Selasa, 06 Agustus 2024
SALEH AS || Maestro Musik Daerah Indonesia Timur
Senin, 05 Agustus 2024
MENGINTIP KEHADIRAN HENDRA SINGKARRU || Dalam Konferensi Pers Rumah Jonga.
MEMBACA RUANG BATIN DAN JEJAK SDK-JSM || Menuju Pilkada Gubernur 2024
Catatan : Muhammad Munir
Terjawab sudah apa yang menjadi alasan Salim Mengga menjadi Cawagub dari SDK dalam kontestasi Pilkada 2024 yang akan dihelat pada 27 November nanti. Dalam Konferensi Pers di Rumah Jonga (5/8), baik Salim maupun SDK mengungkap apa yang melatari paket kedua sosok ini. Alasan fisik menjadi pilihan untuk memposisikan SDK sebagai Calon Gubernur, sementara Salim memilih jadi wakilnya. Hal tersebut dibenarkan oleh SDK dalam sambutannya pada acara yang sama. "Dengan tampilan saya yang begini, apa mungkin saya berani mengatakan pada Pak Jendral, kau jadi wakil. saya?". Ucap SDK yang diikuti sorakan dari para pendukung yang memadati halam rumah Jonga.
Road Show Politik yang dikemas dalam Konferensi Pers pasangan SDK-JSM ini menjadi penting untuk dicatat, karena sebelumnya banyak yang berfikir tak ingin mendukung JSM karena maju sebagai wakil. Demikian juga tak sedikit yang kecewa pada SDK yang tak beretika menjadikan JSM sebagai wakilnya. Momentum Rumah Jonga ini menjadi jawaban atas sengkarut politik yang melingkupi keduanya. Sekarang tak ada alasan lagi untuk tidak mendukung pasangan ini. SDK - JSM adalah refresentasi amandaran. Mandar itu bukan suku, tapi ia adalah nilai yang dibangun oleh nenek moyang kita dalam Assitalliang Sipamada' di Luyo. Mumuju adalah Mandar, PUS adalah Mandar, Binuang adalah Mandar. Tak boleh adalagi sekat antara Mandar dengan penutur bahasa yang lain. Terlebih saat ini, kita sudah terbingkai dalam kata Sulawesi Barat.
SDK dan JSM adalah sosok yang ketokohannya tak lagi dipertanyakan. Kita mesti menjadi bagian dari proses pemenangan yang mampu mengedifikasi alasan-alasan untuk mendukung keduanya. Diantara banyak alasan yang bisa jadi pemantik salah satunya adalah rekam jejak keduanya. SDK adalah birokrat yang terangkat jadi PNS 1986 dan banting setir jadi politisi pada tahun 1990. Pentolan Pemuda Panca Marga, Ketua AMPI dan Ketua KNPI itu menyambut takdirnya lewat partai Golkar dan menjadi anggota DPRD Mamuju selama 5 periode hingga menjadi Ketua DPRD Mamuju. Dari tangannya terlahir rekomendasi yang ikut melahirkan Sulbar sebagai propinsi. Tak hanya itu, ia bahkan menjadi Bupati Mamuju selama 2 periode dan kini masih menjabat dan kembali lolos sebagai Anggota DPR RI di Senayan. Menjadi wakil rakyat di Senayan jangan berfikir bahwa jabatan itu ia gunakan sebagai ajang gagah-gagahan. SDK justru menjadi singa dalam berbagai sidang di Gedung Rakyat itu, bahkan tak terhitung program strategis nasional ia giring ke Sulawesi Barat.
Lalu JSM. Siapa yang tak kenal dengan Jendral Salim Mengga?. Ia putra S. Mengga yang memiliki jasa besar terhadap warga Mamuju (baca: Mandar). Pada masa pergolakan (1952-1964) ketika cengkraman Bn. 710 dan DI/TII benar benar memuncak. Ada ribuan warga Mamuju dan sekitarnya yang diungsikan oleh S. Mengga ke Ujung Lero. Tak hanya diungsikan, tapi dihidupi dan dijamin makan meski ia dan pasukannya harus menjadi bajak laut di Selat Makassar dengan menghadang sejumlah kapal niaga pasukan Andi Selle Mattona. Kapal itu dirampok oleh pasukan Mandar Baru demi bertahan hidup dan menghidupi pengungsi.
Salim S. Mengga merupakan putera kedua S. Mengga dari 3 (tiga) bersaudara, yaitu: Syarifah Asia S. Mengga (Almarhumah Istri Prof. DR. Umar Shihab, MA) dan Ir. Aladin S. Mengga (Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2011-2016). Ketaatan beragama, kewibawaan sikap mandiri dan merakyat menjadi salah satu energi yang dimilikinya. Sikap yang demikian itu adalah perpaduan dari garis keturunan sang kakek (orang tua S. Mengga), bernama Sayyid Muhsin al-Attas dan neneknya Hj. Cilla, seorang bangsawan Mandar dari keturunan Arajang Balanipa Pammarica.
Pammarica adalah sosok yang tak saja jadi Raja di Balanipa, tapi juga di Binuang dan Mamuju. Pammarica menjadi Mara'dika Mamuju yang turunannya masih menjadi pemilik trah darah biru di Mamuju. Maka tak heran jika Salim S. Mengga begitu fasih melantunkan ayat-ayat Al-Quran dan taat menjalankan ibadah shalat lima waktu, dan dibanyak tempat ia sering memberikan cerama-ceramah agama dan khutbah shalat ied.
Mayor Jendral yang melekat didepan namanya cukup menjadi bukti bahwa komitmen membangun bangsa dan negara tak perlu diragukan. Ketika menjadi Anggota DPR RI di Senayan, Salim bahkan dikenal sebagai wakil rakyat yang memilih integritas tinggi dan susah diatur. Di Partai Demokrat, jangankan Sekjend, Ketua Umum Demokrat, SBY saja segan pada sosok Jendral yang satu ini.
Inilah pentingnya edifikasi sosok keduanya. Termasuk sikap, karakter dan dedikasi SDK-JSM pada daerah ini layak diedukasi pada simpatisan dan tim secara khusus, bahkan secara umum bagi masyarakat Sulbar.
KONE- KONE'E || Bahasa Maloso' DAS Mapilli
Sang BAJAK LAUT
Minggu, 04 Agustus 2024
MEMILIH PEMIMPIN DALAM PERSPEKTIF AMANDARAN (#1)
Jumat, 02 Agustus 2024
Dr. MUHAMMAD ZAIN || Pengabdian Yang Tak Mengenal Hari Libur
Kamis, 01 Agustus 2024
ORANG MANDAR YANG LAHIR DI JOMBANG || Jejak Mbah Nun di Tanah Mandar
PRAYOGA WIJAYA || Titip Mandar Ke Betawi
TAMMALELE YA TAMMALELE, Bukan Yang Lain !
Rabu, 31 Juli 2024
ISSANGI SIRI' || Sebuah Kritik Untuk Pemerintah Polman
PIDATO KEPAHLAWANAN || Untuk Lomba Pidato Agustusan
Selasa, 30 Juli 2024
BAKTI SEORANG SALEH BHAKTI YANG TERLUPAKAN
Minggu, 28 Juli 2024
CAGUB SULBAR || Apa Yang Anda Fikirkan?
Catatan Muhammad Munir
PILKADA SERENTAK 2024 diketahui bahwa Pilgub dan Pilbup akan berlangsung 27 November 2024 dan tahapannya saat ini sedang berjalan yang dilaksanakan Komisi Penyelenggara Umum (KPU) Sulbar dan KPU Kabupaten.
Sejumlah Calon Gubernur dan Wakil Gubernur serta Calon Bupati dan Wakil Bupati kian santer sosialisasi dan memburu rekomendasi partai pengusung. Untuk Pilgub Sulbar, sejumlah nama yang siap berkontestasi semakin gencar. Tercatat SDK (Suhardi Duka) mantan Bupati Mamuju 2 periode dan Anggota DPR RI dengan tanpa ragu menggandeng Mayjend (Purn. TNI) Salim S. Mengga sebagai wakilnya. Ada juga Prof. Husain Syam, Mantan Rektor UNM dua periode yang menggadang-gadang Arwan Aras, Mantan Anggota DPR RI yang juga putra HM. Aras Tammauni. Termasuk dua bersaudara dari klan Masdar juga dikabarkan akan berkontestasi di pesta 5 tahunan ini.
ABM atau Ali Baal Masdar, mantan Gubernur Sulbar (2017-2022) ini dipastikan akan maju lewat usungan Partai Gerindra, meski belum menampakkan tanda-tanda tentang siapa yang akan menjadi pasangannya. Namun hingga tulisan ini dinaikkan, "ABM pasti maju dan siap memanangkan Pilgub untuk periode keduanya sebagai Gubernur Sulbar (2024-2029)", kata salah seorang tim keluarganya kepada penulis via WA. Sementara Andi Ibrahim Masdar, mantan Bupati Polman yang dikenal lewat tagline AIM dan Sulbar Jago ini dengan percaya diri menyatakan maju berpasangan dengan H. Ramlan Badawi yang juga mantan Bupati dua periode dari Kabupaten Mamasa. Pasangan ini dikabarkan maju lewat usungan Partai Amanat Nasional, yang untuk Sulbar diketuai sendiri oleh Ramlan Badawi.
Para pengamat politik memprediksi bahwa SDK - Salim akan sangat mudah melenggang ke kursi Sulbar 01 jika ABM dan AIM benar-benar menjadi rival perebutan suara di Polman. Alasannya, karena suara di Polman dipastikan terpecah dan terbagi ke ABM, AIM, Salim dan Husain Syam. Tapi ini prediksi yang tentu sangat terbuka ruang bantahan bagi yang lain. Bagaimanapun, keberadaan seorang ABM yang notabene masih tergolong petahana tentu memiliki sejumlah strategi untuk kembali memenangi rivalnya di Pilkada 2017 yakni SDK. Kekuatan politik ABM di hampir semua wilayah kabupaten di Sulbar, masih sangat optimis bisa meraih kemenangan. Kekuatan Politik SDK di Mamuju tentu akan terpecah dengan munculnya Husain Syam-Arwan.
Tulisan ini tidak akan fokus membahas sejumlah nama dan peta kekuatan masing-masing calon yang telah menyatakan diri siap berkontestasi di Pilgub 2024. Ada hal yang lebih penting dan mendesak untuk dibincang selain masuk dalam pusaran kepentingan para kandidat. Provinsi Sulawesi Barat tahun ini tepat 20 Tahun usianya. Ditahun ini juga, Ibu Kota Negara (IKN) akan resmi pindah ke Kalimantan. Sejauh mana kita sebagai rakyat berfikir untuk membenahi Sulbar dan mempersiapkan diri menjadi bagian dari IKN yang notabene menjadi peluang dan tantangan.
Para Calon Gubernur pasti akan sangat percaya diri menyampaikan visi misinya untuk menyambut peluang itu. Tapi apakah benar mereka telah mematangkan semua konsep kebijakan yang menguntungkan rakyat Sulbar terkait keberadaan IKN?. Jurkam-jurkam kampanye Cagub pasti akan mengatup semua pikiran-pikiran kita dalam orasinya. Lihatlah Sulbar hari ini diusianya yang ke-20 tahun. Apa yang telah siap dan akan dipersiapkan untuk mengambil peluang dari IKN?. Sampai saat ini, perubahan nama belakang dari Selatan ke Barat ini saya melihat yang berbeda hanya kantor jawatan baru dengan perangkat OPD yang tentu menjadi kasur empuk bagi kepala-kepala dinas. Lahirnya Sulbar tidak dibarengi dengan perubahan pada bidang-bidang kehidupan lainnya. Termasuk infrastruktur, sarana transportasi, akses jalan, ekonomi kerakyatan, daur hidup kebudayaan, dunia literasi dan layanan publik ditengarai tidak mengalami tanda-tanda perbaikan yang signifikan.
Itu bisa dilihat dari jalur koridor-koridor ekonomi Kalukku - Kalumpang - Seko (Mamuju - Luwu), Salutambung - Urekang (Malunda - Ulumanda), Somba - Besoangin (Sendana - Tutar), Tinambung - Alu - Tutar ; Luyo - Besoangin; Lampa - Matangnga - Mehalaan - Mambi dan Matangng ke Lenggo (Polman - Mamasa); Mamasa - Toraja dan lainnya masih terkesan sama kondisinya pada 20, 30 tahun lalu. Fakta keberadaan Bandara Tampapadang Mamuju tak banyak menolong, karena orang yang mau ke Sulbar tetap merasa aman dan lancar melalui Bandara Hasanuddin Makassar. Bidang pendidikan maupun layanan kesehatan juga demikian. Kuliah di Makassar lebih trend dan diidamkan ketimbang di Mamuju, Manene dan Polewali. Berobat di rumah sakit Makassar masih menjadi pilihan akibat kurangnya peralatan dan tenaga ahli di Sulbar.
Belum lagi pelabuhan yang diharapkan belum memadai layaknya Parepare dan Makassar. Lihat juga industri kreatif dan ekonomi kerakyatan yang belum bisa menjanjikan karena tidak adanya personal garansi yang bisa menciptakan pasarnya. Lihatlah sa'be Mandar, Sekomandi dan Sambu' serta lainnya. Bidang kebudayaan juga begitu yang lebih banyak difestivalkan ketimbang ditulis dan dibukukan. Termasuk sejumlah arsip penting tentang sejarah Mandar masih yang bisanya diakses ke Makassar dan Jakarta bahkan Belanda.
Fakta-fakta yang saya sebut diatas mestinya jelas dan sebagai rakyat harus fahami itu. Para pemimpin yang telah lalu mulai dari Anwar Adnan Saleh sampai saat ini masih jauh panggang dari api. Pilkada ini harus menjadi momentum untuk kita mengukur tentang harapan kita terhadap calon Gubernur. Mereka mesti belajar banyak pada sejumlah program dan kebijakan selama 20 tahun terakhir. Belajar sebagai rakyat dan sebagai pemimpin dibutuhkan sebagai parameter untuk mengukur aplikasi motorik dan apersepsi kita bisa menerima atau tidak. Calon Gubernur kita tidak usah banyak menggurui dan menjanji. Cukup mereka belajar membuang toxic yang tdk produktif, agar ruang giga di kepalanya memiliki daya tampung yang memadai tentang apa yang mendesak hari ini dilakukan untuk Sulbar.
Adakah diantara Calon Gubernur yang siap dan telah melakukan persiapan terkakt persoalan Sulbar dari dulu sampai sekarang? Ayo tunjukkan dan panjangkan file nalar kita semua untuk mengawal pilkada ini menghasilkan pemimpin yang faham dengan kebutuhan Sullbar.