Selasa, 06 Agustus 2024

SALEH AS || Maestro Musik Daerah Indonesia Timur

Catatan Muhammad Munir

Shale As adalah sosok yang mesti diterima sebagai maestro musik daerah. Bukan hanya lagu daerah Mandar tapi juga Bugis dan Makassar. Mantan suami Rasti Rahman ini lahir pada bulan Maret 1958. Ayahnya bernama Jamaluddin (Tandung). Ia lahir dan dibesarkan di Wonomulyo sampai umur 10 tahun, sebab setelah itu, ia memilih meninggalkan kampung halamannya pada tahun 1968. 

10 tahun itupun terbagi ke Polewali sebab ia sempat ikut kakaknya, Husnah ke Lantora dan sempat mengenyam pendidikan dasar di SD Lantora sampai kelas 2. Ia memilih merantau ke Makassar mengadu nasib. Di Makassar, ia sempat jadi loper koran, jual rokok, jual tara'ju sampai jadi tukang parkir di pelabuhan. 

Bakat menyanyinya memang sejak kecil sudah terlihat. Ia sering menyanyi India, selebihnya adalah lagu Muchsin Alatas yang sempat ia nyanyikan saat tampil pertama di Kediri dalam sebuah pertunjukan. Sampai disitu, Saleh harus kehilangan masa-masa indahnya di waktu kecil karena kondisi kehidupan menyeretnya harus berani mengambil resiko. 

Ketika di Makassar, kapal Perang KRI 405 sandar di Pelabuhan, ia iseng melamar jadi koki. Ia diterima dan menjalani hari-harinya sebagai koki di kapal. Ini ia jalani hampir satu tahun lalu pindah ke Bioskop Jaya yang berhadapan dengan Bioskop Dewi Makassar. Dari bioskop itulah ia mempunyai kesempatan melatih vocalnya kembali dengan lagu-lagu India dan Rhoma Irama yang banyak diputar di Bioskop tempatnya bekerja. 

Tahun 1975, ia pulang kampung dengan gaya rambut gonrong. Sampai-sampai keluarga dan tetangganya pun tak mengenali bahwa yang datang itu adalah Saleh. Di Wonomulyo, ia sempat nonton pertunjukan Orkes Karya Jaya dan mendaftarkan dirinya sebagai penyumbang lagu. Ia hanya menberanikan diri menyumbang karena tak satupun krew Karya Jaya kenal dengan penyumbang yang satu ini. Pada saat tampil, penonton bersorak karena sangat puas dengan tampilannya. 

Dari penampilan pertama itulah, namanya mulai dikenal dan menjadi buah bibir. Hal yang memantik namanya menjadi populer, selain suaranya yang bagus, warna vocalnya juga khas. Ditambah lagi, ia piawai memainkan keyboard serta mahir menyusun kalimat untuk ia gubah jadi lagu. 

Dari segala kelebihannya itu, pada tahun 1984,ia dilirik oleh Edwin Jansen, pemilik toko Jansen yang ada di sudut perempatan lampu merah Wonomulyo sekarang ini. Edwin menyuruhnya mencari seorang wanita untuk nyanyi bareng. Kepada Saleh, ia diberi amanah dan modal sebanyak 8 juta rupiah. Jumlah yang pantastis untuk ukuran pada tahun 1980an. Saleh akhirnya memilih Indar Dewi sebagai teman bernyanyinya. Indar Dewi adalah kelahiran Pelitakan tapi tinggal di Muara Badak Kalimantan. 

Dengan modal dari Edwin itu, ia menuju ke Makassar untuk mencari studio rekaman. Pilihannya jatuh ke Libel Record untuk menggarap album perdananya dengan Indar Dewi. Album perdana yang ia garap adalah lagu Pop Makassar dengan sampul album Kanjengma Ri Kamaseku (1985). Album kedua yang ia rilis adalah lagu Bugis bertajuk Bugis Abadi dengan sampul album Idi'na Sabari (1986). Album keduanya ini digarap di Studio Pance Pondang di Jakarta. Ia juga langsung ke Surabaya sebelum akhirnya kembali ke Sulawesi. Siapa sangka, album kedua ini tenbus 1 juta copy. 

Dari sini, Saleh semakin tenar dan karir menyanyinya melejit. Ia sudah banyak menerima undangan tampil dan aktif di Orkes Karya Jaya milik Sudir Akib Pawellai. Namanya melambung bersama Iwan Tompo dan Anci Laricci sebagai penyanyi paling populer di Indonesia Timur. Lagu-lagunya selalu ditunggu oleh penggemarnya. 

Pada tahun 1990, ia kembali merilis albumnya melalui sampul Pitu Ana' Ende'. Selanjutnya, ia berhasil merampungkan lagunya yang bertajuk Sallang Salili, Larra Tembang, Janda Magello, Palippis Jari Sa'bi, Mamboyangngi Sara Nyawa, Nama'anna Titedoang, Sala Rannu dan puluhan lagu lainnya yang lahir sejak tahun 1985-2000. 


Senin, 05 Agustus 2024

MENGINTIP KEHADIRAN HENDRA SINGKARRU || Dalam Konferensi Pers Rumah Jonga.

Catatan Muhammad Munir. 

Diantara ribuan manusia yang hadir dalam acara Konferensi Pers Rumah Jonga kemarin, ada satu sosok yang membuat saya ikut memekik Allahu Akbar. Sosok itu punya magnet tersendiri bagi saya. Tentu saja bukan karena saya pernah menjadi bagian dari perjalanan suksesnya, tapi lebih kepada sebuah keputusannya bergabung dalam koalisi Sulbar Maju dan ikut membersamai SDK-JSM merawat martabat Sulawesi Barat ini. 

Tokoh yang saya maksud itu adalah sosok yang disebut SDK dalam sambutannya. Ia adalah H. Hendra S. Singkarru. Siapa yang tak kenal tokoh nasional asal Mandar ini?. Siapa yang tak bisa membayangkan peluang kemenangan itu ketika Begawan Ekonomi dari Sulbar itu menjadi salah satu pemikat dari ratusan pemikat yang melingkari Sumbu Kemenangan SDK-JSM ini?. Keberadaan Hendra Singkarru tentu menjadi berkah buat kita, sebab bagaimanapun ia adalah sosok yang banyak menginspirasi tokoh politik yang kokoh berjuang untuk kemajuan Sulawesi Barat. Andai bukan untuk Mandar (baca: Sulbar), Dirga, Ratih dan Andry tak akan pernah ada dalam catatan sejarah politik Sulbar. 

Lewat tulisan ini, saya ingin sedikit berbagi tentang H. Hendra S. Singkarru yang pada medio 2007 lalu tiba-tiba melirik dunia politik dan memantapkan pilihan ke Partai Amanat Nasional sebagai kendaraan politiknya di Pemilu 2009. Sejak itu, berbagai terobosan demi terobosan dilakukan. Tagline "Menebar Bakti Membangun Sulbar" yang sebangun dengan "Hidup Adalah Perbuatan', jargon politik Ketua Umum PAN, Sutrisno Bachir. Strategi politik yang dibangunnya cukup membuatnya melenggang ke Senayan dan tercatat sebagai Anggota DPR RI Periode 2009-2014. 

Hendra berhasil merebut satu dari tiga kuota kursi di Senayan bersama Salim S. Mengga (Demokrat) dan Ibnu Munzir (Golkar). Begawan Ekonomi dari Mandar itu lahir di Polewali, 20 Desember 1959 dan semakin bersinar saat berstatus sebagai wakil rakyat. Pemilik Hotel Ratih itu dalam perjalanannya sebagai Anggota DPR RI banyak berkonstribusi ke Sulawesi Barat dalam bentuk program pro rakyat. Diantara program nasional yang berhasil dikawal ke tanah kelahirannya itu adalah Pengadaan Handtraktor, PPIP, Jalan Tani, Tersier dan lainnya. Belum lagi Yayasan Ratih Al-Kafa pimpinan Hj. Rita Puspita, istri beliau yang konsentrasi membina ibu-ibu dalam bentuk pengajian yang guru-guru ngajinya ditanggung biaya hidupnya. 

Demikianlah jebolan S-1 Universitas Kristen Indonesia ini kian booming bukan saja kerena kemasan media, tapi seringnya ia blusukan dan menjadi figur di belakang layar dalam menentukan setiap potensi seorang kandidat dalam berkompetisi di setiap pemilihan. Hendra yang memulai karir politiknya sebagai Anggota DPR RI ini justru popularitasnya melejit sejalan dengan investasi sosial yang diberikannya. Sekitar 80.000 jamaah pengajian Yayasan Ratih Al-Kafa di seantero Sulbar mampu tergalang dan tercerahkan. 

Di kalangan politikus Sulbar, ia cukup disegani lawan maupun kawan karena loyalitas politiknya. Loyalitas tersebut telah ditunjukkan pada dua kesempatan; pertama, pada Pilgub 2011 ketika Salim S. Mengga-Jawas Gani direstui mengendarai PAN. Salim Mengga alih-alih memberikan "setoran" pada PAN, Hendra justru menjadi salah satu donatur terbesar bagi pasangan SALIM SAJA. Hal yang sama ia lakukan saat Asri Anas di Pilkada Polman 2013. Asri cukup dimanjakan oleh Hendra dalam rekruitmen dan mobilisasi massa. 

Hendra memang bukan politisi pengabdi kekuasaan, mendukung dan melawan, menang dan kalah adalah dinamika politik yang biasa baginya, namun prinsip, loyalitas dan integritasnya tak pernah tergadai. Dari awal ia dikenal memiliki jiwa sosial yang senang berderma, kaya dan santun. Mungkin karena itulah, pada Pemilu 2014, Dirga Adhi Putra Singkarru, putranya menjadi peraih suara terbanyak dengan total suara pribadi 79.563, tidak tanggung-tanggung mampu mengalahkan perolehan suara istri Gubernur Sulbar saat itu, Enny Angraeni Anwar yang meraih 59.317 suara, Andi Ruskati Ali Baal 55.016 suara dan Salim S. Mengga 51.099 suara. Meski kemudian Dirga tidak lolos ke Senayan, tapi Hendra Singkarru berhasil menunjukkan pada semua politisi di Sulbar, bahwa instrumen politik yang dimilikinya setingkat dengan AAS, ABM dan Salim Mengga. Dan faktanya, dalam percaturan politik Sulbar, Hendra Singkarru menjadi prioritas alternatif bagi para kandidat yang ingin menambah akselerasi gerakan politik mereka. 

Pada Pemilu 2019, H. Hendra kembali menunjukkan pada semua politisi di jagad Mandar dengan lolosnya dua orang anaknya ke Senayan. Ratih Megasari Singkarru melenggang ke Senayan dan mampu mengalahkan secara dramatis Anwar Adnan Saleh Mantan Gubernur dua periode dengan hanya selisih dua suara. Demikian juga Andry Prayoga berhasil lolos jadi Senator Sulbar sebagai Anggota DPD RI bersama Iskandar Muda Barlop, Ajbar dan Almalik Pababari. 

Nasib baik terus menghampiri Family Singkarru ini. Dalam rentang waktu lima tahun terakhir, putra putrinya menjadi ikon politisi Sulbar yang kembali menghentak panggung  politik lokal Sulbar pada Pemilu 2024 yang dihelat 14 Februari lalu. Ratih dengan partai Nasdem melenggang kembali ke Senayan dengan perolehan suara diatas 100 ribu. Ia bahkan melampaui perolehan suara Suhardi Duka (Demokrat), Agus Ambo Djiwa (PDIP), dan Ajbar (PAN). Di Polman, ada semacam Ratih Efect yang nyaris menggulingkan Golkar sebagai Pemenang Pemilu di Polman (meski demikian, Nasdem dan Golkar masing-masing meraih kuota 7 kursi). Andri Prayoga pun demikian, perolehan suaranya bertengger diposisi teratas mengalahkan Jupri Mahmud, Andi Ian Rusali dan Almalik. Bahkan satu petahana harus merelakan kursinya, yakni Iskandar Muda Barlop. Menariknya, Iskandar Muda justru dilirik dalam Pilkada Polman mendampingi Dirga Adhi Putra Singkarru  sebagai Calon Bupati Polewali Mandar. 
Pada level paling kecil, Imam Efendy Singkarru juga meraih suara yang signifikan dan mengantarkan 3 orang kader Nasdem lolos menjadi Anggota DPRD Polman (dari Dapil 1 Polewali Mandar). 

Sampai disini, saya menganggap kehadiran H. Hendra S. Singkarru adalah pemantik kemenangan. Keberadaan H. Hendra S. Singkarru dalam koalisi Sulbar Maju ini akan menjadi salah satu kunci kemenangan. Kemenangan terbesar kita adalah ketika SDK - JSM jadi Gubernur Sulbar dan DIRGA - ISKANDAR bisa memimpin sebagai Bupati dan Wakil Bupati Polewali Mandar. 

Sehat selalu H. Hendra S. Singkarru. Teruslah menginspirasi dan Selamat Bergabung dalam Pemenangan SDK-JSM. Selamat Berjuang bagi pendukung dan simpatisan Dr. Suhardi Duka - Jendral Salim Mengga. 

MEMBACA RUANG BATIN DAN JEJAK SDK-JSM || Menuju Pilkada Gubernur 2024


Catatan : Muhammad Munir

Terjawab sudah apa yang menjadi alasan Salim Mengga menjadi Cawagub dari SDK dalam kontestasi Pilkada 2024 yang akan dihelat pada 27 November nanti. Dalam Konferensi Pers di Rumah Jonga (5/8), baik Salim maupun SDK mengungkap apa yang melatari paket kedua sosok ini. Alasan fisik menjadi pilihan untuk memposisikan SDK sebagai Calon Gubernur, sementara Salim memilih jadi wakilnya. Hal tersebut dibenarkan oleh SDK dalam sambutannya pada acara yang sama. "Dengan tampilan saya yang begini, apa mungkin saya berani mengatakan pada Pak Jendral, kau jadi wakil. saya?". Ucap SDK yang diikuti sorakan dari para pendukung yang memadati halam rumah Jonga.


Road Show Politik yang dikemas dalam Konferensi Pers   pasangan SDK-JSM ini menjadi penting untuk dicatat, karena sebelumnya banyak yang berfikir tak ingin mendukung JSM karena maju sebagai wakil. Demikian juga tak sedikit yang kecewa pada SDK yang tak beretika menjadikan JSM sebagai wakilnya. Momentum Rumah Jonga ini menjadi jawaban atas sengkarut politik yang melingkupi keduanya. Sekarang tak ada alasan lagi untuk tidak mendukung pasangan ini. SDK - JSM adalah refresentasi amandaran. Mandar itu bukan suku, tapi ia adalah nilai yang dibangun oleh nenek moyang kita dalam Assitalliang Sipamada' di Luyo.   Mumuju adalah Mandar, PUS adalah Mandar, Binuang adalah Mandar. Tak boleh adalagi sekat antara Mandar dengan penutur bahasa yang lain. Terlebih saat ini, kita sudah terbingkai dalam kata Sulawesi Barat.


SDK dan JSM adalah sosok yang ketokohannya tak lagi dipertanyakan. Kita mesti menjadi bagian dari proses pemenangan yang mampu mengedifikasi alasan-alasan untuk mendukung keduanya. Diantara banyak alasan yang bisa jadi pemantik salah satunya adalah rekam jejak keduanya. SDK adalah birokrat yang terangkat jadi PNS 1986 dan banting setir jadi politisi pada tahun 1990. Pentolan Pemuda Panca Marga, Ketua AMPI dan Ketua KNPI itu menyambut takdirnya lewat partai Golkar dan menjadi anggota DPRD Mamuju selama 5 periode hingga menjadi Ketua DPRD Mamuju. Dari tangannya terlahir rekomendasi yang ikut melahirkan Sulbar sebagai propinsi. Tak hanya itu, ia bahkan menjadi Bupati Mamuju selama 2 periode dan kini masih menjabat dan kembali lolos sebagai Anggota DPR RI di Senayan. Menjadi wakil rakyat di Senayan jangan berfikir bahwa jabatan itu ia gunakan sebagai ajang gagah-gagahan. SDK justru menjadi singa dalam berbagai sidang di Gedung Rakyat itu, bahkan tak terhitung program strategis nasional ia giring ke Sulawesi Barat.

Lalu JSM. Siapa yang tak kenal dengan Jendral Salim Mengga?. Ia putra S. Mengga yang memiliki jasa besar terhadap warga Mamuju (baca: Mandar). Pada masa pergolakan (1952-1964) ketika cengkraman Bn. 710 dan DI/TII benar benar memuncak. Ada ribuan warga Mamuju dan sekitarnya yang diungsikan oleh S. Mengga ke Ujung Lero. Tak hanya diungsikan, tapi dihidupi dan dijamin makan meski ia dan pasukannya harus menjadi bajak laut di Selat Makassar dengan menghadang sejumlah kapal niaga pasukan Andi Selle Mattona. Kapal itu dirampok oleh pasukan Mandar Baru demi bertahan hidup dan menghidupi pengungsi.


Salim S. Mengga merupakan putera kedua S. Mengga dari 3 (tiga) bersaudara, yaitu: Syarifah Asia S. Mengga (Almarhumah Istri Prof. DR. Umar Shihab, MA) dan Ir. Aladin S. Mengga (Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2011-2016). Ketaatan beragama, kewibawaan sikap mandiri dan merakyat menjadi salah satu energi yang dimilikinya. Sikap yang demikian itu adalah perpaduan dari garis keturunan sang kakek (orang tua S. Mengga), bernama Sayyid Muhsin al-Attas dan neneknya Hj. Cilla, seorang bangsawan Mandar dari keturunan Arajang Balanipa Pammarica. 

Pammarica adalah sosok yang tak saja jadi Raja di Balanipa, tapi juga di Binuang dan Mamuju. Pammarica menjadi Mara'dika Mamuju yang turunannya masih menjadi pemilik trah darah biru di Mamuju. Maka tak heran jika Salim S. Mengga begitu fasih melantunkan ayat-ayat Al-Quran dan taat menjalankan ibadah shalat lima waktu, dan dibanyak tempat ia sering memberikan cerama-ceramah agama dan khutbah shalat ied.


Mayor Jendral yang melekat didepan namanya cukup menjadi bukti bahwa komitmen membangun bangsa dan negara tak perlu diragukan. Ketika menjadi Anggota DPR RI di Senayan, Salim bahkan dikenal sebagai wakil rakyat yang memilih integritas tinggi dan susah diatur. Di Partai Demokrat, jangankan Sekjend, Ketua Umum Demokrat, SBY saja segan pada sosok Jendral yang satu ini.


Inilah pentingnya edifikasi sosok keduanya. Termasuk sikap, karakter dan dedikasi SDK-JSM pada daerah ini layak diedukasi pada simpatisan dan tim secara khusus, bahkan secara umum bagi masyarakat Sulbar. 

KONE- KONE'E || Bahasa Maloso' DAS Mapilli

   
Tulisan saudara Christian ini menarik jadi perhatian dan obyek diskusi. Oleh karenanya kami menaikkan kembali agar siapapun yang membacanya bisa menambah wawasan kita semua tentang Bahasa Maloso yang tak lain adalah Kone'e. 

Berikut tulisannya yang telah mengalami suntingan tapi tidak mengurangi esensi dari tulisan : 

Bahasa Maloso' adalah salah satu bahasa asli yang digunakan di Mandar. Bahasa ini lebih populer dengan istilah Kone-Kone'e. Salah satu pendapat dari Rumpun keluarga Campalagian (To Turungang), bahwa suku kata dalam bahasa tersebut kebanyakan berakhiran  'e' atau yang menonjol dengan kata 'eheh' atau Konsonan E dari Konsonan E menjadi Kone-kone'e dan kemudian disebut To kone-kone'e. 

Tanpa kita sadari, orang Mandar di Polewali Mandar memakai bahasa yang mayoritas di klaim satu-satuya bahasa asli Mandar adalah kalau bicara sudah pasti banyak  E (naniapa mo'e, nama' apa moe) dan lainnya. Meski dibelahan bumi Mandar, terdapat banyak dialek sebab banyak faktor yang mempengarui seperti  faktor geografis. 

Satu kelompok yang sangat berjauhan selama puluhan tahun tak bertemu sudah pasti  bahasanya akan berubah termasuk dialeknya. Perubahan lainnnya di sebabkan adanya kemajuan daerah setempat yang memicu datangannya para pedagang yg masing masing membawa bahasanya.  Lambat laun, mereka berbaur dan mempengaruhi bahasa setempat. 

Disinilah proses terjadinya asimilasi budaya, termasuk bahasa. Karna bahasa pendatang itu dianggap lebih maju, maka mereka lebih suka bahasa pendatang. Hal ini bisa kita saksikan dalam penggunaan dialek Bugis dan Makassar, bahkan Toraja.

Hal yang tidak bisa di pungkiri dari eksistensi 3 bahasa tadi sangat berpengaruh, sebab di masa itu Bugis, Makasar dan Toraja, memiliki kemajuan dari segi ekonomi. Inilah kemudian yang membuat kondisi sosial masyarakat Mandar penuh dengan istilah Bugis, Makassar dan Toraja.

Bugis, Makassar dan Toraja memang sangat berpengaruh ke Mandar karena  capaian kemajuan yang mereka miliki  sangat mendukung orang Mandar berdialektika. Kemajuan itu dimiliki karena mereka menguasai ilmu pengetahuan. Pengetahuan mereka itu bahkan harus mengupgradenya dengan bahasa Inggris, Jepang, Prancis dan Mandarin. Mereka beranggapan bahwa menguasi ilmu pengetahuan mengharuskannya juga harus menguasai bahasa asing. 

Faktor ekonomi, pengetahuan ini  berpengaruh secara politik makanya di Mandar banyak yang claim kita karna adanya kemiripan bahasa. Kendati begitu, Mandar tetap menjadi awal peradaban masyarakat Autronesia pertama yang masuk di wilayah  Sulawesi, bahkan kerajaan kerajaan awal dari jaman neoltikum sudah ada di daerah Mandar. 

Kerajaan-kerajaan itu   sudah ada pada awal masehi yang memicu masyarakatnya berimigrasi ke tempat yang lebih aman hingga membetuk suku suku besar di Sulawesi Selatan. Penyebabnya adalah karna daerah Sulawasi Barat atau Mandar dianggap rawan bencana alam sejak dulu sampai sekarang. 

Bahasa Maloso sebagai bahasa induk pada rumpun penutur bahasa Kone'e adalah bahasa Mandar dialeg Campalagian, Mapilli, Nepo dan sekitarnya yang juga dipengaruhi. Tapi tentu saja Mandar tidak melulu kalah dalam percaturan kebudayaan, sebab wilayah ini juga pernah sangat berpengaruh dan berdaulat pada zaman Kerajaan Passokkorang.

Passokkorang ini pernah berkuasa dan berdaulat. Wilayah komunitas penutur bahasa Maloso' dipengaruhi oleh keberadaan suku Bugis yang dulu pernah berdiaspora di daerah ini. Artinya bahwa entah bahasa Maloso yang jadi popular atau bahasa  Maloso yang meredup akibat para pendatang baru itu. Mereka dengan bahasa dan budayanya itulah hinga terjadi asimilasi budaya dan bahasa bahasa serta budaya. 

Beberapa daerah seperti Bugis, Makassar, PUS, Toraja, bukan berarti  orang-orang yang tinggal di lembah  Maloso. Mereka adalah para pendatang. 

Ciri masyarakat asli adalah meredup atau stagnan atau tidak maju, seperti kehadiran Pannei, Pattae. Ini juga mereka lebih suka berbahasa  Mandar meski yang mendominasi adalah  Bugis, karna lebih maju. Sama dengan di daerah PUS yang lebih banyak meniru bahasa Toraja dan Duri Enrekang karna daerah ini lebih maju, tetapi bahasa PUS itu ada beberapa yang masih digunakan seperti Tabulahan, Aralle, Bambang dan lainnya.  

Hal yang sama juga terjadi di Mamuju.  Bahasa asli mereka sudah mulai pudar dan kadang dianggap bahasa pendatang.  Ini tentu adalah problem, sebab bahasa Mamuju Kota, Panasuan Kalumpang, Talondok Kondo, Bonehau Kalumpang adalah proses asimilasi sebab bahasa asimilasi yang populer di pakai... 

Penutur Bahasa Maloso ini mendiami daerah Mapilli, Tapango, Luyo, Wonomulyo dan sekitarnya. Bahasa Maloso ini terbagi dua dialedialek yakni  Campalagian dan dialeg Buku. Bahasa ini terancam punah dan tidak berkembang.  Ciri bahasa asli itu cenderung meredup dan kurang popular akhirnya banyak di tinggalkan. 

Bahasa Maloso atau Kone Kone'e umumnya mirip bahasa Mamuju, Tabulahan, Mangki, Pattae, Pannei dll. Ini semua bahasa asli Mandar yang kurang popular di Mandar.  Pada setiap wilayah pasti berbeda bahasa dan dialek, tetapi kalau di telusuri pasti ada kesamaannya. Kenapa kemudian bisa berbeda beda, diduga itu terjadi karena kita lebih banyak meninggalkan budaya dan bahasa beralih ke budaya luar yg lebih maju.. Contoh  di daerah Polewali, orang lebih suka pake bahasa Bugis dibandingkan dengan memakai bahasa asli Mandar. 

Orang Mandar kalau pake bahasa Bugis,  katanya lebih keren.  Mungkin karna Bugis banyak pintar jadi orang lebih suka. Bahasa  Tomaloso/ kone-kone'e, orang lebih mudah mengolongkan Bugis sebab di samping Bugis lebih maju budayanya, juga karena nama daerah yang penamaanya sama. Bahasa Bugis mirip Campalagian, itu wajar karena mereka dimana saja  memasuki daerah, selalu meninggalkan jejak. Bahasa, etika dan etos kerja menjadi sebuah warna yang cukup menggembirakan.  

Penulis: 
Christian ST, MSi
Peneliti sejarah Mandar dan Pengelola group SEJARAH MANDAR

Sang BAJAK LAUT


Pada 27 September 1677, Robertus Padtbrugge (Gubemur Maluku) bersama Olongia Gorontalo melakukan pertemuan, salah satu pembahasannya adalah masalah bajak laut. 

Pada tahun 1690, perompakan di pantai utara Sulawesi dan kawasan Teluk Tomini mengalami peningkatan. Para bajak laut dari Mangindano telah memperluas wilayah operasinya dari Filipina Selatan terus ke pantai utara Sulawesi sampai di kawasan Teluk Tomini. Mereka menggunakan jenis perahu coro-coro yang mampu menyusuri sungai dan pantai. Sasaran utama perompakannya adalah kapal-kapal dagang milik VOC (Juwono dan Hutagalung 2005:107).

Di pantai utara dan timur Sulawesi juga muncul perompakan yang dilakukan para pelaut Bugis dan Makassar. Para bajak laut Bugis dan Makassar lebih memiliki strategi serta cara kerja yang lebih baik. Sepanjang wilayah operasinya, mereka mendirikan pangkalan-pangkalan yang letaknya strategis di antara pelabuhan besar atau dekat dari transit kapal dagang. Pangkalan mereka antara lain di Donggala berfungsi untuk mengawasi kegiatan kapal-kapal di Teluk Palu. Mereka juga mendirikan pangkalan di Kalangkangan untuk mengawasi pelabuhan Tolitoli dan Kwandang, dan mengawasi serta mencegat kapal-kapal yang memuat barang dagangan dari Gorontalo ke Manado atau sebaliknya. Setiap pangkalan mempunyai seorang pemimpin, dan mereka membentuk jaringan yang saling membantu ketika menghadapi musuhnya (Juwono dan Hutagalung, 2005:108-109).

Selain melakukan perompakan, beberapa bajak laut Bugis juga sebagai pedagang. Mereka melakukan kerjasama dengan para penguasa lokal, seperti Gorontalo, Limboto, Parigi dan Buol. Mereka menjual barang dagangan, seperti produk tekstil, beras, dan garam. Sebaliknya olongia dan bangsawan Gorontalo membayamya dengan emas atau budak. Olongia dan bangsawan Gorontalo memandang peluang dengan memperoleh keuntungan lebih besar jika transaksi dengan pedagang Bugis, dibandingkan melakukan transaksi bersama VOC dengan harga yang telah ditetapkan melalui kontrak perjanjian.

Pada abad ke-18, terjadi peningkatan jumlah perompakan kapal-kapal dagang VOC. Munculnya pelaut Mandar sebagai bajak laut di perairan Gorontalo telah menambah semakin meningkatnya perompakan di kawasan Teluk Tomini. Bajak laut Mandar mendirikan pangkalannya di Gorontalo agar mudah mengawasi perairan Gorontalo di kawasan Teluk Tomini. Laporan banyaknya kejadian perompakan menyebabkan Gubemur Maluku di Temate, Pieter Rooselaar mengambil tindakan untuk mengusir para bajak laut di Gorontalo. 

Pada tahun 1702, Rooselaar mengirim armada lautnya yang mendapat bantuan dari penduduk Tambokan menyerang basis pangkalan Bugis dan Mandar, dan berhasil mengusirya. Pada 25 Februari 1703, Rooselaar menarik kembali armadanya ke Ternate (Juwono dan Hutagalung 2005:110-111), setelah mengetahui bajak laut Bugis dan Mandar tidak kembali lagi ke Gorontalo.

Sehubungan aktivitas perompakan yang dilakukan oleh para pelaut Bugis, Mandar, dan Mangindano di perairan Gorontalo. Pada tahun 1705, VOC mendirikan benteng di muara Sungai Gorontalo dikenal dengan nama Fort Nassau dan beberapa loji untuk melindungi perdagangannya dari serangan para bajak laut di perairan Gorontalo. Kemudian mendirikan kantor dagang (factory) dan sekaligus gudang penampungan barang (pakhuis) ekspor. Bahan pembuatan benteng dibebankan kepada Olongia Gorontalo sesuai dengan perjanjian tahun 1679 (Hasanuddin dan Amin, 2012:68).

Walaupun pangkalannya di Gorontalo telah dihancurkan, namun bajak laut Mandar masih aktif melakukan perompakan. Pada 20 Nopember 1713, kapal dagang VOC "Noodhulp" mengangkut hasil bumi dan rempah-rempah di Lambunu, Teluk Tomini telah dirompak oleh bajak laut Mandar. Mereka kemudian membunuh Onderkoopman Nicolaes van Beverwijk, sedangkan asistennya Johannes Truytman mengalami luka-luka. Gubemur Maluku, David van Peterson mengecam kejadian tersebut, kemudian melakukan pembalasan dengan mengirim sejumlah kora-kora di Lambunu, namun usahanya mengalami kegagalan (Juwono dan Hutagalung 2005:114).

Gubernur Maluku memerintahkan Olongia Gorontalo yang mempunyai pengaruh besar di kawasan Teluk Tomini untuk menyelesaikan keamanan di wilayahnya. Walaupun mendapat persetujuan dari olongia, tetapi sebagian besar bangsawan menolak perintah VOC. 

Para bangsawan menyadari tekanan politik VOC melalui perjanjian-perjanjian yang dibuatnya sangat merugikan Gorontalo. Mereka lebih suka berhubungan dengan para bajak laut Bugis dan Mandar yang lebih banyak memberi keuntungan dari pada menjalin hubungan dagang dengan VOC. Tidak mengherankan beberapa bangsawan memberikan kemudahan bagi aktivitas para bajak laut dalam melakukan perdagangan dan memberi perlindungan, sehingga bajak laut sulit ditangkap oleh VOC.

Pada 30 Nopember 1716, Olongia Gorontalo menyurat kepada penguasa VOC di Manado agar mengirim armadanya ke Teluk Gorontalo (Teluk Tomini). Tujuannya adalah untuk mengusir bajak laut Bugis yang bernama Sarena bersama seratus anak buahnya mendarat di daerah Mabampa. Kelompok Sarena sering melakukan berbagai tindakan kekerasan di daerah pantai, di antaranya menangkap orang-orang Gorontalo untuk dijadikan budak dan menjualnya ke Buton. Di Buton, para budak ditukarkan dengan barang-barang selundupan, terutama beberapa peti amunisi (Juwono dan Hutagalung, 2005:121).

Semakin rapatnya pengawasan VOC melalui patroli kapal perangnya di kawasan Teluk Tomini, menyebabkan para bajak laut Bugis dan Mandar mengalihkan pangkalannya di Buol, karena mereka telah menjalin hubungan kerjasama dagang dengan madika dan bangsawan Buol. Pada 30 Nopember 1722, terjadi konflik antara Buol dengan Gorontalo dan Limboto disebabkan penduduk Tomboli melarikan diri ke Buol. Olongia Gorontalo meminta Madika Buol untuk mengembalikan penduduk Tomboli ke Gorontalo, namun mendapat penolakan. Akhimya Adrian van Leene (penguasa VOC di Manado) turun tangan untuk menyelesaikan konflik kedua kerajaan tersebut. Leene berangkat ke Buol untuk mengembalikan penduduk Tomboli, namun mendapat penolakan dari Madika Buol, bahkan kemudian kapalnya diserang lima puluh perahu Bugis dan Mandar sampai di muara Gorontalo (Juwono dan Hutagalung 2005:122-123).

Akibat peristiwa Leene, dan seringnya berkeliaran bajak laut Bugis dan Mandar di perairan Gorontalo dan Teluk Tomini. J.Christiaan Pielat (Gubemur Maluku) mengambil keputusan untuk membasmi bajak laut Bugis dan Mandar. Kemudian mengutus Kapten Elias van Stade dengan armadanya ke Gorontalo. Kapten Stade menyusuri Teluk Tomini dan berhasil mengusir para bajak laut Bugis dan Mandar di perairan Teluk Tomini. Kapten Stade kemudian melanjutkan perjalanannya ke Buol, dan berhasil menekan Madika Buol untuk memenuhi tuntutan Gorontalo agar melepaskan penduduk Tomboli (Juwono dan Hutagalung, 2005:123-124).

Pada tahun 1750-an, bajak laut Mandar dipimpin Daeng Mapata memperluas kegiatan operasinya di wilayah pesisir Gorontalo sebagai jalur pelayaran kapal-kapal pengangkut produk berupa emas, hasil bumi, dan hasil hutan. Daeng Mapata memiliki hubungan dagang dengan Botutihe (Olongia Gorontalo) dan bangsawan Gorontalo. Daeng Mapata membawa hasil-hasil hutan berupa kayu, lilin, madu, damar, getah, dan rotan di Gorontalo (Juwono dan Hutagalung, 2005:166). Bagi pedagang Bugis, Mandar, dan Makassar seringkali membawa barang dagangan yang dilarang diperdagangkan oleh VOC, seperti senjata, amunisi, dan candu di Gorontalo. Kembalinya membawa yaitu budak yang merupakan komoditas utama dan menghasilkan keuntungan besar di Makassar.

Terjalinnya hubungan dagang antara olongia dan bangsawan Gorontalo dengan para bajak laut Bugis dan Mandar menyebabkan VOC mengalami kerugian besar. VOC menuduh Olongia Gorontalo melanggar perjanjian yang telah disepakati yaitu mengusir para bajak laut dari daerahnya. Sebaliknya, para bangsawan melindungi para bajak laut Bugis dan Mandar. Peranan benteng VOC "Nassau'' yang letaknya di muara Sungai Gorontalo dengan sejumlah pasukan untuk mengamankan kepentingan ekonominya ternyata tidak banyak membantu mencegah aktivitas para bajak laut. Begitu pula kurangnya jumlah kapal VOC di perairan Gorontalo menyebabkan tidak efektifnya pengawasan dan kontrol terhadap para bajak laut di kawasan Gorontalo. Perebutan daerah-daerah potensial penghasil komoditas penting antara VOC dengan pedagang Bugis dan Mandar seringkali menimbulkan konflik untuk menguasai suatu daerah yang dianggap strategis.

Pada tahun 1790, diKwandang hampir terjadi penyerangan terhadap pasukan wakil VOC yang dilakukan oleh bajak laut Bugis dipimpin Puang Nyili. Penyerangan Puang Nyili mendapat bantuan dari bajak laut Ilanun. Faktor kemarahan Puang Nyili disebabkan wakil VOC di Kwandang telah membunuh putranya bernama Labajo bersama semua pengikutnya, karena tanpa izin dari VOC mereka memasuki wilayah Kwandang. Mengetahui kabar dibunuhnya Labajo, menyebabkan Puang Nyili ingin membalas kematian anaknya dan pengikutnya. Namun, penyerangan mengalami kegagalan setelah bantuan pasukan dari Temate tiba di Kwandang (Riedel, 1870:117).

Pada abad ke-19, perompakan di kawasan Teluk Tomini mengalami peningkatan, walaupun seringkali dilakukan patroli kapal perang Belanda. Laporan umum Asisten Residen Gorontalo, pada tahun 1824, 1832, 1833, dan 1834 terjadi jumlah perompakan yang cukup besar. Asisten Residen Gorontalo kemudian menyurat kepadan Gubemur Jenderal Hindia-Belan dan di Batavia tentang aktivita para bajak laut, dan meminta bantuan Gubemur Jenderal untu secepatnya menumpas para bajak laut yang telah menggangu pelayaran dan perdagangan di wilayahnya. Laporan Asisten Residen Gorontalo ditanggapi serius dengan menempatkan sebuah kapal uap perang untuk mengawasi bajk laut di perairan Gorontalo (Rosemberg, 1865:15).

Dalam pelayaran Monoarfa (Olongia Gorontalo), bersama Lihawa (Olongia Paguat), tuan Kumis meneer Poipiser, dan dua jogugu dari kerajaan Gorontalo dan Paguat bertemu dengan bajak laut dari Tobelo di Bumbula. Bajak laut Tobelo menyerang kapal Olongia Monoarfa. Penyerangan bajak laut Tobelo berhasil digagalkan oleh rombongan Olongia Monoarfa. Setelah mengalami kegagalan, para bajak laut Tobelo memilih melarikan diri. Peristiwa penyerangan bajak laut Tobelo, dan masih seringnya terjadi perompakan di perairan Gorontalo yang secara langsung menghambat jalur perdagangan Gorontalo, maka Olongia Monoarfa meminta bantuan orang-orang Bugis untuk mengamankan dan mengusir bajak laut di perairan Gorontalo.

Pertengahan abad ke-19, orang-orang Mandar telah mendominasi kegiatan perdagangan dan perompakan, sedangkan kegiatan bajak laut Bugis mulai mengurangi aktivitasnya. Walaupun Bugis mengurangi aktivitasnya, tetapi kegiatan perompakan masih sering terjadi, dan Pemerintah Hindia Belanda semakin meningkatkan patroli kapal perangnya di kawasan Teluk Tomini. Pada tahun 1878, terjadi perubahan strategi dalam kegiatan perompakan.

Mereka tidak lagi melakukan perompakan secara terbuka, namun mereka hanya menunggu kapal-kapal dagang atau melakukan penjarahan di kampung-kampung, seperti terjadi pada bajak laut Tobelo menjarah dan menculik penduduk kampung-kampung di Banggai. Semakin ketatnya pengawasan kapal patroli Belanda menyebabkan semakin sempitnya ruang gerak para bajak laut. Akhirnya banyak pemimpin bajak laut Tobelo menyerahkan diri kepada Pemerintah Hindia Belanda. Salah satu pemimpin paling berpengaruh dan ditakuti bernama Medo atau Medomo bersama anak buahnya menyerahkan diri kepada Pemerintah Hindia Belanda (Velthoen, 2010:215).

Perompakan di Teluk Tomini dan pantai utara Sulawesi sering dianggap sebagai bentuk menentang penindasan oleh pihak yang lemah terhadap mereka yang mendominasi. Para bajak laut di Teluk Tomini yang terkenal selama abad ke-19 adalah Tombolotutu, seorang bangsawan dianggap oleh penduduk setempat sebagai tokoh yang bangkit menentang dominasi politik dan ekonomi Pemerintah Hindia Belanda (P.J. Veth, 1870:175-176).

Pemberontakan Tombolotutu disebabkan pada tanggal 3 Juni 1898, penobatan Raja Moutong bernama Daeng Malino berasal dari garis pria keturunan Mandar yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kurangnya pemahaman Pemerintah Hindia Belanda tentang tradisi dan adat Kajeli yang lebih mengutamakan mereka yang diturunkan dari garis wanita, sehingga seharusnya yang menjadi raja adalah Tombolotutu (Poidarawati) karena merupakan pewaris tahta yang sebenarnya. Pengangkatan Daeng Malino sebagai Raja Moutong bertujuan untuk mempertahankan perampas tahta, tidak menimbulkan kerugian bagi Belanda karena Tombolotutu tidak dapat diajak kerjasama, dan Tombolotutu dituduh sebagai pemberontak, dan dijatuhi hukuman mati karena pembunuhan (Soerabajasch Handelsblad, 1902:1).

Dalam dekade awal abad ke-20, kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda menghadapi perlawanan para bajak laut berakhir, hampir sebagian abad ke-19 kapal-kapal perang Belanda diperintahkan untuk selalu aktif melakukan patroli. Hal ini kemudian menjadi penting dalam pengembangan kemaritiman jalur perdagangan di kawasan Teluk Tomini dan bagian utara Sulawesi.

Sumber: 
"Perdagangan Orang Bugis Di Kawasan Teluk Tomini Masa Kolonial Belanda", oleh: Hasanuddin (2017:228-232).

Ket. Foto: 
Pria dari Filipina (mindanao), dengan tombak, 1934.

Di postkan di Group sejarah Dian Suhardiman Sunusi

Minggu, 04 Agustus 2024

MEMILIH PEMIMPIN DALAM PERSPEKTIF AMANDARAN (#1)


Catatan: Admin 

Bandara Tampapadang Mamuju seketika menjadi lautan manusia. Mereka berdatangan dari berbagai sudut kota dan dari pojok negeri Mandar ini. Mereka seakan tak terbendung, bak arus air yang terus mengalir. Hari ini Sulbar menorehkan sejarah penting yang jarang terjadi. Kedatangan SDK - SALIM di Bandara Tampapadang menjadi fakta yang mesti dicatat oleh sejarah. 

Dua sosok kebanggaan Sulbar itu kini benar-benar menyatu. Sebuah penyatuan yang utuh, bukan sebagai rival lagi. Pun bukan sebuah melodrama ataupun sandiwara. Keduanya dinilai sebagai perekat sejumlah etnis Sulbar yang diterima oleh siapapun. SDK dan SALIM memang harus bisa membuang ego masing-masing, sebab Sulbar yang kini berusia 20 Tahun membutuhkan figur yang diharapkan bisa menjadi pemimpin untuk ma'arira banua mala'bi' ini. Membangun Sulbar butuh chemistri yang siap ditampar oleh resiko, dan sosok itu telah lahir ditengah riak gelombang yang siap menghantam. 

Hari ini, (4 Agustus 2024), Mamuju menjadi saksi dan menjadi awal yang baik untuk mengaktualisasi kesejatian konsepsi Mesa Kanne' yang sesungguhnya. Mesa Kanne yang bukan lagi sebatas slogan. Dan sejatinya, spirit Mesa Kanne' itu dielaborasi, direkonstruksi dan diejawantah dalam daur hidup manusia Mandar (baca: Sulawesi Barat). Nilai-Nilai Mesa Kanne' yang terdiri dari Attonganang dan Alappuang (kebenaran dan kejujuran), Siama'-ama' (bersatu), Mappapeko' pulu sodzo mappadzoro pulu pae' (kedisiplinan), Sipakala'bi' anna Sipakaraya (saling memuliakan dan saling menghormati) ini sangat jelas tergambar dari dua sosok yang hari ini kita usung bersama sebagai Cawagub Sulbar. Ini tentu tak terbantahkan. 

Hari ini, kita memasuki sebuah fase dalam bentuk deklarasi tokoh yang dipersiapkan sebagai pemimpin di daerah ini yang notabene menjadikan Mandar (baca: Sulbar) sebagai identitas. Maka sebagai Mandar, ekspektasi kita dalam memilih pemimpin kedepan sangat variatif sebagaimana konsepsi kepemiminan yang dibangun oleh para raja-raja di Mandar. Salah satu yang ingin saya angkat pada tulisan ini adalah pesan Tandibella Kakanna I Pattang (Daetta Tommane) Arajang Balanipa ke-4. Pesan ini cukup familiar di Mandar sejak tahun 1615 dan yang sampai hari inipun menjadi konten paling laris di media sosial. 

Pesan itu adalah "Tarrare Diallo Tammatindo dibongi mandandang mata diperandanna daung aju, dimadinginna lita', di malimbonna rura, diajarianna banne tau, diatepuanna agama". Pesan ini memberikan spirit bagi kita untuk menentukan siapa pemimpin paling layak. Indikator penilaian kita itu bisa dirujukkan lewat pesan diatas. Pesan ini jangan dipenggal ketika berbicara esensi sebab substansi dari pesan itu adalah cara memimpin dalam perspektif Amandaran. Merrandanna Daung Aju adalah refresentasi dari kesejahteraan petani, Madinginna lita' adalah memberi rasa aman pada masyarakat, Malimbonna rura adalah garansi nelayan dan perikanan kita maju, ajrianna banne tau terkait dengan kesehatan ibu dan anak, dan terakhir atepuanna agama adalah berkembangnya kajian keagaman di Sulawesi Barat. 

Lima poin itu harus dilekatkan pada pemimpin yang akan kita pilih. Pesan diatas jangan lagi kerap dipenggal-penggal, ia harus utuh. Jangan hanya sampai pada tataran tarrare diallo tammatindo dibongi mappikkiri atuonna pa'banua. Pertanyaannya adalah apakah sosok SDK - SALIM adalah refresentasi dari pesan Daetta Tommuane diatas? Rekam jejak kedua tokoh ini cukup memperjelas arah dukungan itu jika kita mentadabburinya lewat leluhur kita di Mandar.  Bismillah. 

(BERSAMBUNG) 

Jumat, 02 Agustus 2024

Dr. MUHAMMAD ZAIN || Pengabdian Yang Tak Mengenal Hari Libur

Penjabat (Pj) Bupati Mamasa Dr. Muhammad Zain mengemban amanah dari Presiden RI, ditempatkan di Kabupaten Mamasa (salah satu daerah yang defisitnya tinggi). Kurang lebih 6 bulan atau Dua kali evaluasi kinerja Zain menjalankan tugas.

Tentu sebagai ASN yang diberikan tugas oleh Presiden melalu Menteri Dalam Negeri (Mendagri) untuk memimpin Kabupaten Mamasa, sebuah kepastian Zain memberikan yang terbaik, bekerja secara profesional dan hanya focus pada tugas dan tanggungjawab yang diamanahkan.

Amanah Presiden itulah yang dipegang teguh oleh Zain untuk mewujudkan pemerintahan Good and Clean Governance di Bumi Kondosapata. Seluruh kebijakan Pemda Mamasa lahir dari Rakyat dan untuk Rakyat jua, sama sekali tidak ada motif lain.

"Berbagai masukan dan informasi (baik secara langsung maupun tidak langsung, suara lantang maupun pelan, offline maupun online) yang ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Mamasa," kata Zain saat dikonfirmasi, Kamis (1/8/2024)

Pj. Bupati Mamasa mengapresiasi dan menghargai itu semua, sebagai kritikan yang konstruktif  dari semua pihak untuk kebaikan Mamasa.

Zain menambahkan, Salah satu tugas Pj. Bupati Mamasa berdasarkan surat Keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Republik Indonesia Nomor : 100.2.3-6600 Tahun 2023 pada point F :

Memfasilitasi persiapan pelaksanaan Pemilu Tahun 2024 dan Pilkada di Kabupaten Mamasa Tahun 2024 serta menjaga Netralitas Aparatur  Sipil Negara. Landasan itulah, maka pelaksanaan Pilkada Kabupaten Mamasa Tahun 2024 dipastikan akan berjalan lancar dan sukses sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh KPU

Selama menjabat sebagai Pj.Bupati Mamasa, Dr. Muh. Zain sudah menangani beberapa persoalan dan menjadi indikator penilaian pada laporan kinerja di Kemendagri, diantaranya, Inflasi terkendali selama 6 bulan, Angka kemiskinan turun 0,11 % sesuai data Badan pusat statistik (BPS), Angka stunting turun 7%, stabilitas dan harmoni sosial terjaga dengan baik. 

Saat bencana alam, menyita waktu Pj. Bupati untuk memulihkan keadaan, Longsor lebih 200 titik di beberapa kecamatan telah selesai, sementara mengusulkan 80 anak Kedokteran/Calon Dokter ke Kementerian Kesehatan dan saat ini sedang menunggu hasilnya, sedang proses pembebasan lahan untuk Pembangunan Pasar dari Presiden Jokowi melalui Kementerian PUPR dan Menperindag. 

Juga proses untuk pembangunan rehab Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kondosapata dan masih banyak hal yang sedang dikerjakan dan diurai satu persatu untuk Kabupaten Mamasa lebih baik dan tolong bersabar sedikit karena ini butuh waktu dan proses.

"Sebagai Pj. Bupati Mamasa, saya telah dan masih sementara bekerja keras tanpa mengenal lelah dan bahkan meniadakan tanggal merah di kalender untuk terus memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat demi Mamasa yang lebih baik," imbuhnya.

Kita harus rendah hati untuk ini, lanjut Zain, waktu 6 bulan sangatlah singkat untuk menuntaskan masalah yang menumpuk. Dana Pilkada segera diselesaikan di tengah minimnya keuangan Daerah. Semua program kita harus tuntaskan diantaranya menekan inflasi, menurunkan angka stunting, kemiskinan ekstrim, layanan kesehatan, layanan pendidikan dan semua pelayanan dari tingkat desa sampai kabupaten tetapi kita akan selesaikan secara pelan-pelan karena kondisi keuangan daerah yang demikian. 

Pj. Bupati Mamasa juga mengajak semua tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, wartawan, elit politik untuk secara terbuka mencari solusi terbaik tentu dengan pikiran yang jernih, hati yang tulus dan kerja keras terutama dalam menyukseskan pilkada damai tahun 2024.

Sebab itu, Kabag Humas dan Protokol Kabupaten Mamasa, Demmaelo Pena' mengajak untuk mendukung Pj. Bupati Mamasa dalam bekerja lebih keras lagi untuk beberapa bulan kedepan, memberi masukan yang konstruktif agar Mamasa dapat keluar dari setiap masalah yang dihadapi.

Kamis, 01 Agustus 2024

ORANG MANDAR YANG LAHIR DI JOMBANG || Jejak Mbah Nun di Tanah Mandar

(Tulisan Hamzah Ismail di Majalah Sastra Sabana Yogyakarta, 2015)

Dalam berbagai hal orang Mandar seringkali melibatkan Mbah Nun. Misalnya, ketika terjadi pergantian kepemimpinan di Kanwil Agama Provinsi Sulawesi Selatan. Salah satu calonnya adalah orang Mandar. Terhadap calon dari Mandar ini banyak mendapatkan penolakan dari elit Sulawesi Selatan saat itu. Segala cara diupayakan oleh tokoh-tokoh Mandar, untuk menggolkan calon tersebut. Nyaris tidak membuahkan hasil.

Lalu ada beberapa pihak dari Teater Flamboyant, dan ada satu dua tokoh masyarakat Mandar, menyarankan untuk melibatkan Mbah Nun. Saat maksud itu disampaikan kepadanya, tanpa berpikir panjang, Mbah Nun mau terlibat dan langsung menulis surat yang ditujukan ke Menteri Agama, yang saat itu dijabat oleh Malik Fajar.

Demikian pula, saat terjadi suksesi kepemimpinan di Kabupaten Polewali Mamasa. Tiga tokoh sepuh Mandar, H. Abd. Malik Pattana Endeng, Abdullah Madjid (Mantan Bupati), dan S. Mengga (Mantan Bupati), bersepakat untuk mendorong calon dari sipil menjadi Bupati Polewali Mamasa. Mbah Nun-pun rela menemani mereka untuk menghadap ke Agum Gumelar, Panglima Kodam VII Wirabuwana. Kedekatan Agum Gumelar dengan Mbah Nun dibaca menjadi alasan pelibatan dirinya dalam urusan ini. Dan dari mana orang Mandar tahu bahwa Agum dan Mbah Nun dekat? Karena Mbah Nun pernah menulis di media yang mengapresiasi Agum Gumelar.

Pasca reformasi, dan kran pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) mulai terbuka, orang-orang Mandar pun mulai bergerak, berjuang untuk membentuk sebuah provinsi Sulawesi Barat. Mbah Nun, yang diyakini ‘didengar’ oleh orang pusat pun dilibatkan. Ia dinobatkan menjadi tim penasehat bersama sepuh Mandar lainnya.

Tatkala Gus Dur yang menjadi presiden, Mbah Nun memediasi pertemuan pejuang pembentukan Sulawesi Barat, dengan Gus Dur. Makin yakinlah orang-orang Mandar bahwa perjuangan pembentukan Sulawesi Barat yang sudah lama digelorakan akan mewujudkan hasil. Akhirnya September 2004, Provinsi Sulawesi Barat bisa terwujud.

Pertanyaannya adalah kenapa sepertinya Mbah Nun, tidak mengenali kata ‘Tidak’ bagi orang Mandar? Bahkan dalam berbagai kesempatan ia menyatakan bahwa kala berada di Mandar, dirinya adalah ‘mayat’, yang rela dibawa kemana saja. Inilah yang sampai sekarang menjadi pertanyaan besar baik di internal Mandar maupun luar Mandar.

Nurdin Hamma (76), Pimpinan Muhammadiyah Cabang Balanipa, salah seorang sepuh, seorang tokoh Mandar juga sungguh kagum kepada Mbah Nun, mencoba mengurai jawaban atas pertanyaan itu. Dalam pandangannya, Mbah Nun adalah guru Bangsa yang riil. Hampir seluruh wilayah Indonesia didatanginya, semata untuk mendidik manusia.

“Cak Nun adalah orang Mandar yang kebetulan lahir di Jombang. Kedatangnnya di Mandar lebih merupakan upaya menapaktilasi perjalanan sejarah panjang Indonesia. Hal itu mungkin dianggapnya penting, untuk mematrikan pada dirinya bahwa Indonesia ada di mana-mana di Nusantara ini, tanahnya luas dan subur namun rakyatnya bak penumpang yang ketinggalan kereta”, ungkap Nurdin Hamma.

Sekarang, mereka yang dulu, sekitar 30-an tahun lalu, hidupnya liar, mabuk-mabukkan dan sepanjang malam bernyanyi-nyanyi di pinggiran jalan, kini sudah memasuki usia yang matang, menuju setengah abad. Profesi mereka beraga. Pedagang, Guru, PNS, tukang ojek, dan sebagian kecil bergabung ke partai menjadi politisi.

Mereka sudah beranak pinak, dan sebagian dari mereka sudah ada yang anaknya sarjana. Mereka tetap saja hormat dan takzim kepada Mbah Nun. Sekarang mereka jarang menyebutnya Emha. Mereka menyebutnya Cak Nun.

“Cak Nun, adalah guru, kakak dan sahabat yang setia menjadi ‘keranjang sampah’ dari keluh-kesah kami. Segala sesuatu urusan kami selalu disandarkan kepada apa wejangan Cak Nun. Untuk memberi nama putra atau putrinya yang baru lahir, mintanya pun ke Cak Nun.”

“Beliau adalah bagian dari hidup kami.”

“Apa yang dulu diajarkan oleh Cak Nun kepada kami menjadi spirit kami dalam menjalani hidup. Kami bersyukur karena Cak Nun berkenan mengarahkan kami menjadi orang baik, itu cukup bagi kami. Tentu penilaian ini sifatnya subjektif, tapi setidaknya kami bangga hidup dengan apa adanya. Kami bisa hidup dengan tanpa mengganggu orang lain, tanpa merampas hak orang lain”.

“Kami sungguh cinta kepada Cak Nun, dan kecintaan itu pun kami wariskan kepada anak-anak kami”.

Tinambung, 4 Mei 2015

Sumber : https://www.caknun.com/2018/orang-mandar-yang-lahir-di-jombang-jejak-mbah-nun-di-tanah-mandar/3/

PRAYOGA WIJAYA || Titip Mandar Ke Betawi

Prayoga Wijaya, anak muda kelahiran Betawi Jakarta 1996 ini berada di Mandar pekan lalu. Ia menemui saya dan mengutarakan niatnya untuk menulis tentang budaya Mandar. Awalnya saya pikir ini adalah program kementerian pendidikan sebagaimana yang beberapa penulis tahun-tahun sebelumnya. Ternyata inisiatif pribadi. "Sulbar adalah provinsi ke-17 yang ia kunjungi dan saya menulis tentang budaya mereka, Bang'. Jelasnya ketika saya telisik motif penulisannya. 

Kepadanya saya mengukir apresiasi yang dalam "Ini sangat dahsyat dan tak semua orang bisa lakukan. Sebab kegiatan begini tentu menyita waktu, tenaga dan fikiran. Bukan hanya itu, budget yang disediakan dalam setiap perjalanan itu tentu tak sedikit". Ucapku. Usut punya usut, selain memang karena masih single, lulusan antropologi di sebuah universitas di Jakarta ini memang intens melakukan penjejakan budaya-budaya nusantara. "Saya harus fokus dalam 4 tahun kedepan, karena setelah itu, saya akan nikah Bang, Hehe". Pungkasnya dengan kesan bercanda. 

Prayoga menemui saya atas rekomendasi beberapa orang mahasiswa pencinta alam (Mapala) di Majene. Dari sana juga nomor kontak saya diperoleh sehingga bisa bertemu dan berdiskusi dengannya. Selama beberapa hari di Mandar, ia menemukan banyak hal-hal terkait kebudayaan. "Tapi saya bingung harus mulai dari yang mana. Kemarin saya dapat Sayyang Pattu'du'. Says pikir ini kayaknya cocok, Bang'. Akunya. Saya lalu menyarankan padanya agar fokus pada tema sastranya, yakni Kalinda'da'. Sayyang Pattu'du' sudah banyak ditulis bahkan di filmkan oleh para peneliti. Belum lagi liputan televisi nasional sudah tak terhitung. 
Kalinda'da adalah karya sastra yang unik di Mandar. Ia hanya bisa dilongok dalam ritual Khatam Quran. Kalinda'da' adalah pakem pattu'du' selain sayyang dan rebana. Kenapa saya bilang unik, karena ketika syair ini diadopsi ke dalam genre sayang-sayang, kacaping  dan rawana towaine, kalinda'da' tak lagi punya nama disana. Ia hanya ditemukan dalam lirik yang ternyata syair kalinda'da'. 

Mendengar penjelasan saya tentang Kalinda'da', ia tertarik. Terlebih narasi kalinda'da' juga bermuara pada ritual totamma', juga terkorelasi dengan sayyang pattu'du', Rawana Tommuane. Untuk menjadi pemantiknya, saya lalu sodorkan tiga buku yang terkait dengan kalinda'da' dan satu buku tentang musik tradisional Mandar. 

Semoga dengan diskusi dan 3 buku itu, Prayoga mampu meramu dan menemukan narasi yang tepat untuk memberikan kabar pada semua orang tentang Manusia Mandar dan kebudayaannya. Sebelum pamit, ia sempat menjelaskan bahwa nantinya, tulisannya itu bukan bentuk reportase tapi jurnal. Ketika saya tanya kenapa memilih jurnal, bukankah model tulisan reportase juga lebih menarik. Alasannya, saya tak ingin terjerat dalam komersialisasi budaya orang. Siapa sih saya, Bang. Saya tak punya kapasitas untuk mengajari orang tentang budaya, orang Mandar sendiri yang mesti mengajari mereka, melalui jurnal yang saya tulis. Beda toh, Bang". 
Selamat Berkarya. 

TAMMALELE YA TAMMALELE, Bukan Yang Lain !





TAMMALELE YA TAMMALELE, Bukan Yang Lain !
(Pengantar Pada Buku Sinisme Lele: Banyolan, Humor dan Pesan Moral Tammalele)  

Catatan Muhammad Munir

Tammalele, nama yang unik dan mengandung banyak filosofi bermakna serta mengundang berbagai macam interpretasi terkait sosok yang selalu kami panggil A'ba. Umurnya dipastikan telah setengah abad. Saya mengenal wajah dan sosok beliau sejak tahun 1999 kendati beliau mungkin tak pernah mengenalku, terlebih mungkin tak akan menyangka bahwa lebih satu dasawarsa kemudian, kami dipertemukan di sebuah rumah kontrakan yang  tepat berada di Depan Masjid Jami' Nurul Amin Desa Batulaya Kecamatan Tinambung. Rumah milik seorang polisi bernama Hammadia. 

Tahun 2015, adalah tahun dimana saya dilahirkan pertama kali di dunia kebudayaan. Tammalele yang sejak puluhan tahun kerap saya temui di berbagai tempat berbeda ini muncul di kediaman kami sesaat sebelum makan siang keluarga. Beliau bersama Pak Nurdin Hamma menghabiskan waktu berdiskusi sampai 2 jam sekaligus mengajak saya berbaur mengenal budaya Mandar secara spesifik. 

Pak Nurdin Hamma mengenalkan saya pada item kebudayaan bernama beru'beru' atau melati. Beru' Beru mungkin sama sistem pertumbuhannya di daerah lain, harumnya juga pasti tak berbeda. Tapi mengapa Beru' Beru' Tokandemeng begitu familiar di kalangan masyarakat Mandar?. Disinilah intinya kebudayaan dibincang. Beru' Beru' Tokandemeng hanyalah salah satu dari produk kebudayaan yang dikenal lebih pada pendekatan perlakuan manusianya yang mampu menjadikan sebuah obyek sebagai entitas dan identitas budaya. 

Dalam dunia bahari (nama bekennya, maritim) ternyata sama. Perahu di Mandar dan Pelaut Mandar dikenal sebagai pelaut ulung itu ternyata bukan pada bentuk, struktur dan konstruksinya saja, tetapi lebih pada perlakuan orang Mandar terhadap perahu, bahkan pada laut itu sendiri. Perahu didunia ini boleh jadi sama, sebab semua berlayar diperairan dan dinakhodai oleh manusia yang tentu saja memiliki kemampuan dan keahlian lebih dari yang dimiliki para sawi kappal. Ternyata bukan itu pembedanya, melainkan pada perlakuannya terhadap perahu dan alam dimana ia melayarkan perahu. 

Perlakuan terhadap sebuah obyek itulah yang menandai sebuah proses peradaban dibangun oleh masyarakat menjadi entitas dan identitas kebudayaan. Beru' Beru' To Kandemeng ternyata dipetik oleh para perempuan dengan sangat lembut dan disimpan pada wadah yang juga sangat spesial. Perahu dan laut pun bagi orang Mandar diperlakukan lebih manusiawi (Istilah kerennya, Napattau-i Lopinna) sehingga dalam prosesnya perahu tak hanya menjadi sebuah benda yang berbentuk, tapi juga diperlakukan layaknya sebagai manusia, mulai dari bentuk sampai ritualnya. Status perahu yang merupakan pemberian atau warisan dari orang tuanya akan diperlakukan layaknya orang tua. Adapun perahu yang dibelinya akan diposisikan sebagai saudara, demikian juga perahu yang dibuat secara pribadi dianggap sebagai anaknya. Disinilah perlakuan itu menentukan entitas dan identitas, sebab orang Mandar dalam memesrai lautan sangat memahami betul perahu yang sementara ia gunakan melaut. Perlakuannya pasti beda antara perahu sebagai bapak, saudara dan anak. Laut dalam hal ini juga diperlakukan layaknya menemui istrinya, sehingga bentuk perlakuan terhadap istri tercintanya selalu mengedepankan sikap dan bahasa yang santun dan romantis. Maka jangan heran bahwa gelombang sebesar apapun bagi orang Mandar mampu ia taklukkan dengan hanya bi'jar berupa mantra yang dirapalkan sebagai ungkapan rasa cinta pada sang kekasih!. 

Dari labirin kebudayaan inilah aku dilahirkan ketika angin sepoi berhembus dari bibir-bibir alam yang rancu. Sosok Pak Nurdin Hamma dan A'baTammalele itulah yang membidani kelahiran saya. Aku lahir bertumbuh layaknya seorang bayi yang jangankan tertawa, menangis pun belum tahu. Tammalelelah yang mengenalkan, mengajarkan, memahamkan dan menuntunku hingga sampai pada proses ini. Hari ini pun saya tetap masih berproses dan terus dipoles oleh beliau. 

Mengingat jejak persinggungan saya dengan A'baTammalele dalam narasi kebudayaan tentu tak berlebihan jika kemudian saya mendaulatnya sebagai sosok Ayah atau A'ba sekaligus mendapuknya sebagai guru besar sejarah dan kebudayaan. Sebagai orangtua, ia terus melakukan berbagai pencarian dan mengajakku menelusur, meneliti dan meriset ruang-ruang tertentu dimana saya dibutuhkan untuk hadir membaca batin para leluhur. A'ba kerap hadir dan memberikan nutrisi layaknya burung yang selalu menyuplai makanan pada anaknya dalam situasi apapun. 

Sampai disini, saya terkesan dengan kisah seekor burung yang meletakkan telurnya disebuah daerah bergurun. Empat biji telurnya diletakkan disarangnya dan dengan setia ia menjaganya. Ia mengeraminya beberapa hari sampai keempat telurnya tersebut menetas. Rasa cinta dan tanggung jawab pada kelangsungan hidup generasinya membuat ia tiap hari terbang jauh untuk sekedar mencari dan mengumpul bahan makanan untuk anak-anaknya. Letih, lelah tak ia rasakan demi melihat keempat anaknya tersebut bisa menikmati makanan hasil jerih payahnya. 

Hari terus berlalu, tak terasa ia merasakan usianya semakin bertambah, tubuhnya melemah. Ia sedih melihat anak-anaknya belum bisa cari makan. Sementara ia merasakan kemampuan untuk mencari makan buat anak-anaknya semakin menipis. Jika ia tak lagi bisa bekerja untuk anak-anaknya, lalu siapa yang akan menafkahi anaknya? Perasaan itu kian hari menderanya, sehingga untuk tidurpun ia rasakan semakin sulit. Galau menyerangnya, bila ia tak menemukan jalan keluarnya, itu berarti alamat kehidupannya akan berakhir tragis bersama keempat anaknya. Ia bahkan berfikir untuk membunuh dan memakan anak-anaknya. Tapi urung ia lakukan, sebab apa artinya hidup tanpa mereka, bukankah ia akan lebih tersiksa hidup seorang diri?.

Fikirannya itu selalu menghantui. Ia kian tak bisa berbuat apa-apa. Jika ia mati, itu berarti kematian buat anak-anaknya yang akan memutus mata rantai kehidupan dan kelangsungan hidup bagi spesiesnya akan berakhir. Hingga kemudian ia berfikir untuk membunuh dirinya, sebagai penyambung kehidupan anak-anaknya. Yah, tak ada pilihan lain selain harus mati untuk anak-anaknya.  

Maka dengan niat yang tulus dan berharap darah dan dagingnya akan cukup jadi menu santapan bagi anak-anaknya untuk kemudian bisa terbang mencari makanannya sendiri secara mandiri. Ia lalu mencabut bulu ekornya dan menikam dirinya. Darah segar memuncrat dan menjadi minuman buat anak-anaknya yang kehausan. Tubuhnya lunglai lalu kemudian tersungkur. Ia menghadap Tuhannya dengan sebuah kebahagiaan, karna mampu memberi yang terbaik buat anak-anaknya. Terbaik dan sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya.

Darah dan daging tersebutlah yang mereka santap setiap pagi, siang, sore dan malam. Kandungan gizi dari daging ibunya itu menjadi semangat bagi keempat anak burung itu untuk belajar terbang dan beranjak dari tempat mereka. Mereka hidup dengan kemandirian untuk menjadi diri mereka, hidup dari sebuah proses pengorbanan seorang ibu.

Kisah yang mengharukan dan sangat membanggakan. Sebuah proses kreatif untuk mempersiapkan kelangsungan hidup generasinya. Kisah dari kehidupan burung yang rela mati demi menjadi sumber kehidupan buat anak-anaknya. Lalu adakah kita bisa menemukan ibu seperti itu dikehidupan manusia?
Adakah seorang pemimpin hari ini yang rela untuk sekedar mencabut bulunya demi kelangsungan hidup rakyatnya? Adakah seorang wakil rakyat yang rela mencabut bulunya demi kesejahteraan rakyat yang diwakilinya? Adakah seorang guru yang rela mencabut bulunya untuk mempertahankan kelangsungan ilmu pengetahuan? Adakah dari golongan manusia ini yang mampu mengorbankan kenikmatan yang dia miliki demi keberlangsungan hidup dan kemanusiaan?.

Pertanyaan yang dari awal saya rasakan hanya akan kita temukan di dunia para binatang ternyata masih ada dalam kehidupan yang sebenarnya. Dialah A'baTammalele dalam kehidupan manusia. Tammalele tentu bukan kisah dalam tuturan para pendongeng ketika seorang ayah atau kakek sedang berusaha mengantar anak atau cucunya dalam kepulasan dan mimpi-mimpinya saat terlelap. A'ba Lele telah mampu menunjukkan pada dunia, pada anak-anaknya, pada murid-muridnya. Dan tentu saja, karakter itu tak akan hilang dari sosok beliau sebab orangtianya telah menitahkan kata berupa doa suci lewat nama Tammalele, tak akan berubah sikap, tak akan lekang, tetap konsisten, komitmen merawat sejarah dan kelangsungan peradaban di Mandar.

Sehat Selalu A'ba !

Rabu, 31 Juli 2024

ISSANGI SIRI' || Sebuah Kritik Untuk Pemerintah Polman


Mendengar pemaparan ibu ini, saya sebagai rakyat juga berharap semoga apa yang disampaikannya benar benar salah, sebab jika itu benar sungguh sebuah kesalahan yang tak termaafkan. Bagimana mungkin sebuah daerah sekelas Polman ini dikelola oleh mereka yang punya pendidikan tinggi dan pengalaman birorasi yang menahun bisa seteledor ini. 

Selama ini saya berfikir, ndak masalah pejabat kita berbiaya mahal asal sebangun dengan kinerja dan capaian sebagaimana yang jadi patron dari pusat. Ternyata saya salah. Ibu yang katanya dari pusat tapi lahir di Enrekang ini bahkan sampai meledak-ledak dan emosi dengan apa yang dilakukan oleh para pejabat yang notabene pelayan rakyat. " Bapak Ibu jika ingin dibantu, perbaikilah kinerja kalian, kalau tidak kami akan bantai". Saya suka Bu....
"Dari Majene -Mamasa sampai kesini Polman begini kondisinya" Aduh, Maafkan saya Ibu. Itu bukan salah rakyat seperti saya.

Issangi siri'. Pesan ini buat kalian yang mengelola daerah ini. Nyata sekali kalian berjejer dihadapan tim Tim Pusat yang datang dari Jakarta. Mereka menguliti anggaran APBD Polman tapi model kalian seperti hadir mendengar ceramah ustadzah yang hadir di pengajian dan majelis taklim. Semua kayak kucing pileg, kambing congek, diam dan tunduk.

Bagaimana tidak, Para wakil rakyat ternyata lebih banyak makan minum dari kerja-kerja mereka buat rakyat. Masa sih anggaran makan minum anggota DPRD sampai miliaran. Sangat berbanding terbalik dengan anggaran 
Jembatan Desa yang habta 150 juta, Pendingin ruangan lah, itulah dan sejumlah alasan yang menjadikan uang rakyat layaknya uang pribadi. 

Fisik Pendidikan 14 M bermasalah, 
Gaji PPPK yang dialihkan.Wuihhh (ekspresi ibu)
Non Kapitasi Nakes tidak ditransfer
DAK sudah realisasi masih bermasalah...
Hak-hak desa ditahan-tahan, padahal dana itu titipan pusat ke kas daerah, kok malah tidak disampaikan. Bagaimana dengan dana yang bukan titipan?. Ceh.... 
Saya saja sebagai rakyat yang punya segudang masalah dan sejumlah kesalahan merasa malu mendengar pemaparan Ibu ini. Apa salah jika saya ikut mengumpat:  Hantam aja Bu, bongkar aja semua. Penjarakan aja sekalian. 

Terima kasih Ibu yang telah memberikan tehnik cocok-cocokan dan cocolagi para pejabat yang melupakan proyek mangkrak sejak 2018 lalu. Ibu sangat luar biasa.

Terima kasih tim medis yang meliput kegiatan ini. Semoga kalian sehat dan selalu ada dalam setiap proses yang berjalan. 

Sadarlah wahai pelayan rakyat, sadarlah wahai wakil rakyat, belajarlah empati dan hiduplah sederhana. Silahkan nikmati fasilitas mewah, tapi jangan uang rakyat yang kalian ambil. 

Tulisan ini terkait dengan video berikut. Tonton lengkap ya? 
https://www.facebook.com/share/SJWb883f4G2aYJQT/?mibextid=xfxF2i

PIDATO KEPAHLAWANAN || Untuk Lomba Pidato Agustusan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Yang saya hormati, Puang Iya sitinaya Upepuang, Daeng iya sitinaya Upedaeng. Kama' iya mala Upekama', Kindo iya mala Upekindo', Kaka' iya mala Upakaka', Kandi iya mala Upekandi'. Tettopa lao diingganana Tomala'bi'u hadir. 

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan kita nikmat kesehatan dan kesempatan untuk berkumpul di tempat ini dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaam Indonesia yang ke-79. Upraui diolo la'biratta' iyanasanna, pasitinaya namappalambi' pidato dengan tema "Menghormati Jasa Pahlawan, Meneladani Semangat Perjuangan".

Hadirin yang saya hormati,

Hari ini kita mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang dengan gagah berani untuk kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Mereka adalah orang-orang yang rela mengorbankan segalanya, bahkan nyawa, demi cita-cita mulia yaitu merdeka dari penjajahan. Nama-nama seperti I Calo' Ammana Wewang, I Kaco Puang Ammana Pattolawali, Tapanguju Punggawa Malolo, Demmatande, Daeng Majannang, Ibu Agung Andi Depu, I Masa Ibu Seluruh, Sitti Maemunah dan para pejuang lainnya adalah simbol semangat dan keberanian yang harus kita junjung tinggi.

Namun, selain pahlawan yang dikenal secara luas, banyak juga pahlawan tanpa tanda jasa yang turut berkontribusi besar dalam perjuangan bangsa ini. Mereka adalah rakyat biasa, Pa'banua yang mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah, tetapi pengorbanan dan perjuangan mereka tidak kalah pentingnya. Mereka mengajarkan kita tentang nilai-nilai keberanian, kesetiaan, dan cinta tanah air.

Tomala'bi'u hadirin,
 
Jika kita membaca kesaksian para pejuang saat tangsi militer di Majene seperti neraka bagi mereka, seperti horor amat mencekam fikiran. Dinding tahanan di Majene, halaman rumputnya yang bercampur darah, drum-drum yang berkarat sebagai wadah makanan pejuang, dan tiang-tiang bangunan tempat ratusan pejuang diikat tanpa ampun. Sungguh sebuah peristiwa yang mesti menyadarkan kita semua, bahwa tempat seperti itu pernah ada di Mandar, bahwa para pejuang itu pernah digebuk disana. Bahwa di Mandar, jajar pejuang dan penghianat tak pernah pupus dari ingatan. 
Pernahkah terbayang dibenak kita andai masa-masa kelam itu terjadi kepada kita?. Bayangkan jika yang keganasan tentara kota dan para pangese itu masih berlangsung sampai saat ini? Petanyaan-pertanyaan ini butuh jawaban dari relung hati yang paling dalam. Mereka para pejuang itu kini memerlukan pengakuan Negara bahwa memilih jalan perjuangan dan perlawanan pada Belanda tentu bukan tanpa resiko. Kali berapa nyawa melayang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan yang hari ini kita rayakan? Para pejuang itu rela mati untuk kita hari ini. Mereka rela tidak makan berhari hari untuk berjuang. Tegakah kita melupakan perjuangan yang rela mati untuk kita? Tidak malukah kita yang setiap saat bisa makan enak tanpa pernah berjuang? 

Para hadirin yang saya hormati, 

Saat ini, tantangan yang kita hadapi mungkin berbeda dari masa perjuangan kemerdekaan. Namun, semangat dan nilai-nilai kepahlawanan tetap relevan. Di tengah era globalisasi dan digitalisasi, kita menghadapi tantangan baru seperti perpecahan sosial, degradasi moral, dan ancaman terhadap persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, kita harus terus meneladani semangat juang para pahlawan dengan berperan aktif dalam pembangunan bangsa, menjaga persatuan, dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Mari kita bersama-sama menjadi pahlawan masa kini dengan berkontribusi positif bagi bangsa dan negara. Mulailah dari hal-hal kecil, seperti menjaga kebersihan lingkungan, saling tolong-menolong, dan menghormati perbedaan. Dengan demikian, kita turut melanjutkan perjuangan para pahlawan dan menjaga warisan yang telah mereka tinggalkan.

Sebagai penutup, marilah kita berdoa untuk arwah para pahlawan yang telah gugur. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik bagi mereka dan memberkati perjuangan kita untuk masa depan bangsa yang lebih baik.

Terima kasih atas perhatian dan kebersamaan kita hari ini.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selasa, 30 Juli 2024

BAKTI SEORANG SALEH BHAKTI YANG TERLUPAKAN


Catatan Muhammad Munir 

M. SALEH BHAKTI adalah satu diantara sekian guru yang terlibat dalam proses perjuangan memperebutkan kemerdekaan dari tangan Belanda. Bukti perjuangan dan baktinya pada negeri ini tak pernah dihargai kendati ia menjadi sosok yang tak pernah berhenti menebar kebaikan. Salah satu yang miris adalah SK Veteran yang harusnya ia nikmati justru datang pada saat maut merenggutnya.   
Saleh Bhakti lahir di Karama Tinambung pada tahun 1924 (data lain 1928) dari pasangan Kambaya Pua Turunni (karama – Lambanan) dan Sa’diang (Banua Padang Padang) bersama satu orang saudaranya yang bernama Mustafa. 

Saleh kecil mengenal pendidikan formalnya di SR 5 Tahun Campalagian mulai tahun 1934 dan berhasil mendapatkan ijazahnya pada tahun 1939. Selesai di SR, ia mengikuti pendidikan CVO (Cursus Volks Onderwizer) dari tahun 1939 sampai 1941. Dari CVO ia menjadi guru bantu di SR 3 Tahun di Pajalele Pinrang (1941-1944) kemudian diangkat menjadi Kepala Sekolah di SR 3 Tahun di Jampue Pinrang dan hanya bertahan satu tahun sebab ia mendengar berita bahwa Indonesia telah diproklamirkan di Jakarta pada 17 Agustus 1945. 

Sebagai seorang kepala sekolah, mendapatkan informasi perkembangan Negara pada waktu itu cukup mudah ia akses. Ia kembali ke Mandar dan bergabung dalam gerakan perjuangan yang diprakarsai oleh Riri Amin Daud, Andi Depu dan lainnya dalam Kelasykaran Kris Muda Mandar dan LAPRIS. Dari sana, ia terlibat dalam proses perjuangan secara fisik dari tahun 1945 hingga ia tertangkap pada tahun 1948 dan dipenjarakan di Ujung Pandang. Ia bebas dari penjara pada tanggal 27 Desember 1949 sebagai pejuang kemerdekaan.   

Tahun 1950, ia dirayonkan di Pinrang sebagai CTN (Cadangan Tentara Nasional). Pada tahun yang sama ia menikahi seorang gadis bernama Sitti Nahayah. Pada tahun 1951, anak pertamanya lahir, ia mulai bertugas dan tergabung dalam TKR (Tentara Keamana Rakyat) selama beberapa tahun dibawah pimpinan Hamid sampai tahun 1957. Pada saat TKR diresmikan pada tahun 1959, Saleh Bhakti kembali ke kampung halaman dan hidup sebagai warga biasa, bertani.   

Setahun kemudian, 1960 ia kembali aktif berpartisipasi membantu Panglima Operasi Kilat memulihkan keamanan di daerah Mandar dan menumpas habis Gerombolan DI/TII Kahar Maudzakkar serta mengakhiri petualangan Andi Selle pimpinan Bn. 710 dan TBO-nya. Untuk tugas ini, persenjataan disuplai dari Batalion S. Mengga di Parepare, hingga tahun 1964. Atas perannya dalam penumpasan gembong pergolakan di Mandar ini sehingga ia mendapat penghargaan dari Panglima Operasi dengan Nomor Keputusan 0140/12/1964. 

Kilat Antara tahun 1964-1965, ia disalur ke Obyek Pertanian oleh Panglima Operasi Kilat melalui Pemerintah Daerah Kabupaten Polewali Mamasa di Desa Rappang Kecamatan Wonomulyo. Tahun 1965-1966 ia kembali terlibat membantu pemerintah menumpas G30 S/PKI dengan segala ormas dan antek-anteknya. Setelah itu, ia bekerja di Perusahaan Daerah Bagian Perkebunan Kelapa di Mambu antara tahun 1966-1975.

Terhitung sejak tanggal 1 April 1975 ia dipercaya untuk menjadi pejabat Kepala Desa Suruang melalui Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Polewali Mamasa Nomor 19/ BKDH/III/1975 tertanggal 20 Maret 1975. Ia kemudian kembali terpilih sebagai Kepala Desa Suruang untuk periode keduanya berdasarkan SK No. 9/BKDH/ II/1984 tertanggal 8 Februari 1984. Ia tutup usia pada hari Kamis, 30 April 1992 masih dalam status sebagai Kepala Desa Suruang untuk periode ketiganya. 

Dalam hidupnya, ia sempat menikahi dua orang wanita masing-masing istri pertama bernama Hj. Sitti Nahaya dan Istri kedua bernama Bunga Rosi. Dari pernikahannya dengan Hj. Sitti Nahaya, ia dikaruniai 4 orang anak bernama Hasanuddin, Hasbullah, Sitti Masnah dan Sitti Nurjannah. Adapun dari Bunga Rosi ia mendapatkan tiga orang anak bernama M. Fajaruddin, M. Asikin dan Sitti Rahmah (diolah dari dokumen pribadi M. Saleh Bhakti).

Pemakaman Saleh Bhakti, 1992
Piagam Pengangkatan Saleh Bhakti sebagai Anggota Veteran

Minggu, 28 Juli 2024

CAGUB SULBAR || Apa Yang Anda Fikirkan?




Catatan Muhammad Munir

PILKADA SERENTAK 2024 diketahui bahwa Pilgub dan Pilbup akan berlangsung 27 November 2024 dan tahapannya saat ini sedang berjalan yang dilaksanakan Komisi Penyelenggara Umum (KPU) Sulbar dan KPU Kabupaten.

Sejumlah Calon Gubernur dan Wakil Gubernur serta Calon Bupati dan Wakil Bupati kian santer sosialisasi dan memburu rekomendasi partai pengusung. Untuk Pilgub Sulbar, sejumlah nama yang siap berkontestasi semakin gencar. Tercatat SDK (Suhardi Duka) mantan Bupati Mamuju 2 periode dan Anggota DPR RI dengan tanpa ragu menggandeng Mayjend (Purn. TNI) Salim S. Mengga sebagai wakilnya. Ada juga Prof. Husain Syam, Mantan Rektor UNM dua periode yang menggadang-gadang Arwan Aras, Mantan Anggota DPR RI yang juga putra HM. Aras Tammauni. Termasuk dua bersaudara dari klan Masdar juga dikabarkan akan berkontestasi di pesta 5 tahunan ini.

ABM atau Ali Baal Masdar, mantan Gubernur Sulbar (2017-2022) ini dipastikan akan maju lewat usungan Partai Gerindra, meski belum menampakkan tanda-tanda tentang siapa yang akan menjadi pasangannya. Namun hingga tulisan ini dinaikkan, "ABM pasti maju dan siap memanangkan Pilgub untuk periode keduanya sebagai Gubernur Sulbar (2024-2029)", kata salah seorang tim keluarganya kepada penulis via WA. Sementara Andi Ibrahim Masdar, mantan Bupati Polman yang dikenal lewat tagline AIM dan Sulbar Jago ini dengan percaya diri menyatakan maju berpasangan dengan H. Ramlan Badawi yang juga mantan Bupati dua periode dari Kabupaten Mamasa. Pasangan ini dikabarkan maju lewat usungan Partai Amanat Nasional, yang untuk Sulbar diketuai sendiri oleh Ramlan Badawi.

Para pengamat politik memprediksi bahwa SDK - Salim akan sangat mudah melenggang ke kursi Sulbar 01 jika ABM dan AIM benar-benar menjadi rival perebutan suara di Polman. Alasannya, karena suara di Polman dipastikan terpecah dan terbagi ke ABM, AIM, Salim dan Husain Syam. Tapi ini prediksi yang tentu sangat terbuka ruang bantahan bagi yang lain. Bagaimanapun, keberadaan seorang ABM yang notabene masih tergolong petahana tentu memiliki sejumlah strategi untuk kembali memenangi rivalnya di Pilkada 2017 yakni SDK. Kekuatan politik ABM di hampir semua wilayah kabupaten di Sulbar, masih sangat optimis bisa meraih kemenangan. Kekuatan Politik SDK di Mamuju tentu akan terpecah dengan munculnya Husain Syam-Arwan.

Tulisan ini tidak akan fokus membahas sejumlah nama dan peta kekuatan masing-masing calon yang telah menyatakan diri siap berkontestasi di Pilgub 2024. Ada hal yang lebih penting dan mendesak untuk dibincang selain masuk dalam pusaran kepentingan para kandidat. Provinsi Sulawesi Barat tahun ini tepat 20 Tahun usianya. Ditahun ini juga, Ibu Kota Negara (IKN) akan resmi pindah ke Kalimantan. Sejauh mana kita sebagai rakyat berfikir untuk membenahi Sulbar dan mempersiapkan diri menjadi bagian dari IKN yang notabene menjadi peluang dan tantangan.

Para Calon Gubernur pasti akan sangat percaya diri menyampaikan visi misinya untuk menyambut peluang itu. Tapi apakah benar mereka telah mematangkan semua konsep kebijakan yang menguntungkan rakyat Sulbar terkait keberadaan IKN?. Jurkam-jurkam kampanye Cagub pasti akan mengatup semua pikiran-pikiran kita dalam orasinya. Lihatlah Sulbar hari ini diusianya yang ke-20 tahun. Apa yang telah siap dan akan dipersiapkan untuk mengambil peluang dari IKN?. Sampai saat ini, perubahan nama belakang dari Selatan ke Barat ini saya melihat yang berbeda hanya kantor jawatan baru dengan perangkat OPD yang tentu menjadi kasur empuk bagi kepala-kepala dinas. Lahirnya Sulbar tidak dibarengi dengan perubahan pada bidang-bidang kehidupan lainnya. Termasuk infrastruktur, sarana transportasi, akses jalan, ekonomi kerakyatan, daur hidup kebudayaan, dunia literasi dan layanan publik ditengarai tidak mengalami tanda-tanda perbaikan yang signifikan.

Itu bisa dilihat dari jalur koridor-koridor ekonomi Kalukku - Kalumpang - Seko (Mamuju - Luwu), Salutambung - Urekang (Malunda - Ulumanda), Somba - Besoangin (Sendana - Tutar), Tinambung - Alu - Tutar ; Luyo - Besoangin; Lampa - Matangnga - Mehalaan - Mambi dan Matangng ke Lenggo (Polman - Mamasa); Mamasa - Toraja dan lainnya masih terkesan sama kondisinya pada 20, 30 tahun lalu. Fakta keberadaan Bandara Tampapadang Mamuju tak banyak menolong, karena orang yang mau ke Sulbar tetap merasa aman dan lancar melalui Bandara Hasanuddin Makassar. Bidang pendidikan maupun layanan kesehatan juga demikian. Kuliah di Makassar lebih trend dan diidamkan ketimbang di Mamuju, Manene dan Polewali. Berobat di rumah sakit Makassar masih menjadi pilihan akibat kurangnya peralatan dan tenaga ahli di Sulbar.

Belum lagi pelabuhan yang diharapkan belum memadai layaknya Parepare dan Makassar. Lihat juga industri kreatif dan ekonomi kerakyatan yang belum bisa menjanjikan karena tidak adanya personal garansi yang bisa menciptakan pasarnya. Lihatlah sa'be Mandar, Sekomandi dan Sambu' serta lainnya. Bidang kebudayaan juga begitu yang lebih banyak difestivalkan ketimbang ditulis dan dibukukan. Termasuk sejumlah arsip penting tentang sejarah Mandar masih yang bisanya diakses ke Makassar dan Jakarta bahkan Belanda.

Fakta-fakta yang saya sebut diatas mestinya jelas dan sebagai rakyat harus fahami itu. Para pemimpin yang telah lalu mulai dari Anwar Adnan Saleh sampai saat ini masih jauh panggang dari api. Pilkada ini harus menjadi momentum untuk kita mengukur tentang harapan kita terhadap calon Gubernur. Mereka mesti belajar banyak pada sejumlah program dan kebijakan selama 20 tahun terakhir. Belajar sebagai rakyat dan sebagai pemimpin dibutuhkan sebagai parameter untuk mengukur aplikasi motorik dan apersepsi kita bisa menerima atau tidak. Calon Gubernur kita tidak usah banyak menggurui dan menjanji. Cukup mereka belajar membuang toxic yang tdk produktif, agar ruang giga di kepalanya memiliki daya tampung yang memadai tentang apa yang mendesak hari ini dilakukan untuk Sulbar.

Adakah diantara Calon Gubernur yang siap dan telah melakukan persiapan terkakt persoalan Sulbar dari dulu sampai sekarang? Ayo tunjukkan dan panjangkan file nalar kita semua untuk mengawal pilkada ini menghasilkan pemimpin yang faham dengan kebutuhan Sullbar. 

CALONG || Sebagai Ikon Jingle dan Maskot Pilkada Polewali Mandar 2024.


By: Sahabuddin Mahganna

Instrumen bunyi yang mengindikasikan kesederhanaan para pelakunya. Perkenalan pertama pada tahun 1998 hingga memainkannya, dan yang menjadi sorotan utama sebab ketika benda itu melantun di Yogyakarta pada perhelatan musikalisasi puisi di Piramid Center 2003, para pelaku seni dan budayawan secara nasional ternyata begitu asing padanya, dan sejak itulah, saya memulai penelitian kecil di wilayah pesisir Mandar dan menggugah hasrat untuk menyelidiki secara ketat. 

Calong, sebuah nama yang melekat sesuai penyebutan populer bagi penunggu tanaman (petani) tradisional. Di Mandar, alat ini mampu mencatat sejarah karena kedekatan psikologi pelaku yang begitu menguntungkan di eranya, selain menghibur juga menjadi pengusir hama tanpa harus melenyapkan nyawa. 

Keistimewaan Calong (instrumen musik tradisional Mandar) ditunjang dengan keterlibatannya mem-bersama-i masyarakat dan berkembang-sekarang, seolah menjadi magnet baru. Tidak jarang bahwa media musik ini sudah sering tampil di perhelatan penting baik itu lokal, nasional maupun internasional, alunannya memukau, menjadi karakter tersendiri untuk pilihan kategori kebudayaan bunyi di Indonesia. 

Apapun itu, meski jenisnya bukanlah satu satunya di dunia, namun bukan berarti Calong tidak bisa bergeser dari bentuk-bentuk sebelumnya yang sudah populer dalam catatan musik tradisi, sehingga ini pulalah yang menghantarkan alunannya menjadi pembeda dan berhasil menyabet peringkat terbaik, sebut saja di festival musik tradisi anak-anak nasional di Jakarta 2009 dan 2014, menjadi duta Indonesia di Indigenous Pribumi Asli dari sembilan negara yang terkumpul  di Malaysia 2015.

Secara kolosal pun, ketika tahun 2006 dan tahun-tahun setelahnya, Calong begitu berarti pada pertunjukan penting untuk daerah, membanggakan mereka seolah-olah wilayah ini telah menemukan sebuah pembeda dan karakter meski dianggap sebuah hasil domistikasi ritmis (hibrid), dengan kata lain, meniru secara referensi. Dan pembuktian itu dilakukan pada abad-abad silam ketika paham islam belum masuk di wilayah ini. 

Kini, para juri, kurator dan KPU Polewali Mandar telah memilih ikon Calong dari hasil sayembara sebagai maskot untuk Pilkada tahun 2024. Pilihan ini bukan tanpa alasan sebab kurasi nya memang begitu panjang, hingga mengalahkan dari sekian banyak peserta. Desain maskot Calong untuk Polewali Mandar, cukup berpengaruh dalam deskripsi pilisofinya yang tercatat sebagai simbol bangsa yang harmoni, mewakili empat arah mata angin (appe sulapa) dan yang paling penting adalah Calong teridentifikasi sebagai bagian dari nilai dan sejarah. Bukan itu saja, Calong diyakini akan menjadi pembeda dari bentuk-bentuk yang sudah terpilih di Indonesia, lalu boleh jadi digunakan sebagai spirit baru yang memang benar-benar punya daya tarik sebagai bagian dari identitas wilayah. 

Selain itu, jingle yang juga merupakan hasil dari sayembara, pemenangnya telah dipilih sebab mampu melewati dari persaingan ketat, memenuhi syarat inti yang dilayangkan oleh panitia dengan relevansi tema, originalisasi  karya, unsur musikal karakter wilayah, dan kemampuan mengolah bunyi yang harmoni, tentu saja dari lirik yang sangat mengajak kepada semua pihak untuk berpartisipasi dalam pemilihan bupati dan wakil Polewali Mandar 2024.

Penentuan jingle ini secara keseluruhan telah ditentukan dengan pertimbangan yang matang dan obyektivitas nya yakin tidak diragukan tanpa ada tekanan dan intervensi dari pihak manapun. Diharapkan mampu membuat masyarakat tergugah dalam memilih pasangan yang betul betul dari hati, sebab antara Maskot dan Jingle telah memadu dan siap untuk diluncurkan. 

Akhirnya selamat kepada pemenang, Ahmad Ridhai Asis (Maskot) dan Aksi Madewa (Jingle) berkarya lah terus demi kemajuan daerah.