Kamis, 04 April 2024

BUNYI MANDAR ITU APA? (Bagian 1)

BUNYI MANDAR ITU APA? (Bagian 1)
(Loa Dalam Makna Ganda)
Oleh: Sahabuddin Mahganna

Syuman Saeha menggelitik dengan pertanyaan, lalu saya menjadikan judul di atas, ini menarik. Mandar yang boleh jadi melakukan atas dasar aksi, melakukan tindakan, atau gerakan spekulatif, lalu menjadi nyata dan serius dalam menjalaninya, sebagai percobaan untuk menemukan sebuah kehidupan. Aksi dalam hal ini bukan dipahami atau dibatasi pada bentuk permainan dan pertunjukan saja, melainkan tindak atau laku secara langsung, terbuka dan terpercaya. Aksi-aksi itu kemudian nyata hingga menemukan kebenaran.

Ketika pendahulu Mandar melakukan ekspedisi, membuka lahan baru dan mencoba untuk menerapkan tata nilai dan aturan, kemudian disepakati sebagai jalan untuk menentukan sikap orang Mandar. Tentu saya akan mengarah atau melibatkan orang dalam memahami bunyi Mandar, meski ini sangat rumit menjelaskan dan sedikit dilema. Pelibatan dalam hal ini, orangnya yang berbunyi, begitupun jika menaruh kata-di-“jelas menadai wilayah”. Siapa orang Mandar? dan di mana wilayahnya? Jika ada orang Mandar menempati suatu wilayah maka tentu punya bahasa.

Busrah Basir ditemani dengan rekannya Bustan Basir, telah menafsir bahasa Mandar adalah suatu bunyi, dalam tulisnya secara teknis merujuk pada catatan Kridalaksana dalam Abdul Chaer (2003), bahwa bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Lanjut ia tambahkan bahwa bunyi tersebut dapat bersumber pada gesekan atau benturan benda-benda, alat suara pada binatang dan manusia, namun menurutnya terjadi pengklasifikasian terhadap bunyi, bahwa yang terjadi pada manusia atau lambing bahasa adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, dan jika tidak dihasilkan dalam ucap pada manusia, bukan kategori bunyi bahasa. 

Kalimat-kalimat dalam bahasa Mandar yang diucapkan kadang kita temukan bermakna ganda, sebut saja ketika tinjauannya berada pada dua pernyataan pragmatik oleh George Yule (1996), bahwa pragmatik adalah suatu kajian bahasa yang berkenaan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi atau tidaknya yang dikomunikasikan, kemudian yang kedua bahwa pragmatik adalah telaah makna tuturan (utterence), yang menggumuli makna yang terikat oleh konteks (konteks-Dependent). Dari pragmatik ini, seakan bunyi orang Mandar adalah bunyi berbau sikap dan sifat. 

Tindak tutur orang Mandar dalam Lokusi yakni tindak tutur yang dilakukan untuk melakukan sesuatu, merupakan makna dasar dari tindak tutur tersebut (The Act Of Saying Something). Sebagai contoh Mammisi Uwai ( Air ini Manis) tidak ada maksud apa-apa sekadar menyatakan sesuatu itu. Kemudian Ilokusi berkata sesuatu, atau mengatakan sesuatu, sekaligus menindakkan sesuatu (The Act Doing Something). Pada kaitan ini, boleh jadi kalimat “Nawwatomitia ri’e pelloana to Mandar” adalah bahasa yang bermakna (Ini Bunyi Orang Mandar) sementara kata (Loa/Pau) dan lakunya orang Mandar adalah Kebenaran.

Pandangan ini, ilokusi tidak semata melihat loa atau Pau sebagai ucapan dalam arti secara langsung, melainkan sebagai pemaknaan atau bunyi tak terlihat, atau hanya pendengaran yang mampu menangkapnya kemudian menelaah apa maksud perkataan itu. Sementara dalam audio, manusia harus puas pada kepentingan rasa, sama ketika meninjau kebenaran sikap dan sifat, sasarannya kembali kepada rasa. Dan dengan pendekatan rasa inilah, memahami loa secara ilokusi sebagai sesuatu yang abstrak. Loa dalam pandangan sikap dan sifat, itu sangat tergantung pada bunyi lontaran, tidak bisa diterjemahkan atau dimengerti secara langsung, namun rasalah yang menentukan, sehingga boleh jadi pemahaman loa secara ilokusi dalam kalimat “nawwatomi tia ri’e pelloanan to Mandar”, ketentuannya merujuk pada perlakukan sikap dan sifat yang lurus, sama seperti Loa atau bunyi yang tak pernah ditemukan kebohongannya. (bersambung)

Rabu, 03 April 2024

USMAN SUIL || RENUNGAN RAMADHAN (24)


Bedoalah! Niscaya Aku kabulkan

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186)

Pada ayat sebelumnya (qs al-baqarah: 183-185) berbicara terkait puasa kemudian di ayat berikutnya berbicara tentang doa (qs al-baqarah: 186) Tidak ada momen yang paling membahagiakan ketika tercapai apa yang kita inginkan namun faktanya kita selalu merasa seakan-akan doa kita masih sangat jauh untuk dikabulkan atau bahkan merasa tidak akan pernah di acc oleh Allah Swt. Padahal ayat diatas kejelasan akan tetap terkabulkan apa kemauan kita.

Betulkah setiap doa kita dikabulkan? Berdasarkan ayat diatas, pasti doa kita dikabulkan tapi kok rasa-rasanya puluhan doa kita belum ada yang diijabah? Kita pasti ragu untuk menjawab bahwa setiap keinginan sudah pasti dikabulkan.

Ada satu percakapan menarik antara Ali bin Abi Thalib dengan sekelompok orang yang tidak mau pergi berjihad. Ali bin Abi Thalib bertanya kepada mereka, "mengapa kalian tidak pergi berjuang membantu pasukan muslimin dan bergabung kedalam barisan mereka?" Mereka menjawab, "kami lebih suka beribadah dari pada berperang; kami tidak mau tangan kami kotot dan ternoda oleh darah manusia." Sebagian yang lain menjawab: "kami akan berkumpul di mesjid dan berdoa untuk kemenangan pasukan muslimin; bukankah doa juga merupakan jalan keluar dari masalah? Nah kami akan menbantu para pahlawan Islam di medan laga dengan doa."

Dalam ilmu ushul, terdapat pembahasan terkait aham dan muhim. Aham berarti "sangat penting" sementara muhim artinya "penting". Sangat penting lebih didahulukan tentunya dari pada penting. Jihad fi sabilillah umumnya berhukum fardhu kifayah sementara doa adalah amalan yang mustahab. Jika dibandingkan antara jihad dengan doa maka jihad termasuk dalam ketegori aham (sangat penting) dari pada doa yang statusnya muhim (penting). Doa itu penting tapi jihad lebih penting lagi.

Sebenarnya yang ingin saya sampaikan disini terkait riwayat diatas adalah ada kalanya apa yang kita minta dikabulkan oleh Allah dan adakalanya juga tidak dikabulkan dan jika doa kita tidak dikabulkan pasti diganti dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang kita minta. Kenapa demikian, karena kita berdoa tidak terlepas juga dari kehendak-Nya untuk kita berdoa artinya karena Allah sendirilah yang menggerakan hati kita untuk berdoa kepada-Nya.

Kita selalu merasa doa-doa kita tidak dikabulkan padahal urgensi dari pada sebuah doa kita adalah mendahulukan meminta yang lebih penting dari pada yang penting. Tentu Allah mengabulkan jika kita minta yang lebih penting. Artinya kalau doa kita tidak dikabulkan berarti kita meminta sesuai keinginan bukan sesuai dengan kebutuhan.

Berdasar pada pengertian ini, apabila kita berdoa dengan cara yang benar alias meminta sesuai kebutuhan maka pasti dikabulkan toh sebelum meminta pun kebutuhan kita sudah dipenuhi oleh Allah. Ketahuilah bahwa Dia akan mengabulkan doa hamba-Nya sesuai porsi kebutuhannya bukan sesuai porsi keinginan. Allah mengabulkan sesuai keinganan-Nya bukan sesuai keinginan hamba-Nya. 

Jadi, berdoa sebenarnya menyesuaikan keinginan kita dengan keinginan-Nya bukan memaksakan keinginan kita dan menabrak keinginan-Nya (itu tidak mungkin). Ali bin Abi Thalib berkata: "bersyukurlah ketika doamu dikabulkan karena Allah memenuhi keinginanmu dan bersyukurlah ketika doamu tidak dikabulkan karena Allah menghendaki keinginan-Nya." 

Dapat dipastikan akan dikabulkannya doa apabila kita meminta dengan cara yang benar, yakni dengan makrifat, dengan taqarrub dan dengan kehadiran kalbu tetapi sebaliknya apabila dengan riya atau ingin pamer, hanya sekedar keinginan syahwat maka tidak ada jaminan untuk diijabah sebab Allah begitu menyayangi hamba-Nya. Ali bin Abi Thalib pernah ditanya: "mengapa sebagain doa tidak dikabulkan?" Ali menjawab: "sebab tidak dikabulkannya sebagian doa adalah adanya aib dalam perbuatan kalian." Wallahu a'lam bisshiwab.

Doa Hari ke 24

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ فِيْهِ مَا يُرْضِيْكَ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِمَّا يُؤْذِيْكَ وَ أَسْأَلُكَ التَّوْفِيْقَ فِيْهِ لأَنْ أُطِيْعَكَ وَ لاَ أَعْصِيَكَ يَا جَوَّادَ السَّائِلِيْنَ

Artinya :
”Ya Allah aku memohon pada-Mu di bulan yang suci ini dengan segala sesuatu yang medatangkan keridhaan-Mu, dan aku berlindung dengan-Mu dari hal-hal yang mendatangkan kemarahan-MU, dan aku memohon kepada-MU kemampuan untuk mentaati-MU serta menghindari kemaksiatan terhadap-MU, Wahai Pemberi para peminta.

USMAN SUIL || RENUNGAN RAMADHAN (23)


Semangat Konsumtif Umat

Life style menjadi tradisi tertentu di bulan ramadhan menjelang idul fitri. Terutama dari kalangan perempuan plus yang sudah punya anak. Meskipun puasa itu belajar manahan dari segala hal yang sifatnya kesenangan fisikal tapi hal yang satu ini justru sangat menggiurkan untuk tetap nimbrung berbelanja. 

Apa yang membuat kebiasaan berbelanja ini sangat menggoda? Tentunya tidak bisa dipungkiri bahwa televisi, media promosi di media sosial seperti facebook, tiktok, shoopie dan media soial lainnya ikut andil membentuk budaya konsumtif masyarakat. Budaya konsumtif ini membentuk pada bukan lagi apa yang dibutuhkan (needs) tetapi apa yang diinginkan (wants).

Dari budaya konsumtif ini telah membentuk otak kita dari iklan-iklan produk konsumtif dengan senantiasa memikirkan bagaimana cara memperoleh barang yang diinginkan apalagi iklan promosi barang hari ini sangat kreatif dan sangat menggoda. Rasa-rasanya tiada hari tanpa berbelanja, tiada hari tanpa membeli.

Sekali lagi, sekalipun kita pahami bahwa puasa mendidik kita untuk berprilaku sederhana, tidak berlebih-lebihan namun nyatanya tetap saja semangat untuk terus berbelanja ada. Ini tentunya paradoks sekaligus kontradiktif dengan nilai semangat puasa ramadhan.

Al-qur'an telah memperingati kita untuk tidak membudayakan sifat berlebih-lebihan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٍ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 31)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) , konsumtif artinya bersifat konsumsi, yaitu hanya memakai dan tidak menghasilkan sendiri. Jadi, prilaku konsumtif adalah prilaku seseorang yang suka berlebih-lebihan, sulit membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan, berbelanja kepada sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting, pengontrolan pada nafsu belanja tidak bisa diatasi. 

Sikap berlebih-lebihan dalam hal berbelanja nampak jelas menjelang lebaran. Faktornya karena waktu lebaran adalah momentum saling pamer memamer. Lihat saja di waktu lebaran sikap kita seperti apa. Pasar rame membludak, rumah-rumah pada di renovasi, pakaian baru. Intinya di hari lebaran kita bisa tampil seelegan mungkin di depan keluarga dan orang lain.  Wallahu a'lam bisshowab.

Doa Hari ke 23 

اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الذُّنُوْبِ وَ طَهِّرْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْعُيُوْبِ وَ امْتَحِنْ قَلْبِيْ فِيْهِ بِتَقْوَى الْقُلُوْبِ يَا مُقِيْلَ عَثَرَاتِ الْمُذْنِبِيْنَ

Artinya :
”Ya Allah, sucikanlah aku dari dosa-dosa dan bersihkanlah diriku dari segala aib/ kejelekan.Tanamkanlah ketakwaan di dalam hatiku. Wahai Penghapus kesalahan orang-orang yang berdosa.


Selasa, 02 April 2024

USMAN SUIL || RENUNGAN RAMADHAN (22)

Bercita-cita jadi Pengemis

Saya yang statusnya sebagai seorang suami tentu bahagia ketika melihat istrinya bahagia. Untuk sedikit menyenangkan istri tercinta, kuajaklah pergi ngabuburit diluar sambil nunggu buka puasa berdua layaknya sepasang kekasih remaja. Ya hitung-itung dapat pahala nyenangin istri. 

Setelah bukber bareng istr,i ngobrol sebentar, minum kopi dan ngerokok sebatang. Kuajaklah balik pulang karena sudah menunjukkan arah jarum jam di pukul 19.13. Berusaha menikmati perjalanan. Tiba-tiba mataku tertuju ke seseorang yang mendorong gerobaknya yang berisi sampah.

Aku singgah sebentar lalu perhatiin. Kelihatannya beliau itu sudah lelah karena sudah cukup tua. Setiap kali ia menemukan tempat sampah, ia kesitu dan mencari-cari sesuatu yang mungkin masih bisa ia manfaatkan.

Sekian lama aku perhatikan di sepanjang jalan. Takut kehilangan jejaknya, karena sudah  lumayan jauh dari pandangangan, aku pun segera ngajak istri untuk mengikutinya dari belakang. Dari belakang kuucapkan salam ke belau sambil memberinya uang yang nominalnya tidak seberapa. Bukannya senang tapi aku menyesal karena tidak bisa memberi banyak.

Aku salut sama orang tua itu, kerja banting tulang padahal umurnya sudah lumayan tua, kulitnya sudah mulai keriput. Ia memang cukup tua tapi ia tetap menjunjung tinggi "tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah."

Sebenarnya bukan cerita diatas yang ingin aku tekankan disini. Tapi sesekali kita menyorot ke kehidupan pengemis. Di kota-kota, menjadi pengemis termasuk pekerjaan yang menjadi alternatif menarik bagi yang merasa tidak memiliki keahlian pada suatu pekerjaan.

Di Kota, coba sesekali kita perhatikan di sekitaran mal-mal, restouran-restoran, di lampu merah, di warung-warung rame pembelinya, di tempat-tempat wisata. Begitu banyak pengemis yang sebenarnya kalau dilhat postur tubuhnya masih kuat kerja dan umurnya juga masih terbilang muda. 

Menjadi pengemis masih mental dominan di Negeri ini. Sebagian dari kita bangga menjadi pengemis, di kota atau pun di pelosok desa ribuan orang antre berjam-jam demi mendapatkan sumbangan, sedekah, THR atau semacamnya. Dan ini tidak terhitung dari golongan usia sebab tua, muda semuanya ikut antri.

Di bulan ramadhan adalah momentum paling pas untuk para pengemis karena mereka tahu kalau di bulan ini adalah bulan ibadah, bulan dimana orang-orang berlomba memamerkan kebabaikan-kebaikannya. Di bulan ramadhan termasuk bulan pengemis yang mengalami peningkatan pendapatan yang cukup signifikan.

Di tahun 2023 Kompas.com berhasil merangkum 9 pengemis kaya. Para pengemis ini rata-rata memiliki ratusan juta bahkan milyaran rupiah. Terdapat pengemis mampu menghasilkan uang 15 juta rupiah per bulannya. Pertanyaannya, mengapa banyak memilih hidup menjadi pengemis? Karena menjadi pengemis merupakan pekerjaan paling ringan, tidak buang banyak tenaga. Cukup dengan memelas saja, pasang muka murung dan tidak butuh banyak keahlian sudah mampu menghasilkan banyak uang.

Bukan maksud mengkritisi pengemis, tapi lebih kepada kejelian kita melihat, memahami sejatinya pengemis itu seperti apa. Banyak memilih jalan pengemis bukan karena benar-benar butuh dan tidak ada jalan lain tetapi hanya sekedar memilih jalan pintas memenuhi kebutuhannya. Pengemis seperti ini merendahkan dirinya serendah-rendahnya sehingga harga dirinya selalu dikali nol alias nihil. Wallahu a'lam bisshowab.

Doa Hari ke 22

اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ فِيْهِ أَبْوَابَ فَضْلِكَ وَ أَنْزِلْ عَلَيَّ فِيْهِ بَرَكَاتِكَ وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِمُوْجِبَاتِ مَرْضَاتِكَ وَ أَسْكِنِّيْ فِيْهِ بُحْبُوْحَاتِ جَنَّاتِكَ يَا مُجِيْبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّيْنَ

Artinya :
”Ya Allah bukakanlah lebar –lebar pintu karunia-Mu di bulan ini dan curahkan berkah-berkah-Mu Tempatkan aku di tempat yang membuat-Mu ridho padaku. Tempatkan aku di dalam Surga-Mu. Wahai Yang Maha menjawab doa orang yang dalam kesempitan.


Senin, 01 April 2024

AHMAD M. SEWANG || DARWIS HAMZAH YANG SAYA KENAL


MUH. DARWIS HAMSAH YANG SAYA KENAL
(Disampaikan pada Hari Haul almarhum 2 April 2024)

Di dunia Barat lebih banyak dikenal Harlah atau Peringatan hari lahir seseorang, untuk mengingatkan hari lahir seseorang dan apa yang perlu dilakukan dalam memaknai hari lahir itu. Sedang di kalangan masyarakat muslim yang banyak dilakukan hari Haul (Hari ulang Tahun Kematian Seseorang). Haul almarhum untuk mengingatkan jasa apa yang perlu diingat dan dilanjutkan yang pernah almarhum ukir dimasa hidupnya yang perlu dilanjutkan dan dikembangkan.

Semakin banyak jasa seseorang berbanding lurus dengan panjangnya waktu hari haul itu. Baru-baru ini DPP IMMIM memperingati satu abad H. Padli luran karena beliau dianggap meninggalkan jasa besar, yaitu perlunya persatuan umat di tengah-tengah masyarakat sedang berpecah belah dalam masalah furu. Perpecahan umat itu telah berlangsung sepanjang sejarah dimulai setelah era Nabi saw., yaitu terutama di era khulafah al Rasyidin. Jika Nabi berhasil mempersatukan umat pada Periode Madinah dari masyarakat yang hidup berkabilah-kabilah ke masyarakat ukhuwah. Di masyarakat sebelum Nabi mereka bangga hidup dalam berkabilah dan bersuku-suku. Sekarang di masyarakat Nabi bangga hidup dalam masyarakat ukhuwah atau persaudaraan, baik persaudaraan sesama muslim, persaudaraan sesama umat, dan persaudaraan sesama satu bangsa. Mengingat masyarakat yang dibangun Nabi di Madinah adalah masyarakat plural yang penduduknya berbagai agama: Islam, Yahudi, Kristen, dan paganism atau penyembah berhala. Masyarakat Madinah hidup bersuku-suku;  yaitu Hasraj  dan Aus. 

Mengingat jasa besar Nabi itu, maka setiap tahun diperingati Haulnya yang kita kenal Maulid. Walaupun disebut maulid artinya hari lahir, tetapi yang diperingati bukan hanya hari lahir tetapi meliputi seluruh perjuangan Nabi dari lahir sampai wafat. Kita baru saja memperingati hari maulid Nabi ke 1445 H.

Sekarang Muh. Darwis Hamsah muncul pertanyaan, apa jasa besar yang beliau tinggalkan? Almarhum di samping sebagai Ketua IMMIM Cabang Polmas juga sebagai Ketua SI Cabang Polmas. Beliau meneruskan perjuangan dan cita-cita Guru bangsa HOS Tjokroaminot yaitu:
Het hoogste kennisniveau, puur als puur monotheïsme, is net zo slim als slimme tactieken (Belanda).
“Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.”
Pesan ini sengaja saya tulis, walaupun aslinya dari  Tjoroaminoto. Tetapi saya langsung terima dari almarhum.
1. Setinggi-tinggi ilmu maksudnya jika ingin selamat dunia dan akhirat, maka milikilah ilmu pengetahuan (kata Ali bin Abi Thalib), 
2. Semurni-murni Tauhid, anda tidak akan pernah tersesat selama-lamanya, sedang,
3. Sepintar-pintar siasat, agar kita tidak pernah tertipu di dunia terutama politisi yang tidak bermoral. Inilah pesan universal yang langsung saya terima dari beliau ketika pelatihan di PGA Yapis Polewali saat itu, perlu diteruskan untuk generasi masa kini.

Wasalam,
Kompleks GPM, 2 April 2024

USMAN SUIL || RENUNGAN RAMADHAN (21)


Mudik ke Kampung Halaman

Mudik menjadi tradisi tahunan di Indonesia ketika menjelang bulan suci ramadhan atau menjelang hari raya idul fitri. Di bulan ramadhan orang-orang berlomba-lomba memesan tiket untuk pulang ke rumah. Baik itu tiket kereta ataupun tiket pesawat. Rupanya semakin jauh jarak perantauan seseorang dari kampung halamannya, semakin tinggi niatnya untuk mudik. Ya hitung-hitung kesempatan bersilaturrahmi dengan keluarga, tetangga dan teman-teman kampung.

Mudik berarti kembali ke kampung halaman, kembali ke tempat dimana kita pertama kali menghirup udara kehidupan, kembali ke tempat dimana kita pertama kali mengeluarkan suara tangisan, pertama kali membuka mata dan melihat orang-orang menyambut dengan senyum bahagia. Itulah kampung dimana kita dilahirkan akan tetap indah seribu kali lipat meskipun di tanah orang hujan rupiah, banjir emas.

Dalam mudik tentunya membutuhkan kesiapan mental dan fisik serta finansial yang cukup namun yang namanya kampung halaman menyimpang masa lalu atau tidak lebih dari sebuah memori yang menyenangkan dan tentunya juga tidak bisa ditakar-ditukar dengan harga apapum. Mudik memiliki kebahagiaannya tersendiri yang sulit dibahasakan.

Kalau tempat tinggal kita yang fana itu begitu kita rindukan sehingga melakukan berbagai macam cara untuk bermudik, lalu bagaimana dengan asal kita yang sebenarnya. Begitu bahagianya ketika mampu bermudik ke kampung halaman hakiki kita itu. Tapi nyatanya? Kita lupa jalan ke kampung halaman kita yang sebenarnya. Padahal sudah jelas kendaraan kita menempuh kesana adalah kematian. Sudah siapkah kita bermudik ke kampung halaman hakiki kita melalui kendaraan kematian?

Disini, bukan maksud meminta untuk cepat-cepat mati ya! Sama sekali bukan kesana maksud saya. Jangan salah paham nanti puasanya makruh. Tradisi mudik tentu layak dipelihara karena menjadi tradisi baik dan pertanda kasih sayang seseorang kepada orang tuanya, keluarga, teman-temannya dan juga kepada kampung halaman. Mudik menjadi wahana tali silaturrahmi tetap terjalin. Tapi lebih dari itu, ada mudik yang tentu lebih kita persiapkan yang melalui kendaraan kematian.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرًا لَّهُم ۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ
"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 110)

Mudik yang sebenarnya adalah perpulangan ke tempat sejati kita berasal. Puasa adalah pengajaran untuk mempersiapkan bekal perjalanan mudik menuju tempat kampung halaman kita yang sebenarnya. Allah sendiri mengakui bahwa umat Islam ini adalah umat terbaik. Oleh karena itu, tentunya kita berupaya semaksimal dan semampunya menjadi lebih baik agar tempat hakiki kita tidak kecewa ketika waktunya tiba kita dimudikkan kesisi-Nya. Iman dan takwa adalah bekal terbaik yang diajarkan dalam puasa agar mudik kita sempurna kesisi-Nya dan itulah yang telah diajarkan dalam ibadah puasa di bulan ramadhan. Wallahu a'lam bisshowab. 

Doa Hari ke 21

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ فِيْهِ إِلَى مَرْضَاتِكَ دَلِيْلاً وَ لاَ تَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ فِيْهِ عَلَيَّ سَبِيْلاً وَ اجْعَلِ الْجَنَّةَ لِيْ مَنْزِلاً وَ مَقِيْلاً يَا قَاضِيَ حَوَائِجِ الطَّالِبِيْنَ

Artinya :
Ya Allah, tuntunlah aku di bulan yang mulia ini untuk mendapat keridhaan-Mu, Dan janganlah adakan celah bagi syetan untuk menggodaku. Jadikan surga sebagai tempat tinggal dan bernaungku. Wahai yang memenuhi hajat orang-orang yang meminta.

Minggu, 31 Maret 2024

FAKTA TENTANG KA'BAH



"Pelafalan lengkap: al-Kaʿbah al-Musyarrafah (ٱلْكَعْبَة ٱلْمُشَرَّفَة)  -  populer dituturkan: Kaʿbah  -  baca: Kabbah  -  asal kata dari: Ka'bu  -  ejaan: Kabbu  -  arti: Kubus  -  bermakna: Mata kaki, tempat kaki berputar atau bergerak untuk melangkah || Lazim disebut: Kabbain  -  artinya: Dua mata kaki, mata bumi, sumbu bumi atau kutub putaran utara bumi ----- dalam dialek Hijaz, bahasa Arab di Kota Suci Makkah, Provinsi Makkah, Kerajaan Arab Saudi, Jazirah Timur Tengah."

Profesor Hussain Kamil, selaku Kepala Bagian Ilmu Bumi di Universtas Riyadh, Saudi Arabia ----- telah menemukan suatu fakta menghebohkan, bahwa sebenarnya kota suci 'Makkah adalah pusat dari bumi.' Pada mulanya, ia meneliti suatu cara untuk menemukan 'arah Kiblat' pada kota-kota besar di dunia. Selanjutnya, ia menarik garis pada peta dan setelah itu ia mengamati dengan seksama posisi ke tujuh (7) benua terhadap Makkah dan jarak masing-masing. Ia memulai untuk menggambar garis-garis sejajar untuk memudahkan proyeksi garis bujur dan garis lintang. Setelah dua (2) tahun dari pekerjaan sulit dan berat itu, ia terbantu oleh program-program komputer buat menentukan jarak-jarak benar dan variasi-varisi berbeda, serta banyak hal lainnya. Ia kagum dan takjub setelah menemukan sesungguhnya 'Makkah adalah pusat bumi.'

Lalu, mengapa Makkah disebut dalam Alquran dengan Ummul Quro? Mengapa juga Allah Subhanahu Wa Ta'alaa, menyebut daerah lain dan selain Makkah dengan kalimat: Ma Haulahaa?

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'alaa, dalam Alquranulkarim: “Demikianlah kami wahyukan kepadamu Alquran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura - arti: Penduduk Makkah dan penduduk negeri-negeri sekelilingnya.” Qur'an Surah: Asy-Syura, Ayat: 7.

Secara bahasa ‘Ummul ----- artinya: Ibu adalah sosok menjadi sumber keturunan.' Sehingga Makkah disebut: Ummul Qura - berarti: Makkah adalah sumber dari semua negeri lain.

Pertanyaan dan kajian, pada akhirnya sedikit demi sedikit mulai terjawab melalui berbagai penemuan ilmiah. Sesungguhnya, tahapan eksprimen tentang hal ini sudah dipublikasikan pada tahun 1978 Masehi, melalui keterangan Dr. Husain dan hasil studi kemudian diterbitkan pula diberbagai majalah sains dikawasan Barat.

Bersama rekan-rekannya, Dr. Husain menemukan bahwa ditilik dari sudut geografis (ilmu bumi) dan geologis (ilmu tanah) terbukti bahwa Makkah adalah pusat bumi. Kemudian pada tahun 2009 Masehi, hasil penemuan ilmiah itu kembali dipublikasikan dalam konferensi ilmiah bertajuk 'Makkah sebagai Pusat Bumi: Teori dan Praktik.' Konferensi digelar di Kota Dhoha, Negara Qatar ----- memperkuat hasil penemuan bahwa Makkah adalah pusat bumi. Selanjutnya, Konferensi menelurkan rekomendasi berisi ajakan, agar umat Islam mengganti acuan waktu dunia selama ini merujuk pada Greenwich di Negara Inggris, menjadi Makkah di Negara Arab Saudi.

Beragam argumentasi ilmiah membuktikan bahwa 'wilayah nol bujur sangkar melalui kota Makkah' dan tidak melewati Greenwich di Negara Inggris. Dan Kota Suci Makkah ----- berada di titik lintang persis lurus dengan titik magnetik di Kutub Utara.'

Kondisi ini tak dimiliki oleh kota-kota lainnya, bahkan Greenwich ditetapkan sebagai meridian nol. Konon, GMT - akronim: Greenwich Mean Time, dipaksakan ----- ketika mayoritas negeri berada dibawah jajahan dan kolonialisme bangsa Inggris. Dan penemuan ilmiah tentang fakta Kota Suci Makkah ----- sebagai pusat bumi diterapkan, mudah bagi setiap orang untuk mengetahui waktu shalat, sekaligus akan mengakhiri kontroversi lama dimulai empat (4) dekade lalu tentang rujukan waktu dunia.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'alaa, menyiratkan fakta: 'Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan energi.' Qur'an Surah: Ar-Rahman, Ayat: 33.

"Aqthar ----- adalah bentuk jamak dari kata: Qutr - berarti: Diameter dan ia mengacu pada langit dan bumi mempunyai banyak diameter." Hal diameter lapisan-lapisan langit itu di atas diameter bumi (tujuh lempengan bumi). Jika Makkah berada ditengah-tengah bumi, maka itu berarti: Makkah juga berada di tengah-tengah lapisan langit. Selain itu ada tertulis dalam Hadist Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, bahwasanya: "Masjidil Haram di Makkah, tempat Ka'bah berada di tengah-tengah tujuh lapisan langit dan tujuh lapisan pembentuk bumi."

Informasi terkait Ka'bah, tidak atau belum kita ketahui sebelumnya, yaitu:

-

Makkah ----- adalah wilayah memiliki gravitasi paling stabil.

-

Tekanan gravitasinya tinggi dan disitulah berpusatnya kebisingan membangun yang tak bisa didengar oleh telinga.

-

Tekanan gravitasi tinggi berdampak langsung pada sistem imun tubuh untuk bertindak sebagai pertahanan dari segala serangan penyakit.

-

Gravitasi tinggi sama dengan elektron ion negatif berkumpul, maka disitu tinggi sama dengan doa akan maqbul, karena tempat gema atau ruang dalam waktu bersamaan.

-

Apa diniatkan di hati adalah gema tidak bisa di dengar, tapi dapat terdeteksi frekuensinya. Karena pengaruh elektron menyebabkan kekuatan internal kembali tinggi, penuh semangat untuk melakukan ibadah, tidak ada sifat putus asa, mau terus hidup, penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'alaa.

-

Gelombang radio tidak bisa mendeteksi poisisi Ka'bah.

-

Bahkan teknologi satelit pun tidak mampu meneropong apa telah ada di dalam Ka'bah. Frekuensi radio tidak mungkin dapat membaca apa-apa ada dalam Ka'bah, karena tekanan gravitasinya tinggi.

-

Tempat paling tinggi tekanan gravitasinya memiliki konten garam dan aliran anak sungai dibawah tanah banyak. Sebab itu, jika shalat di Masjidil Haram, meskipun di tempat terbuka tanpa atap, masih terasa dingin lantainya.

-

Ka'bah bukan sekadar bangunan hitam empat persegi, tetapi satu tempat ajaib karena disitu pemusatan energi, gravitasi, zona magnetisme nol dan tempat dirahmati.

-

Tidur dengan posisi menghadap Ka'bah secara otomatis neuron-neuron otak akan terangsang sangat aktif sampai tulang belakang dan menghasilkan sel darah.

-

Pergerakan mengelilingi Ka'bah ----- arah lawan jam memberikan energi hidup (life force energy = chi = chakra) alamiah dari alam semesta. Semua sudah ada di alam ini bergerak menurut lawan jam, Allah Subhanahu Wa Ta'alaa, telah tentukan hukumnya begitu.

-

Peredaran darah atau apa saja dalam tubuh manusia sesuai lawan jam. Justru dengan mengelilingi Ka'bah menurut lawan jam, berarti sirkulasi darah pada tubuh meningkat dan sudah tentu akan menambah energi. Sebab itu orang berada di Makkah selalu bertenaga, sehat dan panjang umur.

-

Sedangkan bilangan tujuh (7) itu adalah simbolik tak terhingga banyaknya. Angka tujuh (7) berarti: Tidak terbatas atau terlalu banyak. Dengan melakukan tujuh (7) kali putaran sebenarnya kita mendapat ibadah tidak terbatas jumlahnya.

-

Larangan memakai topi, songkok atau menutup kepala ----- karena rambut dan bulu roma (pria) adalah ibarat antena untuk menerima gelombang baik dipancarkan langsung dari Ka'bah. Sebab melakukan ibadah haji atau umrah, kita seperti dilahirkan kembali sebagai manusia baru, karena segala hal buruk telah ditarik dan diganti dengan 'nur atau cahaya.'

-

Setelah selesai, baru bercukur atau tahallul. Tujuannya untuk melepaskan diri dari pantang larang dalam ihram. Namun, rahasia disebaliknya adalah untuk membersihkan antena atau reseptor kita dari segala kotoran, sehingga hanya gelombang baik akan diterima oleh tubuh kita.

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَاللهُ أَكْبَرُ.
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ.

Terjemahan: Subhanallahu Walhamdulillah Walaa Ilaaha Illallahu Allahu Akbar. Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk laa syarika lak.

Artinya: Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada satu Tuhan pun yang disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar. Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya pujian dan kenikmatan hanya milik-Mu dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.

----- Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, mengatakan bahwa rangkaian kalimat tersebut diatas lebih disukai daripada dunia dan segala isinya.

Catatan kaki:

Ummul Quro ----- artinya: Ibu atau Induk dari kota-kota di dunia.

Ma Haulahaa ----- artinya: Negeri-negeri sekelilingnya.

https://id.wikipedia.org/wiki/Ka%27bah 

https://id.wikipedia.org/wiki/Makkah 

https://www.kompasiana.com/.../bahasa-arab-terdapat... 

https://www.freedomsiana.id/subhanallah-walhamdulillah... 

https://www.detik.com/.../arti-labbaik-allahumma-labbaik... 

Dokumen foto: Davaynwa ----- Ka'bah - yaum Ahad, almanak 21 Ramadhan 1445 Hijriah - hari Minggu, tertanggal 31 Maret 2024 Masehi, sumber Walpaper Cave.

Terima kasih.

#KoPigiKeliling Berkabar Berita, Berbagi Hidup.

USMAN SUIL || RENUNGAN RAMADHAN (20)


Kesadaran Lailatul Qadar

Puasa sebagai treaning spritual menuju tangga pribadi yang lebih baik dari sebelumnya dengan malam Lalilatul Kadar sebagai Milad Al-Qur'an, milad peradaban, dan miladnya segala nilai-nilai ajaran sakral Tuhan yang terjadi pada malam hari sebagai waktu yang paling tepat untuk komunikasi spiritual bersama-Nya 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلًا ثقِيْلاً إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ هِيَ أَشَدُّ وَطۡئًا وَأَقۡوَمُ قِيلًا
  
"Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan."(QS. Al-Muzzammil 73: 5-6)

Bangun malam di malam yang lebih baik dari seribu bulan (malam lailatul kadar) untuk membaca ulang sejauh mana hubungan kita dengan Al-Qur'an dan sejauh apa tingkat pemahaman kita terhadap Firman-Nya, semestinya tidak hanya dirangkaikan dengan acara seremonial-seremonial. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ
"sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan." (QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 3)

Lailatul qadar secara bahasa berarti malam (lail) dan ukuran (qadar). Dalam riwayat disebutkan bahwa tanda turunnya lailatul qadar dengan langit yang cerah, suasananya tenang dan sunyi, dan tidak panas dan juga tidak dingin (sejuk). Dari tanda-tanda ini, saya lebih menelisik kedalam diri. Dengan petunjuk puasa hingga membentuk ukuran tertentu menuju kesadaran tertentu. Artinya lailatul qadar berarti terbentuknya kesadaran baru setelah melepas identitas kebinatangan dengan membelenggu nafsu kita.

Turunnya lailatul qadar adalah kesadaran ilahi yang terpatri dalam diri kita sehingga kita mampu merasakan kehadiran Tuhan. Juga dikatakan bahwa malam lailatul qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Adakah yang lebih baik ketika kesadaran ilahi kita menyatu dalam diri kita. Adakah yang lebih baik ketika kita mampu merasakan kehadiran Tuhan dalam diri kita. Lailatul qadar adalah malam dimana sampah-sampah dalam diri seperti sampah kemarahan, sampah kebencian, sampah kemunafikan, sampah riya, sampah kesombongan, sampah ke-aku-an telah kita singkirkan dengan berpuasa. 

Malam lailatul qadar adalah malam diturunkannya Al-Quran, artinya ssya lebih memaknai bahwa ketika sampah-sampah telah disingkirkan kemudian kesadaran ilahi masuk ke dalam kesadaran kita maka, ia akan mewujud menjadi firman ilahi yakni al-Quran. Akhlak kita menjadi akhlak al-quran. Ruhani kita menjadi nur. Pada akhirnya menjadi sejahtera sampai terbit fajar.

سَلَٰمٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ
"Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr 97: Ayat 5)

Wallahi a'lam bisshowab.

Doa Hari ke 20

اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ فِيْهِ أَبْوَابَ الْجِنَانِ وَ أَغْلِقْ عَنِّيْ فِيْهِ أَبْوَابَ النِّيْرَانِ وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ يَا مُنْزِلَ السَّكِيْنَةِ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya :
Ya Allah, bukakanlah bagiku di bulan ini pintu-pintu menuju surga dan tutupkan bagiku pintu-pintu neraka. Berikanlah kemampuan padaku untuk menelaah Al qur’an di bulan ini. Wahai yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin.

Sabtu, 30 Maret 2024

USMAN SUIL || RENUNGAN RAMADHAN (19)


Perlunya Puasa Bicara 2

Menurut Syaikhul Akbar Ibnu Arabi, diam adalah salah satu jalan menempuh kebahagiaan. Dalam terjemahan kitab Nashaih Al-Syaikh Al-Akbar Ibn 'Arabi oleh Arif Maftuhin. Pada nasehat keempat disebutkan bahwa ada dua macam diam yaitu diamnya lisan dalam arti tidak berbicara tentang selain Allah Swt dengan oknum selain Allah secara sekaligus; kedua diam hati dari hal-hal yang muncul di hati terkait maujud (diam sama sekali).

Ibnu 'Arabi berkata barang siapa lisannya diam tetapi hatinya tidak, maka dosanya akan ringan. Barang siapa lisannya diam dan juga hatinya diam, maka yang rahasia akan jelas baginya, dan Allah akan menjadi jelas pula baginya. Barang siapa hatinya diam tetapi lisannya tidak, maka dia akan berkata dengan kata hikmah. Barang siapa yang lisan dan hatinya tidak diam, maka itu adalah kekuasaan setan dan ia tunduk kepadanya.

Menurut Ibnu Arabi, diam lisan adalah diamnya seseorang yang sedang berusaha menempuh perjalanan ruhani sementara diamnya hati adalah sifatnya orang-orang yang sudah muqorrabin yaitu orang yang sudah dekat dengan Allah, sifatnya orang musyahadah (seseorang dalam kondisi ruhaninya mampu menyaksikan kebesaran Allah Swt).

Diamnya orang awam minimal akan menyelamatkannya dari bahaya fitnah sekaligus menyelematkan mulutnya menfitnah,  menghibah, sombong sementara diamnya para orang yang muqorrab akan menimbulkan percakapan hati dengan Tuhannya yang lentur dan asyik.

Pentingnya menjaga lisan, sebagaimana Rasulullah berkata kepada Mu'adz bin Jabal:"Maukah kuberitahu tentang semua kunci perkara itu? Jawabku: ia wahai Rasulullah." Maka Rasulullah pun memegang lidahnya kemudian bersabda: "jagalah ini." Aku bertanya, "Waha Rasulullah, apakah kami dituntut disiksa karena apa yang kami katakan?" Maka beliau menjawab: "celaka engkau, adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya di dalam neraka selain ucapan lisan mereka?" (HR Tirmidzi).

Rasulullah juga bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah baik dan jika tidak, maka diamlah." (HR Bukhari Muslim).

Ibnu Arabi berkata: "Barang siapa yang menjalankan diam dalam semua keadaan, maka ia tidak akan sempat lagi betbicara kecuali dengan Tuhannya. Sebab diam sama sekali bagi manusia dalam dirinya sendiri adalah mustahil. Jadi memang diam ini adalah suatu perkara yang sulit ditaklukan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ  إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ
"dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut keinginannya, tidak lain (Al-Qur'an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," (QS. An-Najm 53: Ayat 3-4).

Perkara diam termasuk perkara paling penting disisi para pesuluk (pejalan menuju Allah) karena pembicaraan yang benar merupakan hasil diam dari kesalahan. Pembicaraan yang benar adalah wahyu, berbicara yang benar akan jadi perkataan mengandung hikmah dan diam akan mengahsilkan makrifat kepada Allah Swt. Banyak diam akan mendapatkan bisikan wahyu sementara banyak bicara akan mendapatkan bisikan syetan. 

Diriwayatkan dari Bukhari Muslim dari Aisyah ra, berkata: "Sesungguhnya Nabi apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada yang menghitungnya niscaya ia dalat menghitungnya." Wallahu a'lam bisshwab.

Doa Hari ke 19

اَللَّهُمَّ وَفِّرْ فِيْهِ حَظِّيْ مِنْ بَرَكَاتِهِ وَ سَهِّلْ سَبِيْلِيْ إِلَى خَيْرَاتِهِ وَ لاَ تَحْرِمْنِيْ قَبُوْلَ حَسَنَاتِهِ يَا هَادِيًا إِلَى الْحَقِّ الْمُبِيْنِ
Artinya :

“Ya Allah, jadikanlah aku di bulan ini lebih bisa menikmati berkat-berkat-Mu dan mudahkanlah jalan-ku untuk mendapat kebaikan-kebaikannya. Jangan Engkau haramkan aku untuk menerima kebaikan-kebaikannya. Wahai Pemberi Petunjuk kepada jalan yang terang.

Kamis, 28 Maret 2024

FOOTNOTE HISTORIS || SHALAT TARAWIH SEPERSONIK

By Ahmad M. Sewang 

Setiap tahun saya menulis tentang salat tarawih supersonik. Disebut supersonik karena begitu cepatnya, bayangkan 23 rakat diselesaikan dalam waktu sesengkat-singkanya hanya tujuh menit. Salat ini diselenggrakan di sebuah pesantren di Jombang dan di Cerbon. Yang menarik karena semakin banyak jamaanya dari generasi muda, ada juga orang tua yang ikut, tetapi karena begitu cepat berlangsung, maka mereka hanya bisa mengikuti dengan salat duduk.

Salat tarawih supersonik ini setiap tahun di rewriting. Tahun ini d sengaja di rewriting sekedar menyambut himbauan Mentri Agama RI yang menekankan bahwa hendaknya MUI sebagai khadimul ummat, memperhatikan salat tarawih kilat ini. Saya juga tidak tahu bahwa salat tarawih kilat yang mereka lakukan banyak yang menganggap kontroversi, pengasuhnya sendiri menganggap sah. Alasannya rekun dan syaratnya tidak ada yang dikurangi, sedang para ahli mempertanyakan bahwa salat itu harus ada tuma'ninanya, Apalagi Tarawi, tarawih artinya santai atau istirahat.  Salat tarawih semacam ini sama sekali tidak punya istirahatnys atau tuma'nina. Karena itu, orang tua tidak bisa mengikuti maka terpaksa salat duduk bahkan orang Ambon mengatakan ini adalah "salat bola". Bola jika dijatuhkan ke tanah. Semakin cepat jatuh ke tanah semakin cepat lagi melanting ke atas, maka digelar salat bolah.

Akhirnya segaja tulisan ini diekspos ke publik, agar dapat respon dari MUI untuk mendapatkan bimbingan. Jangan membiarkan masyarakat lepas dari bimbingan. Bukankah MUI sebagai khadimul ummah?

Kenapa setiap tahun tulisan  semacam ini dipublish. Saya teringat kisah lucuh dari sebuah kampung. Penduduknya begitu kritis dalam menghadapi seorang mubalig yang materi dakwahnya cuma satu tema sepanjang Ramadan yang dibawa keliling ke banyak masjid. Kebetul ada jamaah yang mengikutinya. Setelah tiba di masjid kampung yang kritis itu, Mendengar namanya dipersilahkan oleh protokol masjid kampung itu. Jamaah masjid kampung itu ramai-ramai berkata serentak, bagai paduan suara, "Pasti judulnya KUTIBA". Sang mubalig bukannya tersinggung bahkan dengan tersenyum lebar berkata; "Saya juga bosan membawakan judul ini, jika ingin berubah judul nasehat saya, maka ubah dahulu prilakumu. Ini malam kamu ubah, ini malam Juga judul nasehat ini pasti saya ubah. Jika para jamaah bosan mendengarnya, lebih lagi saya sebagai penasehat," katanya santai.

Wasalam, 
Kompleks GMP, 29 Maret 2024

USMAN SUIL || RENUNGAN RAMADHAN (18)


Perlunya Puasa Diam

Ketika puasa disyariatkan Allah Swt kepada kaum yang beriman "Wahai orang-orang yang beriman! diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa." Ada satu prilaku puasa yang rentang umat Islam melupakannya yang hari ini tidak kalah pentingnya untuk dilakukan. Prilaku ini adalah puasa untuk tidak bicara. 

Di era yang makin canggih ini, soal bicara tidak melulu pada mulut untuk menyampaikan maksud kita. Lewat jari pun sudah mampu mengutarakan maksud dan tujuan kita ke orang lain. Jangankan orang terdekat, orang paling jauh sekalipun sudah mampu mengetahui tujuan dan maksud kita cukup ketik dan upload ke media sosial.

Tujuan puasa yang secara gamblang disebutkan dalam al-Quran adalah agar bertakwa sementara salah satu tanda ketakwaan seorang mukmin dapat dilihat dari perkataannya. Berhati-hati dan memikirkan terlebih dahulu sebelum berbicara. 

Coba kita renungkan sejenak beberapa pertanyaan berikut ini:
1. Seberapa yakin perkataan kita dalam setiap harinya tidak menyinggung perasaan orang lain? 
2. Berapa persen perkataan kita mengandung kebenaran saat berkata-kata (qaulan sadida)? 
3. Berapa persen perkataan kita mengandung kebaikan saat berkata-kata (qaulan ma'rufa)? 
4. Berapa persen perkataan kita mengandung perkataan mulia saat berbicara (qaulan karima)? 
5. Berapa persen perkataan kita mengandung kelembutan saat bicara (qaulan layina)? 
6. Berapa persen perkataan kita mengandung kegembiraan saat bicara (qaulan maisura)? 
7. Berapa persen perkataan kita menyentuh ketika bicara (qaulan baligha)?

Di dalam mulut ada lidah yang tak bertulang, artinya ucapan yang baik akan tergolong amal ibadah dan tentu mendapatkan pahala namun sebaliknya  perkataan yang buruk akan dinilai dosa. Sering dijumpai, biasanya berkumpul untuk ngerumpi (semasa di pondok sering diistilahkan ngerumpi ini dengan kata qiila wa qoola) biasanya lebih banyak dosa bicara yang didapat. Sungguh lidah ini tidak tahan untuk tidak bicara setiap menitnya. Ngerumpi atau qiila wa qoola adalah senang membicarakan seluk-beluk seseorang.

Banyak riwayat terkait keburukan dari pada bicara. Misalnya diriwayatkan dari Bukhari Muslim dari Aisyah ra, berkata: "Sesungguhnya Nabi apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada yang menghitungnya niscaya ia dalat menghitungnya." Abu Hurairah berkata: "Tidak ada baiknya orang yang banyak bicara." Umar bin Khattab berkata: "Barangsiapa yang banyak bicaranya akan banyak kesalahannya." Riwayat Muslim, Nabi bersabda: "Cukuplah seorang itu berdusta, jika ia membicarakan setiap apa yang didengarnya." 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَكُلِي وَٱشۡرَبِي وَقَرِّي عَيۡنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ ٱلۡبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِيٓ إِنِّي نَذَرۡتُ لِلرَّحۡمَٰنِ صَوۡمًا فَلَنۡ أُكَلِّمَ ٱلۡيَوۡمَ إِنسِيًّا
"Maka makan, minum, dan bersenang hatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini." (QS. Maryam 19: Ayat 26)

Ayat ini mengisahkan Ibunda Maryam di tengah carut-marut persoalan kehamilannya. Allah menyuruhnya puasa diam ketika kehebohan bani israil mempertanyakan kehamilannya. Artinya pada saat itu., meskipun ibunda Maryam berusaha menjelaskan, juga tidak akan diterima kaumnya pada saat itu dan juga pelajarannya adalah tatkala bicara itu tidak ada manfaatnya lagi bagi si pendengar maka dia adalah solusinya. Soekarno berkata: ketika kata tak lagi bermakna maka diam adalah emas.

Lalu, hari ini perlukah kita puasa diam? Bersambung

Doa Hari ke 18

اَللَّهُمَّ نَبِّهْنِيْ فِيْهِ لِبَرَكَاتِ أَسْحَارِهِ وَ نَوِّرْ فِيْهِ قَلْبِيْ بِضِيَاءِ أَنْوَارِهِ وَ خُذْ بِكُلِّ أَعْضَائِيْ إِلَى اتِّبَاعِ آثَارِهِ بِنُوْرِكَ يَا مُنَوِّرَ قُلُوْبِ الْعَارِفِيْنَ

Artinya :
”Ya Allah sadarkanlah aku untuk mengetahui berkat yang ada pada waktu sahur. Terangilah hati-ku dengan cahaya-Mu yang lembut. Jadikanlah seluruh anggota badanku dapat mengikuti cahaya itu. Wahai Penerang hati sanubari. 

Rabu, 27 Maret 2024

USMAN SUIL || RENUNGAN RAMADHAN (17)


Dahsyatnya Do'a Kumail

Doa Kumail adalah doa Nabi Khaidir as yang diajarkan kepada Ali bin Abi Thalib kemudian diajarkan ke Kumail Ibnu Ziyad yang kini dikenal dengan nama doa kumail. Doa ini cukup panjang namun saya hanya akan mencoba mengambil satu penggalan di ayat pertama.

Dipenggalan pertama dikatakan:

اللّهمّ انِّى اَسْئلُكَ بِرَحْمَتِك الَّتِى وَسِعْتْ كُلَّ شيئٍ

"Ya Allah! Aku memohon dengan Rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu."

Adakah sesuatu tanpa pengawasan Allah Swt? Tidak ada yang terlepas dari jangkauan-Nya. Semuanya bergantung kepada-Nya.  Begitu juga dengan Rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu.

Kalau Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, lalu bukankah rasa sakit, kesengsaraan, penderitaan, peperangan merupakan jauhnya dari Rahmat-Nya? Kelihatannya memang ia, padahal kalau kita gali lebih jauh lagi akan terungkap bahwa benar adanya segala sesuatu itu tidak terlepas dari kasih sayang-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَاِ نْ كَذَّبُوْكَ فَقُلْ رَّبُّكُمْ ذُوْ رَحْمَةٍ وَّا سِعَةٍ ۚ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهٗ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ
_"Maka, jika mereka mendustakan kamu, katakanlah, "Tuhanmu mempunyai rahmat yang luas dan siksa-Nya kepada orang-orang yang berdosa tidak dapat dielakkan."_
(QS. Al-An'am 6: Ayat 147)

Berdasarkan ayat ini, meskipun mendustakan kebenaran yang dibawa para Nabi Allah, Rahmat-Nya tetap terbuka luas. Adapun kalimat siksa pada ayat ini adalah peringatan yang dikarenakan akan kasih sayang Tuhan. Seperti halnya orang tua yang memberi peringatan kepada anaknya lantaran kekhawatirannya akan suatu hal negatif yang menimpa pada anak-anaknya. 

Ditilik dari surah al-Fatihah ayat pertama, Allah menekankan dua sifat-Nya yang agung yaitu _Rahman_ dan _Rahim._ Dua sifat ini adalah yang paling pertama disebutkan dalam Al-Qur'an yang berada pada surah pertama sekaligus ayat pertama, hanya didahului dengan nama Allah. Kemudian setiap pergantian surah selalu dimulai dengan membaca basmalah sebagai penekanan bahwa betul-betul Allah Swt adalah dzat yang pengasih dan penyayang.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَلرَّحْمٰنُ عَلَّمَ الْقُرْاٰ نَ خَلَقَ الْاِ نْسَا نَ 
_"(Allah) Yang Maha Pengasih, yang telah mengajarkan Al-Qur'an, Dia menciptakan menusia."_ (QS. Ar-Rahman 55: Ayat 1-3)

Secara logika seharusnya ayat tiga pada surah _ar-Rahman_ berada pada ayat pertama dan ayat pertama berada pada ayat ketiga. Mencipta, mengajarkan ilmu kepada yang diciptanya barulah dikatakan dermawan tapi Allah justru mengatakan sebaliknya. Ini membuktikan bahwa betapa tiada yang mendahului karunia atau rahmat Allah Swt.

Dikatakan dalam sebagian tafsir bahwa sifat _Rahimiyyah_ Allah Swt peruntukkan secara khusus kepada orang-orang yang bertakwa sedangkan sifat Rahmaniyyah-Nya bersifat umum, mencakup kepada semua makhluk tanpa terkecuali yang beriman bahkan kepada yang mengingkarinya sekalipun. Seburuk apapun karya tetap akan dihargai dari pembuatnya. Apa mungkin Allah Swt tidak mencintai makhluk ciptaan-Nya?

Dalam buku Avatar Cinta karangan Habibullah Farakhzad menceritakan bahwa dalam kitab _'Ilal asy-Syarayi'_ orang-orang datang kepada Fir'aun ketika air sungai Nil menyusut, orang-orang itu berkata: _"Bukankah engkau tuhan kami?" _ Fir'aun menjawab: _"Ya" _ Mereka berkata lagi: _"Jika begitu perbanyak sungai Nil, kebun kami sudah kekurangan air"_ Fir'aun berkata:_"Baik, besok aku akan perbanyak."_  Pada malam harinya Fir'aun menanggalkan pakaian kebesarannya kemudian bersungkur ke tanah dan berkata: _"Ya Allah, jangan lenyapkan harga diri kami. Ya Allah, kami telah terperosok kedalam bahaya." _ Dia terus merintih sehingga Allah mengabulkan permohonannya dengan memperbannyak air sungai Nil.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَجَحَدُوْا بِهَا وَا سْتَيْقَنَـتْهَاۤ اَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَّعُلُوًّا ۗ فَا نْظُرْ كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الْمُفْسِدِيْنَ
_"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan."_ (QS. An-Naml 27: Ayat 14)

Ali bin Abi Thalib berkata: _"Saya tidak perlu kuda yang berlari kencang karena saya tidak pernah berpikir untuk lari dari peperangan ataupun mengejar musuh yang lari dari peperangan."_ Dalam riwayat dikatakan bahwa pernyataan ini adalah jawaban Ali ketika dia dianggap telah beriman buta dan bukan lagi manusia karena ia memilih kuda perang yang kurus dan sangat lemah sementara yang lain berbondong-bondong merebut kuda yang kuat berlari kencang. Kata ini membuktikan betapa sahabat Nabi ini begitu lapang hatinya sekaligus menyampaikan bahwa segala sesuatu itu terdapat Rahmat Allah Swt yang tiada hingga. 

Baris pertama pada Do'a Kumail memberikan pengetahuan bahwa tidak sedikitpun terlepas dari Rahmat-Nya. Sakit adalah Rahmat karena dari rasa sakit itulah manusia menyadari akan melemahannya sebagai makhluk dan juga kemiskinan adalah rahmat karena mengajari kita untuk rajin bekerja dan menabung, dan lain sebagainya. Walkahu a'lam bissowab.

Doa Hari ke 17

اَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْهِ لِصَالِحِ الأَعْمَالِ وَ اقْضِ لِيْ فِيْهِ الْحَوَائِجَ وَ الآمَالَ يَا مَنْ لاَ يَحْتَاجُ إِلَى التَّفْسِيْرِ وَ السُّؤَالِ يَا عَالِمًا بِمَا فِيْ صُدُوْرِ الْعَالَمِيْنَ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ الطَّاهِرِيْنَ

Artinya : Ya Allah anugrahilah aku di bulan ini untuk bisa berperilaku yang baik dan kabulkanlah semua hajat dan keinginanku. Wahai yang tidak memerlukan penjelasan dan pertanyaan. Wahai yang Maha mengetahui apa yang ada di dalam alam ini. Anugrahilah shalawat dan salam bagi Muhammad dan keluarganya yang suci.

(NB: _tulisan lama diadopsi kembali_)

DESA PAMBUSUANG DALAM LINTASAN ANTROPOLOGI SEJARAH (10 - Selesai)

By Ahmad M. Sewang

Pilihlah sahabat yang mampu membawa prospektif ke depan. Sejak kecil saya berusaha bersahabat yang menurut saya bisa membimbing ke arah lebih positif tanpa memandang firqah keagamaan yang dianut. Karena itu berbagai kajian  saya ikuti, mulai PII, SEPMI,  IPNU, IPM. 

Berpikir secara positif, selalu ada rezikonya, apalagi berpikir negatif. Suatu ketika teman-teman NU, mengetahui bahwa saya mengikuti kegiatan di SEPMI, saya dipanggil ketua Majlis Syariah NU K.H. Muhsin Tahir dan ditanya, "Kenapa ikut SEPMI? Saya jawab dengan polos bahwa mereka juga muslim. Kemudian beliau menegur saya bahwa jawaban itu sudah mulai salah. Tetapi itulah pandangan apa adanya saat itu.

Beda ketika mulai kuliah di Makassar, saya tidak lagi aktif di organisasi  mainstrem melainkan di pengajian kitab kuning seperti di KH Mustari Pasar Terong dan di masjid Raya Makassar. Selain itu, saya aktif di pengajian Aqsha dan di DPP IMMIM. Pengajian Aqsha adalah umumnya menghimpun para dokter yang ingin belajar agama. Di pengajian ini sangat terkenal ketika itu. Ia satu level dengan pengajian Salahuddin UGM dan ITB Bandung. Ia pernah dikunjungi Prof. Buya Hamka, Prof. Yagub Vredenberg dari Belanda, Prof. Nurchalis Madjid, Prof. Baharuddin Lopa, Prof. Harun Nasution, dan hampir semua tokoh populer dari IAIN, IKIP, UNHAS, dan UMI pernah jadi nara sumber di pengajian ini . Di sini saya bergabung sebagai sekertaris harian. 

Menurut penelusuran buku tentang fikih persaudaraan yang saya tulis bahwa Nabi di antaranya yang berhasil mempersaudarakan kaum Muslim dari masyarakat Arab sebelumnya dalam sistem kabilah mengubahnya kepada sistem ukhuwah. Setelah Nabi wafat sistem gabilah ini kembali lagi kambuh terutama di masa khalifah Usman yang disebut dalam sejarah alfitnatul kubah yang diterjemahkan dalam bagasa Indonesia Malapetaka Besar, disebut demikian karena masih berlangsung dalam lintasan sejarah sampai sekarang. Lihat saja kondisi umat sekarang orang lebih suka bertengkar dari pada bersatu hanya masalah furu. (Habis)

Wasalam,
Kompleks GPM. 28 Maret 2024

USMAN SUIL || RENUNGAN RAMADHAN (16)


Hikmah Kisah Sufi 

Dikisahkan dari seseorang yang memimpikan Syekh Abu Bakr Asy-Syibli, dalam mimpi itu, ia melihat Syekh berdialog dengan Allah Swt. Berikut percakapannya:

"Hai Abu Bakr Asy-Syibli, apakah engkau tau apa yang membuat dosa-dosamu Kuampuni?" Kata Allah
"Amal salehku." Jawab Syekh Abu Bakr Asy-Syibli.
"Bukan." Kata Allah Swt.
"Hajiku, puasaku, shalatku." Kata Syekh Abu Bakr Asy-Syibli.
"Bukan." Kata Allah.
"Perajalananku kepada orang-orang saleh dan untuk menimba ilmu." Kata Syekh Abu Bakr Asy-Syibli.
"Bukan." Kata Allah.
"Ketulusanku dalam beribadah." Kata Syekh Abu Bakr Asy-Syibli.
"Ya Ilahi, lantas apa?" Tanya Syekh Abu Bakr Asy-Syibli penasaran.
"Lantaran kasih sayangmu kepada kucing itulah, Aku memberikan rahmat kepadamu." Kata Allah Swt.

Sebelumnya Abu Bakr Asy-Syibli keluar rumah jalan-jalan di kota Baghdad yang waktu itu sedang hujan deras. Dalam perjalanannya beliau melihat kucing sedang kedinginan. Ia pungut kucing itu, membersihkan dan menghangatkan badannya kemudian memberinya makan. Kucing itu dengan lahap makan karena kelaparan setelah itu tertidur pulas.

Hikmah dari kisah ini bahwa kebaikan tidak mengenal untuk siapa tapi untuk apa dan kenapa kita berbuat baik. Kedua, setiap kebaikan pasti dibalas Allah Swt tanpa pandang bulu kebaikan itu dari mana. Ketiga, berbuat baik kepada semua makhluk adalah kewajiban kita. Keempat, kebaikan tidak dilihat dari seberapa banyaknya melainkan seberapa ikhlasnya kita sudah berbuat baik.

Sudah banyak kisah-kisah yang mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah yang kebaikan itu justru kepada binatang. Kenapa? Karena berbuat baik kepada binatang atau hewan lebih memicu keikhlasan, tidak ada unsur riya, ujub diri dan lainnya. Beda dengan berbuat baik kepada manusia lainnya, lebih ke pamrih, pujian, nama baik, mau dihormati. 

Di bulan puasa ini, perbuatan baik apa yang sudah kita lakukan? Kalau seekor kucing saja kita usir ketika masuk ke dalam rumah, lalu takwa seperti apa yang sudah kita puasain? Kalau dipuasa kita hanya disibukkan pilkran-pikiran mau makan menu apa di waktu berbuka? Puasa kita untuk memindahkan waktu makan bukan karena laallakum tattakun. Wallahu a'lam bisshowab.

Doa Hari ke 16

اَللَّهُمَّ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِمُوَافَقَةِ الْأَبْرَارِ وَ جَنِّبْنِيْ فِيْهِ مُرَافَقَةَ الْأَشْرَارِ وَ آوِنِيْ فِيْهِ بِرَحْمَتِكَ إِلَى (فِيْ ) دَارِ الْقَرَارِ بِإِلَهِيَّتِكَ يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ

Artinya : Ya Allah, anugrahilah kepadaku di bulan ini agar supaya bisa bergaul dengan orang-orang baik, dan jauhkanlah aku dari bergaul dengan orang-orang jahat. Berilah aku perlindungan di bulan ini dengan rahmat-Mu sampai ke alam Akhirat. Demi keesaan-Mu wahai Tuhan semesta Alam. 

Selasa, 26 Maret 2024

DESA PAMBUSUANG DALAM LINTASAN ANTROPOLOGi SEJARAH (9)

By Ahmad M. Sewang

Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya hendaknya mengingatkan sebuah hadis Nabi bahwa ini  adalah pelajaran sejarah yang perlu dipertimbangkan mana yang segera diambil sebagai pelajaran dan mana yang tidak perlu, mengingat kita sedang berada dalam sebuah dinamika perubahan yang terus-menerus, sedang dalam ilmu sejarah mengajarkan sejarah penguasa. Artinya, sejarah masyarakat Pambusuang selama ini tidak lebih adalah sejarah siapa yang sedang berkuasa menentukan apa yang bernilai monumental yang perlu dilestarikan untuk generasi kita dan yang akan datang. Kita tidak  pernah (melangsungkan pameran Sejarah di sekitar awal abad ke-20) dikuasai oleh papazan (papadang artinya para pedagang yang berlayar sampa ke Padang, Minangkabau.)

Saya merasa beruntung karena ketika melakukan penelitina S1  masih bertemu Hj. Asia (Amma Kanung). Dari sanalah banyak memperoleh informasi tentang para pedagang Mandar. Para pedagang berphoto di Padang tahun 1923. Mereka mengelilingi Abd. Muis (pinpinan pusat SI). Mereka menyebut diri sebagai Syarikat Mandar. Saya meminta agar photo ini bisa di simpang dengan baik untuk dipelihara karena di antara bukti sejarah yang bernilai dan masih terpelihara sampai sekarang, menunjukkan bahwa Pambusuang memiliki sejarah gemilang masa lalu. Saya berpendapat photo itu masih tersimpan dengan baik di rumah annanguru Hawu di Polewali. Mungkin annaguru Hawu menyimpang banyak dokumentasi yang bisa di pamerkan pada hari haul Darwis Hamsa.

 Perlu diketahui ada beberapa orang yang tergabung dalam photo Syarekat Mandar itu di antaranya ada dari Pambusuang, Karama, dan Babarura. Dengan demikian hari haul Darwis Hamsa memiliki makna historis dan nilai tambah dengan adanya pameran itu. Saya pernah diberitahu Darwis Hamsa ketika beliau masih hidup bahwa akan memberikannya pada orang yang terlibat pada Syarikat Mandar itu sebagai pahlawan. Tetapi beliau terlanjur wafat dan saya pikir  cita-cita luhur almarhum bisa dilanjutkan oleh para penerusnya. Sebenarnya, adalah kebanggaan warga Pambusuang kalau bisa dipastikan kontroversi bahwa Darwis Hamsa adalah kelahiran Pambusunag. Saya sebagai warga dan kelahiran Pambusuang sungguh merasa sangat bangga.

Wasalam,
Kompleks GPM, 27 Maret 2024