Selasa, 30 Juli 2024

BAKTI SEORANG SALEH BHAKTI YANG TERLUPAKAN


Catatan Muhammad Munir 

M. SALEH BHAKTI adalah satu diantara sekian guru yang terlibat dalam proses perjuangan memperebutkan kemerdekaan dari tangan Belanda. Bukti perjuangan dan baktinya pada negeri ini tak pernah dihargai kendati ia menjadi sosok yang tak pernah berhenti menebar kebaikan. Salah satu yang miris adalah SK Veteran yang harusnya ia nikmati justru datang pada saat maut merenggutnya.   
Saleh Bhakti lahir di Karama Tinambung pada tahun 1924 (data lain 1928) dari pasangan Kambaya Pua Turunni (karama – Lambanan) dan Sa’diang (Banua Padang Padang) bersama satu orang saudaranya yang bernama Mustafa. 

Saleh kecil mengenal pendidikan formalnya di SR 5 Tahun Campalagian mulai tahun 1934 dan berhasil mendapatkan ijazahnya pada tahun 1939. Selesai di SR, ia mengikuti pendidikan CVO (Cursus Volks Onderwizer) dari tahun 1939 sampai 1941. Dari CVO ia menjadi guru bantu di SR 3 Tahun di Pajalele Pinrang (1941-1944) kemudian diangkat menjadi Kepala Sekolah di SR 3 Tahun di Jampue Pinrang dan hanya bertahan satu tahun sebab ia mendengar berita bahwa Indonesia telah diproklamirkan di Jakarta pada 17 Agustus 1945. 

Sebagai seorang kepala sekolah, mendapatkan informasi perkembangan Negara pada waktu itu cukup mudah ia akses. Ia kembali ke Mandar dan bergabung dalam gerakan perjuangan yang diprakarsai oleh Riri Amin Daud, Andi Depu dan lainnya dalam Kelasykaran Kris Muda Mandar dan LAPRIS. Dari sana, ia terlibat dalam proses perjuangan secara fisik dari tahun 1945 hingga ia tertangkap pada tahun 1948 dan dipenjarakan di Ujung Pandang. Ia bebas dari penjara pada tanggal 27 Desember 1949 sebagai pejuang kemerdekaan.   

Tahun 1950, ia dirayonkan di Pinrang sebagai CTN (Cadangan Tentara Nasional). Pada tahun yang sama ia menikahi seorang gadis bernama Sitti Nahayah. Pada tahun 1951, anak pertamanya lahir, ia mulai bertugas dan tergabung dalam TKR (Tentara Keamana Rakyat) selama beberapa tahun dibawah pimpinan Hamid sampai tahun 1957. Pada saat TKR diresmikan pada tahun 1959, Saleh Bhakti kembali ke kampung halaman dan hidup sebagai warga biasa, bertani.   

Setahun kemudian, 1960 ia kembali aktif berpartisipasi membantu Panglima Operasi Kilat memulihkan keamanan di daerah Mandar dan menumpas habis Gerombolan DI/TII Kahar Maudzakkar serta mengakhiri petualangan Andi Selle pimpinan Bn. 710 dan TBO-nya. Untuk tugas ini, persenjataan disuplai dari Batalion S. Mengga di Parepare, hingga tahun 1964. Atas perannya dalam penumpasan gembong pergolakan di Mandar ini sehingga ia mendapat penghargaan dari Panglima Operasi dengan Nomor Keputusan 0140/12/1964. 

Kilat Antara tahun 1964-1965, ia disalur ke Obyek Pertanian oleh Panglima Operasi Kilat melalui Pemerintah Daerah Kabupaten Polewali Mamasa di Desa Rappang Kecamatan Wonomulyo. Tahun 1965-1966 ia kembali terlibat membantu pemerintah menumpas G30 S/PKI dengan segala ormas dan antek-anteknya. Setelah itu, ia bekerja di Perusahaan Daerah Bagian Perkebunan Kelapa di Mambu antara tahun 1966-1975.

Terhitung sejak tanggal 1 April 1975 ia dipercaya untuk menjadi pejabat Kepala Desa Suruang melalui Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Polewali Mamasa Nomor 19/ BKDH/III/1975 tertanggal 20 Maret 1975. Ia kemudian kembali terpilih sebagai Kepala Desa Suruang untuk periode keduanya berdasarkan SK No. 9/BKDH/ II/1984 tertanggal 8 Februari 1984. Ia tutup usia pada hari Kamis, 30 April 1992 masih dalam status sebagai Kepala Desa Suruang untuk periode ketiganya. 

Dalam hidupnya, ia sempat menikahi dua orang wanita masing-masing istri pertama bernama Hj. Sitti Nahaya dan Istri kedua bernama Bunga Rosi. Dari pernikahannya dengan Hj. Sitti Nahaya, ia dikaruniai 4 orang anak bernama Hasanuddin, Hasbullah, Sitti Masnah dan Sitti Nurjannah. Adapun dari Bunga Rosi ia mendapatkan tiga orang anak bernama M. Fajaruddin, M. Asikin dan Sitti Rahmah (diolah dari dokumen pribadi M. Saleh Bhakti).

Pemakaman Saleh Bhakti, 1992
Piagam Pengangkatan Saleh Bhakti sebagai Anggota Veteran

Minggu, 28 Juli 2024

CAGUB SULBAR || Apa Yang Anda Fikirkan?




Catatan Muhammad Munir

PILKADA SERENTAK 2024 diketahui bahwa Pilgub dan Pilbup akan berlangsung 27 November 2024 dan tahapannya saat ini sedang berjalan yang dilaksanakan Komisi Penyelenggara Umum (KPU) Sulbar dan KPU Kabupaten.

Sejumlah Calon Gubernur dan Wakil Gubernur serta Calon Bupati dan Wakil Bupati kian santer sosialisasi dan memburu rekomendasi partai pengusung. Untuk Pilgub Sulbar, sejumlah nama yang siap berkontestasi semakin gencar. Tercatat SDK (Suhardi Duka) mantan Bupati Mamuju 2 periode dan Anggota DPR RI dengan tanpa ragu menggandeng Mayjend (Purn. TNI) Salim S. Mengga sebagai wakilnya. Ada juga Prof. Husain Syam, Mantan Rektor UNM dua periode yang menggadang-gadang Arwan Aras, Mantan Anggota DPR RI yang juga putra HM. Aras Tammauni. Termasuk dua bersaudara dari klan Masdar juga dikabarkan akan berkontestasi di pesta 5 tahunan ini.

ABM atau Ali Baal Masdar, mantan Gubernur Sulbar (2017-2022) ini dipastikan akan maju lewat usungan Partai Gerindra, meski belum menampakkan tanda-tanda tentang siapa yang akan menjadi pasangannya. Namun hingga tulisan ini dinaikkan, "ABM pasti maju dan siap memanangkan Pilgub untuk periode keduanya sebagai Gubernur Sulbar (2024-2029)", kata salah seorang tim keluarganya kepada penulis via WA. Sementara Andi Ibrahim Masdar, mantan Bupati Polman yang dikenal lewat tagline AIM dan Sulbar Jago ini dengan percaya diri menyatakan maju berpasangan dengan H. Ramlan Badawi yang juga mantan Bupati dua periode dari Kabupaten Mamasa. Pasangan ini dikabarkan maju lewat usungan Partai Amanat Nasional, yang untuk Sulbar diketuai sendiri oleh Ramlan Badawi.

Para pengamat politik memprediksi bahwa SDK - Salim akan sangat mudah melenggang ke kursi Sulbar 01 jika ABM dan AIM benar-benar menjadi rival perebutan suara di Polman. Alasannya, karena suara di Polman dipastikan terpecah dan terbagi ke ABM, AIM, Salim dan Husain Syam. Tapi ini prediksi yang tentu sangat terbuka ruang bantahan bagi yang lain. Bagaimanapun, keberadaan seorang ABM yang notabene masih tergolong petahana tentu memiliki sejumlah strategi untuk kembali memenangi rivalnya di Pilkada 2017 yakni SDK. Kekuatan politik ABM di hampir semua wilayah kabupaten di Sulbar, masih sangat optimis bisa meraih kemenangan. Kekuatan Politik SDK di Mamuju tentu akan terpecah dengan munculnya Husain Syam-Arwan.

Tulisan ini tidak akan fokus membahas sejumlah nama dan peta kekuatan masing-masing calon yang telah menyatakan diri siap berkontestasi di Pilgub 2024. Ada hal yang lebih penting dan mendesak untuk dibincang selain masuk dalam pusaran kepentingan para kandidat. Provinsi Sulawesi Barat tahun ini tepat 20 Tahun usianya. Ditahun ini juga, Ibu Kota Negara (IKN) akan resmi pindah ke Kalimantan. Sejauh mana kita sebagai rakyat berfikir untuk membenahi Sulbar dan mempersiapkan diri menjadi bagian dari IKN yang notabene menjadi peluang dan tantangan.

Para Calon Gubernur pasti akan sangat percaya diri menyampaikan visi misinya untuk menyambut peluang itu. Tapi apakah benar mereka telah mematangkan semua konsep kebijakan yang menguntungkan rakyat Sulbar terkait keberadaan IKN?. Jurkam-jurkam kampanye Cagub pasti akan mengatup semua pikiran-pikiran kita dalam orasinya. Lihatlah Sulbar hari ini diusianya yang ke-20 tahun. Apa yang telah siap dan akan dipersiapkan untuk mengambil peluang dari IKN?. Sampai saat ini, perubahan nama belakang dari Selatan ke Barat ini saya melihat yang berbeda hanya kantor jawatan baru dengan perangkat OPD yang tentu menjadi kasur empuk bagi kepala-kepala dinas. Lahirnya Sulbar tidak dibarengi dengan perubahan pada bidang-bidang kehidupan lainnya. Termasuk infrastruktur, sarana transportasi, akses jalan, ekonomi kerakyatan, daur hidup kebudayaan, dunia literasi dan layanan publik ditengarai tidak mengalami tanda-tanda perbaikan yang signifikan.

Itu bisa dilihat dari jalur koridor-koridor ekonomi Kalukku - Kalumpang - Seko (Mamuju - Luwu), Salutambung - Urekang (Malunda - Ulumanda), Somba - Besoangin (Sendana - Tutar), Tinambung - Alu - Tutar ; Luyo - Besoangin; Lampa - Matangnga - Mehalaan - Mambi dan Matangng ke Lenggo (Polman - Mamasa); Mamasa - Toraja dan lainnya masih terkesan sama kondisinya pada 20, 30 tahun lalu. Fakta keberadaan Bandara Tampapadang Mamuju tak banyak menolong, karena orang yang mau ke Sulbar tetap merasa aman dan lancar melalui Bandara Hasanuddin Makassar. Bidang pendidikan maupun layanan kesehatan juga demikian. Kuliah di Makassar lebih trend dan diidamkan ketimbang di Mamuju, Manene dan Polewali. Berobat di rumah sakit Makassar masih menjadi pilihan akibat kurangnya peralatan dan tenaga ahli di Sulbar.

Belum lagi pelabuhan yang diharapkan belum memadai layaknya Parepare dan Makassar. Lihat juga industri kreatif dan ekonomi kerakyatan yang belum bisa menjanjikan karena tidak adanya personal garansi yang bisa menciptakan pasarnya. Lihatlah sa'be Mandar, Sekomandi dan Sambu' serta lainnya. Bidang kebudayaan juga begitu yang lebih banyak difestivalkan ketimbang ditulis dan dibukukan. Termasuk sejumlah arsip penting tentang sejarah Mandar masih yang bisanya diakses ke Makassar dan Jakarta bahkan Belanda.

Fakta-fakta yang saya sebut diatas mestinya jelas dan sebagai rakyat harus fahami itu. Para pemimpin yang telah lalu mulai dari Anwar Adnan Saleh sampai saat ini masih jauh panggang dari api. Pilkada ini harus menjadi momentum untuk kita mengukur tentang harapan kita terhadap calon Gubernur. Mereka mesti belajar banyak pada sejumlah program dan kebijakan selama 20 tahun terakhir. Belajar sebagai rakyat dan sebagai pemimpin dibutuhkan sebagai parameter untuk mengukur aplikasi motorik dan apersepsi kita bisa menerima atau tidak. Calon Gubernur kita tidak usah banyak menggurui dan menjanji. Cukup mereka belajar membuang toxic yang tdk produktif, agar ruang giga di kepalanya memiliki daya tampung yang memadai tentang apa yang mendesak hari ini dilakukan untuk Sulbar.

Adakah diantara Calon Gubernur yang siap dan telah melakukan persiapan terkakt persoalan Sulbar dari dulu sampai sekarang? Ayo tunjukkan dan panjangkan file nalar kita semua untuk mengawal pilkada ini menghasilkan pemimpin yang faham dengan kebutuhan Sullbar. 

CALONG || Sebagai Ikon Jingle dan Maskot Pilkada Polewali Mandar 2024.


By: Sahabuddin Mahganna

Instrumen bunyi yang mengindikasikan kesederhanaan para pelakunya. Perkenalan pertama pada tahun 1998 hingga memainkannya, dan yang menjadi sorotan utama sebab ketika benda itu melantun di Yogyakarta pada perhelatan musikalisasi puisi di Piramid Center 2003, para pelaku seni dan budayawan secara nasional ternyata begitu asing padanya, dan sejak itulah, saya memulai penelitian kecil di wilayah pesisir Mandar dan menggugah hasrat untuk menyelidiki secara ketat. 

Calong, sebuah nama yang melekat sesuai penyebutan populer bagi penunggu tanaman (petani) tradisional. Di Mandar, alat ini mampu mencatat sejarah karena kedekatan psikologi pelaku yang begitu menguntungkan di eranya, selain menghibur juga menjadi pengusir hama tanpa harus melenyapkan nyawa. 

Keistimewaan Calong (instrumen musik tradisional Mandar) ditunjang dengan keterlibatannya mem-bersama-i masyarakat dan berkembang-sekarang, seolah menjadi magnet baru. Tidak jarang bahwa media musik ini sudah sering tampil di perhelatan penting baik itu lokal, nasional maupun internasional, alunannya memukau, menjadi karakter tersendiri untuk pilihan kategori kebudayaan bunyi di Indonesia. 

Apapun itu, meski jenisnya bukanlah satu satunya di dunia, namun bukan berarti Calong tidak bisa bergeser dari bentuk-bentuk sebelumnya yang sudah populer dalam catatan musik tradisi, sehingga ini pulalah yang menghantarkan alunannya menjadi pembeda dan berhasil menyabet peringkat terbaik, sebut saja di festival musik tradisi anak-anak nasional di Jakarta 2009 dan 2014, menjadi duta Indonesia di Indigenous Pribumi Asli dari sembilan negara yang terkumpul  di Malaysia 2015.

Secara kolosal pun, ketika tahun 2006 dan tahun-tahun setelahnya, Calong begitu berarti pada pertunjukan penting untuk daerah, membanggakan mereka seolah-olah wilayah ini telah menemukan sebuah pembeda dan karakter meski dianggap sebuah hasil domistikasi ritmis (hibrid), dengan kata lain, meniru secara referensi. Dan pembuktian itu dilakukan pada abad-abad silam ketika paham islam belum masuk di wilayah ini. 

Kini, para juri, kurator dan KPU Polewali Mandar telah memilih ikon Calong dari hasil sayembara sebagai maskot untuk Pilkada tahun 2024. Pilihan ini bukan tanpa alasan sebab kurasi nya memang begitu panjang, hingga mengalahkan dari sekian banyak peserta. Desain maskot Calong untuk Polewali Mandar, cukup berpengaruh dalam deskripsi pilisofinya yang tercatat sebagai simbol bangsa yang harmoni, mewakili empat arah mata angin (appe sulapa) dan yang paling penting adalah Calong teridentifikasi sebagai bagian dari nilai dan sejarah. Bukan itu saja, Calong diyakini akan menjadi pembeda dari bentuk-bentuk yang sudah terpilih di Indonesia, lalu boleh jadi digunakan sebagai spirit baru yang memang benar-benar punya daya tarik sebagai bagian dari identitas wilayah. 

Selain itu, jingle yang juga merupakan hasil dari sayembara, pemenangnya telah dipilih sebab mampu melewati dari persaingan ketat, memenuhi syarat inti yang dilayangkan oleh panitia dengan relevansi tema, originalisasi  karya, unsur musikal karakter wilayah, dan kemampuan mengolah bunyi yang harmoni, tentu saja dari lirik yang sangat mengajak kepada semua pihak untuk berpartisipasi dalam pemilihan bupati dan wakil Polewali Mandar 2024.

Penentuan jingle ini secara keseluruhan telah ditentukan dengan pertimbangan yang matang dan obyektivitas nya yakin tidak diragukan tanpa ada tekanan dan intervensi dari pihak manapun. Diharapkan mampu membuat masyarakat tergugah dalam memilih pasangan yang betul betul dari hati, sebab antara Maskot dan Jingle telah memadu dan siap untuk diluncurkan. 

Akhirnya selamat kepada pemenang, Ahmad Ridhai Asis (Maskot) dan Aksi Madewa (Jingle) berkarya lah terus demi kemajuan daerah.


Sabtu, 27 Juli 2024

KANDIDAT BUPATI POLMAN || Tak Boleh Ada Yang Merasa Lebih Mandar !

Catatan: Admin 

Salah seorang member sebuah WAG mengirim link tulisan berjudul "Bebas Manggazali Mahir Berbahasa Mandar Calon Bupati Polman yang Ori" Penulisnya bernama Andi Jalil Maulana yang mengatasnamakan Forum Masyarakat Mandar. Tulisan tersebut dirilis oleh tribunnews.com (27/07/2024). Sipengirim melabeli situs berita tersebut dengan catatan singkat "'Tulisan ini sudah mengarah ke politik identitas yang tidak sehat". 

Praktis muncul beberapa tanggapan yang beragam. Salah satunya menyesalkan pihak media yang menaikkan tulisan tersebut. "Seharusnya pihak media dalam hal ini redaktur memilah berita atau tulisan yang harus dimuat, apalagi media sekelas Tribun" tulisnya. Diskusi kemudian berkembang sebab ada penanggap yang memberi komentar:  "Bahaya ini , sudah termasuk politik identitas yang negatif". Bahkan Isi berita ini bisa jadi alasan melakukan somasi ke pihak media. Ini bukan soal pilihan politik tapi soal etika dalam pemberitaan". Tulis anggota grup yang lain. 
Diskusi kemudian seru sebab seorang member lainnya ikut nimbrung menulis komentar panjang: Pakar sosiologi Islam, Ibnu Khaldun , menyebutkan, POLITIK dan IDENTITAS merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dia akan terus berkelindan dari mulai kehidupan umat manusia sampai dengan berakhirnya dunia. 
Sementara Samuel P. Hungtington, lanjutnya, dalam bukunya Benturan Antar Peradaban menyatakan, transformasi pola konflik di politik domestik dari konflik yang bersumber pada ideologi menjadi konflik yang berbasiskan identitas. Bila melihat kondisi hari ini, tak ada ruang pertarungan ideologi, yang paling memungkinkan hanyalah pertarungan politik identitas, dimana masyarakatnya memperjelas posisi "kita" dan "mereka" dalam tema kultural, seperti kesamaan bahasa, sejarah, dan kebiasaan.

Sampai disini saya mulai berfikir, bahwa betapa bangganya penulis (baca: Andi Jalil Maulana) jika tulisannya ditanggapi secara serius. Mengingat tulisannya hanya menang di judul dan foto yang dipasang oleh pihak tribun. Itupun menangnya pada propokasi yang saya anggap murahan. Betapa tidak, tampilan situs terlihat pada foto menyasar Dirga tapi kontennya menyasar Aji Assul yang notabene eksportir kakao.  Tribun seakan menyuarakan perang dari Bebas terbuka ke Dirga yang dianggap bukan orang Mandar. Disini keteledoran media Tribun. Pemberitaan ini bertendensi pada politik identitas yang tidak sehat dan bisa merusak tatanan demokrasi dan kehidupan sosial masyarakat Mandar.

Andi Jalil Maulana dengan tanpa beban mengatasnamakan Forum Masyarakat Mandar, tapi tak faham bahwa yang dilakukannya adalah politik identitas yang mengarah pada pengrusakan tatanan demokrasi dan sosial. Dari judul hingga isi berita jelas sudah mengarah ke sana. Alasan Bebas Manggazali Mahir berbahasa Mandar lalu dianggap calon bupati yang ori. Sungguh ini adalah fragmen ketidakfahaman penulisnya terhadap konten Amandaran dan Atauang. Saya tidak bisa bayangkan jika penulisnya memberi judul Hanya Bebas yang Ori, yang lain KW (KaWe). Sejak kapan pemahaman bahasa menjadi satu-satunya penguat status seseorang? Sejak kapan Bebas Manggazali dianggap Mahir berbahasa Mandar? Kalau tau bahasa Mandar mungkin iya, tapi jika dianggap mahir, mesti diuji dulu. Intinya, jangan ada kandidat yang merasa lebih Mandar dari yang lainnya. 

Kepada Abd. Jalil Maulana, Mandar itu nilai, nilai itu angga', angga' itu adalah siri' anna lokko'. "Mua' diang anu kadzae' papattengngi diolo', messisi' ai tama anu macoa". Ingat, di Polewali Mandar ini ada Jawa, Bugis, Toraja, Makassar, Pattae', Pattinjo, Pannei, Pakkado' Pa'denri, Pakkone'e dan lainnya. Jika dalam fikiranmu Mandar adalah bahasa, maka berhati-hatilah Ber-Mandar, jangan sampai Mandarmu menjadi bara bagimu.

Sabtu, 20 Juli 2024

DAENG TOMPO || Pemilik Lahan Pertanian Ondernemen Maloso

Catatan Muhammad Munir


Pada sebagian wilayah Desa Baru' dan Desa Botto dari arah Jembatan Mapilli ke Katumbangan nama Daeng Tompo adalah nama yang familiar pada petani pemilik SPPT Persil (sekian-sekian). Demikian juga di Desa Bonne-Bonne dan Segerang. Sosok Daeng Tompo adalah Pemilik atas ratusan hektar lahan pertanian dan perkebunan yang dikembangkan mulai tahun 1928. 

Kawasan tanah DAS Maloso Bonne-Bonne, Segerang, Baru dan Botto ini adalah lahan Ondernemen Belanda untuk kontrak 100 tahun, dimulai tahun 1883-1983). Dari tanah-tanah inilah seorang bangsawan dan ulama Bugis  datang  ke tanah Mandar pada tahun 1928 mengakuisisi lahan bekas tanah ondernemen maloso dari Belanda di Mapilli.  

Luasnya sekitar seluas 500 hektar. Lahan ini dibuka sebagai kawasan pertanian dan perkebunan dengan mempekerjakan orang orang Bugis dan Toraja, termasuk sebagian orang Mandar. Itulah makanya di Desa Segerang terdapat nama Dusun Taraujung (pemukiman Toraja), Sumael (Pemukiman Mandar) dan Padang (Pemukiman Bugis) sementara Segerang sendiri menjadi pusat perkampungan bagi siapa saja dari keluarga penggarap. 

Sebagai ahli agama, Daeng Tompo membangun sebuah Masjid yang tepat berada di pertigaan ke Padang, sampai sekarang masjid itu masih berdiri kokoh. Ba jihkan konon, menurut Arajang Binuang Lamattulada nama Segerang adalan pemberian dari Daeng Tompo. Itulah makanya, masyarakat  mengabadikan namanya dengan nama Jalan DAENG TOMPO yang menghubungkan antara Desa segerang, Desa Rumpa Kecamatan Mapilli.