Minggu, 05 Oktober 2025

Ketika Tuhan Cemburu pada Baharuddin Lopa

Catatan Hamzah Ismail 

Ada sebuah kebiasaan yang nyaris menjadi ritual wajib bagi Baharuddin Lopa setiap kali pulang kampung ke Pambusuang: ia selalu memanggil seorang sepuh desa, bukan sekadar untuk berbasa-basi, melainkan untuk mendengar kisah dan petuah yang hanya bisa lahir dari orang-orang tua yang bijaksana dan memiliki rasa humor yang tinggi. Salah seorang sepuh itu bernama Kurudi, yang hampir seluruh ceritanya selalu menggunakan logika terbalik.

Suatu hari, begitu kakinya menjejak tanah kampung halaman, Baharuddin Lopa langsung menyuruh seorang perempuan muda menjemput Kurudi.

“Puaq, napanggilki Jaksa Tinggi (panggilan akrab Baharuddin Lopa),” ujar suruhan itu di depan Kurudi yang tampak terbaring di dipannya.

Padahal, sejak mendengar kabar bahwa Lopa pulang, Kurudi sengaja berpura-pura sakit. Ia menghela napas panjang, lalu berkata lirih tapi penuh siasat:

“Bilang sama Jaksa Tinggi, saya lagi sakit. Katakan juga, mulut saya ini sedang tidak berasap.” Suruhan itu bingung, tapi tetap membawa pesan apa adanya. 

Begitu mendengarnya, Baharuddin Lopa hanya tersenyum tipis, paham betul maksudnya.

“Belikan sebungkus rokok. Pakai uangmu dulu. Bawa ke rumah Kurudi,” perintahnya.

Tak lama, rokok itu sampai di tangan Kurudi. Sepuh itu bangkit, mengatur jalannya pelan-pelan, tetap dengan gaya orang sakit. Tetapi begitu sampai di rumah Baharuddin Lopa, matanya berbinar melihat sambutan hangat tuan rumah. Kopi hitam segera disuguhkan.

“Puaq, sakit apa?” tanya Lopa, nada suaranya dalam dan penuh perhatian.

Kurudi menghela asap rokok sebelum menjawab, “Kurang tidur, Nak. Semalam saya mimpi. Mimpi berdebat dengan Tuhan. Bayangkan, jari telunjuk-Nya hampir saja menyentuh mata saya.”
Alis Lopa terangkat. 

“Berdebat dengan Tuhan? Tentang apa, Puaq?” tanyanya, nada suaranya berubah, antara heran dan takjub.

Kurudi menatap Lopa lama, lalu menyunggingkan senyum tipis. “Tentang kamu, Nak. Sepertinya Tuhan sedang cemburu padamu. 

Ada tiga pasal yang saya perdebatkan dengan-Nya.”

Lopa merapatkan duduknya, tubuhnya tegak, matanya berbinar. Ia sudah terbiasa berhadapan dengan hakim, jaksa, dan penjahat kelas kakap. Tapi kali ini, ia seperti murid kecil yang menunggu gurunya bercerita.

Namun Kurudi sengaja menunda. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu menoleh ke arah salah seorang perempuan di rumah.

“Ambilkan satu kaos baru untuk Puaq,” ujar Lopa tiba-tiba, seolah ingin menyiapkan hadiah untuk penutur kisah yang sedang menegangkan suasana.

Kurudi terkekeh kecil, lalu berkata, “Sabar dulu, Nak. Biar saya habiskan rokok ini.” Asap mengepul dari bibirnya, lalu ia mulai.

“Pasal pertama,” katanya pelan namun tegas, “Tuhan berkata padaku: kasih tahu itu Baharuddin Lopa. Dia terkenal jujur, padahal kejujuran itu dari Aku.”

Lopa menunduk sedikit, tangannya sigap mencatat di buku kecil yang selalu ia bawa.

“Pasal kedua,” lanjut Kurudi, suaranya semakin dalam, “Tuhan berkata: kasih tahu itu Baharuddin Lopa, dia suka memberi (malawo). Padahal sifat dermawan itu dari Aku.”

Kali ini Lopa mengangkat wajahnya. Ada sinar yang lembut di matanya, antara kagum sekaligus tertohok.

“Dan pasal ketiga,” Kurudi menarik napas panjang, menahan sebentar, lalu mengembuskan asap terakhir, 

“Tuhan berkata: kasih tahu itu Baharuddin Lopa, dia sangat pemberani ketika dikeroyok banyak orang, padahal keberanian itu pun berasal dari Aku.”

Setelah kata-kata itu meluncur, ruangan menjadi hening. Hanya bunyi detak jam dinding yang terdengar. Lopa terdiam, lalu perlahan tersenyum. Senyum lirih yang lahir dari kesadaran mendalam, bahwa dirinya bukan siapa-siapa, selain sarana bagi sifat-sifat Tuhan bekerja di dunia.

“Betul itu, Puaq,” ucapnya pelan. Suaranya hampir bergetar, seolah mengakui bahwa seluruh nama besar, seluruh keteguhan, seluruh keberanian yang melekat padanya hanyalah titipan.

Kurudi meletakkan rokok di asbak. Wajahnya sumringah, bukan karena kaos baru yang barusan diterimanya, melainkan karena berhasil membuat Baharuddin Lopa begitu penasaran atas perkara perdebatannya dengan Tuhan.

Sumber cerita: Tammalele

Foto: Saat Baharuddin Lopa (Sekjen Komnas HAM) bersama Emha Ainun Nadjib dalam sebuah seminar di Mandar (1997). Ketika itu Emha Ainun Nadjib sedang dicekal oleh rezim orba, dan tidak diperkenankan berbicara.

Selasa, 16 September 2025

Aji Galeng, Jejak Sejarah dari Paser Utara Kini Dibukukan


Laporan Safardy Bora 

Sosok Aji Galeng yang hidup pada akhir abad ke-18 hingga abad ke-19 (1790–1882) dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah Kalimantan Timur. Ia menjadi figur pemersatu antara Kesultanan Paser dan Kesultanan Kutai, sehingga perannya kerap dipandang sebagai salah satu tonggak awal terbentuknya peradaban di kawasan yang kini menjadi lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN).

Warisan sejarah tersebut kini dituangkan dalam sebuah buku berjudul “Aji Galeng dari Paser Utara: Penjaga Negeri Peletak Peradaban”. Peluncuran buku ini dilakukan langsung oleh Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, di Gedung Otorita IKN, Selasa (16/9/2025).

Dalam pidatonya, Rudy menekankan bahwa karya sejarah adalah sarana menjaga ingatan kolektif masyarakat. Menurutnya, setiap generasi perlu mengenal akar budaya dan peradaban daerah agar tidak tercerabut dari jati diri.

Sejarah jangan pernah dilupakan. Buku ini bukan sekadar catatan, tetapi cermin identitas sekaligus sumber inspirasi bagi generasi hari ini maupun esok,” tutur Rudy.



Rudy yang menyandang gelar Raden Setia Sentana juga menegaskan, IKN tidak hadir di tanah kosong, melainkan berdiri di atas peradaban yang telah berakar ratusan tahun lamanya. Karena itu, ia mengapresiasi kerja keras Yayasan Aji Galeng, Departemen Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, serta para penulis yang berkontribusi menyelesaikan buku ini.

Ia berharap daerah-daerah lain di Kaltim, seperti Kutai dan Kota Bangun, juga melahirkan karya serupa.

Banyak kekayaan sejarah kita yang patut ditulis, agar masyarakat tetap dekat dengan akar budayanya,” ujarnya.

Bagi Rudy, peluncuran buku ini tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga semangat persatuan. Kaltim yang dikenal sebagai miniatur Indonesia dengan keberagaman suku, agama, dan budaya disebutnya harus terus memperkuat kebangsaan, apalagi di tengah pembangunan IKN menuju kota berkelas dunia.

Acara peluncuran turut dihadiri para raja dan sultan dari berbagai kesultanan di Kalimantan Timur, kalangan akademisi, pejabat Otorita IKN, serta kepala OPD Pemprov Kaltim. Hadir pula Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin, Ketua Yayasan Aji Galeng Bambang Arwanto, serta perwakilan perguruan tinggi dari UI, UGM, Unmul, Uniba, hingga Unikarta.

Buku ini ditulis oleh Bambang Arwanto, seorang birokrat sekaligus Ketua Yayasan Aji Galeng, bersama sejarawan Kalimantan Timur Safardy Bora.