Selasa, 04 Februari 2025

M. YUSUF NAIM || Donatur Buku Bagi Komunitas Pusakaku



Muhammad Yusuf Naim, birokrasi kelahiran Campalagian ini tiba tiba menghubungi penulis untuk menyerahkan sekitar 200an buku sebagai donasi ke Komunitas Pusakaku. Ia sengaja memberikan buku buku koleksinya tersebut sebagai upaya memajukan literasi di Mandar. 

Buku buku tersebut umumnya bertema sejarah dan budaya, sesuai bidang pekerjaannya di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulselbar. Terakhir ia menjabat sebagai Kepala BPNB Sulbar yang berkantor di Ondongan Majene sampai pensiun 2024 lalu. 

Donasi dari Pak Yusuf ini tentu menjadi aset berharga bagi Pusakaku, sebab dokumen dan buku buku arsip tersebut menjadi hal yang susah didapatkan kecuali dari ibtenak balai sendiri. Dan tentu akan memudahkan para peneliti dan penulis untuk mengakses informasi yabg terkandung dalam buku buku yang disumbangkan oleh Yusuf Naim ini. 

Donasi buku dari Pak Yusuf ini merupakan donasi buku yang kedua setelah sebeluknya, Kadis Komnfo Sulbar, Mustari Mula juga menyerahkan sejumlah buku kepada penulis saat menyambangi kantornya di bilangan Kantor Gubernuran . Diantara buku penting yang diserahkan oleh Pak Mustari adalah buku 365 Hari di Tanah Mandar, kenangan Prof. Zudan saat menjadi PJ. Gubernur Sulbar. Buku tersebut adalah garapan Adi Arwan Alimin. 


Keberadaan Mustari Mula dan Yusuf Naim tentu menjadikan Pusakaku sebagai komunitas Literasi yang cukup beruntung di jagad Mandar. Mengingat saat ini, sangat susah menemukan tokoh dan pejabat yang memiliki perhatian dan komitmen memajukan gerakan literasi di wilayah eks afdeling Mandar ini. 

Oleh karenanya, penulis ingin menggugah sejumlah tokoh dan pejabat untuk mengambil bagian dalam gerakan literasi di Sulawesi Barat. Ini penting sebab salah satu yang cenderung membuat indeks literasi kita cenderung menurun adalah kurangnya akses buku buku di berbagai perpustakan. 

Harapan penulis sebagai pendiri Pusakaku adalah bertambahnya tokoh atau pejabat yang menjadi donatur buku bagi keberlangsungan gerakan literasi ini di Sulawesi Barat. 

Tak hanya tokoh dan pejabat, masyarakat umum pun yang memiliki buku buku bekas dan masih layak baca kami tunggu konstribusinya di Perpustakaan Rakyat yang kami kelola di Dusun Kontar Desa Botto. 

Hubungi kami Via WA: 0815 2498 4566 (Muhammad Munir) 


Minggu, 02 Februari 2025

PUISI SUPARMAN SOPU


BUKAN HANYA SEKEDAR RASA
Kepada Muhammad Munir

Ini bukan hanya sekedar kata
Yg hendak mengurai rasa
Ini tentang sejarah
Moyang Mandar meracik alam
Laut ditaklukkannya
Gunung digenggamnya
Dan kuali jadi penyebar aroma 
Tercium di cina dan lalu ke Mandar
Membawa aneka porselin yg kini tertimbun

Tercium di dataran Eropa
Dan mereka datang dengan nafsu
Liurnya meleleh menatap rempah rempah
Untuk kuat tubuhnya dan negerinya

Ini bukan hanya tentang rasa 
Ini bukan hanya sekedar kata
Menyebut bau piapi
Menyebut Mandar
Kita harus segera berlayar
Dan menyelam sedalam mungkin
Di dalam Mandar

Subuh, jam 03.38. 3 - 2 - 2025. Mamuju

Kamis, 30 Januari 2025

KARYA MONUMENTAL TENTANG ZAKAT DAN SISTEM SOSIAL KONTEMPORER OLEH SEORANG ULAMA INTELEKTUAL DARI MANDAR



Oleh: Wajidi Sayadi

Pada tanggal 5 Desember 2018 yang lalu telah didiskusikan dan dipresentasikan Kitab الزكاة والنظم الإجتماعية المعاصرة  di Jakarta yang diselenggarakan oleh Pusat Lektur Khazanah Keagamaan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Alhamdulillah, hari ini dapat kabar melalui WA gambar kitab tersebut sudah diterbitkan dalam edisi aslinya berbahasa Arab terdiri atas 6 jilid. 
Satu karya monumental yang ditulis secara serius selama bertahun-tahun oleh seorang Ulama intelektual dari Mandar Sulawesi Barat ini dapat diselamatkan naskahnya dan bisa dibaca oleh banyak kalangan. Semuanya ini atas inisiatif dan kerja keras Dr. Muhammad Zain Kepala Pusat Lektur Khazanah Keagamaan beserta jajarannya yang sangat agresif cinta pada ilmu dan hormat pada para ulama. 

DR. Muhammad Nawawi Yahya Abd Razak berasal dari Mandar Sulawesi Barat. Oleh karena itu, beliau disebut Muhammad Nawawi al-Mandari. Beliau lahir tahun 1929 di Dusun Mojopahit (Manjopahit) Desa Karama Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar. 
Muhammad Nawawi dibesarkan dan dididik dalam lingkungan keluarga yang kental dengan tradisi agama Islam. Ayahnya adalah KH. Yahya Abdurrazak seorang imam masjid di Mojopahit (masyarakat menyebutnya sebagai qadhi Mojopahit). Masa kecil dan remajanya dihabiskan di kampung halaman di Mandar. Muhammad Nawawi al-Mandari meninggalkan kampung halaman sesaat setelah peristiwa pembantaian Westerling di Mandar. Peristiwa tersebut lebih populer dengan sebutan tragedi korban 40.000 jiwa di Sulawesi Selatan khususnya di Galung Lombok Mandar. Peristiwa maut Galung Lombok terjadi pada tanggal 2 Februari 1947. Dalam peristiwa di Galung Lombok ini, selain korban tewas juga beberapa tokoh dan pemuda ditangkap di antaranya saudara kandung Muhammad Nawawi sendiri ikut tertangkap namanya Zawawi Yahya. 

Sehari setelah peristiwa Westerling di Galung Lombok, Muhammad Nawawi yang pada waktu itu baru berumur 18 tahun tinggalkan Mandar menuju Sawitto Pinrang. Selanjutnya, ia menuju Makassar. Pada tahun itu juga ia berhasil berangkat ke Mekah dan Madinah. Beberapa tahun setelah menyelesaikan studinya di Madrasah tingkat Aliyah di Mekah, lalu selanjutnya ke Kairo Mesir hingga menetap dan menghabiskan usianya belajar dan mengajar di sana. 

Sejak usia yang masih muda itulah Muhammad Nawawi al-Mandari berangkat ke Saudi Arabia selanjutnya ke Kairo belajar hingga umurnya lebih banyak digunakan di luar negeri termasuk di Eropa seperti di Belanda. Hidup beliau lebih lama di Kairo dibandingkan di negeri sendiri, Indonesia. 

Tidak lama setelah menyelesaikan Program Doktornya di Universitas Al-Azhar Kairo, ia pulang ke kampung kelahirannya di Dusun Mojopahit Polewali Mandar. Sekitar satu bulan di kampung halamannya, ia wafat dalam keadaan mendadak pada hari Kamis 9 Februari 1984 dalam usia 53 tahun. Padahal, hari Jumat sebelumnya, penulis sempat sama-sama shalat jumat di Masjid Nurul Yaqin Campalagian lalu sama-sama berangkat ke rumahnya di Mojopahit dan lama Beliau cerita dan memberi banyak nasehat. Jenazahnya dimakamkan di  samping makam ayah dan ibunya di halaman Masjid Dusun Mojopahit Polewali Mandar. 

Riwayat pendidikannya tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah menengah diselesaikan di Mandar. Pendidikan selanjutnya di Madrasah tingkat Aliyah di Makkah al-Mukarramah Saudi Arabia. Setelah itu, Beliau ke Kairo Mesir masuk Program S1, S2, hingga S3 diselesaikan di Unuiversitas Al-Azhar Fakultas Syariah wa al-Qanun, Jurusan Fiqh al-Muqaran (Perbandingan Hukum dan Madzhab). Disertasinya diselesaikan pada tahun 1980.
Muhammad Nawawi al-Mandari tercatat sebagai Doktor pertama bidang syariah khususnya zakat dalam perbandingan madzhab dari Asia Tenggara. Karya monumentalnya berupa disertasi terdiri atas 6 jilid dengan jumlah 3. 246 halaman. 

Disertasinya berjudul الزكاة والنظم الإجتماعية المعاصرة az-Zakâh wa an-Nuzhum al-Ijtimâ’iyyah al-Mu’âshirah (Zakat dan Sistem Sosial Kontemporer). Disertasi ini ditulis di atas kertas HVS berukuran 30 X 21 cm 3.246 halaman. Disertasi ini masih asli diketik dengan mesin tik lama tersimpan di Wisma Indonesia di Kairo. Atas jasa adik sepupu Dr. Abdillah Mandar yang kebetulan masih studi di Al-Azhar, Disertasi ini, penulis foto cofy dan dibawa pulang ke Indonesia. Hari ini sudah dicetak dan diterbitkan secara resmi oleh Kementerian Agama RI melalui Pusat Lektur Khazanah Keagamaan. 

Sebagai pengenalan singkat tentang sistematika pembahasannya terdiri atas: 

Muqaddimah terdiri atas 16 halaman:
Membahas mengenai terminologi zakat dan sedekah dan landasan normatif dari al-Qur’an dan hadis mengenai ketetapan kewajiban zakat dalam Islam. Awal mula penetapan kewajiban zakat serta periodisasinya. Kebijakan Abu Bakar ash-Shiddiq mengenai zakat dan pengaruhnya dalam tatanan sosial dan negara serta pengembangan dakwah Islam. 

Jilid I terdiri atas 1- 626 halaman:
Membahas mengenai zakat sebagai ibadah dan kewajiban sosial sebagai modal dasar dalam pembentukan sebuah tatanan sosial dan negara. Kedudukan zakat dalam pembinaan sosial dalam Islam, sebagai kekuatan material dan spiritual. Harta dan sistem kepemilikan dalam perspektif kerangka hukum Islam dan hukum positif yang mengandung kebaikan universal melalui sistem zakat. Sistem sosial dan kekayaan material di era kontemporer dan perbandingannya dengan sistem zakat. 

Jilid II terdiri atas 627 – 1045 halaman:
Membahas mengenai kriteria zakat meliputi syarat-syarat global diwajibkannya zakat seperti muslim, mukallaf, memiliki secara sempurna, bebas dari hutang, nisab dan haul. Kedudukan niat dalam transaksi dan distribusinya. Apakah zakat wajib disegerakan atau boleh ditangguhkan penyerahannya? Ta’jil zakat dan klasifikasinya. Apakah kewajiban zakat gugur karena kematian pemiliknya? 

Jilid III terdiri atas 1046 - 1667 halaman: 
Membahas mengenai terminologi harta dan batasannya yang wajib dizakati beserta kadar pendistribusiannya disertai dalil masing-masing. Masalah emas dan perak, hasil pertanian dan buah-buahan, hewan, harta perdagangan, dan lain-lainnya. 

Jilid IV terdiri atas 1668 – 2109 halaman: 
Membahas secara rinci mengenai delapan kelompok yang berhak menerima pendistribusian zakat. Apakah delapan kelompok akan diberikan dalam jumlah yang sama atau diberikan atas dasar pertimbangan skala prioritas? 

Jilid V terdiri atas 2110 – 2779 halaman: 
Membahas secara rinci mengenai perbandingan pendapat dari kalangan sahabat dan tabiin, ahli hukum Islam, serta empat imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, dan Ahmad bin Hambal), dan dari kalangan imam madzhab Daud Zhahiriyah, Syi’ah dan Zaidiyah. 

Jilid VI terdiri atas 2780 – 3246 halaman: 
Membahas mengenai tarjih. Mendialogkan atau mendiskusikan beberapa pendapat dari beberapa argumentasi yang dikemukakan, lalu memilah dan memilih pendapat yang dianggap lebih unggul dan tepat.  
Disertasi DR. Muhammad Nawawi al-Mandary tersebut merupakan karya monumental ulama dan intelektual muslim Indonesia sangat penting dan dipandang perlu untuk dijadikan referensi dalam studi hukum Islam khususnya kajian tentang zakat dalam perbandingan madzhab dan hukum, serta kaitannya dengan system sosial dan pemberdayaan masyarakat masa depan serta kebijakan politik pemerintah. 

Pontianak, 31 Januari 2019.

Rabu, 29 Januari 2025

MAHRUS ANDIS || MISTERI PUISINYA MENANGKAP SUKMA IBU

Suparman Sopu, Penyair dari Sulbar *):

MISTERI PUISINYA MENANGKAP SUKMA IBU

Oleh Mahrus Andis

Menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya, bukanlah sikap kultural yang harus diciptakan. Esensialitas ibu adalah kodrat yang tumbuh pada diri seorang perempuan, melekat sebagai perilaku yang menampung rahmat dan kasih sayang Tuhan. Karena itu, berbahagialah seorang manusia (baik laki-laki maupun perempuan) apabila ia berhasil menangkap sukma ibu dan melahirkan peran ke-ibu-an dalam sikap perilakunya.

Narasi di atas adalah sedimen pemahaman saya setelah membaca puisi Suparman Sopu, berjudul "Ibu, Aku Jadi Ibu". Puisi ini dimuat dalam buku Antologi Bersama "Ibu, Aku Anakmu", halaman 182, produksi Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) Jakarta, 2024.

Sebelum lanjut, kita nikmati dahulu puisi Suparman Sopu dimaksud.

IBU, AKU JADI IBU

Kini aku juga sudah jadi ibu, Ibu !
Kulalui rasa yang engkau rasakan 
Membawa janin dalam rahim sembilan bulan
Malam dalam ngantuk harus bangun oleh tangis bayiku
Tidak dalam hitungan jam 
Kutimang resah tangis bayi yang panjang 
Kupeluk dalam selimut kasihku yang tulus
Ibu ! Aku yakin engkau lebih dari aku, Ibu !

Pada masa kanak-kanak anakku  
Kulihat masa kanak-kanakku 
Zaman membedakan kerangka hidup 
Aku adalah anak pasir yang riang dalam hujan di alam bebas
Anakku bercengkrama dengan plastik dan berada di ruang-ruang permainan tertutup 
Aku engkau panggil dengan sepotong kayu di tanganmu kala aku melebihi batas
Sedang tanganku kaku oleh aturan-aturan tentang kekerasan pada anak

Ibu, kini aku jadi ibu, Ibu
Aku kuat karena ketegasanmu 
Aku disiplin karena kedisiplinanmu dan lingkunganku
Ibu !
Aku khawatir pada anakku
Kala dia dewasa dan jadi ibu
Tidak seperti aku 
Karena alamku dan alam anakku
Sungguh jauh berbeda.

Mamuju, 20 November 2024

Satu hal yang wajib ada dalam sebuah puisi ialah misteriusitas. Sesuatu yang misterius, setidaknya, bertujuan mencubit kesadaran puitik pembaca untuk merenungkan moral di balik pesan penyair. Puisi tanpa misteri hanya onggokan kata-kata yang tidak menarik untuk dinikmati.

Misteri utama puisi Suparman Sopu terletak pada judulnya: Ibu, Aku Jadi Ibu. Di tataran ini konsep memahami semiotika eksistensi seorang ibu sudah terbaca. Lebih jelas lagi sebab Suparman Sopu adalah sosok seorang suami dan ayah dari anak-anaknya. Hikmah kasih sayang dalam diri penyair membuatnya terdorong menangkap sukma ibu, meletakkan selaras, bahkan melebihi perannya sebagai seorang ayah. Di bait pertama puisinya, ia menulis:

"Kini aku juga sudah jadi ibu, Ibu !/
Kulalui rasa yang engkau rasakan/
Membawa janin dalam rahim sembilan bulan/
Malam dalam ngantuk harus bangun oleh tangis bayiku/
Tidak dalam hitungan jam/
Kutimang resah tangis bayi yang panjang/
Kupeluk dalam selimut kasihku yang tulus/
Ibu ! Aku yakin engkau lebih dari aku, Ibu ! 
..." 
Bagi penyair, peng-agung-an terhadap kemuliaan dan ketulusan cinta seorang ibu itu mutlak. Saking mutlaknya, ia merasakan hadirnya keraguan terhadap kesanggupan anak-anaknya kelak mengemban sifat kodrati peran seorang ibu. Perbedaan zaman, di mana ayah dan anak merentang jarak masa kecil di antara hamparan "pasir" dan ruang "plastik"; menjadi pertanyaan besar di hati penyair. "Mungkinkah kodrat ayah sebagai ibu menetes pula ke anak-anaknya kelak ?". Di sinilah dimensi perenungan itu. Rasa khawatir terhadap kodrat ke-ibu-an tampak jelas diungkapkan penyair melalui bait terakhir puisinya:
"...
Ibu, kini aku jadi ibu, Ibu/
Aku kuat karena ketegasanmu/
Aku disiplin karena kedisiplinanmu dan lingkunganku/
Ibu !/
Aku khawatir pada anakku/
Kala dia dewasa dan jadi ibu tidak seperti aku/
Karena alamku dan alam anakku sungguh jauh berbeda."

Misteriusitas puisi ini mengajak pembaca mengepakkan sayap imajinasi jauh ke ceruk-ceruk masa. Penyair seakan menggiring kita menggeledah diri dan kesadaran anak-anak yang pernah lahir dari rahim seorang ibu. Sebuah tawaran menyeruduk batin, sanggupkah kita mengemban kodrat menjadi seorang ibu, sekaligus melahirkan peran ke-ibu-an bagi anak-anak di tengah perbedaan zaman ? Setidaknya, tawaran ini menjadi misterius ketika ia muncul dari realitas artistik seorang penyair yang berstatus sebagai ayah.

Secara fisik dan semiotik, puisi yang dibahas ini memang belum sepenuhnya utuh. Struktur bait dan metafora terkesan verbal, longgar dan masih perlu intensitas pemadatan linguistik. Proses kondensasi kata menjadi diksi, setapak lagi mencapai gairah puitika yang sempurna.

Atau dengan kata lain, apabila penyair bisa lebih total dalam kontemplasi semiotik maka puisi ini akan menjadi utuh secara bentuk dan isi. Ia akan tampil sebagai puisi yang "memuisi" (pinjam istilah Sapardi Djoko Damono,1980-an). Selamat dan kreatif selalu.

Mks, 29 Januari 2025
__________
*) Dr. Suparman Sopu lahir 1 Februari 1965 di Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Selain menulis puisi, ia pun mengarang cerita prosa, mencipta lagu-lagu daerah dan menyanyikannya sendiri. Beberapa karyanya sudah terbit jadi buku.