Jumat, 03 Januari 2025

ARY IFTIKHAR SHIHAB || Wajah Baru di Parlemen Sulbar


ARY IFTIKHAR SHIHAB adalah salah satu wajah baru yang mengisi parlemen Sulbar sejak dilantik Kamis, 26 September 2024 lalu. Lelaki yang akrab disapa Koje’ ini resmi menjadi Anggota DPRD Sulbar Periode 2024-2029 dari Fraksi Partai Nasdem Dapil Sulbar 2 (Polman A). Dalam proses pemenangan SDK-JSM pada Pilkada kemarin, Koje’ menjadi salah satu pemantik kemenangan karena jaringan anak muda yang tergabung dalam komunitas “Sama Rata” dan konstituen pendukungnya di berbagai kecamatan yang ada di Polman A, khususnya petani dan pecinta ayam bangkok. 

Sejak awal terjun ke dunia politik, sosok Koje’ seakan menjadi medan magnet. Itu terbukti ketika mencaleg di Partai Demokrat pada Pemilu 2019 berhasil meraih suara yang cukup signifikan, meski Husain Hainur menutup aksesnya untuk melenggang ke parlemen Sulbar. Kecewakah Koje’ atas kenyataan ini?. Ternyata tidak, Ia bahkan semakin intens membangun komunikasi dengan masyarakat berbagai kalangan. Ia memesrai banyak anak muda produktif sehingga ketika tahapan Pemilu 2024 dimulai, ia mendaftarkan dirinya sebagai Caleg Propinsi Sulawesi Barat di Partai Nasdem. 

Di Nasdem-lah garis takdir yang tergurat di dahinya terkuak dan mencatatkan namanya sebagai salah satu Anggota DPRD Sulbar 2024. Dalam darahnya, mengalir sebagai dzurriyah nabi bermarga Ash-Shihab. Marga yang terkenal di Indonesia lewat nama besar Prof. Dr. AGH. Muhammad Quraysh Shihab, Lc. MA (ulama ahli tafsir dan mantan Menteri Agama RI). Marga Shihab mungkin tak setenar pam Al-Attas di Mandar, tapi Koje’ pantas dipanggil habib atau Saiyye’. Sayyid adalah kelompok sosial yang selalu mempertahankan genealogy dan sistem kafa’ah (kawin seketurunan) bagi keturunan yang berjenis kelamin wanita yang digelari dengan panggilan Syarifah. 

Akan halnya di Mandar, keluarga sayyid ini menempati posisi yang tak kalah terhormatnya dengan bangsawan Mandar. sebagaimana S. Mengga, yang menjadi kakek dari Ary Iftikhar Shihab. Nashab Koje’ di Mandar tersambung langsung ke S. Mengga yakni dari salah satu anak S. Mengga yang bernama Syarifah Asiah. Syarifah Asiah ini putri S. Mengga dari istrinya yang bernama Hj. Nyilang. Syarifah Asiah bersaudara kandung dengan Jendral Salim S. Mengga dan Ir. Aladin S. Mengga. 
Syarifah Asiah S. Mengga ini dipersunting oleh Prof. Dr. KH. Umar Shihab. Dari pernikahan inilah lahir Ary Iftikhar Shihab atau Koje’. 

Prof. Umar Shihab bersaudara dengan Prof. Quraish Shihab dan Prof. Dr. H. Alwi Abdurrahaman Shihab yang juga tercatat pernah menjadi Menko Kesra dan Menteri Luar Neger RI. Prof. Umar Shihab sendiri adalah tokoh penting yang pernah menjabat Ketua MDI Sulsel dan Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat. Itulah makanya, Koje bersepupu satu kali dengan Najwa Shihab, Tokoh Literasi Nasional yang pernah menjadi Duta Baca Indonesia. 

Baik Marga Al-Attas dan Ash-Shihab memiliki nashab dan sanad keilmuan yang tersambung ke Hadramaut Yaman, Dari sini manusia-manusia terhormat yang dikenal sebagai Hadrami terekam dalam sejarah melakukan migrasi besar-besaran ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia sejak abad ke-18 dan 19. 

Migrasi ini dipicu oleh berbagai factor termasuk ekonomi, politik dan perubahan iklim. Mereka berasimilasi dengan masyarakat setempat dan seringkali menikahi penduduk lokal sehingga menghasilkan komunitas Hadhrami-Indonesia yang cukup besar.

Mereka ini kemudian berdiaspora ke berbagai wilayah nusantara, termasuk Sulawesi yang didalamnya ada Mandar. Marga Sayyid ini dipercaya sebagai turunan Nabi Muhammad melalui cucunya, Hasan dan Husain. Karena status inilah mereka dihormati dalam masyarakat Islam sebagai pemimpin agama, ulama atau intelektual bahkan sebagai pemimpin daerah seperti Gubernur, Bupati dan Anggota DPR. Dari sisi ini, Koje menjadi wakil rakyat salah satunya atas pertimbangan nashabnya.

***
         
Koje’ lahir di Makassar, 10 Januari 1977. Nama Koje’ lekat sebagai panggilan akrabnya sesungguhnya terinsipirasi dari sebuah film di TVRI Nasional yang diputar setelah siaran Dunia Dalam Berita. Film itu berjudul Detektif Koje yang pemeran utamanya berperawakan botak yang mirip dengan dirinya saat itu. Itulah makanya Ary Iftikhar lekat dengan panggilan Koje sejak usia 5 tahun. Koje menyelesaikan pendidikan dasar dan lanjutannya di Makassar. 

Setamat SMA, ia pindah ke Jakarta. Ia sempat ke Amerika mengambil kejuruan. Setelah itu, ia kembali dan memilih melanjutkan pendidikannya di Fakultas Tehnik Sipil Unissula (Universitas Sultan Agung Semarang. Setelah menyelesaikan kuliah, ia sempat terjun ke dunia bisnis dan merintis usaha suplai kelapa untuk perusahaan santan kara, santan kelapa siap pakai. 

Tahun 2008, ia memilih tinggal di Polman pasca meninggalnya kakeknya, S. Mengga akhir 2007. Di Polewali ia memilih menjadi petani dan berbaur dengan masyarakat petani. Dari sinilah muncul niatan terjun ke dunia politik. Ia merasa prihatin dengan kondisi dan sejumlah persoalan yang melingkuip dunia pertanian. Setelah merasa siap untuk bertarung dalam kontastasi pemilu, ia mulai dengan mencaleg di Demokrat tahun 2019 meski belum berhasil. Ia kembali mencoba di Partai Nasdem pada Pemilu 2024 dan berhasil. 

Sejak itu, pria yang tinggal di BTN Polewali Residen Madatte ini menjalani hari-harinya sebagai wakil rakyat. 
Termasuk menjadi Ketua Tim Koalisi Partai Pasangan SDK-JSM pada Pilgub Sulbar 2024.            

SYAMSUL SAMAD || Loyalitas Tanpa Batas


H. SYAMSUL SAMAD, demikian nama yang lekat pada sosok politisi muda yang saat ini menjadi nakhoda DPC Partai Demokrat Polewali Mandar. Keberadaannya di Tim Pemenangan SDK tak diragukan bahwa ia adalah kader yang benar-benar menjaga komitmen. Rumah Putih Palippis yang tak lain rumah pribadinya menjadi markas perjuangan, tidak saja bagi tim koalisi tapi juga relawan dan simpatisan menjadikannya sebagai tempat diskusi, kongkow-kongkow antara sesama pendukung SDK- JSM.

Saya mengenalnya sejak dari 2009 dari seringnya kami ketemu saat berkunjung ke Kantor DPRD Polewali Mandar. Meski kami berlainan partai, tapi komunikasi tak menghalangi untuk berdiskusi tentang kondisi masyarakat Polewali Mandar. Begitupun saat menjadi Anggota DPRD Sulbar, komunikasi kami terus terjalin.

Pria yang lahir di Desa Bala Kecamatan Balanipa, 4 Oktober 1980 ini punya garis takdir yang cukup cemerlang. Betapa tidak, pada tahun 2009 ia merintis karier politiknya di Partai Demokrat. Bermodal kost politik 20 jutaan, ia berhasil meraup suara 1.300 dan mengantarnya sebagai Anggota DPRD Polewali Mandar periode 2009-2014. Di Polman, hanya satu periode ia jalani dan beranjak ke level propinsi. Keputusan ini termasuk berani dan beresiko, tapi bukan Syamsul jika ia tak siap ditampar oleh resiko. 

Baginya, bertarung di tingkat kabupaten dan propinsi sama saja, sebab penetunya adalah konstituen yang kerap ia bina selama menjadi Anggota DPRD Polman. Sebagai aktifis, ia faham betul kalkulasi politik dan startegi kemenangan yang mesti ia jaga. Hasilnya kemudian, sebanyak 4.200 suara mengantarnya menjadi salah satu dari 45 Anggota DPRD Sulbar periode 2014-2019. 

Pada Pemilu 2019-2024 juga demikian ia kembali dengan mudah meraup suara dari dapil Polman B dan mengantarnya menjadi Anggota DPRD Sulbar untuk kedua kalinya dengan perolehan suara yang signifikan, yakni 6.700 suara. Lolos sebagai wakil rakyat dua periode tentu bukan hal mudah, sebab tak jarang politisi lain hanya mampu bertahan 1 periode saja. Tapi Syamsul yang nyaris diterima semua kalangan justru enjoy dan terus mendapat dukungan rakyat. Kondisi ini memberinya peluang kembali lolos pada Pemilu 2024 dengan mengantongi suara 11.850. Ia kemudian kembali dilantik pada 26 September 2014 di untuk periode yang ketiga kalinya. 

***

Jangan pernah berfikir bahwa Syamsul yang akrab disapa Ancu ini adalah anak orang kaya atau pejabat tinggi. Ia lahir dari seorang ayah bernama Abdul Samad dengan ibu yang bernama Musdalifah. Pasangan suami istri menggantungkan hidupnya sebagai petani biasa di Desa Bala (dulu Desa Pambusuang). Syamsul adalah anak kedua dari 5 bersaudara, yakni Hasnah Samad, Syamsul Samad, Darmawati Samad, Kasmawati Samad dan Ahmad Samad. Ketika bencana banjir besar 1987 melanda Polewali Mamasa (sekarang Polewali Mandar) kondisi ekonomi masyarakat berada pada titik nadir. Kondisi ini membuat Abdul Samad memilih hijrah ke Karossa Mamuju. 

Tujuannya tentu untuk mengubah nasib dengan tetap menjadi petani. Ia dibantu oleh istrinya berjualan garam dan serabutan di pasar Karossa. Itulah makanya, Syamsul Samad menempuh pendidikan dasarnya di SD Karossa yang kebetulan berada di dekat rumahnya. Setamat di SD, ia kemudian lanjut ke SMP Karossa. Disini perjuangan Syamsul mulai dipertaruhkan. Betapa tidak, setiap hari ia harus berjalan kaki sejauh 6 km untuk sampai ke sekolahnya. Ini dilakukan karena orang tuanya tak mampu membelikannya sepeda. Jangankan sepeda, untuk kebutuhan kesehariannya saja sudah tertatih. 

Tapi Syamsul beruntung memiliki orang tua yang berfikir maju. Bagi Pak Samad, pendidikan bagi anak-anaknya adalah nomor satu. Tak boleh ada anaknya yang tak sekolah hanya karena kendala ekonomi. Syamsul yang nota bene anak kedua tentu tak memiliki kesempatan bermanja-manja. Betapa pun kesulitan yang mendera keluarganya, ia tjuga punya tekad untuk tetap bersekolah. Untuk menyiasati kehidupannya, Syamsul bahkan tak jarang harus numpang kerja di bengkel, jadi kernet mobil penumpang jurusan Karossa-Mamuju. Itu ia lakukan sampai tamat SMP.

Setelah tamat SMP, Syamsul memilih merantau ke Parapare. Disana ia mendaftar ke SMA 1 Parepare, sebuah sekolah unggulan yang siswanya rata-rata anak orang kaya. Sekolahnya memiliki 23 kelas yang setiap kelasnya diisi dengan 40 orang siswa. Menurut Syamsul, diantara seribuan siswa di sekolahnya, hanya dia yang menggunakan sepeda. Di Parepare, Syamsul menumpang di rumah salah seorang keluarganya selama setahun, setelah itu ia memilih in the kost dan hidup mandiri. Itu ia lakukan karena tak ingin merepotkan keluarganya, termasuk ia tak banyak lagi berharap pada orang tuanya di Karossa. 

Dalam kondisi begtu, Syamsul tak kehilangan akal untuk tetap bisa melanjutkan sekolahnya. Itulah makanya, Syamsul menyiasati kehidupannya di Parepare dengan pergi ke pasar dan membuka permainan catur tiga langkah. Dari sini, ia menghandel permainan dengan lawan tandingnya yang harus membayar baru bisa jadi penantangnya. Pola permainannya, jika penantangnya mampu mengalahkannya dalam tiga langkah, maka ia akan membayar senilai yang telah ditentukan. Syamsul memang telah menguasai rahasia permainan ini sehingga bisa dipastikan ia dapat uang, sebab ia memiliki rahasia permainan yang tak memungkinkan lawannya menang. Dalam kondisi susah, manusia memang cenderung kreatif, demikianlah yang terjadi pada Syamsul Samad. 

***
Fase kehidupan Syamsul semakin menantang setamat ia di SMA 1 Parepare. Ia melanjutkan pendidikannya dengan mengambil Diploma-3 di STAIN Parepare tapi kemudian memilih pulang ke Bala dan melanjutkan studinya di Unasman. Gelar sarjana berhasil ia dapatkan sembari aktif di berbagai organisasi, salah satunya adalah HMI. Ia tercatat sebagai Ketua HMI Cabang Polemaju pada tahun 2005-2007 dan Ketua Karateker Cabang HMI Persiapan Polman pada 2007. Pada jenjang organisasi, ia dikenal teruji dan matang. 

Dari dunia pergerakan Syamsul mulai memasuki dunia politik, Secara, aktifis memang cenderung mencari dunia yang bisa dengan mudah mengembangkan jati dirinya untuk bermanfaat bagi banyak orang. Itu yang menjadi pilihan Syamsul Samad. Sebelumnya, ia memang pernah mendaftar STPDN tapi gagal karena tidak ada yang back up, itupun ia gugur  pada tahap akhir, yakni sesi wawancara. Begitulah jalan hidup seorang Syamsul yang hidupnya dibiarkan mengalir bagai air saja. 

Melabuhkan pilihan politik di Partai Politik terhitung mulai tahun 2007. Saat itu, Andi Mappangara, Anggota DPRD Polman Periode 2004-2009 mengajaknya untuk mengambil bagian dalam Muscab Partai Demokrat. Peran Syamsul dalam proses ini sangat menentukan bagi kemenangan Mappangara sebagai Ketua DPC Partai Demokrat. Alasan itu kemudian membuat Syamsul didapuk jadi sekretaris. Dari sinilah, ia membangun komunikasi dengan para aktifis untuk berjuang dalam Pemilu 2009. Benar saja, Syamsul yang terdaftar sebagai Caleg Partai Demokrat Dapil 4 ini lolos menjadi Anggota DPRD Polman Periode 2009-2014.  

Terpilih sebagai Anggota DPRD Polman awalnya merasa lucu. Betapa tidak, ia yang sebelumnya sering muncul di Kantor DPRD dan Kantor Bupati membawa proposal kegiatan kini bisa sejajar dengan anggota dewan dan para pejabat teras di daerah ini. Terlebih saat itu, ia dipercaya menjadi Ketua Komisi I yang memungkinkan lebih intens bertemu dengan mereka. Ia juga semakin dikenal oleh masyarakat. Ia memang tak banyak dikenal oleh masyarakat waktu itu, sebab sejak kecil ia dibesarkan di luar daerah. 

Hal yang mendesak dilakukan olehnya adalah membina para pemuda kampung melalui sepakbola, selebihnya ia focus mengubah mind-set para pemuda dan warga sekitar. Terbukti, Syamsul berhasil mengantarkan mereka menjadi generasi yang penuh manfaat bagi sesame.

Mereka semakin maju cara berfikirnya melalui pendekatan Syamsul Samad. 
Sosok Syamsul juga dikenal konsisten dan komitmen memperjuangkan nasib rakyat atau konstituen yang jadi basis perjuangannya. Hal inilah yang menjadi alasan bagi Syamsul sehingga memutuskan untuk maju sebagai Caleg DPRD Sulbar pada Pemilu 2014-2019. Keputusan politiknya itu membuahkan hasil, bahkan kini memasuki periode ketiganya mengemban amanah rakyat di Dapil Sulbar 3 atau Polman B. 

Sejak berada di DPRD Sulbar, Syamsul dikenal banyak memiliki konstribusi dalam mengeksekusi berbagai aspirasi masyarakat yang diserapnya. Termasuk menjadi Ketua Komisi dan Ketua Pansus/Panja terkait Tata Tertib DPRD Sulbar dan Perubahan Struktur Kelembagaan. Ia juga dipercaya menjadi Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Polewali Mandar sejak tahun 2018 sampai sekarang.  
    
***

Sukses didunia politik tak membuatnya lupa untuk terus belajar dan melanjutkan pendidikannya. Pendidikan adalah prinsip dan amanah dari ayahnya sehingga ia tercatat sebagai alumni pasca sarjana (S-2)UNIBOS-Universitas Bosowa (dulu Universitas 45) Makassar dan saat ini merupakan candidat doctor program studi Pembangunan UNHAS Makassar. 

Syamsul melepas masa lajangnya ketika masih menjadi anggota DPRD Polman, tepatnya tanggal 5 Mei 2012. Ia berhasil mempersunting mojang Samasundu bernama Marwah, S.Pd., M.Pd. Dari pernikahannya tersebut, ia dikaruniai 2 orang putra dan satu orang putri, masing-masing bernama Muhammad Andra Moissani Manggala SS; Muhammad Arya Gadi Fadhlulah SS; dan Alea Giyandra Putri SS. 

Kini Syamsul bersama keluarga tinggal di sebuah rumah berarsitektur modern dan artistic yang terletak di bilangan Jalan Trans Sulawesi Palippis. Ruamh kediamnnya ini dikenal dengan Rumah Putih Palippis. Dari rumah ini juga strategi pemenangan pasangan SDK-JSM dimatangkan.     

SURAIDAH SUHARDI || Membangun Pribadi Berkarakter Masa Depan

Dr. Hj. Sitti Suraidah Suhardi, M.Si, demikian nama lengkap dari politisi yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sulbar periode 2024-2029. Sebelumnya, ia adalah Ketua DPRD Sulbar periode 2019-2024. Bergesernya jabatan itu disebabkan Demokrat mengalami penyusutan perolehan suara di beberapa dapil hingga Golkar menyalipnya. 

Suraidah lahir di Makassar, 30 Juli 1986. Ia adalah putri kedua dari Suhardi Duka dengan Hj. Harsinah Dg. Ngasseng. Ia lahir di tahun yang bertepatan dengan keputusan SDK pulang ke Mamuju untuk membangun kariernya yang saat itu telah mengantongi SK sebagai PNS di Depatemen Penerangan. SDK menikah dengan Harsinah saat masih berstatus mahasiswa, tepatnya pada tanggal 25 Mei 1983. Praktis anak pertamanya yakni Sitti Sutinah dan Sitti Suraidah lahir di Makassar. Itulah makanya, Suraidah dan Sutinah menempuh pendidikan dasarnya di SDN Binanga, meski keduanya lahir di Makassar.  

Jenjang pendidikan lanjutannya ia tempuh di SLTPN 1 Mamuju (2001) kemudian lanjut ke SMA Nahdiyat Makassar (selesai tahun 2004). Adapun jenjang pendidikan S1-nya ia tempuh di STIE Muhammadiyah Mamuju (2010) dan lanjut S2-nya di Universitas Indonesia Timur Makassar (2013) dan puncaknya, Suraidah menyandang gelar doktoralnya di UIN Alauddin Makassar pada tahun 2022. 

Suraidah tumbuh dan berkembang menjadi anak yang tangguh, suaranya lantang dan tegas, tatapan matanya tajam. Meski dibalik itu, ia memiliki kebiasaan sakit ketika ditinggal oleh ayahnya keluar daerah. Bahkan, SDK harus menjahit baju khusus yang diperlihatkan kepada Suraidah ketika ia perjalanan dinas. Lewat baju itu, kerinduan Suraidah kepada ayahnya tak meradang dan merasa nyaman dengan baju bapaknya itu. Mungkin karena itu, SDK menjadikan putrinya sebagai politisi, bukan sebagai ASN. 




Tahun 2006, Suraidah mendaftar sebagai ASN tapi tidak diluluskan oleh ayahnya yang saat itu menjabat sebagai Bupati. Disinilah integritas SDK benar benar terfaktualkan. Sebagai bupati, ia bisa saja meluluskan anaknya, tapi urung dilakukan untuk menjaga integritasnya. Berbeda dengan Sutinah, SDK memberi peluang kepadanya untuk mengabdi sebagai ASN, meski akhirnya ia dipertemukan takdirnya sebagai politisi dan menjadi perempuan bupati yang pertama di Mamuju. 

SDK merasa yakin bahwa Suraidah cocok menjadi politisi karena sikapnya yang pemberani dan bisa diandalkan. Itu dibuktikan ketika ada kegiatan SDK yang tak bisa dihadiri, Suraidah menjadi sosok pengganti dan diterima baik oleh masyarakat. Suraidah akhirnya dijahitkan baju warna biru khusus untuk menghadiri undangan yang mewakili ayahnya seperti membawakan sambutan dalam berbagai acara seperti pernikahan, khitanan dan acara keagamaan lainnya. Bahkan tak jarang, Suraidah yang menemui tamu SDK ketika tak ada di rumah.   

Ketika usianya menginjak 20 tahun, Suraidah memutuskan untuk terjun ke dunia politik, meski pada saat yang sama ia lulus sebagai ASN setelah mengabdi selama 4 tahun (2006-2009) sebagai tenaga kontrak aspri wakil bupati. Pada saat Suraidah lulus ASN, ia juga telah membuat pilihan untuk mengikuti jejak ayahnya berorganisasi di KNPI, menjadi pimpinan partai Demokrat Mamuju dan mulai mencalonkan diri sebagai Caleg DPRD Mamuju pada tahun 2009. Ia lolos dan menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Mamuju periode 2009-2014. Pada Pemilu 2014, ia kembali mencalonkan diri dan berhasil mengantarkan Demokrat sebagai partai pemenang di Mamuju. Kemenangan ini membuatnya duduk sebagai Ketua DPRD Mamuju sekaligus sebagai Ketua DPC. Partai Demokrat di Mamuju yang dijabatnya sejak 2007.

Setelah dua periode di DPRD Mamuju, Suraidah kemudian mencalonkan diri sebagai Caleg DPRD Sulbar pada Pemilu 2019. Lagi-lagi keberuntungan berpihak padanya. Demokrat menjadi pemenang Pemilu di Sulawesi Barat dan mendapuknya sebagai Ketua DPRD Sulawesi Barat 2019-2024. Posisi sebagai Ketua DPRD Sulbar tak mampu dipertahankan pada Pemilu 2024, lantara Golkar berhasil menyalip perolehan suara Partai Demokrat. Meski demikian, Suaridah mendapat posisi sebagai Wakil Ketua bersama Amelia Aras sebagai ketua DPRD Sulbar.

Ketika SDK menyelesaikan pengabdiannya sebagai Bupati Mamuju, Suaridah ditawari untuk jadi Calon Bupati Mamuju. Saat itu SDK banyak mendengar suara dari masyarakat. Ia mendapatkan masukan ada di antara keluarganya maju, apakah anak atau saudara. Pilihan jatuh kepadanya, tapi Suraidah bilang, “Pak saya lebih suka di legislatif. Saya sudah enjoy di sana. Saya ga’ bisa bangun pagi, harus berkantor tiap hari.” Ucap Suraidah sebagaimana dikutip Tina dalam buku Sarman Sahuding (Kompas, 2023). Cerita Sutinah ini menegaskan bahwa Suraidah itu tak punya ambisi jadi kepala daerah. Maka pilihan kemudian jatuh padanya. Tina yang saat itu telah menjadi Kepala Dinas membuat keputusan mengikuti petunjuk garis tangannya semata. Bahwa harus masuk ke politik dan berlaga di palagan politik pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Mamuju, itu juga pilihan yang harus dia jalani selanjutnya. Terbukti, Tina kini menjadi Bupati dua periode dan tercatat sebagai perempuan pertama yang jadi Bupati Mamuju.   

Begitulah jalan panjang karir politik seorang Suraidah yang cenderung menanjak seiring pada proses penyelesaian studinya sampai ke jenajang S3 dan berhak menyandang gelar doktor. Ia berhasil menamatkan pendidikan S3-nya dalam kurung waktu 2 tahun 11 bulan 29 hari tepat pada tanggal 29 Desember 2022. Ia mengambil judul “Komunikasi Politik Elektorat di Sulawesi Barat” dengan predikat cumlaude di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Dalam skala Sulbar, SDK benar-benar sukses menjadikan putra putrinya sebagai sosok yang menginspirasi.

Sampai kini, selain menjadi unsur pimpinan di DPRD Sulbar, Suraidah juga sibuk diberbagai organisasi yang sebagian besar mendapuknya sebagai ketua. Diantara organisasi yang maksud itu adalah Perempuan Demokrat Republik Indonesia (PDRI) Propinsi Sulawesi Barat; MPW ICMI Orwil Sulawesi Barat; DPC Demokrat Mamuju, DPW Srikandi Pemuda Pancasiila Sulawesi Barat; Dewan Kehormatan PMI Sulawesi Barat; KNPI Mamuju.

Selain organisasi yang mendaulatnya sebagai ketua, namanya juga menjadi Anggota Mabida Gerakan Pramuka Sulbar; Pengurus DPP KNPI; Pengurus DPN Asosiasi DPRD Kabupaten Se Indonesia; Pengurus Pemuda Pancasila MPW Sulawesi Barat; Wakil Ketua Kwacab Gerakan Pramuka Mamuju; Anggota Mabicab Gerakan Pramuka Mamuju; dan Anggota Radio Antara Penduduk Indonesia (RAPI) Daerah Sulawesi Barat (JZ34IDA). 

Atas segala bentuk pencapaian dan prestasinya tersebut, wajar jika kemudian jika ia diganjar dengan berbagai penghargaan. Diantara penghargaan yang pernah ia terima antara lain sebagai Gender Champion dari Bupati Mamuju (2023); Mitra Kerja BKKBN dari Kepala BKKBN Pusat (2022); Media Awards dari Harian Sulbar Express (2018); Pemberian Gelar Kehormatan dari Kesultanan Surakarta (2017).      

Kamis, 02 Januari 2025

SUKRI UMAR, SP || Wakil Rakyat Yang Merakyat

SUKRI UMAR, SP. adalah putra Mandar kelahiran Galung, 12 April 1980. Saat ini duduk sebagai anggota DPRD Sulbar dari Fraksi Partai Demokrat untuk periode ketiganya. Ketua Tim Koalisi Partai SDK-JSM ini dikenal sebagai sosok yang lues, sederhana dan komunikatif. Rekam jejak Sukri terlihat sebagai sosok yang piawai mengambil momentum. Bergabung dan berjuang bersama SDK dengan sosok SDK telah dimulai sejak SDK mencalonkan diri sebagai Bupati Mamuju bersama Bustamin Bausat.

Pengalaman sebagai tim pemenangan telah terasah saat menjadi Tim Relawan Pemenangan SBY-JK dalam Pilpres tahun 2004. Ia didapuk menjadi Ketua Relawan Merpati Pemenangan SDK-Bustamin Bausat pada Pilkada Kabupaten Mamuju tahun 2010 dan menjadi salah satu anggota Komisi Pemenangan Pemilu DPD Partai Demokrat Propinsi Sulawesi Barat tahun 2013. Dari sinilah nasib Sukri dalam dunia politik menentukan. Pemilu 2014 menjadi awal pengabdiannya setelah berhasil mengunci kemenangan Partai Demokrat dan berhasil meloloskan 3 orang kader yakni Fatmawati, Firman Argo Wakito dan dan Sukri Umar. Ia tercatat sebagai Anggota DPRD Sulbar Periode 2014-2019. 

Menjadi Anggota DPRD Sulbar adalah ajang pengabdian bagi Syukri. Baginya, loyalitas adalah kunci untuk berjuang meraih kemenangan. Partai dan rakyat adalah kesatuan yang utuh dan integral sehingga tak seorang pun bisa dibiarkan untuk mengganggu keutuhannya. Jabatan sebagai Sekretaris Komisi 1 DPRD Propinsi Sulawesi Barat 2014-2016 benar-benar dimanfaatkan untuk membangun komunikasi dengan konstituen guna menyerap aspirasi rakyat yang benar-benar dibutuhkan. Ini menjadi komitmen Partai Demokrat sejak dipimpin oleh Aras Tammauni sampai ke SDK. Jangan heran jika Partai Demokrat selalu mendapatkan suara yang signifikan di Dapil Mamuju sebab disinilah episenturm perjuangan SDK bersama kader-kadernya di Partai Demokrat. 

Konsisten dan menjaga komitmen dengan rakyat menjadikan Sukri kembali melenggang dengan mudah ke Parlemen Sulbar pada Pemilu 2019-2024. Di penghujung jabatannya sebagai Anggota DPRD Sulbar, ia sempat digoyang oleh pihak-pihak tertentu. Iya, sempat memang tergoyang, tai bukan Suksri jika ia tumbang. Karakter dan mentalnya telah teruji dan dikenal matang dalam menyikapi berbagai persoalan rakyat. Termasuk persoalan dirinya yang didlilit masalah. Kata orang bijak, masalah tidak akan pernah usai menimpa kehidupan manusia, hanya orang-orang yang yang kreatif lah yang berhasil keluar dari setiap masalah.

Demikianlah yang dialami Sukri. Persoalan yang menjeratnya berhasil ia tuntaskan. Ia berhasil menunjukkan kepada semua yang ada, bahwa niatan yang baik akan selalu diberi jalan oleh Allah untuk mampu menunaikannya. Suksri keluar dari jeratan masalah dan menjadi pemenang. Dukungannya di Pemilu 2024 justru mengalami pengingkatan yang signifikan. Sukri Umar, berhasil mengunci kemenangan Partai Demokrat di Mamuju bersama Suraidah dan Firman Argo Wakito dengan suara pribadi 13.342 dari 53.835 suara. 

Sukri memang terlatih dalam berbagai hal. Latar belakang sebagai aktifis, praktisi dan pemerhati masyarakat telah selesai dengan dirinya. Dari awal ia telah mempersiapkan dirinya sebagai sosok yang pantas jadi dirinya saat ini. Menjadi Redaktur Surat Kabar Umum Metro Sulbar (2001-2003) adalah salah satu yang memantik dirinya mampu membaca semua persoalan karena hidup dengan media dan membuat sorotan yang tajam kepada pemangku kebijakan yang kadang menelikung anggara dan menjadikan jabatannya sebagai kekuatan mencuri uang rakyat.

Tak hanya itu, Ia juga terlibat langsung dalam proses penyelenggaraan Pemilu melalui Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Kabupaten Mamuju Utara tahun 2004 dan ditunjuk sebagai Koordinator saat itu. Untuk mengasah diri dan meningkatkan wawasannya ia mencoba masuk dalam dunia survey dengan menjadi Surveyor Lembaga Survey Indonesia (LSI) pada tahun 2005. Kapasitasnya sebagai insan media ia uji dengan menjadi Kontributor TVOne Kabupaten Mamuju tahun 2008. Berbagai persoalan pendidikan ia sikapi lewat kerja nyata dengan terlibat sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Mandala Nusantara (2011-2014); 

Ketika di berstatus sebagai Anggota DPRD Sulbar, ia ditunjuk sebagai Sekretaris Komisi 1 DPRD Propinsi Sulawesi Barat (2014-2016), bahkan menjadi Ketua Komisi II DPRD Propinsi Sulawesi Barat tahun 2019. Kerja-kerja sebagai wakil rakyat terus ia upayakan guna memberikan konstribusi nyata terhadap semua aspirasi yang yang ia serap diberbagai daerah. Itu terbukti ketika dipercaya menjadi Ketua Pansus-Panitia Khusus (sekarang Panja-Panitia Kerja) Ketenagakerjaan DPRD Propinsi Sulawesi Barat tahun 2019 dan sebagai Ketua Pansus Guru Tidak Tetap dan Pegawai Tidak Tetap (GTT/PTT) DPRD Propinsi Sulawesi Barat tahun 2020. 

Bagi Sukri menjadi apapun kita, belajar danmeningkat kapsitas diri mutlak dilakukan. Itulah makanya sebelum ia bercita-cita jadi wakil rakyat, ia selalu berusaha mempantaskan dirinya dengan mengikuti berbagai tarining/kursus dan seminar yang menurutnya relevan dengan dunia yang ia geluti. Mengikuti Pelatihan Jurnalistik tahun 2000 menjadi modalnya bekerja di media cetak dan TV. Ia pernah ikut Seminar Kebangsaan Ormas FPPS (Forum Persaudaraan Pemuda Sulawesi Barat; Pelatihan Partisipatif Pemetaan Konflik Agraria Tahun 2002; Seminar dan Lokakarya Konflik Agraria tahun 2003; Bimbingan Teknis Penguatan Kapasitas Kedewanan tahun 2014 menjadibekal pengetahuan yang ternyata sangat berguna bagi pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai wakil rakyat.

Menjadi pemimpin, Sukri jauh-jauh hari telah mempersiapkan dirinya dengan terlibat dalam berbagai organisiasi pergerakan dan keagamaan. Itu ia faktualkan sejak menjadi Wakil Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Mamuju 2003; Wakil Ketua LSM Lembaga Kajian Isu Strategis Manakarra (LAKSIM) Kabupaten Mamuju tahun 2003; Pendiri Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Sulawesi Barat tahun 2006; Komite Forum Pasar Regional Kabupaten Mamuju tahun 2007; Wakil Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Mamuju (2010-2013); Mabincab Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Mamuju Tahun 2015. Termasuk menjadi Pengurus Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia (BKPRMI) tahun 2008.

Itulah makanya, dalam dunia pergerakan dan dunia politik, Sukri menjadi sosok yang tak layak jadi pelaku. Tak salah kemudian jika ia dipercaya menjadi Ketua AMPI Kabupaten Mamuju tahun 2012; Dewan Pembina Garuda Muda SDK, Tim Pemenangan SDK-KALMA pada Pilgub Sulawesi Barat tahun 2017; Pendiri Bintang Muda Indonesia (BMI); Wakil Ketua Bintang Muda Indonesia (BMI) tahun 2019. 

Dengan seabrek aktifitas dan sederet pencapaian dalam kehidupan Sukri Umar, tentu ini menjadi harapan bersama bahwa untuk memajukan Sulbar kedepan butuh upaya melahirkan banyak generasi yang selevel dan secakap Sukri Umar. Intinya, lahirkan Sukri-Sukri baru di wialayah Malaqbiq ini agar idiom kata ini tidak sekedar jadi slogan ketika berorasi. Butuh kerja-kerja kreatif sebagaimana Sukri telah melakoninya. Hal baik dari sisi kehidupannya harus diedifikasi secara terstruktur, sistematis dan masif. 

Selasa, 31 Desember 2024

ON PROSES || Menuju Pelantikan SDK-JSM


Buku ini menyuguhkan jalan panjang dua suhu yang menyatu dalam satu kubu. Membangun kekuatan baru dan menata diri dalam bingkai Visi Koalisi Sulbar Maju. Di buku ini, dinamika perjuangan mereka diulas sedemikian runut disertai dengan sejumlah kekuatan yang melingkupinya. Termasuk tokoh yang dianggap sebagai pemantik kemenangan disajikan secara naratif. 

Buku ini adalah upaya "Mengabadikan Kemenangan" dengan sejumlah peluang dan tantangan yang ikut menyertai kemenangannya. Ini bukan buku yang lahir untuk sekedar memuji, tapi sekaligus menguji kedua tokoh (baca: SDK-JSM) yang punya prinsip " Komitmen Adalah Ukuran Iman". 

Buku ini tentu belum bisa berbicara fakta kemampuan mereka membuktikan pernyataan itu. Tapi setidaknya buku ini memantik lahirnya pertanyaan akan seperti apa Sulbar ketika berada dalam kendali keduanya. Akankah Sulbar Maju atau Mati Suri? 

Hal penting dari buku ini adalah lahirnya tradisi literasi yang harus mampu mengawal setiap progres of idea dari setiap pemimpin. Itu makanya, dibuku ini juga menaikkan sejumlah tulisan berisi apresiasi, harapan dan mungkin juga kritik atas keduanya. Tujuannya tentu diharapkan agar dalam membuat kebijakan benar-benar memihak pada semua obyek yang pro rakyat dan memiliki sense kerakyatan. 

Pada akhirnya, jika semua pemimpin kita ajari dan lawan dengan kekuatan tulisan,  maka mereka akan berhati-hati dengan lisan mereka. Cukuplah kita melisan-tuliskan mereka, agar kelak dia faham posisi mereka dimana: Apakah bagian dari sejarah atau hanya bongkahan masa lalu.

Kamis, 19 Desember 2024

HASIL RESTORASI FOTO


Mungkin Anda punya foto tua, kabur dan rusak. Percayakan ke kami. 


DUNIA SEMAKIN SEMPIT DAN SUMPET"

Oleh: Mukhtar


        Dalam sejarah peradaban umat manusia, sudah sangat basi di telinga kita dengan apa yang disebut dengan era modern. Era modern adalah era di mana orang menjalani kehidupan dengan serba mekanik. Di sisi lain, gejala modernisme muncul pula watak-watak yang sudah sekian lama menggerogoti cara pandang hidup manusia yang juga sudah sangat "renta" di ingatan kita, yaitu idiologi materialisme, kapitalisme, dan liberalisme 

       Para ahli, sejarawan, maupun dan filosof, ramai-ramai mengeluarkan " fatwa dan kritik" bahwa modernisme telah gagal tunaikan janji-janjinya untuk membahagiakan umat manusia, tetapi malah justru manusia telah berada di tepian kehancuran.
 
         Berkaca pada era yang dianggap telah mencabut akar  fitrah manusia sebagai makhluk spritual, maka manusia butuh pergantungan spritual yang tidak mudah rapuh. Era modern dianggap bukanlah lagi era yang relevan dengan fitrah manusia itu. 

       Setelah era modernisme, diharapkan muncul era yang    mampu membangunkan manusia dari kesadaran fitrahnya sebagai makhluk yang punya naluri untuk mencari Tuhan sebuah era sesudah era modernisme  yaitu era " post modernisme". Era ini oleh para ahli  menganggap sebagai antitesis dari era modernisme yang diharapkan mampu mengantarkan manusia untuk  mengembalikan Tuhan yang pernah terabaikan dalam sejarah. Era ini oleh para pengamat bisa membawa pamor agama, namunTernyata era inipun tidak bisa membawa perubahan apa-apa dalam tatanan sosial kehidupan manusia. Era ini tidak beranjak dari tempatnya untuk menghibur manusia yang semakin terlena dalam " kemerosotan spritual"
 
        Bahkan,   Post modernisme kaitannya dengan agama seakan menjadi agama baru yang mengigkari kebenaran universal dan tidak mengakui kebenaran absolut. Modernisme mengingkari agama karena rasionalitasnya sementara post modernisme mengingkari agama karena irrasaionalitas.

         Pada beberapa tahun yang silam waktu masih menjadi mahasiswa strata satu, diskusi tentang diskursus post modernisme menjadi diskusi yang ramai dan banyak mengundang perspektif. Bahkan ada pandangan lain versi bacaannya, bahwa sebenarnya kita sudah berada di era post modernisme.

         Sebuah pertanyaan kerdi  yang bisa diajukan, di manakah sebetulnya era post modern itu dilalui?, apa betul kita sudah lewati era modern? Atau kita masih berada dalam " cengkraman dan permainan" era modern? 

        Apakah era digitalisasi, dan ada lagi yang paling mutakhir dengan diistilahkan dengan  "kecerdasan buatan " atau AI Kalau tidak salah singkatan dari artificial intelegence, dan lain-lain apalah namanya, bukan semua ini bagian dari gejala modernitas. Kalau ini dianggap sebagai  bagian dari gejala modernitas, maka berarti kita masih berada dalam bayang- bayang modernitas. Di mana era post modernisme itu berkembang dalam sejarah yang katanya muncul sesudah era modern. Memang tidak mudah untuk memberi batasan antara kedua era ini.

        Terlepas dari diskursus apakah kita masih berada di era modernitas atau era post modern, yang jelas kita hidup di era sekarang dampaknya sangat luar biasa  dalam kehidupan umat manusia.

      Dunia terasa semakin kecil, sempit dan, sumpet. Dunia seakan dijadikan seperti bola kaca oleh "keangkuhan era teknologi". Pikiran dan tenaga manusia nyaris sudah tidak berfungsi. Hidup serba pragmatis. Demikian pula Berita-berita yang ada di luar sana hari itu  juga, menit itu juga orang semua sudah bisa mengkonsumsinya dengan sikap dan perspektif masing-masing.

      Hampir semua kalangan mulai dari anak-anak hingga orang tua, memegang benda kecil yang sangat cerdik yang dapat  menangkap berita setiap hari. Di dalam benda cerdik itu terprogram WhatsApp, Facebook, Instagram, tik tok dan lain-lain yang siap menangkap setiap kabar yang datang dari luar, baik berita buruk maupun berita baik.

       Nyaris tidak ada waktu yang terlewatkan untuk " memangsa " setiap informasi yang mengalir di benda kecil itu. Fungsinya yang begitu luas membuat dunia terasa sempit dan kecil. 

       Namun juga disayangkan bagi pengguna yang tidak bijak memfungsikan ke jalan yang benar, akan berakhir dengan malapetaka. Mengkomsumsi berita tanpa dengan hati-hati dari mana sumbernya yang shahih akan menyebabkan dampak buruk bagi penggunanya.   Dan  lebih parah lagi jika benda kecil itu dijadikan alat untuk menyebarluaskan berita yang tidak benar, bahkan dipakai untuk menyebarkan aib orang lain. 

     Fenomena tersebut beberapa abad yang lalu  Bahasa agama memberi pelajaran yang sarat dengan pelajaran dalam menyikapi perkembangan teknologi terutama teknologi imformasi _" ya ayyuhallazdima amanu injaakum fasiqum binabain fatabayyanu antusibu qauman bijahala"_( Hai orang-orang yang beriman, apabila ada orang fasiq yang membawa berita kepadamu, Maka telitilah dengan baik karena banyak kelompok yang menjadi korban karena ketidak tahuannya) dalam surah yang sama Allah juga menegaskan: _"Walatajassasu wala yagtabba'dhukum ba'dha"_(jangan engkau mencari-cari kesalahan orang lain, dan jangan engkau mengghibah antara satu dengan yang lain. Dalam hadis perlu juga menjadi renungan" _" Ajibtu limanyasyghilu bi 'ujubinnas pahua ghafilun an ' uyubi nafsihi"_( Saya heran ...bagi orang yang sibuk mencari aib orang lain sementara lupa dengan aibnya sendiri).

         Pesan-pesan ke-Tuhanan dan kenabian, menjadi larangan yang cukup tegas untuk bersikap hati - hati dengan penuh pertimbangan dalam menangkap dan menyebarkan imformasi.
       
      Informasi yang paling "lezat" untuk dikomsumsi biasanya berasal dari publik pigur, pejabat publik. Apalagi tokoh agama. Biasanya berita buruk dari publik pigur dan tokoh agama lebih heboh beritanya dibanding berita tentang kebaikannya
       Namun juga disayangkan bagi pengguna yang tidak bijak memfungsikan ke jalan yang benar, akan berakhir dengan malapetaka. Mengkomsumsi berita tanpa dengan hati-hati dari mana sumbernya yang shahih akan menyebabkan dampak buruk bagi penggunanya.   Dan  lebih parah lagi jika benda kecil itu dijadikan alat untuk menyebarluaskan berita yang tidak benar, bahkan dipakai untuk menyebarkan aib orang  lain.

       Seakan sejarah menunjukkan ketidak adilannya, kesalahan yang mungkin tidak terlalu besar dari  publik pigur dan tokoh agama, akan menjadi berita besar di media sosial. Seakan menghapus kebaikan- kebaikan yang telah pernah dia lakukan.  " Setitik nila akan mengotori susu sebelenga" demikian kata pepatah.

_Wallahu 'Alamu Bishshawab_

Polewali, 17 Desember 2024

Senin, 16 Desember 2024

ORANG-ORANG WARAS YANG GILA


Oleh: Mukhtar

         Seorang filosof yang amat kritis  asal Indonesia, sering menggunakan terminologi " akal sehat" dalam mengelaborasi berbagai diskursus kebangsaan. Diskusinya tentang kebangsaan seringkali dibalut dengan  kacamata filsafat. Argumen-argumennya dibumbui dengan diksi yang sangat retorik. 

        Fikiran-fikirannya yang tajam terkait dengan persoalan kebangsaan, politik dan sosial,  digandrungi oleh kelompok akademik yang _notabene_ nya dianggap sebagai makhluk rasional yang bersarang di alam pemikiran kampus. 

         Mungkin tidak terlalu salah jika dia dianggap  satu-satunya filosof asal Indonesia yang sering mendeklarasikan tentang " akal sehat ". Sangking semangatnya membangun akal sehat sampai-sampai dijuluki sebagai " presiden akal sehat"

         Tesisnya tentang "akal sehat" bisa ditebak dilatari dengan situasi kemanusiaan di kalangan  tertentu yang sudah kehilangan akal sehat, bahkan melecehkan akal sehat. Penggunaan rasionalitas di berbagai segmen, akal sehat sudah tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. 

        Akal yang sudah terkontaminasi dengan watak materialis, hedonis, akan mengaburkan mata hati untuk melihat kebenaran. Akal sehat yang awalnya diciptakan secara natural untuk berfikir yang benar dan baik, bisa jadi akan berbalik seratus derajat jika tidak sering diberi nutrisi berupa pentingnya kesadaran moralitas.

        Mengapa banyak berseliweran di tempat yang dihuni oleh orang-orang yang waras bahkan memiliki tingkat kewarasan melebihi tingkat kewarasan orang-orang awam, justru terjerembab dalam perilaku " kegilaan" karena terputusnya  syaraf cahaya kebenaran  dari potensi ke-Tuhanan. 
 
        Keanehan-keanehan yang diadegankan oleh orang  waras tertentu, justru mengindikasikan bahwa perilaku itu adalah perilakunya orang yang tidak waras. Transformasi-transformasi wujud manusia betul-betul akan mengalami degradasi dan dekandensi sampai pada tingkat yang mengerikan jika akal sehat tidak dijaga baik-baik.

        Fenomena transformasi wujud manusia akan tampil dalam berbagai bentuk wajah.  Kewarasan akan berubah menjadi kegilaan, intelektualitas berubah menjadi kedunguan,  keadaban merubah menjadi sindikat, rendah hati akan menjadi keangkuhan, qona'ah akan berubah
Menjadi ketamakan, kejujuran akan berubah menjadi kemunafikan, kesalehan akan berubah menjadi kedurhakaan, kesyukuran akan merubah menjadi kekufuran. Kasih sayang akan berubah jadi kebengisan dan lain-lain.

         Lantas mengapa akal sehat tidak selamanya bercokol di kepala manusia. Manusia adalah  makhluk paradoksal yang telah dianugerahi potensi yang selalu menciptakan dialektika dalam dirinya yaitu pertarungan sengit antara malaikat dan iblis. Dalam bahasa agama _" Wahadai nahunnajdain"_( saya berikan anda dua jalan) demikian  kata Tuhan yang memberikan alternatif kepada manusia untuk memilih dua jalan apa jalan kanan atau ke kiri. Mau menjadi manusia waras atau mau menjadi manusia gila.

        Dalam redaksi yang sebangun: _" Faal hamaha fujura watawwaha"_( Allah memberi potensi untuk berbuat fujur dan takwa). Potensi untuk  mewaraskan akal dan potensi untuk menjadi gila juga adalah pilihan bebas manusia. Apakah kita mau mengembangkan potensi akal itu menjadi akal yang sehat atau membiarkan potensi akal itu tetap dalam wadah yang stagnan dengan tidak berusaha untuk mendidiknya,  sehingga dia tetap terkungkung dalam " penjara kejahilan".

        Mengasah dan mendidik akal sehat, Allah banyak menggunakan redaksi-redaksi yang berbeda yang semuanya bermuara pada pentingnya memelihara akal sehat, seperti:  _apalata'qilun, apala tatadabbarun, apalayanzdurun, Ulul albab._
 
     Kalau boleh ditafsir secara kontekstual bahwa   Kalimat-kalimat yang berbentuk pertanyaan (istifham) dari teks tersebut juga disertai dengan penegasan secara implisit bahwa Allah berfirman dan bertanya kepada manusia  " kalian sudah diberikan akal, mengapa kalian tidak menggunakannya sesuai dengan logika berfikir orang-orang yang sehat, apakah kalian sudah tidak waras?

    Namun harus digaris bawahi, bahwa Pertanyaan ini bukan ditujukan kepada orang gila yang stres karena terputus urat sarapnya, tetapi ditujukan kepada orang waras yang tidak menggunakan akal sehatnya di bawah bimbingan-Nya. Akalnya digunakan untuk berbuat manipulatif, menyelewengkan kebenaran di atas kepalsuan.

       Orang yang gila karena sarafnya terputus, jika melakukan  kesalahan atau melanggar hukum, maka dia bebas dari hukuman. Tetapi jika orang-orang  waras yang gila melakukan sindikat, Pasti tidak akan terbebas dari hukuman baik di dunia lebih-lebih di akhirat kelak.

       Pembertahankan potensi ke-Tuhanan dalam diri adalah hal yang sangat penting dalam situasi apapun. Sebab jangan sampai kecerdasan yang kita bangun selama bertahun-tahun akan runtuh seketika "ketika datang " gelombang sunami kegilaan" yang akan meluluhlantahkan harga diri seseorang.

_Wallahu 'alamu bishshawab_

Polewali, 16 Desember 2024

BELAJAR DARI FILOSOFI AYAM MENCARI MAKANAN

Oleh: Mukhtar

         Ayam adalah makhluk kecil yang punya kemampuan membaca ayat-ayat kauniyyah. Nalurinya dalam membaca pergantian sunnatullah, itu terlihat ketika matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat. Ayam yang  seharian mencari makanan yang terdiri dari makhluk-makhluk melata yang biasanya bersarang   di batang kayu yang sudah lapuk, demikian pula melata lain yang nasibnya bersarang di sela-sela  tanah. 

      Waktu menjelang malam, kawanan ayam tersebut mulai meninggalkan medan pencariannya, lalu kemudian kembali ke sarangnya untuk beristirahat.  ayam mampu merasakan bahwa malam akan segara tiba. Dia segera ingin melepaskan lelahnya yang seharian beraktifitas.

        "Rumah" yang paling membuat ayam itu tenang adalah pohon- pohon yang tidak terlalu besar. Di situlah ayam bertengger menikmati waktu istirahatnya bersama  kawanannya. Sengaja memilih pohon yang tidak terlalu besar supaya tidak terlalu menguras sayapnya untuk terbang ke atas, di samping itu anak-anaknya yang belum punya kekuatan untuk terbang bisa mengikuti induknya yang mau beristirahat.

       Anak- anaknya yang masih kecil di boyong ke atas sambil mencari tempat yang memungkinkan bisa saling berdekatan dengan anak-anaknya.

     Ketika tiba waktu menjelang subuh  Suara-suara ayam menjadi alarm untuk membangunkan manusia untuk kembali mengingat Tuhannya. Ayam berkokok selalu tepat dalam mengeluarkan bunyinya. Dia selalu berbunyi di waktu menjelang subuh. Suaranya bukanlah suara biasa. Suaranya menyimpang Kesakralan dengan membawa berita langit kepada manusia.  Lantunan bunyi yang terdengar di subuh senyap, penanda bahwa malaikat sedang turun ke bumi. Artinya ayam menyaksikan pada saat malaikat turun. 

       Bahasa agama yang mengimformasikan tentang misteri suara ayam dapat dilihat riwayat yang  menyinggung tentang suara ayam,  namun kualitasnya belum bisa dipastikan kevalidannya  menurut pendekatan kaidah ilmu hadis sebelum dilakukan penelitian.  

     Adapun redaksi hadis tersebut, _" Idza sami' tum siyaha ddayyakati, pas alullaha min fadhlihi painnaha Ra,at malakan"_  ( Jika kalian mendengar ayam berkokok, maka berdoalah kepada Allah minta karunia-Nya, karena sesungguhnya ia melihat malaikat )
Dalam  riwayat lain " _sesungguhnya ayam itu juga melantunkan azan ketika malaikat pembawa Arsy melantunkan azam".  ayam berkata:"  _yaaghafiluun, uzdkurullah_" ( wahai orang-orang yang lupa, ingatlah Allah).

        Riwayat-riwayat yang berkaitan dengan kesakralan suara ayam di waktu tertentu, secara teologis dapat diyakini berdasarkan argumen bahwa semua makhluk yang diciptakan Tuhan memiliki misteri dan kelebihan masing-masing.

       Bukankah semua benda- benda, baik benda mati maupun benda hidup semuanya bertasbih memuji Allah "
_Tusabbahulahussamawatu ssab' u wal ardhu wa man fi hinna"_( langit yang tuju dan bumi, senangtiasa bertasbih dan apa yang ada di dalamnya). 

      Keunikan-keunikan yang terdapat pada ayam, di samping suaranya  yang mengingatkan manusia untuk berdzikir, kemampuannya membaca ayat-ayat kauniyyah pergantian siang dan malam,  juga  bisa dilihat  dari sisi  kreatifitasnya dalam mencari rezki.  Ayam adalah salah satu makhluk kecil yang memiliki kasab yang ulet mencari makanan. 
 Hidupnya tidak pernah diam di siang hari, kecuali jika sementara mengerami telurnya kurang lebih setengah bulan. 

    Ketika ayam turun dari pohon tempat ia bertengger, lalu ia kembali melakukan rutinitasnya menelusuri lorong-lorong ketidakpastian yang bisa diharapkan buat pengganjal perut, tapi sepertinya  dia begitu meyakini bahwa di sana ada secuil harapan yang menjanjikan.

    Hidup ini adalah setitik harapan. Andaikan bukan kita tidak digerakkan harapan, kemungkinan kita tidak akan mampu bertahan hidup. Hidup ini adalah kenyataan, maka orang harus senangtiasa berusaha sesuai jalan kita masing.   Hidup ini memang adalah gerak. Dalam mencari pengganjal perut yang halal,harus dilakukan dengan cara bergerak. Meskipun di suatu tempat terdapat sesuatu  yang tidak pasti, orang tidak boleh putus harapan untuk mencarinya. Mungkin butuh pengorbanan, penantian panjang dalam menelusuri "lorong-lorong ketidakpastian" seperti apa yang dilakukan oleh ayam.

     Rezki sudah dalam " skenario" yang di atas. Oleh karena itu, rezki tidak akan pernah salah alamat. Janganlah terlalu bernafsu untuk mengumpulkan harta sebanyak mungkin ( apalagi dengan cara yang tidak benar), tetapi 
kumpulkan harta yang berberkah walau sedikit.

_Wallahu 'alamu bishshawab_

Pinrang, 14 Desember 2024

KAMPUNG HALAMAN: || Titik Awal Memulai Hijrah

oleh: Mukhtar

    Kampung halaman adalah awal pertama mengenal bahasa ibu. Awal mengenal huruf "Alif"dan"ba", a, i, u. Huruf-huruf yang membesarkan dan mengharumkan nama seseorang.  Kampung halaman adalah awal meneguk air hikmah dari kedua orang tua kita. Pesan-pesan keadaban kita terima dari ke dua orang tua kita walau agak konservatif namun begitu holistik  dan prinsipil.  

       Orang tua memang tak berpendidikan tinggi, tapi pesan-pesannya adalah pesan-pesan keadaban dan tradisi yang menyiratkan pesan-pesan kenabian dan ke-Tuhanan.  

      Kampung halaman memang jauh dari kemoderenan, tergerus dengan lajunya peradaban, tapi nilai-nilai  dan prinsif masih terpelihara dengan baik. Suasananya begitu alami jauh dari kemunafikan.   Manusia kampung biasanya punya prinsif yang penting dapat makan, merokok, beribadah dan tidak menipu orang. 
 
      Suasana petang menjelang malam, suara-suara bak memanggil-manggil dari binatang bertanduk ( beke) terdengar di Sani - sini pertanda binatang itu sementara menunggu makanan, makhluk-makhluk kecil( irri-irris) seringkali terdengar di suasana malam sunyi senyap diiringi dengan gonggongan anjing yang menyeramkan, ditambah lagi dengan  suara-suara kodok  seperti basf gitar (tikkor) yang mengiri lantunan suara makhluk lain bak permainan orkes yang tidak beraturan. Sementara di pagi hari burung-burung  kecilpun (dongi) yang bertengger di atas ranting pohon, tak mau ketinggalan menghibur manusia kampung yang sudah selesai menyelenggarakan shalat subuh sambil menikmati gulungungan sendiri rokok yang terbuat dari tembakau ( bakal) dengan kopi pahit alami sebelum pergi ke kebun. Itulah alaminya suasana kampung yang membangkitkan kerinduan yang sudah berhijrah di negeri orang.

      Tak jarang seseorang  ketika sukses di negeri orang, suasana kampung menjadi pelipu lara untuk mengobati rasa rindu ke kampung halaman, sesekali memutar kembali rekaman masa-masa mengawali hidup di kampung, baik kisah yang mengandung penderitaan maupun kisah kebahagiaan masa kecil.

       Mungkin ada yang merasakan bahwa bahagia yang sesungguhnya adalah kebahagiaan semasa menikmati permainan di waktu kecil. Naluri anak kecil adalah main dan main, sampai-sampai belajar mengaji sambil main kejar-kejaran di dalam mesjid. Dalam shalatpun  biasa sambil bermain sehingga sesekali keluar suara seperti orang ketawa. 

         Naluri yang selalu bermain di masa kecil membuat nyaris tak pernah menyadari bahwa kedua orang tua adalah miskin. Seorang anak kecil yang bermata mainan mengikuti ibunya ke pasar, terkadang seorang ibu rela menyembunyikan kemelaratannya kepada anaknya dengan rela tidak jadi belanja mainan untuk anaknya yang menangis.

       Memutar kembali kampung halaman dapat mengikis keangkuhan seseorang di satu sisi dan dapat menjadi pelipu lara di kala kita rindu dengan kampung halaman.

     Ada apa dengan kampung halaman, kampung halaman adalah bagian sejarah hidup seseorang yang mempengaruhi langkah selanjutnya. Seseorang tidak bisa langsung menaiki tangga yang paling atas tanpa melewati anak tangga yang paling bawah, seseorang tidak bisa meraih kesuksesan tanpa melewati penderitaan. 

       Kampung halaman adalah alam yang pertama sekali mempormat pikiran kita. Alam kampung adalah sumber inspirasi.  Fakta kejumudan yang mewarnai alam kampung juga tak jarang  membangunkan " teologi kebebasan" untuk bisa melangkah lebih jauh.

       Realitas ketertinggalan dalam sebuah kampung, menghentakkan kaki salah seorang rektor universitas Islam negeri Alauddin Makassar untuk " melawan takdir"
Yang kemudian menjadi sebuah karya monumental. 
         Buku tersebut adalah kisah dari perjalanan anak manusia kampung yang kemudian menghijrakan dirinya ke alam kebebasan sehingga pada akhirnya telah berhasil menduduki jabatan akademik pada tahta yang paling di atas . 

    Satu lagi, Menteri agama dan sekaligus  menjadi imam besar mesjid istiqlal adalah salah satu dari sekian fakta mengagumkan dari seorang anak santri kampung( as' adiyah). Dia begitu gigih dan tabah melewati semua rintangan yang menghadangnya dari suasana kampung yang menjeratnya. Menurut riwayat,  pesan-pesan keadaban dari orang tuanya semasa kecil menjadi  bekal dalam memegang prinsipnya. Dan pada akhirnya, namanya begitu tenar, harum, melejit karena kedalaman ilmu dan akhlak yang melekat pada dirinya.

      Kedua tokoh tersebut , lahir dari kampung terpencil, kemudian hijrah untuk menggali mata air kehidupan yang ditaburi dengan penuh hikmah. 

      Catatan ini tidak cukup untuk mengukir suasana kampung,  yang jelas " kampung halaman adalah titi awal untuk memulai hijrah" hijrah dari kampung bukan berarti melupakannya, tetapi pergi untuk kembali berkisah bersama dan berkumpul dengan orang-orang kampung.

_Wallahu 'Alamu Bishshawaab_

Mombi-Alu, 12 Desember, 2024

Selasa, 10 Desember 2024

GUBERNUR TERPILIH SULBAR ADALAH REFRESENTASI SUARA TUHAN.


Oleh: Mukhtar

      Pesta demokrasi sudah selesai dihelat, adu gagasan sudah berakhir, petugas penyelenggara pemilu telah menetapkan para pemenangnya. Para tim sukses menyambutnya dengan penuh suka cita para jawaranya masing-masing. Kini saatnya retorika politik ditunaikan.

     Siapapun paslon yang terpilih, dia adalah putra-putra terbaik daerah yang kita harus sambut dengan penuh suka cita. Meski ada pihak-pihak Paslon lain yang merasa dirugikan siap untuk mengajukan gugatan ke mahkamah konstitusi. Tapi itulah yang sering terjadi jika ada yang merasa tidak puas dan dirugikan oleh kontestan sebagai pemenang.

      Semua yang terlibat dalam kontestan politik sejatinya siap dengan segala konsekwensinya. Siap menang dan siap kalah. Bagi yang menang , sejatinya mewujudkan janji-janji politinya untuk menyejahterakan umat, bukan sekedar melampiaskan" birahi politik" yang tidak amanah. Bagi yang kalah tetaplah tegar, tetap punya niat untuk membantu mengsejahterakan umat bersama yang menang. Tidak mesti duduk di dalam pemerintahan bisa ikut memikirkan nasib rakyat, bukan justru terbenang dalam suasana merasa" impoten politik".

    Menelisik Situasi yang terjadi dalam leksis kemandaran,  pesta demokrasi yang baru selesai dihelat di Sulawesi Barat terutama pemilihan gubernur juga tidak luput dari sorotan media. Para pengamat politik turut memberikan komentar dengan segala konstelasinya. 

       Kini sebagian besar  rakyat Sulbar telah menunjukkan keberpihakannya pada pasangan yang terpilih. Ini indikator yang cukup jelas bahwa pasangan yang terpilih adalah putra-putra terbaik dari  jazirah mandar. 

        Suara rakyat Sulbar telah ikut merefresentasikan " suara langit". Ada kalimat sakral dalam dunia politik "Suara  rakyat suara Tuhan" meskipun ungkapan ini berawal dari dunia pengadilan bagi yang bersengketa yang diharapkan keputusannya betul-betul bisa mewakili  keputusan Tuhan di bumi .

      Logika sederhananya, melawan pilihan rakyat berarti melawan pilihan Tuhan. Memang  ungkapan sakral itu tidak berangkat dari Postulat teologi dan kitab suci, tapi tafsirnya menga ndung arti bahwa rakyat harus diperhatikan sebagai menyambung lidah kehendak ilahi, rakyat sejatinya ikut menentukan nasibnya yang diamanahkan kepada pemimpin yang dikehendaki oleh Tuhan lewat rakyat. 

         Itulah sebabnya, tak jarang dalam realitas sosial politik, sudah banyak pemimpin yang berakhir dengan trangis karena diturunkan secara paksa oleh  rakyat. Bahkan tak jarang pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaannya akan berakhir di balik jeruji besi.

       Mohon ijin, sedikit saya memberi catatan sederhana yang mungkin bersifat subyektif mengenai ketokohan gubernur terpilih tahun ini, yang sudah pasti Tuhan sudah menghendakinya dengan  " teka-teki takdir" sebelum terpilih jadi gubernur.

     Jalan hidupnya telah memilih dunia politik yang mungkin menjadi pegangan prinsipnya bahwa pemerintahan dan dunia politik adalah salah satu jalan untuk menyampaikan kebenaran. 

     Kemenangannya menjadi gubernur, tidak terlepas dari pengalaman politiknya yang cukup matang, baik di birokrasi maupun sebagai legislator. 

     Pendidikannya yang mentereng, telah mematangkan pemikirannya dalam menyampaikan gagasan.    Retorika politiknya yang tertata dan santun menunjukkan dirinya adalah seorang politik yang terdidik secara akademik. Demikian pula yang sikapnya yang santun tanpa pandang bulu, menjadi penanda bahwa dia jauh dari kata arogan dan angkuh.

      Menyorot latar pendidikannya, gubernur terpilih ini, persoalan   zakat terkait dengan kesejahteraan umat menjadi pilihan kajianya untuk memperoleh gelar doktor. Kajian tentang zakat bagi seorang politisi memang agak kedengaran tak biasa seperti layaknya bagi seorang doktor   studi Islam. 
         Boleh jadi yang menjadi motif dia mengkaji zakat karena zakat terkait dengan kesejarteraan. Zakat dalam diskursus Islam adalah bagian dari ibadah sosial.

      Kecintaannya kepada agama dan pendidikan agama, kedua anaknya memilih perguruan tinggi agama sebagai almamater kebanggaannya. Perguruan tinggi agama Islam terbesar Indonesia Timur itulah yang mengantarkannya dalam  menyabet gelar doktor.
        Terpilihnya jadi gubernur Sulbar adalah bagian dari takdir lewat suara -suara Tuhan yang diwakili oleh rakyat. Semoga gubernur yang terpilih dalam keadaan sehat bersama wakilnya dan tetap amanah dalam menjalankan tugasnya sebagai Khalifah di muka bumi.

_Wallahu 'Alamu bishshawab_

Majene, 11 Desember 2024

Senin, 09 Desember 2024

TETAPLAH BERADAB KEPADA SIAPAPUN

Oleh: Mukhtar

  
        "Keselamatan manusia tergantung bagaimana ia bisa memelihara lisannya", lidah memang tak bertulang", " Mulutmu adalah harimaumu",  atau bisa juga dikatakan di era digital sekarang ini, "jari-jarimu adalah singamu".      
      Doktrin-doktrin tersebut mengenai lisan cukuplah untuk membangunkan kesadaran keberagamaan kita ( consenous religion) yang  kadang disepelekan dan tak terhiraukan manakala diri sudah merasa di atas singganasana kehidupan yang cenderung terlena dan lupa diri yang berujung merasa lebih baik dari orang lain, baik dari sisi materi, jabatan, tahta, keturunan, bahkan ilmu sekalipun. 
        Variable- variable- duniawi tersebut jika jatuh di tangan manusia yang hatinya gersang dari ajaran agama,  baik pada level esoterisme  terutama esoterisme, sangatlah berpotensi bagi pelakunya jatuh ke jurang keangkuhan-kesombongan.
     Iblis pernah  mendapatkan hadiah jabatan dari Allah masuk dalam deretan malaikat-malaikatnya sehingga meraih "piagam penghargaan" sebagai seorang Abid-ahli ibadah bahkan mendapatkan gelar besar dalam tingkatan malaikat yaitu Azasil karena ketinggian ilmunya, tiba-tiba semua penghargaan itu  berubah menjadi murka Tuhan akibat tidak sedikitpun memberi apresiasi berupa penghargaan kepada makhluk yang bernama manusia karena merasa lebih hebat, lebih pintar lebih berkuasa, dan lebih pantas dari manusia. Kesombongan iblis mengubah jabatannya secara drastis dari Abid dan azazil menjadi laknatullah.
    Keangkuhan yang pernah melekat pada iblis dapat merasuki di mana, kapan, dan siapapun termasuk orang alim sekalipun. Dalam sejarah kenabian sosok Fir'aun menjadi salah satu anak manusia yang paling bertanggung jawab karena telah menjadi salah satu pewaris iblis yang paling masyhur di jagad raya ini. Bahkan boleh dianggap Fir'aun adalah simbol keangkuhan dan kesombongan dalam sejarah kemanusiaan.

      Al-Qur'an surah Alaraf ayat 12 menginformasikan kata yang dipakai oleh iblis kepada manusia yaitu " aku" aku lebih baik dari manusia. Demikian pula Al-Qur'an surah al-Zurhf ayat 52  menginfomasikankan Fir'aun dengan menggunakan kata" milikku" bukankah kerajaan Mesir ini adalah milikku"
       Kata" aku" dan "milikku" tersirat makna yang memiliki karakter narsistik dan eksploratif. Yaitu karakter yang menganggap lebih penting dari orang lain, mengabaikan perasaan orang lain dan ambisi menguras demi memuaskan dirinya.

       Sangatlah patut menjadi renungan beberapa abad yang lalu Nabi memberi pesan yang amat  doktrinal tentang pentingnya memelihara adab. Nabi mendeklarasikan dirinya bahwa tujuan utama dia diutus adalah untuk mentransformasi kebiadaban manusia menuju hidup yang berkeadaban.  sampai-sampai Nabi juga berpesan " Akhlak lebih di atas daripada ilmu".

     Kita tidak ingin terlibat  begitu intes terhadap fenomena yang sangat viral di media sosial saat ini yang begitu menghebohkan publik, yaitu adanya figur  publik  yang punya label kealiman yang dinilai oleh berbagai kalangan sebagai bentuk yang tidak menghiraukan adab .sehingga secara implisit dianggap sebagai bentuk pelecehan kemanusiaan kepada masyarakat kecil.

       "Nasi sudah bubur" demikian kata pepatah,  peristiwa ini sudah menjadi konsumsi publik yang tak terelakkan.  Yang jelas ini pasti ada misteri besar dari peristiwa ini sebagai pelajaran bagi kita semua bahwa "" *Tetaplah Beradab Kepada Siapapun"*, Berhati-hatilah berucap dan menggerakkan jemari kepada siapapun karena kedua akan menjadi bomerang yang siap akan menerkam seperti harimau dan singa.

      Peristiwa tersebut juga menyiratkan adanya" skenario Tuhan" bahwa bisa jadi karena lisan seseorang yang dianggap sebagai " pelecehan" sebagai pintu datangnya Rezki seseorang.


Wallahu :Alamu Bishshawab

Pinrang. 8 Desember 2024

Jumat, 06 Desember 2024

MEMBUANG SEBIJI GARAM DI TENGAH SAMUDRA LUAS

Catatan : Dr. Mukhtar, S.Th.I., M.Th.I

           Lautan nan luas dan dalam seringkali menjadi simbol dalam mengilustrasikan kedalaman ilmu seseorang. Allahpun menggambarkan ilmu-Nya dalam QS:Al-Kahfi ayat 109 bak lautan tak bertepi.   Namun ada kisah menarik dari anak manusia yang memiliki ketergantungan jiwanya dengan sang pencipta, berani menggertak dan menundukkan laut di tengah berkecamuknya samudra luas membuat para penumpang itu mendekati anak manusia  seraya memohon kepadanya  " engkau adalah anak manusia yang memiliki kelebihan sebagai kekasih Allah " berdoalah agar kami semua selamat dari situasi ini " Maka anak manusia itu dengan penuh keberanian memerintahkan laut untuk berhenti mengamuk seraya berkata "berhentilah wahai laut kecil di atasmu sekarang ada lautan ilmu"  seketika itu dengan izin Allah lautanpun kembali menjadi tenang. Anak manusia itu adalah Muhyiddin Ibnu ' Arabi sang pemilik Kitab *futuhat Al-Makiyyah* yang sangat brilian itu. 
  
      Ibnu Arabi yang telah sanggup menantang samudra seakan memberi pesan bahwa betapapun luas dan dalamnya lautan, hati dan pikiran manusia jauh lebih luas dan dalam. Ibnu Qayyum mengatakan diantara yang dapat melapangkan dada adalah ilmu, sungguh dia dapat melapangkan dada bahkan lebih luas dari dunia. Hati adalah miniaturnya alam makrokosmos yang dalam dan luasnya tak terbatas. Dalam hadis qudsi Allah berfrman: " Semua petala langit dan bumi menjadi sempit untuk merangkul KU tetapi Aku bisa dirangkul dari seorang mukmin yang hatinya lapang". artinya hati manusia yang kecil bisa menjadi luas karena Tuhan berada di dalamnya. "Dalamnya laut bisa diukur dalamnya hati siapa yang tau" demikian kata pepatah.
       Dalil-dalil tentang kekuatan hati manusia tersebut menjadi penanda yang cukup jelas bahwa hati bisa menjadi luas bahkan bumi sekalipun manakala seseorang telah berhasil menempatkan Tuhan di dalam hatinya dan pikirannya yang membuat Ibnu Arabi berani menundukkan amarah lautan.

       Terlepas dari luasnya hati dibanding lautan, catatan sederhana ini bukanlah seperti lapangnya hati daripada luasnya samudra, melainkan seperti sebiji garam yang dihempaskan di tengah samudra dan luas yang mustahil sebiji garam mampu menggarami lautan. Lagi-lagi penulis wajib untuk membuat metafora bahwa catatan tak beraturan ini seperti seorang murid -salik yang tengah mencari seorang Mursyid. Bagai seorang yang haus dalam mencari sumur.
      Ungkapan dan pikiran manusia apalagi seorang murid yang tertuang  dalam bentuk  tulisan memang  tidak sesakral dengan bahasa dan pikiran seorang mursyid. Bahasa seorang mursyid adalah bahasa yang sudah melangit sedangkan bahasa seorang murid adalah bahasa yang di ukir di bumi yang penuh dengan kepalsuan dan tipu daya.  Oleh karena itu ketika seorang murid berbicara di depan gurunya sejatinya menyadari bahwa dirinya seperti *"membuang sebiji garam di tengah samudra luas"*

      Namun demikian murid boleh berprinsip bahwa  Jika seorang membuat catatan di depan guru jadihkanlah itu sebagai sesuatu yang dapat mengantarkanya  kepuasan batin tersendiri. Sebab pada prinsipnya tulis menulis adalah sebuah titian yang dapat mengantarkan pada keabadian.
      Kepuasan batin seorang penulis itu pertanda (mudah-mudahan saya tidak salah tafsir) bahwa Tuhan telah memberi restu dan Ilham kepadanya sebab pada hakikatnya yang menggerakkan pikiran manusia adalah Tuhan itu sendiri.

        Mungkin tidak terlalu salah kalau dikatakan bahwa menulis yang baik-baik adalah bagian dari usaha  merefleksikan" pemikiran Tuhan". Atau dengan bahasa lain bahwa menulis adalah merefsentasikan ide dan gagasan Tuhan lewat manusia yang cenderung  selalu melakukan " pertapaan" di alam pemikiran dan renungan.

     Sedari Tuhan masih mewaraskan pikiran kita, lidah kita masih pasih melafazkan dan menyusun  kata walau tidak sistematik jalan menuju keabadian terbentang luas di depan kita yang menjadi investasi yang tidak sekedar bertujuan meraih ambisi  kehormatan akademik seperti diburuh oleh segelintir orang walau dengan jalan yang instan bahkan manipulatif seperti ambisi sebagian para politis, sangat berambisi di depan namanya ada gelar Doktor dengan menawarkan disertasi yang dipertanyakan keabsahannya.

     Mencatat sebait kata yang baik-baik dan bermamfaat adalah bagian dari perintah agama" sampaikan walau satu ayat" demikian Rasul mengisyaratkan bahwa menjadilah diri yang abadi yang bisa dikenang dalam sejarah.

    Banyak para pendahulu yang telah berhasil menorehkan sejarah lewat gagasan dalam lembaran-lembaran kertas.   Banyak orang mengenangnya walau penulisnya sudah tiada menuju alam eskatologis.

      Tubuh boleh hancur dimakan cacing tanah, tetapi ruh dan pemikiran tidak boleh lenyap. Keabadian ruh akan kembali kepada yang asal yang menancapkan ruh tersebut yakni YANG MAHA TUNGGAL, sementara pemikiran akan abadi dalam kenangan manusia. Pikiran Buya Hamka akan selalu abadi karena tafsir Al azharnya, pemikiran Hasbi Assiddiqi tidak akan pernah lenyap karena Tafsir Annnurnya.  Dan masih banyak lagi  ulama-ulama yang mengabadikan namanya lewat karya yang diwariskannya.

Wallahu 'Alamu bishshawab

Pinrang 7 Desember 2024

Kamis, 28 November 2024

SELAMAT DATANG GUBERNUR BARU SULAWESI BARAT

Hari ini, kita menjemput pagi dengan senyum dan harapan baru dengan kepala tegak. Teriring rasa syukur atas kemanangan yang dianugerahkan Allah SWT kepada kita semua. 
Tentu saja capaian ini bukanlah halte akhir dalam perjalanan  memuliakan proses perjuangan. Sejatinya kemenangan ini menjadi awal bagi kita dalam mengawal proses penbangunan dan melahirkan kebijakan pro rakyat. Proses dan tahapan pilkada 2024 yang telah kita raih saat ini mesti dipandang sebaga jeda untuk mempersiapkan lompatan besar.

Raihan suara pssangan yang kita usung jangan lagi kita maknai  tentang menang atau kalah, tapi tentang keberanian untuk melangkah, tentang mimpi yang tak pernah padam, dan keyakinan bahwa niat baik,  aksi tulus dan tujuan  mulia akan menemukan jalannya.

Setiap suara yang kita dengar adalah harapan, setiap dukungan yang kita terima adalah pengakuan, bahwa perjuangan ini berharga, bahwa kita tak pernah sendiri.

Kini, saatnya menanam harapan dan kembali merajut persaudaraan di atas perbedaan, karena kekuatan sejati tak hanya ada di kemenangan, tapi di hati yang tetap tulus, Dalam jiwa yang terus berjuang.

Harapan harus terus kita pupuk, semangat perjuangan mesti terus kita kobarkan. Bersama tekad yang tak tergoyahkan, Mari melangkah lagi,
Untuk cita-cita yang lebih besar,
Untuk pengabdian tulus kepada-Nya dan perjuangan untuk masyarakat yang kita cintai.

Terima Kasih kepada SDK, JSM, Syamsul Samad, Sukri Umar, S. Ary Ifitkhar, Muhammad Aslam, Andi Morgan, S. Wildan Bado, Musjad, Abd. Rahman Karim, dan semua teman teman relawan. Saya tidak harus mengklaim diri sebagai pendukung dan pejuang, yang saya akui hanya bentuk pengakuan dan keberpihakan saja.  

SDK -JSM harus menjadi formula baru  yang takkan pernah berpisah dari  kita semua. Pada ketulusan dan kesungguhan kita harus banyaki belajar bahwa tak ada yg bisa menggantikan persaudaraan, keakraban  kepedulian, kerja keras kesabaran, doa dan tawakkal. 

Sukses Selalu. Malakka Sunga'ta, Nasalipuri gassing napakarao garring.