Sabtu, 16 Agustus 2025

INDONESIA DAN NARASI SEJARAH || Mandar, Kutai, dan Paser dalam Lintasan Waktu

Penulis: Safardy Bora
Sejarah adalah cermin kolektif bangsa, namun kerap kali buram oleh bias pengetahuan yang ditulis dari sudut pandang tertentu. Ungkapan bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun, misalnya, masih menjadi perdebatan panjang. Secara faktual, Belanda tidak pernah berkuasa penuh di seluruh wilayah nusantara selama itu. Kekuasaan VOC dan kemudian pemerintah kolonial lebih dahulu menguat di Jawa, Maluku, dan sebagian Sumatra, baru kemudian masuk ke Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah lain pada abad ke-19 hingga ke-20. Maka, angka 350 tahun lebih tepat dimaknai sebagai simbol panjangnya kolonialisme, bukan sebagai rentang waktu yang seragam.

Lantas, apakah Indonesia telah ada sebelum 1945? Dari sudut pandang kenegaraan, Indonesia lahir resmi pada 17 Agustus 1945. Namun, secara kultural dan geografis, wilayah yang kini disebut Indonesia sudah eksis sejak jauh sebelumnya. Ia hadir dalam berbagai istilah: “Nusantara” pada era Majapahit, “Dwipantara” dalam naskah kuno, dan “Hindia Belanda” dalam terminologi kolonial. Artinya, Indonesia sebagai sebuah kesadaran kolektif sudah tumbuh, meskipun nama politiknya baru dirumuskan pada abad ke-20.

Namun, dalam arus historiografi nasional, terdapat persoalan yang patut digugat: bias Jawa-sentris. Narasi perjuangan sering kali ditarik dari pusat kekuasaan Jawa, sehingga wilayah-wilayah lain yang memiliki sejarah perjuangan heroik kurang mendapat tempat. Mandar di Sulawesi Barat, serta Kutai dan Paser di Kalimantan Timur, adalah contoh nyata.

Mandar memiliki tradisi pelaut dan perdagangan yang kuat, sekaligus perlawanan sengit terhadap kolonialisme. Armada laut Mandar bukan hanya sarana ekonomi, melainkan juga benteng perlawanan. Rakyat Mandar berulang kali melawan penetrasi Belanda, baik di pesisir maupun di pedalaman, namun kisah ini jarang diabadikan dalam buku pelajaran nasional. Sejarah lebih menyorot pusat-pusat perlawanan di Jawa, sementara keberanian rakyat Mandar dipinggirkan.

Demikian pula di Kalimantan Timur. Kutai adalah kerajaan tua dengan jejak peradaban yang telah hadir sejak abad ke-4 melalui Prasasti Yupa. Ia menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki tradisi politik dan budaya yang mapan jauh sebelum kolonialisme datang. Paser, di sisi lain, mencatatkan banyak perlawanan terhadap Belanda, baik secara diplomatik maupun fisik. Namun dalam narasi nasional, kisah Kutai dan Paser sering kali ditempatkan sebagai catatan kaki, bukan bagian utama dari perjuangan bangsa.

Apakah semua ini hanya karena Jawa-sentris? Tidak sepenuhnya. Ada faktor politik pengetahuan: siapa yang menulis sejarah, dengan sumber apa, dan dari kepentingan mana. Kolonialisme Belanda berpusat di Batavia, sehingga catatan sejarah yang diwariskan lebih banyak tentang Jawa. Setelah kemerdekaan, pemerintah pusat pun melanjutkan penekanan narasi dari Jawa sebagai poros utama, sehingga daerah lain—Mandar, Kutai, dan Paser—terpinggirkan dalam ingatan kolektif bangsa.

Untuk itu, sudah saatnya dilakukan dekolonisasi pengetahuan. Sejarah harus ditulis ulang dari perspektif daerah, dengan memberi ruang bagi narasi Mandar, Kutai, Paser, dan wilayah lain di luar Jawa. Dengan begitu, kemerdekaan Indonesia dapat dipahami sebagai hasil dari perjuangan kolektif seluruh anak bangsa, bukan milik satu daerah atau kelompok semata.

Penutup

Indonesia bukan sekadar kisah tentang “350 tahun dijajah Belanda”, melainkan tentang bagaimana berbagai suku, kerajaan, dan daerah membangun kesadaran kebangsaan bersama. Mandar dengan keberanian lautnya, Kutai dengan peradaban tuanya, dan Paser dengan perlawanan rakyatnya, semuanya adalah mozaik yang menyusun keutuhan Indonesia. Dengan memahami itu, kita menjadi bangsa yang lebih arif dan adil dalam menghargai sejarah.

Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke-80.


Kamis, 14 Agustus 2025

BERSYUKURLAH || Bisik Sang Tokoh Imajiner (Merayakan Puisi Imajiner Adi Arwan Alimin “Mereka Kini Bertanya Padamu”)

Oleh: Hamzah Ismail

"Syukur penjaga nyala di dada."

Di ruang sunyi di hamparan sejarah dalam kesadaran, suara-suara itu datang. Mereka bukan sekadar nama yang terpatri di batu nisan atau lembar arsip, melainkan sosok yang menagih kesetiaan. Dalam puisi imajiner Adi Arwan Alimin, mereka hadir bergantian, menggugat, menyoal, dan mengukur nyali manusia Mandar kini.

Kali ini, bayangan mereka berbalik arah. Tidak lagi menodong dengan pertanyaan, melainkan memberi satu pesan yang sederhana namun menghunjam: bersyukurlah.

Imam Lapeo: Api Iman yang Tak Padam
Wajah teduh ulama kharismatik ini seakan keluar dari pusara Lapeo.
"Bersyukurlah kau memiliki api iman yang kutanam, agar tak buta di tengah badai dunia,"
ujarnya, dengan suara sejuk yang mengalir ke relung hati.

Syekh Abdul Mannan: Benang Ilmu dari Zaman Silam
Tangannya seperti masih memegang butiran tasbih hitam bercahaya.
"Bersyukurlah atas ilmu yang kusulam, agar pikiranmu tak hanyut arus zaman."

Ibu Agung Andi Depu: Nyali Perempuan Perkasa
Derap langkahnya terdengar bagai pasukan kuda di tanah basah.
"Bersyukurlah karena keberanian itu masih bisa kau warisi, agar kemerdekaan tak hanya jadi catatan di kertas."

Hammad Saleh Puanna Sudding : Darah Panglima
Dari kabut medan perang ia berujar,
"Bersyukurlah kau mewarisi darah pejuang yang tak gentar bedil, untuk melanjutkan mimpi negeri merdeka."

I Calo Ammana Wewang: Pelita Akal Sehat
Di antara laut dan pasir Babbabulo, ia berkata,
"Bersyukurlah karena pelita akal sehat masih kau genggam, agar tak sesat di jalan panjang perjuangan."

Maraqdia Tokape: Nyali Melawan Bayang-Bayang
Ia mengingatkan,
"Bersyukurlah karena nyali itu masih ada, meski lawanmu kini tak selalu berseragam."

Haji Zikir Sewai: Warisan Kejujuran
"Bersyukurlah atas kejujuran ini, agar tak mencuri di rumah sendiri,"
pesannya yang sederhana namun menampar kesadaran.

Husni Jamaluddin: Telinga untuk Harmoni
"Bersyukurlah karena telinga ini masih mau mendengar suara lirih di tengah bising perbedaan, dan kesediaan bergabung ke dalam kehendak Tuhan."

Kalman Bora: Kebanggaan Anak Mandar
"Bersyukurlah bukan hanya pada nasabmu, tapi pada panggilan untuk memberi."

Kiai Sahabuddin: Iman yang Bening
"Bersyukurlah atas iman yang kutanamkan, agar hatimu tetap jernih meski berjalan di tengah godaan."

Bunda Maemunah: Keberanian Menatap Bedil
"Bersyukurlah karena keberanian itu membuat kehormatanmu tak terjual murah."

Baharuddin Lopa:  Kegigihan Makkeqdeang Atonganang
Dengan tatapan tajam ia berkata,
"Bersyukurlah atas kegigihan ini untuk melawan dusta dan korupsi."

Burai Nurdin Hamma: Buku Sebagai Cakrawala
"Bersyukurlah karena buku membuat jiwamu tumbuh."

Tammalele: Laut Sejarah dan Samudra Sastra
"Bersyukurlah karena kebudayaan ini adalah daya hidupmu."

Akhirnya, semua suara itu berpangkal pada satu hal:
Syukur bukan sekadar ucapan, tapi tindakan menjaga api, benang, nyali, dan iman. Selama tanah Mandar masih memanggil anak-anaknya pulang, pesan itu akan terus bergema, di telinga, di hati, dan di hamparan sejarah hidup mereka.

Bersyukurlah kau, karena kau memiliki tetua, yang dari mereka kau petik kebeningan perjuangan:

Mewariskan ke dadamu: jambia,  daya juang menerjang zaman. 
"Baca masa lalu leluhurmu yang lama terkubur dalam peragian zaman menjadi tafsir kekinian, sebab kejumudan adalah upaya menutup alir air hulu agar tak sampai ke muara, warisannya bukanlah emas, I Sorai dan Tambera, keris pusaka dan tombak trisula, padamu mereka hanya menitipkan keheningan dalam perjuangan dan kesejatian menjadi Mandar. Burai dan urai hidupmu dalam langkah-langkah taktis strategis, saat bunyi taqbilowe bertalu-talu mendorong gerak sandeq hidupmu, melaju jauh memotong ombak besar di samudera."

Maka bersyukurlah engkau menjadi Mandar kini, dan akan datang. Biarlah Mandar lalu adalah milik leluhurmu, dan kini tetap menjadi pondasi dasar keberangkatanmu.

Tinambung, 14/08/2025

Adi Arwan Alimin Pandaraq Allo Ramli Rusli

Rabu, 13 Agustus 2025

MEREKA KINI BERTANYA PADAMU (Sebuah Puisi Imajiner)


Karya Adi Arwan Alimin

Suatu hari bila engkau bertemu mereka, mungkin masing-masing akan bertanya padamu. Satu demi satu sebelum liang tak peduli alasan khianat serenik apapun.

Imam Lapeo, dari pusara waktu dia menitip tanya pada jiwa mudamu. 

"Masihkah api iman itu menyala,
Di antara badai dan duri dunia fana?
Masih cukup tegakkah langkahmu menenun asa, merawat warisan leluhurmu?"

Syekh Abdul Mannan, menyapamu dari kedalaman harapannya seraya membisikkan tanya, di antara rintik waktu yang senyap oleh zaman.

"Sudahkah benang ilmu kau rajut, tanpa goyah diterpa goda dunia yang melaju cepat akhir-akhir ini."

Seberapa lapangkah hatimu, menahan gelombang amarah, agar harmoni tetap bersemi di tanah Mandar yang ramah?

Lalu datanglah Ibu Agung Andi Depu, perempuan perkasa itu yang suaranya menggetarkan penuh tanya. Dia memecah sepi berapi seruan yang masih terdengar itu.

"Beranikah engkau melawan penindasan yang kembali menjelma?
Sebab kau tak boleh duduk memangku tanganmu lalu membiarkan kemerdekaan hanya manuskrip di lembar sejarah lama."

Pegang teguh martabatmu dalam gurau yang kian menipis, agar engkau tak surut melipat sarungmu seolah kau bukan Tomuane. 

Hammad Saleh Puanna Sudding, menggugatmu. Dia panglima abadi yang tak memiliki kata takut pada bedil dan angkara. Dia menyerumu dalam gemuruh zaman yang luruh memecah belah.

"Adakah kau telah membangun mimpi yang kami ukir dengan darah?
Kemerdekaan ini bukan sekadar kata-kata, yang berkelahi di nisan sejarah dan burai selongsong peluru."

I Calo Ammana Wewang, sang lelaki yang sejarah menumpu padanya menisik belati di telingamu.

"Mampukah kau meluruskan akal sehat, menjernihkan pikiran tanpa khianat, agar pelita itu tetap cahaya menerangi jalan nan panjang perjuangan?" Katanya, saat menyentuh antara laut dan pasir Babbabulo sepulang dari Belitung. 

Maraqdia Tokape,
"Adakah nyalimu membara, seperti dulu kala, melawan kolonialisme yang tak lagi serdadu bersenjata, tetapi merupa bayang-bayang yang menyusup diam-diam melemahkan kesadaranmu."

Haji Zikir Sewai, sang dermawan itu merajut pesannya, agar kau tidak tumbuh sebagai anak-anak yang gemar merajuk manja, apalagi belajar mencuri di rumahmu sendiri.

"Rajutlah hati-hati, jangan biarkan kepentingan sempit memecah mengendali kemudi pelayaran tak menentu. Tetaplah jujur pada seluruh tarikan napasmu..."

Husni Jamaluddin, dari gelombang hening memanggilmu dalam sunyi perbedaan yang kian bising.

"Mampukah kau mendengar suara sesamamu yang lirih?

Masihkah Aku perlu bertanya sekali lagi tentang semua ini, katanya. 

Kalman Bora mengingatkanmu agar tak digerus gemerlap kemewahan yang tumbuh dari nasib garis nasabmu. Dia yang terus menyokongmu tanpa pamrih ingin mengajukan tanya lebih banyak lagi.

"Apa yang telah kamu berikan untuk litaq Mandar ini?"

Pun Kiai Sahabuddin, sang penjaga ruh keagamaan itu memelukmu dalam rindang kata-kata hikmah mendayu.

"Seberapa kokoh iman di dalam dadamu tersembunyi? Saat gelombang rayuan dunia mengombang-ambingkan dirimu. Tetapi biarkan hatimu tetap bening meski kau berjalan dalam hening."

Bunda Maemunah menulis catatan harian tentang perjalanan panjangnya, guru yang meninggalkan papan tulis itu memanggul senjata sambil melirikmu liris.

"Seberapa berani pikiranmu melawan tatapan bedil yang membuat gigil itu. Aku menenteng kesetian pada cinta yang menguji, sementara kulihat engkau ingin menjajakan kehormatan demi helai halaman waktu terbeli." 

"Jangan ambil bila bukan milikmu!"

Lantang Baharudddin Lopa sambil menetak godam di jantungmu. Serunya tanpa tanda tanya.

"Buku apa yang terakhir kamu baca pekan ini?" Burai Nurdin Hamma, cendekia itu membuka halaman buku tebal menawarimu kopi kental di ruang tamunya. 

"Tanpa buku sejarah itu sepi, tanpa buku sastra itu sunyi, tanpa buku sains akan lumpuh, tanpa buku  spekulasi akan berhenti, karena buku didirikan di lautan waktu," serak Tammalele via telepon semalaman.

"Lalu apakah hakikat kebudayaan dalam mutu dan daya hidup manusia?" Tanyanya lagi diantara polemik budaya masa lalu sebagai masa kini. 

Mamuju, 14 Agustus 2025

*Puisi ini boleh dikutip atau dibacakan di mana saja

UPTD Samsat Majene Ikut Seruan Gubernur SDK: Gelorakan Wajib Baca Buku di Kantornya

Oleh : Dalif Palippoi

Beberapa hari sesudah terbitnya surat Gubernur Sulawesi Barat, SDK, nomor 000.4.14.1/174/VII/2025 tanggal 5 Juli 2025, yang ditujukan kepada para bupati, kepala perangkat daerah/biro Sulawesi Barat, serta para kepala/pimpinan instansi vertikal, suasana di berbagai lini pelayanan publik mulai menunjukkan geliat berbeda. Tak terkecuali di Kantor Samsat Majene, yang ikut “rame” merespons instruksi tersebut.

Meski dalam surat itu tidak secara eksplisit menyebut nama Samsat atau menargetkan jajaran petugasnya, namun secara substansial, isi perintah Gubernur menyentuh lingkup kerja mereka. Samsat, sebagai garda depan pelayanan publik yang setiap hari berinteraksi dengan masyarakat, terutama pemilik kendaraan bermotor yang hendak mengurus pajak, balik nama, atau memperbarui dokumen kendaraan, secara otomatis menjadi salah satu titik strategis penerapan imbauan tersebut.

Selama ini, setiap instansi yang memberikan pelayanan publik memang dipersyaratkan memiliki semacam pojok baca atau sudut baca. Namun, dalam praktiknya, banyak yang hanya memenuhi kewajiban itu secara formalitas belaka, sekadar ada, sekadar menempelkan label “pojok baca” di sudut ruangan, tanpa perhatian serius pada kenyamanan maupun kualitas bacaan yang tersedia. Rak buku hadir seadanya, koleksi bacaan minim, dan penataannya sering kali membuat pengunjung enggan berlama-lama.

Namun, sejak keluarnya seruan dari Gubernur Sulbar, SDK, pada awal Juli 2025, UPTD Samsat Majene bergerak cepat mengambil langkah konkret. Tanpa menunggu teguran atau instruksi lanjutan, mereka mulai menata ulang ruang pelayanan dengan menghadirkan pojok baca yang lebih representatif. Rak buku baru didatangkan, disusun rapi di area yang mudah terlihat, dan diisi dengan berbagai bacaan, mulai dari buku motivasi, pengetahuan umum, hingga komik edukatif yang ramah untuk segala usia.

Harapannya sederhana namun bermakna agar setiap pengguna jasa yang hadir di Kantor Samsat Majene mau memanfaatkan fasilitas ini. Sambil menunggu antrean atau proses administrasi rampung, mereka bisa membuka buku, membaca beberapa halaman, dan siapa tahu, mendapatkan pengetahuan baru atau sekadar hiburan yang bermanfaat. Dengan begitu, waktu tunggu tidak lagi terasa sebagai jeda yang membosankan, melainkan momen produktif yang memberi nilai tambah.

Lalu, dari mana Samsat Majene mendapatkan buku-buku bacaan yang berkualitas itu? Apakah mereka membelinya? Apakah memang ada alokasi anggaran khusus untuk pengadaan buku di kantor Samsat? Jawabannya, tidak. Sama sekali tidak ada pos anggaran yang diperuntukkan bagi pembelian koleksi bacaan.

Keterbatasan anggaran tidak membuat mereka berhenti pada wacana. Beberapa staf Samsat Majene memilih mengambil jalan kreatif: memanfaatkan jejaring yang mereka miliki. Mereka mulai menghubungi pelaku dan komunitas literasi yang tersebar di Tinambung, hingga Kecamatan Balanipa, dan daerah lain. Pesan yang mereka sampaikan sederhana namun tulus, Samsat Majene ingin membangun pojok baca yang benar-benar hidup, bukan sekadar hiasan, dan untuk itu diperlukan dukungan siapa pun yang peduli terhadap budaya membaca.

Selain itu, pimpinan Samsat Majene juga mengeluarkan kebijakan internal yang unik: setiap ASN maupun pegawai tidak tetap (PTT) diminta berkenan menyumbangkan minimal satu buku. Kebijakan ini bersifat sukarela, tanpa paksaan, namun menjadi semacam ajakan moral bagi semua pegawai untuk ikut berkontribusi. “Kalau setiap orang menyumbang satu buku saja, rak akan cepat penuh dan isinya akan beragam,” ujar salah seorang pegawai. 

Respons dari luar kantor pun di luar dugaan. Beberapa komunitas literasi yang selama ini aktif menggelar diskusi buku dan kegiatan membaca bersama dengan sukarela menyerahkan sebagian koleksi mereka. Tema buku yang diterima pun beraneka ragam. Beberapa buku memang bukan cetakan baru, tetapi kondisinya terawat dan tetap layak dibaca.

Dengan gerakan kecil dan gotong royong literasi itu, pojok baca Samsat Majene mulai terisi. Rak-rak yang sebelumnya kosong kini penuh warna, menampilkan punggung-punggung buku yang mengundang mata. Tidak lagi sekadar “sudut formalitas”, pojok baca itu berubah menjadi simbol kolaborasi antara pelayanan publik dan masyarakat pecinta literasi di daerah. 

Dalam hubungan itu, Dauliyah, mewakili institusinya mengucapkan terima kasih banyak kepada para pihak yang telah membantu mendonasikan puluhan bukunya ke UPTD Samsat Majene. Kepada pak Ridwan Alimuddin, pak Hamzah Ismail, pak Muhammad Munir, owner Rumpita dan Pusat Studi Sosial & Kajian Kebudayaan.  “Semoga bantuan bukunya kelak menjadi sumbangsih terbesar upaya peningkatkan budaya baca di Sulbar, Majene khususnya, dan menjadi bagian dari yang diserukan oleh Gubernur Sulawesi Barat, bapak SDK.” Pungkas Dauliyah.

Lamasariang, 13 Agustus 2025

Senin, 28 Juli 2025

(Edisi ke-5) Mamoko dzi Lembang

Sepulang sekolah di SD Negeri Lamasariang, kami bocah-bocah bergegas pulang dengan langkah riang. Matahari sudah condong ke barat, sinarnya memantul di daun kelapa yang bergoyang ditiup angin siang. Di rumah,  sudah tersaji makan siang sederhana: ande madzinging, pissang rottana mimbumbung di pindang. Di sudut meja saya mambualle` pa`annang pattombong, isinya  kappar  buritt` tombong, hanya ada temba-tembang jo’jo yang sudah berendam minyak Mandar, lengkap dengan tiga atau empat biji cabai rawit setan—disebut setan karena pedasnya melampaui batas.

Setelah perut terisi, kami pun bersiap. Sabir, Sudirman, Pinggi, Kaco More, Burhan, dan Saprianto berlari-lari kecil ke rumah Kama Canduru di Timbo. Kami pun berangkat, menapaki jalan tanah dan batu padas yang membelah kebun kelapa. Sepanjang perjalanan,  Lamasariang ke Timbo melewati bakar tallu rumah Kindo Maarifah dan Ngali, melewati jamabatan tomissang molo, mata kami dimanjakan oleh hamparan hijau, suara burung-burung, dan cahaya mentari yang menari di atas batang pohon . Di antara semak, kami saling berlomba, tertawa terbahak hingga napas tersengal. Dunia terasa luas, dan kami hanyalah bocah-bocah yang sedang bersekutu dengan kebahagiaan.
Canduru sudah menunggu bersama adiknya, Tanda. Kami saling menyapa, tertawa lepas, lalu mengikat janji untuk petualangan sore itu: Mamoko dzi Lembang. Di pinggir kampung, suara ayam berkokok bersahut dengan desir angin, Siang itu, langit biru meneteskan cahaya di sela pohon-pohon di pinggir kampung. Punna bakar berdiri teduh, daun lebarnya menari, buah bakar menggantung bagai lentera hijau. Di dekatnya, punna tomissang merimbun, rantingnya digoyang angin, menyimpan aroma manis dari buah yang mulai ranum. Sementara di sepanjang tanah di sana , punna anjoro menjulang, pelepahnya melambai seperti lambaian laut, menyimpan air kehidupan dalam buah yang bergelayut. Di bawah bayang pohon-pohon itu, siang hari terasa ramah, seakan kampung ini bernafas damai dalam pelukan alam.

Sampailah kami di lembang, sebuah bendungan alami yang dijaga oleh anyaman daun kelapa. Obor-obor kecil, atau sulo, tertata rapi menahan air agar tak mengalir bebas. Airnya jernih, berkilau bagai kaca, memantulkan bayang pepohonan yang menjulang di sekitarnya. Gemercik air mengalun di antara bebatuan, seolah menyanyikan lagu lama yang hanya dipahami oleh mereka yang tumbuh di kampung ini.

Di dalam bendungan, ikan, kepiting, dan udang menunggu saatnya dipanen. Air yang tertahan dialirkan ke sisi lain, ditampung dalam bak buatan alami yang ditimbai airnya. Ada yang menguras dengan gayung, ada pula yang terjun langsung, memulai petualangan mamoko—menangkap ikan, kepiting, dan udang dengan tangan kosong. Kami bersorak, tertawa, dan saling menggoda. Lumpur menempel di kaki, tapi wajah kami bersih oleh tawa.

Yang paling seru adalah saat Sudirman menangis menjerit,  karena nasikki i bu’ang!” Teriakan itu menjadi aba-aba untuk kami saling mengejar sambil ciprat-menyipratkan air. Tubuh kami basah kuyup,  hanya celana melekat di kulit, tapi tidak ada yang peduli. Kami larut dalam kegembiraan yang tak bisa dibeli oleh apa pun, apalagi oleh layar kaca atau gawai yang kini merajai dunia anak-anak.

Sore menjelang, langit Timbo  berubah jingga. Kami pun mengumpulkan hasil tangkapan, lalu kembali ke rumah Canduru. Di sana, kindo Canduru sudah siap dengan tungku api, menyambut kami dengan senyum. Udang, ikan, dan kepiting itu dimasak, ada juga loka piapi dan lameayu piapi—dua hidangan khas yang membuat aroma dapur menyeruak ke setiap sudut rumah panggung. Kami duduk melingkar, tangan kecil ini lahap menyantap setiap suapan, ditemani gelak tawa dan cerita-cerita lucu.

Ketika senja turun perlahan, kami pulang dengan langkah gontai tapi hati penuh bahagia. Jalan tanah  batu padas  senja hari masih  terasa hangat di telapak kaki. Di kejauhan, di mesjid lamasariang sudah pelloa pala, menandai hari yang hampir selesai. seolah menyimpan rahasia masa kecil yang tak akan pernah kami lupakan.

Lamasariang  itu adalah surga kecil yang tak ternilai. Di sana, kami belajar tentang kebersamaan, tentang tawa yang tulus, dan tentang betapa indahnya hidup yang sederhana. Dan ketika langit berubah gelap, kami menatap bintang pertama di cakrawala dengan hati yang damai, seolah mendengar bisikan leluhur: “Jagalah tanahmu, cintai kampungmu, karena di sanalah bahagia bermula.”

Begitulah Mamoko dzi Lembang—bukan sekadar cerita masa kecil, melainkan kenangan yang akan selalu hidup di relung jiwa kami. Sebuah kisah tentang alam, persaudaraan, dan cinta yang tak lekang oleh waktu. Lamasariang, engkau selalu indah dalam ingatan.

(Episode ke-4) Pa'ambi Beke

Safardy Bora

Dulu, di Lamasariang—tempat kecil yang tak pernah kecil dalam kenangan—aku hidup bersama aroma tanah basah dan bau kandang kambing yang menyatu dalam pagi. Waktu seolah berputar lambat di sana. Dan aku adalah bocah yang bangga, memelihara beke di bawah rumah panggung kami yang renta tapi hangat. Itulah dunia kecilku—berpagar kayu seadanya, berpintu kayu lapuk yang dibuka dan ditutup dengan simpul tali.

Kandang itu tak luas, tapi cukup buat beberapa ekor beke yang sering kurawat. Ada palung makan yang dibuat dari batang kayu yang sengaja dipahat oleh kama’u. Tempat makan itu tak pernah kosong, sebab aku, kama'u, atau kindo'u akan selalu mencari ande beke, daun-daun hijau ayu ranni kesukaan kambing, dari kebun atau hutan. Kami setiap waktu sore sepulang sekolah menerobos kebun-kebun mengambil ande beke, pokoknya asal beke makan, asal tak ketahuan pemiliknya— mesti sebagian besar ande beke itu memang Spanyol, separuh nyolong.

Kami sering menyusuri lembang Matti’,di ba'ba cendra tempat rimbun dan sejuk tapi menyimpan bahaya. Di balik semak, bisa saja seekor ular piton diam-diam menunggu. Tapi demi beke yang menunggu di kolong rumah, kaki tetap melangkah. Kadang ke Pandebulawang, apalagi kalau sekolah libur. Itu sudah semacam tugas negara: ikut kama dan kindo ke kebun. Kama’u, waktu masih hidup, beliau-lah yang selalu pulang membawa ande beke nasoppo setiap hari. Kalau beliau terlambat pulang, beke akan meraung-raung  tamba’i, meronta di namboyang.

Tapi kadang malas juga datang diam-diam. Jika sudah begitu, maka dua punna camba di poros jalan utama Majene–Polewali, tepat di depan rumah Amma Pisa, menjadi sasaran utama. Pohon camba itu raksasa. Batangnya tak bisa kupeluk, bahkan dengan dua pasang tangan anak-anak pun belum cukup mengelilinginya. Tapi entah bagaimana, aku bisa naik sampai ke puncaknya. Memanjat, bergelantungan, berpindah dari ranting ke ranting, seperti ada tangan tak kasat mata yang menuntun. Kalau dipikir sekarang, benar-benar tak masuk akal. Seolah ada yang mengendalikan. Itu bukan sekadar keberanian bocah. Itu adalah kuasa Allah yang nyata, menjaga anak kecil dengan sejumput niat dan setumpuk tanggung jawab di dadanya.

Kambing kami tak makan siang, cukup malam. Satu kali sehari. Tapi kadang-kadang, kalau ada  rato wakar,  ditatta’, setelah itu diberi minum dari seduhan air garam, disajikan sebagai camilan siang. Tapi keseruan sejatinya bukan di situ. Yang paling heboh adalah saat musim kawin. Suara beke jantan meraung keras memanggil betina, keseruan  berikut jika naulelei barona gulang. Kadang irri-irri tak karuan. Dan kalau sudah karaoi bongi, gaduh tengah malam, tetangga satu kampung bangun mendengar beke menjerit.

Tapi semua itu tak membuat lelahku sia-sia. Memelihara beke tak pernah membuatku merasa kecil. Bahkan sebaliknya, itu semacam lambang tanggung jawab. Aku melakukan semua dengan ikhlas. Tidak berharap pamrih, tak mengharap ucapan terima kasih. Kalau kebetulan ada paalli beke, pembeli kambing datang dari Tammejarra, lalu kambingku dibeli, ya Alhamdulillah. Tapi kalau tidak, ya sudah. Uangnya pun kadang tak sampai ke tanganku. Kindo'u yang mengurus semua. Tapi aku tahu, beke membantu dapur kami tetap berasap.

Keluargaku bukan keluarga berada. Kami hanya petani biasa. Hidup pas-pasan. Kadang uang belanja tidak cukup untuk seminggu. Maka memelihara beke bukan hanya hobi, tapi bagian dari bertahan hidup. Suka duka itu aku jalani tanpa keluh. Kalau aku menangis, itu bukan karena beratnya beban, tapi karena kaki tersandung akar atau terkena duri saat cari ande beke. Atau karena kena parare, ulat bulu gatal yang kadang ikut nempel di ande beke yang menempel di daun pisang. Kalau sampai kambing makan itu, dia akan menjerit, sekeras-kerasnya, seolah dunia hendak runtuh.

Yang paling heboh juga saat ada kegiatan di sekolah, bagaimana pun mengambil makanan kambing musti sore menjelang petang.Sasarannya cuma satu: punna ayu wagzang di tengah kubur Puang Padza yang selalu membuat bulu kuduk berdiri. Sendirian pula di bawah langit merah, bayangan pohon seolah menjelma wajah. Tapi aku tetap melangkah, demi beke yang menanti.

Dulu, memelihara kambing adalah bentuk kebanggaan. Itu adalah tanda bahwa aku anak yang bisa dipercaya, anak lelaki yang mulai menapaki tanggung jawab kecilnya di dunia. Dan beke bukan sekadar hewan ternak, tapi kawan, sahabat yang diam tapi mengerti. Saat dia mengembik pelan karena lapar, aku merasa seperti dipanggil oleh rasa cinta.

Tak semua anak punya kesempatan itu. Tak semua bisa merasakan bagaimana rasanya meramu kasih sayang dari tumpukan daun hijau, atau mendengar suara kambing malam-malam sebagai pengantar tidur. Aku pernah, dan aku bangga. Dari bawah rumah itu, dari kandang kecil itu, aku belajar tentang ketulusan, keikhlasan, dan kerja keras.

Kini, semua itu hanya tinggal kenangan. Tapi setiap kali aroma rerumputan basah menerpa hidungku, atau kudengar embikan dari kejauhan, hatiku dibawa pulang. Kembali ke masa ketika aku kecil di Lamasariang. Masa ketika satu ekor beke bisa membuat dunia terasa lengkap. Masa ketika cinta tidak butuh kata-kata besar, cukup satu embikan yang kutanggapi dengan setangkai raasande beke.

Dan malam ini, aku menulis sambil menahan haru. Di dunia yang serba cepat dan penuh perhitungan ini, ingatan tentang beke adalah oase. Aku tak bisa kembali menjadi anak kecil yang memeluk batang camba, memanjat sampai ke pucuknya, tapi aku tahu—di dalam dadaku, aku belum pernah benar-benar turun. Masih ada bagian dari diriku yang menggenggam ranting, yang berjalan menyusuri hutan, yang duduk di kolong rumah sambil menatap kambing kecil dengan mata penuh harapan.

Mungkin itulah yang disebut pulang. Bukan ke rumah-rumah yang kita bangun di kota, tapi ke rumah dalam kenangan—yang dindingnya terbuat dari kasih, dan lantainya dari keikhlasan. Dan beke—si kecil yang sering kita sebut remeh—telah mengajari aku lebih banyak tentang hidup, daripada banyak buku yang kutamatkan setelah dewasa.

Catatan perjalananku...
Lamasariang yang begitu indah ...