PUSAT STUDI SOSIAL DAN KAJIAN KEBUDAYAAN

Menulis adalah melahirkan dan mengabadikan sejarah manusia

Kamis, 05 Mei 2016

Info Buku: Mengeja Mandar Lewat Balanipa

PENGANTAR PENULIS

@SYUKUR
Syukur Alhamdulillah, hanya kata itulah yang pantas saya ucapkan, lain tidak. Sebab Allah senantiasa memberikan limpahan kasih sayang-Nya, sehingga saya selalu bisa berfikir dan bertindak dalam memenuhi kebutuhan sebagai proses pemenuhan dari semua keinginan. Dan dengan proses itu sampai hari ini, Allah masih tetap bersedia menyuplai oksigen dan nitrogennya untuk saya nikmati dengan bernafas, dan ternyata hal itu adalah sebuah proses yang diinginkan oleh Allah untuk selalu punya mental sukses dan tidak melulu punya mental gagal. Atas semuanya itu, buku ini mampu saya selesaikan.
Betapa tidak, saya adalah salah satu makhluk Allah yang bisa bertahan hidup karena disuplai oksigen dan nitrogen untuk bisa bernafas. Andai kata untuk benafas saya diharuskan membayar seperti layaknya saat diopname di rumah sakit. Saya mungkin sudah lama menyerah. Sebab di apotik untuk beli oksigen dan nitrogen, jangankan untuk hidup sehari, untuk bertahan hidup satu hari, satu detik saja pasti sudah bangkrut. Karena ternyata kebutuhan manusia untuk oksigen perharinya adalah 2.880 liter dan nitrogen sebanyak 11.376 liter. Jika dikalikan dengan harga satuan di apotik, oksigen harganya Rp. 25.000,- perliter dan nitrogen dilabeli dengan harga Rp. 9.950,-perliternya. Kalkulasinya adalah Rp. 170 juta/hari. Jika dihitung perbulan maka asupan oksigen dan nitrogen untuk dapat bernafas dan bertahan hidup, saya harus siapkan uang sekitar 5, 1 miliar. Ini baru sebulan, bagaimana jika 1 tahun...?. Subhanallah !
Dan semua itu digratiskan oleh Allah, coba kiranya Allah menjualnya kepada kita, orang kaya sekelas Chairul Tanjung, Robert T. Kiyosaki, Donal Trump, Bill Gates pun tidak akan sanggup dan mampu membayar biaya nafasnya. Oleh karenanya, siapapun kita, apapun kondisi kita saat ini, syukur itu mesti tetap ada dan kita rutinkan setiap saat.

@SHALAWAT
Salam dan shalawat kepada Nabiyullah Muhammad Saw, manusia pilihan yang dipilih oleh Allah untuk teladan bagi kita semua. Muhammad adalah manusia tersukses dan terkaya dan patut kita contoh untuk mensifati sifat Allah yang Al Ghaniy dan Al Mughniy. Salam dan shalawat ini menjadi asa buat kita, semoga Rasulullah membalas shalawat kita dengan mengakui kita sebagai umatnya dan merekomendasikan kita untuk menjadi pengikutnya, dan nanti di akhirat Rasulullah berkenan mendisposisi project proposal kita untuk berada dalam rio-Na Puang Allah Taala.

@MENULIS SEJARAH MANDAR
Membincang Mandar sebagai sebuah objek, selalu memungkinkan banyak orang atau penulis untuk bisa menginterpretasinya secara berbeda dan beragam. Hal ini memang sangat memungkinkan, sebab Mandar itu sendiri belum melahirkan sebuah konsep yang seragam tentang Mandar yang sebenarnya. Namun sebagai manusia Mandar, tentu tidak berlebihan jika hari ini kita tetap berupaya untuk menjadikan Mandar sebagai sebuah identitas yang tidak hanya ingin diterima “ada” tetapi juga sekaligus “diakui”. Untuk proses itu, sejarah harus selalu kita tulis, untuk memberi jawaban dan bukti-bukti sebagai bentuk rekonstruksi masa lalu. Sejarah dibutuhkan untuk merekonstrukai apa saja yang sudah di fikirkan, di kerjakan, di katakan dan di alami oleh orang terdahulu. Namun, bukan untuk kepentingan masa lalu itu sendiri, sebab sejarah mempunyai kepentingan masa kini dan bukan untuk masa yang akan datang.
Perkembangan ilmu sejarah dituntut konstribusinya menuju hal yang lebih benar, rasional, obyektif dan ilmiah. Tantangan kedepan membutuhkan sejarah sebagai pengawal setiap idea of progres. Jika ilmu sejarah tidak tangguh untuk itu, maka kemajuan-kemajuan zaman seperti sekarang ini justru akan menghilangkan kesadaran penghuni zamnnya sendiri. Ketika masa lalu tidak lagi bisa di tengok, apalagi pada masa berikutnya, maka generasi akan rusak yang identik dengan orang yang tidak memahami peradaban manusia sebelumnya.
Demikian halnya Mandar hari ini, generasi Mandar harus memahami peradaban manusia sebagai gugusan etnik yang mendiami wilayah yang cukup luas di Provinsi Sulawesi Barat ini. Buku Mengeja Mandar Lewat Balanipa ini adalah sebuah langkah awal mengenal Mandar. Mengapa mengeja atau mempelajari Mandar melalui Balanipa? Sebab Balanipa adalah Sambolangiq atau sebagai Ama (Bapak) di Pitu Baqbana Binanga. Dengan dasar itulah sehingga kata ‘mengeja’ saya gunakan sekaligus menggambarkan bahwa saat ini, penulis pun lagi belajar mengeja Mandar, belum mahir membaca, apalagi menulis Mandar. Ibarat bayi yang baru lahir, jangankan tertawa, menangis saja belum tahu.
Buku “Mengeja Mandar Lewat Balanipa” ini awalnya hanya sebagai upaya untuk mensosialisasikan gerakan perjuangan Pembentukan Kabupaten Balanipa di internal Barisan Muda Pembela Balanipa (BMP-Balanipa) yang saya gagas dengan Rustan dkk. di Botto pada sekitar tahun 2011. Dan saat itu, penulis berencana meluncurkan buku ini saat ketuk palu pengesahan RUU DOB Balanipa di Senayan, namun ternyata sampai tahun 2015, RUU tersebut semakin tak jelas ujung nasibnya, sehingga buku ini tak pernah diterbitkan.
Seiring berjalannya waktu, naskah buku ini kemudian saya revisi dan mengadakan perombakan-perombakan di dalamnya, sehingga yang nampak kemudian adalah buku yang tidak lagi menjadi sebuah penyemangat perjuangan, tapi mewujud sebagai gugatan penulis untuk menggugagah kesadaran kita sebagai manusia Mandar, wabilkhusus generasi muda, untuk kembali menemu kenali sejarah perruqdusang, tradisi dan kearifan lokal di Mandar-Balanipa.
Buku yang terdiri dari 6 BAB ini, BAB petmama membahas tentang sejarah perkembangan penulisan sejarah Mandar dan pengenalan Mandar. Dimana pada tahapan itu, ada sebuah mentalitas yang muncul dalam penulisan sejarah Mandar selama ini, di mana aroma konstruksi penulis sangat terasa dalam alur penulisan sejarah Mandar, sehingga nampak seperti naskah sinetron dan film yang di dalamnya terdapat unsur pemeran yang bersifat oposisi biner (binary oposition), yakni pemeran protagonis dan antagonis. Bahkan sejarah dibuat hanya untuk meneguhkan kepentingan penguasa dan kelompok dominan. Dan parahnya, kita melihat dan mendengar penguasa tiba-tiba menjadi “sejarawan” dan lalu menulis sejarah sesuai dengan nalurinya.
Pada BAB kedua, saya mencoba merunut sejarah peradaban dunia lalu kemudian menelusur sejarah peradaban di Mandar. Dengan demikian, pembaca bisa mengetahui periodesasi sejarah dari mulai keberadaan manusia dalam kitab sampai pada proses manusia mengenali kebudayaan yang membentuk sebuah peradaban maju. Peradaban Mesir kuno, Sungai Hindus sampai pada gelombang migrasi besa-besaran dan lalu mencoba mengaitkannya dengan mulatau di Sungai Saqdang (dalam buku-buku sejarah Mandar yang beredar).
Periodesasi ini penting, sebab dalam membincang sejarah peradaban Mandar, kerap kita menemukan penggunaan nama, gelar yang sama dalam catatan sejarah. Misalnya, Pongka Padang, I Kadzake Letteq dll., sering juga kita menemukan adanya kesimpang-siuran dalam memahami sejarah, dimana kejadian pada masa pemerintahan kerajaan (Arajang/Maraqdia) dikaitkan dengan kejadian yang berlangsung pada masa tomakakaq. Dari periodesasi inilah kita harapkan generasi kedepannya semakin sadar dan terlecut jiwanya untuk terus mempelajari sejarah perruqdusang leluhur Mandar.
BAB ketiga, saya sedikit lebih fokus pada mengenalan produk kebudayaan Mandar, semisal saqbe Mandar, kesenian tradisional sampai kepada lagu klasik, kalindaqda, situs dan cagar budaya yang masih tetap di jaga dan lestari di Mandar. Ini penting sebagai sebuah proses pengenalan dasar kepada generasi muda agar tergugah untuk mempelajari dan menjadi pelaku dalam melestarikan kesenian tradisional dan produk kebudayaan Mandar tersebut. Adalah sebuah kecelakaan ketika leluhur kita mampu menciptakan dan membangun kebudayaan besar, tapi tak ada regenerasi yang tercipta. Oleh karenanya, dibutuhkan kesadaran kolektif untuk berbuat apa yang mampu dan bisa kita lakukan. Sebagai generasi, inilah yang saya ingin persembahkan.
BAB keempat, saya lebih condong meramu informasi tentang keberadaan tokoh-tokoh besar yang lahir dari rahim peradaban Mandar Balanipa. Tokoh yang saya tampilkan ini bukan tokoh-tokoh Mandar secara umum, melainkan tokoh yang lahir di Balanipa, para pappatumballeq litaq dan beberapa generasi yang Mandar Balanipa yang menginspirasi. Mulai dari I Manyambungi Todilaling, I Billa-Billami Tomepayung, Daetta Tommuane, Daeng Rioso, I Calo Ammana Wewang, Tokape, Tokeppa, Tosalamaq Imam Lapeo, Annangguru Saleh, S. Mengga, Darmawan Mas’ud, Kalman Bora, Cammana, Marayama, sampai kepada generasi pejuang kemerdekaan dan pembaharu Hj. Andi Depu, Baharuddin Lopa, Husni Djamaluddin, Nurdin Hamma, Bakri Latief, Ahmad Asdy, Ajbar Abdul Kadir, Syamsul Samad, Abdul Rahim, sampai kepada Muhammad Ridwan Alimuddin, Ramli Rusli dll. Ada sekitar kurang lebih 40-an profil tokoh tersebut ada dalam buku ini.
Pada BAB kelima saya membahas tentang bunga rampai litaq Mandar Balanipa, mulai dari simbol kebudayaan Mandar, seperti Beruq-Beruq di Kandemeng, upacara-upacara tradisional dan sakral, permainan rakyat seperti jekka, logo, gasing, karacang sampai pada persoalan kutika, guna-guna dan doti. Yang baru dalam penulisan ini adalah, pada acara seperti pammunuang, papasiala, peuriq, pappadai toyang, pappakeqde boyang, saya lengkapi dengan prosesi pembacaan barzanji menurut ath-thirillah yang berhubungan dengan jenis upacara yang dilakukan oleh masyarakat Mandar.
Dengan demikian buku ini selain menjadi sebuah rujukan, bahan diskusi, sekaligus menjadi buku petunjuk praktis bagi masyarakat yang melaksanakan upacara adat, syukuran dan walimah karena memuat teks barzanji yang menggnakannya cukup disesuaikan dengan jenis acara yang dihelat oleh warga. Misalnya, peuriq dan pappadai toyang. Cukup buka BAB lima dan cari bagian yang membahas tentang peuriq, baca teks-nya dan ikuti petunjuknya sampai selesai.
Mengapa Barzanji ini dicantumkan, sebab Kitab Barzanji itu sendiri tidak harus dibaca dengan runtut, runut sampai 19 ath-thirillah, sebab dalam beberapa praktek yang dilakukan orang tua kita, pembacaan barzanji tidak semua sama dalam setiap acara yang dilaksanakan. Misalnya acara pappakeqdeq boyang, pammunuq dan pappadai toyang beda proses dan bacaannya pada saat acara meuriq, mappasiala, mesunnaq dan lain-lain. Selain itu, saya juga mengulas tentang panggereang beke, papparappi tomate, pattarawe, zikkir appe, dll.
Dan terkhir, pada BAB keenam hanya mengisinya dengan lampiran beberapa informasi penting mengenai aksara lontaraq dan beberapa kegiatan penulis yang berhubungan dengan Mandar.
@TERIMA KASIH
Bagian ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada istri saya Hernawati Usman, kedua orang tua saya, saudara-saudariku, dan anak-anakku. Jika ternyata saya tidak mampu mewariskan rumah mewah, mobil mewah, rekening gendut untuk kalian, maka buku ini adalah warisan berharga buat kalian dan berharap jadi shadaqah jariyah untuk saya.
Ucapan yang sama buat guru-guru saya di MI DDI Botto di MTs DDI Baru’ di MAN Polmas (sekarang Polman), di STAI DDI Polmas (sekarang IAI DDI Polewali Mandar). Semoga ilmu yang kalian ajarkan padaku bernilai IBDAH DAN SHADAQAH JARIYAH. Buku ini juga ananda persembahkan buat kalian semua, teriring kiriman alfatihah buat yang telah berpulang ke rahmatullah.
Teristimewa, orang tua dan guru saya Nurdin Hamma, Hamzah Ismail, Drs. Darmansyah, Ramli Rusli, H.A. Murad, Mattotorang, S.Sos. dan semua personil Komunitas Rumah Pustaka, Rumah Buku, Rumah Kopi, Rumah Musik Beru-Beru Orchestra, Rumah Pusaka dan adik-adikku di Unasman, Unika dan Unsulbar serta personil BM-Balanipa serta para panitia dan pendukung acara Road Show Indonesia Menulis, Tetap semangat ! Dan Salam Literasi. Maaf, tidak disebutkan satu-satu.
Balanipa, 2011-2016
Penulis



MUHAMMAD MUNIR
on Mei 05, 2016 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Budaya, Cagar Budaya, Literasi, Pemerintahan, Sejarah, Tokoh, Tradisi

SIMPUL SEJARAH FLAMBOYANT, CAK NUN DAN MANDAR (Bagian 4) “ Emha Ainun Nadjib Orang Mandar Yang Lahir di Jombang ”


Oleh: Muhammad Munir
Untuk kesekian kalinya, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun menyambangi Jamaah Maiyah Mandar, setelah kedatangannya yang terakhir pada tahun 2011 dengan tajuk Safinatun Najah. Dengan mengusung tema Risalah Cinta di Jazirah Mandar yang dipusatkan di Lapangan Sepak Bola Pambusuang, 30 April 2016, Cak Nun bersama Group Shalawat Kyai Kanjeng dan Jaringan Maiyah Nusantara-nya memukau ribuan penonton yang berduyungan memadati lapangan di Desa Bala Kecamatan Balanipa tersebut. Hanya butuh beberapa menit setelah shalat isya, jamaah dari latar belakang yang berbeda-beda hadir dalam pertunjukkan luar biasa, tapi tetap dengan desain yang biasa. Biasa dalam artian, Cak Nun tidak butuh dipanggungkan, tidak butuh panggung, tidak mau ada sekat yang menghalanginya dengan jamaah.
Cak Nun memang punya cirri khas yang mungkin tak akan pernah bisa dimiliki oleh yang lain. Tampilan khas, siraman rohani diantara ribuan pengunjung yang lirih bershalawat itu mengalir laksana air sungai Mandar. Siraman rohani dan lantunan shalawat dari Cak Nun dan Kyai Kanjengnya kadang menghempas dan mendesir bagai ombal di teluk Mandar. Maka jadilah Cak Nun suntuk bercengkrama dengan ribuan manusia Mandar hingga jam 00.30 dini hari. Andai Cak Nun berbicara sampai shubuh, para Jamaah itupun akan tetap setia dan tak mau beranjak. Masyarakat maksyuk dalam untaian kata yang sungguh memikat, letupan-letupan, guyonan dan banyolannyapun penuh hikmah. Materi-materi ceramahnya yang menggugat seakan jamaah tak merasa tergugat, tapi justru menjadi tergugah. Pokoknya, Cak Nun dalam pandangan penulis memang merupakan salah satu rahmat Allah yang masih disasakan untuk memanusiakan manusia dan hidup dalam kasih sayang bersama cinta. Cinta yang universal? Tinggal sekarang, apakah kita sebagai Mandar hanya memaknai Cak Nun dan ceramahnya sebagai ajang membesarkan identitas atau menjadi ruang untuk membangun pribadi Mandar masa depan. 
Itulah Cak Nun, satu dari jutaan penduduk Indonesia yang menulis banyak buku tapi tak satupun buku yang pernah ia baca. Ia memiliki jutaan jamaah, tapi tak pernah ia gunakan jamaahnya untuk mendulang suara pada ajang kontestasi politik praktis.  Mari coba membaca sedikit riwayat Cak Nun sembari dengan tetap bermunajat kepada Allah. Bahwa berkomunikasi dengan Allah tak harus jadi Cak Nun, cukup menjadi pengagum Cak Nun untuk selanjutnya rasa kagum itu bermuara pada kekaguman kita pada Dzat yang Maha yaitu Allah yang telah melahirkan cintanya kepada kita melalui Cak Nun. Cak Nun mempunyai nama lengkap Muhammad Ainun Nadjib atau biasa dikenal Emha Ainun Nadjib adalah seorang tokoh intelektual berkebangsaan Indonesia yang mengusung napas Islami. Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 ini sekaligus sosok yang begitu berjasa bagi Masyarakat Mandar. Lewat dialah, Mandar kian dikenal secara nasional. Ia bahkan mengaku sebagai orang Mandar dibeberapa kali kesempatan entah saat tampil dalam aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang Bulan atau di Jamaah Maiyah Kenduri Cinta, Mocopat Syafaat Yogyakarta, Padhangmbulan Jombang, Gambang Syafaat Semarang, Bangbang Wetan Surabaya, Paparandang Ate Mandar, dan Maiyah Baradah Sidoarjo, serta Obro Ilahi Malang, Hongkong dan Bali.
Cak Nun merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Darussalam Gontor setelah melakukan ‘demo’ melawan pimpinan pondok karena sistem pondok yang kurang baik, pada pertengahan tahun ketiga studinya. Kemudian ia pindah ke Yogyakarta dan tamat SMA Muhammadiyah I. Istrinya yang sekarang, Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi. Sabrang Mowo Damar Panuluh adalah salah satu putranya yang kini tergabung dalam grup Band Letto.
Cak Nun bukanlah seorang yang tiba-tiba menjadi seorang tokoh. Ia mempnyai proses sejarah hidup menginspirasi. Lima tahun ia hidup menggelandang di Malioboro, Yogyakarta antara 1970-1975, belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha. Masa-masa itu, proses kreatifnya dijalani juga bersama Ebiet G Ade (penyanyi), Eko Tunas (cerpenis/penyair), dan EH. Kartanegara (penulis). Selain itu ia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Cak Nun juga pernah terlibat dalam produksi film RAYYA, Cahaya di Atas Cahaya (2011), skenario film ditulis bersama Viva Westi.
                Cak Nun tidak terkait secara formal yang dapat dijadikan alasan akademis maupun intelektual untuk secara metodologis menyimpulkan adanya hubungan antara gerakan Jamaah Maiyah yang memperoleh inspirasi, pembimbingan, pengayoman dan pengajaran dari seorang Cak Nun dengan gagasan-gagasan pemikiran dan ideology yang berkembang dalam sufisme. Cak Nun secara formal bukan anggota tarekat ataupun pernah berguru dan menerima ijazah dari seorang Syekh Tarekat tertentu, bahkan tidak mempelajari tasawuf melalui jalur pendidikan baik formal, informal maupun non-formal. Tetapi aneh bin ajaib, pemikiran apapun yang terkandung dalam literature tasawuf bisa dengan gampang dan gamblang Cak Nun menguraikannya. Buka kitab al-Futuhat al-Makkiyah, suatu karya monumental Ibn Arabi sebagai contoh dan lacak topic yang menguraikan martabat wujud, maka anda dapat lebih mengerti gagasan itu dalam satu kali pertemuan dengan Cak Nun disbanding beberapa kali pertemuan bahkan beberapa semester tapi tetap tak mengerti di hadapan professor pengajar materi tasawuf pada perguruan tinggi Islam dan non-Islam di Indonesia.
Itulah Cak Nun yang dimiliki oleh Indonesia, tentu saja milik Mandar sebab Cak Nun adalah Mandar itu sendiri. Mandar dan simpul-simpul lokal wisdom-nya bagi Cak Nun bukanlah materi yang bersifat lokal, tapi kearifan-kearifan itu ia manifestasikan secara universal dan menjadi salah satu material dan elemen paling penting dalam struktur bangunan rahmatan lil alamin. Dalam konsep rahmatan lil alamin itu keberadaan Cak Nun tak lagi terbantahkan bagi Mandar, Indonesia bahkan dunia. (Bersambung)

on Mei 05, 2016 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Budaya, Literasi, Sejarah, Tokoh, Tradisi

Rabu, 04 Mei 2016

SIMPUL SEJARAH FLAMBOYANT, CAK NUN DAN MANDAR (Bagian 3) “ Alisjahbana dan Kesejatian Mandarnya ”

Oleh: Muhammad Munir-Tinambung

Emha Ainun Nadjib dan Alisjahbana berhasil melakonkan kesejatiannya mementaskan Mandar tidak saja lewat gumamnya, tapi sekaligus diteriakkan di rimba belantara kota Jakarta. Tahun 2001 Muhammad Syariat Tajuddin memegang kendali kepengurusan di generasi keempat. TF terus mengepakkan sayap dengan membangun jejaring diberbagai penjuru nusantara, seperti: Bantaya Palu, Yayasan Kelola Solo, Komunitas Musik Puisi Se-Nusantara via FMPI 2003 dan Artis Network Asia (ANA) yang berkantor di Singapura, juga tercatat dalam direktori TIM Jakarta sebagai salah satu teater rakyat di Indonesia. Sampai disini, TF berhasil memperkenalkan manajemen kerja kebudayaan dan kesenian yang ilmiah dan modern, tanpa mentercerabutkan akar cultural dan sejarahnya sebagai Terater Rakyat.
Dari Bung Ali, Emha, Amru, Hamzah Ismail, Evo dan Syariat, TF berhasil melahirkan beragam arus pemikiran, yang terkadang memilih menjadi oposan dan radikal humanis dalam kacamata kebudayaan. Utamanya dengan persinggungannya dengan beragam kepentingan politik. Untuk wilayah satu ini, TF sebagai teater rakyat, justru lebih memilih berdiri pada garis tak berpijak alias netral (independen). TF lebih memilih hidup inklusif ditengah-tengah perjumudan dengan masyarakatnya, seraya menggenggam tekad perjuangan kebudayaan dan kemanusiaan. Dan tetap berupaya melakukan penambalan-penambalan kegelisahan ditingkat pemula dengan menyulut proses kerja-kerja kreatif dan metode arus lalu lintas pemikiran kebudayaan ditingkat yang lebih dewasa (Muhammad Syariat Tajuddin).
Pendek kata, Teater Flamboyant yang memiliki anggota terdaftar sekitar 50-an ini tetap lahir dan berada dalam leburan masyarakatnya, bersama bergenggaman dalam membangun kebudayaan yang lebih manusiawi dan memanusiakan. Kendati tanpa harus lepas dan tersobek dari realitas kesejatian tradisi masa lalu. Hal ini mudah difahami, sebab sebagian personilnya, adalah juga bekerja sebagai pedagang, pelajar, mahasiswa, PNS (guru) bahkan ada juga yang pengangguran yang mentafsir denyut kehidupan dibopong keatas panggung pementasan. Karena buat teater yang satu ini, kesenian tidak lantas harus difahami seni untuk seni, tetapi kesenian adalah upaya melembagakan manusia dalam tatanan estetika kemanusiaan yang berbudaya dan memahami konteks dan konsep kebudayaannya yang lalu dapat diejawantahkan dalam ruang kehidupan kehidupan kesenian masyarakatnya.
Sampai pada generasi keempat ini, TF berhasil dan sukses memanusiakan manusia, terutama penyelamatan generasi dalam pemahamannya atas kerja kreatif yang lebih santun. Maka tidak heran, jika dalam beragam lontaran statemen dan kerja kreatifnya TF selalu memilih untuk hadir sebagai komunitas yang lebih mengedepankan kebersamaan dan konsep keilahiaan, kemanusiaan dan kebudayaan yang berbudaya. Capaian tersebut tentulah tidak diraih dengan instant melainkan lahir dari sebuah proses panjang. Bung Alisjahbana adalah sosok yang tak akan lapuk termakan rayap waktu dari setiap jengkal langkah TF yang terlakonkan. Ia punya ide dan terobosan yang mungkin hari ini susah dicari tandingannya tentang obsesinya membangun kepribadian masa depan kampung kelahirannya. Ia tak pernah kehabisan cara untuk menjadikan Mandarnya dikenal diluar Sulawesi.
Salah satu cara Alisjahbana membangun mimpi anak-anak asuhannya, sebagaimana tulisan Hamzah Ismail (Majalah Sastra Sabana, Yogyakarta 2005) adalah dengan mengenalkan beberapa orang pintarnya Indonesia ke meraka. Salah satunya adalah Emha Ainun Nadjib. Setiap tulisan Emha Ainun Nadjib yang terbit di Majalah Panjimas dan Tempo, difotokopi sebanyak mungkin kemudian dibagikan kepada anak-anaknya, lalu malamnya tulisan itu didiskusikan sampai suntuk. Diam-diam tumbuh rasa cinta anak-anak muda itu ke Emha Ainun Nadjib. Tidak satupun tulisannya yang dilewatkan, yang ada di sejumlah media. Diam-diam pula ada desakan dari hati setiap individu anak-anak muda itu hendak bertemu langsung dengan Emha Ainun Nadjib, sosok yang mulai dirindukan dalam waktu relatif lama, sekira empat tahun.
Disadari atau tidak, sosok Emha Ainun Nadjib dalam fikiran yang sangat berperan mendinamisasi proses berpikir kirtis dan proses kreatif masyarakat Mandar. Cak Nun jua yang begitu banyak mendatangkan perubahan demi perubahan dalam semua aspek kehidupan, entah itu politik, ekonomi, sosial budaya dan tentunya dalam hal agama dan keberagamaan.  Bahkan dalam proses perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat-pun, peran seorang Cak Nun tak bisa dinafikan. Jembatan yang terus dibangun, jalan-jalan yang makin diperlebar, mobil ukuran raksasa yang melintas, mengantar pulaukan aneka produk pertanian di Sulbar hari ini adalah  fakta-fakta sejarah yang pada tahun 1987 telah ia sampaikan dalam berbagai kesempatan ketika berada di Mandar. (Bersambung). 




on Mei 04, 2016 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Budaya, Literasi, Pemerintahan, Sastra, Sejarah, Tokoh, Tradisi

SIMPUL SEJARAH FLAMBOYANT, CAK NUN DAN MANDAR (Bagian 2) “ M. Takbir, Camping dan Lahirnya Flamboyant ”

Oleh Muhammad Munir-Tinambung 
Pada menjelang akhir era 70-an sampai 80-an juga terbentuk komunitas seni yang dibina oleh Amru Sa'dong yang diberi nama "MEKAR". Komunitas Mekar besutan Amru di Tinggas- Tinggas ini kurang melejit tapi mampu menjadi bagian penting yang menanamkan bakat seni budaya ke personilnya. Hingga pada suatu ketika (1981) alm. M.Takbir menemui M. Sukhri Dahlan dan menyampaikan keinginannya untuk berkemah (Camping). Pada saat yang sama, Bung Ali Syahbana mudik berlibur di Tinambung. Keinginan M. Takbir itu disampaikannya ke Bung Ali. Bung Ali merespon baik rencana itu dan menetapkan lokasi campingnya yaitu di Salarri' kampung leluhurnya.
M. Sukhri Dahlan menyampaikan respon Bung Ali ke M. Takbir. Informasi itu kemudian ditindak lanjuti oleh M. Takbir bersama Amru Sa'dong sehingga disepakatilah untuk pergi Camping dengan cara patungan (masing-asing peserta harus bayar Rp.1000). Peserta Camping antara lain Bung Ali Syahbana, M. Takbir, M. Sukhri Dahlan, Amru Sa’dong, Haidir, Abd. Manaf Baas, Abd. Rahman Karim atau Epo', Bahmid, Mujahid, Amril, Firdaus, Badawi Nur, Pudding, Khaerul (Labaco) dan lain-lain (peserta sekitar 18 orang). Banyak cerita dan kenangan yang terlukiskan dari lokasi Camping tersebut. Ada semangat yang tiba-tiba melecut mereka untuk kerap bersama-sama dalam situasi dan kondisi apapun. Semangat inilah yang kemudian membuat mereka berfikir keras untuk menata diri. Satu-satunya yang bisa membuat mereka tetap bercengkrama adalah dengan membentuk komunitas.
Pasca Camping tersebut, pertemuan dan diskusi intensif dilakukan. Dari diskusi itulah lahir sebuah komitmen bersama untuk medirikan sebuah komunitas. Untuk upaya itu, pertemuan demi pertemuan semakin gencar dilakukan. Tempat pertemuan disepakati diadakan dikediaman M. Sukhri Dahlan, kadang juga di rumah Bu Kumala (saudara Khairul atau Labaco). Kesimpulannya adalah kesepakatan untuk mendirikan komunitas. Diskusi kecil dan pertemuan itu rupanya membuat semakin banyaknya para pemuda yang tertarik. Hal tersebut ditandai dengan bergabungnya Tappa, Hamzah Ismail, dan lain-lainnya. Tindak lanjutnya adalah rapat untuk menyapakati nama komunitas. Dalam rapat muncul beberapa usulan nama, antara lain mawar, melati dan flamboyant. Forum kemudian sepakat memberi nama komunitasnya dengan nama Teater Flamboyant - Mandar dan secara aklamasi menunjuk Amru Sa'dong sebagai Ketua dan M. Sukhri Dahlan sebagai Sekretaris (belakangan sekretaris dijabat oleh Hamzah Ismail).
Demikianlah kronologis lahirnya sebuah komunitas besar yang digagas kurang lebih 1 tahun itu. Perjalanan sejarah kemudian mencatat komunitas Teater Flamboyant Mandar (TF) ini didirikan sebagai Lembaga pada tanggal 5 September 1983 dan diresmikan pada tanggal 15 September 1984. Dalam proses itulah Bung Ali Syahbana merasa bertanggung jawab atas pengembangan Teater Flamboyant tersebut. Ali Syahbana kemudian memboyong Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) ke Mandar. Cak Nun melecut semangat berkesenian mereka. Berlatih dan merekrut pemuda-pemuda lain untuk berkarya. Tak heran jika kemudian pada tahun-tahun selanjutnya TF sudah merambah dunia jejaringnya dengan komunitas serupa diberbagai penjuru nusantara. Hal itu diawali dengan keterlibatannya di beberapa kegiatan, antara lain: mengikuti Pentas Seni Musik di Polmas 1984; Pentas Tradisional "Pencari Rezeki" di Polmas tahun 1985; Pentas Teater "Perahu Nuh" di Polmas tahun 1986; Pentas Drama "Terjebak" dan Pentas Teater "Cahaya Maha Cahaya" di Polmas pada tahun yang sama 1987.
Demikian juga tahun 1988, TF mulai merambah wilayah luar Polmas yaitu Pentas Teater Keliling "Lautan Jilbab" di Sulsel Pada tahun 1990 kembali TF mengikuti Pertunjukan Rakyat "Kerikil Tajam" di Makassar dan Pertunjukkan Rakyat "Dibalik Batu" di Pinrang tahun 1992. Tahun 1993 kembali ikut Pertunjukan Rakyat "Kaca Mata" di Polmas. Lalu pada tahun 1995, TF kemudian tampil lagi di Pertunjukkan Rakyat "Kauseng" di Makassar. Tahun 1997 menjadi penanda semakin eksistnya Flamboyant dengan ikutnya di Pentas Teater yang mengangkat "Koa-Koayang" di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Berikut mendapat kesempatan di Pentas Musik Puisi di Jombang dan pada tahun 1999 Mementaskan lagi Teater "Koa-Koayang" di beberapa tempat di Yogyakarta. Setelah dari Jawa, TF merambah ke Sulawesi Tengah pada tahun 2001 di ajang Indonesia Dance Forum di Palu. Naskah "Kauseng" ditampilkan dengan sutradara Amru Sa'dong.
Kisah sukses TF tersebut diatas terlakonkan seiring pergantian demi pergantian kepengurusan dari Amru Sa'dong ke Hamzah Ismail hingga ke Abdul Rahman Karim. Ketiga sosok yang pernah menjadi Ketua TF ini merupakan sebuah proses yang luar biasa. Betapa tidak, tiga generasi tersebut melintasi era Orde Baru pemerintahan Soeharto ke Era Reformasi. Perjalanan sejarah itulah yang membuat TF semakin memposisikan dirinya sebagai satu-satunya komunitas seni budaya yang tak pernah lekang dan lapuk, baik secara kualitas maupun nilai. Bung Ali Syahbana dan Emha Ainun Nadjib serta Nurdahlan Jirana berhasil meretas jalan generasi generasi kreatif dan cemerlang dari Tinambung dan berkarya entah di Mandar maupun di Luar Mandar, termasuk mampu mengambil bagian dari sebuah proses lahirnya Provinsi Sulawesi Barat. (Bersambung)








on Mei 04, 2016 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Budaya, Literasi, Pemerintahan, Sejarah, Tokoh, Tradisi

M. Sukhri Dahlan: Bahasa Cinta pada Cak Nun, Masyarakat dan Pemerintah Sulawesi Barat !


Emha Ainun Nadjib biasa dipanggil Emha atau Cak Nun adalah “Idola” bagi masyarakat Mandar. Ia selalu ditunggu kedatangannya. Dan bila ia datang, maka masyarakat akan menyambutnya dengan luapan gembira yang tak bisa digambarkan. Cak Nun dan masyarakat Mandar seakan telah menyatu dalam sosok Cak Nun. Hal itu tergambar dari kedatangannya pada Minggu, 30 April di Lapangan Sepak Bola Desa Bala Kec. Balanipa. Manusia berbondong-bondong,menyemut memenuhi lapangan tersebut. Entah ia petani, nelayan, pelajar, mahasiswa, anak-anak, remaja sampai orang tua. Bahkan pejabat dan Wakil rakyat sekalipun tak mau ketinggalan momentun untuk menyaksikan penampilan Kyai Kanjeng dan siraman rohani dari Emha Ainun Nadjib.

Tak terasa, emapat tahun setelah kedatangannya di Mandar. Tahun ini Cak Nun menyambangi Jamaah Maiyah Mandar dengan mengusung topik “RISALAH CINTA DI JAZIRAH MANDAR”. Meski kedatangannya atas inisiatif dan prakarsa dari Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat melalui jasa aspirasi Syamsul Samad, Anggota DPRD Provinsi, namun tak menyurutkan niat untuk bahu-membahu menyambut dan menyaksikan sosok idaman yang kerap dirindukan itu. Masyarakat dan Flamboyant ikut menjadi penyaksi atas kedatangan Maha Guru itu di Mandar. Cak Nun dan Flamboyant adalah sebuah kesatuan yang utuh dan integral. Tak bisa dipisahkan dan tak seorangpun mampu mengubah keutuhan cinta tersebut.

Cak Nun tampil memukau dan menggugah lewat ceramah berisi guyonan yang masuk akal. Sehingga guyonan tersebut tidak sekedar menjadi banyolan-banyolan liar,  namun sangat inspiratif serta menjadi spirit yang menancap ke hati. Cak Nun dengan piawai menguasai ribuan manusia tanpa sekat, menyatu dengan penonton tanpa jarak. Sangat kontras ketika menyaksikan konser-konser artis papan atas. Siapa yang tak kenal dengan sosok Cak Nun, siapa yang tak mengakui bahwa Cak Nun lebih populer dibanding artis selebriti nasional?. Cak Nun adalah fenomena zaman yang mungkin setelahnya tak akan lahir sosok yang multi talenta ini.

Atas nama penulis, saya ingin menghaturkan ribuan rasa terima kasih kepada Cak Nun, kepada masyarakat, kepada pemerintah, wabilkhusus kepada panitia dan Syamsul Samad atas segala bentuk upaya dan perhatian untuk memenuhi keinginan kami bertemu dengan sosok yang kami cintai dan kami rindukan. Kepada Cak Nun yang mendaulat Cammana sebagai kekasih Cammanallah, menjadikan Flamboyant sebagai rumahnya di Mandar. Sebegitu dalam keinginan kami menggambarkan kecintaan kami lewat narasi cinta, namun bahasa saja tak mampu mewakili rasa itu, akhirnya kami mewakili segenap masyarakat Mandar, Sulawesi Barat memohon maaf atas ketidak mampuan kami menarasikan cinta lewat kata. Namun yang pasti, setelah Allah dan Rasul-Nya, maka engkaulah muara dari Cinta dan kerinduan kami.

Wassalam bilmaaf dari Luluare Mandar-mu,



M. SUKHRI DAHLAN (Dewan Kehormatan Flamboyant Mandar)

       
on Mei 04, 2016 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Budaya, Literasi, Sastra, Sejarah, Tokoh, Tradisi

Mengenang Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, SH (Dari Patung Hingga Gerbang)

·

Catatan Muhammad Munir
(Pernah dimuat di Media Seputar Sulawesi Barat)

https://seputarsulbar.com/mengenang-prof-dr-h-baharuddin-lopash-dari-...

Berawal dari sebuah status yang saya posting di media sosial facebook, tentang keinginan membuat patung Baharuddin Lopa, I Maqga Daeng Riosoq dan I Calo Ammana Wewang yang terinspirasi dari Patung Sultan Hasanuddin yang berdiri megah di halaman depan Bandara Hasanuddin Makassar.

Dari postingan yang saya upload di group Appeq Jannangang itu, kemudian ditangagapi oleh sebagian member Appeq Jannangang yang intens membincang soal kerja-kerja budaya Mandar; Seni, kuliner, wisata, sejarah dan kearifan lokal. Dan diantara beberapa komentar yang masuk itu, Abdul Rasyid Ruslan (salah satu member Appeq Jannangang yang lagi berthalibul ilmi di Makassar), secara spontan memberi dukungan penuh dan siap membantu mewujudkan impian itu.

Sontak teman-teman mahasiswa di Makassar semua bersuara dan langsung membuat rencana kerja tindak lanjut dengan membentuk Tim Kreatif Appeq Jannangang reg Makassar dan meminta saya jadi punggawa dalam program pembangunan Patung Pahlawan dan Pejuang dari Mandar.

Setelah terbentuk personil melalui rapat online yang kemudian disepakati bahwa langkah pertama untuk program ini adalah Pembuatan Patung Baharuddin Lopa dengan menggunakan donasi. Maka dibuatlah selebaran/poster " Mandar Berbisik ! GERAKAN DONASI Rp.10.000, untuk pembuatan Patung Pahlawan dan Pejuang dari Tanah Mandar ". Desain posternya kemudian diposting keberbagai group di medsos. Dukungan mengalir dan mereka rata-rata siap berdonasi.

Melihat animo masyarakat Mandar diluar Sulbar yang begitu antusias itu, kami kemudian membuat Rapat Pelaksana Program di RM. Pondok Kelapa Campalagian (08/04) dengan mengundang langsung salah satu Putra almarhum Baharuddin Lopa, yaitu Iskandar Muda Barlop, anggota DPD RI untuk hadir bersama kami dengan Tim Kreatif Appeq Jannangang selaku inisiator dan Tim pelaksana kegiatan.

Dari pertemuan di Pondok Kelapa ini, setelah melalui diskusi panjang lebar tentang program ini, oleh pihak keluarga kurang respek jika almarhum dibuatkan patung sebab patung menurutnya kurang islami, sementara almarhum dikenal sebagai tokoh pendekar hukum yang sangat kental agamanya (islam). Dan dari diskusi ini kemudian lahir kesepakatan untuk membuat Gerbang Barlop yang disepakati di depan Ponpes Nuhiyah, Pambusuang.

Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan di Campalagian, saya kemudian menggelar rapat lagi di Ponpes Nuhiyah Pambusuang. Dari Rapat ini rencana awal gerbang akan di bangun di depan Ponpes Nuhiyah harus dibatalkan dan mufakat Gebang Barlop akan dibangun di Palippis dan di batas Desa Sabang-Subik dengan Desa Galung Tulu. Alasannya karna sebagian masyarakat Bala dan Sabang Subik komplain jika Gerbang di tempatkan di Pambusuang. Mereka mengklaim diri sebagai orang Pambusuang, tentu punya hak untuk masuk dalam kawasan ini. Mengantisipasi polemik di masyarakat itulah sehingga dibuat kesepakatan untuk membuat Gerbang didua titik tersebut.

Sampai disini, sebuah rencana telah mempunyai dasar pijiakan menjadi perencanaan untuk masuk dalam tahapan pelaksanaan. Dan dengan dasar itu pula, kemudian Gerakan Donasi di lauching pertama kali di Makassar.

SaliliMANDAR

Acara SaliliMANDAR (15/04) adalah acara Kopdar (kopi darat) yang diselenggarakan oleh Komunitas Appeq Jannangang reg. Makassar bekerjasama dengan KPM-PM Makassar. Yang disamping sebagai ajang silaturrahmi antar mahasiswa Mandar di Makassar, juga digelar untuk malam donasi Gerbang Barlop.

Cafe TOM-TOM di Jalan Emy Saelan Makassar ini menjadi saksi sejarah tak terlupakan bagi mahasiswa-mahasiwi Mandar di Makassar. Betapa tidak, malam itu, acara kopdar yang berdasarkan undangan hanya akan diikuti oleh sekira 30-50an orang, Tumpah ruah mejadi ratusan orang yang tentu saja harus berdiri karna tidak kebagian tempat duduk. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru dibelantara gedung kota Makassar. Hujan malam itu ternyata hanya sekedar membasahi mereka tapi tidak sampai menghalangi untuk sampai di tempat acara malam itu.

Sekitar jam 20.00 malam itu mulai dengan penampilan musik akuistik Mandar, Passayang-Sayang, lagu Titi-Titing Balao memukau hadirin. Semua terhanyut dalam nuansa kerinduannya pada tanamandar. Sebuah kesadaran membuncah akan histori masa lampau Mandar yang betul-betul bernilai, tak lapuk dimakan rayap waktu. Segumpal gumam yang selama ini membuatnya hanya sugiging ditempat seketika menjadi teriakan ketika petikan kacaping Mandar dari Tajriani Talib yang sungguh diluar dugaan. Tajriani melagukan syair pujian khas kacaping yang diiringi tepuk tangan. Pada detik yang sama panitia menyiapkan Kappar (baki besar) dihadapan Tajriani Talib sebagai pertanda bahwa saatnya Paqmaccoq (saweran) dimulai. Saya dan panitia menjadi pappaqmaccoq pertama yang diikuti dengan hadirin yang hadir malam itu. Paqmaccoq itulah yang menjadi awal pertanda bahwa Gerakan Donasi Untuk Pembangunan Gerbang Barlop telah resmi dibuka.

Uang kertas nominal mulai 5 ribu-an sampai 50 ribu-an memadati kappar malam itu. Sebuah wujud kepedulian dan rasa cinta pada sosok Baharuddin Lopa, Pendekar Hukum dari Mandar. Sosok beliau tidak saja menjadi kebanggaan Mandar, tapi sekaligus satu-satunya manusia Indonesia yang concern dan fokus pada penegakan supremasi hukum di Indonesia. Beliau menjadi inspirasi bagi setiap generasi Mandar. Sosok beliau tidak saja dilisan tuliskan oleh orang Mandar, tapi Indonesia.

Acara SaliliMANDAR malam itu benar-benar menjadi bara dan membakar semangat sipamandar dan melecut jiwa untuk satu dalam ikatan buhul passemandaran. Hal itu terbaca dalam sesi acara beatle kalindaqdaq dan deklamasi puisi Mandar berjudul "Masih adakah Mandarku" Karya Nur Dahlan Jirana (almarhum adalah Penulis dan Sastrawan Mandar, Pendiri dan Pembina komunitas sastra Todilaling Campalagian).

GERAKAN DONASI

Setelah malam SaliliMANDAR di Makassar itu, gerakan donasi terus digalakkan oleh teman-teman mahasiswa di Makassar, ratusan bahkan jutaan telah berhasil kami kumpulkan dari program ini. Lokasi dan pelaksana kegiatan telah mantap, calon donastur masih sangat banyak untuk kami ajak menjadikan gerbang ini sebagai ladang amal, termasuk Darmansyah, Ketua DPRD Majene yang tidak saja berdonasi tapi sekaligus siap menjadi penanggung jawab penggalangan dana di lingkup Kabupaten Majene, karena menurut beliau, Pak Barlop adalah Tokoh nasional yang sekaligus menjadi Bupati pertama yang dicatat dalam sejarah Kabupaten Majene. Desain Gerbang juga sudah ada dan kami posting di media sosial. Tinggal pelaksanaannya saja yang mau ditentukan. Kepada para pembaca dapat menyampaikan informasi, saran dan kritiknya kepada kami. Begitu juga jika ingin berdonasi untuk Gerbang ini bisa langsung menghubungi kami via Facebook: Muhammad Munir ToMandar. PIN BB 2653FE37 atau
email: galerikopicoqboq@gmail.com Blog: galerikopicoqboq.blogspot.com.

(Penulis adalah Joaq Appeq Jannangang dan Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Provinsi Sulawesi Barat).

on Mei 04, 2016 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Budaya, Cagar Budaya, Literasi, Pemerintahan, Sejarah, Situs, Tokoh
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

BLOG PRIBADI MUHAMMAD MUNIR

PUSAKAKU (Pusat Studi Sosial dan Kajian Kebudayaan)
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Februari (2)
      • ▼  Feb 10 (1)
        • PROFIL SINGKAT ||KH.Mahmoeddin Atjo Kanna Marilalalng
      • ►  Feb 02 (1)
    • ►  Januari (4)
      • ►  Jan 26 (1)
      • ►  Jan 16 (1)
      • ►  Jan 15 (2)
  • ►  2025 (124)
    • ►  Desember (8)
      • ►  Des 28 (1)
      • ►  Des 27 (1)
      • ►  Des 21 (1)
      • ►  Des 16 (1)
      • ►  Des 14 (1)
      • ►  Des 06 (1)
      • ►  Des 04 (2)
    • ►  November (9)
      • ►  Nov 26 (1)
      • ►  Nov 25 (1)
      • ►  Nov 19 (1)
      • ►  Nov 18 (2)
      • ►  Nov 16 (1)
      • ►  Nov 15 (1)
      • ►  Nov 14 (1)
      • ►  Nov 08 (1)
    • ►  Oktober (9)
      • ►  Okt 29 (1)
      • ►  Okt 28 (1)
      • ►  Okt 26 (2)
      • ►  Okt 12 (1)
      • ►  Okt 08 (2)
      • ►  Okt 06 (1)
      • ►  Okt 05 (1)
    • ►  September (2)
      • ►  Sep 16 (1)
      • ►  Sep 04 (1)
    • ►  Agustus (6)
      • ►  Agu 21 (1)
      • ►  Agu 20 (1)
      • ►  Agu 16 (1)
      • ►  Agu 14 (1)
      • ►  Agu 13 (2)
    • ►  Juli (37)
      • ►  Jul 28 (2)
      • ►  Jul 27 (2)
      • ►  Jul 24 (1)
      • ►  Jul 23 (1)
      • ►  Jul 22 (2)
      • ►  Jul 21 (1)
      • ►  Jul 20 (2)
      • ►  Jul 19 (5)
      • ►  Jul 18 (3)
      • ►  Jul 17 (1)
      • ►  Jul 14 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 12 (3)
      • ►  Jul 11 (3)
      • ►  Jul 10 (2)
      • ►  Jul 09 (2)
      • ►  Jul 08 (1)
      • ►  Jul 07 (2)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 28 (1)
      • ►  Jun 27 (2)
      • ►  Jun 26 (4)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (1)
      • ►  Jun 22 (1)
      • ►  Jun 21 (1)
      • ►  Jun 19 (2)
      • ►  Jun 18 (1)
      • ►  Jun 17 (1)
    • ►  Maret (2)
      • ►  Mar 18 (1)
      • ►  Mar 05 (1)
    • ►  Februari (15)
      • ►  Feb 26 (1)
      • ►  Feb 21 (2)
      • ►  Feb 20 (3)
      • ►  Feb 18 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
      • ►  Feb 12 (1)
      • ►  Feb 11 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 04 (3)
      • ►  Feb 02 (1)
    • ►  Januari (20)
      • ►  Jan 30 (1)
      • ►  Jan 29 (1)
      • ►  Jan 25 (1)
      • ►  Jan 24 (1)
      • ►  Jan 18 (1)
      • ►  Jan 17 (1)
      • ►  Jan 16 (1)
      • ►  Jan 14 (2)
      • ►  Jan 12 (1)
      • ►  Jan 11 (3)
      • ►  Jan 10 (2)
      • ►  Jan 06 (1)
      • ►  Jan 03 (3)
      • ►  Jan 02 (1)
  • ►  2024 (180)
    • ►  Desember (10)
      • ►  Des 31 (1)
      • ►  Des 19 (2)
      • ►  Des 16 (3)
      • ►  Des 10 (1)
      • ►  Des 09 (1)
      • ►  Des 07 (1)
      • ►  Des 06 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 12 (2)
    • ►  September (21)
      • ►  Sep 29 (2)
      • ►  Sep 27 (1)
      • ►  Sep 26 (1)
      • ►  Sep 25 (1)
      • ►  Sep 24 (1)
      • ►  Sep 20 (7)
      • ►  Sep 19 (1)
      • ►  Sep 18 (1)
      • ►  Sep 17 (1)
      • ►  Sep 02 (3)
      • ►  Sep 01 (2)
    • ►  Agustus (23)
      • ►  Agu 30 (1)
      • ►  Agu 29 (1)
      • ►  Agu 26 (6)
      • ►  Agu 12 (1)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 06 (3)
      • ►  Agu 05 (4)
      • ►  Agu 04 (1)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (3)
    • ►  Juli (8)
      • ►  Jul 31 (2)
      • ►  Jul 30 (1)
      • ►  Jul 28 (2)
      • ►  Jul 27 (1)
      • ►  Jul 20 (2)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 15 (1)
    • ►  April (22)
      • ►  Apr 23 (2)
      • ►  Apr 22 (1)
      • ►  Apr 20 (1)
      • ►  Apr 15 (1)
      • ►  Apr 13 (1)
      • ►  Apr 12 (2)
      • ►  Apr 09 (1)
      • ►  Apr 08 (3)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 04 (2)
      • ►  Apr 03 (2)
      • ►  Apr 02 (1)
      • ►  Apr 01 (2)
    • ►  Maret (60)
      • ►  Mar 31 (2)
      • ►  Mar 30 (1)
      • ►  Mar 28 (2)
      • ►  Mar 27 (3)
      • ►  Mar 26 (4)
      • ►  Mar 25 (3)
      • ►  Mar 24 (2)
      • ►  Mar 23 (1)
      • ►  Mar 22 (4)
      • ►  Mar 21 (2)
      • ►  Mar 20 (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 18 (2)
      • ►  Mar 17 (2)
      • ►  Mar 16 (1)
      • ►  Mar 15 (1)
      • ►  Mar 14 (1)
      • ►  Mar 13 (1)
      • ►  Mar 12 (1)
      • ►  Mar 11 (2)
      • ►  Mar 10 (2)
      • ►  Mar 09 (1)
      • ►  Mar 08 (3)
      • ►  Mar 07 (2)
      • ►  Mar 06 (1)
      • ►  Mar 05 (3)
      • ►  Mar 04 (1)
      • ►  Mar 03 (4)
      • ►  Mar 02 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (32)
      • ►  Feb 29 (2)
      • ►  Feb 28 (3)
      • ►  Feb 27 (2)
      • ►  Feb 26 (1)
      • ►  Feb 25 (1)
      • ►  Feb 17 (3)
      • ►  Feb 12 (1)
      • ►  Feb 08 (2)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 05 (2)
      • ►  Feb 04 (7)
      • ►  Feb 03 (4)
      • ►  Feb 02 (3)
  • ►  2023 (9)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 17 (1)
      • ►  Des 10 (1)
    • ►  November (4)
      • ►  Nov 14 (1)
      • ►  Nov 13 (1)
      • ►  Nov 12 (1)
      • ►  Nov 06 (1)
    • ►  Agustus (1)
      • ►  Agu 11 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 01 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 07 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 08 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 22 (1)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 20 (1)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 02 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 30 (1)
  • ►  2019 (6)
    • ►  September (2)
      • ►  Sep 21 (2)
    • ►  Mei (4)
      • ►  Mei 10 (4)
  • ►  2018 (3)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 06 (3)
  • ►  2017 (116)
    • ►  Agustus (3)
      • ►  Agu 06 (1)
      • ►  Agu 02 (2)
    • ►  Juni (2)
      • ►  Jun 20 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 11 (2)
    • ►  Maret (13)
      • ►  Mar 18 (2)
      • ►  Mar 14 (2)
      • ►  Mar 13 (1)
      • ►  Mar 07 (3)
      • ►  Mar 05 (3)
      • ►  Mar 03 (2)
    • ►  Februari (29)
      • ►  Feb 27 (3)
      • ►  Feb 25 (1)
      • ►  Feb 24 (2)
      • ►  Feb 18 (1)
      • ►  Feb 17 (6)
      • ►  Feb 14 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 08 (1)
      • ►  Feb 07 (1)
      • ►  Feb 05 (3)
      • ►  Feb 04 (4)
      • ►  Feb 03 (1)
      • ►  Feb 02 (2)
      • ►  Feb 01 (1)
    • ►  Januari (67)
      • ►  Jan 31 (1)
      • ►  Jan 29 (1)
      • ►  Jan 28 (4)
      • ►  Jan 27 (1)
      • ►  Jan 26 (1)
      • ►  Jan 22 (5)
      • ►  Jan 21 (4)
      • ►  Jan 20 (4)
      • ►  Jan 19 (4)
      • ►  Jan 18 (2)
      • ►  Jan 17 (3)
      • ►  Jan 16 (8)
      • ►  Jan 14 (11)
      • ►  Jan 13 (9)
      • ►  Jan 10 (3)
      • ►  Jan 09 (3)
      • ►  Jan 07 (2)
      • ►  Jan 04 (1)
  • ►  2016 (85)
    • ►  Desember (20)
      • ►  Des 31 (4)
      • ►  Des 30 (1)
      • ►  Des 25 (3)
      • ►  Des 23 (3)
      • ►  Des 22 (3)
      • ►  Des 21 (1)
      • ►  Des 18 (5)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 19 (2)
    • ►  September (8)
      • ►  Sep 29 (1)
      • ►  Sep 28 (1)
      • ►  Sep 26 (3)
      • ►  Sep 17 (3)
    • ►  Agustus (1)
      • ►  Agu 17 (1)
    • ►  Juli (4)
      • ►  Jul 12 (2)
      • ►  Jul 06 (2)
    • ►  Juni (13)
      • ►  Jun 25 (1)
      • ►  Jun 15 (1)
      • ►  Jun 14 (4)
      • ►  Jun 13 (2)
      • ►  Jun 10 (2)
      • ►  Jun 03 (2)
      • ►  Jun 01 (1)
    • ►  Mei (31)
      • ►  Mei 20 (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
      • ►  Mei 16 (2)
      • ►  Mei 13 (1)
      • ►  Mei 12 (3)
      • ►  Mei 10 (1)
      • ►  Mei 07 (2)
      • ►  Mei 05 (2)
      • ►  Mei 04 (8)
      • ►  Mei 03 (1)
      • ►  Mei 02 (2)
      • ►  Mei 01 (5)
    • ►  April (6)
      • ►  Apr 29 (6)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Mei (14)
      • ►  Mei 24 (14)
  • ►  2013 (16)
    • ►  September (16)
      • ►  Sep 13 (3)
      • ►  Sep 11 (5)
      • ►  Sep 10 (5)
      • ►  Sep 08 (3)

Label

  • Annangguru
  • Artikel
  • Bahasa
  • Budaya
  • Budayaa
  • Buku
  • Busaya
  • Cagar Budaya
  • Cakrawala
  • Cerpen
  • Donasi Buku
  • Dunia
  • Ensiklopedia
  • Fokoh
  • Hiburan
  • Hikmah
  • Hukum
  • Jejak
  • JUAL BELI
  • Kamus
  • Kesenian
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Legislasi
  • Lingkungan
  • Literaai
  • Literasi
  • Literasi.
  • Litersi
  • Loterasi
  • Moderasi Beragama
  • Musik Tradisi
  • Napak Tilas
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Opinj
  • Parlemen
  • Pemerintahan
  • Pemilu
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pidato
  • Pilkada
  • Pilpres
  • Politik
  • Politisi
  • Politki
  • Polotik
  • PRODUK
  • Puisi
  • Pustaka
  • Pustaka Mandar
  • Religi
  • Resensi
  • Sastra
  • Sejarah
  • Seni
  • Situs
  • Srjarah
  • Sulawesi
  • Tokoh
  • Tradisi
  • UMKM
  • Umum
  • Wirausaha

Laporkan Penyalahgunaan

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

  • Beranda

PROFIL SINGKAT ||KH.Mahmoeddin Atjo Kanna Marilalalng

Postingan Populer

  • DUA SIMPUL KEKUATAN SOSIAL BERTEMU
    Oleh : Almadar Fattah  Konsep "dua simpul kekuatan sosial bertemu" antara ilmiah dan alamiah menggambarkan harmoni ant...
  • CATATAN AKHIR || DISKUSI DAENG PALULUNG
    Catatan Darmansyah  Pelaut ulung sekalipun, bila berbulan-bulan mengarungi samudra - tentu merindukan daratan, dan ingin sejena...
  • SULSILAH, TEKNOLOGI DAN REALITAS
    Oleh : Bram Pallatano Di masa lalu, silsilah adalah warisan yang dijaga dengan penuh kehati-hatian dan kesakralan. Setiap nama, ...
Tema Perjalanan. Diberdayakan oleh Blogger.