Sabtu, 18 Januari 2025

PENGANTAR PENULIS ||MELISAN TULISKAN KEMENANGAN



Dokumentasi 2017

Bismillahirrahmanirrahim, Kalimat indah itu saya jadikan pembuka sebagaimana status ayat itu menjadi pembuka dalam QS. Al-Fatihah. Suratul Fatihah adalah pembuka atau kunci dalam segala urusan dengan Tuhan, manusia dan alam. Maka kepada-Nya jua semua kuserahkan, akan seperti apa coretan ini bermanfaat bagi siapa saja. Termasuk ketika saya mengambil keputusan bergabung dalam barisan SDK-JSM.   
     
Buku “Jejak Kemenangan” ini telah saya rancang sejak memutuskan bergabung dalam Garda Perjuangan SDK-JSM pada Pilkada kali ini. Sosok Salim S. Mengga bagi saya adalah panutan yang patut untuk dipatuhi. Maka ketika dua suhu ini bergabung satu kubu, saya sudah yakin akan menang. Sejak itu saya niatkan menyusun buku ini sebagai upaya melisan tuliskan kemenangan. Ternyata, kemenangan itu berpihak ke SDK-JSM. Maka jadilah buku ini sebagai bentuk apresiasi saya kepada kedua sosok ‘Malaqbiq’ ini. 

Lembaran-lembaran tulisan yang berserakan sejak awal menemukan takdirnya sebagai buku berkat dukungan dan bantuan dari Dr. Sitti Suraidah Suhardi, H. Syamsul Samad, Sukri Umar, Ary Iftikhar Shihab (Koje) dan Dirga Adhi Putra Singkarru. Semangat merampungkannya semakin menggebu ketika gagasan ini saya sampaikan ke Bapak Suhardi Duka. Beliau sangat mengapresiasi dan mengetik kata: Menarik, lanjutkan !. Kepada Pak Jendral Salim S. Mengga juga saya sampaikan. Belau mengatkan, Saya akan terus mendukung upaya Ananda Munir dalam melakukan ini”.    

***

Sejak Pilgub 2006, JSM adalah sosok yang kerap saya dukung dalam berbagai momentum pemilihan, baik itu di Pilkada maupun di Pemilu. Pada Pilgub 2017 terkesan saya menjadi pendukung ABM-Enny. Itu karena saat itu saya masih berstatus sebagai kader Partai Amanat Nasional (PAN). Secara, saya bergabung di PAN sejak tahun 2006-2018. Tapi hati nurani, tetap menjadi milik Sang Jendral Salim S. Mengga.  

Alasan lain saya bergabung sebagai pendukung pasangan SDK-JSM karena pertimbangan momentum. Sejak Sulbar terbentuk, Klan Mengga, Masdar dan Manggabarani kerap menjadi satu-satunya yang selalu berkontestasi dalam setiap pemilihan, baik itu Bupati maupun Gubernur. Diantaranya itu muncul Anwar Adnan Saleh meruntuhkan hegemoni 3 M itu. Seiring perjalanan waktu, SDK dan Hendra S. Singkarru menjadi sosok penyeimbang diantara deretan tokoh itu. Belum lagi Aras Tammauni dan Agus Ambo Djiwa yang juga menjadi sosok yang diperhitungkan dalam berbagai momentum pemilihan kedepan. Pilkada Sulbar 2024, SDK, JSM dan Singkarru bergabung. Tentu ini merupakan kekuatan besar yang hampir bisa dipastikan jadi pemenang. 
Pilkada Sulbar 2024 yang baru saja lewat (27 November 2024) lalu menjadi puncak rangkaian perjalanan panjang bagi Suhardi Duka dan Salim S. Mengga memenangkan pertarungan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2025-2030.

Pasangan dengan tagline SDK-JSM ini keluar sebagai pememang mengalahkan Andi Ibrahim Masdar (AIM)-Asnuddin Sokong, Andi Ali Baal Masdar (ABM)-Arwan dan Prof. Husain Syam (PHS)-Enny Angraeni Anwar. Ali Baal Masdar adalah Gubernur Sulawesi Barat periode 2017-2022) dan Enny Angraeni Anwar adalah Wakil Gubernur Sulawesi Barat yang mendampingi ABM. 

Strategi memasangkan antara SDK dan JSM adalah kunci kemenangan itu. JSM adalah sosok yang dikenal sebagai tokoh karismatik, mantan jendral. Bisa disebut politisi dan ulama. Berpadunya kekuatan SDK dan JSM menjadi sebuah strategi yang menurut para pengamat adalah pasangan tak terkalahkan. Terlebih dibelakang terdapat barisan partai pengusung, singkarru family, dari unsur eksekutif dan legislatif serta politisi dan tokoh agama, adat serta pemuda yang bersinergi membangun kekuatan untuk SDK-JSM. 

SDK-JSM diusung oleh koalisi besar yakni Partai Demokrat, Partai Nasional Demokrat (NasDem), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Gelora, Partai Ummat dan Partai Buruh. Selain Tim Koalisi Partai itu, SDK juga didukung oleh Tim Relawan dan sejumlah komunitas pendukung yang bekerja solid di lapangan. Tim pemenangan yang terus menjaring berbagai kekuatan akar rumput untuk target menjadikan SDK-JSM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat.

Dengan semua itu, perjalanan panjang SDK semakin meyakinkan sampai ke finis, karena hal yang klasik dalam sebuah perjuangan adalah finansial (logistik). SDK menjadi sosok yang bertanggung jawab untuk kebutuhan finasial, sementara JSM dan simpatisannya menjadi tonggak pemenangan di lapangan dan bekerja tanpa pamrih. Hal tersebut memang telah dilakukan sejak Pilkda Gubernur 2006, 2011, 2017 sampai 2024 ini.  

Demikianlah yang terjadi dalam proses Pilkada Sulbar. SDK-JSM memiliki dua pilar pemenangan utama. Pertama adalah partai politik pengusung SDK-JSM. Di barisan partai politik ini ada 7 partai politik (tiga pemilik kursi dan empat partai non kursi). Partai NasDem memiliki 5 kursi dan 1 kursi dari PKS. Sementara dari partai non parlemen adalah PSI (Partai Solidaritas Indonesia), Partai Gelora, Partai Ummat dan Partai Buruh. 

Pilar Kedua banyaknya tokoh Sulbar dan komunitas masyarakat yang terdiri dari pemuda, petani, nelayan, petrnak, pelajar, mahasiswa, penggiat literasi dan sejumlah organisasi pemuda antara lain SDK Community, Koje Community Sama Rata, Barisan Anak Jenderal, Sayap Muda JSM, Garda Bersatu 80SS, dan lainnya yang tergabung sebagai relawan. Para tokoh sekelas H. Hendra S. Singkarru, Hajrul Malik, Abd. Jawas Gani, Pendeta Abraham, Muhammad Ilyas Yacub, Muhammad Asri Abdullah, Abdul Rahman Tona, H. Ramli, H. Sabaruddin, S. Taswin Al-Attas, Abd. Rahman Karim, Andi Morgan, Hamka, Syarifah Nur Abbas, dan ratusan tokoh yang siap memenangkan SDK-JSM.    

Interaksi dengan Suhardi Duka

Mengenal nama SDK sesungguhnya sudah lama, sejak ia menjabat sebagai Ketua DPRD Mamuju ketika awal-awal perjuangan pembentukan Propinsi Sulawesi Barat (2001). Ketika itu, terjadi sebuah persoalan terkait rekomendasi DPRD Mamuju yang dinilai Pemprop Sulsel kurang tegas, apakah akan mendahulukan pemekaran Mamuju atau dukungan terhadap perjuangan Pembentukan Propinsi Sulawesi Barat. Pihak KAPP Sulbar meminta agar mengubah surat rekomendasi yang pernah dikeluarkan oleh DPRD Mamuju. 

Tindakan SDK saat itu adalah menjawab surat dari Pemprop Sulsel (gubernur) untuk menegaskan bahwa pihaknya menyetujui perjuangan pembentukan Propinsi Sulawesi Barat. Hal ini dilakukan agar semua bisa berjalan lancar tanpa harus melalui paripurna yang tentu memakan banyak waktu sebab harus rapat untuk dengar tangapan fraksi-fraksi di DPRD Mamuju. Inisiatif SDK ini rupanya bisa menyelamatkan proses perjuangan Sulbar (Adi Arwan Alimin, 2016). Andai hari itu, SDK tak mengambil tindakan, sangat mungkin Sulbar tak akan pernah lahir. Ini menjadi berita gembira bagi pejuang Sulbar dan dari sanalah nama SDK mulai saya dengar.  

Pertengahan tahun 2015, barulah saya bisa bertemu langsung dengan Suhardi Duka yang ketika itu masih menjabat sebagai Bupati Mamuju. Saat itu saya membersamai Andi Morgan, Hamka, Heri Dahnur Syam, dan lainnya menghadap langsung ke SDK untuk dukungannya terhadap perjuangan Pembentukan Kabupaten Balanipa. SDK sangat merespon adanya upaya pemekaran yang diperjuangkan oleh masyarakat yang ada di Polman. Ia menyambut kami dengan penyambutan yang sangat familiar.

Penulis bersama teman-teman Barisan Pemuda Balanipa bersama SDK (Bupati Mamuju) saat bersilaturrahmi dengan SDK di Kantornya (2015)

Pada tahun yang sama, komunitas literasi yang saya bentuk mendapat undangan dari Yayasan Karampuang di d’Maleo Hotel Mamuju dan mendapat kehormatan bertemu kembali bersama kawan-kawan penggiat dari Tinambung. Kesempatan ini menjadi gerbang awal bagi saya berinteraksi dengan tokoh-tokoh Mamuju dan beberapa komunitas literasi terlahirkan. Adalah Nehru Sagena, Suparman Sopu, Hajrul Malik, Abd. Jawas Gani, Adi Arwan Alimin dan lainnya menjadi pemantik.      
  Penulis bersama SDK dalam sebuah acara yang digelar oleh Yayasan Karampuang di d’Maleo Hotel Mamuju, 2015

Ketika Konferensi Rumah Jonga (Senin 5 Agustus 2024) benar-benar terjadi dan memastikan SDK berpasangan dengan Salim S. Mengga, saya kemudian menyatakan diri bergabung secara penuh. Melalui Ketua Kolaisi Partai Sulbar, Sukri Umar, saya hadir bersama Andi Morgan, dan kawan-kawan dari Polman untuk hadir dalam Pembekalan Tim Pemenangan SDK-JSM di Maleo Hotel. Setelah acara, Syamsul Samad memberi saya kesempatan bertemu dengan SDK secara langsung di Hotel Maleo setelah agenda pembekalan.
Pertemuan ini memberi kesan bahwa SDK adalah sosok politisi literat, sebab pada acara pembekalan tim itu sekaligus menjadi ajang peluncuran bukunya yang berjudul “SDK Mendayung Dari Hulu, Maestro Politik Bertangan Dingin Dari Sulawesi Barat” Buku ini merupakan buku autobiografi-nya yang digarap oleh Sofa Nurdianti, seorang penulis nasional yang cukup bisa diandalkan dalam hal tulis menulis. Terlebih, saat bertemu, ia memberi apresiasi terhadap beberapa tulisan yang saya publish di media online dan jejaring medsos lainnya.
    
Pada Minggu 1 September 2024, kembali bertemu di Rumah Putih Palippis (rumah Syamsul Samad). Hadir dalam acara yang dipandu oleh Syamsul Samad tersebut Salim S. Mengga, Ary Iftikhar Shihab, Jalaluddin, Gazali Baharuddin Lopa, Imam Efendi S. Singkarru, Abdul Muin dan sejumlah kader partai pengusung dan relawan. Pada kesempatan tersebut SDK menghadiahkan langsung bukunya kepada saya dihadapan ratusan orang tim dan simpatisannya. 
Maka jadilah malam itu sebagai ajang tukar buku dengan SDK sebab saya juga menyerahkan dua judul buku yang saya tulis, yakni Ibu Agung Andi Depu dan Hj. Maemunah Djud Pantje. 

Saat diberi kesempatan berbicara, saya memang lebih menekankan agar kelak jika jadi Gubernur Sulbar, Pemajuan Kebudayaan dan Pengembangan Literasi menjadi hal inti yang saya sampaikan. Baik SDK maupun JSM, semua merespon baik aspirasi tersebut. 

Bahwa kemudian setelah pencoblosan hasil Quik Count SDK-JSM memimpin perolehan suara terbanyak, itu sudah saya duga bahwa bergabungnya dua suhu dalam satu kubu ini adalah tanda kemenangan. Itulah makanya dalam interaksi saya dengan SDK di WA Grup, saya selalu menyapanya dengan panggilan Pak Gub. Ini pula yang selalu saya batinkan agar SDK-JSM diberikan jalan untuk jadi pemimpin di propinsi yang berjargon Malaqbiq ini.  

Interaksi dengan Jenderal Salim S. Mengga

Foto 2019 saat Salim S. Mengga dan Ardi Amanah bertandan ke Rumah Penulis 

Tahun 2006 menjadi awal bagi saya mengenali sosok Jendral Salim Mengga dan kerap berkunjung ke Rumah Jonga Polewali bersama teman-taman saat beliau ada waktunya. Maka Pilkada tahun 2006 itu juga saya bergabung sebagai salah satu tim pendukung. Termasuk ketika terjadi aksi-aksi warga yang memadati Kota Mamuju kala itu juga saya harus berada di Mamuju bersama massa pendukung JSM di Mamuju. Kontestasi Pilkada memang selalu memberi ruang kecurangan bagi penyelenggara yang tak punya nurani. Itulah yang terjadi dan menimpa sosok JSM. 

Pada Pilkada 2011 juga demikian. Saya menyatakan bergabung secara penuh dengan pertimbangan yang sangat matang mengingat PAN menjadi salah satu pengusung utama sebab JSM menggandeng Abd. Jawas Gani yang tak lain adalah Ketua DPW PAN Sulbar. Semua titik kampanye pasangan JSM-JAWAS atau Salim Saja saya ikuti di 5 Kabupaten (Mamuju Tengah saat itu belum terbentuk). Kendati hasil Pilgub harus menerima kenyataan sebagai pihak yang kalah, tapi lagi-lagi kami harus legowo dan sabar. 

Sebuah pengalaman lucu yang sampai saat ini saya ingat terkait Pilgub 2011. Saat itu saya masih jadi Imam Masjid Nuruttaubah Baru’dua Desa Botto. Kepala Dusun saat itu mendukung ABM, sementara saya mendukung JSM. Entah kami terlalu serius atau sebuah kobodohan yang belum difahami, saya dengan Pak Dusun bertaruh jika ABM menang di TPS Baru’ Dua maka saya mundur jadi Imam Masjid. Begitupun jika JSM menang, maka Pak Dusun harus rela mundur dari jabatannya. Hasilnya kemudian, JSM kalah 7 suara di TPS kami. Praktis saya mengundurkan diri dari jabatan Imam Masjid sehingga warga harus mendatangkan Imam dari luar dengan konsekwensi harus ada intentif bulanan baginya. 
Sepanjang tahun itu komunikasi saya dengan JSM selalu terpelihara baik lewat medsos maupun interaksi langsung. Sampai pada Pilgub 2017, JSM kembali maju bersama Hasanuddin Mas’ud. Secara nurani saya pribadi mendukung JSM, tapi karena saat itu saya masih terikat dengan status sebagai kader PAN maka otomatis saya berada di kubu ABM, meski orang-orang di sekitar Matakali juga tidak menghitung saya sebagai pendukung ABM sebab saya selalu menjadi orang JSM dalam setiap kontestasi politiknya. 

Ketika saya ke Belitung, saya tak memberi tahukan ke JSM tentang agenda saya melacak jejak I Calo Ammana Wewang di Belitung. Setelah mendapati postingan saya di facebook, beliau menyuruh Ardhy (Sumarding) menelpon dan langsung minta nomor rekening saya setelah kuberi tahu maksud dan tujuan saya ke Belitung. JSM memang selalu tampil sebagai sosok pengayom di setiap aktifitas literasi kerap saya suarakan dalam berbagai ruang dan waktu. Bahkan tak jarang, beliau berkunjung ke rumah saya atau memanggil saya bertemu jika beliau punya kesempatan. 

***

Bergabung sebagai tim kali ini, saya begitu yakin bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode mendatang pemenangnya adalah SDK-JSM. Ekspektasi yang saya bangun itu rupanya berkelindan dengan kenyataan, sebab setelah hari pencoblosan 27 November 2024, pasangan ini berhasil mendulang suara berdasarkan hitungan sementara (Quick Count).

Terlebih pada 7  Desember 2024, hasil rekapitulasi perhitungan langsung (Real Count) KPU menetapkan SDK-JSM sebagai pemenang berdasarkan Real Count. 
KPU kemudian menetapkan Pasangan Calon Terpilih Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi Sulawesi Barat Pemilihan Tahun 2024 di Grand Maleo Hotel Mamuju, 9 Januari 2025.  Rapat Pleno KPU menetapkan Suhardi Duka – Salim S. Mengga berhasil memperoleh dukungan dari masyarakat Sulbar yang signifikan yakni 337.512 (46%) suara. Sementara pasangan Andi Ibrahim Masdar – Asnuddin Sokong memperoleh 144. 154 (19,72%)sura. Adapun pasangan Ali Baal Masdar – Arwan Aras mendapatkan 137.181 (18,77%) suara. Perolehan suara paling rendah adalah pasangan Husain Syam – Enny Angraeni sejumlah 111.980 (15,32%).  

SDK sebagai Pemenang Pilgub 2014 melalui Rapat Pleno Penetapan menjadi pemenang di Pilgub 2024.  
Saya tentu bersyukur atas capaian ini. Sebab sosok yang saya jadikan panutan berhasil menjadi pemenang meski sebagai Wakil Gubernur. Rasa syukur dan kebahagian melingkupi mengingat SDK sebagai Gubernur adalah politisi yang menjadikan komitmen sebagai bagian dari iman, maka nikmat mana lagi yang kita dustakan?. “Allahu Akbar, Menang, Menang, Menang”. Demikianlah pekikan yang menggema ke udara saat iring-iringan kendaraan yang melakukan konvoi kemenangan SDK-JSM pada suatu sore di hari setelah pencoblosan.   

***

BUKU ini adalah rekaman perjalanan untuk sampai kepada kemenangan puncak di Pilkada Sulbar 2024. Terpilihnya SDK-JSM tidak serta merta harus kita lupakan. Ada luapan rasa yang tak boleh diabaikan. SDK pernah kalah di Pilgub 2017, JSM bahkan selalu kalah dalam setiap kontestasi Pilkada. Tapi jalan panjang kemenangan itu menjadi penting sehingga narasi dalam buku ini bisa mengingatkan kita semua, bahwa untuk menang itu tidak mudah. Ada proses yang mesti kita jalani. Rasa sakit, kecewa, lelah, bahkan letih mungkin menemani. Terlepas menyakitkan ataupun menyenangkan, semua harus dilakoni dan nikmati hingga sampai pada hasil akhir.

Dari segala rasa itulah, keduanya memupuk asa untuk mampu bertahan, berjalan, berlari hingga sampai ke puncak yang ingin dituju. Keduanya adalah sosok yang tak bisa membedakan antara menyenangkan dan menyakitkan ketika itu berhubungan dengan kepentingan rakyat. 

Narasi ini tercipta dari serangkaian perjalanan panjang SDK-JSM. Tak hanya itu, sebuah kemenangan besar pasti melibatkan banyak orang yang berjuang sesuai kemampuannya. Waktu, tenaga, uang dan fikiran pasti ada yang mereka gunakan untuk berjuang. Bahkan pada tingkatan doa saja, harus diapresiasi sebagai bentuk keberpihakan. Ketika Ibrahim as dibakar oleh Raja Namrud, serombongan semut membawa air dengan maksud memadamkan api. 
Kelakuan semut ini menjadi bahan tertawaan sebab posturnya yang kecil tentu tak akan mampu membuat api Namrud padam olehnya. Tapi semut dengan lantang mengatakan, “Kami tau, upaya ini tak mungkin bisa berhasil. Tapi setidaknya kami telah menunjukkan keberpihakan kami terhadap Ibrahim”. 

Ketika narasi ini mewujud sebagai buku, maka ia menjadi wadah bercerita tentang banyak hal. Dinamika perjuangan dan proses dialektika yang melingkupinya harus terasa. Dan buku ini mencoba merekam itu meski tidak mungkin utuh. Keterbatasan waktu dan ruang, (mungkin juga uang) yang menjadi penyebab klasik. Selain itu, keterbatasan halaman buku ini juga harus dipertimbangkan. 

Kondisi inilah yang melatari sehingga ada proses yang mungkin tak terekam, ada banyak kejadian yang tak terceritakan, bahkan ada banyak tokoh yang tak bisa kami apresiasi di buku ini. Tak hanya itu, fokus penulisan buku ini tidak secara umum merekam proses di semua wilayah kabupaten di Sulawesi Barat. Terasa sekali Polewali Mandar dan Mamuju menjadi inti, selebihnya Majene. Saya memang sempat mengunjungi Mamasa, Mamuju Tengah (mines Pasangkayu). 
Tapi lagi-lagi harus di fahami bahwa ini bukan sesuatu yang direncanakan atau disengaja. Ini murni kekurangan dari penulis. Jangan sampai ada yang berfikir sebagai bentuk pengabaian terhadap daerah lain. Sungguh, secara nurani saya tak mungkin melakukan itu, terlebih ketika mentadabburinya lewat pappasang kanne-kanne’ta, sisara’pai mata malotong anna sisara’ PItu Ulunna Salu, Pitu Ba’banan Binanga.

Olehnya itu, kepada tim yang tak sempat saya lisan tuliskan di buku ini, saya mohon maaf. Semoga ini bisa ditindak lanjuti kedepan, agar perjuangan dan kinerja kawan-kawan di lapangan semua terukur dan jelas serta bisa diabadikan.

***
Saya sengaja menyusun buku ini dengan beberapa bagian. Diawali dengan Sinopsis yang menyuguhkan sejumlah peristiwa yang melatari dan mejadi alasan SDK-JSM terus melakukan pola pergerakan untuk bisa menjadi pemimpin di Sulawesi Barat. BAB pertama saya menaikkan profil kedua sosok yang akan mengawal pemerintahan Sulbar 5 tahun kedepan. Semua harus tahu proses perjalanan kedua tokoh Sulbar itu sampai pada titik ini. Jalan panjang yang dilaluinya itu tak mudah, bahkan berliku, kadang juga menyakitkan, melelahkan. Tapi demi Sulbar, keduanya mampu menjadikan kelelahan itu letih menyertainya. 

Pada bagian selajutnya buku ini memberikan gambaran soliditas tim yang tergabung dalam Tim Koalisi Partai, Tim Relawan dan Tim Keluarga. Termasuk para tokoh politisi, tokoh agama, pemuda, dan masyarakat yang ikut menjadi bagian dari proses kemenangan ini. Adapun bagian terakhir dari 6 BAB buku ini adalah pernak-pernik yang berisi tulisan apresiasi yang tak hanya memuji tapi sekaligus menguji keberadaan SDJK-JSM sebagai pemimpin daerah bernama: SULAWESI BARAT ini. 

Pada akhirnya saya mengucapkan Selamat dan Sukses kepada SDK dan JSM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat 2025-2030. Kepada Ibu Suraidah Suhardi, Syamsul Samad, Ary Iftikhar Shihab (Koje’), Sukri Umar, SP yang saya anggap sebagai pemantik lahirnya buku ini. Terima Kasih kepada H. Hendra S. Singkarru, Abdul Jawas Gani, Muhammad Ilyas Yacub, Tammalele, Subriadi Bakri, Muhammad Aliwardi Sail, Dirga Adhi Putra Singkarru, Ratih Megasari Singkarru, Iskandar Muda Baharuddin Lopa, Abdul Rahim, Suparman Sopu, Hajrul Malik, S. Syarifah Nur Abbas As-Siraj, Abdul Rahman Tona, Abdul Rahman Karim dan semua yang tak bisa saya sebut satu-satu. 

Wabilkhusus Andi Morgan, Muhammad Aslam, Andri Prayoga Singkarru, Imam Efendi S. Singkarru, Ardhy Amanah, S. Wildan S. Baso, S. Fauzi, Andi Qadir Sangalipu, Jalal, Musjad, Tahiruddin, Burhan, dan semua yang tak bisa saya sebutkan satu-satu. tetap semanagat. Kemenangan ini bukan akhir tapi awal untuk memulai apa yang kita cita-citakan bersama. 

Campalagian – Polman 
27 November – 9 Januari 2024   



MUHAMMAD MUNIR





Jumat, 17 Januari 2025

Mengenal HS. TASWIN KOSSENG ALATAS

S. TASWIN KOSSENG ALATAS, SE adalah salah satu keluarga JSM yang cukup total mendukung pasangan SDK – JSM di Pilgub 2024. Ia harusnya berada di kubu ABM – Arwan karena ia adalah salah satu kader Gerindra yang pernah menjadi kendaraan politiknya selama tiga periode di DPRD Majene (2009 – 2024). Tapi, melihat potensi menang, maka ia menjadi garda terdepan mendukung SDK – JSM. 
Terlebih, JSM sepupunya, karena Taswin adalah putra dari HS. Kosseng Alatas dari ibunya yang bernama Hj. Nurmiah. 

Alatas atau marga Al-Attas ini masuk ke Mandar berasal dari dua jalur, yakni perdagangan dan dakwah. Jalur perdagangan inilah yang kemudian beranak cucu yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh di Polewali Mandar yaitu keluarga Sayyed Mengga Al-Attas. Sementara jalur dakwah melalui Al Habib Alwi bin Husain Al-Attas. 
Mereka yang berperan penting dalam kedatangan orang Arab yang sayyid di Mandar adalah Habib Alwi bin Abdillah bin Sahl Jamalullail. Beliau memiliki hubungan baik hingga penjuru dunia seperti Malaysia. Ia pula yang berjasa mendatangkan keluarga Al-Attas yang merupakan kakek dari Puang Mengga. Keduanya sebenarnya memiliki pertalian hingga ke kakek-kakek mereka. Ketemunya ke Umar dan Hud yang bersaudara. HS. Kosseng Alatas adalah sosok yang melahirkan HS. Taswin.  

HS. Taswin lahir di Parepare, 31 Mei 1961 tapi pendidikan dari SD sampai SMA ia selesaikan di Majene. Ia menempuh pendidikan dasarnya di SD Tanjung Batu dan selesai tahun 1975. Ia kemudian lanjut di SLTP Negeri 1 Majene tahun 1978 dan selesai di SMA Negeri 1 Majene pada tahun 1981. Selesai SMA, ia memilih tak lanjut kuliah, tapi memilih bekerja sebagai kontraktor pada tahun 1983 hingga 2009 atau pada saat ia terpilih sebagai Anggota DPRD Majene. 

Sukses sebagai pengusaha kontraktor, ia dipercaya memimpin HIPMI sebagai ketua pada tahun 1993 – 1998. Ia juga didapuk jadi Ketua Gapensi tahun 1998 – 2001 dan Ketua BMK Kosgoro tahun 2007 – 2011. Bisa jadi dari serangkaian posisi penting diorganisasi, ia dengan mudah lolos sebagai Anggota DPRD Majene pada Pemilu 2009. Pada saat menjadi anggota DPRD ituylah ia mulai kuliah dan berhasil meraih gelar Sarjana Ekonomi pada tahun 2014.

Pasca penetapan SDK-JSM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Terpilih Sulawesi Barat, ia semakin sibuk pendampingi JSM dalam berbagai urusannya. Kini, S. Taswin menetap di Makassar tapi tetap berupaya menenun nasib Sulbar dengan caranya sendiri. 

Kamis, 16 Januari 2025

MENGENAL MUHAMMAD ASLAM || Direktur CV. Kenduri Cinta



MUHAMMAD ASLAM atau yang akrab disapa Bang Ka’lang ini adalah salah satu generasi Mandar yang banyak berkecimpung dalam dunia kebudayaan. Ia lahir di Tinambung dari pasangan Ahmad Syukur dan Hj. Husna Ba’do Hamid pada hari Kamis, 20 Maret 1975. Pada Pilkada 2024 kemarin ia merupakan Korcam Tinambung dalam Struktur Pemenangan SDK-JSM. Pria yang banyak aktif di Komunitas Teater Flamboyant Mandar ini tercatat sebagai salah satu kader Partai Demokrat tertua di Sulbar. Itu bisa dilihat dari KTA yang dia punya terbit pada tahun 2003 dengan Nomor 7319 – 2175 yang di keluarkan oleh DPD Demokrat Sulsel periode Reza Ali dan Haedar Madjid. 

Direktur CV. Kenduri Cinta Indonesia ini merupakan cucu dari dari Usman bersaudara yakni Hasan Usman dan Rahim Usman. Hasan Usman adalah sosok pemerhati pendidikan yang dibuktikan dengan beberapa sekolah yang didirikan yang berada dalam naungan Yayasan Perama. Sekolah yang didirikan itu antara lain MI DDI Oting, MTs Perma di Alu. Termasuk keberadaan toko buku Sudara yang ia rintis ikut mencerahkan generasi Mandar pada Era 50-60an. Adapun Rahim Usman adalah Kader PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) yang pernah menjadi Anggota DPRD Majene bersama dengan Mas’ud Rahman dan lainnya.   

Aslam tumbuh dan berkembang dalam asuhan orang tuanya. Secara ekonomi, kehidupan keluarganya termasuk melimpah kala itu sehingga soal pendidikan Aslam tidak merasakan kesulitan. Ia memulai pendidikannya di SD 055 Kandeapi kemudian lanjut ke SMP 1 dan SMA 1 Tinambung. Dengan modal ijazah SMA, ia menjadi honorer di Kantor Kelurahan mengikuti jejak ayahnya yang bekerja di Kantor Kelurahan Tinambung. Sampai 15 tahun jadi honorer tapi takdir jadi ASN tak tertulis di dahinya.
 
Pada medio tahun 2000an, ia banyak terlibat dalam proses Perjuangan Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. Tak hanya berjuang di tingkat lokal Sulbar (Polemaju), tapi juga di Makassar. Aslam menjadi bagian dari rombongan pendemo yang diangkut dengan Armada mobil PT. Sumber Tani. Aslam lihat Salman Razak (Pawang) melempar kaca jendela kantor gubernur saat demo untuk Sulbar yang berujung ricuh dan penagkapan Naharuddin (Sekejen KAPP Sulbar). Bahkan ke Jakarta menjadi saksi atas demo besar-besaran di Senayan bersama pasukan Kalijodo pada tahun 2002. Aslam menjadi penghubung antar orang Mandar yang ada di Jakarta kala itu untuk bergabung dalam demo menuntut Sulawesi Barat lepas dari induknya, Sulawesi Selatan. Aslam tahu persis bagaimana pergerakan yang dimatangkan di Legency Pratama Jakrta, rumah kediaman Anwar Adnan Saleh kala itu.  

Keterlibatan Aslam dalam proses perjuangan Sulbar karena adanya Teater Flamboyant Mandar, satu-sataunya lembaga dari Polemaju yang dikenal di Makassar, Jogyakarta dan Jakarta dan intens melakukan gerakan dukungan atas Sulbar untuk jadi propinsi. Cak Nun yang kala itu sedang jatuh cinta dengan Mandar ikut menjadi salah satu pemantik terciptanya kondisi yang membuat Sulbar lahir. Aslam dan Cak Nun memiliki hubungan emosional yang kuat sehingga komunikasi antara pejuang Sulbar dengan Cak Nun seakan tak ada sekat. 

Membincang Cak Nun dan Aslam tentu tak harus membayangkan bahwa Aslam adalah sosok yang piawai dipanggung. Bukan itu. Tapi ketika seseorang ingin mengundang Cak Nun atau berkunjung ke Menturo atau Jogja, maka bisa dipastikan tidak mengalami hambatan untuk bertemu langsung dengan Cak Nun. Itu terjadi sebab kedekatan Aslam dengan Cak Nun tidak bisa diukur dengan nilai materi. Kedatangan Cak Nun ke Mandar beberapa tahun ini merupakan upaya kerasnya membangun komunikasi dengan beberapa dinas dan anggota DPRD Sulbar. Tak hanya Cak Nun, putra beliau Sabrang, Personil Letto Band menginjakkan kaki ke Mandar juga tak lepas dari peran-peran dari Aslam. 

Kunjungan pertama penulis ke Sumobito Kecamatan Menturo, kampung kelahiran Cak Nun pada tahun 2016 saat perhelatan Ihtifal Maiyah dalam rangka Ultah Cak Nun ke-63. Aslam adalah pimpinan delegasi dari Mandar yang terdiri dari M. Sukhri Dahlan, Nana, Arifin Nejas dan S. Wildan. Kami mulai dari bandara Juanda Surabaya mendapat sambutan yang begitu familiar dari teman-teman Maiyah Surabaya. 

Kami difasilitasi kendaraan dan segala kebutuhan selama berada di Surabaya sampai tiba di Menturo kami diperlakukan dengan sanagt istimewa baik dari jamaah Maiyah, terlebih Cak Nun yang langsung berhamburan memeluk Aslam pada saat bertemu. “Oh, selamat datang saudara Mandarku, Aslam…”. Ucap Cak Nun dengan nada agak lantang sembari memeluk Aslam dan menyalami kami satu persatu. Itulah makanya, Aslam ditunjuk oleh Caknun menjadi Koordinator Simpul Maiyah Nusantara dari Mandar Sulbar.  

Bukan hanya persoalan Maiyah dan Cak Nun. Dalam dunia pusaka, Ketua Komunitas Pemerhati Budaya, Pusaka dan Naskah “Passemandarang” ini selain ia memiliki koleksi yang melimpah, ia juga sangat dekat dengan maestro besi sekelas Papa Lero, Ust. Hasbi dan Jendral Salim S. Mengga. Jika ada pameran pusaka di Sulawesi, maka orang pertama yang akan muncul dan sibuk mengurusi itu semua adalah Aslam.

Bukan yang lain. JIka Aslam kerap menjadi sosok yang memfasilitasi orang-orang besar masuk ke Mandar, itu bukan persoalan yang aneh, sebab kakeknya dulu juga yang memfasilitasi putra HOS Cokroaminoto sewaktu berkunjung ke Mandar, bahkan nginap dirumahnya.  
Persinggungannya dengan dunia seni dan budaya tentu tak bisa dinafikan. Ia pernah mengantar anak-anak Mandar bersama Sahabuddin ke Kuala Lumpur mementaskan Tari Pallake di luar negeri. Saat ini Ia juga menjadi penghubung antara kerajaan-kerajaan yang ada diluar dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Mandar. Selain itu, Ia juga dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Palasara Sulsel. Bahkan dalam jaringan Thariqat Qadiriyah, ia juga menjadi salah satu pengurus Jamiyah Ahlith-Thariqah Al-Mu’tabarah Anahdhiyah (JATMAN) dengan NRA. 025 0121 018.   

Setahun setelah Sulbar terbentuk, Ia memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi wanita bernama Sitti Aisyah pada tahun 2005. Dari hasil pernikahannya ini, ia dikaruniai dua orang anak masing-masing bernama Zarin Abadiya dan Muhammad Danish Basyarat. Nama nak-anaknya ini adalah pemberian dari Cak Nun. Aslam memang kerap meminta petunjuk untuk nama anak-anak yang baru lahir ke Cak Nun jika ada anggota yang minta tolong 
Kaitannya dengan Pilgub Sulbar, Aslam ini tak mungkin bisa diabaikan peran-perannya. 

Hubungannya dengan Demokrat adalah kader yang disana ada Syamsul Samad yang kerap menjadi mitra dalam segala hal ketika Syamsul membutuhkan kemitraan. Aslam dari awal memang dikenal sebagai pendukung utama SDK sejak Pilgub 2017 sampai Pilgub 2024, ia tak pernah beranjak. Sebagai orang Maiyah, tentu memahami betul bahwa satu-satunya yang bisa mengalahkan kekuatan cinta adalah kesetiaan. Dan Aslam dikenal setia dengan Partai Demokrat sejak tahun 2003 sampai sekarang. 

Selasa, 14 Januari 2025

ARWIN || Sang Jawara Dari Bumi Lantang Kada Nene'

Dari Bumi Lantang Kada Nene’, sosok pemuda sontak jadi buah bibir di kalangan politisi dan rakyat Mamasa. Pemuda kelahiran, Ralleanak, 3 Mei 1997 menjadi peraih suara terbanyak bukan saja di dapilnya tapi seluruh wilayah Kabupaten Mamasa. Sosok ini kemudian kembali dipercaya menjadi Ketua Timk Koalisi Sulbar Maju di Mamasa dan berhasil memenangkan pasangan SDK-JSM di Kabupaten Mamasa. 

Ia adalah Arwin Rahman Tona, SH. Putra dari Abdul Rahman Tona, SE (Kepala Desa Ralleanak (2010-2016, 2017-2023, 2023-2029) dan Andi Mustika Nur, S.Pd. (Kepala SDN 004 Ralleanak). Arwin beruntung memiliki peluang politik yang cemerlang di bumi Kondosapata Uwai Sapaleleang. Kini diperiodenya yang kedua, ia didapuk menjadi Wakil Ketua 1 DPRD Mamasa. Sebelumnya ia juga lolos menjadi Anggota DPRD Mamasa dan ditunjuk sebagai Ketua Komisi 1 DPRD Mamasa (2019-2024), Badan Anggaran DPRD Mamasa, dan Badan Musyawarah DPRD Mamasa, Badan Pembentuk Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Mamasa. 

Suami dari Andi Aswiwin Syahril, S.K.M. ini mengawali pendidikannya di SDN 004 Ralleanak, kemudian lajut ke SMPN 2 Ralleanak. Selepas dari SMP Ralleanak, ia didaftarkan sebagai santri di PPM Al-Ikhlash Lampoko Campalagian. Ia menjadi santri selama 3 tahun dan harus mondok. Dari sinilah Arwin diinstal dengan pemahaman keagamaan yang kental. Tak berhenti disitu, setelah khatam di ponpes besutan HM. Zikir Sewai itu, Arwin melanjutkan studinya di Unsulbar. Ia tercatat sebagai mashasiswa S1 Jurusan Ilmu Hukum Unsulbar. Tak hanya di Unsulbar, sejak tahun 2022 lalu, ia juga pemilik kartu mahasiswa Jurusan Tehnik Sipil di Universitas Tomakaka Kampus VI Mamasa. 

Capaian Arwin saat ini sesungguhnya adalah ganjaran dari berbagai aktifitas yang memantaskan dirinya sebagai pengayom, betapa tidak sejak menjadi mahasiswa, ia banyak dipercaya teman-teman di kapmpusnya untuk menjadi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Kabupaten Mamasa (HMKM) Mejene Periode 2015-2017 dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Majene 2016-2017. 

Hal yang luar biasa sesungguhnya karena diluar kampungnya saja diercaya sebagai pemimpin, apalagi di kampungnya sendiri. 
Itulah makanya, ayah Pengeran Putra Ragunalolo ini didorong oleh masyarakat Mambi untuk terjun ke dunia politik. Bapaknya yang tak lain seorang kepala desa tentu sangat mendukung putranya maju sebagai Caleg DPRD Mamasa pada Pemilu 2019 lalu. Ternyata kehudupan Arwin berubah drastis setelah berstatus sebagai wakil rakyat. Ia semakin berbenah dan meng-upgrad dirinya sebagai pemimpin dan pelayan masyarakat. 

Itulah yang dilakukan Arwin selama lima tahun terakhir. 
Pengaruhnya kian terasa ketika terpilih menjadi Anggota DPRD Mamasa. Sejumlah organisasi mendaulatnya terlibat, sebagian menunjuknya sebagai pemimpin. 
Organisasi itu antara lain Koordinator Presidium Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD-KAHMI) Mamasa periode 2022-2025, Ketua Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Mamasa 2020 sampai sekarang, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) BPC Mamasa Periode 2022-2025, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kabupaten Mamasa Periode 2023-2028.   
      
Di Partainya juga begitu. Ia diberi kesempatan menjadi Wakil Sekretaris Bidang Pemenangan Pemilu DPW Nasdem 2024, Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD Nasdem Kabupaten Mamasa, Direktur Komisi Saksi Nasional (KSN) DPD Partai Nasdem Mamasa, Ketua Relawan Amin Kabupaten Mamasa (Pilpres 2024). Bahkan pada Pilkada Gubernur 2024, ia diberi kepercayaan sebagai Ketua Koalisi Sulbar Maju di Mamasa. Hasilnya adalah 48% mampu ia raup suara untuk Pasangan SDK-JSM. 
Kendati perolehan Pilkada Gubernur 2017 SDK-Kalma memperoleh suara 58,2% tapi rasa menangnya lebih kental yang 2024.  
 
Kematangan secara politis, kematangan berfikir kian berkembang seiring dengan kematangan finansial dengan menjadi Presdir CV. Bintang PUS, dan mendirikan badan usaha CV. Manalolo Putra dan Pendiri PT. Banua Media Utama. Komoditas Kopi menjadi andalan karena Mamasa sejak zaman Belanda menjadi sentra penanaman kopi arabika dan robusta.   

***

Kamis, 20 Februari 2024, menjadi hari bersejarah bagi Arwin, pasalnya karena pada Pleno Penghitungan suara hasil Pemilu 2024 yang dihelat pada 14 Februari 2024 unggul mendapatkan suara sebanyak 4. 248 yang memecah rekor perolehan suara terbanyak Se-Kabupaten Mamasa. Pada tanggal 22 Oktober 2024 ia akhirnya dilantik sebagai Wakil Ketua 1 DPRD Mamasa Peride 2024-2029 di Ruang Paripurna DPRD Mamasa Jl. Poros Mamasa Polewali Desa Osango Kecamatan Mamasa. 

Perlu diketahui, Kabupaten Mamasa dibagi ke dalam tiga dapil yakni Dapil Mamasa 1 terdiri dari 5 kecamatan) kuota kursi 10. Dapil Mamasa 2 lima kecamatan 6 kursi, dan Mamasa 3 terdapat 7 kecamatan 9 kursi. Arwin tercatat sebagai Caleg DPRD Kabupaten Mamasa di dapil Mamasa 3. 

 

ISTANBUL TURKIYE || Jejak Imam Lapeo terekam disini.


Kota yang indah dari hasil kemajuan peradaban era Utsmani. Kota ini banyak lahir ulama besar dan dikunjungi oleh para alim ulama seluruh dunia termasuk dari ulama dari Mandar ada yang mengharuskan kesana untuk menyambung sanad keilmuannya. 

Salah satu ulama itu adalah KH. Muhammad Tahir Imam Lapeo. Di Kota ini beliau melakukan rihlah untuk menautkan salah satu sanad keilmuannya di Istanbul Turki. 

Kota ini begitu berkesan bagi Imam Lapeo, sehingga model masjid Nuruttaubah pada zamannya menggunakan model yang sama, yakni menara. Menurut sumber, awalnya masjid lapeo adalah sebuah langgar yang bangunannya mirip joglo, sebagaimana masjid pada umumnya. 

Setelah Imam Lapeo menetap di Mandar, langgar itu dibangun dalam bentuk masjid berarsitektur masjid di Kota Istanbul. Proses pembangunannya sampai punya menara memakan waktu hampir 40 tahun. Menara baru bisa terbangun  saat Jepang masuk ke Mandar 1943-1945. Menara itu kemudian berdiri atas bantuan tentara Jepang. 

Mengenai dimana Imam Lapeo tinggal di Istanbul dan siapa nama guru yang ia cari sampai ke Istanbul masih dalam penjejakan. Yang pasti Istanbul menjadi kota kenangan bagi Imam Lapeo, bahkan salah satu gelarannya yang sangat lekat dengan Istanbul adalah panggilan anak cucunya: KANNE' AMBOL . 

Saking seringnya ia bercerita dan menjadikan gurunya di Istambul sehingga ia dijuluki Kanne Ambol. 

Ada tanggapan ? 
Diskusi dibuka untuk semua
@semua orang