Rabu, 08 Oktober 2025

BUKU Ibu Agung Hj. Andi Depu (2018-2020)

Pengantar Penerbit 

Bagi seorang tokoh sejarah, perjuangan merupakan tuntutan dan panggilan hidup yang dipenuhi demi kemaslahatan bersama. Ada pun “ganjaran” berupa apresiasi, sikap hormat, bahkan penganugerahan sebuah gelar kepahlawanan adalah konsekwensi logis dari sikap perjuangan. Dalam konteks gelar Pahlawan Nasional yang diterima Ibu Agung Hj. Andi Depu, itu menunjukkan apresiasi tinggi dan penghormatan semua pihak, termasuk negara, atas perjuangan bersejarah seorang Arajang Mandar. Secara riil ini merujuk pada keyakinan bahwa “bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”

Ibu Agung Hj. Andi Depu dengan gagah berani menunaikan darma baktinya sebagai pelopor dan pemimpin perjuangan di Sulawesi Barat, bahkan Sulawesi Selatan, dalam rentang yang panjang. Mulai menghadapi kolonial Belanda, militerisme Jepang hingga upaya mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan. Semua itu menuntut daya juang yang tinggi (militansi), konsistensi, visi kebangsaan, dan tak kalah penting sikap rela berkorban. Nilai-nilai itu niscaya menjadi rujukan dan suri tauladan bagi generasi yang hidup pada masa Andi Depu berjuang, generasi sekarang yang bisa melacak jejak perjuangannya secara referensial, maupun generasi yang akan datang melalui sumber-sumber sejarah yang diwariskan-salah satunya melalui buku yang menjadi tulang punggung dunia literasi. 

Muhammad Munir, penulis buku Ibu Agung Hj. Andi Depu, Pahlawan Nasional dari Mandar ini, menuliskan dengan lengkap dan relatif menyeluruh sosok Hj. Andi Depu. Menariknya, apa yang dikisahkan Muhammad Munir tidak langsung tentang peran Andi Depu dalam perjuangan, namun menceritakan juga kehidupannya sejak awal di tengah keluarga besarnya. Kisah-kisah di tengah keluarga ini merepresentasikan kehidupan bangsawan Mandar yang memiliki kepedulian pada penderitaan rakyat yang sedang terjajah. 

Oleh karena itu, muncullah perlawanan dan pemberontakan di mana-mana. Bagian ini menjadi lengkap karena jejak-jejak perlawanan rakyat Mandar dikisahkan dalam bab awal, sehingga bisa dibaca sebagai latar kemunculan militansi Hj. Andi Depu, bahwa ia tidak sendiri. Kepahlawanan Andi Depu tidak muncul dari “ruang hampa”, namun didukung oleh semesta lingkungan tempat ia tinggal dan  dirajakan, yakni Tanah Mandar yang dikenal sebagai Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba’banna Binanga. Lewat cara ini kita dapat menundukkan kepala menghikmati kenyataan bahwa sosok kepahlawanan Hj. Andi Depu niscaya merepresentasikan sikap kepahlawanan para pejuang Mandar dan akhirnya seluruh masyarakat Mandar. 

Sebagai buku sejarah, penulisnya sadar betul bahwa unsurunsur sejarah menjadi bingkai sekaligus landasan dari keseluruhan kisah. Menurut Nugroho Notosusanto (1984), sejarah mempunyai dua arti, yakni (1) sejarah sebagai peristiwa-peristiwa) pada masa lampau dan (2) sejarah sebagai kisah dari peristiwa-peristiwa) itu. Dengan kata lain, sejarah dapat berarti sejarah sebagai peristiwa dan sejarah sebagai kisah.

Nah, Muhammad Munir berhasil mentransformasikan peristiwa masa lampau melalui kemampuan berkisah yang baik. Ia mengolah sumber-sumber sejarah yang dikumpulkan dengan intens, dengan melibatkan Tim Kreatif dan dilengkapi banyak foto yang memiliki nilai dokumentasi tinggi, sehingga kehadirannya bukan sekedar pelengkap, tapi bagian tak terpisahkan dari narasi sejarah, termasuk proses pengajuan Andi Depu sebagai Pahlawan Nasional, yang dilakukan sangat antusias oleh masyarakat Mandar.  

Akhirulkalam, tak ada gading yang tak retak. Kami mohon maaf atas segala kekurangan, dan mengharapkan kritik/saran dari para pembaca sekalian.

MERAWAT SEJARAH || Buku I Calo Ammana Wewang (1954 - 1987)

Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah! Demi­kian bunyi salah satu pidato Bung Karno Presiden pertama Republik Indonesia. Pidato ini disampaikan pada 17 Agustus 1966 dan merupakan pidato kepre­sidenan Bung Karno yang terakhir. Pada 1967, Bung Karno bukan lagi presiden.

Menurut sejarawan Rushdy Hoesein banyak orang yang salah mengutip singkatan Jas Merah dari pidato Presiden pertama Indonesia Sukarno (Bung Karno). Banyak orang menyebut Jas Merah sebagai singkatan dari ‘Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah’. “Padahal yang betul adalah ‘Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah’. Ada makna yang berbeda antara ‘melupakan’ dengan ‘meninggalkan’,”. 

Rushdy kemudian mencontohkan dia memiliki kunci rumah. Setiap pergi meninggalkan rumahnya dia tidak akan pernah meninggalkan kunci rumahnya, meskipun mungkin suatu ketika lupa membawa. (Republika, Rabu 15 Mai 2019).

Menulis buku tentang sejarah Bangsa Indonesia saat ini merupakan sebuah langkah untuk merawat ingatan sekaligus memenuhi pesan Bung Karno un­tuk tetap merawat ingatan atau bisa juga disebut mewariskan ingatan kepada generasi sekarang atau yang akan datang, serta menulis sejarah perjuangan.

Buku yang ditulis oleh saudara Muhammad Munir ini salah satu upaya yang kami sebutkan di atas. Penulisan buku melalui metode riset dan wawancara serta mengumpulkan dokumentasi terkait tokoh se­perti I Calo Ammana Wewang, sebagai salah satu kusuma bangsa, yang berdiri di garis depan membela tanah air dan bangsa dalam upaya menindasan yang dilakukan oleh orang yang disebutkan dalam syair lagu di Mandar sebagai To Kara Matanna, Mettapiang Talinganna, Mekkalanjo Purunna atau Belanda.

Tidak tanggung-tanggung, dalam penelusuran pe­nulis, tidak hanya mengumpulkan data di wilayah Mandar, Sulawesi Barat, tapi juga melakukan perjalanan sampai ke Negeri Laskar Pelangi atau Bangka Belitung daerah yang menjadi pembuangan tokoh dalam buku ini, sebagai bentuk hukuman dari Belanda.

Sebuah pencapaian yang harus diapresiasi dengan menerbitkannya menjadi buku. Meskipun masih tersisa rumpang pada sajian buku ini, tentunya ruang itu atau yang masih kurang bisa dijadikan sebagai arena diskusi dan sebagai wadah untuk memperkaya isi buku dalam terbitan selanjutnya di kemudian hari.

Akhirnya pembaca yang Budiman, selamat mem­baca buku ini, semoga bisa menjadi referensi bagi siapa saja yang tetap ingin dan mau merawat pesan Bung Karno - Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!-. Artinya bahwa dengan membacanya pun adalah langkah untuk tidak meninggalkan sejarah.
Selamat membaca.

Polewali, 10 Oktober 2021

Wahyudi Muslimin
Ceo Gerbang Visual

Senin, 06 Oktober 2025

TAMMALELE || Sang Budayawan Nyentrik

Oleh : Ilham Sopu

Nama Tammalele yang akrab dipanggil A'ba Lele adalah nama yang sangat familier di daerah Mandar. Setiap berbicara budaya, seni, sosiolog, antropologi sekaitan dengan mandar, nama ini tidak pernah luput dari perbincangan. Dialog-dialog, diskusi-diskusi, seminar-seminar, pertemuan-pertemuan budaya, diskusi-diskusi pojok, diskusi-diskusi kampung, nama Tammalele selalu melekat dalam pertemuan tersebut. A'ba Lele adalah budayawan yang lahir  dari alam, universitasnya alam, budayawan yang lahir secara otodidak. Ia lahir di kappung Pambusuang di tahun 60 an. 

Di awal kehidupannya di kappung Pambusuang, A'ba Lele banyak ditempa dengan cerita-cerita ala Pambusuang yang biasanya berpusat di barung-barung di berbagai sudut kampung. Pambusuang kaya dengan berbagai tempat-tempat diskusi yang mengupas berbagai materi-materi diskusi yang muncul secara spontan, dan diperbincangkan di tempat-tempat pertemuan seperti "barung-barung", di tempat inilah yang menjadi ciri khas Pambusuang masa lalu dan sampai saat ini.

A'ba Lele bukan hanya mahir dalam bicara budaya, seni, tapi juga sangat menguasai term-term keagamaan klasik yang banyak diperbincangkan orang dengan analisis sosial kesejarahan Pambusuang pada masa dulu, dia banyak tau sejarah para annangguru di Pambusuang, pemikiran-pemikirannya, dan berbagai latar belakang keahlian para annangguru, serta perdebatan-perdebatan keilmuan antara satu annangguru dengan annangguru yang lain.

Perdebatan atau diskusi dengan sesama annangguru adalah hal yang sering terjadi di Pambusuang, dan itu secara tidak terjadwal, dimanapun mereka berkumpul, seperti di tempat-tempat hajatan, di pasar, di pinggir laut, di barung-barung, di sudut-sudut rumah, hampir selalu terjadi diskusi yang materinya lebih banyak berkaitan dengan masalah keagamaan. Lewat diskusi-diskusi seperti ini A'ba Lele kecil, banyak menyerap percikan-percikan pemikiran annangguru yang berdiskusi pada waktu itu. Disinilah tempat belajar A'ba Lele mengais ilmu-ilmu keagamaan dan model-model berdiskusi ala Pambusuang.

Model pembelajaran keagamaan yang didapatkan A'ba Lele bukanlah model formal, tapi lebih banyak model-model non formal lewat diskusi-diskusi ala kampung yang marak terjadi di berbagai tempat di Pambusuang pada waktu itu. Di tahun 80 an, A'ba Lele banyak menghabiskan waktunya untuk mengajar ilmu sejarah di pesantren Nuhiyah Pambusuang, sekaligus juga memanfaatkan untuk memperdalam ilmu-ilmu keagamaan kepada KH Abdurrahman, pimpinan pesantren Nuhiyah Pambusuang yang dikenal sebagai annangguru yang banyak mengkader generasi-generasi pelanjut keilmuan keagamaan di Pambusuang.

Disamping penguasaan metode-metode debat ala Pambusuang, A'ba Lele juga aktif mengikuti perkembangan keilmuan nasional lewat tokoh-tokoh nasional yang menjadi rujukannya, seperti Emha Ainun Najib yang lebih akrab dipanggil Cak Nun, seorang budayawan yang mumpuni, sekaligus seorang Kiai. A'ba Lele banyak mengais ilmu lewat Cak Nun, melalui interaksi langsung maupun lewat buku-buku Cak Nun yang banyak beredar di tahun 80 an sampai 90 an, hampir semua buku-buku Cak Nun menjadi koleksinya dan betul-betul menguasai pemikiran-pemikiran Cak Nun.

Pemikiran-pemikiran keagamaan A'ba Lele lebih banyak diraup dari pemikiran keagamaan Cak Nun, sehingga A'ba Lele ini bisa disebut anak pemikiran ideologis Cak Nun, dan memang tempat tinggal A'ba Lele sekarang ini, ada terbentuk komunitas pencinta Cak Nun tepatnya di Tinambung, yang dikenal sebagai kampung yang banyak melahirkan budayawan-budayawan handal di tanah mandar, seperti budayawan atau panglima puisi Husni Jamaluddin.

A'ba Lele saat ini, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memberikan pencerahan kebudayaan kepada generasi-generasi muda di wilayah Sulbar khusus Balanipa Majene, hampir semua kegiatan-kegiatan budaya seni dan keilmuan lainnya A'ba selalu menjadi rujukan utama dalam memberikan kontribusi untuk generasi pelanjut terkait dengan kemajuan kebudayaan di tanah Mandar. Kehadiran berbagai tokoh-tokoh budaya nasional, di Sulbar A'ba Lele selalu menjadi rujukan pendamping sebagai pembicara untuk mendampingi tokoh-tokoh nasional tersebut.

Dan sudah banyak kader-kader ideologis A'ba Lele yang ada di Sulbar bahkan ditingkat nasional, untuk melanjutkan pemikiran-pemikirannya. Jejak-jejak pemikiran budaya A'ba Lele sudah banyak tersebar dimana-mana di wilayah Sulbar, dan pemikiran itu sebagai aset Sulbar sebagai rujukan dalam membangun sulbar khususnya yang terkait pembangunan kebudayaan di Sulawesi Barat, saatnya sekarang pemerintahan Sulbar untuk bisa memberi apresiasi terhadap berbagai sumbangan pemikiran kebudayaan terhadap A'ba Lele.

(Bumi Pambusuang, 6 Oktober 2025)

Minggu, 05 Oktober 2025

Ketika Tuhan Cemburu pada Baharuddin Lopa

Catatan Hamzah Ismail 

Ada sebuah kebiasaan yang nyaris menjadi ritual wajib bagi Baharuddin Lopa setiap kali pulang kampung ke Pambusuang: ia selalu memanggil seorang sepuh desa, bukan sekadar untuk berbasa-basi, melainkan untuk mendengar kisah dan petuah yang hanya bisa lahir dari orang-orang tua yang bijaksana dan memiliki rasa humor yang tinggi. Salah seorang sepuh itu bernama Kurudi, yang hampir seluruh ceritanya selalu menggunakan logika terbalik.

Suatu hari, begitu kakinya menjejak tanah kampung halaman, Baharuddin Lopa langsung menyuruh seorang perempuan muda menjemput Kurudi.

“Puaq, napanggilki Jaksa Tinggi (panggilan akrab Baharuddin Lopa),” ujar suruhan itu di depan Kurudi yang tampak terbaring di dipannya.

Padahal, sejak mendengar kabar bahwa Lopa pulang, Kurudi sengaja berpura-pura sakit. Ia menghela napas panjang, lalu berkata lirih tapi penuh siasat:

“Bilang sama Jaksa Tinggi, saya lagi sakit. Katakan juga, mulut saya ini sedang tidak berasap.” Suruhan itu bingung, tapi tetap membawa pesan apa adanya. 

Begitu mendengarnya, Baharuddin Lopa hanya tersenyum tipis, paham betul maksudnya.

“Belikan sebungkus rokok. Pakai uangmu dulu. Bawa ke rumah Kurudi,” perintahnya.

Tak lama, rokok itu sampai di tangan Kurudi. Sepuh itu bangkit, mengatur jalannya pelan-pelan, tetap dengan gaya orang sakit. Tetapi begitu sampai di rumah Baharuddin Lopa, matanya berbinar melihat sambutan hangat tuan rumah. Kopi hitam segera disuguhkan.

“Puaq, sakit apa?” tanya Lopa, nada suaranya dalam dan penuh perhatian.

Kurudi menghela asap rokok sebelum menjawab, “Kurang tidur, Nak. Semalam saya mimpi. Mimpi berdebat dengan Tuhan. Bayangkan, jari telunjuk-Nya hampir saja menyentuh mata saya.”
Alis Lopa terangkat. 

“Berdebat dengan Tuhan? Tentang apa, Puaq?” tanyanya, nada suaranya berubah, antara heran dan takjub.

Kurudi menatap Lopa lama, lalu menyunggingkan senyum tipis. “Tentang kamu, Nak. Sepertinya Tuhan sedang cemburu padamu. 

Ada tiga pasal yang saya perdebatkan dengan-Nya.”

Lopa merapatkan duduknya, tubuhnya tegak, matanya berbinar. Ia sudah terbiasa berhadapan dengan hakim, jaksa, dan penjahat kelas kakap. Tapi kali ini, ia seperti murid kecil yang menunggu gurunya bercerita.

Namun Kurudi sengaja menunda. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu menoleh ke arah salah seorang perempuan di rumah.

“Ambilkan satu kaos baru untuk Puaq,” ujar Lopa tiba-tiba, seolah ingin menyiapkan hadiah untuk penutur kisah yang sedang menegangkan suasana.

Kurudi terkekeh kecil, lalu berkata, “Sabar dulu, Nak. Biar saya habiskan rokok ini.” Asap mengepul dari bibirnya, lalu ia mulai.

“Pasal pertama,” katanya pelan namun tegas, “Tuhan berkata padaku: kasih tahu itu Baharuddin Lopa. Dia terkenal jujur, padahal kejujuran itu dari Aku.”

Lopa menunduk sedikit, tangannya sigap mencatat di buku kecil yang selalu ia bawa.

“Pasal kedua,” lanjut Kurudi, suaranya semakin dalam, “Tuhan berkata: kasih tahu itu Baharuddin Lopa, dia suka memberi (malawo). Padahal sifat dermawan itu dari Aku.”

Kali ini Lopa mengangkat wajahnya. Ada sinar yang lembut di matanya, antara kagum sekaligus tertohok.

“Dan pasal ketiga,” Kurudi menarik napas panjang, menahan sebentar, lalu mengembuskan asap terakhir, 

“Tuhan berkata: kasih tahu itu Baharuddin Lopa, dia sangat pemberani ketika dikeroyok banyak orang, padahal keberanian itu pun berasal dari Aku.”

Setelah kata-kata itu meluncur, ruangan menjadi hening. Hanya bunyi detak jam dinding yang terdengar. Lopa terdiam, lalu perlahan tersenyum. Senyum lirih yang lahir dari kesadaran mendalam, bahwa dirinya bukan siapa-siapa, selain sarana bagi sifat-sifat Tuhan bekerja di dunia.

“Betul itu, Puaq,” ucapnya pelan. Suaranya hampir bergetar, seolah mengakui bahwa seluruh nama besar, seluruh keteguhan, seluruh keberanian yang melekat padanya hanyalah titipan.

Kurudi meletakkan rokok di asbak. Wajahnya sumringah, bukan karena kaos baru yang barusan diterimanya, melainkan karena berhasil membuat Baharuddin Lopa begitu penasaran atas perkara perdebatannya dengan Tuhan.

Sumber cerita: Tammalele

Foto: Saat Baharuddin Lopa (Sekjen Komnas HAM) bersama Emha Ainun Nadjib dalam sebuah seminar di Mandar (1997). Ketika itu Emha Ainun Nadjib sedang dicekal oleh rezim orba, dan tidak diperkenankan berbicara.

Selasa, 16 September 2025

Aji Galeng, Jejak Sejarah dari Paser Utara Kini Dibukukan


Laporan Safardy Bora 

Sosok Aji Galeng yang hidup pada akhir abad ke-18 hingga abad ke-19 (1790–1882) dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah Kalimantan Timur. Ia menjadi figur pemersatu antara Kesultanan Paser dan Kesultanan Kutai, sehingga perannya kerap dipandang sebagai salah satu tonggak awal terbentuknya peradaban di kawasan yang kini menjadi lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN).

Warisan sejarah tersebut kini dituangkan dalam sebuah buku berjudul “Aji Galeng dari Paser Utara: Penjaga Negeri Peletak Peradaban”. Peluncuran buku ini dilakukan langsung oleh Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, di Gedung Otorita IKN, Selasa (16/9/2025).

Dalam pidatonya, Rudy menekankan bahwa karya sejarah adalah sarana menjaga ingatan kolektif masyarakat. Menurutnya, setiap generasi perlu mengenal akar budaya dan peradaban daerah agar tidak tercerabut dari jati diri.

Sejarah jangan pernah dilupakan. Buku ini bukan sekadar catatan, tetapi cermin identitas sekaligus sumber inspirasi bagi generasi hari ini maupun esok,” tutur Rudy.



Rudy yang menyandang gelar Raden Setia Sentana juga menegaskan, IKN tidak hadir di tanah kosong, melainkan berdiri di atas peradaban yang telah berakar ratusan tahun lamanya. Karena itu, ia mengapresiasi kerja keras Yayasan Aji Galeng, Departemen Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, serta para penulis yang berkontribusi menyelesaikan buku ini.

Ia berharap daerah-daerah lain di Kaltim, seperti Kutai dan Kota Bangun, juga melahirkan karya serupa.

Banyak kekayaan sejarah kita yang patut ditulis, agar masyarakat tetap dekat dengan akar budayanya,” ujarnya.

Bagi Rudy, peluncuran buku ini tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga semangat persatuan. Kaltim yang dikenal sebagai miniatur Indonesia dengan keberagaman suku, agama, dan budaya disebutnya harus terus memperkuat kebangsaan, apalagi di tengah pembangunan IKN menuju kota berkelas dunia.

Acara peluncuran turut dihadiri para raja dan sultan dari berbagai kesultanan di Kalimantan Timur, kalangan akademisi, pejabat Otorita IKN, serta kepala OPD Pemprov Kaltim. Hadir pula Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin, Ketua Yayasan Aji Galeng Bambang Arwanto, serta perwakilan perguruan tinggi dari UI, UGM, Unmul, Uniba, hingga Unikarta.

Buku ini ditulis oleh Bambang Arwanto, seorang birokrat sekaligus Ketua Yayasan Aji Galeng, bersama sejarawan Kalimantan Timur Safardy Bora.