Selasa, 16 September 2025

Aji Galeng, Jejak Sejarah dari Paser Utara Kini Dibukukan


Laporan Safardy Bora 

Sosok Aji Galeng yang hidup pada akhir abad ke-18 hingga abad ke-19 (1790–1882) dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah Kalimantan Timur. Ia menjadi figur pemersatu antara Kesultanan Paser dan Kesultanan Kutai, sehingga perannya kerap dipandang sebagai salah satu tonggak awal terbentuknya peradaban di kawasan yang kini menjadi lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN).

Warisan sejarah tersebut kini dituangkan dalam sebuah buku berjudul “Aji Galeng dari Paser Utara: Penjaga Negeri Peletak Peradaban”. Peluncuran buku ini dilakukan langsung oleh Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, di Gedung Otorita IKN, Selasa (16/9/2025).

Dalam pidatonya, Rudy menekankan bahwa karya sejarah adalah sarana menjaga ingatan kolektif masyarakat. Menurutnya, setiap generasi perlu mengenal akar budaya dan peradaban daerah agar tidak tercerabut dari jati diri.

Sejarah jangan pernah dilupakan. Buku ini bukan sekadar catatan, tetapi cermin identitas sekaligus sumber inspirasi bagi generasi hari ini maupun esok,” tutur Rudy.



Rudy yang menyandang gelar Raden Setia Sentana juga menegaskan, IKN tidak hadir di tanah kosong, melainkan berdiri di atas peradaban yang telah berakar ratusan tahun lamanya. Karena itu, ia mengapresiasi kerja keras Yayasan Aji Galeng, Departemen Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, serta para penulis yang berkontribusi menyelesaikan buku ini.

Ia berharap daerah-daerah lain di Kaltim, seperti Kutai dan Kota Bangun, juga melahirkan karya serupa.

Banyak kekayaan sejarah kita yang patut ditulis, agar masyarakat tetap dekat dengan akar budayanya,” ujarnya.

Bagi Rudy, peluncuran buku ini tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga semangat persatuan. Kaltim yang dikenal sebagai miniatur Indonesia dengan keberagaman suku, agama, dan budaya disebutnya harus terus memperkuat kebangsaan, apalagi di tengah pembangunan IKN menuju kota berkelas dunia.

Acara peluncuran turut dihadiri para raja dan sultan dari berbagai kesultanan di Kalimantan Timur, kalangan akademisi, pejabat Otorita IKN, serta kepala OPD Pemprov Kaltim. Hadir pula Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin, Ketua Yayasan Aji Galeng Bambang Arwanto, serta perwakilan perguruan tinggi dari UI, UGM, Unmul, Uniba, hingga Unikarta.

Buku ini ditulis oleh Bambang Arwanto, seorang birokrat sekaligus Ketua Yayasan Aji Galeng, bersama sejarawan Kalimantan Timur Safardy Bora.

Kamis, 04 September 2025

MAMMUNU' || Tradisi Maulid Nabi Ala Mandar.

Bagi masyarakat Mandar, mendengar kata Maulid atau Mammunu' atau peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awwal dalam kalender Islam. Ada dua nama kampung yang kerap tersebut yakni Lambanan Balanipa dan Salabose di Majene. 

Dua kampung yang tersebut menjadi sakral disebabkan tak ada yang boleh mendahului ritual peringatan Maulid ini jika tak ingin kena bala'. Mitos ini sangat diyakini oleh masyarakat sehingga kedua tempat ini selalu memperingati Maulid tepat 12 Rabiul Awal setiap tahunnya. Sebab setelah itu,  kampung kampung yang ingin merayakan Maulid sudah bisa menjadwalkannya.  

Kampung lain yang terkenal dalam tradisi Mammunu' adalah Pambusuang (Sappambusuangang/Pambusuang lama) dimana perayaan Maulid di kampung ini lebih meriah dari dua hari raya Islam (Idain: Idul Fitri dan Idul Adha). Dan itu berlangsung menahun. Secara, Peringatan ini memang memiliki makna mendalam bagi umat Islam di dunia sebagai momen untuk memperkuat cinta kepada Rasulullah dan meneladani akhlak mulianya. Demikian pula di Mandar. 

Sejarah Maulid Nabi

Secara umum, Peringatan Maulid Nabi diyakini dimulai sejak zaman Dinasti Fatimiyah pada abad ke-11 Masehi, meskipun ada pendapat yang menyebutkan bahwa peringatan ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup atau pada masa Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas. Tradisi ini kemudian berkembang luas di berbagai negara dan budaya Islam. Termasuk ke Indonesia dan Sulawesi di Mandar (baca: Sulawesi Barat)

Khusus di Mandar, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW identik dengan keberadaan dua sosok ulama yang datang ke Mandar yakni Syekh Abdul Mannan (Salabose) dan Syekh Abdurrahim Kamaluddin (Balanipa) yang diteruskan oleh Annagguru Malolo di Lambanan. Demikian juga dari trah ulama Salabose tersebut Daettq I Moro Tomatindo di Masigi yang makamnya tepat berada di samping Mihrab Masjid Syekh Abdul Mannan Salabose. 

Perlu diketahui bahwa Islam menjadi agama resmi diberbagai kerajaan di Mandar secara bertahap dimulai Tahun 1600-an awal dari masuknya Syekh Abdurrahim Kamaluddin (Binuang Balanipa), RM. Suryodilogo (Pamboang), Syekh Zakariyah (Sendana), Syekh Sufi Abbas Tuan di Bulobulo (pegunungan). Agama Islam sendiri belum ada kesefahaman kapan mulai masuk, tapi jelas sebelum ulama besar itu berada di Mandar, Islam sudah dikenal di berbagai pesidir Sulawesi, termasuk Mandar. 

Hal unik dari perayaan Maulid atau Mammunu' di Mandar adalah munculnya tradisi baru yakni Pappatamma', Sayyang Pattu'du' dan Kalinda'da', Tiri dan pembacaan Barzanji (zikkir munu') yang tak lain adalah kitab karangan Syekh Abu Ja'far Al Barzanji pada era kepemimpinan Sultan Sakahuddun Al Ayyubi. 

Tradisi khatam Quran ditandai dengan ritual marrattas baca (prosesi serah terima betkah Quran antara guru ngaji dengan wali atau orangtua pangaji). Marrattas baca ini dilaksanakan pada malam hari. Esoknya anak yang khatam di arak dengan cara menunggangi kuda pattu'du yang diiringi warga dengan tabugan rebana dan kalinda'da'. Tiri' menjadi sebuah konsep rasa syukur dengan cara membagikan makanan dan kue manis serta telur yang ditusuk penuh hiasan yang ditancapkan ke batang pohon pisang. Pohon pisang dan buahnya memang menjadi pakem dari keberadaan Tiri' ini.

Makna dan Hikmah Maulid Nabi 

Orang Mandar menjaga tradisi itu dari tahun ke tahun. Penguasaan Belanda dan Jepang atas wilayah Mandar membuat tradisi ini menjadi sedikit asing karena selama beberapa dasawarsa tak memungkinkan untuk digelar. Nanti setelah merdeka, KH. Muhammad Tahir Imam Lapeo kembali memperkenalkannya meski kemudian terganggu saat pergolakan Bn. 710 dan DI/TII pada tahun 1953 - 1965.

Pasca pergolakan, masyarakat Pambusuang menjadikan ritual tradisi Mammunu' ini kembali dihelat dengan meriah setiap tahun. Saking semangatnya, mereka tak lagi hanya memperingatinya  dalam bulan Rabiul Awal, melainkan sampai 3 bulan yakni Rabiul Akhir dan Jumadil Awal. Pemantuknya tentu karena keberadaan Annangguru yang menggaransi amaliyah ini adalah bentuk upaya mencintai Muhammad Rasulullah yang tak lain adalah jalan berkah menuju pamnase-Na Puangallah Taala. 

Sejatinya, Maulid Nabi memiliki beberapa makna dan hikmah penting, yang antara lain bisa: Menumbuhkan cinta kepada Rasulullah SAW dengan memperbanyak shalawat dan mengenang perjalanan hidup beliau; Menguatkan iman dan ketakwaan dengan meneladani sifat sabar, jujur, amanah, dan kasih sayang Rasulullah: Meningkatkan ukhuwah Islamiyah dengan berkumpul, belajar, dan mempererat persaudaraan;  Mengajarkan nilai syukur*: karena lahirnya Nabi adalah anugerah besar bagi umat manusia; Mendorong semangat beramal*: dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari sesuai ajaran beliau. 

Tradisi Maulid Nabi di Indonesia 

Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi memiliki berbagai tradisi dan budaya lokal yang unik, seperti: Grebeg Maulud,  arak-arakan dan pembagian makanan; Sekaten yakni tabuhan gamelan pusaka dan pasar rakyat di Yogyakarta dan Solo; Debus yakni tradisi di Banten dengan doa bersama; Molodhan atau tradisi di Madura dengan sajian tumpeng dan aneka makanan khas

Peringingatan Maulid Nabi menjadi momentum penting untuk memperkuat rasa cinta kepada Rasulullah SAW dan meningkatkan semangat beramal dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, Semoga kita semua tetap sehat dan panjang umur. Amin. 

NB:
Catatan Kebudayaan Muhammad Munir

Tulisan belum diedit ulang. 

Tulisan ini dibuat saat perjalanan dari Campalagian ke Salabose dengan ditemani driver tampanG Amat Talagae 
😄😄😄

Kamis, 21 Agustus 2025

SANDEQ SILUMBA 2025: Warisan Mandar yang Bikin Laut Sulbar Berguncang

By. Arifuddin Samual

​Kalau Anda berdiri di pesisir Mandar saat matahari terbit, mungkin Anda akan melihat siluet perahu ramping dengan layar putih menjulang. Dialah Sandeq, perahu kebanggaan orang Mandar yang sejak dulu setia membelah ombak.

​Bagi masyarakat Mandar, Sandeq bukan sekadar alat melaut. Ia adalah identitas. Dengan tubuh runcing, dua pengimbang di kanan-kiri, dan layar segitiga besar, Sandeq bisa melaju kencang menantang angin. Tak heran kalau banyak peneliti menyebutnya sebagai perahu layar tradisional tercepat di dunia.

​Filosofi yang Terpahat dalam Setiap Bagian Sandeq

​Yang lebih menakjubkan, teknik membuat Sandeq sama sekali tidak punya rumus pakem. Para pembuat perahu Mandar hanya mengandalkan pengalaman turun-temurun dan kepekaan rasa. Mereka meraba kayu, menakar panjang, mengukur lengkung, lalu merakit bagian demi bagian hingga terbentuk perahu yang aerodinamis alami. Setiap Sandeq lahir bukan dari hitungan matematis di atas kertas, tapi dari intuisi dan filosofi hidup yang mengalir dari para pandai perahu.

​Filosofi ini tidak tertulis dalam rumus matematika, melainkan terpatri dalam cara pandang para pembuat perahu tradisional Mandar. Mereka tidak hanya membuat perahu, tetapi juga memahat nilai-nilai spiritual dan kosmologi ke dalamnya, yaitu filosofi huruf Alif, Lam, dan Hu.

​Alif (Ø£): Diwakili oleh tiang layar utama perahu yang tegak lurus. Alif melambangkan keesaan dan ketauhidan Tuhan, yang mengajarkan bahwa dalam setiap perjalanan dan tantangan di lautan, manusia harus selalu ingat pada Sang Pencipta.

​Lam (Ù„): Terletak pada kemudi perahu yang melengkung. Lam melambangkan hubungan horizontal manusia dengan sesama. Kemudi berfungsi mengarahkan perahu, mewakili peran manusia dalam menjalani hidup, di mana harus ada tujuan, arah, dan interaksi yang baik dengan orang lain.

​Hu (Ù‡ُÙ€): Diwujudkan pada bentuk bodi perahu yang ramping dan aerodinamis. "Hu" merujuk pada Tuhan yang Maha Gaib, yang kekuatannya tidak terlihat namun ada di mana-mana. Bentuk bodi yang dibuat dari intuisi para pembuatnya melambangkan kekuatan tersembunyi yang membuat perahu ini mampu melaju kencang, mengajarkan bahwa kekuatan sejati juga berasal dari keberkahan Tuhan.

​Sandeq dan Gen Laut Mandar

​Sejak ratusan tahun lalu, Sandeq jadi sahabat orang Mandar untuk mengejar ikan, mengangkut barang dagangan, bahkan menyeberang ke pulau-pulau jauh. Laut adalah jalan raya biru, dan Sandeq adalah kendaraan yang menghubungkan mereka dengan dunia luar.

​Kini, lewat ajang Sandeq Silumba 2025, warisan itu kembali hidup. Puluhan perahu runcing kembali berpacu, disambut sorak-sorai warga yang memadati pantai. Bagi orang Mandar, ini bukan sekadar lomba, tapi festival budaya: ada musik, doa, kuliner, dan rasa bangga yang tak pernah padam.
​Tentu, tantangan modern tetap ada. Banyak nelayan beralih ke kapal motor yang lebih praktis, bahan kayu untuk membuat Sandeq pun makin mahal. Tapi di tengah semua itu, muncul Gen Laut Mandar—mereka yang memilih merawat tradisi lewat festival, konten digital, sampai pameran budaya internasional.

​Bagi Gen Laut Mandar, Sandeq bukan perahu tua yang tinggal kenangan. Ia adalah simbol keberanian, kecerdikan, dan semangat untuk terus melaju. Seperti filosofi layar yang terbentang: hidup harus seimbang, berani membaca arah angin, dan tak gentar meski ombak besar menghadang.
​Selama laut masih ada, Sandeq akan terus berlayar—di samudera Mandar, dan di hati setiap generasi yang mencintainya.

Rabu, 20 Agustus 2025

Reportase SANDEQ SILUMBA 2025 Membangun Karakter Negara Martim (1)


By Muhammad Munir 

Tulisan ini mengambil momentum 17 Agustus 2025 saat RI memasuki usia ke-80 tahun. Alasannya jelas, bahwa Sandeq Silumba ini hadir sebagai upaya berbagi rasa merdeka kepada segenap Passandeq yang ikut di even Sandeq Silumba 2025. Para Passandeq adalah sekelompok manusia yang lahir dari rahim maritim Indonesia. Sandeq dikenal sebagai perahu tercepat di dunia dan Mandar sendiri adalah etnis yang padanya tersematkan gelar pelaut ulung. 

Mandar sebagai sebuah bangsa dan Sandeq sebagai ikonnya jelas menjadi bagian dari progres pemerintah untuk membangun Indonesia sebagai negara maritim. Jika itu memungkinkan maka Mandar adalah salah satu suku pemantik dari sebuah tautan itu. Mungkinkah Indonesia bisa menjadi negara maritim terbesar di Asia?. Mungkinkah Sulawesi Barat tampil mempertahankan ke-ulung-an di dunia maritim negeri ini ? 

Pertanyaan seperti ini barangkali mengejutkan sejumlah pihak, tak peduli apakah ia seorang akademisi atau awam. Bahkan bisa jadi yang ditanya tidak memberikan jawaban sama sekali, tetapi justru balik bertanya kepada si penanya pertama: “Apakah mungkin Indonesia menjadi negara maritim? 

Kenyataannya rakyat Indonesia, apakah itu dalam diskusi-diskusi atau perbincangan informal dan forum lain yang ada, sangat jarang mengupas dan menelaah tentang tema-tema kemaritiman Indonesia atau melihat Indonesia sebagai negara maritim. Begitu juga halnya refleksi pemberitaan yang ada atau media-media yang terdapat di Indonesia nyaris tidak pernah mengupas tentang maritim. Jikalau ada pemberitaan yang berkenaan dengan laut, biasanya hal itu terkait hanya dengan kecelakaan, kriminalitas atau pencemaran lingkungan. 

Hal ini seolah-olah sebagai sesuatu yang wajar saja terjadi, karena kebanyakan rakyat Indonesia yang rata-rata masih berada di bawah atau diambang kemiskinan terus menerus disibukkan dengan perjungan untuk bertahan hidup (struggle for survival), tidak sempat memikirkan hal-hal yang tidak mendesak. 

Kemiskinan yang mendera, telah menguras habis energi dan pikirannya, dan meskipun demikian mereka tak mampu juga lepas dari belitan itu. Sementara anggota masyarakat lain yang lebih beruntung, para pekerja formal dan pegawai negeri, disibukkan dengan rutinitas kerja yang justru memfosilkan pikirannya dari gagasan-gagasan besar yang sebenarnya berada dalam jangkauannya. Di samping itu, tak dapat diingkari bahwa Pemerintah sendiri, sejak Orde Baru sampai dengan Era Reformasi ini, tampaknya belum memiliki kepedulian serius untuk mengeluarkan berbagai kebijakan yang memungkinkan Indonesia bergerak menuju negara maritim. Karena itu lengkaplah sudah bahwa wacana apalagi cita-cita rakyat Indonesia sebagai negara maritim.

Kondisi ini sesungguhnya juga melanda Sulawesi Barat selama ini. Sejumput harapan muncul ketika SDK-JSM mencoba merawat komitmen bermaritim itu lewat perhelatan Sandeq Silumba 2025. Tentu ini harus diapresiasi meski tak bisa dipungkiri bahwa dewasa ini banyak muncul perdebatan di antara pengamat dan pakar maritim mengenai istilah mana yang tepat antara kelautan atau maritim. Hal ini karena ketidak-jelasan tentang apa yang dimaksudkan dengan kedua istilah itu dalam merepresentasikan kandungan konsepnya. 

Ada sejumlah kemungkinan makna yang tampaknya berpengaruh terhadap realitas istilah yang merepresentasikan Indonesia ini. Pertama, mungkin karena melihat Nusantara dianggap sebagai archipelago dalam pengertian Inggrisnya, sehingga makna kelautan lebih tepat untuk menggambarkan kondisi fisik negara ini. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian laut adalah kumpulan air asin yang menggenangi dan membagi daratan atas benua atau pulau, sedangkan kelautan hanya dijelaskan sebagai “perihal yang berhubungan dengan laut.” Berhubungan di sini dapat saja diartikan sebagai dekat, menyentuh atau bersinggungan. Uraian pengertian ini menjelaskan bahwa istilah kelautan lebih cenderung memberikan perspektif lebih sebagai bentuk fisik, sebagai physical entity atau physical property. 

Meskipun demikian, kelautan dalam arti luas dapat saja diartikan sebagai segala sesuatu yang mempunyai kepentingan dengan laut sebagai hamparan air asin sangat luas, yang menutupi permukaan bumi. 

Sedangkan istilah maritim, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai berkenaan dengan laut, berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut. Begitu juga istilah maritime menurut Wikipedia, secara primer adalah sifat yang menggambarkan obyek atau aktivitas berkenaan dengan laut. Istilah maritim tak hanya memiliki pengertian sempit, yaitu hanya berhubungan dengan angkatan laut atau angkatan — » laut dalam hubungan dengan kekuatan darat dan udara, atau bahkan dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu angkatan laut dan semua kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan komersial nonmiliter terhadap laut. 

Dilihat dari sisi tata bahasa, kelautan adalah kata benda, maritim adalah kata sifat. Dengan demikian, jika Indonesia adalah negara yang harus memanfaatkan laut, maka istilah maritim lebih tepat. Indonesia harus menjadi negara maritim, bukan hanya negara kelautan. Argumentasinya, negara maritim adalah negara yang mempunyai sifat memanfaatkan laut untuk kejayaan negaranya, sedangkan negara kelautan lebih menunjukkan kondisi fisiknya, yaitu negara yang berhubungan dekat dengan atau terdiri dari laut. Istilah maritim jauh lebih tepat digunakan dalam konteks ini, karena memang menunjukkan aktivitas dan pemberdayaan manusia yang berkenaan dengan laut. 

Sampai disini, penulis hanya mencoba menyentil kesadaran  bermaritim kita agar tidak hanya sebatas even tapi juga sebagai alas pijakan bsgaimana pemerintah bisa dan mampu merekayasa kesejahteraan para nelayan dan pelaut Mandar (baca: Sulawesi Barat). Tulisan selanjutnya akan fokus tentang Sandeq, bentuk, hakikat dan srjarah Sandeq bagi manusia Mandar sampai kepada  Sadeq Silumba 2025. 

BERSAMBUNG 

Sabtu, 16 Agustus 2025

INDONESIA DAN NARASI SEJARAH || Mandar, Kutai, dan Paser dalam Lintasan Waktu

Penulis: Safardy Bora
Sejarah adalah cermin kolektif bangsa, namun kerap kali buram oleh bias pengetahuan yang ditulis dari sudut pandang tertentu. Ungkapan bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun, misalnya, masih menjadi perdebatan panjang. Secara faktual, Belanda tidak pernah berkuasa penuh di seluruh wilayah nusantara selama itu. Kekuasaan VOC dan kemudian pemerintah kolonial lebih dahulu menguat di Jawa, Maluku, dan sebagian Sumatra, baru kemudian masuk ke Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah lain pada abad ke-19 hingga ke-20. Maka, angka 350 tahun lebih tepat dimaknai sebagai simbol panjangnya kolonialisme, bukan sebagai rentang waktu yang seragam.

Lantas, apakah Indonesia telah ada sebelum 1945? Dari sudut pandang kenegaraan, Indonesia lahir resmi pada 17 Agustus 1945. Namun, secara kultural dan geografis, wilayah yang kini disebut Indonesia sudah eksis sejak jauh sebelumnya. Ia hadir dalam berbagai istilah: “Nusantara” pada era Majapahit, “Dwipantara” dalam naskah kuno, dan “Hindia Belanda” dalam terminologi kolonial. Artinya, Indonesia sebagai sebuah kesadaran kolektif sudah tumbuh, meskipun nama politiknya baru dirumuskan pada abad ke-20.

Namun, dalam arus historiografi nasional, terdapat persoalan yang patut digugat: bias Jawa-sentris. Narasi perjuangan sering kali ditarik dari pusat kekuasaan Jawa, sehingga wilayah-wilayah lain yang memiliki sejarah perjuangan heroik kurang mendapat tempat. Mandar di Sulawesi Barat, serta Kutai dan Paser di Kalimantan Timur, adalah contoh nyata.

Mandar memiliki tradisi pelaut dan perdagangan yang kuat, sekaligus perlawanan sengit terhadap kolonialisme. Armada laut Mandar bukan hanya sarana ekonomi, melainkan juga benteng perlawanan. Rakyat Mandar berulang kali melawan penetrasi Belanda, baik di pesisir maupun di pedalaman, namun kisah ini jarang diabadikan dalam buku pelajaran nasional. Sejarah lebih menyorot pusat-pusat perlawanan di Jawa, sementara keberanian rakyat Mandar dipinggirkan.

Demikian pula di Kalimantan Timur. Kutai adalah kerajaan tua dengan jejak peradaban yang telah hadir sejak abad ke-4 melalui Prasasti Yupa. Ia menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki tradisi politik dan budaya yang mapan jauh sebelum kolonialisme datang. Paser, di sisi lain, mencatatkan banyak perlawanan terhadap Belanda, baik secara diplomatik maupun fisik. Namun dalam narasi nasional, kisah Kutai dan Paser sering kali ditempatkan sebagai catatan kaki, bukan bagian utama dari perjuangan bangsa.

Apakah semua ini hanya karena Jawa-sentris? Tidak sepenuhnya. Ada faktor politik pengetahuan: siapa yang menulis sejarah, dengan sumber apa, dan dari kepentingan mana. Kolonialisme Belanda berpusat di Batavia, sehingga catatan sejarah yang diwariskan lebih banyak tentang Jawa. Setelah kemerdekaan, pemerintah pusat pun melanjutkan penekanan narasi dari Jawa sebagai poros utama, sehingga daerah lain—Mandar, Kutai, dan Paser—terpinggirkan dalam ingatan kolektif bangsa.

Untuk itu, sudah saatnya dilakukan dekolonisasi pengetahuan. Sejarah harus ditulis ulang dari perspektif daerah, dengan memberi ruang bagi narasi Mandar, Kutai, Paser, dan wilayah lain di luar Jawa. Dengan begitu, kemerdekaan Indonesia dapat dipahami sebagai hasil dari perjuangan kolektif seluruh anak bangsa, bukan milik satu daerah atau kelompok semata.

Penutup

Indonesia bukan sekadar kisah tentang “350 tahun dijajah Belanda”, melainkan tentang bagaimana berbagai suku, kerajaan, dan daerah membangun kesadaran kebangsaan bersama. Mandar dengan keberanian lautnya, Kutai dengan peradaban tuanya, dan Paser dengan perlawanan rakyatnya, semuanya adalah mozaik yang menyusun keutuhan Indonesia. Dengan memahami itu, kita menjadi bangsa yang lebih arif dan adil dalam menghargai sejarah.

Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke-80.