Sabtu, 11 Januari 2025

SAHRUL SUKARDI || Sang Penatang Aru(a)s

Mateng (Mamuju Tengah) dikenal sebagai wilayah yang kabupaten termuda di Propinsi Sulawesi Barat. Kabupaten yang beribu kota Topoyo ini punya cerita tentang sosok Aras Tammauni. Ia menjadi ikon politik Mamuju Tengah pemilik idiom “Lebih baik melawan arus dari pada melawan Aras”. Itulah yang membayang-bayangi warga dalam setiap perhelatan politik baik Pilkada maupun Pemilu. 

Sejak lahirnya Mateng, Aras memang menjadi satu-satunya ikon politk disana. Mulai dari perjuangan pembentukan Mateng sebagai Kabupaten, ia dikenal sebagai eksekutor yang membiayai semua proses perjuangan. Saat Pilkada Mateng 2015 Aras memperoleh kemenangan 97% suara. Periode kedua bahkan melawan kotak kosong (Koko). 

Pilkada 2024 di Mateng, Sahrul Sukardi adalah salah satu tokoh yang berhasil mencatatkan dirinya sebagai penantang awal hegemoni politik yang ada klan Aras. Sahrul dengan Alamsyah Arifin mendaftarkan diri sebagai peserta Pilkada 2024 di Kantor KPU Mateng, Rabu 28 Agustus 2024. Ia didukung oleh Partai Demokrat, PAN dan PSI. Selain Sahrul, Haris-Komang juga mencatatkan dirinya sebagai penantang. Sahrul-Alamsyah ini mengusung Visi: “Mewujudkan Mamuju Tengah yang sejahter, Religius dan Bermartabat”. Visi ini mencerminkan komitmennya untuk menciptakan daerah yang maju secara ekonomi, tetapi tidak menjaga nilai-nilai agama dan budaya lokal.
 
Itulah makanya, pasangan ini menawarkan Misi: Menjadikan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, Meningkatan pertanian sebagai sektor unggulan, Mewujudkan SDM Ungul dan berdaya saing, Mendorong pembangunan berwawasan lingkungan, dan menguatkan posisi Mamuju Tengah sebagai daerah penunjang Ibu Kota Negara (IKN). 

Kendati hasilnya ia harus kalah dari Arsal Aras, putra Aras Tammauni, setidaknya ia menjadi salah satu yang merontokkan persepsi politik bahwa klan Aras tak mungkin ada yang bisa melawan. Sahrul menjadi salah satu penantang itu. Putra kelahiran Topoyo 14 Januari 1979 ini tetap akan menjadi sebuah ancaman bagi klan Aras. Pengaruhnya memang tak bisa diremehkan, sebab melalui Sahrul, Resky Irmayani yang tak lain adalah istrinya mampu merebut satu kursi bagi Demokrat dengan perolehan suara 9.086 dari total 13.294 suara.

Rekam jejak Sahrul memang cukup menentukan kalkulasi politiknya di Mateng. Ia dekenal banyak menakhodai berbagai organisasi penting di tingkat kabupaten dan propinsi. Saat ini, ia masih aktif sebagai Ketua Hiswana Migas Propinsi Sulawesi Barat (2021-sekarang); Ketua KADIN Mamuju Tengah (2023-sekarang); Ketua Pemuda Pancasila Kabupaten Mamuju Tengah (2022-sekarang); Ketua Umum Panitia Pembangunan Masjid Raya Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah (2022 – sekarang); Dewan Penasehat MUI Kabbupaten Mamuju Tengah (2019-sekarang).  
Sebagai putra daerah Mateng, jauh-jauh sebelumnya ia telah menata dirinya sebagai sosok yang punya visi. Secara pendidikan, ia telah cukup matang dari sejak SD Ngapaboa (1987), SMP Negeri 3 Budong-Budong (1994-1996), SMA Negeri 1 Mamuju (1997-1999). Ia bahkan telah menuntaskan pendidikan S1-nya di UNHAS 2000-2004. Sejak itu, ia menenun nasibnya dan banyak berbuat untuk daerahnya. 

Segala bentuk usahanya itu membuahkan hasil yang cukup fantastis. Ia mulai tercatat sebagai Anggota DPRD Mamuju 2009-2014. Setelah Kabupaten Mamuju Tengah terbentuk, ia mengambil dapil di Mateng dan lolos sebagai Anggota DPRD Mamuju Tengah (2014-2019). Setelah menjadi Anggota DPRD Mamuju Tengah, ia menyelesaikan pendidikan S2-nya di UNHAS 2016-2018. 

Ia juga kembali lolos sebagai Anggota DPRD Mamuju Tengah periode 2019-2024 dan dipercaya menjabat Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Mamuju Tengah (2019-2020) dan Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Mamuju Tengah (2020-2021). Hingga pada Pemilu 2024, ia telah merancang gerakan politiknya di Pilkada Mamuju Tengah dan mencatatkan istrinya dalam deretan Caleg Propinsi Sulbar di Partai Demokrat. Istrinya berhasil melenggang ke Parlemen Sulbar dari Fraksi Demokrat dapil Mamuju Tengah. 

Di Pilkada Serentak 2024, selain ia menjadi kandidat Calon Bupati Mateng, ia juga berjuang untuk kemenangan SDK-JSM. Sahrul menjadi salah satu penentu kemenangan SDK, yang jika dilihat potensi kemenangan SDK telah terbaca di Pemilu 2024. Partai Demokrat di Mateng mampu mengimbangi pergerakan politik Golkar dalam bayang-bayang  nama besar Aras Tammauni selaku Ketua DPD Golkar Sulbar. Golkar berhasil meraih 6 kursi di DPRD Mateng, sementara Demokrat juga mampu mendudukkan 5 orang kadernya di DPRD Mateng. 
Prestasi dan capaian Demokrat tentu tak bisa dilepaskan dari sosok Sahrul tentunya. Demikian juga kemenangan SDK di Pilkada Sulbar, mengabaikan Sahrul adalah sebuah pengebirian verbal terhadap sosok yang sampai saat ini menjadi Direktur PT. Belua Raya Lesatari dan Direktur PT. Resky Nakaguna Jaya Abadi ini. 

Kini Sahrul hidup bahagia mendampingi istrinya dalam segala aktifitas. Dari pernikahannya dengan Reski Irmayani ia dikaruniai 3 orang anak  masing-masing bernama Azizah Ainun Khalila Sahrul, Mufidah Cahyani Sahrul, dan Faith Merdeka Sahrul. Istri dan anak-anak menjadi penyemangat hidupnya untuk membangun daerahnya dalam posisi bukan sebagai Bupati, tapi sebagai pemantik kesejahteraan warga yang berada dalam jaringan perusahaan yang dibangunnya. 

MENGENAL SOSOK SYARIFAH NUR ABBAS

Syarifah Nur Abbas adalah salah satu putri Sayyid Abbas. Ia terlahir sebagai Syarifah dari marga As-Siraj. As-Siraj adalah marga Arab keturunan Sayyid yang ada di Mandar. Mereka sebagian besar ada di Desa Bonde, termasuk Syarifah Nur Abbas, S Usman Abbas bersaudara. Jumlah mereka tidaklah terlalu signifikan laiknya marga Bin Sahil Jamalullail atau pun Al-Attas. Bahkan bisa dikatakan hanya dirinya dan saudara-saudara serta ayahnya yang bermarga As-Siraj. Selebihnya ia tidak mengetahui kalau pernah ada lainnya selain dari keluarga mereka. 

Penyebaran marga As-Siraj menurut Hamzah Durisa (2018), adanya di daerah Bugis. Konon S. Ali As-Siraj datang ke Bugis menyiarkan Islam di daerah Bugis, Dari sana kemudian ke Bonde. Sebelum ke Bonde, Ia pernah menikah disana dan memiliki keturunan. Kemudian di Bonde ia menikah dengan salah seorang warga yang bernama Sitti Dawiyah. Dari sini lahirlah Sayyid Abbas Ali As-Siraj. 

Perkiraan peristiwanya terjadi pada tahun 1920an.
Kedatangannya masih sangat belakangan ketimbang kedatangan orang Arab sebelumnya. As-Siraj ini pun merupakan bangsa Arab dari Yaman. Kedatangan Ali As-Siraj sampai ke Mandar juga dalam misi dakwah.
 Kebulatan tekadnya untuk melanglang buana ke berbagai belahan dunia juga dikuatkan oleh penentangannya terhadap keputusan raja di negerinya. 
Memilih daerah Campalagian khususnya di Bonde juga karena pertimbangan disana banyak yang bisa berbahasa Arab. Tentu saja karena Campalagian banyak pengajian kitab kuning, mulai dari kitab dasar atau pengajian dasar hingga kitab kuning atau yang sering disebut dengan kitab gundul.

Jalur kedatangan lain adalah pernikahan. Yang dimulai dari Sayyid Miswar As-Siraj yang menikah dengan Farhanah binti Muhsin Al-Attas, cucu dari Puang Bela (S. Kaharuddin) saudara kandung Sayyid Mengga (Puang Mengga). Miswar As-Siraj adalah cucu dari Habib Miswar As-Siraj yang tak lain adalah anak sepupu dari Syarifah Nur dan memiliki keturunan di Bonde Kecamatan Campalagian. 

Dari sinilah Syarifah Nur Abbas bersaudara menata hidupnya sampai sekarang. Ia lahir dari pernikahan S. Abbas Ali As-Shiraj dengan Hj. Asni Disseng. Lahir di Bonde, 31 Juli 1969 bersama saudara-saudaranya yang lain, yakni S. Usman, Syarifah Marwah, Syarifah Aminah, dan Syarifah Fadilah. Pendidikan dasarnya ia awali di SD 07 Parappe kemudian anjut ke SMP Negeri 1 Campalagian dan selesai di SMA Negeri 1 Polewali. 

Tahun 1994, Ia berhasil meraih gelar SH di Universitas Muslin Indonesia (UMI) Makassar. Berbekal ijazah sarjana tersebut, ia terangkat jadi ASN pada tahun 2014 dan sekarang berstatus sebagai Kepala MTs. Pergis Campalagian. Sejak tahun 1997, wanita terkenal tegas dan berani ini menjadi seorang ibu setelah putra pertamanya lahir dan diberi nama James. Nama yang unik dan tidak lumrah diberikan pada keluarga Syarifah mmaupun Sayyid.
Tapi demkianlah Ummi Syarifah, jika ia memutuskan sesuatu, tak akan ada yang berani menentang, apalagi jika ada yang coba menantangnya, ia bahkan bisa melupakan jati dirinya sebagai wanita. Anak kedua dan ketiganya pun demikian, namanya adalah Madelina dan Calvin. Namun berbeda dengan anaknya yang keempat, ia memberinya nama Farhan Mandar (perpaduan Arab dan Mandar). 

Selama berinteraksi dengan Ummi Syarifah, penulis merasakan sikap keibuan, sopan meski ketegasannya selalu menjadi yang utama. Ia loyal dan royal jika ia mendukung seseorang. Penulis merasakan itu saat Pilkada Gubernur Sulbar kemarin, persoalan uang bahkan tak pernah menjadi masalah bersma Ummi Syarifah. 

Andai ia bukan ASN, mungkin saja ia akan menggunakan semua waktunya untuk SDK-JSM, tapi sayang, ia dibatasi oleh aturan yang mengikatnya sebagai aparatur Negara. Tapi sebagai keluarga, JSM adalah harga mati baginya.           

ABDUL RAHMAN TONA || Komitmen dan Berani Berbeda

ABDUL RAHMAN TONA adalah salah satu tokoh yang berani berbeda dan konsisten dalam komitmennya. Berani berbeda disini adalah karena ia merupakan Kepala Desa 3 periode di Ralleanak. Ralleanak adalah tempat lahir Anwar Adnan Saleh yang dimana Enny Angraeni, istrinya juga ikut berkontestasi dalam Pilgub sebagai wakil dari Prof. Husain Syam. Adapun konsisten dalam komitemennya terfaktualkan dalam ikut memperjuangkan SDK-JSM sebagai Gubernur Sulawesi Barat. 

Pak Rahman yang akrab dipanggil Pua’ Conda’ ini tak sedikitpun memiliki rasa takut mengambil bagian dalam proses perjuangan. 
Dalam perjalanan karir Rahman Tona sebagai kepala desa, ia diberikan kepercayaan oleh para kepala desa di Kabupaten Mamasa untuk menakhodai Asosiasi Kepala Desa Seluruh Indonesia atau APDESI. Tak tanggung-tanggung ia bahkan didaulat menjadi ketua selama dua periode. Dpercaya sebagai pemimpin organisasi tentu bukan tanpa alasan, Rahman Tona dikenal mumpuni dalam pemerintahan desa, itu terbukti dengan kepercayaan masyarakat di desanya sehingga menjadi kepala desa sampai tiga periode. 

Selain itu, bukti kepercayaan masyarakat terhadapnya juga berimbas kepada putranya yang bernama Arwin Rahman Tona, melalui Partai Nasdem berhasil lolos ke DPRD Mamasa dengan suara yang signifikan pada periode pertama 2019-2024. Pada Pemilu 2024 lalu, Arwin kembali lolos dengan perolehan suara yang memuaskan. Terlepas dari itu semua, Rahman Tona tak bisa dipungkiri bahwa perjuangannya di Mamasa adalah pemantik bagi kemenangan SDK-JSM. 
Dalam proses perubahan Undang-Undang Desa  dari 6 tahun ke 8 tahun juga tak dipungkiri, ia adalah salah satu Ketua APDESI Kabupaten yang paling getol dan setiap saat mendampingi Ketua APDESI Sulbar dalam ikut membersamainya ke pusat. Dari sisi ini, Rahman Tona dianggap oleh semua kepala desa di Mamasa sebagai sosok yang patut untuk dipatuhi. Disis lain, ia juga akrab dengan semua tokoh agama, tokoh adat dan memiliki pengetahuan yang memadai tentang sejarah, budaya dan kearifan local Mamasa. 

SDK-JSM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih menjadi muara dari setiap harapan yang coba ia rengkuh tujuannya adalah agar Mamasa dijadikan wilayah prioritas dalam hal infrastruktur jalan dan jembatan, pendidikan, kesehatan. Termasuk rumah ibadah, gereja, masjid dan lainnya serta rumah adat sebagai ruang dalam ikut melestarikan nilai-nilai budaya dan pemajuan kebudayaan. Mamasa adalah daerah yang memiliki khasanah kebudayaan yang unik dan bisa menjadi dijadikan obyek destinasi wisata sejarah, budaya dan wisata religi. 

Kedapan, Rahman yakin bahwa SDK-JSM pasti bisa mewujudkan berbagai harapan yang kerap disampaikan oleh warga di setiap momen kampanye Pilkada kemarin.  

Jumat, 10 Januari 2025

HAJRUL MALIK || Sosok Politisi Berjiwa Pembelajar

Pada Medio tahun 2000-an, seorang lelaki kelahiran Tinambung 31 Desember 1973 mengawali karirnya sebagai Guru PTT di SD 1 Mamuju. Sedikit pun tak tergurat kekecewaan atas profesinya itu. Ia bahkan mampu menyiasati kehidupannya dengan nyambi mengajar Bahasa Arab di MTs dan MA Mamuju. Bahkan dengan rela menghabiskan waktunya ikut menjadi dosen di STIP TPB Mamuju yang kemudian dinobatkan sebagai Ketua Stisipol TPB Mamuju. Aktifitas itu ia lakoni dengan sangat ikhlas dan tentunya bahagia. 

Sebagai seorang yang telah mendapatkan banyak ilmu di IAIN Alauddin Makassar (1998) dan Ma’had Al-Birr, Universitas Muhammadiyah (1998), ia tentu tak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk tidak mengamalkan ilmu tersebut pada sesama. Niatan mengamalkan ilmunya itulah yang membuatnya tetap semangat. Ia terus menularkannya pada semua yang bisa bermanfaat pada tanah kelahirannya, Mandar. Sosok itu tak lain adalah H. Hajrul Malik, S.Ag., M. Pd. 
Siapa sangka, dari segala bentuk perjuangannya mengedukasi warga Mamuju (baca: Sulbar) mengantarkannya pada posisi sebagai Anggota DPRD periode 2004-2009 dan periode 2009-2014.

Secara logika, bagaimana mungkin anak Tinambung mampu menjadi tokoh berpengaruh di Mamuju, Ibu Kota Propinsi Sulbar?. Sangat mungkin pemantiknya adalah keikhlasannya mengamalkan ilmu dan terlibat langsung dalam proses Perjuangan Pembentukan Propinsi Sulawesi Barat periode 1998-2004. 

Hal yang perlu dicatat bahwa peran seorang Hajrul Malik dalam membidani kelahiran Propinsi Sulawesi Barat tak boleh dinafikan. Ia adalah salah satu eksponen Laskar I Pasu Tau Taji Barani dibawah Komando Naharuddin yang juga merupakan Sekjen KAPP Sulbar. Hajrul tak hanya aktif secara politik melahirkan Sulbar, tapi juga aktif membangun generasi Sulbar melalui ruang-ruang pendidikan yang ia ampuh sejak tahun 2000an.
 
Perhatian pada pendidikan memang sangat lekat pada sosok ini. Terbukti saat menjadi Anggota DPRD Mamuju, ia tak terlena dengan sejumlah fasilitas sebagai wakil rakyat. Sebagai seorang yang memiliki ilmu agama yang cukup, ia sadar betul bahwa jabatan itu bukan tujuan, tapi alat saja. Ia sadar bahwa tak mungkin kesempatan it terus-terus bisa ia nikmati. Itulah makanya dalam posisi tersebut, selain ikut Taplai Lemhanas (2008 dan 2009), ia juga mulai mempersiapkan dirinya ikut Pasca Sarjana UNM, meski semuanya baru bisa ia tuntaskan pada tahun 2020. 
Termasuk menjadi Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar Fakultas Ekonomi Syariah yang saat masih proses penyelesaian. 

Hajrul sejatinya bukan politisi, tapi sebagai pendidik. Hanya saja karena diuntungkan dengan momentum dan tak ingin menyia-nyiakan peluang yang ada sehingga status sebagai politisi dan pendidik yang tak melupakan jati dirinya. Hajrul bukan sosok yang kaget sebagai pejabat. Prinsip hidup sederhana adalah spirit yang ditanamkan orang tuanya sejak awal.

Prinsip itulah yang terus difaktualkan oleh Hajrul dalam setiap ruang dan dimensi hidup yang terenda untuknya. 
Maka menjadi pendidik, mengabdi pada masyarakat lewat wadah Fasilitator Kelurahan Program CBD (Community Base Development (2001), Anggota PAHAM Region Sulawesi (2001), Aktif LBH Bantaya Palu Sulteng (2001-2005), Ketua Bidang Pelayanan Masyarakat IKAL Lemhanas Sulbar, Pembinan Blue Helmet Indonesia, Sulawesi Barat, Ikatan Mahasiswa DDI, Pengurus As’adiyah Sulawesi Barat (2015-sekarang), dan Ketua PKBI (Persatuan Keluarga Berencana Indonesia) Mamuju menjadi hal yang ia nikmati prosesnya. 

Menjadi politisi dan Anggota DPRD Kabupaten Mamuju (2004-2014), Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Mamuju (2015-sekarang, Ketua Yayasan Arrahman Patiddi (2018-sekarang, Pimpinan Pondok Raudhatul Thalibin Tohri, Mamuju, Komisaris PT. Manakarra Unggul Lestari, Mamuju adalah jalan berkah yang tak lain adalah ganjaran dari keikhlasannya dalam berbagai bentuk pengabdiannya.  
Dua pendidikan dan dunia politik di tangan Hajrul bukanlah bara yang bisa membakar tangannya. Tapi menjadi ruang untuk terus berdialektika. 

Dalam kapasitas Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Mamuju dan Wakil Koordinator Satgas Pemulihan Bancana Mamuju (2021), serta Ketua Arrahman Patiddi, Pembina Allo Bi’ar Institut Sulbar justru semakin ia nikmati sebab ia lebih leluasa hidup berdinamika.Pun ketika didapuk menjadi Ketua DPD PKS Kabupaten Mamuju (2003-2005), Bendahara DPW PKS Sulawesi Barat (2005-2009), Sekum DPW PKS Sulawesi Barat (2014-2018), Ketua GARBI Gerakan Arah Baru Indonesia) Sulawesi Barat (2018-2020) hingga dipercaya menjadi Ketua DPW Partai Gelora Sulawesi Barat sejak 2020 sampai sekarang ia nikmati dengan niatan yang tentu untuk meningkatkan kapasitas dirinya dan memperluas tali silaturrahmi antara kelompok masyarakat bahkan antar umat beragama di Sulawesi Barat. 

Pilkada 2024 kemarin, ia dipercaya oleh Sitti Sutinah merumuskan dan mematangkan strategi pemenangan menuju periode kedua dari putrid SDK itu. Bahkan, Hajrul sekaligus menjadi juru bicara pasangan SDK-JSM dalam kontetasi Pilkada Serentak di Sulawesi Barat. Kemenangan SUTINAH-YUKI dan SDK-JSM adalah kemenangan bersama yang harus memposisikan Hajrul Malik sebagai pemantik. Terlebih sebagai Ketua DPW Partai Gelora yang ikut mengusung pasangan SDK-JSM mutlak lebih mengukuhkan appresiasi dan terima kasih kita terhadap Hajrul.

MUHAMAD YUSRI || Sang Petarung Dari Utara

MUHAMMAD YUSRI adalah Ketua DPD Nasdem Kabupaten Pasangkayu tahun 2021 sampai sekarang. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Mamuju Utara periode 2012-2017. Keluar dari Demokrat dan menjadi Ketua DPC Perindo Tahun 2017-2020. Pada Pilgub 2024 kemarin, ia menjadi salah satu dari koalisi partai untuk pemenangan pasangan SDK-JSM. Keberadaannya tak bisa dinafikan bahwa tanpa ikut campur Yusri, kemenangan SDK di Pasangkayu tak akan seperti ini. Terlebih, sejak awal Kabupaten Pasangkayu adalah lumbung suara PDIP jika bercerpin pada prestasi Agus Ambo Djiwa disana. 

Yusri lahir di sebuah kampung di Kecamatan Budong-Budong bernama Kire, 13 November 1978. Pendidikan dasarnya juga ia tempuh di kampung tersebut yakni di SDN Kire (1990). Setamat SD, ia melanjutkan sekolahnya di SMP Negri 1 Budong-Budong (1993). 

Selesai ditingkat SMP, Yusri malang melintang di beberapa wilayah di Indonesia. Pendidikan menengah atas ia raih di SMA Negeri 2 Mandonga Kendari (1996), tapi kemudian hijrah ke Makassar untuk mengambil S1-nya di Tehnik Sipil UMI Makassar (2004) dan terbang ke Jakarta untuk menempuh pendidikan pasca sarjana S2 Administrasi Pemerintahan Daerah STIAMI Jakarta dan selesai pada tahun 2011.

Suami dari Amalia, S.Kep dan ayah 4 orang anak ini tak mengherankan jika bertumbuh sebagai aktifis, organisatoris sampai politisi literat sebab sejak awal ia banyak menempah dirinya dalam berbagai kegiatan diklat atau kursus dari mulai kegiatan Latihan Kepemimpinan Dasar Remaja Masjid Nurul Yaqin Kire Angkatan 1 Tahun 1993. Ia juga memiliki pengalaman menulis dari keikutsertaaanya dalam Pelatihan Metodologi Penelitian dan Penulisan Karya Tulis Ilmiah yang dihelat oleh Hipermaju di Makassar (1996) dan Pusat Pendidikan Komputer UMI Makassar (1997).

Saat menjadi mahasiswa di UMI Makassar, ia bergabung dalam organisasi pergerakan di HMI. Jiwa pembelajar Yusri memang dari awal terus bertumbuh sehingga ia banyak mengikuti pelatihan antara lain ikut Basic Training HMI Angkatan XLV FT UMI Makassar (1997); Latihan Manajemen Kelembagaan Mahasiswa FT-UMI Angkatan III tahun 1997, Simposium Nasional Pemuda Indonesia tentang Revolusi Konflik oleh DPP KNPI Bekerjasama dengan Pemprop Sulawesi Tengah di Palu tahun 1997, Termasuk berkesempatan mengikuti Simposium Nasional Pengembangan Produk Unggulan di Makassar tahun 1999; Diklat Jurnalistik Dasar Angkatan VIII Koran Mahasiswa Cakrawala UMI Makassar Tahun 1999. 

Ia juga ikut memperdalam ilmu dan pengalaman dalam dunia pergerakan dengan mengikuti UP-Grading HMI Komisariat Tehnik UMI di Makassar tahun 2000; Intermediate di Benteng Ritterdam Makassar tahun 2000; Keaktifannya di organisasi di HMI membuat ia meraih kesempatan menghadiri acara bergengsi setingkat Temu Ilmiah Mahasiswa Tehnik Indonesia (TIMTI) di Pontianak tahun 2000. Saat di Sulbar, ia juga pernah mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Pemuda oleh Dinas Pemuda dan Olahrga Sulbar tahun 2007; Pelatihan Pendidikan Sisiologi Politik di Clarion Makassar tahun 2007. 

Aktif dan hidup dalam organisasi dan pergerakan sesungguhnya tidak instan muncul saat menjadi mahasiswa, melainkan sejak sekolah di SMP banyak aktif sebagai Pengurus OSIS SMPN 1 Budong-Budong 1991-1992. Pada saat sekolah di SMA, ia juga jadi Pengurus OSIS SMA Negeri 2 Mandong 1994-1995. Tak heran jika kemudian setelah mahasiswa, ia banyak diberi kepercayaan mulai dari menjadi Presidium HMI Komisariat Tehnik UMI tahun 1998-1999 sampai Presidium HMI Korkom UMI tahun 1999-2000. Tak hanya itu, ia juga dipilih menjadi Ketua Litbang LTMI HMI Cabang Makassar tahun 2000-2002.

Sederet tugas dan tanggung jawab Yusri mampu ia tunaikan dengan baik sehingga nyaris ia selalu menjadi sosok yang dipercaya menjadi Presidium HMI Cabang Makassar 2001-2002, Presidium Senat Mahasiswa Fakultas Tehnik UMI (SEMA FT-UMI tahun 1999-2000, Ketua Keorganisasian dan Kemahasiswaan Majelis Perwakilan Mahasiswa FT-UMI tahun 2000-2002, Korwil Sulsel Perhimpunan Mahasiswa Tehnik Indonesia (PMTI) tahun 2000-2002. 

Sebagai sosok yang pernah mengikuti Diklat Jurnalistik, tak heran jika ia dilibatkan menjadi Pengurus Unit Penulisan dan Penerbitan Mahasiswa (UPPM) Koran Mahasiswa Cakrawala Ide UMI tahun 1999-2001. Dalam skala lokal Polemaju (Sulbar sekarang), ia juga didaulat sebagai Ketua I Himpunan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Mamuju (HIPERMAJU) Pusat Makassar tahun 2002-2005, Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan MPC Pemuda Pancasila Mamuju Utara 2007-2010, Ketua Harian Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Mamuju Utara 2006-2011, Sekretaris DPD KNPI Mamuju Utara (2007-2010, Wakil Ketua DPD KNPI Sulawesi Barat 2010-2013, Ketua DPD KNPI Mamuju Utara tahun 2011-2014 dan IKA UMI Mamuju Utara 2005-sekarang. KAHMI Propinsi Sulawesi Barat tahun 2012 – sekarang, GM. FK PPI Mamuju Utara tahun 2003- sekarang,  Ketua Dewan Penasehat KAHMI Pasangkayu tahun 2023-2028, Dewan Penasehat Keluarga Besar Masyarakat Mandar Assamalewuang Pasangkayu tahun 2024-2029. 

Tak hanya dalam dunia organisasi pergerakan, Yusri juga merawat martabat sebagai aktifis yang tak melulu mengandalkan proposal untuk menopang berbagai kegiatannya. Ia sadar menjadi aktifis harus ditopang oleh kemampuan financial. Itulah makanya ia mencari pekerjaan dan Pengawas Proyek Pembangunan Regional Daya Makassar tahun 2002, Dan begitu ia kembali ke Sulbar, ia berkecimpung sebagai penyelenggara pemilu dengan menjadi Anggota KPU Matra periode 2003-2008. Periode keduanya di KPU Matra, ia didapuk sebagai Ketua KPU Matra Periode 2008-2012. 

Hengkang dari KPU, Ia diberi kepercayaan oleh Partai Demokrat Sulbar sebagai Ketua DPC Demokrat Kabupaten Mamuju Utara periode 2012-2017 yang kala itu dinakhodai oleh H. Aras Tammauni. Saat Aras Tammauni menjadi Bupati Mamuju Tengah ia dipercaya menjadi Tenaga Ahli Bupati Kabupaten Mamuju Tengah tahun 2016-2019, 
Ketika Perindo menjadi salah satu partai peserta Pemilu 22019, ia hengkang dari dari partai Demokrat dan menangkap peluang sebagai Ketua DPC Perindo Tahun 2017-2020. Tak tanggung-tanggung, partai besutan Hari Tanoe itu mengantarnya ke Parlemen Sulbar. Ia lolos menjadi Anggota DPRD Propinsi Sulbar periode 2019-2024, dari Dapil Sulbar VII Pasangkayu. Ia salah satu peraih kursi bersama dengan Rayu (PDIP); Ir. H. Abidin (Demokrat); Dr. H. Marigun Rasyid (Golkar); Muhammad Rizal Saal (Hanura); Andi Muhammad Qusyairi (Nasdem).

Menjadi Anggota DPRD Sulbar hanya setahun lebih, sebab pada Pilkada Serentak 2020, ia memilih menjadi Calon Wakil Bupati Kabupaten Pasangkayu tahun 2020. Pasca Pilkada, Ia meninggalkan Partai Perindo dan bergabung ke Partai Nasdem sebagai Ketua DPD Kabupaten Pasangkayu pada tahun 2021-sekarang. Pilkada 2024 kemarin mencatatkan namanya sebagai salah satu dari pemantik kemenangan di wilayah paling ujung Sulbar ini.     

Senin, 06 Januari 2025

FEBRIANTO || Politisi Gila Bola, Bukan Gila Jabatan


FEBRIANTO WIJAYA adalah generasi muda multi talenta kebanggaan Sulbar, bukan saja sebagai politisi tapi juga merupakan pesepak bola yang berhasil meninggalkan jejak dalam berbagai turnamen. Keberadaannya di Tim Pemenangan SDK-JSM juga sangat menetukan yakni Koordinator Koalisi SDK-JSM Kabupaten Mamuju.  Keberadaan anak muda yang ini menjadi Anggota DPRD Kabupaten Mamuju ini tentu tak hanya menguntungkan tapi sekaligus menentukan. 

Saat ini, ia telah menjadi wakil rakyat untuk periodenya yang ketiga. Ia tercatat sebagai Anggota DPRD Mamuju sejak Pemilu 2014-2019; 2019-2024 dan terakhir kembali lolos meraih kursi di DPRD Mamuju dari Dapil 1 melalui Partai Demokrat dengan mengantongi 4. 536 suara. Capaian ini jauh meninggalkan perolehan suaranya pada Pemilu sebelumnya yang hanya 1,952 dari total 4,351 suara.

Febrianto lahir dari pasangan Ilham Wijaya dan Wenny Wijaya lahir di Ujung Pandang pada 20 Februari 1989. Suami dari Felani ini adalah cucu dari Oei Tik Piauw (OTP) yang tak lain adalah seorang turunan Tionghoa. Penting dicatat, meski ia Tionghoa, tapi hubungan emosionalnya dengan Mandar (tertama Mamuju) tentu tak dapat dinafikan. Kendati hari ini keluarga besar OTP diakui banyak mendapatkan pundi-pundi emas dari proses perjalanan Sulawesi Barat, capaiannya itu harus difahami sebagai bahagian dari jeri payahnya sejak tahun 1960-an yang ikut membangun Mamuju. 

OTP adalah seorang pengusaha sukses di Mamuju. Ayahnya kerap membantu Hapati Hasan saat menjadi Bupati Mamuju jika menemui kendala keuangan dalam pemerintahannya. Dialah yang membayarkan gaji guru-guru dan staf di kantor daerah ketika bupati mendapat kendala keuangan. OTP merupakan partner bupati dalam memajukan pembangunan di Mamuju. Sangat mungkin keberadaan Febrianto dalam dunia politik adalah buah manis dari pengabdian kakeknya juga. 

Termasuk Wilianto, sepupunya dikenal pengsaha sukses melalui bendera PT. Passokkorang dan PT. KMP. Entah penamaan Passokkorang pada brand perusahaannya terinspirasi dari kebesaran Kerajaan Passokkorang yang pernah menguasai sepertiga wilayah Sulawesi Barat. Yang pasti, PT. Passokkorang kemudian tampil merajai semua proyek konstruksi dan perhotelan, baik di Sulawesi Barat maupun di Sulawesi Selatan. Dari sana pula bisnis hotel ia garap mulai dari d’Maleo Hotel di Mamuju hingga Dalton Makassar; Claro Hotel Convention Makassar; The Rinra Makassar; Almadera Makassar bahkan kini Claro Hotel Convention menjulang di Kota Kendari Sulawesi Tenggara.  

Lelaki yang akrab disapa Anto ini memiliki memori yang lekat dengan sebuah tempat bernama Talitting. Talinting adalah lapangan timbul tenggelam, karena hanya ada pada saat air surut dan ketika arus pasang datang, maka yang tampak hanyalah genangan air. Disinilah Anto bermain bola bersama teman-temannya. Disinilah seorang Febri mengenal permainan sepak bola yang kelak mengantarnya sebagai pesepak bola yang cukup dikenal di Sulbar maupun di luar Sulbar. 

Terkait dunia bola, Anto merupakan pengagum bintang Argentina pada Piala Dunia 1998, Gabriel Batistuta dan Herman alias Tie' yang tak lain adalah pamannya. Herman adalah mantan pemain sepak takraw nasional yang melambungkan nama Indonesia di berbagai event internasional. Itulah makanya, ia mendirikan Klub Junior di kawasan Pasar Sentral Mamuju yang tak lain adalah tempat tinggalnya. Nama klub-nya pertama adalah Mangga Menteng lalu berganti PS. Elang Hijau dan PS. Armada lalu magang di Persemaju Mamuju.

Melihat potensi dan bakat yang dimiliki Febrianto Wijaya, orangtuanya menyarankan agar melanjutkan pendidikan SMP-nya di Makassar, setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD 1 Mamuju. Ia ikut SSB ternama di Makassar yakni MFS 2000 (Makassar Football School) pada tahun 2002, satu angkatan dengan Yus Arfandy Djafar dan Rachmat Latief. Disini bakat Febrianto semakin berkembang. Pada usia 13 tahun, dia sudah lolos pada seleksi terbuka PSM U-15 dan semakin menonjol pada umur 14 tahun dengan menjadi top skorer Liga Bogasari.

Tahun 2006 atau saat berusia-16 tahun, terpilih mengisi skuad Makassar Utama. Setahun kemudian pindah ke Persib Bandung U-17 dan juara disana. Di tahun yang sama, ia lolos seleksi dan terpilih masuk Timnas Indonesia U-17. Setelah itu ia menjalani training camp di Klub VfB Stuttgart Jerman tahun 2007.
Pulang dari negeri kelahiran Franz Beckenbauer, Febrianto Wijaya mendapat panggilan untuk memperkuat Tim Pra PON Sulsel. Di waktu yang sama dia juga lolos dalam seleksi PSM Makassar, karena regulasi untuk ikut di PON tidak memperbolehkan pemain profesional, maka diputuskan untuk tidak ikut ambil bagian di Tim PON Sulsel dan lebih memilih bergabung dengan skuad Ayam Jantan dari Timur yang memang sudah lama diimpikannya.
Bergabung PSM Makassar menambah deretan warga keturunan yang sejak dulu kerap mengisi skuad Pasukan Ramang. Menurut Erwin Wijaya, eks pemain PSM Makassar era 80-90an yang sempat penulis wawancara dalam catatan "Sejarah di Tasinara" pada pertengahan 2020, bahwa pada jaman Perserikatan PSM Makassar hanya dihuni oleh suku Makassar, Bugis, Mandar, Toraja, Ambon dan etnis Tionghoa.

Sejumlah nama warga keturunan yang menonjol dan menorehkan prestasi di PSM Makassar dari generasi yang berbeda seperti Harry Tjong, Frans Jo, Piet Tio, Keng Wie, dan terakhir yang berhasil membawa PSM Juara Perserikatan tahun 1992 Yosef Wijaya dan Erwin Wijaya.

Di usia 18 tahun, Febrianto Wijaya telah berhasil merasakan atmosfir sepakbola Nasional bersama PSM Makassar. Satu setengah musim merumput di PSM Makassar, lalu dipinjamkan ke Persipura Jayapura. Setelah menyelesaikan setengah musim bersama Tim besutan Raja Isa, dia kembali ke PSM Makassar. Di usia ke-19,  Febrianto Wijaya kembali tercatat sebagai pemain Timnas Indonesia U-19, bersama dengan beberapa rekannya di Timnas U-17 sebelumnya seperti; Andritany Ardhiyasa, Kurnia Meiga, Egi Melgiansyah, Rahmat Latief dan Syamsir Alam.

Musim berikutnya dia mendapat pinangan dari Persiram "Dewa Laut" Raja Ampat, bahkan sudah sampai pada tahap negosiasi, namun di waktu bersamaan tawaran datang dari Medan Chiefs yang bermain pada kompetisi Indonesian Premier League (IPL), Setelah melalui pertimbangan yang matang, Febrianto memilih teken kontrak dengan Medan Chiefs.

Semusim bersama Medan Chiefs, ia akhirnya berlabuh di rakit "Laskar Joko Tingkir" Persela Lamongan
hingga akhirnya menyatakan pensiun dini sebagai pesepakbola di usia emas 24 tahun.

Pada tahun 2011-2012, konflik dan kisruh di tubuh PSSI mengakibatkan dualisme kompetisi. yaitu Indonesia Super League (ISL) dan Indonesia Premier League (IPL) kondisi ini membuat sepakbola Indonesia mengalami gonjang-ganjing. Hal tersebut menjadi salah satu alasan hingga Febrianto Wijaya memutuskan untuk gantung sepatu.

Kini ia menjadi politisi. Salah satu alasan untuk terjun ke dunia politik adalah membuat sepakbola di pelosok kampung jauh lebih bergairah melalui proses pembinaan. Hal tersebut benar-benar ia buktikan melalui pembinaan di SSB Mitra Manakarra bersama dengan beberapa teman pelatih lainnya seperti Irfan Rahman, Erik, Muhammad Jufri dll.

Bersama SSB Mitra Manakarra, dia telah melahirkan beberapa pemain yang memperkuat Timnas Indonesia dari berbagai tingkatan umur, diantaranya, Maldini Palli (U-19), Ryan Riding (U-16), Fakih (U-16) Rezky Pandi (U-19) dan Fadel Muhammad (Pelajar U-15). Selain itu, ia juga mengurus Klub OTP 37 Mamuju yang berjuang di kompetisi di Liga 3 Indonesia. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi Febrianto tatkala mendapat kepercayaan dari manajemen PSM Makassar untuk membawa Akademi PSM berhombase di Stadion Manakarra Mamuju.

Selain serius membina SSB Mitra Manakarra, OTP 37 dan Akademi PSM Makassar, dia juga tercatat sebagai pengurus BLiSPI (Badan Liga Sepak Bola Pelajar Indonesia) Sulawesi Barat, Lembaga yang fokus untuk pembinaan sepakbola usia dini. Dalam pandangannya, Sepakbola itu bukan cuma pemain, menjadi pengurus, manajer, pembina dan pelatih, adalah bagian dari sepakbola.

Kini, Febrianto menata diri dan dipercaya menjadi Pengurus DPD Demokrat Sulbar, Wakil Ketua MPC PP Kabupaten Mamuju, Sekretaris PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa) Propinsi Sulawesi Barat, Pengurus FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Kabupaten Mamuju, Ketua Asosiasi PSSI Kabupaten Mamuju, Direktur Akademi PSM Makassar, Pembina Utama Sekolah Sepakbola Mitra Manakarra Mamuju, 
Pembina Utama PRMI (pena Real Madrid) Kabupaten Mamuju, Pembina Youth Manakarra Mamuju, Wasekjen Bidang Otonomi Daerah DPN ADKASI (Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia), Inisiator Manakarra Fair, Kharisma Even Nusantara RI, dan Pembina Esport Kabupaten Mamuju, Jika berbicara kemenangan SDK-JSM, sosok ini menjadi salah satu dari pemantik. 

Jumat, 03 Januari 2025

ARY IFTIKHAR SHIHAB || Wajah Baru di Parlemen Sulbar


ARY IFTIKHAR SHIHAB adalah salah satu wajah baru yang mengisi parlemen Sulbar sejak dilantik Kamis, 26 September 2024 lalu. Lelaki yang akrab disapa Koje’ ini resmi menjadi Anggota DPRD Sulbar Periode 2024-2029 dari Fraksi Partai Nasdem Dapil Sulbar 2 (Polman A). Dalam proses pemenangan SDK-JSM pada Pilkada kemarin, Koje’ menjadi salah satu pemantik kemenangan karena jaringan anak muda yang tergabung dalam komunitas “Sama Rata” dan konstituen pendukungnya di berbagai kecamatan yang ada di Polman A, khususnya petani dan pecinta ayam bangkok. 

Sejak awal terjun ke dunia politik, sosok Koje’ seakan menjadi medan magnet. Itu terbukti ketika mencaleg di Partai Demokrat pada Pemilu 2019 berhasil meraih suara yang cukup signifikan, meski Husain Hainur menutup aksesnya untuk melenggang ke parlemen Sulbar. Kecewakah Koje’ atas kenyataan ini?. Ternyata tidak, Ia bahkan semakin intens membangun komunikasi dengan masyarakat berbagai kalangan. Ia memesrai banyak anak muda produktif sehingga ketika tahapan Pemilu 2024 dimulai, ia mendaftarkan dirinya sebagai Caleg Propinsi Sulawesi Barat di Partai Nasdem. 

Di Nasdem-lah garis takdir yang tergurat di dahinya terkuak dan mencatatkan namanya sebagai salah satu Anggota DPRD Sulbar 2024. Dalam darahnya, mengalir sebagai dzurriyah nabi bermarga Ash-Shihab. Marga yang terkenal di Indonesia lewat nama besar Prof. Dr. AGH. Muhammad Quraysh Shihab, Lc. MA (ulama ahli tafsir dan mantan Menteri Agama RI). Marga Shihab mungkin tak setenar pam Al-Attas di Mandar, tapi Koje’ pantas dipanggil habib atau Saiyye’. Sayyid adalah kelompok sosial yang selalu mempertahankan genealogy dan sistem kafa’ah (kawin seketurunan) bagi keturunan yang berjenis kelamin wanita yang digelari dengan panggilan Syarifah. 

Akan halnya di Mandar, keluarga sayyid ini menempati posisi yang tak kalah terhormatnya dengan bangsawan Mandar. sebagaimana S. Mengga, yang menjadi kakek dari Ary Iftikhar Shihab. Nashab Koje’ di Mandar tersambung langsung ke S. Mengga yakni dari salah satu anak S. Mengga yang bernama Syarifah Asiah. Syarifah Asiah ini putri S. Mengga dari istrinya yang bernama Hj. Nyilang. Syarifah Asiah bersaudara kandung dengan Jendral Salim S. Mengga dan Ir. Aladin S. Mengga. 
Syarifah Asiah S. Mengga ini dipersunting oleh Prof. Dr. KH. Umar Shihab. Dari pernikahan inilah lahir Ary Iftikhar Shihab atau Koje’. 

Prof. Umar Shihab bersaudara dengan Prof. Quraish Shihab dan Prof. Dr. H. Alwi Abdurrahaman Shihab yang juga tercatat pernah menjadi Menko Kesra dan Menteri Luar Neger RI. Prof. Umar Shihab sendiri adalah tokoh penting yang pernah menjabat Ketua MDI Sulsel dan Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat. Itulah makanya, Koje bersepupu satu kali dengan Najwa Shihab, Tokoh Literasi Nasional yang pernah menjadi Duta Baca Indonesia. 

Baik Marga Al-Attas dan Ash-Shihab memiliki nashab dan sanad keilmuan yang tersambung ke Hadramaut Yaman, Dari sini manusia-manusia terhormat yang dikenal sebagai Hadrami terekam dalam sejarah melakukan migrasi besar-besaran ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia sejak abad ke-18 dan 19. 

Migrasi ini dipicu oleh berbagai factor termasuk ekonomi, politik dan perubahan iklim. Mereka berasimilasi dengan masyarakat setempat dan seringkali menikahi penduduk lokal sehingga menghasilkan komunitas Hadhrami-Indonesia yang cukup besar.

Mereka ini kemudian berdiaspora ke berbagai wilayah nusantara, termasuk Sulawesi yang didalamnya ada Mandar. Marga Sayyid ini dipercaya sebagai turunan Nabi Muhammad melalui cucunya, Hasan dan Husain. Karena status inilah mereka dihormati dalam masyarakat Islam sebagai pemimpin agama, ulama atau intelektual bahkan sebagai pemimpin daerah seperti Gubernur, Bupati dan Anggota DPR. Dari sisi ini, Koje menjadi wakil rakyat salah satunya atas pertimbangan nashabnya.

***
         
Koje’ lahir di Makassar, 10 Januari 1977. Nama Koje’ lekat sebagai panggilan akrabnya sesungguhnya terinsipirasi dari sebuah film di TVRI Nasional yang diputar setelah siaran Dunia Dalam Berita. Film itu berjudul Detektif Koje yang pemeran utamanya berperawakan botak yang mirip dengan dirinya saat itu. Itulah makanya Ary Iftikhar lekat dengan panggilan Koje sejak usia 5 tahun. Koje menyelesaikan pendidikan dasar dan lanjutannya di Makassar. 

Setamat SMA, ia pindah ke Jakarta. Ia sempat ke Amerika mengambil kejuruan. Setelah itu, ia kembali dan memilih melanjutkan pendidikannya di Fakultas Tehnik Sipil Unissula (Universitas Sultan Agung Semarang. Setelah menyelesaikan kuliah, ia sempat terjun ke dunia bisnis dan merintis usaha suplai kelapa untuk perusahaan santan kara, santan kelapa siap pakai. 

Tahun 2008, ia memilih tinggal di Polman pasca meninggalnya kakeknya, S. Mengga akhir 2007. Di Polewali ia memilih menjadi petani dan berbaur dengan masyarakat petani. Dari sinilah muncul niatan terjun ke dunia politik. Ia merasa prihatin dengan kondisi dan sejumlah persoalan yang melingkuip dunia pertanian. Setelah merasa siap untuk bertarung dalam kontastasi pemilu, ia mulai dengan mencaleg di Demokrat tahun 2019 meski belum berhasil. Ia kembali mencoba di Partai Nasdem pada Pemilu 2024 dan berhasil. 

Sejak itu, pria yang tinggal di BTN Polewali Residen Madatte ini menjalani hari-harinya sebagai wakil rakyat. 
Termasuk menjadi Ketua Tim Koalisi Partai Pasangan SDK-JSM pada Pilgub Sulbar 2024.            

SYAMSUL SAMAD || Loyalitas Tanpa Batas


H. SYAMSUL SAMAD, demikian nama yang lekat pada sosok politisi muda yang saat ini menjadi nakhoda DPC Partai Demokrat Polewali Mandar. Keberadaannya di Tim Pemenangan SDK tak diragukan bahwa ia adalah kader yang benar-benar menjaga komitmen. Rumah Putih Palippis yang tak lain rumah pribadinya menjadi markas perjuangan, tidak saja bagi tim koalisi tapi juga relawan dan simpatisan menjadikannya sebagai tempat diskusi, kongkow-kongkow antara sesama pendukung SDK- JSM.

Saya mengenalnya sejak dari 2009 dari seringnya kami ketemu saat berkunjung ke Kantor DPRD Polewali Mandar. Meski kami berlainan partai, tapi komunikasi tak menghalangi untuk berdiskusi tentang kondisi masyarakat Polewali Mandar. Begitupun saat menjadi Anggota DPRD Sulbar, komunikasi kami terus terjalin.

Pria yang lahir di Desa Bala Kecamatan Balanipa, 4 Oktober 1980 ini punya garis takdir yang cukup cemerlang. Betapa tidak, pada tahun 2009 ia merintis karier politiknya di Partai Demokrat. Bermodal kost politik 20 jutaan, ia berhasil meraup suara 1.300 dan mengantarnya sebagai Anggota DPRD Polewali Mandar periode 2009-2014. Di Polman, hanya satu periode ia jalani dan beranjak ke level propinsi. Keputusan ini termasuk berani dan beresiko, tapi bukan Syamsul jika ia tak siap ditampar oleh resiko. 

Baginya, bertarung di tingkat kabupaten dan propinsi sama saja, sebab penetunya adalah konstituen yang kerap ia bina selama menjadi Anggota DPRD Polman. Sebagai aktifis, ia faham betul kalkulasi politik dan startegi kemenangan yang mesti ia jaga. Hasilnya kemudian, sebanyak 4.200 suara mengantarnya menjadi salah satu dari 45 Anggota DPRD Sulbar periode 2014-2019. 

Pada Pemilu 2019-2024 juga demikian ia kembali dengan mudah meraup suara dari dapil Polman B dan mengantarnya menjadi Anggota DPRD Sulbar untuk kedua kalinya dengan perolehan suara yang signifikan, yakni 6.700 suara. Lolos sebagai wakil rakyat dua periode tentu bukan hal mudah, sebab tak jarang politisi lain hanya mampu bertahan 1 periode saja. Tapi Syamsul yang nyaris diterima semua kalangan justru enjoy dan terus mendapat dukungan rakyat. Kondisi ini memberinya peluang kembali lolos pada Pemilu 2024 dengan mengantongi suara 11.850. Ia kemudian kembali dilantik pada 26 September 2014 di untuk periode yang ketiga kalinya. 

***

Jangan pernah berfikir bahwa Syamsul yang akrab disapa Ancu ini adalah anak orang kaya atau pejabat tinggi. Ia lahir dari seorang ayah bernama Abdul Samad dengan ibu yang bernama Musdalifah. Pasangan suami istri menggantungkan hidupnya sebagai petani biasa di Desa Bala (dulu Desa Pambusuang). Syamsul adalah anak kedua dari 5 bersaudara, yakni Hasnah Samad, Syamsul Samad, Darmawati Samad, Kasmawati Samad dan Ahmad Samad. Ketika bencana banjir besar 1987 melanda Polewali Mamasa (sekarang Polewali Mandar) kondisi ekonomi masyarakat berada pada titik nadir. Kondisi ini membuat Abdul Samad memilih hijrah ke Karossa Mamuju. 

Tujuannya tentu untuk mengubah nasib dengan tetap menjadi petani. Ia dibantu oleh istrinya berjualan garam dan serabutan di pasar Karossa. Itulah makanya, Syamsul Samad menempuh pendidikan dasarnya di SD Karossa yang kebetulan berada di dekat rumahnya. Setamat di SD, ia kemudian lanjut ke SMP Karossa. Disini perjuangan Syamsul mulai dipertaruhkan. Betapa tidak, setiap hari ia harus berjalan kaki sejauh 6 km untuk sampai ke sekolahnya. Ini dilakukan karena orang tuanya tak mampu membelikannya sepeda. Jangankan sepeda, untuk kebutuhan kesehariannya saja sudah tertatih. 

Tapi Syamsul beruntung memiliki orang tua yang berfikir maju. Bagi Pak Samad, pendidikan bagi anak-anaknya adalah nomor satu. Tak boleh ada anaknya yang tak sekolah hanya karena kendala ekonomi. Syamsul yang nota bene anak kedua tentu tak memiliki kesempatan bermanja-manja. Betapa pun kesulitan yang mendera keluarganya, ia tjuga punya tekad untuk tetap bersekolah. Untuk menyiasati kehidupannya, Syamsul bahkan tak jarang harus numpang kerja di bengkel, jadi kernet mobil penumpang jurusan Karossa-Mamuju. Itu ia lakukan sampai tamat SMP.

Setelah tamat SMP, Syamsul memilih merantau ke Parapare. Disana ia mendaftar ke SMA 1 Parepare, sebuah sekolah unggulan yang siswanya rata-rata anak orang kaya. Sekolahnya memiliki 23 kelas yang setiap kelasnya diisi dengan 40 orang siswa. Menurut Syamsul, diantara seribuan siswa di sekolahnya, hanya dia yang menggunakan sepeda. Di Parepare, Syamsul menumpang di rumah salah seorang keluarganya selama setahun, setelah itu ia memilih in the kost dan hidup mandiri. Itu ia lakukan karena tak ingin merepotkan keluarganya, termasuk ia tak banyak lagi berharap pada orang tuanya di Karossa. 

Dalam kondisi begtu, Syamsul tak kehilangan akal untuk tetap bisa melanjutkan sekolahnya. Itulah makanya, Syamsul menyiasati kehidupannya di Parepare dengan pergi ke pasar dan membuka permainan catur tiga langkah. Dari sini, ia menghandel permainan dengan lawan tandingnya yang harus membayar baru bisa jadi penantangnya. Pola permainannya, jika penantangnya mampu mengalahkannya dalam tiga langkah, maka ia akan membayar senilai yang telah ditentukan. Syamsul memang telah menguasai rahasia permainan ini sehingga bisa dipastikan ia dapat uang, sebab ia memiliki rahasia permainan yang tak memungkinkan lawannya menang. Dalam kondisi susah, manusia memang cenderung kreatif, demikianlah yang terjadi pada Syamsul Samad. 

***
Fase kehidupan Syamsul semakin menantang setamat ia di SMA 1 Parepare. Ia melanjutkan pendidikannya dengan mengambil Diploma-3 di STAIN Parepare tapi kemudian memilih pulang ke Bala dan melanjutkan studinya di Unasman. Gelar sarjana berhasil ia dapatkan sembari aktif di berbagai organisasi, salah satunya adalah HMI. Ia tercatat sebagai Ketua HMI Cabang Polemaju pada tahun 2005-2007 dan Ketua Karateker Cabang HMI Persiapan Polman pada 2007. Pada jenjang organisasi, ia dikenal teruji dan matang. 

Dari dunia pergerakan Syamsul mulai memasuki dunia politik, Secara, aktifis memang cenderung mencari dunia yang bisa dengan mudah mengembangkan jati dirinya untuk bermanfaat bagi banyak orang. Itu yang menjadi pilihan Syamsul Samad. Sebelumnya, ia memang pernah mendaftar STPDN tapi gagal karena tidak ada yang back up, itupun ia gugur  pada tahap akhir, yakni sesi wawancara. Begitulah jalan hidup seorang Syamsul yang hidupnya dibiarkan mengalir bagai air saja. 

Melabuhkan pilihan politik di Partai Politik terhitung mulai tahun 2007. Saat itu, Andi Mappangara, Anggota DPRD Polman Periode 2004-2009 mengajaknya untuk mengambil bagian dalam Muscab Partai Demokrat. Peran Syamsul dalam proses ini sangat menentukan bagi kemenangan Mappangara sebagai Ketua DPC Partai Demokrat. Alasan itu kemudian membuat Syamsul didapuk jadi sekretaris. Dari sinilah, ia membangun komunikasi dengan para aktifis untuk berjuang dalam Pemilu 2009. Benar saja, Syamsul yang terdaftar sebagai Caleg Partai Demokrat Dapil 4 ini lolos menjadi Anggota DPRD Polman Periode 2009-2014.  

Terpilih sebagai Anggota DPRD Polman awalnya merasa lucu. Betapa tidak, ia yang sebelumnya sering muncul di Kantor DPRD dan Kantor Bupati membawa proposal kegiatan kini bisa sejajar dengan anggota dewan dan para pejabat teras di daerah ini. Terlebih saat itu, ia dipercaya menjadi Ketua Komisi I yang memungkinkan lebih intens bertemu dengan mereka. Ia juga semakin dikenal oleh masyarakat. Ia memang tak banyak dikenal oleh masyarakat waktu itu, sebab sejak kecil ia dibesarkan di luar daerah. 

Hal yang mendesak dilakukan olehnya adalah membina para pemuda kampung melalui sepakbola, selebihnya ia focus mengubah mind-set para pemuda dan warga sekitar. Terbukti, Syamsul berhasil mengantarkan mereka menjadi generasi yang penuh manfaat bagi sesame.

Mereka semakin maju cara berfikirnya melalui pendekatan Syamsul Samad. 
Sosok Syamsul juga dikenal konsisten dan komitmen memperjuangkan nasib rakyat atau konstituen yang jadi basis perjuangannya. Hal inilah yang menjadi alasan bagi Syamsul sehingga memutuskan untuk maju sebagai Caleg DPRD Sulbar pada Pemilu 2014-2019. Keputusan politiknya itu membuahkan hasil, bahkan kini memasuki periode ketiganya mengemban amanah rakyat di Dapil Sulbar 3 atau Polman B. 

Sejak berada di DPRD Sulbar, Syamsul dikenal banyak memiliki konstribusi dalam mengeksekusi berbagai aspirasi masyarakat yang diserapnya. Termasuk menjadi Ketua Komisi dan Ketua Pansus/Panja terkait Tata Tertib DPRD Sulbar dan Perubahan Struktur Kelembagaan. Ia juga dipercaya menjadi Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Polewali Mandar sejak tahun 2018 sampai sekarang.  
    
***

Sukses didunia politik tak membuatnya lupa untuk terus belajar dan melanjutkan pendidikannya. Pendidikan adalah prinsip dan amanah dari ayahnya sehingga ia tercatat sebagai alumni pasca sarjana (S-2)UNIBOS-Universitas Bosowa (dulu Universitas 45) Makassar dan saat ini merupakan candidat doctor program studi Pembangunan UNHAS Makassar. 

Syamsul melepas masa lajangnya ketika masih menjadi anggota DPRD Polman, tepatnya tanggal 5 Mei 2012. Ia berhasil mempersunting mojang Samasundu bernama Marwah, S.Pd., M.Pd. Dari pernikahannya tersebut, ia dikaruniai 2 orang putra dan satu orang putri, masing-masing bernama Muhammad Andra Moissani Manggala SS; Muhammad Arya Gadi Fadhlulah SS; dan Alea Giyandra Putri SS. 

Kini Syamsul bersama keluarga tinggal di sebuah rumah berarsitektur modern dan artistic yang terletak di bilangan Jalan Trans Sulawesi Palippis. Ruamh kediamnnya ini dikenal dengan Rumah Putih Palippis. Dari rumah ini juga strategi pemenangan pasangan SDK-JSM dimatangkan.     

SURAIDAH SUHARDI || Membangun Pribadi Berkarakter Masa Depan

Dr. Hj. Sitti Suraidah Suhardi, M.Si, demikian nama lengkap dari politisi yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sulbar periode 2024-2029. Sebelumnya, ia adalah Ketua DPRD Sulbar periode 2019-2024. Bergesernya jabatan itu disebabkan Demokrat mengalami penyusutan perolehan suara di beberapa dapil hingga Golkar menyalipnya. 

Suraidah lahir di Makassar, 30 Juli 1986. Ia adalah putri kedua dari Suhardi Duka dengan Hj. Harsinah Dg. Ngasseng. Ia lahir di tahun yang bertepatan dengan keputusan SDK pulang ke Mamuju untuk membangun kariernya yang saat itu telah mengantongi SK sebagai PNS di Depatemen Penerangan. SDK menikah dengan Harsinah saat masih berstatus mahasiswa, tepatnya pada tanggal 25 Mei 1983. Praktis anak pertamanya yakni Sitti Sutinah dan Sitti Suraidah lahir di Makassar. Itulah makanya, Suraidah dan Sutinah menempuh pendidikan dasarnya di SDN Binanga, meski keduanya lahir di Makassar.  

Jenjang pendidikan lanjutannya ia tempuh di SLTPN 1 Mamuju (2001) kemudian lanjut ke SMA Nahdiyat Makassar (selesai tahun 2004). Adapun jenjang pendidikan S1-nya ia tempuh di STIE Muhammadiyah Mamuju (2010) dan lanjut S2-nya di Universitas Indonesia Timur Makassar (2013) dan puncaknya, Suraidah menyandang gelar doktoralnya di UIN Alauddin Makassar pada tahun 2022. 

Suraidah tumbuh dan berkembang menjadi anak yang tangguh, suaranya lantang dan tegas, tatapan matanya tajam. Meski dibalik itu, ia memiliki kebiasaan sakit ketika ditinggal oleh ayahnya keluar daerah. Bahkan, SDK harus menjahit baju khusus yang diperlihatkan kepada Suraidah ketika ia perjalanan dinas. Lewat baju itu, kerinduan Suraidah kepada ayahnya tak meradang dan merasa nyaman dengan baju bapaknya itu. Mungkin karena itu, SDK menjadikan putrinya sebagai politisi, bukan sebagai ASN. 




Tahun 2006, Suraidah mendaftar sebagai ASN tapi tidak diluluskan oleh ayahnya yang saat itu menjabat sebagai Bupati. Disinilah integritas SDK benar benar terfaktualkan. Sebagai bupati, ia bisa saja meluluskan anaknya, tapi urung dilakukan untuk menjaga integritasnya. Berbeda dengan Sutinah, SDK memberi peluang kepadanya untuk mengabdi sebagai ASN, meski akhirnya ia dipertemukan takdirnya sebagai politisi dan menjadi perempuan bupati yang pertama di Mamuju. 

SDK merasa yakin bahwa Suraidah cocok menjadi politisi karena sikapnya yang pemberani dan bisa diandalkan. Itu dibuktikan ketika ada kegiatan SDK yang tak bisa dihadiri, Suraidah menjadi sosok pengganti dan diterima baik oleh masyarakat. Suraidah akhirnya dijahitkan baju warna biru khusus untuk menghadiri undangan yang mewakili ayahnya seperti membawakan sambutan dalam berbagai acara seperti pernikahan, khitanan dan acara keagamaan lainnya. Bahkan tak jarang, Suraidah yang menemui tamu SDK ketika tak ada di rumah.   

Ketika usianya menginjak 20 tahun, Suraidah memutuskan untuk terjun ke dunia politik, meski pada saat yang sama ia lulus sebagai ASN setelah mengabdi selama 4 tahun (2006-2009) sebagai tenaga kontrak aspri wakil bupati. Pada saat Suraidah lulus ASN, ia juga telah membuat pilihan untuk mengikuti jejak ayahnya berorganisasi di KNPI, menjadi pimpinan partai Demokrat Mamuju dan mulai mencalonkan diri sebagai Caleg DPRD Mamuju pada tahun 2009. Ia lolos dan menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Mamuju periode 2009-2014. Pada Pemilu 2014, ia kembali mencalonkan diri dan berhasil mengantarkan Demokrat sebagai partai pemenang di Mamuju. Kemenangan ini membuatnya duduk sebagai Ketua DPRD Mamuju sekaligus sebagai Ketua DPC. Partai Demokrat di Mamuju yang dijabatnya sejak 2007.

Setelah dua periode di DPRD Mamuju, Suraidah kemudian mencalonkan diri sebagai Caleg DPRD Sulbar pada Pemilu 2019. Lagi-lagi keberuntungan berpihak padanya. Demokrat menjadi pemenang Pemilu di Sulawesi Barat dan mendapuknya sebagai Ketua DPRD Sulawesi Barat 2019-2024. Posisi sebagai Ketua DPRD Sulbar tak mampu dipertahankan pada Pemilu 2024, lantara Golkar berhasil menyalip perolehan suara Partai Demokrat. Meski demikian, Suaridah mendapat posisi sebagai Wakil Ketua bersama Amelia Aras sebagai ketua DPRD Sulbar.

Ketika SDK menyelesaikan pengabdiannya sebagai Bupati Mamuju, Suaridah ditawari untuk jadi Calon Bupati Mamuju. Saat itu SDK banyak mendengar suara dari masyarakat. Ia mendapatkan masukan ada di antara keluarganya maju, apakah anak atau saudara. Pilihan jatuh kepadanya, tapi Suraidah bilang, “Pak saya lebih suka di legislatif. Saya sudah enjoy di sana. Saya ga’ bisa bangun pagi, harus berkantor tiap hari.” Ucap Suraidah sebagaimana dikutip Tina dalam buku Sarman Sahuding (Kompas, 2023). Cerita Sutinah ini menegaskan bahwa Suraidah itu tak punya ambisi jadi kepala daerah. Maka pilihan kemudian jatuh padanya. Tina yang saat itu telah menjadi Kepala Dinas membuat keputusan mengikuti petunjuk garis tangannya semata. Bahwa harus masuk ke politik dan berlaga di palagan politik pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Mamuju, itu juga pilihan yang harus dia jalani selanjutnya. Terbukti, Tina kini menjadi Bupati dua periode dan tercatat sebagai perempuan pertama yang jadi Bupati Mamuju.   

Begitulah jalan panjang karir politik seorang Suraidah yang cenderung menanjak seiring pada proses penyelesaian studinya sampai ke jenajang S3 dan berhak menyandang gelar doktor. Ia berhasil menamatkan pendidikan S3-nya dalam kurung waktu 2 tahun 11 bulan 29 hari tepat pada tanggal 29 Desember 2022. Ia mengambil judul “Komunikasi Politik Elektorat di Sulawesi Barat” dengan predikat cumlaude di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Dalam skala Sulbar, SDK benar-benar sukses menjadikan putra putrinya sebagai sosok yang menginspirasi.

Sampai kini, selain menjadi unsur pimpinan di DPRD Sulbar, Suraidah juga sibuk diberbagai organisasi yang sebagian besar mendapuknya sebagai ketua. Diantara organisasi yang maksud itu adalah Perempuan Demokrat Republik Indonesia (PDRI) Propinsi Sulawesi Barat; MPW ICMI Orwil Sulawesi Barat; DPC Demokrat Mamuju, DPW Srikandi Pemuda Pancasiila Sulawesi Barat; Dewan Kehormatan PMI Sulawesi Barat; KNPI Mamuju.

Selain organisasi yang mendaulatnya sebagai ketua, namanya juga menjadi Anggota Mabida Gerakan Pramuka Sulbar; Pengurus DPP KNPI; Pengurus DPN Asosiasi DPRD Kabupaten Se Indonesia; Pengurus Pemuda Pancasila MPW Sulawesi Barat; Wakil Ketua Kwacab Gerakan Pramuka Mamuju; Anggota Mabicab Gerakan Pramuka Mamuju; dan Anggota Radio Antara Penduduk Indonesia (RAPI) Daerah Sulawesi Barat (JZ34IDA). 

Atas segala bentuk pencapaian dan prestasinya tersebut, wajar jika kemudian jika ia diganjar dengan berbagai penghargaan. Diantara penghargaan yang pernah ia terima antara lain sebagai Gender Champion dari Bupati Mamuju (2023); Mitra Kerja BKKBN dari Kepala BKKBN Pusat (2022); Media Awards dari Harian Sulbar Express (2018); Pemberian Gelar Kehormatan dari Kesultanan Surakarta (2017).      

Kamis, 02 Januari 2025

SUKRI UMAR, SP || Wakil Rakyat Yang Merakyat

SUKRI UMAR, SP. adalah putra Mandar kelahiran Galung, 12 April 1980. Saat ini duduk sebagai anggota DPRD Sulbar dari Fraksi Partai Demokrat untuk periode ketiganya. Ketua Tim Koalisi Partai SDK-JSM ini dikenal sebagai sosok yang lues, sederhana dan komunikatif. Rekam jejak Sukri terlihat sebagai sosok yang piawai mengambil momentum. Bergabung dan berjuang bersama SDK dengan sosok SDK telah dimulai sejak SDK mencalonkan diri sebagai Bupati Mamuju bersama Bustamin Bausat.

Pengalaman sebagai tim pemenangan telah terasah saat menjadi Tim Relawan Pemenangan SBY-JK dalam Pilpres tahun 2004. Ia didapuk menjadi Ketua Relawan Merpati Pemenangan SDK-Bustamin Bausat pada Pilkada Kabupaten Mamuju tahun 2010 dan menjadi salah satu anggota Komisi Pemenangan Pemilu DPD Partai Demokrat Propinsi Sulawesi Barat tahun 2013. Dari sinilah nasib Sukri dalam dunia politik menentukan. Pemilu 2014 menjadi awal pengabdiannya setelah berhasil mengunci kemenangan Partai Demokrat dan berhasil meloloskan 3 orang kader yakni Fatmawati, Firman Argo Wakito dan dan Sukri Umar. Ia tercatat sebagai Anggota DPRD Sulbar Periode 2014-2019. 

Menjadi Anggota DPRD Sulbar adalah ajang pengabdian bagi Syukri. Baginya, loyalitas adalah kunci untuk berjuang meraih kemenangan. Partai dan rakyat adalah kesatuan yang utuh dan integral sehingga tak seorang pun bisa dibiarkan untuk mengganggu keutuhannya. Jabatan sebagai Sekretaris Komisi 1 DPRD Propinsi Sulawesi Barat 2014-2016 benar-benar dimanfaatkan untuk membangun komunikasi dengan konstituen guna menyerap aspirasi rakyat yang benar-benar dibutuhkan. Ini menjadi komitmen Partai Demokrat sejak dipimpin oleh Aras Tammauni sampai ke SDK. Jangan heran jika Partai Demokrat selalu mendapatkan suara yang signifikan di Dapil Mamuju sebab disinilah episenturm perjuangan SDK bersama kader-kadernya di Partai Demokrat. 

Konsisten dan menjaga komitmen dengan rakyat menjadikan Sukri kembali melenggang dengan mudah ke Parlemen Sulbar pada Pemilu 2019-2024. Di penghujung jabatannya sebagai Anggota DPRD Sulbar, ia sempat digoyang oleh pihak-pihak tertentu. Iya, sempat memang tergoyang, tai bukan Suksri jika ia tumbang. Karakter dan mentalnya telah teruji dan dikenal matang dalam menyikapi berbagai persoalan rakyat. Termasuk persoalan dirinya yang didlilit masalah. Kata orang bijak, masalah tidak akan pernah usai menimpa kehidupan manusia, hanya orang-orang yang yang kreatif lah yang berhasil keluar dari setiap masalah.

Demikianlah yang dialami Sukri. Persoalan yang menjeratnya berhasil ia tuntaskan. Ia berhasil menunjukkan kepada semua yang ada, bahwa niatan yang baik akan selalu diberi jalan oleh Allah untuk mampu menunaikannya. Suksri keluar dari jeratan masalah dan menjadi pemenang. Dukungannya di Pemilu 2024 justru mengalami pengingkatan yang signifikan. Sukri Umar, berhasil mengunci kemenangan Partai Demokrat di Mamuju bersama Suraidah dan Firman Argo Wakito dengan suara pribadi 13.342 dari 53.835 suara. 

Sukri memang terlatih dalam berbagai hal. Latar belakang sebagai aktifis, praktisi dan pemerhati masyarakat telah selesai dengan dirinya. Dari awal ia telah mempersiapkan dirinya sebagai sosok yang pantas jadi dirinya saat ini. Menjadi Redaktur Surat Kabar Umum Metro Sulbar (2001-2003) adalah salah satu yang memantik dirinya mampu membaca semua persoalan karena hidup dengan media dan membuat sorotan yang tajam kepada pemangku kebijakan yang kadang menelikung anggara dan menjadikan jabatannya sebagai kekuatan mencuri uang rakyat.

Tak hanya itu, Ia juga terlibat langsung dalam proses penyelenggaraan Pemilu melalui Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Kabupaten Mamuju Utara tahun 2004 dan ditunjuk sebagai Koordinator saat itu. Untuk mengasah diri dan meningkatkan wawasannya ia mencoba masuk dalam dunia survey dengan menjadi Surveyor Lembaga Survey Indonesia (LSI) pada tahun 2005. Kapasitasnya sebagai insan media ia uji dengan menjadi Kontributor TVOne Kabupaten Mamuju tahun 2008. Berbagai persoalan pendidikan ia sikapi lewat kerja nyata dengan terlibat sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Mandala Nusantara (2011-2014); 

Ketika di berstatus sebagai Anggota DPRD Sulbar, ia ditunjuk sebagai Sekretaris Komisi 1 DPRD Propinsi Sulawesi Barat (2014-2016), bahkan menjadi Ketua Komisi II DPRD Propinsi Sulawesi Barat tahun 2019. Kerja-kerja sebagai wakil rakyat terus ia upayakan guna memberikan konstribusi nyata terhadap semua aspirasi yang yang ia serap diberbagai daerah. Itu terbukti ketika dipercaya menjadi Ketua Pansus-Panitia Khusus (sekarang Panja-Panitia Kerja) Ketenagakerjaan DPRD Propinsi Sulawesi Barat tahun 2019 dan sebagai Ketua Pansus Guru Tidak Tetap dan Pegawai Tidak Tetap (GTT/PTT) DPRD Propinsi Sulawesi Barat tahun 2020. 

Bagi Sukri menjadi apapun kita, belajar danmeningkat kapsitas diri mutlak dilakukan. Itulah makanya sebelum ia bercita-cita jadi wakil rakyat, ia selalu berusaha mempantaskan dirinya dengan mengikuti berbagai tarining/kursus dan seminar yang menurutnya relevan dengan dunia yang ia geluti. Mengikuti Pelatihan Jurnalistik tahun 2000 menjadi modalnya bekerja di media cetak dan TV. Ia pernah ikut Seminar Kebangsaan Ormas FPPS (Forum Persaudaraan Pemuda Sulawesi Barat; Pelatihan Partisipatif Pemetaan Konflik Agraria Tahun 2002; Seminar dan Lokakarya Konflik Agraria tahun 2003; Bimbingan Teknis Penguatan Kapasitas Kedewanan tahun 2014 menjadibekal pengetahuan yang ternyata sangat berguna bagi pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai wakil rakyat.

Menjadi pemimpin, Sukri jauh-jauh hari telah mempersiapkan dirinya dengan terlibat dalam berbagai organisiasi pergerakan dan keagamaan. Itu ia faktualkan sejak menjadi Wakil Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Mamuju 2003; Wakil Ketua LSM Lembaga Kajian Isu Strategis Manakarra (LAKSIM) Kabupaten Mamuju tahun 2003; Pendiri Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Sulawesi Barat tahun 2006; Komite Forum Pasar Regional Kabupaten Mamuju tahun 2007; Wakil Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Mamuju (2010-2013); Mabincab Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Mamuju Tahun 2015. Termasuk menjadi Pengurus Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia (BKPRMI) tahun 2008.

Itulah makanya, dalam dunia pergerakan dan dunia politik, Sukri menjadi sosok yang tak layak jadi pelaku. Tak salah kemudian jika ia dipercaya menjadi Ketua AMPI Kabupaten Mamuju tahun 2012; Dewan Pembina Garuda Muda SDK, Tim Pemenangan SDK-KALMA pada Pilgub Sulawesi Barat tahun 2017; Pendiri Bintang Muda Indonesia (BMI); Wakil Ketua Bintang Muda Indonesia (BMI) tahun 2019. 

Dengan seabrek aktifitas dan sederet pencapaian dalam kehidupan Sukri Umar, tentu ini menjadi harapan bersama bahwa untuk memajukan Sulbar kedepan butuh upaya melahirkan banyak generasi yang selevel dan secakap Sukri Umar. Intinya, lahirkan Sukri-Sukri baru di wialayah Malaqbiq ini agar idiom kata ini tidak sekedar jadi slogan ketika berorasi. Butuh kerja-kerja kreatif sebagaimana Sukri telah melakoninya. Hal baik dari sisi kehidupannya harus diedifikasi secara terstruktur, sistematis dan masif. 

Selasa, 31 Desember 2024

ON PROSES || Menuju Pelantikan SDK-JSM


Buku ini menyuguhkan jalan panjang dua suhu yang menyatu dalam satu kubu. Membangun kekuatan baru dan menata diri dalam bingkai Visi Koalisi Sulbar Maju. Di buku ini, dinamika perjuangan mereka diulas sedemikian runut disertai dengan sejumlah kekuatan yang melingkupinya. Termasuk tokoh yang dianggap sebagai pemantik kemenangan disajikan secara naratif. 

Buku ini adalah upaya "Mengabadikan Kemenangan" dengan sejumlah peluang dan tantangan yang ikut menyertai kemenangannya. Ini bukan buku yang lahir untuk sekedar memuji, tapi sekaligus menguji kedua tokoh (baca: SDK-JSM) yang punya prinsip " Komitmen Adalah Ukuran Iman". 

Buku ini tentu belum bisa berbicara fakta kemampuan mereka membuktikan pernyataan itu. Tapi setidaknya buku ini memantik lahirnya pertanyaan akan seperti apa Sulbar ketika berada dalam kendali keduanya. Akankah Sulbar Maju atau Mati Suri? 

Hal penting dari buku ini adalah lahirnya tradisi literasi yang harus mampu mengawal setiap progres of idea dari setiap pemimpin. Itu makanya, dibuku ini juga menaikkan sejumlah tulisan berisi apresiasi, harapan dan mungkin juga kritik atas keduanya. Tujuannya tentu diharapkan agar dalam membuat kebijakan benar-benar memihak pada semua obyek yang pro rakyat dan memiliki sense kerakyatan. 

Pada akhirnya, jika semua pemimpin kita ajari dan lawan dengan kekuatan tulisan,  maka mereka akan berhati-hati dengan lisan mereka. Cukuplah kita melisan-tuliskan mereka, agar kelak dia faham posisi mereka dimana: Apakah bagian dari sejarah atau hanya bongkahan masa lalu.

Kamis, 19 Desember 2024

HASIL RESTORASI FOTO


Mungkin Anda punya foto tua, kabur dan rusak. Percayakan ke kami. 


DUNIA SEMAKIN SEMPIT DAN SUMPET"

Oleh: Mukhtar


        Dalam sejarah peradaban umat manusia, sudah sangat basi di telinga kita dengan apa yang disebut dengan era modern. Era modern adalah era di mana orang menjalani kehidupan dengan serba mekanik. Di sisi lain, gejala modernisme muncul pula watak-watak yang sudah sekian lama menggerogoti cara pandang hidup manusia yang juga sudah sangat "renta" di ingatan kita, yaitu idiologi materialisme, kapitalisme, dan liberalisme 

       Para ahli, sejarawan, maupun dan filosof, ramai-ramai mengeluarkan " fatwa dan kritik" bahwa modernisme telah gagal tunaikan janji-janjinya untuk membahagiakan umat manusia, tetapi malah justru manusia telah berada di tepian kehancuran.
 
         Berkaca pada era yang dianggap telah mencabut akar  fitrah manusia sebagai makhluk spritual, maka manusia butuh pergantungan spritual yang tidak mudah rapuh. Era modern dianggap bukanlah lagi era yang relevan dengan fitrah manusia itu. 

       Setelah era modernisme, diharapkan muncul era yang    mampu membangunkan manusia dari kesadaran fitrahnya sebagai makhluk yang punya naluri untuk mencari Tuhan sebuah era sesudah era modernisme  yaitu era " post modernisme". Era ini oleh para ahli  menganggap sebagai antitesis dari era modernisme yang diharapkan mampu mengantarkan manusia untuk  mengembalikan Tuhan yang pernah terabaikan dalam sejarah. Era ini oleh para pengamat bisa membawa pamor agama, namunTernyata era inipun tidak bisa membawa perubahan apa-apa dalam tatanan sosial kehidupan manusia. Era ini tidak beranjak dari tempatnya untuk menghibur manusia yang semakin terlena dalam " kemerosotan spritual"
 
        Bahkan,   Post modernisme kaitannya dengan agama seakan menjadi agama baru yang mengigkari kebenaran universal dan tidak mengakui kebenaran absolut. Modernisme mengingkari agama karena rasionalitasnya sementara post modernisme mengingkari agama karena irrasaionalitas.

         Pada beberapa tahun yang silam waktu masih menjadi mahasiswa strata satu, diskusi tentang diskursus post modernisme menjadi diskusi yang ramai dan banyak mengundang perspektif. Bahkan ada pandangan lain versi bacaannya, bahwa sebenarnya kita sudah berada di era post modernisme.

         Sebuah pertanyaan kerdi  yang bisa diajukan, di manakah sebetulnya era post modern itu dilalui?, apa betul kita sudah lewati era modern? Atau kita masih berada dalam " cengkraman dan permainan" era modern? 

        Apakah era digitalisasi, dan ada lagi yang paling mutakhir dengan diistilahkan dengan  "kecerdasan buatan " atau AI Kalau tidak salah singkatan dari artificial intelegence, dan lain-lain apalah namanya, bukan semua ini bagian dari gejala modernitas. Kalau ini dianggap sebagai  bagian dari gejala modernitas, maka berarti kita masih berada dalam bayang- bayang modernitas. Di mana era post modernisme itu berkembang dalam sejarah yang katanya muncul sesudah era modern. Memang tidak mudah untuk memberi batasan antara kedua era ini.

        Terlepas dari diskursus apakah kita masih berada di era modernitas atau era post modern, yang jelas kita hidup di era sekarang dampaknya sangat luar biasa  dalam kehidupan umat manusia.

      Dunia terasa semakin kecil, sempit dan, sumpet. Dunia seakan dijadikan seperti bola kaca oleh "keangkuhan era teknologi". Pikiran dan tenaga manusia nyaris sudah tidak berfungsi. Hidup serba pragmatis. Demikian pula Berita-berita yang ada di luar sana hari itu  juga, menit itu juga orang semua sudah bisa mengkonsumsinya dengan sikap dan perspektif masing-masing.

      Hampir semua kalangan mulai dari anak-anak hingga orang tua, memegang benda kecil yang sangat cerdik yang dapat  menangkap berita setiap hari. Di dalam benda cerdik itu terprogram WhatsApp, Facebook, Instagram, tik tok dan lain-lain yang siap menangkap setiap kabar yang datang dari luar, baik berita buruk maupun berita baik.

       Nyaris tidak ada waktu yang terlewatkan untuk " memangsa " setiap informasi yang mengalir di benda kecil itu. Fungsinya yang begitu luas membuat dunia terasa sempit dan kecil. 

       Namun juga disayangkan bagi pengguna yang tidak bijak memfungsikan ke jalan yang benar, akan berakhir dengan malapetaka. Mengkomsumsi berita tanpa dengan hati-hati dari mana sumbernya yang shahih akan menyebabkan dampak buruk bagi penggunanya.   Dan  lebih parah lagi jika benda kecil itu dijadikan alat untuk menyebarluaskan berita yang tidak benar, bahkan dipakai untuk menyebarkan aib orang lain. 

     Fenomena tersebut beberapa abad yang lalu  Bahasa agama memberi pelajaran yang sarat dengan pelajaran dalam menyikapi perkembangan teknologi terutama teknologi imformasi _" ya ayyuhallazdima amanu injaakum fasiqum binabain fatabayyanu antusibu qauman bijahala"_( Hai orang-orang yang beriman, apabila ada orang fasiq yang membawa berita kepadamu, Maka telitilah dengan baik karena banyak kelompok yang menjadi korban karena ketidak tahuannya) dalam surah yang sama Allah juga menegaskan: _"Walatajassasu wala yagtabba'dhukum ba'dha"_(jangan engkau mencari-cari kesalahan orang lain, dan jangan engkau mengghibah antara satu dengan yang lain. Dalam hadis perlu juga menjadi renungan" _" Ajibtu limanyasyghilu bi 'ujubinnas pahua ghafilun an ' uyubi nafsihi"_( Saya heran ...bagi orang yang sibuk mencari aib orang lain sementara lupa dengan aibnya sendiri).

         Pesan-pesan ke-Tuhanan dan kenabian, menjadi larangan yang cukup tegas untuk bersikap hati - hati dengan penuh pertimbangan dalam menangkap dan menyebarkan imformasi.
       
      Informasi yang paling "lezat" untuk dikomsumsi biasanya berasal dari publik pigur, pejabat publik. Apalagi tokoh agama. Biasanya berita buruk dari publik pigur dan tokoh agama lebih heboh beritanya dibanding berita tentang kebaikannya
       Namun juga disayangkan bagi pengguna yang tidak bijak memfungsikan ke jalan yang benar, akan berakhir dengan malapetaka. Mengkomsumsi berita tanpa dengan hati-hati dari mana sumbernya yang shahih akan menyebabkan dampak buruk bagi penggunanya.   Dan  lebih parah lagi jika benda kecil itu dijadikan alat untuk menyebarluaskan berita yang tidak benar, bahkan dipakai untuk menyebarkan aib orang  lain.

       Seakan sejarah menunjukkan ketidak adilannya, kesalahan yang mungkin tidak terlalu besar dari  publik pigur dan tokoh agama, akan menjadi berita besar di media sosial. Seakan menghapus kebaikan- kebaikan yang telah pernah dia lakukan.  " Setitik nila akan mengotori susu sebelenga" demikian kata pepatah.

_Wallahu 'Alamu Bishshawab_

Polewali, 17 Desember 2024

Senin, 16 Desember 2024

ORANG-ORANG WARAS YANG GILA


Oleh: Mukhtar

         Seorang filosof yang amat kritis  asal Indonesia, sering menggunakan terminologi " akal sehat" dalam mengelaborasi berbagai diskursus kebangsaan. Diskusinya tentang kebangsaan seringkali dibalut dengan  kacamata filsafat. Argumen-argumennya dibumbui dengan diksi yang sangat retorik. 

        Fikiran-fikirannya yang tajam terkait dengan persoalan kebangsaan, politik dan sosial,  digandrungi oleh kelompok akademik yang _notabene_ nya dianggap sebagai makhluk rasional yang bersarang di alam pemikiran kampus. 

         Mungkin tidak terlalu salah jika dia dianggap  satu-satunya filosof asal Indonesia yang sering mendeklarasikan tentang " akal sehat ". Sangking semangatnya membangun akal sehat sampai-sampai dijuluki sebagai " presiden akal sehat"

         Tesisnya tentang "akal sehat" bisa ditebak dilatari dengan situasi kemanusiaan di kalangan  tertentu yang sudah kehilangan akal sehat, bahkan melecehkan akal sehat. Penggunaan rasionalitas di berbagai segmen, akal sehat sudah tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. 

        Akal yang sudah terkontaminasi dengan watak materialis, hedonis, akan mengaburkan mata hati untuk melihat kebenaran. Akal sehat yang awalnya diciptakan secara natural untuk berfikir yang benar dan baik, bisa jadi akan berbalik seratus derajat jika tidak sering diberi nutrisi berupa pentingnya kesadaran moralitas.

        Mengapa banyak berseliweran di tempat yang dihuni oleh orang-orang yang waras bahkan memiliki tingkat kewarasan melebihi tingkat kewarasan orang-orang awam, justru terjerembab dalam perilaku " kegilaan" karena terputusnya  syaraf cahaya kebenaran  dari potensi ke-Tuhanan. 
 
        Keanehan-keanehan yang diadegankan oleh orang  waras tertentu, justru mengindikasikan bahwa perilaku itu adalah perilakunya orang yang tidak waras. Transformasi-transformasi wujud manusia betul-betul akan mengalami degradasi dan dekandensi sampai pada tingkat yang mengerikan jika akal sehat tidak dijaga baik-baik.

        Fenomena transformasi wujud manusia akan tampil dalam berbagai bentuk wajah.  Kewarasan akan berubah menjadi kegilaan, intelektualitas berubah menjadi kedunguan,  keadaban merubah menjadi sindikat, rendah hati akan menjadi keangkuhan, qona'ah akan berubah
Menjadi ketamakan, kejujuran akan berubah menjadi kemunafikan, kesalehan akan berubah menjadi kedurhakaan, kesyukuran akan merubah menjadi kekufuran. Kasih sayang akan berubah jadi kebengisan dan lain-lain.

         Lantas mengapa akal sehat tidak selamanya bercokol di kepala manusia. Manusia adalah  makhluk paradoksal yang telah dianugerahi potensi yang selalu menciptakan dialektika dalam dirinya yaitu pertarungan sengit antara malaikat dan iblis. Dalam bahasa agama _" Wahadai nahunnajdain"_( saya berikan anda dua jalan) demikian  kata Tuhan yang memberikan alternatif kepada manusia untuk memilih dua jalan apa jalan kanan atau ke kiri. Mau menjadi manusia waras atau mau menjadi manusia gila.

        Dalam redaksi yang sebangun: _" Faal hamaha fujura watawwaha"_( Allah memberi potensi untuk berbuat fujur dan takwa). Potensi untuk  mewaraskan akal dan potensi untuk menjadi gila juga adalah pilihan bebas manusia. Apakah kita mau mengembangkan potensi akal itu menjadi akal yang sehat atau membiarkan potensi akal itu tetap dalam wadah yang stagnan dengan tidak berusaha untuk mendidiknya,  sehingga dia tetap terkungkung dalam " penjara kejahilan".

        Mengasah dan mendidik akal sehat, Allah banyak menggunakan redaksi-redaksi yang berbeda yang semuanya bermuara pada pentingnya memelihara akal sehat, seperti:  _apalata'qilun, apala tatadabbarun, apalayanzdurun, Ulul albab._
 
     Kalau boleh ditafsir secara kontekstual bahwa   Kalimat-kalimat yang berbentuk pertanyaan (istifham) dari teks tersebut juga disertai dengan penegasan secara implisit bahwa Allah berfirman dan bertanya kepada manusia  " kalian sudah diberikan akal, mengapa kalian tidak menggunakannya sesuai dengan logika berfikir orang-orang yang sehat, apakah kalian sudah tidak waras?

    Namun harus digaris bawahi, bahwa Pertanyaan ini bukan ditujukan kepada orang gila yang stres karena terputus urat sarapnya, tetapi ditujukan kepada orang waras yang tidak menggunakan akal sehatnya di bawah bimbingan-Nya. Akalnya digunakan untuk berbuat manipulatif, menyelewengkan kebenaran di atas kepalsuan.

       Orang yang gila karena sarafnya terputus, jika melakukan  kesalahan atau melanggar hukum, maka dia bebas dari hukuman. Tetapi jika orang-orang  waras yang gila melakukan sindikat, Pasti tidak akan terbebas dari hukuman baik di dunia lebih-lebih di akhirat kelak.

       Pembertahankan potensi ke-Tuhanan dalam diri adalah hal yang sangat penting dalam situasi apapun. Sebab jangan sampai kecerdasan yang kita bangun selama bertahun-tahun akan runtuh seketika "ketika datang " gelombang sunami kegilaan" yang akan meluluhlantahkan harga diri seseorang.

_Wallahu 'alamu bishshawab_

Polewali, 16 Desember 2024

BELAJAR DARI FILOSOFI AYAM MENCARI MAKANAN

Oleh: Mukhtar

         Ayam adalah makhluk kecil yang punya kemampuan membaca ayat-ayat kauniyyah. Nalurinya dalam membaca pergantian sunnatullah, itu terlihat ketika matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat. Ayam yang  seharian mencari makanan yang terdiri dari makhluk-makhluk melata yang biasanya bersarang   di batang kayu yang sudah lapuk, demikian pula melata lain yang nasibnya bersarang di sela-sela  tanah. 

      Waktu menjelang malam, kawanan ayam tersebut mulai meninggalkan medan pencariannya, lalu kemudian kembali ke sarangnya untuk beristirahat.  ayam mampu merasakan bahwa malam akan segara tiba. Dia segera ingin melepaskan lelahnya yang seharian beraktifitas.

        "Rumah" yang paling membuat ayam itu tenang adalah pohon- pohon yang tidak terlalu besar. Di situlah ayam bertengger menikmati waktu istirahatnya bersama  kawanannya. Sengaja memilih pohon yang tidak terlalu besar supaya tidak terlalu menguras sayapnya untuk terbang ke atas, di samping itu anak-anaknya yang belum punya kekuatan untuk terbang bisa mengikuti induknya yang mau beristirahat.

       Anak- anaknya yang masih kecil di boyong ke atas sambil mencari tempat yang memungkinkan bisa saling berdekatan dengan anak-anaknya.

     Ketika tiba waktu menjelang subuh  Suara-suara ayam menjadi alarm untuk membangunkan manusia untuk kembali mengingat Tuhannya. Ayam berkokok selalu tepat dalam mengeluarkan bunyinya. Dia selalu berbunyi di waktu menjelang subuh. Suaranya bukanlah suara biasa. Suaranya menyimpang Kesakralan dengan membawa berita langit kepada manusia.  Lantunan bunyi yang terdengar di subuh senyap, penanda bahwa malaikat sedang turun ke bumi. Artinya ayam menyaksikan pada saat malaikat turun. 

       Bahasa agama yang mengimformasikan tentang misteri suara ayam dapat dilihat riwayat yang  menyinggung tentang suara ayam,  namun kualitasnya belum bisa dipastikan kevalidannya  menurut pendekatan kaidah ilmu hadis sebelum dilakukan penelitian.  

     Adapun redaksi hadis tersebut, _" Idza sami' tum siyaha ddayyakati, pas alullaha min fadhlihi painnaha Ra,at malakan"_  ( Jika kalian mendengar ayam berkokok, maka berdoalah kepada Allah minta karunia-Nya, karena sesungguhnya ia melihat malaikat )
Dalam  riwayat lain " _sesungguhnya ayam itu juga melantunkan azan ketika malaikat pembawa Arsy melantunkan azam".  ayam berkata:"  _yaaghafiluun, uzdkurullah_" ( wahai orang-orang yang lupa, ingatlah Allah).

        Riwayat-riwayat yang berkaitan dengan kesakralan suara ayam di waktu tertentu, secara teologis dapat diyakini berdasarkan argumen bahwa semua makhluk yang diciptakan Tuhan memiliki misteri dan kelebihan masing-masing.

       Bukankah semua benda- benda, baik benda mati maupun benda hidup semuanya bertasbih memuji Allah "
_Tusabbahulahussamawatu ssab' u wal ardhu wa man fi hinna"_( langit yang tuju dan bumi, senangtiasa bertasbih dan apa yang ada di dalamnya). 

      Keunikan-keunikan yang terdapat pada ayam, di samping suaranya  yang mengingatkan manusia untuk berdzikir, kemampuannya membaca ayat-ayat kauniyyah pergantian siang dan malam,  juga  bisa dilihat  dari sisi  kreatifitasnya dalam mencari rezki.  Ayam adalah salah satu makhluk kecil yang memiliki kasab yang ulet mencari makanan. 
 Hidupnya tidak pernah diam di siang hari, kecuali jika sementara mengerami telurnya kurang lebih setengah bulan. 

    Ketika ayam turun dari pohon tempat ia bertengger, lalu ia kembali melakukan rutinitasnya menelusuri lorong-lorong ketidakpastian yang bisa diharapkan buat pengganjal perut, tapi sepertinya  dia begitu meyakini bahwa di sana ada secuil harapan yang menjanjikan.

    Hidup ini adalah setitik harapan. Andaikan bukan kita tidak digerakkan harapan, kemungkinan kita tidak akan mampu bertahan hidup. Hidup ini adalah kenyataan, maka orang harus senangtiasa berusaha sesuai jalan kita masing.   Hidup ini memang adalah gerak. Dalam mencari pengganjal perut yang halal,harus dilakukan dengan cara bergerak. Meskipun di suatu tempat terdapat sesuatu  yang tidak pasti, orang tidak boleh putus harapan untuk mencarinya. Mungkin butuh pengorbanan, penantian panjang dalam menelusuri "lorong-lorong ketidakpastian" seperti apa yang dilakukan oleh ayam.

     Rezki sudah dalam " skenario" yang di atas. Oleh karena itu, rezki tidak akan pernah salah alamat. Janganlah terlalu bernafsu untuk mengumpulkan harta sebanyak mungkin ( apalagi dengan cara yang tidak benar), tetapi 
kumpulkan harta yang berberkah walau sedikit.

_Wallahu 'alamu bishshawab_

Pinrang, 14 Desember 2024