Kamis, 24 Juli 2025

RESENSI BUKU || Tirani Demokrasi



R-Dhy

Di antara lembaran-lembaran kecil buku ini, tersembunyi ironi yang menggigit. Buku Sebuah Selebaran: Tirani Demokrasi bukanlah sebuah buku tebal yang memuat teori-teori politik yang jelimet dan kaku, melainkan semacam buku catatan berupa renungan, satire, dan kritik sosial yang lahir dari mata tajam seorang Sapardi Djoko Damono.

Salah satu bab yang menarik perhatian saya adalah bab berjudul “Coblosan Usai, Dagang Sapi Pun Mulai.” Judul yang terdengar kasar, getir, tapi justru di sinilah daya ungkitnya. Melalui bab ini, Sapardi mengajak pembaca menembus balik layar pemilu: dari euforia pesta demokrasi hingga tawar-menawar kekuasaan yang tak jauh berbeda dari pasar hewan.

Buku ini ditulis di tengah geliat demokrasi pasca reformasi, namun narasinya tetap relevan hingga hari ini terlebih setelah Pemilu Legislatif dan Presiden 2024 baru saja selesai, dan bangsa ini bersiap menghadapi Pilkada serentak. Dalam “Coblosan Usai, Dagang Sapi Pun Mulai”, Sapardi mengurai bagaimana ritual pemilu, dari 1955 hingga sekarang, berubah menjadi panggung citra, bukan lagi arena ide.

Ia menuliskan betapa wajah-wajah asing mendominasi jalanan lewat poster, baliho, dan spanduk penuh janji klise: kesejahteraan, pendidikan, kejujuran, lapangan kerja. Semua terdengar sama, dari mulut siapa pun, dari partai mana pun. Tapi Sapardi tak berhenti di sana. Ia membongkar kebiasaan politisi mencantumkan tokoh-tokoh besar sebagai “latar belakang” fotonya, sebuah simbol dari minimnya keyakinan diri atau sekadar strategi penggiringan emosi massa. Bahkan rentetan gelar akademik pun dipertanyakan keabsahannya di negara yang kerap memperdagangkan selembar kertas bernama ijazah.

Sambil mengingat-ingat Pemilu 1955, Sapardi membandingkan bagaimana demokrasi kala itu meski kasar dan terbuka, justru terasa jujur. Tak seperti sekarang, yang penuh peraturan kampanye namun semua dilanggar juga. “Kalau tidak untuk dilanggar, untuk apa dibuat peraturan?” tulisnya dengan gaya yang separuh bercanda, separuh sinis.

Rabu, 23 Juli 2025

(Episode Ke-4) PA'AMBI BEKE

Safardy Bora 

Dulu, di Lamasariang—tempat kecil yang tak pernah kecil dalam kenangan—aku hidup bersama aroma tanah basah dan bau kandang kambing yang menyatu dalam pagi. Waktu seolah berputar lambat di sana. Dan aku adalah bocah yang bangga, memelihara beke di bawah rumah panggung kami yang renta tapi hangat. Itulah dunia kecilku—berpagar kayu seadanya, berpintu kayu lapuk yang dibuka dan ditutup dengan simpul tali.

Kandang itu tak luas, tapi cukup buat beberapa ekor beke yang sering kurawat. Ada palung makan yang dibuat dari batang kayu yang sengaja dipahat oleh kama’u. Tempat makan itu tak pernah kosong, sebab aku, kama'u, atau kindo'u akan selalu mencari ande beke, daun-daun hijau ayu ranni kesukaan kambing, dari kebun atau hutan. Kami setiap waktu sore sepulang sekolah menerobos kebun-kebun mengambil ande beke, pokoknya asal beke makan, asal tak ketahuan pemiliknya— mesti sebagian besar ande beke itu memang Spanyol, separuh nyolong.

Kami sering menyusuri lembang Matti’,di ba'ba cendra tempat rimbun dan sejuk tapi menyimpan bahaya. Di balik semak, bisa saja seekor ular piton diam-diam menunggu. Tapi demi beke yang menunggu di kolong rumah, kaki tetap melangkah. Kadang ke Pandebulawang, apalagi kalau sekolah libur. Itu sudah semacam tugas negara: ikut kama dan kindo ke kebun. Kama’u, waktu masih hidup, beliau-lah yang selalu pulang membawa ande beke nasoppo setiap hari. Kalau beliau terlambat pulang, beke akan meraung-raung  tamba’i, meronta di namboyang.

Tapi kadang malas juga datang diam-diam. Jika sudah begitu, maka dua punna camba di poros jalan utama Majene–Polewali, tepat di depan rumah Amma Pisa, menjadi sasaran utama. Pohon camba itu raksasa. Batangnya tak bisa kupeluk, bahkan dengan dua pasang tangan anak-anak pun belum cukup mengelilinginya. Tapi entah bagaimana, aku bisa naik sampai ke puncaknya. Memanjat, bergelantungan, berpindah dari ranting ke ranting, seperti ada tangan tak kasat mata yang menuntun. Kalau dipikir sekarang, benar-benar tak masuk akal. Seolah ada yang mengendalikan. Itu bukan sekadar keberanian bocah. Itu adalah kuasa Allah yang nyata, menjaga anak kecil dengan sejumput niat dan setumpuk tanggung jawab di dadanya.

Kambing kami tak makan siang, cukup malam. Satu kali sehari. Tapi kadang-kadang, kalau ada  rato wakar,  ditatta’, setelah itu diberi minum dari seduhan air garam, disajikan sebagai camilan siang. Tapi keseruan sejatinya bukan di situ. Yang paling heboh adalah saat musim kawin. Suara beke jantan meraung keras memanggil betina, keseruan  berikut jika naulelei barona gulang. Kadang irri-irri tak karuan. Dan kalau sudah karaoi bongi, gaduh tengah malam, tetangga satu kampung bangun mendengar beke menjerit.

Tapi semua itu tak membuat lelahku sia-sia. Memelihara beke tak pernah membuatku merasa kecil. Bahkan sebaliknya, itu semacam lambang tanggung jawab. Aku melakukan semua dengan ikhlas. Tidak berharap pamrih, tak mengharap ucapan terima kasih. Kalau kebetulan ada paalli beke, pembeli kambing datang dari Tammejarra, lalu kambingku dibeli, ya Alhamdulillah. Tapi kalau tidak, ya sudah. Uangnya pun kadang tak sampai ke tanganku. Kindo'u yang mengurus semua. Tapi aku tahu, beke membantu dapur kami tetap berasap.

Keluargaku bukan keluarga berada. Kami hanya petani biasa. Hidup pas-pasan. Kadang uang belanja tidak cukup untuk seminggu. Maka memelihara beke bukan hanya hobi, tapi bagian dari bertahan hidup. Suka duka itu aku jalani tanpa keluh. Kalau aku menangis, itu bukan karena beratnya beban, tapi karena kaki tersandung akar atau terkena duri saat cari ande beke. Atau karena kena parare, ulat bulu gatal yang kadang ikut nempel di ande beke yang menempel di daun pisang. Kalau sampai kambing makan itu, dia akan menjerit, sekeras-kerasnya, seolah dunia hendak runtuh.

Yang paling heboh juga saat ada kegiatan di sekolah, bagaimana pun mengambil makanan kambing musti sore menjelang petang.Sasarannya cuma satu: punna ayu wagzang di tengah kubur Puang Padza yang selalu membuat bulu kuduk berdiri. Sendirian pula di bawah langit merah, bayangan pohon seolah menjelma wajah. Tapi aku tetap melangkah, demi beke yang menanti.

Dulu, memelihara kambing adalah bentuk kebanggaan. Itu adalah tanda bahwa aku anak yang bisa dipercaya, anak lelaki yang mulai menapaki tanggung jawab kecilnya di dunia. Dan beke bukan sekadar hewan ternak, tapi kawan, sahabat yang diam tapi mengerti. Saat dia mengembik pelan karena lapar, aku merasa seperti dipanggil oleh rasa cinta.

Tak semua anak punya kesempatan itu. Tak semua bisa merasakan bagaimana rasanya meramu kasih sayang dari tumpukan daun hijau, atau mendengar suara kambing malam-malam sebagai pengantar tidur. Aku pernah, dan aku bangga. Dari bawah rumah itu, dari kandang kecil itu, aku belajar tentang ketulusan, keikhlasan, dan kerja keras.

Kini, semua itu hanya tinggal kenangan. Tapi setiap kali aroma rerumputan basah menerpa hidungku, atau kudengar embikan dari kejauhan, hatiku dibawa pulang. Kembali ke masa ketika aku kecil di Lamasariang. Masa ketika satu ekor beke bisa membuat dunia terasa lengkap. Masa ketika cinta tidak butuh kata-kata besar, cukup satu embikan yang kutanggapi dengan setangkai raasande beke.

Dan malam ini, aku menulis sambil menahan haru. Di dunia yang serba cepat dan penuh perhitungan ini, ingatan tentang beke adalah oase. Aku tak bisa kembali menjadi anak kecil yang memeluk batang camba, memanjat sampai ke pucuknya, tapi aku tahu—di dalam dadaku, aku belum pernah benar-benar turun. Masih ada bagian dari diriku yang menggenggam ranting, yang berjalan menyusuri hutan, yang duduk di kolong rumah sambil menatap kambing kecil dengan mata penuh harapan.

Mungkin itulah yang disebut pulang. Bukan ke rumah-rumah yang kita bangun di kota, tapi ke rumah dalam kenangan—yang dindingnya terbuat dari kasih, dan lantainya dari keikhlasan. Dan beke—si kecil yang sering kita sebut remeh—telah mengajari aku lebih banyak tentang hidup, daripada banyak buku yang kutamatkan setelah dewasa.

Catatan perjalananku...
Lamasariang yang begitu indah ...

Selasa, 22 Juli 2025

ANDI DEPU || Bara di Tanah Mandar yang Tak Pernah Padam

Buku Ibu Agung Hj. Andi Depu Pahlawan dari Mandar karya Muhammad Munir.
Judul: Ibu Agung Hj. Andi Depu Pahlawan Nasional dari Mandar
Penulis: Muhammad Munir
Penerbit: Framepublishing Yogjakarta
Tahun Terbit: Cetakan ke-3 (Edisi Revisi) :Oktober 2020
Jumlah Halaman: Sekira 293
halaman
Genre: Buku Sejarah Lokal
Perensi/ resensator : Adhi Riadi

Di Tanah Mandar, pada sebuah pagi yang sunyi di bulan Agustus 1907, lahirlah seorang bintang kecil dari garis darah para raja. Dialah Hj. Andi Depu, yang kelak menjadi nyala dalam gelap, bara dalam kabut penjajahan. Di masa kecil, ia dikenal sebagai Andi Mania, laksana tunas muda yang masih mencari arah mata angin. Ketika dewasa, ia menjelma menjadi Sugiranna Andi Sura, sosok yang mulai menjejakkan langkah di tanah perjuangan.

Takdir mempertemukannya dengan Andi Baso Pawiseang, penguasa ke-51 Balanipa, persatuan dua darah biru yang melahirkan Parenrengi Depu, sang Yendeng, yang kelak mewarisi takhta sebagai Maradia Malolo, pewaris obor kerajaan ke-52.

Darah pejuang mengalir dari ayah dan ibunya: La’ju Kanna I Doro dan Samaturu, bangsawan Mamuju berdarah Balanipa, keturunan Pakkalobang, penguasa ke-36. Tapi bukan sekadar darah yang menjadikannya pemimpin,melainkan api dalam dadanya yang tak pernah padam.

1942–1945: Bara Itu Menyala

Ketika langit Mandar diselimuti bayang Jepang, Andi Depu muncul bukan sebagai bayangan, tetapi cahaya yang membelah gelap. Pemerintah Hindia Belanda pernah khawatir akan lahirnya seorang pemimpin perempuan dan kekhawatiran itu terbukti. Ia adalah nyala kecil yang menjelma kobaran perlawanan.

Ketika Jepang melarang segala bentuk organisasi politik, Andi Depu justru menyulam semangat perjuangan di balik tirai larangan. Ia memilih meninggalkan istana, meninggalkan kenyamanan, dan berpaling menuju jalan sunyi perjuangan, bersama putranya di sebuah rumah sederhana yang menjelma menjadi benteng semangat.

Fujinkai: Ladang Api dari Perempuan Mandar

Awal 1944, ia menanam benih api dalam bentuk Fujinkai, gerakan perempuan yang tak sekadar merawat rumah, tetapi juga merawat mimpi kemerdekaan. Di ladang ini, semangat juang tumbuh dari tangan-tangan yang lembut namun tak gentar. Suara Andi Depu menggema hingga ke Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba'banna Binanga, menembus batas wilayah, menembus sunyi.

KRIS Muda: Ketika Bara Menjadi Kobaran

Pada 21 Agustus 1945, hanya beberapa hari setelah Jepang menyerah, lahirlah KRIS Muda—Kebangkitan Rahasia Islam Muda. Di balik namanya tersimpan gelora kebebasan, dan Andi Depu berdiri di puncak sebagai panglima bara, memimpin perjuangan demi menjaga kemerdekaan yang masih rapuh.

Seperti api yang menjalar dari satu ranting ke ranting lain, KRIS Muda menyebar ke seluruh penjuru Sulawesi: Makassar, Bone, Bantaeng, Pinrang dan lainnya. Namun, kobaran api selalu mengundang badai. Desember 1946, tangan penjajah NICA menangkapnya dalam gelombang penangkapan besar.

Sekolah Islam: Taman Api dari Timur

Ketika Jepang mulai goyah, di Mandar muncul taman-taman api, sekolah-sekolah Islam, tempat semangat ditempa dengan kedisiplinan. Di sinilah lahir Islam Muda, sebuah bara baru yang ditiup oleh tokoh-tokoh seperti Riri Amin, Daud, H. Mas’ud Rahman, Mahmudy Syarif, dan lainnya—dengan Andi Depu sebagai penyulut utama.

Di Balik Bayang Fujinkai :Perempuan di Barisan Belakang

Meski Fujinkai adalah alat kekuasaan Jepang, bagi Andi Depu itu adalah kuda troya, ia menyusupkan semangat juang di balik tugas formal. Para perempuan dilatih bukan hanya menjahit atau mengobati, tetapi menguatkan tekad menghadapi ketidakadila,bangsanya harus bebas.

Organisasi Pemuda Mandar: Akar yang Merambat dalam Senyap

Saat organisasi lain baru muncul setelah proklamasi, Andi Depu sudah lebih dulu menanam akar perlawanan di Mandar. Ia bentuk Organisasi Angkatan Pemuda Islam, mengisi ruang-ruang sunyi dengan bisik-bisik keberanian. Di balik nama agama, ia cerdik menembus batas larangan Jepang.

Andi Depu bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah nyala abadi di tanah Mandar, perempuan yang melangkah bukan hanya dengan kaki, tetapi dengan hati dan bara semangat. Ia membuktikan bahwa tanah ibu bisa menjadi pijakan perlawanan, dan rahim perempuan bisa melahirkan lebih dari anak, ia melahirkan bangsa yang bebas.

Mengenang Jejak Kepahlawanan Mandar: Sebuah Refleksi atas Buku “Ibu Agung Hj. Andi Depu, Pahlawan Nasional dari Mandar


Buku Ibu Agung Hj. Andi Depu Pahlawan dari Mandar karya Muhammad Munir.

Judul: Ibu Agung Hj. Andi Depu Pahlawan Nasional dari Mandar
Penulis: Muhammad Munir
Penerbit: Framepublishing Yogjakarta
Tahun Terbit: Cetakan ke-3 (Edisi Revisi) :Oktober 2020
Jumlah Halaman: Sekira 293
halaman
Genre: Buku Sejarah Lokal
Perensi/ resensator : Adhi Riadi

Buku Ibu Agung Hj. Andi Depu, Pahlawan Nasional dari Mandar karya Munir, diterbitkan oleh Framepublishing Yogyakarta, adalah karya sejarah yang menggugah kesadaran kita akan besarnya pengorbanan para pejuang dari tanah Mandar. Meski saya baru menyimak buku ini hingga halaman ke-86 dari total 293 halaman, saya sudah merasa dibawa dalam sebuah perjalanan panjang yang penuh semangat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Pada bagian awal, Munir berhasil menggambarkan bagaimana perlawanan rakyat Mandar terhadap penjajah bukanlah peristiwa singkat, melainkan perjuangan panjang yang telah berlangsung. Penulis membuka kisah ini dengan mengutip catatan lontaraq tentang Perang Galesong yang terjadi pada 19 Agustus 1667 — sebuah titik penting dalam sejarah keterlibatan orang-orang Mandar melawan VOC yang bersekutu dengan Kerajaan Bone.

Tidak hanya menyajikan sejarah sebagai deretan fakta, Munir dengan apik mengangkat kisah-kisah heroik para tokoh pejuang yang jarang disebut dalam buku sejarah arus utama. Nama-nama seperti Daeng Mallari (Todiposso), I Maga Daeng Rioso, I Baso Boroa Tokape, hingga Hj. Maemunah Djud Pance dihidupkan kembali lewat narasi yang kuat dan bernas. Mereka adalah tokoh-tokoh yang pantas mendapat tempat dalam ingatan kolektif bangsa (Hal 3-7)

Hal menarik yang saya tangkap dari buku ini adalah bahwa perjuangan di Mandar tidak hanya dimonopoli oleh satu tokoh, meski nama Hj. Andi Depu memang menjadi sentral. Buku ini justru mengajak kita bahwa di balik tokoh sentral tersebut, berdiri banyak pahlawan lain yang juga rela mengorbankan hidup dan kenyamanan mereka demi semangat kemerdekaan. Munir seolah mengajak kita untuk tidak menempatkan sejarah pada satu nama saja, melainkan melihatnya sebagai rangkaian perjuangan kolektif.

Kisah tentang Tapanguju bergelar Punggawa Malolo di Mamuju sebagai pejuang di Benteng Kassa Sinyonyoi, Kecamatan Kalukku dan Daenna Maccirinnai bersama rekan-rekannya seperti La’lang Parrimuku di Benteng Kajumangibang, Kabupaten Mamuju Tengah menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan warisan yang harus dijaga dari kepunahan oleh waktu. Buku ini, dalam pandangan saya, bukan hanya layak dibaca, tetapi juga penting untuk menjadi bahan refleksi kita di tengah arus zaman yang kian cepat melupakan akar.

Sebagai tambahan, saya menyarankan agar buku ini lebih sering dibincangkan di berbagai forum, baik formal seperti seminar sejarah, diskusi akademik, maupun forum informal seperti komunitas literasi, ruang-ruang budaya, atau media sosial. Dengan demikian, ruang kritik yang konstruktif bisa dibuka lebih luas, memperkaya perspektif pembaca, sekaligus memperkuat posisi sejarah lokal sebagai bagian penting dari narasi kebangsaan.

Bagi saya pribadi, membaca buku ini bukan hanya menambah pengetahuan sejarah, tetapi juga membangkitkan rasa bangga sebagai bagian dari bangsa yang besar karena keberanian dan keteguhan para leluhurnya. Buku ini juga mengingatkan kita bahwa pahlawan bukan hanya mereka yang telah diberi gelar resmi, melainkan semua yang berjuang tanpa pamrih demi tanah airnya.

Senin, 21 Juli 2025

(Edisi Ke-4) Wattu Tomissang di Lamasariang

Saya pernah nakatutus i Kahar (kama hariah)alias camu gara- gara mambaliwar tomissangna di lalang di pokki. 
Apakah juga anda pernah nakatutus orang gara - gara mambaliwar tomissang??
 Mari mengenal pengalaman masa lalunya sendiri-sendiri...

Episode ke-4 
Wattu Tomissang di Lamasariang

Musim mangga selalu datang dengan bahasa sendiri. Angin membawa aroma yang khas, lembut dan manis, merambat dari pucuk daun hingga halaman rumah, seolah mengabarkan bahwa hari-hari cerah sedang jatuh cinta pada tanah Lamasariang. Pohon-pohon tua berdiri tegak di sepanjang kebun, batangnya menampung sejarah, rantingnya menanggung rindu. Mereka bukan sekadar pohon, tetapi penanda musim, penanda kehidupan yang sederhana namun kaya rasa.

Di kampungku, mangga bukan hanya buah. Ia adalah cerita yang menyatukan. Tomissang, begitu kami menyebutnya. Dari satu pohon ke pohon lain, dari satu rumah ke rumah tetangga, nama-nama mangga kami sebut dengan lidah yang bangga: kaloli, cammi, pa'ambi, ca`bu, ja`ongge, lopi, buyang, molo, kaweni, karoro—dan entah berapa lagi yang tak tercatat di buku, tetapi hidup di ingatan kami. Setiap nama membawa rasa sendiri, warna sendiri, kisah sendiri.

Kaloli adalah raja di antara mereka. Kulitnya berbintik hitam ketika benar-benar matang, manisnya menyalip semua duga. Jika dijadikan kaloe—asam mangga khas kami—ia berubah jadi pelipur lidah yang menyalakan selera di tengah hari yang terik jika dimasak bersama bau oyo atau bau lalia. Musim pakkaloeang, begitu orang menyebut musim mengolah mangga muda, adalah pesta yang tidak pernah tercatat di kalender, tetapi selalu dinanti oleh muda-mudi.

Di sanalah rumah Hajjah Kurumiah menjadi panggungnya. Perempuan ningrat yang menjanda sejak lama itu adalah sosok yang disegani, dihormati, sekaligus ditakuti karena keberaniannya. Hajjah Kurumiah adalah tuan tanah, pemilik kebun dengan pohon mangga terbanyak. Bila musim pakkaloeang tiba, rumahnya seakan menjadi lautan tomissang muda. Bau asam dan harum mangga memenuhi udara, merayap hingga ke jalanan tanah di depan rumah.

Kami, anak-anak kampung, selalu dipanggil beliau Hajjah Kurumiah menyuruh ponakan dan tetangga berkumpul: Abdullah kecil yang masih polos, Burhan yang lincah, Basri, Diris dan Asma, Kudding, Majid, Hasan alias Kolong, Mael, st, aminah kadang-kadang, juga Sikin, Sia, Lotong, Ku'mi, Keccung, dan tentu saja aku sendiri. Di ruang halaman depan, kami duduk melingkar, mengupas kulit mangga muda. Saking banyaknya buah, ketika ditumpuk, orang yang duduk di seberang hampir tak terlihat—seolah dunia kami dipagari oleh dinding mangga hijau.

Jika hari sekolah, inilah yang bikin repot. Kami tak bisa pulang. Hajjah Kurumiah selalu mengunci pintu ketika malam larut. Kadang, saat kami masih sibuk mengupas, beliau sudah masuk kamar dan tidur. Kami pun bertahan sampai mata terasa berat, berharap besok masih sempat mencium aroma kapur tulis di papan kelas. Tetapi di masa itu, segalanya terasa ringan. Tidak ada yang disebut repot ketika tawa sedang meluap di bawah lampu bohlam.

Ketika angin timur berhembus bersamaan dengan musim berbuah mangga, suasana kampung semakin riuh. Angin kering menyapu daun-daun, menggoyangkan dahan hingga mangga satu per satu jatuh ke tanah. Orang-orang pun berkumpul di bawah pohon, menunggu dengan sabar, mata tertuju ke pucuk pohon, telinga waspada mendengar bunyi thud yang selalu memicu sorak dan tawa. Di bawah pohon cammi di depan rumah Keccung Ka’ Ba’du, suasana paling heboh. Sepulang sekolah, anak-anak segera melepas tas dan berlarian ke sana. Ada Harimas, Sitti Mina, Sitti, Lisda, Maslia, Lappas, Tahir, Kombo, Salmiah, Tamsih, adikku Asbidin, dan tentu saja aku dan Asia kittang kadang- kadang. Kami siaga dibawah pohon, ada yang jongkok, ada yang berdiri dengan gaya siap menangkap mangga cammi ra`da`, menunggu buah jatuh sambil bercanda, kadang saling berebut siapa yang lebih cepat mengambilnya. Tawa kami mengalahkan suara angin timur yang kencang.

Begitu waktu berlalu dan tomissang matang di pohon, tibalah musim passulo tomissang—musim memetik mangga. Di sinilah cerita berubah jadi petualangan. Pemuda kampung seakan berlomba jadi pemberani. Yanaka, atau kayana, adalah sosok yang paling diingat. Bersahabat dengan piparakke—tali pengait panjang—ia tak pernah gentar berjalan keluar kampung meski larut malam. Baginya, malam dan hutan sekitar kampung adalah sahabat, bukan lawan.

Kadang, pergi sendiri, kadang berkelompok. Membawa obor dari janur kering, menembus pekat malam. Dari kejauhan, api tampak seperti kunang-kunang raksasa yang menari di bawah langit Lamasariang. Di antara mereka, ada Sundari yang sesekali ikut dengan keranjang di tangan. Banyak anak-anak kecil menyelinap keluar rumah ketika orang dewasa lelap tidur. Ada yang memilih subuh untuk mencari mangga, menyusuri kebun dengan embun yang menempel di kaki.

Aku masih ingat kebun kami di Pandebulawang. Di sanalah tumbuh mangga molo—primadona kami. Jika sudah setengah matang, mangga itu akan dipanjat oleh kama`u. Ia menjulurkan buah dengan tali agar tidak jatuh dan pecah. Setelah terkumpul, kami pikul bersama menuju Lamasariang, disusun di atas tapang—balai kayu tinggi—hingga matang sempurna. Bau manisnya menyeruak, membuat siapa saja yang lewat ingin singgah.

Ketika mangga matang sempurna, tibalah masa menjualnya ke pasar. Aku ikut Kindo`u—mambulle balanu, memikul buah dalam bakul besar  di pundak. Kami berjalan menyusuri jalan tanah pinggir aspal,  sambil menahan rasa sakit di pundak mambulle lembar namun bangga karena membawa hasil kebun sendiri. Musim mangga adalah musim kemakmuran. Sekaligus musim tawa.

Ah, wattu tomissang… waktu yang manis. Saat itulah kampung kami menjadi surga kecil yang tidak dikenal dunia, tetapi hidup megah dalam kenangan. Saat jeruk Belanda, apel Belgia, anggur Cina, atau pir Hongkong, nama buah yang belum kami kenal, mangga sudah cukup untuk membuat bahagia.

Kini, ketika mata menatap kota yang dingin, ingatan tentang musim mangga datang seperti embusan angin sore dari kebun yang jauh. Aku ingin kembali—menyusuri jalan setapak yang pernah menyimpan jejak kakiku, menengadah di bawah pohon tomissang yang tua, dan mencium wangi tanah yang basah oleh hujan pagi.

Rindu Pulang...
Safardy Bora