Jumat, 09 Agustus 2024

SUHARDI DUKA || Menenun Layar Masa Depan (1)



Disunting oleh Muhammad Munir

SUHARDI DUKA, demikian nama lengkap dari sosok birokrat dan politisi yang akrab disapa SDK ini adalah inspirasi bagi anak negeri ini khususnya generasi Mandar (baca: Sulbar). SDK tentu tak harus dibaca hanya pada level saat ini. Bahwa mantan Bupati dua periode dan Anggota DPR RI 2019-2024 yang kembali terpilih pada Pemilu kemarin ini  adalah sosok yang pernah merasai pahit getir kehidupan yang ia nikmati prosesnya. SDK pernah merasakan naik vespa tua yang setiap harinya dipakai ke Kantor Departemen Penerangan Mamuju. Itu ketiks masih menjadi seorang PNS. Ia lalu beranjak dari zona itu dan mulai menikmati empuknya jok dan laju Pajero ketika menjadi Bupati Mamuju. Sekarang pun ia menikmati jerih payahnya itu sebagai wakil rakyat di Senayan. Putra putrinya sukses dibidangnya masing-masing. Ada yang Ketua DPRD Propinsi, ada yang Bupati dan lainnya.

Apakah posisi SDK hari ini dicapai dengan instan? Tentu tidak. Dalam sejumlah narasi yang penulis temukan SDK itu lahir dari keluarga yang bukan Putra Mahkota di Kerajaan Mamuju, Ia juga bukan anak Gubernur atau anak Bupati yang hidup dalam gelimang harta dan dimanjakan fasilitas. Bapaknya  hanya seorang Staf di Kantor Depdikbud Mamuju yang tentu jauh dari kehidupan mewah. SDK adalah sosok yang berhasil menjadi kapten bagi hidupnya dan tuan bagi nasibnya. Dalam posisi ini, SDK layak jadi panutan yang diedukasi pada setiap tingkatan masyarakat Sulbar. Bahwa salah satu harapan kita adalah, munculnya manusia-manusia intan yang lahir dari proses, bukan manusia instan yang lahir tanpa proses.


Mengenal Kehidupan SDK Kecil.

SDK lahir di Mamuju pada 10 Mei 1962. Bapaknya bernama Abdul Muttalib Duka. Potret kehidupan SDK dari kecil lahir dan bertumbuh layaknya anak-anak kampung. Ia akrab dengan alam dan lingkungan sekitar. Setiap musim panen padi di sawah, SDK bersama anak-anak lainnya berhamburan untuk sekedar bermain padi-padian dan mengambil daun padi yang lebar lalu di bentuk seperti perahu. Perahu buatannya itu dilombakan dengan temannya pada genangan air. Proses ini pasti tak akan difahami oleh anak-anak milenial, terlebih generasi Z.

SDK juga akrab dengan lingkungan sungai, berenang di arus deras, memanjat pohon mangga, langsat dan lainnya. Kadang juga ikut nakal memanjat buah-buahan milik warga meski niatnya sekedar iseng dan main-main. Ini potret anak-anak kampung pinggiran yang tak kenal game, penulis juga sempat merasakan ini pada dekade 80-90an. Ketika menginjak bangku sekolah SD bahkan sampai SMP, SDK kecil masih saja nakal. Bolos dan merokok tak lagi terpisahkan dari keseharian SDK. Merokok ini rupanya sangat dibenci oleh bapaknya, kendati kebiasaan merokok itu tidak menjadi persoalan bagi SDK du sekolah, sebab ia punya om di sekolah yang ia tempati belajar.


SDK Remaja : Mulai Berubah

Waktu terus berjalan mengitari proses kehidupan seorang SDK. Kenakalan dari kecil sampai tamat dibangku SMP mulai kelihatan berubah ketika usianya menanjak dan masuk ke SMA Negeri 1 Mamuju. Pikirannya sudah mulai memformat dirinya untuk bisa meraih prestasi. Ia mulai tekun belajar, terlebih saat didapuk jadi ketua kelas. Ia bahkan mulai membuat ruang kreatif bernama Study Club dan dipercaya menjadi ketua. Ini membuat SDK menjadi lues bergaul, termasuk dengan anak-anak pejabat di Mamuju. Baginya, status sosial dan kondisi ekonomi bukan penghalang baginya untuk berbaur. Bakat kepemimpinan mulai tertanam saat jadi ketua kelas dan Study Club. Kecendrungannya menyukai bidang studi IPS terbaca dengan kegemarannya menyerap dasar-dasar ilmu politik.

3 Tahun di SMA mengubah SDK menjadi seorang remaja yang berprestasi. Ia lulus ujian dan meraih peringkat lulusan terbaik. Atiek Sutedja, Bupati Mamuju kala itu hadir mengalunkan pita ke leher SDK disaksikan oleh ayahnya di acara perpisahan yang dihelat di Aula SMA Negri 1 Mamuju. Hal yang membahagiakan SDK adalah prestasinya diganjar dengan nominal rupiah yang khusus diperuntukkan membiayai pagar sekilahnya. Ini menjadi modal sosial yang kelak dinikmati oleh adik-adik kelasnya. Di acara itu, SDK disorot oleh ratusan pasang mata para orang tua siswa dan 100 orang siswa yang tamat, termasuk sosok seorang gadis yang pernah ia kagumi tentunya.

Setelah tamat SMA, SDK nekat ke Makassar. Tak ada yang ia harapkan jadi pengurus untuk lanjut kuliah. Tekad untuk melanjutkan studi di Makassar terus menggunung. Praktis, ia masuk kota Makassar bagaikan masuk hutan rimba. Baginya, menjadi mahasiswa UNHAS adalah impiannya. Dan tercatat, SDK adalah satu-satunya siswa asal Mamuju yang namanya tercantum pada kolom pengumuman di Kampus Baraya Unhas. Ia tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UNHAS tahun 1981.

Sejak menjadi mahasiswa di Kampus Unhas Baraya, SDK melabuhkan pilihannya pada organisasi ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dari sini ia mulai melayari dinamika politik nasional, meski pada pemahaman paling dasar. Dari SDK kian matang setelah tercatat jadi pengurus PMII Komisariat Unhas yang bersamaan sebagai pengurus organisasi intra kampus yakni Komisariat Korps Mahasiswa Publisistik (Komapu). Selain itu, ia juga bergabung pada penerbitan kampus Tabloid Identitas, salah satu media kampus terbaik di tingkat nasional pilihan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta dan Lembaga Pers Doktor Sutomo Jakarta. Dari sinilah SDK mendapatkan kesempatan ketemu penulis penulis ternama sekelas Sinansari Ecip dan Goenawan Mohammad.

Selain bergabung di organisasi Ekstra dan Intra Kampus, SDK juga menjadi bagian dari organisasi HIPERMAJU. Aktif berorganisasi rupanya tak menghambat kuliahnya, ia bahkan kian matang. Itu karena SDK tak pernah melewatkan dinamika yang terjadi. Ia bahkan terlibat dalam aksi pembakaran mobil Wali Kota Madya Ujungpandang, Kolonel Abustam. Beruntung, Ahmad Amiruddin kala itu mengayomi mahasiswanya sehingga tak ada satupun yang dapat sanksi skorsing. Ahmad Amiruddin faham betul bahwa tindakan Abustam mencampuri urusan kampus dengan dalih sesuai aturan NKK-BKK adalah tindakan yang melanggar otonomi kampus.


Pernikahan SDK

SDK yang dikenal sebagai aktifis di kampus itu tentu menjadi primadona. Tapi ada sosok yang membuat hatinya tertaut ketika pertama ketemu di sebuah pesta salah satu kerabatnya. Sosok itu tak lain adalah Harsinah, mojang Gowa yang parasnya nyaris menguasai tidurnya. Gejolak hatinya begitu membuncah hingga akhirnya ia memutuskan untuk  mempersunting gadis pujaannya itu. Ketika itu Tahun 1983, SDK berusia 21 tahun dan masih berstatus sebagai  mahasiwa. Ayahnya merestui untuk menikah dan hadir sebagai penyaksi ikatan suci putranya dengan Harsinah. Keduanya telah sepakat untuk hidup bersama dalam suka duka. Setahun kemudian lahir anaknya yang pertama bernama Sutinah Suhardi.

Kelahiran anaknya yang pertama membuatnya harus bekerja untuk kebutuhan keluarga dan biaya kuliah tentunya. Ia mulai bekerja di BKBN dan TVRI Makasaar sampai pada tahun 1985 terbuka penerimaan pegawai di Departemen Penerangan (Deppen). SDK diterima masuk PNS dengan Golongan II dan ditempatkan di Mamuju. Praktis SDK harus menyelesaikan kuliahnya yang tinggal setahun dijalaninya sekaligus sebagai PNS. Selesai kuliah, SDK mendapatkan dua hal berharga, yaitu ijazah sebagai tanda pernah belajar dan istri serta anak sebagai tanda bahwa ia adalah anak muda yang bertanggung jawab.   

Tahun 1986, SDK berupaya penyesuaian menjadi Golongan III dan pulang ke Mamuju bersama keluarga kecilnya. Ia kembali ke kampung halamannya membawa modal berupa ijazah sarjana, pengalaman organisasi, seorang istri yang setia, satu orang anak dan SK PNS.

BERSAMBUNG 

SIAPA PEMIMPIN IDEAL UNTUK SULBAR ?


Catatan Muhammad Munir


Pengantar

Menjelang Pemilihan Gubernur Sulawesi Barat tahun ini kian seru. Sebelumnya Pasangan PHS - ARWAN penuh sorak sorai pendukung dengan ekspektasi Golkar akan menjadi kendaraan politiknya di Pilgub Sulbar. Disusul SDK - JSM melakukan Roadshow politik dengan rute Bandara Tampapadang ke Rumah Jonga. Pasangan ini melakukan Konferensi Pers di Rumah Jonga yang ikut dihadiri ribuan massa pendukung. Hari ini (8 Agustus 2024) konstalasi politik berubah setelah DPP  Partai Golkar mengumumkan Padangan ABM - ARWAN untuk maju sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat 2024-2029. Ini tentu menjadi pukulan telat bagi Prof. Husain Syam, sebab pada akhirnya, Arwan Aras yang tadinya digadang-gadang sebagai wakilnya justru berlabuh di Matakali bersama Golkar. Kini, Arwan resmi berpasangan dengan ABM.


Praktis, beberapa hari ke depan, kita akan masih dijejali informasi terkait langkah Sang Professor Andalan itu memilin nasibnya, apakah masih akan percaya diri melanjutkan hajatan setelah kehilangan Arwan dan Partai Golkar?. Termasuk kita masih menunggu informasi dari AIM, pemilik tagline Sulbar Jago akan terus melangkah maju menjadi rival ABM yang tak lain adalah kakak kandungnya?. Bisa jadi ia, sebab AIM dikenal tak pernah mundur atas semua pilihan politiknya, sebagaimana Pilkada Polman 2008, ia dengan bangga berkontestasi dengan saudara kandungnya sendiri.


Memilih Pemimpin atau Penguasa

Setidaknya, dari 4 sosok yang sebagian masih berburu partai untuk kendaraan politiknya, ada hal prinsip yang bahkan wajib untuk kita perbincangkan dari momentum ini, yaitu 'Pemimpin VS Penguasa'. Mengapa harus memaketkan kata 'Pemimpin' dan 'Penguasa' ? Sebab dari Pilkada ini akan lahir penyandang salah satu dari sifat Tuhan yaitu sebagai Pemimpin dan sebagai Penguasa. Membincang kedua kata itu, masih menjadi hal menarik sebab dari rahim UU Pilkada inilah kemudian lahir sebagai pemimpin dan penguasa.

Lalu apa indikator kita memberi nilai pada sosok pemimpin dan penguasa yang akan dilahirkan di Pilkada kali ini ?. Mari kita runut defenisi pemimpin itu sendiri, kerena pemahaman pada arti kata pemimpin ini, ketika tak mampu memberi nilai pada predikat pemimpin yang disandang, maka sebut dan panggil ia penguasa. Penguasa yang hanya menjadikan jabatan sebagai status sosial untuk gagah-gagahan di depan rakyat yang tentu saja ia beli saat kampanye. 


Menelisik Arti Kata Pemimpin

Secara harfiah Pemimpin adalah orang yang memiliki kelebihan sehingga dia mempunyai kekuasaan dan kewibawaan untuk menggerakkan, mengerahkan, dan membimbing  bawahan. Dalam pengertian lebih luas Pemimpin adalah seseorang yang memimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, menunjukkan, mengorganisir dan mengontrol usaha orang lain atau melalui prestise kekuasaan.

Adapun pengertian pemimpin menurut para ahli antara lain; Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, mengatakan bahwa Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
Sementara Robert Tanembaum mengatakan, pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan. Lebih lanjut Prof. Maccoby, menjelaskan bahwa pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius, dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif, kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan. Di lain pihak Lao Tzu, menilai bahwa pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain, sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu.

Yang menarik kemudian dari beberbagai penjelasan tentang pemimpin adalah almarhum Prof. DR. Darmawan Mas'ud Rahman, dalam desertasinya yang sudah dibukukan, secara gamblang menarasikan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang yang mau menjadi pemimpin. Berikut saya kutip secara singkat penjelasan beliau, bahwa ada 4 point yang harus dimiliki seorang yang mau menjadi dan dijadikan pemimpin, yaitu: Bija (turunan karena darah), yaitu (1) Bija to mappatumballe' lita' (penjaga dan penyelamat negri), bija maasse'i lokko' anna siri' (menjaga utuhnya aib dan malu), bija tau dipesissi'/dipebulu (disegani karena memiliki sifat -sifat yang utama), bija tau pia (turunan mara'dia atau turunan adat). (2) Manarang (berilmu), matadang pikkirang (berfikiran tajam), Matadang nawa (inisiatif dan inovatif), Matadang pe'ita (berpandangan jauh kedepan, visioner), Matadang ate (cerdas dan terampil) (3). Barani (berani dan berjiwa pejuang), barani di loa tongan (berani mempertahankan kebenaran), barani maasse'i bottu loa (berpegang teguh pada pendirian), Barani mappadiang sara mapia (berbuat untuk kebaikan), Barani simateang anna sianusan tau maranni (berani mati untuk rakyat). (4) Sugi' (mempunyai kemampuan dan kekayaan), sugi' di nawa-nawa (kaya imajinasi), sugi' di paissangan (kaya ilmu pengetahuan), sugi' di perasa (kaya pengalaman), sugi' di barang-barang (kaya harta)


Belajar Dari Sejarah

Abu Dzar Al Ghifari, adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang terkenal shaleh, amanah. Suatu hari ia menghadap junjungannya dan berkata; " Wahai Rasulullah, berikanlah kepadaku satu tanggung jawab politik, angkatlah aku menjadi salah seorang staf kepercayaanmu untuk mengurusi pemerintahan sebagaimana Ali dan Usamah."

Rasulullah menjawab dengan sangat bijak; " Abu Dzar, kamu adalah salah satu dari sahabatku yang terbaik, setia dan amanah. Tidak ada yang meragukan kesabaran dan keikhlashanmu, akan tetapi kamu tidak memiliki kecakapan politik juga mengurusi pemerintahan."

Melalui kisah ini, manusia agung itu memberikan penegasan kepada mereka yang ingin terjun kedalam dunia politik dan tanggung jawab pemerintahan. Melalui pesan sejarah ini juga mungkin Rasulullah ingin mengingatkan bahwa tanggung jawab sosial adalah amanah yang harus ditunaikan oleh setiap manusia dan keharusan itu tidak melulu menjadi pemerintah, berkuasa atau menjadi pejabat publik. Sebab menjadi pejabat pemerintahan membutuhkan kematangan mental dan keahlian khusus dalam menangani persoalan-persoalan masyarakat (pa'banua) yang tentu membutuhkan pendekatan akademis lalu menentukan dengan adil beberapa kebijakan yang akan diambil. Tanpa itu, Nabi mewanti-wanti untuk tidak memasuki tanggungjawab yang pada akhirnya marruppu-ruppu banua.

Dalam bukunya, Catatan Bangsa Yang Sakit (2012), Maenunis Amin membentuk dua spektrum analogis terkait pesan nabi pada kisah Abu Dzar tersebut; Pertama: Abu Dzar tidak diberikan tanggung jawab politik padahal ia seorang yang shaleh dan amanah, apatah lagi kepada orang yang tidak amanah, berperangai buruk dan khianat. Kedua: nabi tidak menjadikan faktor kedekatan ataupun kekerabatan untuk amanah politik, apatah lagi jika harus menjadikannya sebagai warisan turun-temurun (politik dinasti).

Apakah lantas Abu Dzar Al Ghifari kecewa atas keputusan Nabi yang agung itu. Tidak ! Abu Dzar justru menerima dengan lapang hati nasehat junjungannya tersebut. Dan terbukti Abu Dzar tanpa menjadi pelaku politik ia menjadi tokoh sejarah yang ditulis dengan tinta emas yang mengukir semangat kebijaksanaan, kerendahan hati, dan sikap mendahulukan kemaslahatan dari sekedar mengobar nafsu kuasa dan keinginan menjadi pejabat.


Me-Redefenisi Kata Politik

Dari beberapa uraian tentang Pemimpin dalam sudut pandang tokoh dan sejarah yang saya urai diatas, mari kita mengerucutkan persoalan dengan menggali khasanah kebudayaan kita sebagai orang Mandar, yang nota bene berdiam dan menjadi wajib pilih dalam proses Pilkada ini.  

Hal yang tak bisa kita abaikan adalah bahwa dalam proses pilkada nanti, kata politik yang menjadi hulu dari dari sebuah pemilihan tentu harus bermuara pada situasi yang tidak bisa tidak, harus bisa meredefenisi kata politik secara ilmiah, sebab dalam beberapa proses pemilihan yang pernah ada, masyarakat tentu harus bisa belajar dan menjadi tercerahkan tentang pemaknaan tentang kata politik tersebut. Jika kita mau bijak, sejatinya sekarang kita memahami Politik sebagai amanah sosial untuk hidup saling menghidupi secara jujur dan adil. Politik adalah kematangan mental dan kerendahan hati dalam kekuasaan. Politik adalah keahlian akademis dan bukan lingkaran warisan atau sekedar barang oplosan yang diraih dengan uang.

Kendati meredefenisi makna politik ini sebagai sebuah keharusan, tentu hal ini tak akan serta merta memberi positif side efect yang signifikan dari masyarakat kita yang terlanjur terkontaminasi fikirannya dan menganggap politik sebagai sebuah ajang sipage-pagengge, tipu menipu, sikut menyikut dll. Namun kondisi ini kita harapkan dengan regulasi sistem pilkada yang mengacu pada UU Pilkada yang baru, maka pragmatisme dalam proses pemilihan, sejatinya melahirkan kesadaran kolektif dengan merubah paradigma masyarakat kita tentang arti, makna, hakikat dari sebuah kontestasi politik di Pilkada.

Tentu saja upaya ini tidak serta merta mampu mengubah pola fikir dan laku para konstituen secara akar rumput, sebab sebagian dari mereka terlanjur terbiasa dengan praktek-praktek politik kotor dari politisi yang haus kekuasaan dengan logika uang. Sehingga di lapangan kita kerap masih harus mengurut dada dari masyarakat kita yang apatis melihat proses pemilihan yang tak dibarengi dengan sistem pendidikan politik yang cerah dan mencerahkan.

Sikap apatis itu juga kemungkinan berupa  golput, karena mereka telah membuat generalisasi serta asumsi bahwa pilkada hanya sekedar rutinitas politik lima tahunan yang toch tidak akan signifikan pada perubahan nasib maupun taraf hidup mereka. Atau mungkin juga sebagian akan berfikiran bahwa pilkada hanyalah ajang marginalisasi suara rakyat yang cenderung hanya menguntungkan kalangan elit politik.

Dari semua fragmen hidup yang tercipta dan terlakonkan inilah yang harus menjadi tugas dan tanggung jawab bagi penyelenggara pilkada, pemerintah dan para kandidat untuk tak lagi memberi janji, pembodohan dan mengiming-imingi rakyat dengan berbagai bentuk fasilitas yang hanya membuai mereka dengan bualan dan dandanan politik murahan.

Masyarakatpun seharusnya bisa tercerahkan dan sadar bahwa selama ini mereka menjadi produk jualan yang  tak punya nilai, dan memposisikan diri mereka, dari manusia sebaik-baik bentuk menjadi manusia yang baik untuk dibentuk. Ketika kesadaran lahir maka yang akan lahir dari pemilihan kali ini adalah Pemimpin yang bermental 'Pelayan', bukan Penguasa yang bermental 'Pengusaha'


Memilih Pemimpin dalam Perpektif Amandaran.

Mengapa Mandar ? Dari Mandarlah lahir Sulawesi Barat, dan tagline Sulbar Mala'bi' tentu harus dimulai dari cara mala'bi' memilih pemimpin dan pemimpin yang mala'bi' tentu harus bisa mengelaborasi Mandar sebagai tatanan pola dan nilai-nilai yang terkandung dari filosofi Amandaran itu.

Mandar dalam memilih pemimpin sekelas I Manyambungi Todilaling, I Billa-Billami Tomepayung, I Daetta Tommuane, Ma'ga Daeng Rioso', Tokape, I Calo' Ammana Wewang dll. Prosesnya itu dipersiapkan, mereka adalah manusia yang dipersiapkan, sejak lahir mereka ditempa, tidak sekedar dilahirkan. Saat lahir, kalangan kerajaan menanam pohon kelapa, dan pertumbuhan kelapa itu menjadi parameter dalam penilaian layak tidaknya anak tersebut dijadikan pemimpin. Jika pohon kelapa itu tumbuh dan berkembang dengan cepat (rondong tuo) maka pertanda bahwa anak itu layak dipersiapkan jadi pemimpin. Sebaliknya, jika pertumbuhannya tidak sehat (ma'doyong-doyong) hal tersebut menjadi pertimbangan untuk dijadikan pemimpin.

Hal itu terjadi karena Mandar memang dari dulu mengsakralkan pemimpin dan sangat hati-hati mengangkat pemimpin. Itu terbukti dengan tidak adanya sistem dinasti di kalangan kerajaan, sebagaimana pernyataan salah satu Mara'dia/Arajang Balanipa yang mengatakan; " Madzondong diang bongi anna lelea' pammase, mau ana'u mau appou damuannai menjari mara'dia mua' tania tonama'asayangngi pa'banua. Da muannai dai' dipe'uluang mua' masuangi pulu-pulunna, mato'dori kedzo-kedzona, apa' iyamo tu'u namuarruppu-ruppu' banua."

Inilah wujud amala'biang Mandar dalam memilih pemimpin (Mara'dia). Tidak hanya saat dilahirkan, saat mereka dipilih untuk menjadi pemimpin dan saat menjadi pemimpin, mereka dibekali dengan konsep yang jelas dan itu menjadi kewajiban untuk diimlementasikan dalam proses pemerintahannya. Pemali seorang Mara'dia untuk  melanggar dan itu menjadi patron kepemimpinan. Jika Patron itu dilanggar, maka Appe' Banua Kayyang akan menganulir atau menurunkannya dari tahta.

Hal tersebut terbaca dari ungkapan Tandibella Kakanna I Pattang yang bergelar Daetta Tommuane atau Arajang Balanipa ke-4: “ Naiya Mara'dia, tammatindo dibongi, tarrarei di allo mandandang mata dimerrandanna daung aju, dimadinginna lita', dimalimbonna rura, di ajarianna banne tau, di atepuanna agama. ”(sesungguhnya seorang pemimpin tidak akan terlena dalam lelap tidur dikeheningan malam, tidak akan berdiam diri berpangku tangan di siang hari, namun dia akan terus berfikir dan berupaya serta berikhtiar untuk meningkatkan hasil pertanian, berlimpahnya hasil perikanan, terciptanya ketentraman dankedamaian demi kelangsungan hidup manusia serta sempurnanya kerukunan beragama).

Intinya adalah Mandar tidak pernah menginginkan pemimpin yang akan marruppu-ruppu' banua, Mandar sedini mungkin mempersiapkan pemimpin untuk mappatumballe' lita'. Dari sinilah sehingga Mandar mewajibkan pemimpinnya harus punya karakter Mamea Gambana (Berani, Tegas dan jujur), Tamma' Mangaji (punya kecerdasan intelektual, memahami kondisi geografis dan demografis serta memahami tata kelola pemerintahan), Narete' Panopindang dadzanna (punya pengalaman organisasi kemasyaratan, bukan politisi karbitan), Ketiga karakter tersebut harus terbentuk sebagai pribadi pemimpin. Tujuannya adalah disamping Paindo Naung di Ku'bur Menggara-gara (punya idealisme, gagasan, ide-idenya cemerlang sehingga setelah matipun tetap dikenang oleh rakyat) juga menjadi Labuang Pio namaccappu'i nyawa (Melindungi rakyat kecil, kebijakannya pro rakyat bahkan untuk rakyat kematian bukan masalah baginya).

Inilah konsep kepemimpinan di Mandar yang tidak saja harus dijaga, dilisankan, dituliskan, akan tetapi seyogyanya menjadi acuan dalam memilih pemimpin di jazirah Mandar ini.


Kesimpulan

Dari uraian panjang ini, saya kira menjadi sebuah keharusan kepada penyelenggara, terutama kepada Partai Politik untuk selektif dalam mengusung dan menetapkan Calon Pemimpin. Sebab memilih pemimpin secara serampangan dan karbitan justru akan menjadi sebuah proyeksi pembodohan, pemiskinan dan akhirnya menyengsarakan rakyat.

Jika rakyat tak lagi bisa berdaya, jika rakyat diterlantarkan sistem, jika rakyat tak lagi menjadi prioritas pembangunan, jika rakyat tak lagi bisa menikmati kebijakan pemimpinnya, jika rakyat harus dikuasai dan melayani penguasa, dan jika rakyat hilang kepercayaannya pada pemerintah, maka tunggulah rakyat menyiapkan pemberontakan yang tidak saja menghakimi penguasa tapi juga mengembalikan masyarakat ke zaman siande bau, zaman kacau balau dan tak akan ada lagi dewa penolong yang turun dari langit. Tak ada lagi Tomanurung yang monete di tarauwe untuk menyenangi kita, tak ada lagi Tokombong dibura yang menemani kita, Tak ada lagi Tobisse Ditallang yang bisa menghibur kita, pun tak akan ada lagi Tingalor yang menelamatkan kemanusiaan kita. Yang ada hanyalah paus-paus yang haus dan hanya akan puas melihat rakyatnya mampus !

Selasa, 06 Agustus 2024

MEREDEFINISI KEMBALI MANDAR SEBAGAI WILAYAH, NILAI DAN SUKU || Sebuah Tanggapan

Catatan Muhammad Munir. 

Akhir akhir ini, Mandar kembali jadi seksi untuk dibincang. Mulai dari kata Mandar sampai slogan-slogan Amandarn semisal Tarrare diallo tammatindo dibongi dan seterusnya. Konten Mandar dan kearifan lokal yang berusia ratusan tahun itu santer menjadi konten paling akrab di jejaring media sosial. Bahkan terkesan Mark, penemu Facebook adalah pembuat aplikasi tentang Mandar.

Sampai disini, saya menemukan status di fb yang tendensinya mengundang polemik yang sesungguhnya tidak penting-penting amat didebati. Kenapa begitu, sebab selama ini memang belum terbangun kesepahaman tentang Mandar  itu, baik sebagai suku, nilai maupun sebagai wilayah geografis. 

Status Opy Muis Mandra yang menyoal terkait pernyataan Mayjen (Purn.) Salim S. Mengga saat acara Konferensi Pers di Rumah Jonga yang menyinggung Mandar sebagai Persekutuan, bukan sebagai suku. Kekhawatiran Opy jangan sampai disalah artikan bahwa Suku Mandar itu tidak ada. Itu adalah kekhawatiran yang tak beralasan. Bahwa kemudian ada yang memang ingin menyalah artikan pernyataan itu, saya yakin orang tak akan percaya, sebab Mandar atau Manda' adalah kosa kata kuno  yang terekam dalam berbagai manuskrip jauh sebelum Forum. Sipamandar atau Passemandaran terbangun dalam assitalliang di Luyo atau dikenal dengan istilah Allamungan di Luyo pada tahun 1602. 

Mandar dalam bingkai Sulawesi Barat ini harusnya tak lagi ada perdebatan tentang makna kata Mandar, sebab sesungguhnya pembacaan terhadap makna kata Mandar sesungguhnya sudah final dalam babad sejarah tanah Mandar. 

Sekilas Mandar Dalam Sejarah Peradaban. 

Mandar (dialek PBB) atau Manda' (dialek PUS) dan Menre' (Bugis versi Lagaligo) secara tekstual memang tak tercatat sebagai sebuah suku. Ia adalah kosa kata yang bermakna sungai. Kata Mandar  sebagai sungai sebangun dengan penyebutan orang-orang yang ada di wilayah geografis Sulawesi Barat. Manda' atau Mandaq ini dikenal dalam kehidupan sosial Masyarakat di wilayah pegunungan seperti Matangnga, Tabulahan dan sekitarnya (baca: PUS). Selain Mandar, penamaan sungai juga ditemukan sebagai Maloso' (peradaban Lembang Mapi dan Passokkorang), Binanga (Banggae dan sekitarnya), Lembang dan lainnya. Artinya bahwa ketika Mandar menjadi nama sungai, kita tentu tak harus marah jika kemudian Mandar adalah nama sungai, bukan suku. 

Mandar identik dengan air, air umunya dimaknai sungai dalam konsensus sejarah peradaban. Elemen air sejak Era Pongkapadang dengan Torine'ne (sekitar tahun 1100-1200). Beliau adalah moyang orang PUS dan PBB, dan keduanya memang belum menamai manamai dirinya sebagai suku Mandar. 
Ratusan tahun kemudian, Tomepayung dan Todijallo menggagas ide Allamungan Batu di Luyo pada tahun 1602 sehingga lahir kesepakatan membentuk wadah persekutuan bagi masyarakat yang ada di 14 kerajaan di Sulawesi Barat ini (baca Paku-Soremana). Dalam forum inilah lahir istilan Sipamanda', Passemandarang dan Sipamanda'. 

Kenapa harus menggunakan Mandar sebagai simbol persekutuan mereka? Karena diantara 14 kerajaan (PUS dan PBB) itu terhubung melalui jalur trasportasi yang mengandalkan sungai. Kontur tanah di wilayah PUS adalah bukit, gunung, lembah dan dataran. Sungailah yang menjadi penghubung antara gunung dan pantai. Kondisi inilah yang membuat mereka sepakat mengusung sungai sebagai persekituan yang dalam perkembangannya dikenal wilayah Konfederasi Mandar. Orang luar kemudian mencatatnya Tomandar dan tertata sebagai suku untuk membedakan georafis mereka dengan Toraja, Bugis dan Makasaar. 1908 ketika Belanda berkuasa, lagi lagi wilayah eks Persekutuan Mandar ini menjadi nama Afdeling Mandar. 

Redefinisi Makna Kata Mandar. 

Dalam berbagai sumber literatur kita memang sejak awal tidak lahir sebagai suku. Ia adalah makna yang sebangun dengan sungai, maloso, Binanga atau Lembang. Fakta-fakta tentang sungai itulah terbabgun filosofi Mandar yang diambil dari elemen air (air yang membentuk sungai. Sungai tanpa air adalah bohong). Filosofi air inilah yang kemudian menjadi nilai bagi orang Mandar karena aktualosasi dari air adalah 'mencari titik-titik terendah untuk menemukan kemuliaannya". Tak pernah terjadi air mengalir ke titik yang paling tinggi. Makna inilah yang memjadi karakter orang Mandar. Lagi-lagi Mandar adalah nilai, bukan suku. 

Lalu kemudian pernyataan Salim Mengga yang memilih kalimat Mandar sebagai sebuah persekutuan saya kira itu normatif-normatif saja tentunya, sebab ia bicara tidak dalam suasana seminar atau lokakarya sejarah. Itu adalah sambutan pada orang yang ada dihadapannya. Narasi yang terbangun mesti Mandar sebagai sebuah persekutuan sebab ia ingin merajit kebersamaan sebagai manusia yang telah diikat dalam sebuah persekutuan di Allamungan Batu di Luyo. Ini fakta yang tak bisa diubah lagi. 

Pun andai kata Salim Mengga mengatakan Mandar adalan  sebuah wilayah geografis, bukan suku. Inipun tak layak didebati, sebab faktanya di Sulawesi Barat ini ada banyak duku dan sub etnis yang mendiami jazirah Mandar Sulawesi Barat ini. Wilayahnya itu mencakup Paku Soremana, dan Seko Kalumpang dengan gugusan pulau yang salah satunya Lelerekang (meski susah dicaplok oleh Kalimantan Selatan). 

Kapan Mandar Jadi Suku? 

Mandar jadi suku sejak sejarah mencatatanya sebagai sebuah peradaban yang punya wilayah, bahasa, budaya, sejarah yang disepakati. Kesepakatan inilah yang menerima Mandar sebagai suku. Jadi saudara Opy Muis Mandra tak usah risau dan khawatir, sebab orang Sulbar sudah faham siapa itu Tomandar (Orang Mandar) , Pammandar (Orang yang datang ke Mandar) dan Toi Mandar (Pemilik Mandar). 

Tomandar adalah mereka yang dari suku lain tapi memilih tinggal dan berdomisili secara turun temurun di wilayah Mandar. Pammandar adalah mereka yang memang datang ke Mandar untuk mencari nafkah, tidak tercatat secara administrasi sebagai penduduk Sulbar. Hal ini sama dengan status orang-orang Mandar yang pergi ke Singapura, mereks disebut Passa'la' atau Passingapura dan lainnya. Adapun Toi Mandar adalah mereka yang secara genetik lahir dari ibu dan bapak dari orang Mandar. 

Kesimpulan 

Pernyataan Salim Mengga adalah seruan perekat yang tujuannya membangun persatuan dan kesatuan. Bukan pada tataran sebagai pembicara seminar resmi. Jadi jangan ditanggapi berlebihan apalagi jika sampai pada persoalan Mandar itu tidak ada. Mandar itu adalah persekutuan, Mandar itu nilai, Mandar itu wilayah dan sampai kepada Mandar sebagai Suku. Yang terakhir inilah yang mesti dibangun kesepakatan bahwa orang Mamasa tak usah dipaksa jadi orang Mandar, mereka juga Toi Mandar (pemilik Mandar), demikian juga orang Mamuju, Budong-Budong, Baras, Kakumpang, Pattae, Pannei, Pattinjo, Pakkado, Pa'denri, dan lainnya adalah Toi Mandar, bukan Pammandar. 

Kepada Saudara Opy, Kankanda adalah salah satu benteng Mandar yang punya kewajiban menjaga Mandar jika ada yang mencoba merusaknya. Kita adalah bangsa Mandar yang terikat dalam satu buhul SULAWESI BARAT yang tahun ini genap berusia 20 Tahun.
Semoga Bermanfaat. 

SALEH AS DAN TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH


Masyarakat Sulawesi Barat khususnya Mandar patut berbangga memiliki seorang penyanyi sekelas dan setenar Shale As. Lagu-lagu yang dinyanyikan bukan hanya dalam bahasa Mandar, tapi juga Bugis dan Makassar. Dan ini tentu dinikmati oleh semua etnis besar Sulawesi yang ada dirantau. Lagu yang dilantunkan oleh Shale pasti mengingatkan mereka pada kampung halaman mereka. 

Bagi penulis, lagu Shale dengan kekuatan bahasa universalnya mampu melampaui batas-batas geografis dan etnisitas. Dari mulai album Kanjengma Ri Kamaseku (Makassar), Idi'na Sabari (Bugis) dan Pitu Ana' Ende dan Larra Tembang (Mandar) telah ikut memperkuat identitas daerah dan budaya nasional. Dalam hal ini, pemerintah harusnya bisa membaca batin para seniman dan mengapresiasinya lebih terukur dan nyata sifatnya. Shale As dan seniman lainnya telah ikut melegitimasi dan mempertegas kesenimanan mereka dan menjadikan Mandar (baca: Sulbar) lebih dikenal. 

Bagaimanapun, mereka yang telah berkiprah di dunia kesenian telah ikut menjadikan masyarakat lebih halus sikap dan perangainya dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki rasa estetika yang juga akan mendukung Sulbar ini menjadi lebih mala'bi'. Cerita dibalik sosok Shale AS hari ini kadangkala membuat kita sugiging ditempat, sebab dimasa tuanya, ia harusnya menikmati jerih payahnya sebagai  pelestari lagu daerah Mandar, tapi ternyata itu tak ia rasakan. Faktanya, ia harus berjuang sendiri bersama teman-temannya dan tidak menemukan negara hadir dalam kehidupannya. 

Produktifitas yang sudah mulai menurun, penyakit yang kini bersarang ditubuhnya harusnya tak lagi menjadi beban fikirannya. Negara harusnya hadir melalui pemerintah bahwa sosok Shale As adalah tanggung jawab negara sebab negaralah yang bertanggung jawab memelihara dan memajuka kebudayaan. 

Di era milenial ini, industri album, baik berupa kaset pita maupun kepingan VCD  yang dulu menjadi tumpuan harapannya telah tergeser. Lagu-lagunya mungkin tak lagi dibajak tapi dirusak oleh pengcover lagu yang membuatnya semakin tersisih dari panggungnya. Ini tentu harus menjadi tugas bersama untuk memastikan para seniman kelas maestro itu dipelihara oleh negara (baca: pemerintah Sulbar). 

Biarkan mereka beristirahat atau tetap berkarya dengan sisa kemampuan mereka, tapi mesti ada jaminan hari tua untuk bisa menikmati sisa umur yang kini terbilang sepuh. 
AMMA SUNA (Ibunda Saleh AS) 

SALEH AS || Maestro Musik Daerah Indonesia Timur

Catatan Muhammad Munir

Shale As adalah sosok yang mesti diterima sebagai maestro musik daerah. Bukan hanya lagu daerah Mandar tapi juga Bugis dan Makassar. Mantan suami Rasti Rahman ini lahir pada bulan Maret 1958. Ayahnya bernama Jamaluddin (Tandung). Ia lahir dan dibesarkan di Wonomulyo sampai umur 10 tahun, sebab setelah itu, ia memilih meninggalkan kampung halamannya pada tahun 1968. 

10 tahun itupun terbagi ke Polewali sebab ia sempat ikut kakaknya, Husnah ke Lantora dan sempat mengenyam pendidikan dasar di SD Lantora sampai kelas 2. Ia memilih merantau ke Makassar mengadu nasib. Di Makassar, ia sempat jadi loper koran, jual rokok, jual tara'ju sampai jadi tukang parkir di pelabuhan. 

Bakat menyanyinya memang sejak kecil sudah terlihat. Ia sering menyanyi India, selebihnya adalah lagu Muchsin Alatas yang sempat ia nyanyikan saat tampil pertama di Kediri dalam sebuah pertunjukan. Sampai disitu, Saleh harus kehilangan masa-masa indahnya di waktu kecil karena kondisi kehidupan menyeretnya harus berani mengambil resiko. 

Ketika di Makassar, kapal Perang KRI 405 sandar di Pelabuhan, ia iseng melamar jadi koki. Ia diterima dan menjalani hari-harinya sebagai koki di kapal. Ini ia jalani hampir satu tahun lalu pindah ke Bioskop Jaya yang berhadapan dengan Bioskop Dewi Makassar. Dari bioskop itulah ia mempunyai kesempatan melatih vocalnya kembali dengan lagu-lagu India dan Rhoma Irama yang banyak diputar di Bioskop tempatnya bekerja. 

Tahun 1975, ia pulang kampung dengan gaya rambut gonrong. Sampai-sampai keluarga dan tetangganya pun tak mengenali bahwa yang datang itu adalah Saleh. Di Wonomulyo, ia sempat nonton pertunjukan Orkes Karya Jaya dan mendaftarkan dirinya sebagai penyumbang lagu. Ia hanya menberanikan diri menyumbang karena tak satupun krew Karya Jaya kenal dengan penyumbang yang satu ini. Pada saat tampil, penonton bersorak karena sangat puas dengan tampilannya. 

Dari penampilan pertama itulah, namanya mulai dikenal dan menjadi buah bibir. Hal yang memantik namanya menjadi populer, selain suaranya yang bagus, warna vocalnya juga khas. Ditambah lagi, ia piawai memainkan keyboard serta mahir menyusun kalimat untuk ia gubah jadi lagu. 

Dari segala kelebihannya itu, pada tahun 1984,ia dilirik oleh Edwin Jansen, pemilik toko Jansen yang ada di sudut perempatan lampu merah Wonomulyo sekarang ini. Edwin menyuruhnya mencari seorang wanita untuk nyanyi bareng. Kepada Saleh, ia diberi amanah dan modal sebanyak 8 juta rupiah. Jumlah yang pantastis untuk ukuran pada tahun 1980an. Saleh akhirnya memilih Indar Dewi sebagai teman bernyanyinya. Indar Dewi adalah kelahiran Pelitakan tapi tinggal di Muara Badak Kalimantan. 

Dengan modal dari Edwin itu, ia menuju ke Makassar untuk mencari studio rekaman. Pilihannya jatuh ke Libel Record untuk menggarap album perdananya dengan Indar Dewi. Album perdana yang ia garap adalah lagu Pop Makassar dengan sampul album Kanjengma Ri Kamaseku (1985). Album kedua yang ia rilis adalah lagu Bugis bertajuk Bugis Abadi dengan sampul album Idi'na Sabari (1986). Album keduanya ini digarap di Studio Pance Pondang di Jakarta. Ia juga langsung ke Surabaya sebelum akhirnya kembali ke Sulawesi. Siapa sangka, album kedua ini tenbus 1 juta copy. 

Dari sini, Saleh semakin tenar dan karir menyanyinya melejit. Ia sudah banyak menerima undangan tampil dan aktif di Orkes Karya Jaya milik Sudir Akib Pawellai. Namanya melambung bersama Iwan Tompo dan Anci Laricci sebagai penyanyi paling populer di Indonesia Timur. Lagu-lagunya selalu ditunggu oleh penggemarnya. 

Pada tahun 1990, ia kembali merilis albumnya melalui sampul Pitu Ana' Ende'. Selanjutnya, ia berhasil merampungkan lagunya yang bertajuk Sallang Salili, Larra Tembang, Janda Magello, Palippis Jari Sa'bi, Mamboyangngi Sara Nyawa, Nama'anna Titedoang, Sala Rannu dan puluhan lagu lainnya yang lahir sejak tahun 1985-2000. 


Senin, 05 Agustus 2024

MENGINTIP KEHADIRAN HENDRA SINGKARRU || Dalam Konferensi Pers Rumah Jonga.

Catatan Muhammad Munir. 

Diantara ribuan manusia yang hadir dalam acara Konferensi Pers Rumah Jonga kemarin, ada satu sosok yang membuat saya ikut memekik Allahu Akbar. Sosok itu punya magnet tersendiri bagi saya. Tentu saja bukan karena saya pernah menjadi bagian dari perjalanan suksesnya, tapi lebih kepada sebuah keputusannya bergabung dalam koalisi Sulbar Maju dan ikut membersamai SDK-JSM merawat martabat Sulawesi Barat ini. 

Tokoh yang saya maksud itu adalah sosok yang disebut SDK dalam sambutannya. Ia adalah H. Hendra S. Singkarru. Siapa yang tak kenal tokoh nasional asal Mandar ini?. Siapa yang tak bisa membayangkan peluang kemenangan itu ketika Begawan Ekonomi dari Sulbar itu menjadi salah satu pemikat dari ratusan pemikat yang melingkari Sumbu Kemenangan SDK-JSM ini?. Keberadaan Hendra Singkarru tentu menjadi berkah buat kita, sebab bagaimanapun ia adalah sosok yang banyak menginspirasi tokoh politik yang kokoh berjuang untuk kemajuan Sulawesi Barat. Andai bukan untuk Mandar (baca: Sulbar), Dirga, Ratih dan Andry tak akan pernah ada dalam catatan sejarah politik Sulbar. 

Lewat tulisan ini, saya ingin sedikit berbagi tentang H. Hendra S. Singkarru yang pada medio 2007 lalu tiba-tiba melirik dunia politik dan memantapkan pilihan ke Partai Amanat Nasional sebagai kendaraan politiknya di Pemilu 2009. Sejak itu, berbagai terobosan demi terobosan dilakukan. Tagline "Menebar Bakti Membangun Sulbar" yang sebangun dengan "Hidup Adalah Perbuatan', jargon politik Ketua Umum PAN, Sutrisno Bachir. Strategi politik yang dibangunnya cukup membuatnya melenggang ke Senayan dan tercatat sebagai Anggota DPR RI Periode 2009-2014. 

Hendra berhasil merebut satu dari tiga kuota kursi di Senayan bersama Salim S. Mengga (Demokrat) dan Ibnu Munzir (Golkar). Begawan Ekonomi dari Mandar itu lahir di Polewali, 20 Desember 1959 dan semakin bersinar saat berstatus sebagai wakil rakyat. Pemilik Hotel Ratih itu dalam perjalanannya sebagai Anggota DPR RI banyak berkonstribusi ke Sulawesi Barat dalam bentuk program pro rakyat. Diantara program nasional yang berhasil dikawal ke tanah kelahirannya itu adalah Pengadaan Handtraktor, PPIP, Jalan Tani, Tersier dan lainnya. Belum lagi Yayasan Ratih Al-Kafa pimpinan Hj. Rita Puspita, istri beliau yang konsentrasi membina ibu-ibu dalam bentuk pengajian yang guru-guru ngajinya ditanggung biaya hidupnya. 

Demikianlah jebolan S-1 Universitas Kristen Indonesia ini kian booming bukan saja kerena kemasan media, tapi seringnya ia blusukan dan menjadi figur di belakang layar dalam menentukan setiap potensi seorang kandidat dalam berkompetisi di setiap pemilihan. Hendra yang memulai karir politiknya sebagai Anggota DPR RI ini justru popularitasnya melejit sejalan dengan investasi sosial yang diberikannya. Sekitar 80.000 jamaah pengajian Yayasan Ratih Al-Kafa di seantero Sulbar mampu tergalang dan tercerahkan. 

Di kalangan politikus Sulbar, ia cukup disegani lawan maupun kawan karena loyalitas politiknya. Loyalitas tersebut telah ditunjukkan pada dua kesempatan; pertama, pada Pilgub 2011 ketika Salim S. Mengga-Jawas Gani direstui mengendarai PAN. Salim Mengga alih-alih memberikan "setoran" pada PAN, Hendra justru menjadi salah satu donatur terbesar bagi pasangan SALIM SAJA. Hal yang sama ia lakukan saat Asri Anas di Pilkada Polman 2013. Asri cukup dimanjakan oleh Hendra dalam rekruitmen dan mobilisasi massa. 

Hendra memang bukan politisi pengabdi kekuasaan, mendukung dan melawan, menang dan kalah adalah dinamika politik yang biasa baginya, namun prinsip, loyalitas dan integritasnya tak pernah tergadai. Dari awal ia dikenal memiliki jiwa sosial yang senang berderma, kaya dan santun. Mungkin karena itulah, pada Pemilu 2014, Dirga Adhi Putra Singkarru, putranya menjadi peraih suara terbanyak dengan total suara pribadi 79.563, tidak tanggung-tanggung mampu mengalahkan perolehan suara istri Gubernur Sulbar saat itu, Enny Angraeni Anwar yang meraih 59.317 suara, Andi Ruskati Ali Baal 55.016 suara dan Salim S. Mengga 51.099 suara. Meski kemudian Dirga tidak lolos ke Senayan, tapi Hendra Singkarru berhasil menunjukkan pada semua politisi di Sulbar, bahwa instrumen politik yang dimilikinya setingkat dengan AAS, ABM dan Salim Mengga. Dan faktanya, dalam percaturan politik Sulbar, Hendra Singkarru menjadi prioritas alternatif bagi para kandidat yang ingin menambah akselerasi gerakan politik mereka. 

Pada Pemilu 2019, H. Hendra kembali menunjukkan pada semua politisi di jagad Mandar dengan lolosnya dua orang anaknya ke Senayan. Ratih Megasari Singkarru melenggang ke Senayan dan mampu mengalahkan secara dramatis Anwar Adnan Saleh Mantan Gubernur dua periode dengan hanya selisih dua suara. Demikian juga Andry Prayoga berhasil lolos jadi Senator Sulbar sebagai Anggota DPD RI bersama Iskandar Muda Barlop, Ajbar dan Almalik Pababari. 

Nasib baik terus menghampiri Family Singkarru ini. Dalam rentang waktu lima tahun terakhir, putra putrinya menjadi ikon politisi Sulbar yang kembali menghentak panggung  politik lokal Sulbar pada Pemilu 2024 yang dihelat 14 Februari lalu. Ratih dengan partai Nasdem melenggang kembali ke Senayan dengan perolehan suara diatas 100 ribu. Ia bahkan melampaui perolehan suara Suhardi Duka (Demokrat), Agus Ambo Djiwa (PDIP), dan Ajbar (PAN). Di Polman, ada semacam Ratih Efect yang nyaris menggulingkan Golkar sebagai Pemenang Pemilu di Polman (meski demikian, Nasdem dan Golkar masing-masing meraih kuota 7 kursi). Andri Prayoga pun demikian, perolehan suaranya bertengger diposisi teratas mengalahkan Jupri Mahmud, Andi Ian Rusali dan Almalik. Bahkan satu petahana harus merelakan kursinya, yakni Iskandar Muda Barlop. Menariknya, Iskandar Muda justru dilirik dalam Pilkada Polman mendampingi Dirga Adhi Putra Singkarru  sebagai Calon Bupati Polewali Mandar. 
Pada level paling kecil, Imam Efendy Singkarru juga meraih suara yang signifikan dan mengantarkan 3 orang kader Nasdem lolos menjadi Anggota DPRD Polman (dari Dapil 1 Polewali Mandar). 

Sampai disini, saya menganggap kehadiran H. Hendra S. Singkarru adalah pemantik kemenangan. Keberadaan H. Hendra S. Singkarru dalam koalisi Sulbar Maju ini akan menjadi salah satu kunci kemenangan. Kemenangan terbesar kita adalah ketika SDK - JSM jadi Gubernur Sulbar dan DIRGA - ISKANDAR bisa memimpin sebagai Bupati dan Wakil Bupati Polewali Mandar. 

Sehat selalu H. Hendra S. Singkarru. Teruslah menginspirasi dan Selamat Bergabung dalam Pemenangan SDK-JSM. Selamat Berjuang bagi pendukung dan simpatisan Dr. Suhardi Duka - Jendral Salim Mengga. 

MEMBACA RUANG BATIN DAN JEJAK SDK-JSM || Menuju Pilkada Gubernur 2024


Catatan : Muhammad Munir

Terjawab sudah apa yang menjadi alasan Salim Mengga menjadi Cawagub dari SDK dalam kontestasi Pilkada 2024 yang akan dihelat pada 27 November nanti. Dalam Konferensi Pers di Rumah Jonga (5/8), baik Salim maupun SDK mengungkap apa yang melatari paket kedua sosok ini. Alasan fisik menjadi pilihan untuk memposisikan SDK sebagai Calon Gubernur, sementara Salim memilih jadi wakilnya. Hal tersebut dibenarkan oleh SDK dalam sambutannya pada acara yang sama. "Dengan tampilan saya yang begini, apa mungkin saya berani mengatakan pada Pak Jendral, kau jadi wakil. saya?". Ucap SDK yang diikuti sorakan dari para pendukung yang memadati halam rumah Jonga.


Road Show Politik yang dikemas dalam Konferensi Pers   pasangan SDK-JSM ini menjadi penting untuk dicatat, karena sebelumnya banyak yang berfikir tak ingin mendukung JSM karena maju sebagai wakil. Demikian juga tak sedikit yang kecewa pada SDK yang tak beretika menjadikan JSM sebagai wakilnya. Momentum Rumah Jonga ini menjadi jawaban atas sengkarut politik yang melingkupi keduanya. Sekarang tak ada alasan lagi untuk tidak mendukung pasangan ini. SDK - JSM adalah refresentasi amandaran. Mandar itu bukan suku, tapi ia adalah nilai yang dibangun oleh nenek moyang kita dalam Assitalliang Sipamada' di Luyo.   Mumuju adalah Mandar, PUS adalah Mandar, Binuang adalah Mandar. Tak boleh adalagi sekat antara Mandar dengan penutur bahasa yang lain. Terlebih saat ini, kita sudah terbingkai dalam kata Sulawesi Barat.


SDK dan JSM adalah sosok yang ketokohannya tak lagi dipertanyakan. Kita mesti menjadi bagian dari proses pemenangan yang mampu mengedifikasi alasan-alasan untuk mendukung keduanya. Diantara banyak alasan yang bisa jadi pemantik salah satunya adalah rekam jejak keduanya. SDK adalah birokrat yang terangkat jadi PNS 1986 dan banting setir jadi politisi pada tahun 1990. Pentolan Pemuda Panca Marga, Ketua AMPI dan Ketua KNPI itu menyambut takdirnya lewat partai Golkar dan menjadi anggota DPRD Mamuju selama 5 periode hingga menjadi Ketua DPRD Mamuju. Dari tangannya terlahir rekomendasi yang ikut melahirkan Sulbar sebagai propinsi. Tak hanya itu, ia bahkan menjadi Bupati Mamuju selama 2 periode dan kini masih menjabat dan kembali lolos sebagai Anggota DPR RI di Senayan. Menjadi wakil rakyat di Senayan jangan berfikir bahwa jabatan itu ia gunakan sebagai ajang gagah-gagahan. SDK justru menjadi singa dalam berbagai sidang di Gedung Rakyat itu, bahkan tak terhitung program strategis nasional ia giring ke Sulawesi Barat.

Lalu JSM. Siapa yang tak kenal dengan Jendral Salim Mengga?. Ia putra S. Mengga yang memiliki jasa besar terhadap warga Mamuju (baca: Mandar). Pada masa pergolakan (1952-1964) ketika cengkraman Bn. 710 dan DI/TII benar benar memuncak. Ada ribuan warga Mamuju dan sekitarnya yang diungsikan oleh S. Mengga ke Ujung Lero. Tak hanya diungsikan, tapi dihidupi dan dijamin makan meski ia dan pasukannya harus menjadi bajak laut di Selat Makassar dengan menghadang sejumlah kapal niaga pasukan Andi Selle Mattona. Kapal itu dirampok oleh pasukan Mandar Baru demi bertahan hidup dan menghidupi pengungsi.


Salim S. Mengga merupakan putera kedua S. Mengga dari 3 (tiga) bersaudara, yaitu: Syarifah Asia S. Mengga (Almarhumah Istri Prof. DR. Umar Shihab, MA) dan Ir. Aladin S. Mengga (Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2011-2016). Ketaatan beragama, kewibawaan sikap mandiri dan merakyat menjadi salah satu energi yang dimilikinya. Sikap yang demikian itu adalah perpaduan dari garis keturunan sang kakek (orang tua S. Mengga), bernama Sayyid Muhsin al-Attas dan neneknya Hj. Cilla, seorang bangsawan Mandar dari keturunan Arajang Balanipa Pammarica. 

Pammarica adalah sosok yang tak saja jadi Raja di Balanipa, tapi juga di Binuang dan Mamuju. Pammarica menjadi Mara'dika Mamuju yang turunannya masih menjadi pemilik trah darah biru di Mamuju. Maka tak heran jika Salim S. Mengga begitu fasih melantunkan ayat-ayat Al-Quran dan taat menjalankan ibadah shalat lima waktu, dan dibanyak tempat ia sering memberikan cerama-ceramah agama dan khutbah shalat ied.


Mayor Jendral yang melekat didepan namanya cukup menjadi bukti bahwa komitmen membangun bangsa dan negara tak perlu diragukan. Ketika menjadi Anggota DPR RI di Senayan, Salim bahkan dikenal sebagai wakil rakyat yang memilih integritas tinggi dan susah diatur. Di Partai Demokrat, jangankan Sekjend, Ketua Umum Demokrat, SBY saja segan pada sosok Jendral yang satu ini.


Inilah pentingnya edifikasi sosok keduanya. Termasuk sikap, karakter dan dedikasi SDK-JSM pada daerah ini layak diedukasi pada simpatisan dan tim secara khusus, bahkan secara umum bagi masyarakat Sulbar. 

KONE- KONE'E || Bahasa Maloso' DAS Mapilli

   
Tulisan saudara Christian ini menarik jadi perhatian dan obyek diskusi. Oleh karenanya kami menaikkan kembali agar siapapun yang membacanya bisa menambah wawasan kita semua tentang Bahasa Maloso yang tak lain adalah Kone'e. 

Berikut tulisannya yang telah mengalami suntingan tapi tidak mengurangi esensi dari tulisan : 

Bahasa Maloso' adalah salah satu bahasa asli yang digunakan di Mandar. Bahasa ini lebih populer dengan istilah Kone-Kone'e. Salah satu pendapat dari Rumpun keluarga Campalagian (To Turungang), bahwa suku kata dalam bahasa tersebut kebanyakan berakhiran  'e' atau yang menonjol dengan kata 'eheh' atau Konsonan E dari Konsonan E menjadi Kone-kone'e dan kemudian disebut To kone-kone'e. 

Tanpa kita sadari, orang Mandar di Polewali Mandar memakai bahasa yang mayoritas di klaim satu-satuya bahasa asli Mandar adalah kalau bicara sudah pasti banyak  E (naniapa mo'e, nama' apa moe) dan lainnya. Meski dibelahan bumi Mandar, terdapat banyak dialek sebab banyak faktor yang mempengarui seperti  faktor geografis. 

Satu kelompok yang sangat berjauhan selama puluhan tahun tak bertemu sudah pasti  bahasanya akan berubah termasuk dialeknya. Perubahan lainnnya di sebabkan adanya kemajuan daerah setempat yang memicu datangannya para pedagang yg masing masing membawa bahasanya.  Lambat laun, mereka berbaur dan mempengaruhi bahasa setempat. 

Disinilah proses terjadinya asimilasi budaya, termasuk bahasa. Karna bahasa pendatang itu dianggap lebih maju, maka mereka lebih suka bahasa pendatang. Hal ini bisa kita saksikan dalam penggunaan dialek Bugis dan Makassar, bahkan Toraja.

Hal yang tidak bisa di pungkiri dari eksistensi 3 bahasa tadi sangat berpengaruh, sebab di masa itu Bugis, Makasar dan Toraja, memiliki kemajuan dari segi ekonomi. Inilah kemudian yang membuat kondisi sosial masyarakat Mandar penuh dengan istilah Bugis, Makassar dan Toraja.

Bugis, Makassar dan Toraja memang sangat berpengaruh ke Mandar karena  capaian kemajuan yang mereka miliki  sangat mendukung orang Mandar berdialektika. Kemajuan itu dimiliki karena mereka menguasai ilmu pengetahuan. Pengetahuan mereka itu bahkan harus mengupgradenya dengan bahasa Inggris, Jepang, Prancis dan Mandarin. Mereka beranggapan bahwa menguasi ilmu pengetahuan mengharuskannya juga harus menguasai bahasa asing. 

Faktor ekonomi, pengetahuan ini  berpengaruh secara politik makanya di Mandar banyak yang claim kita karna adanya kemiripan bahasa. Kendati begitu, Mandar tetap menjadi awal peradaban masyarakat Autronesia pertama yang masuk di wilayah  Sulawesi, bahkan kerajaan kerajaan awal dari jaman neoltikum sudah ada di daerah Mandar. 

Kerajaan-kerajaan itu   sudah ada pada awal masehi yang memicu masyarakatnya berimigrasi ke tempat yang lebih aman hingga membetuk suku suku besar di Sulawesi Selatan. Penyebabnya adalah karna daerah Sulawasi Barat atau Mandar dianggap rawan bencana alam sejak dulu sampai sekarang. 

Bahasa Maloso sebagai bahasa induk pada rumpun penutur bahasa Kone'e adalah bahasa Mandar dialeg Campalagian, Mapilli, Nepo dan sekitarnya yang juga dipengaruhi. Tapi tentu saja Mandar tidak melulu kalah dalam percaturan kebudayaan, sebab wilayah ini juga pernah sangat berpengaruh dan berdaulat pada zaman Kerajaan Passokkorang.

Passokkorang ini pernah berkuasa dan berdaulat. Wilayah komunitas penutur bahasa Maloso' dipengaruhi oleh keberadaan suku Bugis yang dulu pernah berdiaspora di daerah ini. Artinya bahwa entah bahasa Maloso yang jadi popular atau bahasa  Maloso yang meredup akibat para pendatang baru itu. Mereka dengan bahasa dan budayanya itulah hinga terjadi asimilasi budaya dan bahasa bahasa serta budaya. 

Beberapa daerah seperti Bugis, Makassar, PUS, Toraja, bukan berarti  orang-orang yang tinggal di lembah  Maloso. Mereka adalah para pendatang. 

Ciri masyarakat asli adalah meredup atau stagnan atau tidak maju, seperti kehadiran Pannei, Pattae. Ini juga mereka lebih suka berbahasa  Mandar meski yang mendominasi adalah  Bugis, karna lebih maju. Sama dengan di daerah PUS yang lebih banyak meniru bahasa Toraja dan Duri Enrekang karna daerah ini lebih maju, tetapi bahasa PUS itu ada beberapa yang masih digunakan seperti Tabulahan, Aralle, Bambang dan lainnya.  

Hal yang sama juga terjadi di Mamuju.  Bahasa asli mereka sudah mulai pudar dan kadang dianggap bahasa pendatang.  Ini tentu adalah problem, sebab bahasa Mamuju Kota, Panasuan Kalumpang, Talondok Kondo, Bonehau Kalumpang adalah proses asimilasi sebab bahasa asimilasi yang populer di pakai... 

Penutur Bahasa Maloso ini mendiami daerah Mapilli, Tapango, Luyo, Wonomulyo dan sekitarnya. Bahasa Maloso ini terbagi dua dialedialek yakni  Campalagian dan dialeg Buku. Bahasa ini terancam punah dan tidak berkembang.  Ciri bahasa asli itu cenderung meredup dan kurang popular akhirnya banyak di tinggalkan. 

Bahasa Maloso atau Kone Kone'e umumnya mirip bahasa Mamuju, Tabulahan, Mangki, Pattae, Pannei dll. Ini semua bahasa asli Mandar yang kurang popular di Mandar.  Pada setiap wilayah pasti berbeda bahasa dan dialek, tetapi kalau di telusuri pasti ada kesamaannya. Kenapa kemudian bisa berbeda beda, diduga itu terjadi karena kita lebih banyak meninggalkan budaya dan bahasa beralih ke budaya luar yg lebih maju.. Contoh  di daerah Polewali, orang lebih suka pake bahasa Bugis dibandingkan dengan memakai bahasa asli Mandar. 

Orang Mandar kalau pake bahasa Bugis,  katanya lebih keren.  Mungkin karna Bugis banyak pintar jadi orang lebih suka. Bahasa  Tomaloso/ kone-kone'e, orang lebih mudah mengolongkan Bugis sebab di samping Bugis lebih maju budayanya, juga karena nama daerah yang penamaanya sama. Bahasa Bugis mirip Campalagian, itu wajar karena mereka dimana saja  memasuki daerah, selalu meninggalkan jejak. Bahasa, etika dan etos kerja menjadi sebuah warna yang cukup menggembirakan.  

Penulis: 
Christian ST, MSi
Peneliti sejarah Mandar dan Pengelola group SEJARAH MANDAR

Sang BAJAK LAUT


Pada 27 September 1677, Robertus Padtbrugge (Gubemur Maluku) bersama Olongia Gorontalo melakukan pertemuan, salah satu pembahasannya adalah masalah bajak laut. 

Pada tahun 1690, perompakan di pantai utara Sulawesi dan kawasan Teluk Tomini mengalami peningkatan. Para bajak laut dari Mangindano telah memperluas wilayah operasinya dari Filipina Selatan terus ke pantai utara Sulawesi sampai di kawasan Teluk Tomini. Mereka menggunakan jenis perahu coro-coro yang mampu menyusuri sungai dan pantai. Sasaran utama perompakannya adalah kapal-kapal dagang milik VOC (Juwono dan Hutagalung 2005:107).

Di pantai utara dan timur Sulawesi juga muncul perompakan yang dilakukan para pelaut Bugis dan Makassar. Para bajak laut Bugis dan Makassar lebih memiliki strategi serta cara kerja yang lebih baik. Sepanjang wilayah operasinya, mereka mendirikan pangkalan-pangkalan yang letaknya strategis di antara pelabuhan besar atau dekat dari transit kapal dagang. Pangkalan mereka antara lain di Donggala berfungsi untuk mengawasi kegiatan kapal-kapal di Teluk Palu. Mereka juga mendirikan pangkalan di Kalangkangan untuk mengawasi pelabuhan Tolitoli dan Kwandang, dan mengawasi serta mencegat kapal-kapal yang memuat barang dagangan dari Gorontalo ke Manado atau sebaliknya. Setiap pangkalan mempunyai seorang pemimpin, dan mereka membentuk jaringan yang saling membantu ketika menghadapi musuhnya (Juwono dan Hutagalung, 2005:108-109).

Selain melakukan perompakan, beberapa bajak laut Bugis juga sebagai pedagang. Mereka melakukan kerjasama dengan para penguasa lokal, seperti Gorontalo, Limboto, Parigi dan Buol. Mereka menjual barang dagangan, seperti produk tekstil, beras, dan garam. Sebaliknya olongia dan bangsawan Gorontalo membayamya dengan emas atau budak. Olongia dan bangsawan Gorontalo memandang peluang dengan memperoleh keuntungan lebih besar jika transaksi dengan pedagang Bugis, dibandingkan melakukan transaksi bersama VOC dengan harga yang telah ditetapkan melalui kontrak perjanjian.

Pada abad ke-18, terjadi peningkatan jumlah perompakan kapal-kapal dagang VOC. Munculnya pelaut Mandar sebagai bajak laut di perairan Gorontalo telah menambah semakin meningkatnya perompakan di kawasan Teluk Tomini. Bajak laut Mandar mendirikan pangkalannya di Gorontalo agar mudah mengawasi perairan Gorontalo di kawasan Teluk Tomini. Laporan banyaknya kejadian perompakan menyebabkan Gubemur Maluku di Temate, Pieter Rooselaar mengambil tindakan untuk mengusir para bajak laut di Gorontalo. 

Pada tahun 1702, Rooselaar mengirim armada lautnya yang mendapat bantuan dari penduduk Tambokan menyerang basis pangkalan Bugis dan Mandar, dan berhasil mengusirya. Pada 25 Februari 1703, Rooselaar menarik kembali armadanya ke Ternate (Juwono dan Hutagalung 2005:110-111), setelah mengetahui bajak laut Bugis dan Mandar tidak kembali lagi ke Gorontalo.

Sehubungan aktivitas perompakan yang dilakukan oleh para pelaut Bugis, Mandar, dan Mangindano di perairan Gorontalo. Pada tahun 1705, VOC mendirikan benteng di muara Sungai Gorontalo dikenal dengan nama Fort Nassau dan beberapa loji untuk melindungi perdagangannya dari serangan para bajak laut di perairan Gorontalo. Kemudian mendirikan kantor dagang (factory) dan sekaligus gudang penampungan barang (pakhuis) ekspor. Bahan pembuatan benteng dibebankan kepada Olongia Gorontalo sesuai dengan perjanjian tahun 1679 (Hasanuddin dan Amin, 2012:68).

Walaupun pangkalannya di Gorontalo telah dihancurkan, namun bajak laut Mandar masih aktif melakukan perompakan. Pada 20 Nopember 1713, kapal dagang VOC "Noodhulp" mengangkut hasil bumi dan rempah-rempah di Lambunu, Teluk Tomini telah dirompak oleh bajak laut Mandar. Mereka kemudian membunuh Onderkoopman Nicolaes van Beverwijk, sedangkan asistennya Johannes Truytman mengalami luka-luka. Gubemur Maluku, David van Peterson mengecam kejadian tersebut, kemudian melakukan pembalasan dengan mengirim sejumlah kora-kora di Lambunu, namun usahanya mengalami kegagalan (Juwono dan Hutagalung 2005:114).

Gubernur Maluku memerintahkan Olongia Gorontalo yang mempunyai pengaruh besar di kawasan Teluk Tomini untuk menyelesaikan keamanan di wilayahnya. Walaupun mendapat persetujuan dari olongia, tetapi sebagian besar bangsawan menolak perintah VOC. 

Para bangsawan menyadari tekanan politik VOC melalui perjanjian-perjanjian yang dibuatnya sangat merugikan Gorontalo. Mereka lebih suka berhubungan dengan para bajak laut Bugis dan Mandar yang lebih banyak memberi keuntungan dari pada menjalin hubungan dagang dengan VOC. Tidak mengherankan beberapa bangsawan memberikan kemudahan bagi aktivitas para bajak laut dalam melakukan perdagangan dan memberi perlindungan, sehingga bajak laut sulit ditangkap oleh VOC.

Pada 30 Nopember 1716, Olongia Gorontalo menyurat kepada penguasa VOC di Manado agar mengirim armadanya ke Teluk Gorontalo (Teluk Tomini). Tujuannya adalah untuk mengusir bajak laut Bugis yang bernama Sarena bersama seratus anak buahnya mendarat di daerah Mabampa. Kelompok Sarena sering melakukan berbagai tindakan kekerasan di daerah pantai, di antaranya menangkap orang-orang Gorontalo untuk dijadikan budak dan menjualnya ke Buton. Di Buton, para budak ditukarkan dengan barang-barang selundupan, terutama beberapa peti amunisi (Juwono dan Hutagalung, 2005:121).

Semakin rapatnya pengawasan VOC melalui patroli kapal perangnya di kawasan Teluk Tomini, menyebabkan para bajak laut Bugis dan Mandar mengalihkan pangkalannya di Buol, karena mereka telah menjalin hubungan kerjasama dagang dengan madika dan bangsawan Buol. Pada 30 Nopember 1722, terjadi konflik antara Buol dengan Gorontalo dan Limboto disebabkan penduduk Tomboli melarikan diri ke Buol. Olongia Gorontalo meminta Madika Buol untuk mengembalikan penduduk Tomboli ke Gorontalo, namun mendapat penolakan. Akhimya Adrian van Leene (penguasa VOC di Manado) turun tangan untuk menyelesaikan konflik kedua kerajaan tersebut. Leene berangkat ke Buol untuk mengembalikan penduduk Tomboli, namun mendapat penolakan dari Madika Buol, bahkan kemudian kapalnya diserang lima puluh perahu Bugis dan Mandar sampai di muara Gorontalo (Juwono dan Hutagalung 2005:122-123).

Akibat peristiwa Leene, dan seringnya berkeliaran bajak laut Bugis dan Mandar di perairan Gorontalo dan Teluk Tomini. J.Christiaan Pielat (Gubemur Maluku) mengambil keputusan untuk membasmi bajak laut Bugis dan Mandar. Kemudian mengutus Kapten Elias van Stade dengan armadanya ke Gorontalo. Kapten Stade menyusuri Teluk Tomini dan berhasil mengusir para bajak laut Bugis dan Mandar di perairan Teluk Tomini. Kapten Stade kemudian melanjutkan perjalanannya ke Buol, dan berhasil menekan Madika Buol untuk memenuhi tuntutan Gorontalo agar melepaskan penduduk Tomboli (Juwono dan Hutagalung, 2005:123-124).

Pada tahun 1750-an, bajak laut Mandar dipimpin Daeng Mapata memperluas kegiatan operasinya di wilayah pesisir Gorontalo sebagai jalur pelayaran kapal-kapal pengangkut produk berupa emas, hasil bumi, dan hasil hutan. Daeng Mapata memiliki hubungan dagang dengan Botutihe (Olongia Gorontalo) dan bangsawan Gorontalo. Daeng Mapata membawa hasil-hasil hutan berupa kayu, lilin, madu, damar, getah, dan rotan di Gorontalo (Juwono dan Hutagalung, 2005:166). Bagi pedagang Bugis, Mandar, dan Makassar seringkali membawa barang dagangan yang dilarang diperdagangkan oleh VOC, seperti senjata, amunisi, dan candu di Gorontalo. Kembalinya membawa yaitu budak yang merupakan komoditas utama dan menghasilkan keuntungan besar di Makassar.

Terjalinnya hubungan dagang antara olongia dan bangsawan Gorontalo dengan para bajak laut Bugis dan Mandar menyebabkan VOC mengalami kerugian besar. VOC menuduh Olongia Gorontalo melanggar perjanjian yang telah disepakati yaitu mengusir para bajak laut dari daerahnya. Sebaliknya, para bangsawan melindungi para bajak laut Bugis dan Mandar. Peranan benteng VOC "Nassau'' yang letaknya di muara Sungai Gorontalo dengan sejumlah pasukan untuk mengamankan kepentingan ekonominya ternyata tidak banyak membantu mencegah aktivitas para bajak laut. Begitu pula kurangnya jumlah kapal VOC di perairan Gorontalo menyebabkan tidak efektifnya pengawasan dan kontrol terhadap para bajak laut di kawasan Gorontalo. Perebutan daerah-daerah potensial penghasil komoditas penting antara VOC dengan pedagang Bugis dan Mandar seringkali menimbulkan konflik untuk menguasai suatu daerah yang dianggap strategis.

Pada tahun 1790, diKwandang hampir terjadi penyerangan terhadap pasukan wakil VOC yang dilakukan oleh bajak laut Bugis dipimpin Puang Nyili. Penyerangan Puang Nyili mendapat bantuan dari bajak laut Ilanun. Faktor kemarahan Puang Nyili disebabkan wakil VOC di Kwandang telah membunuh putranya bernama Labajo bersama semua pengikutnya, karena tanpa izin dari VOC mereka memasuki wilayah Kwandang. Mengetahui kabar dibunuhnya Labajo, menyebabkan Puang Nyili ingin membalas kematian anaknya dan pengikutnya. Namun, penyerangan mengalami kegagalan setelah bantuan pasukan dari Temate tiba di Kwandang (Riedel, 1870:117).

Pada abad ke-19, perompakan di kawasan Teluk Tomini mengalami peningkatan, walaupun seringkali dilakukan patroli kapal perang Belanda. Laporan umum Asisten Residen Gorontalo, pada tahun 1824, 1832, 1833, dan 1834 terjadi jumlah perompakan yang cukup besar. Asisten Residen Gorontalo kemudian menyurat kepadan Gubemur Jenderal Hindia-Belan dan di Batavia tentang aktivita para bajak laut, dan meminta bantuan Gubemur Jenderal untu secepatnya menumpas para bajak laut yang telah menggangu pelayaran dan perdagangan di wilayahnya. Laporan Asisten Residen Gorontalo ditanggapi serius dengan menempatkan sebuah kapal uap perang untuk mengawasi bajk laut di perairan Gorontalo (Rosemberg, 1865:15).

Dalam pelayaran Monoarfa (Olongia Gorontalo), bersama Lihawa (Olongia Paguat), tuan Kumis meneer Poipiser, dan dua jogugu dari kerajaan Gorontalo dan Paguat bertemu dengan bajak laut dari Tobelo di Bumbula. Bajak laut Tobelo menyerang kapal Olongia Monoarfa. Penyerangan bajak laut Tobelo berhasil digagalkan oleh rombongan Olongia Monoarfa. Setelah mengalami kegagalan, para bajak laut Tobelo memilih melarikan diri. Peristiwa penyerangan bajak laut Tobelo, dan masih seringnya terjadi perompakan di perairan Gorontalo yang secara langsung menghambat jalur perdagangan Gorontalo, maka Olongia Monoarfa meminta bantuan orang-orang Bugis untuk mengamankan dan mengusir bajak laut di perairan Gorontalo.

Pertengahan abad ke-19, orang-orang Mandar telah mendominasi kegiatan perdagangan dan perompakan, sedangkan kegiatan bajak laut Bugis mulai mengurangi aktivitasnya. Walaupun Bugis mengurangi aktivitasnya, tetapi kegiatan perompakan masih sering terjadi, dan Pemerintah Hindia Belanda semakin meningkatkan patroli kapal perangnya di kawasan Teluk Tomini. Pada tahun 1878, terjadi perubahan strategi dalam kegiatan perompakan.

Mereka tidak lagi melakukan perompakan secara terbuka, namun mereka hanya menunggu kapal-kapal dagang atau melakukan penjarahan di kampung-kampung, seperti terjadi pada bajak laut Tobelo menjarah dan menculik penduduk kampung-kampung di Banggai. Semakin ketatnya pengawasan kapal patroli Belanda menyebabkan semakin sempitnya ruang gerak para bajak laut. Akhirnya banyak pemimpin bajak laut Tobelo menyerahkan diri kepada Pemerintah Hindia Belanda. Salah satu pemimpin paling berpengaruh dan ditakuti bernama Medo atau Medomo bersama anak buahnya menyerahkan diri kepada Pemerintah Hindia Belanda (Velthoen, 2010:215).

Perompakan di Teluk Tomini dan pantai utara Sulawesi sering dianggap sebagai bentuk menentang penindasan oleh pihak yang lemah terhadap mereka yang mendominasi. Para bajak laut di Teluk Tomini yang terkenal selama abad ke-19 adalah Tombolotutu, seorang bangsawan dianggap oleh penduduk setempat sebagai tokoh yang bangkit menentang dominasi politik dan ekonomi Pemerintah Hindia Belanda (P.J. Veth, 1870:175-176).

Pemberontakan Tombolotutu disebabkan pada tanggal 3 Juni 1898, penobatan Raja Moutong bernama Daeng Malino berasal dari garis pria keturunan Mandar yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kurangnya pemahaman Pemerintah Hindia Belanda tentang tradisi dan adat Kajeli yang lebih mengutamakan mereka yang diturunkan dari garis wanita, sehingga seharusnya yang menjadi raja adalah Tombolotutu (Poidarawati) karena merupakan pewaris tahta yang sebenarnya. Pengangkatan Daeng Malino sebagai Raja Moutong bertujuan untuk mempertahankan perampas tahta, tidak menimbulkan kerugian bagi Belanda karena Tombolotutu tidak dapat diajak kerjasama, dan Tombolotutu dituduh sebagai pemberontak, dan dijatuhi hukuman mati karena pembunuhan (Soerabajasch Handelsblad, 1902:1).

Dalam dekade awal abad ke-20, kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda menghadapi perlawanan para bajak laut berakhir, hampir sebagian abad ke-19 kapal-kapal perang Belanda diperintahkan untuk selalu aktif melakukan patroli. Hal ini kemudian menjadi penting dalam pengembangan kemaritiman jalur perdagangan di kawasan Teluk Tomini dan bagian utara Sulawesi.

Sumber: 
"Perdagangan Orang Bugis Di Kawasan Teluk Tomini Masa Kolonial Belanda", oleh: Hasanuddin (2017:228-232).

Ket. Foto: 
Pria dari Filipina (mindanao), dengan tombak, 1934.

Di postkan di Group sejarah Dian Suhardiman Sunusi

Minggu, 04 Agustus 2024

MEMILIH PEMIMPIN DALAM PERSPEKTIF AMANDARAN (#1)


Catatan: Admin 

Bandara Tampapadang Mamuju seketika menjadi lautan manusia. Mereka berdatangan dari berbagai sudut kota dan dari pojok negeri Mandar ini. Mereka seakan tak terbendung, bak arus air yang terus mengalir. Hari ini Sulbar menorehkan sejarah penting yang jarang terjadi. Kedatangan SDK - SALIM di Bandara Tampapadang menjadi fakta yang mesti dicatat oleh sejarah. 

Dua sosok kebanggaan Sulbar itu kini benar-benar menyatu. Sebuah penyatuan yang utuh, bukan sebagai rival lagi. Pun bukan sebuah melodrama ataupun sandiwara. Keduanya dinilai sebagai perekat sejumlah etnis Sulbar yang diterima oleh siapapun. SDK dan SALIM memang harus bisa membuang ego masing-masing, sebab Sulbar yang kini berusia 20 Tahun membutuhkan figur yang diharapkan bisa menjadi pemimpin untuk ma'arira banua mala'bi' ini. Membangun Sulbar butuh chemistri yang siap ditampar oleh resiko, dan sosok itu telah lahir ditengah riak gelombang yang siap menghantam. 

Hari ini, (4 Agustus 2024), Mamuju menjadi saksi dan menjadi awal yang baik untuk mengaktualisasi kesejatian konsepsi Mesa Kanne' yang sesungguhnya. Mesa Kanne yang bukan lagi sebatas slogan. Dan sejatinya, spirit Mesa Kanne' itu dielaborasi, direkonstruksi dan diejawantah dalam daur hidup manusia Mandar (baca: Sulawesi Barat). Nilai-Nilai Mesa Kanne' yang terdiri dari Attonganang dan Alappuang (kebenaran dan kejujuran), Siama'-ama' (bersatu), Mappapeko' pulu sodzo mappadzoro pulu pae' (kedisiplinan), Sipakala'bi' anna Sipakaraya (saling memuliakan dan saling menghormati) ini sangat jelas tergambar dari dua sosok yang hari ini kita usung bersama sebagai Cawagub Sulbar. Ini tentu tak terbantahkan. 

Hari ini, kita memasuki sebuah fase dalam bentuk deklarasi tokoh yang dipersiapkan sebagai pemimpin di daerah ini yang notabene menjadikan Mandar (baca: Sulbar) sebagai identitas. Maka sebagai Mandar, ekspektasi kita dalam memilih pemimpin kedepan sangat variatif sebagaimana konsepsi kepemiminan yang dibangun oleh para raja-raja di Mandar. Salah satu yang ingin saya angkat pada tulisan ini adalah pesan Tandibella Kakanna I Pattang (Daetta Tommane) Arajang Balanipa ke-4. Pesan ini cukup familiar di Mandar sejak tahun 1615 dan yang sampai hari inipun menjadi konten paling laris di media sosial. 

Pesan itu adalah "Tarrare Diallo Tammatindo dibongi mandandang mata diperandanna daung aju, dimadinginna lita', di malimbonna rura, diajarianna banne tau, diatepuanna agama". Pesan ini memberikan spirit bagi kita untuk menentukan siapa pemimpin paling layak. Indikator penilaian kita itu bisa dirujukkan lewat pesan diatas. Pesan ini jangan dipenggal ketika berbicara esensi sebab substansi dari pesan itu adalah cara memimpin dalam perspektif Amandaran. Merrandanna Daung Aju adalah refresentasi dari kesejahteraan petani, Madinginna lita' adalah memberi rasa aman pada masyarakat, Malimbonna rura adalah garansi nelayan dan perikanan kita maju, ajrianna banne tau terkait dengan kesehatan ibu dan anak, dan terakhir atepuanna agama adalah berkembangnya kajian keagaman di Sulawesi Barat. 

Lima poin itu harus dilekatkan pada pemimpin yang akan kita pilih. Pesan diatas jangan lagi kerap dipenggal-penggal, ia harus utuh. Jangan hanya sampai pada tataran tarrare diallo tammatindo dibongi mappikkiri atuonna pa'banua. Pertanyaannya adalah apakah sosok SDK - SALIM adalah refresentasi dari pesan Daetta Tommuane diatas? Rekam jejak kedua tokoh ini cukup memperjelas arah dukungan itu jika kita mentadabburinya lewat leluhur kita di Mandar.  Bismillah. 

(BERSAMBUNG) 

Jumat, 02 Agustus 2024

Dr. MUHAMMAD ZAIN || Pengabdian Yang Tak Mengenal Hari Libur

Penjabat (Pj) Bupati Mamasa Dr. Muhammad Zain mengemban amanah dari Presiden RI, ditempatkan di Kabupaten Mamasa (salah satu daerah yang defisitnya tinggi). Kurang lebih 6 bulan atau Dua kali evaluasi kinerja Zain menjalankan tugas.

Tentu sebagai ASN yang diberikan tugas oleh Presiden melalu Menteri Dalam Negeri (Mendagri) untuk memimpin Kabupaten Mamasa, sebuah kepastian Zain memberikan yang terbaik, bekerja secara profesional dan hanya focus pada tugas dan tanggungjawab yang diamanahkan.

Amanah Presiden itulah yang dipegang teguh oleh Zain untuk mewujudkan pemerintahan Good and Clean Governance di Bumi Kondosapata. Seluruh kebijakan Pemda Mamasa lahir dari Rakyat dan untuk Rakyat jua, sama sekali tidak ada motif lain.

"Berbagai masukan dan informasi (baik secara langsung maupun tidak langsung, suara lantang maupun pelan, offline maupun online) yang ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Mamasa," kata Zain saat dikonfirmasi, Kamis (1/8/2024)

Pj. Bupati Mamasa mengapresiasi dan menghargai itu semua, sebagai kritikan yang konstruktif  dari semua pihak untuk kebaikan Mamasa.

Zain menambahkan, Salah satu tugas Pj. Bupati Mamasa berdasarkan surat Keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Republik Indonesia Nomor : 100.2.3-6600 Tahun 2023 pada point F :

Memfasilitasi persiapan pelaksanaan Pemilu Tahun 2024 dan Pilkada di Kabupaten Mamasa Tahun 2024 serta menjaga Netralitas Aparatur  Sipil Negara. Landasan itulah, maka pelaksanaan Pilkada Kabupaten Mamasa Tahun 2024 dipastikan akan berjalan lancar dan sukses sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh KPU

Selama menjabat sebagai Pj.Bupati Mamasa, Dr. Muh. Zain sudah menangani beberapa persoalan dan menjadi indikator penilaian pada laporan kinerja di Kemendagri, diantaranya, Inflasi terkendali selama 6 bulan, Angka kemiskinan turun 0,11 % sesuai data Badan pusat statistik (BPS), Angka stunting turun 7%, stabilitas dan harmoni sosial terjaga dengan baik. 

Saat bencana alam, menyita waktu Pj. Bupati untuk memulihkan keadaan, Longsor lebih 200 titik di beberapa kecamatan telah selesai, sementara mengusulkan 80 anak Kedokteran/Calon Dokter ke Kementerian Kesehatan dan saat ini sedang menunggu hasilnya, sedang proses pembebasan lahan untuk Pembangunan Pasar dari Presiden Jokowi melalui Kementerian PUPR dan Menperindag. 

Juga proses untuk pembangunan rehab Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kondosapata dan masih banyak hal yang sedang dikerjakan dan diurai satu persatu untuk Kabupaten Mamasa lebih baik dan tolong bersabar sedikit karena ini butuh waktu dan proses.

"Sebagai Pj. Bupati Mamasa, saya telah dan masih sementara bekerja keras tanpa mengenal lelah dan bahkan meniadakan tanggal merah di kalender untuk terus memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat demi Mamasa yang lebih baik," imbuhnya.

Kita harus rendah hati untuk ini, lanjut Zain, waktu 6 bulan sangatlah singkat untuk menuntaskan masalah yang menumpuk. Dana Pilkada segera diselesaikan di tengah minimnya keuangan Daerah. Semua program kita harus tuntaskan diantaranya menekan inflasi, menurunkan angka stunting, kemiskinan ekstrim, layanan kesehatan, layanan pendidikan dan semua pelayanan dari tingkat desa sampai kabupaten tetapi kita akan selesaikan secara pelan-pelan karena kondisi keuangan daerah yang demikian. 

Pj. Bupati Mamasa juga mengajak semua tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, wartawan, elit politik untuk secara terbuka mencari solusi terbaik tentu dengan pikiran yang jernih, hati yang tulus dan kerja keras terutama dalam menyukseskan pilkada damai tahun 2024.

Sebab itu, Kabag Humas dan Protokol Kabupaten Mamasa, Demmaelo Pena' mengajak untuk mendukung Pj. Bupati Mamasa dalam bekerja lebih keras lagi untuk beberapa bulan kedepan, memberi masukan yang konstruktif agar Mamasa dapat keluar dari setiap masalah yang dihadapi.

Kamis, 01 Agustus 2024

ORANG MANDAR YANG LAHIR DI JOMBANG || Jejak Mbah Nun di Tanah Mandar

(Tulisan Hamzah Ismail di Majalah Sastra Sabana Yogyakarta, 2015)

Dalam berbagai hal orang Mandar seringkali melibatkan Mbah Nun. Misalnya, ketika terjadi pergantian kepemimpinan di Kanwil Agama Provinsi Sulawesi Selatan. Salah satu calonnya adalah orang Mandar. Terhadap calon dari Mandar ini banyak mendapatkan penolakan dari elit Sulawesi Selatan saat itu. Segala cara diupayakan oleh tokoh-tokoh Mandar, untuk menggolkan calon tersebut. Nyaris tidak membuahkan hasil.

Lalu ada beberapa pihak dari Teater Flamboyant, dan ada satu dua tokoh masyarakat Mandar, menyarankan untuk melibatkan Mbah Nun. Saat maksud itu disampaikan kepadanya, tanpa berpikir panjang, Mbah Nun mau terlibat dan langsung menulis surat yang ditujukan ke Menteri Agama, yang saat itu dijabat oleh Malik Fajar.

Demikian pula, saat terjadi suksesi kepemimpinan di Kabupaten Polewali Mamasa. Tiga tokoh sepuh Mandar, H. Abd. Malik Pattana Endeng, Abdullah Madjid (Mantan Bupati), dan S. Mengga (Mantan Bupati), bersepakat untuk mendorong calon dari sipil menjadi Bupati Polewali Mamasa. Mbah Nun-pun rela menemani mereka untuk menghadap ke Agum Gumelar, Panglima Kodam VII Wirabuwana. Kedekatan Agum Gumelar dengan Mbah Nun dibaca menjadi alasan pelibatan dirinya dalam urusan ini. Dan dari mana orang Mandar tahu bahwa Agum dan Mbah Nun dekat? Karena Mbah Nun pernah menulis di media yang mengapresiasi Agum Gumelar.

Pasca reformasi, dan kran pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) mulai terbuka, orang-orang Mandar pun mulai bergerak, berjuang untuk membentuk sebuah provinsi Sulawesi Barat. Mbah Nun, yang diyakini ‘didengar’ oleh orang pusat pun dilibatkan. Ia dinobatkan menjadi tim penasehat bersama sepuh Mandar lainnya.

Tatkala Gus Dur yang menjadi presiden, Mbah Nun memediasi pertemuan pejuang pembentukan Sulawesi Barat, dengan Gus Dur. Makin yakinlah orang-orang Mandar bahwa perjuangan pembentukan Sulawesi Barat yang sudah lama digelorakan akan mewujudkan hasil. Akhirnya September 2004, Provinsi Sulawesi Barat bisa terwujud.

Pertanyaannya adalah kenapa sepertinya Mbah Nun, tidak mengenali kata ‘Tidak’ bagi orang Mandar? Bahkan dalam berbagai kesempatan ia menyatakan bahwa kala berada di Mandar, dirinya adalah ‘mayat’, yang rela dibawa kemana saja. Inilah yang sampai sekarang menjadi pertanyaan besar baik di internal Mandar maupun luar Mandar.

Nurdin Hamma (76), Pimpinan Muhammadiyah Cabang Balanipa, salah seorang sepuh, seorang tokoh Mandar juga sungguh kagum kepada Mbah Nun, mencoba mengurai jawaban atas pertanyaan itu. Dalam pandangannya, Mbah Nun adalah guru Bangsa yang riil. Hampir seluruh wilayah Indonesia didatanginya, semata untuk mendidik manusia.

“Cak Nun adalah orang Mandar yang kebetulan lahir di Jombang. Kedatangnnya di Mandar lebih merupakan upaya menapaktilasi perjalanan sejarah panjang Indonesia. Hal itu mungkin dianggapnya penting, untuk mematrikan pada dirinya bahwa Indonesia ada di mana-mana di Nusantara ini, tanahnya luas dan subur namun rakyatnya bak penumpang yang ketinggalan kereta”, ungkap Nurdin Hamma.

Sekarang, mereka yang dulu, sekitar 30-an tahun lalu, hidupnya liar, mabuk-mabukkan dan sepanjang malam bernyanyi-nyanyi di pinggiran jalan, kini sudah memasuki usia yang matang, menuju setengah abad. Profesi mereka beraga. Pedagang, Guru, PNS, tukang ojek, dan sebagian kecil bergabung ke partai menjadi politisi.

Mereka sudah beranak pinak, dan sebagian dari mereka sudah ada yang anaknya sarjana. Mereka tetap saja hormat dan takzim kepada Mbah Nun. Sekarang mereka jarang menyebutnya Emha. Mereka menyebutnya Cak Nun.

“Cak Nun, adalah guru, kakak dan sahabat yang setia menjadi ‘keranjang sampah’ dari keluh-kesah kami. Segala sesuatu urusan kami selalu disandarkan kepada apa wejangan Cak Nun. Untuk memberi nama putra atau putrinya yang baru lahir, mintanya pun ke Cak Nun.”

“Beliau adalah bagian dari hidup kami.”

“Apa yang dulu diajarkan oleh Cak Nun kepada kami menjadi spirit kami dalam menjalani hidup. Kami bersyukur karena Cak Nun berkenan mengarahkan kami menjadi orang baik, itu cukup bagi kami. Tentu penilaian ini sifatnya subjektif, tapi setidaknya kami bangga hidup dengan apa adanya. Kami bisa hidup dengan tanpa mengganggu orang lain, tanpa merampas hak orang lain”.

“Kami sungguh cinta kepada Cak Nun, dan kecintaan itu pun kami wariskan kepada anak-anak kami”.

Tinambung, 4 Mei 2015

Sumber : https://www.caknun.com/2018/orang-mandar-yang-lahir-di-jombang-jejak-mbah-nun-di-tanah-mandar/3/

PRAYOGA WIJAYA || Titip Mandar Ke Betawi

Prayoga Wijaya, anak muda kelahiran Betawi Jakarta 1996 ini berada di Mandar pekan lalu. Ia menemui saya dan mengutarakan niatnya untuk menulis tentang budaya Mandar. Awalnya saya pikir ini adalah program kementerian pendidikan sebagaimana yang beberapa penulis tahun-tahun sebelumnya. Ternyata inisiatif pribadi. "Sulbar adalah provinsi ke-17 yang ia kunjungi dan saya menulis tentang budaya mereka, Bang'. Jelasnya ketika saya telisik motif penulisannya. 

Kepadanya saya mengukir apresiasi yang dalam "Ini sangat dahsyat dan tak semua orang bisa lakukan. Sebab kegiatan begini tentu menyita waktu, tenaga dan fikiran. Bukan hanya itu, budget yang disediakan dalam setiap perjalanan itu tentu tak sedikit". Ucapku. Usut punya usut, selain memang karena masih single, lulusan antropologi di sebuah universitas di Jakarta ini memang intens melakukan penjejakan budaya-budaya nusantara. "Saya harus fokus dalam 4 tahun kedepan, karena setelah itu, saya akan nikah Bang, Hehe". Pungkasnya dengan kesan bercanda. 

Prayoga menemui saya atas rekomendasi beberapa orang mahasiswa pencinta alam (Mapala) di Majene. Dari sana juga nomor kontak saya diperoleh sehingga bisa bertemu dan berdiskusi dengannya. Selama beberapa hari di Mandar, ia menemukan banyak hal-hal terkait kebudayaan. "Tapi saya bingung harus mulai dari yang mana. Kemarin saya dapat Sayyang Pattu'du'. Says pikir ini kayaknya cocok, Bang'. Akunya. Saya lalu menyarankan padanya agar fokus pada tema sastranya, yakni Kalinda'da'. Sayyang Pattu'du' sudah banyak ditulis bahkan di filmkan oleh para peneliti. Belum lagi liputan televisi nasional sudah tak terhitung. 
Kalinda'da adalah karya sastra yang unik di Mandar. Ia hanya bisa dilongok dalam ritual Khatam Quran. Kalinda'da' adalah pakem pattu'du' selain sayyang dan rebana. Kenapa saya bilang unik, karena ketika syair ini diadopsi ke dalam genre sayang-sayang, kacaping  dan rawana towaine, kalinda'da' tak lagi punya nama disana. Ia hanya ditemukan dalam lirik yang ternyata syair kalinda'da'. 

Mendengar penjelasan saya tentang Kalinda'da', ia tertarik. Terlebih narasi kalinda'da' juga bermuara pada ritual totamma', juga terkorelasi dengan sayyang pattu'du', Rawana Tommuane. Untuk menjadi pemantiknya, saya lalu sodorkan tiga buku yang terkait dengan kalinda'da' dan satu buku tentang musik tradisional Mandar. 

Semoga dengan diskusi dan 3 buku itu, Prayoga mampu meramu dan menemukan narasi yang tepat untuk memberikan kabar pada semua orang tentang Manusia Mandar dan kebudayaannya. Sebelum pamit, ia sempat menjelaskan bahwa nantinya, tulisannya itu bukan bentuk reportase tapi jurnal. Ketika saya tanya kenapa memilih jurnal, bukankah model tulisan reportase juga lebih menarik. Alasannya, saya tak ingin terjerat dalam komersialisasi budaya orang. Siapa sih saya, Bang. Saya tak punya kapasitas untuk mengajari orang tentang budaya, orang Mandar sendiri yang mesti mengajari mereka, melalui jurnal yang saya tulis. Beda toh, Bang". 
Selamat Berkarya. 

TAMMALELE YA TAMMALELE, Bukan Yang Lain !





TAMMALELE YA TAMMALELE, Bukan Yang Lain !
(Pengantar Pada Buku Sinisme Lele: Banyolan, Humor dan Pesan Moral Tammalele)  

Catatan Muhammad Munir

Tammalele, nama yang unik dan mengandung banyak filosofi bermakna serta mengundang berbagai macam interpretasi terkait sosok yang selalu kami panggil A'ba. Umurnya dipastikan telah setengah abad. Saya mengenal wajah dan sosok beliau sejak tahun 1999 kendati beliau mungkin tak pernah mengenalku, terlebih mungkin tak akan menyangka bahwa lebih satu dasawarsa kemudian, kami dipertemukan di sebuah rumah kontrakan yang  tepat berada di Depan Masjid Jami' Nurul Amin Desa Batulaya Kecamatan Tinambung. Rumah milik seorang polisi bernama Hammadia. 

Tahun 2015, adalah tahun dimana saya dilahirkan pertama kali di dunia kebudayaan. Tammalele yang sejak puluhan tahun kerap saya temui di berbagai tempat berbeda ini muncul di kediaman kami sesaat sebelum makan siang keluarga. Beliau bersama Pak Nurdin Hamma menghabiskan waktu berdiskusi sampai 2 jam sekaligus mengajak saya berbaur mengenal budaya Mandar secara spesifik. 

Pak Nurdin Hamma mengenalkan saya pada item kebudayaan bernama beru'beru' atau melati. Beru' Beru mungkin sama sistem pertumbuhannya di daerah lain, harumnya juga pasti tak berbeda. Tapi mengapa Beru' Beru' Tokandemeng begitu familiar di kalangan masyarakat Mandar?. Disinilah intinya kebudayaan dibincang. Beru' Beru' Tokandemeng hanyalah salah satu dari produk kebudayaan yang dikenal lebih pada pendekatan perlakuan manusianya yang mampu menjadikan sebuah obyek sebagai entitas dan identitas budaya. 

Dalam dunia bahari (nama bekennya, maritim) ternyata sama. Perahu di Mandar dan Pelaut Mandar dikenal sebagai pelaut ulung itu ternyata bukan pada bentuk, struktur dan konstruksinya saja, tetapi lebih pada perlakuan orang Mandar terhadap perahu, bahkan pada laut itu sendiri. Perahu didunia ini boleh jadi sama, sebab semua berlayar diperairan dan dinakhodai oleh manusia yang tentu saja memiliki kemampuan dan keahlian lebih dari yang dimiliki para sawi kappal. Ternyata bukan itu pembedanya, melainkan pada perlakuannya terhadap perahu dan alam dimana ia melayarkan perahu. 

Perlakuan terhadap sebuah obyek itulah yang menandai sebuah proses peradaban dibangun oleh masyarakat menjadi entitas dan identitas kebudayaan. Beru' Beru' To Kandemeng ternyata dipetik oleh para perempuan dengan sangat lembut dan disimpan pada wadah yang juga sangat spesial. Perahu dan laut pun bagi orang Mandar diperlakukan lebih manusiawi (Istilah kerennya, Napattau-i Lopinna) sehingga dalam prosesnya perahu tak hanya menjadi sebuah benda yang berbentuk, tapi juga diperlakukan layaknya sebagai manusia, mulai dari bentuk sampai ritualnya. Status perahu yang merupakan pemberian atau warisan dari orang tuanya akan diperlakukan layaknya orang tua. Adapun perahu yang dibelinya akan diposisikan sebagai saudara, demikian juga perahu yang dibuat secara pribadi dianggap sebagai anaknya. Disinilah perlakuan itu menentukan entitas dan identitas, sebab orang Mandar dalam memesrai lautan sangat memahami betul perahu yang sementara ia gunakan melaut. Perlakuannya pasti beda antara perahu sebagai bapak, saudara dan anak. Laut dalam hal ini juga diperlakukan layaknya menemui istrinya, sehingga bentuk perlakuan terhadap istri tercintanya selalu mengedepankan sikap dan bahasa yang santun dan romantis. Maka jangan heran bahwa gelombang sebesar apapun bagi orang Mandar mampu ia taklukkan dengan hanya bi'jar berupa mantra yang dirapalkan sebagai ungkapan rasa cinta pada sang kekasih!. 

Dari labirin kebudayaan inilah aku dilahirkan ketika angin sepoi berhembus dari bibir-bibir alam yang rancu. Sosok Pak Nurdin Hamma dan A'baTammalele itulah yang membidani kelahiran saya. Aku lahir bertumbuh layaknya seorang bayi yang jangankan tertawa, menangis pun belum tahu. Tammalelelah yang mengenalkan, mengajarkan, memahamkan dan menuntunku hingga sampai pada proses ini. Hari ini pun saya tetap masih berproses dan terus dipoles oleh beliau. 

Mengingat jejak persinggungan saya dengan A'baTammalele dalam narasi kebudayaan tentu tak berlebihan jika kemudian saya mendaulatnya sebagai sosok Ayah atau A'ba sekaligus mendapuknya sebagai guru besar sejarah dan kebudayaan. Sebagai orangtua, ia terus melakukan berbagai pencarian dan mengajakku menelusur, meneliti dan meriset ruang-ruang tertentu dimana saya dibutuhkan untuk hadir membaca batin para leluhur. A'ba kerap hadir dan memberikan nutrisi layaknya burung yang selalu menyuplai makanan pada anaknya dalam situasi apapun. 

Sampai disini, saya terkesan dengan kisah seekor burung yang meletakkan telurnya disebuah daerah bergurun. Empat biji telurnya diletakkan disarangnya dan dengan setia ia menjaganya. Ia mengeraminya beberapa hari sampai keempat telurnya tersebut menetas. Rasa cinta dan tanggung jawab pada kelangsungan hidup generasinya membuat ia tiap hari terbang jauh untuk sekedar mencari dan mengumpul bahan makanan untuk anak-anaknya. Letih, lelah tak ia rasakan demi melihat keempat anaknya tersebut bisa menikmati makanan hasil jerih payahnya. 

Hari terus berlalu, tak terasa ia merasakan usianya semakin bertambah, tubuhnya melemah. Ia sedih melihat anak-anaknya belum bisa cari makan. Sementara ia merasakan kemampuan untuk mencari makan buat anak-anaknya semakin menipis. Jika ia tak lagi bisa bekerja untuk anak-anaknya, lalu siapa yang akan menafkahi anaknya? Perasaan itu kian hari menderanya, sehingga untuk tidurpun ia rasakan semakin sulit. Galau menyerangnya, bila ia tak menemukan jalan keluarnya, itu berarti alamat kehidupannya akan berakhir tragis bersama keempat anaknya. Ia bahkan berfikir untuk membunuh dan memakan anak-anaknya. Tapi urung ia lakukan, sebab apa artinya hidup tanpa mereka, bukankah ia akan lebih tersiksa hidup seorang diri?.

Fikirannya itu selalu menghantui. Ia kian tak bisa berbuat apa-apa. Jika ia mati, itu berarti kematian buat anak-anaknya yang akan memutus mata rantai kehidupan dan kelangsungan hidup bagi spesiesnya akan berakhir. Hingga kemudian ia berfikir untuk membunuh dirinya, sebagai penyambung kehidupan anak-anaknya. Yah, tak ada pilihan lain selain harus mati untuk anak-anaknya.  

Maka dengan niat yang tulus dan berharap darah dan dagingnya akan cukup jadi menu santapan bagi anak-anaknya untuk kemudian bisa terbang mencari makanannya sendiri secara mandiri. Ia lalu mencabut bulu ekornya dan menikam dirinya. Darah segar memuncrat dan menjadi minuman buat anak-anaknya yang kehausan. Tubuhnya lunglai lalu kemudian tersungkur. Ia menghadap Tuhannya dengan sebuah kebahagiaan, karna mampu memberi yang terbaik buat anak-anaknya. Terbaik dan sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya.

Darah dan daging tersebutlah yang mereka santap setiap pagi, siang, sore dan malam. Kandungan gizi dari daging ibunya itu menjadi semangat bagi keempat anak burung itu untuk belajar terbang dan beranjak dari tempat mereka. Mereka hidup dengan kemandirian untuk menjadi diri mereka, hidup dari sebuah proses pengorbanan seorang ibu.

Kisah yang mengharukan dan sangat membanggakan. Sebuah proses kreatif untuk mempersiapkan kelangsungan hidup generasinya. Kisah dari kehidupan burung yang rela mati demi menjadi sumber kehidupan buat anak-anaknya. Lalu adakah kita bisa menemukan ibu seperti itu dikehidupan manusia?
Adakah seorang pemimpin hari ini yang rela untuk sekedar mencabut bulunya demi kelangsungan hidup rakyatnya? Adakah seorang wakil rakyat yang rela mencabut bulunya demi kesejahteraan rakyat yang diwakilinya? Adakah seorang guru yang rela mencabut bulunya untuk mempertahankan kelangsungan ilmu pengetahuan? Adakah dari golongan manusia ini yang mampu mengorbankan kenikmatan yang dia miliki demi keberlangsungan hidup dan kemanusiaan?.

Pertanyaan yang dari awal saya rasakan hanya akan kita temukan di dunia para binatang ternyata masih ada dalam kehidupan yang sebenarnya. Dialah A'baTammalele dalam kehidupan manusia. Tammalele tentu bukan kisah dalam tuturan para pendongeng ketika seorang ayah atau kakek sedang berusaha mengantar anak atau cucunya dalam kepulasan dan mimpi-mimpinya saat terlelap. A'ba Lele telah mampu menunjukkan pada dunia, pada anak-anaknya, pada murid-muridnya. Dan tentu saja, karakter itu tak akan hilang dari sosok beliau sebab orangtianya telah menitahkan kata berupa doa suci lewat nama Tammalele, tak akan berubah sikap, tak akan lekang, tetap konsisten, komitmen merawat sejarah dan kelangsungan peradaban di Mandar.

Sehat Selalu A'ba !