Sabtu, 18 Januari 2025

PENGANTAR PENULIS ||MELISAN TULISKAN KEMENANGAN



Dokumentasi 2017

Bismillahirrahmanirrahim, Kalimat indah itu saya jadikan pembuka sebagaimana status ayat itu menjadi pembuka dalam QS. Al-Fatihah. Suratul Fatihah adalah pembuka atau kunci dalam segala urusan dengan Tuhan, manusia dan alam. Maka kepada-Nya jua semua kuserahkan, akan seperti apa coretan ini bermanfaat bagi siapa saja. Termasuk ketika saya mengambil keputusan bergabung dalam barisan SDK-JSM.   
     
Buku “Jejak Kemenangan” ini telah saya rancang sejak memutuskan bergabung dalam Garda Perjuangan SDK-JSM pada Pilkada kali ini. Sosok Salim S. Mengga bagi saya adalah panutan yang patut untuk dipatuhi. Maka ketika dua suhu ini bergabung satu kubu, saya sudah yakin akan menang. Sejak itu saya niatkan menyusun buku ini sebagai upaya melisan tuliskan kemenangan. Ternyata, kemenangan itu berpihak ke SDK-JSM. Maka jadilah buku ini sebagai bentuk apresiasi saya kepada kedua sosok ‘Malaqbiq’ ini. 

Lembaran-lembaran tulisan yang berserakan sejak awal menemukan takdirnya sebagai buku berkat dukungan dan bantuan dari Dr. Sitti Suraidah Suhardi, H. Syamsul Samad, Sukri Umar, Ary Iftikhar Shihab (Koje) dan Dirga Adhi Putra Singkarru. Semangat merampungkannya semakin menggebu ketika gagasan ini saya sampaikan ke Bapak Suhardi Duka. Beliau sangat mengapresiasi dan mengetik kata: Menarik, lanjutkan !. Kepada Pak Jendral Salim S. Mengga juga saya sampaikan. Belau mengatkan, Saya akan terus mendukung upaya Ananda Munir dalam melakukan ini”.    

***

Sejak Pilgub 2006, JSM adalah sosok yang kerap saya dukung dalam berbagai momentum pemilihan, baik itu di Pilkada maupun di Pemilu. Pada Pilgub 2017 terkesan saya menjadi pendukung ABM-Enny. Itu karena saat itu saya masih berstatus sebagai kader Partai Amanat Nasional (PAN). Secara, saya bergabung di PAN sejak tahun 2006-2018. Tapi hati nurani, tetap menjadi milik Sang Jendral Salim S. Mengga.  

Alasan lain saya bergabung sebagai pendukung pasangan SDK-JSM karena pertimbangan momentum. Sejak Sulbar terbentuk, Klan Mengga, Masdar dan Manggabarani kerap menjadi satu-satunya yang selalu berkontestasi dalam setiap pemilihan, baik itu Bupati maupun Gubernur. Diantaranya itu muncul Anwar Adnan Saleh meruntuhkan hegemoni 3 M itu. Seiring perjalanan waktu, SDK dan Hendra S. Singkarru menjadi sosok penyeimbang diantara deretan tokoh itu. Belum lagi Aras Tammauni dan Agus Ambo Djiwa yang juga menjadi sosok yang diperhitungkan dalam berbagai momentum pemilihan kedepan. Pilkada Sulbar 2024, SDK, JSM dan Singkarru bergabung. Tentu ini merupakan kekuatan besar yang hampir bisa dipastikan jadi pemenang. 
Pilkada Sulbar 2024 yang baru saja lewat (27 November 2024) lalu menjadi puncak rangkaian perjalanan panjang bagi Suhardi Duka dan Salim S. Mengga memenangkan pertarungan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2025-2030.

Pasangan dengan tagline SDK-JSM ini keluar sebagai pememang mengalahkan Andi Ibrahim Masdar (AIM)-Asnuddin Sokong, Andi Ali Baal Masdar (ABM)-Arwan dan Prof. Husain Syam (PHS)-Enny Angraeni Anwar. Ali Baal Masdar adalah Gubernur Sulawesi Barat periode 2017-2022) dan Enny Angraeni Anwar adalah Wakil Gubernur Sulawesi Barat yang mendampingi ABM. 

Strategi memasangkan antara SDK dan JSM adalah kunci kemenangan itu. JSM adalah sosok yang dikenal sebagai tokoh karismatik, mantan jendral. Bisa disebut politisi dan ulama. Berpadunya kekuatan SDK dan JSM menjadi sebuah strategi yang menurut para pengamat adalah pasangan tak terkalahkan. Terlebih dibelakang terdapat barisan partai pengusung, singkarru family, dari unsur eksekutif dan legislatif serta politisi dan tokoh agama, adat serta pemuda yang bersinergi membangun kekuatan untuk SDK-JSM. 

SDK-JSM diusung oleh koalisi besar yakni Partai Demokrat, Partai Nasional Demokrat (NasDem), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Gelora, Partai Ummat dan Partai Buruh. Selain Tim Koalisi Partai itu, SDK juga didukung oleh Tim Relawan dan sejumlah komunitas pendukung yang bekerja solid di lapangan. Tim pemenangan yang terus menjaring berbagai kekuatan akar rumput untuk target menjadikan SDK-JSM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat.

Dengan semua itu, perjalanan panjang SDK semakin meyakinkan sampai ke finis, karena hal yang klasik dalam sebuah perjuangan adalah finansial (logistik). SDK menjadi sosok yang bertanggung jawab untuk kebutuhan finasial, sementara JSM dan simpatisannya menjadi tonggak pemenangan di lapangan dan bekerja tanpa pamrih. Hal tersebut memang telah dilakukan sejak Pilkda Gubernur 2006, 2011, 2017 sampai 2024 ini.  

Demikianlah yang terjadi dalam proses Pilkada Sulbar. SDK-JSM memiliki dua pilar pemenangan utama. Pertama adalah partai politik pengusung SDK-JSM. Di barisan partai politik ini ada 7 partai politik (tiga pemilik kursi dan empat partai non kursi). Partai NasDem memiliki 5 kursi dan 1 kursi dari PKS. Sementara dari partai non parlemen adalah PSI (Partai Solidaritas Indonesia), Partai Gelora, Partai Ummat dan Partai Buruh. 

Pilar Kedua banyaknya tokoh Sulbar dan komunitas masyarakat yang terdiri dari pemuda, petani, nelayan, petrnak, pelajar, mahasiswa, penggiat literasi dan sejumlah organisasi pemuda antara lain SDK Community, Koje Community Sama Rata, Barisan Anak Jenderal, Sayap Muda JSM, Garda Bersatu 80SS, dan lainnya yang tergabung sebagai relawan. Para tokoh sekelas H. Hendra S. Singkarru, Hajrul Malik, Abd. Jawas Gani, Pendeta Abraham, Muhammad Ilyas Yacub, Muhammad Asri Abdullah, Abdul Rahman Tona, H. Ramli, H. Sabaruddin, S. Taswin Al-Attas, Abd. Rahman Karim, Andi Morgan, Hamka, Syarifah Nur Abbas, dan ratusan tokoh yang siap memenangkan SDK-JSM.    

Interaksi dengan Suhardi Duka

Mengenal nama SDK sesungguhnya sudah lama, sejak ia menjabat sebagai Ketua DPRD Mamuju ketika awal-awal perjuangan pembentukan Propinsi Sulawesi Barat (2001). Ketika itu, terjadi sebuah persoalan terkait rekomendasi DPRD Mamuju yang dinilai Pemprop Sulsel kurang tegas, apakah akan mendahulukan pemekaran Mamuju atau dukungan terhadap perjuangan Pembentukan Propinsi Sulawesi Barat. Pihak KAPP Sulbar meminta agar mengubah surat rekomendasi yang pernah dikeluarkan oleh DPRD Mamuju. 

Tindakan SDK saat itu adalah menjawab surat dari Pemprop Sulsel (gubernur) untuk menegaskan bahwa pihaknya menyetujui perjuangan pembentukan Propinsi Sulawesi Barat. Hal ini dilakukan agar semua bisa berjalan lancar tanpa harus melalui paripurna yang tentu memakan banyak waktu sebab harus rapat untuk dengar tangapan fraksi-fraksi di DPRD Mamuju. Inisiatif SDK ini rupanya bisa menyelamatkan proses perjuangan Sulbar (Adi Arwan Alimin, 2016). Andai hari itu, SDK tak mengambil tindakan, sangat mungkin Sulbar tak akan pernah lahir. Ini menjadi berita gembira bagi pejuang Sulbar dan dari sanalah nama SDK mulai saya dengar.  

Pertengahan tahun 2015, barulah saya bisa bertemu langsung dengan Suhardi Duka yang ketika itu masih menjabat sebagai Bupati Mamuju. Saat itu saya membersamai Andi Morgan, Hamka, Heri Dahnur Syam, dan lainnya menghadap langsung ke SDK untuk dukungannya terhadap perjuangan Pembentukan Kabupaten Balanipa. SDK sangat merespon adanya upaya pemekaran yang diperjuangkan oleh masyarakat yang ada di Polman. Ia menyambut kami dengan penyambutan yang sangat familiar.

Penulis bersama teman-teman Barisan Pemuda Balanipa bersama SDK (Bupati Mamuju) saat bersilaturrahmi dengan SDK di Kantornya (2015)

Pada tahun yang sama, komunitas literasi yang saya bentuk mendapat undangan dari Yayasan Karampuang di d’Maleo Hotel Mamuju dan mendapat kehormatan bertemu kembali bersama kawan-kawan penggiat dari Tinambung. Kesempatan ini menjadi gerbang awal bagi saya berinteraksi dengan tokoh-tokoh Mamuju dan beberapa komunitas literasi terlahirkan. Adalah Nehru Sagena, Suparman Sopu, Hajrul Malik, Abd. Jawas Gani, Adi Arwan Alimin dan lainnya menjadi pemantik.      
  Penulis bersama SDK dalam sebuah acara yang digelar oleh Yayasan Karampuang di d’Maleo Hotel Mamuju, 2015

Ketika Konferensi Rumah Jonga (Senin 5 Agustus 2024) benar-benar terjadi dan memastikan SDK berpasangan dengan Salim S. Mengga, saya kemudian menyatakan diri bergabung secara penuh. Melalui Ketua Kolaisi Partai Sulbar, Sukri Umar, saya hadir bersama Andi Morgan, dan kawan-kawan dari Polman untuk hadir dalam Pembekalan Tim Pemenangan SDK-JSM di Maleo Hotel. Setelah acara, Syamsul Samad memberi saya kesempatan bertemu dengan SDK secara langsung di Hotel Maleo setelah agenda pembekalan.
Pertemuan ini memberi kesan bahwa SDK adalah sosok politisi literat, sebab pada acara pembekalan tim itu sekaligus menjadi ajang peluncuran bukunya yang berjudul “SDK Mendayung Dari Hulu, Maestro Politik Bertangan Dingin Dari Sulawesi Barat” Buku ini merupakan buku autobiografi-nya yang digarap oleh Sofa Nurdianti, seorang penulis nasional yang cukup bisa diandalkan dalam hal tulis menulis. Terlebih, saat bertemu, ia memberi apresiasi terhadap beberapa tulisan yang saya publish di media online dan jejaring medsos lainnya.
    
Pada Minggu 1 September 2024, kembali bertemu di Rumah Putih Palippis (rumah Syamsul Samad). Hadir dalam acara yang dipandu oleh Syamsul Samad tersebut Salim S. Mengga, Ary Iftikhar Shihab, Jalaluddin, Gazali Baharuddin Lopa, Imam Efendi S. Singkarru, Abdul Muin dan sejumlah kader partai pengusung dan relawan. Pada kesempatan tersebut SDK menghadiahkan langsung bukunya kepada saya dihadapan ratusan orang tim dan simpatisannya. 
Maka jadilah malam itu sebagai ajang tukar buku dengan SDK sebab saya juga menyerahkan dua judul buku yang saya tulis, yakni Ibu Agung Andi Depu dan Hj. Maemunah Djud Pantje. 

Saat diberi kesempatan berbicara, saya memang lebih menekankan agar kelak jika jadi Gubernur Sulbar, Pemajuan Kebudayaan dan Pengembangan Literasi menjadi hal inti yang saya sampaikan. Baik SDK maupun JSM, semua merespon baik aspirasi tersebut. 

Bahwa kemudian setelah pencoblosan hasil Quik Count SDK-JSM memimpin perolehan suara terbanyak, itu sudah saya duga bahwa bergabungnya dua suhu dalam satu kubu ini adalah tanda kemenangan. Itulah makanya dalam interaksi saya dengan SDK di WA Grup, saya selalu menyapanya dengan panggilan Pak Gub. Ini pula yang selalu saya batinkan agar SDK-JSM diberikan jalan untuk jadi pemimpin di propinsi yang berjargon Malaqbiq ini.  

Interaksi dengan Jenderal Salim S. Mengga

Foto 2019 saat Salim S. Mengga dan Ardi Amanah bertandan ke Rumah Penulis 

Tahun 2006 menjadi awal bagi saya mengenali sosok Jendral Salim Mengga dan kerap berkunjung ke Rumah Jonga Polewali bersama teman-taman saat beliau ada waktunya. Maka Pilkada tahun 2006 itu juga saya bergabung sebagai salah satu tim pendukung. Termasuk ketika terjadi aksi-aksi warga yang memadati Kota Mamuju kala itu juga saya harus berada di Mamuju bersama massa pendukung JSM di Mamuju. Kontestasi Pilkada memang selalu memberi ruang kecurangan bagi penyelenggara yang tak punya nurani. Itulah yang terjadi dan menimpa sosok JSM. 

Pada Pilkada 2011 juga demikian. Saya menyatakan bergabung secara penuh dengan pertimbangan yang sangat matang mengingat PAN menjadi salah satu pengusung utama sebab JSM menggandeng Abd. Jawas Gani yang tak lain adalah Ketua DPW PAN Sulbar. Semua titik kampanye pasangan JSM-JAWAS atau Salim Saja saya ikuti di 5 Kabupaten (Mamuju Tengah saat itu belum terbentuk). Kendati hasil Pilgub harus menerima kenyataan sebagai pihak yang kalah, tapi lagi-lagi kami harus legowo dan sabar. 

Sebuah pengalaman lucu yang sampai saat ini saya ingat terkait Pilgub 2011. Saat itu saya masih jadi Imam Masjid Nuruttaubah Baru’dua Desa Botto. Kepala Dusun saat itu mendukung ABM, sementara saya mendukung JSM. Entah kami terlalu serius atau sebuah kobodohan yang belum difahami, saya dengan Pak Dusun bertaruh jika ABM menang di TPS Baru’ Dua maka saya mundur jadi Imam Masjid. Begitupun jika JSM menang, maka Pak Dusun harus rela mundur dari jabatannya. Hasilnya kemudian, JSM kalah 7 suara di TPS kami. Praktis saya mengundurkan diri dari jabatan Imam Masjid sehingga warga harus mendatangkan Imam dari luar dengan konsekwensi harus ada intentif bulanan baginya. 
Sepanjang tahun itu komunikasi saya dengan JSM selalu terpelihara baik lewat medsos maupun interaksi langsung. Sampai pada Pilgub 2017, JSM kembali maju bersama Hasanuddin Mas’ud. Secara nurani saya pribadi mendukung JSM, tapi karena saat itu saya masih terikat dengan status sebagai kader PAN maka otomatis saya berada di kubu ABM, meski orang-orang di sekitar Matakali juga tidak menghitung saya sebagai pendukung ABM sebab saya selalu menjadi orang JSM dalam setiap kontestasi politiknya. 

Ketika saya ke Belitung, saya tak memberi tahukan ke JSM tentang agenda saya melacak jejak I Calo Ammana Wewang di Belitung. Setelah mendapati postingan saya di facebook, beliau menyuruh Ardhy (Sumarding) menelpon dan langsung minta nomor rekening saya setelah kuberi tahu maksud dan tujuan saya ke Belitung. JSM memang selalu tampil sebagai sosok pengayom di setiap aktifitas literasi kerap saya suarakan dalam berbagai ruang dan waktu. Bahkan tak jarang, beliau berkunjung ke rumah saya atau memanggil saya bertemu jika beliau punya kesempatan. 

***

Bergabung sebagai tim kali ini, saya begitu yakin bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode mendatang pemenangnya adalah SDK-JSM. Ekspektasi yang saya bangun itu rupanya berkelindan dengan kenyataan, sebab setelah hari pencoblosan 27 November 2024, pasangan ini berhasil mendulang suara berdasarkan hitungan sementara (Quick Count).

Terlebih pada 7  Desember 2024, hasil rekapitulasi perhitungan langsung (Real Count) KPU menetapkan SDK-JSM sebagai pemenang berdasarkan Real Count. 
KPU kemudian menetapkan Pasangan Calon Terpilih Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi Sulawesi Barat Pemilihan Tahun 2024 di Grand Maleo Hotel Mamuju, 9 Januari 2025.  Rapat Pleno KPU menetapkan Suhardi Duka – Salim S. Mengga berhasil memperoleh dukungan dari masyarakat Sulbar yang signifikan yakni 337.512 (46%) suara. Sementara pasangan Andi Ibrahim Masdar – Asnuddin Sokong memperoleh 144. 154 (19,72%)sura. Adapun pasangan Ali Baal Masdar – Arwan Aras mendapatkan 137.181 (18,77%) suara. Perolehan suara paling rendah adalah pasangan Husain Syam – Enny Angraeni sejumlah 111.980 (15,32%).  

SDK sebagai Pemenang Pilgub 2014 melalui Rapat Pleno Penetapan menjadi pemenang di Pilgub 2024.  
Saya tentu bersyukur atas capaian ini. Sebab sosok yang saya jadikan panutan berhasil menjadi pemenang meski sebagai Wakil Gubernur. Rasa syukur dan kebahagian melingkupi mengingat SDK sebagai Gubernur adalah politisi yang menjadikan komitmen sebagai bagian dari iman, maka nikmat mana lagi yang kita dustakan?. “Allahu Akbar, Menang, Menang, Menang”. Demikianlah pekikan yang menggema ke udara saat iring-iringan kendaraan yang melakukan konvoi kemenangan SDK-JSM pada suatu sore di hari setelah pencoblosan.   

***

BUKU ini adalah rekaman perjalanan untuk sampai kepada kemenangan puncak di Pilkada Sulbar 2024. Terpilihnya SDK-JSM tidak serta merta harus kita lupakan. Ada luapan rasa yang tak boleh diabaikan. SDK pernah kalah di Pilgub 2017, JSM bahkan selalu kalah dalam setiap kontestasi Pilkada. Tapi jalan panjang kemenangan itu menjadi penting sehingga narasi dalam buku ini bisa mengingatkan kita semua, bahwa untuk menang itu tidak mudah. Ada proses yang mesti kita jalani. Rasa sakit, kecewa, lelah, bahkan letih mungkin menemani. Terlepas menyakitkan ataupun menyenangkan, semua harus dilakoni dan nikmati hingga sampai pada hasil akhir.

Dari segala rasa itulah, keduanya memupuk asa untuk mampu bertahan, berjalan, berlari hingga sampai ke puncak yang ingin dituju. Keduanya adalah sosok yang tak bisa membedakan antara menyenangkan dan menyakitkan ketika itu berhubungan dengan kepentingan rakyat. 

Narasi ini tercipta dari serangkaian perjalanan panjang SDK-JSM. Tak hanya itu, sebuah kemenangan besar pasti melibatkan banyak orang yang berjuang sesuai kemampuannya. Waktu, tenaga, uang dan fikiran pasti ada yang mereka gunakan untuk berjuang. Bahkan pada tingkatan doa saja, harus diapresiasi sebagai bentuk keberpihakan. Ketika Ibrahim as dibakar oleh Raja Namrud, serombongan semut membawa air dengan maksud memadamkan api. 
Kelakuan semut ini menjadi bahan tertawaan sebab posturnya yang kecil tentu tak akan mampu membuat api Namrud padam olehnya. Tapi semut dengan lantang mengatakan, “Kami tau, upaya ini tak mungkin bisa berhasil. Tapi setidaknya kami telah menunjukkan keberpihakan kami terhadap Ibrahim”. 

Ketika narasi ini mewujud sebagai buku, maka ia menjadi wadah bercerita tentang banyak hal. Dinamika perjuangan dan proses dialektika yang melingkupinya harus terasa. Dan buku ini mencoba merekam itu meski tidak mungkin utuh. Keterbatasan waktu dan ruang, (mungkin juga uang) yang menjadi penyebab klasik. Selain itu, keterbatasan halaman buku ini juga harus dipertimbangkan. 

Kondisi inilah yang melatari sehingga ada proses yang mungkin tak terekam, ada banyak kejadian yang tak terceritakan, bahkan ada banyak tokoh yang tak bisa kami apresiasi di buku ini. Tak hanya itu, fokus penulisan buku ini tidak secara umum merekam proses di semua wilayah kabupaten di Sulawesi Barat. Terasa sekali Polewali Mandar dan Mamuju menjadi inti, selebihnya Majene. Saya memang sempat mengunjungi Mamasa, Mamuju Tengah (mines Pasangkayu). 
Tapi lagi-lagi harus di fahami bahwa ini bukan sesuatu yang direncanakan atau disengaja. Ini murni kekurangan dari penulis. Jangan sampai ada yang berfikir sebagai bentuk pengabaian terhadap daerah lain. Sungguh, secara nurani saya tak mungkin melakukan itu, terlebih ketika mentadabburinya lewat pappasang kanne-kanne’ta, sisara’pai mata malotong anna sisara’ PItu Ulunna Salu, Pitu Ba’banan Binanga.

Olehnya itu, kepada tim yang tak sempat saya lisan tuliskan di buku ini, saya mohon maaf. Semoga ini bisa ditindak lanjuti kedepan, agar perjuangan dan kinerja kawan-kawan di lapangan semua terukur dan jelas serta bisa diabadikan.

***
Saya sengaja menyusun buku ini dengan beberapa bagian. Diawali dengan Sinopsis yang menyuguhkan sejumlah peristiwa yang melatari dan mejadi alasan SDK-JSM terus melakukan pola pergerakan untuk bisa menjadi pemimpin di Sulawesi Barat. BAB pertama saya menaikkan profil kedua sosok yang akan mengawal pemerintahan Sulbar 5 tahun kedepan. Semua harus tahu proses perjalanan kedua tokoh Sulbar itu sampai pada titik ini. Jalan panjang yang dilaluinya itu tak mudah, bahkan berliku, kadang juga menyakitkan, melelahkan. Tapi demi Sulbar, keduanya mampu menjadikan kelelahan itu letih menyertainya. 

Pada bagian selajutnya buku ini memberikan gambaran soliditas tim yang tergabung dalam Tim Koalisi Partai, Tim Relawan dan Tim Keluarga. Termasuk para tokoh politisi, tokoh agama, pemuda, dan masyarakat yang ikut menjadi bagian dari proses kemenangan ini. Adapun bagian terakhir dari 6 BAB buku ini adalah pernak-pernik yang berisi tulisan apresiasi yang tak hanya memuji tapi sekaligus menguji keberadaan SDJK-JSM sebagai pemimpin daerah bernama: SULAWESI BARAT ini. 

Pada akhirnya saya mengucapkan Selamat dan Sukses kepada SDK dan JSM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat 2025-2030. Kepada Ibu Suraidah Suhardi, Syamsul Samad, Ary Iftikhar Shihab (Koje’), Sukri Umar, SP yang saya anggap sebagai pemantik lahirnya buku ini. Terima Kasih kepada H. Hendra S. Singkarru, Abdul Jawas Gani, Muhammad Ilyas Yacub, Tammalele, Subriadi Bakri, Muhammad Aliwardi Sail, Dirga Adhi Putra Singkarru, Ratih Megasari Singkarru, Iskandar Muda Baharuddin Lopa, Abdul Rahim, Suparman Sopu, Hajrul Malik, S. Syarifah Nur Abbas As-Siraj, Abdul Rahman Tona, Abdul Rahman Karim dan semua yang tak bisa saya sebut satu-satu. 

Wabilkhusus Andi Morgan, Muhammad Aslam, Andri Prayoga Singkarru, Imam Efendi S. Singkarru, Ardhy Amanah, S. Wildan S. Baso, S. Fauzi, Andi Qadir Sangalipu, Jalal, Musjad, Tahiruddin, Burhan, dan semua yang tak bisa saya sebutkan satu-satu. tetap semanagat. Kemenangan ini bukan akhir tapi awal untuk memulai apa yang kita cita-citakan bersama. 

Campalagian – Polman 
27 November – 9 Januari 2024   



MUHAMMAD MUNIR





Jumat, 17 Januari 2025

Mengenal HS. TASWIN KOSSENG ALATAS

S. TASWIN KOSSENG ALATAS, SE adalah salah satu keluarga JSM yang cukup total mendukung pasangan SDK – JSM di Pilgub 2024. Ia harusnya berada di kubu ABM – Arwan karena ia adalah salah satu kader Gerindra yang pernah menjadi kendaraan politiknya selama tiga periode di DPRD Majene (2009 – 2024). Tapi, melihat potensi menang, maka ia menjadi garda terdepan mendukung SDK – JSM. 
Terlebih, JSM sepupunya, karena Taswin adalah putra dari HS. Kosseng Alatas dari ibunya yang bernama Hj. Nurmiah. 

Alatas atau marga Al-Attas ini masuk ke Mandar berasal dari dua jalur, yakni perdagangan dan dakwah. Jalur perdagangan inilah yang kemudian beranak cucu yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh di Polewali Mandar yaitu keluarga Sayyed Mengga Al-Attas. Sementara jalur dakwah melalui Al Habib Alwi bin Husain Al-Attas. 
Mereka yang berperan penting dalam kedatangan orang Arab yang sayyid di Mandar adalah Habib Alwi bin Abdillah bin Sahl Jamalullail. Beliau memiliki hubungan baik hingga penjuru dunia seperti Malaysia. Ia pula yang berjasa mendatangkan keluarga Al-Attas yang merupakan kakek dari Puang Mengga. Keduanya sebenarnya memiliki pertalian hingga ke kakek-kakek mereka. Ketemunya ke Umar dan Hud yang bersaudara. HS. Kosseng Alatas adalah sosok yang melahirkan HS. Taswin.  

HS. Taswin lahir di Parepare, 31 Mei 1961 tapi pendidikan dari SD sampai SMA ia selesaikan di Majene. Ia menempuh pendidikan dasarnya di SD Tanjung Batu dan selesai tahun 1975. Ia kemudian lanjut di SLTP Negeri 1 Majene tahun 1978 dan selesai di SMA Negeri 1 Majene pada tahun 1981. Selesai SMA, ia memilih tak lanjut kuliah, tapi memilih bekerja sebagai kontraktor pada tahun 1983 hingga 2009 atau pada saat ia terpilih sebagai Anggota DPRD Majene. 

Sukses sebagai pengusaha kontraktor, ia dipercaya memimpin HIPMI sebagai ketua pada tahun 1993 – 1998. Ia juga didapuk jadi Ketua Gapensi tahun 1998 – 2001 dan Ketua BMK Kosgoro tahun 2007 – 2011. Bisa jadi dari serangkaian posisi penting diorganisasi, ia dengan mudah lolos sebagai Anggota DPRD Majene pada Pemilu 2009. Pada saat menjadi anggota DPRD ituylah ia mulai kuliah dan berhasil meraih gelar Sarjana Ekonomi pada tahun 2014.

Pasca penetapan SDK-JSM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Terpilih Sulawesi Barat, ia semakin sibuk pendampingi JSM dalam berbagai urusannya. Kini, S. Taswin menetap di Makassar tapi tetap berupaya menenun nasib Sulbar dengan caranya sendiri. 

Kamis, 16 Januari 2025

MENGENAL MUHAMMAD ASLAM || Direktur CV. Kenduri Cinta



MUHAMMAD ASLAM atau yang akrab disapa Bang Ka’lang ini adalah salah satu generasi Mandar yang banyak berkecimpung dalam dunia kebudayaan. Ia lahir di Tinambung dari pasangan Ahmad Syukur dan Hj. Husna Ba’do Hamid pada hari Kamis, 20 Maret 1975. Pada Pilkada 2024 kemarin ia merupakan Korcam Tinambung dalam Struktur Pemenangan SDK-JSM. Pria yang banyak aktif di Komunitas Teater Flamboyant Mandar ini tercatat sebagai salah satu kader Partai Demokrat tertua di Sulbar. Itu bisa dilihat dari KTA yang dia punya terbit pada tahun 2003 dengan Nomor 7319 – 2175 yang di keluarkan oleh DPD Demokrat Sulsel periode Reza Ali dan Haedar Madjid. 

Direktur CV. Kenduri Cinta Indonesia ini merupakan cucu dari dari Usman bersaudara yakni Hasan Usman dan Rahim Usman. Hasan Usman adalah sosok pemerhati pendidikan yang dibuktikan dengan beberapa sekolah yang didirikan yang berada dalam naungan Yayasan Perama. Sekolah yang didirikan itu antara lain MI DDI Oting, MTs Perma di Alu. Termasuk keberadaan toko buku Sudara yang ia rintis ikut mencerahkan generasi Mandar pada Era 50-60an. Adapun Rahim Usman adalah Kader PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) yang pernah menjadi Anggota DPRD Majene bersama dengan Mas’ud Rahman dan lainnya.   

Aslam tumbuh dan berkembang dalam asuhan orang tuanya. Secara ekonomi, kehidupan keluarganya termasuk melimpah kala itu sehingga soal pendidikan Aslam tidak merasakan kesulitan. Ia memulai pendidikannya di SD 055 Kandeapi kemudian lanjut ke SMP 1 dan SMA 1 Tinambung. Dengan modal ijazah SMA, ia menjadi honorer di Kantor Kelurahan mengikuti jejak ayahnya yang bekerja di Kantor Kelurahan Tinambung. Sampai 15 tahun jadi honorer tapi takdir jadi ASN tak tertulis di dahinya.
 
Pada medio tahun 2000an, ia banyak terlibat dalam proses Perjuangan Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. Tak hanya berjuang di tingkat lokal Sulbar (Polemaju), tapi juga di Makassar. Aslam menjadi bagian dari rombongan pendemo yang diangkut dengan Armada mobil PT. Sumber Tani. Aslam lihat Salman Razak (Pawang) melempar kaca jendela kantor gubernur saat demo untuk Sulbar yang berujung ricuh dan penagkapan Naharuddin (Sekejen KAPP Sulbar). Bahkan ke Jakarta menjadi saksi atas demo besar-besaran di Senayan bersama pasukan Kalijodo pada tahun 2002. Aslam menjadi penghubung antar orang Mandar yang ada di Jakarta kala itu untuk bergabung dalam demo menuntut Sulawesi Barat lepas dari induknya, Sulawesi Selatan. Aslam tahu persis bagaimana pergerakan yang dimatangkan di Legency Pratama Jakrta, rumah kediaman Anwar Adnan Saleh kala itu.  

Keterlibatan Aslam dalam proses perjuangan Sulbar karena adanya Teater Flamboyant Mandar, satu-sataunya lembaga dari Polemaju yang dikenal di Makassar, Jogyakarta dan Jakarta dan intens melakukan gerakan dukungan atas Sulbar untuk jadi propinsi. Cak Nun yang kala itu sedang jatuh cinta dengan Mandar ikut menjadi salah satu pemantik terciptanya kondisi yang membuat Sulbar lahir. Aslam dan Cak Nun memiliki hubungan emosional yang kuat sehingga komunikasi antara pejuang Sulbar dengan Cak Nun seakan tak ada sekat. 

Membincang Cak Nun dan Aslam tentu tak harus membayangkan bahwa Aslam adalah sosok yang piawai dipanggung. Bukan itu. Tapi ketika seseorang ingin mengundang Cak Nun atau berkunjung ke Menturo atau Jogja, maka bisa dipastikan tidak mengalami hambatan untuk bertemu langsung dengan Cak Nun. Itu terjadi sebab kedekatan Aslam dengan Cak Nun tidak bisa diukur dengan nilai materi. Kedatangan Cak Nun ke Mandar beberapa tahun ini merupakan upaya kerasnya membangun komunikasi dengan beberapa dinas dan anggota DPRD Sulbar. Tak hanya Cak Nun, putra beliau Sabrang, Personil Letto Band menginjakkan kaki ke Mandar juga tak lepas dari peran-peran dari Aslam. 

Kunjungan pertama penulis ke Sumobito Kecamatan Menturo, kampung kelahiran Cak Nun pada tahun 2016 saat perhelatan Ihtifal Maiyah dalam rangka Ultah Cak Nun ke-63. Aslam adalah pimpinan delegasi dari Mandar yang terdiri dari M. Sukhri Dahlan, Nana, Arifin Nejas dan S. Wildan. Kami mulai dari bandara Juanda Surabaya mendapat sambutan yang begitu familiar dari teman-teman Maiyah Surabaya. 

Kami difasilitasi kendaraan dan segala kebutuhan selama berada di Surabaya sampai tiba di Menturo kami diperlakukan dengan sanagt istimewa baik dari jamaah Maiyah, terlebih Cak Nun yang langsung berhamburan memeluk Aslam pada saat bertemu. “Oh, selamat datang saudara Mandarku, Aslam…”. Ucap Cak Nun dengan nada agak lantang sembari memeluk Aslam dan menyalami kami satu persatu. Itulah makanya, Aslam ditunjuk oleh Caknun menjadi Koordinator Simpul Maiyah Nusantara dari Mandar Sulbar.  

Bukan hanya persoalan Maiyah dan Cak Nun. Dalam dunia pusaka, Ketua Komunitas Pemerhati Budaya, Pusaka dan Naskah “Passemandarang” ini selain ia memiliki koleksi yang melimpah, ia juga sangat dekat dengan maestro besi sekelas Papa Lero, Ust. Hasbi dan Jendral Salim S. Mengga. Jika ada pameran pusaka di Sulawesi, maka orang pertama yang akan muncul dan sibuk mengurusi itu semua adalah Aslam.

Bukan yang lain. JIka Aslam kerap menjadi sosok yang memfasilitasi orang-orang besar masuk ke Mandar, itu bukan persoalan yang aneh, sebab kakeknya dulu juga yang memfasilitasi putra HOS Cokroaminoto sewaktu berkunjung ke Mandar, bahkan nginap dirumahnya.  
Persinggungannya dengan dunia seni dan budaya tentu tak bisa dinafikan. Ia pernah mengantar anak-anak Mandar bersama Sahabuddin ke Kuala Lumpur mementaskan Tari Pallake di luar negeri. Saat ini Ia juga menjadi penghubung antara kerajaan-kerajaan yang ada diluar dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Mandar. Selain itu, Ia juga dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Palasara Sulsel. Bahkan dalam jaringan Thariqat Qadiriyah, ia juga menjadi salah satu pengurus Jamiyah Ahlith-Thariqah Al-Mu’tabarah Anahdhiyah (JATMAN) dengan NRA. 025 0121 018.   

Setahun setelah Sulbar terbentuk, Ia memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi wanita bernama Sitti Aisyah pada tahun 2005. Dari hasil pernikahannya ini, ia dikaruniai dua orang anak masing-masing bernama Zarin Abadiya dan Muhammad Danish Basyarat. Nama nak-anaknya ini adalah pemberian dari Cak Nun. Aslam memang kerap meminta petunjuk untuk nama anak-anak yang baru lahir ke Cak Nun jika ada anggota yang minta tolong 
Kaitannya dengan Pilgub Sulbar, Aslam ini tak mungkin bisa diabaikan peran-perannya. 

Hubungannya dengan Demokrat adalah kader yang disana ada Syamsul Samad yang kerap menjadi mitra dalam segala hal ketika Syamsul membutuhkan kemitraan. Aslam dari awal memang dikenal sebagai pendukung utama SDK sejak Pilgub 2017 sampai Pilgub 2024, ia tak pernah beranjak. Sebagai orang Maiyah, tentu memahami betul bahwa satu-satunya yang bisa mengalahkan kekuatan cinta adalah kesetiaan. Dan Aslam dikenal setia dengan Partai Demokrat sejak tahun 2003 sampai sekarang. 

Selasa, 14 Januari 2025

ARWIN || Sang Jawara Dari Bumi Lantang Kada Nene'

Dari Bumi Lantang Kada Nene’, sosok pemuda sontak jadi buah bibir di kalangan politisi dan rakyat Mamasa. Pemuda kelahiran, Ralleanak, 3 Mei 1997 menjadi peraih suara terbanyak bukan saja di dapilnya tapi seluruh wilayah Kabupaten Mamasa. Sosok ini kemudian kembali dipercaya menjadi Ketua Timk Koalisi Sulbar Maju di Mamasa dan berhasil memenangkan pasangan SDK-JSM di Kabupaten Mamasa. 

Ia adalah Arwin Rahman Tona, SH. Putra dari Abdul Rahman Tona, SE (Kepala Desa Ralleanak (2010-2016, 2017-2023, 2023-2029) dan Andi Mustika Nur, S.Pd. (Kepala SDN 004 Ralleanak). Arwin beruntung memiliki peluang politik yang cemerlang di bumi Kondosapata Uwai Sapaleleang. Kini diperiodenya yang kedua, ia didapuk menjadi Wakil Ketua 1 DPRD Mamasa. Sebelumnya ia juga lolos menjadi Anggota DPRD Mamasa dan ditunjuk sebagai Ketua Komisi 1 DPRD Mamasa (2019-2024), Badan Anggaran DPRD Mamasa, dan Badan Musyawarah DPRD Mamasa, Badan Pembentuk Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Mamasa. 

Suami dari Andi Aswiwin Syahril, S.K.M. ini mengawali pendidikannya di SDN 004 Ralleanak, kemudian lajut ke SMPN 2 Ralleanak. Selepas dari SMP Ralleanak, ia didaftarkan sebagai santri di PPM Al-Ikhlash Lampoko Campalagian. Ia menjadi santri selama 3 tahun dan harus mondok. Dari sinilah Arwin diinstal dengan pemahaman keagamaan yang kental. Tak berhenti disitu, setelah khatam di ponpes besutan HM. Zikir Sewai itu, Arwin melanjutkan studinya di Unsulbar. Ia tercatat sebagai mashasiswa S1 Jurusan Ilmu Hukum Unsulbar. Tak hanya di Unsulbar, sejak tahun 2022 lalu, ia juga pemilik kartu mahasiswa Jurusan Tehnik Sipil di Universitas Tomakaka Kampus VI Mamasa. 

Capaian Arwin saat ini sesungguhnya adalah ganjaran dari berbagai aktifitas yang memantaskan dirinya sebagai pengayom, betapa tidak sejak menjadi mahasiswa, ia banyak dipercaya teman-teman di kapmpusnya untuk menjadi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Kabupaten Mamasa (HMKM) Mejene Periode 2015-2017 dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Majene 2016-2017. 

Hal yang luar biasa sesungguhnya karena diluar kampungnya saja diercaya sebagai pemimpin, apalagi di kampungnya sendiri. 
Itulah makanya, ayah Pengeran Putra Ragunalolo ini didorong oleh masyarakat Mambi untuk terjun ke dunia politik. Bapaknya yang tak lain seorang kepala desa tentu sangat mendukung putranya maju sebagai Caleg DPRD Mamasa pada Pemilu 2019 lalu. Ternyata kehudupan Arwin berubah drastis setelah berstatus sebagai wakil rakyat. Ia semakin berbenah dan meng-upgrad dirinya sebagai pemimpin dan pelayan masyarakat. 

Itulah yang dilakukan Arwin selama lima tahun terakhir. 
Pengaruhnya kian terasa ketika terpilih menjadi Anggota DPRD Mamasa. Sejumlah organisasi mendaulatnya terlibat, sebagian menunjuknya sebagai pemimpin. 
Organisasi itu antara lain Koordinator Presidium Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD-KAHMI) Mamasa periode 2022-2025, Ketua Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Mamasa 2020 sampai sekarang, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) BPC Mamasa Periode 2022-2025, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kabupaten Mamasa Periode 2023-2028.   
      
Di Partainya juga begitu. Ia diberi kesempatan menjadi Wakil Sekretaris Bidang Pemenangan Pemilu DPW Nasdem 2024, Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD Nasdem Kabupaten Mamasa, Direktur Komisi Saksi Nasional (KSN) DPD Partai Nasdem Mamasa, Ketua Relawan Amin Kabupaten Mamasa (Pilpres 2024). Bahkan pada Pilkada Gubernur 2024, ia diberi kepercayaan sebagai Ketua Koalisi Sulbar Maju di Mamasa. Hasilnya adalah 48% mampu ia raup suara untuk Pasangan SDK-JSM. 
Kendati perolehan Pilkada Gubernur 2017 SDK-Kalma memperoleh suara 58,2% tapi rasa menangnya lebih kental yang 2024.  
 
Kematangan secara politis, kematangan berfikir kian berkembang seiring dengan kematangan finansial dengan menjadi Presdir CV. Bintang PUS, dan mendirikan badan usaha CV. Manalolo Putra dan Pendiri PT. Banua Media Utama. Komoditas Kopi menjadi andalan karena Mamasa sejak zaman Belanda menjadi sentra penanaman kopi arabika dan robusta.   

***

Kamis, 20 Februari 2024, menjadi hari bersejarah bagi Arwin, pasalnya karena pada Pleno Penghitungan suara hasil Pemilu 2024 yang dihelat pada 14 Februari 2024 unggul mendapatkan suara sebanyak 4. 248 yang memecah rekor perolehan suara terbanyak Se-Kabupaten Mamasa. Pada tanggal 22 Oktober 2024 ia akhirnya dilantik sebagai Wakil Ketua 1 DPRD Mamasa Peride 2024-2029 di Ruang Paripurna DPRD Mamasa Jl. Poros Mamasa Polewali Desa Osango Kecamatan Mamasa. 

Perlu diketahui, Kabupaten Mamasa dibagi ke dalam tiga dapil yakni Dapil Mamasa 1 terdiri dari 5 kecamatan) kuota kursi 10. Dapil Mamasa 2 lima kecamatan 6 kursi, dan Mamasa 3 terdapat 7 kecamatan 9 kursi. Arwin tercatat sebagai Caleg DPRD Kabupaten Mamasa di dapil Mamasa 3. 

 

ISTANBUL TURKIYE || Jejak Imam Lapeo terekam disini.


Kota yang indah dari hasil kemajuan peradaban era Utsmani. Kota ini banyak lahir ulama besar dan dikunjungi oleh para alim ulama seluruh dunia termasuk dari ulama dari Mandar ada yang mengharuskan kesana untuk menyambung sanad keilmuannya. 

Salah satu ulama itu adalah KH. Muhammad Tahir Imam Lapeo. Di Kota ini beliau melakukan rihlah untuk menautkan salah satu sanad keilmuannya di Istanbul Turki. 

Kota ini begitu berkesan bagi Imam Lapeo, sehingga model masjid Nuruttaubah pada zamannya menggunakan model yang sama, yakni menara. Menurut sumber, awalnya masjid lapeo adalah sebuah langgar yang bangunannya mirip joglo, sebagaimana masjid pada umumnya. 

Setelah Imam Lapeo menetap di Mandar, langgar itu dibangun dalam bentuk masjid berarsitektur masjid di Kota Istanbul. Proses pembangunannya sampai punya menara memakan waktu hampir 40 tahun. Menara baru bisa terbangun  saat Jepang masuk ke Mandar 1943-1945. Menara itu kemudian berdiri atas bantuan tentara Jepang. 

Mengenai dimana Imam Lapeo tinggal di Istanbul dan siapa nama guru yang ia cari sampai ke Istanbul masih dalam penjejakan. Yang pasti Istanbul menjadi kota kenangan bagi Imam Lapeo, bahkan salah satu gelarannya yang sangat lekat dengan Istanbul adalah panggilan anak cucunya: KANNE' AMBOL . 

Saking seringnya ia bercerita dan menjadikan gurunya di Istambul sehingga ia dijuluki Kanne Ambol. 

Ada tanggapan ? 
Diskusi dibuka untuk semua
@semua orang

Minggu, 12 Januari 2025

SITTI SUTINAH SUHARDI || Perempuan Pertama Jadi Bupati di Sulawesi Barat.

SITTI SUTINAH SUHARDI adalah putri sulung Suhardi Duka dengan Harsinah Dg. Ngasseng yang akrab disapa Tina. Pada Pilkada Mamuju 9 Desember 2020 ia menjadi penantang petahana bersama politisi PDI Perjuangan, Ado’ Mas’ud. Dari sini, Sutina menjadi sosok wanita pertama yang menjadi Bupati Mamuju. Untuk periode keduanya sebagai Bupati, ia kembali maju di Pilkada Serentak, 27 November 2024 dengan menggandeng kader PKS, Yuki Permana. Hal menarik dari perhelatan ini karena bersamaan dengan Ayahnya yang juga terdaftar sebagai Calon Gubernur Sulawesi Barat bersama Jendral Salim Mengga sebagai Wakil Gubernur. 

Paket Sutina dengan Ado’ Mas’ud pada Pilkada lalu pecah kongsi. Ado’ menggandeng H. Damris menjadi kompetitor di Pilkada lewat usungan PDIP, Golkar dan Perindo. Sementara Sutinah disung oleh Partai democrat, Nasdem, Hanura, PKS, Gerindra, PKB, PAN, PBB, PSI, Gelora, PPP, Ummat dan Buruh. Secara dukungan partai, posisi Ado’ sebagai penantang sesungguhnya telah jauh terlampaui jika kalkulasinya menggunakan parameter suara partai. Terlebih, ayahnya juga masih menjadi salah satu tokoh berpengaruh di Sulbar, khususnya Mamuju. Hasilnya kemudian mencatatkan kemenangan Sutinah di periode keduanya sebagai Bupati Mamuju.      

Sutina lahir di Ujung Pandang 07 Maret 1984. Ia merupakan buah cinta dari pasangan SDK dan dengan Harsinah Dg. Ngasseng setahun setelah pernikannya dengan wanita pujaannya. Tina menjadi saksi atas keputusan ayahnya yang nekat menikah saat berstatus mahasiswa. Sebagai pasangan muda, tentu Sutina menjadi spirit bagi SDK untuk membuktikan pada mertua dan ayahnya bahwa bahwa ia tidak salah mengambil keptusan menikah dini. 
Lahirnya Sutinah dan anak keduanya, Suraidah menjadi pelengkap kebahagiaan SDK dan istrinya. Betapa tidak, dua sosok putrinya ini menjadi bingkisan berharga yang ia bawa ke Mamuju bersama dengan Ijazah Sarjana dan SK sebagai PNS di Departemen Penerangan. 
SDK mungkin tak menyangka bahwa putri pertaamanya itu akan menjadi sosok pemimpin yang mengikuti jejaknya sebagai Bupati dua periode di daerah yang sama yaitu Kabupaten Mamuju. SDK yang dulu berani menanggalkan status PNS-nya untuk terjun ke dunia politik terulang pada putrinya yang juga rela meninggalkan statusnya sebagai Kepala Dinas Perdagangan Mamuju untuk menjadi Calon Bupati. 

SDK berhasil membuktikan  bahwa sejarah sejatinya akan selalu terulang dalam kondisi yang berbeda. Inilah yang terjadi yang mungkin susah kita dapati peristiwa dan sosok yang yang lain kedepan. SDK dan Sutinah ini adalah peristiwa bersejarah dan akan terus menyejarah. Selain keluar dari ASN untuk masuk dalam dunia politik, ia juga berhasil menumbangkan petahana, Habsi Wahid sebagaimana ayahnya yang berhasil mengalahkan Almalik Pababari sebagai petahana waktu itu. SDK dan Sutinah berhasil mencapai sukses dengan menjadi Bupati dua periode, sebagaimana yang dialami oleh ayahnya, SDK.  

***

Sebagaimana layaknya SDK, anak-anaknya semua didorong untuk menyelesaikan pendidikannya sampai ke level S3. Tak hanya dorongan, SDK sendiri memberikan contoh pada anak-anaknya. Ia sendiri berhasil meraih gelar doctor yang disusul oleh anaknya, Suraidah. Setelah Suraidah, Sutinah pub akhirnya berhasil menyandang gelar Doktor sejak Agustus lalu  Pendidikan dasar Sutinah diselesaikan di SD Inpres Binanga Mamuju tahun 1999, lalu SMP Negeri 1 Mamuju dan melajutkan pendidikannya di SMU Negeri 1 Mamuju tahun 2002. 

Memasuki dunia kampus, Tina menyelesaikan S1-nya di Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2006, dan Pasca Sarjana di Institusi Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Tahun 2011. Selama menempuh pendidikan di kampus, Tina aktif di beberapa organisasi ekstra kampus seperti, AMPI, HMI 2003 sampai 2005. Ia juga merupakan Ketua MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Mamuju 2018 hingga 2022 dan kembali terpilih kedua kalinya dan dilantik pada tahun 2024.  

Wanita berkacamata ini merupakan istri AKBP Bambang Yugo Pamungkas yang menjabat Kapolres Sukoharjo, Jawa Tengah. Buah perkawinannya dianugerahi dua anak bernama Satya Adjie Prayugo, dan Alice Sitti Delisha. Ia mengawali karirnya di ASN mulai sebagai Kasi Pelayanan Umum Kelurahan Mamunyu, Kecamatan Mamuju Tahun 2007. Ka. Subdit Pengembangan SDA Bappeda Mamuju Tahun 2009, Kepala Bapedalda Mamuju tahun 2012. Lalu Sekretaris Dinas Dikpora Kabupaten tahun 2015, hingga menjadi Sekretaris Dinas Perdagangan Mamuju tahun 2017. 

Jabatan tertinggi yang ia duduki di birokrasi, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Mamuju 2018 sebelum mengundurkan diri sebagai syarat untuk maju di Pilkada Mamuju 2020. Keputusan mundur itu ternyata tak salah, sebab kemudian ia menjadi Bupati di Kabupaten Mamuju yang juga menjadi Ibu kota Propinsi Sulawesi Barat. 

SUTINAH: Perempuan Pertama Jadi Bupati di Sulawesi Barat. 

Pada tahun 1983, seorang pemuda yang masih berstatus sebagai mahasiswa semester tiga Ia anak rantau dari Mamuju. Namanya Suhardi Duka atau SDK. Ia mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Sulawesi Selatan. SDK memutuskan untuk meminang seorang dara Gowa, Makassar, bernama Harsinah. Saat itu tahun 1984. Harsinah, tentu pula sang ayah Suhardi Duka, begitu bergembira mendengar tangisan awal anak pertamanya. Sosok bayi perempuan mungil dengan kulit putih bersih, Tina dengan nama lengkap Sitti Sutinah. 

SDK memutuskan kembali ke Mamuju setelah menyelesaikan studinya di UNHAS. Tekad untuk menenun nasibnya begitu kokoh. Kepulangannya ke Mamuju sebagai PNS di Dinas Penerangan Mamuju telah menjadi pilihan terbaik baginya, meski sesungguhnya ia punya peluang untuk berkarir di Makassar atau menerima peluang jadi dosen di Universitas Tadulako, Palu.Sebelum ia benar-benar meninggalkan Makassar, anak keduanya lahir dan diberi nama Sitti Suraidah. Praktis, Ia memboyong istri dan kedua anaknya ke Mamuju. Itulah makanya, Sutinah dan Suraidah nyaris tak ada yang keduanya ingat di masa kecilnya di Makassar. 

Praktis sejak 1987, ketika Sutinah belum genap berumur lima tahun, ayah dan ibunya telah memutuskan untuk kembali ke Mamuju, kampung halaman leluhurnya. Generasi Tina bisa dibilang generasi dengan keadaan kawasan Mandar yang sudah relatif maju, salah satunya pembangunan jalan misalnya. Tina kerap mendengar cerita tentang hubungan antara Daerah Tingkat (Dati) II Majene dan Daerah Tingkat (Dati) II Mamuju. Berangkat dari Makassar, mobil berhenti di Majene kemudian perjalanan ke Mamuju dilanjutkan dengan naik piccara, perahu tradisional Mandar. Ketika Tina kembali ke Mamuju pada 1987, mobil sudah bisa membawanya hingga ke ibu kota Kabupaten Mamuju. 

KEHIDUPAN Tina benar-benar dimulai di Mamuju. Keluarga Suhardi-Harsinah menempati sebuah rumah relatif sedang di bilangan puncak Mamuju. Tina mulai mengecap pendidikan formal di Taman Kanak-kanak (TK) Mamuju. Meskipun masih kecil dan dalam masa yang seharusnya ia habiskan untuk bermain dan bersenda gurau dengan anak sepantarannya, kenyataannya ia sudah punya beban. Adiknya, Sitti Suraidah, yang umurnya hanya terpaut dua tahun. 

Walau di rumah ada ibunya, Tina sudah bisa mengambil peran lain untuk mengurangi beban ibunya. Pekerjaan sebagai pengasuh adik-adiknya mulai terlihat ketika anak ketiga lahir. Kelahiran adiknya mulai yang ketiga, keempat, dan kelima semuanya jadi tanggung jawab Tina. 

Terbayang Tina di masa itu sungguh repot. Sepulang sekolah, di rumah harus tetap berkesiap menjaga adik-adiknya. Jika keluar rumah bermain-main, Tina tetap siap menemani, mengawal ke mana adik-adiknya itu bepergian. Ia menjalani pekerjaan ini mengasyikkan. Kelak adik-adiknya tahu bahwa kasih sayang kakaknya itu mewujud secara nyata tanpa dibatasi ruang dan waktu. Sebuah tanggungjawab yang tak ringan telah ia tunaikan sejak masa kecil. Amanah sebagai seorang kakak tertua, meski ia seorang perempuan, Tina telah buktikan. Ini seolah sinyal awal bahwa kelak Tina akan mampu menjadi seorang pemimpin formal, pemimpin daerah yang sesungguhnya. 
Kehidupan keluarga seorang Pamong Negara sebelum tahun 90 jauh dari kemewahan, ia tidak pula berkekurangan. Sebagai seorang anak tertua, Tina memotret betul kondisi kehidupan keluarganya kala itu. Ayahnya, SDK benar adalah seorang PNS di Departemen Penerangan Pemerintah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Selatan. 
Saat itu ia masih duduk di bangku SD, juga adeknya Suraidah. Ayahnya yang seorang PNS harus meninggalkan Mamuju beberapa bulan untuk mengikuti Latihan Kepemimpinan (Latpim) di Makassar. 

Saban terima gaji di awal bulan ayahnya rutin mengirim uang ke Mamuju, di antaranya untuk memenuhi uang jajan Tina dan Suraidah. Ia ingat persis kalau uang jajannya di sekolah kerap tak mencukupi. Menyiasati kekurangan uang jajan itu, Tina punya akal. Saat ibunya beri uang jajan, Tina mencoba memutar uang jajan itu dengan membeli permen Jeli. Permen itu lalu ia jual kepada teman-teman di sekitar rumahnya di sekitaran puncak, Mamuju. Dengan cara memutar uang jajan secara kreatif itu, uang jajan yang tadinya hanya cukup untuk seminggu bisa berlipat ganda memenuhi kebutuhan jajan di sekolah dua sampai tiga minggu. 
Ibu Harsinah sadar benar bahwa anak-anaknya berjenis perempuan. Meski begitu, Harsinah ingin agar anak-anak perempuannya itu rajin bekerja. Sejak kecil Tina dan Suraidah sudah biasa masak di dapur.

Membersihkan rumah. Ia ingat saat ibunya membagi tugas kepada anak-anaknya. Jika Tina sedang mencuci pakaian misalnya, maka Suraidah yang membantu ibunya memasak di dapur, dan adik lainnya menyapu di pekarangan rumah. Pengaturan pekerjaan ini mereka jalani sejak di bangku SD. 

Di relung dan benak Tina sungguh menyemayam ide-ide kreatif. Tantangan selaku anak pertama membuatnya cepat bergerak sebagai respon apa yang menjadi buah pemikirannya. Sebuah kulkas yang dibeli ayahnya untuk kebutuhan keluarga di dapur, Tina punya ide. Setiap malam Tina rajin isi air dalam plastik lalu dimasukkan ke kulkas. 

Dengan air es itu giliran Suraidah yang bawa ke sekolah dan ke warung-warung. Setiap pagi kolaborasi bisnis es ini mereka lalukan. Cemistry, keakraban Tina dan Suraidah selain karena saudara kandung tentunya juga faktor perbedaan umur keduanya hanya terpaut dua tahun. 

***

KEBANGGAAN Tina pada ayahnya ia ucapkan sembari dengan goyangan kepala. Tak sekali Tina menyebut kebanggaan pada ayahnya. Ia total pada keluarga. Ia bekerja seolah melebihi waktu normal dalam sehari. Terus menerus ia lakukan pekerjaan yang ia mampu. Tina menyebut, beliau total bekerja untuk membahagiakan kami, demi ibu dan anak-anaknya SDK mendedikasikan waktunya demi keluarga dan karir.

Selain aktif sebagai seorang PNS juga mengajar di SMEA Mamuju. PNS saat itu bekerja selama enam hari, Senin sampai Sabtu. 
Tina mengingatnya, ayahnya berangkat pagi ke kantor dan siangnya pulang ke rumah ganti baju lalu bergegas keluar lagi untuk mengajar di SMEA hingga sore hari. Kukuh bekerja bawaan dari kakeknya. Kakeknya yang seorang pegawai rendahan telah menanamkan sikap mandiri dan mesti kuat mengecap ilmu di jalur sekolah. Tina pun telah mendapat pesan-pesan itu. Ia ceritakan, meski kakek pegawai biasa tapi sejak dini beliau telah tanamkan pada anakanaknya, Tina mafhum benar dengan kodratinya sebagai anak perempuan. 

Juga ia akui tak ada harta banyak yang diwariskan. 
Meski begitu ia tetap harus sekolah. Semangat itu membathin dalam diri Tina dan adik-adiknya. Itulah yang kemudian membuatnya sekolah tinggi. Tina dan adik-adiknya seolah berlomba mencapai sekolah tinggi semampunya. Dan dengan kenyataan ini membuat SDK bangga.
Setelah lulus SLTA, Tina menembus perguruan tinggi selevel Unhas dan selesai dengan gelar Sarjana Hukum (S1). Ia meneruskan pendidikan Strata Dua (S2) di jalur sekolah ikatan dinas pemerintahan: Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri (STPDN). Saat ini Tina sedang kuliah untuk jenjang doktoral (S3). 

Seorang adiknya selesai dengan gelar Dokter. Yang satunya lagi bahkan menempuh pendidikan tinggi di Amerika Serikat (AS). Bagi Tina, tak penting menyebut pintar. Yang harus diperkuat adalah apakah kita kukuh dan punya kemauan kuat untuk sekolah hingga ke perguruan tinggi. Ilmu itu sangat berguna. Dan, Tina rasakan manfaat ilmu yang ia peroleh selama di bangku kuliah ketika pada saatnya diamanahi menjadi seorang pemimpin daerah. 

BUKAN soal beruntung. Ia berjuang di jalur peruntungan yang tepat. Lulus di SMA Negeri 01 Mamuju, Tina coba peruntungan mendaftar PNS. Dulu memang belum susah masuk PNS, apalagi jika sudah punya ijazah lulusan SLTA. Di saat ia mendaftar PNS di Pemerintah Kabupaten Mamuju, di waktu yang sama SDK sedang dalam karir politik Golongan Karya (Golkar) yang hebat dan posisi yang kuat di Mamuju: Ketua DPRD Kabupaten Mamuju. Jadilah Tina PNS. Bersamaan dengan itu ia sedang kuliah di Unhas. Jadi ia kerja sambil kuliah Peruntungan Tina yang lain, setelah merengkuh gelar sarjana hukum, datanglah lamaran. 

Seorang lelaki Yugo yang berkarir sebagai Polisi (Perwira) meminangnya. Tina bercerita, sang suaminya saat itu sedang bertugas di Kabupaten Merauke, Papua. Begitu suami dapat beasiswa S2 di Jakarta, Ia menyusul dan diterima S2 di IPDN, Jatinangor, Bandung, Jawa Barat. Sekarang saya baru masuk semester 4. Tina menolak dikaitkan terlalu jauh dengan posisi ayahnya selaku Bupati Mamuju. Memang, adalah kenyataan SDK menjadi Bupati Mamuju selama 10 tahun (2005-2015).

Di penghujung masa jabatannya di periode yang kedua, SDK sempat melantik Tina selaku Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mamuju. Tapi menurut Tina itu normal saja, tak ada penggunaan peluang selaku anak bupati untuk sampai ke posisi itu bukti sahih tentang jalurnya di birokrasi ia dapatkan secara wajar, berikut sebuah kisah yang oleh Tina sebagai penguat bahwa ia menduduki jabatan di Pemerintahan Kabupaten Mamuju rasional dengan melalui proses uji dan seleksi kepangkatan hingga merengkuh jabatan Tina memulai karir dari bawah. Ketika masih kerja di Kelurahan Mamuju, Kecamatan Mamuju, ia bertugas sebagai penagih pajak. Ia turun ke bawah menemui warga selaku obyek pajak daerah. 

Padahal kalau ia mau tak merepotkan diri—dan kenyataannya ia mampu untuk itu—cukup menalangi kewajiban para obyek pajak dengan uang pribadinya, toh juga jumlahnya tak terlampau banyak: 100 ribu, paling banyak 200 ribu rupiah. Dengan begitu selesai tanggung jawabnya sebagai penagih pajak. Tapi Tina tak lalukan itu. Ia bekerja profesional bersama stafnya di kantor kelurahan tersebut. Saban hari bersama timnya mendatangi rumah-rumah warga. 

Tina ingat benar, dari sekian banyak obyek pajak saat itu, bahkan ada warga yang kewajiban pajaknya hanya 5 ribu rupiah, 10 ribu rupiah, dan 15 ribu rupiah. Tak banyak memang, tapi mereka harus taat pajak, wajib tunaikan kewajibannya. Dengan angka total pajak di atas, masih ada yang menolak, meminta penundaan waktu. Tapi ia berkeras. Ia seolah memaksa warga membayar kewajiban pajaknya. 

Bagi Tina, pajak warga berkontribusi dalam pembangunan daerah kita, demi Kabupaten Mamuju juga Ia mengulang memori dulu itu. Ia akui, meski dengan gigih bekerja setiap hari dalam waktu yang lama, toh masih ada juga yang tak bersedia bayar PBB-nya. Dengan mengenang perjalanan itu, Tina hendak menyampaikan pesan bahwa ia pernah turun ke bawah. 

***

Pada 2015 hingga 2020, Habsi Wahid menakhodai Kabupaten Mamuju, tandem dengan wakilnya, Irwan SP Pababari. Di masa itu, bupati Habsi menggeser posisi Tina dan melantiknya sebagai Sekretaris Dinas Perdagangan Pemerintah Kabupaten Mamuju. Ia jalani di pos barunya ini selama satu tahun, sebab hasil fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan) yang ia ikuti sebagai prasyarat naik menjadi pejabat Eselon II, menempatkannya sebagai Kepala Dinas Perdagangan Pemerintah Kabupaten Mamuju. Posisinya sebagai pejabat pamong di level Eselon II di masa pemerintahan Habsi-Irwan membuatnya terhindar dari tudingan faktor koneksi yang tentunya bisa beraroma nepotisme. 

Lain hal seandainya SDK masih bupati. Tina akan sulit menghindari cibiran faktor meraih peluang lantaran kedekatan ayah dan anak itu. Tak lama sebagai kepala dinas, sebab palagan politik Mamuju telah bekerja untuknya. Tina terprotek format politik ayahnya dan Partai Demokrat Mamuju tentunya. Setahun lebih menjadi kepala dinas sudah barang tentu belum cukup baginya menjangkau belantara birokrasi yang sesungguhnya. Tapi begitulah. Politik telah bekerja. Kehendak Tuhan yang menentukan ke mana tungkai dan langkah seharusnya diayun.

Mundur dari jabatan kepala dinas sekaligus harus menanggalkan pangkat Eselon II dan meninggalkan ASN secara permanen bukan pilihan sekadar coba-coba. Harus pensiun di usia dini dalam karir pamong yang masih relative belia, tentulah pilihan dengan pertimbangan yang matang. Adalah kenyataan bahwa Hj. Sitti Sutinah Suhardi benar-benar angkat kaki dari Dinas Perdagangan Kabupaten Mamuju dan merelakan dirinya pensiun dini sebagai ASN di Pemerintahan Kabupaten Mamuju. Telinga  Tina mendengar keluh kesah, masukan dan juga larangan untuk mundur dari jabatannya itu. Tak sedikit pihak yang menyayangkan pilihannya untuk mundur dari kadis dan ASN. 

SDK, ayahnya yang kukuh mendukungnya untuk mundur lalu ia melangkah serius di dunia politik pratis Sebelum keputusan itu keluar, SDK banyak mendengar suara dari masyarakat. Ia mendapatkan masukan ada di antara keluarganya maju, apakah anak atau saudara. Suraidah awalnya ditawari, tapi Suraidah tak bersedia. Maka pilihan kemudian jatuh pada Tina. Ia mengikuti petunjuk garis tangannya semata. Bahwa harus masuk ke politik dan berlaga di palagan politik pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Mamuju, itu juga pilihan yang harus dia jalani selanjutnya. 

Tina tak terlampau setuju jika dikatakan bahwa dirinya diformat secara khusus oleh SDK untuk mengikuti jejak karir sang ayah. Sejujurnya, sejak awal, ia hanya mau jadi ibu rumah tangga biasa. Mau ikut suami. Saat pertama kali bertemu lelaki Yugo, suaminya, yang polisi itu, ia sudah mulai menapak karir sebagai ASN. Ia bangga dengan pandangan suaminya yang oleh Tina menganggapnya sangat demokratis. Suaminya juga tak ingin mengahambat karir istrinya. Yugo berpandangan bahwa Tina, istrinya punya potensi besar jadi ini dan itu. Ia tak ingin jadi penghalangnya. 

Dengan keluhuran hati dan keteguhan sikap suaminya itu, motivasi Tina seolah terpompa berkarir meniti jalan. Tina bisa kembali membantah berkali-kali disebut ayahnya terlibat langsung memengaruhi karirnya di birokrasi dan politik yang ia tempuh saat ini, atau di saat ketika ia memutuskan maju sebagai calon Bupati Mamuju 2020 lalu. Ia sadar dalam keluarganya sudah terbentuk semacam design alamiah. Yang ia masksud dirinya ditakdirkan berkarir di birokrasi sedangkan adiknya Suraidah memantapkan diri sebagai politisi. Terkait Sitti Suraidah Suhardi, dia memulai karir politik di Partai Demokrat Kabupaten Mamuju yang menjadikannya duduk di DPRD Kabupaten Mamuju. Seterusnya menjadi Ketua DPRD Mamuju. 

Pemilu 2019, di partai yang sama, Suraidah menapak tangga lebih tinggi, yakni DPRD Provinsi Sulawesi Barat, dan langsung terprotek sebagai ketua parlemen. Dua anak perempuan SDK cemerlang di jalur politik. Pilkada 2020, Tina terpilih menjadi Bupati Mamuju. Pilkada Mamuju 2020 dramatis bagi Tina. Partai Demokrat menggandeng PDI Perjuangan, dan sejumlah partai lainnya, dengan mengusung pasangan Sutinah Suhardi-Ado Mas’ud (Tina-Ado). Pasangan ini melawan incumbent, Habsi Wahid-Irwan SP Pababari. Sudah bukan rahasia, terutama di daerah, siapa yang melawan petahana (figur yang sedang berkuasa) sulit terkalahkan. Kenyataan berkata lain. Sang penantang, Tina-Ado, berhasil unggul di perhitungan akhir gelaran Pilkada Mamuju lalu. 

Sejak awal 2021 Tina memimpin secara formal pemerintahan dan pembangunan Kabupaten Mamuju. Dengan posisinya itu, Tina sekaligus mencetak rekor baru dan menciptakan sejarah: bupati pertama perempuan di Provinsi Sulawesi Barat. Sekilas tentang posisi politik kedua kakak beradik, Tina dan Suraidah. Anak ketiga yang dokter itu juga nyaris jadi politisi tapi akhirnya kembali ke habitanya sebagai dokter. 

Memang, pada Pemilu 2014 dokter Sulfiah Suhardi tercatat namanya dalam komposisi nomor urut Calon Anggota DPR RI dari Partai Demokrat untuk Daerah Pemilihan Provinsi Sulawesi Barat. Dengan ajakan ke politik, Sulfiah malah menebarkan pesan humanis. “Pengabdian kepada masyarakat bukan hanya jalannya jadi politisi, mengabdi di rumah sakit itu juga pengabdian kepada masyarakat.” Demikian keputusan Silfiah kala itu. 

***

BUPATI Mamuju, sebuah jabatan politik tinggi yang tak pernah dikira sampai di pundak Tina. Pilkada Mamuju pada Desember 2020 adalah awal pembuktian itu. Ia menggenggam kekuasaan, menakhodai sebuah kabupaten tua di jazirah Manakarra, memimpin hampir 600 ribu penduduk. Pengharapan dan mungkin ekspektasi warga sekabupaten kini di hadapannya. Mampukah ia berbuat maksimal untuk warga kabupaten yang dipimpinnya kini?. Hanya Tuhan, dan tentu Tina sendiri yang tahu. Tina pandai pidato di depan umum atau ketika setiap kali ia tampil di khalayak banyak.

Kemampuan atau keberanian ini ia miliki secara otodidak. Meski ayahnya dikenal orator hebat, Tina tak pernah belajar secara kepada ayahnya. Kemampuannya mengalir saja. Bahkan jauh sebelum jadi bupati, ia sudah terbiasa berbicara di depan umum. Diakui memang kalau ayahnya sesekali memberi masukan, tapi itu sekadar ruang dan materi penyampainnya kepada masyarakat.

Ayahnya misalnya bilang begini: tadi itu kamu tidak boleh bilang begini. Apa yang kamu sampaikan seharusnya ini. Seputar itu saja yang SDK ajarkan kepada Tina. Ayahnya sampaikan kepada Tina pun saat sudah selesai acara atau setelah kembali ke rumah. SDK memberi ruang kepada anaknya untuk mengekspresikan potensinya selaku pejabat publik di Mamuju. 

Jargon pasangan Tina-Ado di Mamuju yakni KEREN, akronim dari Kreatif, Edukatif, Ramah, Energi dan Nyaman. Makna keren secara harfiah juga bagus karena menggambarkan kekinian, senafas dengan pasangannya yang millenial. ‘Beasiswa Keren’ dengan memang sempat menjadi perhatian publik di Kabupaten Mamuju lantaran terjadi ‘turbulensi’ antara kebijakan dan kenyataan di lapangan. Tina punya niat baik untuk pengalokasian beasiswa di APBD Kabupaten Mamuju pada 2022. Dengan beasiswa ini, ia mau mencicil targetnya yang besar, yakni selama memimpin Mamuju terdapat 15 orang dengan predikat doktor (S3). 

Di masa ayahnya memimpin Mamuju selama 10 tahun, hanya 5 orang ASN Mamuju yang berhasil mencapai pendidikan doktor. Nah, sesungguhnya ia mau mencetak sejarah baru di Mamuju selama ia menjadi bupati. Tiada lain dari itu. Tina tak menemukan aturan yang melarang ASN terima beasiswa. Ia atau Pemkab Mamuju belajar ke pelbagai daerah di Indonesia. Hanya kita terlalu kaku. Penerima beasiswa yang mengsyaratkan ASN, warga kurang mampu dan berprestasi. 

Kenyataan pembangunan lainnya, ia menceritakannya secara jujur. Ia akui masih banyak jalan yang lubang-lubang di Mamuju. Tapi kalau sudah diperaiki, kan terlihat keren. Awal memimpin Mamuju dengan kondisi yang tidak mendukung. Gempa bumi yang paling dahsyat di Mamuju dan Majene yang berkekuatan 6,2 magnitudo pada 15 Januari 2021 membuat program kerja pemerintah daerah yang telah disusun antara DPRD Kabupaten Mamuju dan Pemerintah Kabupaten Mamuju buyar seketika, berubah 180 derajat. Justru yang tak pernah direncanakan semisal kantor yang rusak karena gempa terpaksa dibangun Tahun 2021. Hati dan pikiran Tina tak tenang. Janjinya kepada warga Kabupaten Mamuju belum bisa ia tunaikan lantaran tanah yang lululantak itu. 

Program sosial dan pemberdayaan masyarakat anggarannya banyak yang dialihkan ke program fisik yang mendesak. Melihat kenyataan itu, Tina coba berbicara kepada ayahnya. Banyak yang belum bisa ia realisasikan. Ekspektasi Tina begitu besar. Ia merasa tak berguna jika ia tak mampu mengurangi beban warganya yang datang padanya. Ketika Tina minta pendapat pada ayahnya, SDK bilang, “saya saja dua periode tidak semua keinginan masyaraat saya bisa penuhi Tina. Yang penting misalnya kamu janjikan 100, nah kalau kamu bisa penuhi 60 atau 70, itu sudah bagusmi. Itu yang salah kalau hanya 20 atau 30, itu kan lebih banyak yang kamu tidak laksanakan.“ Bahagiaku itu kalau bisaka bantu masyaraat, dan kesedihanku itu kalau tidak bisaka bantu masyarakat. 

Kalau ada yang bermohon apa dan memang tidak bisa, ya, saya akan bilang “maaf bu tahun ini saya belum bisa bantu. Lebih baik saya bilang walau itu pahit kalau memang tidak bisa daripada janji tapi tidak juga dipenuhi.” Tina memang seorang ibu, dan hati keibuannya itu ia bawa dalam membangun Mamuju Setiap pekan Tina terus berjalan. Ia turun ke bawah. Ia menemui warga Kabupaten Mamuju yang ada di kecamatan. Semua kecamatan yang ada di Kabupaten Mamuju telah ia kunjungi. Tina pun kerap dengan petuah hebat ini: bermimpilah setingi langit, tapi ia tak mau muluk-muluk. Ia ingat saat kampanye dulu ketika ada seorang warga yang menghampirinya. 
Warga itu bilang tidak memanen hasil buah langsatnya lantaran kendala jalan dari kampungnya ke kebun. “Bu, langsatku tidak kupanen.” Mendengar itu Tina kaget. Warga itu menjelaskan, panen langsat itu perlu tenaga untuk memanjat. Buahnya dibawa ke pasar dijual pakai biaya (ongkos bahan bakar minyak) karena tentu pakai kendaraan motor. Itulah kemudian ia memutuskan tak memanen buah langsatnya Mamuju adalah tetangga Ibu Kota Nusantara (IKN) di Panajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Tina memandang prospek bagi Mamuju dengan adanya IKN. “Harus ambil peluang kita, kita tetangga dengan Kalimantan.” Tina menggaransi jika Mamuju mampu menjadi penyangga IKN di bidang pertanian dan peternakan. 

Mamuju membuka diri. Tina mengajak kepada siapa saja untuk datang di Mamuju. “Kita mau bagaimana daerah kita maju. Kami sangat wellcome dengan investor yang mau masuk, hanya jangan untuk mengeruk kekayaan Mamuju saja.”

***

DIMENSI Politik Mamuju memosisikan DPRD Mamuju sebagai pilar politik yang sangat penting. Pemerintahan Tina sejak awal telah membangun hubungan baik dengan dewan. Pasca pilkada lalu, Tina berusaha menepis anggapan jika di Mamuju ini masih ada kubu-kubuan. Tida ada lagi koalisi, friksi dan lain sebagainya. Tina mengaku bahwa hubungan bupati dengan dewan baik-baik saja. Malah di pihak dewan mengapresiasi positif kepada pemerintah daerah dengan kesigapannya sehingga pembahasan dan pengesahan APBD Mamuju cepat tuntas.

Kadang saling telepon atau bertemu. Ia cerita, kadang juga kalau sudah selesai rapat paripurna di DPRD Mamuju diteruskan makan bersama dengan anggota parlemen Mamuju. “Saya ajak makan, traktir. Di waktu yang lain mereka juga yang traktir kita. Jadi gantian. Silaturahmi kami tidak terputus. Kadang masalah, jika memang ada, kita selesaikan di meja makan,” cerita Tina Tak mesti jumawa memang. Tapi anggapan yang datang dari dewan Mamuju bahwa nanti di periode kepemimpinan Tina-lah terjadi pemandangan lain dari biasanya. Dan kebiasaan baik itu ia pertahankan hingga sekarang Mamuju beruntung dan mendapatkan keuntungan sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Barat.

Salah satunya Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Mamuju meningkat khususnya dari sektor jasa. 
Keuntungan lainnya karena akses komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat bisa cepat. Bandingkan dengan kabupaten lain yang jaraknya cukup jauh dari Mamuju. Berangkat dari kabupaten bisa berjam-jam lamanya baru tiba di Mamuju atau pusat provinsi. Nilai positif bagi Pemkab Mamuju sebab Mamuju sebagai ibu kota provinsi Sumberdaya manusia (SDM) yang ada di Pemkab Mamuju harus terus ditingkatkan. Sulit memang sang komandan Tina dan Ado mau berlari jika pasukannya di bawah bahkan tak bisa jalan cepat sekalipun. Tak mungkin komandan jalan sendiri. 

Para pelaksana teknis yakni pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Mamuju mesti terus memacu pengembangan sumberdaya mereka. 
Biar didorong bagaimanapun jika memang sumberdaya sudah begitu, ya he will be anather death. TINA tak muluk-muluk membangun yang aneh-aneh. Jika masih ada warga Mamuju untuk melahirkan saja harus kehilangan motor, misalnya. Biaya persalinan itu mahal, untuk operasi sesar misalnya. Jika ada seorang ibu mau melahirkan dan si suami lagi tak punya uang, ya terpaksa jual motor, yang mungkin motor itu adalah salah satu harta paling berharga dalam keluarga mereka. Yang lebih menyakitkan jika ada warga menderita penyakit yang lebih parah, mugkin sampai menjual rumahnya untuk biaya berobat. Ini sangat miris sekali. Itu yang mendorong Tina membenahi sektor kesehatan di Kabupaten Mamuju. 

Sebanyak 17 ribu warga Kabupaten Mamuju yang jadi tanggungan BPJS Kesehatan secara tiba-tiba tak lagi menjadi tanggungan BPJS Kesehatan karena Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat tak menganggarkan lagi tanggungan pembiayaan BPJS Kesehatan untuk warga miskin. Ini terjadi di tahun 2021. Tahun pertama ia memerintah. Pemkab Mamuju belum siap menanggung pembiayaan 17 ribu peserta BPJS Kesehatan kategori miskin itu. Selain masih belum pulih wabah Covid-19, gempa pun datang. Tahun pertama adalah ujian sungguh berat bagi Tina dan Ado di Mamuju. Solusi pertama pada APBD-Perubahan tahun 2021, Pemkab Mamuju anggarkan sekitar Rp. 6 miliar untuk alokasi peserta BPJS Kesehatan. 
Nanti pada tahun anggaran 2022 Pemkab Mamuju naikkan anggaran untuk tanggungan BPJS Kesehatan miskin sebesar Rp. 60 miliar. Dengan angka yang besar ini, Tina mengatakan 98 persen warga Kabupaten Mamuju tertanggung dalam program BPJS Kesehatan. Kehendak Tina tentang infrasrtruktur yang baik di semua kecamatan. Tapi konsentrasinya di bidang kesehatan dan pendidikan dulu. Ilustrasi Tina begini: Ngapain jalan bagus kalau harus jual motor atau rumah untuk biaya pengobatan saat sedang sakit. Ia tak sudi melihat warganya harus terjerembab miskin hanya karena didera biaya kesehatan yang tinggi. Kaena itu BPJS Kesehatan adalah salah satu solusi yang paling efektif. 

Kehadiran Rumah Sakit (RS) Manakarra Mamuju, bahkan menjadi solusi lain bagi warga yang sedang berobat di situ, yang tak tertanggung BPJS Kesehatan. Hampir tiap hari ada saja warga yang dilayani secara gratis. Jangan itu, bahkan ada yang pulang pergi ke rumahnya pun ditanggung biayanya oleh manajemen RS Manakarra. Inilah realitas. Mau apa lagi. 

Soal tamu di rumah jabatan menjadi perhatian SDK. Ia mulai memeringatkan kepada para petugas SatPol PP yang berjaga di waktu malam di Rumah Jabatan Bupati Mamuju agar mengingatkan Bupati Mamuju Sutinah Suhardi tak menerima tamu sampai jam 12 malam. Semangat Tina yang membuncah, tapi ayahnya mulai kuatirkan kesehatan anaknya. “Jangan biarkan ibu bupati terima tamu sampai jam 11 apalagi sampai jam 12 malam,” sebut Tina menirukan pesan ayahnya. 

Dunia media sosial (medsos) adalah dunia Tina. Ia mengendalikan beberapa canal medsos atas namanya: instagram, facebook, hingga whatsapp. Tina mengapresiasi segala respek netizen, terutama jika dengungan mengenai pembangunan Kabupaten Mamuju, atau bahkan yang persoanal tapi positif. Ya, ia tak suka jika ada warga pengguna digital yang sengaja memancing emosi. “Kita kan perempuan. Ia bilang tak mungkin bisa membaca semua komentar yang ada di halaman medsosnya, apalagi kalau komentar itu agak kebablasan.” Ia merasa enjoy dengan medsos. “Sosmed itu juga kan termasuk pengontrol saya. Jadi kalau saya baca komen, oh, masyarakat suka yang seperti ini, masyarakat tidak suka yang seperti ini.” Dengan begitu, ia sudah tahu apa yang akan ia lakukan. Tina menyebut tak sedikit informasi yang ia dapatkan justru dari sosmed, bukan dari OPD. Ia bilang kepada bawahannya, dirinya ada di mana-mana. Artinya, dengan komentar masyarakat ia sudah tahu apa yang terjadi, atau masyarakat mengeluh apa, di OPD masing-masing. 

JABATAN itu amanah. Tina sendiri tak pernah membayangkan akan jadi bupati. “Saya tidak pernah membayangkan akan bisa di sini,” kata Tina di Sapota, rumah jabatannya. Dengan itulah maka ia tak mau terlalu dilayani. Sebisa mungkin bisa mandiri. Ia mafhum bahwa suatu hari kelak akan kembali jadi warga biasa. Dengan prinsipnya itu, terkadang kalau sedang berada di luar, ada orang yang tak mengenalinya dia bupati Jarang ia membawa-bawa jabatannya pada orang. 
Sama halnya ketika masih kepala dinas. Waktu masih kadis dulu, pernah suatu kali mengikuti rakor dinas di Jakarta. Pada saat ia menyerahkan surat tugas kepada salah seorang panitia rakor, ia malah ditanya, “bu, mana kepala dinasnya!” Sejurus dengan itu Tina menjawab, “saya kepala dinasnya.” Si patugas rakor tersebut seolah tak percaya jika Tina sendiri yang kadis. Soal jabatan itu Tina anggap biasa saja. 

Ada yang sinis dengan menyebutnya ia masih kecil, masih terlalu muda, dan lain sebagainya. Lalu apa yang Tina ungkapkan? “Kalau memang dalam hati kita itu murni mau membangun daerah kita baik, insya Allah ada jalannya. Doa saya hanya satu, insya Allah saya sayang daerahku. Jabatan bupati dengan segala apapun di pundak, bagi Tina dianggap biasa saja. “Suami saya sudah lebih dari cukup. Apalagi yang saya cari. Tapi Karena kecintaan daerah, jadi tidak bisa dibohongi gitu.” Menjadi kepala dinas yang berhubungan dengan perdagangan, ya paling bisa bantu pedagang. Menjadi bupati bisa bantu guru, petani, nelayan, dan termasuk mahasiswa. 
Dengan niatnya itulah, ia menyebutnya begini: “Jadi mungkin niat itu barangkali sehingga dipermudah oleh Allah. Niatku lurus. Iya, ada orang di luar yang tak suka, terserah! Tidak bisa kita paksa semua orang untuk suka sama kita.” Tina bersandar semata niat lurus bagaimana agar daerahnya baik.

Niat membangun Kabupaten Mamuju lebih baik. Bahwa ada yang tak menerima, ia sadar hal itu hak setiap orang Tina mampu menerjemahkan pada posisi di mana ia saat ini. Posisi yang tentu kemilau bagi pandangan orang di luar. Ungkapannya ini mengandung energi dan pencerahan yang kuat: “Ini namanya sudah jalan kita, di atas itu sudah tertulis bahwa yang akan jadi bupati, oh ini, tinggal jalannya kita meraih itu.” Ia akan terus bekerja dengan baik “Saya ini kerja yang baik saja nanti masyarakat yang menilai.” 
Tina memiliki saudara yang banyak. Tak seorang pun di antara mereka yang mencampuri urusan dalam pemerintahan, dalam kekuasaannya. Bagi kerabat paling dekatnya, ia ingat pesan ayahnya: “Sebisa mungkin tidak mencamputi urusan pemerintahan (Diadaptasi dari tulisan Sarman Sahuding, 2023).

***
Menjelang tahapan Pilkada Mamuju 2024, Koalisi Sutinah dan Ado pecah. Ado yang tadinya menjadi wakil berbalik melawan dengan tagline ADAMI yang tak lain adalah akronim dari Ado’ – Damris. Ado’ Mas’ud diusung oleh Partai PDIP, Golkar dan Perindo.   

Sabtu, 11 Januari 2025

SAHRUL SUKARDI || Sang Penatang Aru(a)s

Mateng (Mamuju Tengah) dikenal sebagai wilayah yang kabupaten termuda di Propinsi Sulawesi Barat. Kabupaten yang beribu kota Topoyo ini punya cerita tentang sosok Aras Tammauni. Ia menjadi ikon politik Mamuju Tengah pemilik idiom “Lebih baik melawan arus dari pada melawan Aras”. Itulah yang membayang-bayangi warga dalam setiap perhelatan politik baik Pilkada maupun Pemilu. 

Sejak lahirnya Mateng, Aras memang menjadi satu-satunya ikon politk disana. Mulai dari perjuangan pembentukan Mateng sebagai Kabupaten, ia dikenal sebagai eksekutor yang membiayai semua proses perjuangan. Saat Pilkada Mateng 2015 Aras memperoleh kemenangan 97% suara. Periode kedua bahkan melawan kotak kosong (Koko). 

Pilkada 2024 di Mateng, Sahrul Sukardi adalah salah satu tokoh yang berhasil mencatatkan dirinya sebagai penantang awal hegemoni politik yang ada klan Aras. Sahrul dengan Alamsyah Arifin mendaftarkan diri sebagai peserta Pilkada 2024 di Kantor KPU Mateng, Rabu 28 Agustus 2024. Ia didukung oleh Partai Demokrat, PAN dan PSI. Selain Sahrul, Haris-Komang juga mencatatkan dirinya sebagai penantang. Sahrul-Alamsyah ini mengusung Visi: “Mewujudkan Mamuju Tengah yang sejahter, Religius dan Bermartabat”. Visi ini mencerminkan komitmennya untuk menciptakan daerah yang maju secara ekonomi, tetapi tidak menjaga nilai-nilai agama dan budaya lokal.
 
Itulah makanya, pasangan ini menawarkan Misi: Menjadikan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, Meningkatan pertanian sebagai sektor unggulan, Mewujudkan SDM Ungul dan berdaya saing, Mendorong pembangunan berwawasan lingkungan, dan menguatkan posisi Mamuju Tengah sebagai daerah penunjang Ibu Kota Negara (IKN). 

Kendati hasilnya ia harus kalah dari Arsal Aras, putra Aras Tammauni, setidaknya ia menjadi salah satu yang merontokkan persepsi politik bahwa klan Aras tak mungkin ada yang bisa melawan. Sahrul menjadi salah satu penantang itu. Putra kelahiran Topoyo 14 Januari 1979 ini tetap akan menjadi sebuah ancaman bagi klan Aras. Pengaruhnya memang tak bisa diremehkan, sebab melalui Sahrul, Resky Irmayani yang tak lain adalah istrinya mampu merebut satu kursi bagi Demokrat dengan perolehan suara 9.086 dari total 13.294 suara.

Rekam jejak Sahrul memang cukup menentukan kalkulasi politiknya di Mateng. Ia dekenal banyak menakhodai berbagai organisasi penting di tingkat kabupaten dan propinsi. Saat ini, ia masih aktif sebagai Ketua Hiswana Migas Propinsi Sulawesi Barat (2021-sekarang); Ketua KADIN Mamuju Tengah (2023-sekarang); Ketua Pemuda Pancasila Kabupaten Mamuju Tengah (2022-sekarang); Ketua Umum Panitia Pembangunan Masjid Raya Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah (2022 – sekarang); Dewan Penasehat MUI Kabbupaten Mamuju Tengah (2019-sekarang).  
Sebagai putra daerah Mateng, jauh-jauh sebelumnya ia telah menata dirinya sebagai sosok yang punya visi. Secara pendidikan, ia telah cukup matang dari sejak SD Ngapaboa (1987), SMP Negeri 3 Budong-Budong (1994-1996), SMA Negeri 1 Mamuju (1997-1999). Ia bahkan telah menuntaskan pendidikan S1-nya di UNHAS 2000-2004. Sejak itu, ia menenun nasibnya dan banyak berbuat untuk daerahnya. 

Segala bentuk usahanya itu membuahkan hasil yang cukup fantastis. Ia mulai tercatat sebagai Anggota DPRD Mamuju 2009-2014. Setelah Kabupaten Mamuju Tengah terbentuk, ia mengambil dapil di Mateng dan lolos sebagai Anggota DPRD Mamuju Tengah (2014-2019). Setelah menjadi Anggota DPRD Mamuju Tengah, ia menyelesaikan pendidikan S2-nya di UNHAS 2016-2018. 

Ia juga kembali lolos sebagai Anggota DPRD Mamuju Tengah periode 2019-2024 dan dipercaya menjabat Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Mamuju Tengah (2019-2020) dan Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Mamuju Tengah (2020-2021). Hingga pada Pemilu 2024, ia telah merancang gerakan politiknya di Pilkada Mamuju Tengah dan mencatatkan istrinya dalam deretan Caleg Propinsi Sulbar di Partai Demokrat. Istrinya berhasil melenggang ke Parlemen Sulbar dari Fraksi Demokrat dapil Mamuju Tengah. 

Di Pilkada Serentak 2024, selain ia menjadi kandidat Calon Bupati Mateng, ia juga berjuang untuk kemenangan SDK-JSM. Sahrul menjadi salah satu penentu kemenangan SDK, yang jika dilihat potensi kemenangan SDK telah terbaca di Pemilu 2024. Partai Demokrat di Mateng mampu mengimbangi pergerakan politik Golkar dalam bayang-bayang  nama besar Aras Tammauni selaku Ketua DPD Golkar Sulbar. Golkar berhasil meraih 6 kursi di DPRD Mateng, sementara Demokrat juga mampu mendudukkan 5 orang kadernya di DPRD Mateng. 
Prestasi dan capaian Demokrat tentu tak bisa dilepaskan dari sosok Sahrul tentunya. Demikian juga kemenangan SDK di Pilkada Sulbar, mengabaikan Sahrul adalah sebuah pengebirian verbal terhadap sosok yang sampai saat ini menjadi Direktur PT. Belua Raya Lesatari dan Direktur PT. Resky Nakaguna Jaya Abadi ini. 

Kini Sahrul hidup bahagia mendampingi istrinya dalam segala aktifitas. Dari pernikahannya dengan Reski Irmayani ia dikaruniai 3 orang anak  masing-masing bernama Azizah Ainun Khalila Sahrul, Mufidah Cahyani Sahrul, dan Faith Merdeka Sahrul. Istri dan anak-anak menjadi penyemangat hidupnya untuk membangun daerahnya dalam posisi bukan sebagai Bupati, tapi sebagai pemantik kesejahteraan warga yang berada dalam jaringan perusahaan yang dibangunnya. 

MENGENAL SOSOK SYARIFAH NUR ABBAS

Syarifah Nur Abbas adalah salah satu putri Sayyid Abbas. Ia terlahir sebagai Syarifah dari marga As-Siraj. As-Siraj adalah marga Arab keturunan Sayyid yang ada di Mandar. Mereka sebagian besar ada di Desa Bonde, termasuk Syarifah Nur Abbas, S Usman Abbas bersaudara. Jumlah mereka tidaklah terlalu signifikan laiknya marga Bin Sahil Jamalullail atau pun Al-Attas. Bahkan bisa dikatakan hanya dirinya dan saudara-saudara serta ayahnya yang bermarga As-Siraj. Selebihnya ia tidak mengetahui kalau pernah ada lainnya selain dari keluarga mereka. 

Penyebaran marga As-Siraj menurut Hamzah Durisa (2018), adanya di daerah Bugis. Konon S. Ali As-Siraj datang ke Bugis menyiarkan Islam di daerah Bugis, Dari sana kemudian ke Bonde. Sebelum ke Bonde, Ia pernah menikah disana dan memiliki keturunan. Kemudian di Bonde ia menikah dengan salah seorang warga yang bernama Sitti Dawiyah. Dari sini lahirlah Sayyid Abbas Ali As-Siraj. 

Perkiraan peristiwanya terjadi pada tahun 1920an.
Kedatangannya masih sangat belakangan ketimbang kedatangan orang Arab sebelumnya. As-Siraj ini pun merupakan bangsa Arab dari Yaman. Kedatangan Ali As-Siraj sampai ke Mandar juga dalam misi dakwah.
 Kebulatan tekadnya untuk melanglang buana ke berbagai belahan dunia juga dikuatkan oleh penentangannya terhadap keputusan raja di negerinya. 
Memilih daerah Campalagian khususnya di Bonde juga karena pertimbangan disana banyak yang bisa berbahasa Arab. Tentu saja karena Campalagian banyak pengajian kitab kuning, mulai dari kitab dasar atau pengajian dasar hingga kitab kuning atau yang sering disebut dengan kitab gundul.

Jalur kedatangan lain adalah pernikahan. Yang dimulai dari Sayyid Miswar As-Siraj yang menikah dengan Farhanah binti Muhsin Al-Attas, cucu dari Puang Bela (S. Kaharuddin) saudara kandung Sayyid Mengga (Puang Mengga). Miswar As-Siraj adalah cucu dari Habib Miswar As-Siraj yang tak lain adalah anak sepupu dari Syarifah Nur dan memiliki keturunan di Bonde Kecamatan Campalagian. 

Dari sinilah Syarifah Nur Abbas bersaudara menata hidupnya sampai sekarang. Ia lahir dari pernikahan S. Abbas Ali As-Shiraj dengan Hj. Asni Disseng. Lahir di Bonde, 31 Juli 1969 bersama saudara-saudaranya yang lain, yakni S. Usman, Syarifah Marwah, Syarifah Aminah, dan Syarifah Fadilah. Pendidikan dasarnya ia awali di SD 07 Parappe kemudian anjut ke SMP Negeri 1 Campalagian dan selesai di SMA Negeri 1 Polewali. 

Tahun 1994, Ia berhasil meraih gelar SH di Universitas Muslin Indonesia (UMI) Makassar. Berbekal ijazah sarjana tersebut, ia terangkat jadi ASN pada tahun 2014 dan sekarang berstatus sebagai Kepala MTs. Pergis Campalagian. Sejak tahun 1997, wanita terkenal tegas dan berani ini menjadi seorang ibu setelah putra pertamanya lahir dan diberi nama James. Nama yang unik dan tidak lumrah diberikan pada keluarga Syarifah mmaupun Sayyid.
Tapi demkianlah Ummi Syarifah, jika ia memutuskan sesuatu, tak akan ada yang berani menentang, apalagi jika ada yang coba menantangnya, ia bahkan bisa melupakan jati dirinya sebagai wanita. Anak kedua dan ketiganya pun demikian, namanya adalah Madelina dan Calvin. Namun berbeda dengan anaknya yang keempat, ia memberinya nama Farhan Mandar (perpaduan Arab dan Mandar). 

Selama berinteraksi dengan Ummi Syarifah, penulis merasakan sikap keibuan, sopan meski ketegasannya selalu menjadi yang utama. Ia loyal dan royal jika ia mendukung seseorang. Penulis merasakan itu saat Pilkada Gubernur Sulbar kemarin, persoalan uang bahkan tak pernah menjadi masalah bersma Ummi Syarifah. 

Andai ia bukan ASN, mungkin saja ia akan menggunakan semua waktunya untuk SDK-JSM, tapi sayang, ia dibatasi oleh aturan yang mengikatnya sebagai aparatur Negara. Tapi sebagai keluarga, JSM adalah harga mati baginya.           

ABDUL RAHMAN TONA || Komitmen dan Berani Berbeda

ABDUL RAHMAN TONA adalah salah satu tokoh yang berani berbeda dan konsisten dalam komitmennya. Berani berbeda disini adalah karena ia merupakan Kepala Desa 3 periode di Ralleanak. Ralleanak adalah tempat lahir Anwar Adnan Saleh yang dimana Enny Angraeni, istrinya juga ikut berkontestasi dalam Pilgub sebagai wakil dari Prof. Husain Syam. Adapun konsisten dalam komitemennya terfaktualkan dalam ikut memperjuangkan SDK-JSM sebagai Gubernur Sulawesi Barat. 

Pak Rahman yang akrab dipanggil Pua’ Conda’ ini tak sedikitpun memiliki rasa takut mengambil bagian dalam proses perjuangan. 
Dalam perjalanan karir Rahman Tona sebagai kepala desa, ia diberikan kepercayaan oleh para kepala desa di Kabupaten Mamasa untuk menakhodai Asosiasi Kepala Desa Seluruh Indonesia atau APDESI. Tak tanggung-tanggung ia bahkan didaulat menjadi ketua selama dua periode. Dpercaya sebagai pemimpin organisasi tentu bukan tanpa alasan, Rahman Tona dikenal mumpuni dalam pemerintahan desa, itu terbukti dengan kepercayaan masyarakat di desanya sehingga menjadi kepala desa sampai tiga periode. 

Selain itu, bukti kepercayaan masyarakat terhadapnya juga berimbas kepada putranya yang bernama Arwin Rahman Tona, melalui Partai Nasdem berhasil lolos ke DPRD Mamasa dengan suara yang signifikan pada periode pertama 2019-2024. Pada Pemilu 2024 lalu, Arwin kembali lolos dengan perolehan suara yang memuaskan. Terlepas dari itu semua, Rahman Tona tak bisa dipungkiri bahwa perjuangannya di Mamasa adalah pemantik bagi kemenangan SDK-JSM. 
Dalam proses perubahan Undang-Undang Desa  dari 6 tahun ke 8 tahun juga tak dipungkiri, ia adalah salah satu Ketua APDESI Kabupaten yang paling getol dan setiap saat mendampingi Ketua APDESI Sulbar dalam ikut membersamainya ke pusat. Dari sisi ini, Rahman Tona dianggap oleh semua kepala desa di Mamasa sebagai sosok yang patut untuk dipatuhi. Disis lain, ia juga akrab dengan semua tokoh agama, tokoh adat dan memiliki pengetahuan yang memadai tentang sejarah, budaya dan kearifan local Mamasa. 

SDK-JSM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih menjadi muara dari setiap harapan yang coba ia rengkuh tujuannya adalah agar Mamasa dijadikan wilayah prioritas dalam hal infrastruktur jalan dan jembatan, pendidikan, kesehatan. Termasuk rumah ibadah, gereja, masjid dan lainnya serta rumah adat sebagai ruang dalam ikut melestarikan nilai-nilai budaya dan pemajuan kebudayaan. Mamasa adalah daerah yang memiliki khasanah kebudayaan yang unik dan bisa menjadi dijadikan obyek destinasi wisata sejarah, budaya dan wisata religi. 

Kedapan, Rahman yakin bahwa SDK-JSM pasti bisa mewujudkan berbagai harapan yang kerap disampaikan oleh warga di setiap momen kampanye Pilkada kemarin.