Kamis, 26 Juni 2025

Hj. Indrayanah Syamsul (BUNDA LITERASI POLEWALI MANDAR)


Selamat dan sukses kepada Ibu Hj. Indrayanah Samsul atas pengangkatannya sebagai Bunda Literasi Polewali Mandar! Semoga dengan peran barunya ini, beliau dapat meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat, terutama bagi generasi muda dan anak-anak, di daerah Polewali Mandar.

Literasi yang baik dapat membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencapai tujuan mereka. Dengan demikian, kita dapat berharap bahwa Polewali Mandar akan menjadi daerah yang lebih maju dan berdaya saing serta  Polewali Mandar akan melahirkan generasi emas yang dapat membawa daerah ini menjadi lebih maju dan sejahtera di masa depan.

Dengan hadirnya Hj. Indrayanah Samsul sebagai Bunda Literasi di Polewali Mandar, diharapkan masyarakat dapat termotivasi untuk meningkatkan minat baca dan literasi, sehingga tercipta generasi yang lebih cerdas, berwawasan luas, dan berdaya saing tinggi.

Dengan semangat dan dedikasinya, Hj. Indrayanah Samsul dapat menjadi role model yang baik bagi masyarakat Polewali Mandar dalam meningkatkan kesadaran dan minat literasi. Beliau dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka melalui literasi.
 
Kita dapat berharap bahwa Hj. Indrayanah Samsul akan membawa dampak positif bagi masyarakat Polewali Mandar dalam membantu menciptakan masyarakat, generasi muda dan anak-anak  yang lebih cerdas dan berwawasan luas.

Pengangkatan Hj. Indrayanah Samsul sebagai Bunda Literasi memang mencerminkan harapan besar bagi masyarakat Polewali Mandar. Dengan peran ini, diharapkan beliau dapat membawa perubahan positif dalam meningkatkan kesadaran dan minat literasi di kalangan masyarakat, generasi muda dan anak-anak.

Harapan besar dari masyarakat ada di pundak Hj. Indrayanah Samsul tentunya akan termotivasi untuk terus berkarya, berinovasi, dan berdedikasi tinggi dalam meningkatkan literasi di Polewali Mandar. Semoga dengan semangat dan dedikasinya, beliau dapat membawa dampak positif yang signifikan dalam menciptakan masyarakat, generasi muda dan anak-anak  yang mempunyai  kemampuan literasi yang baik.

Karena dengan kemampuan literasi yang baik sangat penting bagi masyarakat, generasi muda dan anak-anak untuk meningkatkan kualitas hidup, berpikir kritis, dan bersaing di era global. Dengan literasi yang baik, mereka dapat memahami informasi, menganalisis, dan membuat keputusan yang tepat. Selain itu, literasi yang baik juga dapat membantu meningkatkan kesadaran, kreativitas dan inovasi.

Penulis : Almadar Fattah

TENNISBALL & PICKLEBALL || Punya Penggemar Karaktristik Yang Unik

Oleh : Almadar Fattah 

Kehadiran olahraga pickleball memang menarik perhatian banyak orang, namun tidak akan pernah penyamai kehebatan dan kepopuleran oleharaga tennisball. Kedua olahraga memiliki ini penggemar dan karakteristik yang unik, sehingga keduanya dapat hidup berdampingan dan menawarkan pilihan yang beragam bagi pecinta olahraga. Tennisball tetap menjadi olahraga yang populer dan memiliki basis penggemar yang kuat, sementara pickleball menawarkan alternatif yang menyenangkan dan mudah diakses oleh banyak orang.

Olahraga tennisball memang memiliki sejarah yang panjang dan kaya, serta telah berkembang seiring dengan olahraga lainnya. Oleh karena itu, penting untuk terus menjaga dan mempromosikan olahraga tennisball agar tetap relevan dan menarik bagi generasi baru. Sehingga  tennisball dapat terus menjadi bagian dari warisan olahraga yang berharga dan dinikmati oleh banyak orang.

Tennisball  memang olahraga populer yang memiliki penggemar setia di seluruh dunia. Banyak atlet tennisball profesional yang telah menjadikan olahraga ini sebagai sumber kehidupan dan mencapai kesuksesan besar. Selain itu, tennisball juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan, dengan turnamen-turnamen besar seperti Grand Slam yang menarik perhatian jutaan orang dan menghasilkan pendapatan yang besar. Oleh karena itu, tennisball bukan hanya sekedar olahraga, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan sosial yang penting.

Sedangkan Pickleball memang olahraga yang relatif baru dan masih dalam proses pengembangan. Dibutuhkan waktu dan upaya untuk memperkenalkan dan mempromosikan olahraga ini kepada masyarakat luas. Namun, dengan dukungan dan antusiasme dari penggemar, pickleball dapat terus berkembang dan menjadi olahraga yang populer di masa depan. Proses adaptasi memang memerlukan waktu, tapi dengan kesabaran dan kerja keras, pickleball dapat mencapai kesuksesan yang diharapkan.

Pickleball olahraga yang menyenangkan dan mudah diakses oleh banyak orang. Dengan perpaduan antara tennisball, bulu tangkis, dan pingpong, pickleball menawarkan pengalaman bermain yang unik dan menarik. Banyak orang menikmati pickleball karena kemudahan aturan dan kecepatan permainan yang tidak terlalu tinggi, membuatnya cocok untuk berbagai usia dan tingkat keterampilan.

Perbandingan yang menarik, Pickleball memang memiliki kesamaan dengan bulu tangkis dalam hal popularitas dan penggemar, sedangkan tennisball memang memiliki daya tarik yang kuat dengan hadiah yang besar dan penonton yang banyak. Tennisball memiliki sejarah yang panjang dan prestise yang tinggi, sehingga banyak orang tertarik untuk menonton dan berpartisipasi dalam olahraga ini. Hadiah yang besar juga menjadi salah satu faktor yang membuat tennisball begitu populer di kalangan penggemar olahraga.

Tennisball memang salah satu olahraga tertua yang memiliki sejarah panjang dan telah menjadi olahraga global dengan penggemar yang banyak. Sementara itu, pickleball masih merupakan olahraga yang relatif baru dan masih dalam proses pengembangan di beberapa negara. 

Kehadiran pickleball sama dengan futsal,  memang memiliki penggemar yang loyal, tapi mungkin masih sulit untuk menyamai jumlah penggemar tennisball dan sepakbola yang sudah memiliki basis penggemar yang sangat besar dan luas. Itulah olehraga, masing-masing olahraga memiliki penggemar dan karakteristik yang unik.

Tennisball dan pickleball dapat hidup berdampingan dan saling melengkapi, tanpa harus ada yang dirugikan. Kedua olahraga memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri, sehingga dapat menawarkan pilihan yang beragam bagi penggemar olahraga. Semoga Tennisball dan pickleball dapat sama-sama berkembang dan dinikmati oleh banyak orang, tanpa harus bersaing secara tidak sehat. Saling menghormati dan mendukung, itulah kunci untuk kedua olahraga dapat bersanding dengan baik. Terima kasih dan Salam Olahraga.

KALINDAQDAQ || Sarana Promosi Dalam Pembangunan

KALINDAQDA LESTARI
TERJAGA BUDAYA MANDAR

Oleh : Almadar Fattah 

Kalindaqda adalah salah satu  karya sastra tertua dalam bentuk syair atau puisi yang sangat kaya dan bersejarah dalam budaya Mandar. Kalindaqda memang memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Mandar, dan merupakan bagian penting dari warisan sastra dan budaya Mandar. Karya sastra seperti Kalindaqda dapat membantu melestarikan bahasa, tradisi, dan nilai-nilai budaya Mandar, serta memberikan wawasan tentang sejarah dan kehidupan masyarakat Mandar.

Kalindaqda memang masih sangat hidup dan digemari oleh masyarakat Mandar hingga saat ini. Karya sastra ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan budaya orang Mandar, dan terus dipertahankan serta dilestarikan oleh generasi-generasi berikutnya. Ini menunjukkan betapa kuatnya akar budaya dan tradisi lisan dalam masyarakat Mandar, dan bagaimana Kalindaqda terus menjadi sumber inspirasi dan identitas bagi masyarakat Mandar.

Kalindaqda memang menjadi sarana yang efektif untuk menggambarkan berbagai aspek kehidupan, termasuk suka dan duka. Dengan menggunakan bahasa yang indah dan metaforis, Kalindaqda dapat mengungkapkan perasaan dan pengalaman manusia dengan cara yang mendalam dan menyentuh hati. Ini membuat Kalindaqda menjadi lebih dari sekadar karya sastra, tapi juga menjadi cerminan kehidupan dan emosi masyarakat Mandar.

Kalindaqda memang sangat penting untuk dilestarikan dan diperhatikan oleh pemerintah, karena karya sastra ini merupakan bagian tak ternilai dari warisan budaya masyarakat Mandar. Dengan melestarikan Kalindaqda, kita dapat memperkaya khasanah kebudayaan Indonesia dan mempromosikan keunikan budaya Mandar kepada dunia. Pemerintah dapat berperan dalam melestarikan Kalindaqda melalui berbagai upaya, seperti dokumentasi, penelitian, dan promosi, sehingga karya sastra tertua ini dapat terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Bahkan warisan budaya yang unik ini, Kalindaqda dapat dijadikan sebagai sarana promosi atau publikasi yang efektif untuk membantu pemerintah dalam pembangunan, jika digagas dengan baik dan bijak. Dengan menggunakan bahasa dan struktur syair atau puisi yang khas, Kalindaqda dapat menyampaikan pesan-pesan pembangunan yang lebih menarik dan mudah diingat oleh masyarakat. Selain itu, Kalindaqda juga dapat menjadi sarana untuk mempromosikan nilai-nilai dan kearifan lokal yang sejalan dengan tujuan pembangunan. Sehingga Kalindaqda dapat menjadi alat yang powerful untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Dengan menggunakan pendekatan dan sentuhan budaya lewat Kalindaqda, masyarakat dapat lebih mudah memahami dan menerima pesan-pesan pembangunan. Kalindaqda sebagai bagian dari budaya lokal dapat menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, karena masyarakat dapat lebih mudah mengidentifikasi diri dengan nilai-nilai dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Semoga dengan sentuhan pesan-pesan sosial Kalindaqda, pembangunan dapat lebih berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dilihat dari segi funsinya Kalindaqda, sudah saatnya pemerintah mengembalikan Kalindaqda ke akar budaya Mandar dan sangat penting untuk melestarikan kearifan lokal yang berharga ini. Pemerintah memiliki peran penting dalam memperkenalkan dan melestarikan Kalindaqda melalui satuan pendidikan, sehingga generasi muda dapat memahami dan menghargai nilai-nilai luhur budaya Mandar yang satu ini. Sehingga Kalindaqda dapat terus hidup dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Mandar. Selain itu, pelestarian Kalindaqda juga dapat membantu meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kekayaan budaya lokal.

Kalindaqda memiliki ciri khas yang unik dalam bentuk dan isinya, yang mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Mandar. Ciri khas ini dapat berupa penggunaan bahasa yang khas, struktur puisi yang unik, atau tema-tema yang spesifik yang terkait dengan kehidupan dan nilai-nilai masyarakat Mandar. Untuk itu, Kalindaqda menjadi salah satu identitas budaya Mandar yang sangat berharga.
Ikatan-ikatan dalam Kalindaqda dapat berupa:
1. Irama dan ritme yang khas
2. Penggunaan bahasa yang metaforis dan simbolis
3. Struktur puisi yang unik dan terstruktur
4. Tema-tema yang terkait dengan kehidupan sehari-hari, mitos, dan nilai-nilai budaya Mandar
5. Penggunaan kata-kata yang memiliki makna ganda dan kaya akan simbolisme
Dengan ikatan-ikatan tersebut, Kalindaqda menjadi lebih indah, bermakna, dan dapat menyampaikan pesan-pesan yang mendalam kepada pendengar atau pembaca.

Kalindaqdaq  terdiri dari sejumlah bait.setiap bait terdiri atas empat larik dengan perbandingan jumlah suku kata yang tetap, yaitu :
a. Larik pertama terdiri atas delapan suku kata
b. Larik kedua terdiri atas tujuh suku kata
c. Larik ketiga terdiri atas lima suku kata,dan
d. Larik keempat terdiri atas tujuh suku kata
Contoh:
Sulo apa dipesulo(8 suku kata)
Engeang di kuqburta(7 Suku kata)
Anna mabaya(5 suku kata)
Lao dipeppoloi(7 suku Kata)
Artinya
Suluh apa digunakan
Saat sudah di dalam kubur
Supaya terang
Kita datang kesana

Lirik di atas merupakan contoh dari Kalindaqda, dengan bahasa dan struktur yang khas. Kalindaqda memang sering menggunakan bahasa yang metaforis dan simbolis, sehingga dapat memiliki makna yang dalam dan kompleks.

Kalindaqda memang menjadi sarana yang efektif bagi masyarakat Mandar untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka. Dalam bentuk syair, puisi atau pantun, Kalindaqda dapat menyampaikan pesan-pesan yang mendalam dan emosional dengan cara yang indah dan bermakna. Ini menunjukkan betapa pentingnya Kalindaqda dalam kehidupan masyarakat Mandar sebagai alat untuk berkomunikasi dan mengungkapkan diri.

Kalindaqda memang memiliki akar etimologi yang menarik, yaitu dari kata "kali" dan "daqda" yang bermakna mencurahkan isi hati. Ini menunjukkan bahwa Kalindaqda memang digunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran yang mendalam, serta mencurahkan isi hati dengan cara yang indah dan bermakna. Etimologi ini juga memberikan wawasan tentang makna dan tujuan Kalindaqda dalam budaya Mandar.

Dapat disimpulkan bahwa Kalindaqda memang merupakan salah satu jenis syair atau puisi tradisional yang unik dan khas dalam masyarakat Mandar. Syair atau puisi ini memiliki ciri khas dan struktur yang khusus, serta digunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran dengan cara yang indah dan bermakna. Kalindaqda merupakan bagian penting dari warisan budaya Mandar yang perlu dilestarikan dan dipromosikan.

Kalindaqda biasanya dibawakan secara bersama-sama oleh beberapa orang, sehingga menjadi semacam pertunjukan atau ritual budaya yang melibatkan komunitas. Ini menunjukkan bahwa Kalindaqda tidak hanya sekadar bentuk syair atau puisi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan komunal yang kuat dalam masyarakat Mandar.

Kalindaqda yang dibawakan secara berbalas-balasan memungkinkan para peserta untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka tentang hidup dan kehidupan masyarakat secara interaktif dan dinamis. Ini menciptakan dialog yang kaya dan mendalam, serta memperkuat ikatan sosial dan budaya dalam masyarakat Mandar. Dengan cara ini, Kalindaqda menjadi sarana yang efektif untuk berbagi pengalaman, nilai-nilai, dan perspektif dalam komunitas.

Kalindaq merupakan salah satu karya sastra tertua yang lahir dan tumbuh di masyarakat Mandar, sehingga perlu dijaga dan dilestarikan kembali. Dengan melestarikan Kalindaq, kita dapat memahami nilai-nilai dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya, serta memperkaya khazanah sastra dan budaya Indonesia. Oleh karena itu, upaya pelestarian Kalindaq perlu dilakukan secara serius dan berkelanjutan, sehingga generasi mendatang dapat terus menikmati dan menghargai kekayaan budaya ini.

"Lestari Kalindaqda, Terjaga Budayaku" Melestarikan Kalindaqda, kita dapat menjaga dan melestarikan budaya Mandar yang kaya dan beragam. Semoga semangat pelestarian budaya ini dapat terus menyala dan menginspirasi generasi-generasi mendatang untuk terus menghargai dan melestarikan warisan budaya yang berharga ini.

(Penikmat sastra & Aktif Menulis Berbagai Media Di Makassar Tahun 90an)

Rabu, 25 Juni 2025

Kerajaan-Kerajaan di Mandar: Sejarah, Struktur Kekuasaan, dan Problematika Historisnya


Assalamualaikum, tawe to malabi'u para salama' lino akhera. Saya mengutip  beberapa buku yang barangkali  bisa menjadi dasar dasar materi diskusi. Saya bnyk mengamati beberapa hari ini, di group ini ada bnyk intelektual Mandar  yang memahami  mandar tempo dulu khususnya di kerajaan Sendana. Mua salah i dipaparuangana, mua kurangi ditambah i. I ami hanya bersifat menampilkan materi diskusi.
Tawe semoga diang gunagunanna🙏🙏🙏

 *Kerajaan-Kerajaan di Mandar: Sejarah, Struktur Kekuasaan, dan Problematika Historisnya* 

Kerajaan di Nusantara, termasuk di tanah Mandar (Sulawesi Barat), adalah bentuk awal dari organisasi politik tradisional yang berfungsi sebagai pusat kekuasaan, hukum, budaya, dan spiritual masyarakat. Di Mandar sendiri, sistem kerajaan telah ada sejak abad ke-14 hingga awal abad ke-20, ditandai dengan keberadaan dua konfederasi kerajaan besar, yaitu Pitu Ba’ba’na Binanga (tujuh kerajaan pesisir) dan Pitu Ulunna Salu (tujuh kerajaan pegunungan).

Kerajaan-kerajaan ini dipimpin oleh seorang Mara’dia (raja atau sultan), yang kekuasaannya dijalankan bersama sejumlah pejabat adat yang memiliki peran struktural dalam pemerintahan.


---

Struktur Kekuasaan dalam Kerajaan di Mandar

Struktur kekuasaan kerajaan di Mandar mencerminkan sistem yang kolektif dan berakar pada adat istiadat. Berikut nama-nama jabatan utama di sekitar Mara’dia dan fungsinya:

Nama Jabatan Lokal Fungsi Pokok

Mara’dia Raja/Sultan Pemimpin tertinggi kerajaan
Tomakaka Kepala Distrik/Daerah Pemimpin wilayah adat di bawah kerajaan
Pappuangang Dewan Hadat Penasehat utama raja, pengawal adat
Sumangkaran Juru Bicara Kerajaan Penyampai titah dan kebijakan raja
Pa’bicara Menteri Urusan Hukum Menangani urusan pengadilan dan diplomasi
Pasusuang Kepala Pengawal Kerajaan Menjaga simbol dan pusaka kerajaan
Patuanang Panglima Perang Pemimpin militer kerajaan
To Salama’ Ulama Kerajaan Penasehat spiritual setelah Islam masuk


Struktur ini mencerminkan bahwa kekuasaan dalam kerajaan Mandar tidak absolut, melainkan dikontrol oleh norma-norma adat melalui lembaga hadat (Pappuangang), menjadikannya sebagai sistem proto-demokrasi dalam bentuk lokal.


---

Kapan Kerajaan Mandar Muncul dan Kapan Berakhir?

Kerajaan-kerajaan Mandar mulai berkembang sejak abad ke-14, bersamaan dengan dinamika perdagangan dan Islamisasi pesisir Sulawesi Barat. Masa kejayaannya berlangsung hingga awal abad ke-19. Kemudian secara perlahan-lahan otoritas kerajaan mulai digantikan oleh pemerintahan kolonial Belanda.

Secara de jure, masa kerajaan di Mandar berakhir pada awal abad ke-20, saat pemerintah kolonial menerapkan sistem kontroleur dan kepala distrik yang menggantikan peran Mara’dia dan struktur adat.


---

Mengapa Tidak Ada Istana yang Tersisa?

Beberapa faktor menyebabkan tidak adanya peninggalan istana fisik di Mandar:

1. Material bangunan tradisional: Istana umumnya berbahan kayu, tidak tahan cuaca dan waktu.


2. Perang dan perpindahan kekuasaan: Banyak istana dirusak akibat konflik atau ditinggalkan karena pergolakan politik.


3. Kurangnya upaya pelestarian: Tidak ada dokumentasi sistematis atau pelestarian dari masa kolonial hingga kemerdekaan.


---

Mengapa Dokumen Sejarahnya Minim?

1. Tradisi lisan lebih dominan daripada tulisan di kalangan masyarakat Mandar.


2. Bahasa tulis terbatas, karena aksara Lontaraq tidak digunakan secara luas di Mandar seperti di Bugis-Makassar.


3. Sejarah ditulis dari perspektif kolonial, sehingga banyak sejarah lokal diabaikan atau disesuaikan dengan kepentingan Belanda.


---

Apakah Kerajaan Sama dengan Negara?

Kerajaan Mandar bukan negara dalam pengertian modern (dengan sistem hukum tertulis, konstitusi, dan pengakuan internasional), namun dapat disebut sebagai proto-negara, karena memiliki struktur kekuasaan, wilayah, hukum adat, dan otoritas politik yang diakui rakyatnya.


---

Pengaruh Belanda terhadap Kerajaan di Mandar

1. Melemahkan otoritas adat dengan mengangkat pejabat kolonial sebagai pengganti Mara’dia.


2. Intervensi politik dan ekonomi, terutama melalui monopoli dagang dan pajak.


3. Politik pecah-belah antar kerajaan untuk melemahkan solidaritas regional.




---

DAFTAR PUSTAKA

1. Patunru, Abdurrazak Daeng. Sejarah Mandar. Ujung Pandang: CV. Sinar Harapan, 1970.


2. Rahman, Nurhayati. Tradisi Lisan Mandar. Makassar: Hasanuddin University Press, 2004.


3. Lopa, Baharuddin. Filsafat dan Hukum Adat Mandar. Mamuju: STAIN Majene Press, 2012.


4. Snouck Hurgronje, C. Verslag over de Westkust van Celebes, Koloniaal Verslag, 1908.


5. Pelras, Christian. The Bugis. Oxford: Blackwell Publishing, 1996.


6. Reid, Anthony. Southeast Asia in the Age of Commerce 1450–1680. Yale University Press, 1988.


7. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kamus Istilah Adat Sulawesi Selatan-Barat. Jakarta: Kemendikbud, 2005.

DEKONSTEUKSI KRISIS BUDAYA MANDAR


Dekonstruksi Krisis Budaya Mandar dalam Generasi Muda sebagai Basis Pembentukan Sistem Hukum Adat dan Pendidikan Karakter

By Safardy Bora 

Fenomena semakin lunturnya nilai-nilai budaya Mandar di kalangan anak muda merupakan gejala serius dari dislokasi identitas budaya. Untuk menjawabnya secara sistematis, perlu pendekatan multidimensi.

Identifikasi Masalah:

1. Sekolah
Kurikulum nasional cenderung menggeneralisasi nilai karakter tanpa memberi ruang cukup bagi kearifan lokal. Nilai-nilai budaya  belum terintegrasi dalam pola pembelajaran.


2. Orang Tua
Modernisasi dan tekanan ekonomi membuat banyak orang tua kehilangan waktu dan energi untuk mewariskan nilai budaya. Pola asuh bergeser dari nilai-nilai luhur ke pendekatan pragmatis.


3. Lingkungan Sosial
Komunitas sebagai benteng budaya tak lagi menjadi ruang pembiasaan nilai lokal. Media sosial, budaya populer, dan lingkungan perkotaan menggusur kebiasaan lokal yang dulunya hidup dalam permainan tradisional, ritual adat, dan interaksi sosial.

Analisis Akar Masalah (Root-Cause Analysis):

Dekulturasi akibat globalisasi yang tidak diimbangi revitalisasi budaya lokal.

Ketiadaan sistem hukum adat yang mampu menginternalisasi nilai-nilai seperti matturang loa dan mitawe dalam kehidupan sosial dan kelembagaan modern.

Tidak adanya regulasi lokal (perda atau kebijakan sekolah) yang mewajibkan pendidikan karakter berbasis etika lokal Mandar.


Rekomendasi:

1. Pembentukan Sistem Hukum Adat Berbasis Pendidikan Karakter Lokal
Pemerintah daerah dapat merumuskan Perda Perlindungan Nilai Budaya Mandar, yang menjadi dasar integrasi budaya dalam pendidikan dan pembangunan karakter.


2. Reformulasi Kurikulum Sekolah
Sekolah di wilayah Mandar perlu menyusun muatan lokal wajib yang mengajarkan nilai andian naissan, dikontekstualisasikan melalui metode bercerita, bermain, dan praktik sosial.


3. Penguatan Peran Komunitas dan Tokoh Adat
Komunitas lokal perlu difasilitasi untuk kembali menjadi ruang paissangang budaya, dengan revitalisasi ritual adat, bahasa ibu, dan etika sosial secara rutin.

Penutup: 
Yang efektif bukan hanya memetakan masalah, tapi mampu menggali akar sosiokulturalnya dan menjadikannya dasar penyusunan sistem sosial, hukum, dan pendidikan yang membumi. Nilai-nilai luhur Mandar bukan untuk dikenang, tapi untuk dihidupkan kembali dalam sistem yang konkret, adaptif, dan relevan bagi generasi sekarang.

Tawe, semoga bermanfaat 🙏🙏🙏

Selasa, 24 Juni 2025

Mengenang Sang Maestro Husni Djamaluddin



WARISAN SASTRAMU TETAP 
ABADI DALAM HATI
Oleh : Almadar Fattah 

Ingat to mala’biqta Husni Djamaluddin, putra terbaik Mandar yang berjiwa besar, jurnalis ulung, penyair handal, dan aktivis politik yang gigih. Lahir  di Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat pada tanggal 10 November 1934  dan wafat pada tanggal 24 Oktober 2004, dengan semangat dan idealisme, beliau mengabdikan dirinya untuk kebenaran dan keadilan.

Dengan pena yang tajam dan kata-kata yang bijak, beliau menuliskan sejarah dan menginspirasi banyak orang. Aktivitas politiknya penuh dengan keberanian dan keteguhan berjuang untuk hak-hak rakyat dan keadilan sosial.

Walaupun beliau telah pergi untuk selama-lamanya, warisan dan semangatnya tetap hidup dalam hati kita. Mari kita kenang dan hargai kontribusi beliau, Sebagai jurnalis, penyair, dan aktivis politik yang tak kenal lelah.

Husni Djamaluddin merupakan salah satu sastrawan Indonesia yang telah memberikan kontribusi dalam dunia sastra Indonesia. Meskipun mungkin tidak terlalu banyak dibicarakan lagi, karya-karyanya tetap memiliki nilai sastra yang tinggi dan dapat menjadi inspirasi bagi generasi sastrawan muda.

Kontribusi Husni Djamaluddin dalam dunia sastra Indonesia dapat dilihat dari karya-karyanya yang mencerminkan kehidupan sosial, budaya, dan politik pada masanya. Ia juga dapat menjadi contoh bagi sastrawan lain untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi dalam dunia sastra.

Husni Djamaluddin memang sastrawan yang memiliki reputasi dan pengaruh luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dengan wawasan yang luas dan komprehensif, beliau dapat menghasilkan karya-karya yang berkualitas dan memiliki dampak signifikan dalam dunia sastra.

Sifat-sifat seperti berani,jujur,sederhana, tegas, dan bijak tercermin dalam karya-karyanya dan kepribadian Husni Djamaluddin sebagai sastrawan. Beliau dapat menjadi contoh bagi generasi sastrawan muda untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi dalam dunia sastra.

Husni Djamaluddin sebagai sosok penyair nasional yang berpengaruh, telah banyak memberikan inspirasi dan motivasi bagi penyair muda progresif pada tahun 1980-1990an. Dengan karya-karya dan kepribadiannya, beliau menjadi  teladan bagi generasi sastrawan muda untuk terus berkarya dan mengembangkan bakatnya.

Husni Djamaluddin memiliki peran penting dalam membentuk dan mempengaruhi perkembangan sastra Indonesia pada masa itu, dan warisannya masih dapat dirasakan hingga saat ini.

Husni Djamaluddin memang dikenal sebagai penyair nasional dan memiliki julukan "Panglima Puisi" di Sulawesi Selatan. Julukan ini menunjukkan bahwa beliau memiliki pengaruh dan reputasi yang kuat dalam dunia sastra, khususnya di Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur.

Sebagai Panglima Puisi, Husni Djamaluddin telah memainkan peran penting dalam mengembangkan dan mempromosikan sastra di Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur, serta menginspirasi generasi sastrawan muda untuk terus berkarya.

Karya-karya Husni Djamaluddin yang masih tersimpan rapi dalam hati para sastrawan dan penikmat sastra, adalah :
1. Puisi Akhir Tahun (1969)
2. Obsesi (1970)
3. Kau dan Aku (1974)
4. Sajak-sajak dari Makassar (1974)
5. Toraja (1979)
6. Bulan Luka Parah (1986)
7. Berenang-renang ke Tepian
8. Antologi Puisi ASEAN Buku III (1978)
Karya-karya ini menunjukkan bahwa Husni Djamaluddin adalah seorang penyair yang produktif dan memiliki pengaruh dalam dunia sastra Indonesia.

Husni Djamaluddin memang dikenal sebagai penyair yang berani dan jujur dalam menyampaikan pesan-pesan sosial melalui puisinya. Pilihan diksi yang tepat dan bahasa yang indah membuatnya mampu menyampaikan pesan-pesan yang kuat dan mendalam kepada pembaca.

Puisi-puisinya yang epik seringkali menggambarkan realitas sosial dan politik yang terjadi pada zamannya, dengan cara yang lugas namun tetap estetis. Karyanya yang berani dan jujur telah menginspirasi banyak orang dan meninggalkan warisan sastra yang berharga bagi bangsa.

Husni Djamaluddin sebagai sosok yang berpengaruh dan inspiratif, terutama bagi anak muda pada masanya. Beliau memiliki kemampuan untuk memotivasi dan menginspirasi generasi muda untuk berkarya dan berjuang untuk mencapai impian mereka.

Sebagai penyejuk pada masanya, Husni Djamaluddin memiliki kepribadian yang hangat dan peduli, sehingga beliau dapat menjadi contoh dan teladan bagi banyak orang. Beliau memiliki pengaruh yang positif dan konstruktif dalam masyarakat, terutama dalam bidang sastra dan kebudayaan.

Husni Djamaluddin bukan hanya dikenal sebagai penyair atau sastrawan, tetapi juga sebagai tokoh yang berperan penting dalam perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. Dengan latar belakangnya sebagai orang Mandar, beliau mungkin memiliki perspektif unik tentang identitas dan kebudayaan daerahnya.

Melalui kegiatan dan keterlibatannya dalam perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat, Husni Djamaluddin ingin menunjukkan pentingnya memahami dan menghargai kebudayaan dan identitas lokal, serta memperjuangkan hak-hak masyarakat daerahnya.

Pertemuan  saya dengan Sang Maestro Husni Djamaluddin di Dewan Kesenian Makassar (DKM) tahun 90an banyak  meninggalkan kesan yang mendalam. Mendengarkan beliau bercerita tentang kehidupan sastra ke depan, sangat inspiratif dan memotivasi bagi saya dan teman-teman lainnya, seperti Aspar Paturusi, Rahman Arge, Ram Prapanca, Akbar Faizal, Arman Dewarti dan anggota Sanggar Merah Putih Makassar.

Husni Djamaluddin sosok yang berpengaruh di dunia sastra, memiliki horison berpikir dan pengalaman yang luas untuk dibagi dengan generasi muda. Pertemuan itu mungkin telah membentuk perspektif dan memotivasi saya untuk terus berkarya dan berkontribusi di dunia sastra.

Selamat tinggal, Sang Maestro Husni Djamaluddin. Karya-karyamu akan terus hidup dan menginspirasi generasi-generasi berikutnya. Warisan sastramu akan tetap abadi, dan semangatmu dalam menulis akan terus membara dalam hati para pembaca dan pecinta sastra. Rest in peace, maestro.

(Kolumnis Media harian  di Makassar Tahun 90an)

Minggu, 22 Juni 2025

MENJAGA BAHASA DAERAH MANDAR || Menjaga Jati Diri, Merawat Peradaban


Oleh: Safardy Bora 
Bahasa adalah warisan paling purba dan paling halus dari sebuah peradaban. Ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin dari cara berpikir, cara merasa, dan cara hidup suatu masyarakat. Dalam konteks Mandar, bahasa bukan hanya identitas, melainkan benteng terakhir yang menjaga keutuhan budaya.

Agar bahasa Mandar tetap lestari dan tidak tergerus zaman, perlu langkah konkret dan terstruktur:

1. Integrasi Bahasa Mandar dalam Kurikulum SD
Pendidikan dasar adalah fondasi pembentukan karakter dan identitas. Memasukkan bahasa daerah Mandar sebagai bagian dari kurikulum Sekolah Dasar merupakan langkah penting dalam menanamkan kebanggaan dan keterikatan anak-anak terhadap bahasa ibunya sejak dini.


2. Membudayakan Bahasa Mandar di Lingkungan Masyarakat dan Sekolah
Penggunaan bahasa Mandar hendaknya tidak terbatas di ruang formal, tetapi menjadi bahasa sehari-hari di rumah, di sekolah, dan dalam interaksi sosial anak-anak. Budaya tutur ini menciptakan ruang hidup bagi bahasa agar terus berkembang, tidak sekadar menjadi artefak yang dikenang.


3. Melestarikan Bahasa Mandar Baik di Wilayah Mandar Maupun di Perantauan
Di manapun orang Mandar berada—baik di tanah leluhur maupun di tanah rantau—bahasa Mandar tetap harus digunakan dan dilestarikan. Setiap forum, pertemuan, atau ruang diskusi hendaknya menjadi sarana untuk menghidupkan kembali bahasa ini sebagai bahasa komunikasi utama antar sesama warga Mandar.


4. Menghidupkan Bahasa Mandar di Forum-forum Sosial dan Budaya
Jangan sisihkan bahasa Mandar dari forum. Justru forum adalah tempat terbaik untuk menjadikannya bahasa komunikasi yang membanggakan. Jika bahasa Mandar tidak lagi digunakan dalam ruang sosial bersama, maka kita secara tidak sadar telah membuka pintu kepunahannya.



Sebab bila bahasa Mandar punah, maka punahlah budaya Mandar. Dan ketika budaya telah punah, kita tak lagi memiliki cermin untuk mengenali diri, akar untuk berpijak, atau jalan pulang yang bisa dituju. Sebab dalam diamnya lidah, akan padam pula nyala jiwa sebuah kebudayaan.

Maka, marilah menjaga bahasa Mandar seperti menjaga nyawa peradaban kita sendiri—dengan cinta, dengan bangga, dan dengan penuh kesadaran.

Sabtu, 21 Juni 2025

MANDAR BORNEO TIMUR ||Minoritas Berakar Panjang, Menjulang dalam Senyap

Safardy Bora

Orang Mandar di Kalimantan Timur ibarat pelita kecil di padang luas: sinarnya redup dari jauh, tetapi cukup terang untuk menuntun langkah siapa pun yang mau belajar dari teladan hidupnya.

Secara statistik, Mandar hanya sekitar 2–3% dari populasi Kaltim, namun jejaknya merambat jauh—dari istana Kutai Kartanegara abad ke-19, hingga kursi gubernur Borneo Timur hari ini.

Salah satu nama tertua yang tercatat adalah Abdul Hasan, guru ngaji dan penasihat agama Sultan Aji Muhammad Sulaeman (1845–1899). Di tangannya, ajaran agama meresap di istana Kutai Kartanegara. Sekitar 1871, beliau memimpin pembukaan Muara Badak, kawasan pesisir yang kelak tumbuh menjadi kantung perkampungan Mandar di timur Mahakam.

Menjelang abad ke-20, saudagar Mandar meniti jalur niaga pesisir. Haji Mas’ud Latif (1948–1997) di Samarinda dan Balikpapan terkenal sebagai pedagang ikan asin, minyak gas, sekaligus agen pengurusan dokumen kapal lewat PT Sinar Pasifik. Dari pondasi niaga keluarga inilah tumbuh anak-anak Mandar perintis generasi cendekia dan birokrat modern.

Warisan Haji Mas’ud ditumbuhsuburkan oleh anak-anaknya: Dr. H. Hasanuddin Mas’ud, Dr. H. Rahmad Mas’ud, dan Dr. H. Rudy Mas’ud. Mereka adalah simbol generasi Mandar urban yang tangguh: menyeimbangkan urat dagang leluhur dengan pendidikan tinggi, mengakar dalam bisnis minyak dan perkapalan, lalu menjulang di ranah birokrasi.

Dalam sejarah pemerintahan, H. Waris Husein mencatatkan diri sebagai putra Mandar pertama yang menjadi Wali Kota Samarinda pada dekade 1980–1990-an. Di tangan beliau, Samarinda menguat sebagai simpul perdagangan sungai Mahakam dan jalur distribusi dagang Borneo Timur.

Dalam ranah olahraga dan kepemudaan, Syahril HM Taher pernah menjabat Presiden Liga Indonesia dan memimpin Pemuda Pancasila Balikpapan. Namanya harum sebagai sosok yang menyatukan semangat olahraga dan organisasi kepemudaan di Borneo Timur.

Di panggung politik legislatif, Dahri Yasin dikenang sebagai politisi ulung. Lahir pada 1959, beliau menjadi anggota DPRD Kalimantan Timur lintas periode hingga 2020. Dengan gaya lobi yang santun dan jaring sosial yang kuat, Dahri Yasin dihormati kawan maupun lawan.

Ranah pendidikan pun berdiri kokoh di pundak Mandar. Prof. Dr. H. Masjaya, M.Si. menjabat Rektor Universitas Mulawarman (2014–2022). Atjo Jangnga turut tercatat sebagai petinggi Unmul. Di UINSI Samarinda, Prof. Muhammad Abzar Duraesa pernah menjadi Wakil Rektor, sedangkan Prof. Abdul Majid terkenal sebagai guru besar dan mubalig kharismatik yang menjaga marwah dakwah di Kaltim.

Dr. H. Hasanuddin Mas’ud, anak sulung Haji Mas’ud, menjabat Ketua DPRD Kalimantan Timur dua periode berturut-turut (2019–2024, terpilih lagi 2024–2029). Kepemimpinannya dikenal menyejukkan, piawai merangkul lintas suku, serta meneguhkan semangat musyawarah Mandar di panggung parlemen provinsi.
Dr. H. Rahmad Mas’ud, lahir 1976, meneruskan jalur niaga keluarga dan terjun ke panggung pemerintahan. Ia menjadi Wakil Wali Kota Balikpapan (2016–2021) dan terpilih sebagai Wali Kota Balikpapan (2021–2024). Gaya kepemimpinannya merakyat, fokus membenahi infrastruktur kota minyak.

Barisan muda pun menapak gagah. Agus Haris, sosok politisi muda Mandar, terpilih sebagai Wakil Wali Kota Bontang periode 2024–2029. Sementara di Senayan, Dr. H. Rudy Mas’ud berdiri sejajar dengan tokoh nasional: terpilih Anggota DPR RI sejak 2019, dan pada Pilgub 2024, ia memecahkan sejarah sebagai Gubernur Kalimantan Timur periode 2024–2029.

Dr. H. Rudy Mas’ud adalah potret Mandar kontemporer: pengusaha sukses, miliarder minyak dan perkapalan bersama ketiga saudara kandungnya, sekaligus pemimpin daerah setingkat provinsi. Ia menorehkan nama Mandar di barisan Gubernur Kalimantan Timur sejajar dengan nama-nama besar pendahulu, membuktikan pepatah “merantau dengan terhormat, pulang membawa kejayaan”.

Tak ketinggalan di panggung seni, Syarifuddin Pernyata berdiri sebagai sastrawan Kaltim yang puisinya meresap ke relung pesisir. Karyanya mengabadikan tutur Mandar dalam bentuk kata-kata lembut, mencatat jejak pesisir Mahakam dalam bait dan rima.

Demikianlah Mandar Borneo Timur: sedikit di hitungan statistik, besar di jejak moral. Dari Abdul Hasan di istana Kutai, H. Waris Husein di kursi wali kota, Syahril di Liga Indonesia, Dahri Yasin di parlemen, hingga Rudy Mas’ud di kursi gubernur — semua membuktikan, Mandar bukan sekadar minoritas di tanah rantau, tetapi penenun pengaruh dengan akhlak mala’bi’.

Semoga susunan ringkas ini menambah silaturahmi, menjadi pengingat akan akar yang tak pernah putus. Mohon maaf jika tulisan ini hadir tiba-tiba di beranda anda, segala kurang lebihnya saya titipkan pada kearifan pembaca sekalian.



Kamis, 19 Juni 2025

SULSILAH, TEKNOLOGI DAN REALITAS

Oleh : Bram Pallatano

Di masa lalu, silsilah adalah warisan yang dijaga dengan penuh kehati-hatian dan kesakralan. Setiap nama, setiap cabang keluarga, dan setiap peristiwa dalam garis keturunan disusun dengan teliti melalui naskah Lontara, stamboom, dan kajian-kajian lisan maupun tertulis yang diuji kebenarannya secara turun-temurun. Kebenaran bukan sekadar data—tetapi realitas yang dipertanggungjawabkan, diperiksa, dan dihormati.

Namun hari ini, kita hidup di era di mana informasi tak lagi melewati proses penapisan yang ketat. Silsilah bisa dibuat dan disebarluaskan dalam hitungan menit. Dengan teknologi digital dan media sosial, siapa pun kini bisa menjadi "penulis sejarah", meski tanpa fondasi riset atau kedalaman narasi leluhur. Silsilah kini mudah ditemukan—tetapi mudah pula dipelintir.

Teknologi memang memberi ruang keterbukaan, tapi juga mengaburkan batas antara narasi nyata dan narasi imajinatif. Banyak silsilah yang viral di media sosial bukan karena akurasi, tapi karena daya tarik visual, nama besar, atau afiliasi emosional yang dibangun secara canggih. Realitas tidak lagi menjadi syarat mutlak—yang penting adalah seberapa cepat ia tersebar dan diterima.

Keprihatinan muncul, terutama bagi para penjaga warisan budaya dan peneliti yang selama ini bergelut dalam keheningan dan ketelitian. Bagi mereka, silsilah bukan sekadar pohon nama, tetapi peta identitas yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ketika keaslian dipertaruhkan oleh kecepatan, maka yang terancam bukan hanya data, tetapi juga nilai, martabat, dan kesinambungan sejarah.

Maka di tengah gegap gempita era digital, perlu suara yang bersandar pada integritas. Perlu ruang yang merawat silsilah dengan cara lama—yang sabar, hati-hati, dan jujur. Teknologi semestinya menjadi jembatan, bukan pemutus. Ia bisa menjadi alat bantu yang luar biasa, asal tetap dipandu oleh nilai-nilai kebenaran, bukan popularitas.

Kini tantangannya bukan sekadar menemukan silsilah, tapi membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya rekaan. Dan bagi kita yang masih percaya bahwa sejarah adalah cahaya, bukan sekadar cerita, inilah saatnya untuk terus menjaga nyala kecil itu, agar tak padam di tengah badai informasi yang menggulung realitas.

SILSILAH, TEKNOLOGI, DAN REALITAS


Oleh : Bram Pallatano

Di masa lalu, silsilah adalah warisan yang dijaga dengan penuh kehati-hatian dan kesakralan. Setiap nama, setiap cabang keluarga, dan setiap peristiwa dalam garis keturunan disusun dengan teliti melalui naskah Lontara, stamboom, dan kajian-kajian lisan maupun tertulis yang diuji kebenarannya secara turun-temurun. Kebenaran bukan sekadar data—tetapi realitas yang dipertanggungjawabkan, diperiksa, dan dihormati.

Namun hari ini, kita hidup di era di mana informasi tak lagi melewati proses penapisan yang ketat. Silsilah bisa dibuat dan disebarluaskan dalam hitungan menit. Dengan teknologi digital dan media sosial, siapa pun kini bisa menjadi "penulis sejarah", meski tanpa fondasi riset atau kedalaman narasi leluhur. Silsilah kini mudah ditemukan—tetapi mudah pula dipelintir.

Teknologi memang memberi ruang keterbukaan, tapi juga mengaburkan batas antara narasi nyata dan narasi imajinatif. Banyak silsilah yang viral di media sosial bukan karena akurasi, tapi karena daya tarik visual, nama besar, atau afiliasi emosional yang dibangun secara canggih. Realitas tidak lagi menjadi syarat mutlak—yang penting adalah seberapa cepat ia tersebar dan diterima.

Keprihatinan muncul, terutama bagi para penjaga warisan budaya dan peneliti yang selama ini bergelut dalam keheningan dan ketelitian. Bagi mereka, silsilah bukan sekadar pohon nama, tetapi peta identitas yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ketika keaslian dipertaruhkan oleh kecepatan, maka yang terancam bukan hanya data, tetapi juga nilai, martabat, dan kesinambungan sejarah.

Maka di tengah gegap gempita era digital, perlu suara yang bersandar pada integritas. Perlu ruang yang merawat silsilah dengan cara lama—yang sabar, hati-hati, dan jujur. Teknologi semestinya menjadi jembatan, bukan pemutus. Ia bisa menjadi alat bantu yang luar biasa, asal tetap dipandu oleh nilai-nilai kebenaran, bukan popularitas.

Kini tantangannya bukan sekadar menemukan silsilah, tapi membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya rekaan. Dan bagi kita yang masih percaya bahwa sejarah adalah cahaya, bukan sekadar cerita, inilah saatnya untuk terus menjaga nyala kecil itu, agar tak padam di tengah badai informasi yang menggulung realitas.