PUSAT STUDI SOSIAL DAN KAJIAN KEBUDAYAAN

Menulis adalah melahirkan dan mengabadikan sejarah manusia

Rabu, 04 Mei 2016

SIMPUL SEJARAH FLAMBOYANT, CAK NUN DAN MANDAR (Bagian 3) “ Alisjahbana dan Kesejatian Mandarnya ”

Oleh: Muhammad Munir-Tinambung

Emha Ainun Nadjib dan Alisjahbana berhasil melakonkan kesejatiannya mementaskan Mandar tidak saja lewat gumamnya, tapi sekaligus diteriakkan di rimba belantara kota Jakarta. Tahun 2001 Muhammad Syariat Tajuddin memegang kendali kepengurusan di generasi keempat. TF terus mengepakkan sayap dengan membangun jejaring diberbagai penjuru nusantara, seperti: Bantaya Palu, Yayasan Kelola Solo, Komunitas Musik Puisi Se-Nusantara via FMPI 2003 dan Artis Network Asia (ANA) yang berkantor di Singapura, juga tercatat dalam direktori TIM Jakarta sebagai salah satu teater rakyat di Indonesia. Sampai disini, TF berhasil memperkenalkan manajemen kerja kebudayaan dan kesenian yang ilmiah dan modern, tanpa mentercerabutkan akar cultural dan sejarahnya sebagai Terater Rakyat.
Dari Bung Ali, Emha, Amru, Hamzah Ismail, Evo dan Syariat, TF berhasil melahirkan beragam arus pemikiran, yang terkadang memilih menjadi oposan dan radikal humanis dalam kacamata kebudayaan. Utamanya dengan persinggungannya dengan beragam kepentingan politik. Untuk wilayah satu ini, TF sebagai teater rakyat, justru lebih memilih berdiri pada garis tak berpijak alias netral (independen). TF lebih memilih hidup inklusif ditengah-tengah perjumudan dengan masyarakatnya, seraya menggenggam tekad perjuangan kebudayaan dan kemanusiaan. Dan tetap berupaya melakukan penambalan-penambalan kegelisahan ditingkat pemula dengan menyulut proses kerja-kerja kreatif dan metode arus lalu lintas pemikiran kebudayaan ditingkat yang lebih dewasa (Muhammad Syariat Tajuddin).
Pendek kata, Teater Flamboyant yang memiliki anggota terdaftar sekitar 50-an ini tetap lahir dan berada dalam leburan masyarakatnya, bersama bergenggaman dalam membangun kebudayaan yang lebih manusiawi dan memanusiakan. Kendati tanpa harus lepas dan tersobek dari realitas kesejatian tradisi masa lalu. Hal ini mudah difahami, sebab sebagian personilnya, adalah juga bekerja sebagai pedagang, pelajar, mahasiswa, PNS (guru) bahkan ada juga yang pengangguran yang mentafsir denyut kehidupan dibopong keatas panggung pementasan. Karena buat teater yang satu ini, kesenian tidak lantas harus difahami seni untuk seni, tetapi kesenian adalah upaya melembagakan manusia dalam tatanan estetika kemanusiaan yang berbudaya dan memahami konteks dan konsep kebudayaannya yang lalu dapat diejawantahkan dalam ruang kehidupan kehidupan kesenian masyarakatnya.
Sampai pada generasi keempat ini, TF berhasil dan sukses memanusiakan manusia, terutama penyelamatan generasi dalam pemahamannya atas kerja kreatif yang lebih santun. Maka tidak heran, jika dalam beragam lontaran statemen dan kerja kreatifnya TF selalu memilih untuk hadir sebagai komunitas yang lebih mengedepankan kebersamaan dan konsep keilahiaan, kemanusiaan dan kebudayaan yang berbudaya. Capaian tersebut tentulah tidak diraih dengan instant melainkan lahir dari sebuah proses panjang. Bung Alisjahbana adalah sosok yang tak akan lapuk termakan rayap waktu dari setiap jengkal langkah TF yang terlakonkan. Ia punya ide dan terobosan yang mungkin hari ini susah dicari tandingannya tentang obsesinya membangun kepribadian masa depan kampung kelahirannya. Ia tak pernah kehabisan cara untuk menjadikan Mandarnya dikenal diluar Sulawesi.
Salah satu cara Alisjahbana membangun mimpi anak-anak asuhannya, sebagaimana tulisan Hamzah Ismail (Majalah Sastra Sabana, Yogyakarta 2005) adalah dengan mengenalkan beberapa orang pintarnya Indonesia ke meraka. Salah satunya adalah Emha Ainun Nadjib. Setiap tulisan Emha Ainun Nadjib yang terbit di Majalah Panjimas dan Tempo, difotokopi sebanyak mungkin kemudian dibagikan kepada anak-anaknya, lalu malamnya tulisan itu didiskusikan sampai suntuk. Diam-diam tumbuh rasa cinta anak-anak muda itu ke Emha Ainun Nadjib. Tidak satupun tulisannya yang dilewatkan, yang ada di sejumlah media. Diam-diam pula ada desakan dari hati setiap individu anak-anak muda itu hendak bertemu langsung dengan Emha Ainun Nadjib, sosok yang mulai dirindukan dalam waktu relatif lama, sekira empat tahun.
Disadari atau tidak, sosok Emha Ainun Nadjib dalam fikiran yang sangat berperan mendinamisasi proses berpikir kirtis dan proses kreatif masyarakat Mandar. Cak Nun jua yang begitu banyak mendatangkan perubahan demi perubahan dalam semua aspek kehidupan, entah itu politik, ekonomi, sosial budaya dan tentunya dalam hal agama dan keberagamaan.  Bahkan dalam proses perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat-pun, peran seorang Cak Nun tak bisa dinafikan. Jembatan yang terus dibangun, jalan-jalan yang makin diperlebar, mobil ukuran raksasa yang melintas, mengantar pulaukan aneka produk pertanian di Sulbar hari ini adalah  fakta-fakta sejarah yang pada tahun 1987 telah ia sampaikan dalam berbagai kesempatan ketika berada di Mandar. (Bersambung). 




on Mei 04, 2016 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Budaya, Literasi, Pemerintahan, Sastra, Sejarah, Tokoh, Tradisi

SIMPUL SEJARAH FLAMBOYANT, CAK NUN DAN MANDAR (Bagian 2) “ M. Takbir, Camping dan Lahirnya Flamboyant ”

Oleh Muhammad Munir-Tinambung 
Pada menjelang akhir era 70-an sampai 80-an juga terbentuk komunitas seni yang dibina oleh Amru Sa'dong yang diberi nama "MEKAR". Komunitas Mekar besutan Amru di Tinggas- Tinggas ini kurang melejit tapi mampu menjadi bagian penting yang menanamkan bakat seni budaya ke personilnya. Hingga pada suatu ketika (1981) alm. M.Takbir menemui M. Sukhri Dahlan dan menyampaikan keinginannya untuk berkemah (Camping). Pada saat yang sama, Bung Ali Syahbana mudik berlibur di Tinambung. Keinginan M. Takbir itu disampaikannya ke Bung Ali. Bung Ali merespon baik rencana itu dan menetapkan lokasi campingnya yaitu di Salarri' kampung leluhurnya.
M. Sukhri Dahlan menyampaikan respon Bung Ali ke M. Takbir. Informasi itu kemudian ditindak lanjuti oleh M. Takbir bersama Amru Sa'dong sehingga disepakatilah untuk pergi Camping dengan cara patungan (masing-asing peserta harus bayar Rp.1000). Peserta Camping antara lain Bung Ali Syahbana, M. Takbir, M. Sukhri Dahlan, Amru Sa’dong, Haidir, Abd. Manaf Baas, Abd. Rahman Karim atau Epo', Bahmid, Mujahid, Amril, Firdaus, Badawi Nur, Pudding, Khaerul (Labaco) dan lain-lain (peserta sekitar 18 orang). Banyak cerita dan kenangan yang terlukiskan dari lokasi Camping tersebut. Ada semangat yang tiba-tiba melecut mereka untuk kerap bersama-sama dalam situasi dan kondisi apapun. Semangat inilah yang kemudian membuat mereka berfikir keras untuk menata diri. Satu-satunya yang bisa membuat mereka tetap bercengkrama adalah dengan membentuk komunitas.
Pasca Camping tersebut, pertemuan dan diskusi intensif dilakukan. Dari diskusi itulah lahir sebuah komitmen bersama untuk medirikan sebuah komunitas. Untuk upaya itu, pertemuan demi pertemuan semakin gencar dilakukan. Tempat pertemuan disepakati diadakan dikediaman M. Sukhri Dahlan, kadang juga di rumah Bu Kumala (saudara Khairul atau Labaco). Kesimpulannya adalah kesepakatan untuk mendirikan komunitas. Diskusi kecil dan pertemuan itu rupanya membuat semakin banyaknya para pemuda yang tertarik. Hal tersebut ditandai dengan bergabungnya Tappa, Hamzah Ismail, dan lain-lainnya. Tindak lanjutnya adalah rapat untuk menyapakati nama komunitas. Dalam rapat muncul beberapa usulan nama, antara lain mawar, melati dan flamboyant. Forum kemudian sepakat memberi nama komunitasnya dengan nama Teater Flamboyant - Mandar dan secara aklamasi menunjuk Amru Sa'dong sebagai Ketua dan M. Sukhri Dahlan sebagai Sekretaris (belakangan sekretaris dijabat oleh Hamzah Ismail).
Demikianlah kronologis lahirnya sebuah komunitas besar yang digagas kurang lebih 1 tahun itu. Perjalanan sejarah kemudian mencatat komunitas Teater Flamboyant Mandar (TF) ini didirikan sebagai Lembaga pada tanggal 5 September 1983 dan diresmikan pada tanggal 15 September 1984. Dalam proses itulah Bung Ali Syahbana merasa bertanggung jawab atas pengembangan Teater Flamboyant tersebut. Ali Syahbana kemudian memboyong Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) ke Mandar. Cak Nun melecut semangat berkesenian mereka. Berlatih dan merekrut pemuda-pemuda lain untuk berkarya. Tak heran jika kemudian pada tahun-tahun selanjutnya TF sudah merambah dunia jejaringnya dengan komunitas serupa diberbagai penjuru nusantara. Hal itu diawali dengan keterlibatannya di beberapa kegiatan, antara lain: mengikuti Pentas Seni Musik di Polmas 1984; Pentas Tradisional "Pencari Rezeki" di Polmas tahun 1985; Pentas Teater "Perahu Nuh" di Polmas tahun 1986; Pentas Drama "Terjebak" dan Pentas Teater "Cahaya Maha Cahaya" di Polmas pada tahun yang sama 1987.
Demikian juga tahun 1988, TF mulai merambah wilayah luar Polmas yaitu Pentas Teater Keliling "Lautan Jilbab" di Sulsel Pada tahun 1990 kembali TF mengikuti Pertunjukan Rakyat "Kerikil Tajam" di Makassar dan Pertunjukkan Rakyat "Dibalik Batu" di Pinrang tahun 1992. Tahun 1993 kembali ikut Pertunjukan Rakyat "Kaca Mata" di Polmas. Lalu pada tahun 1995, TF kemudian tampil lagi di Pertunjukkan Rakyat "Kauseng" di Makassar. Tahun 1997 menjadi penanda semakin eksistnya Flamboyant dengan ikutnya di Pentas Teater yang mengangkat "Koa-Koayang" di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Berikut mendapat kesempatan di Pentas Musik Puisi di Jombang dan pada tahun 1999 Mementaskan lagi Teater "Koa-Koayang" di beberapa tempat di Yogyakarta. Setelah dari Jawa, TF merambah ke Sulawesi Tengah pada tahun 2001 di ajang Indonesia Dance Forum di Palu. Naskah "Kauseng" ditampilkan dengan sutradara Amru Sa'dong.
Kisah sukses TF tersebut diatas terlakonkan seiring pergantian demi pergantian kepengurusan dari Amru Sa'dong ke Hamzah Ismail hingga ke Abdul Rahman Karim. Ketiga sosok yang pernah menjadi Ketua TF ini merupakan sebuah proses yang luar biasa. Betapa tidak, tiga generasi tersebut melintasi era Orde Baru pemerintahan Soeharto ke Era Reformasi. Perjalanan sejarah itulah yang membuat TF semakin memposisikan dirinya sebagai satu-satunya komunitas seni budaya yang tak pernah lekang dan lapuk, baik secara kualitas maupun nilai. Bung Ali Syahbana dan Emha Ainun Nadjib serta Nurdahlan Jirana berhasil meretas jalan generasi generasi kreatif dan cemerlang dari Tinambung dan berkarya entah di Mandar maupun di Luar Mandar, termasuk mampu mengambil bagian dari sebuah proses lahirnya Provinsi Sulawesi Barat. (Bersambung)








on Mei 04, 2016 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Budaya, Literasi, Pemerintahan, Sejarah, Tokoh, Tradisi

M. Sukhri Dahlan: Bahasa Cinta pada Cak Nun, Masyarakat dan Pemerintah Sulawesi Barat !


Emha Ainun Nadjib biasa dipanggil Emha atau Cak Nun adalah “Idola” bagi masyarakat Mandar. Ia selalu ditunggu kedatangannya. Dan bila ia datang, maka masyarakat akan menyambutnya dengan luapan gembira yang tak bisa digambarkan. Cak Nun dan masyarakat Mandar seakan telah menyatu dalam sosok Cak Nun. Hal itu tergambar dari kedatangannya pada Minggu, 30 April di Lapangan Sepak Bola Desa Bala Kec. Balanipa. Manusia berbondong-bondong,menyemut memenuhi lapangan tersebut. Entah ia petani, nelayan, pelajar, mahasiswa, anak-anak, remaja sampai orang tua. Bahkan pejabat dan Wakil rakyat sekalipun tak mau ketinggalan momentun untuk menyaksikan penampilan Kyai Kanjeng dan siraman rohani dari Emha Ainun Nadjib.

Tak terasa, emapat tahun setelah kedatangannya di Mandar. Tahun ini Cak Nun menyambangi Jamaah Maiyah Mandar dengan mengusung topik “RISALAH CINTA DI JAZIRAH MANDAR”. Meski kedatangannya atas inisiatif dan prakarsa dari Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat melalui jasa aspirasi Syamsul Samad, Anggota DPRD Provinsi, namun tak menyurutkan niat untuk bahu-membahu menyambut dan menyaksikan sosok idaman yang kerap dirindukan itu. Masyarakat dan Flamboyant ikut menjadi penyaksi atas kedatangan Maha Guru itu di Mandar. Cak Nun dan Flamboyant adalah sebuah kesatuan yang utuh dan integral. Tak bisa dipisahkan dan tak seorangpun mampu mengubah keutuhan cinta tersebut.

Cak Nun tampil memukau dan menggugah lewat ceramah berisi guyonan yang masuk akal. Sehingga guyonan tersebut tidak sekedar menjadi banyolan-banyolan liar,  namun sangat inspiratif serta menjadi spirit yang menancap ke hati. Cak Nun dengan piawai menguasai ribuan manusia tanpa sekat, menyatu dengan penonton tanpa jarak. Sangat kontras ketika menyaksikan konser-konser artis papan atas. Siapa yang tak kenal dengan sosok Cak Nun, siapa yang tak mengakui bahwa Cak Nun lebih populer dibanding artis selebriti nasional?. Cak Nun adalah fenomena zaman yang mungkin setelahnya tak akan lahir sosok yang multi talenta ini.

Atas nama penulis, saya ingin menghaturkan ribuan rasa terima kasih kepada Cak Nun, kepada masyarakat, kepada pemerintah, wabilkhusus kepada panitia dan Syamsul Samad atas segala bentuk upaya dan perhatian untuk memenuhi keinginan kami bertemu dengan sosok yang kami cintai dan kami rindukan. Kepada Cak Nun yang mendaulat Cammana sebagai kekasih Cammanallah, menjadikan Flamboyant sebagai rumahnya di Mandar. Sebegitu dalam keinginan kami menggambarkan kecintaan kami lewat narasi cinta, namun bahasa saja tak mampu mewakili rasa itu, akhirnya kami mewakili segenap masyarakat Mandar, Sulawesi Barat memohon maaf atas ketidak mampuan kami menarasikan cinta lewat kata. Namun yang pasti, setelah Allah dan Rasul-Nya, maka engkaulah muara dari Cinta dan kerinduan kami.

Wassalam bilmaaf dari Luluare Mandar-mu,



M. SUKHRI DAHLAN (Dewan Kehormatan Flamboyant Mandar)

       
on Mei 04, 2016 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Budaya, Literasi, Sastra, Sejarah, Tokoh, Tradisi

Mengenang Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, SH (Dari Patung Hingga Gerbang)

·

Catatan Muhammad Munir
(Pernah dimuat di Media Seputar Sulawesi Barat)

https://seputarsulbar.com/mengenang-prof-dr-h-baharuddin-lopash-dari-...

Berawal dari sebuah status yang saya posting di media sosial facebook, tentang keinginan membuat patung Baharuddin Lopa, I Maqga Daeng Riosoq dan I Calo Ammana Wewang yang terinspirasi dari Patung Sultan Hasanuddin yang berdiri megah di halaman depan Bandara Hasanuddin Makassar.

Dari postingan yang saya upload di group Appeq Jannangang itu, kemudian ditangagapi oleh sebagian member Appeq Jannangang yang intens membincang soal kerja-kerja budaya Mandar; Seni, kuliner, wisata, sejarah dan kearifan lokal. Dan diantara beberapa komentar yang masuk itu, Abdul Rasyid Ruslan (salah satu member Appeq Jannangang yang lagi berthalibul ilmi di Makassar), secara spontan memberi dukungan penuh dan siap membantu mewujudkan impian itu.

Sontak teman-teman mahasiswa di Makassar semua bersuara dan langsung membuat rencana kerja tindak lanjut dengan membentuk Tim Kreatif Appeq Jannangang reg Makassar dan meminta saya jadi punggawa dalam program pembangunan Patung Pahlawan dan Pejuang dari Mandar.

Setelah terbentuk personil melalui rapat online yang kemudian disepakati bahwa langkah pertama untuk program ini adalah Pembuatan Patung Baharuddin Lopa dengan menggunakan donasi. Maka dibuatlah selebaran/poster " Mandar Berbisik ! GERAKAN DONASI Rp.10.000, untuk pembuatan Patung Pahlawan dan Pejuang dari Tanah Mandar ". Desain posternya kemudian diposting keberbagai group di medsos. Dukungan mengalir dan mereka rata-rata siap berdonasi.

Melihat animo masyarakat Mandar diluar Sulbar yang begitu antusias itu, kami kemudian membuat Rapat Pelaksana Program di RM. Pondok Kelapa Campalagian (08/04) dengan mengundang langsung salah satu Putra almarhum Baharuddin Lopa, yaitu Iskandar Muda Barlop, anggota DPD RI untuk hadir bersama kami dengan Tim Kreatif Appeq Jannangang selaku inisiator dan Tim pelaksana kegiatan.

Dari pertemuan di Pondok Kelapa ini, setelah melalui diskusi panjang lebar tentang program ini, oleh pihak keluarga kurang respek jika almarhum dibuatkan patung sebab patung menurutnya kurang islami, sementara almarhum dikenal sebagai tokoh pendekar hukum yang sangat kental agamanya (islam). Dan dari diskusi ini kemudian lahir kesepakatan untuk membuat Gerbang Barlop yang disepakati di depan Ponpes Nuhiyah, Pambusuang.

Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan di Campalagian, saya kemudian menggelar rapat lagi di Ponpes Nuhiyah Pambusuang. Dari Rapat ini rencana awal gerbang akan di bangun di depan Ponpes Nuhiyah harus dibatalkan dan mufakat Gebang Barlop akan dibangun di Palippis dan di batas Desa Sabang-Subik dengan Desa Galung Tulu. Alasannya karna sebagian masyarakat Bala dan Sabang Subik komplain jika Gerbang di tempatkan di Pambusuang. Mereka mengklaim diri sebagai orang Pambusuang, tentu punya hak untuk masuk dalam kawasan ini. Mengantisipasi polemik di masyarakat itulah sehingga dibuat kesepakatan untuk membuat Gerbang didua titik tersebut.

Sampai disini, sebuah rencana telah mempunyai dasar pijiakan menjadi perencanaan untuk masuk dalam tahapan pelaksanaan. Dan dengan dasar itu pula, kemudian Gerakan Donasi di lauching pertama kali di Makassar.

SaliliMANDAR

Acara SaliliMANDAR (15/04) adalah acara Kopdar (kopi darat) yang diselenggarakan oleh Komunitas Appeq Jannangang reg. Makassar bekerjasama dengan KPM-PM Makassar. Yang disamping sebagai ajang silaturrahmi antar mahasiswa Mandar di Makassar, juga digelar untuk malam donasi Gerbang Barlop.

Cafe TOM-TOM di Jalan Emy Saelan Makassar ini menjadi saksi sejarah tak terlupakan bagi mahasiswa-mahasiwi Mandar di Makassar. Betapa tidak, malam itu, acara kopdar yang berdasarkan undangan hanya akan diikuti oleh sekira 30-50an orang, Tumpah ruah mejadi ratusan orang yang tentu saja harus berdiri karna tidak kebagian tempat duduk. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru dibelantara gedung kota Makassar. Hujan malam itu ternyata hanya sekedar membasahi mereka tapi tidak sampai menghalangi untuk sampai di tempat acara malam itu.

Sekitar jam 20.00 malam itu mulai dengan penampilan musik akuistik Mandar, Passayang-Sayang, lagu Titi-Titing Balao memukau hadirin. Semua terhanyut dalam nuansa kerinduannya pada tanamandar. Sebuah kesadaran membuncah akan histori masa lampau Mandar yang betul-betul bernilai, tak lapuk dimakan rayap waktu. Segumpal gumam yang selama ini membuatnya hanya sugiging ditempat seketika menjadi teriakan ketika petikan kacaping Mandar dari Tajriani Talib yang sungguh diluar dugaan. Tajriani melagukan syair pujian khas kacaping yang diiringi tepuk tangan. Pada detik yang sama panitia menyiapkan Kappar (baki besar) dihadapan Tajriani Talib sebagai pertanda bahwa saatnya Paqmaccoq (saweran) dimulai. Saya dan panitia menjadi pappaqmaccoq pertama yang diikuti dengan hadirin yang hadir malam itu. Paqmaccoq itulah yang menjadi awal pertanda bahwa Gerakan Donasi Untuk Pembangunan Gerbang Barlop telah resmi dibuka.

Uang kertas nominal mulai 5 ribu-an sampai 50 ribu-an memadati kappar malam itu. Sebuah wujud kepedulian dan rasa cinta pada sosok Baharuddin Lopa, Pendekar Hukum dari Mandar. Sosok beliau tidak saja menjadi kebanggaan Mandar, tapi sekaligus satu-satunya manusia Indonesia yang concern dan fokus pada penegakan supremasi hukum di Indonesia. Beliau menjadi inspirasi bagi setiap generasi Mandar. Sosok beliau tidak saja dilisan tuliskan oleh orang Mandar, tapi Indonesia.

Acara SaliliMANDAR malam itu benar-benar menjadi bara dan membakar semangat sipamandar dan melecut jiwa untuk satu dalam ikatan buhul passemandaran. Hal itu terbaca dalam sesi acara beatle kalindaqdaq dan deklamasi puisi Mandar berjudul "Masih adakah Mandarku" Karya Nur Dahlan Jirana (almarhum adalah Penulis dan Sastrawan Mandar, Pendiri dan Pembina komunitas sastra Todilaling Campalagian).

GERAKAN DONASI

Setelah malam SaliliMANDAR di Makassar itu, gerakan donasi terus digalakkan oleh teman-teman mahasiswa di Makassar, ratusan bahkan jutaan telah berhasil kami kumpulkan dari program ini. Lokasi dan pelaksana kegiatan telah mantap, calon donastur masih sangat banyak untuk kami ajak menjadikan gerbang ini sebagai ladang amal, termasuk Darmansyah, Ketua DPRD Majene yang tidak saja berdonasi tapi sekaligus siap menjadi penanggung jawab penggalangan dana di lingkup Kabupaten Majene, karena menurut beliau, Pak Barlop adalah Tokoh nasional yang sekaligus menjadi Bupati pertama yang dicatat dalam sejarah Kabupaten Majene. Desain Gerbang juga sudah ada dan kami posting di media sosial. Tinggal pelaksanaannya saja yang mau ditentukan. Kepada para pembaca dapat menyampaikan informasi, saran dan kritiknya kepada kami. Begitu juga jika ingin berdonasi untuk Gerbang ini bisa langsung menghubungi kami via Facebook: Muhammad Munir ToMandar. PIN BB 2653FE37 atau
email: galerikopicoqboq@gmail.com Blog: galerikopicoqboq.blogspot.com.

(Penulis adalah Joaq Appeq Jannangang dan Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Provinsi Sulawesi Barat).

on Mei 04, 2016 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Budaya, Cagar Budaya, Literasi, Pemerintahan, Sejarah, Situs, Tokoh

Gerbang Barlop di Palippis sangkah lagi akan terwujud !

Dalam Kelompok Diskusi terarah atau Focus Group Discussion (FGD) Disbudpar Polewali Mandar di Ruang Pertemuan Café dan Resto Beruq-Beruq Polewali, 03 Mei 2016 yang mengangkat topik "Refresentasi Tokoh atau Simbol Pada Tugu Kota Polewali" sempat terungkap adanya usulan untuk pembuatan patung Barlop dan beberapa usulana naman pejuang yang sempat mengemuka.
Khusus Patung Barlop, saya yang kebetulan didaulat kedalam tim Perumus menyampaikan kepada Ka. Disbudpar Polewali Mandar bahwa keluarga Patung Barlop tidak akan pernah diizinkan oleh keluarga almarhum untuk dibuatkan patung. Pengakuan saya tersebut didasarkan pada apa yang disampaikan oleh Iskandar Muda Baharuddin Lopa dalam diskusi "Barlop dari Patung Hingga Gerbang" di RM. Pondok Kelapa Campalagian.
Pada kesempatan yang sama saya mengutarakan rencana pembangunan Gerbang Barlop di Palippis. Kepada Kadis Andi Nursami Masdar saya menyampaikan kiranya Disbudpar Polewali Mandar membantu urusan perizinan agar gerbang Barlop bisa dilaksanakan. Gayung bersambut dan berkelindan dengan apa yang diharapkan sebab pihak Tarkim yang kebetulan hadir juga menyampaikan langsung tehnis pengurusan izin gerbang.
Pihak Disbudpar Polewali Mandar melalui Kadis dan pihak terkait berjanji akan mengawal dan membantu proses itu. Kepada Kadis dan peserta FGD saya sampaikan bahwa Donasi Gerbang Barlop sampai saat ini sudah berkisar 20-an juta.
Semoga keinginan pemerintah merefresentasi tokoh dan simbol kota Polewali ini semakin mempertegas bahwa Pemerintah kita saat ini, selangkah lebih maju dalam urusan identitas kita sebagai Mandar.
dengan demikian rencana untuk mewujudkan Gerbang Barlop akan sedikit meringankan beban kami dalam mewujudkan impian tersebut. Selamat Datang di Kampung Kelahiran Pendekar Hukum Baharuddin Lopa.

Foto Muhammad Munir.
Foto Muhammad Munir.
Foto Muhammad Munir.

Foto Muhammad Munir.
on Mei 04, 2016 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Budaya, Legislasi, Literasi, Pemerintahan, Sejarah, Situs, Tokoh, Tradisi

NAPAK TILAS SEJARAH KERAJAAN SENDANA (Bagian 6) " Persekutuan Bocco Tallu Adalah Kerjasama Pertahanan dan Ekonomi "


0leh: Muhammad Munir-Tinambung
Pada mulanya, semua kerajaan yang ada di Mandar belum terjalin dalam satu persekutuan atau kerjasama antar kerajaan. Masing-masing  kerajaan sendiri  dan memerintah serta berdaulat penuh diwilayah kerajaannya sendiri tanpa  ada hubungan kerjasama dengan kerajaan lain, baik yang ada di kawasan Mandar, terlebih kerajaan yang ada di luar wilayah Mandar. Masing-masing kerajaan berusaha memperluas wilayah kekuasaan, sehingga sering terjadi perselisihan yang berlanjut pada perang  antara kerajaan. Upaya menghancurkan kerajaan lain dengan tujuan menjadi terkuat dan terbesar adalah kejadian rutin pada saat itu. Puncak kekacauan terjadi ketika munculnya peralihan kekuasaan melalui kudeta di kerajaan Passokkorang. Passokkorang dengan kekuatan militer dan kekayaan yang melimpah membuat keonaran hampir disetiap kerajaan  yang ada di Mandar.
                Salah satu wilayah yang tak mampu ditaklukkan oleh Pasokkorang adalah wilayah persekutuan Bocco Tallu, yaitu Sendana, Alu dan Taramanu. Salah satu strategi yang bisa membentengi wilayah ini adalah kekuatan persekutuan yang tercermin dalam ikrar puraloa di Sibunoang. Ikrar Bocco Tallu itu begitu mengakar dan disakralkan oleh masyarakat yang ada diwilayah tersebut. Bahkan perjalanan sejarah keruntuhan Passokkorang oleh Sekutu Balanipa tidak terlepas dari campur tangan Alu yang berhasil menyusup masuk ke wilayah Passokkorang dan menjadi duri dalam daging, sehingga Raja Passokkorang tidak menyadari bahwa orang yang masuk sebagai dukun sakti itulah yang mengantarnya menemukan takdirnya untuk berakhir dalam kebesaran dan keberlimpahannya.
                Tak dapat disangkal, apa yang tertuang dalam ikrar puraloa itu bukan saja sebentuk kalimat yang terdiri dari susunan kata biasa, tapi ia adalah akumulasi dari mantra, sumpah yang kerap dibathinkan oleh semua warga yang berada di garis batas Bocco Tallu itu. Untuk tidak membuat tulisan ini sekedar menjadi bacaan yang lumrah, menarik kita telisik kembali bunyi yang terkadung dalam perjanjian di Sibunoang itu. Ini penting, agar kita semakin yakin bahwa sesungguhnya leleuhur kita bukanlah sekumpulan manusia yang tak tahu apa-apa, disamping itu, ikrar tersebut diharapkan bisa menjadi spirit bagi kita menemukenali kesejatian Mandar yang kita jadikan sebagai identitas.
                Inilah ikrar puraloa di Sibunoang yang dikenal dengan Assitalliang Bocco Tallu Pertama: Madzondong duang bongi anna dziang mappasisala Pattallumboccoang, ongani balimbunganna baoangi arianna. Iya-iyannamo tau mambueq puraloa meppondoq diallewuang di Pattallumboccoang mendaung raqbas, mettaqe sapeq, pappang naola pappang raqba, buttu naola buttu latta, puppus sorokawu mangandeapi dipennannaranna tomamboeq pura loa.
“Besok lusa bila ada yang memecah belah persekutuan Bocco Tallu, Balikkan bubungan rumahnya kebawah dan tiangnya keatas. Barang siapa diantara kita mengingkari perjanjian dan membelakangi kesepakatan dalam persekutuan Bocco Tallu, berdaun gugur bertangkai jatuh,  lembah diallui lembag runtuh, gunung dilalui gunung terpotong. Hidupnya terkutuk bagai api membakar turun temurun yang ingkar pada perjanjian” .
Adapun butir butir perjanjian yang disepakati dalam pertemuan ini merupakan hasil pemikiran Puatta di Saragiang dan Daeng Palulung yang tertulis dalam lontar Sendana Mandar sebagai berikut :
Nauamo Daeng Palulung: “Tallumi tau anna mesa, mesami anna tallu, Sendana, Alu, Taramanuq. Litaq silambang tassipomalla, tassitundang matadzang tassiroyong masandeq, tautta sisolong tassisawaq, mesa balami tanni atonang, Sendana,  Alu, Taramanuq di Puang di Kondo Budata, mate simateang tuo situoang”.
Berkatalah Daeng Palulung: ”Kita adalah tiga menjadi satu, satu tapi tiga. Sendana, Alu, Taramanuq. Pemimpin saling menyebrang tak keberata, tak saling mengingatkan dengan keras apalagi kasar, rakyat saling mengunjungi dengan aman. Kitasudah satu pagar tak berbatas, Sendana, Alu, Taramanuqbagi pemimpin dan bagi rakyat. Mati satu mati semua hidup satu hidup semua”.
Nauamo Puatta di Saragiang: “Mammesa puammi tau mammesa tau, maqjuluq sara maqjuluq rio, mammesa pattuju dilatte sallambar siola paqdisang. Daqdua memmata di Sawa, mesa memmata di mangiwang, monasisaraq tubhu anna nyawa tassisaraqi Alu, Taramanuq, Sendana. Tassipaoro di adzaq, sipalete di rapang, padza nipeadzaq adzaqta, padza niperapangi rapattaq, tasibore-boreang gauq tassipolong tanjeng,tassiraqba tanang-tanang, sitaiang apiangan tassitaiang adzaeang”.
Berkatalah Puatta I Saragian: “Bangsawan kita sudah menyatu rakyat juga jadi satu menghadapi kesusahan dan kebahagiaan, menyatukan keinginan diatas tikar selembar sebantal bersama. Dua mengawasi ular satu mengawasi ikan hiu. Walau terpisah tubuh dengan nyawa, Alu, Taramanuq dan Sendana tidak akan terpisahkan. Tidak saling mencampuri urusan adat dan aturan masing-masing, menjalankan adat dan kebiasaan serta hukum dan peraturan masing-masing, tidak saling keras mengerasi, tidak salingmerusak tanaman, saling membawa pada kebaikan, saling menghindarkan dari keburukan”.
“Nauwa bomo Daeng Palulung: “Mate arawiang Alu Taramanuq, mate di baya-bayai Sendana. Sara pole sara nisolai, leboq tanni joriq, uwai tanni latta, buttu tanni polong dilalanna Bocco Tallu”.
Berkata Daeng Palulung: “Bila Alu dan Taramanuq mati diwaktu sore, Sendana mati diwaktu pagi. Kesusahan yang datangkesusahan yang dibagi, kebahagiaan yang datang kebahagiaan yang kita bagi. Laut tidak kita garis, gunung tidak kita potong di wilayah Bocco Tallu”.
Melihat latar belakang pembentukan serta butir kesepkatan yang ada di dalamnya, dapat disimpulkan bahwa Perjanjian Bocco Tallu pertama dibentuk untuk membangun satu kekuatan dengan melihat situasi dan kondisi di Mandar pada saat itu. Sangat jelas dalam butir kesepakatan bahwa pertahanan dan keamanan merupakan prioritas utama disamping kerjasama pada bidang ekonomi. Ini merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya perang saudara antara Sendana, Alu dan Taramanuq yang bisa saja terjadi akibat hasutan dan strategi adu domba yang dijalankan oleh orang-orang Passokkorang pada saat itu.
Kalimat daqdua memmata disawa mesa memmata di mangiwang adalah kalimat kiasan yang memiliki makna; Dua kerajaan (Alu dan Taramanuq) yang menjaga dan mengawasi musuh dari arah gunung atau hutan, dan satu kerajaan (Sendana)yang mengawasi musuh yang datang dari laut atau pesisir. Kesepakatan ini lahir dengan melihat letak geografis wilayah masing-masing, dimana Alu dan Taramanuq merupakan kerajaan yang ada dipegunungan dan Sendana adalah kerajaan yang berada di daerah pesisir atau pantai.  Ini berarti, keamanan atas ancaman musuh yang datang dari arah hutan menjadi tanggung jawab kerajaan Alu dan kerajaan Taramanuq sementara musuh yang datang dari arah laut atau pesisir menjadi tanggung jawab kerajaan Sendana.
Persekutuan Bocco Tallu bertahan sampai pada abad XV masehi dan baru mulai memudar seiringdengan terbentuknya persekutuan Pitu Baqbana Binanga.

               

on Mei 04, 2016 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Budaya, Cagar Budaya, Literasi, Sejarah, Situs, Tokoh, Tradisi
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

BLOG PRIBADI MUHAMMAD MUNIR

PUSAKAKU (Pusat Studi Sosial dan Kajian Kebudayaan)
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Februari (2)
      • ▼  Feb 10 (1)
        • PROFIL SINGKAT ||KH.Mahmoeddin Atjo Kanna Marilalalng
      • ►  Feb 02 (1)
    • ►  Januari (4)
      • ►  Jan 26 (1)
      • ►  Jan 16 (1)
      • ►  Jan 15 (2)
  • ►  2025 (124)
    • ►  Desember (8)
      • ►  Des 28 (1)
      • ►  Des 27 (1)
      • ►  Des 21 (1)
      • ►  Des 16 (1)
      • ►  Des 14 (1)
      • ►  Des 06 (1)
      • ►  Des 04 (2)
    • ►  November (9)
      • ►  Nov 26 (1)
      • ►  Nov 25 (1)
      • ►  Nov 19 (1)
      • ►  Nov 18 (2)
      • ►  Nov 16 (1)
      • ►  Nov 15 (1)
      • ►  Nov 14 (1)
      • ►  Nov 08 (1)
    • ►  Oktober (9)
      • ►  Okt 29 (1)
      • ►  Okt 28 (1)
      • ►  Okt 26 (2)
      • ►  Okt 12 (1)
      • ►  Okt 08 (2)
      • ►  Okt 06 (1)
      • ►  Okt 05 (1)
    • ►  September (2)
      • ►  Sep 16 (1)
      • ►  Sep 04 (1)
    • ►  Agustus (6)
      • ►  Agu 21 (1)
      • ►  Agu 20 (1)
      • ►  Agu 16 (1)
      • ►  Agu 14 (1)
      • ►  Agu 13 (2)
    • ►  Juli (37)
      • ►  Jul 28 (2)
      • ►  Jul 27 (2)
      • ►  Jul 24 (1)
      • ►  Jul 23 (1)
      • ►  Jul 22 (2)
      • ►  Jul 21 (1)
      • ►  Jul 20 (2)
      • ►  Jul 19 (5)
      • ►  Jul 18 (3)
      • ►  Jul 17 (1)
      • ►  Jul 14 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 12 (3)
      • ►  Jul 11 (3)
      • ►  Jul 10 (2)
      • ►  Jul 09 (2)
      • ►  Jul 08 (1)
      • ►  Jul 07 (2)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 28 (1)
      • ►  Jun 27 (2)
      • ►  Jun 26 (4)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (1)
      • ►  Jun 22 (1)
      • ►  Jun 21 (1)
      • ►  Jun 19 (2)
      • ►  Jun 18 (1)
      • ►  Jun 17 (1)
    • ►  Maret (2)
      • ►  Mar 18 (1)
      • ►  Mar 05 (1)
    • ►  Februari (15)
      • ►  Feb 26 (1)
      • ►  Feb 21 (2)
      • ►  Feb 20 (3)
      • ►  Feb 18 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
      • ►  Feb 12 (1)
      • ►  Feb 11 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 04 (3)
      • ►  Feb 02 (1)
    • ►  Januari (20)
      • ►  Jan 30 (1)
      • ►  Jan 29 (1)
      • ►  Jan 25 (1)
      • ►  Jan 24 (1)
      • ►  Jan 18 (1)
      • ►  Jan 17 (1)
      • ►  Jan 16 (1)
      • ►  Jan 14 (2)
      • ►  Jan 12 (1)
      • ►  Jan 11 (3)
      • ►  Jan 10 (2)
      • ►  Jan 06 (1)
      • ►  Jan 03 (3)
      • ►  Jan 02 (1)
  • ►  2024 (180)
    • ►  Desember (10)
      • ►  Des 31 (1)
      • ►  Des 19 (2)
      • ►  Des 16 (3)
      • ►  Des 10 (1)
      • ►  Des 09 (1)
      • ►  Des 07 (1)
      • ►  Des 06 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 12 (2)
    • ►  September (21)
      • ►  Sep 29 (2)
      • ►  Sep 27 (1)
      • ►  Sep 26 (1)
      • ►  Sep 25 (1)
      • ►  Sep 24 (1)
      • ►  Sep 20 (7)
      • ►  Sep 19 (1)
      • ►  Sep 18 (1)
      • ►  Sep 17 (1)
      • ►  Sep 02 (3)
      • ►  Sep 01 (2)
    • ►  Agustus (23)
      • ►  Agu 30 (1)
      • ►  Agu 29 (1)
      • ►  Agu 26 (6)
      • ►  Agu 12 (1)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 06 (3)
      • ►  Agu 05 (4)
      • ►  Agu 04 (1)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (3)
    • ►  Juli (8)
      • ►  Jul 31 (2)
      • ►  Jul 30 (1)
      • ►  Jul 28 (2)
      • ►  Jul 27 (1)
      • ►  Jul 20 (2)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 15 (1)
    • ►  April (22)
      • ►  Apr 23 (2)
      • ►  Apr 22 (1)
      • ►  Apr 20 (1)
      • ►  Apr 15 (1)
      • ►  Apr 13 (1)
      • ►  Apr 12 (2)
      • ►  Apr 09 (1)
      • ►  Apr 08 (3)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 04 (2)
      • ►  Apr 03 (2)
      • ►  Apr 02 (1)
      • ►  Apr 01 (2)
    • ►  Maret (60)
      • ►  Mar 31 (2)
      • ►  Mar 30 (1)
      • ►  Mar 28 (2)
      • ►  Mar 27 (3)
      • ►  Mar 26 (4)
      • ►  Mar 25 (3)
      • ►  Mar 24 (2)
      • ►  Mar 23 (1)
      • ►  Mar 22 (4)
      • ►  Mar 21 (2)
      • ►  Mar 20 (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 18 (2)
      • ►  Mar 17 (2)
      • ►  Mar 16 (1)
      • ►  Mar 15 (1)
      • ►  Mar 14 (1)
      • ►  Mar 13 (1)
      • ►  Mar 12 (1)
      • ►  Mar 11 (2)
      • ►  Mar 10 (2)
      • ►  Mar 09 (1)
      • ►  Mar 08 (3)
      • ►  Mar 07 (2)
      • ►  Mar 06 (1)
      • ►  Mar 05 (3)
      • ►  Mar 04 (1)
      • ►  Mar 03 (4)
      • ►  Mar 02 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (32)
      • ►  Feb 29 (2)
      • ►  Feb 28 (3)
      • ►  Feb 27 (2)
      • ►  Feb 26 (1)
      • ►  Feb 25 (1)
      • ►  Feb 17 (3)
      • ►  Feb 12 (1)
      • ►  Feb 08 (2)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 05 (2)
      • ►  Feb 04 (7)
      • ►  Feb 03 (4)
      • ►  Feb 02 (3)
  • ►  2023 (9)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 17 (1)
      • ►  Des 10 (1)
    • ►  November (4)
      • ►  Nov 14 (1)
      • ►  Nov 13 (1)
      • ►  Nov 12 (1)
      • ►  Nov 06 (1)
    • ►  Agustus (1)
      • ►  Agu 11 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 01 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 07 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 08 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 22 (1)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 20 (1)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 02 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 30 (1)
  • ►  2019 (6)
    • ►  September (2)
      • ►  Sep 21 (2)
    • ►  Mei (4)
      • ►  Mei 10 (4)
  • ►  2018 (3)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 06 (3)
  • ►  2017 (116)
    • ►  Agustus (3)
      • ►  Agu 06 (1)
      • ►  Agu 02 (2)
    • ►  Juni (2)
      • ►  Jun 20 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 11 (2)
    • ►  Maret (13)
      • ►  Mar 18 (2)
      • ►  Mar 14 (2)
      • ►  Mar 13 (1)
      • ►  Mar 07 (3)
      • ►  Mar 05 (3)
      • ►  Mar 03 (2)
    • ►  Februari (29)
      • ►  Feb 27 (3)
      • ►  Feb 25 (1)
      • ►  Feb 24 (2)
      • ►  Feb 18 (1)
      • ►  Feb 17 (6)
      • ►  Feb 14 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 08 (1)
      • ►  Feb 07 (1)
      • ►  Feb 05 (3)
      • ►  Feb 04 (4)
      • ►  Feb 03 (1)
      • ►  Feb 02 (2)
      • ►  Feb 01 (1)
    • ►  Januari (67)
      • ►  Jan 31 (1)
      • ►  Jan 29 (1)
      • ►  Jan 28 (4)
      • ►  Jan 27 (1)
      • ►  Jan 26 (1)
      • ►  Jan 22 (5)
      • ►  Jan 21 (4)
      • ►  Jan 20 (4)
      • ►  Jan 19 (4)
      • ►  Jan 18 (2)
      • ►  Jan 17 (3)
      • ►  Jan 16 (8)
      • ►  Jan 14 (11)
      • ►  Jan 13 (9)
      • ►  Jan 10 (3)
      • ►  Jan 09 (3)
      • ►  Jan 07 (2)
      • ►  Jan 04 (1)
  • ►  2016 (85)
    • ►  Desember (20)
      • ►  Des 31 (4)
      • ►  Des 30 (1)
      • ►  Des 25 (3)
      • ►  Des 23 (3)
      • ►  Des 22 (3)
      • ►  Des 21 (1)
      • ►  Des 18 (5)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 19 (2)
    • ►  September (8)
      • ►  Sep 29 (1)
      • ►  Sep 28 (1)
      • ►  Sep 26 (3)
      • ►  Sep 17 (3)
    • ►  Agustus (1)
      • ►  Agu 17 (1)
    • ►  Juli (4)
      • ►  Jul 12 (2)
      • ►  Jul 06 (2)
    • ►  Juni (13)
      • ►  Jun 25 (1)
      • ►  Jun 15 (1)
      • ►  Jun 14 (4)
      • ►  Jun 13 (2)
      • ►  Jun 10 (2)
      • ►  Jun 03 (2)
      • ►  Jun 01 (1)
    • ►  Mei (31)
      • ►  Mei 20 (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
      • ►  Mei 16 (2)
      • ►  Mei 13 (1)
      • ►  Mei 12 (3)
      • ►  Mei 10 (1)
      • ►  Mei 07 (2)
      • ►  Mei 05 (2)
      • ►  Mei 04 (8)
      • ►  Mei 03 (1)
      • ►  Mei 02 (2)
      • ►  Mei 01 (5)
    • ►  April (6)
      • ►  Apr 29 (6)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Mei (14)
      • ►  Mei 24 (14)
  • ►  2013 (16)
    • ►  September (16)
      • ►  Sep 13 (3)
      • ►  Sep 11 (5)
      • ►  Sep 10 (5)
      • ►  Sep 08 (3)

Label

  • Annangguru
  • Artikel
  • Bahasa
  • Budaya
  • Budayaa
  • Buku
  • Busaya
  • Cagar Budaya
  • Cakrawala
  • Cerpen
  • Donasi Buku
  • Dunia
  • Ensiklopedia
  • Fokoh
  • Hiburan
  • Hikmah
  • Hukum
  • Jejak
  • JUAL BELI
  • Kamus
  • Kesenian
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Legislasi
  • Lingkungan
  • Literaai
  • Literasi
  • Literasi.
  • Litersi
  • Loterasi
  • Moderasi Beragama
  • Musik Tradisi
  • Napak Tilas
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Opinj
  • Parlemen
  • Pemerintahan
  • Pemilu
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pidato
  • Pilkada
  • Pilpres
  • Politik
  • Politisi
  • Politki
  • Polotik
  • PRODUK
  • Puisi
  • Pustaka
  • Pustaka Mandar
  • Religi
  • Resensi
  • Sastra
  • Sejarah
  • Seni
  • Situs
  • Srjarah
  • Sulawesi
  • Tokoh
  • Tradisi
  • UMKM
  • Umum
  • Wirausaha

Laporkan Penyalahgunaan

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

  • Beranda

PROFIL SINGKAT ||KH.Mahmoeddin Atjo Kanna Marilalalng

Postingan Populer

  • DUA SIMPUL KEKUATAN SOSIAL BERTEMU
    Oleh : Almadar Fattah  Konsep "dua simpul kekuatan sosial bertemu" antara ilmiah dan alamiah menggambarkan harmoni ant...
  • CATATAN AKHIR || DISKUSI DAENG PALULUNG
    Catatan Darmansyah  Pelaut ulung sekalipun, bila berbulan-bulan mengarungi samudra - tentu merindukan daratan, dan ingin sejena...
  • SULSILAH, TEKNOLOGI DAN REALITAS
    Oleh : Bram Pallatano Di masa lalu, silsilah adalah warisan yang dijaga dengan penuh kehati-hatian dan kesakralan. Setiap nama, ...
Tema Perjalanan. Diberdayakan oleh Blogger.