Kamis, 19 Juni 2025

SILSILAH, TEKNOLOGI, DAN REALITAS


Oleh : Bram Pallatano

Di masa lalu, silsilah adalah warisan yang dijaga dengan penuh kehati-hatian dan kesakralan. Setiap nama, setiap cabang keluarga, dan setiap peristiwa dalam garis keturunan disusun dengan teliti melalui naskah Lontara, stamboom, dan kajian-kajian lisan maupun tertulis yang diuji kebenarannya secara turun-temurun. Kebenaran bukan sekadar data—tetapi realitas yang dipertanggungjawabkan, diperiksa, dan dihormati.

Namun hari ini, kita hidup di era di mana informasi tak lagi melewati proses penapisan yang ketat. Silsilah bisa dibuat dan disebarluaskan dalam hitungan menit. Dengan teknologi digital dan media sosial, siapa pun kini bisa menjadi "penulis sejarah", meski tanpa fondasi riset atau kedalaman narasi leluhur. Silsilah kini mudah ditemukan—tetapi mudah pula dipelintir.

Teknologi memang memberi ruang keterbukaan, tapi juga mengaburkan batas antara narasi nyata dan narasi imajinatif. Banyak silsilah yang viral di media sosial bukan karena akurasi, tapi karena daya tarik visual, nama besar, atau afiliasi emosional yang dibangun secara canggih. Realitas tidak lagi menjadi syarat mutlak—yang penting adalah seberapa cepat ia tersebar dan diterima.

Keprihatinan muncul, terutama bagi para penjaga warisan budaya dan peneliti yang selama ini bergelut dalam keheningan dan ketelitian. Bagi mereka, silsilah bukan sekadar pohon nama, tetapi peta identitas yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ketika keaslian dipertaruhkan oleh kecepatan, maka yang terancam bukan hanya data, tetapi juga nilai, martabat, dan kesinambungan sejarah.

Maka di tengah gegap gempita era digital, perlu suara yang bersandar pada integritas. Perlu ruang yang merawat silsilah dengan cara lama—yang sabar, hati-hati, dan jujur. Teknologi semestinya menjadi jembatan, bukan pemutus. Ia bisa menjadi alat bantu yang luar biasa, asal tetap dipandu oleh nilai-nilai kebenaran, bukan popularitas.

Kini tantangannya bukan sekadar menemukan silsilah, tapi membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya rekaan. Dan bagi kita yang masih percaya bahwa sejarah adalah cahaya, bukan sekadar cerita, inilah saatnya untuk terus menjaga nyala kecil itu, agar tak padam di tengah badai informasi yang menggulung realitas.

Rabu, 18 Juni 2025

ORANG MANDAR DI UJUNG GELOMBANG, DI PINGGIR KALIMANTAN || Jejak Bahari yang Menyatu dengan Daratan

Oleh: Safardy Bora

Sepanjang garis pantai Kalimantan Timur, dari muara Paser hingga gugusan pulau di utara Tarakan, berdiri rumah-rumah panggung yang menghadap ke laut. Di sela suara ombak dan desir angin, terdengar bahasa Mandar yang menyisip di antara logat Kutai, Paser, Bugis, dan Banjar. Mereka datang bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk bertaut—dengan tanah, dengan laut, dan dengan sesama manusia.

Migrasi orang Mandar ke pesisir Kalimantan Timur merupakan bagian dari dinamika historis maritime diaspora di Nusantara. Sejak abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-20, orang-orang Mandar dikenal sebagai pelaut tangguh. Pamborneo—semangat merantau menyeberangi laut—bukan hanya tradisi, tetapi kebutuhan ekonomi dan panggilan jiwa. Mereka menjelajahi Borneo bukan dalam gelombang invasi, melainkan dalam gelombang kerja dan harapan.

Di Kabupaten Paser, terutama di Tanah Grogot dan sepanjang pesisir Batu Sopang hingga Tanjung Aru, orang-orang Mandar telah lama menanam jejak. Mereka datang melalui jalur laut dari Polewali dan Majene, membawa hasil laut, garam, dan anyaman. Sebagian menetap karena perdagangan, sebagian lagi karena perkawinan. Mereka diterima dengan hangat oleh masyarakat Paser, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama menjadi bagian dari denyut kehidupan pesisir selatan Kaltim.

Penajam Paser Utara—wilayah strategis yang kini menjadi gerbang Ibu Kota Negara—juga menjadi ruang hidup bagi banyak keluarga Mandar. Di pesisir Nenang, Nipah-nipah, hingga Gersik, komunitas Mandar tumbuh sejak 1970-an, seiring meningkatnya aktivitas pembangunan dan lalu lintas laut antara Balikpapan, Parepare, dan Mamuju. Orang Mandar di sini bukan hanya sebagai pendatang, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi kecil: berdagang ikan, menjadi guru ngaji, hingga merintis koperasi lokal.

Di daerah Muara Badak dan sekitarnya,  Sebelum para nelayan memasuki wilayah ini, pada tahun 1871, didahului kedatangan Mohammad Hasan, Kapitan Caco dan Kapitan Umar. Mereka bertiga sebagai utusan sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-17, Aji Muhammad Sulaeman. Muhammad Hasan adalah orang mandar, guru ngaji kesultanan Kutai di masa Aj Muhammad Sulaeman berkusai. Mereka menjadi pengusaha kapal kayu, Juragan kelapa bahkan menjadi bagian dari pekerja perminyakan sejak eksplorasi awal di kawasan Mahakam. Hubungan mereka dengan warga lokal berjalan melalui jalur air, namun menyatu di darat.

Samboja, yang sejak dahulu menjadi kawasan antara Kutai Lama dan Balikpapan, juga menjadi simpul migrasi orang Mandar. Di sinilah banyak dari mereka memilih membuka lahan, berladang, dan berdagang. Dalam catatan lisan tua, beberapa di antaranya datang sebelum jalan darat menghubungkan Samboja dengan dunia luar—hanya dengan perahu, menembus rawa, membawa anak-anak dan mimpi sederhana tentang hidup yang lebih tenang.

Di Bontang—kota industri dan pelabuhan—orang Mandar datang tidak hanya sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai penyambung budaya. Mereka menetap di Loktuan, Berebas, hingga Telihan. Sejak 1980-an, mereka menjadi bagian dari gelombang pekerja konstruksi dan perikanan yang mendukung pertumbuhan industri LNG. Namun yang mereka bawa tidak hanya otot dan tenaga, melainkan juga tradisi, tata krama, dan ketekunan.

Sementara itu, Sangkulirang di pesisir Kutai Timur adalah tanah yang menyambut gelombang orang Mandar dari arah Majene dan Tinambung. Sebagian besar datang pasca kemerdekaan, membawa hasil bumi dan garam dari tanah Sulawesi untuk ditukar dengan rotan, ikan, dan hasil hutan. Hubungan dagang ini perlahan menjelma menjadi jaringan sosial, ikatan pernikahan, dan komunitas kecil yang bertahan hingga kini.

Di wilayah Biduk-Biduk dan Talisayan, kampung-kampung pesisir seperti Labuan Cermin dan Teluk Sulaiman menjadi tempat bersemainya generasi baru Mandar. Mereka menyatu dengan nelayan lokal, menyumbangkan pengetahuan maritim, dan ikut menjaga harmoni ekologis laut yang menjadi sumber penghidupan bersama. Dalam lanskap ekowisata kini, kehadiran mereka bukan sekadar sejarah, tetapi masa depan.

Tarakan, sebagai kota pelabuhan strategis, menjadi rumah bagi banyak keluarga Mandar sejak tahun 1940-an. Mereka datang sebagai pekerja pelabuhan, buruh pengangkut, dan pedagang kecil. Lama-kelamaan, mereka mengisi ruang-ruang sosial yang lebih luas: menjadi guru, imam, dan tokoh masyarakat. Di pulau ini, Mandar menjadi bagian dari tarikan napas kolektif kota.

Istilah dalam antropologi seperti integrated migration tepat menggambarkan pola kehadiran orang Mandar di Kalimantan Timur. Mereka tidak menciptakan enclave tertutup, tetapi membuka simpul-simpul budaya yang lentur dan membaur. Mereka tahu kapan harus mempertahankan identitas, dan kapan harus melebur dalam kesatuan sosial yang lebih besar.

Adaptasi orang Mandar juga tampak dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Di pasar dan pelabuhan, mereka berbicara dalam campuran Mandar, Paser,  Bugis, dan Kutai. Namun di rumah dan saat mengaji, mereka tetap menyisipkan kosakata asal—sebuah bentuk code-switching yang menunjukkan identitas majemuk namun terjaga.
Pola relasi orang Mandar dengan komunitas lokal juga ditandai oleh prinsip siri’, yang dalam nilai Mandar dikenal sebagai rasa malu dan empati sekaligus  harga diri. Nilai-nilai ini membuat mereka berhati-hati dalam bertindak, menjaga harmoni dalam bermasyarakat, dan menghargai tatanan sosial tempat mereka berada.

Dalam pergaulan sehari-hari, mereka cenderung merendah namun tekun. Dalam bekerja, mereka membawa etos siwaliparri' dan juga  orang mandar pantang diam di tengah gelombang. Maka tidak heran bila banyak dari mereka sukses membangun usaha, merintis pendidikan anak-anak, bahkan menjadi bagian dari struktur pemerintahan lokal.

Generasi ketiga dan keempat dari para passompe’ kini tumbuh dalam iklim sosial yang lebih cair. Mereka sekolah di kota, berbicara dalam bahasa Indonesia yang fasih, namun tidak melupakan bahwa di dalam nadi mereka mengalir darah bahari. Mereka tak lagi berlayar dengan sandeq, tapi semangat menjelajah tetap menyala.
Kehadiran orang Mandar di Kalimantan Timur hari ini adalah bukti bahwa perpindahan bukan selalu tentang kehilangan, tapi tentang perluasan makna rumah. Di tanah baru ini, mereka menanamkan nilai, memperhalus cara hidup, dan ikut membentuk mosaik budaya pesisir yang kaya.

Di antara gelombang dan gugusan tanjung, orang-orang Mandar telah menjahit sejarahnya sendiri di tubuh Kalimantan. Mereka datang membawa layar, tapi menetap karena akar. Dan hingga kini, suara mereka tetap terdengar—bukan hanya di lidah, tapi di cara hidup, dalam etos kerja, dan dalam jejak-jejak ketekunan yang mereka tinggalkan.

Selasa, 17 Juni 2025

LALLUTE DAN KUTE || Antara Seberang Air dan Kampung di Ujung Batas

By. Safardy Bora 

Dalam lanskap bahasa Mandar, lalute bukan hanya arah atau ruang geografis—tetapi juga ruang sosial dan keyakinan. Kata ini hidup dalam syair lama seperti Tengga-Tenggang Lopi, lagu pelaut yang menggambarkan kecemasan, pengembaraan, dan identitas. Lalute bukan sekadar seberang air, tetapi juga seberang adat. Seberang keyakinan. Sebuah tempat yang asing, yang dituju dengan waspada dan kesadaran akan batas-batas nilai.

Sementara itu, Kute adalah nama bagi suatu kampung di pedalaman Kalimantan, dihuni oleh masyarakat non-Muslim. Meski kerajaan Kutai di Kutai Lama sudah mengenal Islam oleh Tunggang Parangan namun  di pedalaman adat dan keyakinan masih berbeda. Bagi sebagian pelaut atau perantau Mandar yang berlayar menuju Kalimantan, Kute sering menjadi simbol tempat yang ‘lain’—bukan hanya karena beda letak, tapi karena beda laku. Dalam ingatan kolektif, Kute adalah wilayah yang menawarkan keramahan, namun juga tantangan terhadap batas halal dan haram, terhadap prinsip dan kebiasaan.

Dalam lirik Tengga-Tenggang Lopi, muncul kalimat-kalimat yang menyiratkan kekhawatiran pelaut Mandar ketika singgah di tempat seperti Kute. Di sana, kata lalute bukan hanya tentang jarak fisik, tetapi jarak batin. Seperti sebaris syair menyebut: "natoanama tedzong lotong  ta ketandu. Syair  seolah hendak berkata: di seberang sana ada perjamuan yang tidak sesuai dengan syariat kami, ada daging celeng yang tak akan kami sentuh. Di titik inilah lalute menjadi simbol batas identitas religius dan budaya.

Namun, secara fonetik dan historis, lalute juga memiliki akar dari perubahan lafal. Orang Mandar menyebut Kutai atau Kute dengan sebutan lute, sebagai bentuk adaptasi bunyi terhadap lidah dan aksen Mandar. Maka, lalute sejatinya bisa dimaknai juga sebagai “ke-lute”, atau “pergi ke lute/Kute”—yakni sebuah ekspresi kultural yang mengacu langsung pada pengalaman melaut ke wilayah Kalimantan Timur.

Dalam makna ini, lalute adalah perjalanan menyeberangi batas geografis menuju Kutai, tempat yang disebut lute oleh para pelaut Mandar. Tapi perjalanan ini bukan hanya fisik—ia sarat makna religius, sosial, dan identitas. Seolah para pelaut membawa serta agama, adat, dan harga diri dalam biduk mereka, dan lalute menjadi panggung ujian bagi semua itu.

Bagi pelaut Mandar, makanan bukan sekadar pengisi perut, melainkan juga penguji prinsip. Maka singgah di Kute, walau dengan perut lapar, bukan alasan untuk mengabaikan nilai. Di sini, identitas Mandar sebagai muslim, sebagai penjaga  siri’, benar-benar diuji. Lalute menjadi tempat ujian iman: apakah nilai itu bisa tetap dijaga dalam keterasingan?

Namun yang menarik, meski begitu kuat menjaga batas keyakinan, masyarakat Mandar tetap memuliakan tetangga, meski berbeda agama. Dalam perjumpaan dengan masyarakat Kute, mereka tidak pernah menyerang atau menghina. Yang mereka jaga hanyalah diri dan keyakinan mereka sendiri. Ada ketegasan tanpa kebencian. Ada kute dalam makna baru—yakni keteguhan hati di tengah perbedaan.

Lagu Tengga-Tenggang Lopi dengan demikian menjadi tidak hanya nyanyian pelaut, tapi juga nyanyian tauhid. Di dalamnya tersimpan perintah tak tertulis: untuk tetap berlayar, untuk tetap menghormati tanah orang, tetapi juga tidak kehilangan arah dan akidah. Lalute bukan tempat untuk dikutuk, tapi tempat untuk diuji.

Di sinilah muncul ketegangan makna: lalute sebagai tempat yang asing, dan Kute sebagai tempat yang nyata. Keduanya mewakili semacam “ruang liminal”, tempat perjumpaan antara budaya pesisir dengan budaya pedalaman, antara Islam dan lokalitas yang belum tentu seragam. Tetapi dalam perjumpaan itu, budaya Mandar tidak larut. Ia hadir dengan sopan, namun teguh.

Kita bisa membayangkan perahu kecil Mandar merapat di tepi sungai Mahakam atau Barito, di hadapan kampung Kute. Dalam perut perahu itu, pelaut Mandar mengunyah singkong rebus atau ikan asin dari dapur sendiri. Mereka menolak celeng, bukan dengan marah, tapi dengan senyum yang mengatakan: “Maaf, ini bukan jalan kami.”

Dalam dunia yang terus menyamakan semua demi toleransi semu, pelaut Mandar menunjukkan bahwa menjaga prinsip tidak harus melukai orang lain. Bahwa beda tidak harus bermusuhan. Bahwa lalute bukan tempat untuk menghakimi, tapi untuk memperjelas siapa kita.

Dan hari ini, ketika nilai-nilai itu mulai kabur oleh modernitas, lagu-lagu seperti Tengga-Tenggang Lopi penting untuk dikaji ulang. Karena ia tidak hanya memuat cerita tentang badai dan layar, tetapi juga kisah tentang keteguhan identitas dalam ruang yang plural. Tentang keberanian menjaga nilai, bahkan ketika jauh dari rumah.

Maka lalute dan Kute bukan sekadar nama. Keduanya adalah cermin. Yang satu mencerminkan ujian dari luar, yang lain mencerminkan keteguhan dari dalam. Di antara keduanya, pelaut Mandar mengajarkan kita bahwa menjadi manusia Nusantara bukan soal menjadi sama, tapi tahu batas dalam bertetangga, dan tahu arah saat melintas.