

Buku Kalinda'da' Kontemporer Mandar : PENGANTAR PENULIS

PENGANTAR PENULIS


Dengan rahmat dan karunia Allah SWT. Penulis akhirnya bisa menyusun dan menyelesaikan buku Kumpulan Kalinda’da Kontemporer Mandar “Cinna, Cinnau, Cinnamu, Cinnata, Cinnana” yang didalamnya memuat narasi ratusan kalinda’da’ yang penulis gubah dalam rentang waktu yang lama. Selain itu, ada lampiran kalinda’da’ lontar Mandar serta Kalinda’da’ yang ditulis oleh Alm. Abdul Muis Mandra.

Kalinda’da Lontar dan Kalinda’da’ Abdul Muis Mandra ini penulis lampirkan selain untuk menjadi perbandingan karya sastra, sekaligus mengapresiasi karya-karya pendahulu kita sebagai salah satu literatur di Mandar Bagaimanapun, kita harus berterima kasih kepada para pendahulu kita, yang dengannya mahakarya leluhur kita tersebut masih bisa kita nikmati hari ini.

Tujuan penulisan buku ini juga adalah upaya untuk mengabadikan karya-karya sastra yang sepanjang sejarahnya hanya berkutat di wilayah tutur dan lisan. Dengan tersusunnya buku ini, diharapkan masyarakat bisa dengan mudah memilah jenis kalinda’da’ yang akan di tampilkan dalam setiap acara/pagelaran.
Kalinda’da’ yang penulis gubah ini terbagi dalam beberapa kelompok atau jenis kalinda’da’ yang bercerita tentang Cinta, Cinta Kepada Allah, kepada Muhammad, Kepada Al-Qur’an sampai kepada lingkungan dan cinta muda-mudi. Itulah sebabnya judul buku ini mengusung “Cinna, Cinnau, Cinnamu, Cinnata, Cinnana” sebab didalamnya nyaris semua bentuk cinta terakumulasi dalam percikan kalinda’da ini.

Dengan terbitnya buku ini penulis menyampaikan penghormatan dan penghargaan serta ucapan terima kasih kepada Bapak Drs. Darmansyah (Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Sulbar). Tanpa dukungan beliau, buku ini mungkin tak akan pernah ada rak-rak buku. Kepada Dinda Muhammad Asri Abdullah, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Kab. Polman. Serta Ananda Muhammad Munir yang merelakan hampir setiap waktunya untuk mengumpul dan mengetik ulang naskah-naskah yang telah penulis selesaikan. Naskah Puaji Tokke (Kumpulan Puisi Mandar) adalah buku pertama yang penulis percayakan kepadanya untuk menjadi editor. Buku ini adalah naskah kedua yang juga lahir dari keuletannya menyortir dan menyunting serta mengedit naskah-naskah yang lusuh dalam tas penulis.

Almarhum Husni Djmaluddin, Syarbin Syam, Drs. Abdul Muis Mandra, Andi Syaiful Sinrang, MT. Azis Syah, Ahmad Patingari, Nurdahlan Jirana, Ali Sjahbana, adalah sosok yang ikut mewarnai proses lahirnya peradaban di tanah Mandar. Mereka adalah guru yang penulis jadikan inspirasi dalam berkarya. Olehnya, buku ini penulis halalkan untuk menjadi amal jariyah dan berharap setiap pembaca berkenan mengirimkan bacaan Surah Al-Fatihah yang pahalanya adalah buat mereka.

Juga ucapan terima kasih kepada orang tua kami Nurdin Hamma, saudara kami Saharuddin Madju dan semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu-persatu. Secara khusus penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada bapak Drs. Suradi Yasil, M.Si. yang banyak memberikan literatur, saran dan masukan kepada penulis.

Penulis mengharapkan kritikan dari pembaca yang budiman untuk dijadikan bahan perbaikan pada edisi berikutnya. Disana-sini, tentu terdapat banyak  kekurangan Kritik dan saran dari pembaca sekalian adalah hal yang penulis tunggu-tunggu. Dan kepada Allah SWT jua kita berserah diri sebagai pemilik kebenaran mutlak, dan semoga kita semua dimudahkan dalam mencari ilmu-Nya. Amin ! 


Tinambung, 10 Januari 2017



BAKRI LATIEF

BUKU SILAT BURAQ PADANG BALANIPA : Pengantar Penulis



Penulis meminjam sebuah pribahasa kuno dari Indian Alaska,When an elder dies a library burns ketika seorang tua meninggal maka satu perpustaakan habis terbakar. Sebuah pertanyaan seketika muncul, sudah berapa perpustakaan kita yang hilang dan apa upaya kita untuk melestarikan perpustakaan yang hilang itu untuk tetap bertahan?. Pertanyaan ini penting untuk dijawab, sebab refleksi dari perkembangan abad manusia nusantara yang kian meninggalkan hikmah warisan para tetuanya. Sehingga tumbuh sebuah keraguan yang masih mencemak untuk melanggengkan warisan tersebut.

Penulis menganggap, pesan tetua inilah yang disebut sebagai filsafat ke-Indonesiaan kita. Kelompok filsafat barat menyebutnya hal itu sebagai fase fase kosmosentris. Tapi kita memiliki penamaan tersendiri  tanpa harus dikategori sebagai manusia animisme dan dinamisme. Kaitannya dengan fakta anak bangsa telah terjangkit modernisasi, baik tingkah laku dan pola pemikirannya, mereka hidup tanpa mengetahui bagaimana semangat lokalitas dan semangat yang ditawarkan modernisasi.

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap para tokoh bangsa Indonesia, ada salah satu fase dimana bangsa ini mulai meninggalkan falsafahnya. Itu dimulai dari munculnya para pemikir bangsa ini yang  melahirkan konsep emansipasi, madilog, sosialisme dan lain sebagainya. Konsep itu mengisyaratkan pada dunia bahwa tradisi dan kebudayaan Indonesia adalah karakter manusia timur yang tertinggal meski dipuja dari tata nilai namun tidak merubah persoalan taraf kehidupan. Lalu konsep-konsep tersebut mengambil celah keadaan bangsa ini dengan isu-isu kesejahteraan. Nah ketika modernisme ini kian merajalela, perubahan besar-besaran kemudian terjadi, dekonstruksi, rekontruksi nalar dan kesadaran anak bangsa tak dapat terbendung.

Akibatnya, situs-situs peribadatan agama kepercayaan lokal dimasa lalu, kini ditinggalkan. Padahal yang terpenting dari situs tersebut yakni sebagai simbol keberadaan kejayaan dimasa lalu. Paling tidak kita sadar untuk merawatnya dari termakannya zaman. Baik dia yang berbentuk karsa, rasa ataupun cipta artefak serta nilai falsafah.Dapat kita saksikan sendiri, kaum-kaum adat hari ini masuk sekolah lalu mengusai ilmu sains dan filsafat modern, hingga adat kini di anggap sebagai mistisme dan takhayyul serta ilusi kuno bin kolot.

Penghormatan masyarakat adat terhadap air dan roh air kini tergantikan oleh eksploitasi orang modern terhadap air, hingga air seenaknya dicemari. Laut pun kemudian dianggap boleh dicemari karena di anggap benda mati dan tak patut dihormati. Begitu juga penghormatan terhadap hutan dan roh hutan telah tergantikan dengan eksploitasi hutan, penanaman seuta pohon digalakkan, tapi seribu hektar hutan dibalak liar tak pernah bisa digagalkan, hutan kemudian sah -sah saja untuk dibakar dan dijadikan lahan industry, sebab hutan bukan lagi hal yang keramat. Parahnya, agama dengan muatan liberalisme dan radikalisasi ikut dijadikan alat untuk menghancurkan falsafah tersebut.
Bukankah agama telah mengajarkan kita untuk saling menghormati antara manusia dengan manusia termasuk terhadap alam. Isu-isu HAM dan Pluralisme menjadi bagian tak terpisahkan sebagai hasil konstruksi kesadaran dari rincian pengetahuan barat. Mungkin bisa direfleksi bagaimana metode suku Badui dan suku Mandar mengelola hasil alamnya tidak hanya dengan tata cara teknis belaka dengan kandungan makna ussul dan pemali yang dilakoninya, mereka tetap sejahtra untuk survive. Tidak hanya berfikir mau makan apa hari ini dan esok tetapi bagaimana kehidupan sosialnya terjaga.

Jika di Mandar Sulawesi Barat terdapat konsep tomanurung, filsafat orang Mandar yang memandang manusia sebagai makhluk yang berasal dari langit atau surga atau bahkan berasal dari negeri para kaum leluhur, telah tergantikan oleh filsafat moderen dibangku sekolah, bahwa manusia adalah makhkuk evolotif yang berasal dari kera (Manusia Purba). Beginilah cara dunia moderen meletuskan segala bentuk perang bagi peradaban manusia menuju globalitas runtuhnya peradaban.

Bagaimana dengan konsep memandikan pusaka (Massossor) ritual laut dan perahu bagi orang Mandar dahulu, sebagai keluluhuran filsafat orang nusantara kemudian direduksi hanya pada model tekhnis semata, bukan sebuah makna filosofi “amaniniang” keharmonisan antara unsur manusia, alam dan ketuhidan.

Bukan dianggap salah jika belajar segala bentuk ilmu pengetahuan tetapi tidak serta merta patron falsafah hidup kini berkiblat kebarat, dimana bangsa nusantara jauh sebelumnya, telah lebih awal mendulang kejayaan dengan konsepnya sendiri. Kemudian pengetahuanlah yang membuat masa keemasan dianggap feodalisme untuk pelanggengan kekuasaan, yang kemudian harus diganti oleh konsep demokrasi. Sistem ini justru jauh lebih membuka ruang kekuasaan.Sistem yang tak jauh beda dengan hukum rimba, hanya saja dibalut dalam model patron politik lokal.

Artinya bahwa politik dengan gembosan isu-isu kesejahteraan membuka keran oligarki dan semakin memperhadap-hadapkan kaum proletar dengan para borjuis, jika digali paradigmanya dianggaplah kelas sosial merupakan hasil reduksi pertarungan kasta yang dilanggengkan dengan pengejewantahan keleluhuran para leluhur sebagai anak tuhan. Padahal faktanya kini, justru negara lewat sistemnya dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasan kelompok tertentu, lalu tradisonalisme nusantara kemudian menjadi kambing hitam.

Akhirnya, yang terjadi tidak sekedar adanya pergeseran kesadaran manusia nusantara, tetapi dampak dari pergeseran tersebut, munculnya wujud egosentrisme manusia sebagai makhluk will to power, kehendak untuk berkuasa serta kesewenangan terhadap alam semesta atas nama hak rasio.

Salah satu perpustakaan terbesar bangsa ini adalah kebudayaan yang tak hanya sekedar kebudayaan, terkandung didalamnya nilai filosofis spritualisme dan pengejewantahan sejarah peradaban nusantara. Penulis mengambil salah satu contoh mahakarya terbesar bangsa Nusantara yang memenuhi berbagai aspek kehidupan, yakni pencak silat. Bagi penulis pencak silatlah yang mengandung itu semua. Olahraga, seni, kebudayaan dan spritual. Dialah pencak silat, mahakarya bangsa dan salah satu pilar semua dimensi peradaban nusantara yang senantiasa menyapa dunia, hari ini esok dan kemarin.

Akankah esok akan menjadi harapan, kemarin menjadi kisah indah, dan hari ini tetap sebagai jangkar yang kokoh untuk menuju harapan dan meneruskan kisah yang indah?. Jawabnya ada pada kesadaran anak bangsa dalam menghadapi zaman.

Penulis sangat bermimpi ingin membuat film silat seperti film taichi, bela diri Cina yang memainkan jurus dan filosofi bela dirinya dalam sebuah film kungfu.

Penulis teringat dengan sebuah film Cina yang menjelaskan kisah Ip Man (guru Bruce Lee), Ip Man menegakkan kedaulatan  bangsanya lewat bela diri, dia bertarung melawan penjajah dan melawan dominasi kebudayaan yang berupaya penjajah tanamkan didaratan Cina, lalu mencoba memandang remeh beladiri Cina.

Hingga suatu saat Ip Man harus bertarung melawan semua jenis beladiri asing Inggris dan Jepang atas nama bangsa Cina. Terbukti dengan tekad dan kemampuan serta militansi ideologi kecintaan terhadap negara, kebudayaan dan beladiri khas bangsanya, dia mampu melawan penjajah yang mencoba meremehkan negara dan bela diri khas bangsanya itu.

Nusantara sendiri memiliki sebuah perdaban yang besar, nasanatara mempunyai peradaban yang tak kalah dengan peradaban yang Cina miliki, tentu saja bangsa Indonesia bisa menegakkan nasionalisme dengan kebudayaannya. Melawan dengan primordialisme kebangsaan yang pantang tunduk pada penjajah. Sayangnya kebudayaan pencak silat hanya berkembang disektor olahraga tetapi tidak sejalan sebagai bentuk aspek budaya.

Awalnya rencana penelitian ini dimulai karena terdorong melihat aktivitas kebudaayaan yang  terdokumentasi di Mandar belum ada yang bicara tentang silat secara spesifik, umumnya kebudayaan dituliskan secara spesifik pada musik, sastra, bahari serta tarian. Tidak khusus membahas bagaimana perkembangan pencak silat. Padahal salah satu kebudayaan yang akan digeser oleh globalisasi adalah pencak silat, tidak hanya di Mandar tetapi di Indonesia secara umum. Silat kini menjadi sebuah identitas lokal bangsa yang terlupakan. Sehingga penting untuk dituliskan, terlebih tidak semua diantara kita ingin melakoninya.

Penulis teringat dengan sebuah ungkapan Datuk Edwel, bahwa terlalu murah harga bangsa saya jika saya tak bisa memberikan apa-apa, tapi ternyata ada kebudayaan khas saya yang bisa saya banggakan untuk kukenalkan kedunia, dan kebudayaan yang Edwel maksud adalah pencak silat.[1]

Ada hal yang membahagiakan dalam penyusunan karya ini. Sebagai pemula, karya ini adalah anugerah tersendiri dengan tercurahnya hidayah bisa menyusun karya ini. Sejak duduk di Kelas tiga SMA niat itu telah terbersit, namun belum memahami karya kebudayaan seperti apa dan dengan cara apa memulainya. Saat itu penulis sudah memiliki data-data dan pemahaman dasar ilmu beladiri.

Hal tersebut terjadi sebab sejak kecil penulis telah dibimbing langsung oleh ayahhanda untuk mempelajari yusika (sejenis bela diri silat). Saat masuk usia SMP, penulis telah belajar Black Panter. Demikian juga di SMA kerap mempelajari bela diri kempo dan melanjutkan tradisi silat di perguruan silat Minangkabau hingga dibangku kuliah. Penulis juga ikut serta sebagai atlit kempo Sulbar, dan tertarik untuk sedikit belajar beladiri karate. Dalam proses melihat, melakoni dan membandingkan itulah penulis mulai meramu data-data melalui cerita tutur para pendekar dan ahli beladiri asing hingga penulis kemudian memilih fokus di pencak silat.

 Keterlibatan penulis dalam berbagai kelas kejuaraan Kempo cukup memberi pengalaman berharga, meski tidak menorehkan prestasi gemilang. Hal ini terjadi karena terbatasnya waktu untuk mengikuti turnamen secara rutin. Bukan hanya itu, penulis juga memilih lebih fokus dibangku kuliah dan organisasi. Kendati demikian, penulis merasa bersyukur mempunyai kesempatan dalam melakoni beberapa pertarungan dan meraih juara ketiga di pertandingan terakhir di Unhas Makassar. Dan pada tahun 2010 lalu, penulis berhasil menjadi peserta terbaik ujian kenaikan sabuk tingkat Kiyu Dua Nasional.

Pada saat menjadi mengikuti program studi S2 di Jakarta, data-data tersebut penulis kembangkan dan lebih dipertajam. Perkenalan penulis dengan orang-orang Jawa, Betawi, Madura dan Minangkabau terlebih orang Bugis Makassar (sejak di Sulawesi) banyak memberi informasi baru, baik secara literatur maupun tutur. Ada banyak orang yang penulis temui dan mencoba mengorek informasi darinya, Namun dalam prosesnya, ada rasa kecewa sebab mereka menilai silat tradisional dianggap tidak boleh untuk dipublikasikan dan belum dalam kesadaran untuk menyusun karya ini.

Beruntunglah keberadaan Buraq Padang yang merupakan turunan dari Minangkabau di Mandar membuka peluang untuk menuliskan dan mendokumentasikannya, berkat hubungan kedekatan Minangkabau dan Buraq Padang serta kedekatan penulis dengan salah satu khalifah Buraq Padang dan guru besarnya. Sembari mempelajari data-data dan menggali rahasia gerakan yang dimiliki silat Buraq Padang.

Hikmahnya adalah, tekad untuk menyusun karya sederhana ini dalam membincang silat Mandar, akan dimulai dari BuraqPadang, yang tidak hanya mewakili keberadaan pencak silat di Mandar, tetapi juga melatari intrkasi kebudayaan dari sebuah peradaban antara orang Mandar dan Minangkabau. Hingga patut di syukuri, semoga karya ini bermanfaat untuk pelestarian kebudayaan di Mandar dan Indonesia khususnya pencak silat tradisional. Ucapan terimakasih sedalam-dalamnya tanpa terkeculai untuk kedua orang tua dan Abdi Ahmad selaku paman sekaligus ayah, sepupu dan para pembimbing penulis selama mendalami dunia jurnalistik dan kajian kebudayaan serta pengetahuan lainnya dibidang akademik.

Banyak dari beberapa tokoh intelektual dan kebudayaan menjadi tempat belajar dan berdiskusi, hingga tak luput ucapan terimakasih penulis sampaikan pada sosok guru Muhammad Ma’ruf Muhtar. Sahabat senior Muhammad Sukriadi Azis, Mas’ud Shaleh, Subair Sunar, Muslim Sunar, Askra Darwis, Syeh Ahmad Zaky Dfjafar Almahdaly, serta orang tua kami Nurdin Hamma dan Tammalele dan semua yang tak sempat dituliskan.

Ucapan terimakasih pula untuk Muhammad Ridwan Alimuddin, Dahari Dahlan, Muhammad Munir, Muhaimin Faisal, Adi Arwan Alimin dan sosok guru Muhammad Syariat Tajuddin yang banyak memberi masukan selama ini. Sahabat karib Aco Muhammad Rifai, Puaq Kali, Jasman Puaq Mi’na,Arif selaku senior dan guru pula buat penulisi. Dan terkhusus pribadi KH. Muhammad Syibli Sahabuddin. Serta Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, Husni Djamaluddin dan Prof. Dr. KH. Sahabuddin, bagi penulis, meski tidak bersentuhan langsung dan hanya mengenal sosok dari latar sejarah beliau disaat duduk dibangku sekolah, namun beliau adalah inspirator yang akan selalu tumbuh dihati generasi Mandar.

                                                            Penulis


                                                            Suryananda




[1] youtube