Jumat, 20 September 2024

(009) Drs. H. ANWAR ADNAN SALEH || Meniti Pengabdian Merintis Kemandirian


Editor : Awaluddin M. Hatma
Penerbit : PSKPI (Pusat Kemitraan Pembangunan Indonesia) 
Tahun : 2008
360 Halaman 
Penerbit  

Drs. H. Anwar Adnan Saleh (AAS) Gubernur Sulawesi Barat yang pertama, terpilih melalui pemilihan langung 20 Juli 2006, memiliki sederet pengalaman panjang sebagai Birokrat (PNS), pengusaha dan politisi. Di pundak beliaulah rakyat menitipkan berjuta harapan demi kemajuan, kesejahteraan, keadilan dan kesetaraan yang ingin dicapai bersama di Sulbar. 

Berbekal pengalaman yang dilakoninya selama kurang lebih 30 tahun menjadi birokrasi, pengusaha dan politisi. Pengabdian AAS dibidang pemerintahan berawal dari terangkatnya AAS sebagai PNS tahun 1971 setelah menamatkan pendidikan APDN di Makassar tahun 1970. Selanjutnya menyelesaikan pendidikan pada IIP tahun 1978 di Jakarta, karirnya sebagai PNS terus menanjak dengan diangkat sebagai kepala sub direktorat pemerintahan pada pemerintah tingkat II Buton Sulawesi Tenggara (1976-1982), kepala bidang sosial budaya Bappeda Tingkat I Sulawesi Tenggara (1985), serta menjadi kepala perwakilan pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara di Jakarta, (1982-1985), dan pindah menjadi pegawai negeri sipil pada departemen dalam negeri tahun 1989. Didunia usaha AAS memimpin beberapa perusahaan multi nasional yang bergerak dibidang maritim (1989-2004), sedangkan dalam ranah politik AAS memulai karir sebagai Ketua DPD II KNPI Buton (1977-1980), Ketua DPD II AMPI Buton (1978-1984), Wkl. Ketua DPD II Golkar Buton (1977-1982), DPP AMPI (1984-1994-dua periode), Ketua PPK KOSGORO 1957 (2003-2008), Bendahara LPK DPP Partai Golkar (2001-2004), dan dipercaya menjadi anggota legislatif tingkat pusat (DPR RI) dari Partai Golkar (1999-2004). 

Dengan sederet pengalaman di atas, mengantarkan AAS sebagai Gubernur pertama Provinsi Sulawesi Barat, dengan amanah yang diemban tersebut AAS memiliki cita-cita mulia dalam membangun pemerintahan Sulbar melalui penataan kelembagaan dan peningkatan SDM aparat, yang menjadi pelaksana dan pelayan masyarakat Sulbar, dan dapat diyakini mewujudkan masyarakat Sulbar yang adil dan sejahtera. 

Jejak visi dan idealisme AAS dalam membangun Sulbar kedepan, telah terekam dalam seminar yang diselenggarakan tahun 2002 di Makassar (KAPP Sulbar). Bahwa tujuan utama membentuk sebuah provinsi adalah untuk memperpendek rentang kendali pemerintahan, mendekatkan pelayanan kepada masyarakat serta mewujudkan kesejahteraan dan kesetaraan agar sejajar dengan daerah-daerah lainnya. Menurut AAS diperlukan langkah-langkah terobosan serta strategi yang visioner untuk mendesain pola pembangunan yang berpijak pada potensi SDA dan kultur masyarakat setempat agar pembangunan senantiasa berorientasi pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Kiranya tepat sekali setelah mengemban amanah sebagai Gubernur pertama AAS mencanangkan 4 (empat) agenda utama percepatan pembangunan Subbar, sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2006-2011. 

Dalam rangka 60 tahun AAS, editor bersama tim berusaha menghadirkan sosok AAS, Gubernur milik rakyat dalam sebuah buku biografi singkat yang berisi rekaman perjalanan hidup, visi dan idealisme dalam berbagai media daerah dan nasional serta pernak-perniknya melalui pandangan, komentar, tanggapan rekan kerja, mitra bisnis serta sahabat atau kolega beliau selama ini. Kehadiran buku ini dirasakan penting untuk mengenal lebih jauh sang Gubernur pilihan rakyat yang meniti pengabdian dan karir di duerah lain sebelum kembali ke tanah leluhurnya untuk mengabdikan diri mewujudkan visi dan misi kepemimpinannya, Buku yang berjudul Meniti Penyabdian Merintis Kemandirian menggambarkan sosok AAS tokoh yang konsisten mengabdikan diri demi kemaslahatan bersama, Perjuangan AAS mengarungi bahtera kehidupan dimulai dari daerah kecil dan terpencil kemudian bergulat dengan ritme kehidupan nasional baik sebagai PNS, pengusaha dan politisi lalu kembali meniti pengabdian di daerah tertinggal provinsi Sulawesi Barat, 

Kiranya biografi singkat ini dapat menggambarkan sekelumit perjalanan hidup seorang anak bangsa yang suskes menjadi Gubernur pertama di Sulawesi Barat. Bercermin pada sosok AAS, telah menjadi hukum alam bahwa kesuksesan seseorang ditempuh melalui perjuangan yang panjang sesuai dinamika perjalanan sang waktu. Perlu diketahui bahwa buku ini dipersiapkan dalam waktu yang cukup lama kurang lebih 5 (lima) tahun. Namun demikian konsistensi dan aktualitasnya tetap terjaga. Akhirnya tim editor mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua tokoh nasional dan daerah yang telah berpartisipasi dalam mengisi lembaran buku ini dengan pandangan, tanggapan dan komentar tentang sosok H. Anwar Adnan Saleh. Semoga buku ini memberi warna dan menjadi oase dalam perbukuan nasional serta dapat menjadi cermin bagi generasi muda dalam meniti pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa dan negara, Amien. 

Jakarta, Agustus 2008 
Editor 

AWALUDDIN M. HATMA,, et al 

(008) BIOGRAFI Hj. ROSMIANI ACHMAD || Kiprah Gender Perempuan Mandar


Penulis : Haliadi Sadi 
Penernit : Yayasan Mitra Sains
Tahun : 2002
150 Halaman

Di umurnya yang sangat remaja, empat belasan tahun Rosmiani Achmad telah tampil sebagai organisator dan orator ulung di daerah Mandar. Ketika pindah ke Makassar aktualisasi kegiatan keorganisasian beliau menjadi semakin nyata. Dimulai dengan aktivitas dalam organisasi kewanitaan yang berorientasi politik, Gerwapsii, lalu mejadi politisi ril mewakili kaun wanita di Dewan Perwakilan Rakyat Kota Makassar, sampai akhirnya menjadi pimpinan organisasi wanita departemental binaan pemerintat yaitu Dharma Wanita di Kalimantan Timur. 

Dengan alur hidap yang sarat pengalaman keorganisasian, timbul pertanyaan mengenai bagaima tanggung jawab.Rosmiani sebagai perempuan yang, sebagaimara lazimnya dalam keluarga bangsa kita, menjadi tiang keluarga baik dalam mendidik anak maupun urusan dapur dan hal-hal lainnya. Ternyata dengan lima anak, dua wanita dan tiga lelaki, Rosmiani bersama suami berhasil membesarkan mereka dalam kesederhanaan sebagai seorang istri pegawai negeri, yang seperti istri PNS lainnya, harus berjuang membanting tulang dan kreatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Dengan kekuatan batin yang teguh dan saling percaya yang hampir absolut, Rosmiani dan suami akhirnya berhasil membawa anak-anaknya menjadi:orang yang mencapai tingkat pendidikan yang tinggi. Apa kunci sukses organisasi dan keluarga Rosmiani Achmad?. 

Sebagai keluarga yang sepenuhnya berlatar belakang budaya Mandar. ada penjelesan Darmawan Mas'ud, budaya Mandar tentang pola hidup-masyarakat yang berbasis adat dan kebiasaan di tanah Mandar. Ada konsep hidup yang disebut Sibaliparri yang dianut.oleh sebagiari besar masyarakat lokal disana. Sibaliparri adalah way of life yang mengandung beberapa nilai yang sangat prinsipil dalam memelihara keutuhan keluarga serta sekaligus membawanya kepada kemajuan yang optimal. 

Nilai-nilai tersebut antara lain adalah saling pengertian (mutual understanding), persamaan (equity), pembagian wewenang dan tanggung jawab (power sharing), kerja bersama (mutual cooperation) dan lain-lain. Tampaknya prinsip inilah yang menjadi acuan Rosmiani Achmad dalam menjalani hidup ini. 

(007) HUSNI DJAMALUDDIN YANG SAYA KENAL || Catatan Dari Teman-Teman


Penerbit : PT. Media Pustaka Jaya 
Tahun : 2004
268 Halaman 

PENGANTAR 

Luapan kebahagiaan tak terhingga, buku Husni Djamaluddin yang Saya Kenal bisa rampung dan disajikan ke hadapan pembaca. Buku ini merupakan kumpulan tulisan berbagai kalangan dari beragam sudut pandang. Harapan kami, buku ini dapat mengungkap kekuatan dan kelemahan sosok Husni Djamaluddin sebagai wartawan, kolomnis, sastrawan, maupun dalam pergaulannya sebagai makhluk sosial dan politik. 

Tulisan ini bersumber dari keluarga, teman-teman seperjuangan dan sejawat Husni Djamaluddin yang dikenal sebagai pendiri Dewan Kesenian Makassar (DKM), aktivis angkatan 66, Sekjen Komando Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu PKI Wilayah Sulawesi Selatan, dan mantan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan 19921997. Terakhir, mengemban amanah sebagai Ketua Umum Dewan Perjuangan Pembentukan Sulawesi Barat. 

Lima bulan lebih kami intens berproses, mondar-mandir menghubungi nara sumber sekaligus mengumpulkan bahan-bahan untuk penerbitan dua buah buku Husni Djamalaluddin. Untuk buku ini, semula kami merencanakan seratus tulisan yang bisa terkumpul. Namun, karena padatnya kesibukan para nara sumber, sehingga hanya separuh lebih yang dapat disajikan. Tapi kami yakin, kumpulan tulisan ini cukup mewakili, sebagai langkah awal untuk mengenal dan memahami sosok Husni Djamaluddin. 

Tulisan ini, kami sajikan berdasarkan abjad. Sebagian tulisan kami beri judul dan mengeditnya atas permintaan dan restu nara sumbernya demi keselarasan sajian. Sebenarnya, hingga detik akhir pra cetak, kami masih dijanjikan kiriman tulisan dari sejumlah teman Husni Djamaluddin. Namun, dengan penuh hormat, karena keterbatasan waktu, kami dituntut segera mencetaknya, mengingat makin dekatnya jadwal peluncuran yang direncanakan tepat pada 40 hari wafatnya Husni Djamaluddin, 4 Desember 2004. Rencana awal, buku ini dipersiapkan menyambut momen “70 Tahun Husni Djamaluddin”. Selain buku ini, juga akan diluncurkan dua buah buku lainnya, masing-masing berjudul Adakah Kita Masih Bertanya? dan kumpulan puisi Indonesia, Masihkah Engkau Tanah Airku? terbitan Pustaka Jaya, Jakarta. 

Husni Djamaluddin bersama tim kecilnya, telah merencanakan sederet kegiatan menyambut hari peluncuran buku ini yang semula sudah direncanakan dengan matang pada tanggal 10 Nopember 2004. Jadwal ini pun diundur, karena Husni Djamaluddin masih harus melewati masa kritis dan perawatan intensif di RSPAD Jakarta. Kini, walau Tuhan telah mememanggilnya, tapi jelang saat-saat terakhir Husni Djamaluddin, ia selalu tersenyum membaca sebagian besar isi buku ini sembari menikmati proses finishing buku-bukunya. 

Walhasil, perkenankan kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang telah menyumbangkan tulisan. Tak lupa kami memohon maaf, jika dalam proses awal hingga akhir buku ini terdapat kekurangan. Kami akan sangat bangga dan berterima kasih, jika buku ini mendapat tanggapan, koreksi, dan kritik dari berbagai pihak. 

Jakarta, 30 Oktober 2004. 

Hormat dan salam, 
Zulfikar Yunus 

TESTIMONI:

Dan, Allahu Akbar, Husni Djamaluddin memperoleh derajat untuk didatangi oleh Kota Ilmu.... Pantas namanya Sebaik-baik (Husni) Keindahan (Djamal) Kasih Sayang Allah / Agama (ud-Din) 

(Emha Ainun Nadjib) 

Sebagai alumnus S-5, tamatan 5hospital penting, zikrul-maut sudah basah di lidah dan bibir Husni. Wiridnya antara lain membaca shalawat Rasul 202 kali sehari. Penyair yang pernah tiga kali bertemu Rasulullah 
Muhammad saw di dalam mimpi sebelum shalat subuh ini (pengalaman rohani luar biasa hadiah bagi seorang Muslim, bahkan Kiyai-kiyai pun belum tentu mengalaminya) 

(Taufiq Ismail) 

Bung Husni, sang “benang putih” yang siap dicelup dalam berbagai warna ... “saya ini cermin, kata Bung Husni, kepada saya di suatu waktu. Sebagai pelaku budaya Mandar yang benang putih itu Husni merumuskan: "jika wajah anda cemberut ke dalam cermin, wajah cemberut itu pula yang anda dapat. Tersenyumlah ke dalam cermin, maka sang cermin memberimu senyum. “Sang cermin selalu siap didahului. la tak mencari, ia dicari.” 

(Rahman Arge) 

(006) DINAMIKA POLITIK PEMBENTUKAN PROVINSI SULAWESI BARAT

Penulis : M. Thamrin Mattulada 
Penerbit : Pustaka Sawerigading 
Cetakan Pertama : 2017 

Kajian tentang dinamika dalam proses pembentukan Provnsi Sulawesi Barat memang tetap menyisakan ruang-ruang penting untuk terus digali dan diangkat sebagai bagian dari perjalanan panjang perjuangan miasyarakat Mandar untuk berdiri menjadi daerah otonom yang terpisah dari Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai provinsi induknya. Kenginan yang semangatnya telah digagas bertahun-tahun itu akhimya berhasil terwujud. 

Tentu saja, proses untuk memisahkan dari daerah induknya itu tidaklah berjalan mulus. Perjalanan panjang dan berliku itu dihadang berbagai tantangan, baik dari luar, maupun dari dalam. Berbagai kepentingan saling mendukung, sekaligus saling menghambat, saling sejalan sekaligus saling bersilangan. Namun semua itu menjadi bumbu dalam proses perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat yang sekarang telah dinikmati masyarakatnya. 

Berbagai proses panjang dan berliku itu tentu harus didokumensikan dengan baik dari berbagai aspek kajian dan penyajian. Karenanya, buku ini hadir sebagai salah satu upaya dalam mendokumentasikan perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat tersebut. 

Berbagai dinamika, khususnya dinamika politik disajikan dengan baik dalam buku ini. Penulis mencoba menguraikan dan menganalisa tentang proses panjang perjuangan pemisahan/pemekaran daerah Sulawesi Barat dari induknya, Provinsi Sulawesi Selatan pada 2004. Termasuk berbagai peristiwa diungkap dan diurai dengan baik dalam buku ini. 

@sorotan

(005) PUANG & DAENG || Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa-Mandar

Buku Puang dan Daeng adalah 
sebuah karya monumental yang ditinggalkan oleh mendiang alm. Prof. Dr. Darmawan Mas'ud. Disebut demikian, karena buku ini adalah tulisan terlengkap tentang Mandar dari sudut pandang kebudayaan. Melalui
Idiom puang dan daeng, penulis menjelaskan kepada kita tentang kebudayaan Mandar secara utuh. 

Sebagai putera Mandar, penulis merasa terpanggil untuk menjelaskan kebudayaan Mandar kepada dunia akademik. Ini penting, karena pada saat Itu Mandar hanyalah sebuah sub kultur dari kultur besar yang disebut Bugis-Makassar. Ini terlihat dari berbagai tempat. Penulis tidak 
melepaskan Mandar dari sudut pandang ke-Bugis-an dan ke-Makassar-an, Cerita tentang Mandar seolah menjadi 'pelengkap' dari Identitas Bugis-Makassar. Bisa jadi, kala karya Ini dipresentasikan sebagai disertasi doktoral, orang menilainya sebagai bagian dari kebudayaan Sulawesi Selatan dan itu berarti menjadi sub dari (salah satu) kuitur besar, Bugis-Makassar. 

Akan tetapi, ketika Provinsi Sulawesi Barat dideklarasikan. Buku Ini menemukan momentum yang lebih tepat dan dahsyat. Kajian Ini bukan lagi kajian sub-kultur tetapi kajian dari kultur besar yang disebut Mandar. Penulis sudah meletakkan kajian yang sangat lengkap tentang Mandar. Seluruh sudut kebudayaan Mandar bisa ditemukan disini. Dengan Kerajaan Balanipa sebagai pintu masuknya.

(004) DI BELANDA TAK SEORANG PUN MEMPERCAYAI SAYA || Maarten Hidskes


Pada bulan Juni 1946 Piet Hidskes mendaftarkan diri sebagai sukarelawan pada Depot Specale Troepen (DST, Depot Pasukan Khusus), korps elite dari Koninkliik NederlandscnIndisch Leger (Pasukan Hindia-Belanda) di bawah komando Kapten Westerling yang menerima carte blanche untuk menumpas pemberontakan di Indonesia dan melakukan aksi-aksi pembersihan. Setelah mengikuti pelatihan selama enam bulan, Hidskes ditempatkan di Sulawesi Selatan. 

Dia kemudian terlibat dalam "Peristiwa Sulawesi Selatan''. Hidskes tidak menceritakan kepada siapapun apa yang terjadi di sana. Siapa yang akan mempercayainya? 

Ketika dia meninggal dunia pada tahun 1992, cerita itu dia bawa masuk ke liang lahat. Kenapa dia selama lima puluh tahun membungkam diri tentang semua pengalamannya di Sulawesi Selatan? Sejauh mana keterlibatannya dalam pelaksanaan aksi-aksi pasukan Westerling dilakukannya dengan sukarela? 

Anaknya, Maarten Hidskes, memutuskan untuk menyelidiki peran ayahnya di Sulawesi sampai mendasar. Dia mendapatkan kepercayaan dari beberapa mantan tentara komando dan regu pasukan ayahnya, menganalisis surat-surat yang dikirim ayahnya dari Hindia, dan mempelajari laporan-laporan intelijen tentang teror di Sulawesi. Dengan cara yang mengharukan, Maarten berhasil menyusun rekonstruksi masa lalu perang dari ayahnya. 

Maarten sampai ke Mandar pada tahun 2018 untuk membuktikan bagaimana sepak terjang ayahnya ketika berada di Mandar pada tahun 1947 sebagai salah satu dari pasukan Westerling.

(003) SEJARAH PERJUANGAN PEMBENTUKAN PROVINSI SULAWESI BARAT || Prof. Dr. Idham, M. Pd. dan Dr. Saprillah, M.Si.


Buku ini lahir dari keinginan penulis untuk mendokumentasikan momentum “kelahiran” Sulawesi Barat, sebagai bagian dari sejarah penting masyarakat Mandar. Penting, karena kelahiran Sulawesi Barat merupakan cita-cita yang telah dikonstruksi sejak lama oleh para pejuang kemerdekaan yang berasal dari Mandar. Bukan gerakan politik reaksioner sebagai eforia reformasi yang menumbuhkan semangat pemekaran di berbagai daerah di Indonesia. 

Ide tentang Sulawesi Barat adalah ide menyejarah, telah dipikirkan oleh generasi pejuang Mandar. Basis historisitasnya adalah persekutuan kerajaan-kerajaan di pitu ulunna salu (tujuh kerajaan di hulu sungai) dan kerajaan-kerajaan di pitu bagbana binanga (tujuh kerajaan di muara sungai). Persekutuan ini merupakan persekutuan kerajaan yang paling solid di zamannya. Mereka saling membangun interaksi sosial, ekonomi, dan ketahanan politik. 

Menulis sejarah Sulawesi Barat — dengan demikian — adalah upaya untuk melestarikan ide tentang Mandar yang sempat hilang ketika harus dilebur dalam Provinsi Sulawesi Selatan. Cita rasa Mandar sebagai suku yang memiliki sejarah peradaban yang panjang seperti kehilangan konteks (out of context), bahkan daerah-daerah Mandar menjadi daerah terbelakang dibanding daerah lain di Sulawesi Selatan. 

Secara metodologis, penulis menggunakan metode pendekatan sejarah sosial, yang berupaya mengungkapkan secara menyeluruh proses sosial politik perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. Kesulitan terbesar yang penulis alami adalah upaya verifikasi data. Data yang sebagian besar diperoleh melalui wawancara memiliki tingkat subyektifitas yang sangat tinggi. Beberapa narasumber “berupaya” menonjolkan diri sebagai arus utama perjuangan. Hal ini lumrah, karena perjuangan pembentukan Sulawesi Barat memang dapat terealisasi dengan baik. Ini menyebabkan banyak orang yang merasa memiliki “jasa” dalam proseg pembentukannya. Oleh karena itu, penulis berupaya melakukan verifikasi data dengan melakukan cross check data dengan berbagai pihak yang terlibat secara langsung dalam perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. 

Untuk menghindari penonjolan individu, penulis berupaya untuk mereduksi sebanyak mungkin penceritaan alur melalui perspektif individu dan menghindari penyebutan nama secara berlebihan. Kalaupun ada nama yang disebut di dalam buku ini, itu lebih karena konteks penulisan mengharuskan melibatkan nama mereka sebagai pelaku dalam proses politik tersebut. Menghilangkan nama — dalam situasi ini — justru dapat mengurangi validitas data dan menghilangkan konteks penelitian. 

Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada H. Muh. Jamil Barambangi (Kepala Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulawesi Barat kala itu) yang berinisiatif dan memprakarsai penelitian ini. Selain itu, beliau juga berkenan untuk menjadi editor sebelum tulisan ini diterbitkan. Ucapan terima kasih yang tak terhingga juga disampaikan kepada pengurus Forum Sipamandar, KAPPSULBAR dan Pokja-Pokjanya, KKM-N, DP3-SB, BPP-SB, Tim Pansus Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat, para mantan aktivis Mahasiswa, dan semua pihak yang terkait dalam penulisan buku ini. 

Akhirnya, penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Drs. H. Muzakkir Kulasse, MM (Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat) yang telah bersedia menerbitkan kembali (cetakan kedua) buku 

Makassar, 17 Juni 2015 
Penulis

Kamis, 19 September 2024

(002) NELAYAN PULAU KARAMPUANG DI KABUPATEN MAMUJU PROVINSI SULAWESI BARAT

Tiga peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulawesi Selatan meneliti dan menulis tentang nelayan yang hidup di Pulau Karampuang, di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Mereka meneliti nelayan di pulau tersebut dengan pendekatan dari sisi pekerjaan, pengetahuan dan kepercayaan. 

Ketiga peneliti tersebut adalah Abdul Asis, Iriani, dan Tini Suryaningsi. Abdul Asis yang meneliti mengenai tingkat penghasilan para nelayan di Pulau Karampuang menemukan bahwa para nelayan untuk tetap berpenghasilan, mereka berusaha mencari penghasilan lain sebagai tambahan. 

Upaya itu hanya dilakukan pada saat-saat musim paceklik. Sementara Iriani menemukan, bahwa nelayan Pulau Karampuang memiliki pengetahuan yang cukup dalam mendukung profesi mereka sebagai nelayan. Pengetahuan itu mereka peroleh dari warisan orangtua ataupun leluhur mereka yang memang sudah sejak dahulu berprofesi sebagai nelayan. 

Nelayan Karampuang juga memiliki kepercayaan yang disebut Poalibeang Anggatang. Kepercayaan yang diwariskan leluhur mereka Ini merupakan suatu ritual tahunan untuk membersihkan kampung mereka dari penyakit atau suasana. 

Dalam penelitian Tini Suryaningsi, kepercayaan masyarakat Pulau Karangpuang ini, jika Poalibeang Anggatang tidak dilaksanakan, maka kondisi kampung mereka menjadi panas, dalam artian berbagai macam penyakit akan diderita oleh warga, seperti muntaber atau penyakit berkepanjangan lainnya. 

Tiga tulisan dalam buku ini memberi kita pemahaman secara lanskap mengenai suka duka kehidupan para nelayan di Pulau Karampuang.

Rabu, 18 September 2024

TAK CUKUP BACA QURAN, TAPI HARUS NGAJI

Catatan Muhammad Munir

Kemarin, di sebuah mushallah yang jauh dari hingar bingar perkotaan. Peringatan 12 Rabiul Awal ikut diperingati sebagai momentum kelahiran Nabiyullah Muhammad SAW. Setelah rangkaian dzikir, shalawat dan asyrakal badru dilantunkan. Doa dilangitkan seiring tampilnya seorang ustadz yang tampilannya khas nusantara dengan peci, sarung dan sorban. 

Bacaannya fasih, artikulasinya jelas saat berbicara dengan bahasa Mandar. Kefasihan itu terlihat saat mengutip sebuah ayat: Athi'ullah, Wa Athi'urrasul Wa ulil amri minkum. Taatlah kamu kepada Allah, Kepada Rasulnya, dan kepada pemimpin diantara kamu sekalian. Hal sedikit membuat saya tersedak ketika dengan mudah ia mengatakan bahwa tidak termasuk taat pada poin ketiga kalau pabali-bali kepada Pak Dusun, Pak Desa dan seterusnya. Ustadz ini bahkan menegasikan bahwa tidak turut pada Kepala kampung termasuk sebuah pengingkaran   terhadap ayat wa ulil amri minkum. 

Saya yang ikut hadir dengan pakaian kaos oblong tapi berpeci dan bersarung hanya sugiging ditempat menyaksikan seorang ustadz tapi kurang ngaji. Bisa-bisanya ia menyamakan makna ulil amri dengan umara. "Maafkan aku Tuhan, kenapa sampai hari ini masih banyak ustadz yang tergolong kondang tapi tak faham substansi sebuah ayat yang dijaikan tema ceramah". Batinku lirih. Jika semua ustadz yang kerap jadi pilihan warga saat ada acara penting begini, bagaimana masa depan umat kedepan?. 

Dalam kecamuk batin yang membuncah itu, saya coba istighfar untuk sekedar menenangkan diri atas sebuah ketidakmampuan yang dipertontonkan seorang yang kategori panutan umat. Bisa-bisanya ia tanpa beban menerjemahkan ulil amri setingkat kepala dusun, desa dan seterusnya. Saya kemudian tersadar, bahwa menuntut semua ustadz pernah ngaji kitab gundul dan talakki adalah sebuah ego yang dipaksakan. Saya tak mungkin juga menegurnya, sebab ini persoalan etika, bukan persoalan kulil haqqa walaw kana murran. 

Secara, ayat ini kadang jadi langganan ustadz tim sukses yang umumnya direkrut oleh calon petahana. Dan umumnya, ayat ini seringkali jadi bahasan meski jelas pelakunya tak faham bahasa. Umara dan Ulil Amri secara bahasa sangat jelas, pemerintah dan pemimpin. Disini dibituhkan pemahaman bahasa yang matang sebab akan sangat berbahaya jika rujukannya hanya modal terjemahan saja. 

Umara jelas pemimpin yang bisa dirujukkan ke kepala dusun sampai kepala negara. Tapi ulil amri meski terjemahannya adalah pemimpin, tapi ia dibatasi oleh kata Waw pada setiap awal kata dalam ayat itu. Waw yang digunakan pada ayat itulah yang membatasi makna pemimpin dalam kontes ulil amri. Sangat jelas waw itu mengisyaratkan pembatasan sekaligus memberi syarat atas pemimpin yang dimaksudkan. Wa ulil amri minkum ini bersyarat karena Waw yang digunakan adalah waw ruthubiyah, bukan waw maiyah maupun waw athfiyah (menurut salah satu annangguru kitta' di Campalagian). Syarat yang dimaksud pada ayat itu adalah pemimpin yang maksum, dan di Indonesia tak ada pemimpin yang bisa dinisbatkan. 

Kondisi ini mesti menjadi gerakan kolektif untuk terus mawas diri dengan upaya pembodohan yang justru dilakukan oleh tokoh agama bergelar ustadz. Tak boleh ada pembiaran terhadap oknum ustadz yang mengandalkan terjemahan, sebab sejatinya ustadz harus punya ilmu dan pemahaman yang mumpuni. 

Botto, 12 Rabiul Awal 1446 H.

Selasa, 17 September 2024

SEJUMLAH MAHASISWI KECEWA TERHADAP PEMDA POLMAN ||Pembangunan Asrama Putri Polman di Jogja Terbengkalai

Pembangunan asrama putri (aspuri) Kabupaten Polewali Mandar di Jl. Taman Siswa Gg. Brojohito, Wirogunan, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta mengalami keterlambatan atau mangkrak. Sedangkan adanya aspuri membantu mahasiswi dalam meringankan biaya hidupnya. Kondisi ini memaksa puluhan mahasiswi Polman mencari alternatif tempat tinggal yang tidak selalu ideal.

Pembangunan Aspuri yang mulai digarap sejak tahun 2021, sampai saat ini belum juga dapat ditempati. Proyek pembangunan yang seharusnya selesai di tahun 2023 itu masih harus mengalami keterlambatan. Hingga kini belum ada kejelasan yang pasti tahap pembangunan selanjutnya dari pemerintah kabupaten Polewali Mandar. 
Dimas (22) selaku ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Polewali Mandar (IPMPY) mengatakan, proyek pembangunan aspuri yang pada dasarnya merupakan bagian dari Kegiatan Perencanaan, Pembangunan, Pengawasan, dan Pemanfaatan Bangunan Daerah oleh Dinas PUPR ini baru sampai pada tahap ketiga atau sekitar 75%, padahal pemerintah kabupaten Polewali Mandar menjanjikan pembangunan aspuri selesai pada tahun 2023.  
“Pemerintah janjinya aspuri Polman sudah dapat ditempati di akhir tahun 2023. Namun hingga kini, belum ada kejelasan yang pasti terkait tindak lanjut dari pembangunan aspuri,” terangnya.
Dimas juga menambahkan informasi terkait jumlah mahasiswi Polman yang berkuliah di Yogyakarta dari tahun ke tahun terus bertambah dan saat ini jumlahnya mencapai sekitar 48 orang. Penambahan jumlah mahasiswi Polman yang menempuh pendidikan di Yogyakarta ini tentu saja semakin memperbesar urgensi dari penyelesaian pembangunan aspuri sesuai dengan rencana (baca: janji) pembangunan yang telah dirancang sebelumnya. 
Terbengkalainya pembangunan aspuri Polman membuat kebanyakan mahasiswi kecewa terhadap pemerintah kabupaten Polewali Mandar. Kekecewaan ini seperti diutarakan oleh Anggun (19) salah satu mahasiswi baru asal Polman mengungkapkan, ia merasa kecewa karena pembangunan asrama Polman di Yogyakarta belum juga selesai. Sedangkan,  aspuri sangat dibutuhkan oleh para mahasiswi daerah yang datang merantau untuk menggali ilmu. 
“Sebagai mahasiswi baru saya kecewa karena aspuri Polman belum juga dapat ditempati. Mengharuskan saya untuk mengeluarkan biaya tambahan untuk mencari kost,” katanya.
Lebih lanjut ia menjelaskan aspuri dinilai sangat penting bagi mahasiswi daerah. Selain biaya yang lebih terjangkau dibanding kost, aspuri juga dianggap dapat membantu mahasiswi baru dalam beradaptasi di kota baru dan memudahkan mahasiswi baru mempersiapkan diri untuk PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru).
“Dengan adanya aspuri memudahkan mahasiswi baru dalam beradaptasi di lingkungan baru dan biayanya pun mungkin lebih terjangkau dibanding harus ngekost,” terangnya. 
Senada dengan Anggun, Indah (20) mahasiswi yang juga berasal dari kabupaten Polewali Mandar juga mengalami kekecewaan yang sama. Pembangunan Aspuri yang sudah dijanjikan namun sampai saat ini belum terselesaikan. 
“Awalnya dijanjikan asrama namun sampai sekarang mereka harus menanggung tempat tinggal mereka sendiri,” pungkasnya.
Nurul (20) sebagai mahasiswi Polman menambahkan, terbengkalainya pembangunan aspuri Polman membuat beberapa mahasiswi harus tinggal di aspuri Sulbar (Aspuri Andi Depu Sulawesi Barat) sedangkan yang lainnya terpaksa harus memilih tinggal di kost. Padahal, adanya aspuri di tanah rantau, agar sesama mahasiswi daerah bisa tinggal bersama dan  tetap dapat menjaga rasa kekeluargaan antar sesama mahasiswi dari kabupaten Polewali Mandar. 
“Beberapa mahasiswi tinggal di aspuri Sulbar dan lainnya terpaksa tinggal di kost karena mempertimbangkan beberapa hal, salah satunya aspuri Sulbar sudah full,” ungkapnya. 
Nurul berharap pembangunan aspuri Polman di Yogyakarta segera dilanjutkan, apalagi jika dilihat dari bangunannya sudah mencapai 75% agar mahasiswi asal kabupaten Polewali Mandar tidak lagi memikirkan tempat tinggal saat kuliah di Yogyakarta. 
“Harapannya semoga pemerintah daerah bisa segera melanjutkan pembangunan aspuri, melihat setiap tahun mahasiswi dari kabupaten Polewali Mandar semakin meningkat atau bertambah.”

Senin, 02 September 2024

PIP-KIP RATIH || Itu Diperjuangkan, Bukan Bonus Wakil Rakyat


Catatan Muhammad Munir

Ratih Megasari Singkarru yang lolos sebagai wakil rakyat di Senayan pada Pemilu 2019-2024 dan kembali melenggang dengan aman pada Pemilu 2024 kemarin. Terpilihnya Ratih adalah representasi dari harapan masyarakat dari dapil Sulbar. Hal menarik dari sosok putri H. Hendra Singkarru ini adalah program yang digiring ke Sulbar, yakni PIP-KIP yang pada periode pertamanya berhasil meloloskan sekitar 1 Triliun untuk dinikmati langsung oleh masyarakat.

Jangan bilang program ini sudah menjadi kewajiban Ratih sebagai wakil rakyat, sebab dari dapil ini bukan hanya Ratih yang ada di Senayan. Pertanyaannya apakah program beasiswa itu akan tetap ada andai tidak ada Ratih di Senayan?. Program ini butuh nyali dan upaya maksimal untuk bisa dinikmati oleh masyarakat Sulbar. Upaya Ratih ini yang harus diapresiasi, bahwa keberaniannya menggalang program ini tentu tidak mudah dan bukan hanya dengan modal sebagai anggota DPR saja.

Program yang dikawal oleh Ratih ini memiliki pengaruh besar terhadap penerima manfaat, sehingga kembali mengantarkannya ke Senayan, termasuk adiknya, Andri Prayoga Singkarru kecipratan dan bertahan di Gedung DPD RI untuk periode keduanya sebagai Senator. Bahkan Pemilu kemarin tercipta Ratih efek yang memposisikan Nasdem menjadi partai pemenang kedua di Polman.

Ratusan ribu orang di Sulbar tentu bukan angka yang sedikit. Dan harapan kita dari program ini, masyarakat tak perlu takut anaknya tidak lanjut pendidikannya. Semua mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan yang layak sebagaimana kesempatan yang dinikmati oleh anak pejabat. Mereka yang menerima tentu berusaha untuk bisa membalas jasa Ratih dalam bentuk suara dalam pemilu. Itu faktanya.

Tiba di tahun kelima, Ratih mulai digoyang, disorot oleh mata tajam lawan-lawan politiknya. Terlebih bertepatan dengan momentum Pilkada Bupati dan Gubernur Sulbar. Ratih seketika dianggap sebagai momok yang menakutkan dan bisa mengancam popularitas dan elektabilitasnya di Pilkada. Ratih tak boleh dibiarkan terus melakukan blusukan ke semua-sekolah dan kampus-kampus di Sulbar. Tapi faktanya, Ratih disambut oleh semua lembaga pendidikan dengan sangat hormat. Kehadirannya bahkan lebih ditunggu oleh rakyat dibanding dengan artis-artis yang dibayar oleh kandidat.

Goyangan terhadap Ratih semakin diperkuat ketika Dirga AP Singkarru resmi mendaftar sebagai Calon Bupati dengan menggandeng Iskandar Muda sebagai wakilnya. Pasangan ini tentu saja menjadi pusat perhatian para politisi mengingat dua sosok ini tak memiliki beban masa lalu di pemerintahan. Dirga dan Iskandar Muda justru dihadang oleh beban masa depan Polman. Ragukah pasangan ini bertarung dengan para pembesar dan orang-orang besar yang kini menjadi rivalnya? Bukan putra Singkarru jika keraguan itu ada, bukan putra Barlop jika Iskandar harus takut.

Singkarru kini menjelma menjadi klan baru dan bertumbuh dengan pesat. Nasdem Sulbar kini ditangan Dirga A.P. Singkarru, kedua adiknya Ratih dan Andri masih dihitung sebagai politisi yang pro rakyat. Ayahnya, H. Hendra S. Singkarru adalah pengusaha kaya, politisi dan mantan Anggota DPR RI yang disegani baik kawan maupun lawan lawan. Wajar saja bahwa kehadiran Dirga-Iskandar membuat lawannya ketar-ketir dan melakukan upaya yang tak lagi bertimbang rasionalitas. "Family Singkarru tak berhak menjadi pemimpin", itu kata mereka sebagian.

Tapi adakah efek goyangan itu sampai merontokkan pagar dan gedung Hotel Ratih? Adakah Rumah Aspirasi seketika rubuh? Apakah konstituen meninggalkannya? Apakah ibu-ibu pengajian Ratih Al-Kafah berhenti bertaklim dan berdzikir? Ampuhkah mantra-matra berupa rilis tulisan lawan itu menembus doa pelajar yang menuntut ilmu itu?. Saya yakin tidak, sebab para pencari ilmu itu dilindungi oleh sayap-sayap malaikat, tentu saja yang memfasilitasi pendidikannya juga akan ikut menerima alla'birang doa yang akan ma'appu' setiap langkah dan pergerakan politik dari Family Singkarru ini.


SDK-JSM || Assitalliang di Palippis

Reportase Muhammad Munir

Minggu, 1 September 2024. Ketika Bintang gemintang menggelantung diatas langit lazuardi. Angin sepoi rekah dari bibir-bibir alam yang rancu. Sebuah rumah berarsitektur moderen menjulang ke langit. Dari serambi belakang rumah nampak view laut Teluk Mandar serupa permadani yang menghampar. Rumah Putih, menjadi salah satu properti keindahan yang melingkupi obyek wisata pantai Palippis. Rumah itu lahir dari gagasan seorang Syamsul Samad, politisi muda Partai Demokrat yang karirnya cukup cemerlang di dunia politik. 

Palippis adalah salah satu situs purba yang kemudian menemukan takdirnya sebagai sumbu peradaban awal di Mandar. Dari sinilah ritus Puang Sodho, Pa'bicara Kayyang pertama Balanipa mulai ditulis. Dari sini pula, I Manyambungi pertama kali meretas kekuatan Kerajaan Passokkorang dengan membantai Tomakaka' I Kayyang Palasang. Dengan demikian, Palippis tentu tak boleh hanya dimaknai sebagai obyek wisata, lebih dari itu Palippis adalah sumbu peradaban tua yang ditandai dengan singkapan keramik spesifikasi Yuan (1300-1400 M) serta temuan gerabah berhias yang menunjukkan bahwa Palippis adalah kampung kuno pada ribuan tahun lalu. 

Malam ini kemudian menjadi tempat berkumpulnya ratusan relawan yang mengusung SDK-JSM maju di Pilkada Gubernur Sulbar 2024-2029. Saya menyebutnya sebentuk Assitalliang di Palippis karena hadirnya dua sosok penting dalam garis perjuangan yakni Suhardi Duka dan Jendral Salim S. Mengga sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat. Acara bertajuk konsolidasi ini juga dihadiri oleh Syamsul Samad (Ketua Tim Relawan) selaku ahlul bait yang didapuk sebagai pemandu jalannya lalu lintas diskusi antara tim dengan SDK dan JSM. Ary Iftikhar Koje dan sejumlah politisi Anggota DPRD Kabupaten dan Propinsi dari partai pengusung juga nampak hadir membersamai. 

Maka jadilah gemuruh gelombang semangat membuncah untuk menitipkan harapan pada calon nakhoda baru bagi perahu yang bernama Sulawesi Barat. SDK dan JSM memantik para relawan dengan sangat piawai membentangkan kerangka strategi pemenangan. Demikian juga JSM tampil khas  memberi wejangan bahwa kemenangan harus diraih dengan santun dan bermartabat. Rakyat harus diperlakukan sedemikian baik, sebab kita yang membutuhkan keterlibatan mereka dalam mengawal kemenangan. SDK dan JSM adalah alasan untuk merekatkan persatuan dan kesatuan. 'Kali ini kita harus bisa memenangkan pertarungan". Pantik SDK dengan membeberkan beberapa klan besar di Polman yang kerap mengisi perhelatan politik daerah ini. "Klan Manggabarani, Mengga dan Masdar. Kini muncul klan baru bernama Singkarru. Klan Manggabarani telah redup, sisa klan Masdar, Mengga dan Singkarru. Dua diantaranya adalah koalisi kita untuk menjadi pemenang".  Pungkas SDK yang disambut pekikan Allahu Akbar dan kata Amin dari 300 relawan yang hadir. 

Acara berlangsung cukup alot dan seru dengan hadirnya sejumlah pemuda potensi yang ikur mewarnai jalannya acara. Ada Hamka, Allink Tapol, Hervol, Elly, dan lainnya memberikan kritik saran yang membangun. Termasuk saya juga ikut nimbrung menyampaikan titipan harapan untuk pemajuan kebudayaan dan pengembangan literasi di Sulbar. Kendati mungkin dianggap terlalu prematur disampaikan, namun konsep visi misi SDK -JSM mesti mengikat program ini agar ketika terpilih, keduanya akan abadi layaknya para pemimpin di Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba'bana Binanga yang pola laku dan pesannya yang tak lekang oleh zaman. 

Itulah makanya, saya kerap menyiapkan waktu untuk hadir sebagai penyaksi beberapa peristiwa penting dalam kancah perjuangan SDK-JSM. Baik itu di Polman, Mamuju dan Insyaallah ditempat lainnya. Saya ingin merasakan dan menikmati dinamika dan dialektika politik yang mereka bangun. Saya ingin menuliskan berbagai momen penting yang nantinya jejak mereka dibaca oleh masyarakat Sulawesi Barat. Ini torehan tentang Palippis, SDK dan JSM yang kelak menjadi episentrum lahirnya calon pemimpin yang berkarakter seperti SDK, yang kharismatik layaknya JSM. Sukses selalu dalam pantauan dewata dia, Tuhan semesta alam. 



PROGRAM ANGGOTA DPR RI DISOROT || Efek Pilkada Serentak

Catatan Muhammad Munir 

Secara umum, mereka yang lolos sebagai wakil rakyat di Senayan adalah representasi dari harapan masyarakat dari dapil sang wakil. Mereka yang lolos kemudian berusaha untuk bisa menggiring program kerakyatan ke dapil masing-masing. Tentu saja, yang bisa menggiring program pro rakyat itu tak memiliki peluang yang sama, sebab mereka yang menjadi wakil rakyat itu juga tak semua fokus untuk memikirkan kepentingan rakyat. Tak jarang kita menemukan wakil rakyat yang turun hanya gagah-gagahan dihadapan rakyat yang mencoblosnya pada saat pemilu. 

Sepanjang yang saya fahami, dari Pemilu 2009, setidajnya terdapat H. Hendra Singkarru yang booming dengan program PPIP dan kegiatan lain terkait pertanian. Lalu muncul nama Andi Ruskati Rajab dengan program PKH-nya. Belakangan muncul SDK dengan program saprodi dan saprotan yang diakui sangat bermanfaat membantu para petani dalam meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat Sulbar. Demikian juga Ratih Megasari Singkarru yang concern memperjuangkan beasiswa bagi masyarakat yang tak punya kemampuan membiayai anak-anaknya melanjutkan pendidikannya mulai dari SD sampai ke jenjang perguruan tinggi. Program PIP-KIP menjadikan putri Hendra Singkarru berada dalam sorotan mata tajam lawan politiknya.  

Adakah yang salah jika mereka tampil sebagai wakil rakyat dengan membawa sejumlah program yang bermanfaat bagi masyarakat yang diwakilinya? Nyaris tak ada yang komplain ketika mereka turun dengan label PPIP PKH, dan Saprotan atau lainnya. Itu sebelum era Pemilu dan Pilkada. Ketika perhelatan Pileg dan Pilkada akan digelar, program pro rakyat ini disorot, dihujat dari berbagai arah. Lucunya, Ratih Megasari Singkarru menjadi pesakitan. Ia terhukumi menjadi pelaku politisasi program pemerintah. Terutama saat tahapan Pilkada setentak dimulai. Program PIP seakan  tak punya manfaat, sebagian lagi menggiring opini bahwa PIP KIP hanya janji dan tak mampu direalisasi. Siapa palakunya? Tentu saja pelakunya adalah media yang punya relasi dengan paslon diluar dukungan Dirga AP Singkarru dan Iskandar. Termasuk juga pasangan SDK dan JSM ikut tersandra karena Nasdem menjadi salah satu pengusung di Pilgub Sulbar. Media media itu tumbuh bak jamur memberitakan hal yang sama dengan narasi yang tak balance. Mereka mencari informan yang disulap seolah jadi korban janji pemilu Singkarru Family. 

Sebegitu tinggikah efek Ratih dan programnya terhadap potensi kemenangan Dirga dan SDK?. Bisa jadi iya, sebab program ini berkelindang dengan peningkatan elektabilitas pemilih melalui program beasiswa KIP (Kartu Indonesia Pintar) dan PIP (Program Indonesia Pintar) di Kabupaten Polewali Mandar. Hal tersebut bisa dilihat dari persentase penerima beasiswa dibandingkan dengan total jumlah penduduk dan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Contoh kecil persentase penerima beasiswa terhadap jumlah penduduk yang ada di Polman. Asumsi dasar penerima 40.000 siswa (angka perkiraan) jumlah penduduk Kabupaten Polewali Mandar  495.371 jiwa. 40.000 : 495.371) X 100 = 8,08%. 

Jika penerima beasiswa: 40.000 siswa dengan jumlah DPT: 345.281. Kalkulasinya adalah 40.000: 345.281) X 100 = 11,58%. Ini jika dikalikan dengan jumlah penerima saja. Bagaimana jika bapak dan ibu penerima beasiswa itu ternyata ikut sama anaknya ikut mendukung? Maka kalkulasi kemenangan ini tentu akan membuat lawan ketar ketir dan menghalalkan segala cara untuk meretas pergerakan yang terpusat di Rumah Aspirasi Ratih Megasari. 

Kondisi ini akan semakin menjadi jadi menjelang 27 November 2024. Tapi apakah rakyat (penerima PIP) akan termakan dengan berita kampungan macam itu?. Saya yakin itu tak akan terjadi dan endingnya, mereka adalah paslon yang tak punya kreatifitas yang mumpuni dibanding dengan paslon Dirga-Iskandar 
SDK - JSM. 

Akhirnya saya ingin mengatakan, carilah cara yang lebih elegan dan bermanfaat untuk bisa menjadi pemenang dalam kontestasi Pilkada tahun ini. Jangan ada lagi black campagn yang sesungguhnya hanya akan merugikan diri dan paslon yang telah didaftarkan ke pihak penyelenggara.



Minggu, 01 September 2024

MENGENAL HOESSAIN PUANG LIMBORO

Harian De Lokomotief, 13 Desember 1952
TOKOH BANGSAWAN MANDAR.
Hossain Poeang Limboro

Bapak Hossain Poeang Limboro, Kepala Departemen Sosial dan Ekonomi Kantor Göuverheurs Semarang, telah dipindahkan ke. Jakarta dan akan tersedia untuk Walikota di sana.  Lahir di Balanipa (Mandar, Sulawesi Selatan - Sekarang Sulawesi Barat) dari keluarga kepala adat tua pada 3 Juli, 1906, ia memperoleh OSVIA ijazah terakhir setelah itu ia berturut-turut bekerja sebagai Asisten Asisten Administrasi, Inland, Jaksa Penuntut Umum, Landsgrbte juga Anggota dari Limboro Self Administrasi dan Panitera Fiskal.

Kemudian dia mengabdikan dirinya untuk studi hukum dan pada tahun 1942 dia menjadi 'ketua Landraad; dan kemudian Hakim Tanah di Makassar. ; Dia terpilih kedepan. Parlemen Indonesia Timur, dibentuk dengan Arnold Mononutu dan Mr. Tadjuddin Noor merupakan partai oposisi, setelah itu ia diangkat menjadi Menteri Perekonomian sebagai wakil dari partai ini dan menjadi pemimpin delegasi.

Pada Februari 1950 menjadi Presiden Parlemen Negara Indonesia Timur dan sebagai Presiden Negara Indonesia Timur, pada tahun yang sama didekati oleh Pemerintah Negara Indonesia Timur untuk masalah tersebut. dari Assisten Residen. Bapak Hoesain Poeang Limboro adalah salah satu pengurus Persatuan Indonesia.

17 Maret 1950, ribuan rakyat kota Makassar dan pendudukan disekitarnya melakukan demonstran mengelilingi wilayah kota, dan kemudian berkumpul di depan kantor parlemen nit. Diperkirakan jumlah demonstran mencapai 2000 orang.

Demonstran ini merupakan demonstran terbesar yang menggoncang kota Makassar (kadir, dkk, 1984:246). Ketika semua demonstran telah berkumpul di depan parlemen NIT, a.n. Hadjarati, aktor intelektual dari aksi demonstran itu tampil menemui Ketua Parlemen NIT, Husain Puang Limboro untuk menyampaikan tuntutan itu diteruskan kepada pemerintah RIS, dan mendesak segera membubarkan NIT. (Poelinggomang, 2005: 297; patang, 1974:141).

CUKUPKAH PEMIMPIN HANYA MODAL AGAMAWAN ?

Berbicara tentang pemimpin, mungkin sebagian orang memiliki kriteria masing-masing yang ideal untuk memimpin sebuah instansi. Ada yang menganggap bahwa pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang bisa memahami rakyatnya, ada juga yang mengatakan kalau pemimpin yang baik adalah yang memahami agama agar nilai-nilai agama bisa dia terapkan pada kepemimpinannya. Pemimpin yang paham akan agama apalagi sosok tokoh agama sangat memberikan harapan baik untuk masyarakat agar bisa sejahtra dan lebih agamis. Tapi itu semuanya tidak berpengaruh, justru ada beberapa oknum pemimpin yang juga sebagai tokoh agama justru tidak menjadikan nilai-nilai agama dalam kepemimpinanya. Bahkan sebaliknya. Jika patokannya adalah agama, maka pemimpin yang baik adalah yang mampu bersikap adil, amanah dan mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi. Sayangnya, realitas di lapangan sering kali jauh dari harapan. Banyak pemimpin yang seharusnya menjadi panutan dalam menerapkan nilai-nilai agama, justru seolah mengabaikan tanggung jawab mereka. Tidak jarang, kita melihat bagaimana pembangunan terbengkalai. Jalan rusak tak kunjung diperbaiki, fasilitas umum yang minim perhatian, dan kebutuhan dasar masyarakat yang terabaikan. Ironisnya, pemimpin hanya tampak di hadapan publik saat ada event-event tertentu, seakan kehadiran mereka hanya formalitas belaka tanpa ada niatan tulus untuk mendengarkan dan memahami keluhan masyarakat. Sebagai pemimpin, tugas mereka bukan hanya hadir saat ada acara besar atau ketika ada sesuatu yang menguntungkan mereka. Pemimpin sejati adalah mereka yang turun langsung ke lapangan, melihat kondisi masyarakat dan berupaya mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi masyarakatnya. Ketika pemimpin lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya dari kepentingan umum, maka cita-cita untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial menjadi semakin jauh dari kenyataan. Pembangunan bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang pengayoman dan memberi rasa nyama, termasuk juga menginspirasi masyarakatnya. Harapan kita adalah memiliki pemimpin yang tidak hanya hadir dalam seremonial, tetapi juga hadir dalam setiap aspek kehidupan masyarakatnya, memperjuangkan hak-hak mereka, dan membangun dengan prinsip keadilan dan amanah yang sejati. Pemimpin seperti inilah yang akan membawa perubahan nyata, bukan hanya sekadar janji di atas kertas atau pidato di panggung. Keberpihakan terhadap masyarakat seharusnya tidak hanya terlihat dalam momen-momen tertentu, tetapi harus menjadi bagian dari keseharian seorang pemimpin. Apa gunanya seorang pemimpin jika ia tidak bisa merasakan langsung kesulitan yang dialami warganya? Lebih ironis lagi, ada pemimpin yang berlindung di balik status mereka sebagai tokoh agama, seakan-akan gelar itu memberikan mereka kekebalan dari kritik. Padahal, jika benar-benar memahami ajaran agama, mereka harus tahu bahwa tanggung jawab sebagai pemimpin jauh lebih besar. Menggunakan agama sebagai tameng untuk menutupi ketidakmampuan dan ketidakpedulian terhadap masyarakat adalah sebuah pengkhianatan terhadap nilai-nilai agama itu sendiri. Masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai berbicara dan tampil di depan umum. Mereka membutuhkan pemimpin yang berani bertindak, yang memiliki komitmen kuat untuk memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan warganya. Jika seorang pemimpin tidak bisa memenuhi harapan ini, maka sudah saatnya mereka introspeksi dan berpikir, apakah mereka benar-benar layak memimpin, atau hanya sekadar mengejar kekuasaan tanpa peduli pada tanggung jawab yang menyertainya. Sudah saatnya masyarakat tidak lagi dibutakan oleh gelar dan status. Seorang pemimpin sejati dinilai dari tindakan dan hasil nyata yang mereka bahwa, bukan dari seberapa sering mereka terlihat di acara-acara seremonial atau seberapa banyak mereka berbicara tentang agama tanpa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika pemimpin tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik, maka sudah sewajarnya mereka mundur dan memberikan kesempatan kepada orang lain yang benar-benar peduli dan siap mengabdi untuk masyarakat. Seorang pemimpin adalah mereka yang mampu memadukan visi, keberanian, dan integritas dalam setiap tindakan mereka. Menurut John C. Maxwell, seorang ahli kepemimpinan terkenal, "A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way." Pemimpin harus menjadi teladan, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga dalam perbuatan. Mereka harus mampu mengarahkan dan membimbing masyarakat dengan memberikan contoh nyata dari apa yang mereka harapkan dari orang lain. Selain itu, Mahatma Gandhi, pernah berkata, "The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others." Seorang pemimpin yang baik adalah mereka yang menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Kepemimpinan yang sukses tidak diukur dari seberapa banyak mereka meraih kekuasaan, tetapi seberapa besar dampak positif yang mereka tinggalkan bagi orang lain. Maka, seorang pemimpin seharusnya tidak hanya berfokus pada simbolisme atau seremonial semata. Mereka harus berani turun ke lapangan, mendengarkan aspirasi rakyat, dan bekerja keras untuk mewujudkan kesejahteraan yang nyata. Pemimpin yang memahami nilai-nilai ini akan mampu membawa perubahan yang signifikan dan menciptakan warisan yang akan dikenang oleh masyarakatnya.
Penulis : Chairul