Jumat, 30 Agustus 2024
POLITIK KAMPUS ATAU KAMPUS POLITUK ? || Selamat Datang di Arena Bias
Kamis, 29 Agustus 2024
(001) SDK MENDAYUNG DARI HULU || Maestro Politik Bertangan Dingin Dari Sulawesi Barat
Senin, 26 Agustus 2024
PANJAT PINANG || Hinaan Pribumi Dalam Hiburan Belanda
MAYJEN (Purn) SALIM S. MENGGA || Sederhana Merawat Martabat
Siapapun pasti sepakat ketika mendengar atau menyebut nama Mayjend TNI (Purn.) Salim S. Mengga, setidaknya ada dua hal yang sangat menonjol. Pertama, ia adalah putra S. Mengga, seorang militer yang pada masa pergolakan menjadi pimpinan pasukan Mandar Baru. Bupati Polmas (sekarang Polman) periode tahun 1980-1990 yang dijuluki sebagai Bapak Pembangunan Polewali Mamasa. Itu tak bisa disangkal, karena Salim memang lahir dari sosok yang akrab disapa Puang Mengga, Sang Naga Bonar dari Mandar.
Kedua, Salim adalah sosok yang kharismatik dan dalam dirinya menonjol lima hal yang jadi karakternya, yaitu: Sederhana dan Merakyat-dimanapun ia berada selalu bergaul dan mendekati masyarakat di lingkungannya; Taat Beragama; Selalu mau belajar; Memiliki jiwa kebapakan dan mengayomi; Tegas dan bertanggung jawab terhadap amanah yang diemban. Karakter ini menjadikan Salim S. Mengga banyak disegani oleh kawan maupun lawan.
Cukup dua hal itu yang dibahas dan dibahasakan kepada siapapun untuk menemukenali sosok yang saat ini menata diri untuk berkontestasi dalam Pilkada Gubernur Sulawesi Barat 2024 mendampingi Dr. Suhardi Duka atau SDK. Paket SDK - Salim ini diharapkan menjadi muara dari setumpuk persoalan Sulawesi Barat yang belum bisa diurai diusianya yang ke-20 tahun pada 22 September 2024 mendatang.
Salim S. Mengga lahir di Pambusuang, Kampung kelahiran Imam Lapeo, Baharuddin Lopa, Sayyid Alwi atau Puang Toa dan kental dengan sebutan kKappung Annangguru. Tanggal 24 Agustus 2024 (hari ini), usianya telah menginjak 73 Tahun jika berdasar pada dokumen resminya lahir 24 Agustus1951. Salim adalah anak dari Kolonel Purnawirawan S. Mengga (Puang Mengga) yang merupakan Bupati Popmas (1980-1990), Tokoh Militer dan Tokoh Pejuang di Tanah Mandar dari seorang wanita bernama Hj. Nyilang. Salim adalah putra kedua dari 3 bersaudara yaitu: Syarifah Asia S. Mengga (Almarhumah Istri Prof. DR. Umar Shihab, MA) dan Ir. Aladin S. Mengga (Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2011-2016).
Salim sendiri tercatat memiliki 3 (tiga) orang anak dari hasil pernikahannya dengan Hj. Fatmawati, sosok wanita yang sederhana dan murah senyum, cucu dari seorang tokoh terpandang dari Bugis H. Beddu Solo). Ketiga anaknya itu adalah Mega Kamila al-Attas, Erfan Kamil al-Attas, Amira Kamila al-Attas. Erfan Kamil Al-Attas pernah menjadi anggota DPRD Sulbar periode 2009-2014.
Kecintaan pada daerah Mandar tak bisa dipisahkan dari sosok Salim S. Mengga. Ia begitu memahami dan mencintai daerah ini, maka panggilan nuraninya lebih besar untuk kembali dan membangun kampung halaman, mengalahkan daya tarik kerier militer yang dimilikinya saat itu.
Ketaatan beragama, kewibawaan sikap mandiri dan merakyat, adalah perpaduan dari garis keturunan sang kakek (orang tua S. Mengga), bernama Sayyid Muhsin al-Attas dan neneknya Hj. Cilla, seorang bangsawan Mandar dari keturunan Pammarica. Sehingga Salim S. Mengga begitu fasih melantunkan ayat-ayat Al-Quran dan taat menjalankan ibadah shalat lima waktu, dibanyak tempat sering memberikan cerama-ceramah agama dan khutbah shalat ied.
Sikap merakyat dan rendah hati, itulah yang menonjol dalam sikap keseharian Salim S, Mengga, senantiasa mendengarkan keluh kesah para anak buah, serta bergaul dan bermasyarakat dimanapun dia bertugas.
Maka tidak heran disaat akan meninggalkan pos jabatannya di tempat tertentu (baik sebagai DanYot Kavaleri Ambarawa, Dandim Demak dll) sangat dielu-elukan dan di iringi oleh isak tangis para bawahan yang beliau tinggalkan.
Bahkan ketika Salim S. Mengga menjabat Kasdam IV Diponegoro, para Ulama se-Jawa Tengah menghadap Panglima, meminta beliau untuk menduduki jabatan Pangdam IV Diponegoro, hal itu membuktikan bahwa Mayor Jenderal Salim S . mengga sangat disenangi oleh masyarakat Jawa Tengah khususnya para Kiyai disana, kerana beliau orang yang dianggap JUJUR DAN MERAKYAT.
RIWAYAT PENDIDIKAN
SD : Tahun 1964
SMP : Tahun 1967
SMA : Tahun 1970
Pendidikan Militer
AKABRI : Tahun 1974
SUSSAARCAB KAVALERI : Tahun 1975
SUSSPAHARSAT : tahun 1977
TARDANKI : Tahun 1979
TARKORBANTEM : Tahun 1981
SUSLAPA KAVALERI : Tahun 1984
SUSGUKIL : Tahun 1985
SESKOAD : Tahun 1990
SUSDANDI : Tahun 1993
SUSGATI SUSPOL : Tahun 1995
LEMHANAS : Tahun 2001
JENJANG KEPANGKATAN
Letnan Dua ; 01 12 1974 ; KEP/152/ABRI/1974
Letnan Satu ; 01 04 1977 ; SKEP/398/IV/1977
Kapten ; 01 10 1980 ; SKEP/649/X/1980
Mayor ; 01 04 1985 ; SKEP/420/V/1985
Letnan Kolonel ; 01 04 1991 ; SKEP/116/III/1991
Kolonel ; 01 04 1996 ; KEPRES NO.17/ABRI/1996
Brigadir Jenderal ; 15 03 2001 ; KEPRES RI NO.18/TNI/2001
Mayor Jendral ; 24 10 2003 ; SKEP Pang. TNI NO.SKEP/342/X/2003
JABATAN
Dantor Denkaves DAM XIV Hasanuddin 01-07 1975 SKEP/546/VII/1975
Dantor IKI 101 Yonkav 10 DAM XIV Hasanuddin 01-10978 SKEP/183/X/1978
Dankima Yonkav 10 DAM XIV Hasanuddin 01-01 1981 SKEP/OL/I/1981
Kasi 4 Log Yonkav 10 DAM XIV Hasanuddin 01-06 1983 SKEP/232/VI/1983
Gumil Gol IV Pusdikkav 01-05 1984 SKEP/216/IV/1984
Kasi Trakor Dirbinsen Pussenkav 01-09 1985 SPIRIN/711/X/1985
Wadan Yonkav 2 Serbu DAM IV Diponegoro 01-01 1986 SKEP/199/III/1986
Kasdim 0711/REM/ 071 DAM IV Diponegoro 01-02 1984 SKEP/216/IV/1989
Gumil Gol V Pusdikkav 01-06 1990 SKEP/203/V/1990
Dan Yonkav 2 Serbu DAM IV Diponegoro 01-08 1991 SKEP/320/VIII/1991
Dandim 0716 Demak REM 073 DAM IV Diponegoro 12-06 1993 SPRIN/811/VI/1993
WAAS Sospol Kodam IV Diponegoro 01-10 1994 SKEP/390/X/1994
Assospol Kodam IV Diponegoro 06-12 1995 SKEP/462/XII/1995
Danrem 141/Toddopuli DAM VII Wirabuana 15-08 1997 SKEP/459/VII/1997
DAN Pussenkev 15-02 2001 SKEP/99/II/2001
Kasdam IV Diponegoro 01-02 2003 SKEP/30/II/2003
Wadan Kodiklat TNI AD 30-10 2003 SPRIN/1669/X/2003
Pangdam XVI Pattimura
PENGHARGAAN
Satya Lencana Kesetiaan VIII TH
Satya Lencana Kesetiaan XVI TH
Satya Lencana Kesetiaan XXIV TH
Bintang Kartika Eka Paksi Nararya
Satya Lencana Dwidya Sistha
Bintang Yudha Dharma Nararya
MENANTANG RESIKO
Ketika Mayor Jenderal Salim S. Mengga mengambil LANGKAH TEGAS dengan rela meletakkan semua jabatannya sebagai PANGDAM XVI PATTIMURA maupun pada jabatan WADAN KODIKLAT TNI AD.
Sebagian besar kalangan menyayangkan langkah tersebut, karena karier militer beliau masih memungkinkan meraih pangkat TIGA BINTANG (LETNAN JENDERAL).
Ketika sebagian kalangan menanyakan kepada Mayor Jenderal Salim S. Mengga:
“Apa alasan yang mendasari kepulangan beliau untuk kembali ke tanah kelahirannya, sementara jabatan kerier militer masih begitu bersinar?”
Jawaban tegas beliau mengatakan:
“Justru panggilan nurani saya untuk kembali ke Provinsi Sulawesi Barat, karena daerah ini masih baru dan tidak memiliki apa-apa. Dengan segala kemampuan yang saya miliki, Insya Allah akan saya sumbangkan demi kemajuan daerah ini kedepan”.
Niat dan tekad beliau sangat mulia, namun sangat disayangkan beliau belum mendapat kesempatan.
PENGAKUAN
Prof. DR. H. Umar Shihab
Salim S. Mengga dimata seorang Prof. DR. H. Umar Shihab (Tokoh Nasional dan Ketua MUI di Jakarta):
Salim S. Mengga memiliki kewibawaan yang merakyat dan merupakan satu-satunya putera Mandar yang ditetapkan sebagai Pangdam di Indonesia (Pangdam XVI Pattimura). Dan dalam sikap hidup kesehariannya sangat tidak suka kehidupan yang glamour atau hura-hura.
Salim S. Mengga juga pernah menjabat Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) periode 2013-2018 dan Anggota DPR-RI (mewakili daerah pemilihan Sulawesi Barat) periode pertama 2009- 2014 dan periode kedua 2014-2019.
Sekarang beliau adalah Dewan Penasehat Rabithah Alawiyah DPC Polman, sebuah lembaga pencatatan dan pemeliharaan nasab para sayyid/habib yang berada di daerah Polewali Mandar pada khususnya dan meliputi daerah Sulawesi Barat pada umumnya.
MENGUAK ASSITALLIANG SIPAMANDAR
Membongkar Mitos Kuliah (2)
Membongkar Mitos Kuliah (1)
PILGUB SULBAR 2024 || Peluang dan Tantangan
Catatan Muhammad Munir
Pilkada Serentak 2024 di Indonesia merupakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang akan dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia pada 27 November 2024. Pilkada ini akan memilih gubernur, bupati, dan wali kota di berbagai daerah yang masa jabatannya berakhir pada tahun 2022 hingga 2024. Pilkada serentak ini merupakan bagian dari rencana besar pemerintah untuk menyelaraskan jadwal pemilu nasional dan daerah dalam satu periode pemilihan.
Pilkada kali ini akan diadakan di lebih dari 500 daerah, termasuk 37 pemilihan gubernur, 115 pemilihan wali kota, dan 276 pemilihan bupati. Termasuk Propinsi Sulawesi Barat. Dari pantauan penulis, setidaknya ada 4 kontestan yang dipastikan akan berkontestasi di Pilkada Gubernur Sulawesi Barat. Mereka adalah :
1. Andi Ali Baal Masdar - Arwan Aras
Ali Baal Masdar atau ABM adalah petahana hasil Pilgub 2017 - 2022 yang saat itu menggandeng Enny Angraeni Anwar. Kali ini, ia dengan mantap memilih Arwan Aras sebagai wakilnya. Mantan Bupati Polman dua periode ini selain lawan tanding SDK dan Prof. Husain, ia sekaligus akan berkontestasi dengan Andi Ibrahim Masdar (AIM) yang tak lain adalah adik kandungnya yang juga mantan Bupati Polman dua periode.
2. Suhardi Duka - Salim S. Mengga
Suhardi Duka atau SDK adalah Mantan Bupati Mamuju dua periode yang pada Pilgub 2017 merupakan rival dari ABM dan Jendral Salim Mengga atau JSM. Pada Pilgub kali ini, SDK dan JSM membangung komitmen untuk bergandengan dalam memenangkan pemilihan Gubernur Sulawesi Barat 2024.
Pasangan SDK - JSM ini oleh beberapa kalangan dianggap memiliki peluang jadi pemenang Pilgub karena JSM dikenal sebagai politisi yang banyak miliki pendukung fanatik.
3. Andi Ibrahim Masdar - Asnuddin Sokong
Andi Ibrahim Masdar atau AIM adalah mantan Bupati Polman dua periode yang juga adik dari ABM. Pemilik jargon Sulbar Jago ini menggandeng Asnuddin Sokong, politisi dan pengusaha SPBU yang tergolong sukses di wilayah ini.
4. Husain Syam - Enny Angraeni Anwar
Husain Syam adalah putra Mandar kelahiran Kanang. Ia adalah birokrat, mantan Rektor UNM dua periode yang terjun ke dunia politik praktis. Tak tanggung-tanggung, ia maju menggandeng Enny Angraeni Anwar sebagai wakilnya di Pilgub Sulbar. Enny adalah istri Anwar Adnan Saleh, mantan Gubernur dua periode. Enny sendiri adalah mantan wakil gubernur periode 2017-2022.
Enny dan ABM pecah kongsi dan memilih menjadi wakil dari Husain Syam.
Keempat pasangan Calon Gubernur ini dipastikan akan sangat seru mengingat mereka adalah putra-putra terbaik daerah yang memiliki rekam jejak yang nyata. Disamping itu,
Pilkada 2024 ini akan dihelat sebagai upaya untuk menyatukan jadwal pemilihan kepala daerah untuk meningkatkan efisiensi dan menekan biaya penyelenggaraan pemilu.
Karena dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia, pilkada ini membutuhkan persiapan yang matang, terutama terkait logistik, distribusi surat suara, keamanan, serta pendidikan pemilih. Pilkada serentak ini diharapkan bisa mendorong partisipasi politik yang lebih luas dan meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia.
Peluang dan tantangan pilkada serentak
Pilkada Serentak 2024 membawa peluang sekaligus tantangan yang signifikan bagi demokrasi dan pemerintahan di Indonesia. Berikut adalah beberapa peluang dan tantangan yang muncul dalam pelaksanaan Pilkada Serentak 2024:
Peluang:
Konsolidasi Demokrasi:
Pilkada serentak memperkuat konsolidasi demokrasi di Indonesia dengan menyelaraskan proses pemilihan kepala daerah di berbagai tingkat. Ini memungkinkan integrasi kebijakan dan program yang lebih harmonis antara pusat dan daerah.
Efisiensi Anggaran:
Dengan menggabungkan jadwal pilkada, negara dapat menghemat anggaran karena biaya penyelenggaraan pemilu dapat ditekan. Pengeluaran untuk logistik, sosialisasi, dan keamanan dapat dilakukan secara terpadu.
Peningkatan Partisipasi Politik:
Pilkada serentak dapat meningkatkan partisipasi pemilih karena pemilihan diadakan bersamaan dengan agenda politik nasional yang lain, seperti Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden. Hal ini bisa memobilisasi pemilih untuk lebih terlibat dalam proses demokrasi.
Peningkatan Stabilitas Pemerintahan:
Kepala daerah yang terpilih pada Pilkada 2024 akan menjabat hingga 2029, sehingga memberikan stabilitas pemerintahan daerah dalam jangka waktu yang lebih lama. Ini juga memungkinkan program pembangunan yang lebih berkesinambungan.
Tantangan:
Kompleksitas Logistik dan Teknis:
Mengelola pilkada di ratusan daerah secara serentak merupakan tantangan logistik yang besar. Distribusi logistik, pengawasan, serta penghitungan suara membutuhkan koordinasi yang sangat kompleks.
Potensi Konflik Politik:
Persaingan politik yang intens di banyak daerah dapat memicu konflik, terutama jika tidak ada mekanisme penyelesaian sengketa yang efektif. Ini bisa mengganggu proses pilkada dan stabilitas daerah.
Kualitas Pemilih dan Pendidikan Politik:
Rendahnya kualitas pendidikan politik di beberapa daerah dapat mempengaruhi kualitas pemilih. Tanpa pendidikan politik yang memadai, pemilih mungkin kurang memahami pentingnya pilkada dan memilih berdasarkan pertimbangan yang kurang rasional.
Tantangan Integritas:
Isu mengenai politik uang, manipulasi data pemilih, serta intervensi dari aktor-aktor politik pusat menjadi tantangan besar dalam menjaga integritas pilkada. Pengawasan yang kuat dan transparansi sangat penting untuk memastikan hasil yang adil.
Keamanan:
Mengamankan pilkada serentak di seluruh Indonesia dengan situasi keamanan yang beragam di setiap daerah membutuhkan pendekatan yang strategis. Potensi kerusuhan atau aksi kekerasan harus diantisipasi dengan baik.
Kesimpulan:
Pilkada Serentak 2024 adalah momen penting dalam proses demokrasi di Indonesia yang bisa membawa perubahan positif. Namun, tantangan yang ada perlu diantisipasi dan dikelola dengan baik agar pelaksanaannya berjalan lancar dan hasilnya dapat diterima oleh semua pihak. Dukungan dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintah sangat penting untuk memastikan bahwa peluang-peluang ini bisa direalisasikan, sementara tantangan-tantangan tersebut dapat diminimalkan.
Senin, 12 Agustus 2024
AKU DAN AYAHKU
Jumat, 09 Agustus 2024
SUHARDI DUKA || Menenun Layar Masa Depan (1)
Disunting oleh Muhammad Munir
SUHARDI DUKA, demikian nama lengkap dari sosok birokrat dan politisi yang akrab disapa SDK ini adalah inspirasi bagi anak negeri ini khususnya generasi Mandar (baca: Sulbar). SDK tentu tak harus dibaca hanya pada level saat ini. Bahwa mantan Bupati dua periode dan Anggota DPR RI 2019-2024 yang kembali terpilih pada Pemilu kemarin ini adalah sosok yang pernah merasai pahit getir kehidupan yang ia nikmati prosesnya. SDK pernah merasakan naik vespa tua yang setiap harinya dipakai ke Kantor Departemen Penerangan Mamuju. Itu ketiks masih menjadi seorang PNS. Ia lalu beranjak dari zona itu dan mulai menikmati empuknya jok dan laju Pajero ketika menjadi Bupati Mamuju. Sekarang pun ia menikmati jerih payahnya itu sebagai wakil rakyat di Senayan. Putra putrinya sukses dibidangnya masing-masing. Ada yang Ketua DPRD Propinsi, ada yang Bupati dan lainnya.
Apakah posisi SDK hari ini dicapai dengan instan? Tentu tidak. Dalam sejumlah narasi yang penulis temukan SDK itu lahir dari keluarga yang bukan Putra Mahkota di Kerajaan Mamuju, Ia juga bukan anak Gubernur atau anak Bupati yang hidup dalam gelimang harta dan dimanjakan fasilitas. Bapaknya hanya seorang Staf di Kantor Depdikbud Mamuju yang tentu jauh dari kehidupan mewah. SDK adalah sosok yang berhasil menjadi kapten bagi hidupnya dan tuan bagi nasibnya. Dalam posisi ini, SDK layak jadi panutan yang diedukasi pada setiap tingkatan masyarakat Sulbar. Bahwa salah satu harapan kita adalah, munculnya manusia-manusia intan yang lahir dari proses, bukan manusia instan yang lahir tanpa proses.
Mengenal Kehidupan SDK Kecil.
SDK lahir di Mamuju pada 10 Mei 1962. Bapaknya bernama Abdul Muttalib Duka. Potret kehidupan SDK dari kecil lahir dan bertumbuh layaknya anak-anak kampung. Ia akrab dengan alam dan lingkungan sekitar. Setiap musim panen padi di sawah, SDK bersama anak-anak lainnya berhamburan untuk sekedar bermain padi-padian dan mengambil daun padi yang lebar lalu di bentuk seperti perahu. Perahu buatannya itu dilombakan dengan temannya pada genangan air. Proses ini pasti tak akan difahami oleh anak-anak milenial, terlebih generasi Z.
SDK juga akrab dengan lingkungan sungai, berenang di arus deras, memanjat pohon mangga, langsat dan lainnya. Kadang juga ikut nakal memanjat buah-buahan milik warga meski niatnya sekedar iseng dan main-main. Ini potret anak-anak kampung pinggiran yang tak kenal game, penulis juga sempat merasakan ini pada dekade 80-90an. Ketika menginjak bangku sekolah SD bahkan sampai SMP, SDK kecil masih saja nakal. Bolos dan merokok tak lagi terpisahkan dari keseharian SDK. Merokok ini rupanya sangat dibenci oleh bapaknya, kendati kebiasaan merokok itu tidak menjadi persoalan bagi SDK du sekolah, sebab ia punya om di sekolah yang ia tempati belajar.
SDK Remaja : Mulai Berubah
Waktu terus berjalan mengitari proses kehidupan seorang SDK. Kenakalan dari kecil sampai tamat dibangku SMP mulai kelihatan berubah ketika usianya menanjak dan masuk ke SMA Negeri 1 Mamuju. Pikirannya sudah mulai memformat dirinya untuk bisa meraih prestasi. Ia mulai tekun belajar, terlebih saat didapuk jadi ketua kelas. Ia bahkan mulai membuat ruang kreatif bernama Study Club dan dipercaya menjadi ketua. Ini membuat SDK menjadi lues bergaul, termasuk dengan anak-anak pejabat di Mamuju. Baginya, status sosial dan kondisi ekonomi bukan penghalang baginya untuk berbaur. Bakat kepemimpinan mulai tertanam saat jadi ketua kelas dan Study Club. Kecendrungannya menyukai bidang studi IPS terbaca dengan kegemarannya menyerap dasar-dasar ilmu politik.
3 Tahun di SMA mengubah SDK menjadi seorang remaja yang berprestasi. Ia lulus ujian dan meraih peringkat lulusan terbaik. Atiek Sutedja, Bupati Mamuju kala itu hadir mengalunkan pita ke leher SDK disaksikan oleh ayahnya di acara perpisahan yang dihelat di Aula SMA Negri 1 Mamuju. Hal yang membahagiakan SDK adalah prestasinya diganjar dengan nominal rupiah yang khusus diperuntukkan membiayai pagar sekilahnya. Ini menjadi modal sosial yang kelak dinikmati oleh adik-adik kelasnya. Di acara itu, SDK disorot oleh ratusan pasang mata para orang tua siswa dan 100 orang siswa yang tamat, termasuk sosok seorang gadis yang pernah ia kagumi tentunya.
Setelah tamat SMA, SDK nekat ke Makassar. Tak ada yang ia harapkan jadi pengurus untuk lanjut kuliah. Tekad untuk melanjutkan studi di Makassar terus menggunung. Praktis, ia masuk kota Makassar bagaikan masuk hutan rimba. Baginya, menjadi mahasiswa UNHAS adalah impiannya. Dan tercatat, SDK adalah satu-satunya siswa asal Mamuju yang namanya tercantum pada kolom pengumuman di Kampus Baraya Unhas. Ia tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UNHAS tahun 1981.
Sejak menjadi mahasiswa di Kampus Unhas Baraya, SDK melabuhkan pilihannya pada organisasi ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dari sini ia mulai melayari dinamika politik nasional, meski pada pemahaman paling dasar. Dari SDK kian matang setelah tercatat jadi pengurus PMII Komisariat Unhas yang bersamaan sebagai pengurus organisasi intra kampus yakni Komisariat Korps Mahasiswa Publisistik (Komapu). Selain itu, ia juga bergabung pada penerbitan kampus Tabloid Identitas, salah satu media kampus terbaik di tingkat nasional pilihan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta dan Lembaga Pers Doktor Sutomo Jakarta. Dari sinilah SDK mendapatkan kesempatan ketemu penulis penulis ternama sekelas Sinansari Ecip dan Goenawan Mohammad.
Selain bergabung di organisasi Ekstra dan Intra Kampus, SDK juga menjadi bagian dari organisasi HIPERMAJU. Aktif berorganisasi rupanya tak menghambat kuliahnya, ia bahkan kian matang. Itu karena SDK tak pernah melewatkan dinamika yang terjadi. Ia bahkan terlibat dalam aksi pembakaran mobil Wali Kota Madya Ujungpandang, Kolonel Abustam. Beruntung, Ahmad Amiruddin kala itu mengayomi mahasiswanya sehingga tak ada satupun yang dapat sanksi skorsing. Ahmad Amiruddin faham betul bahwa tindakan Abustam mencampuri urusan kampus dengan dalih sesuai aturan NKK-BKK adalah tindakan yang melanggar otonomi kampus.
Pernikahan SDK
SDK yang dikenal sebagai aktifis di kampus itu tentu menjadi primadona. Tapi ada sosok yang membuat hatinya tertaut ketika pertama ketemu di sebuah pesta salah satu kerabatnya. Sosok itu tak lain adalah Harsinah, mojang Gowa yang parasnya nyaris menguasai tidurnya. Gejolak hatinya begitu membuncah hingga akhirnya ia memutuskan untuk mempersunting gadis pujaannya itu. Ketika itu Tahun 1983, SDK berusia 21 tahun dan masih berstatus sebagai mahasiwa. Ayahnya merestui untuk menikah dan hadir sebagai penyaksi ikatan suci putranya dengan Harsinah. Keduanya telah sepakat untuk hidup bersama dalam suka duka. Setahun kemudian lahir anaknya yang pertama bernama Sutinah Suhardi.
Kelahiran anaknya yang pertama membuatnya harus bekerja untuk kebutuhan keluarga dan biaya kuliah tentunya. Ia mulai bekerja di BKBN dan TVRI Makasaar sampai pada tahun 1985 terbuka penerimaan pegawai di Departemen Penerangan (Deppen). SDK diterima masuk PNS dengan Golongan II dan ditempatkan di Mamuju. Praktis SDK harus menyelesaikan kuliahnya yang tinggal setahun dijalaninya sekaligus sebagai PNS. Selesai kuliah, SDK mendapatkan dua hal berharga, yaitu ijazah sebagai tanda pernah belajar dan istri serta anak sebagai tanda bahwa ia adalah anak muda yang bertanggung jawab.
Tahun 1986, SDK berupaya penyesuaian menjadi Golongan III dan pulang ke Mamuju bersama keluarga kecilnya. Ia kembali ke kampung halamannya membawa modal berupa ijazah sarjana, pengalaman organisasi, seorang istri yang setia, satu orang anak dan SK PNS.
BERSAMBUNG
SIAPA PEMIMPIN IDEAL UNTUK SULBAR ?
Catatan Muhammad Munir
Pengantar
Menjelang Pemilihan Gubernur Sulawesi Barat tahun ini kian seru. Sebelumnya Pasangan PHS - ARWAN penuh sorak sorai pendukung dengan ekspektasi Golkar akan menjadi kendaraan politiknya di Pilgub Sulbar. Disusul SDK - JSM melakukan Roadshow politik dengan rute Bandara Tampapadang ke Rumah Jonga. Pasangan ini melakukan Konferensi Pers di Rumah Jonga yang ikut dihadiri ribuan massa pendukung. Hari ini (8 Agustus 2024) konstalasi politik berubah setelah DPP Partai Golkar mengumumkan Padangan ABM - ARWAN untuk maju sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat 2024-2029. Ini tentu menjadi pukulan telat bagi Prof. Husain Syam, sebab pada akhirnya, Arwan Aras yang tadinya digadang-gadang sebagai wakilnya justru berlabuh di Matakali bersama Golkar. Kini, Arwan resmi berpasangan dengan ABM.
Praktis, beberapa hari ke depan, kita akan masih dijejali informasi terkait langkah Sang Professor Andalan itu memilin nasibnya, apakah masih akan percaya diri melanjutkan hajatan setelah kehilangan Arwan dan Partai Golkar?. Termasuk kita masih menunggu informasi dari AIM, pemilik tagline Sulbar Jago akan terus melangkah maju menjadi rival ABM yang tak lain adalah kakak kandungnya?. Bisa jadi ia, sebab AIM dikenal tak pernah mundur atas semua pilihan politiknya, sebagaimana Pilkada Polman 2008, ia dengan bangga berkontestasi dengan saudara kandungnya sendiri.
Memilih Pemimpin atau Penguasa
Setidaknya, dari 4 sosok yang sebagian masih berburu partai untuk kendaraan politiknya, ada hal prinsip yang bahkan wajib untuk kita perbincangkan dari momentum ini, yaitu 'Pemimpin VS Penguasa'. Mengapa harus memaketkan kata 'Pemimpin' dan 'Penguasa' ? Sebab dari Pilkada ini akan lahir penyandang salah satu dari sifat Tuhan yaitu sebagai Pemimpin dan sebagai Penguasa. Membincang kedua kata itu, masih menjadi hal menarik sebab dari rahim UU Pilkada inilah kemudian lahir sebagai pemimpin dan penguasa.
Lalu apa indikator kita memberi nilai pada sosok pemimpin dan penguasa yang akan dilahirkan di Pilkada kali ini ?. Mari kita runut defenisi pemimpin itu sendiri, kerena pemahaman pada arti kata pemimpin ini, ketika tak mampu memberi nilai pada predikat pemimpin yang disandang, maka sebut dan panggil ia penguasa. Penguasa yang hanya menjadikan jabatan sebagai status sosial untuk gagah-gagahan di depan rakyat yang tentu saja ia beli saat kampanye.
Menelisik Arti Kata Pemimpin
Secara harfiah Pemimpin adalah orang yang memiliki kelebihan sehingga dia mempunyai kekuasaan dan kewibawaan untuk menggerakkan, mengerahkan, dan membimbing bawahan. Dalam pengertian lebih luas Pemimpin adalah seseorang yang memimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, menunjukkan, mengorganisir dan mengontrol usaha orang lain atau melalui prestise kekuasaan.
Adapun pengertian pemimpin menurut para ahli antara lain; Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, mengatakan bahwa Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
Sementara Robert Tanembaum mengatakan, pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan. Lebih lanjut Prof. Maccoby, menjelaskan bahwa pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius, dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif, kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan. Di lain pihak Lao Tzu, menilai bahwa pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain, sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu.
Yang menarik kemudian dari beberbagai penjelasan tentang pemimpin adalah almarhum Prof. DR. Darmawan Mas'ud Rahman, dalam desertasinya yang sudah dibukukan, secara gamblang menarasikan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang yang mau menjadi pemimpin. Berikut saya kutip secara singkat penjelasan beliau, bahwa ada 4 point yang harus dimiliki seorang yang mau menjadi dan dijadikan pemimpin, yaitu: Bija (turunan karena darah), yaitu (1) Bija to mappatumballe' lita' (penjaga dan penyelamat negri), bija maasse'i lokko' anna siri' (menjaga utuhnya aib dan malu), bija tau dipesissi'/dipebulu (disegani karena memiliki sifat -sifat yang utama), bija tau pia (turunan mara'dia atau turunan adat). (2) Manarang (berilmu), matadang pikkirang (berfikiran tajam), Matadang nawa (inisiatif dan inovatif), Matadang pe'ita (berpandangan jauh kedepan, visioner), Matadang ate (cerdas dan terampil) (3). Barani (berani dan berjiwa pejuang), barani di loa tongan (berani mempertahankan kebenaran), barani maasse'i bottu loa (berpegang teguh pada pendirian), Barani mappadiang sara mapia (berbuat untuk kebaikan), Barani simateang anna sianusan tau maranni (berani mati untuk rakyat). (4) Sugi' (mempunyai kemampuan dan kekayaan), sugi' di nawa-nawa (kaya imajinasi), sugi' di paissangan (kaya ilmu pengetahuan), sugi' di perasa (kaya pengalaman), sugi' di barang-barang (kaya harta)
Belajar Dari Sejarah
Abu Dzar Al Ghifari, adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang terkenal shaleh, amanah. Suatu hari ia menghadap junjungannya dan berkata; " Wahai Rasulullah, berikanlah kepadaku satu tanggung jawab politik, angkatlah aku menjadi salah seorang staf kepercayaanmu untuk mengurusi pemerintahan sebagaimana Ali dan Usamah."
Rasulullah menjawab dengan sangat bijak; " Abu Dzar, kamu adalah salah satu dari sahabatku yang terbaik, setia dan amanah. Tidak ada yang meragukan kesabaran dan keikhlashanmu, akan tetapi kamu tidak memiliki kecakapan politik juga mengurusi pemerintahan."
Melalui kisah ini, manusia agung itu memberikan penegasan kepada mereka yang ingin terjun kedalam dunia politik dan tanggung jawab pemerintahan. Melalui pesan sejarah ini juga mungkin Rasulullah ingin mengingatkan bahwa tanggung jawab sosial adalah amanah yang harus ditunaikan oleh setiap manusia dan keharusan itu tidak melulu menjadi pemerintah, berkuasa atau menjadi pejabat publik. Sebab menjadi pejabat pemerintahan membutuhkan kematangan mental dan keahlian khusus dalam menangani persoalan-persoalan masyarakat (pa'banua) yang tentu membutuhkan pendekatan akademis lalu menentukan dengan adil beberapa kebijakan yang akan diambil. Tanpa itu, Nabi mewanti-wanti untuk tidak memasuki tanggungjawab yang pada akhirnya marruppu-ruppu banua.
Dalam bukunya, Catatan Bangsa Yang Sakit (2012), Maenunis Amin membentuk dua spektrum analogis terkait pesan nabi pada kisah Abu Dzar tersebut; Pertama: Abu Dzar tidak diberikan tanggung jawab politik padahal ia seorang yang shaleh dan amanah, apatah lagi kepada orang yang tidak amanah, berperangai buruk dan khianat. Kedua: nabi tidak menjadikan faktor kedekatan ataupun kekerabatan untuk amanah politik, apatah lagi jika harus menjadikannya sebagai warisan turun-temurun (politik dinasti).
Apakah lantas Abu Dzar Al Ghifari kecewa atas keputusan Nabi yang agung itu. Tidak ! Abu Dzar justru menerima dengan lapang hati nasehat junjungannya tersebut. Dan terbukti Abu Dzar tanpa menjadi pelaku politik ia menjadi tokoh sejarah yang ditulis dengan tinta emas yang mengukir semangat kebijaksanaan, kerendahan hati, dan sikap mendahulukan kemaslahatan dari sekedar mengobar nafsu kuasa dan keinginan menjadi pejabat.
Me-Redefenisi Kata Politik
Dari beberapa uraian tentang Pemimpin dalam sudut pandang tokoh dan sejarah yang saya urai diatas, mari kita mengerucutkan persoalan dengan menggali khasanah kebudayaan kita sebagai orang Mandar, yang nota bene berdiam dan menjadi wajib pilih dalam proses Pilkada ini.
Hal yang tak bisa kita abaikan adalah bahwa dalam proses pilkada nanti, kata politik yang menjadi hulu dari dari sebuah pemilihan tentu harus bermuara pada situasi yang tidak bisa tidak, harus bisa meredefenisi kata politik secara ilmiah, sebab dalam beberapa proses pemilihan yang pernah ada, masyarakat tentu harus bisa belajar dan menjadi tercerahkan tentang pemaknaan tentang kata politik tersebut. Jika kita mau bijak, sejatinya sekarang kita memahami Politik sebagai amanah sosial untuk hidup saling menghidupi secara jujur dan adil. Politik adalah kematangan mental dan kerendahan hati dalam kekuasaan. Politik adalah keahlian akademis dan bukan lingkaran warisan atau sekedar barang oplosan yang diraih dengan uang.
Kendati meredefenisi makna politik ini sebagai sebuah keharusan, tentu hal ini tak akan serta merta memberi positif side efect yang signifikan dari masyarakat kita yang terlanjur terkontaminasi fikirannya dan menganggap politik sebagai sebuah ajang sipage-pagengge, tipu menipu, sikut menyikut dll. Namun kondisi ini kita harapkan dengan regulasi sistem pilkada yang mengacu pada UU Pilkada yang baru, maka pragmatisme dalam proses pemilihan, sejatinya melahirkan kesadaran kolektif dengan merubah paradigma masyarakat kita tentang arti, makna, hakikat dari sebuah kontestasi politik di Pilkada.
Tentu saja upaya ini tidak serta merta mampu mengubah pola fikir dan laku para konstituen secara akar rumput, sebab sebagian dari mereka terlanjur terbiasa dengan praktek-praktek politik kotor dari politisi yang haus kekuasaan dengan logika uang. Sehingga di lapangan kita kerap masih harus mengurut dada dari masyarakat kita yang apatis melihat proses pemilihan yang tak dibarengi dengan sistem pendidikan politik yang cerah dan mencerahkan.
Sikap apatis itu juga kemungkinan berupa golput, karena mereka telah membuat generalisasi serta asumsi bahwa pilkada hanya sekedar rutinitas politik lima tahunan yang toch tidak akan signifikan pada perubahan nasib maupun taraf hidup mereka. Atau mungkin juga sebagian akan berfikiran bahwa pilkada hanyalah ajang marginalisasi suara rakyat yang cenderung hanya menguntungkan kalangan elit politik.
Dari semua fragmen hidup yang tercipta dan terlakonkan inilah yang harus menjadi tugas dan tanggung jawab bagi penyelenggara pilkada, pemerintah dan para kandidat untuk tak lagi memberi janji, pembodohan dan mengiming-imingi rakyat dengan berbagai bentuk fasilitas yang hanya membuai mereka dengan bualan dan dandanan politik murahan.
Masyarakatpun seharusnya bisa tercerahkan dan sadar bahwa selama ini mereka menjadi produk jualan yang tak punya nilai, dan memposisikan diri mereka, dari manusia sebaik-baik bentuk menjadi manusia yang baik untuk dibentuk. Ketika kesadaran lahir maka yang akan lahir dari pemilihan kali ini adalah Pemimpin yang bermental 'Pelayan', bukan Penguasa yang bermental 'Pengusaha'
Memilih Pemimpin dalam Perpektif Amandaran.
Mengapa Mandar ? Dari Mandarlah lahir Sulawesi Barat, dan tagline Sulbar Mala'bi' tentu harus dimulai dari cara mala'bi' memilih pemimpin dan pemimpin yang mala'bi' tentu harus bisa mengelaborasi Mandar sebagai tatanan pola dan nilai-nilai yang terkandung dari filosofi Amandaran itu.
Mandar dalam memilih pemimpin sekelas I Manyambungi Todilaling, I Billa-Billami Tomepayung, I Daetta Tommuane, Ma'ga Daeng Rioso', Tokape, I Calo' Ammana Wewang dll. Prosesnya itu dipersiapkan, mereka adalah manusia yang dipersiapkan, sejak lahir mereka ditempa, tidak sekedar dilahirkan. Saat lahir, kalangan kerajaan menanam pohon kelapa, dan pertumbuhan kelapa itu menjadi parameter dalam penilaian layak tidaknya anak tersebut dijadikan pemimpin. Jika pohon kelapa itu tumbuh dan berkembang dengan cepat (rondong tuo) maka pertanda bahwa anak itu layak dipersiapkan jadi pemimpin. Sebaliknya, jika pertumbuhannya tidak sehat (ma'doyong-doyong) hal tersebut menjadi pertimbangan untuk dijadikan pemimpin.
Hal itu terjadi karena Mandar memang dari dulu mengsakralkan pemimpin dan sangat hati-hati mengangkat pemimpin. Itu terbukti dengan tidak adanya sistem dinasti di kalangan kerajaan, sebagaimana pernyataan salah satu Mara'dia/Arajang Balanipa yang mengatakan; " Madzondong diang bongi anna lelea' pammase, mau ana'u mau appou damuannai menjari mara'dia mua' tania tonama'asayangngi pa'banua. Da muannai dai' dipe'uluang mua' masuangi pulu-pulunna, mato'dori kedzo-kedzona, apa' iyamo tu'u namuarruppu-ruppu' banua."
Inilah wujud amala'biang Mandar dalam memilih pemimpin (Mara'dia). Tidak hanya saat dilahirkan, saat mereka dipilih untuk menjadi pemimpin dan saat menjadi pemimpin, mereka dibekali dengan konsep yang jelas dan itu menjadi kewajiban untuk diimlementasikan dalam proses pemerintahannya. Pemali seorang Mara'dia untuk melanggar dan itu menjadi patron kepemimpinan. Jika Patron itu dilanggar, maka Appe' Banua Kayyang akan menganulir atau menurunkannya dari tahta.
Hal tersebut terbaca dari ungkapan Tandibella Kakanna I Pattang yang bergelar Daetta Tommuane atau Arajang Balanipa ke-4: “ Naiya Mara'dia, tammatindo dibongi, tarrarei di allo mandandang mata dimerrandanna daung aju, dimadinginna lita', dimalimbonna rura, di ajarianna banne tau, di atepuanna agama. ”(sesungguhnya seorang pemimpin tidak akan terlena dalam lelap tidur dikeheningan malam, tidak akan berdiam diri berpangku tangan di siang hari, namun dia akan terus berfikir dan berupaya serta berikhtiar untuk meningkatkan hasil pertanian, berlimpahnya hasil perikanan, terciptanya ketentraman dankedamaian demi kelangsungan hidup manusia serta sempurnanya kerukunan beragama).
Intinya adalah Mandar tidak pernah menginginkan pemimpin yang akan marruppu-ruppu' banua, Mandar sedini mungkin mempersiapkan pemimpin untuk mappatumballe' lita'. Dari sinilah sehingga Mandar mewajibkan pemimpinnya harus punya karakter Mamea Gambana (Berani, Tegas dan jujur), Tamma' Mangaji (punya kecerdasan intelektual, memahami kondisi geografis dan demografis serta memahami tata kelola pemerintahan), Narete' Panopindang dadzanna (punya pengalaman organisasi kemasyaratan, bukan politisi karbitan), Ketiga karakter tersebut harus terbentuk sebagai pribadi pemimpin. Tujuannya adalah disamping Paindo Naung di Ku'bur Menggara-gara (punya idealisme, gagasan, ide-idenya cemerlang sehingga setelah matipun tetap dikenang oleh rakyat) juga menjadi Labuang Pio namaccappu'i nyawa (Melindungi rakyat kecil, kebijakannya pro rakyat bahkan untuk rakyat kematian bukan masalah baginya).
Inilah konsep kepemimpinan di Mandar yang tidak saja harus dijaga, dilisankan, dituliskan, akan tetapi seyogyanya menjadi acuan dalam memilih pemimpin di jazirah Mandar ini.
Kesimpulan
Dari uraian panjang ini, saya kira menjadi sebuah keharusan kepada penyelenggara, terutama kepada Partai Politik untuk selektif dalam mengusung dan menetapkan Calon Pemimpin. Sebab memilih pemimpin secara serampangan dan karbitan justru akan menjadi sebuah proyeksi pembodohan, pemiskinan dan akhirnya menyengsarakan rakyat.
Jika rakyat tak lagi bisa berdaya, jika rakyat diterlantarkan sistem, jika rakyat tak lagi menjadi prioritas pembangunan, jika rakyat tak lagi bisa menikmati kebijakan pemimpinnya, jika rakyat harus dikuasai dan melayani penguasa, dan jika rakyat hilang kepercayaannya pada pemerintah, maka tunggulah rakyat menyiapkan pemberontakan yang tidak saja menghakimi penguasa tapi juga mengembalikan masyarakat ke zaman siande bau, zaman kacau balau dan tak akan ada lagi dewa penolong yang turun dari langit. Tak ada lagi Tomanurung yang monete di tarauwe untuk menyenangi kita, tak ada lagi Tokombong dibura yang menemani kita, Tak ada lagi Tobisse Ditallang yang bisa menghibur kita, pun tak akan ada lagi Tingalor yang menelamatkan kemanusiaan kita. Yang ada hanyalah paus-paus yang haus dan hanya akan puas melihat rakyatnya mampus !
