Sabtu, 12 Oktober 2024

(012) MAXIMUS & GLADIATOR PAPUA

Penulis : Maximus Tipagau 
Penerbit : Rayyana Komunikasindo
Tahun : 2016
424 Halaman 

Kisah hidup Maximus Tipagau Ini akan menginspirasi banyak orang. Kedua Orangtuanya mengajarkan, di dunia ini tak ada yang gratis, termasuk soal makan di rumah. Ia tak dapat jatah makan jika belum membantu orangtuanya. 

Kehidupannya makin sulit ketika di usia tujuh tahun la sudah yatim piatu. Meski punya nenek, Maximus memilih hidup sendiri. Lalu ia mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Kadang ia menawarkan diri membawakan tas milik geolog asing yang sedang melakukan survei sumber emas di kawasan dekat rumahnya dengan harapan mendapat jatah makan, atau mengangkut barang milik guru asal Jawa dari lapangan terbang ke rumah dinasnya. Pernah juga memikul sayuran sejauh puluhan kilometer hanya untuk mendapat upah Rp. 3.000. Meski sulit, ia pantang menerima upah sebelum pekerjaannya selesai. Ia bahkan pernah mengikat perutnya dengan noken kuat-kuat untuk mengurangi rasa lapar yang mendera, padahal ia harus membelah setumpuk kayu. 

Di usianya yang belum genap sepuluh tahun, Maximus mencoba melamar pekerjaan di Tembagapura, kawasan Freeport. Sudah tentu ia diusir-usir sekuriti. Namun, berkat kegigihannya, dengan berbagai strategi yang lugu tetapi cerdik, akhirnya usahanya membuahkan hasil. Ia mendapat pekerjaan sebagai tukang kebun di kompleks pejabat tinggi Freeport. Kelak ia bekerja sebagai tukang kebun di sejumlah rumah yang dihuni para petinggi Freeport. Ia pun akrab dengan beberapa direktur perusahaan itu yang berasal dari AS atau Kanada. 

Meski banyak koneksi, untuk bisa bekerja di Freeport ternyata tidak mudah. Apalagi ia tak tamat SD. Namun, ia pantang menyerah. Segala upaya ditempuhnya agar bisa bekerja di Freeport. 

Buku ini bercerita tentang bagaimana ia menembus ketatnya penjagaan di Freeport, meyakinkan para petinggi perusahaan itu agar mau mempekerjakannya, dan bagaimana ia belajar untuk meningkatkan karier dari tukang parkir truk hingga jadi operator truk raksasa, bahkan jadi instruktur operator alat berat yang pesertanya para sarjana. 

Perjalanan hidupnya unik, lucu, lugu, kadang “gila”, tetapi sangat inspiratif. S.apa sangka pemuda Papua yang usianya belum 35 tahun ini sekarang bekerja di Istana Negara dan pernah memimpin delegasi ekonomi ke luar negeri. “Mungkin saya diwarisi mental gladiator seperti ayah dan kakek saya," katanya. 

ONE dO Art || Sung Lallute' (Menabur Cinta dan Kerinduan)

Oleh: Sahabuddin Mahganna. 

Ke Kutai. Begitu orang Mandar menyebutkan. Ketika jarak menjadi dekat oleh menyatunya sungai dan laut, mahakam-sampaga seakan memadu kasih, menghubungkan eratnya cinta penghuninya dan kerinduan saling memuji,  persaudaraan tak terpisahkan, alun kan dawai-dawai komunal, karena hanya nadamu yang menghampiri, meskipun haluannya berbeda. 

Enam belas jam perjalanan laut Armada Lembelu Pare-pare 2 Oktober 2024 menuju Balikpapan, Musik performence Sunglallute (ke Kutai) produksi One dO art di Mulai. Ini salah satu kelompok kesenian Sulawesi Barat, yang mendapat kehormatan menjadi bagaian dari International Kaltim Etnik & World Musik Festival di BSB Balikpapan tanggal 4-7 oktober 2024. Selama tiga hari di Hotel Pentacity, dengan pelayanan terbaiknya, panitia dan peserta dalam jadwal yang lumayan padat itu, begitu pula One dO art pada karyanya di lingkaran musisi etnik lokal, nasional, serta Internasional.

Nada Sunglallute mengalun indah pada dua malam itu, pantai BSB menjadi saksi, para warga Mandar pun yang sempat menyaksikan atas bantuan Aslam Nur kepada eks pejuang Sulawesi Barat Junaedi Latif, hingga kabar sampai Ke warga Mandar, KKMSB, Ketua DPRD dan Walikota Balikpapan. Di sela-sela pertunjukan kami, mereka mengaku bahwa kerinduannya terobati setelah lama tidak menginjak tanah leluhurnya. Kota Balikpapan yang bersih dari kerumunan sampah, betah kan kami selama lebih dari satu pekan. 

Hari senin tanggal 7 Oktober, kami melakukan check-out Hotel, menuju Petraland Pertamina Balikpapan, atas niat baik Pak Ilyas (warga Muara Badak keturunan Mandar) yang cukup disegani di kompleks perumahan elit tinggalan Belanda itu, menampung kami selama dua hari karena trasportasi yang rencananya kembali kami lalui untuk jalur laut  ke Mandar, tidak terjadwal setiap waktu. Namun, bukan berarti hal itu membuat tim akan mengalami kejenuhan atau pun kesulitan, sebab kecintaan dari Pak Ilyas beserta istri dan beberapa kolega (bu Hanna Haruna Rasyid dkk) menerima kami dengan suka cita. Dari sini kami memetik hikmah sekaligus mendapat sejumlah kesan yang tidak kala menarik dari agenda sebelumnya. 

Menabur Cinta bersama KKMSB Balikpapan

Pada pertemuan pertama kami dengan bapak Junaedi Latif di Hotel Pentacity, nyatanya beliau mengabarkan kepada seluruh warga Mandar mengenai kedatangan delegasi kesenian dari Mandar, sekaligus membicarakan agenda untuk melakukan suatu hal yang kemungkinan sudah beberapa kali dilakukan. Dengan semangatnya, agenda ini terus dibicarakan melalui grup via WA mereka, hingga disepakatilah bahwa rabu tanggal 9 Oktober 2024 pukul 20:00, kami akan pentas sekaligus temu kangen. 

"Siang yang cerah dengan udara yang terasa "hangat" seolah menyambut persiapan menjelang malam yang dinanti. Sebuah foto baru saja dikirim kanda Junaedi, memperlihatkan lokasi di mana pagelaran "passayasayang" akan digelar pada malam kamis nanti. Insyaallah. Tempat tersebut, dengan suasana yang terasa penuh dengan nuansa tradisi dan kehangatan budaya, tampak sudah mulai dipersiapkan dengan baik. Di sudut-sudutnya terlihat khas yang mencerminkan keindahan kearifan lokal, seolah tempat ini tidak hanya siap menjadi arena seni, tapi juga ajang kebersamaan dan pengingat akan akar budaya yang selalu hidup di tengah masyarakat. Lampu-lampu yang mulai disusun rapi siap menerangi panggung, menambah semarak dan harapan bahwa malam nanti akan menjadi saksi pertemuan antara tradisi dan kekinian, dengan penampilan yang akan membawa kita kembali pada rasa sayang terhadap warisan nenek moyang. Suara gitar yang akan melenting, serta lantunan suara merdu yang akan menghiasi malam, tampaknya sudah terbayang oleh banyak yang menanti. Semoga malam Kamis nanti menjadi momen yang penuh berkah dan keindahan, mempererat ikatan kebudayaan yang ada dan persaudaraan yang hakikat".

Pernyataan di atas oleh Syarif Syamsul telah menyebar luas dikalangan warga Mandar, ini pula sebagai undangan yang dikemas secara kekeluargaan, dan benar saja malam itu begitu indah, berkesan, nyaris semua yang hadir menerima suasana seperti berada di Mandar. Para undangan tanpa terkecuali melakukan pamacco, sebuah tradisi memberi yang dikemas dalam pertunjukan secara turun temurun dikalangan masyarakat Mandar. Tangis dan rasa haru pun tak terbendung , tidak terasa kami yang terlibat dalam pentas selama kurang lebih 3 jam seperti pentas dalam hitungan menit. Malam itu kami begitu berbahagia bisa memanfaatkan momentum untuk bertemu ratusan warga Mandar di pelataran kediaman H Rudi Mas'ud Balikpapan. 

Sayid Alwi Al-Qadri, S.P (Ketua DPRD Balikpapan juga keturunan Mandar) tersebut telah menjadi garda terdepan helatan itu, mengingatkan dalam sambutannya, bahwa Mandar di Balikpapan harus saling mencintai, memberi manfaat kepada sesama dan selalu menjadi panutan di tanah rantau, menghargai budaya dalam lingkaran kebudayaan Kutai-Mandar, saling menolong. Dan itu kami merasakan dengan difasilitasinya trasportasi jalur udara untuk Tim One dO art kembali ke Mandar. 

Ketinggalan Pesawat
Satu hal paling berkesan bagi kami ketika hendak kembali ke Mandar, pada pukul 04:00 dini hari Kamis tanggal 10 Oktober 2024. Setelah membereskan segala persiapan, kami tidak seharusnya tertidur, dan benar saja pukul 6:30 kembali bangun bergegas untuk menuju ke Airport Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sepinggan. Upaya untuk memburu jadwal berangkat sia-sia (kami tertinggal). 

Boking Boarding Pass pesawat tujuan Mamuju mempersulit, meski kami sudah berada di pintu terakhir ruang tunggu, semua prosedur, upaya dan alasan sudah dilakukan, namun tetap saja meninggalkan kenangan yang tentu tidak bisa dilupakan seumur hidup, mengingat hal kejadian ini baru kami temui, dan yang pastinya ketua DPRD Balikpapan (pak Alwi) beserta seluruh warga Mandar di sana, yakin pasti kecewa berat terhadap perlakuan kami, saat itu pula tim di kerumunan penumpang lainnya menjadi down (turun semangat) semua terdiam dan menyesali peristiwa yang baru saja terjadi. Sekali lagi kami memohon maaf! 

Beruntung, seluruh warga di sana tetap meyakinkan untuk tetap bersemangat, khusus nya ketua DPRD tersebut yang tidak pernah sedikit pun hatinya untuk memberatkan, beliau sangat menyayangi kami dengan memberi petunjuk, pelajaran, dan arahan. Didikannya akan selalu membekas di komunitas ini. Melalui pak Joyo salah satu tim Ahli beliau, mengabarkan bahwa kami segera mengganti pesawat menuju Makassar. Benar saja, kami akhirnya tiba dengan selamat di Makassar hingga sampai di kediaman masing-masing, berkat doa dan bantuan seluruh warga dan pemerintah kota Balikpapan berdarah Mandar. Dari sini kami mengakui kesalahan dan memuji persatuan Mandar di tanah rantau, dengan kata lain mereka tidak pernah ingin melihat sesama saudaranya mendapatkan penderitaan. 

Dengan pelayanan ini, semakin membawa dampak dan pelajaran berharga untuk memuluskan One dO art lebih dewasa dalam menjalankan tugasnya menabur cinta dan kerinduan lewat jalur kesenian. Tentu saja perjalanan ini begitu banyak yang terlibat, dan yang pastinya kami sangat berterima kasih kepada yang membantu. H. Mahmud Ganna, Dinas Pariwisata Kaltim, Kawan Indonesia World Music Series  (Amar Aprizal), Drs. Naharuddin M. Si. (komandan barisan pemuda pembentukan Sulawesi Barat), Abd. Rahim (anggota DPRD Provinsi Sulawesi Barat), Dr. Chuduriah Sahabuddin M. Si (Rektor Unasman), Jumiaty A Mahmud anggota DPRD Provinsi Sulawesi Barat, Aslam Nur, Sahabat As'ad Sattari, Rustan S.Pd -I. Sabri Maulana  dkk. Pak Junaedi Latif dan keluarga (eks pejuang Sulawesi Barat), Pak Ilyas SH dan keluarga, Syarif Syamsul, dan keluarga, Hanna Haruna Al Rasyid beserta keluarga dkk, Alam Nur Qadri (Owner Simboyang art - Mandar Hero) atas support kaosnya. Keluarga besar  SMAN 1 TINAMBUNG dan SMPN 2 MAJENE . 
Ocha Soundre dan keluarga, Nurul zakinah akbar
Jumrana beserta keluarga, Mitha, Rian, Daniel, Dadang, Alim, Aby, Indah serta para warga dan komunitas Mandar Balikpapan, Khusus nya Bapak Ketua DPRD Balikpapan (Sayid Alwi Al-Qadri, S.P), pak Joyo Tim Ahli DPRD Balikpapan, Bapak H. Rahmad Mas'ud, H. Rudi Mas'ud SE. M. E. Serta para pendukung lainnya. 

Kami dari One dO art, Sahabuddin Mahganna, Muh. Ulfi Mahendra, Didi Sulaiman, Adnan Kadir, Adi Reski, Wahyu Almasyah, Amaliah Ramlan, dan beberapa anggota dan para kerabat, mengucapkan banyak Terima kasih atas doa dan bantuannya. Semoga kita semua selalu dilindungi oleh Allah SWT dan Rasulnya. Amin.

Minggu, 29 September 2024

(011) SEJARAH BENTENG KAJUMANGIBANG || Benteng Pertahanan Terakhir di Mandar Tahun 1907-1908


Penulis : Prof. Dr. Idham Khalid Bodi
Editor : Dr. Saprillah 
Penerbit : Arti Bumi Intaran 
Tahun : 2016
202 Halaman 

Buku ini bisa dikategorikan sebagai Buku sejarah perlawanan rakyat Mamuju. Buku ini dimaksudkan untuk merekonstriksi kejadian-kejadian masa lalu yang tersisa dalam ingatan publik Mamuju, khususnya di Mamuju Tengah. Kesulitan utama menulis sejarah adalah mempercayai tuturan. Seperti yang diakui oleh penulis di bagian pendahuluan, bahwa sumber data tentang sejarah Benteng Kajumangibang adalah narasi, tuturan bukan data tertulis. Tuturan sangat mungkin mengalami depresentasi (kesalahan interpretasi) dan sangat mungkin dipengaruhi oleh subyektifitas narasumber. Dalam hal ini, penulis cukup cerdik dengan menampilkan beberapa versi yang ditemuinya untuk dikaji secara hati-hati. Contoh yang paling detil terlihat pada beberapa versi istilah Benteng Kajumangibang. 


(010) ALI BAAL MASDAR || Sang Pionir Dari Tanah To Malaqbi

Penerbit : Indomedia Global Mandiri
Tahun : 2019
384 Halaman

Dalam konteks ini, terpilihnya Ali Baal Masdar (ABM) lewat kontestasi Pilkada langsung Gubernur Sulawesi Barat 2017, menjadi momentum penting bagi suami Hj. Andi Ruskati ini untuk mengemban amanah dan menyejahterakan rakyatnya. Tentunya, publik berharap, terpilihnya ABM, adalah benar-benar menjadi pemimpin impian rakyat, dengan serangkaian programnya yang 
prorakyat. Apalagi, selama ini dia dikenal sebagai pemimpin yang kuat, jujur, bersih, amanah, juga kreatif, inovatif, bertanggungjawab, serta dapat memberikan pelayanan prima (phylosopher-king) kepada rakyatnya, yang diharapkan pula dapat mewujudkan visinya pada 2017-2022 yakni, “Sulawesi Barat Maju dan Malaqbi.” 

Malaqbi dalam Bahasa Mandar sendiri diartikan sebagai nilai: nilai luhur, mulia, rendah hati dan keutamaan dalam sifat-sifat ber. harkat dan bermartabat. Makna ini dapat ditemukan dalam budaya Mandar yang diungkapkan di berbagai lontar, yaitu “Pelindo-lindo maririo nanacanringngo'o pagbanua,” (Anda diharuskan memiliki sifat yang berharkat dan bermartabat agar dicintai oleh rakyat). 

Bekal pengalamannya yang panjang di lingkungan birokrasi dan kemudian terjun ke ranah politik, memberi warna lengkap pada perjalanan kariernya di Pemerintahan Daerah. Karenanya, kehadiran buku “Drs. H. Andi Ali Baal Masdar, M.Si., SANG PIONIR dari Tanah Malaqbi,” ini menjadi rekaman panjang perjuangan seorang ABM dalam meraih puncak kariernya hingga memenangi kontestasi Pilkada Gubernur Sulawesi Barat 2017 secara elegan dan demokratis. Diharapkan, buku ini dapat menjadi motivasi dan inspirasi bagi generasi penerus. Selain itu, model kepemimpinannya (leadership style) yang khas berbingkai nilai-nilai luhur, mulia, rendah hati, yang merupakan keutamaan dalam sifatsifat berharkat dan bermartabat (malaqbi), selalu mencerminkan khas Budaya Mandar. Selain itu, dia mau bersusah-payah turun dari singgasana kekuasaannya guna mendengar suara rakyat, dipandu spirit hidupnya yang pantang menyerah, tampil kreatif dan inovatif, menjadi nilai-nilai pembelajaran yang perlu disosialisasikan kepada publik, khususnya warga masyarakat di Tanah Mandar Provinsi Sulawesi Barat, maupun di daerah lainnya di seluruh Indonesia. 

Terima kasih. 

Sarbinnor Karim, dkk

Jumat, 27 September 2024

ARY IFTIKHAR SHIHAB || Jadilah Perekat dan Pemantik Pemajuan Kebudayaan


Sebuah Pelontar dari Muhammad Munir.

KAMIS, 26 September 2024 kemarin, sebuah peristiwa sejarah tercipta yang ikut mengguratkan takdir seorang Ary Iftikhar Shihab, atau yang akrab disapa dengan Koje. Ia menjadi salah satu diantara 45 Anggota DPRD Sulbar yang dilantik di Aula Gedung Baru DPRD Sulbar untuk periode 2024-2029. Koje menjadi salah satu yang tersorot tulisan ini karena perjalanannya menuju parlemen Sulbar juga menantang. Jika bukan karena nawaitu untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat, tentu namanya hanya akan tertulis ditumpukan arsip surat suara Pemilu 2019.

Detak detik waktu berderai rupanya mengukuhkan niat yang kuat itu hingga salah satu pin emas DPRD Sulbar itu tersematkan. Maka jadilah sosok muda pemilik pam Shihab dibelakang namanya ini sebagai wakil rakyat yang dirintisnya sejak 2019 lalu, dan terpilih pada Pemilu 2024 melalui partai Nasdem Dapil Sulbar II (Polman 1). PAM Shibab mungkin tak terlalu familiar di Mandar, tapi Koje lahir dari pertalian marga Al-Attas yang tak lain adalah pam yang cukup disegani dan berjasa besar di Mandar.

Koje lahir dari rahim seorang mulia Syarifah Aisah Mengga dari pernikahannya dengan Prof. Dr. KH. Umar Shihab. Aisah Mengga adalah putri S. Mengga yang tak lain adalah saudara kandung dari Mayjen TNI (Purn) Salim S. Mengga dan Ir. H. Aladin S. Mengga. Sementara Prof. KH. Umar Shihab yang pernah menjabat Ketua MUI Pusat dan Ketua MDI Sulsel ini adalah saudara kandung dari Prof. Dr. AGH. Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A., mantan Menteri Agama RI dan Prof. Dr. H. Alwi Abdurrahman Shihab yang juga tercatat pernah menjadi Menko Kesra dan Menteri Luar Negeri Indonesia. Dari rumpun ini tercatat juga sosok Najwa Shihab, putri Quraish Shihab yang jika ditautkan nashabnya adalah sepupu satu kali dari Ary Iftikhar Shihab.

Baik Al-Attas maupun As-Shibab, keduanya memiliki nashab dan sanad keilmuan yang cukup dekat dengan Mandar. Sebagaimana Al-Attas, Marga "Shihab" juga memiliki akar dari dunia Arab, khususnya dari Hadramaut, Yaman. Banyak orang dari Hadramaut, yang dikenal sebagai Hadhrami, melakukan migrasi besar-besaran ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sejak abad ke-18 dan 19. Migrasi ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk ekonomi, politik, dan perubahan iklim. Mereka berasimilasi dengan masyarakat setempat dan sering kali menikahi penduduk lokal, sehingga menghasilkan komunitas Hadhrami-Indonesia yang cukup besar.

Marga Shihab termasuk dalam kelompok kaum Sayyid, yaitu mereka yang dipercaya sebagai keturunan langsung dari Nabi Muhammad melalui cucunya, Hasan dan Husain. Karena status ini, keluarga Shihab sangat dihormati dalam masyarakat Islam sebagai pemimpin agama, ulama, atau intelektual. Nama "Shihab" dalam bahasa Arab berarti "meteor" atau "bintang yang menyala", yang secara simbolis sering dihubungkan dengan kemuliaan.

Beberapa anggota marga Shihab di Indonesia dikenal sebagai tokoh agama dan intelektual yang berpengaruh. Salah satu keluarga Shihab yang terkenal di Indonesia adalah keluarga dari Quraish Shihab, seorang cendekiawan Muslim, ulama, dan mantan Menteri Agama Indonesia. Keluarga ini dikenal dengan kontribusi mereka dalam bidang keilmuan Islam, pendidikan, dan politik.

Quraish Shihab dan keluarganya, seperti putrinya Najwa Shihab, juga telah memainkan peran penting dalam memperkenalkan diskursus modern tentang Islam dan sosial-politik di Indonesia. Hal ini menunjukkan bagaimana marga Shihab tidak hanya aktif dalam dunia keagamaan, tetapi juga dalam bidang-bidang lain seperti media dan pendidikan.

Secara umum, komunitas Hadhrami di Indonesia, termasuk mereka yang bermarga Shihab, telah memberikan pengaruh besar dalam pembentukan Islam di Nusantara dan memainkan peran signifikan dalam kehidupan sosial, budaya, dan politik di Indonesia sejak era kolonial hingga saat ini.

Keberadaan Ary Iftikhar sebagai salah satu Anggota DPRD Sulbar, memang cukup diharapkan menjadi pemantik lahir dan berkembangnya gerakan literasi yang tak hanya populer, tapi juga populis. Demikian juga keberadaan seorang Koje bisa menjadi perekat kebudayaan melalui proses pemajuan kebudayaan Mandar. Ini menjadi poin karena Koje memiliki sejumlah kelebihan dalam menautkan hubungan antar suku dan sub suku di wilayah Mandar. Ia adalah cucu dari Bapak Pembangunan HS. Mengga yang jika dirunut ke atas, maka Koje adalah cicit dari para penyebar dan penganjur Islam di Sulawesi Barat.
Intinya adalah semua anggota DPRD Sulbar diharapkan mampu berkonstribusi terhadap kepentingan rakyat, tidak lantas status wakil rakyat itu dijadikan ajang gagah-gagahan. Sebab puncak dari rasa syukur anggota DPRD bukan pada saat ia dilantik, melainkan pada 5 tahun kedepan.

Akhirnya saya ucapkan selamat  berdialektika di dunia parlemen. Dimamika perpolitikan di Sulbar membutuhkan peran kreatifmu sebagai wakil rakyat. Sehat dan Sukses selalu.





Kamis, 26 September 2024

SYAMSUL SAMAD || Pemilik Electability Etic dan Moral Manusia Mandar.


Sebuah Pelontar Dari Muhammad Munir


Pengambilan Sumpah Anggota DPRD Sulbar yang digelar di Gedung Baru DPRD Sulbar, Kamis, 26 September 2024 dipenuhi wajah baru. Tergantinya sebagian Anggota DPRD Sulbar memang ada yang tak diberi amanah oleh rakyat dan ada pula yang memang tak lagi mendaftar jadi Caleg DPRD Sulbar pada Pemilu kemarin.

Diantara Anggota DPRD Sulbar periode lama yang ikut dikukuhkan kemarin adalah Syamsul Samad, politisi Partai Demokrar dari Dapil Sulbar III (Polman 2). Ia kembali terpilih bersama 12 orang anggota DPRD lama sebagai anggota DPRD Sulbar baru periode  2024-2029. Syamsul terbilang mujur meniti karir politiknya. Berawal ketika lolos jadi Anggota DPRD Polman Pemilu 2009-2014, hanya 1 periode ia jalani kemudian naik jenjang ke DPRD Sulbar dan dinyatakan lolos pada Pemilu 2014-2019. Demikian juga Pemilu 2019-2024, ia melenggang kembali ke Parlemen Sulawesi Barat.

Sebagai politisi yang dikenal komitmen dan konsisten memperjuangkan aspirasi masyarakat Sulbar, ia kembali mengantongi kepercayaan masyarakat itu sampai di hari pelantikan kemarin, 26 September 2024. Bagi Syamsul, capaian ini tak membuatnya kesulitan mendapat gempuran dari politisi baru yang ikut berkontestasi dalam Pemilu. Itu terbukti dengan perolehan suaranya sangat signifikan.

Sukses berkarir di dunia politik menjadikan sosok yang lahir di Balanipa, 4 Oktober 1980 ini tentu tak berlebihan jika digadang-gadang sebagai pemimpin masa depan. Potensi yang dimiliki pemilik Rumah Rutih Palippis ini meniliki sejumlah peluang untuk mencapai puncak karir di Senayan pada Pemilu 2029 atau fokus pada Pilkada Polman periode yang akan datang. Pernyataan ini tentu tak perlu dipertanyakan, sebab Syamsul memulai debutnya di dunia pergerakan semasa mahasiswa dulu. Ia adalah mantan Ketua HMI Cabang Polemaju periode (2003-2005) dan Ketua Karateker HMI Cabang Pers Polman pada 2007.

Dalam dunia organisasi pergerakan, Syamsul telah teruji dan matang , demikian juga di dunia politik, ia telah melampaui ukuran rata-rata politisi yang kali ini memasuki periode ketiganya di Parlemen Sulbar. Politisi lain ada yang hanya bertahan satu atau dua periode saja. Boleh jadi ini karena tak mampu menjaga amanah rakyat yang didalamnya Syamsul bukanlah diantaranya.

Saya kira kita sepakat bahwa pembacaan terhadap karakter politik Syamsul saya anggap telah masuk pada tahapan electability etic dan electability moral. Karakter politik inilah yang dimiliki oleh pemimpin tradisional masa kerajaan di Mandar, dan Syamsul berhasil mengarifinya sehingga ia tak mudah dilupakan oleh mayarakat.

Selamat Bertugas kembali sebagai Wakil Rakyat. Semoga senantiasa eksis pada akses yang telah dipercayakan rakyat. Sehat selalu dan panjang umur. 

Rabu, 25 September 2024

ANGGOTA DPRD SULBAR || Dilantik Kamis, 26 September 2024.



Sebanyak 45 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ( DPRD ) Sulawesi barat terpilih pada pemilu Februari 2924 akan dilantik. Pelantikan akan dilakukan digendung DPRD Sulbar yang baru di Jln Andi Pattana Endeng, Kamis 26 September 2024.

Adapun Anggota DPRD Provinsi Sulbar terpilih setiap Dapil perolehan masing-masing suara antara lain:

DAPIL SULBAR I || Kabupaten Mamasa:

1. Sabar Budiman SH., MH (PDI Perjuangan); 6.534 dari total 16.296 suara.


2. Elisabeth SE (PAN); 6.789 dari total 13.857 suara


3. H. Sudirman (Golkar); 10.016 dari total 12.121 suara


4. Harun Lullunglangi (Hanura); 4.688 dari total 11.044 suara.


5. Fredy Boy (Nasdem); 6.712 dari total 9.238 suara.


6. Suhadi Kandoa (PKB); 6.661 dari total 8.354 suara.


DAPIL SULBAR II || Kabupaten Polman A:

1. Irfan Pahri Putra S.Ikom (Golkar); 7.960 dari total 28.914 suara


2. Jalaluddin (PKS); 5.395 dari total 21.427 suara


3. H. Ahmad Junaedi S.Ip, M.Ip (PAN); 9.480 dari total suara 18.753 suara


4. Ary Iftikhar Shihab (Nasdem); 5.132 dari total suara 16.823 suara


5.  Rahmat Ichwan Bahtiar (Gerindra); 7.482 dari total 16.098 suara


6. Abdul Halim (PDI Perjuangan); 10.631 dari total 16.001 suara


7. Gusrinaldy Sani Catur Putra Husain SH., MH (Demokrat); 5.121 dari total 9.913 suara


8. Masdar Mahmuddin S.Pd., M.Si (Golkar); 5.993 dari total 28.914 suara.


DAPIL SULBAR IiI || Kabupaten Polman B

1. M. Irbad Kaimuddin S.Pi (PDI Perjuangan); 7.739 dari total 20.317 suara


2. Usman Suhuriah (Golkar); 12.010 dari total 16.518 suara


3. Syamsul Samad S.Ip., M.Si (Demokrat); 11.851 dari total 14.195 suara


4. H. Fadhiliy (PAN); 9.788 dari total 13.915 suara


5. Dra. Jumiaty A. Mahmud (PKB); 4.542 dari total 12.448 suara


6. H. Abdul Rahim S.Ag, MH (Nasdem); 9.356 dari total 11.627 suara


7. Syarifuddin SH (Gerindra); 7.258 dari total 9.921 suara


DAPIL SULBAR IV || Kabupaten Majene:

1. Andi Nurul Fathiyah (Demokrat); 22.400 dari total 24.252 suara


2. H. Haluddin S.Pd., M.Pd (PAN); 5.733 dari total 15.250 suara


3. drg. Hj. Nirwan Katta Mrs. (Gerindra); 5.633 dari total 14.455 suara


4. H. Anthoni (PKB); 7.322 dari total 13.313 suara


5. Dr. H. Mulyadi Bintaha M.Pd (Golkar); 5.893 dari total 12.804 suara


DAPIL SULBAR V || Kabupaten Mamuju:

1. Dr. Hj. Siti Suraidah Suhardi (Demokrat); 19.292 dari total 53.835


2. H. Irwan SP Pababari SH,. MTP (Golkar); 8.968 dari total 33.077 suara


3. Sukri SP (Demokrat); 13.342 dari total 53.835 suara


4. Munandari Wijaya S.Ip., MAP (PAN); 8.104 dari total 17.448 suara


5. Sulfakri Sultan SH (Gerindra); 3.515 dari total 13.975


6. Yudiaman Firusdi SH (Nasdem); 9.508 dari total 11.855 suara


7. M. Khalil Qibran SH (Golkar); 8.261 dari total 33.077 suara


8. Firman Argo Waskito (Demokrat); 9.346 dari total 53.835 suara


9. Drs. H. Habsi Wahid MM (PDI Perjuangan); 6.451 dari total 10.279 suara


DAPIL SULBAR VI || Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng):

1. Dr. Hj. Amalia Fitri SE., MM (Golkar);  17.882 dari total 36.482 suara


2. Resky Irmayani Mappigau SE (Demokrat); 9.086 dari total 13.294 suara


3. . H. Haeruddin SH (Golkar); 8.346 dari total 36.482 suara


4. Murniati (PPP); 4.385 dari total 11.992 suara


DAPIL SULBAR VII || Kabupaten Pasangkayu:

1. Andi Muhammar Qadafi Abidin SH., M.Kn (Demokrat); 4.004 dari total 14.349 suara


2. Saddam SH,. MH (Golkar); 5.085 dari toral 13.282 suara


3. Andi Muhammad Qusyairy A.Md. Tra (Nasdem); 5.582 dari total 12.466.


4. Arwi (Gerindra); 4.270 dari total 10.677 suara


5. Ir. I Putu Suardana (PDI Perjuangan); 3.221 dari total 9.937


6. Abd. Azis Kulla (Hanura); 4.607 dari total 8.619 suara



Selasa, 24 September 2024

IT CAMP 2024 HMTI Fikom Unasman || Solusi Cerdas Bagi Pemuda Di Era Digitalisasi.


Kamis tanggal 19 September 2024, di Lembah Tottong Desa Kunyi, Kecamatan Anreapi Kabupaten Polewali Mandar, telah berlangsung Kegiatan IT CAMP 2024, yang dihadiri oleh Puluhan peserta siswa SMA/SMK sederajat dari berbagai sekolah sekabupaten Polewali Mandar, 

Acara ini di inisiasi oleh Mahasiswa Teknik Informatika Unasaman atau biasa disingkat HMTI Fikom Unasman yang berlangsung selama empat hari dengan konsep belajar di alam, seminar dan worslkshop dengan tema "Peran Gen Z Dalam perkembangan Teknologi Era 5.0

Mahasiswa Polewali Mandar  semakin dituntut untuk memiliki keterampilan digital yang mumpuni, Menyadari pentingnya hal ini, IT Camp 2024 hadir sebagai solusi untuk mempersiapkan generasi muda agar mampu bersaing di dunia yang semakin berbasis teknologi, yang diselenggarakan HMTI FIKOM UNASMAN.

Kegiatan IT Camp ini dilaksanakan secara Outdoor di salah satu objek wisata di Kabupaten Polewali Mandar, Kegiatan ini berhasil menarik perhatian peserta dari berbagai sekolah SMA/SMK sederajat dan mahasiswa Universitas Al Asy'ariah Mandar, serta IT Camp hadir sebagai solusi untuk mempersiapkan generasi muda agar mampu bersaing di dunia yang semakin berbasis teknologi. 

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan membekali generasi muda dengan keterampilan teknologi informasi yang relevan dengan perkembangan teknologi era 5.0. yang terdiri dari berbagai sesi yang meliputi workshop, seminar, dan kompetisi lainya dibidan digitalisasi


Kegiatan ini juga membangun konsep ramah lingkungan dimana peserta membatasi penggunaan sampah plastik pada kegiatan ini, sehingga kegiatan menimbulkan kesan peduli terhadap lingkungan dan juga pentingnya menjaga kebersihan disekitar dan lingkungan khususnya generasi muda.

Selain kegiatan yang menarik, panitia juga mengahadirkan narasumber yang mempuni dibidannya diantaranya beberapa pembicara ahli, atau narasumber, Seperti Dosen, Akademisi sampai pejabat publik, dimana salah satunya dihadiri oleh Bapak Dr. Aco Musaddad selaku Kadis Kominfo Kabupaten Polewali Mandar, yang sangat antusias terhapad kegiatan ini.

Beliau juga sangat mengapresiasi kegiatan ini karena dilakukan dengan mandiri tanpa menggunakan bantuan dari pemerintah, beliau berharap  Organisasi HMTI Fikom Unasman bekerja sama untuk berkolaborasi dengan pemerintah dengan konsep Literasi yang menyatukan konsep nilai estetika dan digitalisasi, serta mampu menjawab peluang dan tantangan di era digitalisasi.

IT CAMP 2024 ini juga memberikan ruang kepada peserta dari berbagai sekolah untuk dapat bertukar pikiran dalam menghadapi Teknologi era 5.0, melalui aktivitas tim mereka belajar pentingnya kerja sama dalam menciptakan solusi yang bermanfaat.

Kemudian pemuda tidak hanya lagi menjadi konsumen teknologi, tetapi juga menjadi pelaku utama yang aktif dalam menciptakan inovasi dan peluang bisnis yang berkelanjutan, serta mendorong kesadaran nilai dalam menggunakan teknologi dengan bijak dan bermanfaat bagi dirinya dan lingkungan disekitarnya.

Dari kegiatan ini, banyak peserta menunjukkan minat yang tinggi untuk belajar lebih lanjut tentang cara mengembangkan ide bisnis dalam dunia digitalisi serta dapat melahirkan wirausaha muda yang siap mengatasi tantangan masa depan dan berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manausia yang mempuni melalui kegiatan ini.

Salah satu sesi dalam kegiatan ini yaitu  diskusi dengan pembicara inspiratif, serta tanya jawab yang diberikan kepada  peserta, untuk berdiskusi atau tanya kepada narasumber untuk mendapat saran langsung dari para narasumber.

Semoga kegaiatan IT Camp 2024 ini, menjadi agenda model baru dari kegiatan-kegiatan menyatukan nilai keidahan dan moderenisasi, khususnya di era digitalisasi yang berdampak pada manfaat disekitarnya terutama mendorong perekonomian disekitar dan eksplor wisata secara tidak lanngung juga dapat berlanjut, serta memberikan manfaat di masa depan khususnya generasi muda.


Jumat, 20 September 2024

(009) Drs. H. ANWAR ADNAN SALEH || Meniti Pengabdian Merintis Kemandirian


Editor : Awaluddin M. Hatma
Penerbit : PSKPI (Pusat Kemitraan Pembangunan Indonesia) 
Tahun : 2008
360 Halaman 
Penerbit  

Drs. H. Anwar Adnan Saleh (AAS) Gubernur Sulawesi Barat yang pertama, terpilih melalui pemilihan langung 20 Juli 2006, memiliki sederet pengalaman panjang sebagai Birokrat (PNS), pengusaha dan politisi. Di pundak beliaulah rakyat menitipkan berjuta harapan demi kemajuan, kesejahteraan, keadilan dan kesetaraan yang ingin dicapai bersama di Sulbar. 

Berbekal pengalaman yang dilakoninya selama kurang lebih 30 tahun menjadi birokrasi, pengusaha dan politisi. Pengabdian AAS dibidang pemerintahan berawal dari terangkatnya AAS sebagai PNS tahun 1971 setelah menamatkan pendidikan APDN di Makassar tahun 1970. Selanjutnya menyelesaikan pendidikan pada IIP tahun 1978 di Jakarta, karirnya sebagai PNS terus menanjak dengan diangkat sebagai kepala sub direktorat pemerintahan pada pemerintah tingkat II Buton Sulawesi Tenggara (1976-1982), kepala bidang sosial budaya Bappeda Tingkat I Sulawesi Tenggara (1985), serta menjadi kepala perwakilan pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara di Jakarta, (1982-1985), dan pindah menjadi pegawai negeri sipil pada departemen dalam negeri tahun 1989. Didunia usaha AAS memimpin beberapa perusahaan multi nasional yang bergerak dibidang maritim (1989-2004), sedangkan dalam ranah politik AAS memulai karir sebagai Ketua DPD II KNPI Buton (1977-1980), Ketua DPD II AMPI Buton (1978-1984), Wkl. Ketua DPD II Golkar Buton (1977-1982), DPP AMPI (1984-1994-dua periode), Ketua PPK KOSGORO 1957 (2003-2008), Bendahara LPK DPP Partai Golkar (2001-2004), dan dipercaya menjadi anggota legislatif tingkat pusat (DPR RI) dari Partai Golkar (1999-2004). 

Dengan sederet pengalaman di atas, mengantarkan AAS sebagai Gubernur pertama Provinsi Sulawesi Barat, dengan amanah yang diemban tersebut AAS memiliki cita-cita mulia dalam membangun pemerintahan Sulbar melalui penataan kelembagaan dan peningkatan SDM aparat, yang menjadi pelaksana dan pelayan masyarakat Sulbar, dan dapat diyakini mewujudkan masyarakat Sulbar yang adil dan sejahtera. 

Jejak visi dan idealisme AAS dalam membangun Sulbar kedepan, telah terekam dalam seminar yang diselenggarakan tahun 2002 di Makassar (KAPP Sulbar). Bahwa tujuan utama membentuk sebuah provinsi adalah untuk memperpendek rentang kendali pemerintahan, mendekatkan pelayanan kepada masyarakat serta mewujudkan kesejahteraan dan kesetaraan agar sejajar dengan daerah-daerah lainnya. Menurut AAS diperlukan langkah-langkah terobosan serta strategi yang visioner untuk mendesain pola pembangunan yang berpijak pada potensi SDA dan kultur masyarakat setempat agar pembangunan senantiasa berorientasi pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Kiranya tepat sekali setelah mengemban amanah sebagai Gubernur pertama AAS mencanangkan 4 (empat) agenda utama percepatan pembangunan Subbar, sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2006-2011. 

Dalam rangka 60 tahun AAS, editor bersama tim berusaha menghadirkan sosok AAS, Gubernur milik rakyat dalam sebuah buku biografi singkat yang berisi rekaman perjalanan hidup, visi dan idealisme dalam berbagai media daerah dan nasional serta pernak-perniknya melalui pandangan, komentar, tanggapan rekan kerja, mitra bisnis serta sahabat atau kolega beliau selama ini. Kehadiran buku ini dirasakan penting untuk mengenal lebih jauh sang Gubernur pilihan rakyat yang meniti pengabdian dan karir di duerah lain sebelum kembali ke tanah leluhurnya untuk mengabdikan diri mewujudkan visi dan misi kepemimpinannya, Buku yang berjudul Meniti Penyabdian Merintis Kemandirian menggambarkan sosok AAS tokoh yang konsisten mengabdikan diri demi kemaslahatan bersama, Perjuangan AAS mengarungi bahtera kehidupan dimulai dari daerah kecil dan terpencil kemudian bergulat dengan ritme kehidupan nasional baik sebagai PNS, pengusaha dan politisi lalu kembali meniti pengabdian di daerah tertinggal provinsi Sulawesi Barat, 

Kiranya biografi singkat ini dapat menggambarkan sekelumit perjalanan hidup seorang anak bangsa yang suskes menjadi Gubernur pertama di Sulawesi Barat. Bercermin pada sosok AAS, telah menjadi hukum alam bahwa kesuksesan seseorang ditempuh melalui perjuangan yang panjang sesuai dinamika perjalanan sang waktu. Perlu diketahui bahwa buku ini dipersiapkan dalam waktu yang cukup lama kurang lebih 5 (lima) tahun. Namun demikian konsistensi dan aktualitasnya tetap terjaga. Akhirnya tim editor mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua tokoh nasional dan daerah yang telah berpartisipasi dalam mengisi lembaran buku ini dengan pandangan, tanggapan dan komentar tentang sosok H. Anwar Adnan Saleh. Semoga buku ini memberi warna dan menjadi oase dalam perbukuan nasional serta dapat menjadi cermin bagi generasi muda dalam meniti pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa dan negara, Amien. 

Jakarta, Agustus 2008 
Editor 

AWALUDDIN M. HATMA,, et al 

(008) BIOGRAFI Hj. ROSMIANI ACHMAD || Kiprah Gender Perempuan Mandar


Penulis : Haliadi Sadi 
Penernit : Yayasan Mitra Sains
Tahun : 2002
150 Halaman

Di umurnya yang sangat remaja, empat belasan tahun Rosmiani Achmad telah tampil sebagai organisator dan orator ulung di daerah Mandar. Ketika pindah ke Makassar aktualisasi kegiatan keorganisasian beliau menjadi semakin nyata. Dimulai dengan aktivitas dalam organisasi kewanitaan yang berorientasi politik, Gerwapsii, lalu mejadi politisi ril mewakili kaun wanita di Dewan Perwakilan Rakyat Kota Makassar, sampai akhirnya menjadi pimpinan organisasi wanita departemental binaan pemerintat yaitu Dharma Wanita di Kalimantan Timur. 

Dengan alur hidap yang sarat pengalaman keorganisasian, timbul pertanyaan mengenai bagaima tanggung jawab.Rosmiani sebagai perempuan yang, sebagaimara lazimnya dalam keluarga bangsa kita, menjadi tiang keluarga baik dalam mendidik anak maupun urusan dapur dan hal-hal lainnya. Ternyata dengan lima anak, dua wanita dan tiga lelaki, Rosmiani bersama suami berhasil membesarkan mereka dalam kesederhanaan sebagai seorang istri pegawai negeri, yang seperti istri PNS lainnya, harus berjuang membanting tulang dan kreatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Dengan kekuatan batin yang teguh dan saling percaya yang hampir absolut, Rosmiani dan suami akhirnya berhasil membawa anak-anaknya menjadi:orang yang mencapai tingkat pendidikan yang tinggi. Apa kunci sukses organisasi dan keluarga Rosmiani Achmad?. 

Sebagai keluarga yang sepenuhnya berlatar belakang budaya Mandar. ada penjelesan Darmawan Mas'ud, budaya Mandar tentang pola hidup-masyarakat yang berbasis adat dan kebiasaan di tanah Mandar. Ada konsep hidup yang disebut Sibaliparri yang dianut.oleh sebagiari besar masyarakat lokal disana. Sibaliparri adalah way of life yang mengandung beberapa nilai yang sangat prinsipil dalam memelihara keutuhan keluarga serta sekaligus membawanya kepada kemajuan yang optimal. 

Nilai-nilai tersebut antara lain adalah saling pengertian (mutual understanding), persamaan (equity), pembagian wewenang dan tanggung jawab (power sharing), kerja bersama (mutual cooperation) dan lain-lain. Tampaknya prinsip inilah yang menjadi acuan Rosmiani Achmad dalam menjalani hidup ini. 

(007) HUSNI DJAMALUDDIN YANG SAYA KENAL || Catatan Dari Teman-Teman


Penerbit : PT. Media Pustaka Jaya 
Tahun : 2004
268 Halaman 

PENGANTAR 

Luapan kebahagiaan tak terhingga, buku Husni Djamaluddin yang Saya Kenal bisa rampung dan disajikan ke hadapan pembaca. Buku ini merupakan kumpulan tulisan berbagai kalangan dari beragam sudut pandang. Harapan kami, buku ini dapat mengungkap kekuatan dan kelemahan sosok Husni Djamaluddin sebagai wartawan, kolomnis, sastrawan, maupun dalam pergaulannya sebagai makhluk sosial dan politik. 

Tulisan ini bersumber dari keluarga, teman-teman seperjuangan dan sejawat Husni Djamaluddin yang dikenal sebagai pendiri Dewan Kesenian Makassar (DKM), aktivis angkatan 66, Sekjen Komando Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu PKI Wilayah Sulawesi Selatan, dan mantan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan 19921997. Terakhir, mengemban amanah sebagai Ketua Umum Dewan Perjuangan Pembentukan Sulawesi Barat. 

Lima bulan lebih kami intens berproses, mondar-mandir menghubungi nara sumber sekaligus mengumpulkan bahan-bahan untuk penerbitan dua buah buku Husni Djamalaluddin. Untuk buku ini, semula kami merencanakan seratus tulisan yang bisa terkumpul. Namun, karena padatnya kesibukan para nara sumber, sehingga hanya separuh lebih yang dapat disajikan. Tapi kami yakin, kumpulan tulisan ini cukup mewakili, sebagai langkah awal untuk mengenal dan memahami sosok Husni Djamaluddin. 

Tulisan ini, kami sajikan berdasarkan abjad. Sebagian tulisan kami beri judul dan mengeditnya atas permintaan dan restu nara sumbernya demi keselarasan sajian. Sebenarnya, hingga detik akhir pra cetak, kami masih dijanjikan kiriman tulisan dari sejumlah teman Husni Djamaluddin. Namun, dengan penuh hormat, karena keterbatasan waktu, kami dituntut segera mencetaknya, mengingat makin dekatnya jadwal peluncuran yang direncanakan tepat pada 40 hari wafatnya Husni Djamaluddin, 4 Desember 2004. Rencana awal, buku ini dipersiapkan menyambut momen “70 Tahun Husni Djamaluddin”. Selain buku ini, juga akan diluncurkan dua buah buku lainnya, masing-masing berjudul Adakah Kita Masih Bertanya? dan kumpulan puisi Indonesia, Masihkah Engkau Tanah Airku? terbitan Pustaka Jaya, Jakarta. 

Husni Djamaluddin bersama tim kecilnya, telah merencanakan sederet kegiatan menyambut hari peluncuran buku ini yang semula sudah direncanakan dengan matang pada tanggal 10 Nopember 2004. Jadwal ini pun diundur, karena Husni Djamaluddin masih harus melewati masa kritis dan perawatan intensif di RSPAD Jakarta. Kini, walau Tuhan telah mememanggilnya, tapi jelang saat-saat terakhir Husni Djamaluddin, ia selalu tersenyum membaca sebagian besar isi buku ini sembari menikmati proses finishing buku-bukunya. 

Walhasil, perkenankan kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang telah menyumbangkan tulisan. Tak lupa kami memohon maaf, jika dalam proses awal hingga akhir buku ini terdapat kekurangan. Kami akan sangat bangga dan berterima kasih, jika buku ini mendapat tanggapan, koreksi, dan kritik dari berbagai pihak. 

Jakarta, 30 Oktober 2004. 

Hormat dan salam, 
Zulfikar Yunus 

TESTIMONI:

Dan, Allahu Akbar, Husni Djamaluddin memperoleh derajat untuk didatangi oleh Kota Ilmu.... Pantas namanya Sebaik-baik (Husni) Keindahan (Djamal) Kasih Sayang Allah / Agama (ud-Din) 

(Emha Ainun Nadjib) 

Sebagai alumnus S-5, tamatan 5hospital penting, zikrul-maut sudah basah di lidah dan bibir Husni. Wiridnya antara lain membaca shalawat Rasul 202 kali sehari. Penyair yang pernah tiga kali bertemu Rasulullah 
Muhammad saw di dalam mimpi sebelum shalat subuh ini (pengalaman rohani luar biasa hadiah bagi seorang Muslim, bahkan Kiyai-kiyai pun belum tentu mengalaminya) 

(Taufiq Ismail) 

Bung Husni, sang “benang putih” yang siap dicelup dalam berbagai warna ... “saya ini cermin, kata Bung Husni, kepada saya di suatu waktu. Sebagai pelaku budaya Mandar yang benang putih itu Husni merumuskan: "jika wajah anda cemberut ke dalam cermin, wajah cemberut itu pula yang anda dapat. Tersenyumlah ke dalam cermin, maka sang cermin memberimu senyum. “Sang cermin selalu siap didahului. la tak mencari, ia dicari.” 

(Rahman Arge) 

(006) DINAMIKA POLITIK PEMBENTUKAN PROVINSI SULAWESI BARAT

Penulis : M. Thamrin Mattulada 
Penerbit : Pustaka Sawerigading 
Cetakan Pertama : 2017 

Kajian tentang dinamika dalam proses pembentukan Provnsi Sulawesi Barat memang tetap menyisakan ruang-ruang penting untuk terus digali dan diangkat sebagai bagian dari perjalanan panjang perjuangan miasyarakat Mandar untuk berdiri menjadi daerah otonom yang terpisah dari Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai provinsi induknya. Kenginan yang semangatnya telah digagas bertahun-tahun itu akhimya berhasil terwujud. 

Tentu saja, proses untuk memisahkan dari daerah induknya itu tidaklah berjalan mulus. Perjalanan panjang dan berliku itu dihadang berbagai tantangan, baik dari luar, maupun dari dalam. Berbagai kepentingan saling mendukung, sekaligus saling menghambat, saling sejalan sekaligus saling bersilangan. Namun semua itu menjadi bumbu dalam proses perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat yang sekarang telah dinikmati masyarakatnya. 

Berbagai proses panjang dan berliku itu tentu harus didokumensikan dengan baik dari berbagai aspek kajian dan penyajian. Karenanya, buku ini hadir sebagai salah satu upaya dalam mendokumentasikan perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat tersebut. 

Berbagai dinamika, khususnya dinamika politik disajikan dengan baik dalam buku ini. Penulis mencoba menguraikan dan menganalisa tentang proses panjang perjuangan pemisahan/pemekaran daerah Sulawesi Barat dari induknya, Provinsi Sulawesi Selatan pada 2004. Termasuk berbagai peristiwa diungkap dan diurai dengan baik dalam buku ini. 

@sorotan

(005) PUANG & DAENG || Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa-Mandar

Buku Puang dan Daeng adalah 
sebuah karya monumental yang ditinggalkan oleh mendiang alm. Prof. Dr. Darmawan Mas'ud. Disebut demikian, karena buku ini adalah tulisan terlengkap tentang Mandar dari sudut pandang kebudayaan. Melalui
Idiom puang dan daeng, penulis menjelaskan kepada kita tentang kebudayaan Mandar secara utuh. 

Sebagai putera Mandar, penulis merasa terpanggil untuk menjelaskan kebudayaan Mandar kepada dunia akademik. Ini penting, karena pada saat Itu Mandar hanyalah sebuah sub kultur dari kultur besar yang disebut Bugis-Makassar. Ini terlihat dari berbagai tempat. Penulis tidak 
melepaskan Mandar dari sudut pandang ke-Bugis-an dan ke-Makassar-an, Cerita tentang Mandar seolah menjadi 'pelengkap' dari Identitas Bugis-Makassar. Bisa jadi, kala karya Ini dipresentasikan sebagai disertasi doktoral, orang menilainya sebagai bagian dari kebudayaan Sulawesi Selatan dan itu berarti menjadi sub dari (salah satu) kuitur besar, Bugis-Makassar. 

Akan tetapi, ketika Provinsi Sulawesi Barat dideklarasikan. Buku Ini menemukan momentum yang lebih tepat dan dahsyat. Kajian Ini bukan lagi kajian sub-kultur tetapi kajian dari kultur besar yang disebut Mandar. Penulis sudah meletakkan kajian yang sangat lengkap tentang Mandar. Seluruh sudut kebudayaan Mandar bisa ditemukan disini. Dengan Kerajaan Balanipa sebagai pintu masuknya.

(004) DI BELANDA TAK SEORANG PUN MEMPERCAYAI SAYA || Maarten Hidskes


Pada bulan Juni 1946 Piet Hidskes mendaftarkan diri sebagai sukarelawan pada Depot Specale Troepen (DST, Depot Pasukan Khusus), korps elite dari Koninkliik NederlandscnIndisch Leger (Pasukan Hindia-Belanda) di bawah komando Kapten Westerling yang menerima carte blanche untuk menumpas pemberontakan di Indonesia dan melakukan aksi-aksi pembersihan. Setelah mengikuti pelatihan selama enam bulan, Hidskes ditempatkan di Sulawesi Selatan. 

Dia kemudian terlibat dalam "Peristiwa Sulawesi Selatan''. Hidskes tidak menceritakan kepada siapapun apa yang terjadi di sana. Siapa yang akan mempercayainya? 

Ketika dia meninggal dunia pada tahun 1992, cerita itu dia bawa masuk ke liang lahat. Kenapa dia selama lima puluh tahun membungkam diri tentang semua pengalamannya di Sulawesi Selatan? Sejauh mana keterlibatannya dalam pelaksanaan aksi-aksi pasukan Westerling dilakukannya dengan sukarela? 

Anaknya, Maarten Hidskes, memutuskan untuk menyelidiki peran ayahnya di Sulawesi sampai mendasar. Dia mendapatkan kepercayaan dari beberapa mantan tentara komando dan regu pasukan ayahnya, menganalisis surat-surat yang dikirim ayahnya dari Hindia, dan mempelajari laporan-laporan intelijen tentang teror di Sulawesi. Dengan cara yang mengharukan, Maarten berhasil menyusun rekonstruksi masa lalu perang dari ayahnya. 

Maarten sampai ke Mandar pada tahun 2018 untuk membuktikan bagaimana sepak terjang ayahnya ketika berada di Mandar pada tahun 1947 sebagai salah satu dari pasukan Westerling.

(003) SEJARAH PERJUANGAN PEMBENTUKAN PROVINSI SULAWESI BARAT || Prof. Dr. Idham, M. Pd. dan Dr. Saprillah, M.Si.


Buku ini lahir dari keinginan penulis untuk mendokumentasikan momentum “kelahiran” Sulawesi Barat, sebagai bagian dari sejarah penting masyarakat Mandar. Penting, karena kelahiran Sulawesi Barat merupakan cita-cita yang telah dikonstruksi sejak lama oleh para pejuang kemerdekaan yang berasal dari Mandar. Bukan gerakan politik reaksioner sebagai eforia reformasi yang menumbuhkan semangat pemekaran di berbagai daerah di Indonesia. 

Ide tentang Sulawesi Barat adalah ide menyejarah, telah dipikirkan oleh generasi pejuang Mandar. Basis historisitasnya adalah persekutuan kerajaan-kerajaan di pitu ulunna salu (tujuh kerajaan di hulu sungai) dan kerajaan-kerajaan di pitu bagbana binanga (tujuh kerajaan di muara sungai). Persekutuan ini merupakan persekutuan kerajaan yang paling solid di zamannya. Mereka saling membangun interaksi sosial, ekonomi, dan ketahanan politik. 

Menulis sejarah Sulawesi Barat — dengan demikian — adalah upaya untuk melestarikan ide tentang Mandar yang sempat hilang ketika harus dilebur dalam Provinsi Sulawesi Selatan. Cita rasa Mandar sebagai suku yang memiliki sejarah peradaban yang panjang seperti kehilangan konteks (out of context), bahkan daerah-daerah Mandar menjadi daerah terbelakang dibanding daerah lain di Sulawesi Selatan. 

Secara metodologis, penulis menggunakan metode pendekatan sejarah sosial, yang berupaya mengungkapkan secara menyeluruh proses sosial politik perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. Kesulitan terbesar yang penulis alami adalah upaya verifikasi data. Data yang sebagian besar diperoleh melalui wawancara memiliki tingkat subyektifitas yang sangat tinggi. Beberapa narasumber “berupaya” menonjolkan diri sebagai arus utama perjuangan. Hal ini lumrah, karena perjuangan pembentukan Sulawesi Barat memang dapat terealisasi dengan baik. Ini menyebabkan banyak orang yang merasa memiliki “jasa” dalam proseg pembentukannya. Oleh karena itu, penulis berupaya melakukan verifikasi data dengan melakukan cross check data dengan berbagai pihak yang terlibat secara langsung dalam perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. 

Untuk menghindari penonjolan individu, penulis berupaya untuk mereduksi sebanyak mungkin penceritaan alur melalui perspektif individu dan menghindari penyebutan nama secara berlebihan. Kalaupun ada nama yang disebut di dalam buku ini, itu lebih karena konteks penulisan mengharuskan melibatkan nama mereka sebagai pelaku dalam proses politik tersebut. Menghilangkan nama — dalam situasi ini — justru dapat mengurangi validitas data dan menghilangkan konteks penelitian. 

Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada H. Muh. Jamil Barambangi (Kepala Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulawesi Barat kala itu) yang berinisiatif dan memprakarsai penelitian ini. Selain itu, beliau juga berkenan untuk menjadi editor sebelum tulisan ini diterbitkan. Ucapan terima kasih yang tak terhingga juga disampaikan kepada pengurus Forum Sipamandar, KAPPSULBAR dan Pokja-Pokjanya, KKM-N, DP3-SB, BPP-SB, Tim Pansus Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat, para mantan aktivis Mahasiswa, dan semua pihak yang terkait dalam penulisan buku ini. 

Akhirnya, penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Drs. H. Muzakkir Kulasse, MM (Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat) yang telah bersedia menerbitkan kembali (cetakan kedua) buku 

Makassar, 17 Juni 2015 
Penulis