Kamis, 15 Januari 2026

Menemukan Kembali Gairah “Band” di Sulawesi Barat.


Catatan Sahabuddin Mahganna

Sejak VOC 1602 menduduki hindia Belanda, musik dan beberapa instrumen Eropa menjadi energi baru yang digandrungi. Dua abad setelahnya, anak lelaki bersaudara dari timur Maluku menjadi selebritis lewat Timor Rythem Brothers 1945, diilhami oleh musik Rock an Rool dari Amerika serikat juga instrumental The Shadows, The Ventures dan Strings-A-Longs yang memukau. Dari Soerabaya, keluarga Tielmen melakukan perjalanan ke Belanda untuk melakuka rekaman pada 1956-1960, kemudian merubah dirinya menjadi The Four Tielman Brothers 1957, lalu The Tielman Brothers hingga sukses menggoyang negeri kincir angin, dan tercatat menjadi kelompok Band Rock atau Idorock pertama secara internasional, semangat itu memacu aliran-aliran Band di seluruh dunia untuk kemudian juga ber-aksi seperti The Bithels (Liverpool 1960), The Rolling Stones (Inggris 1960), dan itu termasuk Indonesia pasca kemerdekaan.

 Pengaruh Tielman di negeri tanah subur nan permai seperti Koes bersaudara 1958, menjadi cikal bakal Band Koes Plus, AKA di Surabaya 1967. Paling mengesankan ketika dipertengahan dasawarsa 1970-an, God Bless 1972 dan Massada 1973 segera memetik reputasi dengan gaya aksi panggung (Live Act) yang cemerlang, memiliki basis penggemar yang loyal, dan ini boleh jadi berpengaruh ke daerah-daerah. Menurut tahun yang sama, kelompok-kelompok di Sulawesi terkhusus di Sulawesi Barat, masuk dalam daftar aliran Hawaiaan, Keroncong dan Gambus, memasuki situasi yang terkondisikan pada instrumen kolaboratif secara hibrid yang alami. Kita diperkenalkan dengan kelompok musik Rewata’a Rio yang gemar memadukan musiknya dengan aliran lagu-lagu Stambul, dan “Pikko” kelompok Gambus bernuansa Keroncong 1960-an, atau menguji kreativitasnya dalam ramuan seperti Gambus dalam Keroncong dengan menggunakan beberapa alat Eropa seperti Juck, Akulele, Contra Bass, Sello dan Petikan Guitar Losquin.

 Di tahun antara 1970-1980 an, hiburan rakyat (Band) menjadi catatan disekian banyak pertunjukan, para pengagum musik di Sulawesi Barat memperlihatkan pengaruh eksistensi yang signifikan dengan menculnya kelompok gambus Surayya, yang kelak menjadi cikal bakal Band Surya, Karya Jaya menuju Karisma Band. Senandung Resota Majene 1985, lalu 1990 Karisma pun berdiri. Pada titik itu, tercatat Band populer yakni Surya dan Kaisar di Polewali Mamasa (Sekarang Polewali Mandar), sementara itu tidak jarang Band-band luar Polewali Mamasa seperti Toleransi dan Al-Warda dari Sidrap, Sarapo Band 1-2 di Pindrang, semakin memperlebar, memperkaya dan semarak penuh gairah. Hal itu pun secara tidak langsung untuk menguji keahlian dan lebih memacu semangat para players dan pimpinan produksi Band-band di Sulawesi Barat. Sayangnya amplikasi elektrik meredup oleh rentetan waktu, baik itu dari sudut artistik maupun penyajian, pelaku mulai resah pada pengutamaan karya instan atau mengubah Band yang dipormat dengan banyak pemain secara Enseble, menjadikan Elektrik Tone lebih digandrungi. Materialistik elektriktone memanjakan para penikmatnya dan menguntungkan.

 Di sisi lain, dengan munculnya kelompok Tammengundur telah memadukan tradisi, keyboard tunggal, dan Band, berhasil meramu pertunjukan dengan beberapa model sajian, tidak terkecuali drama komedi maupun pakem tradisional yang seolah-olah penonton bisa menyaksikan hiburan serba lengkap, memaksa manajemennya kewalahan dalam mengatur jadwal, dan sisa player-player itu pun mengalihkan dirinya untuk ke akustik dan You Tube, melakukan kreatifitas bebas demi mendapat perhatian. Sementara pecinta teknologi praktis semakin bergairah hingga meminimalisir pertunjukan chaiya-chayya (karaokean). Dari sini membuka naluri dan hasrat penyanyi amatiran untuk menjadi artis satu malam, satu dua lagu pemuas keresahan menurut orang-orang dulu yang kecewa atau gagal oleh karena surat panggilan tidak tergubris dan terbuang begitu saja. Di era digital sekarang ini, status teknologi jauh meningkat, menunjukkan daya saing yang berat bagi kaum-kaum Band.

 Fakta-fakta di atas, betapa hiburan Band menjadi dirindukan, seakan kita memiliki rezeki jika sempat melihatnya saat itu. Meski hanya satu dua kelompok yang masih bertahan, tetap tidak bisa bersaing, padahal indahnya sajian itu oleh karena semua sisi gambar maupun bunyi bisa disaksikan secara langsung. Pada tahun-tahun berikutnya, Band kembali digelorakan, bagaimana upaya komunitas-komunitas seperti One dO Art secara mandiri telah menggelar konser bertajuk Mahakarya, menggunakan Band eksplorasi dengan paduan tradisi, rock dan pop kreatif serta sedikit orkestra 2017, sementara Band-Band muda seperti Nilam, Adelweis, Impossible, Kaze, Teletabis, Black Hole, Manakarra dll. Mereka gemar membumikan kreatifitasnya, kendatipun hanya berada dijalur festival. Numerus 90 pada tahun 2021 manabur benih-benih juga menggelar lewat festival, dan yang paling mengesankan sebab pesertanya kembali menghadirkan player-player lama, menggugah hati untuk mengingat masa lalu meski permainanya tidak sehebat dulu. Banyak festival Band kreatif 2022 oleh dinas pariwisata di taman budaya provinsi Sulawesi Barat, digagas oleh Ir. Irbad Kaimuddin, yang tidak lain bahwa beliau ternyata adalah mantan pelaku Band 90 an. Dengan kembalinya liyan ini, bukan tidak mungkin studio-studio yang sempat gulung tikar akan segera mengatur jadwal.

 Band disajikan dengan tekstur professional dalam menjamu penikmatnya dan tidak mustahil akan kembali dengan segala bentuknya. Sementara Keyboard tunggal, chaiyya-chayya dan parodi Tammengundur adalah penomena nyata yang mungkin tidak akan luput dari sejarah. Meski telah mengalami pergeseran, namun inovasi pelakunya kita meski yakin mereka akan semakin kreatif. Kreatifitas anak-anak Band di tanah Mala’bi’ ini mencuat hebat, tidak ketinggalan Band Orkes 90-an seperti Mamat GS, semangat mudanya bangkit bersama kelompok Pramuda yang baru dibentuk. Maju terus, sebab kita baru saja menemukan kembali gairah Band di Sulawesi Barat setelah lama vakum.

Sumber: 
Bar Barendregt and Els Bogaerts 2007
Rusman Pikko. 2019
Hatta Jaya. 2021
Mamat GS. 2022
Poto: Band Nagersi di Sale'a Todang, Pimpinan Baharuddin Mahmud, Hatta Mahendra menjadi gitaris.
Penulis: salah satu penyanyi cilik nya

Minggu, 28 Desember 2025

KEMAH LITERASI|| Malam, Kata, dan Cerita


Catatan Supriadi, S.Pd. 
(Direktur Pisakaku) 

Berangkat dari sebuah percakapan telepon, gagasan tentang kegiatan kemah literasi kami ramu seperti sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Zulfihadi, baru saja memberi tawaran untuk mengajak kami berkemah di MLC Baluno Majene bersama dengan Fadil. Kami Menyusun tema, bermalam merangkai kata, meramu cerita : lahirlah tema yang kami sepakati adalah malam, kata, dan cerita. Saya dan Fadil tentu akan mencoba memberi kesan sebagai perwakilan Gen Z, memang kelahiran kami sama dan memang termasuk Generasi Z, dan Bum = Refleksi 2025 : Resolusi 2026. Saya buatlah segala perlengkapan informasi ke sosial media, flyer dan cara daftar beserta grup whatsapp. Bumi Mandarnsesia mendaftar lebih awal, disusul oleh Lentera Labuang, perwakilan SMKS Suparman Wonomulyo, Allo Tidoa’. Pun sebelumnya kami juga harus menyebut Lembaga Komunitas kami, Pusat Studi Sosial dan Kajian Kebudayaan (PUSAKAKU), Fadil Lino Pustaka, dan Bang Zul sebagai tuan rumah MLC Baluno. 

Sabtu, 27 Desember – 28 Desember 2026. Awal rencana, saya akan membawa istri saya sekalian liburan Bersama. Entah pada bagian mana ia kembali menurunkan niatnya untuk ikut. Disamping itu, Fadil menelpon untuk memberi kabar bahwa tak bisa ikut lantaran kesehatannya terganggu, yaaaa blio memang seorang pemuda yang progresif yang hampir-hampir lupa bahwa tubuhnya butuh istirahat dari kesibukan hal-hal baik. Kendatipun demikian, waktu berjalan tanpa melalaikan jadwal yang telah kami sepakati. 
Sampailah saya di Baluno, meski dengan perasaan kecewa karena senja yang ingin sekali kami nikmati itu telah terbenam jauh meninggalkan. Saya bersama seorang teman begitu penasaran, apa yang yang ditawarkan oleh MLC Baluno ini ? Kenapa kami harus ada disini. Penasaran itu menjelma menjadi pertanyaan, pertanyaan yang membuat malam berlalu begitu cepat. Bagaimana mungkin hal yang ditanyakan itu benar-benar menjadi kesan yang sangat berharga. 

Kami berlima, saling sapa, saling tanya. Tentang Literasi, tentang Mangrove, tentang segala hal yang telah dilalui, tentang segala hal yang akan dilalui. Mandarras sebagai salah satu bahan diskusi yang begitu panjang, tetapi tak cukup ruang untuk saya tuliskan disini secara gamblang. Tetapi program yang digaungkan oleh Sulawesi Barat ini benar-benar menguras pikiran kami, sehingga kami bersepakat untuk melihat lebih jauh, mengawasi lebih dalam, bahkan mencoba memberi suara : Mandarras Sulawesi Barat harus punya target, kapan ia harus naik level ? 
Bagaimanapun panjangnya diskusi kami, tetapi selalu diakhiri omong kosong. Yaa, benar, sebab kami hanya masuk dalam lingkar peduli. Mempedulikan sesuatu yang tidak masuk dalam pengaruh. Meski selalu diakhiri omong kosong, tetapi dalam hati tetap memberi suara bahwa Literasi benar-benar menjadi penawar dari segala penyakit di planet ini. 

Malam minggu yang berharga itu perlahan lenyap dalam mimpi, kami istirahat untuk mengumpulkan tenaga karena besok pagi masih ada agenda pengenalan dan penanaman mangrove. 

Terimakasih.

Sabtu, 27 Desember 2025

Catatan dari Perhelatan “Cakrawala Budaya"

Testimoni Kebudayaan, Uwake Cultur Foundation, Boyang Kaiyyang Kandeapi, 26 Desember 2025 ---Bagian Pertama

Terstimoni Kebudayaan: Dua Belas Orang Berorasi Dalam Semalam

Oleh: Hamzah Ismail

Sebagai penanda kegiatan akhir tahun, Uwake Cultur Foundation menggelar sebuah hajatan kebudayaan bertajuk “Cakrawala Budaya”, dengan kemasan yang cukup unik: “Testimoni Kebudayaan.” Forum ini memberi ruang bagi belasan tokoh budayawan dan seniman se-Sulawesi Barat untuk tampil berorasi, menyampaikan kesaksian, refleksi, sekaligus kegelisahan mereka tentang kebudayaan yang sedang dan akan dihidupkan bersama.

Berbeda dengan Cakrawala Budaya --agenda bulanan Uwake-- yang selama ini diisi dengan diskusi kebudayaan dan penampilan musik oleh Lingkar Musik Uwake, edisi Desember 2025 tampil sebagai peristiwa yang menyimpang dari kebiasaan. Tak ada diskusi, hanya diselingi pertunjukan musik. 

Keunikan lainnya, kegiatan ini berlangsung hanya dalam satu malam. Namun justru dalam keterbatasan waktu itulah, testimoni-testimoni kebudayaan menjelma sebagai catatan kolektif: ringkas, padat, dan sarat makna --sebuah penegasan bahwa peristiwa kebudayaan tak selalu membutuhkan panggung besar dan durasi panjang, melainkan hidupnya kerelaan untuk bersaksi, merawat ingatan, dan menghadirkan sejarah serta kebudayaan ke hadapan publik secara apa adanya.

Kesempatan tampil pertama diberikan kepada Dr. Suradi Yassil, penulis dan budayawan senior yang kini berusia delapan puluh tahun. Dalam testimoninya, Suradi sejak awal menekankan pembedaan mendasar antara kebudayaan dan kesenian, sebagai landasan penting dalam memahami praktik budaya secara utuh. Ia kemudian menautkan pandangan tersebut dengan refleksi atas eksistensi dirinya, sekaligus mengisahkan praktik-praktik cerdas yang ia jalani dalam mendidik anak sebagai bagian dari laku kebudayaan sehari-hari.

Kesempatan kedua diberikan kepada seniman dan tokoh pendidik, Dr. Suparman Sopu, yang kini berdomisili di Mamuju. Dalam testimoninya, ia menegaskan pentingnya mengingat kembali tiga M: Muhasabah Kebudayaan, Muraqabah Kebudayaan, dan Mujahadah Kebudayaan. 

Muhasabah Kebudayaan, menurutnya, mengajak menengok kembali perjalanan yang telah dilalui serta capaian-capaian positif yang telah dikerjakan. Ia memberi apresiasi kepada Uwake yang dinilainya berhasil menembus ruang teknologi canggih melalui karya musik yang memadukan tradisi dan modernitas, seperti hadirnya unsur sande’ dan bahasa Mandar dalam lagu-lagu Pak Ishaq yang diterima luas. Suparman juga menekankan kuatnya suasana religi dalam syair-syair yang selalu bermula dari Bismillah, karena akar sejarah dan budaya adalah bahwa  I Manyambungi penganut Agama Islam. 

Terkait teknologi dan AI, ia menegaskan bahwa pembaruan kebudayaan dapat dilakukan tanpa meninggalkan keaslian. Pada sisi Muraqabah, ia menekankan kesadaran identitas Mandar sebagai Mandar. Sementara Mujahadah Kebudayaan dimaknainya sebagai kesungguhan menghadapi tantangan, seraya mengutip pesan leluhur Mandar tentang keberanian menerjang ombak dan angin kencang.

Pen-testimoni kebudayaan ketiga adalah Ajbar Abdul Kadir, sosok yang kerap mengidentikkan dirinya sebagai “anak kampung” dan kini menjadi politisi andal Mandar, satu dari empat wakil Sulawesi Barat yang duduk di DPR RI. Ia memulai testimoninya dengan memaparkan data bahwa negara-negara dengan tingkat ekonomi tinggi umumnya juga memiliki tingkat inovasi yang tinggi. Menurut Ajbar, salah satu fondasi pentingnya adalah budaya egalitarisme –kesetaraan--yang melahirkan kebebasan, mengubah cara pandang sistem nilai, serta menyediakan ruang tumbuh berbasis relasi setara. Budaya ini tidak hanya meningkatkan kualitas manusia, tetapi juga kesejahteraan. 

Terinspirasi gagasan Tan Malaka dalam Menuju Republik Indonesia, Ajbar memaknai republik sebagai revolusi kebudayaan untuk menyiapkan generasi yang mampu menyerap nilai dan beradaptasi dengan perubahan global. Ia menegaskan bahwa inovasi tidak semata ditentukan kecerdasan intelektual, melainkan oleh ruang tumbuh yang adil, jujur, kompetitif secara fair, dan berlandaskan semangat belajar. Karena itu, ruang-ruang kebudayaan perlu hadir konsisten dalam ranah demokrasi, dengan pijakan pada independensi etis yang berorientasi pada kebenaran.

Tiba giliran penulis, yang juga diberi kepecayaan untuk juga menyampaikan testimoni kebudayaan. Hmmmm. Pada kesempatan itu, penulis menyampaikan tentang adanya tiga lapis keasadaran hubungan antara manusia (alawe), alam semesta (nawang), dan pranata hukum (akkeadang). Jauh sebelum membaca disertasi Darmawan Masud Rahman, “Puang dan Daeng: Kajian Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa Mandar” yang di dalamnya membincang tentang hubungan alawe, nawang dan akkeadang, sebelumnya penulis pernah mendapatkannya dari salah seorang tokoh intelektul Mandar, yang juga seorang sufi, Subaer Rukkawali. Secara berturut-turut penulis sampaikan bahwa tiga lapis kesadaran yang berasal dari khazanah kebudayaan Mandar itu adalah “Alawe mimbolong di atauang, atauang mimbolong di alawe”, lalu “Alawe mimbolong di nawang, nawang mimbolong di alawe” kemudian “Alawe mimbolong di akkeadang, akkeadang mimbolong di alawe”. Saat orang Mandar mampu menginternalisasi tiga lapis keasadaran itu ke dalam dirinya, maka outputnya adalah terwujudnya Tau Tongang (manusia seutuhnya). Manusia seutuhnya dicirikan oleh sikap mala’bi’. Mala’bi’ pau, kedzo dan gau’. Tau Tongang, akan selalu menjaga dua hal: “Ma’asayanni Lita” dan “Ma’asayanni Pa’banua”.

Tabeeqqqq.
Tinbambung, 28/12/2025

#agendaakhirtahun
#testimonikebudayaan
#14orangorasidalamsemalam

Minggu, 21 Desember 2025

AKHIR TAHUN DAN PEMBUKTIAN JANJI || SDK Perkuat Tata Kelola Birokrasi Bersih




Oleh: Hajrul Malik 
Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Barat

Akhir tahun selalu memberi ruang jeda. Jeda untuk menoleh ke belakang, menakar apa yang telah dijalani, sekaligus menimbang arah yang hendak dituju. Di ruang inilah pelantikan pejabat pimpinan tinggi pratama (Eselon II) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menemukan maknanya—bukan sekadar seremoni birokrasi, melainkan bagian dari proses panjang membangun tata kelola pemerintahan yang lebih bersih dan beradab.

Ucapan selamat tentu patut disampaikan kepada para pejabat yang baru dilantik. Kepercayaan yang diberikan bukan datang tiba-tiba. Ia melalui proses seleksi, termasuk wawancara terbuka, yang menghadirkan harapan publik akan birokrasi yang diisi oleh mereka yang memang layak, bukan sekadar dekat. Di tengah iklim skeptisisme publik terhadap birokrasi, proses semacam ini menjadi penting untuk menjaga rasa keadilan dan kepercayaan.

Dalam pengalaman pemerintahan, jabatan Eselon II adalah simpul kerja. Di sanalah visi gubernur diuji dalam praktik, dan kebijakan diuji dalam realitas. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan pidato atau dokumen perencanaan. Dibutuhkan kepemimpinan yang mau mendengar, berani memutuskan, dan siap bekerja lintas batas kewenangan.

Tantangan Sulawesi Barat tidak ringan. Soal pelayanan dasar, ekonomi rakyat, hingga pengelolaan sumber daya daerah menuntut birokrasi yang tidak bekerja sendiri-sendiri. Pelantikan ini diharapkan memperkuat sinergi antar-perangkat daerah, sekaligus mengikis sekat-sekat ego sektoral yang selama ini kerap menghambat laju kerja pemerintahan.

Di titik inilah publik menggantungkan harapan agar para pejabat yang dilantik mampu menggerakkan Pancadaya Gubernur secara lebih nyata. Pancadaya bukan sekadar arah kebijakan, tetapi kompas kerja. Ia membutuhkan keberanian menerjemahkan visi menjadi program yang saling terhubung dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Sebagai bagian dari sistem, saya melihat bahwa upaya membangun birokrasi bersih bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan konsistensi, keteladanan, dan keberanian untuk menjaga proses tetap berada di rel yang benar. Seleksi terbuka dan penempatan berbasis kompetensi adalah langkah awal yang penting, meski tentu belum sempurna.

Akhir tahun ini memberi satu catatan: janji tata kelola birokrasi yang bersih yang disampaikan SDK tidak berhenti pada narasi. Ia mulai menemukan bentuk dalam kebijakan dan proses. Tugas berikutnya adalah memastikan bahwa semangat ini terus dijaga, diperluas, dan diwujudkan dalam kerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat Sulawesi Barat.

Menutup tahun, harapan itu sederhana namun mendasar: birokrasi yang bekerja dengan hati, melayani tanpa pamrih, dan setia pada amanah publik. Dari sanalah kepercayaan tumbuh, dan dari sanalah pembangunan menemukan maknanya.

Selamat bekerja bapak bapak dan ibu ibu. Selamat bergabung di circle Pancadaya...

Selasa, 16 Desember 2025

STANDAR BARU || Proses Seleksi Jabatan Publik

Oleh: Suhardi Duka

Seperti yang sering disuarakan oleh Pak Wakil Gubernur, Salim S Mengga. Bahwa daerah ini sangat membutuhkan sosok pejabat yang tak sekadar punya kualifikasi dan kompetensi profesional. Jauh lebih mendesak untuk saat ini, kita membutuhkan figur dengan rentang moral yang juga baik. 

Bukan berarti kualitas serta kemampuan individu tak penting, tapi bagi saya, sama seperti agama yang akhlak dulu baru belajar ilmu. Di dunia birokrasi pun seperti itu, mental dulu baru kita bicara kompetensi.

Penataan birokrasi memang telah digenjot di fase awal masa jabatan saya dan Pak Salim. Dari menginisiasi perampingingan perangkat daerah, hingga penempatan para pejabat di pos-pos jabatan tertentu.

Tentu saja dampaknya belum dapat diukur hari ini. Tapi, satu yang pasti, di tengah beratnya tantangan yang dihadapi, reformasi birokrasi adalah satu dari sekian prioritas di masa kepemimpinan kami berdua.

Bagi saya, mindset birokrasi kita memang masih perlu didudukkan ke titik yang semestinya. Sebab suka atau tidak, laju mesin birokrasi belum sampai pada fase seperti yang diharapkan. Seperti sebuah anomali, sebab jika melihat standar administratif dari para birokrat di Sulawesi Barat, sebagian besar dari jabatan-jabatan strategis itu telah diisi oleh mereka yang menggendong gelar akademik cukup mentereng.

Visi Sulawesi Barat maju dan sejahtera sebagai titik yang hendak kita tuju, termasuk termasuk poin-poin pengimplementasian-nya, wajib dijadikan nafas utama dalam setiap gerak birokrasi di Sulawesi Barat. Bukan hanya sebatas didukung, mesin birokrasi wajib hukumnya untuk menjalankannya secara kongkret. 

Sebab diksi 'mendukung visi misi', menurut saya menyimpan makna seolah-olah roda birokrasi dengan visi yang hendak dituju tak bergerak secara simultan. 

Mari sejenak kita introspeksi diri. Jika hanya bekerja sesuai dengan aturan. Mau hasilnya bagus, atau tidak, pokoknya bekerja sesuai dengan aturan. Tak memikirkan untuk bagaimana memperbaiki aturan. Tak membangun budaya kinerja secara rapi. Berorientasi hasil, manfaat belum. Masih output, outcome belum. 

Jika masih seperti itu, berarti memang benar, ada yang keliru dari mindset birokrasi kita. 

Semakin beratnya tantangan zaman ditambah problematika hidup di tengah masyarakat yang juga kian kompleks, mesin birokrasi dituntut untuk mampu menghadirkan nilai lebih pada setiap pelayanannya. Bukan sekadar bekerja sesuai aturan atau sebatas mengugurkan kewajiban saja.

Angin digitalisasi yang semakin kencang mau tak mau mesti jadi salah satu instrumen dalam mempermudah kinerja birokrasi. Fasiltas itu hendaknya jadi salah satu piranti utama dalam menciptakan value pada setiap gerak birokrasi kita.

Jika mindset bekerjanya hanya sekadar formalitas belaka, lantas apa yang membedakan aparatur kita dengan kecanggihan teknologi hari ini ?. Boleh jadi, piranti digital itu jauh lebih hebat ketimbang deretan aparatur kita.

Apa yang disampaikan Pak Salim di atas, bagi saya punya makna yang sangat mendalam. Saya duga keras beliau hendak mengatakan bahwa kecanggihan teknologi hari ini mesti tetap dalam kendali manusia. Unsur 'rasa' manusia (dengan mental yang baik) harus hadir dalam setiap derap langkah birokrasi kita. Manusia-lah yang menghadirkan value, bukan deretan piranti digital itu.

Proses seleksi terbuka untuk pos jabatan tertinggi di 12 OPD yang saat ini masih bergulir menyisakan 36 nama calon. Sebagai wujud penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi, saya menginisiasi untuk proses wawancara kepada para calon dilakukan secara terbuka, disiarkan secara langsung.

Dengan begitu, publik dapat terlibat secara langsung dalam melakukan evaluasi untuk visi, misi, pengetahuan, dan kemampuan manajerial dari calon pejabat. Selain itu publik pun punya ruang yang lega dalam mengawal proses tersebut. Memungkinkan hadirnya pengawasan independen terhadap setiap prosesnya sekaligus memastikan prosesnya berjalan objektif dan juga adil.

Saya, Pak Salim bersama Sekda yang secara langsung mewawancarai para kandidat tersebut. Sebuah langkah baru, satu terobosan untuk menghindari lahirnya praduga sekaligus meminimalisir potensi transaksi politik atau lobi-lobi di balik layar. Secara bersamaan, proses yang dilakukan secara terbuka itu bakal mengurangi ruang gerak untuk praktik koruptif atau nepotisme, sejalan dengan semangat reformasi. 

Sekali lagi saya tegaskan, saya, pak Salim ingin bekerja dengan dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat. Membuka proses wawancara itu juga jadi cara yang saya yakini bakal berefek pada lahirnya partisipasi dan pemantauan publik yang tinggi untuk proses tersebut. 

Satu standar baru dalam sebuah proses seleksi jabatan publik yang saya yakini mampu merangsang kesadaran masyarakat tentang tanggung jawab moral dan sosialnya sekaligus upaya untuk membangun kepercayaan publik pada sistem pemerintahan yang saya dan pak Salim usung. (*)

Minggu, 14 Desember 2025

Catatan Kajian Tasawuf








Catatan 
Hamzah Ismail

Kajian Tasawuf
Tema: Menyelami Samudera Al-Ḥaqīqah Al-Muḥammadiyyah dengan Zikir Rūḥ Bersama: Annangguru Syeikh K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Abuya Arrazy Hasyim, Tempat: PP Darul Ulum Syeikh K.H. Muhammad Saleh, Saleppa, Majene
Waktu: 14 Desember 2025, pukul 13.00 - selesai

Ketika Dua Tokoh Spiritual Bertemu: Keindahan-lah yang Selalu Tampak

Tentang Persiapan Pelaksanaan Kegiatan

Kehadiran Syeikh Buya Arrazy Hasyim --seorang ulama muda dan dai nasional yang dikenal luas-- merupakan anugerah dari Allah Swt. Buya Arrazy menekuni dan mengajarkan fikih, ushul fikih, serta tasawuf dalam koridor Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Ia masyhur melalui kajian-kajian keislaman yang sistematis dan mendalam, baik secara luring maupun melalui media digital, dengan gaya penyampaian argumentatif serta rujukan kuat pada kitab-kitab turats.

Kehadirannya di PP Darul Ulum Saleppa sejatinya berada di luar perencanaan awal. Pada mulanya, agenda kunjungan Buya Arrazy di Sulawesi Barat pada penghujung tahun ini tidak mencantumkan Pondok Pesantren Darul Ulum sebagai titik kegiatan. Perubahan terjadi belakangan, setelah satu agenda di wilayah Mamuju batal dilaksanakan, sehingga pihak manajemen perjalanan Buya Arrazy di Tanah Mandar kemudian menetapkan Saleppa sebagai titik tambahan.

Hal tersebut tercermin dalam publikasi kegiatan. Sejumlah baliho yang tersebar ke publik tidak mencantumkan agenda Kajian Tasawuf bersama Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Abuya Arrazy Hasyim. Hanya satu baliho berukuran cukup besar yang terpasang di pusat Kota Majene, itupun merupakan inisiatif jamaah Tarekat Qadiriyah Majene.

Dalam rapat perdana persiapan penyambutan Buya Arrazy di PP Darul Ulum Saleppa, yang juga dihadiri penulis, Bapak Muhammad selaku pimpinan rapat menyampaikan bahwa kehadiran Buya Arrazy di pesantren ini bersifat tambahan agenda. Pernyataan tersebut dikuatkan oleh Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh yang menegaskan, “Kita ini membantu pihak yang menangani Buya Arrazy di Tanah Mandar, sekadar mencukupkan titik.”

Meski tidak dirancang secara matang sejak awal, pelaksanaan Kajian Tasawuf ala Tarekat Qadiriyah di Saleppa Majene akhirnya berjalan dengan baik dan sukses. Hal ini tidak lepas dari dukungan ikhlas jamaah Qadiriyah Majene yang dibantu sepenuhnya jamaah Qadiriyah Tinambung. Urusan logistik tertangani dengan aman dan lancar.

Untuk kelengkapan media penyiaran agar kajian dapat disimak oleh seluruh jamaah, jamaah Qadiriyah Tinambung menyediakan sarana pendukung, termasuk dua unit televisi berukuran besar milik STAIN Majene. Fasilitas ini memungkinkan jamaah yang berada di luar ruang utama tetap dapat mengikuti kajian melalui layar.

Melalui tulisan ini, mewakili Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Panitia Pelaksana, penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan kajian ini, khususnya kepada pihak Kampus STAIN Majene.

Mengurai Keindahan Pertemuan Annangguru Ilham Saleh dan Buya Arrazy

Sejak Minggu pagi, suasana di Markas Besar PP Darul Ulum Saleppa Majene mulai tampak sibuk. Panitia bekerja mempersiapkan segala keperluan, sementara jamaah berdatangan secara perlahan dan memadati halaman depan pesantren. Di tengah aktivitas pemasangan dua unit televisi besar, tampak pula satu unit mobil panitia yang mendistribusikan konsumsi berupa nasi kotak bagi para peserta kajian.

Pada waktu yang sama, melalui media sosial (Facebook), terpantau Abuya Arrazy Hasyim tengah mengisi Tabligh Akbar di Masjid At-Taubah Imam Lapeo dengan tema “Meneladani Sifat Rasulullah Saw: Jalan Mudah Menuju Surga.” Agenda Kajian Tasawuf di PP Darul Ulum Saleppa memang dijadwalkan berlangsung setelah kegiatan Abuya Arrazy di Lapeo selesai. Usai acara tersebut, beliau dijadwalkan bertolak ke Saleppa dan makan siang di lokasi pesantren.

Tepat ba‘da Zuhur, Buya Arrazy bersama istri dan rombongan tiba di Saleppa. Penulis yang sebelumnya mengikuti salat berjamaah di masjid yang berada tepat di depan markas PP Darul Ulum, mendengar lantunan hadrah dan selawat yang dikumandangkan para santri sesaat setelah salam. Doa pun disudahi seadanya, sebab kekhawatiran muncul –ruang kajian bisa penuh terisi jamaah, sementara penulis memiliki tugas khusus dari Annangguru Ilham Saleh.

Penulis memang ditugaskan secara khusus sebagai penanya dalam forum Kajian Tasawuf tersebut. Karena itu, penulis segera mengambil tempat di bagian depan, tidak jauh dari Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Buya Arrazy Hasyim.

Pada momentum ini, tampak jelas bagaimana Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh memberi ruang seluas-luasnya kepada murid-muridnya untuk memperluas wawasan dan memperdalam ilmu. Beliau membuka kesempatan interaksi dengan para ulama, kiai, dan tokoh-tokoh yang hadir di Saleppa, sebagai bagian dari proses pembelajaran spiritual dan intelektual.

Saat tiba, Buya Arrazy tidak langsung memasuki ruang kajian. Beliau terlebih dahulu menuju lantai bawah untuk menikmati jamuan makan siang. Sekitar dua puluh orang turut makan bersama beliau, termasuk Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh. Tampak pula mendampingi Buya Arrazy dari Lapeo, seorang kiai muda keturunan Imam Lapeo, Dr. Ahmad Multazam, yang selanjutnya akan menemani perjalanan Buya Arrazy ke Kalukku, Mamuju.

Menariknya, setelah makan bersama, terjadi peristiwa yang sarat makna. Buya Arrazy menyampaikan keengganannya untuk turun mengisi kajian sebelum menerima ijazah Tarekat Qadiriyah dari Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh. Nampan makan yang semula berada di hadapan mereka pun digeser. Buya Arrazy kemudian bergerak mendekat ke arah Annangguru dengan cara ngesot –bergerak maju sambil duduk dan menyeret tubuh di lantai. Kedua lutut dirapatkan, tangan berjabat, lalu Annangguru tampak membisikkan sesuatu ke telinga Buya Arrazy. Adegan tersebut tampak sebagai sebuah proses talqin yang khidmat dan penuh keheningan spiritual.

Dalam proses memberi dan menerima ini, terpancar keindahan yang nyaris tak terlukiskan –sebuah tiara spiritual yang hanya dapat dipertunjukkan oleh para tokoh yang telah menukik jauh ke kedalaman dunia sufistik. Dunia yang sarat dengan keindahan dalam teks, kata, dan laku simbolik.

Terima kasih Guru, Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh atas kepercayaan yang diberikan kepada penulis sebagai penanya dalam forum Kajian Tasawuf itu. Terima kasih pula kepada Buya Arrazy Hasyim yang berkenan menutup acara dengan meletakkan statemen tegas: “Fanalah Muhammad, nyatalah Ahmad, fanalah Ahmad, nyatalah Ahad” lalu membagi zikir atau wirid pamungkas: “Ahad dzatullah, Ahmad Nurullah, Muhammad Nurullah, Al-Mahdi Khalifatullah,” sebagaimana penulis mohonkan sebagai penutup rangkaian pertanyaan yang kemudian diijazahkan untuk seluruh jamaah yang hadir mengikuti kajian.

Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

Tinambung, 15 Desember 2025

Al-faqir,
Hamzah Ismail

Sabtu, 06 Desember 2025

Dr. ABD. RAHMAN HAMID || Seminar Hasil Penelitian Mahasiswa UIN RIL -Membaca Dunia Maritim Indonesia




Bandarlampung, 5 Desember 2025, mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung menggelar seminar hasil penelitian di Perpustakaan Nasional RI, Arsip Nasional RI, dan Museum Bahari Jakarta. Seminar dilaksanakan di Ruang Seminar Fakultas Adab, merupakan bagian dari laporan praktikum mata kuliah (1) Sejarah Maitim Indonesia dan (2) Bahasa Sumber dengan dua dosen pengampu yaitu: Dr. Abd Rahman Hamid dan Agus Mahfudin Setiawan, M.Hum.    

Ketika membuka acara, Ketua Prodi SPI mengatakan bahawa kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mahasiswa menelusuri sumber-sumber sejarah maritim yang tersedia di tiga instansi tersebut. Setelah seminar ini, setiap kelompok akan mengirimkan artikelnya ke jurnal nasional.  

“Dengan menerbitkan artikel di jurnal nasional, selain untuk memenuhi luaran mata kuliah, juga yang terpenting adalah untuk menambah jumlah publikasi mahasiswa sebelum menyelesaikan studi di Prodi SPI”, terang Dr. Hamid. 

Semester lalu, setelah praktikum mata kuliah di Banten, mahasiswa telah menghasilkan 6 judul artikel yang terbit di jurnal nasional. Jadi, kalau semester ini bisa terbit lagi satu artikel, maka sudah ada dua artikel yang dihasilkan sampai semester lima  ini”, kata Dr. Abd Rahman Hamid.       

Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Bahasa Sumber, Agus Mahfudin Setiawan, M.Hum, mengapresiasi semangat tinggi mahasiswa dalam proses pengumpulan sumber sejarah di Jakarta. “Sumber tulisan ini sudah bagus, sisa ditingkatkan lagi arah dan fokus artikel masing-masing. Jadi, artikel ini perlu diperbaiki lagi agar lebih fokus pada tema kajian”, terangnya.  

Seminar ini dihadiri oleh 45 mahasiswa Prodi SPI dengan menampilkan 10 topik kajian yang dibagi menjadi dua sesi diskusi. Lima topik pada sesi pertama membahas mengenai pelabuhan di Lampung (Telukbetung dan Oosthaven), Emmahaven (pelabuhan Padang), pelabuhan Sabang (Aceh), pelabuhan Surabaya, dan pelabuhan Makassar. Sesi ini dipandu oleh Amira Zahida Mumtaz. 

Dua pelabuhan Lampung yang berada di Telukbetung menjadi cikal bakal lahirnya Kota Bandar Lampung. Aktivitas pelabuhan Telukbetung melahirkan Kota Telukbetung, sebagai kota lama Lampung. Sementara aktivitas Oosthaven (Panjang) melahirkan kota baru Tanjungkarang. 

Selanjutnya, lima topik sesi kedua mengkaji mengenai pelabuhan di Kalimantan Timur dan Selatan, pelabuhan Ende (Nusa Tenggara), pelabuhan di Maluku (Ambon dan Ternate), pelayaran laut nasional Indonesia (PELNI), dan peranan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dalam revolusi Indonesia. Sesi ini dipandu oleh Reisya Aulia Khabiba. 

Selain menampilkan artikel hasil kajian, dalam seminar ini juga ditampilkan video dokumenter perjalanan praktikum Sejarah Maritim Indonesia dan Bahasa Sumber yang dilaksanakan di Jakarta pada  4 – 6 November 2025. 

Belajar sejarah tidak cukup dengan membaca buku-buku sejarah saja, tetapi juga perlu praktik lapangan untuk menelusuri sumber-sumber sejarah dan menuliskannya menjadi narasi sejarah berupa artikel untuk dipublikasikan ke jurnal nasional, kata Ketua Prodi SPI Dr. Abd Rahman Hamid menutup seminar ini.

Kamis, 04 Desember 2025

Dr. ABD. RAHMAN HAMID ||Dosen UIN RIL Paparkan Sejarah Emigrasi Pertanian di Lampung


Pesawaran, 4 Desember 2025, Dosen UIN Raden Intan Lampung, Dr. Abd Rahman Hamid menjadi narasumber seminar yang digelar oleh Museum Ketransmigrasi Lampung dengan tema “Kajian Mata Pencaharian Masyarakat Transmigrasi”.  

Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari (2-4 Desember) dengan menghadirkan enam narasumber, dua di antaranya pada hari ketiga adalah Dr. Abd Rahman Hamid dan Kian Amboro, M.Pd. 

Hari ini, Abd Rahman Hamid mengisi acara dengan topik “Emigrasi Pertanian Jawa di Lampung 1902-1941”, dengan moderator Ni Putuh Galih Pratiwi, M.Hum. 

“Saya menemukan banyak orang Jawa, nama-nama kampung Jawa, dan budaya Jawa di Lampung. Untuk tahu Bahasa Jawa, bisa belajar di Lampung. Di mana-mana terdengar orang berbahasa Jawa”, kata Ketua Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN RIL saat mengawali presentasinya, yang dihadiri 50 peserta (dosen dan mahasiswa) dari lima kampus di Provinsi Lampung yaitu: UNILA, UM Metro, STKIP PGRI Bandar Lampung, UIN RIL, dan UM Pringsewu.   

Berangkat dari isu tersebut, Hamid menjelaskan mengenai sejarah emigrasi pertanian Jawa di Lampung pada masa kolonial, 1902-1941. Menurutnya, ada tiga konsep yang sering digunakan untuk menggambarkan perpindahan penduduk Jawa ke luar Jawa yaitu: kolonisatie, emigratie, dan transmigratie. Konsep pertama punya konotasi negatif, selaran dengan konsep kolonialisme. Kalau mengikuti pilar politik etis, maka yang tepat adalah konsep emigratie (emigrasi), terang Dr. Hamid.  

Menurut Hamid, program emigrasi sebagai satu solusi untuk mengatasi masalah kesejahteraan penduduk di Jawa sejak akhir abad ke-18 akibat kepadatan penduduknya. Namun, gairah orang Jawa untuk pindah ke luar Jawa masih minim, karena mereka sangat terikat dengan tanah dan kebudayaan leluhurnya di Jawa. 

Karena itulah, maka lahirlah sistem “bedol desa” dalam pemindahan penduduk, yakni memindahkan semua penduduk dari satu desa tertentu di Jawa ke luar Jawa dan ditempat di lokasi yang sama di Tanah Sabrang, sehigga mereka merasakan susana Jawa di Tanah Sabrang. Dengan kata lain, para emigran itu tidak terasing dari lingkungan sosial dan kebudayaan Jawa. Singkatnya, “Cut dan paste Jawa di Lampung”, kata Dr. Hamid.  

Tidak cukup dengan sistem bedol desa, untuk menarik perhatian dan meyakinkan orang Jawa pindah ke Lampung, maka promosi atau propaganda sangat penting dilakukan. Hal itu dilakukan dengan tiga cara: (1) penyuluhan oleh aparat pemerintah di Jawa, (2) emigran lama pulang kampung atau dibawa pulang oleh pemerintah untuk promosi emigrasi pertanian di Jawa, dan (3) pemutaran film “Tanah Sabrang” karya Mannur Franken di Jawa antara tahun 1938-1941 tentang kondisi Lampung yang tanahnya subur, hasil padinya bagus, dan sistem bawon. 

Semuanya menggambarkan tentang Tanah Sabrang Lampung yang penuh harapan hidup atau kesejahteraan yang lebih baik. “Kalau ingin hidup lebih sejahtera, maka pindahlah ke Lampung”, begitulah kesan yang disampakan kepada calon emigran di Tanah Jawa.      

Emigrasi pertanian ke Lampung dimulai tahun 1905 di bawah pimpinan Asisten Residen Sukabumi, H.G. Heijting yang didampingi oleh Asisten Wedana Mas Ronodimedjo, 2 mantri irigasi, dan 40 penebang bergergaji. Lokasi pertamanya adalah Gedong Tataan. 

Setelah itu, rombongan emigrasi diperluas ke daerah lain masing-masing: Bengkulu (1909), Palembang (1911), Sumatera Timur (1918), Kalimantan (1920), Sulawesi (1937), dan Sumatera Tengah (1940). 

Menurut Dr. Hamid, dipilihnya Lampung sebagai lokasi emigrasi pertanian pertama karena tiga hal: (1) dekat dengan Tanah Jawa, (2) biaya lebih murah dan termasuk jalur utama pelayaran kapal KPM, dan (3) punya dua pelabuhan baik di Teluk Lampung (Telukbetung dan Oosthaven) sebagai pintu masuk ke Sumatera. 

Sebagai tim penulis Sejarah Indonesia (SI), yang disponsori oleh Kementerian Kebudayaan RI, sejarah emigrasi Lampung menjadi satu bagian penting dalam Buku SI jilid 6 (Masa Pergerakan Kebangsaan hingga akhir Penjajahan Jepang) yang akan dilauching tahun ini oleh Kementerian Kebudayaan, kata Dr. Hamid.  

Ketua Prodi SPI UIN Lampung ini menyimpulkan tiga hal terkait sejarah emigrasi di Lampung yaitu: (1) emigrasi melahirkan masyarakat dan kampung-kampung Jawa baru di Lampung, (2) emigrasi membawa kamajuan serta perubahan sosial berupa perluasan makna filosofis Lampung yakni “Sai Bumi Ruwa Jurai” dalam pembentukan Masyarakat Lampung, yang semula dimaknai sebagai Satu Tanah Lampung bagi dua kelompok Lampung (Saibatin dan Pepadun) menjadi Satu Lampung bagi orang Lampung dan bukan orang Lampung, (3) emigrasi juga mewariskan segregasi sosial di Lampung. 

Pada akhir paparannya, Dr. Hamid menyampaikan tiga saran (rekomendsi) yaitu: (1) perlu kajian toponimi wilayah emigrasi Lampung, (2) pengayaan koleksi Museum Transmigrasi dengan sumber-sumber Sejarah Emigrasi dari ANRI, PNRI, dst, dan (3) pemutaran “Film Tanah Sabrang” sebagai memori kolektif emigrasi di Lampung. 

Diskusi ini sangat dinamis yang ditandai respons dari lima peserta yaitu: Adi Wiranata (Dosen UM Metro), Nova Anisa Azzahra (mahasiswa UNILA), Angun Puspita (mahasiswa STKIP Bandar Lampung), Rianto (mahasiswa UM Metro), dan Sofio Rahman (mahasiswa UM Metro). 



Kontribusi Saran untuk DOB Kota Mamuju

Catatan Hajrul Malik

Mamuju, 4 Desember 2025 — Dalam rangkaian Focus Group Discussion (FGD) Studi Kelayakan Pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) Kota Mamuju, saya berkesempatan memberikan masukan strategis sebagai Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Barat. FGD ini dilaksanakan oleh Universitas Brawijaya selaku tim pengkaji akademik, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Mamuju, dan berlangsung di Ballroom Matos Mamuju.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Barat yang membuka acara secara resmi, serta Bupati Mamuju, tokoh masyarakat, Wakil Ketua dan sejumlah anggota DPRD Sulawesi Barat, anggota DPRD Mamuju, dan perwakilan DPR RI. Kehadiran unsur Biro Otonomi Daerah Kemendagri turut memberikan bobot penting terhadap arah pembahasan.

Dalam forum ini, saya menyampaikan beberapa saran utama yang dianggap relevan untuk memperkuat kelayakan DOB Kota Mamuju, di antaranya:

1. Urgensi penataan governance Ibu Kota Provinsi agar lebih adaptif terhadap tekanan layanan publik dan pertumbuhan urban yang semakin cepat.

2. Pentingnya penyusunan Masterplan Kota Mamuju 2035, yang memadukan perencanaan ruang, potensi ekonomi, layanan dasar, serta mitigasi bencana sebagai identitas kota yang modern dan tangguh.

3. Penguatan analisis fiskal dan proyeksi PAD, sehingga Kota Mamuju sebagai DOB memiliki dasar kemampuan keuangan yang memadai untuk lima tahun pertama penyelenggaraan pemerintahan.

4. Penegasan nilai strategis Mamuju sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), sehingga pembentukan kota baru ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan nasional.

Forum ini tidak hanya menghimpun pendapat, tetapi juga mempertemukan pandangan pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan masyarakat untuk merumuskan langkah yang paling tepat bagi masa depan Mamuju.

Saya percaya bahwa dengan kajian ilmiah yang kuat dari Universitas Brawijaya dan komitmen semua pemangku kepentingan, ikhtiar menuju DOB Kota Mamuju akan berjalan lebih terarah, inklusif, dan bermanfaat bagi percepatan pembangunan Sulawesi Barat.

Semoga kontribusi kecil ini menjadi bagian dari upaya besar memajukan Mamuju menuju status kota yang modern, berdaya saing, dan melayani warga dengan lebih baik.


#DOBKotaMamuju
#MamujuMenujuKota
#SulbarMaju
#FGDKotaMamuju
#UniversitasBrawijaya
#PemkabMamuju
#PemerintahSulbar
#TenagaAhliGubernur
#MamujuKeren


Rabu, 26 November 2025

ABD. RAHMAN HAMID || Dosen UIN RIL Narasumber FGD BRIN

Jakarta, 26 November 2025, Dosen UIN Raden Intan Lampung, Dr. Abd Rahman Hamid kembali menjadi Narasumber kegiatan yang dihelat oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), setelah sebelumnya mengisi acara AB Lapian Memorial Lecture (23 September 2025), dengan tema utama “Cerita dalam Hidangan: Tradisi Lisan Kuliner sebagai Potensi Wisata Gastronomi Berkelanjutan”.  

Focus Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan selama tiga hari (24-26 November) dengan menghadirkan enam narasumber utama yaitu: KH Ahmad Baso, Dr. Anhar Gonggong, Dr. Suriadi Mappangara, Prof. Dr. Muhlis Hadrawi, Dr. Abd Rahman Hamid, dan Dr. Mukhlis PaEni. 

Abd Rahman Hamid mengisi acara pada hari ketiga dengan topik “Gastronomi dan Jalur Rempah: Peran Perempuan dalam Merawat Tradisi Maritim Buton dan Mandar”, dengan moderator Risma Widiawati, M.Si. 

“Tradisi kemaritiman sering kali dianggap milik laki-laki saja. Namun, apakah tradisi itu bisa bertahan tanpa kehadiran perempuan?”, jelas Ketua Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN RIL saat mengawali presentasinya, yang dihadiri 30 peneliti Pusat Riset Khasanah Keagamaan dan Peradaban secara luring dan 45 peserta secara daring.  

Berangkat dari isu tersebut, Hamid menjelaskan mengenau peranan perempuan dalam  merawat kelangsungan tradisi maritim serta transformasi gastronomi pelaut menjadi identitas orang Buton dan Mandar.  

Menurut Hamid, perempuan Buton dan Mandar memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan aktivitas pelayaran pelaut, mulai dari menyediakan bekal untuk suaminya hingga memproduksi beragam komoditas niaga seperti kain tenun, parang dan pesau besi, menyikap goreng dari kelapa, dan menenun kain layar perahu.
 
Yang menarik adalah bahwa kedua suku bangsa bahari Indonesia ini memiliki jenis kuliner yang sama yang terbuat dari singkong, yakni soami/kasoami/sangkola (Buton) dan jepa (Mandar). 

Menurutnya, kesamaan itu disebabkan oleh dua faktor: pertama, kondisi kehidupan di laut atau atas perahu sama yang dipengaruhi oleh faktor gelombang, arus laut, dan angin. Kedua, para pelaut memerlukan kuliner yang mudah dikonsumsi dan adaptif terhadap kondisi kehidupan di atas perahu, baik saat angin kencang maupun angin tenang. Inilah kecemerlangan perempuan dalam memastikan keselamatan suami mereka dan sekaligus merawat tradisi maritim. 


Awalnya merupakan kuliner pelaut, lalu dikonsumsi semua kalangan, dan sekarang menjadi simbol identitas orang Buton dan Mandar. Gastromi itu juga menjadi petunjuk mengenai persebaran (diaspora) Buton dan Mandar di Indonesia. Bahkan, ia disebut soft diplomacy lintas budaya di Tanah Air, terang Hamid. 

Elaborasi ini menjadi sumber inspirasi untuk studi lanjut mengenai kehidupan para pelaut lainnya di Indonesia. “Tanpa kehadiran perempuan, tidak mungkin tradisi maritim bisa bertahan berabad lamanya”, kata Hamid menutup presentasinya.

Peserta diskusi begitu antusias mengikuti acara yang ditandai respons dari delapan peserta yaitu Kang Dede, Prof. Dr. Saleh, Andi Baso, Lamansi, Dudung Yuwono, Wardiah Hamid, Prof. Dr. Idham Kholid Bodi, dan Syamsu Rijal. 

Diskusi ini ditutup oleh Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban, Wuri Handoko, yang juga kandidat Doktor Arkeologi Universitas Indonesia. Beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh narasumber yang telah berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para peneliti, serta berharap bahwa kelak dibentuk satu pusat kajian Gastronomi Nusantara di lingkungan BRIN.

Selasa, 25 November 2025

GURU ANA PUAJI JIARA

Cerpen oleh Ule-Ule Tarreang (Safardi Bora)

Di sebuah kampung kecil yang selalu beraroma tanah basah selepas hujan, di timur jauh yang sepi seperti halaman kitab tua, hiduplah seorang perempuan bernama Ana Paji Jiara. Setiap pagi ia berangkat sebelum umur matahari genap sehari, melintasi jalan tanah yang retak-retak, semak yang berduri, dan udara yang menggigil di sela bukit Wunga. Tiga kilometer perjalanan itu bukan sekadar jarak, melainkan ziarah kecil menuju masa depan anak-anak.

Ana membawa tas kain yang warnanya sudah pudar, tapi langkahnya selalu bening—seperti doa yang tidak pernah selesai dibacakan. Di setiap tikungan, ia sudah hafal suara angin, suara kambing milik tetangga yang sering melenguh di pinggir jalan, juga suara sunyi yang memanjang seperti lorong waktu. Kadang ia harus menahan napas ketika hujan turun tanpa aba-aba, membuat tanah berubah licin seperti ingatan yang hendak melarikan diri.

Namun Ana tetap berjalan. Sebab di ujung perjalanan itu, ada kelas kecil yang dindingnya penuh lubang—jejas waktu—dan anak-anak yang menunggu dengan mata yang selalu tampak lebih besar daripada tubuh mereka.

Di ruang kelas itu, Ana pernah menghadapi seorang anak lelaki bernama Abak. Ia keras kepala seperti kuda Sumba yang baru belajar dikekang. Abak duduk di bangku paling belakang, sering mengetuk meja dengan batu kecil yang ia bawa entah dari mana, dan menatap papan tulis seperti benda asing yang datang dari langit.

"Abak, coba baca ini," kata Ana suatu pagi, menunjuk huruf ha yang ia tulis dengan kapur yang tinggal setengah.

Abak mengerutkan dahi. “Beta tidak bisa, Ibu.”

“Coba saja. Pelan-pelan. Pakai bahasa Kambera dulu.”

Ketika Ana menyebut “ha-mai,” mata Abak bergerak sedikit. Bahasa ibu—bahasa yang tumbuh bersama hujan, pepohonan, dan dapur kayu—membuat huruf itu terasa seperti saudara jauh yang tiba-tiba pulang. Perlahan Abak membuka mulutnya, mengeja dengan suara yang masih goyah, seperti nada pertama dari alat musik yang belum pernah disentuh.

Hari itu, untuk pertama kalinya Abak membaca satu suku kata. Ana tidak bersorak. Ia hanya menepuk pundak anak itu pelan, seolah takut kebahagiaannya bisa memecahkan sesuatu yang rapuh.

Kadang Abak datang tanpa membawa buku; kadang ia datang tanpa mandi; kadang ia datang dengan cerita bahwa ia harus membantu ayahnya memikul kayu atau mengejar kambing yang hilang. Namun Ana tidak pernah marah. Ia tahu, anak-anak kampung hidup di garis yang tipis antara belajar dan bertahan hidup.

“Abak datang saja sudah bagus,” gumam Ana suatu sore, sambil merapikan kertas-kertas di meja guru yang sompal di sudutnya.

Ketika kelas mulai sepi, Ana sering duduk sendiri di bangku kayu, memandang dinding-dinding yang ia tempeli abjad dan gambar seadanya. Warna kertas itu sudah kusam, tapi mata anak-anak tetap menyala setiap kali melihatnya. Ia ingin membuat kelas itu menjadi taman kecil, tempat huruf-huruf tumbuh seperti bunga liar.

Malam hari, ia belajar sendirian di rumah, menamatkan kuliah jarak jauh dari Universitas Terbuka. Lampu minyak kecil di ruangan itu berkerlip seperti bintang yang kelelahan. Namun Ana tidak menyerah. Ia membaca sampai angin malam mengantarkan rasa kantuk, atau sampai ayam kampung berkokok tanda subuh mendekat.

Kadang ia merasa tubuhnya terlalu letih untuk melanjutkan semuanya. Tapi setiap kali ingatan tentang Abak muncul—tentang suku kata pertamanya, tentang senyum kecil yang muncul tanpa ia sadari—Ana kembali bangkit.

Suatu pagi, ketika kelas hampir berakhir, Abak mendekat dengan langkah ragu.

“Ibu Ana… Beta sudah bisa baca nama beta sendiri,” katanya sambil menunjukkan secarik kertas yang kusut.

Ana melihat tulisan itu—masih goyah, hurufnya tidak sejajar, tapi itu adalah keajaiban kecil yang lahir dari perjalanan panjang.

Ia tersenyum. Senyum yang tidak pernah ia berikan kepada dunia untuk hal-hal remeh. Senyum yang hanya muncul ketika ia menyaksikan anak-anak menjemput masa depan mereka sendiri.

"Wena, Abak…" bisiknya. "Kau sudah buka pintu pertama."

Di luar, angin timur bertiup perlahan. Tanah basah mengirimkan bau yang akrab, dan suara jauh dari kampung terdengar seperti lagu lama yang kembali dinyanyikan.

Ana berjalan pulang, melewati jalur yang sama—semak, batu, dan sunyi. Namun kali ini langkahnya terasa lebih ringan. Sebab ia tahu, di kelas kecil itu ada seorang anak yang baru saja menemukan dunia baru, dan mungkin dunia itu akan menuntunnya jauh melewati batas kampungnya sendiri.

Di timur yang jauh, di tanah yang kerap terlupakan, Ana Paji Jiara menjaga cahaya itu tetap hidup.
Cahaya kecil, tapi setia.
Cahaya yang membuat ingatan orang-orang kampung menyebutnya: **

Samarinda, 25 November 2025

Rabu, 19 November 2025

TITIK TERANG || Penari di Atas Kuburan

Oleh: Hamzah Ismail

Heboh penari di atas kuburan dua tiga hari terakhir, mulai menemui titik terang. Menurut info A1 dari sumber yang layak dipercaya, aksi ini bagian dari tugas pengembangan tari Pattuqduq oleh seorang mahasiswa. Mereka menari di atas kuburan itu, ternyata menjadi bagian dari riset mereka. 

Menjadi miris, sebab selain mendapat kecaman keras di medsos, ternyata mahasiswa tersebut juga mendapat teguran dari kampusnya, bahkan diancam tidak diikutkan ujian jika tidak segera datang ke Mandar meminta maaf.

Dalam hubungan itu, menyikapi kejadian tersebut kita mesti lebih mengedepankan kejernihan pikiran. Peristiwa ini tidak lagi dijadikan ajang memojokkan atau menghakimi. Kepada mahasiswa itu tetap perlu diberi ruang untuk belajar sambil mendudukan halnya secara proporsional, dengan penuh pengertian dan empati bahwa ia sedang berada dalam tahap pembelajaran, dan kesalahan dalam eksperimen seninya adalah bagian wajar dari proses itu. Olehnya, meski ia tak segera datang menghadap minta maaf, kita mestinya lebih awal mengulurkan tangan memberi maaf.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa dalam proses pengembangan seni, budaya, dan pendidikan, ruang belajar, kesadaran, pengertian, dan komunikasi harus berjalan beriringan, agar ekspresi kreatif tetap menghormati warisan budaya tanpa menghilangkan kesempatan belajar.
 
Dalam pandangan kami, masalah ini menjadi begitu heboh hanya karena terlewatinya sebuah proses sederhana: bicara-bicara (komunikasi). Bukankah, apa pun masalahnya, banyak hal bisa berjalan dan terselesaikan hanya dengan dialog yang terbuka – bicara-bicara?

Klir dan selesai, menurut saya.

Tabeqqq
Tinambung, 19/11/2025
@sorotan

Selasa, 18 November 2025

Penari Menari diatas Makam Rajanya

Catatan Rahmat Polanagau 

1-2 hari ini berita Penari di makam sakral lagi viral dan saya kira itu tidak mengherankan. Ragam paradoks didalamnya mendorong letupan itu.
Pada postingan ini saya sertakan dua gambar, satu adalah video viral yang saya svreenshoot dan satunya lagi lukisan saya di tahun 2008, saya berpikir belajar /study sendiri untuk karya naturalis. (Referensinya adalah karya salah satu maestro lukis nasional) saya merubah sesuatu didalamnya agar karya ini tak dikejar sebagai plagiat (ini adalah study dan itu lumrah saja). Saya tidak akan membicarakan itu hanya sebagai ilustrasi saja.

Jadi begini, hehehh 
Mensoalkan Penari di makam sakral itu, untuk semua yang kebetulan membaca.

Apakah dimungkinkan dalam moment tertentu pada pikiran kita memahami bahwa tari adalah laku ritual, simbolisasi kesadaran yang estetis, yang mendorong sinkronitas wujud dan rasa pada kesakralan sesuatu. lalu berharap bahwa para penari itu telah merepresentasikan penghormatan diri pada kemuliaan raja, budaya dan sejarah. Andai seperti itu bukankah notabene itu adalah hasrat mayoritas Orang Mandar yang menghargai sejarah dan eksintensinya.
Para pengamat dan penggiat seni serta kritikus seni pertunjukan harus mengambil ruang untuk memposisikan ini dengan teori teori pendekatan kritik dalam seni pertunjukan.

Pada sisi lain jika para penari yang dikemudikan koreografernya itu mengaktualisasi karya itu sebagai karya yang bersifat artifisial (murni ekspresi simbolik dan estetis,.dalam artian bukan sebagai ritual kepercayaan maka niscaya akan menjadi sesuatu yang kontradiktif ketika Ia mengambil alih ruang sejarah budaya dan spiritual yang Sakral dan disakralkan serta terframe sebagai bagian identitas masyarakatnya.. Perbedaan yang bergesekan adalah sebuah keniscayaan.

Titik temu penerimaan atau persepakatan mungkin bisa hanya jika para pelaku tari itu menyadari kebebasan sebagai ketidak bebasan dalam keliaran baik sebelum dan sesudah karya itu meng-ada. Kejadian ini sudah tidak bisa di rewind lagi, Ia hanya bisa direposisi dalam persepsi dan perspektif setelah dilakukan kajian mendalam yang tentu dari beberapa elemen yang dimungkinkan peduli dan terlibat.

Sebagai individu dalam dunia seni (seni rupa) sangat menyayangkan kejadian ini. Dengan stimulan yang kuat (media cepat dan tanpa limit) mayoritas masyarakat tentu akan lebih condong berasumsi bahwa kehadiran dari karya yang di tempatkan di situs sakral itu adalah realitas dari isi pikiran yang banal, yang birahi pada popularitas dengan pilihan sensasional dan sangat kontroversial.

Kreatifitas tak terbatas dan dunia memungkinkan eksplorasi yang bebas diruang kejujuran dan kebebasan dalam konteks Seni,  tapi laku hidup sebisanya harus tetap berpihak pada sikap Sadar Ruang. Kebebasan manusia adalah kebebasan yang dibatasi manusia lainnya. Batas batas sikap adalah kunci balance dan harmoni dalam tatanan yang telah diidealkan pada masyarakat tertentu.

Ini semacam kecelakaan ekspresi, seperti aktifitas grafitti "orang orang baru" pada dinding sakral abadi dihadapan para khalayak pemiliknya 🙂. Tapi apapun problemnya jika nilai luhur budaya diimplementasikan maka kebijaksanaan adalah jawabannya. Meski demikian jika dimungkinkan buatkanlah aturan khusus aktifitas yang dibolehkan di situs itu sebagai acuan sekaligus dengan sanksi bagi pelanggarnya.

Tak semua harus berubah dan diubah ada hal hal yang sudah cukup dalam ruang identitas makro.

Buat mereka penari dan koreografernya, Selamat berkarya, pilih jalan yang pintar dan baik selagi masih berkutat dalam seni yang Gandrung  keartistikan. 

#videoviral
#penaridiatasmakam
#artscultureproblematic
#smallrespons
#RSVAletters

Kepada: Para Penari di Atas Kuburan

Oleh: Hamzah Ismail

Belakangan ini media sosial dihebohkan oleh ulah sekelompok remaja perempuan yang menari tepat di atas sebuah makam. Bukan makam sembarangan, itu adalah pusara I Manyambungi, atau yang lebih dikenal dengan Todilaling, raja pertama Kerajaan Balanipa.

Peristiwa tersebut segera memantik kegaduhan di jagad maya. Banyak warga Mandar marah, tersinggung, bahkan menganggap perbuatan itu sebagai bentuk penghinaan terhadap sejarah dan leluhur. Sepanjang ingatan kolektif masyarakat Mandar selama berabad-abad, kejadian seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Barangkali para remaja putri itu terinspirasi oleh narasi-narasi yang berkembang tentang wafatnya I Manyambungi. Dimana saat jenazah Todilaling hendak dimasukkan ke dalam liang lahat, sekelompok penari mengikuti iringan pemakamannya. Mereka menari bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai ritual pengabdian terakhir. Diceritakan bahwa para penari itu rela mati dan ikut terkubur bersama I Manyambungi, sebagai simbol kesetiaan yang tidak putus oleh kematian. 

Namun, apa yang dahulu terbingkai dalam makna ritual, kesakralan, dan ketundukan pada nilai adat, kini bergeser menjadi tontonan dalam format hiburan digital. Waktu memang terus maju, tetapi tidak semua nilai ikut bergerak seiring zaman. Ada batas-batas yang tak boleh diloncati: batas antara hormat dan abai, antara tradisi dan sensasi --viralisme.

Kadang ‘viralisme’ hadir tanpa kemampuan membedakan mana yang pantas dikonsumsi publik dan mana yang harus dijaga kesuciannya. Maka benturan antara tradisi dan sensasi sering berujung pada kegaduhan, bukan pemahaman.

Di hadapan makam seorang raja, pendiri Kerajaan Balanipa, setiap langkah seharusnya mengandung doa; setiap gerak tubuh seharusnya mengingatkan pada jasa dan keberaniannya. Sebab di sana ada lipatan sejarah, mengandung dalam rahimnya berlaksa-laksa pengetahuan dan khazanah kearifan lokal. Menghormatinya adalah jalan paling bijak. 

Kepada kelompok remaja perempuan yang terlanjur menari-nari di atasnya, kalian yang belum paham betul batas antara yang mana bisa dan yang mana tidak bisa, datanglah kembali ke puncak Napo sana. Bersimpuhlah di pusaranya. Tak perlu sibuk meminta maaf kepada mereka yang hidup. 

Datanglah lagi ke sana: Hadirkan hatimu, luruskan niatmu. Tak usah risau. Kalian tak bakal terkutuk. Sebab, dibalik pusara itu, La Puang, manusia bijak itu, dari balik pusaranya pasti Ia sungguh paham bahwa dunianya dengan duniamu kini sungguh jauh berbeda. 

Tapi setelah, itu kalian belajarlah lebih dalam lagi. Bahwa Mandar, adalah ‘lahan’ pengabdian yang tak akan pernah habis digali dan diselami. Mandar, adalah sumber inspirasi. Berkaryalah. Ambillah banyak-banyak nilai dari puncak Napo sana, internalisasikan nilai-nilai itu ke dalam setiap diri kalian. 

Menarilah terus, tapi saya ingatkan: 
Jangan lagi menari di pusara La Puang, I Manyambungi, Todilaling. Berilah rasa hormat penuh dan total kepadanya.

Karena, kalian terlanjur pernah menari-nari di puncak bukit itu, maka di kesempatan pertama, kupinta: datanglah kembali –segera- ke pusara agung itu: Minta maaflah.

Tinambung, 18/11/2025

Minggu, 16 November 2025

TODILALING || Sang Raja yang Tidurnya Dijaga Empat Banua




Penulis: Safardy Bora

Ada nama yang bila diucapkan, udara seolah menahan napasnya sebentar: Todilaling.
Di Balanipa, terutama di kampung-kampung yang masih setia pada jejak leluhur, nama itu bukan sekadar sebutan seorang raja—ia adalah gema masa lampau yang tetap memantulkan cahaya hingga sekarang.

Di masa ketika kabut turun lebih cepat daripada ayam jantan, dan punggung gunung berdiri sebagai dinding sunyi tempat para leluhur menitipkan pesan, hiduplah seorang pemimpin yang kelak menyatukan empat banua dalam satu garis takdir: I Manyambungi—Todilaling, raja pertama Balanipa.

Kisah tentang dirinya tidak hanya hidup dalam lontara. Ia berjalan dari bibir ke telinga, dari ritual ke malam-malam cerita, dari denting gendang ke detak batin yang mencari asal-usulnya. Setiap kali namanya disebut, ada sesuatu yang membuat orang menunduk—seperti ada angin yang datang membawa pesan dari abad-abad yang hilang.
---
I. Jejak Lama yang Tak Pernah Redup

1. Pemakaman yang Menahan Waktu

Orang tua Mandar menyimpan kisah tentang peristiwa paling sunyi dalam hidup Todilaling: saat ia kembali ke tanah.
Tetapi ia tidak ditinggalkan sendirian.

Empat belas sosok—dalam banyak cerita: tujuh lelaki dan tujuh perempuan—ikut “turun” bersamanya.
Tidak sebagai korban, melainkan sebagai tanda bakti;
sebagai bayangan yang menjaga tidurnya, sebagai perisai terakhir dalam perjalanan menuju alam tak bernama.

Maka, lahirlah sakralitas itu.
Todilaling tak lagi hanya raja; ia menjadi pusat kosmos kecil yang memantulkan wibawa dan misteri.

2. Gendang Yang Berjalan di Udara

Ada cerita yang tidak dicatat oleh akademisi, tetapi disimpan oleh mereka yang hatinya masih pekat oleh masa lampau.

Beberapa malam setelah penguburannya, dari arah puncak gunung terdengar bunyi lirih—mirip gendang kecil yang dipukul pelan, atau nyanyian yang tidak selesai.
Tidak jelas dari mana datangnya, tetapi cukup untuk membuat orang merapatkan sarung dan menatap gelap.

Dari sanalah keyakinan muncul: bahwa Todilaling dijaga tidak hanya oleh manusia. Ada yang lebih tinggi, lebih sunyi, lebih sulit dijelaskan—yang menutup seluruh perjalanan hidupnya dengan kesyahduan.

3. Ketika Persatuan Dirawat di Bawah Satu Nama

Todilaling adalah sosok yang membuat Appe Banua Kaiyyang bersumpah untuk hidup dalam satu payung persatuan.
Pada masa ketika persekutuan lebih rapuh daripada seutas tali nipah, kesanggupan untuk menyatukan empat banua bukan hanya kecakapan politik—melainkan semacam berkah.

Maka wajar bila masyarakat melihatnya sebagai pemimpin yang bertuah;
bukan sekadar pemegang kekuasaan, tetapi penata harmoni antara manusia dan semesta.
---
II. Gunung Lapuang  Napo: Tempat Di Mana Waktu Tidak Terlalu Cepat

Gunung Lapuang Napo masih berdiri seperti dulu—memayungi makam tua Todilaling di puncaknya. Dari sana, langit tampak lebih dekat dan udara membawa aroma tanah yang mengingat musim-musim lama.

Kini, makam itu menjadi ruang belajar, ruang hening, ruang mengenang.
Pelajar datang dengan buku catatan.
Peziarah datang dengan doa.
Pejabat datang membawa kamera dan hormat.
Komunitas budaya datang menjaga apa yang tersisa.

Tetapi gunung itu juga menyimpan cerita yang pelan-pelan mulai dilewati waktu:

Jalur Lama Para Peziarah

Dahulu, sebelum ada jalan yang layak, para peziarah berjalan dari Lamasariang → Oting - Pandebulawang →  Lapuang.

Kendaraan hanya bisa berhenti sampai Oting.
Setelah itu, jalan berubah menjadi deretan batu cadas besar yang tidak bisa dilewati roda empat.
Orang berjalan kaki, menembus tanah liat berkapur yang licin bila hujan, keras bila kemarau.

Ke makam Todilaling, orang tidak hanya datang—
mereka menempuhnya.
Dan karena ditempuh dengan susah payah, setiap langkah berubah menjadi doa.
---
III. Todilaling dalam Zaman Baru

Kini, kisah Todilaling tidak lagi hanya tinggal di gunung.
Ia turun ke panggung seni:
ditarikan, diperankan, dipentaskan—sebagai upaya generasi muda untuk menjaga agar cerita leluhur tidak hilang ditelan cahaya lampu kota.

Penelitian pun hadir, menggambarkan bagaimana masyarakat memaknai makam itu: sebagai ruang budaya, ruang religius, ruang sejarah, atau ketiganya sekaligus.
Hasilnya satu: memori kolektif tentang Todilaling hidup—meski bentuknya berubah.

Tetapi ada tantangan baru:
ketika makam menjadi bagian dari wisata, bagaimana menjaga kesakralan agar tidak larut oleh lalu-lalang manusia?

Komunitas lokal harus mampu menjawabnya dengan tenang:
merawat, bukan menjual;
membuka akses, tetapi menjaga makna.
---

IV. Makna Todilaling Hari Ini

Kesakralan Todilaling tidak lagi bergantung pada mistik.
Ia hidup dalam tiga ruang yang tetap berdenyut:

• Ruang memori
Menjadi benang merah identitas Mandar.

• Ruang ritual
Ziarah, hening, doa.

• Ruang pendidikan
Menjadi teks, penelitian, pembelajaran bagi generasi baru yang mungkin tidak lagi hafal nama gunung, tetapi tetap ingin mengenal leluhurnya.
---

Penutup

Ketika kita menyebut nama Todilaling hari ini, yang kita panggil bukan hanya seorang raja dari masa lampau.
Kita sedang memanggil sejarah yang menjaga dirinya sendiri; legenda yang tetap hidup karena diceritakan; dan identitas yang membentang dari puncak gunung di Napo hingga hati orang-orang Mandar yang terus mencari jejak asalnya.

Di sanalah sakralitas itu tinggal—
di antara batu cadas yang pernah diinjak para peziarah,
di antara kabut yang turun dari puncak,
dan di antara bisik-bisik yang menolak padam.
---


Samarinda, 17 November 2025