Rabu, 18 Juni 2025

ORANG MANDAR DI UJUNG GELOMBANG, DI PINGGIR KALIMANTAN || Jejak Bahari yang Menyatu dengan Daratan

Oleh: Safardy Bora

Sepanjang garis pantai Kalimantan Timur, dari muara Paser hingga gugusan pulau di utara Tarakan, berdiri rumah-rumah panggung yang menghadap ke laut. Di sela suara ombak dan desir angin, terdengar bahasa Mandar yang menyisip di antara logat Kutai, Paser, Bugis, dan Banjar. Mereka datang bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk bertaut—dengan tanah, dengan laut, dan dengan sesama manusia.

Migrasi orang Mandar ke pesisir Kalimantan Timur merupakan bagian dari dinamika historis maritime diaspora di Nusantara. Sejak abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-20, orang-orang Mandar dikenal sebagai pelaut tangguh. Pamborneo—semangat merantau menyeberangi laut—bukan hanya tradisi, tetapi kebutuhan ekonomi dan panggilan jiwa. Mereka menjelajahi Borneo bukan dalam gelombang invasi, melainkan dalam gelombang kerja dan harapan.

Di Kabupaten Paser, terutama di Tanah Grogot dan sepanjang pesisir Batu Sopang hingga Tanjung Aru, orang-orang Mandar telah lama menanam jejak. Mereka datang melalui jalur laut dari Polewali dan Majene, membawa hasil laut, garam, dan anyaman. Sebagian menetap karena perdagangan, sebagian lagi karena perkawinan. Mereka diterima dengan hangat oleh masyarakat Paser, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama menjadi bagian dari denyut kehidupan pesisir selatan Kaltim.

Penajam Paser Utara—wilayah strategis yang kini menjadi gerbang Ibu Kota Negara—juga menjadi ruang hidup bagi banyak keluarga Mandar. Di pesisir Nenang, Nipah-nipah, hingga Gersik, komunitas Mandar tumbuh sejak 1970-an, seiring meningkatnya aktivitas pembangunan dan lalu lintas laut antara Balikpapan, Parepare, dan Mamuju. Orang Mandar di sini bukan hanya sebagai pendatang, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi kecil: berdagang ikan, menjadi guru ngaji, hingga merintis koperasi lokal.

Di daerah Muara Badak dan sekitarnya,  Sebelum para nelayan memasuki wilayah ini, pada tahun 1871, didahului kedatangan Mohammad Hasan, Kapitan Caco dan Kapitan Umar. Mereka bertiga sebagai utusan sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-17, Aji Muhammad Sulaeman. Muhammad Hasan adalah orang mandar, guru ngaji kesultanan Kutai di masa Aj Muhammad Sulaeman berkusai. Mereka menjadi pengusaha kapal kayu, Juragan kelapa bahkan menjadi bagian dari pekerja perminyakan sejak eksplorasi awal di kawasan Mahakam. Hubungan mereka dengan warga lokal berjalan melalui jalur air, namun menyatu di darat.

Samboja, yang sejak dahulu menjadi kawasan antara Kutai Lama dan Balikpapan, juga menjadi simpul migrasi orang Mandar. Di sinilah banyak dari mereka memilih membuka lahan, berladang, dan berdagang. Dalam catatan lisan tua, beberapa di antaranya datang sebelum jalan darat menghubungkan Samboja dengan dunia luar—hanya dengan perahu, menembus rawa, membawa anak-anak dan mimpi sederhana tentang hidup yang lebih tenang.

Di Bontang—kota industri dan pelabuhan—orang Mandar datang tidak hanya sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai penyambung budaya. Mereka menetap di Loktuan, Berebas, hingga Telihan. Sejak 1980-an, mereka menjadi bagian dari gelombang pekerja konstruksi dan perikanan yang mendukung pertumbuhan industri LNG. Namun yang mereka bawa tidak hanya otot dan tenaga, melainkan juga tradisi, tata krama, dan ketekunan.

Sementara itu, Sangkulirang di pesisir Kutai Timur adalah tanah yang menyambut gelombang orang Mandar dari arah Majene dan Tinambung. Sebagian besar datang pasca kemerdekaan, membawa hasil bumi dan garam dari tanah Sulawesi untuk ditukar dengan rotan, ikan, dan hasil hutan. Hubungan dagang ini perlahan menjelma menjadi jaringan sosial, ikatan pernikahan, dan komunitas kecil yang bertahan hingga kini.

Di wilayah Biduk-Biduk dan Talisayan, kampung-kampung pesisir seperti Labuan Cermin dan Teluk Sulaiman menjadi tempat bersemainya generasi baru Mandar. Mereka menyatu dengan nelayan lokal, menyumbangkan pengetahuan maritim, dan ikut menjaga harmoni ekologis laut yang menjadi sumber penghidupan bersama. Dalam lanskap ekowisata kini, kehadiran mereka bukan sekadar sejarah, tetapi masa depan.

Tarakan, sebagai kota pelabuhan strategis, menjadi rumah bagi banyak keluarga Mandar sejak tahun 1940-an. Mereka datang sebagai pekerja pelabuhan, buruh pengangkut, dan pedagang kecil. Lama-kelamaan, mereka mengisi ruang-ruang sosial yang lebih luas: menjadi guru, imam, dan tokoh masyarakat. Di pulau ini, Mandar menjadi bagian dari tarikan napas kolektif kota.

Istilah dalam antropologi seperti integrated migration tepat menggambarkan pola kehadiran orang Mandar di Kalimantan Timur. Mereka tidak menciptakan enclave tertutup, tetapi membuka simpul-simpul budaya yang lentur dan membaur. Mereka tahu kapan harus mempertahankan identitas, dan kapan harus melebur dalam kesatuan sosial yang lebih besar.

Adaptasi orang Mandar juga tampak dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Di pasar dan pelabuhan, mereka berbicara dalam campuran Mandar, Paser,  Bugis, dan Kutai. Namun di rumah dan saat mengaji, mereka tetap menyisipkan kosakata asal—sebuah bentuk code-switching yang menunjukkan identitas majemuk namun terjaga.
Pola relasi orang Mandar dengan komunitas lokal juga ditandai oleh prinsip siri’, yang dalam nilai Mandar dikenal sebagai rasa malu dan empati sekaligus  harga diri. Nilai-nilai ini membuat mereka berhati-hati dalam bertindak, menjaga harmoni dalam bermasyarakat, dan menghargai tatanan sosial tempat mereka berada.

Dalam pergaulan sehari-hari, mereka cenderung merendah namun tekun. Dalam bekerja, mereka membawa etos siwaliparri' dan juga  orang mandar pantang diam di tengah gelombang. Maka tidak heran bila banyak dari mereka sukses membangun usaha, merintis pendidikan anak-anak, bahkan menjadi bagian dari struktur pemerintahan lokal.

Generasi ketiga dan keempat dari para passompe’ kini tumbuh dalam iklim sosial yang lebih cair. Mereka sekolah di kota, berbicara dalam bahasa Indonesia yang fasih, namun tidak melupakan bahwa di dalam nadi mereka mengalir darah bahari. Mereka tak lagi berlayar dengan sandeq, tapi semangat menjelajah tetap menyala.
Kehadiran orang Mandar di Kalimantan Timur hari ini adalah bukti bahwa perpindahan bukan selalu tentang kehilangan, tapi tentang perluasan makna rumah. Di tanah baru ini, mereka menanamkan nilai, memperhalus cara hidup, dan ikut membentuk mosaik budaya pesisir yang kaya.

Di antara gelombang dan gugusan tanjung, orang-orang Mandar telah menjahit sejarahnya sendiri di tubuh Kalimantan. Mereka datang membawa layar, tapi menetap karena akar. Dan hingga kini, suara mereka tetap terdengar—bukan hanya di lidah, tapi di cara hidup, dalam etos kerja, dan dalam jejak-jejak ketekunan yang mereka tinggalkan.

Selasa, 17 Juni 2025

LALLUTE DAN KUTE || Antara Seberang Air dan Kampung di Ujung Batas

By. Safardy Bora 

Dalam lanskap bahasa Mandar, lalute bukan hanya arah atau ruang geografis—tetapi juga ruang sosial dan keyakinan. Kata ini hidup dalam syair lama seperti Tengga-Tenggang Lopi, lagu pelaut yang menggambarkan kecemasan, pengembaraan, dan identitas. Lalute bukan sekadar seberang air, tetapi juga seberang adat. Seberang keyakinan. Sebuah tempat yang asing, yang dituju dengan waspada dan kesadaran akan batas-batas nilai.

Sementara itu, Kute adalah nama bagi suatu kampung di pedalaman Kalimantan, dihuni oleh masyarakat non-Muslim. Meski kerajaan Kutai di Kutai Lama sudah mengenal Islam oleh Tunggang Parangan namun  di pedalaman adat dan keyakinan masih berbeda. Bagi sebagian pelaut atau perantau Mandar yang berlayar menuju Kalimantan, Kute sering menjadi simbol tempat yang ‘lain’—bukan hanya karena beda letak, tapi karena beda laku. Dalam ingatan kolektif, Kute adalah wilayah yang menawarkan keramahan, namun juga tantangan terhadap batas halal dan haram, terhadap prinsip dan kebiasaan.

Dalam lirik Tengga-Tenggang Lopi, muncul kalimat-kalimat yang menyiratkan kekhawatiran pelaut Mandar ketika singgah di tempat seperti Kute. Di sana, kata lalute bukan hanya tentang jarak fisik, tetapi jarak batin. Seperti sebaris syair menyebut: "natoanama tedzong lotong  ta ketandu. Syair  seolah hendak berkata: di seberang sana ada perjamuan yang tidak sesuai dengan syariat kami, ada daging celeng yang tak akan kami sentuh. Di titik inilah lalute menjadi simbol batas identitas religius dan budaya.

Namun, secara fonetik dan historis, lalute juga memiliki akar dari perubahan lafal. Orang Mandar menyebut Kutai atau Kute dengan sebutan lute, sebagai bentuk adaptasi bunyi terhadap lidah dan aksen Mandar. Maka, lalute sejatinya bisa dimaknai juga sebagai “ke-lute”, atau “pergi ke lute/Kute”—yakni sebuah ekspresi kultural yang mengacu langsung pada pengalaman melaut ke wilayah Kalimantan Timur.

Dalam makna ini, lalute adalah perjalanan menyeberangi batas geografis menuju Kutai, tempat yang disebut lute oleh para pelaut Mandar. Tapi perjalanan ini bukan hanya fisik—ia sarat makna religius, sosial, dan identitas. Seolah para pelaut membawa serta agama, adat, dan harga diri dalam biduk mereka, dan lalute menjadi panggung ujian bagi semua itu.

Bagi pelaut Mandar, makanan bukan sekadar pengisi perut, melainkan juga penguji prinsip. Maka singgah di Kute, walau dengan perut lapar, bukan alasan untuk mengabaikan nilai. Di sini, identitas Mandar sebagai muslim, sebagai penjaga  siri’, benar-benar diuji. Lalute menjadi tempat ujian iman: apakah nilai itu bisa tetap dijaga dalam keterasingan?

Namun yang menarik, meski begitu kuat menjaga batas keyakinan, masyarakat Mandar tetap memuliakan tetangga, meski berbeda agama. Dalam perjumpaan dengan masyarakat Kute, mereka tidak pernah menyerang atau menghina. Yang mereka jaga hanyalah diri dan keyakinan mereka sendiri. Ada ketegasan tanpa kebencian. Ada kute dalam makna baru—yakni keteguhan hati di tengah perbedaan.

Lagu Tengga-Tenggang Lopi dengan demikian menjadi tidak hanya nyanyian pelaut, tapi juga nyanyian tauhid. Di dalamnya tersimpan perintah tak tertulis: untuk tetap berlayar, untuk tetap menghormati tanah orang, tetapi juga tidak kehilangan arah dan akidah. Lalute bukan tempat untuk dikutuk, tapi tempat untuk diuji.

Di sinilah muncul ketegangan makna: lalute sebagai tempat yang asing, dan Kute sebagai tempat yang nyata. Keduanya mewakili semacam “ruang liminal”, tempat perjumpaan antara budaya pesisir dengan budaya pedalaman, antara Islam dan lokalitas yang belum tentu seragam. Tetapi dalam perjumpaan itu, budaya Mandar tidak larut. Ia hadir dengan sopan, namun teguh.

Kita bisa membayangkan perahu kecil Mandar merapat di tepi sungai Mahakam atau Barito, di hadapan kampung Kute. Dalam perut perahu itu, pelaut Mandar mengunyah singkong rebus atau ikan asin dari dapur sendiri. Mereka menolak celeng, bukan dengan marah, tapi dengan senyum yang mengatakan: “Maaf, ini bukan jalan kami.”

Dalam dunia yang terus menyamakan semua demi toleransi semu, pelaut Mandar menunjukkan bahwa menjaga prinsip tidak harus melukai orang lain. Bahwa beda tidak harus bermusuhan. Bahwa lalute bukan tempat untuk menghakimi, tapi untuk memperjelas siapa kita.

Dan hari ini, ketika nilai-nilai itu mulai kabur oleh modernitas, lagu-lagu seperti Tengga-Tenggang Lopi penting untuk dikaji ulang. Karena ia tidak hanya memuat cerita tentang badai dan layar, tetapi juga kisah tentang keteguhan identitas dalam ruang yang plural. Tentang keberanian menjaga nilai, bahkan ketika jauh dari rumah.

Maka lalute dan Kute bukan sekadar nama. Keduanya adalah cermin. Yang satu mencerminkan ujian dari luar, yang lain mencerminkan keteguhan dari dalam. Di antara keduanya, pelaut Mandar mengajarkan kita bahwa menjadi manusia Nusantara bukan soal menjadi sama, tapi tahu batas dalam bertetangga, dan tahu arah saat melintas.

Selasa, 18 Maret 2025

INI TERNYATA BARTER BUKU

Catatan Muhammad Munir

Pada lembaran pertama September 2024, di Rumah Putih Palippis, rumah kediaman Syamsul Samad. Masih terlalu jelas ketika Suhardi Duka yang saat itu menjadi Calon Gubernur Sulbar menyerahkan bingkisan sebuah buku berjudul "SDK Mendayung Dari Hulu". Dan buku tersebut saya terima langsung dari Pak SDK disaksikan oleh Pak Jendral Salim Cawagub Sulbar) dan ratusan tim yang hadir. 

Hari ini, 18 Maret 2025, tepat di hari ke-18 Ramadhan 1446 H. Pada tempat yang sama, saya bisa menyerahkan buku berjudul "JALAN PANJANG Jejak Kemenangan SDK-JSM" kepada Pak SDK yang telah berstatus sebagai Gubernur Sulbar. Buku tersebut saya mulai tulis 27 November 2024 dan selesai pada 9 Januari 2025. Menariknya, penyerahan bukunya selain disaksikan oleh Pak Salim S. Mengga (Wagub Sulbar), terdapat Bupati dan Wakil Bupati Polman, Bupati dan Wakil Bupati Majene dan ribuan undangan yang turut jadi saksi atas momentum yang dirancang oleh Syamsul Samad ini. 

Saya tentu tidak dalam rangka ingin gagah-gagahan di depan Gubernur dan lainnya. Kesempatan serah terima buku kepada Gubernur Sulbar ini murni inisiatif Syamsul Samad yang memberi ruang kepada saya. Bukan hasil rengekan pada sosok yang kerap ikut membantu proses kelahiran buku tersebut. 

Momentum ini bagi saya ternyata menjadi ajang barter buku dengan Gubernur Suhardi Duka. Saat itu, ketika SDK memberikan buku pada saya, tak ada hal yang saya fikirkan selain hajatan untuk menulis apa saja yang bisa bernilai pada momentum perjalanan panjang SDK dan JSM. Dan hari ini hajatan itu tertunaikan. 

Mengapa saya berhajat menulis buku tentang SDK ? Tentu jawabannya ada pada kondisi perliterasian di Sulawesi Barat yang bisa dibilang sedang tidak baik baik saja. Penulis di Sulawesi Barat saat ini masih 100an orang (itu kalau cukup). Dan tentu saja ini memperihatinkan dengan jumlah penduduk diatas 1,2 jutaan. Kurangnya penulis ini juga disebabkan oleh angka melek literasi yang juga sangat minim.   

Salah satu harapan terbesar saya pada sosok SDK dan JSM adalah bagaimana dunia literasi di Sulbar bisa semakin maju. Terlebih Pak SDK adalah seorang penulis handal yang didampingi seorang pembaca buku yang baik. Perpaduan antara SDK dan JSM tentu menjadi indikator bagi upaya pengembangan literasi di Sulawesi Barat.  

Harus diakui, selain kemiskinan, infrastruktur, pendidikan dan kesehatan, masalah yang juga melilit Sulbar adalah literasi yang juga cenderung menurun. Maka ditangan SDK dan JSM, dunia perliterasian Sulawesi Barat bisa dipastikan beranjak dari keperihatinan yang akut selama ini. Maju mundurnya sebuah daerah juga ditentukan oleh majunya perliterasian. 

Rabu, 05 Maret 2025

MENULIS JEJAK PUKKALI MALUNDA' (Bagian 1) 'Kelahiran dan Karomah"




Catatan Muhammad Munir

Tahun 2018/2019 menjadi tahun tahun yang membuat penulis lebih fokus dalam penelusuran jejak Annangguru dan Tosalama' di Mandar. Terlebih saat bersentuhan dengan program Puslitbang Kemenag RI, nyaris tak ada yang tersisa dari waktu penulis selain penjejakan. Mulai dari Syekh Abdurrahim Kamaluddin Binuang Polman sampai ke Majene. 

Mungkin ada yang bertanya, kenapa fokusnya hanya Polman dan Majene? Jawabannya adalah bahwa episentrum energi keulamaan di Mandar memang lebih terasa di dua titik wilayah ini. Wilayah lain seperti Mamuju dan Mamasa adalah target dakwah sebagai penganjur Islam. Itu bisa dilihat dari jejak Imam Lapeo yang menjadi Kadhi di Mamuju dan Tapalang. Termasuk wilayah Mambi Mamasa, diperkenalkan oleh Todilamung Sallang, Toilang, Tuan di Bulobulo dan lainnya adalah ulama yang berasal dari pantai atau di wilayah Polman dan Majene. 

Diantara hasil penelusuran itu adalah penulisan Jejak Pukkali Malunda. Pemilik nama asli KH. Muhammad Husain ini adalah ulama kharismatik yang tidak saja dikenal dengan keilmuannya tapi sekaligus kekaromahan yang dimilikinya terutama saat gelombang Tsunami yang menerjang pesisir Mandar pada tahun 1969. Kala itu, Pukkali Malunda menunjukkan pada semua warga yang saat itu telah mengungsi ke ketinggian Malunda. Tapi tidak bagi keluarga Pukkali. 

Kala itu, 23 Februari 1969 terjadi gelombang tsunami atau lembong tallu. Tsunami 1969 tercatat srbagai salah satu tsunami besar keempat (1952 - 2004) yang pernah melanda Indonesia. Tinggi gelombang lebih 10 meter. Kepada penulis Hj. Bintang, salah satu putri Pukkali Malunda menceritakan, sesaat setelah gempa, penduduk Malunda dan sekitarnya mengungsi ke pegunungan. Tapi keluarga kami tidak, bahkan saat itu rumah kami lagi kedatangan tamu istimewa. Dirinya (Hj. Bintang) yang dipinang dan sedang menerima tamu pihak mempelai laki laki terkait penentuan hari H pernikahannya. 

Ketika gelombang siap menghantam Malunda, Pukkali bergegas masuk mengambil wudhu dan berjalan menuju ke arah pantai. Semua mata memandangnya khawatir tapi tetap memiliki keyakinan bahwa Pukkali pasti telah memikirkan semua resoko dari gelombang itu. Sesampainya di pantai, ia membaca doa dan mengibaskan handuknya ke arah ombak yang siap menggulungnya dalam hitungan detik. Dengan  izin Allah, ombak yang menggulung itu terbelah. Ada yang mengarah ke arah selatqn dan ada yang mengarah ke utara. Praktis, Malunda terlepas dari hantaman gelombang. Gelombang akhirnuya menghantam kampung diluar Malunda. 

Pukkali Malunda diperkirakan berumur 110 tahun atau lahir pada 1883. Umur beliau memang lebih 100 tahun sebab Pukkali Malunda pernah menjadi murid senior dari Imam Lapeo; Pukkali Malunda adalah kakak kelas Ambo Dalle sewaktu belajar ilmu agama di Pulau Salabose; dan Pukkali Malunda jauh lebih tua dari pada Annangguru Saleh yang mana sering datang ke Malunda untuk berdiskusi dengan Pukkali Malunda.
Sekedar catatan Imam Lapeo lahir pada 1838 dan wafat pada 1952 (umur 115 tahun), Ambo Dalle lahir pada 1901 dan wafat pada 1996 (96 tahun), dan Annangguru Saleh lahir pada 1913 dan wafat pada 1977 (65 tahun).


Pukkali lahir dari pernikahan Cindara dengan Pua' Bunga. Pua' Bunga adalah turunan Malunda asli dengan ibu dari Onang. Sementara Cindara yang akrab disapa Pue' Rakka adalah turunan dari Rantebulawan. Dari pernikahan ini lahir empat orang anak, 3 perempuan dan 1 laki-laki yang tak lain adalah Muhammad Husain atau Pukkali. Sejak lahir, kulit Pukkali itu putih sehingga ia akrab dengan gelaran I Balanda. Bahkan kerap dicullok oleh pasukan Belanda dan dibawa ke Majene. Penculikannya bukan untuk menyakiti tapi karena ketertarikannya pada sosok Pukkali yang mirip dengan mereka. 

 Di usia remaja, Ia meninggalkan Malunda untuk menuntut ilmu. Tujuan utama belajar agama adalah di Pulau Salemo. Pulau tersebut salah satu pulau kecil di Kepulauan Sangkarang atau Kepulauan Spermonde, yang masuk dalam wilayah Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) sekarang ini. Meski tergolong pulau kecil, Pulau Salemo adalah salah satu pusat perdagangan di Selat Makassar. Pernah diberi gelar Singapura-nya Selat Makassar. Selain sebagai pusat perdagangan, Pulau Salemo juga banyak memiliki ulama kharismatik yang mengajarkan ilmu agama Islam.

Pulau Salemo banyak menghasilkan alumni yang belakangan menjadi ulama yang sangat dihormati, tiga diantaranya adalah Imam Lapeo, Annangguru Saleh, dan Ambo Dalle. Belakangan, beliau bertiga sama-sama pernah menjadi kadi. Meski Imam Lapeo, Annangguru Shaleh dan Ambo Dalle sama-sama pernah memangku jabatan kadi, tapi yang ada kata “kadi” di sapaannya hanyalah H. Muhammad Husain, yakni Pukkali Malunda.

(Bersambung)

Rabu, 26 Februari 2025

BUKAN BUKU PROYEK || Berikut Informasi Pembelian Buku


BUKU berjudul Jalan Panjang, Jejak Kemenangan SDK-JSM yang ditulis oleh Muhammad Munir ini bukanlah buku proyek yang didanai langsung oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Terpilih, Suhardi Duka dan Salim S. Mengga. Buku ini murni inisiatif penulis yang didukung oleh beberapa orang dari politisi dari Tim Koalisi Partai SDK-JSM. 

Diantara yang membantu dan menjadi inisiator penulisan buku ini adalah Sukri Umar, SP, Sitti Suraidah Suhardi, Syamsul Samad, Ary Iftikhar Shihab. Mereka ini yang terus mengsupport penulis dalam menyelesaikan buku ini. Partisipasi lain juga datang dari Dirga Adhi Putra Singkarru, Febrianto dan lainnya. 

Buku ini dicetak dalam jumlah terbatas untuk tim pemanangan dan kontributor buku ini. Selebihnya akan dikomersilkan bersama penulis dan penerbit buku. 
Jadi jika ada kawan kawan yang membutuhkan atau berminat bukunya akan kami salurkan lewat inisiator dalam hal ini Sukri Umar, Syamsul Samad dan Ary Iftikhar Koje.   

Sebagai penulis dan penerbit, tidak punya kewenangan untuk membagikannya secara gratis. Penulis dan Penerbit hanya melayani pembelian buku dari semua pihak yang membutuhkan. 

Pembelian satuan maupun banyak harganya sama, yakni : Rp. 110.000 (Seratus Sepuluh Ribu Rupiah)

Spesifikasi Buku: 
Judul : Jalan Panjang Jejak Kemenangan SDK-JSM
ISBN  : 978-634-7012-82-1
Penerbit : PT. Media Penerbit Indonesia, Medan 
Tahun : 2025
Ukuran 12 x 24 cm
Isi Bookpaper 57gr/Hvs 75gr (BW)
Cover Ivory 230 gr (Doff/Glossy)
Binding Softcover 
Warpping Plastik (Shrink)
Jumlah halaman (400 + i - xxxi

Gambar buku: 

ISBN : 


Sertifikat Penulis : 


Pembelian buku menggunakan Nomor Rekening Bank BRI 503501016399536 an. (Hernawati)

Setiap pesanan harus mengompirmasi lewat bukti transfer pesanannya lewat Nomor WA : 0815 2498 4566 


PROMO RAMADHAN : 
Harga Rp. 150.000,- (buku dan baju).