Sabtu, 27 Juli 2024

KANDIDAT BUPATI POLMAN || Tak Boleh Ada Yang Merasa Lebih Mandar !

Catatan: Admin 

Salah seorang member sebuah WAG mengirim link tulisan berjudul "Bebas Manggazali Mahir Berbahasa Mandar Calon Bupati Polman yang Ori" Penulisnya bernama Andi Jalil Maulana yang mengatasnamakan Forum Masyarakat Mandar. Tulisan tersebut dirilis oleh tribunnews.com (27/07/2024). Sipengirim melabeli situs berita tersebut dengan catatan singkat "'Tulisan ini sudah mengarah ke politik identitas yang tidak sehat". 

Praktis muncul beberapa tanggapan yang beragam. Salah satunya menyesalkan pihak media yang menaikkan tulisan tersebut. "Seharusnya pihak media dalam hal ini redaktur memilah berita atau tulisan yang harus dimuat, apalagi media sekelas Tribun" tulisnya. Diskusi kemudian berkembang sebab ada penanggap yang memberi komentar:  "Bahaya ini , sudah termasuk politik identitas yang negatif". Bahkan Isi berita ini bisa jadi alasan melakukan somasi ke pihak media. Ini bukan soal pilihan politik tapi soal etika dalam pemberitaan". Tulis anggota grup yang lain. 
Diskusi kemudian seru sebab seorang member lainnya ikut nimbrung menulis komentar panjang: Pakar sosiologi Islam, Ibnu Khaldun , menyebutkan, POLITIK dan IDENTITAS merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dia akan terus berkelindan dari mulai kehidupan umat manusia sampai dengan berakhirnya dunia. 
Sementara Samuel P. Hungtington, lanjutnya, dalam bukunya Benturan Antar Peradaban menyatakan, transformasi pola konflik di politik domestik dari konflik yang bersumber pada ideologi menjadi konflik yang berbasiskan identitas. Bila melihat kondisi hari ini, tak ada ruang pertarungan ideologi, yang paling memungkinkan hanyalah pertarungan politik identitas, dimana masyarakatnya memperjelas posisi "kita" dan "mereka" dalam tema kultural, seperti kesamaan bahasa, sejarah, dan kebiasaan.

Sampai disini saya mulai berfikir, bahwa betapa bangganya penulis (baca: Andi Jalil Maulana) jika tulisannya ditanggapi secara serius. Mengingat tulisannya hanya menang di judul dan foto yang dipasang oleh pihak tribun. Itupun menangnya pada propokasi yang saya anggap murahan. Betapa tidak, tampilan situs terlihat pada foto menyasar Dirga tapi kontennya menyasar Aji Assul yang notabene eksportir kakao.  Tribun seakan menyuarakan perang dari Bebas terbuka ke Dirga yang dianggap bukan orang Mandar. Disini keteledoran media Tribun. Pemberitaan ini bertendensi pada politik identitas yang tidak sehat dan bisa merusak tatanan demokrasi dan kehidupan sosial masyarakat Mandar.

Andi Jalil Maulana dengan tanpa beban mengatasnamakan Forum Masyarakat Mandar, tapi tak faham bahwa yang dilakukannya adalah politik identitas yang mengarah pada pengrusakan tatanan demokrasi dan sosial. Dari judul hingga isi berita jelas sudah mengarah ke sana. Alasan Bebas Manggazali Mahir berbahasa Mandar lalu dianggap calon bupati yang ori. Sungguh ini adalah fragmen ketidakfahaman penulisnya terhadap konten Amandaran dan Atauang. Saya tidak bisa bayangkan jika penulisnya memberi judul Hanya Bebas yang Ori, yang lain KW (KaWe). Sejak kapan pemahaman bahasa menjadi satu-satunya penguat status seseorang? Sejak kapan Bebas Manggazali dianggap Mahir berbahasa Mandar? Kalau tau bahasa Mandar mungkin iya, tapi jika dianggap mahir, mesti diuji dulu. Intinya, jangan ada kandidat yang merasa lebih Mandar dari yang lainnya. 

Kepada Abd. Jalil Maulana, Mandar itu nilai, nilai itu angga', angga' itu adalah siri' anna lokko'. "Mua' diang anu kadzae' papattengngi diolo', messisi' ai tama anu macoa". Ingat, di Polewali Mandar ini ada Jawa, Bugis, Toraja, Makassar, Pattae', Pattinjo, Pannei, Pakkado' Pa'denri, Pakkone'e dan lainnya. Jika dalam fikiranmu Mandar adalah bahasa, maka berhati-hatilah Ber-Mandar, jangan sampai Mandarmu menjadi bara bagimu.

Sabtu, 20 Juli 2024

DAENG TOMPO || Pemilik Lahan Pertanian Ondernemen Maloso

Catatan Muhammad Munir


Pada sebagian wilayah Desa Baru' dan Desa Botto dari arah Jembatan Mapilli ke Katumbangan nama Daeng Tompo adalah nama yang familiar pada petani pemilik SPPT Persil (sekian-sekian). Demikian juga di Desa Bonne-Bonne dan Segerang. Sosok Daeng Tompo adalah Pemilik atas ratusan hektar lahan pertanian dan perkebunan yang dikembangkan mulai tahun 1928. 

Kawasan tanah DAS Maloso Bonne-Bonne, Segerang, Baru dan Botto ini adalah lahan Ondernemen Belanda untuk kontrak 100 tahun, dimulai tahun 1883-1983). Dari tanah-tanah inilah seorang bangsawan dan ulama Bugis  datang  ke tanah Mandar pada tahun 1928 mengakuisisi lahan bekas tanah ondernemen maloso dari Belanda di Mapilli.  

Luasnya sekitar seluas 500 hektar. Lahan ini dibuka sebagai kawasan pertanian dan perkebunan dengan mempekerjakan orang orang Bugis dan Toraja, termasuk sebagian orang Mandar. Itulah makanya di Desa Segerang terdapat nama Dusun Taraujung (pemukiman Toraja), Sumael (Pemukiman Mandar) dan Padang (Pemukiman Bugis) sementara Segerang sendiri menjadi pusat perkampungan bagi siapa saja dari keluarga penggarap. 

Sebagai ahli agama, Daeng Tompo membangun sebuah Masjid yang tepat berada di pertigaan ke Padang, sampai sekarang masjid itu masih berdiri kokoh. Ba jihkan konon, menurut Arajang Binuang Lamattulada nama Segerang adalan pemberian dari Daeng Tompo. Itulah makanya, masyarakat  mengabadikan namanya dengan nama Jalan DAENG TOMPO yang menghubungkan antara Desa segerang, Desa Rumpa Kecamatan Mapilli.