Senin, 26 Agustus 2024

PANJAT PINANG || Hinaan Pribumi Dalam Hiburan Belanda

Menurut Rianto Jiang, dalam buku Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal karya Fandy Hutari menyebutkan bahwa panjat pinang merupakan sebuah budaya dari Tionghoa, disebutkan jika Permainan Panjat Pinang tercatat pertama kali diadakan di Cina, yaitu pada zaman Dinasti Ming. Permainan ini mulanya diberi nama Qiang Gu dan erat kaitannya dengan Festival Hantu.

Di Indonesia sendiri, panjat pinang mulai dikenal pada saat Belanda menduduki Indonesia. Saat itu, sekitar tahun 1930, para kolonial Belanda mengadakan panjat pinang untuk hiburan saat mengadakan hajatan, seperti pernikahan, kenaikan jabatan, atau pesta ulang tahun.

Adapun hadiah yang digantung pada ujung pohon pinang tersebut berupa makanan, seperti keju dan gula. Ada pula yang berupa pakaian.

Masa itu, hadiah-hadiah seperti itu sangat berarti bagi orang-orang pribumi dan tergolong barang mewah. Sebab itulah perlombaan panjat pinang dulunya hanya diikuti oleh orang pribumi yang ditonton dan ditertawakan oleh orang-orang Belanda.

Para orang pribumi mati-matian memanjat pohon pinang, sedangkan kolonial Belanda menyaksikannya. Namun, bagi keluarga pribumi yang kaya dan merupakan antek kolonial, mereka juga kerap mengadakan perlombaan khas 17 Agustus ini.

Terlepas dari sejarah kelamnya, kita bisa melihat makna tersendiri pada perlombaan panjat pinang. Apa itu? Lomba panjat pinang mengajarkan kita untuk bekerja sama dalam meraih sesuatu.

Fandy dalam buku Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal menuliskan, jika diibaratkan, hadiah panjat pinang tersebut layaknya kemerdekaan Indonesia. Untuk itu, para pemuda perlu berjuang bersama dengan saling menopang tubuh satu sama lain untuk meraih kemerdekaan itu.

Hingga akhirnya, jika mereka berhasil mencapai puncak pohon pinang tersebut, hadiah yang jika diibaratkan kemerdekaan itu dibagi rata.

MAYJEN (Purn) SALIM S. MENGGA || Sederhana Merawat Martabat


Siapapun pasti sepakat ketika mendengar atau menyebut nama Mayjend TNI (Purn.) Salim S. Mengga, setidaknya ada dua hal yang sangat menonjol. Pertama, ia adalah putra S. Mengga, seorang militer yang pada masa pergolakan menjadi pimpinan pasukan Mandar Baru. Bupati Polmas (sekarang Polman) periode tahun 1980-1990 yang dijuluki sebagai Bapak Pembangunan Polewali Mamasa. Itu tak bisa disangkal, karena Salim memang lahir dari  sosok yang akrab disapa Puang Mengga, Sang Naga Bonar dari Mandar.

Kedua, Salim adalah sosok yang kharismatik dan dalam dirinya menonjol lima hal yang jadi karakternya, yaitu: Sederhana dan Merakyat-dimanapun ia berada selalu bergaul dan mendekati masyarakat di lingkungannya; Taat Beragama; Selalu mau belajar; Memiliki jiwa kebapakan dan mengayomi; Tegas dan bertanggung jawab terhadap amanah yang diemban. Karakter ini menjadikan Salim S. Mengga banyak disegani oleh kawan maupun lawan.

Cukup dua hal itu yang dibahas dan dibahasakan kepada siapapun untuk menemukenali sosok yang saat ini menata diri untuk berkontestasi dalam Pilkada Gubernur Sulawesi Barat 2024 mendampingi Dr. Suhardi Duka atau SDK. Paket SDK - Salim ini diharapkan menjadi muara dari setumpuk persoalan Sulawesi Barat yang belum bisa diurai diusianya yang ke-20 tahun pada 22 September 2024 mendatang.

Salim S. Mengga lahir di Pambusuang, Kampung kelahiran Imam Lapeo, Baharuddin Lopa, Sayyid Alwi atau Puang Toa dan kental dengan sebutan kKappung Annangguru. Tanggal 24 Agustus 2024 (hari ini), usianya telah menginjak 73 Tahun jika berdasar pada dokumen resminya lahir 24 Agustus1951. Salim adalah anak dari Kolonel Purnawirawan S. Mengga (Puang Mengga) yang merupakan Bupati Popmas (1980-1990), Tokoh Militer dan Tokoh Pejuang di Tanah Mandar dari seorang wanita bernama Hj. Nyilang. Salim adalah putra kedua dari 3 bersaudara yaitu: Syarifah Asia S. Mengga (Almarhumah Istri Prof. DR. Umar Shihab, MA) dan Ir. Aladin S. Mengga (Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2011-2016).

Salim sendiri tercatat memiliki  3 (tiga) orang anak dari hasil pernikahannya dengan Hj. Fatmawati, sosok wanita yang sederhana dan murah senyum, cucu dari seorang tokoh terpandang dari Bugis H. Beddu Solo). Ketiga anaknya itu adalah Mega Kamila al-Attas, Erfan Kamil al-Attas, Amira Kamila al-Attas. Erfan Kamil Al-Attas pernah menjadi anggota DPRD Sulbar periode 2009-2014.

Kecintaan pada daerah Mandar tak bisa dipisahkan dari sosok Salim S. Mengga. Ia begitu memahami dan mencintai daerah ini, maka panggilan nuraninya lebih besar untuk kembali dan membangun kampung halaman, mengalahkan daya tarik kerier militer yang dimilikinya saat itu.

Ketaatan beragama, kewibawaan sikap mandiri dan merakyat, adalah perpaduan dari garis keturunan sang kakek (orang tua S. Mengga), bernama Sayyid Muhsin al-Attas dan neneknya Hj. Cilla, seorang bangsawan Mandar dari keturunan Pammarica. Sehingga Salim S. Mengga begitu fasih melantunkan ayat-ayat Al-Quran dan taat menjalankan ibadah shalat lima waktu, dibanyak tempat sering memberikan cerama-ceramah agama dan khutbah shalat ied.

Sikap merakyat dan rendah hati, itulah yang menonjol dalam sikap keseharian Salim S, Mengga, senantiasa mendengarkan keluh kesah para anak buah, serta bergaul dan bermasyarakat dimanapun dia bertugas.

Maka tidak heran disaat akan meninggalkan pos jabatannya di tempat tertentu (baik sebagai DanYot Kavaleri Ambarawa, Dandim Demak dll) sangat dielu-elukan dan di iringi oleh isak tangis para bawahan yang beliau tinggalkan.

Bahkan ketika Salim S. Mengga menjabat Kasdam IV Diponegoro, para Ulama se-Jawa Tengah menghadap Panglima, meminta beliau untuk menduduki jabatan Pangdam IV Diponegoro, hal itu membuktikan bahwa Mayor Jenderal Salim S . mengga sangat disenangi oleh masyarakat Jawa Tengah khususnya para Kiyai disana, kerana beliau orang yang dianggap JUJUR DAN MERAKYAT.


RIWAYAT PENDIDIKAN
SD : Tahun 1964
SMP : Tahun 1967
SMA : Tahun 1970

Pendidikan Militer
AKABRI : Tahun 1974
SUSSAARCAB KAVALERI : Tahun 1975
SUSSPAHARSAT : tahun 1977
TARDANKI : Tahun 1979
TARKORBANTEM : Tahun 1981
SUSLAPA KAVALERI : Tahun 1984
SUSGUKIL : Tahun 1985
SESKOAD : Tahun 1990
SUSDANDI  : Tahun 1993
SUSGATI SUSPOL : Tahun 1995
LEMHANAS : Tahun 2001


JENJANG KEPANGKATAN
Letnan Dua  ; 01 12 1974 ; KEP/152/ABRI/1974
Letnan Satu ; 01 04 1977 ; SKEP/398/IV/1977
Kapten ; 01 10 1980 ; SKEP/649/X/1980
Mayor ; 01 04 1985 ; SKEP/420/V/1985
Letnan Kolonel ; 01 04 1991 ; SKEP/116/III/1991
Kolonel ; 01 04 1996 ; KEPRES NO.17/ABRI/1996
Brigadir Jenderal ; 15 03 2001 ; KEPRES RI NO.18/TNI/2001
Mayor Jendral ; 24 10 2003 ; SKEP Pang. TNI NO.SKEP/342/X/2003

JABATAN
Dantor Denkaves DAM XIV Hasanuddin 01-07 1975 SKEP/546/VII/1975
Dantor IKI 101 Yonkav 10 DAM XIV Hasanuddin 01-10978 SKEP/183/X/1978
Dankima Yonkav 10 DAM XIV Hasanuddin 01-01 1981 SKEP/OL/I/1981
Kasi 4 Log Yonkav 10 DAM XIV Hasanuddin 01-06 1983 SKEP/232/VI/1983
Gumil Gol IV Pusdikkav 01-05 1984 SKEP/216/IV/1984
Kasi Trakor Dirbinsen Pussenkav 01-09 1985 SPIRIN/711/X/1985
Wadan Yonkav 2 Serbu DAM IV Diponegoro 01-01 1986 SKEP/199/III/1986
Kasdim 0711/REM/ 071 DAM IV Diponegoro 01-02 1984 SKEP/216/IV/1989
Gumil Gol V Pusdikkav 01-06 1990 SKEP/203/V/1990
Dan Yonkav 2 Serbu DAM IV Diponegoro 01-08 1991 SKEP/320/VIII/1991
Dandim 0716 Demak REM 073 DAM IV Diponegoro 12-06 1993 SPRIN/811/VI/1993
WAAS Sospol Kodam IV Diponegoro 01-10 1994 SKEP/390/X/1994
Assospol Kodam IV Diponegoro 06-12 1995 SKEP/462/XII/1995
Danrem 141/Toddopuli DAM VII Wirabuana 15-08 1997 SKEP/459/VII/1997
DAN Pussenkev 15-02 2001 SKEP/99/II/2001
Kasdam IV Diponegoro 01-02 2003 SKEP/30/II/2003
Wadan Kodiklat TNI AD 30-10 2003 SPRIN/1669/X/2003
Pangdam XVI Pattimura

PENGHARGAAN
Satya Lencana Kesetiaan VIII TH
Satya Lencana Kesetiaan XVI TH
Satya Lencana Kesetiaan XXIV TH
Bintang Kartika Eka Paksi Nararya
Satya Lencana Dwidya Sistha
Bintang Yudha Dharma Nararya


MENANTANG RESIKO

Ketika Mayor Jenderal Salim S. Mengga mengambil LANGKAH TEGAS dengan rela meletakkan semua jabatannya sebagai PANGDAM XVI PATTIMURA maupun pada jabatan WADAN KODIKLAT TNI AD.

Sebagian besar kalangan menyayangkan langkah tersebut, karena karier militer beliau masih memungkinkan meraih pangkat TIGA BINTANG (LETNAN JENDERAL).

Ketika sebagian kalangan menanyakan kepada Mayor Jenderal Salim S. Mengga:
“Apa alasan yang mendasari kepulangan beliau untuk kembali ke tanah kelahirannya, sementara jabatan kerier militer masih begitu bersinar?”

Jawaban tegas beliau mengatakan:
“Justru panggilan nurani saya untuk kembali ke Provinsi Sulawesi Barat, karena daerah ini masih baru dan tidak memiliki apa-apa.  Dengan segala kemampuan yang saya miliki, Insya Allah akan saya sumbangkan demi kemajuan daerah ini kedepan”.
Niat dan tekad beliau sangat mulia, namun sangat disayangkan beliau belum mendapat kesempatan.


PENGAKUAN
Prof. DR. H. Umar Shihab
Salim S. Mengga dimata seorang Prof. DR. H. Umar Shihab (Tokoh Nasional dan Ketua MUI di Jakarta):
Salim S. Mengga memiliki kewibawaan yang merakyat dan merupakan satu-satunya putera Mandar yang ditetapkan sebagai Pangdam di Indonesia (Pangdam XVI Pattimura). Dan dalam sikap hidup kesehariannya sangat tidak suka kehidupan yang glamour atau hura-hura.

Salim S. Mengga juga pernah menjabat Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) periode 2013-2018 dan Anggota DPR-RI (mewakili daerah pemilihan Sulawesi Barat) periode pertama 2009- 2014 dan periode kedua 2014-2019.

Sekarang beliau adalah Dewan Penasehat Rabithah Alawiyah DPC Polman, sebuah lembaga pencatatan dan pemeliharaan nasab para sayyid/habib yang berada di daerah Polewali Mandar pada khususnya dan meliputi daerah Sulawesi Barat pada umumnya.

MENGUAK ASSITALLIANG SIPAMANDAR

Catatan Muhammad Munir


Beberapa minggu terakhir ini, diskusi tentang Mandar kembali berseliweran di beranda akun media sosial. Temanya bermacam-macam. Ada yang mengangkat Mandar sebagai persekutuan, bukan suku.

Ada yang membincang  Mandar sebagai wilayah teritorial, bukan suku. Ada yang menyoal Mandar sebagai nilai, bukan suku. Termasuk ada yang cenderung berani mengatakan bahwa Suku Mandar itu tidak ada.

Mandar dalam bingkai Sulawesi Barat ini seharusnya tak lagi ada perdebatan tentang makna kata Mandar, sesungguhnya pembacaan terhadap makna kata Mandar sesungguhnya sudah final dalam babad sejarah Tanah Mandar. Persoalan ini kerap muncul terutama menjelang perhelatan Pemilu atau Pilkada. 

Dari sejumlah tanggapan yang ada, saya melihat dan mengambil kesimpulan bahwa ini akibat dari kurangnya bacaan yang membuat siapapun menjadi kehilangan arah dalam menemukenali konsepsi kata Mandar dengan pemaknaannya.

Kurangnya bacaan atau boleh jadi tak banyak membaca sehingga muncul berbagai persepsi yang beragam.

Padahal Mandar maupun tentang suku Mandar telah final pada ratusan tahun lalu. Periode tahun 1580 sampai 1602, setidaknya leluhur kita sudah sitalli (sepakat sebagai Mandar) dalam Muktamar Tammajarra 1 dan 2 yang puncaknya ada di Allamungan Batu di Lujo. 

Mungkin diantara kita ada yang lalai mengenai Assitalliang di Lujo. MANDAR itu bukan baru lahir dari sana, tetapi mereka justru kembali mengeratkan amandarannya sebagai satu keturunan. Kalau tidak senasab bagaimana mereka dapat membangun konsensus secara sosial, budaya dan politik.

Hakikat Assitalliang atau Sipamandar itu bermakna kembali saling (Sipa), berarti sudah pernah saling bersama. Kenapa mereka sepakat untuk itu, karena konsensus secara sosial, budaya dan politik semakin hari semakin merosot.  Perang atau bundu kerap terjadi antar kerajaan yang ada di Mandar.

Saat itu, berbagai komunitas atau klan mulai bersatu karena alasan politik, ekonomi, atau sosial, mereka dapat mulai mengembangkan identitas kolektif yang lebih luas. Proses ini sering melibatkan penggabungan berbagai kelompok menjadi satu entitas yang lebih besar yang kemudian mendapatkan nama sukusuku,  yakni Mandar.

Intinya, sebelum terbentuknya identitas kolektif sebagai Suku Mandar, masyarakat di wilayah yang kini dikenal sebagai Mandar mungkin terdiri dari berbagai klan atau komunitas yang lebih kecil dengan nama-nama lokal atau berdasarkan garis keturunan. Kendati Nama "Mandar" sebagai suku baru muncul ketika kelompok-kelompok ini bersatu dalam persekutuan politik dan sosial.

                       ****

Mandar (dialek PBB) atau Manda' (dialek PUS) dan Menre' (Bugis versi Lagaligo) secara tekstual memang tak tercatat sebagai sebuah suku. Ia adalah kosa kata yang bermakna sungai. Kata Mandar  sebagai sungai sebangun dengan penyebutan orang-orang yang ada di wilayah geografis Sulawesi Barat. Manda' atau Mandaq ini dikenal dalam kehidupan sosial Masyarakat di wilayah pegunungan seperti Matangnga, Tabulahan dan sekitarnya (baca: PUS).

Selain Mandar, penamaan sungai juga ditemukan sebagai Maloso' (peradaban Lembang Mapi dan Passokkorang), Binanga (Banggae dan sekitarnya), Lembang dan lainnya. Artinya bahwa ketika Mandar menjadi nama sungai, kita tentu tak harus marah jika kemudian Mandar adalah nama sungai, bukan suku. 

Mandar identik dengan air, air umumya dimaknai sungai dalam konsensus sejarah peradaban. Elemen air sejak Era Pongkapadang dengan Torine'ne (sekitar tahun 1100-1200). Beliau adalah moyang orang PUS dan PBB, dan keduanya memang belum menamai manamai dirinya sebagai suku Mandar. 

Kenapa harus menggunakan Mandar sebagai simbol persekutuan mereka? Karena diantara 14 kerajaan (PUS dan PBB) itu terhubung melalui jalur trasportasi yang mengandalkan sungai. Kontur tanah di wilayah PUS adalah bukit, gunung, lembah dan dataran. Sungailah yang menjadi penghubung antara gunung dan pantai. Kondisi inilah yang membuat mereka sepakat mengusung sungai sebagai persekutuan yang dalam perkembangannya dikenal wilayah Konfederasi Mandar.

Orang luar kemudian mencatatnya Tomandar dan tertata sebagai suku untuk membedakan georafis mereka dengan Toraja, Bugis dan Makasaar. 1908 ketika Belanda berkuasa, lagi-lagi wilayah eks Persekutuan Mandar ini menjadi nama Afdeling Mandar. Adapun mengenai Pemerintah Hindia Belanda yang (datang) membuat persekutuan itu karena basisnya kesatuan sosial dan budaya yang sama. Mereka juga tidak serta merta tanpa mempelajari akar budaya di wilayah Afdeling Mandar (baca: Sulawesi Barat). 

Redefinisi Makna Kata Mandar

Dalam berbagai sumber literatur teksnya memang tidak mencatatnya sebagai suku. Ia adalah makna yang sebangun dengan sungai, maloso, Binanga atau Lembang. Fakta-fakta tentang sungai itulah terbangun filosofi Mandar yang diambil dari elemen air (air yang membentuk sungai. Sungai tanpa air adalah bohong).

Filosofi air inilah yang kemudian menjadi nilai bagi orang Mandar karena aktualisasi dari air adalah 'mencari titik-titik terendah untuk menemukan kemuliaannya". Tak pernah terjadi air mengalir ke titik yang paling tinggi. Makna inilah yang memjadi karakter orang Mandar. Lagi-lagi Mandar adalah nilai, bukan suku. 

Kapan Mandar Jadi Suku? 

Mandar jadi suku sejak sejarah mencatatnya sebagai sebuah peradaban yang punya wilayah, bahasa, budaya, sejarah yang disepakati. Kesepakatan inilah yang menerima Mandar sebagai suku.

Jadi tak harus ada yang diperdebatkan dalam makna Mandar sebagai suku, sebagai nilai, sebagai wilayah sebab orang Sulbar sudah faham siapa itu Tomandar (Orang Mandar), Pammandar (Orang yang datang ke Mandar) dan Toi Mandar (Pemilik Mandar). Identitas yang terbangun sejak allamungan Batu dan diperjelas dalam penamaan Afdeling Mandar pada masa penjajahan Hindia Belanda. 

Tahun 1971 terjadi sebuah seminar yang pertama di Mandar yang tak lain menegasikan Identitas sebagai Suku Mandar dengan sejumlah produk kebudayaan dari PUS dan PBB. Itu terjadi di SD Negeri 1 Tinambung. Pada tahun 1984, dihelat lagi kegiatan yang sama dan fokusnya masih tentang kebudayaan Mandar.

Tak berhenti sampai di situ, di Polewali juga dilangsungkan seminar tentang kebudayaan Mandar di STKIP DDI tahun 1987. Dekade tahun 1950/1960, para tokoh dari wilayah barat Sulawesi mengusung Mandar sebagai sebuah provinsi, yakni Provinsi Mandar (cikal bakal pembentukan Propinsi Sulawesi Barat). 

Tahun 1994, masih dengan spirit Mandar dilangsungkan Perjanjian Tammajarra 3 di Makassar sebagai kelanjutan dari perjuangan pembentukan Provinsi Mandar tapi dengan nama baru, Propinsi Sulawesi Barat. Tahun 2001 terjadi Kongres Rakyat Mandar di Majene untuk penguatan daya dorong Sulawesi Barat sebagai sebuah provinsi. Saat itu, semua perwakilan dari Polemaju (baca: PUS PBB) berkumpul dan melahirkan kesepakatan Provinsi Sulawesi Barat sebagai sebuah keniscayaan. 

Pada kata Mandar, terdapat tiga komponen kata yang juga penting untuk dielaborasi makna kedalamannya, yakni Tomandar adalah mereka yang dari suku lain tapi memilih tinggal dan berdomisili secara turun temurun di wilayah Mandar.

Pammandar adalah mereka yang memang datang ke Mandar untuk mencari nafkah, tidak tercatat secara administrasi sebagai penduduk Sulbar. Hal ini sama dengan status orang-orang Mandar yang pergi ke Singapura, mereks disebut Passa'la' atau Passingapura dan lainnya. Adapun Toi Mandar adalah mereka yang secara genetik lahir dari ibu dan bapak dari orang Mandar. 

                      **** 

Postulat dari tulisan ini adalah Mandar itu sebagai persekutuan, Mandar sebagai nilai, Mandar itu wilayah dan sampai kepada Mandar sebagai Suku.

Yang terakhir inilah yang mesti dibangun kesepakatan bahwa orang Mamasa (PUS) tak usah dipaksa jadi Tomandar, sebab mereka juga Toi Mandar (pemilik Mandar), demikian juga orang Mamuju, Budong-Budong, Baras, Kakumpang, Pattae, Pannei, Pattinjo, Pakkado, Pa'denri, dan lainnya adalah Toi Mandar, bukan Pammandar.

Kita adalah Mandar yang hari ini terbuhul dalam ikatan Sulawesi Barat. Epos purba Lagaligo menyebut kita sebagai Menre. (*)

Membongkar Mitos Kuliah (2)

Oleh: Abd. Rahman Hamid

Setelah menyelesaikan pendidikan doktor di Universitas Indonesia (UI), saya semakin yakin bahwa Allah SWT telah menggerakan hati dan tangan orang-orang yang baik untuk memudahkan proses studi saya. 

Pada bulan Mei 2013, saya mengikuti seleksi masuk UI, bersama dengan sahabat saya, Abd. Rahman (dosen sejarah Unhaer Ternate), di kampus Depok, tepatnya Gedung C lantai III Fakultas Hukum (Ruang 306). 

Kami menginap di rumah keluarga saya, Jais Salisu, di Sawangan Depok. Setelah ujian kami balik. Saya ke Makassar dan dia ke Ternate. 
Setelah ada pengumuman, hati saya sangat gembira. "Selamat, Anda dinyatakan LULUS", kira-kira begitu pesan yang saya terima via e-mail. Betapa tidak, kata sebagian orang yang pernah mencoba, tidak mudah lulus masuk kuliah di UI. Alhamdullah.

Segera setelah pengumuman, semangat saya untuk kuliah di kampus yang sangat saya impikan sejak kuliah S1 (2000-2004) perlahan mulai pudar. Bukan karena saya tidak mau lanjut studi, tapi kendala biaya yang harus saya bayar saat itu hampir dua puluh juta rupiah. Saya tidak punya cukup dana, sebahagian pun tidak, untuk melunasi biaya awal studi. 

Kawan saya, Eman, begitu sapaan akrab dari Abd.Rahman, sudah melunasi biaya tersebut. Sering kali dia menepon saya untuk memastikan apakah saya sudah positif ikut kuliah, dengan membayar semua biaya awal studi. Ketika segala upaya telah ditempuh dan belum ada tanda-tanda dapat biaya studi, saya katakan pada Eman bahwa kemungkinan saya tidak bisa melanjutkan studi di UI. 

Pada satu kesempatan, saya mendapat telpon dari pembimbing S2 saya, (Prof) Dr. A Rasyid Asba, dari Jurusan Ilmu Sejarah Unhas. Begini kira-kira kalimatnya "Man, kamu bisa bantu penelitian saya. Kalau mau, datang ke kampus besok ya, kita rapat". Tanpa berpikir lama, saya langsung menerima tawaran itu. Betapa tidak, beliau sangat mudah membantu saya pada masa studi dan pasca studi ketika menjadi dosen luar biasa di Unhas kala itu (2008-2013). Sebelumnya, saya membantu beliau dalam dua riset untuk Kabupaten Barru (Perlawanan La Patau dan Sejarah Kerajaan Nepo) serta penelitian Sejarah Kota Tual. 

Pada esok hari, pagi-pagi saya sudah ke kampus untuk menghadiri rapat bersama Tim di PSKMP Unhas. Saya dan Ilham Daeng Makello sebagai pendamping beliau. 
Pada rapat itu, baru saya tahu bahwa kami akan riset di Kabupaten Halmahera Utara (Maluku Utara) dan Boven Digul (Papua Barat). 

Di lokasi riset pertama, saya dapat melihat langsung negeri Tobelo, yang banyak saya tahu saat belajar sejarah maritim. Sedangkan daerah yang kedua, juga mudah saya ingat, karena di situlah tokoh-tokoh pergerakan nasional pernah diasingkan oleh Belanda, di antaranya adalah Bung Hatta (sang proklamator). 

Setelah rapat, kami diberikan biaya perjalanan dan honor awal, sebelum ke lokasi riset. Saya tidak ingat dengan baik, apakah kami ke Harmahera dulu atau ke Boven Digul. Jelasnya, setelah mendapat dana itu, saya langsung singgah di Bank BNI Kancab Unhas Tamalanrea untuk melunasi biaya kuliah, dan sisanya saya bawa pulang ke rumah. Alhamdulillah, dalam hati saya berkata, "saya sudah bisa kuliah di UI".

Kisah di atas menjadi awal bagi saya tidak percaya dengan Mitos Kuliah, seperti yang sering saya dengar dari orang lain. 
Ternyata, Allah SWT melapangkan jalan bagi saya untuk belajar di Universitas Indonesia. Kesempatan itu sekaligus mewujudkan mimpi ayah dan ibu saya untuk menyekolahkan anak pertama mereka di Jakarta (lokasi pertama kampus UI, sebelum pindah ke Depok)

Kukusan Depok Jawa Barat
Selasa, 29 Januari 2019.
Repost 8 Agustus 2024

Membongkar Mitos Kuliah (1)

Oleh: Abd. Rahman Hamid

Setelah menamatkan pendidikan program doktor di Universitas Indonesia (2019), saya makin yakin bahwa kuliah harus punya banyak uang (tabungan) adalah Mitos. 

Saat pertama kali saya mendaftar kuliah di kampus besar ini, Universitas Indonesia (UI), banyak orang mengira bahwa saya punya banyak tabungan, kalau ditaksir ratusan juta rupiah. Tak jarang, ada yang bertanya kepada saya, "berapa saving dana Anda untuk (berani) kuliah di UI?". Saya sulit menjawabnya, karena saya tidak punya tabungan sampai ratusan juta rupiah. Bahkan, seingat saya, tabungan saya tak pernah sampai seperempat dari seratus juta. Bahkan, kadang saya meminjam (hutang) kepada kerabat dan sahabat, tetapi tidak pernah sampai lima juta rupiah; jika kekurangan biaya studi. 

Saya juga tidak pernah mendapat beasiswa reguler selama masa kuliah (2013-2019).
Saya kontrak di sebuah kamar kecil di Kelurahan Kukusan (Gang H.M. Firdaus) Beji Depok, dengan sewa mulai 350 sampai 600 ribu per bulan. Sewa tersebut naik setiap tahun. 

Pada tahun pertama dan awal tahun kedua, hampir setiap bulan saya pulang-pergi Makassar - Jakarta - Depok. Rata-rata dua atau tiga kali sebulan. Tiket pesawat pulang-pergi antara dua sampai tiga juta, ketika harga tiket normal. Pada akhir atau awal tahun, harga tiket sering melambung tinggi, bisa mencapai empat juta pulang-pergi. Sudah barang tentu, saya mencari harga yang paling murah. Syukurlah, saya punya langganan travel (Mekar Jaya - Makassar) sejak 2013, dan saya selalu minta dicarikan harga tiket yang paling murah. 

Tak jarang, bila kuliah batal atau dipindah waktu nya, karena alasan tertentu, saya harus tinggalkan bandara dan kembali ke rumah atau batal ke bandara Sultan Hasanuddin Makassar, alias batal ke Jakarta, dengan tiket PP yang sudah saya beli. Walhasil, tiketnya hangus. Maklum, pada tahun pertama sampai ketiga, saya belum paham soal proses pengembalian dana jika batal terbang. 

Karena tuntutan pekerjaan, sebagai Koordinator Wilayah Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial RI di Provinsi Sulawesi Selatan, sering kali saya ke Depok ikut kuliah dengan penerbangan pertama (jam 5 atau jam 6 pagi) dan kembali lagi pada malam hari dengan penerbangan terakhir dan tiba di Makassar pada dini hari. Itu terutama jika ada kunjungan pejabat negara ke Sulsel untuk kegiatan PKH. 
Pada tahun ketiga, setelah Ujian Proposal Disertasi, saya ke Depok satu sampai dua kali per dua bulan. 

Pada tahun keempat dan kelima, hampir sekali tiap bulan saya ke Depok untuk bimbingan dengan pembimbing (promotor atau kopromotor). Paling lama tiga sampai empat hari saya di Depok, dan sering kali hanya satu sampai dua hari. Biasanya, setelah bimbingan pagi atau siang, saya langsung ke Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Jakarta sore hari untuk kembali ke Makassar. 

Setiap kali pulang dari Depok, saya membawa beberapa buku yang saya beli untuk bahan kuliah atau bacaan penunjang kuliah. Sering kali anak saya bilang begini, "bapak ini bawa buku terus kalau dari Depok", paling saya jawab, "karena bapak adalah anak sekolah [kuliah]" 

Setiap kali ke toko buku Gramedia Depok atau toko buku kecil di kampus (Cak Tarno), saya membeli minimal satu buku. Belum lagi copy-an sejumlah buku koleksi perpustakaan Universitas Indonesia, juga belanja buku di lorong jalan masuk kampus (searah Gang Kober). 

Kalau dihitung secara matematik, pengeluaran di atas lebih besar dari pendapatan saya. Mungkin itulah kemudahan dari Allah SWT bagi saya dalam proses studi. 

Depok Minggu, 27 Januari 2019
Repost, Selasa 6 Agustus 2024

PILGUB SULBAR 2024 || Peluang dan Tantangan


Catatan Muhammad Munir

Pilkada Serentak 2024 di Indonesia merupakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang akan dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia pada 27 November 2024. Pilkada ini akan memilih gubernur, bupati, dan wali kota di berbagai daerah yang masa jabatannya berakhir pada tahun 2022 hingga 2024. Pilkada serentak ini merupakan bagian dari rencana besar pemerintah untuk menyelaraskan jadwal pemilu nasional dan daerah dalam satu periode pemilihan.

Pilkada kali ini akan diadakan di lebih dari 500 daerah, termasuk 37 pemilihan gubernur, 115 pemilihan wali kota, dan 276 pemilihan bupati. Termasuk Propinsi Sulawesi Barat. Dari pantauan penulis, setidaknya ada 4 kontestan yang dipastikan akan berkontestasi di Pilkada Gubernur Sulawesi Barat. Mereka adalah :

1. Andi Ali Baal Masdar - Arwan Aras
Ali Baal Masdar atau ABM adalah petahana hasil Pilgub 2017 - 2022 yang saat itu menggandeng Enny Angraeni Anwar. Kali ini, ia dengan mantap memilih Arwan Aras sebagai wakilnya. Mantan Bupati Polman dua periode ini selain lawan tanding SDK dan Prof. Husain, ia sekaligus akan berkontestasi dengan Andi Ibrahim Masdar (AIM) yang tak lain adalah adik kandungnya yang juga mantan Bupati Polman dua periode.

2. Suhardi Duka - Salim S. Mengga

Suhardi Duka atau SDK adalah Mantan Bupati Mamuju dua periode yang pada Pilgub 2017 merupakan rival dari ABM dan Jendral Salim Mengga atau JSM. Pada Pilgub kali ini, SDK dan JSM membangung komitmen untuk bergandengan dalam memenangkan pemilihan Gubernur Sulawesi Barat 2024.
Pasangan SDK - JSM ini oleh beberapa kalangan dianggap memiliki peluang jadi pemenang Pilgub karena JSM dikenal sebagai politisi yang banyak miliki pendukung fanatik.

3. Andi Ibrahim Masdar - Asnuddin Sokong
Andi Ibrahim Masdar atau AIM adalah mantan Bupati Polman dua periode yang juga adik dari ABM. Pemilik jargon Sulbar Jago ini menggandeng Asnuddin Sokong, politisi dan pengusaha SPBU yang tergolong sukses di wilayah ini.

4. Husain Syam - Enny Angraeni Anwar

Husain Syam adalah putra Mandar kelahiran Kanang. Ia adalah birokrat, mantan Rektor UNM dua periode yang terjun ke dunia politik praktis. Tak tanggung-tanggung,  ia maju menggandeng Enny Angraeni Anwar sebagai wakilnya di Pilgub Sulbar. Enny adalah istri Anwar Adnan Saleh, mantan Gubernur dua periode. Enny sendiri adalah mantan wakil gubernur periode 2017-2022.
Enny dan ABM pecah kongsi dan memilih menjadi wakil dari Husain Syam.

Keempat pasangan Calon Gubernur ini dipastikan akan sangat seru mengingat mereka adalah putra-putra terbaik daerah yang memiliki rekam jejak yang nyata. Disamping itu,
Pilkada 2024 ini akan dihelat sebagai upaya untuk menyatukan jadwal pemilihan kepala daerah untuk meningkatkan efisiensi dan menekan biaya penyelenggaraan pemilu.

Karena dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia, pilkada ini membutuhkan persiapan yang matang, terutama terkait logistik, distribusi surat suara, keamanan, serta pendidikan pemilih. Pilkada serentak ini diharapkan bisa mendorong partisipasi politik yang lebih luas dan meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia.

Peluang dan tantangan pilkada serentak

Pilkada Serentak 2024 membawa peluang sekaligus tantangan yang signifikan bagi demokrasi dan pemerintahan di Indonesia. Berikut adalah beberapa peluang dan tantangan yang muncul dalam pelaksanaan Pilkada Serentak 2024:

Peluang:
Konsolidasi Demokrasi:
Pilkada serentak memperkuat konsolidasi demokrasi di Indonesia dengan menyelaraskan proses pemilihan kepala daerah di berbagai tingkat. Ini memungkinkan integrasi kebijakan dan program yang lebih harmonis antara pusat dan daerah.

Efisiensi Anggaran:

Dengan menggabungkan jadwal pilkada, negara dapat menghemat anggaran karena biaya penyelenggaraan pemilu dapat ditekan. Pengeluaran untuk logistik, sosialisasi, dan keamanan dapat dilakukan secara terpadu.

Peningkatan Partisipasi Politik:

Pilkada serentak dapat meningkatkan partisipasi pemilih karena pemilihan diadakan bersamaan dengan agenda politik nasional yang lain, seperti Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden. Hal ini bisa memobilisasi pemilih untuk lebih terlibat dalam proses demokrasi.

Peningkatan Stabilitas Pemerintahan:

Kepala daerah yang terpilih pada Pilkada 2024 akan menjabat hingga 2029, sehingga memberikan stabilitas pemerintahan daerah dalam jangka waktu yang lebih lama. Ini juga memungkinkan program pembangunan yang lebih berkesinambungan.

Tantangan:
Kompleksitas Logistik dan Teknis:

Mengelola pilkada di ratusan daerah secara serentak merupakan tantangan logistik yang besar. Distribusi logistik, pengawasan, serta penghitungan suara membutuhkan koordinasi yang sangat kompleks.

Potensi Konflik Politik:

Persaingan politik yang intens di banyak daerah dapat memicu konflik, terutama jika tidak ada mekanisme penyelesaian sengketa yang efektif. Ini bisa mengganggu proses pilkada dan stabilitas daerah.

Kualitas Pemilih dan Pendidikan Politik:

Rendahnya kualitas pendidikan politik di beberapa daerah dapat mempengaruhi kualitas pemilih. Tanpa pendidikan politik yang memadai, pemilih mungkin kurang memahami pentingnya pilkada dan memilih berdasarkan pertimbangan yang kurang rasional.

Tantangan Integritas:

Isu mengenai politik uang, manipulasi data pemilih, serta intervensi dari aktor-aktor politik pusat menjadi tantangan besar dalam menjaga integritas pilkada. Pengawasan yang kuat dan transparansi sangat penting untuk memastikan hasil yang adil.

Keamanan:

Mengamankan pilkada serentak di seluruh Indonesia dengan situasi keamanan yang beragam di setiap daerah membutuhkan pendekatan yang strategis. Potensi kerusuhan atau aksi kekerasan harus diantisipasi dengan baik.

Kesimpulan:
Pilkada Serentak 2024 adalah momen penting dalam proses demokrasi di Indonesia yang bisa membawa perubahan positif. Namun, tantangan yang ada perlu diantisipasi dan dikelola dengan baik agar pelaksanaannya berjalan lancar dan hasilnya dapat diterima oleh semua pihak. Dukungan dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintah sangat penting untuk memastikan bahwa peluang-peluang ini bisa direalisasikan, sementara tantangan-tantangan tersebut dapat diminimalkan.

Senin, 12 Agustus 2024

AKU DAN AYAHKU


Oleh: Abd Rahman Hamid 

Tiba-tiba saja saya terpikir tentang Ayahku, Supina Hamid. Ia meninggal saat saya kelas 4 SD. Pekerjaanya adalah Guru SD Inpres Erang, Kec. Seram Barat, Kab. Maluku Tengah, Provinsi Maluku. 

Ayah tamat Pendidikan Guru Agama (PGA) 6 Tahun di Tulehu, sehingga kemudian menjadi Guru Agama. Namun karena di SD, maka ia harus bisa nengajar semua mata pelajaran di kelas. Maklum, jumlah guru sangat terbatas. 

Berlatar kehidupan ayah sebagai guru itulah membuat saya sejak kecil, setidaknya dalam setiap ada tugas mengarang di sekolah, bercita-cita untuk menjadi guru. 

Apa yang saya tuliskan saat itu hampir semuanya terwujud. Setelah tamat SMP di kampung, saya melanjutkan studi di SMK N 1 Ambon (Waiheru) 1997-1999. Namun, karena konflik, saya terpaksa pindah ke Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (1999-2000). 

Yang berbeda saat kuliah. Menurut karanganku, saya akan kuliah di Universitas Pattimura Ambon, kampus kebanggan bagi semua anak2 di Maluku. 

Faktanya, saya kuliah di Univerisitas Negeri Makassar, pada jurusan Pendidikan Sejarah (2000-2004). Di sini saya belajar untuk menjadi guru, sebagaimama pernah saya tulisan dalam karangam Cita-citaku. Setelah tamat, saya mengajar sebagai Dosen LB di almamaterku, hingga akhirnya lanjut S2 di Universitas Hasanuddin, sembari saya mengajar (tentor) di Bimbel Ganesha Operation. Aktvitas ku seputar dunia pengajaran (alias guru). 

Tahun 2015-2019, saya lanjut studi S3 di Univ. Indonesia Jakarta. Saat masih kecil, ayahku selalu bilang bahwa jika kami besar nanti sekolah di Jakarta, ibukota RI. Pasalnya, cerita ibuku, bahwa dulu ayah punya rencana mau ke Jakarta bersama teman2 di kampung, tetapi karena kendala biaya, ia tidak bisa pergi. Lalu, ia bilang ke teman2nya, kalau saya tidak bisa ke Jakarta  nanti anaknya yang akan ke Jakarta kelak. Alhamdulillah, mimpi ayah itu saya wujudkan saat kuliah di UI. 

Setelah 15 tahun (2005-2020) menjadi dosen tidak tetap di Makassar (pada 3 kampus: UNM, Unhas, dan UIN Alauddin), akhirnya saya menjadi dosen tetap atau ASN di UIN Raden Intan Lampung (2020-sekarang). Jadi, cita-cita yang pernah ku tulis di selembar kertas kala SD pun terwujud, yakni sebagai guru bagi mahasiswa di kampus, alias dosen. 

Dua kenangan tentang Ayahku

Foto di bawah, ayah mengenakan baju dinasnya sebagai guru SD Inpres Erang bersama temannya, Pak Enos (seorang Kristiani, yang pernah berniat mengikuti keyakinan ayahku, tetapi belum terwujud sampai ajal menjemput ayahku, 1994). Hubungan mereka begitu akrab. Saat di tempat tugas, kami tinggal di rumah dinas sekolah. Bilik yang kami tempati bersebelahan dinding dengan bilik keluarga Pak Enos. 

Kalau ayah ke sekolah mengajar, saya sering ikut masuk di kelas, walau sering ke sana ke sini, alias mengganggu siswa2 yang sedang belajar. 

Ada satu kebiasaan ayah ku. Setiap tahun ajaran baru, ayah akan ke kota Ambon untuk membelikan aku buku2 pelajaran sekolah yang lengkap. Sejak itulah, saya selalu terobsesi untuk memiliki buku2 sekolah. 

Dan, ketika ayah meninggal, ibuku selalu berupaya agar saya bisa membeli buku2 pelajaran sekolah. Dengan begitu, semangat untuk memiliki buku terus terjaga pada ku. 

Walhasil, hingga kini, saya senang membeli buku. Sering kali saya lebih banyak/lama menimbang2 saat belanja di luar buku. Tapi, soal buku, selagi ada uang, saya akan berupaya membelinya. 

Selain itu, ada lagi kesan yang tak pernah aku lupakan dari ayah. Ketika kami ke kebun kami di Tanjung Temi, kami naik perahu bercadik bersama. Saya dusuk di depan dan ayah di tengah mendayung perahu. Tetapi, saat kami pulang, perahu penuh dengan muatan, sehingga ayah tak dapat baik di perahu. Maka, aku lah yang harus mendayung perahu dari Tanjung sampai di kampung. 

Ayah tak peduli soal ombak dan angin saat itu. Bila perahu telah didorong ke tengan laut, walau berseberangan dengan ombak, maka saya harus berusaha keras menerjang ombak hingga ke tengah laut sampai kondisi tenang. Ayah berseru "dayunglah ke tengah laut hingga tiba di kampung". Ayah akan marah sekali bila ada gelagat dari saya akan kembali ke pantai, akibat diterpa ombak. Ayah mengajariku untuk menghadapi ombak itu. Begitu pula saat akan tiba di kampung. Saya harus bisa mengendalikan perahu sampai tiba di tepi pantai dengan dihantar oleh gelombang ombak laut. Untunglah, rumah kami di tepi pantai, sehingga tak perlu harus memikul barang2 lebih jauh ke rumah. 

Itulah dua hal yang selalu aku ingat dari kenangan bersama ayah. Dia mewariskan karakter mencintai buku dan kerja keras. Menjadi dosen/guru adalah cita-citaku sejak ayahku, juga seorang guru, masih hidup. 

Dari 4 bersaudara (Abd Rahman, Rahmawati, alm. Yasir, dan Zulfina lalu diganti menjadi Nur Aisah; semuanya pakai marga/nama belakang Hamid, yang dia bil dari nama kakek kami, Hamid), saya adalah anak pertama dan yang meneruskan profesi ayah sebagai guru. 

Karena teringat dengan sosok ayah ku, hari ini saya minta adiku, Wati, untuk mengirimkan foto ini.

Jumat, 09 Agustus 2024

SUHARDI DUKA || Menenun Layar Masa Depan (1)



Disunting oleh Muhammad Munir

SUHARDI DUKA, demikian nama lengkap dari sosok birokrat dan politisi yang akrab disapa SDK ini adalah inspirasi bagi anak negeri ini khususnya generasi Mandar (baca: Sulbar). SDK tentu tak harus dibaca hanya pada level saat ini. Bahwa mantan Bupati dua periode dan Anggota DPR RI 2019-2024 yang kembali terpilih pada Pemilu kemarin ini  adalah sosok yang pernah merasai pahit getir kehidupan yang ia nikmati prosesnya. SDK pernah merasakan naik vespa tua yang setiap harinya dipakai ke Kantor Departemen Penerangan Mamuju. Itu ketiks masih menjadi seorang PNS. Ia lalu beranjak dari zona itu dan mulai menikmati empuknya jok dan laju Pajero ketika menjadi Bupati Mamuju. Sekarang pun ia menikmati jerih payahnya itu sebagai wakil rakyat di Senayan. Putra putrinya sukses dibidangnya masing-masing. Ada yang Ketua DPRD Propinsi, ada yang Bupati dan lainnya.

Apakah posisi SDK hari ini dicapai dengan instan? Tentu tidak. Dalam sejumlah narasi yang penulis temukan SDK itu lahir dari keluarga yang bukan Putra Mahkota di Kerajaan Mamuju, Ia juga bukan anak Gubernur atau anak Bupati yang hidup dalam gelimang harta dan dimanjakan fasilitas. Bapaknya  hanya seorang Staf di Kantor Depdikbud Mamuju yang tentu jauh dari kehidupan mewah. SDK adalah sosok yang berhasil menjadi kapten bagi hidupnya dan tuan bagi nasibnya. Dalam posisi ini, SDK layak jadi panutan yang diedukasi pada setiap tingkatan masyarakat Sulbar. Bahwa salah satu harapan kita adalah, munculnya manusia-manusia intan yang lahir dari proses, bukan manusia instan yang lahir tanpa proses.


Mengenal Kehidupan SDK Kecil.

SDK lahir di Mamuju pada 10 Mei 1962. Bapaknya bernama Abdul Muttalib Duka. Potret kehidupan SDK dari kecil lahir dan bertumbuh layaknya anak-anak kampung. Ia akrab dengan alam dan lingkungan sekitar. Setiap musim panen padi di sawah, SDK bersama anak-anak lainnya berhamburan untuk sekedar bermain padi-padian dan mengambil daun padi yang lebar lalu di bentuk seperti perahu. Perahu buatannya itu dilombakan dengan temannya pada genangan air. Proses ini pasti tak akan difahami oleh anak-anak milenial, terlebih generasi Z.

SDK juga akrab dengan lingkungan sungai, berenang di arus deras, memanjat pohon mangga, langsat dan lainnya. Kadang juga ikut nakal memanjat buah-buahan milik warga meski niatnya sekedar iseng dan main-main. Ini potret anak-anak kampung pinggiran yang tak kenal game, penulis juga sempat merasakan ini pada dekade 80-90an. Ketika menginjak bangku sekolah SD bahkan sampai SMP, SDK kecil masih saja nakal. Bolos dan merokok tak lagi terpisahkan dari keseharian SDK. Merokok ini rupanya sangat dibenci oleh bapaknya, kendati kebiasaan merokok itu tidak menjadi persoalan bagi SDK du sekolah, sebab ia punya om di sekolah yang ia tempati belajar.


SDK Remaja : Mulai Berubah

Waktu terus berjalan mengitari proses kehidupan seorang SDK. Kenakalan dari kecil sampai tamat dibangku SMP mulai kelihatan berubah ketika usianya menanjak dan masuk ke SMA Negeri 1 Mamuju. Pikirannya sudah mulai memformat dirinya untuk bisa meraih prestasi. Ia mulai tekun belajar, terlebih saat didapuk jadi ketua kelas. Ia bahkan mulai membuat ruang kreatif bernama Study Club dan dipercaya menjadi ketua. Ini membuat SDK menjadi lues bergaul, termasuk dengan anak-anak pejabat di Mamuju. Baginya, status sosial dan kondisi ekonomi bukan penghalang baginya untuk berbaur. Bakat kepemimpinan mulai tertanam saat jadi ketua kelas dan Study Club. Kecendrungannya menyukai bidang studi IPS terbaca dengan kegemarannya menyerap dasar-dasar ilmu politik.

3 Tahun di SMA mengubah SDK menjadi seorang remaja yang berprestasi. Ia lulus ujian dan meraih peringkat lulusan terbaik. Atiek Sutedja, Bupati Mamuju kala itu hadir mengalunkan pita ke leher SDK disaksikan oleh ayahnya di acara perpisahan yang dihelat di Aula SMA Negri 1 Mamuju. Hal yang membahagiakan SDK adalah prestasinya diganjar dengan nominal rupiah yang khusus diperuntukkan membiayai pagar sekilahnya. Ini menjadi modal sosial yang kelak dinikmati oleh adik-adik kelasnya. Di acara itu, SDK disorot oleh ratusan pasang mata para orang tua siswa dan 100 orang siswa yang tamat, termasuk sosok seorang gadis yang pernah ia kagumi tentunya.

Setelah tamat SMA, SDK nekat ke Makassar. Tak ada yang ia harapkan jadi pengurus untuk lanjut kuliah. Tekad untuk melanjutkan studi di Makassar terus menggunung. Praktis, ia masuk kota Makassar bagaikan masuk hutan rimba. Baginya, menjadi mahasiswa UNHAS adalah impiannya. Dan tercatat, SDK adalah satu-satunya siswa asal Mamuju yang namanya tercantum pada kolom pengumuman di Kampus Baraya Unhas. Ia tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UNHAS tahun 1981.

Sejak menjadi mahasiswa di Kampus Unhas Baraya, SDK melabuhkan pilihannya pada organisasi ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dari sini ia mulai melayari dinamika politik nasional, meski pada pemahaman paling dasar. Dari SDK kian matang setelah tercatat jadi pengurus PMII Komisariat Unhas yang bersamaan sebagai pengurus organisasi intra kampus yakni Komisariat Korps Mahasiswa Publisistik (Komapu). Selain itu, ia juga bergabung pada penerbitan kampus Tabloid Identitas, salah satu media kampus terbaik di tingkat nasional pilihan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta dan Lembaga Pers Doktor Sutomo Jakarta. Dari sinilah SDK mendapatkan kesempatan ketemu penulis penulis ternama sekelas Sinansari Ecip dan Goenawan Mohammad.

Selain bergabung di organisasi Ekstra dan Intra Kampus, SDK juga menjadi bagian dari organisasi HIPERMAJU. Aktif berorganisasi rupanya tak menghambat kuliahnya, ia bahkan kian matang. Itu karena SDK tak pernah melewatkan dinamika yang terjadi. Ia bahkan terlibat dalam aksi pembakaran mobil Wali Kota Madya Ujungpandang, Kolonel Abustam. Beruntung, Ahmad Amiruddin kala itu mengayomi mahasiswanya sehingga tak ada satupun yang dapat sanksi skorsing. Ahmad Amiruddin faham betul bahwa tindakan Abustam mencampuri urusan kampus dengan dalih sesuai aturan NKK-BKK adalah tindakan yang melanggar otonomi kampus.


Pernikahan SDK

SDK yang dikenal sebagai aktifis di kampus itu tentu menjadi primadona. Tapi ada sosok yang membuat hatinya tertaut ketika pertama ketemu di sebuah pesta salah satu kerabatnya. Sosok itu tak lain adalah Harsinah, mojang Gowa yang parasnya nyaris menguasai tidurnya. Gejolak hatinya begitu membuncah hingga akhirnya ia memutuskan untuk  mempersunting gadis pujaannya itu. Ketika itu Tahun 1983, SDK berusia 21 tahun dan masih berstatus sebagai  mahasiwa. Ayahnya merestui untuk menikah dan hadir sebagai penyaksi ikatan suci putranya dengan Harsinah. Keduanya telah sepakat untuk hidup bersama dalam suka duka. Setahun kemudian lahir anaknya yang pertama bernama Sutinah Suhardi.

Kelahiran anaknya yang pertama membuatnya harus bekerja untuk kebutuhan keluarga dan biaya kuliah tentunya. Ia mulai bekerja di BKBN dan TVRI Makasaar sampai pada tahun 1985 terbuka penerimaan pegawai di Departemen Penerangan (Deppen). SDK diterima masuk PNS dengan Golongan II dan ditempatkan di Mamuju. Praktis SDK harus menyelesaikan kuliahnya yang tinggal setahun dijalaninya sekaligus sebagai PNS. Selesai kuliah, SDK mendapatkan dua hal berharga, yaitu ijazah sebagai tanda pernah belajar dan istri serta anak sebagai tanda bahwa ia adalah anak muda yang bertanggung jawab.   

Tahun 1986, SDK berupaya penyesuaian menjadi Golongan III dan pulang ke Mamuju bersama keluarga kecilnya. Ia kembali ke kampung halamannya membawa modal berupa ijazah sarjana, pengalaman organisasi, seorang istri yang setia, satu orang anak dan SK PNS.

BERSAMBUNG 

SIAPA PEMIMPIN IDEAL UNTUK SULBAR ?


Catatan Muhammad Munir


Pengantar

Menjelang Pemilihan Gubernur Sulawesi Barat tahun ini kian seru. Sebelumnya Pasangan PHS - ARWAN penuh sorak sorai pendukung dengan ekspektasi Golkar akan menjadi kendaraan politiknya di Pilgub Sulbar. Disusul SDK - JSM melakukan Roadshow politik dengan rute Bandara Tampapadang ke Rumah Jonga. Pasangan ini melakukan Konferensi Pers di Rumah Jonga yang ikut dihadiri ribuan massa pendukung. Hari ini (8 Agustus 2024) konstalasi politik berubah setelah DPP  Partai Golkar mengumumkan Padangan ABM - ARWAN untuk maju sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat 2024-2029. Ini tentu menjadi pukulan telat bagi Prof. Husain Syam, sebab pada akhirnya, Arwan Aras yang tadinya digadang-gadang sebagai wakilnya justru berlabuh di Matakali bersama Golkar. Kini, Arwan resmi berpasangan dengan ABM.


Praktis, beberapa hari ke depan, kita akan masih dijejali informasi terkait langkah Sang Professor Andalan itu memilin nasibnya, apakah masih akan percaya diri melanjutkan hajatan setelah kehilangan Arwan dan Partai Golkar?. Termasuk kita masih menunggu informasi dari AIM, pemilik tagline Sulbar Jago akan terus melangkah maju menjadi rival ABM yang tak lain adalah kakak kandungnya?. Bisa jadi ia, sebab AIM dikenal tak pernah mundur atas semua pilihan politiknya, sebagaimana Pilkada Polman 2008, ia dengan bangga berkontestasi dengan saudara kandungnya sendiri.


Memilih Pemimpin atau Penguasa

Setidaknya, dari 4 sosok yang sebagian masih berburu partai untuk kendaraan politiknya, ada hal prinsip yang bahkan wajib untuk kita perbincangkan dari momentum ini, yaitu 'Pemimpin VS Penguasa'. Mengapa harus memaketkan kata 'Pemimpin' dan 'Penguasa' ? Sebab dari Pilkada ini akan lahir penyandang salah satu dari sifat Tuhan yaitu sebagai Pemimpin dan sebagai Penguasa. Membincang kedua kata itu, masih menjadi hal menarik sebab dari rahim UU Pilkada inilah kemudian lahir sebagai pemimpin dan penguasa.

Lalu apa indikator kita memberi nilai pada sosok pemimpin dan penguasa yang akan dilahirkan di Pilkada kali ini ?. Mari kita runut defenisi pemimpin itu sendiri, kerena pemahaman pada arti kata pemimpin ini, ketika tak mampu memberi nilai pada predikat pemimpin yang disandang, maka sebut dan panggil ia penguasa. Penguasa yang hanya menjadikan jabatan sebagai status sosial untuk gagah-gagahan di depan rakyat yang tentu saja ia beli saat kampanye. 


Menelisik Arti Kata Pemimpin

Secara harfiah Pemimpin adalah orang yang memiliki kelebihan sehingga dia mempunyai kekuasaan dan kewibawaan untuk menggerakkan, mengerahkan, dan membimbing  bawahan. Dalam pengertian lebih luas Pemimpin adalah seseorang yang memimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, menunjukkan, mengorganisir dan mengontrol usaha orang lain atau melalui prestise kekuasaan.

Adapun pengertian pemimpin menurut para ahli antara lain; Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, mengatakan bahwa Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
Sementara Robert Tanembaum mengatakan, pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan. Lebih lanjut Prof. Maccoby, menjelaskan bahwa pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius, dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif, kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan. Di lain pihak Lao Tzu, menilai bahwa pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain, sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu.

Yang menarik kemudian dari beberbagai penjelasan tentang pemimpin adalah almarhum Prof. DR. Darmawan Mas'ud Rahman, dalam desertasinya yang sudah dibukukan, secara gamblang menarasikan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang yang mau menjadi pemimpin. Berikut saya kutip secara singkat penjelasan beliau, bahwa ada 4 point yang harus dimiliki seorang yang mau menjadi dan dijadikan pemimpin, yaitu: Bija (turunan karena darah), yaitu (1) Bija to mappatumballe' lita' (penjaga dan penyelamat negri), bija maasse'i lokko' anna siri' (menjaga utuhnya aib dan malu), bija tau dipesissi'/dipebulu (disegani karena memiliki sifat -sifat yang utama), bija tau pia (turunan mara'dia atau turunan adat). (2) Manarang (berilmu), matadang pikkirang (berfikiran tajam), Matadang nawa (inisiatif dan inovatif), Matadang pe'ita (berpandangan jauh kedepan, visioner), Matadang ate (cerdas dan terampil) (3). Barani (berani dan berjiwa pejuang), barani di loa tongan (berani mempertahankan kebenaran), barani maasse'i bottu loa (berpegang teguh pada pendirian), Barani mappadiang sara mapia (berbuat untuk kebaikan), Barani simateang anna sianusan tau maranni (berani mati untuk rakyat). (4) Sugi' (mempunyai kemampuan dan kekayaan), sugi' di nawa-nawa (kaya imajinasi), sugi' di paissangan (kaya ilmu pengetahuan), sugi' di perasa (kaya pengalaman), sugi' di barang-barang (kaya harta)


Belajar Dari Sejarah

Abu Dzar Al Ghifari, adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang terkenal shaleh, amanah. Suatu hari ia menghadap junjungannya dan berkata; " Wahai Rasulullah, berikanlah kepadaku satu tanggung jawab politik, angkatlah aku menjadi salah seorang staf kepercayaanmu untuk mengurusi pemerintahan sebagaimana Ali dan Usamah."

Rasulullah menjawab dengan sangat bijak; " Abu Dzar, kamu adalah salah satu dari sahabatku yang terbaik, setia dan amanah. Tidak ada yang meragukan kesabaran dan keikhlashanmu, akan tetapi kamu tidak memiliki kecakapan politik juga mengurusi pemerintahan."

Melalui kisah ini, manusia agung itu memberikan penegasan kepada mereka yang ingin terjun kedalam dunia politik dan tanggung jawab pemerintahan. Melalui pesan sejarah ini juga mungkin Rasulullah ingin mengingatkan bahwa tanggung jawab sosial adalah amanah yang harus ditunaikan oleh setiap manusia dan keharusan itu tidak melulu menjadi pemerintah, berkuasa atau menjadi pejabat publik. Sebab menjadi pejabat pemerintahan membutuhkan kematangan mental dan keahlian khusus dalam menangani persoalan-persoalan masyarakat (pa'banua) yang tentu membutuhkan pendekatan akademis lalu menentukan dengan adil beberapa kebijakan yang akan diambil. Tanpa itu, Nabi mewanti-wanti untuk tidak memasuki tanggungjawab yang pada akhirnya marruppu-ruppu banua.

Dalam bukunya, Catatan Bangsa Yang Sakit (2012), Maenunis Amin membentuk dua spektrum analogis terkait pesan nabi pada kisah Abu Dzar tersebut; Pertama: Abu Dzar tidak diberikan tanggung jawab politik padahal ia seorang yang shaleh dan amanah, apatah lagi kepada orang yang tidak amanah, berperangai buruk dan khianat. Kedua: nabi tidak menjadikan faktor kedekatan ataupun kekerabatan untuk amanah politik, apatah lagi jika harus menjadikannya sebagai warisan turun-temurun (politik dinasti).

Apakah lantas Abu Dzar Al Ghifari kecewa atas keputusan Nabi yang agung itu. Tidak ! Abu Dzar justru menerima dengan lapang hati nasehat junjungannya tersebut. Dan terbukti Abu Dzar tanpa menjadi pelaku politik ia menjadi tokoh sejarah yang ditulis dengan tinta emas yang mengukir semangat kebijaksanaan, kerendahan hati, dan sikap mendahulukan kemaslahatan dari sekedar mengobar nafsu kuasa dan keinginan menjadi pejabat.


Me-Redefenisi Kata Politik

Dari beberapa uraian tentang Pemimpin dalam sudut pandang tokoh dan sejarah yang saya urai diatas, mari kita mengerucutkan persoalan dengan menggali khasanah kebudayaan kita sebagai orang Mandar, yang nota bene berdiam dan menjadi wajib pilih dalam proses Pilkada ini.  

Hal yang tak bisa kita abaikan adalah bahwa dalam proses pilkada nanti, kata politik yang menjadi hulu dari dari sebuah pemilihan tentu harus bermuara pada situasi yang tidak bisa tidak, harus bisa meredefenisi kata politik secara ilmiah, sebab dalam beberapa proses pemilihan yang pernah ada, masyarakat tentu harus bisa belajar dan menjadi tercerahkan tentang pemaknaan tentang kata politik tersebut. Jika kita mau bijak, sejatinya sekarang kita memahami Politik sebagai amanah sosial untuk hidup saling menghidupi secara jujur dan adil. Politik adalah kematangan mental dan kerendahan hati dalam kekuasaan. Politik adalah keahlian akademis dan bukan lingkaran warisan atau sekedar barang oplosan yang diraih dengan uang.

Kendati meredefenisi makna politik ini sebagai sebuah keharusan, tentu hal ini tak akan serta merta memberi positif side efect yang signifikan dari masyarakat kita yang terlanjur terkontaminasi fikirannya dan menganggap politik sebagai sebuah ajang sipage-pagengge, tipu menipu, sikut menyikut dll. Namun kondisi ini kita harapkan dengan regulasi sistem pilkada yang mengacu pada UU Pilkada yang baru, maka pragmatisme dalam proses pemilihan, sejatinya melahirkan kesadaran kolektif dengan merubah paradigma masyarakat kita tentang arti, makna, hakikat dari sebuah kontestasi politik di Pilkada.

Tentu saja upaya ini tidak serta merta mampu mengubah pola fikir dan laku para konstituen secara akar rumput, sebab sebagian dari mereka terlanjur terbiasa dengan praktek-praktek politik kotor dari politisi yang haus kekuasaan dengan logika uang. Sehingga di lapangan kita kerap masih harus mengurut dada dari masyarakat kita yang apatis melihat proses pemilihan yang tak dibarengi dengan sistem pendidikan politik yang cerah dan mencerahkan.

Sikap apatis itu juga kemungkinan berupa  golput, karena mereka telah membuat generalisasi serta asumsi bahwa pilkada hanya sekedar rutinitas politik lima tahunan yang toch tidak akan signifikan pada perubahan nasib maupun taraf hidup mereka. Atau mungkin juga sebagian akan berfikiran bahwa pilkada hanyalah ajang marginalisasi suara rakyat yang cenderung hanya menguntungkan kalangan elit politik.

Dari semua fragmen hidup yang tercipta dan terlakonkan inilah yang harus menjadi tugas dan tanggung jawab bagi penyelenggara pilkada, pemerintah dan para kandidat untuk tak lagi memberi janji, pembodohan dan mengiming-imingi rakyat dengan berbagai bentuk fasilitas yang hanya membuai mereka dengan bualan dan dandanan politik murahan.

Masyarakatpun seharusnya bisa tercerahkan dan sadar bahwa selama ini mereka menjadi produk jualan yang  tak punya nilai, dan memposisikan diri mereka, dari manusia sebaik-baik bentuk menjadi manusia yang baik untuk dibentuk. Ketika kesadaran lahir maka yang akan lahir dari pemilihan kali ini adalah Pemimpin yang bermental 'Pelayan', bukan Penguasa yang bermental 'Pengusaha'


Memilih Pemimpin dalam Perpektif Amandaran.

Mengapa Mandar ? Dari Mandarlah lahir Sulawesi Barat, dan tagline Sulbar Mala'bi' tentu harus dimulai dari cara mala'bi' memilih pemimpin dan pemimpin yang mala'bi' tentu harus bisa mengelaborasi Mandar sebagai tatanan pola dan nilai-nilai yang terkandung dari filosofi Amandaran itu.

Mandar dalam memilih pemimpin sekelas I Manyambungi Todilaling, I Billa-Billami Tomepayung, I Daetta Tommuane, Ma'ga Daeng Rioso', Tokape, I Calo' Ammana Wewang dll. Prosesnya itu dipersiapkan, mereka adalah manusia yang dipersiapkan, sejak lahir mereka ditempa, tidak sekedar dilahirkan. Saat lahir, kalangan kerajaan menanam pohon kelapa, dan pertumbuhan kelapa itu menjadi parameter dalam penilaian layak tidaknya anak tersebut dijadikan pemimpin. Jika pohon kelapa itu tumbuh dan berkembang dengan cepat (rondong tuo) maka pertanda bahwa anak itu layak dipersiapkan jadi pemimpin. Sebaliknya, jika pertumbuhannya tidak sehat (ma'doyong-doyong) hal tersebut menjadi pertimbangan untuk dijadikan pemimpin.

Hal itu terjadi karena Mandar memang dari dulu mengsakralkan pemimpin dan sangat hati-hati mengangkat pemimpin. Itu terbukti dengan tidak adanya sistem dinasti di kalangan kerajaan, sebagaimana pernyataan salah satu Mara'dia/Arajang Balanipa yang mengatakan; " Madzondong diang bongi anna lelea' pammase, mau ana'u mau appou damuannai menjari mara'dia mua' tania tonama'asayangngi pa'banua. Da muannai dai' dipe'uluang mua' masuangi pulu-pulunna, mato'dori kedzo-kedzona, apa' iyamo tu'u namuarruppu-ruppu' banua."

Inilah wujud amala'biang Mandar dalam memilih pemimpin (Mara'dia). Tidak hanya saat dilahirkan, saat mereka dipilih untuk menjadi pemimpin dan saat menjadi pemimpin, mereka dibekali dengan konsep yang jelas dan itu menjadi kewajiban untuk diimlementasikan dalam proses pemerintahannya. Pemali seorang Mara'dia untuk  melanggar dan itu menjadi patron kepemimpinan. Jika Patron itu dilanggar, maka Appe' Banua Kayyang akan menganulir atau menurunkannya dari tahta.

Hal tersebut terbaca dari ungkapan Tandibella Kakanna I Pattang yang bergelar Daetta Tommuane atau Arajang Balanipa ke-4: “ Naiya Mara'dia, tammatindo dibongi, tarrarei di allo mandandang mata dimerrandanna daung aju, dimadinginna lita', dimalimbonna rura, di ajarianna banne tau, di atepuanna agama. ”(sesungguhnya seorang pemimpin tidak akan terlena dalam lelap tidur dikeheningan malam, tidak akan berdiam diri berpangku tangan di siang hari, namun dia akan terus berfikir dan berupaya serta berikhtiar untuk meningkatkan hasil pertanian, berlimpahnya hasil perikanan, terciptanya ketentraman dankedamaian demi kelangsungan hidup manusia serta sempurnanya kerukunan beragama).

Intinya adalah Mandar tidak pernah menginginkan pemimpin yang akan marruppu-ruppu' banua, Mandar sedini mungkin mempersiapkan pemimpin untuk mappatumballe' lita'. Dari sinilah sehingga Mandar mewajibkan pemimpinnya harus punya karakter Mamea Gambana (Berani, Tegas dan jujur), Tamma' Mangaji (punya kecerdasan intelektual, memahami kondisi geografis dan demografis serta memahami tata kelola pemerintahan), Narete' Panopindang dadzanna (punya pengalaman organisasi kemasyaratan, bukan politisi karbitan), Ketiga karakter tersebut harus terbentuk sebagai pribadi pemimpin. Tujuannya adalah disamping Paindo Naung di Ku'bur Menggara-gara (punya idealisme, gagasan, ide-idenya cemerlang sehingga setelah matipun tetap dikenang oleh rakyat) juga menjadi Labuang Pio namaccappu'i nyawa (Melindungi rakyat kecil, kebijakannya pro rakyat bahkan untuk rakyat kematian bukan masalah baginya).

Inilah konsep kepemimpinan di Mandar yang tidak saja harus dijaga, dilisankan, dituliskan, akan tetapi seyogyanya menjadi acuan dalam memilih pemimpin di jazirah Mandar ini.


Kesimpulan

Dari uraian panjang ini, saya kira menjadi sebuah keharusan kepada penyelenggara, terutama kepada Partai Politik untuk selektif dalam mengusung dan menetapkan Calon Pemimpin. Sebab memilih pemimpin secara serampangan dan karbitan justru akan menjadi sebuah proyeksi pembodohan, pemiskinan dan akhirnya menyengsarakan rakyat.

Jika rakyat tak lagi bisa berdaya, jika rakyat diterlantarkan sistem, jika rakyat tak lagi menjadi prioritas pembangunan, jika rakyat tak lagi bisa menikmati kebijakan pemimpinnya, jika rakyat harus dikuasai dan melayani penguasa, dan jika rakyat hilang kepercayaannya pada pemerintah, maka tunggulah rakyat menyiapkan pemberontakan yang tidak saja menghakimi penguasa tapi juga mengembalikan masyarakat ke zaman siande bau, zaman kacau balau dan tak akan ada lagi dewa penolong yang turun dari langit. Tak ada lagi Tomanurung yang monete di tarauwe untuk menyenangi kita, tak ada lagi Tokombong dibura yang menemani kita, Tak ada lagi Tobisse Ditallang yang bisa menghibur kita, pun tak akan ada lagi Tingalor yang menelamatkan kemanusiaan kita. Yang ada hanyalah paus-paus yang haus dan hanya akan puas melihat rakyatnya mampus !

Selasa, 06 Agustus 2024

MEREDEFINISI KEMBALI MANDAR SEBAGAI WILAYAH, NILAI DAN SUKU || Sebuah Tanggapan

Catatan Muhammad Munir. 

Akhir akhir ini, Mandar kembali jadi seksi untuk dibincang. Mulai dari kata Mandar sampai slogan-slogan Amandarn semisal Tarrare diallo tammatindo dibongi dan seterusnya. Konten Mandar dan kearifan lokal yang berusia ratusan tahun itu santer menjadi konten paling akrab di jejaring media sosial. Bahkan terkesan Mark, penemu Facebook adalah pembuat aplikasi tentang Mandar.

Sampai disini, saya menemukan status di fb yang tendensinya mengundang polemik yang sesungguhnya tidak penting-penting amat didebati. Kenapa begitu, sebab selama ini memang belum terbangun kesepahaman tentang Mandar  itu, baik sebagai suku, nilai maupun sebagai wilayah geografis. 

Status Opy Muis Mandra yang menyoal terkait pernyataan Mayjen (Purn.) Salim S. Mengga saat acara Konferensi Pers di Rumah Jonga yang menyinggung Mandar sebagai Persekutuan, bukan sebagai suku. Kekhawatiran Opy jangan sampai disalah artikan bahwa Suku Mandar itu tidak ada. Itu adalah kekhawatiran yang tak beralasan. Bahwa kemudian ada yang memang ingin menyalah artikan pernyataan itu, saya yakin orang tak akan percaya, sebab Mandar atau Manda' adalah kosa kata kuno  yang terekam dalam berbagai manuskrip jauh sebelum Forum. Sipamandar atau Passemandaran terbangun dalam assitalliang di Luyo atau dikenal dengan istilah Allamungan di Luyo pada tahun 1602. 

Mandar dalam bingkai Sulawesi Barat ini harusnya tak lagi ada perdebatan tentang makna kata Mandar, sebab sesungguhnya pembacaan terhadap makna kata Mandar sesungguhnya sudah final dalam babad sejarah tanah Mandar. 

Sekilas Mandar Dalam Sejarah Peradaban. 

Mandar (dialek PBB) atau Manda' (dialek PUS) dan Menre' (Bugis versi Lagaligo) secara tekstual memang tak tercatat sebagai sebuah suku. Ia adalah kosa kata yang bermakna sungai. Kata Mandar  sebagai sungai sebangun dengan penyebutan orang-orang yang ada di wilayah geografis Sulawesi Barat. Manda' atau Mandaq ini dikenal dalam kehidupan sosial Masyarakat di wilayah pegunungan seperti Matangnga, Tabulahan dan sekitarnya (baca: PUS). Selain Mandar, penamaan sungai juga ditemukan sebagai Maloso' (peradaban Lembang Mapi dan Passokkorang), Binanga (Banggae dan sekitarnya), Lembang dan lainnya. Artinya bahwa ketika Mandar menjadi nama sungai, kita tentu tak harus marah jika kemudian Mandar adalah nama sungai, bukan suku. 

Mandar identik dengan air, air umunya dimaknai sungai dalam konsensus sejarah peradaban. Elemen air sejak Era Pongkapadang dengan Torine'ne (sekitar tahun 1100-1200). Beliau adalah moyang orang PUS dan PBB, dan keduanya memang belum menamai manamai dirinya sebagai suku Mandar. 
Ratusan tahun kemudian, Tomepayung dan Todijallo menggagas ide Allamungan Batu di Luyo pada tahun 1602 sehingga lahir kesepakatan membentuk wadah persekutuan bagi masyarakat yang ada di 14 kerajaan di Sulawesi Barat ini (baca Paku-Soremana). Dalam forum inilah lahir istilan Sipamanda', Passemandarang dan Sipamanda'. 

Kenapa harus menggunakan Mandar sebagai simbol persekutuan mereka? Karena diantara 14 kerajaan (PUS dan PBB) itu terhubung melalui jalur trasportasi yang mengandalkan sungai. Kontur tanah di wilayah PUS adalah bukit, gunung, lembah dan dataran. Sungailah yang menjadi penghubung antara gunung dan pantai. Kondisi inilah yang membuat mereka sepakat mengusung sungai sebagai persekituan yang dalam perkembangannya dikenal wilayah Konfederasi Mandar. Orang luar kemudian mencatatnya Tomandar dan tertata sebagai suku untuk membedakan georafis mereka dengan Toraja, Bugis dan Makasaar. 1908 ketika Belanda berkuasa, lagi lagi wilayah eks Persekutuan Mandar ini menjadi nama Afdeling Mandar. 

Redefinisi Makna Kata Mandar. 

Dalam berbagai sumber literatur kita memang sejak awal tidak lahir sebagai suku. Ia adalah makna yang sebangun dengan sungai, maloso, Binanga atau Lembang. Fakta-fakta tentang sungai itulah terbabgun filosofi Mandar yang diambil dari elemen air (air yang membentuk sungai. Sungai tanpa air adalah bohong). Filosofi air inilah yang kemudian menjadi nilai bagi orang Mandar karena aktualosasi dari air adalah 'mencari titik-titik terendah untuk menemukan kemuliaannya". Tak pernah terjadi air mengalir ke titik yang paling tinggi. Makna inilah yang memjadi karakter orang Mandar. Lagi-lagi Mandar adalah nilai, bukan suku. 

Lalu kemudian pernyataan Salim Mengga yang memilih kalimat Mandar sebagai sebuah persekutuan saya kira itu normatif-normatif saja tentunya, sebab ia bicara tidak dalam suasana seminar atau lokakarya sejarah. Itu adalah sambutan pada orang yang ada dihadapannya. Narasi yang terbangun mesti Mandar sebagai sebuah persekutuan sebab ia ingin merajit kebersamaan sebagai manusia yang telah diikat dalam sebuah persekutuan di Allamungan Batu di Luyo. Ini fakta yang tak bisa diubah lagi. 

Pun andai kata Salim Mengga mengatakan Mandar adalan  sebuah wilayah geografis, bukan suku. Inipun tak layak didebati, sebab faktanya di Sulawesi Barat ini ada banyak duku dan sub etnis yang mendiami jazirah Mandar Sulawesi Barat ini. Wilayahnya itu mencakup Paku Soremana, dan Seko Kalumpang dengan gugusan pulau yang salah satunya Lelerekang (meski susah dicaplok oleh Kalimantan Selatan). 

Kapan Mandar Jadi Suku? 

Mandar jadi suku sejak sejarah mencatatanya sebagai sebuah peradaban yang punya wilayah, bahasa, budaya, sejarah yang disepakati. Kesepakatan inilah yang menerima Mandar sebagai suku. Jadi saudara Opy Muis Mandra tak usah risau dan khawatir, sebab orang Sulbar sudah faham siapa itu Tomandar (Orang Mandar) , Pammandar (Orang yang datang ke Mandar) dan Toi Mandar (Pemilik Mandar). 

Tomandar adalah mereka yang dari suku lain tapi memilih tinggal dan berdomisili secara turun temurun di wilayah Mandar. Pammandar adalah mereka yang memang datang ke Mandar untuk mencari nafkah, tidak tercatat secara administrasi sebagai penduduk Sulbar. Hal ini sama dengan status orang-orang Mandar yang pergi ke Singapura, mereks disebut Passa'la' atau Passingapura dan lainnya. Adapun Toi Mandar adalah mereka yang secara genetik lahir dari ibu dan bapak dari orang Mandar. 

Kesimpulan 

Pernyataan Salim Mengga adalah seruan perekat yang tujuannya membangun persatuan dan kesatuan. Bukan pada tataran sebagai pembicara seminar resmi. Jadi jangan ditanggapi berlebihan apalagi jika sampai pada persoalan Mandar itu tidak ada. Mandar itu adalah persekutuan, Mandar itu nilai, Mandar itu wilayah dan sampai kepada Mandar sebagai Suku. Yang terakhir inilah yang mesti dibangun kesepakatan bahwa orang Mamasa tak usah dipaksa jadi orang Mandar, mereka juga Toi Mandar (pemilik Mandar), demikian juga orang Mamuju, Budong-Budong, Baras, Kakumpang, Pattae, Pannei, Pattinjo, Pakkado, Pa'denri, dan lainnya adalah Toi Mandar, bukan Pammandar. 

Kepada Saudara Opy, Kankanda adalah salah satu benteng Mandar yang punya kewajiban menjaga Mandar jika ada yang mencoba merusaknya. Kita adalah bangsa Mandar yang terikat dalam satu buhul SULAWESI BARAT yang tahun ini genap berusia 20 Tahun.
Semoga Bermanfaat. 

SALEH AS DAN TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH


Masyarakat Sulawesi Barat khususnya Mandar patut berbangga memiliki seorang penyanyi sekelas dan setenar Shale As. Lagu-lagu yang dinyanyikan bukan hanya dalam bahasa Mandar, tapi juga Bugis dan Makassar. Dan ini tentu dinikmati oleh semua etnis besar Sulawesi yang ada dirantau. Lagu yang dilantunkan oleh Shale pasti mengingatkan mereka pada kampung halaman mereka. 

Bagi penulis, lagu Shale dengan kekuatan bahasa universalnya mampu melampaui batas-batas geografis dan etnisitas. Dari mulai album Kanjengma Ri Kamaseku (Makassar), Idi'na Sabari (Bugis) dan Pitu Ana' Ende dan Larra Tembang (Mandar) telah ikut memperkuat identitas daerah dan budaya nasional. Dalam hal ini, pemerintah harusnya bisa membaca batin para seniman dan mengapresiasinya lebih terukur dan nyata sifatnya. Shale As dan seniman lainnya telah ikut melegitimasi dan mempertegas kesenimanan mereka dan menjadikan Mandar (baca: Sulbar) lebih dikenal. 

Bagaimanapun, mereka yang telah berkiprah di dunia kesenian telah ikut menjadikan masyarakat lebih halus sikap dan perangainya dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki rasa estetika yang juga akan mendukung Sulbar ini menjadi lebih mala'bi'. Cerita dibalik sosok Shale AS hari ini kadangkala membuat kita sugiging ditempat, sebab dimasa tuanya, ia harusnya menikmati jerih payahnya sebagai  pelestari lagu daerah Mandar, tapi ternyata itu tak ia rasakan. Faktanya, ia harus berjuang sendiri bersama teman-temannya dan tidak menemukan negara hadir dalam kehidupannya. 

Produktifitas yang sudah mulai menurun, penyakit yang kini bersarang ditubuhnya harusnya tak lagi menjadi beban fikirannya. Negara harusnya hadir melalui pemerintah bahwa sosok Shale As adalah tanggung jawab negara sebab negaralah yang bertanggung jawab memelihara dan memajuka kebudayaan. 

Di era milenial ini, industri album, baik berupa kaset pita maupun kepingan VCD  yang dulu menjadi tumpuan harapannya telah tergeser. Lagu-lagunya mungkin tak lagi dibajak tapi dirusak oleh pengcover lagu yang membuatnya semakin tersisih dari panggungnya. Ini tentu harus menjadi tugas bersama untuk memastikan para seniman kelas maestro itu dipelihara oleh negara (baca: pemerintah Sulbar). 

Biarkan mereka beristirahat atau tetap berkarya dengan sisa kemampuan mereka, tapi mesti ada jaminan hari tua untuk bisa menikmati sisa umur yang kini terbilang sepuh. 
AMMA SUNA (Ibunda Saleh AS) 

SALEH AS || Maestro Musik Daerah Indonesia Timur

Catatan Muhammad Munir

Shale As adalah sosok yang mesti diterima sebagai maestro musik daerah. Bukan hanya lagu daerah Mandar tapi juga Bugis dan Makassar. Mantan suami Rasti Rahman ini lahir pada bulan Maret 1958. Ayahnya bernama Jamaluddin (Tandung). Ia lahir dan dibesarkan di Wonomulyo sampai umur 10 tahun, sebab setelah itu, ia memilih meninggalkan kampung halamannya pada tahun 1968. 

10 tahun itupun terbagi ke Polewali sebab ia sempat ikut kakaknya, Husnah ke Lantora dan sempat mengenyam pendidikan dasar di SD Lantora sampai kelas 2. Ia memilih merantau ke Makassar mengadu nasib. Di Makassar, ia sempat jadi loper koran, jual rokok, jual tara'ju sampai jadi tukang parkir di pelabuhan. 

Bakat menyanyinya memang sejak kecil sudah terlihat. Ia sering menyanyi India, selebihnya adalah lagu Muchsin Alatas yang sempat ia nyanyikan saat tampil pertama di Kediri dalam sebuah pertunjukan. Sampai disitu, Saleh harus kehilangan masa-masa indahnya di waktu kecil karena kondisi kehidupan menyeretnya harus berani mengambil resiko. 

Ketika di Makassar, kapal Perang KRI 405 sandar di Pelabuhan, ia iseng melamar jadi koki. Ia diterima dan menjalani hari-harinya sebagai koki di kapal. Ini ia jalani hampir satu tahun lalu pindah ke Bioskop Jaya yang berhadapan dengan Bioskop Dewi Makassar. Dari bioskop itulah ia mempunyai kesempatan melatih vocalnya kembali dengan lagu-lagu India dan Rhoma Irama yang banyak diputar di Bioskop tempatnya bekerja. 

Tahun 1975, ia pulang kampung dengan gaya rambut gonrong. Sampai-sampai keluarga dan tetangganya pun tak mengenali bahwa yang datang itu adalah Saleh. Di Wonomulyo, ia sempat nonton pertunjukan Orkes Karya Jaya dan mendaftarkan dirinya sebagai penyumbang lagu. Ia hanya menberanikan diri menyumbang karena tak satupun krew Karya Jaya kenal dengan penyumbang yang satu ini. Pada saat tampil, penonton bersorak karena sangat puas dengan tampilannya. 

Dari penampilan pertama itulah, namanya mulai dikenal dan menjadi buah bibir. Hal yang memantik namanya menjadi populer, selain suaranya yang bagus, warna vocalnya juga khas. Ditambah lagi, ia piawai memainkan keyboard serta mahir menyusun kalimat untuk ia gubah jadi lagu. 

Dari segala kelebihannya itu, pada tahun 1984,ia dilirik oleh Edwin Jansen, pemilik toko Jansen yang ada di sudut perempatan lampu merah Wonomulyo sekarang ini. Edwin menyuruhnya mencari seorang wanita untuk nyanyi bareng. Kepada Saleh, ia diberi amanah dan modal sebanyak 8 juta rupiah. Jumlah yang pantastis untuk ukuran pada tahun 1980an. Saleh akhirnya memilih Indar Dewi sebagai teman bernyanyinya. Indar Dewi adalah kelahiran Pelitakan tapi tinggal di Muara Badak Kalimantan. 

Dengan modal dari Edwin itu, ia menuju ke Makassar untuk mencari studio rekaman. Pilihannya jatuh ke Libel Record untuk menggarap album perdananya dengan Indar Dewi. Album perdana yang ia garap adalah lagu Pop Makassar dengan sampul album Kanjengma Ri Kamaseku (1985). Album kedua yang ia rilis adalah lagu Bugis bertajuk Bugis Abadi dengan sampul album Idi'na Sabari (1986). Album keduanya ini digarap di Studio Pance Pondang di Jakarta. Ia juga langsung ke Surabaya sebelum akhirnya kembali ke Sulawesi. Siapa sangka, album kedua ini tenbus 1 juta copy. 

Dari sini, Saleh semakin tenar dan karir menyanyinya melejit. Ia sudah banyak menerima undangan tampil dan aktif di Orkes Karya Jaya milik Sudir Akib Pawellai. Namanya melambung bersama Iwan Tompo dan Anci Laricci sebagai penyanyi paling populer di Indonesia Timur. Lagu-lagunya selalu ditunggu oleh penggemarnya. 

Pada tahun 1990, ia kembali merilis albumnya melalui sampul Pitu Ana' Ende'. Selanjutnya, ia berhasil merampungkan lagunya yang bertajuk Sallang Salili, Larra Tembang, Janda Magello, Palippis Jari Sa'bi, Mamboyangngi Sara Nyawa, Nama'anna Titedoang, Sala Rannu dan puluhan lagu lainnya yang lahir sejak tahun 1985-2000. 


Senin, 05 Agustus 2024

MENGINTIP KEHADIRAN HENDRA SINGKARRU || Dalam Konferensi Pers Rumah Jonga.

Catatan Muhammad Munir. 

Diantara ribuan manusia yang hadir dalam acara Konferensi Pers Rumah Jonga kemarin, ada satu sosok yang membuat saya ikut memekik Allahu Akbar. Sosok itu punya magnet tersendiri bagi saya. Tentu saja bukan karena saya pernah menjadi bagian dari perjalanan suksesnya, tapi lebih kepada sebuah keputusannya bergabung dalam koalisi Sulbar Maju dan ikut membersamai SDK-JSM merawat martabat Sulawesi Barat ini. 

Tokoh yang saya maksud itu adalah sosok yang disebut SDK dalam sambutannya. Ia adalah H. Hendra S. Singkarru. Siapa yang tak kenal tokoh nasional asal Mandar ini?. Siapa yang tak bisa membayangkan peluang kemenangan itu ketika Begawan Ekonomi dari Sulbar itu menjadi salah satu pemikat dari ratusan pemikat yang melingkari Sumbu Kemenangan SDK-JSM ini?. Keberadaan Hendra Singkarru tentu menjadi berkah buat kita, sebab bagaimanapun ia adalah sosok yang banyak menginspirasi tokoh politik yang kokoh berjuang untuk kemajuan Sulawesi Barat. Andai bukan untuk Mandar (baca: Sulbar), Dirga, Ratih dan Andry tak akan pernah ada dalam catatan sejarah politik Sulbar. 

Lewat tulisan ini, saya ingin sedikit berbagi tentang H. Hendra S. Singkarru yang pada medio 2007 lalu tiba-tiba melirik dunia politik dan memantapkan pilihan ke Partai Amanat Nasional sebagai kendaraan politiknya di Pemilu 2009. Sejak itu, berbagai terobosan demi terobosan dilakukan. Tagline "Menebar Bakti Membangun Sulbar" yang sebangun dengan "Hidup Adalah Perbuatan', jargon politik Ketua Umum PAN, Sutrisno Bachir. Strategi politik yang dibangunnya cukup membuatnya melenggang ke Senayan dan tercatat sebagai Anggota DPR RI Periode 2009-2014. 

Hendra berhasil merebut satu dari tiga kuota kursi di Senayan bersama Salim S. Mengga (Demokrat) dan Ibnu Munzir (Golkar). Begawan Ekonomi dari Mandar itu lahir di Polewali, 20 Desember 1959 dan semakin bersinar saat berstatus sebagai wakil rakyat. Pemilik Hotel Ratih itu dalam perjalanannya sebagai Anggota DPR RI banyak berkonstribusi ke Sulawesi Barat dalam bentuk program pro rakyat. Diantara program nasional yang berhasil dikawal ke tanah kelahirannya itu adalah Pengadaan Handtraktor, PPIP, Jalan Tani, Tersier dan lainnya. Belum lagi Yayasan Ratih Al-Kafa pimpinan Hj. Rita Puspita, istri beliau yang konsentrasi membina ibu-ibu dalam bentuk pengajian yang guru-guru ngajinya ditanggung biaya hidupnya. 

Demikianlah jebolan S-1 Universitas Kristen Indonesia ini kian booming bukan saja kerena kemasan media, tapi seringnya ia blusukan dan menjadi figur di belakang layar dalam menentukan setiap potensi seorang kandidat dalam berkompetisi di setiap pemilihan. Hendra yang memulai karir politiknya sebagai Anggota DPR RI ini justru popularitasnya melejit sejalan dengan investasi sosial yang diberikannya. Sekitar 80.000 jamaah pengajian Yayasan Ratih Al-Kafa di seantero Sulbar mampu tergalang dan tercerahkan. 

Di kalangan politikus Sulbar, ia cukup disegani lawan maupun kawan karena loyalitas politiknya. Loyalitas tersebut telah ditunjukkan pada dua kesempatan; pertama, pada Pilgub 2011 ketika Salim S. Mengga-Jawas Gani direstui mengendarai PAN. Salim Mengga alih-alih memberikan "setoran" pada PAN, Hendra justru menjadi salah satu donatur terbesar bagi pasangan SALIM SAJA. Hal yang sama ia lakukan saat Asri Anas di Pilkada Polman 2013. Asri cukup dimanjakan oleh Hendra dalam rekruitmen dan mobilisasi massa. 

Hendra memang bukan politisi pengabdi kekuasaan, mendukung dan melawan, menang dan kalah adalah dinamika politik yang biasa baginya, namun prinsip, loyalitas dan integritasnya tak pernah tergadai. Dari awal ia dikenal memiliki jiwa sosial yang senang berderma, kaya dan santun. Mungkin karena itulah, pada Pemilu 2014, Dirga Adhi Putra Singkarru, putranya menjadi peraih suara terbanyak dengan total suara pribadi 79.563, tidak tanggung-tanggung mampu mengalahkan perolehan suara istri Gubernur Sulbar saat itu, Enny Angraeni Anwar yang meraih 59.317 suara, Andi Ruskati Ali Baal 55.016 suara dan Salim S. Mengga 51.099 suara. Meski kemudian Dirga tidak lolos ke Senayan, tapi Hendra Singkarru berhasil menunjukkan pada semua politisi di Sulbar, bahwa instrumen politik yang dimilikinya setingkat dengan AAS, ABM dan Salim Mengga. Dan faktanya, dalam percaturan politik Sulbar, Hendra Singkarru menjadi prioritas alternatif bagi para kandidat yang ingin menambah akselerasi gerakan politik mereka. 

Pada Pemilu 2019, H. Hendra kembali menunjukkan pada semua politisi di jagad Mandar dengan lolosnya dua orang anaknya ke Senayan. Ratih Megasari Singkarru melenggang ke Senayan dan mampu mengalahkan secara dramatis Anwar Adnan Saleh Mantan Gubernur dua periode dengan hanya selisih dua suara. Demikian juga Andry Prayoga berhasil lolos jadi Senator Sulbar sebagai Anggota DPD RI bersama Iskandar Muda Barlop, Ajbar dan Almalik Pababari. 

Nasib baik terus menghampiri Family Singkarru ini. Dalam rentang waktu lima tahun terakhir, putra putrinya menjadi ikon politisi Sulbar yang kembali menghentak panggung  politik lokal Sulbar pada Pemilu 2024 yang dihelat 14 Februari lalu. Ratih dengan partai Nasdem melenggang kembali ke Senayan dengan perolehan suara diatas 100 ribu. Ia bahkan melampaui perolehan suara Suhardi Duka (Demokrat), Agus Ambo Djiwa (PDIP), dan Ajbar (PAN). Di Polman, ada semacam Ratih Efect yang nyaris menggulingkan Golkar sebagai Pemenang Pemilu di Polman (meski demikian, Nasdem dan Golkar masing-masing meraih kuota 7 kursi). Andri Prayoga pun demikian, perolehan suaranya bertengger diposisi teratas mengalahkan Jupri Mahmud, Andi Ian Rusali dan Almalik. Bahkan satu petahana harus merelakan kursinya, yakni Iskandar Muda Barlop. Menariknya, Iskandar Muda justru dilirik dalam Pilkada Polman mendampingi Dirga Adhi Putra Singkarru  sebagai Calon Bupati Polewali Mandar. 
Pada level paling kecil, Imam Efendy Singkarru juga meraih suara yang signifikan dan mengantarkan 3 orang kader Nasdem lolos menjadi Anggota DPRD Polman (dari Dapil 1 Polewali Mandar). 

Sampai disini, saya menganggap kehadiran H. Hendra S. Singkarru adalah pemantik kemenangan. Keberadaan H. Hendra S. Singkarru dalam koalisi Sulbar Maju ini akan menjadi salah satu kunci kemenangan. Kemenangan terbesar kita adalah ketika SDK - JSM jadi Gubernur Sulbar dan DIRGA - ISKANDAR bisa memimpin sebagai Bupati dan Wakil Bupati Polewali Mandar. 

Sehat selalu H. Hendra S. Singkarru. Teruslah menginspirasi dan Selamat Bergabung dalam Pemenangan SDK-JSM. Selamat Berjuang bagi pendukung dan simpatisan Dr. Suhardi Duka - Jendral Salim Mengga. 

MEMBACA RUANG BATIN DAN JEJAK SDK-JSM || Menuju Pilkada Gubernur 2024


Catatan : Muhammad Munir

Terjawab sudah apa yang menjadi alasan Salim Mengga menjadi Cawagub dari SDK dalam kontestasi Pilkada 2024 yang akan dihelat pada 27 November nanti. Dalam Konferensi Pers di Rumah Jonga (5/8), baik Salim maupun SDK mengungkap apa yang melatari paket kedua sosok ini. Alasan fisik menjadi pilihan untuk memposisikan SDK sebagai Calon Gubernur, sementara Salim memilih jadi wakilnya. Hal tersebut dibenarkan oleh SDK dalam sambutannya pada acara yang sama. "Dengan tampilan saya yang begini, apa mungkin saya berani mengatakan pada Pak Jendral, kau jadi wakil. saya?". Ucap SDK yang diikuti sorakan dari para pendukung yang memadati halam rumah Jonga.


Road Show Politik yang dikemas dalam Konferensi Pers   pasangan SDK-JSM ini menjadi penting untuk dicatat, karena sebelumnya banyak yang berfikir tak ingin mendukung JSM karena maju sebagai wakil. Demikian juga tak sedikit yang kecewa pada SDK yang tak beretika menjadikan JSM sebagai wakilnya. Momentum Rumah Jonga ini menjadi jawaban atas sengkarut politik yang melingkupi keduanya. Sekarang tak ada alasan lagi untuk tidak mendukung pasangan ini. SDK - JSM adalah refresentasi amandaran. Mandar itu bukan suku, tapi ia adalah nilai yang dibangun oleh nenek moyang kita dalam Assitalliang Sipamada' di Luyo.   Mumuju adalah Mandar, PUS adalah Mandar, Binuang adalah Mandar. Tak boleh adalagi sekat antara Mandar dengan penutur bahasa yang lain. Terlebih saat ini, kita sudah terbingkai dalam kata Sulawesi Barat.


SDK dan JSM adalah sosok yang ketokohannya tak lagi dipertanyakan. Kita mesti menjadi bagian dari proses pemenangan yang mampu mengedifikasi alasan-alasan untuk mendukung keduanya. Diantara banyak alasan yang bisa jadi pemantik salah satunya adalah rekam jejak keduanya. SDK adalah birokrat yang terangkat jadi PNS 1986 dan banting setir jadi politisi pada tahun 1990. Pentolan Pemuda Panca Marga, Ketua AMPI dan Ketua KNPI itu menyambut takdirnya lewat partai Golkar dan menjadi anggota DPRD Mamuju selama 5 periode hingga menjadi Ketua DPRD Mamuju. Dari tangannya terlahir rekomendasi yang ikut melahirkan Sulbar sebagai propinsi. Tak hanya itu, ia bahkan menjadi Bupati Mamuju selama 2 periode dan kini masih menjabat dan kembali lolos sebagai Anggota DPR RI di Senayan. Menjadi wakil rakyat di Senayan jangan berfikir bahwa jabatan itu ia gunakan sebagai ajang gagah-gagahan. SDK justru menjadi singa dalam berbagai sidang di Gedung Rakyat itu, bahkan tak terhitung program strategis nasional ia giring ke Sulawesi Barat.

Lalu JSM. Siapa yang tak kenal dengan Jendral Salim Mengga?. Ia putra S. Mengga yang memiliki jasa besar terhadap warga Mamuju (baca: Mandar). Pada masa pergolakan (1952-1964) ketika cengkraman Bn. 710 dan DI/TII benar benar memuncak. Ada ribuan warga Mamuju dan sekitarnya yang diungsikan oleh S. Mengga ke Ujung Lero. Tak hanya diungsikan, tapi dihidupi dan dijamin makan meski ia dan pasukannya harus menjadi bajak laut di Selat Makassar dengan menghadang sejumlah kapal niaga pasukan Andi Selle Mattona. Kapal itu dirampok oleh pasukan Mandar Baru demi bertahan hidup dan menghidupi pengungsi.


Salim S. Mengga merupakan putera kedua S. Mengga dari 3 (tiga) bersaudara, yaitu: Syarifah Asia S. Mengga (Almarhumah Istri Prof. DR. Umar Shihab, MA) dan Ir. Aladin S. Mengga (Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2011-2016). Ketaatan beragama, kewibawaan sikap mandiri dan merakyat menjadi salah satu energi yang dimilikinya. Sikap yang demikian itu adalah perpaduan dari garis keturunan sang kakek (orang tua S. Mengga), bernama Sayyid Muhsin al-Attas dan neneknya Hj. Cilla, seorang bangsawan Mandar dari keturunan Arajang Balanipa Pammarica. 

Pammarica adalah sosok yang tak saja jadi Raja di Balanipa, tapi juga di Binuang dan Mamuju. Pammarica menjadi Mara'dika Mamuju yang turunannya masih menjadi pemilik trah darah biru di Mamuju. Maka tak heran jika Salim S. Mengga begitu fasih melantunkan ayat-ayat Al-Quran dan taat menjalankan ibadah shalat lima waktu, dan dibanyak tempat ia sering memberikan cerama-ceramah agama dan khutbah shalat ied.


Mayor Jendral yang melekat didepan namanya cukup menjadi bukti bahwa komitmen membangun bangsa dan negara tak perlu diragukan. Ketika menjadi Anggota DPR RI di Senayan, Salim bahkan dikenal sebagai wakil rakyat yang memilih integritas tinggi dan susah diatur. Di Partai Demokrat, jangankan Sekjend, Ketua Umum Demokrat, SBY saja segan pada sosok Jendral yang satu ini.


Inilah pentingnya edifikasi sosok keduanya. Termasuk sikap, karakter dan dedikasi SDK-JSM pada daerah ini layak diedukasi pada simpatisan dan tim secara khusus, bahkan secara umum bagi masyarakat Sulbar.