Selasa, 22 Juli 2025

ANDI DEPU || Bara di Tanah Mandar yang Tak Pernah Padam

Buku Ibu Agung Hj. Andi Depu Pahlawan dari Mandar karya Muhammad Munir.
Judul: Ibu Agung Hj. Andi Depu Pahlawan Nasional dari Mandar
Penulis: Muhammad Munir
Penerbit: Framepublishing Yogjakarta
Tahun Terbit: Cetakan ke-3 (Edisi Revisi) :Oktober 2020
Jumlah Halaman: Sekira 293
halaman
Genre: Buku Sejarah Lokal
Perensi/ resensator : Adhi Riadi

Di Tanah Mandar, pada sebuah pagi yang sunyi di bulan Agustus 1907, lahirlah seorang bintang kecil dari garis darah para raja. Dialah Hj. Andi Depu, yang kelak menjadi nyala dalam gelap, bara dalam kabut penjajahan. Di masa kecil, ia dikenal sebagai Andi Mania, laksana tunas muda yang masih mencari arah mata angin. Ketika dewasa, ia menjelma menjadi Sugiranna Andi Sura, sosok yang mulai menjejakkan langkah di tanah perjuangan.

Takdir mempertemukannya dengan Andi Baso Pawiseang, penguasa ke-51 Balanipa, persatuan dua darah biru yang melahirkan Parenrengi Depu, sang Yendeng, yang kelak mewarisi takhta sebagai Maradia Malolo, pewaris obor kerajaan ke-52.

Darah pejuang mengalir dari ayah dan ibunya: La’ju Kanna I Doro dan Samaturu, bangsawan Mamuju berdarah Balanipa, keturunan Pakkalobang, penguasa ke-36. Tapi bukan sekadar darah yang menjadikannya pemimpin,melainkan api dalam dadanya yang tak pernah padam.

1942–1945: Bara Itu Menyala

Ketika langit Mandar diselimuti bayang Jepang, Andi Depu muncul bukan sebagai bayangan, tetapi cahaya yang membelah gelap. Pemerintah Hindia Belanda pernah khawatir akan lahirnya seorang pemimpin perempuan dan kekhawatiran itu terbukti. Ia adalah nyala kecil yang menjelma kobaran perlawanan.

Ketika Jepang melarang segala bentuk organisasi politik, Andi Depu justru menyulam semangat perjuangan di balik tirai larangan. Ia memilih meninggalkan istana, meninggalkan kenyamanan, dan berpaling menuju jalan sunyi perjuangan, bersama putranya di sebuah rumah sederhana yang menjelma menjadi benteng semangat.

Fujinkai: Ladang Api dari Perempuan Mandar

Awal 1944, ia menanam benih api dalam bentuk Fujinkai, gerakan perempuan yang tak sekadar merawat rumah, tetapi juga merawat mimpi kemerdekaan. Di ladang ini, semangat juang tumbuh dari tangan-tangan yang lembut namun tak gentar. Suara Andi Depu menggema hingga ke Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba'banna Binanga, menembus batas wilayah, menembus sunyi.

KRIS Muda: Ketika Bara Menjadi Kobaran

Pada 21 Agustus 1945, hanya beberapa hari setelah Jepang menyerah, lahirlah KRIS Muda—Kebangkitan Rahasia Islam Muda. Di balik namanya tersimpan gelora kebebasan, dan Andi Depu berdiri di puncak sebagai panglima bara, memimpin perjuangan demi menjaga kemerdekaan yang masih rapuh.

Seperti api yang menjalar dari satu ranting ke ranting lain, KRIS Muda menyebar ke seluruh penjuru Sulawesi: Makassar, Bone, Bantaeng, Pinrang dan lainnya. Namun, kobaran api selalu mengundang badai. Desember 1946, tangan penjajah NICA menangkapnya dalam gelombang penangkapan besar.

Sekolah Islam: Taman Api dari Timur

Ketika Jepang mulai goyah, di Mandar muncul taman-taman api, sekolah-sekolah Islam, tempat semangat ditempa dengan kedisiplinan. Di sinilah lahir Islam Muda, sebuah bara baru yang ditiup oleh tokoh-tokoh seperti Riri Amin, Daud, H. Mas’ud Rahman, Mahmudy Syarif, dan lainnya—dengan Andi Depu sebagai penyulut utama.

Di Balik Bayang Fujinkai :Perempuan di Barisan Belakang

Meski Fujinkai adalah alat kekuasaan Jepang, bagi Andi Depu itu adalah kuda troya, ia menyusupkan semangat juang di balik tugas formal. Para perempuan dilatih bukan hanya menjahit atau mengobati, tetapi menguatkan tekad menghadapi ketidakadila,bangsanya harus bebas.

Organisasi Pemuda Mandar: Akar yang Merambat dalam Senyap

Saat organisasi lain baru muncul setelah proklamasi, Andi Depu sudah lebih dulu menanam akar perlawanan di Mandar. Ia bentuk Organisasi Angkatan Pemuda Islam, mengisi ruang-ruang sunyi dengan bisik-bisik keberanian. Di balik nama agama, ia cerdik menembus batas larangan Jepang.

Andi Depu bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah nyala abadi di tanah Mandar, perempuan yang melangkah bukan hanya dengan kaki, tetapi dengan hati dan bara semangat. Ia membuktikan bahwa tanah ibu bisa menjadi pijakan perlawanan, dan rahim perempuan bisa melahirkan lebih dari anak, ia melahirkan bangsa yang bebas.

Mengenang Jejak Kepahlawanan Mandar: Sebuah Refleksi atas Buku “Ibu Agung Hj. Andi Depu, Pahlawan Nasional dari Mandar


Buku Ibu Agung Hj. Andi Depu Pahlawan dari Mandar karya Muhammad Munir.

Judul: Ibu Agung Hj. Andi Depu Pahlawan Nasional dari Mandar
Penulis: Muhammad Munir
Penerbit: Framepublishing Yogjakarta
Tahun Terbit: Cetakan ke-3 (Edisi Revisi) :Oktober 2020
Jumlah Halaman: Sekira 293
halaman
Genre: Buku Sejarah Lokal
Perensi/ resensator : Adhi Riadi

Buku Ibu Agung Hj. Andi Depu, Pahlawan Nasional dari Mandar karya Munir, diterbitkan oleh Framepublishing Yogyakarta, adalah karya sejarah yang menggugah kesadaran kita akan besarnya pengorbanan para pejuang dari tanah Mandar. Meski saya baru menyimak buku ini hingga halaman ke-86 dari total 293 halaman, saya sudah merasa dibawa dalam sebuah perjalanan panjang yang penuh semangat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Pada bagian awal, Munir berhasil menggambarkan bagaimana perlawanan rakyat Mandar terhadap penjajah bukanlah peristiwa singkat, melainkan perjuangan panjang yang telah berlangsung. Penulis membuka kisah ini dengan mengutip catatan lontaraq tentang Perang Galesong yang terjadi pada 19 Agustus 1667 — sebuah titik penting dalam sejarah keterlibatan orang-orang Mandar melawan VOC yang bersekutu dengan Kerajaan Bone.

Tidak hanya menyajikan sejarah sebagai deretan fakta, Munir dengan apik mengangkat kisah-kisah heroik para tokoh pejuang yang jarang disebut dalam buku sejarah arus utama. Nama-nama seperti Daeng Mallari (Todiposso), I Maga Daeng Rioso, I Baso Boroa Tokape, hingga Hj. Maemunah Djud Pance dihidupkan kembali lewat narasi yang kuat dan bernas. Mereka adalah tokoh-tokoh yang pantas mendapat tempat dalam ingatan kolektif bangsa (Hal 3-7)

Hal menarik yang saya tangkap dari buku ini adalah bahwa perjuangan di Mandar tidak hanya dimonopoli oleh satu tokoh, meski nama Hj. Andi Depu memang menjadi sentral. Buku ini justru mengajak kita bahwa di balik tokoh sentral tersebut, berdiri banyak pahlawan lain yang juga rela mengorbankan hidup dan kenyamanan mereka demi semangat kemerdekaan. Munir seolah mengajak kita untuk tidak menempatkan sejarah pada satu nama saja, melainkan melihatnya sebagai rangkaian perjuangan kolektif.

Kisah tentang Tapanguju bergelar Punggawa Malolo di Mamuju sebagai pejuang di Benteng Kassa Sinyonyoi, Kecamatan Kalukku dan Daenna Maccirinnai bersama rekan-rekannya seperti La’lang Parrimuku di Benteng Kajumangibang, Kabupaten Mamuju Tengah menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan warisan yang harus dijaga dari kepunahan oleh waktu. Buku ini, dalam pandangan saya, bukan hanya layak dibaca, tetapi juga penting untuk menjadi bahan refleksi kita di tengah arus zaman yang kian cepat melupakan akar.

Sebagai tambahan, saya menyarankan agar buku ini lebih sering dibincangkan di berbagai forum, baik formal seperti seminar sejarah, diskusi akademik, maupun forum informal seperti komunitas literasi, ruang-ruang budaya, atau media sosial. Dengan demikian, ruang kritik yang konstruktif bisa dibuka lebih luas, memperkaya perspektif pembaca, sekaligus memperkuat posisi sejarah lokal sebagai bagian penting dari narasi kebangsaan.

Bagi saya pribadi, membaca buku ini bukan hanya menambah pengetahuan sejarah, tetapi juga membangkitkan rasa bangga sebagai bagian dari bangsa yang besar karena keberanian dan keteguhan para leluhurnya. Buku ini juga mengingatkan kita bahwa pahlawan bukan hanya mereka yang telah diberi gelar resmi, melainkan semua yang berjuang tanpa pamrih demi tanah airnya.

Senin, 21 Juli 2025

(Edisi Ke-4) Wattu Tomissang di Lamasariang

Saya pernah nakatutus i Kahar (kama hariah)alias camu gara- gara mambaliwar tomissangna di lalang di pokki. 
Apakah juga anda pernah nakatutus orang gara - gara mambaliwar tomissang??
 Mari mengenal pengalaman masa lalunya sendiri-sendiri...

Episode ke-4 
Wattu Tomissang di Lamasariang

Musim mangga selalu datang dengan bahasa sendiri. Angin membawa aroma yang khas, lembut dan manis, merambat dari pucuk daun hingga halaman rumah, seolah mengabarkan bahwa hari-hari cerah sedang jatuh cinta pada tanah Lamasariang. Pohon-pohon tua berdiri tegak di sepanjang kebun, batangnya menampung sejarah, rantingnya menanggung rindu. Mereka bukan sekadar pohon, tetapi penanda musim, penanda kehidupan yang sederhana namun kaya rasa.

Di kampungku, mangga bukan hanya buah. Ia adalah cerita yang menyatukan. Tomissang, begitu kami menyebutnya. Dari satu pohon ke pohon lain, dari satu rumah ke rumah tetangga, nama-nama mangga kami sebut dengan lidah yang bangga: kaloli, cammi, pa'ambi, ca`bu, ja`ongge, lopi, buyang, molo, kaweni, karoro—dan entah berapa lagi yang tak tercatat di buku, tetapi hidup di ingatan kami. Setiap nama membawa rasa sendiri, warna sendiri, kisah sendiri.

Kaloli adalah raja di antara mereka. Kulitnya berbintik hitam ketika benar-benar matang, manisnya menyalip semua duga. Jika dijadikan kaloe—asam mangga khas kami—ia berubah jadi pelipur lidah yang menyalakan selera di tengah hari yang terik jika dimasak bersama bau oyo atau bau lalia. Musim pakkaloeang, begitu orang menyebut musim mengolah mangga muda, adalah pesta yang tidak pernah tercatat di kalender, tetapi selalu dinanti oleh muda-mudi.

Di sanalah rumah Hajjah Kurumiah menjadi panggungnya. Perempuan ningrat yang menjanda sejak lama itu adalah sosok yang disegani, dihormati, sekaligus ditakuti karena keberaniannya. Hajjah Kurumiah adalah tuan tanah, pemilik kebun dengan pohon mangga terbanyak. Bila musim pakkaloeang tiba, rumahnya seakan menjadi lautan tomissang muda. Bau asam dan harum mangga memenuhi udara, merayap hingga ke jalanan tanah di depan rumah.

Kami, anak-anak kampung, selalu dipanggil beliau Hajjah Kurumiah menyuruh ponakan dan tetangga berkumpul: Abdullah kecil yang masih polos, Burhan yang lincah, Basri, Diris dan Asma, Kudding, Majid, Hasan alias Kolong, Mael, st, aminah kadang-kadang, juga Sikin, Sia, Lotong, Ku'mi, Keccung, dan tentu saja aku sendiri. Di ruang halaman depan, kami duduk melingkar, mengupas kulit mangga muda. Saking banyaknya buah, ketika ditumpuk, orang yang duduk di seberang hampir tak terlihat—seolah dunia kami dipagari oleh dinding mangga hijau.

Jika hari sekolah, inilah yang bikin repot. Kami tak bisa pulang. Hajjah Kurumiah selalu mengunci pintu ketika malam larut. Kadang, saat kami masih sibuk mengupas, beliau sudah masuk kamar dan tidur. Kami pun bertahan sampai mata terasa berat, berharap besok masih sempat mencium aroma kapur tulis di papan kelas. Tetapi di masa itu, segalanya terasa ringan. Tidak ada yang disebut repot ketika tawa sedang meluap di bawah lampu bohlam.

Ketika angin timur berhembus bersamaan dengan musim berbuah mangga, suasana kampung semakin riuh. Angin kering menyapu daun-daun, menggoyangkan dahan hingga mangga satu per satu jatuh ke tanah. Orang-orang pun berkumpul di bawah pohon, menunggu dengan sabar, mata tertuju ke pucuk pohon, telinga waspada mendengar bunyi thud yang selalu memicu sorak dan tawa. Di bawah pohon cammi di depan rumah Keccung Ka’ Ba’du, suasana paling heboh. Sepulang sekolah, anak-anak segera melepas tas dan berlarian ke sana. Ada Harimas, Sitti Mina, Sitti, Lisda, Maslia, Lappas, Tahir, Kombo, Salmiah, Tamsih, adikku Asbidin, dan tentu saja aku dan Asia kittang kadang- kadang. Kami siaga dibawah pohon, ada yang jongkok, ada yang berdiri dengan gaya siap menangkap mangga cammi ra`da`, menunggu buah jatuh sambil bercanda, kadang saling berebut siapa yang lebih cepat mengambilnya. Tawa kami mengalahkan suara angin timur yang kencang.

Begitu waktu berlalu dan tomissang matang di pohon, tibalah musim passulo tomissang—musim memetik mangga. Di sinilah cerita berubah jadi petualangan. Pemuda kampung seakan berlomba jadi pemberani. Yanaka, atau kayana, adalah sosok yang paling diingat. Bersahabat dengan piparakke—tali pengait panjang—ia tak pernah gentar berjalan keluar kampung meski larut malam. Baginya, malam dan hutan sekitar kampung adalah sahabat, bukan lawan.

Kadang, pergi sendiri, kadang berkelompok. Membawa obor dari janur kering, menembus pekat malam. Dari kejauhan, api tampak seperti kunang-kunang raksasa yang menari di bawah langit Lamasariang. Di antara mereka, ada Sundari yang sesekali ikut dengan keranjang di tangan. Banyak anak-anak kecil menyelinap keluar rumah ketika orang dewasa lelap tidur. Ada yang memilih subuh untuk mencari mangga, menyusuri kebun dengan embun yang menempel di kaki.

Aku masih ingat kebun kami di Pandebulawang. Di sanalah tumbuh mangga molo—primadona kami. Jika sudah setengah matang, mangga itu akan dipanjat oleh kama`u. Ia menjulurkan buah dengan tali agar tidak jatuh dan pecah. Setelah terkumpul, kami pikul bersama menuju Lamasariang, disusun di atas tapang—balai kayu tinggi—hingga matang sempurna. Bau manisnya menyeruak, membuat siapa saja yang lewat ingin singgah.

Ketika mangga matang sempurna, tibalah masa menjualnya ke pasar. Aku ikut Kindo`u—mambulle balanu, memikul buah dalam bakul besar  di pundak. Kami berjalan menyusuri jalan tanah pinggir aspal,  sambil menahan rasa sakit di pundak mambulle lembar namun bangga karena membawa hasil kebun sendiri. Musim mangga adalah musim kemakmuran. Sekaligus musim tawa.

Ah, wattu tomissang… waktu yang manis. Saat itulah kampung kami menjadi surga kecil yang tidak dikenal dunia, tetapi hidup megah dalam kenangan. Saat jeruk Belanda, apel Belgia, anggur Cina, atau pir Hongkong, nama buah yang belum kami kenal, mangga sudah cukup untuk membuat bahagia.

Kini, ketika mata menatap kota yang dingin, ingatan tentang musim mangga datang seperti embusan angin sore dari kebun yang jauh. Aku ingin kembali—menyusuri jalan setapak yang pernah menyimpan jejak kakiku, menengadah di bawah pohon tomissang yang tua, dan mencium wangi tanah yang basah oleh hujan pagi.

Rindu Pulang...
Safardy Bora

Minggu, 20 Juli 2025

(Episode Ke-3) Jejak Bendi di Lamasariang

Bendi mulai dikenal di Mandar sekitar tahun 1910-an, seiring pembangunan jalan tembus Polewali–Majene oleh pemerintah kolonial Belanda. Jalan yang membelah tanah Mandar itu menghadirkan cara baru berpindah: bukan lagi hanya berjalan kaki atau menunggang kuda, melainkan duduk nyaman di atas gerobak kayu yang ditarik dua roda, dilengkapi hiasan sederhana. Awalnya, bendi adalah kebanggaan kaum bangsawan. Kendaraan ini berderap membawa pejabat Belanda dan kalangan ningrat Mandar, menjadi simbol kemewahan pada zamannya.

Namun begitu,  jalan poros Lamasariang baru mulai  pada awal 1950-an, geliat kehidupan kampung pun berubah. Jalan setapak yang semula hanya dilalui pejalan kaki dan hewan ternak berganti rupa menjadi jalur berlapis batu padas yang kasar. 

Lalu berkembang, kemudian  jalan itu menembus Karama hingga Tinambung, membawa harapan baru: perdagangan lancar, orang-orang saling terhubung, dan kabar tak lagi harus menunggu lewat laut.

Di sepanjang jalur ini, bendi menjadi raja jalanan. Mula-mula, ia hanya milik kaum berada—para pemilik tanah luas, pedagang besar, juga orang-orang Belanda dan Jepang yang singgah. Kudanya gagah, sebagian didatangkan dari Sumbawa atau dibeli dari pedagang Bugis di pelabuhan. Kuda-kuda ini bukan sekadar hewan penarik, tetapi kebanggaan, diberi nama, dipelihara dengan penuh cinta. Anak-anak kampung hafal nama kuda-kuda itu seolah mereka adalah pahlawan yang berlari di atas nadi kehidupan.

Seiring pergantian masa, bendi tetap bertahan. Setelah Belanda dan Jepang pergi, ia masih menjadi kebanggaan, meski perlahan jarak dengan rakyat jelata kian menyempit. Tahun 1960-an, ketika pasukan 710 pernah singgah di tanah Mandar, bendi mulai akrab di mata orang kebanyakan. Tak lagi hanya untuk bangsawan, tapi untuk siapa saja yang mampu membayar ongkosnya.

Puncak kejayaan bendi hadir pada awal 1970-an. Kala itu, nama-nama orang tua Pua Niar hinnga lanjut Pua Niar dan Papa Na’ni menjadi legenda. Mereka bukan sekadar pandai besi, tetapi pengrajin seni. Dari tangan mereka lahir bendi-bendi lokal yang kokoh, indah, dan fungsional. Ukiran sederhana menghiasi kayu, rangka besi berpadu dengan roda yang tahan banting. Pua Niar dan Papa Na’ni membuat bendi tak hanya jadi alat angkutan, tetapi juga warisan keterampilan Mandar yang membanggakan.

Tak sedikit pemilik bendi kala itu. Ada Ka’ Hamar, Ka’ Mana’, Kama`na I Tahir, Pua Turi, Ka’ Ruba, Ka’ Tanda, Kama Suwedah, Puayi Yasak. Lalu menyusul Firdaus  alias po`do yang dikenal sebagai Kaman Marayang, juga Kama Haming, Malik Papa Wawan. Nama-nama ini menghiasi jalan poros setiap hari, membawa penumpang dan dagangan, menghubungkan Lamasariang dengan Tinambung, Karama, hingga pasar Pambusuang.

Hari pasar adalah panggung bendi. Setiap Rabu dan Sabtu, jalanan ramai oleh derap kaki kuda menuju Tinambung. Senin dan Jumat, giliran pasar Pambusuang jadi tujuan. Jalanan yang dilapisi aspal ranggina bercampur batu padas besar-besar, seolah menahan bunyi tapal kuda yang berpacu dengan waktu. Di kiri-kanan jalan, rimbun pohon kelapa dan rumpun bambu bergoyang diterpa angin laut yang menyusup dari selatan. Udara Karama sejuk, harum tanah basah bercampur aroma kuda dan kayu basah yang menguar dari roda bendi.

Memiliki bendi kala itu adalah tanda keberhasilan. Setiap tarikan kuda bukan hanya membawa penumpang, tetapi juga penghidupan. Namun, bagi petani seperti orang tuaku, dunia ini masih jauh. Kami tetap bergantung pada jagung dan singkong. Setelah panen, batangnya kami jual di pinggir jalan di bawah dua pohon asam kembar yang tegak di depan rumah Amma Pisa. Di sanalah deretan penjual berjajar, berharap ada pembeli lewat. Kadang, aku menunggu berjam-jam sambil melihat bendi-bendi melintas, iri pada tawa penumpangnya. Jika laku seratus atau seratus lima puluh rupiah untuk satu ikat, aku sudah merasa seperti meraih rezeki besar.

Naik bendi adalah kemewahan bagiku. Kursinya melingkar seperti huruf U terbalik, pintu di belakang, satu penumpang di dekat kusir, empat di kursi belakang saling berhadapan. Angin sepoi menerpa wajah, suara lonceng kuda berdenting, dan derap langkah yang berpacu dengan detak jantung. Di atas bendi, tawa pecah, cerita mengalir, bahkan cinta kadang bersemi diam-diam. Lamasariang mengikat banyak kenangan di roda bendi yang menggelinding pelan di atas jalan berbatu.

Namun, masa berubah. Akhir 1990-an, sebuah babak baru datang bersama suara mesin. Dialah Nurdin—Papa Burhan—orang pertama yang membawa ojek motor ke Lamasariang. Pengalamannya merantau lama di Balikpapan ia bawa pulang sebagai ide besar. Awalnya, ojek adalah kejutan. Banyak yang ragu, banyak pula yang tergoda. Dalam sekejap, ojek menjadi primadona. Lebih cepat, lebih praktis, dan tak perlu memberi makan seperti bendi.

Setelah Nurdin, bermunculan nama-nama lain: Ramali, Mas Jo alias Papa Nisma, adiknya Perlaianan, dan banyak lagi. Jalan poros yang dulu hanya mendengar derap kaki kuda, kini bergema oleh raungan mesin. Dan dari sinilah konflik dimulai. Tukang ojek dan kusir bendi sering bersinggungan. Saling tatap dengan mata panas, saling ancam, bahkan nyaris saling sikat. Ada sketsa batas wilayah yang mereka sepakati: mana yang boleh dilewati bendi, mana untuk ojek. Tapi kesepakatan itu sering retak, sebab penumpang lebih memilih motor yang lebih cepat sampai tujuan.

IInilah awal kepunahan bendi. Satu per satu kusir menyerah. Roda kayu yang dulu bergulir membawa cerita kini diam berdebu di bawah kolong rumah. Denting tapal kuda tergantikan suara knalpot yang meraung. Dan Lamasariang perlahan kehilangan simfoni derap yang dulu menjadi nyanyian paginya.

Aku, masih mengingatnya: jalan poros yang sejuk, pepohonan yang berbaris seperti penonton setia, aroma tanah yang menempel di napas, dan bendi yang pernah menjadi panggung cinta, kerja, dan cerita. Kini semua tinggal kenangan yang berderap pelan di dalam ingatan. Seperti langkah kuda yang menjauh, hilang di tikungan sejarah. 

Napasmu kini berdenyut disini
Bergelembung rindu di dada
oh.. Lamasariang....*

PERANGKAT ADAT MANDAWARI || Periode Pertama (Mara'dia Kecce)

Struktur perangkat adat Mandawari jabatan pertama 

1. Maraqdia Balanipa: Mandawari
2. Maraqdia Matoa : I Baso Daengnga I Kati
3. Maraqdia Malolo : I Tammanganro
4. Pabbicara Kaiyyang : TIDAK TERBACA
5. Pabbicara Kenje : TIDAK TERBACA
6. Puang Limboro : Pua Majakka
7. Puang Biring Lembang : Pua Jaradi
8. Puang Lambe : Puangnga I Paraga
9. Puang Kojong : I Maulle
10. Puang Lakka : I Sida
11. Puang Rui : Anaqna Kakanna I Handing
12. Puang Tenggelang : TIDAK TERBACA
13. Andonggurunna Anaq Maraqdia : I Leko
14. Puang Luyo : Pua Sapang
15. Kali Balanipa : Puang Gamaru
16. Kakanna Anaq Maraqdia : I Yandawari Puangnga Saena
17.

Sabtu, 19 Juli 2025

SUKU MANDAR DAN MAKASSAR || Cabang Pesisir dari Leluhur Da’a


Setelah komunitas ToAla mulai menyebar dan bercabang, terbentuklah kelompok Da’a, komunitas transisi yang hidup antara gunung dan laut, antara lembah dan pesisir. Mereka bukan petani murni seperti ToRaya (Toraja), dan bukan pelaut penuh seperti Bugis, tapi sangat adaptif dan cair secara sosial.

Dari rahim budaya Da’a inilah lahir dua cabang besar yang kelak menghuni pesisir barat dan selatan Sulawesi: Mandar dan Makassar.

🌴 1️⃣ Mandar: Anak Laut dari Pesisir Barat

Suku Mandar berkembang di wilayah pesisir barat Sulawesi, terutama di kawasan yang kini dikenal sebagai Polewali Mandar, Majene, dan Mamuju. Mereka lahir dari Da’a yang mulai menetap di pesisir dan memanfaatkan laut sebagai sumber kehidupan utama.

Ciri khas masyarakat Mandar:

- Pelaut dan nelayan ulung, tapi juga ahli pertanian sawah dan kebun di daratan.
- Memiliki sistem budaya yang lentur, tanpa sistem kasta seketat Toraja atau struktur kerajaan serigid Bugis.
- Budaya “Sayyang Pattudu’” (kuda menari) dan “Passandeq” (tradisi pelayaran) menjadi ikon budaya laut Mandar.

📜 Secara historis, Mandar terdiri dari 18 kerajaan kecil yang bersatu dalam satu federasi longgar dikenal dengan sebutan Pitu Ba’bana Binanga (7 kerajaan pesisir) dan Pitu Ulunna Salu (7 kerajaan pegunungan), ditambah 4 wilayah penyangga.

Ini menunjukkan bahwa masyarakat Mandar menjaga keseimbangan antara gunung dan laut, warisan khas dari komunitas Da’a.

⚓ 2️⃣ Makassar: Sang Strategis dari Selatan

Berbeda dengan Mandar yang menyatu dengan laut dan lembah, kelompok Makassar berkembang lebih jauh ke selatan di lembah subur, muara sungai, dan pelabuhan alami yang kini menjadi kota Makassar.

Ciri khas masyarakat Makassar:

- Berani dan strategis, membangun kerajaan besar seperti Gowa dan Tallo.
- Menjadi pusat perdagangan rempah, pelayaran, dan diplomasi di era pra-kolonial.
- Memiliki budaya hierarkis, dengan sistem bangsawan (karaeng) dan adat siri’ pacce yang kuat, mirip (dan sering tumpang tindih) dengan Bugis. Dua suku ini sering cekcok karena perkara identitas.

Makassar memang sangat dekat dengan Bugis dalam banyak hal bahkan seringkali bercampur tapi akar mereka tetap bisa dilacak ke cabang Da’a yang beradaptasi lebih cepat terhadap arus luar (India, Arab, Eropa) yang datang lewat laut.

Makassar bukan hanya pelaut, mereka adalah arsitek kota-kota pesisir, pelindung pelabuhan, dan pelaku politik cerdas yang memainkan peran besar di pentas sejarah Nusantara abad ke-16 dan 17.

🔄 Da’a: Sumber Cair yang Menciptakan Dua Karakter Pesisir

Mandar: lembut, tangguh, berakar di tanah dan laut.

Makassar: kuat, berstruktur, dan terbuka pada dunia luar.

Dua etnis ini mewarisi semangat Da’a, yakni mobilitas, keberanian, dan kemampuan bertahan dalam perubahan. Mereka bukan komunitas yang membangun piramida, tapi mereka membangun jaringan pelabuhan, jalur dagang, dan budaya maritim yang bertahan hingga kini.

MEMBUKA HARAPAN DARI BUMI SULBAR || Apresiasi atas Langkah Strategis Gubernur SDK dalam Ketahanan Pangan


Alhamdulillah, di tengah riuhnya tantangan global dan keluh kesah pangan dunia yang tak kunjung usai, dari tanah Sulawesi Barat, kita menyaksikan seberkas cahaya muncul. Sebuah langkah berani, nyata, dan penuh harap ditempuh oleh Gubernur Sulbar, Dr. Suhardi Duka. Dalam rapat koordinasi yang digelar 17 Juli 2025, beliau bukan hanya menekankan urgensi perluasan area tanam, tetapi juga bersedia turun langsung menembus sekat-sekat administratif dan struktural demi membuka ruang kehidupan: sawah-sawah baru, pangan bagi rakyat.

Langkah Gubernur SDK memerintahkan Dinas Pertanian untuk tidak ragu mengajukan potensi cetak sawah meski berada dalam kawasan hutan lindung (selama tidak termasuk kawasan konservasi) patut diapresiasi sebagai upaya inovatif dan taktis. Di sinilah peran seorang pemimpin diuji—bukan semata mengelola regulasi, melainkan menavigasi jalan keluar dari keruwetan kebijakan demi kepentingan publik.

Namun demikian, agar langkah ini tidak menjadi letupan sesaat yang kehilangan arah, ada baiknya kita menimbang beberapa pendekatan strategis agar program cetak sawah berjalan dengan baik, lestari, dan berdaya guna:

1. Pemetaan Potensi Berbasis Data Spasial dan Sosial Setiap wilayah memiliki riwayat ekologis dan sosialnya sendiri. Perlu pendekatan berbasis peta tutupan lahan (land cover) terkini, peta tanah, dan kerawanan bencana, dikombinasikan dengan data sosial—siapa yang akan mengolah, bagaimana sistem pengairannya, dan apa dampak sosialnya. Kementerian ATR/BPN, KLHK, dan BIG memiliki sumber daya data yang bisa disinergikan dengan Pemprov Sulbar.


2. Revitalisasi Irigasi dan Inovasi Tata Air Mikro Cetak sawah tidak boleh dipisahkan dari soal air. Bukan sekadar membuka lahan, tapi membangun sistem pengairan yang sesuai dengan topografi Sulbar yang banyak berbukit dan berlembah. Teknologi embung kecil, pompanisasi tenaga surya, hingga sistem irigasi tetes untuk kawasan marginal dapat menjadi solusi alternatif.


3. Kemitraan dengan TNI dan Perguruan Tinggi Cetak sawah pernah berhasil di masa lalu karena ada dukungan penuh dari TNI sebagai pelaksana di lapangan. Demikian pula, pelibatan perguruan tinggi seperti Unasman, Unsulbar, dan Polbangtan bisa memperkaya pendekatan dengan riset-riset inovatif dan pendampingan teknologi tepat guna.


4. Transparansi dan Partisipasi Masyarakat Keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh seberapa dalam masyarakat diajak terlibat. Keterbukaan informasi, pendekatan musyawarah desa, dan pola bagi hasil yang adil akan membuat para petani merasa memiliki dan menjaga sawah barunya seperti menjaga anak sendiri.


5. Diversifikasi Pangan Lokal Walau beras menjadi target utama, Gubernur SDK juga dapat menjadikan momentum ini sebagai jalan masuk untuk mengangkat kembali pangan lokal Sulbar: jagung gigi kuda, ubi, sorgum, sagu, dan talas. Ketahanan pangan bukan hanya soal stok beras, tetapi tentang keragaman sumber gizi.



Langkah Gubernur SDK sejatinya merupakan tanggapan serius terhadap tantangan besar Indonesia: food insecurity. FAO (2023) mencatat bahwa setidaknya 58 juta rakyat Indonesia berada dalam kondisi moderate food insecurity. Maka dari itu, langkah Sulbar mencetak sawah bukan sekadar proyek pertanian, melainkan strategi peradaban: mempertahankan kedaulatan bangsa dari ancaman lapar.

Dan di akhir renungan, kita kembali pada satu hikmah: tanah yang subur tidak hanya diukur dari tingkat kesuburan lahannya, tetapi dari keberanian pemimpinnya menanam harapan di tengah sempitnya kemungkinan.

Teruskan, Gubernur SDK. Sulbar sedang menanam masa depannya.

Salam Dari Kaltim 

Safardy Bora

Revisi Kurikulum 2025 MENJAWAB TANTANGAN ABAD KE-21

Oleh : Almadar Fattah  

Revisi kurikulum merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menjawab tantangan pendidikan pada abad ke-21. Pemerintah berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dengan mempersiapkan murid untuk menghadapi tantangan global dan kebutuhan industri.

Sehingga revisi kurikulum 2025 memang menjadi topik yang hangat dibicarakan. Ada beberapa isu yang menjadi perhatian, diantaranya :
1. Revisi kurikulum 2025 menuai kontroversi karena dianggap tidak melibatkan semua pihak yang terkait, seperti guru, orang tua, dan siswa.
2. Ada sebagian  pihak merasa bahwa proses revisi kurikulum tidak transparan dan tidak ada kejelasan tentang apa yang diubah dan mengapa.
3. Beberapa pihak khawatir bahwa revisi kurikulum 2025 akan menurunkan kualitas pendidikan di Indonesia.
4. Ada beberapa guru dan siswa telah melakukan protes terhadap revisi kurikulum 2025 karena merasa bahwa perubahan tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.
Untuk itu, revisi kurikulum 2025 memang menjadi isu yang kompleks dan perlu dibahas lebih lanjut untuk mencapai solusi yang terbaik bagi pendidikan di Indonesia.

Dengan demikian, penting bagi pemerintah dan pihak terkait untuk mendengarkan kekhawatiran dan masukan dari guru dan siswa untuk memastikan bahwa revisi kurikulum 2025 dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Revisi kurikulum tahun 2025 merupakan bagian dari reformasi pendidikan di Indonesia yang berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran. Kurikulum 2025 resmi ditetapkan sebagai kurikulum nasional melalui Permendikbudristek No. 13 Tahun 2025, dengan pendekatan deep learning untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Beberapa poin penting terkait revisi kurikulum 2025, pertama Capaian Pembelajaran (CP) terbaru 2025 mencakup kompetensi yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase perkembangan di semua jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga pendidikan menengah. Kedua  Fokus Pembaruan, seperti Pembelajaran Holistik: Mengintegrasikan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, Penerapan Praktis: Memastikan murid dapat menerapkan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, dan Penerapan Praktis: Memastikan murid dapat menerapkan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga beberapa mata pelajaran mengalami perubahan, bahkan ada penambahan mata pelajaran baru. Namun, P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) dihapus. Keempat kurikulum ini mulai diterapkan pada tahun ajaran 2025/2026, namun sekolah yang belum siap masih dapat menggunakan Kurikulum 2013.

Revisi kurikulum 2025 di Indonesia bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan beberapa perubahan utama : Pertama Perubahan Kerangka Dasar Kurikulum yang fokus pada pembelajaran mendalam yang relevan, berbasis nilai, dan berorientasi pada perkembangan karakter. Kedua Komponen Kurikulum, terdiri dari intrakurikuler (mata pelajaran wajib), kokurikuler (penguatan kompetensi), dan ekstrakurikuler (pengembangan potensi dan bakat). Ketiga Pendekatan Pembelajaran, berbasis pada pemahaman, aplikasi, dan refleksi untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.Keempat Struktur Kurikulum, disesuaikan dengan jenjang pendidikan, seperti PAUD, pendidikan dasar, dan menengah, dengan mata pelajaran wajib dan pilihan. Kelima Ekstrakurikuler, berorientasi pada kebutuhan peserta didik, bersifat pilihan, dan menyenangkan, dengan tujuan mengembangkan potensi, bakat, dan kepribadian.

Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 menjadi landasan hukum revisi kurikulum ini, yang bertujuan menyiapkan peserta didik untuk berkontribusi positif dalam masyarakat dan membangun bangsa yang maju.

Revisi kurikulum 2025 bertujuan menyiapkan peserta didik untuk berkontribusi positif dalam menghadapi tantangan global dengan membekali mereka dengan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang relevan. Beberapa tujuan revisi kurikulum ini antara lain, a) Meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, mengembangkan keterampilan abad ke-21 seperti komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah. b)  Membentuk karakter yang kuat dan berintegritas. c) Meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap isu-isu global dan lingkungan. d) Mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga negara yang aktif dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, revisi kurikulum 2025 diharapkan dapat membantu peserta didik menjadi lebih siap dan tangguh dalam menghadapi tantangan global.

Revisi kurikulum yang sudah beberapa kali dilakukan belum tentu gagal, tapi mungkin ada beberapa faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan belum meningkat signifikan.

Implementasi  Kurikulum yang dirancang dengan baik belum tentu diimplementasikan dengan baik di lapangan. Guru mungkin belum sepenuhnya memahami atau belum siap mengajar dengan metode baru.

Kualitas Guru, karena Guru memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Jika guru belum memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai, maka kualitas pendidikan tidak akan meningkat.
Sumber Daya, kurangnya sumber daya, seperti fasilitas sekolah, teknologi, dan bahan ajar, dapat menghambat implementasi kurikulum yang efektif.

Keterlibatan Stakeholder, keterlibatan orang tua, masyarakat, dan pemerintah sangat penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Jika salah satu pihak tidak terlibat secara aktif, maka kualitas pendidikan tidak akan meningkat.

 Evaluasi dan Pemantauan, evaluasi dan pemantauan yang efektif sangat penting untuk mengetahui apakah kurikulum yang diterapkan sudah efektif atau belum.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan, termasuk kurikulum, guru, sumber daya, dan stakeholder. Dengan demikian, dapat diketahui letak kesalahannya dan dilakukan perbaikan yang tepat.

Revisi kurikulum semestinya diimbangi dengan peningkatan kualitas guru dan fasilitas pendidikan yang memadai. Guru yang berkualitas dan fasilitas yang memadai dapat membantu meningkatkan efektivitas implementasi kurikulum baru.

Peningkatan kualitas guru dapat dilakukan melalui pelatihan dan pengembangan profesional, pemberian insentif dan penghargaan bagi guru yang berprestasi dan pembinaan dan pengawasan yang efektif.

Fasilitas pendidikan yang memadai juga sangat penting, seperti ruang kelas yang nyaman dan kondusi, teknologi dan peralatan pembelajaran yang memadai dan perpustakaan dan sumber belajar yang lengkap.

Kalau ini terpenuhi pemerintah dapat memastikan bahwa revisi kurikulum dapat diimplementasikan dengan efektif dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Di negara maju, fasilitas pendidikan memang sangat diutamakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Fasilitas pendidikan yang memadai dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif. Dengan fasilitas pendidikan yang memadai, murid dapat belajar dengan lebih efektif dan nyaman, sehingga dapat meningkatkan prestasi akademik dan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Fasilitas yang memadai, murid dapat merasa nyaman dan aman di sekolah, sehingga dapat fokus pada proses belajar dan meningkatkan prestasi akademik. Fasilitas yang memadai juga dapat membantu meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa.Dengan demikian, murid dapat merasa nyaman dan bahagia di sekolah, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan prestasi akademik.

Dengan fasilitas yang memadai, murid dapat merasa nyaman dan menganggap pendidikan sebagai bagian yang menyenangkan dari kehidupan mereka. Ketika murid merasa nyaman dan bahagia di sekolah, mereka lebih cenderung untuk menikmati proses belajar, mengembangkan minat dan bakat, meningkatkan prestasi akademik dan membangun hubungan yang positif dengan guru dan teman-teman serta mengembangkan keterampilan sosial dan emosional.

Dengan demikian, pendidikan dapat menjadi pengalaman yang positif dan bermakna bagi murid, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang lebih baik.

Kurikulum 2025 di Indonesia mengalami beberapa perubahan signifikan. Diantaranya poin penting terkait perubahan ini adalah :

Pendekatan Pembelajaran Mendalam. Kurikulum ini menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam yang menekankan pada penciptaan suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

Mata Pelajaran Baru.  Dua mata pelajaran baru yang diperkenalkan adalah Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI). Mata pelajaran ini akan mulai diperkenalkan secara bertahap di kelas 5 SD, kelas 7 SMP, dan kelas 10 SMA/SMK pada tahun ajaran 2025/2026.

Ekstrakurikuler Wajib.  Semua jenjang pendidikan diwajibkan untuk melaksanakan ekstrakurikuler minimal Kepramukaan atau bentuk kepanduan lainnya untuk memperkuat pendidikan karakter dan menanamkan nilai-nilai kedisiplinan.

Struktur Kurikulum. Struktur kurikulum terbaru memuat jenis mata pelajaran dan jumlah alokasi jam intrakurikuler dan kokurikuler per tahun. Perubahan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan membuatnya lebih relevan dengan kebutuhan abad ke-21.

Fleksibilitas.  Kurikulum ini memberikan fleksibilitas bagi sekolah untuk mengembangkan bentuk-bentuk pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dan konteks lokal. Sekolah juga dapat memilih model implementasi Muatan Lokal (Mulok) yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan sekolah.

Revisi kurikulum tahun 2025 bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia agar lebih relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Dengan demikian, siswa dapat memiliki keterampilan dan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Beberapa aspek yang dapat ditingkatkan dalam revisi kurikulum 2025 antara lain: Keterampilan abad ke-21, seperti keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi., Pendidikan karakter: seperti pendidikan kewarganegaraan, kepemimpinan, dan kesadaran sosial., Keterampilan teknologi: seperti koding, kecerdasan artifisial, dan penggunaan teknologi informasi., dan Pendidikan berbasis proyek: seperti pembelajaran berbasis proyek yang dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah dan bekerja sama.

Kritik konstruktifnya, kebijakan pendidikan seharusnya tidak bergantung pada selera atau kepentingan pribadi pemerintah yang memimpin, melainkan harus berbasis pada kebutuhan dan kepentingan masyarakat luas. Kebijakan pendidikan yang berkelanjutan dan berpandangan jangka panjang sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. 

Masukan konstruktifnya pemerintah harus dapat mengembangkan kebijakan pendidikan yang stabil dan berkelanjutan, meningkatkan kualitas pendidikan secara konsisten, mengurangi kesenjangan pendidikan antara daerah-daerah, dan mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan global.

Kebijakan pendidikan yang berpandangan jangka panjang dan berbasis pada kebutuhan masyarakat dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda.

Semoga revisi kurikulum tahun 2025 bukan hanya sekedar memenuhi selera pemerintah, tetapi benar-benar bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Sehingga revisi kurikulum dapat membawa manfaat yang nyata bagi siswa, guru, dan masyarakat luas.

Harapan revisi kurikulum 2025 dapat menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda.

(Pendidik & Aktif Menulis Berbagai Media Harian Di Makassar Tahun 90an)

(Edisi Ke-2) LAMASARIANG || Tanah Penjagaan, Masjid yang Berdiri dalam Ingatan


Episode Kedua
Lamasariang: Tanah Penjagaan, Masjid yang Berdiri dalam Ingatan

Lamasariang—nama itu tumbuh pelan-pelan dari tanah Mandar yang permai, seperti pohon yang menua di hati angin. Ia bukan sekadar sebutan kampung, melainkan gema dari masa silam, bisik dari leluhur yang menitipkan makna. Dari kata “lama” yang berarti tempat, dan “sariang” yang berarti penjagaan dalam bahasa tua, tersusunlah satu nama yang harum: tempat yang dijaga. Dijaga oleh lembang Punnagza yang mengalir setia, oleh rumah-rumah kayu di Manjopai yang bersandar pada waktu, oleh gumuk tenang Tammangalle, dan langit yang selalu menyorot simpang empat Karama dan Pandebulawang dengan tatapan biru yang panjang.

Tidak ada catatan resmi yang menuliskan sejak kapan kampung ini hidup. Tapi pohon-pohon lontar yang berdiri sabar di tepian tanah, dan debu jalan yang tak kunjung lelah dilalui kaki orang pulang, menjadi saksi bahwa Lamasariang sudah lama menampung kisah. Sebelum kepala desa pertama dikenal, kampung ini telah menjelma rumah—dengan rumah-rumah panggung dari kayu hasil tebasan peluh dari Oting dan Pandebulawang. Tempat ini menerima siapa saja yang ingin berteduh, seakan ia tahu: semua yang datang akan jatuh cinta.

Pada masa negeri masih belajar mengeja damai, pos tentara Resimen Infanteri 710 berdiri kokoh di Lamasariang, dipimpin oleh Andi Selle. Kala itu, kampung ini bukan sekadar hunian, melainkan titik strategis penghubung Makassar dan Mamuju. Setelah pasukan berpindah, tanah itu tidak tidur. Masyarakat menjadikannya tempat bermain layang-layang dan berkumpul sambil mappsitinda’ lake—tanda bahwa tanah bisa berubah fungsinya, tapi tidak kehilangan maknanya. Tak jauh dari situ, berdiri sebuah masjid tua. Ia tak ubahnya perahu besar yang diam menanti badai. Di sanalah doa-doa berkumpul, dan kelak, sebuah keajaiban lahir.

Gempa pada 11 April 1967 (magnitude 6,3) memicu tsunami di Teluk Mandar
Kemudian pada 14 Oktober 1969, bumi menggeliat tak biasa. Gempa besar kembali mengguncang Mandar —tercatat hingga 6,9 skala Richter. Tanah merekah, air sumur menghitam, dan udara seakan menggantung.  Masjid tua di lamasariang roboh perlahan. Tiang-tiang kayunya patah, atapnya rebah seperti doa yang belum sempat selesai. Namun dari reruntuhan, muncul sosok Pua Juhena, keluar dengan langkah tertatih tapi selamat. Tanda Abariah kecil menyaksikannya—dalam diam yang haru—dan hingga kini, kenangan itu masih utuh dalam cerita-cerita lisan.

Masjid itu mungkin tak lagi ada dalam bentuk semula, tapi kenangan tentang imam pertamanya, Puayi Guni, tetap kokoh di hati warga. Diperkirakan berdiri sebelum tahun 1959, beliau bukan hanya pemimpin shalat, tapi juga suluh dalam gelap. Setelahnya, muncul Pua Haris dari Karama, seorang annangguru yang mendidik dengan hati yang penuh teduh. Ada pula Abdul Jabbar Kamana i Musu, darah daging Puayi Guni, dan sosok-sosok yang tak kalah harum seperti Ru’ding Kama Suwedah Hatte’ dan Pua Juhenat Bindal—mereka adalah pondasi batin yang tak pernah benar-benar runtuh.

Di masa sebelum listrik masuk, Ramadhan tiba bagai syair gelap yang ditulis cahaya lampu petromax. Lampu gas digantung di kayu yang dirangkai dari rumah ke rumah—milik Kama Maniya, Kama Tanda, Kama Hamar, dan orang-orang mampu lainnya. Cahaya itu menerangi malam-malam puasa. Anak-anak kecil berlari di halaman, menanti denting beduk magrib. Suara mereka seperti mercon kecil yang memecah keheningan dengan tawa.

Di depan masjid, ada sumur tua, kolam yang tak lagi digunakan, dan pohon kelapa tua yang disebut Anjoro Kapal—karena batangnya pendek tidak menjulang seperti tiang kapal yang karam di pasir waktu. Di sana, anak-anak menunggu beduk ditabuh Pua Juhena. Ketika suara itu menggema, mereka pun berlarian pulang untuk berbuka. Malam hari sebelum tarawih, halaman berubah menjadi panggung riang. Anak-anak bermain petak umpet, sementara gadis-gadis menjajakan canggoreng batte dengan senyum malu-malu.

Di sisi lain masjid, dahulu ada pasar pagi yang ramai. Di sanalah denyut ekonomi kampung bergelora. Tak jauh dari situ, berdiri kandang kuda dan rumah penginapan bagi tamu jauh. Di antara mereka yang pernah menginap adalah Pak Ranti—polisi pertama yang ditugaskan di Tinambung. Lamasariang bukan sekadar titik di peta, melainkan pelabuhan bagi mereka yang butuh singgah, butuh pulang.

Saat waktu sahur tiba, Kama Suwedah menjadi yang pertama membangunkan kampung dengan suara toa  model corong minyak, dengan kaset-kaset mengaji klasik yang mengalun dari radio kecil. Suaranya tidak nyaring, tapi meresap. Ibu-ibu bangun perlahan, memasak dalam senyap yang ditemani embun. Nasi mengepul dalam kukusan, lauk-lauk sederhana tersaji dengan cinta yang hangat.

Subuh datang, dan anak-anak tak kembali ke ranjang. Mereka berkelompok, berjalan kaki ke Paayumang. Entah apa yang mereka cari, mungkin hanya suasana, mungkin hanya kebersamaan. Tapi langkah itu adalah pelajaran. Tentang hidup, tentang persaudaraan, tentang kampung yang mengajarkan arti menjadi manusia.

Kini masjid telah direnovasi. Tiangnya beton, dindingnya bersih berkeramik. Tapi banyak yang percaya: ruh masjid tetap milik zaman dahulu. Milik imam yang tak dikenal generasi sekarang, tapi doanya masih tercium di langit kampung. Jejak kaki Pua Juhena mungkin sudah hilang, tapi suara langkahnya masih terdengar jika kita menunduk dan benar-benar mendengarkan.

Lamasariang bukan hanya tempat yang dijaga, melainkan penjaga itu sendiri. Ia menjaga kenangan, menjaga persaudaraan, menjaga cinta dalam bentuk yang paling sederhana. Ia berdiri bukan karena semen, tapi karena keringat, karena bakti, dan karena kesetiaan pada tanah dan langit yang sama.

Sejarah tidak selalu ditulis di buku. Ia kadang mengalir dalam mata anak yang melihat ayahnya menggantung petromax, dalam suara lembut ibu yang menyiapkan sahur, dalam langkah kaki anak-anak menuju Paayumang. Lamasariang adalah rumah yang hidup dalam doa. Rumah yang tetap ada, meski waktu berlalu. Rumah yang akan selalu pulang, bahkan jika tubuh tak lagi bisa kembali.

Catatan Hidupku
Safardy Bora

Ketika PERAHU SANDEQ BERBICARA DAN MEMBUKA DIRI

Oleh : Almadar Fattah 

Perahu Sandeq memang sangat erat kaitannya dengan budaya dan kehidupan masyarakat Mandar di Sulawesi Barat. Perahu Sandeq merupakan simbol keberanian, ketangkasan, dan kearifan lokal dalam berlayar dan berinteraksi dengan alam laut. Selain itu, perahu ini juga menjadi bagian penting dari tradisi dan identitas masyarakat Mandar.

Perahu Sandeq memiliki desain yang ramping dan lancip di bagian depan, yang dapat diartikan sebagai simbol kesederhanaan dan kerendahan hati. Desain ini juga menunjukkan kearifan lokal dan filosofi hidup masyarakat Mandar yang menekankan pentingnya kesederhanaan dan kerendahan hati dalam menjalani kehidupan.

Tiang layar tunggal pada perahu Sandeq yang dibantu oleh beberapa ikatan yang membentang ke bawah menunjukkan efisiensi dan kesederhanaan dalam desain. Ini juga menggambarkan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam dan teknologi sederhana untuk mencapai tujuan, seperti berlayar dan mencari nafkah di laut.

Layar putih pada perahu Sandeq dapat diartikan sebagai simbol kesucian dan kemurnian dalam mencari nafkah di laut. Warna putih sering dikaitkan dengan kesucian, kejujuran, dan ketulusan, sehingga layar putih pada perahu Sandeq dapat menggambarkan harapan untuk mencari nafkah dengan cara yang halal dan baik.

Katir atau cagak pada perahu Sandeq yang membentang di sisi kiri dan kanan perahu sebagai penopang stabilitas dapat diartikan sebagai simbol keseimbangan dalam kehidupan.

Sama seperti perahu yang memerlukan keseimbangan untuk berlayar dengan stabil, kehidupan juga memerlukan keseimbangan antara berbagai aspek, seperti spiritual, material, emosi, dan sosial, untuk mencapai kestabilan dan harmoni.

Perahu Sandeq yang kecil dan lancip memungkinkan untuk bermanuver dengan lincah dan cepat di laut, serta dapat menjangkau perairan yang lebih dalam. Desain ini menunjukkan kearifan lokal dalam menciptakan kapal yang sesuai dengan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat Mandar.

Ayo kita lestarikan dan jaga perahu Sandeq sebagai warisan budaya maritim yang unik dan berharga bagi masyarakat Mandar. Melestarikan perahu Sandeq, kita juga melestarikan sejarah, tradisi, dan identitas budaya masyarakat Mandar yang kaya dan beragam. Mari kita banggakan dan lestarikan warisan budaya kita.

Perahu Sandeq memang merupakan perahu tradisional yang luar biasa, mampu menembus batas waktu dan tetap eksis di tengah kemajuan peradaban modern.

Keberadaan perahu Sandeq yang masih terjaga hingga saat ini merupakan bukti nyata dari ketekunan dan kebanggaan masyarakat Mandar dalam melestarikan warisan budaya leluhurnya. Perahu Sandeq tidak hanya menjadi simbol kebudayaan, tetapi juga menjadi ikon kekuatan dan ketahanan masyarakat Mandar dalam menghadapi perubahan zaman.

Dengan sentuhan bahasa modern, cerita dan keunikan perahu Sandeq dapat dipromosikan lebih luas dan dikenal oleh masyarakat global, sehingga warisan budaya ini dapat lebih dihargai dan dilestarikan.

Pengenalan perahu Sandeq melalui media sosial, dokumenter, dan promosi budaya dapat membantu meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat internasional terhadap kekayaan budaya Indonesia, khususnya budaya Mandar.

Perahu Sandeq tidak hanya mempertahankan keaslian tradisinya, tetapi juga siap menaklukkan samudra luas dengan adaptasi bahasa modern.

Untuk itu, Sandeq dapat tetap eksis dan dikenal luas di era global ini tanpa kehilangan esensi dan identitas budaya Mandar yang kuat. Perpaduan antara tradisi dan modernitas ini akan membuat perahu Sandeq semakin relevan dan dihargai di berbagai belahan dunia.

Tanah kelahiran Sandeq, yaitu Mandar, tetap menjadi sumber inspirasi dan jiwa yang kuat dalam menaklukkan dunia modern.

Warisan budaya dan tradisi yang kaya dari Mandar menjadi pondasi bagi Sandeq untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan zaman, sambil tetap mempertahankan identitas dan keaslian budaya Mandar yang unik. Sehingga Sandeq dapat menjadi simbol kebanggaan bagi masyarakat Mandar dan Indonesia secara keseluruhan.

Sandeq dan Mandar tidak pernah terpaku pada satu bahasa tertentu, karena bahasa hanyalah alat untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan keunikan Sandeq kepada dunia modern.

Dengan menggunakan berbagai bahasa, Sandeq dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan memperkenalkan keindahan budaya Mandar kepada masyarakat global, tanpa kehilangan esensi dan identitas budaya yang kuat.

Sandeq dengan sentuhan bahasa asing tetap akan mempertahankan keaslian dan keunikan budaya Mandarnya.

Bahasa luar hanya menjadi sarana untuk memperkenalkan Sandeq kepada dunia internasional, namun esensi dan jiwa Mandar tetap menjadi identitas utama Sandeq.  Sandeq dapat tetap eksis dan berkembang di era global tanpa kehilangan akar budayanya.

Sandeq tidak akan kehilangan esensi dan identitasnya hanya karena menggunakan bahasa luar, malahan Sandeq membutuhkan sentuhan bahasa modern untuk memperkenalkan dan mempertahankan jati dirinya kepada dunia luas.

Untuk itu, Sandeq dapat tetap relevan dan dikenal di era global ini, sambil tetap mempertahankan keaslian dan keunikan budaya Mandar yang kuat. Bahasa modern menjadi sarana untuk memperkuat identitas Sandeq, bukan melemahkannya.

Perahu Sandeq yang tradisional dapat menembus cakrawala modern dengan mempertahankan keaslian budayanya sambil mengadaptasi teknologi dan bahasa modern untuk meningkatkan visibilitas dan apresiasi global terhadap kekayaan budaya Mandar.

Sandeq tidak hanya menjadi simbol budaya masa lalu, tetapi juga menjadi ikon kebanggaan budaya yang relevan di era modern.

Perahu Sandeq membutuhkan sentuhan modern untuk meningkatkan visibilitas dan pengakuan internasional, namun tetap mempertahankan identitas budaya Mandar yang kuat.

Perahu Sandeq sang penakluk lautan perlu ada pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya dunia, Perahu Sandeq dapat menjadi simbol kebanggaan nasional dan budaya Indonesia, serta meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat global terhadap kekayaan budaya Indonesia.

Perahu Sandeq dapat menjadi mercusuar bagi budaya Mandar untuk dikenal dan dihargai oleh dunia luar. Dengan sentuhan multi bahasa dan  dimempromosikan keunikan dan keindahan Sandeq, masyarakat Mandar dapat memperkenalkan kekayaan budayanya kepada masyarakat global, sehingga meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap budaya Mandar secara keseluruhan.

Perpaduan antara tradisi dan modernitas akan membuat perahu Sandeq semakin relevan dan dihargai di berbagai belahan dunia. Mari kita lestarikan dan jaga perahu Sandeq sebagai warisan budaya maritim yang unik dan berharga bagi masyarakat Mandar.. Itulah Perahu Sandeq, menjadi ikon kebanggaan budaya yang relevan di era modern.

(Aktif Menulis Berbagai Media Harian di Makassar Tahun 90an).

Jumat, 18 Juli 2025

Membuka Harapan dari Bumi Sulbar


Membuka Harapan dari Bumi Sulbar: Apresiasi atas Langkah Strategis Gubernur SDK dalam Ketahanan Pangan

Catatan Safardy Bora

Alhamdulillah, di tengah riuhnya tantangan global dan keluh kesah pangan dunia yang tak kunjung usai, dari tanah Sulawesi Barat, kita menyaksikan seberkas cahaya muncul. Sebuah langkah berani, nyata, dan penuh harap ditempuh oleh Gubernur Sulbar, Dr. Suhardi Duka. Dalam rapat koordinasi yang digelar 17 Juli 2025, beliau bukan hanya menekankan urgensi perluasan area tanam, tetapi juga bersedia turun langsung menembus sekat-sekat administratif dan struktural demi membuka ruang kehidupan: sawah-sawah baru, pangan bagi rakyat.

Langkah Gubernur SDK memerintahkan Dinas Pertanian untuk tidak ragu mengajukan potensi cetak sawah meski berada dalam kawasan hutan lindung (selama tidak termasuk kawasan konservasi) patut diapresiasi sebagai upaya inovatif dan taktis. Di sinilah peran seorang pemimpin diuji—bukan semata mengelola regulasi, melainkan menavigasi jalan keluar dari keruwetan kebijakan demi kepentingan publik.

Namun demikian, agar langkah ini tidak menjadi letupan sesaat yang kehilangan arah, ada baiknya kita menimbang beberapa pendekatan strategis agar program cetak sawah berjalan dengan baik, lestari, dan berdaya guna:

1. Pemetaan Potensi Berbasis Data Spasial dan Sosial Setiap wilayah memiliki riwayat ekologis dan sosialnya sendiri. Perlu pendekatan berbasis peta tutupan lahan (land cover) terkini, peta tanah, dan kerawanan bencana, dikombinasikan dengan data sosial—siapa yang akan mengolah, bagaimana sistem pengairannya, dan apa dampak sosialnya. Kementerian ATR/BPN, KLHK, dan BIG memiliki sumber daya data yang bisa disinergikan dengan Pemprov Sulbar.


2. Revitalisasi Irigasi dan Inovasi Tata Air Mikro Cetak sawah tidak boleh dipisahkan dari soal air. Bukan sekadar membuka lahan, tapi membangun sistem pengairan yang sesuai dengan topografi Sulbar yang banyak berbukit dan berlembah. Teknologi embung kecil, pompanisasi tenaga surya, hingga sistem irigasi tetes untuk kawasan marginal dapat menjadi solusi alternatif.


3. Kemitraan dengan TNI dan Perguruan Tinggi Cetak sawah pernah berhasil di masa lalu karena ada dukungan penuh dari TNI sebagai pelaksana di lapangan. Demikian pula, pelibatan perguruan tinggi seperti Unasman, Unsulbar, dan Polbangtan bisa memperkaya pendekatan dengan riset-riset inovatif dan pendampingan teknologi tepat guna.


4. Transparansi dan Partisipasi Masyarakat Keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh seberapa dalam masyarakat diajak terlibat. Keterbukaan informasi, pendekatan musyawarah desa, dan pola bagi hasil yang adil akan membuat para petani merasa memiliki dan menjaga sawah barunya seperti menjaga anak sendiri.


5. Diversifikasi Pangan Lokal Walau beras menjadi target utama, Gubernur SDK juga dapat menjadikan momentum ini sebagai jalan masuk untuk mengangkat kembali pangan lokal Sulbar: jagung gigi kuda, ubi, sorgum, sagu, dan talas. Ketahanan pangan bukan hanya soal stok beras, tetapi tentang keragaman sumber gizi.



Langkah Gubernur SDK sejatinya merupakan tanggapan serius terhadap tantangan besar Indonesia: food insecurity. FAO (2023) mencatat bahwa setidaknya 58 juta rakyat Indonesia berada dalam kondisi moderate food insecurity. Maka dari itu, langkah Sulbar mencetak sawah bukan sekadar proyek pertanian, melainkan strategi peradaban: mempertahankan kedaulatan bangsa dari ancaman lapar.

Dan di akhir renungan, kita kembali pada satu hikmah: tanah yang subur tidak hanya diukur dari tingkat kesuburan lahannya, tetapi dari keberanian pemimpinnya menanam harapan di tengah sempitnya kemungkinan.

Teruskan, Gubernur SDK. Sulbar sedang menanam masa depannya.

Salam Dari Kaltim 

Safardy Bora

(Edisi ke-1) Lamasariang, Riwayat Sebuah Dusun

Di ujung selatan poros Sulawesi, ketika aspal belum sepenuhnya menaklukkan jalan tanah, berdirilah sebuah dusun bernama Lamasariang. Sebuah nama yang berhembus lembut dari lidah-lidah tua, seolah membawa aroma tanah basah dan desir angin laut. Konon, nama itu lahir karena kampung ini dulu dipenuhi pohon lamasariang, yang dalam bahasa Indonesia disebut lontar—pohon perkasa dengan batang menjulang dan daun bagai kipas raksasa, yang memberi naungan dan kehidupan.

Lamasariang bukan sekadar titik di peta, ia adalah denyut kehidupan yang tenang, tempat setiap hari berjalan pelan tanpa tergesa. Jalan nasional yang kini ramai dulu hanyalah lorong panjang berdebu, tempat anak-anak berlarian tanpa alas kaki, dan para ibu menjemur jagung di halaman rumah, ditata rapi di atas tikar pandan yang harum matahari.

Penduduk Lamasariang datang dari berbagai penjuru: Napo Saleko, Napo Buyung, Samasandu, Mosso, Cendra, Galung, Lambepanda’, Puttotor, Pandebulawang, hingga Saliwo’o. Mereka membawa cerita dan darah masing-masing, namun menyatu dalam satu harmoni. Perbedaan tak menjadi jarak; justru ia menjahit kebersamaan yang hangat, sehangat senja yang merunduk di balik pohon kelapa.

Di rumah-rumah, setiap hari terdengar ketukan bertalu-talu dari alat tenun. Suara itu berasal dari tangan-tangan terampil para ibu dan gadis Lamasariang yang menenun sarung sutra Mandar. Profesi ini bukan sekadar mata pencaharian, tetapi warisan budaya yang dijaga dengan cinta. Irama ketukan kayu dan benang yang meregang adalah musik kehidupan, yang mengalun lembut di antara dinding bambu dan semilir angin laut.

Kehidupan mereka sederhana, bertumpu pada huma dan ladang, menanam jagung, ubi kayu, dan bawang kampung di bukit-bukit berbatu. Tanah itu kebanyakan milik maradia, pa’bicara, atau papuangan, yang dengan bijak memelihara hak ulayat. Bila ada yang pindah rumah, acara itu selalu dilakukan setelah salat Jumat, agar banyak tangan ikut mengangkat rumah panggung bersama-sama—sebuah tradisi gotong royong yang sarat makna persaudaraan.

Di setiap rumah panggung, kehidupan berdenyut pelan. Dinding anyaman bambu, atap rumbia yang sesekali menetes ketika hujan lebat, menjadi saksi bisu tawa anak-anak dan percakapan orang tua tentang musim tanam bawang. Malam-malamnya sunyi, hanya lampu minyak yang berkelip, ditemani suara serangga yang bernyanyi di antara rumpun pisang.

Gadis-gadis, para ibu, dan remaja mandi pagi dan sore di lembang-lembang alami yang diberi nama indah: Pokki, Ca’bu, dan Ganda Gandang. Airnya jernih, memantulkan cahaya matahari dan bayangan pepohonan yang rimbun. Di sanalah mereka bercengkerama, tertawa lepas, dan berbagi cerita, menjadikan setiap percikan air sebagai tanda kehidupan yang riang.

Jika ada hajatan pernikahan atau pesta tamat mengaji, suasana kampung berubah menjadi semarak. Sarapo mulai didirikan, panci-panci besar bergelantungan, dan aroma kue tradisional seperti marridi pupu dan maccucur menyebar ke udara. Setengah bulan sebelum acara, rumah keluarga yang akan berpesta sudah ramai oleh sanak saudara, semua datang untuk membantu, menjadikan kebersamaan itu sebagai pesta sesungguhnya.

Kampung ini pernah dipimpin oleh tokoh-tokoh yang namanya tak lekang oleh waktu. Ada Pak Suyuti Tamma, yang disebut orang sebagai Kapala Suyuti, sosok yang tegas namun bersahaja. Setelahnya, Abdul Wahab alias Puanna i Icicci, yang akrab disapa Kapala Matoa, memimpin dengan kearifan adat. Hingga akhirnya, menjelang perubahan zaman, Irsyad Wahab menutup babak terakhir sebagai kepala desa sebelum Lamasariang beralih menjadi kelurahan Balanipa.

Meski pemimpin silih berganti, satu hal tak berubah: kerukunan. Orang Lamasariang hidup seperti air yang mengalir—bening dan tenang. Gotong royong adalah nafas kehidupan; ladang digarap bersama, hajatan dirayakan bersama, duka pun dipikul bersama. Tidak ada yang terlalu kaya, tidak ada pula yang terlampau miskin. Semua cukup, sebagaimana kampung mengajarkan arti kecukupan.

Namun bagiku, Lamasariang bukan sekadar kampung; ia adalah halaman pertama dari sebuah buku kehidupan. Di sanalah aku belajar tentang arti persaudaraan, kesederhanaan, dan harapan. Di balik setiap pohon kelapa, di setiap jalur lorong tanah, ada kenangan yang terpatri. Dan setiap kali aku menoleh ke belakang, aku mendengar suara masa lalu yang berbisik: “Ingatlah kami, sebab kami adalah bagian dari dirimu.”

Catatan harian, awal perjalanan hidupku
Safardy Bora

Jejak Emas yang Hilang dari Pandebulawang

Safardy Bora

Di antara bayang-bayang sejarah Mandar yang megah dan samar, nama Ha'dani atau Dani—putra dari Puangna Massi bin Daengna Nakka—masih bergema lembut di sela-sela desir angin Saleko. Ia dilahirkan sekitar awal 1900-an, pada masa di mana langit masih bersih dari deru pesawat kolonial, namun bumi telah dijejak derap pasukan asing. Dani dikenal bukan hanya sebagai seorang pua patiamah, pewaris darah terhormat, tetapi juga sebagai petani kaya yang menyatu dengan tanah dan emas.

Menurut penuturan cucunya, Safardy Bora, melalui cerita ibunya yang masih membekas hangat di ingatannya, sang Dani bukan petani biasa. Ia menanam emas di dalam hidupnya. Dari emas Pulu Sodzo—emas murni berkilau seumpama cahaya subuh di antara sela anyaman tikar bambu—hingga emas Passambo, berbentuk bulatan pipih yang dulu disimpan para perempuan bangsawan dalam selendang kecil di balik baju lamba-lamba mereka. Bahkan anak-anak perempuan pun kala itu memiliki kepingan emas kecil—indopong dan bali-bali'—sebagai tanda kehormatan dan warisan budaya.

Namun kekayaan itu bukan hanya perhiasan. Ia adalah simbol martabat, hasil keringat, dan kecintaan yang diwariskan turun-temurun. Sayang, sejarah bukan hanya kumpulan kejayaan. Ia juga luka yang menganga.

Ketika bayangan Belanda menebal di Mandar, Saleko tak luput dari incaran. Rumah Dani, yang berdiri di kawasan Saleko—kampung para pandai emas yang harum namanya sejak abad-abad silam—dibakar. Tidak hanya atap dan dindingnya yang hangus, tetapi juga martabat dan harta yang tersimpan di dalamnya. Sunusi, sang anak menantu, ditangkap pasukan Belanda rumah itu. Ia saksi mata dari sebuah penghapusan jejak.

Gelang lenyap, cincin raib, dan perhiasan anak-anak perempuan yang dulu digenggam seperti doa malam kini tinggal kenangan. Begitu pula dengan emas pulu sodzo dan passambo, seperti hilang tertelan waktu. Sejak kejadian itu, Pandebulawang tak lagi terdengar sebagai pusat penempaan emas. Bara di tungku padam. Palu dan landasan diam seribu bahasa. Generasi berikutnya tumbuh tanpa gemerincing logam mulia.

Namun sejarah tidak pernah benar-benar padam. Ia hidup dalam ingatan, dalam cerita cucu yang menulis, dan dalam bisik-bisik tanah tua yang masih menyimpan serpih jejak emas Pandebulawang.

Kamis, 17 Juli 2025

H. Syahril HM Taher: Dari Jalanan Kelam Menuju Cahaya Kepemimpinan


Awal Gelap & Titik Balik
Sebelum dikenal luas sebagai tokoh Pemuda Pancasila dan pengusaha sukses, H. Syahril HM Taher pernah menempuh perjalanan yang penuh liku. Ia tumbuh di lingkungan keras dan nasib membawanya ke dunia preman. Beberapa kali harus merasakan dinginnya jeruji—tercatat pernah ditahan karena kasus kekerasan dan pembunuhan. Namun, di balik jeratan masa lalu itulah, ia menemukan titik balik hidupnya.

Kehidupannya kian lengkap, melalui bimbingan Jamaah Tabligh, ia menerima hidayah dan secara bertahap meninggalkan dunia kelamnya, menggenggam nilai-nilai keimanan dan hidup yang lebih baik.

Kepemimpinan dan Kiprah Sosial

Mengepalai MPC Pemuda Pancasila Balikpapan sejak awal 2000-an, lalu kembali terpilih 2024–2029, bahkan diperpanjang hingga 2034, karena kepercayaannya dalam menjaga stabilitas organisasi saat krusialnya persiapan Ibu Kota Nusantara.

Aktif mengusung program sosial: pembagian sembako saat Ramadan, kurban Idul Adha, dan kerja bakti lingkungan, melibatkan ratusan pemuda.

Di ranah olahraga, ia pernah memimpin Persiba Balikpapan, mengantar klub ke persaingan liga tingkat atas dan kini tercatat sebagai chairman klub tersebut.


Duka Keluarga & Rangkaian Hidup
Baru-baru ini, Sabtu 16 Juli 2025, Balikpapan berduka atas wafatnya putra sulungnya, Yaser Arafat Syahril (lahir 5 Agustus 1984), Ketua KADIN Balikpapan. Yaser dikenal sebagai sosok muda yang taat ilmu dan agama—santri di Darunnajah, Jakarta. Keluarga mengambarkan beliau sebagai pribadi yang santun & penuh keteladanan. Kehilangan ini menjadi ujian besar bagi Syahril dan keluarga, seraya menjadi pengingat akan kefanaan hidup.

Nama Lengkap Syahril & Anak?

Nama lengkap bapak: H. Syahril HM Taher.

Nama lengkap putra sulung: Yaser Arafat Syahril (5 Agustus 1984–16 Juli 2025)  .


Penutup & Pesan Keteladanan

Kisah hidup Syahril HM Taher adalah contoh luar biasa: dari masa lalu yang suram dan penuh kekerasan, hijrah menuju cahaya iman dan produktivitas. Ilmu dan amalnya bukan sekadar memimpin, tetapi memberi teladan. Namun ujian terbesar datang silih berganti—terakhir duka kehilangan Yaser.

Dengan kerendahan hati, kami ambil hikmah: tiap manusia memiliki potensi hijrah dan menjadi sumber inspirasi. Namun, keteladanan juga membawa tanggung jawab besar. Semoga perjalanan hidup beliau menjadi cermin bagi kita semua—bahwa perubahan sejati berasal dari hidayah, dan keteladanan tumbuh dari kesetiaan memperbaiki diri.  

Tawe' maraya 🙏🙏🙏

(Safardy Bora)

Senin, 14 Juli 2025

APRESIASI ATAS GAGASAN LITERASI GUBERNUR SULBAR || Menyalakan Pelita Bangsa Melalui Buku

SAFARDY BORA

Alhamdulillāh, Indonesia kembali disapa secercah harapan dari ufuk barat Sulawesi. Gagasan brilian yang digulirkan oleh Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, tentang kewajiban membaca minimal 20 buku sebagai syarat kelulusan bagi siswa SMA/SMK, bukan hanya kebijakan administratif, melainkan langkah strategis membangun peradaban. Dalam kebijakan ini, kita tidak sedang bicara angka—melainkan ruh pengetahuan yang ditanamkan sejak muda dalam benak generasi pewaris negeri.

Di tengah gelombang distraksi digital dan dangkalnya minat baca, SDK hadir dengan ketegasan intelektual: membaca adalah syarat lulus. Ini bukan pemaksaan, tapi penanaman nilai. Dua dari dua puluh buku itu bahkan memuat narasi tokoh lokal, Andi Depu dan Baharuddin Lopa, sebagai afirmasi identitas kultural dan teladan karakter luhur dari tanah Mandar.

Gagasan ini patut diteladani oleh Pemda, Pemkot, bahkan seluruh Pemerintah Provinsi se-Indonesia. Sebab, literasi bukanlah domain eksklusif para akademisi; ia adalah fondasi pembangunan. Negara-negara maju tidak dibangun dengan beton semata, tetapi dengan pemikiran yang dipelihara dari halaman-halaman buku.

Secara ilmiah, literasi berperan sebagai katalis pengembangan berpikir kritis (critical thinking), peningkatan keterampilan metakognitif, dan pembentukan empati melalui pengenalan ragam narasi. Pendidikan yang hanya mengejar nilai tanpa membaca, adalah pendidikan tanpa akar. Sementara membaca menumbuhkan akar kognitif dan afektif siswa agar kelak tumbuh menjadi pohon-pohon pemimpin yang kokoh dalam moral dan bermanfaat dalam sosial.

Dari sudut pandang sosiologis, instruksi membuka pojok baca dan perpustakaan mini di instansi pemerintah adalah terobosan penting dalam perluasan public literacy space. Ini bukan sekadar ruang buku, melainkan ruang tumbuhnya gagasan, ruang dialog sunyi antara pembaca dan semesta makna.

SDK, dalam surat edarannya, juga tidak lupa membuka jalan bagi dukungan konkret: penggunaan dana BOS untuk sarana perpustakaan, serta penyiapan tenaga pengelola. Ini bukti bahwa kebijakan ini tidak sekadar retorika, tetapi sistematis dan berakar pada regulasi.

Maka, tak berlebihan jika kita menyebut kebijakan ini sebagai revitalisasi pendidikan melalui literasi. Ia membawa pesan moral: bahwa kecerdasan bukan warisan, melainkan hasil jerih payah memahami dunia—lewat membaca.

Gagasan SDK ini adalah gema zaman, isyarat bahwa pendidikan sejati tidak berhenti di ujian, tetapi hidup dalam pengalaman membaca dan memahami. Semoga gema ini sampai ke seluruh pelosok Nusantara, dan menjadi cermin bagi para pemimpin daerah lain untuk berani menanam peradaban—lewat buku.

Salam dari Kaltim 
Safardy Bora