Jumat, 02 Agustus 2024

Dr. MUHAMMAD ZAIN || Pengabdian Yang Tak Mengenal Hari Libur

Penjabat (Pj) Bupati Mamasa Dr. Muhammad Zain mengemban amanah dari Presiden RI, ditempatkan di Kabupaten Mamasa (salah satu daerah yang defisitnya tinggi). Kurang lebih 6 bulan atau Dua kali evaluasi kinerja Zain menjalankan tugas.

Tentu sebagai ASN yang diberikan tugas oleh Presiden melalu Menteri Dalam Negeri (Mendagri) untuk memimpin Kabupaten Mamasa, sebuah kepastian Zain memberikan yang terbaik, bekerja secara profesional dan hanya focus pada tugas dan tanggungjawab yang diamanahkan.

Amanah Presiden itulah yang dipegang teguh oleh Zain untuk mewujudkan pemerintahan Good and Clean Governance di Bumi Kondosapata. Seluruh kebijakan Pemda Mamasa lahir dari Rakyat dan untuk Rakyat jua, sama sekali tidak ada motif lain.

"Berbagai masukan dan informasi (baik secara langsung maupun tidak langsung, suara lantang maupun pelan, offline maupun online) yang ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Mamasa," kata Zain saat dikonfirmasi, Kamis (1/8/2024)

Pj. Bupati Mamasa mengapresiasi dan menghargai itu semua, sebagai kritikan yang konstruktif  dari semua pihak untuk kebaikan Mamasa.

Zain menambahkan, Salah satu tugas Pj. Bupati Mamasa berdasarkan surat Keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Republik Indonesia Nomor : 100.2.3-6600 Tahun 2023 pada point F :

Memfasilitasi persiapan pelaksanaan Pemilu Tahun 2024 dan Pilkada di Kabupaten Mamasa Tahun 2024 serta menjaga Netralitas Aparatur  Sipil Negara. Landasan itulah, maka pelaksanaan Pilkada Kabupaten Mamasa Tahun 2024 dipastikan akan berjalan lancar dan sukses sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh KPU

Selama menjabat sebagai Pj.Bupati Mamasa, Dr. Muh. Zain sudah menangani beberapa persoalan dan menjadi indikator penilaian pada laporan kinerja di Kemendagri, diantaranya, Inflasi terkendali selama 6 bulan, Angka kemiskinan turun 0,11 % sesuai data Badan pusat statistik (BPS), Angka stunting turun 7%, stabilitas dan harmoni sosial terjaga dengan baik. 

Saat bencana alam, menyita waktu Pj. Bupati untuk memulihkan keadaan, Longsor lebih 200 titik di beberapa kecamatan telah selesai, sementara mengusulkan 80 anak Kedokteran/Calon Dokter ke Kementerian Kesehatan dan saat ini sedang menunggu hasilnya, sedang proses pembebasan lahan untuk Pembangunan Pasar dari Presiden Jokowi melalui Kementerian PUPR dan Menperindag. 

Juga proses untuk pembangunan rehab Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kondosapata dan masih banyak hal yang sedang dikerjakan dan diurai satu persatu untuk Kabupaten Mamasa lebih baik dan tolong bersabar sedikit karena ini butuh waktu dan proses.

"Sebagai Pj. Bupati Mamasa, saya telah dan masih sementara bekerja keras tanpa mengenal lelah dan bahkan meniadakan tanggal merah di kalender untuk terus memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat demi Mamasa yang lebih baik," imbuhnya.

Kita harus rendah hati untuk ini, lanjut Zain, waktu 6 bulan sangatlah singkat untuk menuntaskan masalah yang menumpuk. Dana Pilkada segera diselesaikan di tengah minimnya keuangan Daerah. Semua program kita harus tuntaskan diantaranya menekan inflasi, menurunkan angka stunting, kemiskinan ekstrim, layanan kesehatan, layanan pendidikan dan semua pelayanan dari tingkat desa sampai kabupaten tetapi kita akan selesaikan secara pelan-pelan karena kondisi keuangan daerah yang demikian. 

Pj. Bupati Mamasa juga mengajak semua tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, wartawan, elit politik untuk secara terbuka mencari solusi terbaik tentu dengan pikiran yang jernih, hati yang tulus dan kerja keras terutama dalam menyukseskan pilkada damai tahun 2024.

Sebab itu, Kabag Humas dan Protokol Kabupaten Mamasa, Demmaelo Pena' mengajak untuk mendukung Pj. Bupati Mamasa dalam bekerja lebih keras lagi untuk beberapa bulan kedepan, memberi masukan yang konstruktif agar Mamasa dapat keluar dari setiap masalah yang dihadapi.

Kamis, 01 Agustus 2024

ORANG MANDAR YANG LAHIR DI JOMBANG || Jejak Mbah Nun di Tanah Mandar

(Tulisan Hamzah Ismail di Majalah Sastra Sabana Yogyakarta, 2015)

Dalam berbagai hal orang Mandar seringkali melibatkan Mbah Nun. Misalnya, ketika terjadi pergantian kepemimpinan di Kanwil Agama Provinsi Sulawesi Selatan. Salah satu calonnya adalah orang Mandar. Terhadap calon dari Mandar ini banyak mendapatkan penolakan dari elit Sulawesi Selatan saat itu. Segala cara diupayakan oleh tokoh-tokoh Mandar, untuk menggolkan calon tersebut. Nyaris tidak membuahkan hasil.

Lalu ada beberapa pihak dari Teater Flamboyant, dan ada satu dua tokoh masyarakat Mandar, menyarankan untuk melibatkan Mbah Nun. Saat maksud itu disampaikan kepadanya, tanpa berpikir panjang, Mbah Nun mau terlibat dan langsung menulis surat yang ditujukan ke Menteri Agama, yang saat itu dijabat oleh Malik Fajar.

Demikian pula, saat terjadi suksesi kepemimpinan di Kabupaten Polewali Mamasa. Tiga tokoh sepuh Mandar, H. Abd. Malik Pattana Endeng, Abdullah Madjid (Mantan Bupati), dan S. Mengga (Mantan Bupati), bersepakat untuk mendorong calon dari sipil menjadi Bupati Polewali Mamasa. Mbah Nun-pun rela menemani mereka untuk menghadap ke Agum Gumelar, Panglima Kodam VII Wirabuwana. Kedekatan Agum Gumelar dengan Mbah Nun dibaca menjadi alasan pelibatan dirinya dalam urusan ini. Dan dari mana orang Mandar tahu bahwa Agum dan Mbah Nun dekat? Karena Mbah Nun pernah menulis di media yang mengapresiasi Agum Gumelar.

Pasca reformasi, dan kran pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) mulai terbuka, orang-orang Mandar pun mulai bergerak, berjuang untuk membentuk sebuah provinsi Sulawesi Barat. Mbah Nun, yang diyakini ‘didengar’ oleh orang pusat pun dilibatkan. Ia dinobatkan menjadi tim penasehat bersama sepuh Mandar lainnya.

Tatkala Gus Dur yang menjadi presiden, Mbah Nun memediasi pertemuan pejuang pembentukan Sulawesi Barat, dengan Gus Dur. Makin yakinlah orang-orang Mandar bahwa perjuangan pembentukan Sulawesi Barat yang sudah lama digelorakan akan mewujudkan hasil. Akhirnya September 2004, Provinsi Sulawesi Barat bisa terwujud.

Pertanyaannya adalah kenapa sepertinya Mbah Nun, tidak mengenali kata ‘Tidak’ bagi orang Mandar? Bahkan dalam berbagai kesempatan ia menyatakan bahwa kala berada di Mandar, dirinya adalah ‘mayat’, yang rela dibawa kemana saja. Inilah yang sampai sekarang menjadi pertanyaan besar baik di internal Mandar maupun luar Mandar.

Nurdin Hamma (76), Pimpinan Muhammadiyah Cabang Balanipa, salah seorang sepuh, seorang tokoh Mandar juga sungguh kagum kepada Mbah Nun, mencoba mengurai jawaban atas pertanyaan itu. Dalam pandangannya, Mbah Nun adalah guru Bangsa yang riil. Hampir seluruh wilayah Indonesia didatanginya, semata untuk mendidik manusia.

“Cak Nun adalah orang Mandar yang kebetulan lahir di Jombang. Kedatangnnya di Mandar lebih merupakan upaya menapaktilasi perjalanan sejarah panjang Indonesia. Hal itu mungkin dianggapnya penting, untuk mematrikan pada dirinya bahwa Indonesia ada di mana-mana di Nusantara ini, tanahnya luas dan subur namun rakyatnya bak penumpang yang ketinggalan kereta”, ungkap Nurdin Hamma.

Sekarang, mereka yang dulu, sekitar 30-an tahun lalu, hidupnya liar, mabuk-mabukkan dan sepanjang malam bernyanyi-nyanyi di pinggiran jalan, kini sudah memasuki usia yang matang, menuju setengah abad. Profesi mereka beraga. Pedagang, Guru, PNS, tukang ojek, dan sebagian kecil bergabung ke partai menjadi politisi.

Mereka sudah beranak pinak, dan sebagian dari mereka sudah ada yang anaknya sarjana. Mereka tetap saja hormat dan takzim kepada Mbah Nun. Sekarang mereka jarang menyebutnya Emha. Mereka menyebutnya Cak Nun.

“Cak Nun, adalah guru, kakak dan sahabat yang setia menjadi ‘keranjang sampah’ dari keluh-kesah kami. Segala sesuatu urusan kami selalu disandarkan kepada apa wejangan Cak Nun. Untuk memberi nama putra atau putrinya yang baru lahir, mintanya pun ke Cak Nun.”

“Beliau adalah bagian dari hidup kami.”

“Apa yang dulu diajarkan oleh Cak Nun kepada kami menjadi spirit kami dalam menjalani hidup. Kami bersyukur karena Cak Nun berkenan mengarahkan kami menjadi orang baik, itu cukup bagi kami. Tentu penilaian ini sifatnya subjektif, tapi setidaknya kami bangga hidup dengan apa adanya. Kami bisa hidup dengan tanpa mengganggu orang lain, tanpa merampas hak orang lain”.

“Kami sungguh cinta kepada Cak Nun, dan kecintaan itu pun kami wariskan kepada anak-anak kami”.

Tinambung, 4 Mei 2015

Sumber : https://www.caknun.com/2018/orang-mandar-yang-lahir-di-jombang-jejak-mbah-nun-di-tanah-mandar/3/

PRAYOGA WIJAYA || Titip Mandar Ke Betawi

Prayoga Wijaya, anak muda kelahiran Betawi Jakarta 1996 ini berada di Mandar pekan lalu. Ia menemui saya dan mengutarakan niatnya untuk menulis tentang budaya Mandar. Awalnya saya pikir ini adalah program kementerian pendidikan sebagaimana yang beberapa penulis tahun-tahun sebelumnya. Ternyata inisiatif pribadi. "Sulbar adalah provinsi ke-17 yang ia kunjungi dan saya menulis tentang budaya mereka, Bang'. Jelasnya ketika saya telisik motif penulisannya. 

Kepadanya saya mengukir apresiasi yang dalam "Ini sangat dahsyat dan tak semua orang bisa lakukan. Sebab kegiatan begini tentu menyita waktu, tenaga dan fikiran. Bukan hanya itu, budget yang disediakan dalam setiap perjalanan itu tentu tak sedikit". Ucapku. Usut punya usut, selain memang karena masih single, lulusan antropologi di sebuah universitas di Jakarta ini memang intens melakukan penjejakan budaya-budaya nusantara. "Saya harus fokus dalam 4 tahun kedepan, karena setelah itu, saya akan nikah Bang, Hehe". Pungkasnya dengan kesan bercanda. 

Prayoga menemui saya atas rekomendasi beberapa orang mahasiswa pencinta alam (Mapala) di Majene. Dari sana juga nomor kontak saya diperoleh sehingga bisa bertemu dan berdiskusi dengannya. Selama beberapa hari di Mandar, ia menemukan banyak hal-hal terkait kebudayaan. "Tapi saya bingung harus mulai dari yang mana. Kemarin saya dapat Sayyang Pattu'du'. Says pikir ini kayaknya cocok, Bang'. Akunya. Saya lalu menyarankan padanya agar fokus pada tema sastranya, yakni Kalinda'da'. Sayyang Pattu'du' sudah banyak ditulis bahkan di filmkan oleh para peneliti. Belum lagi liputan televisi nasional sudah tak terhitung. 
Kalinda'da adalah karya sastra yang unik di Mandar. Ia hanya bisa dilongok dalam ritual Khatam Quran. Kalinda'da' adalah pakem pattu'du' selain sayyang dan rebana. Kenapa saya bilang unik, karena ketika syair ini diadopsi ke dalam genre sayang-sayang, kacaping  dan rawana towaine, kalinda'da' tak lagi punya nama disana. Ia hanya ditemukan dalam lirik yang ternyata syair kalinda'da'. 

Mendengar penjelasan saya tentang Kalinda'da', ia tertarik. Terlebih narasi kalinda'da' juga bermuara pada ritual totamma', juga terkorelasi dengan sayyang pattu'du', Rawana Tommuane. Untuk menjadi pemantiknya, saya lalu sodorkan tiga buku yang terkait dengan kalinda'da' dan satu buku tentang musik tradisional Mandar. 

Semoga dengan diskusi dan 3 buku itu, Prayoga mampu meramu dan menemukan narasi yang tepat untuk memberikan kabar pada semua orang tentang Manusia Mandar dan kebudayaannya. Sebelum pamit, ia sempat menjelaskan bahwa nantinya, tulisannya itu bukan bentuk reportase tapi jurnal. Ketika saya tanya kenapa memilih jurnal, bukankah model tulisan reportase juga lebih menarik. Alasannya, saya tak ingin terjerat dalam komersialisasi budaya orang. Siapa sih saya, Bang. Saya tak punya kapasitas untuk mengajari orang tentang budaya, orang Mandar sendiri yang mesti mengajari mereka, melalui jurnal yang saya tulis. Beda toh, Bang". 
Selamat Berkarya. 

TAMMALELE YA TAMMALELE, Bukan Yang Lain !





TAMMALELE YA TAMMALELE, Bukan Yang Lain !
(Pengantar Pada Buku Sinisme Lele: Banyolan, Humor dan Pesan Moral Tammalele)  

Catatan Muhammad Munir

Tammalele, nama yang unik dan mengandung banyak filosofi bermakna serta mengundang berbagai macam interpretasi terkait sosok yang selalu kami panggil A'ba. Umurnya dipastikan telah setengah abad. Saya mengenal wajah dan sosok beliau sejak tahun 1999 kendati beliau mungkin tak pernah mengenalku, terlebih mungkin tak akan menyangka bahwa lebih satu dasawarsa kemudian, kami dipertemukan di sebuah rumah kontrakan yang  tepat berada di Depan Masjid Jami' Nurul Amin Desa Batulaya Kecamatan Tinambung. Rumah milik seorang polisi bernama Hammadia. 

Tahun 2015, adalah tahun dimana saya dilahirkan pertama kali di dunia kebudayaan. Tammalele yang sejak puluhan tahun kerap saya temui di berbagai tempat berbeda ini muncul di kediaman kami sesaat sebelum makan siang keluarga. Beliau bersama Pak Nurdin Hamma menghabiskan waktu berdiskusi sampai 2 jam sekaligus mengajak saya berbaur mengenal budaya Mandar secara spesifik. 

Pak Nurdin Hamma mengenalkan saya pada item kebudayaan bernama beru'beru' atau melati. Beru' Beru mungkin sama sistem pertumbuhannya di daerah lain, harumnya juga pasti tak berbeda. Tapi mengapa Beru' Beru' Tokandemeng begitu familiar di kalangan masyarakat Mandar?. Disinilah intinya kebudayaan dibincang. Beru' Beru' Tokandemeng hanyalah salah satu dari produk kebudayaan yang dikenal lebih pada pendekatan perlakuan manusianya yang mampu menjadikan sebuah obyek sebagai entitas dan identitas budaya. 

Dalam dunia bahari (nama bekennya, maritim) ternyata sama. Perahu di Mandar dan Pelaut Mandar dikenal sebagai pelaut ulung itu ternyata bukan pada bentuk, struktur dan konstruksinya saja, tetapi lebih pada perlakuan orang Mandar terhadap perahu, bahkan pada laut itu sendiri. Perahu didunia ini boleh jadi sama, sebab semua berlayar diperairan dan dinakhodai oleh manusia yang tentu saja memiliki kemampuan dan keahlian lebih dari yang dimiliki para sawi kappal. Ternyata bukan itu pembedanya, melainkan pada perlakuannya terhadap perahu dan alam dimana ia melayarkan perahu. 

Perlakuan terhadap sebuah obyek itulah yang menandai sebuah proses peradaban dibangun oleh masyarakat menjadi entitas dan identitas kebudayaan. Beru' Beru' To Kandemeng ternyata dipetik oleh para perempuan dengan sangat lembut dan disimpan pada wadah yang juga sangat spesial. Perahu dan laut pun bagi orang Mandar diperlakukan lebih manusiawi (Istilah kerennya, Napattau-i Lopinna) sehingga dalam prosesnya perahu tak hanya menjadi sebuah benda yang berbentuk, tapi juga diperlakukan layaknya sebagai manusia, mulai dari bentuk sampai ritualnya. Status perahu yang merupakan pemberian atau warisan dari orang tuanya akan diperlakukan layaknya orang tua. Adapun perahu yang dibelinya akan diposisikan sebagai saudara, demikian juga perahu yang dibuat secara pribadi dianggap sebagai anaknya. Disinilah perlakuan itu menentukan entitas dan identitas, sebab orang Mandar dalam memesrai lautan sangat memahami betul perahu yang sementara ia gunakan melaut. Perlakuannya pasti beda antara perahu sebagai bapak, saudara dan anak. Laut dalam hal ini juga diperlakukan layaknya menemui istrinya, sehingga bentuk perlakuan terhadap istri tercintanya selalu mengedepankan sikap dan bahasa yang santun dan romantis. Maka jangan heran bahwa gelombang sebesar apapun bagi orang Mandar mampu ia taklukkan dengan hanya bi'jar berupa mantra yang dirapalkan sebagai ungkapan rasa cinta pada sang kekasih!. 

Dari labirin kebudayaan inilah aku dilahirkan ketika angin sepoi berhembus dari bibir-bibir alam yang rancu. Sosok Pak Nurdin Hamma dan A'baTammalele itulah yang membidani kelahiran saya. Aku lahir bertumbuh layaknya seorang bayi yang jangankan tertawa, menangis pun belum tahu. Tammalelelah yang mengenalkan, mengajarkan, memahamkan dan menuntunku hingga sampai pada proses ini. Hari ini pun saya tetap masih berproses dan terus dipoles oleh beliau. 

Mengingat jejak persinggungan saya dengan A'baTammalele dalam narasi kebudayaan tentu tak berlebihan jika kemudian saya mendaulatnya sebagai sosok Ayah atau A'ba sekaligus mendapuknya sebagai guru besar sejarah dan kebudayaan. Sebagai orangtua, ia terus melakukan berbagai pencarian dan mengajakku menelusur, meneliti dan meriset ruang-ruang tertentu dimana saya dibutuhkan untuk hadir membaca batin para leluhur. A'ba kerap hadir dan memberikan nutrisi layaknya burung yang selalu menyuplai makanan pada anaknya dalam situasi apapun. 

Sampai disini, saya terkesan dengan kisah seekor burung yang meletakkan telurnya disebuah daerah bergurun. Empat biji telurnya diletakkan disarangnya dan dengan setia ia menjaganya. Ia mengeraminya beberapa hari sampai keempat telurnya tersebut menetas. Rasa cinta dan tanggung jawab pada kelangsungan hidup generasinya membuat ia tiap hari terbang jauh untuk sekedar mencari dan mengumpul bahan makanan untuk anak-anaknya. Letih, lelah tak ia rasakan demi melihat keempat anaknya tersebut bisa menikmati makanan hasil jerih payahnya. 

Hari terus berlalu, tak terasa ia merasakan usianya semakin bertambah, tubuhnya melemah. Ia sedih melihat anak-anaknya belum bisa cari makan. Sementara ia merasakan kemampuan untuk mencari makan buat anak-anaknya semakin menipis. Jika ia tak lagi bisa bekerja untuk anak-anaknya, lalu siapa yang akan menafkahi anaknya? Perasaan itu kian hari menderanya, sehingga untuk tidurpun ia rasakan semakin sulit. Galau menyerangnya, bila ia tak menemukan jalan keluarnya, itu berarti alamat kehidupannya akan berakhir tragis bersama keempat anaknya. Ia bahkan berfikir untuk membunuh dan memakan anak-anaknya. Tapi urung ia lakukan, sebab apa artinya hidup tanpa mereka, bukankah ia akan lebih tersiksa hidup seorang diri?.

Fikirannya itu selalu menghantui. Ia kian tak bisa berbuat apa-apa. Jika ia mati, itu berarti kematian buat anak-anaknya yang akan memutus mata rantai kehidupan dan kelangsungan hidup bagi spesiesnya akan berakhir. Hingga kemudian ia berfikir untuk membunuh dirinya, sebagai penyambung kehidupan anak-anaknya. Yah, tak ada pilihan lain selain harus mati untuk anak-anaknya.  

Maka dengan niat yang tulus dan berharap darah dan dagingnya akan cukup jadi menu santapan bagi anak-anaknya untuk kemudian bisa terbang mencari makanannya sendiri secara mandiri. Ia lalu mencabut bulu ekornya dan menikam dirinya. Darah segar memuncrat dan menjadi minuman buat anak-anaknya yang kehausan. Tubuhnya lunglai lalu kemudian tersungkur. Ia menghadap Tuhannya dengan sebuah kebahagiaan, karna mampu memberi yang terbaik buat anak-anaknya. Terbaik dan sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya.

Darah dan daging tersebutlah yang mereka santap setiap pagi, siang, sore dan malam. Kandungan gizi dari daging ibunya itu menjadi semangat bagi keempat anak burung itu untuk belajar terbang dan beranjak dari tempat mereka. Mereka hidup dengan kemandirian untuk menjadi diri mereka, hidup dari sebuah proses pengorbanan seorang ibu.

Kisah yang mengharukan dan sangat membanggakan. Sebuah proses kreatif untuk mempersiapkan kelangsungan hidup generasinya. Kisah dari kehidupan burung yang rela mati demi menjadi sumber kehidupan buat anak-anaknya. Lalu adakah kita bisa menemukan ibu seperti itu dikehidupan manusia?
Adakah seorang pemimpin hari ini yang rela untuk sekedar mencabut bulunya demi kelangsungan hidup rakyatnya? Adakah seorang wakil rakyat yang rela mencabut bulunya demi kesejahteraan rakyat yang diwakilinya? Adakah seorang guru yang rela mencabut bulunya untuk mempertahankan kelangsungan ilmu pengetahuan? Adakah dari golongan manusia ini yang mampu mengorbankan kenikmatan yang dia miliki demi keberlangsungan hidup dan kemanusiaan?.

Pertanyaan yang dari awal saya rasakan hanya akan kita temukan di dunia para binatang ternyata masih ada dalam kehidupan yang sebenarnya. Dialah A'baTammalele dalam kehidupan manusia. Tammalele tentu bukan kisah dalam tuturan para pendongeng ketika seorang ayah atau kakek sedang berusaha mengantar anak atau cucunya dalam kepulasan dan mimpi-mimpinya saat terlelap. A'ba Lele telah mampu menunjukkan pada dunia, pada anak-anaknya, pada murid-muridnya. Dan tentu saja, karakter itu tak akan hilang dari sosok beliau sebab orangtianya telah menitahkan kata berupa doa suci lewat nama Tammalele, tak akan berubah sikap, tak akan lekang, tetap konsisten, komitmen merawat sejarah dan kelangsungan peradaban di Mandar.

Sehat Selalu A'ba !

Rabu, 31 Juli 2024

ISSANGI SIRI' || Sebuah Kritik Untuk Pemerintah Polman


Mendengar pemaparan ibu ini, saya sebagai rakyat juga berharap semoga apa yang disampaikannya benar benar salah, sebab jika itu benar sungguh sebuah kesalahan yang tak termaafkan. Bagimana mungkin sebuah daerah sekelas Polman ini dikelola oleh mereka yang punya pendidikan tinggi dan pengalaman birorasi yang menahun bisa seteledor ini. 

Selama ini saya berfikir, ndak masalah pejabat kita berbiaya mahal asal sebangun dengan kinerja dan capaian sebagaimana yang jadi patron dari pusat. Ternyata saya salah. Ibu yang katanya dari pusat tapi lahir di Enrekang ini bahkan sampai meledak-ledak dan emosi dengan apa yang dilakukan oleh para pejabat yang notabene pelayan rakyat. " Bapak Ibu jika ingin dibantu, perbaikilah kinerja kalian, kalau tidak kami akan bantai". Saya suka Bu....
"Dari Majene -Mamasa sampai kesini Polman begini kondisinya" Aduh, Maafkan saya Ibu. Itu bukan salah rakyat seperti saya.

Issangi siri'. Pesan ini buat kalian yang mengelola daerah ini. Nyata sekali kalian berjejer dihadapan tim Tim Pusat yang datang dari Jakarta. Mereka menguliti anggaran APBD Polman tapi model kalian seperti hadir mendengar ceramah ustadzah yang hadir di pengajian dan majelis taklim. Semua kayak kucing pileg, kambing congek, diam dan tunduk.

Bagaimana tidak, Para wakil rakyat ternyata lebih banyak makan minum dari kerja-kerja mereka buat rakyat. Masa sih anggaran makan minum anggota DPRD sampai miliaran. Sangat berbanding terbalik dengan anggaran 
Jembatan Desa yang habta 150 juta, Pendingin ruangan lah, itulah dan sejumlah alasan yang menjadikan uang rakyat layaknya uang pribadi. 

Fisik Pendidikan 14 M bermasalah, 
Gaji PPPK yang dialihkan.Wuihhh (ekspresi ibu)
Non Kapitasi Nakes tidak ditransfer
DAK sudah realisasi masih bermasalah...
Hak-hak desa ditahan-tahan, padahal dana itu titipan pusat ke kas daerah, kok malah tidak disampaikan. Bagaimana dengan dana yang bukan titipan?. Ceh.... 
Saya saja sebagai rakyat yang punya segudang masalah dan sejumlah kesalahan merasa malu mendengar pemaparan Ibu ini. Apa salah jika saya ikut mengumpat:  Hantam aja Bu, bongkar aja semua. Penjarakan aja sekalian. 

Terima kasih Ibu yang telah memberikan tehnik cocok-cocokan dan cocolagi para pejabat yang melupakan proyek mangkrak sejak 2018 lalu. Ibu sangat luar biasa.

Terima kasih tim medis yang meliput kegiatan ini. Semoga kalian sehat dan selalu ada dalam setiap proses yang berjalan. 

Sadarlah wahai pelayan rakyat, sadarlah wahai wakil rakyat, belajarlah empati dan hiduplah sederhana. Silahkan nikmati fasilitas mewah, tapi jangan uang rakyat yang kalian ambil. 

Tulisan ini terkait dengan video berikut. Tonton lengkap ya? 
https://www.facebook.com/share/SJWb883f4G2aYJQT/?mibextid=xfxF2i

PIDATO KEPAHLAWANAN || Untuk Lomba Pidato Agustusan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Yang saya hormati, Puang Iya sitinaya Upepuang, Daeng iya sitinaya Upedaeng. Kama' iya mala Upekama', Kindo iya mala Upekindo', Kaka' iya mala Upakaka', Kandi iya mala Upekandi'. Tettopa lao diingganana Tomala'bi'u hadir. 

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan kita nikmat kesehatan dan kesempatan untuk berkumpul di tempat ini dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaam Indonesia yang ke-79. Upraui diolo la'biratta' iyanasanna, pasitinaya namappalambi' pidato dengan tema "Menghormati Jasa Pahlawan, Meneladani Semangat Perjuangan".

Hadirin yang saya hormati,

Hari ini kita mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang dengan gagah berani untuk kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Mereka adalah orang-orang yang rela mengorbankan segalanya, bahkan nyawa, demi cita-cita mulia yaitu merdeka dari penjajahan. Nama-nama seperti I Calo' Ammana Wewang, I Kaco Puang Ammana Pattolawali, Tapanguju Punggawa Malolo, Demmatande, Daeng Majannang, Ibu Agung Andi Depu, I Masa Ibu Seluruh, Sitti Maemunah dan para pejuang lainnya adalah simbol semangat dan keberanian yang harus kita junjung tinggi.

Namun, selain pahlawan yang dikenal secara luas, banyak juga pahlawan tanpa tanda jasa yang turut berkontribusi besar dalam perjuangan bangsa ini. Mereka adalah rakyat biasa, Pa'banua yang mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah, tetapi pengorbanan dan perjuangan mereka tidak kalah pentingnya. Mereka mengajarkan kita tentang nilai-nilai keberanian, kesetiaan, dan cinta tanah air.

Tomala'bi'u hadirin,
 
Jika kita membaca kesaksian para pejuang saat tangsi militer di Majene seperti neraka bagi mereka, seperti horor amat mencekam fikiran. Dinding tahanan di Majene, halaman rumputnya yang bercampur darah, drum-drum yang berkarat sebagai wadah makanan pejuang, dan tiang-tiang bangunan tempat ratusan pejuang diikat tanpa ampun. Sungguh sebuah peristiwa yang mesti menyadarkan kita semua, bahwa tempat seperti itu pernah ada di Mandar, bahwa para pejuang itu pernah digebuk disana. Bahwa di Mandar, jajar pejuang dan penghianat tak pernah pupus dari ingatan. 
Pernahkah terbayang dibenak kita andai masa-masa kelam itu terjadi kepada kita?. Bayangkan jika yang keganasan tentara kota dan para pangese itu masih berlangsung sampai saat ini? Petanyaan-pertanyaan ini butuh jawaban dari relung hati yang paling dalam. Mereka para pejuang itu kini memerlukan pengakuan Negara bahwa memilih jalan perjuangan dan perlawanan pada Belanda tentu bukan tanpa resiko. Kali berapa nyawa melayang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan yang hari ini kita rayakan? Para pejuang itu rela mati untuk kita hari ini. Mereka rela tidak makan berhari hari untuk berjuang. Tegakah kita melupakan perjuangan yang rela mati untuk kita? Tidak malukah kita yang setiap saat bisa makan enak tanpa pernah berjuang? 

Para hadirin yang saya hormati, 

Saat ini, tantangan yang kita hadapi mungkin berbeda dari masa perjuangan kemerdekaan. Namun, semangat dan nilai-nilai kepahlawanan tetap relevan. Di tengah era globalisasi dan digitalisasi, kita menghadapi tantangan baru seperti perpecahan sosial, degradasi moral, dan ancaman terhadap persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, kita harus terus meneladani semangat juang para pahlawan dengan berperan aktif dalam pembangunan bangsa, menjaga persatuan, dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Mari kita bersama-sama menjadi pahlawan masa kini dengan berkontribusi positif bagi bangsa dan negara. Mulailah dari hal-hal kecil, seperti menjaga kebersihan lingkungan, saling tolong-menolong, dan menghormati perbedaan. Dengan demikian, kita turut melanjutkan perjuangan para pahlawan dan menjaga warisan yang telah mereka tinggalkan.

Sebagai penutup, marilah kita berdoa untuk arwah para pahlawan yang telah gugur. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik bagi mereka dan memberkati perjuangan kita untuk masa depan bangsa yang lebih baik.

Terima kasih atas perhatian dan kebersamaan kita hari ini.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selasa, 30 Juli 2024

BAKTI SEORANG SALEH BHAKTI YANG TERLUPAKAN


Catatan Muhammad Munir 

M. SALEH BHAKTI adalah satu diantara sekian guru yang terlibat dalam proses perjuangan memperebutkan kemerdekaan dari tangan Belanda. Bukti perjuangan dan baktinya pada negeri ini tak pernah dihargai kendati ia menjadi sosok yang tak pernah berhenti menebar kebaikan. Salah satu yang miris adalah SK Veteran yang harusnya ia nikmati justru datang pada saat maut merenggutnya.   
Saleh Bhakti lahir di Karama Tinambung pada tahun 1924 (data lain 1928) dari pasangan Kambaya Pua Turunni (karama – Lambanan) dan Sa’diang (Banua Padang Padang) bersama satu orang saudaranya yang bernama Mustafa. 

Saleh kecil mengenal pendidikan formalnya di SR 5 Tahun Campalagian mulai tahun 1934 dan berhasil mendapatkan ijazahnya pada tahun 1939. Selesai di SR, ia mengikuti pendidikan CVO (Cursus Volks Onderwizer) dari tahun 1939 sampai 1941. Dari CVO ia menjadi guru bantu di SR 3 Tahun di Pajalele Pinrang (1941-1944) kemudian diangkat menjadi Kepala Sekolah di SR 3 Tahun di Jampue Pinrang dan hanya bertahan satu tahun sebab ia mendengar berita bahwa Indonesia telah diproklamirkan di Jakarta pada 17 Agustus 1945. 

Sebagai seorang kepala sekolah, mendapatkan informasi perkembangan Negara pada waktu itu cukup mudah ia akses. Ia kembali ke Mandar dan bergabung dalam gerakan perjuangan yang diprakarsai oleh Riri Amin Daud, Andi Depu dan lainnya dalam Kelasykaran Kris Muda Mandar dan LAPRIS. Dari sana, ia terlibat dalam proses perjuangan secara fisik dari tahun 1945 hingga ia tertangkap pada tahun 1948 dan dipenjarakan di Ujung Pandang. Ia bebas dari penjara pada tanggal 27 Desember 1949 sebagai pejuang kemerdekaan.   

Tahun 1950, ia dirayonkan di Pinrang sebagai CTN (Cadangan Tentara Nasional). Pada tahun yang sama ia menikahi seorang gadis bernama Sitti Nahayah. Pada tahun 1951, anak pertamanya lahir, ia mulai bertugas dan tergabung dalam TKR (Tentara Keamana Rakyat) selama beberapa tahun dibawah pimpinan Hamid sampai tahun 1957. Pada saat TKR diresmikan pada tahun 1959, Saleh Bhakti kembali ke kampung halaman dan hidup sebagai warga biasa, bertani.   

Setahun kemudian, 1960 ia kembali aktif berpartisipasi membantu Panglima Operasi Kilat memulihkan keamanan di daerah Mandar dan menumpas habis Gerombolan DI/TII Kahar Maudzakkar serta mengakhiri petualangan Andi Selle pimpinan Bn. 710 dan TBO-nya. Untuk tugas ini, persenjataan disuplai dari Batalion S. Mengga di Parepare, hingga tahun 1964. Atas perannya dalam penumpasan gembong pergolakan di Mandar ini sehingga ia mendapat penghargaan dari Panglima Operasi dengan Nomor Keputusan 0140/12/1964. 

Kilat Antara tahun 1964-1965, ia disalur ke Obyek Pertanian oleh Panglima Operasi Kilat melalui Pemerintah Daerah Kabupaten Polewali Mamasa di Desa Rappang Kecamatan Wonomulyo. Tahun 1965-1966 ia kembali terlibat membantu pemerintah menumpas G30 S/PKI dengan segala ormas dan antek-anteknya. Setelah itu, ia bekerja di Perusahaan Daerah Bagian Perkebunan Kelapa di Mambu antara tahun 1966-1975.

Terhitung sejak tanggal 1 April 1975 ia dipercaya untuk menjadi pejabat Kepala Desa Suruang melalui Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Polewali Mamasa Nomor 19/ BKDH/III/1975 tertanggal 20 Maret 1975. Ia kemudian kembali terpilih sebagai Kepala Desa Suruang untuk periode keduanya berdasarkan SK No. 9/BKDH/ II/1984 tertanggal 8 Februari 1984. Ia tutup usia pada hari Kamis, 30 April 1992 masih dalam status sebagai Kepala Desa Suruang untuk periode ketiganya. 

Dalam hidupnya, ia sempat menikahi dua orang wanita masing-masing istri pertama bernama Hj. Sitti Nahaya dan Istri kedua bernama Bunga Rosi. Dari pernikahannya dengan Hj. Sitti Nahaya, ia dikaruniai 4 orang anak bernama Hasanuddin, Hasbullah, Sitti Masnah dan Sitti Nurjannah. Adapun dari Bunga Rosi ia mendapatkan tiga orang anak bernama M. Fajaruddin, M. Asikin dan Sitti Rahmah (diolah dari dokumen pribadi M. Saleh Bhakti).

Pemakaman Saleh Bhakti, 1992
Piagam Pengangkatan Saleh Bhakti sebagai Anggota Veteran

Minggu, 28 Juli 2024

CAGUB SULBAR || Apa Yang Anda Fikirkan?




Catatan Muhammad Munir

PILKADA SERENTAK 2024 diketahui bahwa Pilgub dan Pilbup akan berlangsung 27 November 2024 dan tahapannya saat ini sedang berjalan yang dilaksanakan Komisi Penyelenggara Umum (KPU) Sulbar dan KPU Kabupaten.

Sejumlah Calon Gubernur dan Wakil Gubernur serta Calon Bupati dan Wakil Bupati kian santer sosialisasi dan memburu rekomendasi partai pengusung. Untuk Pilgub Sulbar, sejumlah nama yang siap berkontestasi semakin gencar. Tercatat SDK (Suhardi Duka) mantan Bupati Mamuju 2 periode dan Anggota DPR RI dengan tanpa ragu menggandeng Mayjend (Purn. TNI) Salim S. Mengga sebagai wakilnya. Ada juga Prof. Husain Syam, Mantan Rektor UNM dua periode yang menggadang-gadang Arwan Aras, Mantan Anggota DPR RI yang juga putra HM. Aras Tammauni. Termasuk dua bersaudara dari klan Masdar juga dikabarkan akan berkontestasi di pesta 5 tahunan ini.

ABM atau Ali Baal Masdar, mantan Gubernur Sulbar (2017-2022) ini dipastikan akan maju lewat usungan Partai Gerindra, meski belum menampakkan tanda-tanda tentang siapa yang akan menjadi pasangannya. Namun hingga tulisan ini dinaikkan, "ABM pasti maju dan siap memanangkan Pilgub untuk periode keduanya sebagai Gubernur Sulbar (2024-2029)", kata salah seorang tim keluarganya kepada penulis via WA. Sementara Andi Ibrahim Masdar, mantan Bupati Polman yang dikenal lewat tagline AIM dan Sulbar Jago ini dengan percaya diri menyatakan maju berpasangan dengan H. Ramlan Badawi yang juga mantan Bupati dua periode dari Kabupaten Mamasa. Pasangan ini dikabarkan maju lewat usungan Partai Amanat Nasional, yang untuk Sulbar diketuai sendiri oleh Ramlan Badawi.

Para pengamat politik memprediksi bahwa SDK - Salim akan sangat mudah melenggang ke kursi Sulbar 01 jika ABM dan AIM benar-benar menjadi rival perebutan suara di Polman. Alasannya, karena suara di Polman dipastikan terpecah dan terbagi ke ABM, AIM, Salim dan Husain Syam. Tapi ini prediksi yang tentu sangat terbuka ruang bantahan bagi yang lain. Bagaimanapun, keberadaan seorang ABM yang notabene masih tergolong petahana tentu memiliki sejumlah strategi untuk kembali memenangi rivalnya di Pilkada 2017 yakni SDK. Kekuatan politik ABM di hampir semua wilayah kabupaten di Sulbar, masih sangat optimis bisa meraih kemenangan. Kekuatan Politik SDK di Mamuju tentu akan terpecah dengan munculnya Husain Syam-Arwan.

Tulisan ini tidak akan fokus membahas sejumlah nama dan peta kekuatan masing-masing calon yang telah menyatakan diri siap berkontestasi di Pilgub 2024. Ada hal yang lebih penting dan mendesak untuk dibincang selain masuk dalam pusaran kepentingan para kandidat. Provinsi Sulawesi Barat tahun ini tepat 20 Tahun usianya. Ditahun ini juga, Ibu Kota Negara (IKN) akan resmi pindah ke Kalimantan. Sejauh mana kita sebagai rakyat berfikir untuk membenahi Sulbar dan mempersiapkan diri menjadi bagian dari IKN yang notabene menjadi peluang dan tantangan.

Para Calon Gubernur pasti akan sangat percaya diri menyampaikan visi misinya untuk menyambut peluang itu. Tapi apakah benar mereka telah mematangkan semua konsep kebijakan yang menguntungkan rakyat Sulbar terkait keberadaan IKN?. Jurkam-jurkam kampanye Cagub pasti akan mengatup semua pikiran-pikiran kita dalam orasinya. Lihatlah Sulbar hari ini diusianya yang ke-20 tahun. Apa yang telah siap dan akan dipersiapkan untuk mengambil peluang dari IKN?. Sampai saat ini, perubahan nama belakang dari Selatan ke Barat ini saya melihat yang berbeda hanya kantor jawatan baru dengan perangkat OPD yang tentu menjadi kasur empuk bagi kepala-kepala dinas. Lahirnya Sulbar tidak dibarengi dengan perubahan pada bidang-bidang kehidupan lainnya. Termasuk infrastruktur, sarana transportasi, akses jalan, ekonomi kerakyatan, daur hidup kebudayaan, dunia literasi dan layanan publik ditengarai tidak mengalami tanda-tanda perbaikan yang signifikan.

Itu bisa dilihat dari jalur koridor-koridor ekonomi Kalukku - Kalumpang - Seko (Mamuju - Luwu), Salutambung - Urekang (Malunda - Ulumanda), Somba - Besoangin (Sendana - Tutar), Tinambung - Alu - Tutar ; Luyo - Besoangin; Lampa - Matangnga - Mehalaan - Mambi dan Matangng ke Lenggo (Polman - Mamasa); Mamasa - Toraja dan lainnya masih terkesan sama kondisinya pada 20, 30 tahun lalu. Fakta keberadaan Bandara Tampapadang Mamuju tak banyak menolong, karena orang yang mau ke Sulbar tetap merasa aman dan lancar melalui Bandara Hasanuddin Makassar. Bidang pendidikan maupun layanan kesehatan juga demikian. Kuliah di Makassar lebih trend dan diidamkan ketimbang di Mamuju, Manene dan Polewali. Berobat di rumah sakit Makassar masih menjadi pilihan akibat kurangnya peralatan dan tenaga ahli di Sulbar.

Belum lagi pelabuhan yang diharapkan belum memadai layaknya Parepare dan Makassar. Lihat juga industri kreatif dan ekonomi kerakyatan yang belum bisa menjanjikan karena tidak adanya personal garansi yang bisa menciptakan pasarnya. Lihatlah sa'be Mandar, Sekomandi dan Sambu' serta lainnya. Bidang kebudayaan juga begitu yang lebih banyak difestivalkan ketimbang ditulis dan dibukukan. Termasuk sejumlah arsip penting tentang sejarah Mandar masih yang bisanya diakses ke Makassar dan Jakarta bahkan Belanda.

Fakta-fakta yang saya sebut diatas mestinya jelas dan sebagai rakyat harus fahami itu. Para pemimpin yang telah lalu mulai dari Anwar Adnan Saleh sampai saat ini masih jauh panggang dari api. Pilkada ini harus menjadi momentum untuk kita mengukur tentang harapan kita terhadap calon Gubernur. Mereka mesti belajar banyak pada sejumlah program dan kebijakan selama 20 tahun terakhir. Belajar sebagai rakyat dan sebagai pemimpin dibutuhkan sebagai parameter untuk mengukur aplikasi motorik dan apersepsi kita bisa menerima atau tidak. Calon Gubernur kita tidak usah banyak menggurui dan menjanji. Cukup mereka belajar membuang toxic yang tdk produktif, agar ruang giga di kepalanya memiliki daya tampung yang memadai tentang apa yang mendesak hari ini dilakukan untuk Sulbar.

Adakah diantara Calon Gubernur yang siap dan telah melakukan persiapan terkakt persoalan Sulbar dari dulu sampai sekarang? Ayo tunjukkan dan panjangkan file nalar kita semua untuk mengawal pilkada ini menghasilkan pemimpin yang faham dengan kebutuhan Sullbar. 

CALONG || Sebagai Ikon Jingle dan Maskot Pilkada Polewali Mandar 2024.


By: Sahabuddin Mahganna

Instrumen bunyi yang mengindikasikan kesederhanaan para pelakunya. Perkenalan pertama pada tahun 1998 hingga memainkannya, dan yang menjadi sorotan utama sebab ketika benda itu melantun di Yogyakarta pada perhelatan musikalisasi puisi di Piramid Center 2003, para pelaku seni dan budayawan secara nasional ternyata begitu asing padanya, dan sejak itulah, saya memulai penelitian kecil di wilayah pesisir Mandar dan menggugah hasrat untuk menyelidiki secara ketat. 

Calong, sebuah nama yang melekat sesuai penyebutan populer bagi penunggu tanaman (petani) tradisional. Di Mandar, alat ini mampu mencatat sejarah karena kedekatan psikologi pelaku yang begitu menguntungkan di eranya, selain menghibur juga menjadi pengusir hama tanpa harus melenyapkan nyawa. 

Keistimewaan Calong (instrumen musik tradisional Mandar) ditunjang dengan keterlibatannya mem-bersama-i masyarakat dan berkembang-sekarang, seolah menjadi magnet baru. Tidak jarang bahwa media musik ini sudah sering tampil di perhelatan penting baik itu lokal, nasional maupun internasional, alunannya memukau, menjadi karakter tersendiri untuk pilihan kategori kebudayaan bunyi di Indonesia. 

Apapun itu, meski jenisnya bukanlah satu satunya di dunia, namun bukan berarti Calong tidak bisa bergeser dari bentuk-bentuk sebelumnya yang sudah populer dalam catatan musik tradisi, sehingga ini pulalah yang menghantarkan alunannya menjadi pembeda dan berhasil menyabet peringkat terbaik, sebut saja di festival musik tradisi anak-anak nasional di Jakarta 2009 dan 2014, menjadi duta Indonesia di Indigenous Pribumi Asli dari sembilan negara yang terkumpul  di Malaysia 2015.

Secara kolosal pun, ketika tahun 2006 dan tahun-tahun setelahnya, Calong begitu berarti pada pertunjukan penting untuk daerah, membanggakan mereka seolah-olah wilayah ini telah menemukan sebuah pembeda dan karakter meski dianggap sebuah hasil domistikasi ritmis (hibrid), dengan kata lain, meniru secara referensi. Dan pembuktian itu dilakukan pada abad-abad silam ketika paham islam belum masuk di wilayah ini. 

Kini, para juri, kurator dan KPU Polewali Mandar telah memilih ikon Calong dari hasil sayembara sebagai maskot untuk Pilkada tahun 2024. Pilihan ini bukan tanpa alasan sebab kurasi nya memang begitu panjang, hingga mengalahkan dari sekian banyak peserta. Desain maskot Calong untuk Polewali Mandar, cukup berpengaruh dalam deskripsi pilisofinya yang tercatat sebagai simbol bangsa yang harmoni, mewakili empat arah mata angin (appe sulapa) dan yang paling penting adalah Calong teridentifikasi sebagai bagian dari nilai dan sejarah. Bukan itu saja, Calong diyakini akan menjadi pembeda dari bentuk-bentuk yang sudah terpilih di Indonesia, lalu boleh jadi digunakan sebagai spirit baru yang memang benar-benar punya daya tarik sebagai bagian dari identitas wilayah. 

Selain itu, jingle yang juga merupakan hasil dari sayembara, pemenangnya telah dipilih sebab mampu melewati dari persaingan ketat, memenuhi syarat inti yang dilayangkan oleh panitia dengan relevansi tema, originalisasi  karya, unsur musikal karakter wilayah, dan kemampuan mengolah bunyi yang harmoni, tentu saja dari lirik yang sangat mengajak kepada semua pihak untuk berpartisipasi dalam pemilihan bupati dan wakil Polewali Mandar 2024.

Penentuan jingle ini secara keseluruhan telah ditentukan dengan pertimbangan yang matang dan obyektivitas nya yakin tidak diragukan tanpa ada tekanan dan intervensi dari pihak manapun. Diharapkan mampu membuat masyarakat tergugah dalam memilih pasangan yang betul betul dari hati, sebab antara Maskot dan Jingle telah memadu dan siap untuk diluncurkan. 

Akhirnya selamat kepada pemenang, Ahmad Ridhai Asis (Maskot) dan Aksi Madewa (Jingle) berkarya lah terus demi kemajuan daerah.


Sabtu, 27 Juli 2024

KANDIDAT BUPATI POLMAN || Tak Boleh Ada Yang Merasa Lebih Mandar !

Catatan: Admin 

Salah seorang member sebuah WAG mengirim link tulisan berjudul "Bebas Manggazali Mahir Berbahasa Mandar Calon Bupati Polman yang Ori" Penulisnya bernama Andi Jalil Maulana yang mengatasnamakan Forum Masyarakat Mandar. Tulisan tersebut dirilis oleh tribunnews.com (27/07/2024). Sipengirim melabeli situs berita tersebut dengan catatan singkat "'Tulisan ini sudah mengarah ke politik identitas yang tidak sehat". 

Praktis muncul beberapa tanggapan yang beragam. Salah satunya menyesalkan pihak media yang menaikkan tulisan tersebut. "Seharusnya pihak media dalam hal ini redaktur memilah berita atau tulisan yang harus dimuat, apalagi media sekelas Tribun" tulisnya. Diskusi kemudian berkembang sebab ada penanggap yang memberi komentar:  "Bahaya ini , sudah termasuk politik identitas yang negatif". Bahkan Isi berita ini bisa jadi alasan melakukan somasi ke pihak media. Ini bukan soal pilihan politik tapi soal etika dalam pemberitaan". Tulis anggota grup yang lain. 
Diskusi kemudian seru sebab seorang member lainnya ikut nimbrung menulis komentar panjang: Pakar sosiologi Islam, Ibnu Khaldun , menyebutkan, POLITIK dan IDENTITAS merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dia akan terus berkelindan dari mulai kehidupan umat manusia sampai dengan berakhirnya dunia. 
Sementara Samuel P. Hungtington, lanjutnya, dalam bukunya Benturan Antar Peradaban menyatakan, transformasi pola konflik di politik domestik dari konflik yang bersumber pada ideologi menjadi konflik yang berbasiskan identitas. Bila melihat kondisi hari ini, tak ada ruang pertarungan ideologi, yang paling memungkinkan hanyalah pertarungan politik identitas, dimana masyarakatnya memperjelas posisi "kita" dan "mereka" dalam tema kultural, seperti kesamaan bahasa, sejarah, dan kebiasaan.

Sampai disini saya mulai berfikir, bahwa betapa bangganya penulis (baca: Andi Jalil Maulana) jika tulisannya ditanggapi secara serius. Mengingat tulisannya hanya menang di judul dan foto yang dipasang oleh pihak tribun. Itupun menangnya pada propokasi yang saya anggap murahan. Betapa tidak, tampilan situs terlihat pada foto menyasar Dirga tapi kontennya menyasar Aji Assul yang notabene eksportir kakao.  Tribun seakan menyuarakan perang dari Bebas terbuka ke Dirga yang dianggap bukan orang Mandar. Disini keteledoran media Tribun. Pemberitaan ini bertendensi pada politik identitas yang tidak sehat dan bisa merusak tatanan demokrasi dan kehidupan sosial masyarakat Mandar.

Andi Jalil Maulana dengan tanpa beban mengatasnamakan Forum Masyarakat Mandar, tapi tak faham bahwa yang dilakukannya adalah politik identitas yang mengarah pada pengrusakan tatanan demokrasi dan sosial. Dari judul hingga isi berita jelas sudah mengarah ke sana. Alasan Bebas Manggazali Mahir berbahasa Mandar lalu dianggap calon bupati yang ori. Sungguh ini adalah fragmen ketidakfahaman penulisnya terhadap konten Amandaran dan Atauang. Saya tidak bisa bayangkan jika penulisnya memberi judul Hanya Bebas yang Ori, yang lain KW (KaWe). Sejak kapan pemahaman bahasa menjadi satu-satunya penguat status seseorang? Sejak kapan Bebas Manggazali dianggap Mahir berbahasa Mandar? Kalau tau bahasa Mandar mungkin iya, tapi jika dianggap mahir, mesti diuji dulu. Intinya, jangan ada kandidat yang merasa lebih Mandar dari yang lainnya. 

Kepada Abd. Jalil Maulana, Mandar itu nilai, nilai itu angga', angga' itu adalah siri' anna lokko'. "Mua' diang anu kadzae' papattengngi diolo', messisi' ai tama anu macoa". Ingat, di Polewali Mandar ini ada Jawa, Bugis, Toraja, Makassar, Pattae', Pattinjo, Pannei, Pakkado' Pa'denri, Pakkone'e dan lainnya. Jika dalam fikiranmu Mandar adalah bahasa, maka berhati-hatilah Ber-Mandar, jangan sampai Mandarmu menjadi bara bagimu.

Sabtu, 20 Juli 2024

DAENG TOMPO || Pemilik Lahan Pertanian Ondernemen Maloso

Catatan Muhammad Munir


Pada sebagian wilayah Desa Baru' dan Desa Botto dari arah Jembatan Mapilli ke Katumbangan nama Daeng Tompo adalah nama yang familiar pada petani pemilik SPPT Persil (sekian-sekian). Demikian juga di Desa Bonne-Bonne dan Segerang. Sosok Daeng Tompo adalah Pemilik atas ratusan hektar lahan pertanian dan perkebunan yang dikembangkan mulai tahun 1928. 

Kawasan tanah DAS Maloso Bonne-Bonne, Segerang, Baru dan Botto ini adalah lahan Ondernemen Belanda untuk kontrak 100 tahun, dimulai tahun 1883-1983). Dari tanah-tanah inilah seorang bangsawan dan ulama Bugis  datang  ke tanah Mandar pada tahun 1928 mengakuisisi lahan bekas tanah ondernemen maloso dari Belanda di Mapilli.  

Luasnya sekitar seluas 500 hektar. Lahan ini dibuka sebagai kawasan pertanian dan perkebunan dengan mempekerjakan orang orang Bugis dan Toraja, termasuk sebagian orang Mandar. Itulah makanya di Desa Segerang terdapat nama Dusun Taraujung (pemukiman Toraja), Sumael (Pemukiman Mandar) dan Padang (Pemukiman Bugis) sementara Segerang sendiri menjadi pusat perkampungan bagi siapa saja dari keluarga penggarap. 

Sebagai ahli agama, Daeng Tompo membangun sebuah Masjid yang tepat berada di pertigaan ke Padang, sampai sekarang masjid itu masih berdiri kokoh. Ba jihkan konon, menurut Arajang Binuang Lamattulada nama Segerang adalan pemberian dari Daeng Tompo. Itulah makanya, masyarakat  mengabadikan namanya dengan nama Jalan DAENG TOMPO yang menghubungkan antara Desa segerang, Desa Rumpa Kecamatan Mapilli.