Minggu, 12 Januari 2025

SITTI SUTINAH SUHARDI || Perempuan Pertama Jadi Bupati di Sulawesi Barat.

SITTI SUTINAH SUHARDI adalah putri sulung Suhardi Duka dengan Harsinah Dg. Ngasseng yang akrab disapa Tina. Pada Pilkada Mamuju 9 Desember 2020 ia menjadi penantang petahana bersama politisi PDI Perjuangan, Ado’ Mas’ud. Dari sini, Sutina menjadi sosok wanita pertama yang menjadi Bupati Mamuju. Untuk periode keduanya sebagai Bupati, ia kembali maju di Pilkada Serentak, 27 November 2024 dengan menggandeng kader PKS, Yuki Permana. Hal menarik dari perhelatan ini karena bersamaan dengan Ayahnya yang juga terdaftar sebagai Calon Gubernur Sulawesi Barat bersama Jendral Salim Mengga sebagai Wakil Gubernur. 

Paket Sutina dengan Ado’ Mas’ud pada Pilkada lalu pecah kongsi. Ado’ menggandeng H. Damris menjadi kompetitor di Pilkada lewat usungan PDIP, Golkar dan Perindo. Sementara Sutinah disung oleh Partai democrat, Nasdem, Hanura, PKS, Gerindra, PKB, PAN, PBB, PSI, Gelora, PPP, Ummat dan Buruh. Secara dukungan partai, posisi Ado’ sebagai penantang sesungguhnya telah jauh terlampaui jika kalkulasinya menggunakan parameter suara partai. Terlebih, ayahnya juga masih menjadi salah satu tokoh berpengaruh di Sulbar, khususnya Mamuju. Hasilnya kemudian mencatatkan kemenangan Sutinah di periode keduanya sebagai Bupati Mamuju.      

Sutina lahir di Ujung Pandang 07 Maret 1984. Ia merupakan buah cinta dari pasangan SDK dan dengan Harsinah Dg. Ngasseng setahun setelah pernikannya dengan wanita pujaannya. Tina menjadi saksi atas keputusan ayahnya yang nekat menikah saat berstatus mahasiswa. Sebagai pasangan muda, tentu Sutina menjadi spirit bagi SDK untuk membuktikan pada mertua dan ayahnya bahwa bahwa ia tidak salah mengambil keptusan menikah dini. 
Lahirnya Sutinah dan anak keduanya, Suraidah menjadi pelengkap kebahagiaan SDK dan istrinya. Betapa tidak, dua sosok putrinya ini menjadi bingkisan berharga yang ia bawa ke Mamuju bersama dengan Ijazah Sarjana dan SK sebagai PNS di Departemen Penerangan. 
SDK mungkin tak menyangka bahwa putri pertaamanya itu akan menjadi sosok pemimpin yang mengikuti jejaknya sebagai Bupati dua periode di daerah yang sama yaitu Kabupaten Mamuju. SDK yang dulu berani menanggalkan status PNS-nya untuk terjun ke dunia politik terulang pada putrinya yang juga rela meninggalkan statusnya sebagai Kepala Dinas Perdagangan Mamuju untuk menjadi Calon Bupati. 

SDK berhasil membuktikan  bahwa sejarah sejatinya akan selalu terulang dalam kondisi yang berbeda. Inilah yang terjadi yang mungkin susah kita dapati peristiwa dan sosok yang yang lain kedepan. SDK dan Sutinah ini adalah peristiwa bersejarah dan akan terus menyejarah. Selain keluar dari ASN untuk masuk dalam dunia politik, ia juga berhasil menumbangkan petahana, Habsi Wahid sebagaimana ayahnya yang berhasil mengalahkan Almalik Pababari sebagai petahana waktu itu. SDK dan Sutinah berhasil mencapai sukses dengan menjadi Bupati dua periode, sebagaimana yang dialami oleh ayahnya, SDK.  

***

Sebagaimana layaknya SDK, anak-anaknya semua didorong untuk menyelesaikan pendidikannya sampai ke level S3. Tak hanya dorongan, SDK sendiri memberikan contoh pada anak-anaknya. Ia sendiri berhasil meraih gelar doctor yang disusul oleh anaknya, Suraidah. Setelah Suraidah, Sutinah pub akhirnya berhasil menyandang gelar Doktor sejak Agustus lalu  Pendidikan dasar Sutinah diselesaikan di SD Inpres Binanga Mamuju tahun 1999, lalu SMP Negeri 1 Mamuju dan melajutkan pendidikannya di SMU Negeri 1 Mamuju tahun 2002. 

Memasuki dunia kampus, Tina menyelesaikan S1-nya di Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2006, dan Pasca Sarjana di Institusi Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Tahun 2011. Selama menempuh pendidikan di kampus, Tina aktif di beberapa organisasi ekstra kampus seperti, AMPI, HMI 2003 sampai 2005. Ia juga merupakan Ketua MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Mamuju 2018 hingga 2022 dan kembali terpilih kedua kalinya dan dilantik pada tahun 2024.  

Wanita berkacamata ini merupakan istri AKBP Bambang Yugo Pamungkas yang menjabat Kapolres Sukoharjo, Jawa Tengah. Buah perkawinannya dianugerahi dua anak bernama Satya Adjie Prayugo, dan Alice Sitti Delisha. Ia mengawali karirnya di ASN mulai sebagai Kasi Pelayanan Umum Kelurahan Mamunyu, Kecamatan Mamuju Tahun 2007. Ka. Subdit Pengembangan SDA Bappeda Mamuju Tahun 2009, Kepala Bapedalda Mamuju tahun 2012. Lalu Sekretaris Dinas Dikpora Kabupaten tahun 2015, hingga menjadi Sekretaris Dinas Perdagangan Mamuju tahun 2017. 

Jabatan tertinggi yang ia duduki di birokrasi, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Mamuju 2018 sebelum mengundurkan diri sebagai syarat untuk maju di Pilkada Mamuju 2020. Keputusan mundur itu ternyata tak salah, sebab kemudian ia menjadi Bupati di Kabupaten Mamuju yang juga menjadi Ibu kota Propinsi Sulawesi Barat. 

SUTINAH: Perempuan Pertama Jadi Bupati di Sulawesi Barat. 

Pada tahun 1983, seorang pemuda yang masih berstatus sebagai mahasiswa semester tiga Ia anak rantau dari Mamuju. Namanya Suhardi Duka atau SDK. Ia mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Sulawesi Selatan. SDK memutuskan untuk meminang seorang dara Gowa, Makassar, bernama Harsinah. Saat itu tahun 1984. Harsinah, tentu pula sang ayah Suhardi Duka, begitu bergembira mendengar tangisan awal anak pertamanya. Sosok bayi perempuan mungil dengan kulit putih bersih, Tina dengan nama lengkap Sitti Sutinah. 

SDK memutuskan kembali ke Mamuju setelah menyelesaikan studinya di UNHAS. Tekad untuk menenun nasibnya begitu kokoh. Kepulangannya ke Mamuju sebagai PNS di Dinas Penerangan Mamuju telah menjadi pilihan terbaik baginya, meski sesungguhnya ia punya peluang untuk berkarir di Makassar atau menerima peluang jadi dosen di Universitas Tadulako, Palu.Sebelum ia benar-benar meninggalkan Makassar, anak keduanya lahir dan diberi nama Sitti Suraidah. Praktis, Ia memboyong istri dan kedua anaknya ke Mamuju. Itulah makanya, Sutinah dan Suraidah nyaris tak ada yang keduanya ingat di masa kecilnya di Makassar. 

Praktis sejak 1987, ketika Sutinah belum genap berumur lima tahun, ayah dan ibunya telah memutuskan untuk kembali ke Mamuju, kampung halaman leluhurnya. Generasi Tina bisa dibilang generasi dengan keadaan kawasan Mandar yang sudah relatif maju, salah satunya pembangunan jalan misalnya. Tina kerap mendengar cerita tentang hubungan antara Daerah Tingkat (Dati) II Majene dan Daerah Tingkat (Dati) II Mamuju. Berangkat dari Makassar, mobil berhenti di Majene kemudian perjalanan ke Mamuju dilanjutkan dengan naik piccara, perahu tradisional Mandar. Ketika Tina kembali ke Mamuju pada 1987, mobil sudah bisa membawanya hingga ke ibu kota Kabupaten Mamuju. 

KEHIDUPAN Tina benar-benar dimulai di Mamuju. Keluarga Suhardi-Harsinah menempati sebuah rumah relatif sedang di bilangan puncak Mamuju. Tina mulai mengecap pendidikan formal di Taman Kanak-kanak (TK) Mamuju. Meskipun masih kecil dan dalam masa yang seharusnya ia habiskan untuk bermain dan bersenda gurau dengan anak sepantarannya, kenyataannya ia sudah punya beban. Adiknya, Sitti Suraidah, yang umurnya hanya terpaut dua tahun. 

Walau di rumah ada ibunya, Tina sudah bisa mengambil peran lain untuk mengurangi beban ibunya. Pekerjaan sebagai pengasuh adik-adiknya mulai terlihat ketika anak ketiga lahir. Kelahiran adiknya mulai yang ketiga, keempat, dan kelima semuanya jadi tanggung jawab Tina. 

Terbayang Tina di masa itu sungguh repot. Sepulang sekolah, di rumah harus tetap berkesiap menjaga adik-adiknya. Jika keluar rumah bermain-main, Tina tetap siap menemani, mengawal ke mana adik-adiknya itu bepergian. Ia menjalani pekerjaan ini mengasyikkan. Kelak adik-adiknya tahu bahwa kasih sayang kakaknya itu mewujud secara nyata tanpa dibatasi ruang dan waktu. Sebuah tanggungjawab yang tak ringan telah ia tunaikan sejak masa kecil. Amanah sebagai seorang kakak tertua, meski ia seorang perempuan, Tina telah buktikan. Ini seolah sinyal awal bahwa kelak Tina akan mampu menjadi seorang pemimpin formal, pemimpin daerah yang sesungguhnya. 
Kehidupan keluarga seorang Pamong Negara sebelum tahun 90 jauh dari kemewahan, ia tidak pula berkekurangan. Sebagai seorang anak tertua, Tina memotret betul kondisi kehidupan keluarganya kala itu. Ayahnya, SDK benar adalah seorang PNS di Departemen Penerangan Pemerintah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Selatan. 
Saat itu ia masih duduk di bangku SD, juga adeknya Suraidah. Ayahnya yang seorang PNS harus meninggalkan Mamuju beberapa bulan untuk mengikuti Latihan Kepemimpinan (Latpim) di Makassar. 

Saban terima gaji di awal bulan ayahnya rutin mengirim uang ke Mamuju, di antaranya untuk memenuhi uang jajan Tina dan Suraidah. Ia ingat persis kalau uang jajannya di sekolah kerap tak mencukupi. Menyiasati kekurangan uang jajan itu, Tina punya akal. Saat ibunya beri uang jajan, Tina mencoba memutar uang jajan itu dengan membeli permen Jeli. Permen itu lalu ia jual kepada teman-teman di sekitar rumahnya di sekitaran puncak, Mamuju. Dengan cara memutar uang jajan secara kreatif itu, uang jajan yang tadinya hanya cukup untuk seminggu bisa berlipat ganda memenuhi kebutuhan jajan di sekolah dua sampai tiga minggu. 
Ibu Harsinah sadar benar bahwa anak-anaknya berjenis perempuan. Meski begitu, Harsinah ingin agar anak-anak perempuannya itu rajin bekerja. Sejak kecil Tina dan Suraidah sudah biasa masak di dapur.

Membersihkan rumah. Ia ingat saat ibunya membagi tugas kepada anak-anaknya. Jika Tina sedang mencuci pakaian misalnya, maka Suraidah yang membantu ibunya memasak di dapur, dan adik lainnya menyapu di pekarangan rumah. Pengaturan pekerjaan ini mereka jalani sejak di bangku SD. 

Di relung dan benak Tina sungguh menyemayam ide-ide kreatif. Tantangan selaku anak pertama membuatnya cepat bergerak sebagai respon apa yang menjadi buah pemikirannya. Sebuah kulkas yang dibeli ayahnya untuk kebutuhan keluarga di dapur, Tina punya ide. Setiap malam Tina rajin isi air dalam plastik lalu dimasukkan ke kulkas. 

Dengan air es itu giliran Suraidah yang bawa ke sekolah dan ke warung-warung. Setiap pagi kolaborasi bisnis es ini mereka lalukan. Cemistry, keakraban Tina dan Suraidah selain karena saudara kandung tentunya juga faktor perbedaan umur keduanya hanya terpaut dua tahun. 

***

KEBANGGAAN Tina pada ayahnya ia ucapkan sembari dengan goyangan kepala. Tak sekali Tina menyebut kebanggaan pada ayahnya. Ia total pada keluarga. Ia bekerja seolah melebihi waktu normal dalam sehari. Terus menerus ia lakukan pekerjaan yang ia mampu. Tina menyebut, beliau total bekerja untuk membahagiakan kami, demi ibu dan anak-anaknya SDK mendedikasikan waktunya demi keluarga dan karir.

Selain aktif sebagai seorang PNS juga mengajar di SMEA Mamuju. PNS saat itu bekerja selama enam hari, Senin sampai Sabtu. 
Tina mengingatnya, ayahnya berangkat pagi ke kantor dan siangnya pulang ke rumah ganti baju lalu bergegas keluar lagi untuk mengajar di SMEA hingga sore hari. Kukuh bekerja bawaan dari kakeknya. Kakeknya yang seorang pegawai rendahan telah menanamkan sikap mandiri dan mesti kuat mengecap ilmu di jalur sekolah. Tina pun telah mendapat pesan-pesan itu. Ia ceritakan, meski kakek pegawai biasa tapi sejak dini beliau telah tanamkan pada anakanaknya, Tina mafhum benar dengan kodratinya sebagai anak perempuan. 

Juga ia akui tak ada harta banyak yang diwariskan. 
Meski begitu ia tetap harus sekolah. Semangat itu membathin dalam diri Tina dan adik-adiknya. Itulah yang kemudian membuatnya sekolah tinggi. Tina dan adik-adiknya seolah berlomba mencapai sekolah tinggi semampunya. Dan dengan kenyataan ini membuat SDK bangga.
Setelah lulus SLTA, Tina menembus perguruan tinggi selevel Unhas dan selesai dengan gelar Sarjana Hukum (S1). Ia meneruskan pendidikan Strata Dua (S2) di jalur sekolah ikatan dinas pemerintahan: Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri (STPDN). Saat ini Tina sedang kuliah untuk jenjang doktoral (S3). 

Seorang adiknya selesai dengan gelar Dokter. Yang satunya lagi bahkan menempuh pendidikan tinggi di Amerika Serikat (AS). Bagi Tina, tak penting menyebut pintar. Yang harus diperkuat adalah apakah kita kukuh dan punya kemauan kuat untuk sekolah hingga ke perguruan tinggi. Ilmu itu sangat berguna. Dan, Tina rasakan manfaat ilmu yang ia peroleh selama di bangku kuliah ketika pada saatnya diamanahi menjadi seorang pemimpin daerah. 

BUKAN soal beruntung. Ia berjuang di jalur peruntungan yang tepat. Lulus di SMA Negeri 01 Mamuju, Tina coba peruntungan mendaftar PNS. Dulu memang belum susah masuk PNS, apalagi jika sudah punya ijazah lulusan SLTA. Di saat ia mendaftar PNS di Pemerintah Kabupaten Mamuju, di waktu yang sama SDK sedang dalam karir politik Golongan Karya (Golkar) yang hebat dan posisi yang kuat di Mamuju: Ketua DPRD Kabupaten Mamuju. Jadilah Tina PNS. Bersamaan dengan itu ia sedang kuliah di Unhas. Jadi ia kerja sambil kuliah Peruntungan Tina yang lain, setelah merengkuh gelar sarjana hukum, datanglah lamaran. 

Seorang lelaki Yugo yang berkarir sebagai Polisi (Perwira) meminangnya. Tina bercerita, sang suaminya saat itu sedang bertugas di Kabupaten Merauke, Papua. Begitu suami dapat beasiswa S2 di Jakarta, Ia menyusul dan diterima S2 di IPDN, Jatinangor, Bandung, Jawa Barat. Sekarang saya baru masuk semester 4. Tina menolak dikaitkan terlalu jauh dengan posisi ayahnya selaku Bupati Mamuju. Memang, adalah kenyataan SDK menjadi Bupati Mamuju selama 10 tahun (2005-2015).

Di penghujung masa jabatannya di periode yang kedua, SDK sempat melantik Tina selaku Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mamuju. Tapi menurut Tina itu normal saja, tak ada penggunaan peluang selaku anak bupati untuk sampai ke posisi itu bukti sahih tentang jalurnya di birokrasi ia dapatkan secara wajar, berikut sebuah kisah yang oleh Tina sebagai penguat bahwa ia menduduki jabatan di Pemerintahan Kabupaten Mamuju rasional dengan melalui proses uji dan seleksi kepangkatan hingga merengkuh jabatan Tina memulai karir dari bawah. Ketika masih kerja di Kelurahan Mamuju, Kecamatan Mamuju, ia bertugas sebagai penagih pajak. Ia turun ke bawah menemui warga selaku obyek pajak daerah. 

Padahal kalau ia mau tak merepotkan diri—dan kenyataannya ia mampu untuk itu—cukup menalangi kewajiban para obyek pajak dengan uang pribadinya, toh juga jumlahnya tak terlampau banyak: 100 ribu, paling banyak 200 ribu rupiah. Dengan begitu selesai tanggung jawabnya sebagai penagih pajak. Tapi Tina tak lalukan itu. Ia bekerja profesional bersama stafnya di kantor kelurahan tersebut. Saban hari bersama timnya mendatangi rumah-rumah warga. 

Tina ingat benar, dari sekian banyak obyek pajak saat itu, bahkan ada warga yang kewajiban pajaknya hanya 5 ribu rupiah, 10 ribu rupiah, dan 15 ribu rupiah. Tak banyak memang, tapi mereka harus taat pajak, wajib tunaikan kewajibannya. Dengan angka total pajak di atas, masih ada yang menolak, meminta penundaan waktu. Tapi ia berkeras. Ia seolah memaksa warga membayar kewajiban pajaknya. 

Bagi Tina, pajak warga berkontribusi dalam pembangunan daerah kita, demi Kabupaten Mamuju juga Ia mengulang memori dulu itu. Ia akui, meski dengan gigih bekerja setiap hari dalam waktu yang lama, toh masih ada juga yang tak bersedia bayar PBB-nya. Dengan mengenang perjalanan itu, Tina hendak menyampaikan pesan bahwa ia pernah turun ke bawah. 

***

Pada 2015 hingga 2020, Habsi Wahid menakhodai Kabupaten Mamuju, tandem dengan wakilnya, Irwan SP Pababari. Di masa itu, bupati Habsi menggeser posisi Tina dan melantiknya sebagai Sekretaris Dinas Perdagangan Pemerintah Kabupaten Mamuju. Ia jalani di pos barunya ini selama satu tahun, sebab hasil fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan) yang ia ikuti sebagai prasyarat naik menjadi pejabat Eselon II, menempatkannya sebagai Kepala Dinas Perdagangan Pemerintah Kabupaten Mamuju. Posisinya sebagai pejabat pamong di level Eselon II di masa pemerintahan Habsi-Irwan membuatnya terhindar dari tudingan faktor koneksi yang tentunya bisa beraroma nepotisme. 

Lain hal seandainya SDK masih bupati. Tina akan sulit menghindari cibiran faktor meraih peluang lantaran kedekatan ayah dan anak itu. Tak lama sebagai kepala dinas, sebab palagan politik Mamuju telah bekerja untuknya. Tina terprotek format politik ayahnya dan Partai Demokrat Mamuju tentunya. Setahun lebih menjadi kepala dinas sudah barang tentu belum cukup baginya menjangkau belantara birokrasi yang sesungguhnya. Tapi begitulah. Politik telah bekerja. Kehendak Tuhan yang menentukan ke mana tungkai dan langkah seharusnya diayun.

Mundur dari jabatan kepala dinas sekaligus harus menanggalkan pangkat Eselon II dan meninggalkan ASN secara permanen bukan pilihan sekadar coba-coba. Harus pensiun di usia dini dalam karir pamong yang masih relative belia, tentulah pilihan dengan pertimbangan yang matang. Adalah kenyataan bahwa Hj. Sitti Sutinah Suhardi benar-benar angkat kaki dari Dinas Perdagangan Kabupaten Mamuju dan merelakan dirinya pensiun dini sebagai ASN di Pemerintahan Kabupaten Mamuju. Telinga  Tina mendengar keluh kesah, masukan dan juga larangan untuk mundur dari jabatannya itu. Tak sedikit pihak yang menyayangkan pilihannya untuk mundur dari kadis dan ASN. 

SDK, ayahnya yang kukuh mendukungnya untuk mundur lalu ia melangkah serius di dunia politik pratis Sebelum keputusan itu keluar, SDK banyak mendengar suara dari masyarakat. Ia mendapatkan masukan ada di antara keluarganya maju, apakah anak atau saudara. Suraidah awalnya ditawari, tapi Suraidah tak bersedia. Maka pilihan kemudian jatuh pada Tina. Ia mengikuti petunjuk garis tangannya semata. Bahwa harus masuk ke politik dan berlaga di palagan politik pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Mamuju, itu juga pilihan yang harus dia jalani selanjutnya. 

Tina tak terlampau setuju jika dikatakan bahwa dirinya diformat secara khusus oleh SDK untuk mengikuti jejak karir sang ayah. Sejujurnya, sejak awal, ia hanya mau jadi ibu rumah tangga biasa. Mau ikut suami. Saat pertama kali bertemu lelaki Yugo, suaminya, yang polisi itu, ia sudah mulai menapak karir sebagai ASN. Ia bangga dengan pandangan suaminya yang oleh Tina menganggapnya sangat demokratis. Suaminya juga tak ingin mengahambat karir istrinya. Yugo berpandangan bahwa Tina, istrinya punya potensi besar jadi ini dan itu. Ia tak ingin jadi penghalangnya. 

Dengan keluhuran hati dan keteguhan sikap suaminya itu, motivasi Tina seolah terpompa berkarir meniti jalan. Tina bisa kembali membantah berkali-kali disebut ayahnya terlibat langsung memengaruhi karirnya di birokrasi dan politik yang ia tempuh saat ini, atau di saat ketika ia memutuskan maju sebagai calon Bupati Mamuju 2020 lalu. Ia sadar dalam keluarganya sudah terbentuk semacam design alamiah. Yang ia masksud dirinya ditakdirkan berkarir di birokrasi sedangkan adiknya Suraidah memantapkan diri sebagai politisi. Terkait Sitti Suraidah Suhardi, dia memulai karir politik di Partai Demokrat Kabupaten Mamuju yang menjadikannya duduk di DPRD Kabupaten Mamuju. Seterusnya menjadi Ketua DPRD Mamuju. 

Pemilu 2019, di partai yang sama, Suraidah menapak tangga lebih tinggi, yakni DPRD Provinsi Sulawesi Barat, dan langsung terprotek sebagai ketua parlemen. Dua anak perempuan SDK cemerlang di jalur politik. Pilkada 2020, Tina terpilih menjadi Bupati Mamuju. Pilkada Mamuju 2020 dramatis bagi Tina. Partai Demokrat menggandeng PDI Perjuangan, dan sejumlah partai lainnya, dengan mengusung pasangan Sutinah Suhardi-Ado Mas’ud (Tina-Ado). Pasangan ini melawan incumbent, Habsi Wahid-Irwan SP Pababari. Sudah bukan rahasia, terutama di daerah, siapa yang melawan petahana (figur yang sedang berkuasa) sulit terkalahkan. Kenyataan berkata lain. Sang penantang, Tina-Ado, berhasil unggul di perhitungan akhir gelaran Pilkada Mamuju lalu. 

Sejak awal 2021 Tina memimpin secara formal pemerintahan dan pembangunan Kabupaten Mamuju. Dengan posisinya itu, Tina sekaligus mencetak rekor baru dan menciptakan sejarah: bupati pertama perempuan di Provinsi Sulawesi Barat. Sekilas tentang posisi politik kedua kakak beradik, Tina dan Suraidah. Anak ketiga yang dokter itu juga nyaris jadi politisi tapi akhirnya kembali ke habitanya sebagai dokter. 

Memang, pada Pemilu 2014 dokter Sulfiah Suhardi tercatat namanya dalam komposisi nomor urut Calon Anggota DPR RI dari Partai Demokrat untuk Daerah Pemilihan Provinsi Sulawesi Barat. Dengan ajakan ke politik, Sulfiah malah menebarkan pesan humanis. “Pengabdian kepada masyarakat bukan hanya jalannya jadi politisi, mengabdi di rumah sakit itu juga pengabdian kepada masyarakat.” Demikian keputusan Silfiah kala itu. 

***

BUPATI Mamuju, sebuah jabatan politik tinggi yang tak pernah dikira sampai di pundak Tina. Pilkada Mamuju pada Desember 2020 adalah awal pembuktian itu. Ia menggenggam kekuasaan, menakhodai sebuah kabupaten tua di jazirah Manakarra, memimpin hampir 600 ribu penduduk. Pengharapan dan mungkin ekspektasi warga sekabupaten kini di hadapannya. Mampukah ia berbuat maksimal untuk warga kabupaten yang dipimpinnya kini?. Hanya Tuhan, dan tentu Tina sendiri yang tahu. Tina pandai pidato di depan umum atau ketika setiap kali ia tampil di khalayak banyak.

Kemampuan atau keberanian ini ia miliki secara otodidak. Meski ayahnya dikenal orator hebat, Tina tak pernah belajar secara kepada ayahnya. Kemampuannya mengalir saja. Bahkan jauh sebelum jadi bupati, ia sudah terbiasa berbicara di depan umum. Diakui memang kalau ayahnya sesekali memberi masukan, tapi itu sekadar ruang dan materi penyampainnya kepada masyarakat.

Ayahnya misalnya bilang begini: tadi itu kamu tidak boleh bilang begini. Apa yang kamu sampaikan seharusnya ini. Seputar itu saja yang SDK ajarkan kepada Tina. Ayahnya sampaikan kepada Tina pun saat sudah selesai acara atau setelah kembali ke rumah. SDK memberi ruang kepada anaknya untuk mengekspresikan potensinya selaku pejabat publik di Mamuju. 

Jargon pasangan Tina-Ado di Mamuju yakni KEREN, akronim dari Kreatif, Edukatif, Ramah, Energi dan Nyaman. Makna keren secara harfiah juga bagus karena menggambarkan kekinian, senafas dengan pasangannya yang millenial. ‘Beasiswa Keren’ dengan memang sempat menjadi perhatian publik di Kabupaten Mamuju lantaran terjadi ‘turbulensi’ antara kebijakan dan kenyataan di lapangan. Tina punya niat baik untuk pengalokasian beasiswa di APBD Kabupaten Mamuju pada 2022. Dengan beasiswa ini, ia mau mencicil targetnya yang besar, yakni selama memimpin Mamuju terdapat 15 orang dengan predikat doktor (S3). 

Di masa ayahnya memimpin Mamuju selama 10 tahun, hanya 5 orang ASN Mamuju yang berhasil mencapai pendidikan doktor. Nah, sesungguhnya ia mau mencetak sejarah baru di Mamuju selama ia menjadi bupati. Tiada lain dari itu. Tina tak menemukan aturan yang melarang ASN terima beasiswa. Ia atau Pemkab Mamuju belajar ke pelbagai daerah di Indonesia. Hanya kita terlalu kaku. Penerima beasiswa yang mengsyaratkan ASN, warga kurang mampu dan berprestasi. 

Kenyataan pembangunan lainnya, ia menceritakannya secara jujur. Ia akui masih banyak jalan yang lubang-lubang di Mamuju. Tapi kalau sudah diperaiki, kan terlihat keren. Awal memimpin Mamuju dengan kondisi yang tidak mendukung. Gempa bumi yang paling dahsyat di Mamuju dan Majene yang berkekuatan 6,2 magnitudo pada 15 Januari 2021 membuat program kerja pemerintah daerah yang telah disusun antara DPRD Kabupaten Mamuju dan Pemerintah Kabupaten Mamuju buyar seketika, berubah 180 derajat. Justru yang tak pernah direncanakan semisal kantor yang rusak karena gempa terpaksa dibangun Tahun 2021. Hati dan pikiran Tina tak tenang. Janjinya kepada warga Kabupaten Mamuju belum bisa ia tunaikan lantaran tanah yang lululantak itu. 

Program sosial dan pemberdayaan masyarakat anggarannya banyak yang dialihkan ke program fisik yang mendesak. Melihat kenyataan itu, Tina coba berbicara kepada ayahnya. Banyak yang belum bisa ia realisasikan. Ekspektasi Tina begitu besar. Ia merasa tak berguna jika ia tak mampu mengurangi beban warganya yang datang padanya. Ketika Tina minta pendapat pada ayahnya, SDK bilang, “saya saja dua periode tidak semua keinginan masyaraat saya bisa penuhi Tina. Yang penting misalnya kamu janjikan 100, nah kalau kamu bisa penuhi 60 atau 70, itu sudah bagusmi. Itu yang salah kalau hanya 20 atau 30, itu kan lebih banyak yang kamu tidak laksanakan.“ Bahagiaku itu kalau bisaka bantu masyaraat, dan kesedihanku itu kalau tidak bisaka bantu masyarakat. 

Kalau ada yang bermohon apa dan memang tidak bisa, ya, saya akan bilang “maaf bu tahun ini saya belum bisa bantu. Lebih baik saya bilang walau itu pahit kalau memang tidak bisa daripada janji tapi tidak juga dipenuhi.” Tina memang seorang ibu, dan hati keibuannya itu ia bawa dalam membangun Mamuju Setiap pekan Tina terus berjalan. Ia turun ke bawah. Ia menemui warga Kabupaten Mamuju yang ada di kecamatan. Semua kecamatan yang ada di Kabupaten Mamuju telah ia kunjungi. Tina pun kerap dengan petuah hebat ini: bermimpilah setingi langit, tapi ia tak mau muluk-muluk. Ia ingat saat kampanye dulu ketika ada seorang warga yang menghampirinya. 
Warga itu bilang tidak memanen hasil buah langsatnya lantaran kendala jalan dari kampungnya ke kebun. “Bu, langsatku tidak kupanen.” Mendengar itu Tina kaget. Warga itu menjelaskan, panen langsat itu perlu tenaga untuk memanjat. Buahnya dibawa ke pasar dijual pakai biaya (ongkos bahan bakar minyak) karena tentu pakai kendaraan motor. Itulah kemudian ia memutuskan tak memanen buah langsatnya Mamuju adalah tetangga Ibu Kota Nusantara (IKN) di Panajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Tina memandang prospek bagi Mamuju dengan adanya IKN. “Harus ambil peluang kita, kita tetangga dengan Kalimantan.” Tina menggaransi jika Mamuju mampu menjadi penyangga IKN di bidang pertanian dan peternakan. 

Mamuju membuka diri. Tina mengajak kepada siapa saja untuk datang di Mamuju. “Kita mau bagaimana daerah kita maju. Kami sangat wellcome dengan investor yang mau masuk, hanya jangan untuk mengeruk kekayaan Mamuju saja.”

***

DIMENSI Politik Mamuju memosisikan DPRD Mamuju sebagai pilar politik yang sangat penting. Pemerintahan Tina sejak awal telah membangun hubungan baik dengan dewan. Pasca pilkada lalu, Tina berusaha menepis anggapan jika di Mamuju ini masih ada kubu-kubuan. Tida ada lagi koalisi, friksi dan lain sebagainya. Tina mengaku bahwa hubungan bupati dengan dewan baik-baik saja. Malah di pihak dewan mengapresiasi positif kepada pemerintah daerah dengan kesigapannya sehingga pembahasan dan pengesahan APBD Mamuju cepat tuntas.

Kadang saling telepon atau bertemu. Ia cerita, kadang juga kalau sudah selesai rapat paripurna di DPRD Mamuju diteruskan makan bersama dengan anggota parlemen Mamuju. “Saya ajak makan, traktir. Di waktu yang lain mereka juga yang traktir kita. Jadi gantian. Silaturahmi kami tidak terputus. Kadang masalah, jika memang ada, kita selesaikan di meja makan,” cerita Tina Tak mesti jumawa memang. Tapi anggapan yang datang dari dewan Mamuju bahwa nanti di periode kepemimpinan Tina-lah terjadi pemandangan lain dari biasanya. Dan kebiasaan baik itu ia pertahankan hingga sekarang Mamuju beruntung dan mendapatkan keuntungan sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Barat.

Salah satunya Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Mamuju meningkat khususnya dari sektor jasa. 
Keuntungan lainnya karena akses komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat bisa cepat. Bandingkan dengan kabupaten lain yang jaraknya cukup jauh dari Mamuju. Berangkat dari kabupaten bisa berjam-jam lamanya baru tiba di Mamuju atau pusat provinsi. Nilai positif bagi Pemkab Mamuju sebab Mamuju sebagai ibu kota provinsi Sumberdaya manusia (SDM) yang ada di Pemkab Mamuju harus terus ditingkatkan. Sulit memang sang komandan Tina dan Ado mau berlari jika pasukannya di bawah bahkan tak bisa jalan cepat sekalipun. Tak mungkin komandan jalan sendiri. 

Para pelaksana teknis yakni pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Mamuju mesti terus memacu pengembangan sumberdaya mereka. 
Biar didorong bagaimanapun jika memang sumberdaya sudah begitu, ya he will be anather death. TINA tak muluk-muluk membangun yang aneh-aneh. Jika masih ada warga Mamuju untuk melahirkan saja harus kehilangan motor, misalnya. Biaya persalinan itu mahal, untuk operasi sesar misalnya. Jika ada seorang ibu mau melahirkan dan si suami lagi tak punya uang, ya terpaksa jual motor, yang mungkin motor itu adalah salah satu harta paling berharga dalam keluarga mereka. Yang lebih menyakitkan jika ada warga menderita penyakit yang lebih parah, mugkin sampai menjual rumahnya untuk biaya berobat. Ini sangat miris sekali. Itu yang mendorong Tina membenahi sektor kesehatan di Kabupaten Mamuju. 

Sebanyak 17 ribu warga Kabupaten Mamuju yang jadi tanggungan BPJS Kesehatan secara tiba-tiba tak lagi menjadi tanggungan BPJS Kesehatan karena Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat tak menganggarkan lagi tanggungan pembiayaan BPJS Kesehatan untuk warga miskin. Ini terjadi di tahun 2021. Tahun pertama ia memerintah. Pemkab Mamuju belum siap menanggung pembiayaan 17 ribu peserta BPJS Kesehatan kategori miskin itu. Selain masih belum pulih wabah Covid-19, gempa pun datang. Tahun pertama adalah ujian sungguh berat bagi Tina dan Ado di Mamuju. Solusi pertama pada APBD-Perubahan tahun 2021, Pemkab Mamuju anggarkan sekitar Rp. 6 miliar untuk alokasi peserta BPJS Kesehatan. 
Nanti pada tahun anggaran 2022 Pemkab Mamuju naikkan anggaran untuk tanggungan BPJS Kesehatan miskin sebesar Rp. 60 miliar. Dengan angka yang besar ini, Tina mengatakan 98 persen warga Kabupaten Mamuju tertanggung dalam program BPJS Kesehatan. Kehendak Tina tentang infrasrtruktur yang baik di semua kecamatan. Tapi konsentrasinya di bidang kesehatan dan pendidikan dulu. Ilustrasi Tina begini: Ngapain jalan bagus kalau harus jual motor atau rumah untuk biaya pengobatan saat sedang sakit. Ia tak sudi melihat warganya harus terjerembab miskin hanya karena didera biaya kesehatan yang tinggi. Kaena itu BPJS Kesehatan adalah salah satu solusi yang paling efektif. 

Kehadiran Rumah Sakit (RS) Manakarra Mamuju, bahkan menjadi solusi lain bagi warga yang sedang berobat di situ, yang tak tertanggung BPJS Kesehatan. Hampir tiap hari ada saja warga yang dilayani secara gratis. Jangan itu, bahkan ada yang pulang pergi ke rumahnya pun ditanggung biayanya oleh manajemen RS Manakarra. Inilah realitas. Mau apa lagi. 

Soal tamu di rumah jabatan menjadi perhatian SDK. Ia mulai memeringatkan kepada para petugas SatPol PP yang berjaga di waktu malam di Rumah Jabatan Bupati Mamuju agar mengingatkan Bupati Mamuju Sutinah Suhardi tak menerima tamu sampai jam 12 malam. Semangat Tina yang membuncah, tapi ayahnya mulai kuatirkan kesehatan anaknya. “Jangan biarkan ibu bupati terima tamu sampai jam 11 apalagi sampai jam 12 malam,” sebut Tina menirukan pesan ayahnya. 

Dunia media sosial (medsos) adalah dunia Tina. Ia mengendalikan beberapa canal medsos atas namanya: instagram, facebook, hingga whatsapp. Tina mengapresiasi segala respek netizen, terutama jika dengungan mengenai pembangunan Kabupaten Mamuju, atau bahkan yang persoanal tapi positif. Ya, ia tak suka jika ada warga pengguna digital yang sengaja memancing emosi. “Kita kan perempuan. Ia bilang tak mungkin bisa membaca semua komentar yang ada di halaman medsosnya, apalagi kalau komentar itu agak kebablasan.” Ia merasa enjoy dengan medsos. “Sosmed itu juga kan termasuk pengontrol saya. Jadi kalau saya baca komen, oh, masyarakat suka yang seperti ini, masyarakat tidak suka yang seperti ini.” Dengan begitu, ia sudah tahu apa yang akan ia lakukan. Tina menyebut tak sedikit informasi yang ia dapatkan justru dari sosmed, bukan dari OPD. Ia bilang kepada bawahannya, dirinya ada di mana-mana. Artinya, dengan komentar masyarakat ia sudah tahu apa yang terjadi, atau masyarakat mengeluh apa, di OPD masing-masing. 

JABATAN itu amanah. Tina sendiri tak pernah membayangkan akan jadi bupati. “Saya tidak pernah membayangkan akan bisa di sini,” kata Tina di Sapota, rumah jabatannya. Dengan itulah maka ia tak mau terlalu dilayani. Sebisa mungkin bisa mandiri. Ia mafhum bahwa suatu hari kelak akan kembali jadi warga biasa. Dengan prinsipnya itu, terkadang kalau sedang berada di luar, ada orang yang tak mengenalinya dia bupati Jarang ia membawa-bawa jabatannya pada orang. 
Sama halnya ketika masih kepala dinas. Waktu masih kadis dulu, pernah suatu kali mengikuti rakor dinas di Jakarta. Pada saat ia menyerahkan surat tugas kepada salah seorang panitia rakor, ia malah ditanya, “bu, mana kepala dinasnya!” Sejurus dengan itu Tina menjawab, “saya kepala dinasnya.” Si patugas rakor tersebut seolah tak percaya jika Tina sendiri yang kadis. Soal jabatan itu Tina anggap biasa saja. 

Ada yang sinis dengan menyebutnya ia masih kecil, masih terlalu muda, dan lain sebagainya. Lalu apa yang Tina ungkapkan? “Kalau memang dalam hati kita itu murni mau membangun daerah kita baik, insya Allah ada jalannya. Doa saya hanya satu, insya Allah saya sayang daerahku. Jabatan bupati dengan segala apapun di pundak, bagi Tina dianggap biasa saja. “Suami saya sudah lebih dari cukup. Apalagi yang saya cari. Tapi Karena kecintaan daerah, jadi tidak bisa dibohongi gitu.” Menjadi kepala dinas yang berhubungan dengan perdagangan, ya paling bisa bantu pedagang. Menjadi bupati bisa bantu guru, petani, nelayan, dan termasuk mahasiswa. 
Dengan niatnya itulah, ia menyebutnya begini: “Jadi mungkin niat itu barangkali sehingga dipermudah oleh Allah. Niatku lurus. Iya, ada orang di luar yang tak suka, terserah! Tidak bisa kita paksa semua orang untuk suka sama kita.” Tina bersandar semata niat lurus bagaimana agar daerahnya baik.

Niat membangun Kabupaten Mamuju lebih baik. Bahwa ada yang tak menerima, ia sadar hal itu hak setiap orang Tina mampu menerjemahkan pada posisi di mana ia saat ini. Posisi yang tentu kemilau bagi pandangan orang di luar. Ungkapannya ini mengandung energi dan pencerahan yang kuat: “Ini namanya sudah jalan kita, di atas itu sudah tertulis bahwa yang akan jadi bupati, oh ini, tinggal jalannya kita meraih itu.” Ia akan terus bekerja dengan baik “Saya ini kerja yang baik saja nanti masyarakat yang menilai.” 
Tina memiliki saudara yang banyak. Tak seorang pun di antara mereka yang mencampuri urusan dalam pemerintahan, dalam kekuasaannya. Bagi kerabat paling dekatnya, ia ingat pesan ayahnya: “Sebisa mungkin tidak mencamputi urusan pemerintahan (Diadaptasi dari tulisan Sarman Sahuding, 2023).

***
Menjelang tahapan Pilkada Mamuju 2024, Koalisi Sutinah dan Ado pecah. Ado yang tadinya menjadi wakil berbalik melawan dengan tagline ADAMI yang tak lain adalah akronim dari Ado’ – Damris. Ado’ Mas’ud diusung oleh Partai PDIP, Golkar dan Perindo.   

Sabtu, 11 Januari 2025

SAHRUL SUKARDI || Sang Penatang Aru(a)s

Mateng (Mamuju Tengah) dikenal sebagai wilayah yang kabupaten termuda di Propinsi Sulawesi Barat. Kabupaten yang beribu kota Topoyo ini punya cerita tentang sosok Aras Tammauni. Ia menjadi ikon politik Mamuju Tengah pemilik idiom “Lebih baik melawan arus dari pada melawan Aras”. Itulah yang membayang-bayangi warga dalam setiap perhelatan politik baik Pilkada maupun Pemilu. 

Sejak lahirnya Mateng, Aras memang menjadi satu-satunya ikon politk disana. Mulai dari perjuangan pembentukan Mateng sebagai Kabupaten, ia dikenal sebagai eksekutor yang membiayai semua proses perjuangan. Saat Pilkada Mateng 2015 Aras memperoleh kemenangan 97% suara. Periode kedua bahkan melawan kotak kosong (Koko). 

Pilkada 2024 di Mateng, Sahrul Sukardi adalah salah satu tokoh yang berhasil mencatatkan dirinya sebagai penantang awal hegemoni politik yang ada klan Aras. Sahrul dengan Alamsyah Arifin mendaftarkan diri sebagai peserta Pilkada 2024 di Kantor KPU Mateng, Rabu 28 Agustus 2024. Ia didukung oleh Partai Demokrat, PAN dan PSI. Selain Sahrul, Haris-Komang juga mencatatkan dirinya sebagai penantang. Sahrul-Alamsyah ini mengusung Visi: “Mewujudkan Mamuju Tengah yang sejahter, Religius dan Bermartabat”. Visi ini mencerminkan komitmennya untuk menciptakan daerah yang maju secara ekonomi, tetapi tidak menjaga nilai-nilai agama dan budaya lokal.
 
Itulah makanya, pasangan ini menawarkan Misi: Menjadikan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, Meningkatan pertanian sebagai sektor unggulan, Mewujudkan SDM Ungul dan berdaya saing, Mendorong pembangunan berwawasan lingkungan, dan menguatkan posisi Mamuju Tengah sebagai daerah penunjang Ibu Kota Negara (IKN). 

Kendati hasilnya ia harus kalah dari Arsal Aras, putra Aras Tammauni, setidaknya ia menjadi salah satu yang merontokkan persepsi politik bahwa klan Aras tak mungkin ada yang bisa melawan. Sahrul menjadi salah satu penantang itu. Putra kelahiran Topoyo 14 Januari 1979 ini tetap akan menjadi sebuah ancaman bagi klan Aras. Pengaruhnya memang tak bisa diremehkan, sebab melalui Sahrul, Resky Irmayani yang tak lain adalah istrinya mampu merebut satu kursi bagi Demokrat dengan perolehan suara 9.086 dari total 13.294 suara.

Rekam jejak Sahrul memang cukup menentukan kalkulasi politiknya di Mateng. Ia dekenal banyak menakhodai berbagai organisasi penting di tingkat kabupaten dan propinsi. Saat ini, ia masih aktif sebagai Ketua Hiswana Migas Propinsi Sulawesi Barat (2021-sekarang); Ketua KADIN Mamuju Tengah (2023-sekarang); Ketua Pemuda Pancasila Kabupaten Mamuju Tengah (2022-sekarang); Ketua Umum Panitia Pembangunan Masjid Raya Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah (2022 – sekarang); Dewan Penasehat MUI Kabbupaten Mamuju Tengah (2019-sekarang).  
Sebagai putra daerah Mateng, jauh-jauh sebelumnya ia telah menata dirinya sebagai sosok yang punya visi. Secara pendidikan, ia telah cukup matang dari sejak SD Ngapaboa (1987), SMP Negeri 3 Budong-Budong (1994-1996), SMA Negeri 1 Mamuju (1997-1999). Ia bahkan telah menuntaskan pendidikan S1-nya di UNHAS 2000-2004. Sejak itu, ia menenun nasibnya dan banyak berbuat untuk daerahnya. 

Segala bentuk usahanya itu membuahkan hasil yang cukup fantastis. Ia mulai tercatat sebagai Anggota DPRD Mamuju 2009-2014. Setelah Kabupaten Mamuju Tengah terbentuk, ia mengambil dapil di Mateng dan lolos sebagai Anggota DPRD Mamuju Tengah (2014-2019). Setelah menjadi Anggota DPRD Mamuju Tengah, ia menyelesaikan pendidikan S2-nya di UNHAS 2016-2018. 

Ia juga kembali lolos sebagai Anggota DPRD Mamuju Tengah periode 2019-2024 dan dipercaya menjabat Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Mamuju Tengah (2019-2020) dan Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Mamuju Tengah (2020-2021). Hingga pada Pemilu 2024, ia telah merancang gerakan politiknya di Pilkada Mamuju Tengah dan mencatatkan istrinya dalam deretan Caleg Propinsi Sulbar di Partai Demokrat. Istrinya berhasil melenggang ke Parlemen Sulbar dari Fraksi Demokrat dapil Mamuju Tengah. 

Di Pilkada Serentak 2024, selain ia menjadi kandidat Calon Bupati Mateng, ia juga berjuang untuk kemenangan SDK-JSM. Sahrul menjadi salah satu penentu kemenangan SDK, yang jika dilihat potensi kemenangan SDK telah terbaca di Pemilu 2024. Partai Demokrat di Mateng mampu mengimbangi pergerakan politik Golkar dalam bayang-bayang  nama besar Aras Tammauni selaku Ketua DPD Golkar Sulbar. Golkar berhasil meraih 6 kursi di DPRD Mateng, sementara Demokrat juga mampu mendudukkan 5 orang kadernya di DPRD Mateng. 
Prestasi dan capaian Demokrat tentu tak bisa dilepaskan dari sosok Sahrul tentunya. Demikian juga kemenangan SDK di Pilkada Sulbar, mengabaikan Sahrul adalah sebuah pengebirian verbal terhadap sosok yang sampai saat ini menjadi Direktur PT. Belua Raya Lesatari dan Direktur PT. Resky Nakaguna Jaya Abadi ini. 

Kini Sahrul hidup bahagia mendampingi istrinya dalam segala aktifitas. Dari pernikahannya dengan Reski Irmayani ia dikaruniai 3 orang anak  masing-masing bernama Azizah Ainun Khalila Sahrul, Mufidah Cahyani Sahrul, dan Faith Merdeka Sahrul. Istri dan anak-anak menjadi penyemangat hidupnya untuk membangun daerahnya dalam posisi bukan sebagai Bupati, tapi sebagai pemantik kesejahteraan warga yang berada dalam jaringan perusahaan yang dibangunnya. 

MENGENAL SOSOK SYARIFAH NUR ABBAS

Syarifah Nur Abbas adalah salah satu putri Sayyid Abbas. Ia terlahir sebagai Syarifah dari marga As-Siraj. As-Siraj adalah marga Arab keturunan Sayyid yang ada di Mandar. Mereka sebagian besar ada di Desa Bonde, termasuk Syarifah Nur Abbas, S Usman Abbas bersaudara. Jumlah mereka tidaklah terlalu signifikan laiknya marga Bin Sahil Jamalullail atau pun Al-Attas. Bahkan bisa dikatakan hanya dirinya dan saudara-saudara serta ayahnya yang bermarga As-Siraj. Selebihnya ia tidak mengetahui kalau pernah ada lainnya selain dari keluarga mereka. 

Penyebaran marga As-Siraj menurut Hamzah Durisa (2018), adanya di daerah Bugis. Konon S. Ali As-Siraj datang ke Bugis menyiarkan Islam di daerah Bugis, Dari sana kemudian ke Bonde. Sebelum ke Bonde, Ia pernah menikah disana dan memiliki keturunan. Kemudian di Bonde ia menikah dengan salah seorang warga yang bernama Sitti Dawiyah. Dari sini lahirlah Sayyid Abbas Ali As-Siraj. 

Perkiraan peristiwanya terjadi pada tahun 1920an.
Kedatangannya masih sangat belakangan ketimbang kedatangan orang Arab sebelumnya. As-Siraj ini pun merupakan bangsa Arab dari Yaman. Kedatangan Ali As-Siraj sampai ke Mandar juga dalam misi dakwah.
 Kebulatan tekadnya untuk melanglang buana ke berbagai belahan dunia juga dikuatkan oleh penentangannya terhadap keputusan raja di negerinya. 
Memilih daerah Campalagian khususnya di Bonde juga karena pertimbangan disana banyak yang bisa berbahasa Arab. Tentu saja karena Campalagian banyak pengajian kitab kuning, mulai dari kitab dasar atau pengajian dasar hingga kitab kuning atau yang sering disebut dengan kitab gundul.

Jalur kedatangan lain adalah pernikahan. Yang dimulai dari Sayyid Miswar As-Siraj yang menikah dengan Farhanah binti Muhsin Al-Attas, cucu dari Puang Bela (S. Kaharuddin) saudara kandung Sayyid Mengga (Puang Mengga). Miswar As-Siraj adalah cucu dari Habib Miswar As-Siraj yang tak lain adalah anak sepupu dari Syarifah Nur dan memiliki keturunan di Bonde Kecamatan Campalagian. 

Dari sinilah Syarifah Nur Abbas bersaudara menata hidupnya sampai sekarang. Ia lahir dari pernikahan S. Abbas Ali As-Shiraj dengan Hj. Asni Disseng. Lahir di Bonde, 31 Juli 1969 bersama saudara-saudaranya yang lain, yakni S. Usman, Syarifah Marwah, Syarifah Aminah, dan Syarifah Fadilah. Pendidikan dasarnya ia awali di SD 07 Parappe kemudian anjut ke SMP Negeri 1 Campalagian dan selesai di SMA Negeri 1 Polewali. 

Tahun 1994, Ia berhasil meraih gelar SH di Universitas Muslin Indonesia (UMI) Makassar. Berbekal ijazah sarjana tersebut, ia terangkat jadi ASN pada tahun 2014 dan sekarang berstatus sebagai Kepala MTs. Pergis Campalagian. Sejak tahun 1997, wanita terkenal tegas dan berani ini menjadi seorang ibu setelah putra pertamanya lahir dan diberi nama James. Nama yang unik dan tidak lumrah diberikan pada keluarga Syarifah mmaupun Sayyid.
Tapi demkianlah Ummi Syarifah, jika ia memutuskan sesuatu, tak akan ada yang berani menentang, apalagi jika ada yang coba menantangnya, ia bahkan bisa melupakan jati dirinya sebagai wanita. Anak kedua dan ketiganya pun demikian, namanya adalah Madelina dan Calvin. Namun berbeda dengan anaknya yang keempat, ia memberinya nama Farhan Mandar (perpaduan Arab dan Mandar). 

Selama berinteraksi dengan Ummi Syarifah, penulis merasakan sikap keibuan, sopan meski ketegasannya selalu menjadi yang utama. Ia loyal dan royal jika ia mendukung seseorang. Penulis merasakan itu saat Pilkada Gubernur Sulbar kemarin, persoalan uang bahkan tak pernah menjadi masalah bersma Ummi Syarifah. 

Andai ia bukan ASN, mungkin saja ia akan menggunakan semua waktunya untuk SDK-JSM, tapi sayang, ia dibatasi oleh aturan yang mengikatnya sebagai aparatur Negara. Tapi sebagai keluarga, JSM adalah harga mati baginya.           

ABDUL RAHMAN TONA || Komitmen dan Berani Berbeda

ABDUL RAHMAN TONA adalah salah satu tokoh yang berani berbeda dan konsisten dalam komitmennya. Berani berbeda disini adalah karena ia merupakan Kepala Desa 3 periode di Ralleanak. Ralleanak adalah tempat lahir Anwar Adnan Saleh yang dimana Enny Angraeni, istrinya juga ikut berkontestasi dalam Pilgub sebagai wakil dari Prof. Husain Syam. Adapun konsisten dalam komitemennya terfaktualkan dalam ikut memperjuangkan SDK-JSM sebagai Gubernur Sulawesi Barat. 

Pak Rahman yang akrab dipanggil Pua’ Conda’ ini tak sedikitpun memiliki rasa takut mengambil bagian dalam proses perjuangan. 
Dalam perjalanan karir Rahman Tona sebagai kepala desa, ia diberikan kepercayaan oleh para kepala desa di Kabupaten Mamasa untuk menakhodai Asosiasi Kepala Desa Seluruh Indonesia atau APDESI. Tak tanggung-tanggung ia bahkan didaulat menjadi ketua selama dua periode. Dpercaya sebagai pemimpin organisasi tentu bukan tanpa alasan, Rahman Tona dikenal mumpuni dalam pemerintahan desa, itu terbukti dengan kepercayaan masyarakat di desanya sehingga menjadi kepala desa sampai tiga periode. 

Selain itu, bukti kepercayaan masyarakat terhadapnya juga berimbas kepada putranya yang bernama Arwin Rahman Tona, melalui Partai Nasdem berhasil lolos ke DPRD Mamasa dengan suara yang signifikan pada periode pertama 2019-2024. Pada Pemilu 2024 lalu, Arwin kembali lolos dengan perolehan suara yang memuaskan. Terlepas dari itu semua, Rahman Tona tak bisa dipungkiri bahwa perjuangannya di Mamasa adalah pemantik bagi kemenangan SDK-JSM. 
Dalam proses perubahan Undang-Undang Desa  dari 6 tahun ke 8 tahun juga tak dipungkiri, ia adalah salah satu Ketua APDESI Kabupaten yang paling getol dan setiap saat mendampingi Ketua APDESI Sulbar dalam ikut membersamainya ke pusat. Dari sisi ini, Rahman Tona dianggap oleh semua kepala desa di Mamasa sebagai sosok yang patut untuk dipatuhi. Disis lain, ia juga akrab dengan semua tokoh agama, tokoh adat dan memiliki pengetahuan yang memadai tentang sejarah, budaya dan kearifan local Mamasa. 

SDK-JSM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih menjadi muara dari setiap harapan yang coba ia rengkuh tujuannya adalah agar Mamasa dijadikan wilayah prioritas dalam hal infrastruktur jalan dan jembatan, pendidikan, kesehatan. Termasuk rumah ibadah, gereja, masjid dan lainnya serta rumah adat sebagai ruang dalam ikut melestarikan nilai-nilai budaya dan pemajuan kebudayaan. Mamasa adalah daerah yang memiliki khasanah kebudayaan yang unik dan bisa menjadi dijadikan obyek destinasi wisata sejarah, budaya dan wisata religi. 

Kedapan, Rahman yakin bahwa SDK-JSM pasti bisa mewujudkan berbagai harapan yang kerap disampaikan oleh warga di setiap momen kampanye Pilkada kemarin.  

Jumat, 10 Januari 2025

HAJRUL MALIK || Sosok Politisi Berjiwa Pembelajar

Pada Medio tahun 2000-an, seorang lelaki kelahiran Tinambung 31 Desember 1973 mengawali karirnya sebagai Guru PTT di SD 1 Mamuju. Sedikit pun tak tergurat kekecewaan atas profesinya itu. Ia bahkan mampu menyiasati kehidupannya dengan nyambi mengajar Bahasa Arab di MTs dan MA Mamuju. Bahkan dengan rela menghabiskan waktunya ikut menjadi dosen di STIP TPB Mamuju yang kemudian dinobatkan sebagai Ketua Stisipol TPB Mamuju. Aktifitas itu ia lakoni dengan sangat ikhlas dan tentunya bahagia. 

Sebagai seorang yang telah mendapatkan banyak ilmu di IAIN Alauddin Makassar (1998) dan Ma’had Al-Birr, Universitas Muhammadiyah (1998), ia tentu tak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk tidak mengamalkan ilmu tersebut pada sesama. Niatan mengamalkan ilmunya itulah yang membuatnya tetap semangat. Ia terus menularkannya pada semua yang bisa bermanfaat pada tanah kelahirannya, Mandar. Sosok itu tak lain adalah H. Hajrul Malik, S.Ag., M. Pd. 
Siapa sangka, dari segala bentuk perjuangannya mengedukasi warga Mamuju (baca: Sulbar) mengantarkannya pada posisi sebagai Anggota DPRD periode 2004-2009 dan periode 2009-2014.

Secara logika, bagaimana mungkin anak Tinambung mampu menjadi tokoh berpengaruh di Mamuju, Ibu Kota Propinsi Sulbar?. Sangat mungkin pemantiknya adalah keikhlasannya mengamalkan ilmu dan terlibat langsung dalam proses Perjuangan Pembentukan Propinsi Sulawesi Barat periode 1998-2004. 

Hal yang perlu dicatat bahwa peran seorang Hajrul Malik dalam membidani kelahiran Propinsi Sulawesi Barat tak boleh dinafikan. Ia adalah salah satu eksponen Laskar I Pasu Tau Taji Barani dibawah Komando Naharuddin yang juga merupakan Sekjen KAPP Sulbar. Hajrul tak hanya aktif secara politik melahirkan Sulbar, tapi juga aktif membangun generasi Sulbar melalui ruang-ruang pendidikan yang ia ampuh sejak tahun 2000an.
 
Perhatian pada pendidikan memang sangat lekat pada sosok ini. Terbukti saat menjadi Anggota DPRD Mamuju, ia tak terlena dengan sejumlah fasilitas sebagai wakil rakyat. Sebagai seorang yang memiliki ilmu agama yang cukup, ia sadar betul bahwa jabatan itu bukan tujuan, tapi alat saja. Ia sadar bahwa tak mungkin kesempatan it terus-terus bisa ia nikmati. Itulah makanya dalam posisi tersebut, selain ikut Taplai Lemhanas (2008 dan 2009), ia juga mulai mempersiapkan dirinya ikut Pasca Sarjana UNM, meski semuanya baru bisa ia tuntaskan pada tahun 2020. 
Termasuk menjadi Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar Fakultas Ekonomi Syariah yang saat masih proses penyelesaian. 

Hajrul sejatinya bukan politisi, tapi sebagai pendidik. Hanya saja karena diuntungkan dengan momentum dan tak ingin menyia-nyiakan peluang yang ada sehingga status sebagai politisi dan pendidik yang tak melupakan jati dirinya. Hajrul bukan sosok yang kaget sebagai pejabat. Prinsip hidup sederhana adalah spirit yang ditanamkan orang tuanya sejak awal.

Prinsip itulah yang terus difaktualkan oleh Hajrul dalam setiap ruang dan dimensi hidup yang terenda untuknya. 
Maka menjadi pendidik, mengabdi pada masyarakat lewat wadah Fasilitator Kelurahan Program CBD (Community Base Development (2001), Anggota PAHAM Region Sulawesi (2001), Aktif LBH Bantaya Palu Sulteng (2001-2005), Ketua Bidang Pelayanan Masyarakat IKAL Lemhanas Sulbar, Pembinan Blue Helmet Indonesia, Sulawesi Barat, Ikatan Mahasiswa DDI, Pengurus As’adiyah Sulawesi Barat (2015-sekarang), dan Ketua PKBI (Persatuan Keluarga Berencana Indonesia) Mamuju menjadi hal yang ia nikmati prosesnya. 

Menjadi politisi dan Anggota DPRD Kabupaten Mamuju (2004-2014), Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Mamuju (2015-sekarang, Ketua Yayasan Arrahman Patiddi (2018-sekarang, Pimpinan Pondok Raudhatul Thalibin Tohri, Mamuju, Komisaris PT. Manakarra Unggul Lestari, Mamuju adalah jalan berkah yang tak lain adalah ganjaran dari keikhlasannya dalam berbagai bentuk pengabdiannya.  
Dua pendidikan dan dunia politik di tangan Hajrul bukanlah bara yang bisa membakar tangannya. Tapi menjadi ruang untuk terus berdialektika. 

Dalam kapasitas Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Mamuju dan Wakil Koordinator Satgas Pemulihan Bancana Mamuju (2021), serta Ketua Arrahman Patiddi, Pembina Allo Bi’ar Institut Sulbar justru semakin ia nikmati sebab ia lebih leluasa hidup berdinamika.Pun ketika didapuk menjadi Ketua DPD PKS Kabupaten Mamuju (2003-2005), Bendahara DPW PKS Sulawesi Barat (2005-2009), Sekum DPW PKS Sulawesi Barat (2014-2018), Ketua GARBI Gerakan Arah Baru Indonesia) Sulawesi Barat (2018-2020) hingga dipercaya menjadi Ketua DPW Partai Gelora Sulawesi Barat sejak 2020 sampai sekarang ia nikmati dengan niatan yang tentu untuk meningkatkan kapasitas dirinya dan memperluas tali silaturrahmi antara kelompok masyarakat bahkan antar umat beragama di Sulawesi Barat. 

Pilkada 2024 kemarin, ia dipercaya oleh Sitti Sutinah merumuskan dan mematangkan strategi pemenangan menuju periode kedua dari putrid SDK itu. Bahkan, Hajrul sekaligus menjadi juru bicara pasangan SDK-JSM dalam kontetasi Pilkada Serentak di Sulawesi Barat. Kemenangan SUTINAH-YUKI dan SDK-JSM adalah kemenangan bersama yang harus memposisikan Hajrul Malik sebagai pemantik. Terlebih sebagai Ketua DPW Partai Gelora yang ikut mengusung pasangan SDK-JSM mutlak lebih mengukuhkan appresiasi dan terima kasih kita terhadap Hajrul.

MUHAMAD YUSRI || Sang Petarung Dari Utara

MUHAMMAD YUSRI adalah Ketua DPD Nasdem Kabupaten Pasangkayu tahun 2021 sampai sekarang. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Mamuju Utara periode 2012-2017. Keluar dari Demokrat dan menjadi Ketua DPC Perindo Tahun 2017-2020. Pada Pilgub 2024 kemarin, ia menjadi salah satu dari koalisi partai untuk pemenangan pasangan SDK-JSM. Keberadaannya tak bisa dinafikan bahwa tanpa ikut campur Yusri, kemenangan SDK di Pasangkayu tak akan seperti ini. Terlebih, sejak awal Kabupaten Pasangkayu adalah lumbung suara PDIP jika bercerpin pada prestasi Agus Ambo Djiwa disana. 

Yusri lahir di sebuah kampung di Kecamatan Budong-Budong bernama Kire, 13 November 1978. Pendidikan dasarnya juga ia tempuh di kampung tersebut yakni di SDN Kire (1990). Setamat SD, ia melanjutkan sekolahnya di SMP Negri 1 Budong-Budong (1993). 

Selesai ditingkat SMP, Yusri malang melintang di beberapa wilayah di Indonesia. Pendidikan menengah atas ia raih di SMA Negeri 2 Mandonga Kendari (1996), tapi kemudian hijrah ke Makassar untuk mengambil S1-nya di Tehnik Sipil UMI Makassar (2004) dan terbang ke Jakarta untuk menempuh pendidikan pasca sarjana S2 Administrasi Pemerintahan Daerah STIAMI Jakarta dan selesai pada tahun 2011.

Suami dari Amalia, S.Kep dan ayah 4 orang anak ini tak mengherankan jika bertumbuh sebagai aktifis, organisatoris sampai politisi literat sebab sejak awal ia banyak menempah dirinya dalam berbagai kegiatan diklat atau kursus dari mulai kegiatan Latihan Kepemimpinan Dasar Remaja Masjid Nurul Yaqin Kire Angkatan 1 Tahun 1993. Ia juga memiliki pengalaman menulis dari keikutsertaaanya dalam Pelatihan Metodologi Penelitian dan Penulisan Karya Tulis Ilmiah yang dihelat oleh Hipermaju di Makassar (1996) dan Pusat Pendidikan Komputer UMI Makassar (1997).

Saat menjadi mahasiswa di UMI Makassar, ia bergabung dalam organisasi pergerakan di HMI. Jiwa pembelajar Yusri memang dari awal terus bertumbuh sehingga ia banyak mengikuti pelatihan antara lain ikut Basic Training HMI Angkatan XLV FT UMI Makassar (1997); Latihan Manajemen Kelembagaan Mahasiswa FT-UMI Angkatan III tahun 1997, Simposium Nasional Pemuda Indonesia tentang Revolusi Konflik oleh DPP KNPI Bekerjasama dengan Pemprop Sulawesi Tengah di Palu tahun 1997, Termasuk berkesempatan mengikuti Simposium Nasional Pengembangan Produk Unggulan di Makassar tahun 1999; Diklat Jurnalistik Dasar Angkatan VIII Koran Mahasiswa Cakrawala UMI Makassar Tahun 1999. 

Ia juga ikut memperdalam ilmu dan pengalaman dalam dunia pergerakan dengan mengikuti UP-Grading HMI Komisariat Tehnik UMI di Makassar tahun 2000; Intermediate di Benteng Ritterdam Makassar tahun 2000; Keaktifannya di organisasi di HMI membuat ia meraih kesempatan menghadiri acara bergengsi setingkat Temu Ilmiah Mahasiswa Tehnik Indonesia (TIMTI) di Pontianak tahun 2000. Saat di Sulbar, ia juga pernah mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Pemuda oleh Dinas Pemuda dan Olahrga Sulbar tahun 2007; Pelatihan Pendidikan Sisiologi Politik di Clarion Makassar tahun 2007. 

Aktif dan hidup dalam organisasi dan pergerakan sesungguhnya tidak instan muncul saat menjadi mahasiswa, melainkan sejak sekolah di SMP banyak aktif sebagai Pengurus OSIS SMPN 1 Budong-Budong 1991-1992. Pada saat sekolah di SMA, ia juga jadi Pengurus OSIS SMA Negeri 2 Mandong 1994-1995. Tak heran jika kemudian setelah mahasiswa, ia banyak diberi kepercayaan mulai dari menjadi Presidium HMI Komisariat Tehnik UMI tahun 1998-1999 sampai Presidium HMI Korkom UMI tahun 1999-2000. Tak hanya itu, ia juga dipilih menjadi Ketua Litbang LTMI HMI Cabang Makassar tahun 2000-2002.

Sederet tugas dan tanggung jawab Yusri mampu ia tunaikan dengan baik sehingga nyaris ia selalu menjadi sosok yang dipercaya menjadi Presidium HMI Cabang Makassar 2001-2002, Presidium Senat Mahasiswa Fakultas Tehnik UMI (SEMA FT-UMI tahun 1999-2000, Ketua Keorganisasian dan Kemahasiswaan Majelis Perwakilan Mahasiswa FT-UMI tahun 2000-2002, Korwil Sulsel Perhimpunan Mahasiswa Tehnik Indonesia (PMTI) tahun 2000-2002. 

Sebagai sosok yang pernah mengikuti Diklat Jurnalistik, tak heran jika ia dilibatkan menjadi Pengurus Unit Penulisan dan Penerbitan Mahasiswa (UPPM) Koran Mahasiswa Cakrawala Ide UMI tahun 1999-2001. Dalam skala lokal Polemaju (Sulbar sekarang), ia juga didaulat sebagai Ketua I Himpunan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Mamuju (HIPERMAJU) Pusat Makassar tahun 2002-2005, Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan MPC Pemuda Pancasila Mamuju Utara 2007-2010, Ketua Harian Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Mamuju Utara 2006-2011, Sekretaris DPD KNPI Mamuju Utara (2007-2010, Wakil Ketua DPD KNPI Sulawesi Barat 2010-2013, Ketua DPD KNPI Mamuju Utara tahun 2011-2014 dan IKA UMI Mamuju Utara 2005-sekarang. KAHMI Propinsi Sulawesi Barat tahun 2012 – sekarang, GM. FK PPI Mamuju Utara tahun 2003- sekarang,  Ketua Dewan Penasehat KAHMI Pasangkayu tahun 2023-2028, Dewan Penasehat Keluarga Besar Masyarakat Mandar Assamalewuang Pasangkayu tahun 2024-2029. 

Tak hanya dalam dunia organisasi pergerakan, Yusri juga merawat martabat sebagai aktifis yang tak melulu mengandalkan proposal untuk menopang berbagai kegiatannya. Ia sadar menjadi aktifis harus ditopang oleh kemampuan financial. Itulah makanya ia mencari pekerjaan dan Pengawas Proyek Pembangunan Regional Daya Makassar tahun 2002, Dan begitu ia kembali ke Sulbar, ia berkecimpung sebagai penyelenggara pemilu dengan menjadi Anggota KPU Matra periode 2003-2008. Periode keduanya di KPU Matra, ia didapuk sebagai Ketua KPU Matra Periode 2008-2012. 

Hengkang dari KPU, Ia diberi kepercayaan oleh Partai Demokrat Sulbar sebagai Ketua DPC Demokrat Kabupaten Mamuju Utara periode 2012-2017 yang kala itu dinakhodai oleh H. Aras Tammauni. Saat Aras Tammauni menjadi Bupati Mamuju Tengah ia dipercaya menjadi Tenaga Ahli Bupati Kabupaten Mamuju Tengah tahun 2016-2019, 
Ketika Perindo menjadi salah satu partai peserta Pemilu 22019, ia hengkang dari dari partai Demokrat dan menangkap peluang sebagai Ketua DPC Perindo Tahun 2017-2020. Tak tanggung-tanggung, partai besutan Hari Tanoe itu mengantarnya ke Parlemen Sulbar. Ia lolos menjadi Anggota DPRD Propinsi Sulbar periode 2019-2024, dari Dapil Sulbar VII Pasangkayu. Ia salah satu peraih kursi bersama dengan Rayu (PDIP); Ir. H. Abidin (Demokrat); Dr. H. Marigun Rasyid (Golkar); Muhammad Rizal Saal (Hanura); Andi Muhammad Qusyairi (Nasdem).

Menjadi Anggota DPRD Sulbar hanya setahun lebih, sebab pada Pilkada Serentak 2020, ia memilih menjadi Calon Wakil Bupati Kabupaten Pasangkayu tahun 2020. Pasca Pilkada, Ia meninggalkan Partai Perindo dan bergabung ke Partai Nasdem sebagai Ketua DPD Kabupaten Pasangkayu pada tahun 2021-sekarang. Pilkada 2024 kemarin mencatatkan namanya sebagai salah satu dari pemantik kemenangan di wilayah paling ujung Sulbar ini.     

Senin, 06 Januari 2025

FEBRIANTO || Politisi Gila Bola, Bukan Gila Jabatan


FEBRIANTO WIJAYA adalah generasi muda multi talenta kebanggaan Sulbar, bukan saja sebagai politisi tapi juga merupakan pesepak bola yang berhasil meninggalkan jejak dalam berbagai turnamen. Keberadaannya di Tim Pemenangan SDK-JSM juga sangat menetukan yakni Koordinator Koalisi SDK-JSM Kabupaten Mamuju.  Keberadaan anak muda yang ini menjadi Anggota DPRD Kabupaten Mamuju ini tentu tak hanya menguntungkan tapi sekaligus menentukan. 

Saat ini, ia telah menjadi wakil rakyat untuk periodenya yang ketiga. Ia tercatat sebagai Anggota DPRD Mamuju sejak Pemilu 2014-2019; 2019-2024 dan terakhir kembali lolos meraih kursi di DPRD Mamuju dari Dapil 1 melalui Partai Demokrat dengan mengantongi 4. 536 suara. Capaian ini jauh meninggalkan perolehan suaranya pada Pemilu sebelumnya yang hanya 1,952 dari total 4,351 suara.

Febrianto lahir dari pasangan Ilham Wijaya dan Wenny Wijaya lahir di Ujung Pandang pada 20 Februari 1989. Suami dari Felani ini adalah cucu dari Oei Tik Piauw (OTP) yang tak lain adalah seorang turunan Tionghoa. Penting dicatat, meski ia Tionghoa, tapi hubungan emosionalnya dengan Mandar (tertama Mamuju) tentu tak dapat dinafikan. Kendati hari ini keluarga besar OTP diakui banyak mendapatkan pundi-pundi emas dari proses perjalanan Sulawesi Barat, capaiannya itu harus difahami sebagai bahagian dari jeri payahnya sejak tahun 1960-an yang ikut membangun Mamuju. 

OTP adalah seorang pengusaha sukses di Mamuju. Ayahnya kerap membantu Hapati Hasan saat menjadi Bupati Mamuju jika menemui kendala keuangan dalam pemerintahannya. Dialah yang membayarkan gaji guru-guru dan staf di kantor daerah ketika bupati mendapat kendala keuangan. OTP merupakan partner bupati dalam memajukan pembangunan di Mamuju. Sangat mungkin keberadaan Febrianto dalam dunia politik adalah buah manis dari pengabdian kakeknya juga. 

Termasuk Wilianto, sepupunya dikenal pengsaha sukses melalui bendera PT. Passokkorang dan PT. KMP. Entah penamaan Passokkorang pada brand perusahaannya terinspirasi dari kebesaran Kerajaan Passokkorang yang pernah menguasai sepertiga wilayah Sulawesi Barat. Yang pasti, PT. Passokkorang kemudian tampil merajai semua proyek konstruksi dan perhotelan, baik di Sulawesi Barat maupun di Sulawesi Selatan. Dari sana pula bisnis hotel ia garap mulai dari d’Maleo Hotel di Mamuju hingga Dalton Makassar; Claro Hotel Convention Makassar; The Rinra Makassar; Almadera Makassar bahkan kini Claro Hotel Convention menjulang di Kota Kendari Sulawesi Tenggara.  

Lelaki yang akrab disapa Anto ini memiliki memori yang lekat dengan sebuah tempat bernama Talitting. Talinting adalah lapangan timbul tenggelam, karena hanya ada pada saat air surut dan ketika arus pasang datang, maka yang tampak hanyalah genangan air. Disinilah Anto bermain bola bersama teman-temannya. Disinilah seorang Febri mengenal permainan sepak bola yang kelak mengantarnya sebagai pesepak bola yang cukup dikenal di Sulbar maupun di luar Sulbar. 

Terkait dunia bola, Anto merupakan pengagum bintang Argentina pada Piala Dunia 1998, Gabriel Batistuta dan Herman alias Tie' yang tak lain adalah pamannya. Herman adalah mantan pemain sepak takraw nasional yang melambungkan nama Indonesia di berbagai event internasional. Itulah makanya, ia mendirikan Klub Junior di kawasan Pasar Sentral Mamuju yang tak lain adalah tempat tinggalnya. Nama klub-nya pertama adalah Mangga Menteng lalu berganti PS. Elang Hijau dan PS. Armada lalu magang di Persemaju Mamuju.

Melihat potensi dan bakat yang dimiliki Febrianto Wijaya, orangtuanya menyarankan agar melanjutkan pendidikan SMP-nya di Makassar, setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD 1 Mamuju. Ia ikut SSB ternama di Makassar yakni MFS 2000 (Makassar Football School) pada tahun 2002, satu angkatan dengan Yus Arfandy Djafar dan Rachmat Latief. Disini bakat Febrianto semakin berkembang. Pada usia 13 tahun, dia sudah lolos pada seleksi terbuka PSM U-15 dan semakin menonjol pada umur 14 tahun dengan menjadi top skorer Liga Bogasari.

Tahun 2006 atau saat berusia-16 tahun, terpilih mengisi skuad Makassar Utama. Setahun kemudian pindah ke Persib Bandung U-17 dan juara disana. Di tahun yang sama, ia lolos seleksi dan terpilih masuk Timnas Indonesia U-17. Setelah itu ia menjalani training camp di Klub VfB Stuttgart Jerman tahun 2007.
Pulang dari negeri kelahiran Franz Beckenbauer, Febrianto Wijaya mendapat panggilan untuk memperkuat Tim Pra PON Sulsel. Di waktu yang sama dia juga lolos dalam seleksi PSM Makassar, karena regulasi untuk ikut di PON tidak memperbolehkan pemain profesional, maka diputuskan untuk tidak ikut ambil bagian di Tim PON Sulsel dan lebih memilih bergabung dengan skuad Ayam Jantan dari Timur yang memang sudah lama diimpikannya.
Bergabung PSM Makassar menambah deretan warga keturunan yang sejak dulu kerap mengisi skuad Pasukan Ramang. Menurut Erwin Wijaya, eks pemain PSM Makassar era 80-90an yang sempat penulis wawancara dalam catatan "Sejarah di Tasinara" pada pertengahan 2020, bahwa pada jaman Perserikatan PSM Makassar hanya dihuni oleh suku Makassar, Bugis, Mandar, Toraja, Ambon dan etnis Tionghoa.

Sejumlah nama warga keturunan yang menonjol dan menorehkan prestasi di PSM Makassar dari generasi yang berbeda seperti Harry Tjong, Frans Jo, Piet Tio, Keng Wie, dan terakhir yang berhasil membawa PSM Juara Perserikatan tahun 1992 Yosef Wijaya dan Erwin Wijaya.

Di usia 18 tahun, Febrianto Wijaya telah berhasil merasakan atmosfir sepakbola Nasional bersama PSM Makassar. Satu setengah musim merumput di PSM Makassar, lalu dipinjamkan ke Persipura Jayapura. Setelah menyelesaikan setengah musim bersama Tim besutan Raja Isa, dia kembali ke PSM Makassar. Di usia ke-19,  Febrianto Wijaya kembali tercatat sebagai pemain Timnas Indonesia U-19, bersama dengan beberapa rekannya di Timnas U-17 sebelumnya seperti; Andritany Ardhiyasa, Kurnia Meiga, Egi Melgiansyah, Rahmat Latief dan Syamsir Alam.

Musim berikutnya dia mendapat pinangan dari Persiram "Dewa Laut" Raja Ampat, bahkan sudah sampai pada tahap negosiasi, namun di waktu bersamaan tawaran datang dari Medan Chiefs yang bermain pada kompetisi Indonesian Premier League (IPL), Setelah melalui pertimbangan yang matang, Febrianto memilih teken kontrak dengan Medan Chiefs.

Semusim bersama Medan Chiefs, ia akhirnya berlabuh di rakit "Laskar Joko Tingkir" Persela Lamongan
hingga akhirnya menyatakan pensiun dini sebagai pesepakbola di usia emas 24 tahun.

Pada tahun 2011-2012, konflik dan kisruh di tubuh PSSI mengakibatkan dualisme kompetisi. yaitu Indonesia Super League (ISL) dan Indonesia Premier League (IPL) kondisi ini membuat sepakbola Indonesia mengalami gonjang-ganjing. Hal tersebut menjadi salah satu alasan hingga Febrianto Wijaya memutuskan untuk gantung sepatu.

Kini ia menjadi politisi. Salah satu alasan untuk terjun ke dunia politik adalah membuat sepakbola di pelosok kampung jauh lebih bergairah melalui proses pembinaan. Hal tersebut benar-benar ia buktikan melalui pembinaan di SSB Mitra Manakarra bersama dengan beberapa teman pelatih lainnya seperti Irfan Rahman, Erik, Muhammad Jufri dll.

Bersama SSB Mitra Manakarra, dia telah melahirkan beberapa pemain yang memperkuat Timnas Indonesia dari berbagai tingkatan umur, diantaranya, Maldini Palli (U-19), Ryan Riding (U-16), Fakih (U-16) Rezky Pandi (U-19) dan Fadel Muhammad (Pelajar U-15). Selain itu, ia juga mengurus Klub OTP 37 Mamuju yang berjuang di kompetisi di Liga 3 Indonesia. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi Febrianto tatkala mendapat kepercayaan dari manajemen PSM Makassar untuk membawa Akademi PSM berhombase di Stadion Manakarra Mamuju.

Selain serius membina SSB Mitra Manakarra, OTP 37 dan Akademi PSM Makassar, dia juga tercatat sebagai pengurus BLiSPI (Badan Liga Sepak Bola Pelajar Indonesia) Sulawesi Barat, Lembaga yang fokus untuk pembinaan sepakbola usia dini. Dalam pandangannya, Sepakbola itu bukan cuma pemain, menjadi pengurus, manajer, pembina dan pelatih, adalah bagian dari sepakbola.

Kini, Febrianto menata diri dan dipercaya menjadi Pengurus DPD Demokrat Sulbar, Wakil Ketua MPC PP Kabupaten Mamuju, Sekretaris PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa) Propinsi Sulawesi Barat, Pengurus FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Kabupaten Mamuju, Ketua Asosiasi PSSI Kabupaten Mamuju, Direktur Akademi PSM Makassar, Pembina Utama Sekolah Sepakbola Mitra Manakarra Mamuju, 
Pembina Utama PRMI (pena Real Madrid) Kabupaten Mamuju, Pembina Youth Manakarra Mamuju, Wasekjen Bidang Otonomi Daerah DPN ADKASI (Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia), Inisiator Manakarra Fair, Kharisma Even Nusantara RI, dan Pembina Esport Kabupaten Mamuju, Jika berbicara kemenangan SDK-JSM, sosok ini menjadi salah satu dari pemantik. 

Jumat, 03 Januari 2025

ARY IFTIKHAR SHIHAB || Wajah Baru di Parlemen Sulbar


ARY IFTIKHAR SHIHAB adalah salah satu wajah baru yang mengisi parlemen Sulbar sejak dilantik Kamis, 26 September 2024 lalu. Lelaki yang akrab disapa Koje’ ini resmi menjadi Anggota DPRD Sulbar Periode 2024-2029 dari Fraksi Partai Nasdem Dapil Sulbar 2 (Polman A). Dalam proses pemenangan SDK-JSM pada Pilkada kemarin, Koje’ menjadi salah satu pemantik kemenangan karena jaringan anak muda yang tergabung dalam komunitas “Sama Rata” dan konstituen pendukungnya di berbagai kecamatan yang ada di Polman A, khususnya petani dan pecinta ayam bangkok. 

Sejak awal terjun ke dunia politik, sosok Koje’ seakan menjadi medan magnet. Itu terbukti ketika mencaleg di Partai Demokrat pada Pemilu 2019 berhasil meraih suara yang cukup signifikan, meski Husain Hainur menutup aksesnya untuk melenggang ke parlemen Sulbar. Kecewakah Koje’ atas kenyataan ini?. Ternyata tidak, Ia bahkan semakin intens membangun komunikasi dengan masyarakat berbagai kalangan. Ia memesrai banyak anak muda produktif sehingga ketika tahapan Pemilu 2024 dimulai, ia mendaftarkan dirinya sebagai Caleg Propinsi Sulawesi Barat di Partai Nasdem. 

Di Nasdem-lah garis takdir yang tergurat di dahinya terkuak dan mencatatkan namanya sebagai salah satu Anggota DPRD Sulbar 2024. Dalam darahnya, mengalir sebagai dzurriyah nabi bermarga Ash-Shihab. Marga yang terkenal di Indonesia lewat nama besar Prof. Dr. AGH. Muhammad Quraysh Shihab, Lc. MA (ulama ahli tafsir dan mantan Menteri Agama RI). Marga Shihab mungkin tak setenar pam Al-Attas di Mandar, tapi Koje’ pantas dipanggil habib atau Saiyye’. Sayyid adalah kelompok sosial yang selalu mempertahankan genealogy dan sistem kafa’ah (kawin seketurunan) bagi keturunan yang berjenis kelamin wanita yang digelari dengan panggilan Syarifah. 

Akan halnya di Mandar, keluarga sayyid ini menempati posisi yang tak kalah terhormatnya dengan bangsawan Mandar. sebagaimana S. Mengga, yang menjadi kakek dari Ary Iftikhar Shihab. Nashab Koje’ di Mandar tersambung langsung ke S. Mengga yakni dari salah satu anak S. Mengga yang bernama Syarifah Asiah. Syarifah Asiah ini putri S. Mengga dari istrinya yang bernama Hj. Nyilang. Syarifah Asiah bersaudara kandung dengan Jendral Salim S. Mengga dan Ir. Aladin S. Mengga. 
Syarifah Asiah S. Mengga ini dipersunting oleh Prof. Dr. KH. Umar Shihab. Dari pernikahan inilah lahir Ary Iftikhar Shihab atau Koje’. 

Prof. Umar Shihab bersaudara dengan Prof. Quraish Shihab dan Prof. Dr. H. Alwi Abdurrahaman Shihab yang juga tercatat pernah menjadi Menko Kesra dan Menteri Luar Neger RI. Prof. Umar Shihab sendiri adalah tokoh penting yang pernah menjabat Ketua MDI Sulsel dan Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat. Itulah makanya, Koje bersepupu satu kali dengan Najwa Shihab, Tokoh Literasi Nasional yang pernah menjadi Duta Baca Indonesia. 

Baik Marga Al-Attas dan Ash-Shihab memiliki nashab dan sanad keilmuan yang tersambung ke Hadramaut Yaman, Dari sini manusia-manusia terhormat yang dikenal sebagai Hadrami terekam dalam sejarah melakukan migrasi besar-besaran ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia sejak abad ke-18 dan 19. 

Migrasi ini dipicu oleh berbagai factor termasuk ekonomi, politik dan perubahan iklim. Mereka berasimilasi dengan masyarakat setempat dan seringkali menikahi penduduk lokal sehingga menghasilkan komunitas Hadhrami-Indonesia yang cukup besar.

Mereka ini kemudian berdiaspora ke berbagai wilayah nusantara, termasuk Sulawesi yang didalamnya ada Mandar. Marga Sayyid ini dipercaya sebagai turunan Nabi Muhammad melalui cucunya, Hasan dan Husain. Karena status inilah mereka dihormati dalam masyarakat Islam sebagai pemimpin agama, ulama atau intelektual bahkan sebagai pemimpin daerah seperti Gubernur, Bupati dan Anggota DPR. Dari sisi ini, Koje menjadi wakil rakyat salah satunya atas pertimbangan nashabnya.

***
         
Koje’ lahir di Makassar, 10 Januari 1977. Nama Koje’ lekat sebagai panggilan akrabnya sesungguhnya terinsipirasi dari sebuah film di TVRI Nasional yang diputar setelah siaran Dunia Dalam Berita. Film itu berjudul Detektif Koje yang pemeran utamanya berperawakan botak yang mirip dengan dirinya saat itu. Itulah makanya Ary Iftikhar lekat dengan panggilan Koje sejak usia 5 tahun. Koje menyelesaikan pendidikan dasar dan lanjutannya di Makassar. 

Setamat SMA, ia pindah ke Jakarta. Ia sempat ke Amerika mengambil kejuruan. Setelah itu, ia kembali dan memilih melanjutkan pendidikannya di Fakultas Tehnik Sipil Unissula (Universitas Sultan Agung Semarang. Setelah menyelesaikan kuliah, ia sempat terjun ke dunia bisnis dan merintis usaha suplai kelapa untuk perusahaan santan kara, santan kelapa siap pakai. 

Tahun 2008, ia memilih tinggal di Polman pasca meninggalnya kakeknya, S. Mengga akhir 2007. Di Polewali ia memilih menjadi petani dan berbaur dengan masyarakat petani. Dari sinilah muncul niatan terjun ke dunia politik. Ia merasa prihatin dengan kondisi dan sejumlah persoalan yang melingkuip dunia pertanian. Setelah merasa siap untuk bertarung dalam kontastasi pemilu, ia mulai dengan mencaleg di Demokrat tahun 2019 meski belum berhasil. Ia kembali mencoba di Partai Nasdem pada Pemilu 2024 dan berhasil. 

Sejak itu, pria yang tinggal di BTN Polewali Residen Madatte ini menjalani hari-harinya sebagai wakil rakyat. 
Termasuk menjadi Ketua Tim Koalisi Partai Pasangan SDK-JSM pada Pilgub Sulbar 2024.            

SYAMSUL SAMAD || Loyalitas Tanpa Batas


H. SYAMSUL SAMAD, demikian nama yang lekat pada sosok politisi muda yang saat ini menjadi nakhoda DPC Partai Demokrat Polewali Mandar. Keberadaannya di Tim Pemenangan SDK tak diragukan bahwa ia adalah kader yang benar-benar menjaga komitmen. Rumah Putih Palippis yang tak lain rumah pribadinya menjadi markas perjuangan, tidak saja bagi tim koalisi tapi juga relawan dan simpatisan menjadikannya sebagai tempat diskusi, kongkow-kongkow antara sesama pendukung SDK- JSM.

Saya mengenalnya sejak dari 2009 dari seringnya kami ketemu saat berkunjung ke Kantor DPRD Polewali Mandar. Meski kami berlainan partai, tapi komunikasi tak menghalangi untuk berdiskusi tentang kondisi masyarakat Polewali Mandar. Begitupun saat menjadi Anggota DPRD Sulbar, komunikasi kami terus terjalin.

Pria yang lahir di Desa Bala Kecamatan Balanipa, 4 Oktober 1980 ini punya garis takdir yang cukup cemerlang. Betapa tidak, pada tahun 2009 ia merintis karier politiknya di Partai Demokrat. Bermodal kost politik 20 jutaan, ia berhasil meraup suara 1.300 dan mengantarnya sebagai Anggota DPRD Polewali Mandar periode 2009-2014. Di Polman, hanya satu periode ia jalani dan beranjak ke level propinsi. Keputusan ini termasuk berani dan beresiko, tapi bukan Syamsul jika ia tak siap ditampar oleh resiko. 

Baginya, bertarung di tingkat kabupaten dan propinsi sama saja, sebab penetunya adalah konstituen yang kerap ia bina selama menjadi Anggota DPRD Polman. Sebagai aktifis, ia faham betul kalkulasi politik dan startegi kemenangan yang mesti ia jaga. Hasilnya kemudian, sebanyak 4.200 suara mengantarnya menjadi salah satu dari 45 Anggota DPRD Sulbar periode 2014-2019. 

Pada Pemilu 2019-2024 juga demikian ia kembali dengan mudah meraup suara dari dapil Polman B dan mengantarnya menjadi Anggota DPRD Sulbar untuk kedua kalinya dengan perolehan suara yang signifikan, yakni 6.700 suara. Lolos sebagai wakil rakyat dua periode tentu bukan hal mudah, sebab tak jarang politisi lain hanya mampu bertahan 1 periode saja. Tapi Syamsul yang nyaris diterima semua kalangan justru enjoy dan terus mendapat dukungan rakyat. Kondisi ini memberinya peluang kembali lolos pada Pemilu 2024 dengan mengantongi suara 11.850. Ia kemudian kembali dilantik pada 26 September 2014 di untuk periode yang ketiga kalinya. 

***

Jangan pernah berfikir bahwa Syamsul yang akrab disapa Ancu ini adalah anak orang kaya atau pejabat tinggi. Ia lahir dari seorang ayah bernama Abdul Samad dengan ibu yang bernama Musdalifah. Pasangan suami istri menggantungkan hidupnya sebagai petani biasa di Desa Bala (dulu Desa Pambusuang). Syamsul adalah anak kedua dari 5 bersaudara, yakni Hasnah Samad, Syamsul Samad, Darmawati Samad, Kasmawati Samad dan Ahmad Samad. Ketika bencana banjir besar 1987 melanda Polewali Mamasa (sekarang Polewali Mandar) kondisi ekonomi masyarakat berada pada titik nadir. Kondisi ini membuat Abdul Samad memilih hijrah ke Karossa Mamuju. 

Tujuannya tentu untuk mengubah nasib dengan tetap menjadi petani. Ia dibantu oleh istrinya berjualan garam dan serabutan di pasar Karossa. Itulah makanya, Syamsul Samad menempuh pendidikan dasarnya di SD Karossa yang kebetulan berada di dekat rumahnya. Setamat di SD, ia kemudian lanjut ke SMP Karossa. Disini perjuangan Syamsul mulai dipertaruhkan. Betapa tidak, setiap hari ia harus berjalan kaki sejauh 6 km untuk sampai ke sekolahnya. Ini dilakukan karena orang tuanya tak mampu membelikannya sepeda. Jangankan sepeda, untuk kebutuhan kesehariannya saja sudah tertatih. 

Tapi Syamsul beruntung memiliki orang tua yang berfikir maju. Bagi Pak Samad, pendidikan bagi anak-anaknya adalah nomor satu. Tak boleh ada anaknya yang tak sekolah hanya karena kendala ekonomi. Syamsul yang nota bene anak kedua tentu tak memiliki kesempatan bermanja-manja. Betapa pun kesulitan yang mendera keluarganya, ia tjuga punya tekad untuk tetap bersekolah. Untuk menyiasati kehidupannya, Syamsul bahkan tak jarang harus numpang kerja di bengkel, jadi kernet mobil penumpang jurusan Karossa-Mamuju. Itu ia lakukan sampai tamat SMP.

Setelah tamat SMP, Syamsul memilih merantau ke Parapare. Disana ia mendaftar ke SMA 1 Parepare, sebuah sekolah unggulan yang siswanya rata-rata anak orang kaya. Sekolahnya memiliki 23 kelas yang setiap kelasnya diisi dengan 40 orang siswa. Menurut Syamsul, diantara seribuan siswa di sekolahnya, hanya dia yang menggunakan sepeda. Di Parepare, Syamsul menumpang di rumah salah seorang keluarganya selama setahun, setelah itu ia memilih in the kost dan hidup mandiri. Itu ia lakukan karena tak ingin merepotkan keluarganya, termasuk ia tak banyak lagi berharap pada orang tuanya di Karossa. 

Dalam kondisi begtu, Syamsul tak kehilangan akal untuk tetap bisa melanjutkan sekolahnya. Itulah makanya, Syamsul menyiasati kehidupannya di Parepare dengan pergi ke pasar dan membuka permainan catur tiga langkah. Dari sini, ia menghandel permainan dengan lawan tandingnya yang harus membayar baru bisa jadi penantangnya. Pola permainannya, jika penantangnya mampu mengalahkannya dalam tiga langkah, maka ia akan membayar senilai yang telah ditentukan. Syamsul memang telah menguasai rahasia permainan ini sehingga bisa dipastikan ia dapat uang, sebab ia memiliki rahasia permainan yang tak memungkinkan lawannya menang. Dalam kondisi susah, manusia memang cenderung kreatif, demikianlah yang terjadi pada Syamsul Samad. 

***
Fase kehidupan Syamsul semakin menantang setamat ia di SMA 1 Parepare. Ia melanjutkan pendidikannya dengan mengambil Diploma-3 di STAIN Parepare tapi kemudian memilih pulang ke Bala dan melanjutkan studinya di Unasman. Gelar sarjana berhasil ia dapatkan sembari aktif di berbagai organisasi, salah satunya adalah HMI. Ia tercatat sebagai Ketua HMI Cabang Polemaju pada tahun 2005-2007 dan Ketua Karateker Cabang HMI Persiapan Polman pada 2007. Pada jenjang organisasi, ia dikenal teruji dan matang. 

Dari dunia pergerakan Syamsul mulai memasuki dunia politik, Secara, aktifis memang cenderung mencari dunia yang bisa dengan mudah mengembangkan jati dirinya untuk bermanfaat bagi banyak orang. Itu yang menjadi pilihan Syamsul Samad. Sebelumnya, ia memang pernah mendaftar STPDN tapi gagal karena tidak ada yang back up, itupun ia gugur  pada tahap akhir, yakni sesi wawancara. Begitulah jalan hidup seorang Syamsul yang hidupnya dibiarkan mengalir bagai air saja. 

Melabuhkan pilihan politik di Partai Politik terhitung mulai tahun 2007. Saat itu, Andi Mappangara, Anggota DPRD Polman Periode 2004-2009 mengajaknya untuk mengambil bagian dalam Muscab Partai Demokrat. Peran Syamsul dalam proses ini sangat menentukan bagi kemenangan Mappangara sebagai Ketua DPC Partai Demokrat. Alasan itu kemudian membuat Syamsul didapuk jadi sekretaris. Dari sinilah, ia membangun komunikasi dengan para aktifis untuk berjuang dalam Pemilu 2009. Benar saja, Syamsul yang terdaftar sebagai Caleg Partai Demokrat Dapil 4 ini lolos menjadi Anggota DPRD Polman Periode 2009-2014.  

Terpilih sebagai Anggota DPRD Polman awalnya merasa lucu. Betapa tidak, ia yang sebelumnya sering muncul di Kantor DPRD dan Kantor Bupati membawa proposal kegiatan kini bisa sejajar dengan anggota dewan dan para pejabat teras di daerah ini. Terlebih saat itu, ia dipercaya menjadi Ketua Komisi I yang memungkinkan lebih intens bertemu dengan mereka. Ia juga semakin dikenal oleh masyarakat. Ia memang tak banyak dikenal oleh masyarakat waktu itu, sebab sejak kecil ia dibesarkan di luar daerah. 

Hal yang mendesak dilakukan olehnya adalah membina para pemuda kampung melalui sepakbola, selebihnya ia focus mengubah mind-set para pemuda dan warga sekitar. Terbukti, Syamsul berhasil mengantarkan mereka menjadi generasi yang penuh manfaat bagi sesame.

Mereka semakin maju cara berfikirnya melalui pendekatan Syamsul Samad. 
Sosok Syamsul juga dikenal konsisten dan komitmen memperjuangkan nasib rakyat atau konstituen yang jadi basis perjuangannya. Hal inilah yang menjadi alasan bagi Syamsul sehingga memutuskan untuk maju sebagai Caleg DPRD Sulbar pada Pemilu 2014-2019. Keputusan politiknya itu membuahkan hasil, bahkan kini memasuki periode ketiganya mengemban amanah rakyat di Dapil Sulbar 3 atau Polman B. 

Sejak berada di DPRD Sulbar, Syamsul dikenal banyak memiliki konstribusi dalam mengeksekusi berbagai aspirasi masyarakat yang diserapnya. Termasuk menjadi Ketua Komisi dan Ketua Pansus/Panja terkait Tata Tertib DPRD Sulbar dan Perubahan Struktur Kelembagaan. Ia juga dipercaya menjadi Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Polewali Mandar sejak tahun 2018 sampai sekarang.  
    
***

Sukses didunia politik tak membuatnya lupa untuk terus belajar dan melanjutkan pendidikannya. Pendidikan adalah prinsip dan amanah dari ayahnya sehingga ia tercatat sebagai alumni pasca sarjana (S-2)UNIBOS-Universitas Bosowa (dulu Universitas 45) Makassar dan saat ini merupakan candidat doctor program studi Pembangunan UNHAS Makassar. 

Syamsul melepas masa lajangnya ketika masih menjadi anggota DPRD Polman, tepatnya tanggal 5 Mei 2012. Ia berhasil mempersunting mojang Samasundu bernama Marwah, S.Pd., M.Pd. Dari pernikahannya tersebut, ia dikaruniai 2 orang putra dan satu orang putri, masing-masing bernama Muhammad Andra Moissani Manggala SS; Muhammad Arya Gadi Fadhlulah SS; dan Alea Giyandra Putri SS. 

Kini Syamsul bersama keluarga tinggal di sebuah rumah berarsitektur modern dan artistic yang terletak di bilangan Jalan Trans Sulawesi Palippis. Ruamh kediamnnya ini dikenal dengan Rumah Putih Palippis. Dari rumah ini juga strategi pemenangan pasangan SDK-JSM dimatangkan.     

SURAIDAH SUHARDI || Membangun Pribadi Berkarakter Masa Depan

Dr. Hj. Sitti Suraidah Suhardi, M.Si, demikian nama lengkap dari politisi yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sulbar periode 2024-2029. Sebelumnya, ia adalah Ketua DPRD Sulbar periode 2019-2024. Bergesernya jabatan itu disebabkan Demokrat mengalami penyusutan perolehan suara di beberapa dapil hingga Golkar menyalipnya. 

Suraidah lahir di Makassar, 30 Juli 1986. Ia adalah putri kedua dari Suhardi Duka dengan Hj. Harsinah Dg. Ngasseng. Ia lahir di tahun yang bertepatan dengan keputusan SDK pulang ke Mamuju untuk membangun kariernya yang saat itu telah mengantongi SK sebagai PNS di Depatemen Penerangan. SDK menikah dengan Harsinah saat masih berstatus mahasiswa, tepatnya pada tanggal 25 Mei 1983. Praktis anak pertamanya yakni Sitti Sutinah dan Sitti Suraidah lahir di Makassar. Itulah makanya, Suraidah dan Sutinah menempuh pendidikan dasarnya di SDN Binanga, meski keduanya lahir di Makassar.  

Jenjang pendidikan lanjutannya ia tempuh di SLTPN 1 Mamuju (2001) kemudian lanjut ke SMA Nahdiyat Makassar (selesai tahun 2004). Adapun jenjang pendidikan S1-nya ia tempuh di STIE Muhammadiyah Mamuju (2010) dan lanjut S2-nya di Universitas Indonesia Timur Makassar (2013) dan puncaknya, Suraidah menyandang gelar doktoralnya di UIN Alauddin Makassar pada tahun 2022. 

Suraidah tumbuh dan berkembang menjadi anak yang tangguh, suaranya lantang dan tegas, tatapan matanya tajam. Meski dibalik itu, ia memiliki kebiasaan sakit ketika ditinggal oleh ayahnya keluar daerah. Bahkan, SDK harus menjahit baju khusus yang diperlihatkan kepada Suraidah ketika ia perjalanan dinas. Lewat baju itu, kerinduan Suraidah kepada ayahnya tak meradang dan merasa nyaman dengan baju bapaknya itu. Mungkin karena itu, SDK menjadikan putrinya sebagai politisi, bukan sebagai ASN. 




Tahun 2006, Suraidah mendaftar sebagai ASN tapi tidak diluluskan oleh ayahnya yang saat itu menjabat sebagai Bupati. Disinilah integritas SDK benar benar terfaktualkan. Sebagai bupati, ia bisa saja meluluskan anaknya, tapi urung dilakukan untuk menjaga integritasnya. Berbeda dengan Sutinah, SDK memberi peluang kepadanya untuk mengabdi sebagai ASN, meski akhirnya ia dipertemukan takdirnya sebagai politisi dan menjadi perempuan bupati yang pertama di Mamuju. 

SDK merasa yakin bahwa Suraidah cocok menjadi politisi karena sikapnya yang pemberani dan bisa diandalkan. Itu dibuktikan ketika ada kegiatan SDK yang tak bisa dihadiri, Suraidah menjadi sosok pengganti dan diterima baik oleh masyarakat. Suraidah akhirnya dijahitkan baju warna biru khusus untuk menghadiri undangan yang mewakili ayahnya seperti membawakan sambutan dalam berbagai acara seperti pernikahan, khitanan dan acara keagamaan lainnya. Bahkan tak jarang, Suraidah yang menemui tamu SDK ketika tak ada di rumah.   

Ketika usianya menginjak 20 tahun, Suraidah memutuskan untuk terjun ke dunia politik, meski pada saat yang sama ia lulus sebagai ASN setelah mengabdi selama 4 tahun (2006-2009) sebagai tenaga kontrak aspri wakil bupati. Pada saat Suraidah lulus ASN, ia juga telah membuat pilihan untuk mengikuti jejak ayahnya berorganisasi di KNPI, menjadi pimpinan partai Demokrat Mamuju dan mulai mencalonkan diri sebagai Caleg DPRD Mamuju pada tahun 2009. Ia lolos dan menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Mamuju periode 2009-2014. Pada Pemilu 2014, ia kembali mencalonkan diri dan berhasil mengantarkan Demokrat sebagai partai pemenang di Mamuju. Kemenangan ini membuatnya duduk sebagai Ketua DPRD Mamuju sekaligus sebagai Ketua DPC. Partai Demokrat di Mamuju yang dijabatnya sejak 2007.

Setelah dua periode di DPRD Mamuju, Suraidah kemudian mencalonkan diri sebagai Caleg DPRD Sulbar pada Pemilu 2019. Lagi-lagi keberuntungan berpihak padanya. Demokrat menjadi pemenang Pemilu di Sulawesi Barat dan mendapuknya sebagai Ketua DPRD Sulawesi Barat 2019-2024. Posisi sebagai Ketua DPRD Sulbar tak mampu dipertahankan pada Pemilu 2024, lantara Golkar berhasil menyalip perolehan suara Partai Demokrat. Meski demikian, Suaridah mendapat posisi sebagai Wakil Ketua bersama Amelia Aras sebagai ketua DPRD Sulbar.

Ketika SDK menyelesaikan pengabdiannya sebagai Bupati Mamuju, Suaridah ditawari untuk jadi Calon Bupati Mamuju. Saat itu SDK banyak mendengar suara dari masyarakat. Ia mendapatkan masukan ada di antara keluarganya maju, apakah anak atau saudara. Pilihan jatuh kepadanya, tapi Suraidah bilang, “Pak saya lebih suka di legislatif. Saya sudah enjoy di sana. Saya ga’ bisa bangun pagi, harus berkantor tiap hari.” Ucap Suraidah sebagaimana dikutip Tina dalam buku Sarman Sahuding (Kompas, 2023). Cerita Sutinah ini menegaskan bahwa Suraidah itu tak punya ambisi jadi kepala daerah. Maka pilihan kemudian jatuh padanya. Tina yang saat itu telah menjadi Kepala Dinas membuat keputusan mengikuti petunjuk garis tangannya semata. Bahwa harus masuk ke politik dan berlaga di palagan politik pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Mamuju, itu juga pilihan yang harus dia jalani selanjutnya. Terbukti, Tina kini menjadi Bupati dua periode dan tercatat sebagai perempuan pertama yang jadi Bupati Mamuju.   

Begitulah jalan panjang karir politik seorang Suraidah yang cenderung menanjak seiring pada proses penyelesaian studinya sampai ke jenajang S3 dan berhak menyandang gelar doktor. Ia berhasil menamatkan pendidikan S3-nya dalam kurung waktu 2 tahun 11 bulan 29 hari tepat pada tanggal 29 Desember 2022. Ia mengambil judul “Komunikasi Politik Elektorat di Sulawesi Barat” dengan predikat cumlaude di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Dalam skala Sulbar, SDK benar-benar sukses menjadikan putra putrinya sebagai sosok yang menginspirasi.

Sampai kini, selain menjadi unsur pimpinan di DPRD Sulbar, Suraidah juga sibuk diberbagai organisasi yang sebagian besar mendapuknya sebagai ketua. Diantara organisasi yang maksud itu adalah Perempuan Demokrat Republik Indonesia (PDRI) Propinsi Sulawesi Barat; MPW ICMI Orwil Sulawesi Barat; DPC Demokrat Mamuju, DPW Srikandi Pemuda Pancasiila Sulawesi Barat; Dewan Kehormatan PMI Sulawesi Barat; KNPI Mamuju.

Selain organisasi yang mendaulatnya sebagai ketua, namanya juga menjadi Anggota Mabida Gerakan Pramuka Sulbar; Pengurus DPP KNPI; Pengurus DPN Asosiasi DPRD Kabupaten Se Indonesia; Pengurus Pemuda Pancasila MPW Sulawesi Barat; Wakil Ketua Kwacab Gerakan Pramuka Mamuju; Anggota Mabicab Gerakan Pramuka Mamuju; dan Anggota Radio Antara Penduduk Indonesia (RAPI) Daerah Sulawesi Barat (JZ34IDA). 

Atas segala bentuk pencapaian dan prestasinya tersebut, wajar jika kemudian jika ia diganjar dengan berbagai penghargaan. Diantara penghargaan yang pernah ia terima antara lain sebagai Gender Champion dari Bupati Mamuju (2023); Mitra Kerja BKKBN dari Kepala BKKBN Pusat (2022); Media Awards dari Harian Sulbar Express (2018); Pemberian Gelar Kehormatan dari Kesultanan Surakarta (2017).