Sabtu, 19 Juli 2025

MEMBUKA HARAPAN DARI BUMI SULBAR || Apresiasi atas Langkah Strategis Gubernur SDK dalam Ketahanan Pangan


Alhamdulillah, di tengah riuhnya tantangan global dan keluh kesah pangan dunia yang tak kunjung usai, dari tanah Sulawesi Barat, kita menyaksikan seberkas cahaya muncul. Sebuah langkah berani, nyata, dan penuh harap ditempuh oleh Gubernur Sulbar, Dr. Suhardi Duka. Dalam rapat koordinasi yang digelar 17 Juli 2025, beliau bukan hanya menekankan urgensi perluasan area tanam, tetapi juga bersedia turun langsung menembus sekat-sekat administratif dan struktural demi membuka ruang kehidupan: sawah-sawah baru, pangan bagi rakyat.

Langkah Gubernur SDK memerintahkan Dinas Pertanian untuk tidak ragu mengajukan potensi cetak sawah meski berada dalam kawasan hutan lindung (selama tidak termasuk kawasan konservasi) patut diapresiasi sebagai upaya inovatif dan taktis. Di sinilah peran seorang pemimpin diuji—bukan semata mengelola regulasi, melainkan menavigasi jalan keluar dari keruwetan kebijakan demi kepentingan publik.

Namun demikian, agar langkah ini tidak menjadi letupan sesaat yang kehilangan arah, ada baiknya kita menimbang beberapa pendekatan strategis agar program cetak sawah berjalan dengan baik, lestari, dan berdaya guna:

1. Pemetaan Potensi Berbasis Data Spasial dan Sosial Setiap wilayah memiliki riwayat ekologis dan sosialnya sendiri. Perlu pendekatan berbasis peta tutupan lahan (land cover) terkini, peta tanah, dan kerawanan bencana, dikombinasikan dengan data sosial—siapa yang akan mengolah, bagaimana sistem pengairannya, dan apa dampak sosialnya. Kementerian ATR/BPN, KLHK, dan BIG memiliki sumber daya data yang bisa disinergikan dengan Pemprov Sulbar.


2. Revitalisasi Irigasi dan Inovasi Tata Air Mikro Cetak sawah tidak boleh dipisahkan dari soal air. Bukan sekadar membuka lahan, tapi membangun sistem pengairan yang sesuai dengan topografi Sulbar yang banyak berbukit dan berlembah. Teknologi embung kecil, pompanisasi tenaga surya, hingga sistem irigasi tetes untuk kawasan marginal dapat menjadi solusi alternatif.


3. Kemitraan dengan TNI dan Perguruan Tinggi Cetak sawah pernah berhasil di masa lalu karena ada dukungan penuh dari TNI sebagai pelaksana di lapangan. Demikian pula, pelibatan perguruan tinggi seperti Unasman, Unsulbar, dan Polbangtan bisa memperkaya pendekatan dengan riset-riset inovatif dan pendampingan teknologi tepat guna.


4. Transparansi dan Partisipasi Masyarakat Keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh seberapa dalam masyarakat diajak terlibat. Keterbukaan informasi, pendekatan musyawarah desa, dan pola bagi hasil yang adil akan membuat para petani merasa memiliki dan menjaga sawah barunya seperti menjaga anak sendiri.


5. Diversifikasi Pangan Lokal Walau beras menjadi target utama, Gubernur SDK juga dapat menjadikan momentum ini sebagai jalan masuk untuk mengangkat kembali pangan lokal Sulbar: jagung gigi kuda, ubi, sorgum, sagu, dan talas. Ketahanan pangan bukan hanya soal stok beras, tetapi tentang keragaman sumber gizi.



Langkah Gubernur SDK sejatinya merupakan tanggapan serius terhadap tantangan besar Indonesia: food insecurity. FAO (2023) mencatat bahwa setidaknya 58 juta rakyat Indonesia berada dalam kondisi moderate food insecurity. Maka dari itu, langkah Sulbar mencetak sawah bukan sekadar proyek pertanian, melainkan strategi peradaban: mempertahankan kedaulatan bangsa dari ancaman lapar.

Dan di akhir renungan, kita kembali pada satu hikmah: tanah yang subur tidak hanya diukur dari tingkat kesuburan lahannya, tetapi dari keberanian pemimpinnya menanam harapan di tengah sempitnya kemungkinan.

Teruskan, Gubernur SDK. Sulbar sedang menanam masa depannya.

Salam Dari Kaltim 

Safardy Bora

Revisi Kurikulum 2025 MENJAWAB TANTANGAN ABAD KE-21

Oleh : Almadar Fattah  

Revisi kurikulum merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menjawab tantangan pendidikan pada abad ke-21. Pemerintah berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dengan mempersiapkan murid untuk menghadapi tantangan global dan kebutuhan industri.

Sehingga revisi kurikulum 2025 memang menjadi topik yang hangat dibicarakan. Ada beberapa isu yang menjadi perhatian, diantaranya :
1. Revisi kurikulum 2025 menuai kontroversi karena dianggap tidak melibatkan semua pihak yang terkait, seperti guru, orang tua, dan siswa.
2. Ada sebagian  pihak merasa bahwa proses revisi kurikulum tidak transparan dan tidak ada kejelasan tentang apa yang diubah dan mengapa.
3. Beberapa pihak khawatir bahwa revisi kurikulum 2025 akan menurunkan kualitas pendidikan di Indonesia.
4. Ada beberapa guru dan siswa telah melakukan protes terhadap revisi kurikulum 2025 karena merasa bahwa perubahan tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.
Untuk itu, revisi kurikulum 2025 memang menjadi isu yang kompleks dan perlu dibahas lebih lanjut untuk mencapai solusi yang terbaik bagi pendidikan di Indonesia.

Dengan demikian, penting bagi pemerintah dan pihak terkait untuk mendengarkan kekhawatiran dan masukan dari guru dan siswa untuk memastikan bahwa revisi kurikulum 2025 dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Revisi kurikulum tahun 2025 merupakan bagian dari reformasi pendidikan di Indonesia yang berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran. Kurikulum 2025 resmi ditetapkan sebagai kurikulum nasional melalui Permendikbudristek No. 13 Tahun 2025, dengan pendekatan deep learning untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Beberapa poin penting terkait revisi kurikulum 2025, pertama Capaian Pembelajaran (CP) terbaru 2025 mencakup kompetensi yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase perkembangan di semua jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga pendidikan menengah. Kedua  Fokus Pembaruan, seperti Pembelajaran Holistik: Mengintegrasikan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, Penerapan Praktis: Memastikan murid dapat menerapkan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, dan Penerapan Praktis: Memastikan murid dapat menerapkan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga beberapa mata pelajaran mengalami perubahan, bahkan ada penambahan mata pelajaran baru. Namun, P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) dihapus. Keempat kurikulum ini mulai diterapkan pada tahun ajaran 2025/2026, namun sekolah yang belum siap masih dapat menggunakan Kurikulum 2013.

Revisi kurikulum 2025 di Indonesia bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan beberapa perubahan utama : Pertama Perubahan Kerangka Dasar Kurikulum yang fokus pada pembelajaran mendalam yang relevan, berbasis nilai, dan berorientasi pada perkembangan karakter. Kedua Komponen Kurikulum, terdiri dari intrakurikuler (mata pelajaran wajib), kokurikuler (penguatan kompetensi), dan ekstrakurikuler (pengembangan potensi dan bakat). Ketiga Pendekatan Pembelajaran, berbasis pada pemahaman, aplikasi, dan refleksi untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.Keempat Struktur Kurikulum, disesuaikan dengan jenjang pendidikan, seperti PAUD, pendidikan dasar, dan menengah, dengan mata pelajaran wajib dan pilihan. Kelima Ekstrakurikuler, berorientasi pada kebutuhan peserta didik, bersifat pilihan, dan menyenangkan, dengan tujuan mengembangkan potensi, bakat, dan kepribadian.

Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 menjadi landasan hukum revisi kurikulum ini, yang bertujuan menyiapkan peserta didik untuk berkontribusi positif dalam masyarakat dan membangun bangsa yang maju.

Revisi kurikulum 2025 bertujuan menyiapkan peserta didik untuk berkontribusi positif dalam menghadapi tantangan global dengan membekali mereka dengan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang relevan. Beberapa tujuan revisi kurikulum ini antara lain, a) Meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, mengembangkan keterampilan abad ke-21 seperti komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah. b)  Membentuk karakter yang kuat dan berintegritas. c) Meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap isu-isu global dan lingkungan. d) Mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga negara yang aktif dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, revisi kurikulum 2025 diharapkan dapat membantu peserta didik menjadi lebih siap dan tangguh dalam menghadapi tantangan global.

Revisi kurikulum yang sudah beberapa kali dilakukan belum tentu gagal, tapi mungkin ada beberapa faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan belum meningkat signifikan.

Implementasi  Kurikulum yang dirancang dengan baik belum tentu diimplementasikan dengan baik di lapangan. Guru mungkin belum sepenuhnya memahami atau belum siap mengajar dengan metode baru.

Kualitas Guru, karena Guru memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Jika guru belum memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai, maka kualitas pendidikan tidak akan meningkat.
Sumber Daya, kurangnya sumber daya, seperti fasilitas sekolah, teknologi, dan bahan ajar, dapat menghambat implementasi kurikulum yang efektif.

Keterlibatan Stakeholder, keterlibatan orang tua, masyarakat, dan pemerintah sangat penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Jika salah satu pihak tidak terlibat secara aktif, maka kualitas pendidikan tidak akan meningkat.

 Evaluasi dan Pemantauan, evaluasi dan pemantauan yang efektif sangat penting untuk mengetahui apakah kurikulum yang diterapkan sudah efektif atau belum.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan, termasuk kurikulum, guru, sumber daya, dan stakeholder. Dengan demikian, dapat diketahui letak kesalahannya dan dilakukan perbaikan yang tepat.

Revisi kurikulum semestinya diimbangi dengan peningkatan kualitas guru dan fasilitas pendidikan yang memadai. Guru yang berkualitas dan fasilitas yang memadai dapat membantu meningkatkan efektivitas implementasi kurikulum baru.

Peningkatan kualitas guru dapat dilakukan melalui pelatihan dan pengembangan profesional, pemberian insentif dan penghargaan bagi guru yang berprestasi dan pembinaan dan pengawasan yang efektif.

Fasilitas pendidikan yang memadai juga sangat penting, seperti ruang kelas yang nyaman dan kondusi, teknologi dan peralatan pembelajaran yang memadai dan perpustakaan dan sumber belajar yang lengkap.

Kalau ini terpenuhi pemerintah dapat memastikan bahwa revisi kurikulum dapat diimplementasikan dengan efektif dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Di negara maju, fasilitas pendidikan memang sangat diutamakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Fasilitas pendidikan yang memadai dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif. Dengan fasilitas pendidikan yang memadai, murid dapat belajar dengan lebih efektif dan nyaman, sehingga dapat meningkatkan prestasi akademik dan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Fasilitas yang memadai, murid dapat merasa nyaman dan aman di sekolah, sehingga dapat fokus pada proses belajar dan meningkatkan prestasi akademik. Fasilitas yang memadai juga dapat membantu meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa.Dengan demikian, murid dapat merasa nyaman dan bahagia di sekolah, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan prestasi akademik.

Dengan fasilitas yang memadai, murid dapat merasa nyaman dan menganggap pendidikan sebagai bagian yang menyenangkan dari kehidupan mereka. Ketika murid merasa nyaman dan bahagia di sekolah, mereka lebih cenderung untuk menikmati proses belajar, mengembangkan minat dan bakat, meningkatkan prestasi akademik dan membangun hubungan yang positif dengan guru dan teman-teman serta mengembangkan keterampilan sosial dan emosional.

Dengan demikian, pendidikan dapat menjadi pengalaman yang positif dan bermakna bagi murid, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang lebih baik.

Kurikulum 2025 di Indonesia mengalami beberapa perubahan signifikan. Diantaranya poin penting terkait perubahan ini adalah :

Pendekatan Pembelajaran Mendalam. Kurikulum ini menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam yang menekankan pada penciptaan suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

Mata Pelajaran Baru.  Dua mata pelajaran baru yang diperkenalkan adalah Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI). Mata pelajaran ini akan mulai diperkenalkan secara bertahap di kelas 5 SD, kelas 7 SMP, dan kelas 10 SMA/SMK pada tahun ajaran 2025/2026.

Ekstrakurikuler Wajib.  Semua jenjang pendidikan diwajibkan untuk melaksanakan ekstrakurikuler minimal Kepramukaan atau bentuk kepanduan lainnya untuk memperkuat pendidikan karakter dan menanamkan nilai-nilai kedisiplinan.

Struktur Kurikulum. Struktur kurikulum terbaru memuat jenis mata pelajaran dan jumlah alokasi jam intrakurikuler dan kokurikuler per tahun. Perubahan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan membuatnya lebih relevan dengan kebutuhan abad ke-21.

Fleksibilitas.  Kurikulum ini memberikan fleksibilitas bagi sekolah untuk mengembangkan bentuk-bentuk pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dan konteks lokal. Sekolah juga dapat memilih model implementasi Muatan Lokal (Mulok) yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan sekolah.

Revisi kurikulum tahun 2025 bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia agar lebih relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Dengan demikian, siswa dapat memiliki keterampilan dan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Beberapa aspek yang dapat ditingkatkan dalam revisi kurikulum 2025 antara lain: Keterampilan abad ke-21, seperti keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi., Pendidikan karakter: seperti pendidikan kewarganegaraan, kepemimpinan, dan kesadaran sosial., Keterampilan teknologi: seperti koding, kecerdasan artifisial, dan penggunaan teknologi informasi., dan Pendidikan berbasis proyek: seperti pembelajaran berbasis proyek yang dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah dan bekerja sama.

Kritik konstruktifnya, kebijakan pendidikan seharusnya tidak bergantung pada selera atau kepentingan pribadi pemerintah yang memimpin, melainkan harus berbasis pada kebutuhan dan kepentingan masyarakat luas. Kebijakan pendidikan yang berkelanjutan dan berpandangan jangka panjang sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. 

Masukan konstruktifnya pemerintah harus dapat mengembangkan kebijakan pendidikan yang stabil dan berkelanjutan, meningkatkan kualitas pendidikan secara konsisten, mengurangi kesenjangan pendidikan antara daerah-daerah, dan mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan global.

Kebijakan pendidikan yang berpandangan jangka panjang dan berbasis pada kebutuhan masyarakat dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda.

Semoga revisi kurikulum tahun 2025 bukan hanya sekedar memenuhi selera pemerintah, tetapi benar-benar bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Sehingga revisi kurikulum dapat membawa manfaat yang nyata bagi siswa, guru, dan masyarakat luas.

Harapan revisi kurikulum 2025 dapat menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda.

(Pendidik & Aktif Menulis Berbagai Media Harian Di Makassar Tahun 90an)

(Edisi Ke-2) LAMASARIANG || Tanah Penjagaan, Masjid yang Berdiri dalam Ingatan


Episode Kedua
Lamasariang: Tanah Penjagaan, Masjid yang Berdiri dalam Ingatan

Lamasariang—nama itu tumbuh pelan-pelan dari tanah Mandar yang permai, seperti pohon yang menua di hati angin. Ia bukan sekadar sebutan kampung, melainkan gema dari masa silam, bisik dari leluhur yang menitipkan makna. Dari kata “lama” yang berarti tempat, dan “sariang” yang berarti penjagaan dalam bahasa tua, tersusunlah satu nama yang harum: tempat yang dijaga. Dijaga oleh lembang Punnagza yang mengalir setia, oleh rumah-rumah kayu di Manjopai yang bersandar pada waktu, oleh gumuk tenang Tammangalle, dan langit yang selalu menyorot simpang empat Karama dan Pandebulawang dengan tatapan biru yang panjang.

Tidak ada catatan resmi yang menuliskan sejak kapan kampung ini hidup. Tapi pohon-pohon lontar yang berdiri sabar di tepian tanah, dan debu jalan yang tak kunjung lelah dilalui kaki orang pulang, menjadi saksi bahwa Lamasariang sudah lama menampung kisah. Sebelum kepala desa pertama dikenal, kampung ini telah menjelma rumah—dengan rumah-rumah panggung dari kayu hasil tebasan peluh dari Oting dan Pandebulawang. Tempat ini menerima siapa saja yang ingin berteduh, seakan ia tahu: semua yang datang akan jatuh cinta.

Pada masa negeri masih belajar mengeja damai, pos tentara Resimen Infanteri 710 berdiri kokoh di Lamasariang, dipimpin oleh Andi Selle. Kala itu, kampung ini bukan sekadar hunian, melainkan titik strategis penghubung Makassar dan Mamuju. Setelah pasukan berpindah, tanah itu tidak tidur. Masyarakat menjadikannya tempat bermain layang-layang dan berkumpul sambil mappsitinda’ lake—tanda bahwa tanah bisa berubah fungsinya, tapi tidak kehilangan maknanya. Tak jauh dari situ, berdiri sebuah masjid tua. Ia tak ubahnya perahu besar yang diam menanti badai. Di sanalah doa-doa berkumpul, dan kelak, sebuah keajaiban lahir.

Gempa pada 11 April 1967 (magnitude 6,3) memicu tsunami di Teluk Mandar
Kemudian pada 14 Oktober 1969, bumi menggeliat tak biasa. Gempa besar kembali mengguncang Mandar —tercatat hingga 6,9 skala Richter. Tanah merekah, air sumur menghitam, dan udara seakan menggantung.  Masjid tua di lamasariang roboh perlahan. Tiang-tiang kayunya patah, atapnya rebah seperti doa yang belum sempat selesai. Namun dari reruntuhan, muncul sosok Pua Juhena, keluar dengan langkah tertatih tapi selamat. Tanda Abariah kecil menyaksikannya—dalam diam yang haru—dan hingga kini, kenangan itu masih utuh dalam cerita-cerita lisan.

Masjid itu mungkin tak lagi ada dalam bentuk semula, tapi kenangan tentang imam pertamanya, Puayi Guni, tetap kokoh di hati warga. Diperkirakan berdiri sebelum tahun 1959, beliau bukan hanya pemimpin shalat, tapi juga suluh dalam gelap. Setelahnya, muncul Pua Haris dari Karama, seorang annangguru yang mendidik dengan hati yang penuh teduh. Ada pula Abdul Jabbar Kamana i Musu, darah daging Puayi Guni, dan sosok-sosok yang tak kalah harum seperti Ru’ding Kama Suwedah Hatte’ dan Pua Juhenat Bindal—mereka adalah pondasi batin yang tak pernah benar-benar runtuh.

Di masa sebelum listrik masuk, Ramadhan tiba bagai syair gelap yang ditulis cahaya lampu petromax. Lampu gas digantung di kayu yang dirangkai dari rumah ke rumah—milik Kama Maniya, Kama Tanda, Kama Hamar, dan orang-orang mampu lainnya. Cahaya itu menerangi malam-malam puasa. Anak-anak kecil berlari di halaman, menanti denting beduk magrib. Suara mereka seperti mercon kecil yang memecah keheningan dengan tawa.

Di depan masjid, ada sumur tua, kolam yang tak lagi digunakan, dan pohon kelapa tua yang disebut Anjoro Kapal—karena batangnya pendek tidak menjulang seperti tiang kapal yang karam di pasir waktu. Di sana, anak-anak menunggu beduk ditabuh Pua Juhena. Ketika suara itu menggema, mereka pun berlarian pulang untuk berbuka. Malam hari sebelum tarawih, halaman berubah menjadi panggung riang. Anak-anak bermain petak umpet, sementara gadis-gadis menjajakan canggoreng batte dengan senyum malu-malu.

Di sisi lain masjid, dahulu ada pasar pagi yang ramai. Di sanalah denyut ekonomi kampung bergelora. Tak jauh dari situ, berdiri kandang kuda dan rumah penginapan bagi tamu jauh. Di antara mereka yang pernah menginap adalah Pak Ranti—polisi pertama yang ditugaskan di Tinambung. Lamasariang bukan sekadar titik di peta, melainkan pelabuhan bagi mereka yang butuh singgah, butuh pulang.

Saat waktu sahur tiba, Kama Suwedah menjadi yang pertama membangunkan kampung dengan suara toa  model corong minyak, dengan kaset-kaset mengaji klasik yang mengalun dari radio kecil. Suaranya tidak nyaring, tapi meresap. Ibu-ibu bangun perlahan, memasak dalam senyap yang ditemani embun. Nasi mengepul dalam kukusan, lauk-lauk sederhana tersaji dengan cinta yang hangat.

Subuh datang, dan anak-anak tak kembali ke ranjang. Mereka berkelompok, berjalan kaki ke Paayumang. Entah apa yang mereka cari, mungkin hanya suasana, mungkin hanya kebersamaan. Tapi langkah itu adalah pelajaran. Tentang hidup, tentang persaudaraan, tentang kampung yang mengajarkan arti menjadi manusia.

Kini masjid telah direnovasi. Tiangnya beton, dindingnya bersih berkeramik. Tapi banyak yang percaya: ruh masjid tetap milik zaman dahulu. Milik imam yang tak dikenal generasi sekarang, tapi doanya masih tercium di langit kampung. Jejak kaki Pua Juhena mungkin sudah hilang, tapi suara langkahnya masih terdengar jika kita menunduk dan benar-benar mendengarkan.

Lamasariang bukan hanya tempat yang dijaga, melainkan penjaga itu sendiri. Ia menjaga kenangan, menjaga persaudaraan, menjaga cinta dalam bentuk yang paling sederhana. Ia berdiri bukan karena semen, tapi karena keringat, karena bakti, dan karena kesetiaan pada tanah dan langit yang sama.

Sejarah tidak selalu ditulis di buku. Ia kadang mengalir dalam mata anak yang melihat ayahnya menggantung petromax, dalam suara lembut ibu yang menyiapkan sahur, dalam langkah kaki anak-anak menuju Paayumang. Lamasariang adalah rumah yang hidup dalam doa. Rumah yang tetap ada, meski waktu berlalu. Rumah yang akan selalu pulang, bahkan jika tubuh tak lagi bisa kembali.

Catatan Hidupku
Safardy Bora

Ketika PERAHU SANDEQ BERBICARA DAN MEMBUKA DIRI

Oleh : Almadar Fattah 

Perahu Sandeq memang sangat erat kaitannya dengan budaya dan kehidupan masyarakat Mandar di Sulawesi Barat. Perahu Sandeq merupakan simbol keberanian, ketangkasan, dan kearifan lokal dalam berlayar dan berinteraksi dengan alam laut. Selain itu, perahu ini juga menjadi bagian penting dari tradisi dan identitas masyarakat Mandar.

Perahu Sandeq memiliki desain yang ramping dan lancip di bagian depan, yang dapat diartikan sebagai simbol kesederhanaan dan kerendahan hati. Desain ini juga menunjukkan kearifan lokal dan filosofi hidup masyarakat Mandar yang menekankan pentingnya kesederhanaan dan kerendahan hati dalam menjalani kehidupan.

Tiang layar tunggal pada perahu Sandeq yang dibantu oleh beberapa ikatan yang membentang ke bawah menunjukkan efisiensi dan kesederhanaan dalam desain. Ini juga menggambarkan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam dan teknologi sederhana untuk mencapai tujuan, seperti berlayar dan mencari nafkah di laut.

Layar putih pada perahu Sandeq dapat diartikan sebagai simbol kesucian dan kemurnian dalam mencari nafkah di laut. Warna putih sering dikaitkan dengan kesucian, kejujuran, dan ketulusan, sehingga layar putih pada perahu Sandeq dapat menggambarkan harapan untuk mencari nafkah dengan cara yang halal dan baik.

Katir atau cagak pada perahu Sandeq yang membentang di sisi kiri dan kanan perahu sebagai penopang stabilitas dapat diartikan sebagai simbol keseimbangan dalam kehidupan.

Sama seperti perahu yang memerlukan keseimbangan untuk berlayar dengan stabil, kehidupan juga memerlukan keseimbangan antara berbagai aspek, seperti spiritual, material, emosi, dan sosial, untuk mencapai kestabilan dan harmoni.

Perahu Sandeq yang kecil dan lancip memungkinkan untuk bermanuver dengan lincah dan cepat di laut, serta dapat menjangkau perairan yang lebih dalam. Desain ini menunjukkan kearifan lokal dalam menciptakan kapal yang sesuai dengan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat Mandar.

Ayo kita lestarikan dan jaga perahu Sandeq sebagai warisan budaya maritim yang unik dan berharga bagi masyarakat Mandar. Melestarikan perahu Sandeq, kita juga melestarikan sejarah, tradisi, dan identitas budaya masyarakat Mandar yang kaya dan beragam. Mari kita banggakan dan lestarikan warisan budaya kita.

Perahu Sandeq memang merupakan perahu tradisional yang luar biasa, mampu menembus batas waktu dan tetap eksis di tengah kemajuan peradaban modern.

Keberadaan perahu Sandeq yang masih terjaga hingga saat ini merupakan bukti nyata dari ketekunan dan kebanggaan masyarakat Mandar dalam melestarikan warisan budaya leluhurnya. Perahu Sandeq tidak hanya menjadi simbol kebudayaan, tetapi juga menjadi ikon kekuatan dan ketahanan masyarakat Mandar dalam menghadapi perubahan zaman.

Dengan sentuhan bahasa modern, cerita dan keunikan perahu Sandeq dapat dipromosikan lebih luas dan dikenal oleh masyarakat global, sehingga warisan budaya ini dapat lebih dihargai dan dilestarikan.

Pengenalan perahu Sandeq melalui media sosial, dokumenter, dan promosi budaya dapat membantu meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat internasional terhadap kekayaan budaya Indonesia, khususnya budaya Mandar.

Perahu Sandeq tidak hanya mempertahankan keaslian tradisinya, tetapi juga siap menaklukkan samudra luas dengan adaptasi bahasa modern.

Untuk itu, Sandeq dapat tetap eksis dan dikenal luas di era global ini tanpa kehilangan esensi dan identitas budaya Mandar yang kuat. Perpaduan antara tradisi dan modernitas ini akan membuat perahu Sandeq semakin relevan dan dihargai di berbagai belahan dunia.

Tanah kelahiran Sandeq, yaitu Mandar, tetap menjadi sumber inspirasi dan jiwa yang kuat dalam menaklukkan dunia modern.

Warisan budaya dan tradisi yang kaya dari Mandar menjadi pondasi bagi Sandeq untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan zaman, sambil tetap mempertahankan identitas dan keaslian budaya Mandar yang unik. Sehingga Sandeq dapat menjadi simbol kebanggaan bagi masyarakat Mandar dan Indonesia secara keseluruhan.

Sandeq dan Mandar tidak pernah terpaku pada satu bahasa tertentu, karena bahasa hanyalah alat untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan keunikan Sandeq kepada dunia modern.

Dengan menggunakan berbagai bahasa, Sandeq dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan memperkenalkan keindahan budaya Mandar kepada masyarakat global, tanpa kehilangan esensi dan identitas budaya yang kuat.

Sandeq dengan sentuhan bahasa asing tetap akan mempertahankan keaslian dan keunikan budaya Mandarnya.

Bahasa luar hanya menjadi sarana untuk memperkenalkan Sandeq kepada dunia internasional, namun esensi dan jiwa Mandar tetap menjadi identitas utama Sandeq.  Sandeq dapat tetap eksis dan berkembang di era global tanpa kehilangan akar budayanya.

Sandeq tidak akan kehilangan esensi dan identitasnya hanya karena menggunakan bahasa luar, malahan Sandeq membutuhkan sentuhan bahasa modern untuk memperkenalkan dan mempertahankan jati dirinya kepada dunia luas.

Untuk itu, Sandeq dapat tetap relevan dan dikenal di era global ini, sambil tetap mempertahankan keaslian dan keunikan budaya Mandar yang kuat. Bahasa modern menjadi sarana untuk memperkuat identitas Sandeq, bukan melemahkannya.

Perahu Sandeq yang tradisional dapat menembus cakrawala modern dengan mempertahankan keaslian budayanya sambil mengadaptasi teknologi dan bahasa modern untuk meningkatkan visibilitas dan apresiasi global terhadap kekayaan budaya Mandar.

Sandeq tidak hanya menjadi simbol budaya masa lalu, tetapi juga menjadi ikon kebanggaan budaya yang relevan di era modern.

Perahu Sandeq membutuhkan sentuhan modern untuk meningkatkan visibilitas dan pengakuan internasional, namun tetap mempertahankan identitas budaya Mandar yang kuat.

Perahu Sandeq sang penakluk lautan perlu ada pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya dunia, Perahu Sandeq dapat menjadi simbol kebanggaan nasional dan budaya Indonesia, serta meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat global terhadap kekayaan budaya Indonesia.

Perahu Sandeq dapat menjadi mercusuar bagi budaya Mandar untuk dikenal dan dihargai oleh dunia luar. Dengan sentuhan multi bahasa dan  dimempromosikan keunikan dan keindahan Sandeq, masyarakat Mandar dapat memperkenalkan kekayaan budayanya kepada masyarakat global, sehingga meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap budaya Mandar secara keseluruhan.

Perpaduan antara tradisi dan modernitas akan membuat perahu Sandeq semakin relevan dan dihargai di berbagai belahan dunia. Mari kita lestarikan dan jaga perahu Sandeq sebagai warisan budaya maritim yang unik dan berharga bagi masyarakat Mandar.. Itulah Perahu Sandeq, menjadi ikon kebanggaan budaya yang relevan di era modern.

(Aktif Menulis Berbagai Media Harian di Makassar Tahun 90an).

Jumat, 18 Juli 2025

Membuka Harapan dari Bumi Sulbar


Membuka Harapan dari Bumi Sulbar: Apresiasi atas Langkah Strategis Gubernur SDK dalam Ketahanan Pangan

Catatan Safardy Bora

Alhamdulillah, di tengah riuhnya tantangan global dan keluh kesah pangan dunia yang tak kunjung usai, dari tanah Sulawesi Barat, kita menyaksikan seberkas cahaya muncul. Sebuah langkah berani, nyata, dan penuh harap ditempuh oleh Gubernur Sulbar, Dr. Suhardi Duka. Dalam rapat koordinasi yang digelar 17 Juli 2025, beliau bukan hanya menekankan urgensi perluasan area tanam, tetapi juga bersedia turun langsung menembus sekat-sekat administratif dan struktural demi membuka ruang kehidupan: sawah-sawah baru, pangan bagi rakyat.

Langkah Gubernur SDK memerintahkan Dinas Pertanian untuk tidak ragu mengajukan potensi cetak sawah meski berada dalam kawasan hutan lindung (selama tidak termasuk kawasan konservasi) patut diapresiasi sebagai upaya inovatif dan taktis. Di sinilah peran seorang pemimpin diuji—bukan semata mengelola regulasi, melainkan menavigasi jalan keluar dari keruwetan kebijakan demi kepentingan publik.

Namun demikian, agar langkah ini tidak menjadi letupan sesaat yang kehilangan arah, ada baiknya kita menimbang beberapa pendekatan strategis agar program cetak sawah berjalan dengan baik, lestari, dan berdaya guna:

1. Pemetaan Potensi Berbasis Data Spasial dan Sosial Setiap wilayah memiliki riwayat ekologis dan sosialnya sendiri. Perlu pendekatan berbasis peta tutupan lahan (land cover) terkini, peta tanah, dan kerawanan bencana, dikombinasikan dengan data sosial—siapa yang akan mengolah, bagaimana sistem pengairannya, dan apa dampak sosialnya. Kementerian ATR/BPN, KLHK, dan BIG memiliki sumber daya data yang bisa disinergikan dengan Pemprov Sulbar.


2. Revitalisasi Irigasi dan Inovasi Tata Air Mikro Cetak sawah tidak boleh dipisahkan dari soal air. Bukan sekadar membuka lahan, tapi membangun sistem pengairan yang sesuai dengan topografi Sulbar yang banyak berbukit dan berlembah. Teknologi embung kecil, pompanisasi tenaga surya, hingga sistem irigasi tetes untuk kawasan marginal dapat menjadi solusi alternatif.


3. Kemitraan dengan TNI dan Perguruan Tinggi Cetak sawah pernah berhasil di masa lalu karena ada dukungan penuh dari TNI sebagai pelaksana di lapangan. Demikian pula, pelibatan perguruan tinggi seperti Unasman, Unsulbar, dan Polbangtan bisa memperkaya pendekatan dengan riset-riset inovatif dan pendampingan teknologi tepat guna.


4. Transparansi dan Partisipasi Masyarakat Keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh seberapa dalam masyarakat diajak terlibat. Keterbukaan informasi, pendekatan musyawarah desa, dan pola bagi hasil yang adil akan membuat para petani merasa memiliki dan menjaga sawah barunya seperti menjaga anak sendiri.


5. Diversifikasi Pangan Lokal Walau beras menjadi target utama, Gubernur SDK juga dapat menjadikan momentum ini sebagai jalan masuk untuk mengangkat kembali pangan lokal Sulbar: jagung gigi kuda, ubi, sorgum, sagu, dan talas. Ketahanan pangan bukan hanya soal stok beras, tetapi tentang keragaman sumber gizi.



Langkah Gubernur SDK sejatinya merupakan tanggapan serius terhadap tantangan besar Indonesia: food insecurity. FAO (2023) mencatat bahwa setidaknya 58 juta rakyat Indonesia berada dalam kondisi moderate food insecurity. Maka dari itu, langkah Sulbar mencetak sawah bukan sekadar proyek pertanian, melainkan strategi peradaban: mempertahankan kedaulatan bangsa dari ancaman lapar.

Dan di akhir renungan, kita kembali pada satu hikmah: tanah yang subur tidak hanya diukur dari tingkat kesuburan lahannya, tetapi dari keberanian pemimpinnya menanam harapan di tengah sempitnya kemungkinan.

Teruskan, Gubernur SDK. Sulbar sedang menanam masa depannya.

Salam Dari Kaltim 

Safardy Bora

(Edisi ke-1) Lamasariang, Riwayat Sebuah Dusun

Di ujung selatan poros Sulawesi, ketika aspal belum sepenuhnya menaklukkan jalan tanah, berdirilah sebuah dusun bernama Lamasariang. Sebuah nama yang berhembus lembut dari lidah-lidah tua, seolah membawa aroma tanah basah dan desir angin laut. Konon, nama itu lahir karena kampung ini dulu dipenuhi pohon lamasariang, yang dalam bahasa Indonesia disebut lontar—pohon perkasa dengan batang menjulang dan daun bagai kipas raksasa, yang memberi naungan dan kehidupan.

Lamasariang bukan sekadar titik di peta, ia adalah denyut kehidupan yang tenang, tempat setiap hari berjalan pelan tanpa tergesa. Jalan nasional yang kini ramai dulu hanyalah lorong panjang berdebu, tempat anak-anak berlarian tanpa alas kaki, dan para ibu menjemur jagung di halaman rumah, ditata rapi di atas tikar pandan yang harum matahari.

Penduduk Lamasariang datang dari berbagai penjuru: Napo Saleko, Napo Buyung, Samasandu, Mosso, Cendra, Galung, Lambepanda’, Puttotor, Pandebulawang, hingga Saliwo’o. Mereka membawa cerita dan darah masing-masing, namun menyatu dalam satu harmoni. Perbedaan tak menjadi jarak; justru ia menjahit kebersamaan yang hangat, sehangat senja yang merunduk di balik pohon kelapa.

Di rumah-rumah, setiap hari terdengar ketukan bertalu-talu dari alat tenun. Suara itu berasal dari tangan-tangan terampil para ibu dan gadis Lamasariang yang menenun sarung sutra Mandar. Profesi ini bukan sekadar mata pencaharian, tetapi warisan budaya yang dijaga dengan cinta. Irama ketukan kayu dan benang yang meregang adalah musik kehidupan, yang mengalun lembut di antara dinding bambu dan semilir angin laut.

Kehidupan mereka sederhana, bertumpu pada huma dan ladang, menanam jagung, ubi kayu, dan bawang kampung di bukit-bukit berbatu. Tanah itu kebanyakan milik maradia, pa’bicara, atau papuangan, yang dengan bijak memelihara hak ulayat. Bila ada yang pindah rumah, acara itu selalu dilakukan setelah salat Jumat, agar banyak tangan ikut mengangkat rumah panggung bersama-sama—sebuah tradisi gotong royong yang sarat makna persaudaraan.

Di setiap rumah panggung, kehidupan berdenyut pelan. Dinding anyaman bambu, atap rumbia yang sesekali menetes ketika hujan lebat, menjadi saksi bisu tawa anak-anak dan percakapan orang tua tentang musim tanam bawang. Malam-malamnya sunyi, hanya lampu minyak yang berkelip, ditemani suara serangga yang bernyanyi di antara rumpun pisang.

Gadis-gadis, para ibu, dan remaja mandi pagi dan sore di lembang-lembang alami yang diberi nama indah: Pokki, Ca’bu, dan Ganda Gandang. Airnya jernih, memantulkan cahaya matahari dan bayangan pepohonan yang rimbun. Di sanalah mereka bercengkerama, tertawa lepas, dan berbagi cerita, menjadikan setiap percikan air sebagai tanda kehidupan yang riang.

Jika ada hajatan pernikahan atau pesta tamat mengaji, suasana kampung berubah menjadi semarak. Sarapo mulai didirikan, panci-panci besar bergelantungan, dan aroma kue tradisional seperti marridi pupu dan maccucur menyebar ke udara. Setengah bulan sebelum acara, rumah keluarga yang akan berpesta sudah ramai oleh sanak saudara, semua datang untuk membantu, menjadikan kebersamaan itu sebagai pesta sesungguhnya.

Kampung ini pernah dipimpin oleh tokoh-tokoh yang namanya tak lekang oleh waktu. Ada Pak Suyuti Tamma, yang disebut orang sebagai Kapala Suyuti, sosok yang tegas namun bersahaja. Setelahnya, Abdul Wahab alias Puanna i Icicci, yang akrab disapa Kapala Matoa, memimpin dengan kearifan adat. Hingga akhirnya, menjelang perubahan zaman, Irsyad Wahab menutup babak terakhir sebagai kepala desa sebelum Lamasariang beralih menjadi kelurahan Balanipa.

Meski pemimpin silih berganti, satu hal tak berubah: kerukunan. Orang Lamasariang hidup seperti air yang mengalir—bening dan tenang. Gotong royong adalah nafas kehidupan; ladang digarap bersama, hajatan dirayakan bersama, duka pun dipikul bersama. Tidak ada yang terlalu kaya, tidak ada pula yang terlampau miskin. Semua cukup, sebagaimana kampung mengajarkan arti kecukupan.

Namun bagiku, Lamasariang bukan sekadar kampung; ia adalah halaman pertama dari sebuah buku kehidupan. Di sanalah aku belajar tentang arti persaudaraan, kesederhanaan, dan harapan. Di balik setiap pohon kelapa, di setiap jalur lorong tanah, ada kenangan yang terpatri. Dan setiap kali aku menoleh ke belakang, aku mendengar suara masa lalu yang berbisik: “Ingatlah kami, sebab kami adalah bagian dari dirimu.”

Catatan harian, awal perjalanan hidupku
Safardy Bora

Jejak Emas yang Hilang dari Pandebulawang

Safardy Bora

Di antara bayang-bayang sejarah Mandar yang megah dan samar, nama Ha'dani atau Dani—putra dari Puangna Massi bin Daengna Nakka—masih bergema lembut di sela-sela desir angin Saleko. Ia dilahirkan sekitar awal 1900-an, pada masa di mana langit masih bersih dari deru pesawat kolonial, namun bumi telah dijejak derap pasukan asing. Dani dikenal bukan hanya sebagai seorang pua patiamah, pewaris darah terhormat, tetapi juga sebagai petani kaya yang menyatu dengan tanah dan emas.

Menurut penuturan cucunya, Safardy Bora, melalui cerita ibunya yang masih membekas hangat di ingatannya, sang Dani bukan petani biasa. Ia menanam emas di dalam hidupnya. Dari emas Pulu Sodzo—emas murni berkilau seumpama cahaya subuh di antara sela anyaman tikar bambu—hingga emas Passambo, berbentuk bulatan pipih yang dulu disimpan para perempuan bangsawan dalam selendang kecil di balik baju lamba-lamba mereka. Bahkan anak-anak perempuan pun kala itu memiliki kepingan emas kecil—indopong dan bali-bali'—sebagai tanda kehormatan dan warisan budaya.

Namun kekayaan itu bukan hanya perhiasan. Ia adalah simbol martabat, hasil keringat, dan kecintaan yang diwariskan turun-temurun. Sayang, sejarah bukan hanya kumpulan kejayaan. Ia juga luka yang menganga.

Ketika bayangan Belanda menebal di Mandar, Saleko tak luput dari incaran. Rumah Dani, yang berdiri di kawasan Saleko—kampung para pandai emas yang harum namanya sejak abad-abad silam—dibakar. Tidak hanya atap dan dindingnya yang hangus, tetapi juga martabat dan harta yang tersimpan di dalamnya. Sunusi, sang anak menantu, ditangkap pasukan Belanda rumah itu. Ia saksi mata dari sebuah penghapusan jejak.

Gelang lenyap, cincin raib, dan perhiasan anak-anak perempuan yang dulu digenggam seperti doa malam kini tinggal kenangan. Begitu pula dengan emas pulu sodzo dan passambo, seperti hilang tertelan waktu. Sejak kejadian itu, Pandebulawang tak lagi terdengar sebagai pusat penempaan emas. Bara di tungku padam. Palu dan landasan diam seribu bahasa. Generasi berikutnya tumbuh tanpa gemerincing logam mulia.

Namun sejarah tidak pernah benar-benar padam. Ia hidup dalam ingatan, dalam cerita cucu yang menulis, dan dalam bisik-bisik tanah tua yang masih menyimpan serpih jejak emas Pandebulawang.

Kamis, 17 Juli 2025

H. Syahril HM Taher: Dari Jalanan Kelam Menuju Cahaya Kepemimpinan


Awal Gelap & Titik Balik
Sebelum dikenal luas sebagai tokoh Pemuda Pancasila dan pengusaha sukses, H. Syahril HM Taher pernah menempuh perjalanan yang penuh liku. Ia tumbuh di lingkungan keras dan nasib membawanya ke dunia preman. Beberapa kali harus merasakan dinginnya jeruji—tercatat pernah ditahan karena kasus kekerasan dan pembunuhan. Namun, di balik jeratan masa lalu itulah, ia menemukan titik balik hidupnya.

Kehidupannya kian lengkap, melalui bimbingan Jamaah Tabligh, ia menerima hidayah dan secara bertahap meninggalkan dunia kelamnya, menggenggam nilai-nilai keimanan dan hidup yang lebih baik.

Kepemimpinan dan Kiprah Sosial

Mengepalai MPC Pemuda Pancasila Balikpapan sejak awal 2000-an, lalu kembali terpilih 2024–2029, bahkan diperpanjang hingga 2034, karena kepercayaannya dalam menjaga stabilitas organisasi saat krusialnya persiapan Ibu Kota Nusantara.

Aktif mengusung program sosial: pembagian sembako saat Ramadan, kurban Idul Adha, dan kerja bakti lingkungan, melibatkan ratusan pemuda.

Di ranah olahraga, ia pernah memimpin Persiba Balikpapan, mengantar klub ke persaingan liga tingkat atas dan kini tercatat sebagai chairman klub tersebut.


Duka Keluarga & Rangkaian Hidup
Baru-baru ini, Sabtu 16 Juli 2025, Balikpapan berduka atas wafatnya putra sulungnya, Yaser Arafat Syahril (lahir 5 Agustus 1984), Ketua KADIN Balikpapan. Yaser dikenal sebagai sosok muda yang taat ilmu dan agama—santri di Darunnajah, Jakarta. Keluarga mengambarkan beliau sebagai pribadi yang santun & penuh keteladanan. Kehilangan ini menjadi ujian besar bagi Syahril dan keluarga, seraya menjadi pengingat akan kefanaan hidup.

Nama Lengkap Syahril & Anak?

Nama lengkap bapak: H. Syahril HM Taher.

Nama lengkap putra sulung: Yaser Arafat Syahril (5 Agustus 1984–16 Juli 2025)  .


Penutup & Pesan Keteladanan

Kisah hidup Syahril HM Taher adalah contoh luar biasa: dari masa lalu yang suram dan penuh kekerasan, hijrah menuju cahaya iman dan produktivitas. Ilmu dan amalnya bukan sekadar memimpin, tetapi memberi teladan. Namun ujian terbesar datang silih berganti—terakhir duka kehilangan Yaser.

Dengan kerendahan hati, kami ambil hikmah: tiap manusia memiliki potensi hijrah dan menjadi sumber inspirasi. Namun, keteladanan juga membawa tanggung jawab besar. Semoga perjalanan hidup beliau menjadi cermin bagi kita semua—bahwa perubahan sejati berasal dari hidayah, dan keteladanan tumbuh dari kesetiaan memperbaiki diri.  

Tawe' maraya 🙏🙏🙏

(Safardy Bora)

Senin, 14 Juli 2025

APRESIASI ATAS GAGASAN LITERASI GUBERNUR SULBAR || Menyalakan Pelita Bangsa Melalui Buku

SAFARDY BORA

Alhamdulillāh, Indonesia kembali disapa secercah harapan dari ufuk barat Sulawesi. Gagasan brilian yang digulirkan oleh Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, tentang kewajiban membaca minimal 20 buku sebagai syarat kelulusan bagi siswa SMA/SMK, bukan hanya kebijakan administratif, melainkan langkah strategis membangun peradaban. Dalam kebijakan ini, kita tidak sedang bicara angka—melainkan ruh pengetahuan yang ditanamkan sejak muda dalam benak generasi pewaris negeri.

Di tengah gelombang distraksi digital dan dangkalnya minat baca, SDK hadir dengan ketegasan intelektual: membaca adalah syarat lulus. Ini bukan pemaksaan, tapi penanaman nilai. Dua dari dua puluh buku itu bahkan memuat narasi tokoh lokal, Andi Depu dan Baharuddin Lopa, sebagai afirmasi identitas kultural dan teladan karakter luhur dari tanah Mandar.

Gagasan ini patut diteladani oleh Pemda, Pemkot, bahkan seluruh Pemerintah Provinsi se-Indonesia. Sebab, literasi bukanlah domain eksklusif para akademisi; ia adalah fondasi pembangunan. Negara-negara maju tidak dibangun dengan beton semata, tetapi dengan pemikiran yang dipelihara dari halaman-halaman buku.

Secara ilmiah, literasi berperan sebagai katalis pengembangan berpikir kritis (critical thinking), peningkatan keterampilan metakognitif, dan pembentukan empati melalui pengenalan ragam narasi. Pendidikan yang hanya mengejar nilai tanpa membaca, adalah pendidikan tanpa akar. Sementara membaca menumbuhkan akar kognitif dan afektif siswa agar kelak tumbuh menjadi pohon-pohon pemimpin yang kokoh dalam moral dan bermanfaat dalam sosial.

Dari sudut pandang sosiologis, instruksi membuka pojok baca dan perpustakaan mini di instansi pemerintah adalah terobosan penting dalam perluasan public literacy space. Ini bukan sekadar ruang buku, melainkan ruang tumbuhnya gagasan, ruang dialog sunyi antara pembaca dan semesta makna.

SDK, dalam surat edarannya, juga tidak lupa membuka jalan bagi dukungan konkret: penggunaan dana BOS untuk sarana perpustakaan, serta penyiapan tenaga pengelola. Ini bukti bahwa kebijakan ini tidak sekadar retorika, tetapi sistematis dan berakar pada regulasi.

Maka, tak berlebihan jika kita menyebut kebijakan ini sebagai revitalisasi pendidikan melalui literasi. Ia membawa pesan moral: bahwa kecerdasan bukan warisan, melainkan hasil jerih payah memahami dunia—lewat membaca.

Gagasan SDK ini adalah gema zaman, isyarat bahwa pendidikan sejati tidak berhenti di ujian, tetapi hidup dalam pengalaman membaca dan memahami. Semoga gema ini sampai ke seluruh pelosok Nusantara, dan menjadi cermin bagi para pemimpin daerah lain untuk berani menanam peradaban—lewat buku.

Salam dari Kaltim 
Safardy Bora

DIPLOMASI BUDAYA DALAM PRAKTIK LEGISLATIF || Refleksi Kunjungan Kerja Ketua DPRD Kaltim dan Ketua KKMSB ke Wilayah Utara Kalimantan Timur

Catatan Safardy Bora 

Di antara lanskap utara Kalimantan Timur—di mana hutan bertemu laut, dan jalan-jalan panjang menembus perkampungan dan pesisir—berlangsung satu perjalanan yang bukan sekadar kerja birokrasi, melainkan juga peristiwa kebudayaan. Dr. Ir. H. Hasanuddin Mas’ud, Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Timur sekaligus Ketua Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) Wilayah Kaltim, turut mendampingi Gubernur Kalimantan Timur, Dr. H. Rudy Mas’ud, dalam lawatan kerja ke Bontang dan Kutai Timur pada Juli 2025. Di sisinya, istri tercinta Ustadzah Hajjah Nurfadiah menyertai, menjadi bagian dari wajah sejuk dan spiritual dalam safar ini.

Dalam setiap perhentian dan dialog publik, Hasanuddin tidak hanya mengedepankan posisinya sebagai ketua legislatif, tetapi juga sebagai putra budaya yang membawa ruh Mandar dalam ruang-ruang strategis pembangunan daerah. Ia menyempatkan diri menemui pengurus KKMSB di kota Bontang dan  KKMSB kabupaten  Kutai Timur, ia membangun percakapan hangat tentang arah komunitas, nasib identitas, serta pentingnya menjembatani budaya dan kebijakan publik.

Sebagai Ketua DPRD, Hasanuddin menegaskan fungsi representasi yang tidak terbatas pada sidang dan meja rapat, melainkan juga dalam wajah kemasyarakatan yang hidup. Ia hadir dalam tinjauan infrastruktur, dalam evaluasi pelaksanaan program sosial Gratispol dan Jospol, serta dalam forum-forum kecil bersama warga yang tak diliput kamera. Di balik itu semua, ia mengusung narasi yang lebih luas: bahwa pembangunan sejati adalah pertautan antara kemajuan fisik dan kebangkitan nilai-nilai lokal.

Peran ganda Hasanuddin—sebagai legislator dan pemimpin kultural KKMSB—menjadi penting dalam konteks Kalimantan Timur sebagai tanah perantauan. Mandar tidak sekadar hadir dalam nama dan upacara, tetapi dalam jaringan sosial yang aktif, dalam etika gotong royong yang hidup, serta dalam komitmen untuk tetap menjaga akar sambil menyerap air zaman. Dalam dialognya dengan pengurus KKMSB, ia mengingatkan pentingnya kejujuran, objektivitas, dan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat posisi komunitas Mandar sebagai bagian integral dari kemajuan Kalimantan Timur.

Tulisan ini merekam bukan hanya perjalanan fisik, tetapi perjalanan makna—bahwa keberpihakan terhadap nilai dan kebudayaan tidak pernah bertentangan dengan semangat pembangunan. Di pundak Hasanuddin Mas’ud, terpikul dua tanggung jawab: menjaga arah kebijakan daerah melalui DPRD, dan menjaga denyut identitas melalui KKMSB. Dua-duanya ia jalankan bukan sebagai beban, tetapi sebagai amanah yang lahir dari cinta terhadap tanah perantauan, dan rasa syukur atas jejak leluhur.

Mandar Kaltim.... Cinta Mandar adalah cinta Kaltim..
Salam


Minggu, 13 Juli 2025

TANGGAPAN SAFARDY BORA ATAS TULISAN DARMANSYAH


TANGGAPAN SAFARDY BORA || Atas Tulisan Darmansyah Berjudul Kerajaan Sendana Dalam Terori Kenegaraan Ibnu Khaldun

http://pusakakuofficial.blogspot.com/2025/07/kerajaan-sendanadalam-teori-kenegaraan.html

Safardi Bora: 
Tulisan gurunda ini menghadirkan pendekatan yang cerdas—mengawinkan sejarah lokal dengan teori besar Ibnu Khaldun. Suatu keberanian intelektual yang patut diapresiasi, karena menyandingkan Mandar, khususnya Kerajaan Sendana, ke dalam panggung pemikiran dunia Islam klasik.

Namun, dalam lanskap akademik, keterkaitan ini memerlukan tahapan metodologis yang lebih tajam: dari rekonstruksi naskah, jejak lisan, hingga pemaknaan ashabiyah yang kontekstual dengan kondisi sosial Mandar kala itu. Jika tidak, kita akan mudah tergelincir dalam euforia kesepadanan konsep, namun kehilangan akar-akar empiris dari kerajaan itu sendiri.

Meski demikian, tulisan ini tetap menyala sebagai upaya awal yang menjanjikan. Semoga api ilmunya tak sekadar membakar wacana, tetapi juga menghangatkan generasi Mandar hari ini agar tak hanya menemukan artefaknya—melainkan juga roh peradabannya.

Safardi Bora: 

Sy mencoba… GELISAH… dan ‘BAPER’… pada dua kata di penghujung tulisanTa—ROH dan PERADABAN."

Sepakat kita kanda bahwa pertanyaan ini tidak sederhana. Ia menggugah sesuatu yang lebih dalam dari sekadar retorika—yakni hipotesis laten tentang mengapa tokoh-tokoh leluhur seolah mendekati gambaran manusia paripurna, padahal hidup di zaman yang dari sisi teknologi sangat jauh dari era kita.

Secara metodologis, pendekatan yang dapat digunakan adalah fenomenologi kultural, yakni membaca makna yang tersembunyi di balik pengalaman bersama yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam pendekatan ini, roh bukan sekadar entitas spiritual, melainkan inti nilai yang menghidupi tindakan, etika, dan relasi antar manusia. Sementara peradaban bukan hanya kumpulan artefak atau kemajuan infrastruktur, tapi sistem hidup yang memiliki arah, kesadaran, dan rasa.

Kemajuan ilmu dan teknologi hari ini bersifat prosedural dan instrumentalis. Namun, apa yang dimiliki para leluhur bukan sekadar pengetahuan, tapi ilmu yang laduniyah—datang dari keheningan batin, intuisi kolektif, dan dialektika batiniah dengan alam. Mereka tidak menjadikan IPTEK sebagai tujuan, melainkan alat untuk menjaga harmoni.

Maka, kerinduan kita hari ini pada masa silam bukan hanya kerinduan pada kesederhanaan hidup, tetapi pada jiwa yang utuh—yang tidak terpecah oleh kecepatan, tetapi tertambat pada makna. Barangkali, di situlah letak "roh peradaban" yang hilang hari ini.

Sebagaimana ungkapan entah dari siapa, yang pelan-pelan menggema kembali:
"Enak pada zaman AKU too…"

Mungkin bukan zamannya yang enak. Tapi manusia di dalamnya lebih mengenal dirinya, lebih mengenal Tuhannya, dan lebih mengenal semesta.

Tawe’ kandaku, i ami yang fakir  ini, insyaallah kita sepakat "jangan khawatir dianggap menggurui. Kadang yang gelisah itulah penjaga sunyi dari ilmu yang hendak padam".

Malakkai kanda, minta maaf 🙏🙏🙏

KONSEP DAN KONFIGURASI || Logo Sandeq Silumba 2025

Konsep & Konfigurasi Logo Sandeq Silumba 2025

Sandeq adalah perahu khas Mandar sekaligus perahu tradisional Mandar. Dikatakan perahu khas Mandar karena hanya di Mandar saja perahu ini dibuat, digunakan dan asalnya memang ciptaan orang Mandar. Disebut sebagai perahu tradisional Mandar karena dilihat dari proses pembuatannya dari awal sampai peluncurannya ke laut semuanya penuh dengan tata cara dan upacara magicreligius yang berlaku di daerah Mandar. 

Keberadaan Sandeq sebagai salah satu perahu yang tangguh di tengah lautan yang mencerminkan filosofi orang Mandar yang gagah berani mengarungi samudera. Oleh karenanya SANDEQ SULUMBA dihelat 
untuk menunjukkan kekayaan budaya dan tradisi maritim yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. 

Saya percaya bahwa even SANDEQ SILUMBA 2025 ini akan semakin memupuk semangat gotong royong dan sportivitas di kalangan masyarakat, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan laut kita.

Mari kita jadikan even ini sebagai momentum untuk terus memajukan budaya maritim kita, serta meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga laut dan segala isinya. Semoga lomba perahu ini membawa keberkahan dan kemajuan bagi kita semua.


Sabtu, 12 Juli 2025

KERAJAAN SENDANA DALAM TEORI KENEGARAAN IBNU KHALDUN

Oleh: Drs. Darmansyah, M. Hum.

Agar dapat diterima secara akademik eksistensi kerajaan Sendana, maka proses penulisannya harus dirangkai dengan rakitan logika yang kokoh. Dalam masyarakat yang semakin cerdas dan kritis, penulisan sejarah (historiografi) tidak dapat diterima dan tidak bisa bertahan lama, bagaikan sarang burung yang rapuh dan pasti segera menghilang - bila penulisannya tidak ditopang oleh teori yang memadai.  Oleh karena itu, akan dikemukakan teori berdirinya kerajaan Sendana berdasarkan pemikiran tokoh filosofis politik Ibnu Khaldun. Apa dan siapa Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun mempunyai nama lengkap Abdurrahman ibnu Khaldun al-Magribi al-Hadrami al-Maliki. Ia berkebangsaan Arab Hadramaut dilahirkan di Tunisia pada abad ke- 14 Masehi (732 Hijriyah atau 1332 Masehi) sezaman dengan tokoh legendaris Pongkapadang (1320 Masehi) atau generasi ke- 2 Pongkapadang (Topole di Makka 1345 Masehi).

Ibnu Khaldun memandang bahwa, masyarakat nomaden yang suka berpindah-pindah tidak mungkin dapat membangun kebudayaan dan peradaban. Kehadiran orang-orang Toraja di bawah kepemimpinan Pongkapadang di Tabulahan, sebagai awal kehidupan menetap – membangun kebudayaan dan peradaban di wilayah Mandar kala itu. Inilah perbedaan antara kehadiran Tomanurung di Gowa, Luwu, Bone yang mempersatukan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat menjadi sebuah bangsa yang lebih besar (kerajaan). Sementara kehadiran Tomanurung di Mandar, dianggap sebagai “PAMULATAU”, yaitu mengajak manusia untuk hidup sedenter, menetap menjadikan lingkungan geografis sebagai bagian darinya – itulah komunitas Masyarakat Hukum Adat.

Teori politik Ibnu Khaldun dalam bukunya “MUQADDIMAH”, dengan konsep ashabiyah, yaitu solidaritas kelompok, kesatuan komunitas-komunitas masyarakat, dan semangat kollektif yang menjadi dasar terbentuknya negara dan kekuasaan – sangat relevan lahirnya kerajaan Sendana. Ibnu Khaldun memandang bahwa negara dan peradaban mengalami siklus hidup serupa dengan organisme kehidupan; lahir merangkak - tumbuh remaja – dewasa (masa kejayaan), kemudian masa  tua (mengalami kemunduran dan berahir dengan kematian).

Kerajaan Sendana berasal-usul dari emrio masyarakat di bawah kepemimpinan Tomakakak Daeng Tumanang di Sakrawang dan oleh Tomakakak Andirinna di Tallambalao. Kemudian ia tumbuh remaja di bawah kepemimpinan Daeng Palulung dan berlanjut ke Puatta I Sakrawang. Di Tangan Puatta I Podanglah, Sendana mengalami kejayaan terutama pada bidang politik; Bila semula kepemimpinan hanya otoritas tunggal, kemudian permusyawaratan di antara unit-unit masyarakat – lalu berkembang menjadi sebuah Lembaga Majelis Permusyawaratan Adat - itulah Kerajaan Sendana.

Ibnu Khaldun dengan teorinya, menyebutkan bahwa sebuah negara, layaknya manusia mampu bertahan hanya 120 tahun dengan 4 fase kehidupan; (1) 30 tahun fase kelahiran, pertumbuhan, sampai remaja; (2) 30 tahun fase remaja sampai dewasa; (3) 30 tahun fase dewasa atau kejayaan, dan (4) 30 tahun masa tua, runtuh, dan pada akhirnya berahir dengan kematian. Berahirnya kerajaan Sendana dan semua kerajaan-kerajaan di Mandar di tangan kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda (Afdeling Mandar).   

SEMOGA BUKAN HANYA ARTEFAKNYA YANG DITEMUKAN HARI INI

SUSUNAN KADHI BALANIPA

Susunan Kali (Kadhi) Balanipa : 

1. Abdurrahim Kamaluddin Tosalama di Binuang (Imam)

2. Puang di Tammangalle  "Cucu dari Toappauju Daeng di Pare-Pare" (Imam)

3. Aji Massepe  To Panrita (Imam)

4. Puang di Tammangalle (Imam)

5. Aji Massepe To Panrita  (Imam) 

6. Puang di Tammangalle (Pertama kali memakai gelar Kali Balanipa)

7. Djalaluddin Puang di Bala (Kali Balanipa)

8. Puanna Itappe (Kali Balanipa)

9. Puanna  Icaidi "saudara  Puanna  Itappe" (Kali Balanipa)

10. Puamungang Daeng Mallipu "sepupu 1x dari Puanna  Icaidi dan Puanna  Itappe" (Kali Balanipa)

11. Muhammaq Puanna Itaebang "anak dari Daeng Mallipu" (Kali Balanipa)

12. Imadang  Puanna  Isihakang "saudara Puanna Itaebang" (Kali Balanipa)

13. Daeng Manyiwi "Appo poro anaqna Tosalama di Binuang" (Kali Balanipa)

14. Kaeq Puang di Buttu "menjadi Kali Balanipa sewaktu Pammarica menjadi Arajang Balanipa" (Kali Balanipa, Puang Limboro)

15. Isupu Puanna Iba'du "anaknya Daeng Mallipu" (Kali Balanipa)

16. Puang Pandeng "saudara Puanna  Iba'du" (Kali Balanipa)

17. Kunu Puanna Iyamang / Puang Bonde "anak dari Puang di Buttu" (Kali Balanipa)

18. Puang Sipole "Cucu Puang di Bala" (Kali Balanipa) 

19. Puanna  Iriama "anak dari Puang Sipole" (Kali Balanipa)

20. Puang Kecce/ Puanna Iyabara "anak Puang Pandeng" (Kali Balanipa)

21. Puang Timoras "saudara Puang di Buttu"  (Kali Balanipa) 

22. Panggeyo Puang Kaiyyang Are "saudara Puang di Buttu" (Kali Balanipa, Puang Limboro) 

23. Kunu Puanna Iyamang / Puang Bonde "anak dari Puang di Buttu" (Kali Balanipa)

24. Puang Sipole "Cucu dari Puang di Bala" (Kali Balanipa)

25. Puanna  Iriama (Kali Balanipa)

26. Puang Saoda' (Kali Balanipa, Pa'bicara Kenje)

27. Aji Sumaila "Suami dari Puang Bassal" (Kali Balanipa)

28. Puang Gamaru / Puang Bambalalang "ipar dari Aji Sumaila" (Kali Balanipa)

29. Inase Puang Pocci / Puanna  Ipasa " anak dari Kunu Puang Bonde" (Kali Balanipa)

30. Puang Kollang "anak dari sepupu 2x nya Puang Pocci" (Kali Balanipa)

31. Mahmud Puang Toji "sepupu 1x Puang Kollang" (Kali Balanipa)

32. Ikasang Puang Matta / Puang Masigi "anak dari Puanna Siakang: (Kali Balanipa)

33. Puaji Mahmud Puang Toji "sepupu 1x Puang Kollang"

34. Idollah A'bana Aco "anak dari Kali Banggae" (Kali Balanipa)

35. Iyuseng "Cucu dari Puang Sipole" (Kali Balanipa)

36. Muhammad Aming To Panrita "beliau menjadi Kali sewaktu Ilaju Kanna Doro menjadi Arajang Balanipa" (Kali Balanipa)

37. Imuna Daenna Hatijah (Kali Balanipa)

38. Iparukkai  (Kali Balanipa)

39. Aji Daeng "saudara dari Irungga Maraqdia Pambusuang" (Kali Balanipa)

40. Ima'amung cucu dari Puanna  Iba'du (Kali Balanipa)

Berdasarkan catatan Lontar dan di fotocopy oleh Drs. Muh. Salim Kasi sarana bidang PSK Kanwil Dep. P & K Prop. Sul-Sel.

Dokumen ANRI

Transliterasi oleh : Rajab Ashari

PUATTA I PODANG || Pendiri Kerajaan Sendana

Oleh: Darmansyah 

Catatan pendahuluan:
(1) Jika benar Tapali melahirkan I Rerasi, maka I Rerasi bersepupu sekali dengan Puatta I Sa’rawang;
(2) Dan jika benar I Rerasi melahirkan Daeng Matandrek Karaeng Manguntungi Tumaparisik kallona (raja Gowa ke- 9), maka raja Gowa ke- 9 bersepupu dua kali dengan Puatta I Podang (Pendiri kerajaan Sendana).


Berdasarkan wawancara saya dengan annanggurutta, Drs. A. M. Mandra (1996) – Beliau menyebutkan bahwa, Daeng Marituk dalam menjalangkan roda pemerintahan di Sakrawang, tidaklah begitu lama – Marituk pergi meninggalkan Sakrawang/ Sendana entah kemana !. Kekosongan kepemimpinan di Sakrawang, tampillah tokoh intelektual - populer dengan gelar ‘Puatta I Podang’ mengambil alih jalannya pemerintahan.


Sebagai seorang intelektual, Puatta I Podang mempersatukan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Sakrawang yang geografis meliputi; Puttakdak, Leppangang, dan Pundau. Dikemudian hari dikenal dengan “PAPPUANGANG PUTTAKDAK”. Ketua adat Pappuangang Puttakdak adalah turunan I Takdak. I Takdak adalah seorang putra sulung Daeng palulung/ Tomesaraung Bulawang (Baca: Lontarak Pattappingang, 1984/1985, halaman 371). 


Persekutuan antara Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Puttakdak (Pappuangang Puttadak) dengan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Tallambalao (Marakdia Adat Tallambalao) melahirkan “KERAJAAN SENDANA”. Pusat pemerintahan kerajaan Sendana tidak di Sakrawang (puncak gunung Puttakdak) – juga tidak  berpusat di Pangaleroang Tallambalo – Tapi di pusatkan diantara keduanya, yaitu; di PODANG (tempat srategis dalam melakukan transportasi dan transpormasi di pelabuhan bahari pulau Taimanuk Palipi).


Tokoh intelektual Puatta I Podang – Mendirikan kerajaan Sendana, sejak semula sudah menerapkan sistim pembagian kekuasaan (Trias Politika), yaitu; Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif. 
(1) Legislatif. 
Lembaga Musyawarah Adat mempunyai otoritas dalam menetapkan adat-istiadat (hukum). Adat-istiadat, diadopsi dari tradisi/ kebiasaan yang pernah dilaksanakan pada Masyarakat Hukum Adat di wilayah adat masing-masing. 
Selain itu, Lembaga Musyawarah Hadat Kerajaan Sendana (lembaga politik-pen) – mempunyai kedudukan tertinggi dalam struktur pemerintahan kerajaan Sendana (Majelis Permusyawaratan Masyarakat Hukum Adat) yang berwenang; memilih, melantik, dan memberhentikan Raja Sendana sebagai kepala pemerintahan/ kepala negara (atau proto negara). 


Anggota Lembaga Permusyawaratan Adat Kerajaan Sendana - semula hanya 2 Kesatuan Masyarakat Hukum Adat yang diwakili oleh (1) Pappuangang Puttadak dan (2) Marakdia Tallambalao. Kedua anggota lembaga ini - tidak saling membawahi, masing masing sebagai ketua (dalam bahasa lokal disebut “RARUNG” hanya berbeda wilayah kerja). Lembaga Permusyawaratan Adat Kerajaan Sendana - di bawah koordinator Pakbicara Kaiyyang.

Dalam perjalanan pemerintahan Kerajaan Sendana, Komunitas Masyarakat Hukum Adat lainnya mulai mengintegrasikan diri kedalam pemerintahan kerajaan Sendana, dan menjadi anggota (bahasa lokal disebut Bannang) diantaranya: (1) Komunitas Masyarakat Hukum Adat Limboro Rambu-Rambu di era Puatta I Battayang (Lihat: Inventarisasi, Transliterasi, Terjemahan dan Pengungkapan Latar Belakang Nilai Serta Isi Naskah Kuno/ Lontar Mandar, Daerah Sulawesi Selatan, Terbitan Direktorat Jenderal kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1985/ 1986; (2) Komunitas Masyarakat Hukum Adat Limbuak/ Lakkading di era Puatta I Kukbur, setelah invasi militer ke Passokkorang; (3) Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Onang; (4) Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Tubo di abad ke- 18 Masehi. (5) Dan beberapa Komunitas Masyarakat Hukum Adat lainnya mulai terbentuk dan bergabung.


(2) Yudikatif. Yudikatif dalam bahasa lokal populer dengan istilah Pakbicara Kaiyyang. Untuk pertama kalinya, Pakbicara Kaiyyang di Kerajaan Sendana dijabat langsung oleh Puatta I Podang. Pakbicara Kaiyyang di Kerajaan Sendana memiliki dua fungsi utama; pertama sebagai Pakbicara Parrattas (pengadilan/ pemutus perkara), kedua sebagai pimpinan wilayah adat di Podang dan sekitarnya.
Itulah sebabnya Pakbicara Kaiyyang selain sebagai pimpinan yudikatif, juga sebagai koordinator Lembaga Hadat di Kerajaan Sendana.


(3) Eksekutif. Kepala Pemerintahan atau Raja pertama di Kerajaan Sendana, adalah anak menantu Puatta I Podang (suami dari I Dattiang) yang populer dengan sebutan Tomissawe di Mangiwang (Baca: Andi Syaiful Sinrang dalam bukunya: Mengenal Mandar Sekilas Lintas, Perjuangan Rakyat Mandar Melawan Belanda (1667 – 1949) Bagian I, Diterbitkan oleh Yayasan Kebudayaan Mandar Rewata Rio, 1991.

“SIAPA TOMISSAWE DI MANGIWANG, SAYA SERAHKAN KEPADA TOMALAKBIK-U Andi Pirsan bersama Appona I Jalangkar untuk mengurai lebih dalam”.