Minggu, 22 Juni 2025

MENJAGA BAHASA DAERAH MANDAR || Menjaga Jati Diri, Merawat Peradaban


Oleh: Safardy Bora 
Bahasa adalah warisan paling purba dan paling halus dari sebuah peradaban. Ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin dari cara berpikir, cara merasa, dan cara hidup suatu masyarakat. Dalam konteks Mandar, bahasa bukan hanya identitas, melainkan benteng terakhir yang menjaga keutuhan budaya.

Agar bahasa Mandar tetap lestari dan tidak tergerus zaman, perlu langkah konkret dan terstruktur:

1. Integrasi Bahasa Mandar dalam Kurikulum SD
Pendidikan dasar adalah fondasi pembentukan karakter dan identitas. Memasukkan bahasa daerah Mandar sebagai bagian dari kurikulum Sekolah Dasar merupakan langkah penting dalam menanamkan kebanggaan dan keterikatan anak-anak terhadap bahasa ibunya sejak dini.


2. Membudayakan Bahasa Mandar di Lingkungan Masyarakat dan Sekolah
Penggunaan bahasa Mandar hendaknya tidak terbatas di ruang formal, tetapi menjadi bahasa sehari-hari di rumah, di sekolah, dan dalam interaksi sosial anak-anak. Budaya tutur ini menciptakan ruang hidup bagi bahasa agar terus berkembang, tidak sekadar menjadi artefak yang dikenang.


3. Melestarikan Bahasa Mandar Baik di Wilayah Mandar Maupun di Perantauan
Di manapun orang Mandar berada—baik di tanah leluhur maupun di tanah rantau—bahasa Mandar tetap harus digunakan dan dilestarikan. Setiap forum, pertemuan, atau ruang diskusi hendaknya menjadi sarana untuk menghidupkan kembali bahasa ini sebagai bahasa komunikasi utama antar sesama warga Mandar.


4. Menghidupkan Bahasa Mandar di Forum-forum Sosial dan Budaya
Jangan sisihkan bahasa Mandar dari forum. Justru forum adalah tempat terbaik untuk menjadikannya bahasa komunikasi yang membanggakan. Jika bahasa Mandar tidak lagi digunakan dalam ruang sosial bersama, maka kita secara tidak sadar telah membuka pintu kepunahannya.



Sebab bila bahasa Mandar punah, maka punahlah budaya Mandar. Dan ketika budaya telah punah, kita tak lagi memiliki cermin untuk mengenali diri, akar untuk berpijak, atau jalan pulang yang bisa dituju. Sebab dalam diamnya lidah, akan padam pula nyala jiwa sebuah kebudayaan.

Maka, marilah menjaga bahasa Mandar seperti menjaga nyawa peradaban kita sendiri—dengan cinta, dengan bangga, dan dengan penuh kesadaran.

Sabtu, 21 Juni 2025

MANDAR BORNEO TIMUR ||Minoritas Berakar Panjang, Menjulang dalam Senyap

Safardy Bora

Orang Mandar di Kalimantan Timur ibarat pelita kecil di padang luas: sinarnya redup dari jauh, tetapi cukup terang untuk menuntun langkah siapa pun yang mau belajar dari teladan hidupnya.

Secara statistik, Mandar hanya sekitar 2–3% dari populasi Kaltim, namun jejaknya merambat jauh—dari istana Kutai Kartanegara abad ke-19, hingga kursi gubernur Borneo Timur hari ini.

Salah satu nama tertua yang tercatat adalah Abdul Hasan, guru ngaji dan penasihat agama Sultan Aji Muhammad Sulaeman (1845–1899). Di tangannya, ajaran agama meresap di istana Kutai Kartanegara. Sekitar 1871, beliau memimpin pembukaan Muara Badak, kawasan pesisir yang kelak tumbuh menjadi kantung perkampungan Mandar di timur Mahakam.

Menjelang abad ke-20, saudagar Mandar meniti jalur niaga pesisir. Haji Mas’ud Latif (1948–1997) di Samarinda dan Balikpapan terkenal sebagai pedagang ikan asin, minyak gas, sekaligus agen pengurusan dokumen kapal lewat PT Sinar Pasifik. Dari pondasi niaga keluarga inilah tumbuh anak-anak Mandar perintis generasi cendekia dan birokrat modern.

Warisan Haji Mas’ud ditumbuhsuburkan oleh anak-anaknya: Dr. H. Hasanuddin Mas’ud, Dr. H. Rahmad Mas’ud, dan Dr. H. Rudy Mas’ud. Mereka adalah simbol generasi Mandar urban yang tangguh: menyeimbangkan urat dagang leluhur dengan pendidikan tinggi, mengakar dalam bisnis minyak dan perkapalan, lalu menjulang di ranah birokrasi.

Dalam sejarah pemerintahan, H. Waris Husein mencatatkan diri sebagai putra Mandar pertama yang menjadi Wali Kota Samarinda pada dekade 1980–1990-an. Di tangan beliau, Samarinda menguat sebagai simpul perdagangan sungai Mahakam dan jalur distribusi dagang Borneo Timur.

Dalam ranah olahraga dan kepemudaan, Syahril HM Taher pernah menjabat Presiden Liga Indonesia dan memimpin Pemuda Pancasila Balikpapan. Namanya harum sebagai sosok yang menyatukan semangat olahraga dan organisasi kepemudaan di Borneo Timur.

Di panggung politik legislatif, Dahri Yasin dikenang sebagai politisi ulung. Lahir pada 1959, beliau menjadi anggota DPRD Kalimantan Timur lintas periode hingga 2020. Dengan gaya lobi yang santun dan jaring sosial yang kuat, Dahri Yasin dihormati kawan maupun lawan.

Ranah pendidikan pun berdiri kokoh di pundak Mandar. Prof. Dr. H. Masjaya, M.Si. menjabat Rektor Universitas Mulawarman (2014–2022). Atjo Jangnga turut tercatat sebagai petinggi Unmul. Di UINSI Samarinda, Prof. Muhammad Abzar Duraesa pernah menjadi Wakil Rektor, sedangkan Prof. Abdul Majid terkenal sebagai guru besar dan mubalig kharismatik yang menjaga marwah dakwah di Kaltim.

Dr. H. Hasanuddin Mas’ud, anak sulung Haji Mas’ud, menjabat Ketua DPRD Kalimantan Timur dua periode berturut-turut (2019–2024, terpilih lagi 2024–2029). Kepemimpinannya dikenal menyejukkan, piawai merangkul lintas suku, serta meneguhkan semangat musyawarah Mandar di panggung parlemen provinsi.
Dr. H. Rahmad Mas’ud, lahir 1976, meneruskan jalur niaga keluarga dan terjun ke panggung pemerintahan. Ia menjadi Wakil Wali Kota Balikpapan (2016–2021) dan terpilih sebagai Wali Kota Balikpapan (2021–2024). Gaya kepemimpinannya merakyat, fokus membenahi infrastruktur kota minyak.

Barisan muda pun menapak gagah. Agus Haris, sosok politisi muda Mandar, terpilih sebagai Wakil Wali Kota Bontang periode 2024–2029. Sementara di Senayan, Dr. H. Rudy Mas’ud berdiri sejajar dengan tokoh nasional: terpilih Anggota DPR RI sejak 2019, dan pada Pilgub 2024, ia memecahkan sejarah sebagai Gubernur Kalimantan Timur periode 2024–2029.

Dr. H. Rudy Mas’ud adalah potret Mandar kontemporer: pengusaha sukses, miliarder minyak dan perkapalan bersama ketiga saudara kandungnya, sekaligus pemimpin daerah setingkat provinsi. Ia menorehkan nama Mandar di barisan Gubernur Kalimantan Timur sejajar dengan nama-nama besar pendahulu, membuktikan pepatah “merantau dengan terhormat, pulang membawa kejayaan”.

Tak ketinggalan di panggung seni, Syarifuddin Pernyata berdiri sebagai sastrawan Kaltim yang puisinya meresap ke relung pesisir. Karyanya mengabadikan tutur Mandar dalam bentuk kata-kata lembut, mencatat jejak pesisir Mahakam dalam bait dan rima.

Demikianlah Mandar Borneo Timur: sedikit di hitungan statistik, besar di jejak moral. Dari Abdul Hasan di istana Kutai, H. Waris Husein di kursi wali kota, Syahril di Liga Indonesia, Dahri Yasin di parlemen, hingga Rudy Mas’ud di kursi gubernur — semua membuktikan, Mandar bukan sekadar minoritas di tanah rantau, tetapi penenun pengaruh dengan akhlak mala’bi’.

Semoga susunan ringkas ini menambah silaturahmi, menjadi pengingat akan akar yang tak pernah putus. Mohon maaf jika tulisan ini hadir tiba-tiba di beranda anda, segala kurang lebihnya saya titipkan pada kearifan pembaca sekalian.



Kamis, 19 Juni 2025

SULSILAH, TEKNOLOGI DAN REALITAS

Oleh : Bram Pallatano

Di masa lalu, silsilah adalah warisan yang dijaga dengan penuh kehati-hatian dan kesakralan. Setiap nama, setiap cabang keluarga, dan setiap peristiwa dalam garis keturunan disusun dengan teliti melalui naskah Lontara, stamboom, dan kajian-kajian lisan maupun tertulis yang diuji kebenarannya secara turun-temurun. Kebenaran bukan sekadar data—tetapi realitas yang dipertanggungjawabkan, diperiksa, dan dihormati.

Namun hari ini, kita hidup di era di mana informasi tak lagi melewati proses penapisan yang ketat. Silsilah bisa dibuat dan disebarluaskan dalam hitungan menit. Dengan teknologi digital dan media sosial, siapa pun kini bisa menjadi "penulis sejarah", meski tanpa fondasi riset atau kedalaman narasi leluhur. Silsilah kini mudah ditemukan—tetapi mudah pula dipelintir.

Teknologi memang memberi ruang keterbukaan, tapi juga mengaburkan batas antara narasi nyata dan narasi imajinatif. Banyak silsilah yang viral di media sosial bukan karena akurasi, tapi karena daya tarik visual, nama besar, atau afiliasi emosional yang dibangun secara canggih. Realitas tidak lagi menjadi syarat mutlak—yang penting adalah seberapa cepat ia tersebar dan diterima.

Keprihatinan muncul, terutama bagi para penjaga warisan budaya dan peneliti yang selama ini bergelut dalam keheningan dan ketelitian. Bagi mereka, silsilah bukan sekadar pohon nama, tetapi peta identitas yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ketika keaslian dipertaruhkan oleh kecepatan, maka yang terancam bukan hanya data, tetapi juga nilai, martabat, dan kesinambungan sejarah.

Maka di tengah gegap gempita era digital, perlu suara yang bersandar pada integritas. Perlu ruang yang merawat silsilah dengan cara lama—yang sabar, hati-hati, dan jujur. Teknologi semestinya menjadi jembatan, bukan pemutus. Ia bisa menjadi alat bantu yang luar biasa, asal tetap dipandu oleh nilai-nilai kebenaran, bukan popularitas.

Kini tantangannya bukan sekadar menemukan silsilah, tapi membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya rekaan. Dan bagi kita yang masih percaya bahwa sejarah adalah cahaya, bukan sekadar cerita, inilah saatnya untuk terus menjaga nyala kecil itu, agar tak padam di tengah badai informasi yang menggulung realitas.

SILSILAH, TEKNOLOGI, DAN REALITAS


Oleh : Bram Pallatano

Di masa lalu, silsilah adalah warisan yang dijaga dengan penuh kehati-hatian dan kesakralan. Setiap nama, setiap cabang keluarga, dan setiap peristiwa dalam garis keturunan disusun dengan teliti melalui naskah Lontara, stamboom, dan kajian-kajian lisan maupun tertulis yang diuji kebenarannya secara turun-temurun. Kebenaran bukan sekadar data—tetapi realitas yang dipertanggungjawabkan, diperiksa, dan dihormati.

Namun hari ini, kita hidup di era di mana informasi tak lagi melewati proses penapisan yang ketat. Silsilah bisa dibuat dan disebarluaskan dalam hitungan menit. Dengan teknologi digital dan media sosial, siapa pun kini bisa menjadi "penulis sejarah", meski tanpa fondasi riset atau kedalaman narasi leluhur. Silsilah kini mudah ditemukan—tetapi mudah pula dipelintir.

Teknologi memang memberi ruang keterbukaan, tapi juga mengaburkan batas antara narasi nyata dan narasi imajinatif. Banyak silsilah yang viral di media sosial bukan karena akurasi, tapi karena daya tarik visual, nama besar, atau afiliasi emosional yang dibangun secara canggih. Realitas tidak lagi menjadi syarat mutlak—yang penting adalah seberapa cepat ia tersebar dan diterima.

Keprihatinan muncul, terutama bagi para penjaga warisan budaya dan peneliti yang selama ini bergelut dalam keheningan dan ketelitian. Bagi mereka, silsilah bukan sekadar pohon nama, tetapi peta identitas yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ketika keaslian dipertaruhkan oleh kecepatan, maka yang terancam bukan hanya data, tetapi juga nilai, martabat, dan kesinambungan sejarah.

Maka di tengah gegap gempita era digital, perlu suara yang bersandar pada integritas. Perlu ruang yang merawat silsilah dengan cara lama—yang sabar, hati-hati, dan jujur. Teknologi semestinya menjadi jembatan, bukan pemutus. Ia bisa menjadi alat bantu yang luar biasa, asal tetap dipandu oleh nilai-nilai kebenaran, bukan popularitas.

Kini tantangannya bukan sekadar menemukan silsilah, tapi membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya rekaan. Dan bagi kita yang masih percaya bahwa sejarah adalah cahaya, bukan sekadar cerita, inilah saatnya untuk terus menjaga nyala kecil itu, agar tak padam di tengah badai informasi yang menggulung realitas.